Bikin Curiga, Pertamina Malas Beberkan Kerugian Kasus Petral


Semua masih pada takut sama Mo-Re > Siapa yang berani “kepret” Mister Air Asia a.k.a Mo-Re ?

 

RABU, 11 NOVEMBER 2015 | 14:08 WIB

Bikin Curiga, Pertamina Malas Beberkan Kerugian Kasus Petral

Ilustrasi Logo Petral.www.dpgroup.sg

TEMPO.CO, Jakarta – PT Pertamina (Persero) enggan menyatakan kerugian yang diderita akibat pengadaan minyak oleh anak usahanya, Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Padahal, audit forensik yang dilakukan lembaga independen KordaMentha menemukan adanya anomali pengadaan minyak oleh lembaga tersebut sepanjang 2012-2014.

“Kami tidak punya kapasitas dan kewenangan untuk menentukan hal tersebut,” ujar juru bicara Pertamina, Wianda Pusponegoro, melalui pesan singkat kepadaTempo pada Selasa, 10 November 2015.

Salah satu anomali yang tercatat adalah pengadaan minyak yang hanya menguntungkan satu grup perusahaan dengan nilai kontrak senilai US$ 18 miliar. Sayangnya Menteri Enrgi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said enggan menjelaskan siapa grup usaha yang mendapat keuntungan dari transaksi tersebut.

Terkait dengan ini, Wianda hanya menyebutkan efek penambahan rantai suplai yang membuat harga menjadi kurang kompetitif. Dalam satu pengadaan, diskon yang harusnya bisa diperoleh sebesar US$ 1,3 per barel malah menjadi US$ 30 sen saja.

Pemeriksaan kerugian Petral, kata Wianda, hanya bisa dilakukan lembaga yang berwenang. Dia mencontohkan hal tersebut butuh proses pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti yang hanya bisa dilakukan lembaga penegak hukum.

Pertamina mengaku terbuka jika ada penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi yang turun tangan menyelidiki temuan ini. “Tugas Pertamina jalankan audit forensik sudah selesai. Tindak lanjut adalah domain keputusan pemegang saham dan aparat hukum,” katanya.

ROBBY IRFANY

 

+++++++

Koran Tempo RABU, 11 NOVEMBER 2015

Mafia Migas Keruk Rp 250 Triliun

 Mafia Migas Keruk Rp 250 Triliun

JAKARTA – Hasil audit forensik terhadap Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) menyebutkan terjadi anomali dalam pengadaan minyak pada 2012-2014. Berdasarkan temuan lembaga auditor Kordha Mentha, jaringan mafia minyak dan gas (migas) telah menguasai kontrak suplai minyak senilai US$ 18 miliar atau sekitar Rp 250 triliun selama tiga tahun.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, ada beberapa perusahaan yang memasok minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) kepada PT Pertamina (Persero) melalui Petral pada periode tersebut. Namun, setelah diaudit, kata Sudirman, semua pemasok tersebut berafiliasi pada satu badan yang sama. Badan itu menguasai kontrak US$ 6 miliar per tahun atau sekitar 15 persen dari rata-rata impor minyak tahunan senilai US$ 40 miliar. “Ini nilai kontrak yang mereka kuasai, bukan keuntungan,” kata Sudirman kepada Tempo, kemarin.

Sudirman enggan membeberkan grup usaha yang dia maksudkan. Namun dia menyebut perusahaan itu kerap menggunakan perusahaan perantara (fronting traders) dan perusahaan minyak milik negara (national oil company/NOC) untuk menggaet keuntungan lebih banyak. Akibat ulah mafia ini, kata dia, Pertamina tidak memperoleh harga terbaik dalam pengadaan minyak ataupun jual-beli produk BBM. Sudirman tengah mengkaji temuan tersebut untuk ditindaklanjuti secara hukum. “Proses pro-justitia masih kami pertimbangkan,” tuturnya.

Sumber Tempo di Kementerian Energi mengatakan Petral menjadi kepanjangan tangan pihak ketiga untuk masuk proses pengadaan minyak. Menurut dia, pihak ketiga ini memiliki informan di tubuh Petral, yang membocorkan informasi pengadaan minyak, memunculkan perhitungan harga, serta mengatur tender. “Sebelum disampaikan ke peserta tender, si pembocor menyampaikannya dulu ke jaringan tersebut,” ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi, juru bicara Pertamina, Wianda Pusponegoro, mengakui adanya penguasaan kontrak oleh jaringan tertentu. “Hal ini menambah panjang rantai suplai sehingga harga beli minyak kurang kompetitif,” katanya. Namun dia enggan menyebutkan pihak ketiga yang disebut-sebut dalam audit itu.

Ihwal adanya pembocor di tubuh Petral diakui oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto. Menurut Dwi, kebocoran informasi rahasia dan intervensi pihak eksternal ini mempengaruhi pengembangan bisnis, mitra secara tidak langsung, dan proses negosiasi oleh Petral. “Ini telah kami laporkan kepada pemerintah untuk diambil langkah lanjutan apabila diperlukan,” katanya, Senin lalu. ROBBY IRFANY | FERY F.

 

+++++++

 

KAMIS, 12 NOVEMBER 2015

Istana Dorong Kasus Petral Dibawa ke KPK

JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan hasil audit forensik Pertamina Energy Trading Ltd. (Petral) yang mengindikasikan penyelewengan dalam pengadaan minyak akan dilaporkan ke penegak hukum. “Namanya audit harus dilaporkan kalau ada penyelewengan,” ujar Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Bila ada temuan korupsi, kata Kalla, hasil audit itu akan disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi, kalaupun tak berindikasi korupsi dan hanya ditemukan adanya penyelewengan, kata dia, tetap harus dilaporkan ke penegak hukum lainnya.

Hasil audit oleh auditor independen KordaMentha terhadap anak perusahaan PT Pertamina (Persero) itu menyebutkan adanya anomali dalam pengadaan minyak oleh Petral pada 2012-2014. Jaringan mafia minyak dan gas (migas) diperkirakan telah mengeruk uang senilai US$ 18 miliar atau sekitar Rp 250 triliun dalam tiga tahun. Para pengeruk keuntungan itu ternyata berafiliasi ke satu badan yang sama.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengungkapkan, perusahaan itu kerap menggunakan perusahaan perantara (fronting traders) dan perusahaan minyak milik negara (NOC) untuk mengeruk keuntungan lebih banyak.

Akibat praktek mafia migas ini, menurut Sudirman, Pertamina tak memperoleh harga terbaik dalam pengadaan minyak. Dia kini sedang mengkaji temuan itu untuk ditindaklanjuti secara hukum. “Proses pro justitia masih kami pertimbangkan,” ucap dia, Selasa lalu.

Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja mengaku siap menyidik kasus mafia migas asalkan Menteri Energi telah menyerahkan data valid kepada KPK. Apalagi dugaan adanya mafia migas ini sudah lama muncul. “Kami menunggu bahan dari Menteri Energi,” ucap Adnan.

Sebagai upaya penegakan hukum, KPK akan bekerja sama dengan kepolisian dan kejaksaan dalam mengusut dugaan mafia migas di Petral. “Kami siap menerima amanat dan mandat dari Menteri apabila sudah menerima datanya. (Data) masih di tangan beliau (Menteri Energi),” kata Adnan.

Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti juga berharap laporan dan data tentang Petral sudah dikantongi Badan Reserse Kriminal Polri untuk bisa ditindaklanjuti. “Nanti kami lihat siapa yang pegang datanya. Bisa diserahkan ke saya kalau ada yang punya,” kata dia kepada Tempo.

Presiden mengaku belum mendapat laporan hasil audit itu. Ia baru akan bertindak setelah mendapatkannya. “Petral sudah saya minta untuk diaudit. Kemudian hasil auditnya sudah selesai, tapi belum dilaporkan ke saya,” kata dia. TIKA PRIMANDARI I DEWI SUCI RAHAYU | ALI HIDAYAT | DIANANTA P. SUMEDI (BANJARMASIN) | RR ARIYANI


Perusahaan Minyak Asing Tersangkut

SEBELUM audit forensik terhadap Petral dilakukan, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi telah menemukan permainan mencurigakan oleh Petral dalam pengadaan minyak. Tim mengumpulkan data itu dari kurun waktu yang hampir sama dengan auditor KordaMentha, yakni 2012-2014. Salah satu permainan itu adalah pengadaan minyaknya dari perusahaan minyak negara (NOC).Ini beberapa nama NOC yang disebut dalam laporan Tim.

1. Perusahaan trading milik NOC Malaysia, Petronas, digunakan untuk pengadaan High Speed Diesel Fuel 0,35 persen sulfur. Adapun pengapalannya dilakukan oleh Hin Leong Trading (PTE) Ltd atas nama Sinopec (Hong Kong) Petroleum Company Ltd.

2. Petco Trading Labuan Company Ltd pada 2013 digunakan sebagai NOC untuk pengadaan Gasoil 0,35 persen sulfur yang pengapalannya dilakukan oleh SK Energy Co Ltd atas nama SK Energy International Pte Ltd.

3. Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Ltd juga digunakan sebagai NOC untuk pengadaan bahan bakar jet/kerosin. Tapi pengapalannya dilakukan AVTTI atas nama Vitol Asia Pte Ltd.

4. Pada tahun lalu Petral melakukan beberapa pengadaan Gasoline RON 88 menggunakan kapal Akrotiri oleh Vopak atas pesanan Philips 56 International Trading Pte Ltd. RR. ARIYANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: