Lumbung Ikan RI Terancam


Gilaa…!Kekayaan alam dijarah seeinaknya oleh manusia Indonesia. Pemerintah (aparatnya) ikut menikmati ..diam..

Merkuri Cemari Teluk Kayeli Tempat Ikan Bertelur

NAMLEA, KOMPAS — Tercemarnya Teluk Kayeli akibat penggunaan merkuri dan sianida untuk pemisahan emas hasil tambang liar di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, mengancam perikanan nasional.

Per 13 November, pemerintah akan menutup pertambangan ilegal di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Pada Rabu (11/11), banyak petambang mulai mengosongkan lokasi pertambangan. Meski demikian, banyak juga yang masih bertahan dan melakukan aktivitas yang merusak dan mencemari lingkungan. Pemerintah setempat berulang kali mengancam akan menutup tempat itu, tetapi tidak melakukannya secara tegas.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTOPer 13 November, pemerintah akan menutup pertambangan ilegal di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Pada Rabu (11/11), banyak petambang mulai mengosongkan lokasi pertambangan. Meski demikian, banyak juga yang masih bertahan dan melakukan aktivitas yang merusak dan mencemari lingkungan. Pemerintah setempat berulang kali mengancam akan menutup tempat itu, tetapi tidak melakukannya secara tegas.

Di teluk itu ada lebih dari 1.000 hektar mangrove, tempat bertelurnya ikan, yang hasilnya akan bergerak ke tengah laut dan menyebar ke sejumlah perairan Nusantara.

Masudin Sangaji, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Rabu (11/11), mengatakan, pencemaran lingkungan akibat penggunaan zat berbahaya itu tak hanya mengancam keamanan pangan di Pulau Buru yang telah ditetapkan sebagai salah satu sentra padi. Merkuri juga membahayakan biota laut di Maluku yang kini menjadi lumbung ikan nasional.

Pasalnya, lokasi pengolahan material tambang menjadi emas itu kebanyakan berada di pinggir sungai dan permukiman yang tidak jauh dari sungai. Ketika terjadi hujan, limbah merkuri itu mengalir melalui sungai dan terbawa hingga ke Teluk Kayeli, muara Sungai Waeapo, dan beberapa sungai kecil lain.

Tahun 2014, tim yang dipimpin Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpatti, meneliti potensi kandungan merkuri pada udang, ikan, kerang-kerangan, dan kepiting yang diambil dari Teluk Kayeli. Mereka mendapati konsentrasi merkuri pada 30 persen sampel itu telah melampaui batas atas menurut standar nasional yang hanya 0,5 miligram per 1 kilogram sampel. Pada udang, kandungan merkuri tiga kali dari standar, ikan tujuh kali, kerang-kerangan enam kali, dan kepiting dua kali (Kompas, 7/11).

Masudin mengatakan, temuan pada sejumlah biota laut itu menandakan Teluk Kayeli tidak steril lagi. Tidak tertutup kemungkinan ikan-ikan kecil dan telur ikan yang menetas di kawasan mangrove teluk juga telah tercemar merkuri. Itu sangat berbahaya sebab ikan-ikan kecil itu akan bergerak menuju tengah laut dan menyebar di sejumlah perairan sekitar. ”Perairan di depan Teluk Kayeli juga merupakan jalur migrasi ikan tuna yang bergerak menuju Laut Arafura hingga Australia,” ujarnya.

Rantai makanan

Jika ikan kecil yang sudah tercemar dimakan ikan sedang, kemudian dimakan ikan besar, itu berarti merkuri sudah masuk ke dalam rantai makanan. Manusia sebagai penghuni teratas rantai makanan bakal terpapar merkuri dalam tubuh ikan. Yusthinus menyatakan, merkuri yang terakumulasi dalam tubuh ikan akan bertambah 40.000 hingga 50.000 kali lipat.

content
,

Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Umar Santoso mengatakan, konsumsi ikan yang terkontaminasi merkuri akan mengganggu sistem saraf pusat di otak. Kerusakan sistem saraf pusat itu akan membuat seseorang dengan kandungan merkuri dalam tubuh melampaui ambang batas menjadi pusing, lemah, pandangan kabur, sulit mengingat, kehilangan koordinasi tubuh, hingga memicu terjadinya gangguan mental.

Cemaran merkuri memang bisa berasal dari alam dan proses industri, tidak selalu dari pertambangan emas. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut konsentrasi aman merkuri di udara yang bisa ditoleransi mencapai 1 mikrogram (0,000001 gram) per meter kubik dan batas aman di air mencapai 1 mikrogram per liter.

Tubuh manusia mampu menoleransi merkuri hingga jumlah tertentu. Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyebut asupan mingguan yang bisa ditoleransi (TWI) dari merkuri mencapai 1,3 mikrogram (0,0000013 gram) per kilogram berat badan. Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan pada 1989 menetapkan batasan maksimum merkuri dalam produk pangan 0,03-0,5 miligram per kilogram berat produk.

Lebih lanjut Masudin mengatakan, Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten Buru perlu serius menangani pencemaran lingkungan. Satu-satunya cara ialah menutup aktivitas penambangan liar di Gunung Botak serta menghentikan penggunaan bahan berbahaya, seperti merkuri dan sianida, untuk pemisahan emas.

Jika kondisi ini tidak dihentikan, ancaman terhadap keamanan perikanan tangkap di Maluku, bahkan Indonesia, bakal meluas. Kawasan itu memiliki potensi perikanan tangkap yang tinggi, sekitar 1,72 juta ton per tahun.

Masudin khawatir, jika ada temuan hasil ekspor ikan asal Indonesia mengandung merkuri, hal itu membuat kepercayaan pebisnis global terhadap komoditas laut asal Indonesia hilang. Untuk mengembalikan kondisi itu butuh waktu lama.

TNI-Polri 500 personel

Inilah lokasi pengolahan emas hasil tambang liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, Minggu (8/11). Pengolahan emas yang menggunakan merkuri itu telah mencemari lingkungan di sana. Hingga Senin (9/11), kegiatan penambangan dan pengolahan emas dengan cara itu masih terjadi di sana. Sejumlah warga dilaporkan sudah terpapar merkuri.
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN
Kondisi sebagian besar Gunung Botak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku telah hancur akibat penambangan emas secara liar seperti pada Minggu (8/11). Seorang petambang sedang memberikan kode kepada petambang yang lain. Lebih dari 1.000 orang tewas akibat kecelakaan kerja dan dibunuh sesama petambang serta banyak warga setempat terpapar merkuri yang digunakan untuk mengolah hasil tambang.
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN

Sejumlah persiapan telah dilakukan ihwal rencana pengosongan kawasan tambang liar Gunung Botak dengan tenggat Jumat. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Maluku Martha Nanlohy mengatakan, tim gabungan TNI dan Polri sebanyak 500 orang ditambah 40 warga setempat disiapkan untuk penertiban.

Namun, para pelaku penambangan emas ilegal di Gunung Botak masih meragukan keseriusan pemerintah daerah menutup pertambangan itu pada Jumat. Ini karena sosialisasi masih minim dan pernyataan penutupan disertai penyisiran telah didengungkan berulang kali, tetapi tidak ada tindakan berarti.

Jika pemerintah serius menutup aktivitas pertambangan, hal itu harus dilakukan dengan tegas. Selain itu, pengetatan dan pengawasan aktivitas tambang ilegal di daerah-daerah sekitarnya pun wajib dilakukan agar penutupan tak sekadar memindahkan masalah ke tempat baru.

Saat mengikuti rombongan Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karliansyah, Rabu, beberapa petambang sudah tahu.

”Sudah sering dibilang mau ada penyisiran, tambang mauditutup, tetapi tidak pernah ada (penyisiran),” kata SY asal Sulawesi Selatan yang menambang sejak 2012.

Kemarin, penambangan masih marak meski jumlahnya jauh berkurang. SY mengaku menggunakan merkuri sebagai pemisah emas dan tanah yang dibelinya seharga Rp 300.000-Rp 400.000 per kilogram. Sekitar 4 ons merkuri dipakai dalam setiap 10 tromol untuk menghasilkan 2 gram emas, tergantung jenis tanah yang didapat.

Siang kemarin, dalam lima menit, sedikitnya 13 mobil gardan ganda melintas dari atas Gunung Botak menuju pengolahan di desa setempat. Tiap mobil bisa membawa 100 karung tanah galian, belum termasuk motor.

Kendaraan ini melintasi pos Brimob dan pos masyarakat adat (pemilik ulayat). Saat melintasi pos bangunan kayu kecil milik pemilik ulayat itu, pelintas yang membawa muatan karung-karung tanah dipungut retribusi. Sementara di pos polisi tidak tampak ada pungutan. Di dalam pos polisi berjaga aparat Brimob berseragam dan bersenjata, sedangkan pos masyarakat adat hanya ditunggu ibu-ibu dan anak kecil. (FRN/ICH/MZW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: