Selamat Datang Pengawas Telik Sandi


Koran Tempo SABTU, 24 OKTOBER 2015

 Selamat Datang Pengawas Telik Sandi

JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat RI mengikuti jejak para koleganya di Amerika Serikat dalam soal pengawasan intelijen. Sementara Senat Amerika memiliki US Senate Select Committee on Intelligence, DPR RI akan segera memiliki Komite Pengawas Intelijen. Wakil Ketua Komisi Pertahanan Tantowi Yahya menargetkan komite khusus tersebut akan disahkan dalam sidang paripurna DPR, bulan ini. “Kami harap Komite Pengawas Intelijen bisa disahkan sebelum masa reses awal November mendatang,” kata Tantowi kepada Tempo, Selasa lalu.

Menurut Tantowi, pembentukan komite tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Pada Pasal 43, komite bikinan DPR akan menjadi pengawas eksternal seluruh lembaga intelijen di Indonesia, mulai dari Badan Intelijen Negara hingga badan intelijen yang ada di TNI, Kepolisian, Kejaksaan, dan lainnya.

Ide pembentukan komite khusus untuk mengawasi lembaga telik sandi ini sudah disetujui DPR dalam rapat paripurna 26 September 2014. Tapi komite tersebut tak kunjung disahkan karena anggota Komite Pengawas Intelijen-nya belum komplet. Sesuai dengan aturan, komite tersebut beranggotakan 14 orang yang terdiri atas empat pimpinan Komisi Pertahanan DPR dan perwakilan dari 10 fraksi. Di Amerika, komisi intelijen beranggotakan 15 orang, termasuk ketua dan wakil ketua.

Menurut Tantowi, molornya penentuan anggota Komite Pengawas Intelijen karena masing-masing fraksi butuh waktu lama untuk memilih satu orang perwakilan. Setiap fraksi harus memilih dengan cermat anggotanya yang paham tentang dunia intelijen dan tak akan dirotasi dari Komisi Pertahanan. Sebab, keanggotaan di komisi ini akan mengikat sampai akhir masa tugas Dewan tahun 2019. “Dalam waktu dekat seluruh fraksi akan kirim nama perwakilan ke pimpinan Komisi Pertahanan sebelum dibawa ke Paripurna,” kata politikus Partai Golkar tersebut.

Anggota Komisi Pertahanan, Tubagus Hasanuddin, mengatakan Komite Pengawas Intelijen hanya bekerja pada waktu dan situasi tertentu. Dengan kata lain, komite tak akan mengawasi setiap operasi intelijen yang dilakukan BIN atau lembaga lain. Komite hanya akan mengawasi kerja intelijen terkait dengan isu-isu besar dan mengancam negara. “Misalnya, ada operasi intelijen yang timbulkan korban masyarakat, baru akan kami panggil,” kata Tubagus kepada Tempo, Selasa pekan lalu.

Meski begitu, komite tersebut berhak mendapat laporan hasil kerja intelijen. Tujuannya, agar komite tetap mengetahui perkembangan kerja badan intelijen. Karena berurusan dengan informasi rahasia, Tubagus memperkirakan kerja komisi bakal lebih tertutup dibanding sidang rutin Komisi Pertahanan.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Hanafi Rais mengucapkan selamat datang atas Komite Pengawas Intelijen ini. Menurut Hanafi, komite itu menjadi bukti adanya reformasi di Indonesia. Hanafi yakin adanya komisi ini akan mengubah wajah lembaga intelijen Indonesia, yang tertutup dan nyaris tanpa pengawasan, menjadi lebih terbuka. “Ini bentuk kontrol demokrasi atas intelijen negara, seperti yang sudah dilakukan Amerika Serikat,” kata Hanafi, Selasa pekan lalu.

Pengamat isu pertahanan, Anton Aliabbas, mengapresiasi pembentukan komite ini. Ia berharap komite tersebut punya kewenangan yang kuat, termasuk mengakses informasi rahasia dari lembaga intelijen negara. “Termasuk punya kewenangan melakukan penyelidikan mendalam terkait laporan dugaan penyalahgunaan intelijen,” kata Anton, Rabu lalu.

Anton juga meminta komite tersebut melibatkan lembaga negara lain, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dalam mengawasi kinerja intelijen. Menurut dia, keberadaan lembaga lain sangat penting untuk memastikan tak ada hak warga yang dilanggar. Penyertaan Komnas HAM, kata Anton, juga bermanfaat bagi lembaga intelijen agar semakin terlatih mengumpulkan informasi yang sangat rahasia tanpa menabrak prinsip kebebasan.

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Laksamana Muda (Purn) Soleman B. Ponto menolak pembentukan Komite Pengawas Intelijen. Menurut dia, sudah sewajarnya kinerja intelijen ditutup rapat-rapat. Informasi intelijen juga tak bisa sembarangan diberikan kepada pihak luar, termasuk DPR. Menurut Soleman, informasi intelijen hanya disampaikan ke atasan. “Misalnya BIN, hanya presiden yang boleh tahu. Kalau BAIS, hanya Panglima TNI yang berhak terima informasi,” kata Soleman kepada Tempo, Rabu lalu.

Soleman juga mempertanyakan integritas anggota Komite Pengawas Intelijen. Soleman khawatir mereka akan membocorkan informasi intelijen ke keluarga, rekan, hingga ke pihak luar negeri. Padahal, jika jatuh ke tangan asing, informasi intelijen akan berpotensi mengancam Indonesia. “Jika saya masih jadi Kepala BAIS, saya tak akan mau beri informasi ke DPR,” kata dia. INDRA WIJAYA


Intelijen dan Pengawasannya

Payung hukum pembentukan Komite Pengawas Intelijen DPR adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Inilah sejumlah ketentuannya.

Komite Pengawas Intelijen

– Beranggotakan 14 orang, terdiri atas empat pemimpin Komisi Pertahanan, dan perwakilan seluruh fraksi (10 fraksi).

– Seluruh anggota akan disumpah untuk menjaga rahasia informasi intelijen.

– Anggota Komite diancam hukuman maksimal 10 tahun jika sengaja membocorkan rahasia intelijen.

Badan yang Diawasi

– Lime penyelenggara intelijen negara, yaitu Badan Intelijen Negara (BIN), intelijen TNI, intelijen Polri, intelijen Kejaksaan Agung, dan intelijen kementerian/lembaga non-kementerian

– Badan Intelijen Negara menjadi koordinator seluruh lembaga intelijen. Walhasil, Komite akan lebih banyak berkomunikasi dengan BIN

Pengawas Internal Intel

– Badan intelijen juga memiliki Dewan Kehormatan Intelijen Negara, yang mengawasi Kode Etik Intelijen Negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: