Tokoh Antikorupsi Terpental


JUM AT, 18 DESEMBER 2015

 Tokoh Antikorupsi Terpental

JAKARTA – Tiga calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dari kalangan internal, yakni Busyro Muqoddas, Johan Budi Sapto Pribowo, dan Sujanarko, kalah dalam pemungutan suara pemilihan komisioner KPK periode 2015-2019 yang digelar Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, kemarin. Busyro, yang pernah menjadi Ketua KPK, hanya mendapat 2 suara. Sedangkan Johan, yang menjadi pelaksana tugas Wakil Ketua KPK, memperoleh 25 suara. Adapun Sujanarko, Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Sama Antar-Komisi KPK, memungut 3 suara.

Sebanyak 54 anggota Komisi Hukum yang berhak memilih lima nama menjatuhkan pilihan kepada bekas Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Agus Rahardjo sebagai Ketua KPK yang baru. Ia mendapatkan 53 suara, diikuti calon dari kepolisian, Staf Ahli Sosial Politik Kapolri, Inspektur Jenderal Basaria Panjaitan, yang memperoleh 51 suara.

Tiga nama lain adalah Alexander Marwata, hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (46 suara); Thony Saut Situmorang, Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (37 suara); serta Laode Muhammad Syarif, dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar (37 suara). “Pemilihan ini sudah melalui proses yang transparan,” kata pemimpin sidang pleno, Azis Syamsuddin, kemarin.

Pengamat antikorupsi menilai terjungkalnya para pejuang antikorupsi sebagai calon pimpinan KPK merupakan awan kelabu pemberantasan korupsi.”Kiamat aja pemberantasan korupsi,” kata peneliti dari Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Hifdzil Alim, kemarin.

Hifdzil menyesalkan salah satu pemimpin KPK yang terpilih setuju lembaga itu bisa menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan dan mendukung penyadapan seizin ketua pengadilan. “Calon seperti itu tidak pas untuk lembaga sekelas KPK,” ujar dia.

Pakar hukum tata negara Refly Harun dan Saldi Isra mengatakan hasil voting itu menunjukkan DPR tak ingin memperkuat KPK. “Yang dipilih adalah orang-orang yang bisa ditundukkan,” ujar Refly.

Saldi mengatakan lima orang terpilih itu merupakan orang yang setuju terhadap revisi Undang-Undang KPK. Ia menduga persetujuan tersebut adalah salah satu strategi para calon untuk mengakomodasi keinginan DPR. “Tugas mereka sekarang bukan lagi menghadapi DPR, tapi memberantas korupsi,” kata dia.

Peneliti dari Indonesia Corruption Watch, Aradilla Caesar, meminta lima komisioner terpilih memperjuangkan nasib penyidik Novel Baswedan yang terus tersandera kriminalisasi oleh bekas korpsnya.

Johan, kemarin, berucap syukur karena tak terpilih. “Sepertinya doa istri saya terkabul,” kata dia. Ia berharap pimpinan KPK jilid IV ini bisa menjaga marwah komisi antirasuah itu. “Sistem di KPK sudah jalan, tinggal melanjutkan,” ujarnya.FAIZ NASHRILLAH | LINDA TRIANITA | EGI ADYATAMA | TRI ARTINNING PUTRI | DESTRIANITA K. | FRANSISCO ROSARIANS | ISTIQOMATUL HAYATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: