Produk Halal Tertinggal


Audit saja dulu MUI.. si tukang label.. kemana saja lari duitnya..

Label dari RI Belum Diakui

JAKARTA, KOMPAS — Produk halal, seperti makanan, minuman, dan obat-obatan, dapat menjadi mesin pendorong ekspor Indonesia. Populasi umat Muslim dunia yang mencapai 1,6 miliar orang merupakan potensi besar. Namun, ekspor produk halal Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain, seperti Malaysia dan Thailand.

Hal itu terungkap di dalam diskusi bertajuk “Strategi Menembus Pasar Produk Halal Global” yang diadakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta, Kamis (15/10). Menurut Ketua Komite Tetap Perdagangan Internasional Kadin Indonesia Fachry Thaib, khusus kawasan Timur Tengah, potensi pasar produk halal mencapai 60 miliar dollar AS. Selama ini, produk halal ke kawasan itu dipasok dari Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Dibandingkan dengan negara lain, produk halal Indonesia masih tertinggal, misalnya Pakistan, telah memiliki 50 perusahaan bersertifikat halal yang mengekspor makanan, minuman, dan obat-obatan halal. Thailand telah menyertifikasi halal 4.200 pabrik makanan dan minuman yang mencakup 120.000 produk halal.

Sebagai gambaran, nilai ekspor produk halal Malaysia ke Timur Tengah pada 2012 sebesar 6 miliar dollar AS, Thailand 7,3 miliar dollar AS, dan Indonesia baru 3,8 miliar dollar AS. “Produk kita pernah ditolak di Abu Dhabi karena memakai label halal. Alasannya, label halal belum diakui. Sebelumnya, produk itu tanpa label halal, malah diterima. Jadi, bukan soal produknya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Salman Al Farisi.

Selain itu, 41 persen produk halal Indonesia malah ditujukan ke Malaysia dan 19 persen produk halal Indonesia yang ke Uni Emirat Arab. Akibatnya, nilai tambah produk halal dari Indonesia justru dinikmati Malaysia.

Ketua Kadin Komite Timur Tengah-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Mohamad Bawazeer menilai, dengan adanya Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, respons negara lain terhadap pencitraan produk halal dari Indonesia sangat positif.

Namun, ketentuan UU No 33/2014 belum mencakup regulasi tentang ekspor produk halal. UU itu hanya memuat ketentuan impor produk halal dan kerja sama internasional.

Dari laporan Global State of Islamic Economy 2015 diketahui, permintaan produk halal dunia tumbuh dalam 6 tahun, yakni dari 2 triliun dollar AS pada 2013 menjadi 3,7 triliun dollar AS sampai 2019. (NAD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: