Bupati Buru Tak Hadiri Pengosongan Tambang Liar di Gunung Botak


Bupati Buru harus segera disidik dan selidiki kaitannya dengan usaha tambang ilegal..

MAKASSAR, KOMPAS — Petambang dan pengelola material tambang mulai meninggalkan kawasan tambang liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Hari ini, Jumat (13/11), merupakan batas akhir pengosongan lokasi yang dirambah sejak Oktober 2011 itu. Namun, pengosongan tersebut tidak dihadiri Bupati Buru Ramly I Umasugi.

Kondisi sebagian besar  Gunung Botak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, telah hancur akibat penambangan emas secara liar seperti pada Minggu (8/11). Lebih dari 1.000 orang tewas akibat kecelakaan kerja dan dibunuh sesama petambang serta banyak warga setempat terpapar merkuri yang digunakan untuk mengolah hasil tambang. Perintah Presiden Joko Widodo agar tambang itu ditutup belum dilaksanakan.
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINKondisi sebagian besar Gunung Botak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, telah hancur akibat penambangan emas secara liar seperti pada Minggu (8/11). Lebih dari 1.000 orang tewas akibat kecelakaan kerja dan dibunuh sesama petambang serta banyak warga setempat terpapar merkuri yang digunakan untuk mengolah hasil tambang. Perintah Presiden Joko Widodo agar tambang itu ditutup belum dilaksanakan.

Ramly dikabarkan tengah berada di Jakarta sejak beberapa hari lalu. Ia mendampingi Gubernur Maluku Said Assagaff dalam kunjungan ke Perancis guna menemui sejumlah investor. Mereka akan berangkat besok malam. “Belum tahu potensi apa saja yang akan ditawarkan kepada investor,” kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Maluku Martha Nanlohy ketika dihubungi dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Informasi yang dihimpun Kompas menyebutkan, sejumlah pejabat dan keluarga terlibat dalam tambang ilegal di Gunung Botak. Mereka memodali petambang yang umumnya berasal dari luar daerah. Ada pula aktor lain yang memasok bahan berbahaya seperti sianida dan merkuri yang digunakan untuk memisahkan emas dengan logam lainnya.

Kendati sudah dilarang peredarannya di Buru, merkuri dan sianida dengan mudah masuk dan dijual bebas di permukiman penduduk dan kawasan sekitar lokasi tambang. Karena itu, penutupan tambang liar membuat oknum-oknum pejabat yang tidak bertanggung jawab itu bakal kehilangan “lahan garapan”.

content
,

Keterlibatan pejabat pulalah menyebabkan operasi penertiban yang sudah berlangsung 25 kali selalu gagal. Proses penertiban terkesan direkayasa demi pencitraan bahwa ada keseriusan untuk menghentikan tambang liar tersebut.

Batas akhir

Jumat ini merupakan batas akhir pengosongan lokasi tambang liar dan pengolahan material tambang. Mulai besok, TNI/Polri akan melakukan penindakan hukum kepada siapa saja yang masih beraktivitas di sana. Disiapkan lebih kurang 10 pos gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Buru, dan masyarakat adat setempat.

Permukiman penduduk  di lereng Gunung Botak, lokasi tambang liar di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, telah dijadikan tempat pengolahan emas dengan menggunakan zat merkuri. Hingga Selasa (10/11), aktivitas yang mengancam keselamatan manusia itu masih terus berlangsung kendati sudah diperintah Presiden Joko Widodo untuk ditutup.
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINPermukiman penduduk di lereng Gunung Botak, lokasi tambang liar di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, telah dijadikan tempat pengolahan emas dengan menggunakan zat merkuri. Hingga Selasa (10/11), aktivitas yang mengancam keselamatan manusia itu masih terus berlangsung kendati sudah diperintah Presiden Joko Widodo untuk ditutup.

Martha mengatakan, sebagian besar petambang sudah turun dari lokasi tambang, sementara aktivitas pengolahan material di lereng dan sekitar permukiman warga sudah dihentikan. “Setelah selesai shalat Jumat, aparat akan ke atas untuk mengosongkan lokasi itu. Kami berharap proses itu berjalan lancar,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ancaman merkuri dan sianida yang digunakan untuk pemisahan emas dengan logam lainnya kini sudah nyata. Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, dalam penelitiannya mengungkapkan, merkuri telah mencemari sejumlah sungai, bahkan hingga ke Teluk Kayeli, muara sungai-sungai di sana.

Sejumlah biota laut seperti udang, kepiting, siput, dan ikan yang diteliti sudah mengandung merkuri dengan konsentrasi melebihi ambang batas. Merkuri telah masuk ke dalam bahan pangan, bagian dari rantai makanan dengan manusia sebagai penghuni puncak. Sejumlah warga yang menjadi sampel penelitian itu diketahui telah terpapar merkuri yang ditemukan di rambut.

Khusus pencemaran Teluk Keyeli, Masudin Sangaji, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti, mengatakan, hal itu akan berpengaruh terhadap keamanan hasil laut di Indonesia. Di teluk itu terdapat ribuan hektar tanaman mangrove yang menjadi tempat bertelurnya ikan sebelum akhirnya menetas dan bergerak ke tengah laut. Ikan-ikan itu nanti akan bergerak bebas hingga ke sejumlah wilayah perairan di Tanah Air ataupun ke negara lain. (Kompas, 12/11)

  • 0
  • 2
  • 6
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: