Profesor Bermutu yang Masih Semu


Nasib bangsa Indonesia.. Kualitas intelektual rendah.. pendidikan butut (mirip metro mini). Bagaimana indonesia bisa bersaing dengan negara ASEAN ?? Lawan Vietnam aja sudah repot !

Profesor bermutu yang mampu menjadi pendidik profesional dan ilmuwan yang punya sumbangsih untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa menjadi dambaan negeri ini. Namun, jalan menuju pencapaian jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi sebagai guru besar alias profesor tidaklah mudah.

Sejumlah profesor,  yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema
KOMPAS/RIZA FATHONISejumlah profesor, yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema “Asia sebagai Pusat Peradaban dan Pembangunan Dunia, di Mana Posisi Indonesia?”.

Apalagi, ketentuan baru soal pemenuhan kriteria guru besar sedikitnya harus punya satu karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi dengan penilaian yang ketat. Alhasil, kualitas riset pun harus bagus, harus menawarkan kebaruan atau inovasi, dan mampu dikomunikasikan lewat tulisan karya ilmiah yang baik.

Menggenjot riset dan publikasi ilmiah menjadi salah satu upaya meningkatkan daya saing bangsa. Indonesia punya banyak dosen dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, tetapi jumlah publikasi internasionalnya rendah.

“Yang profesor pun tidak semua produktif meriset dan melakukan publikasi ilmiah di jurnal internasional,” kata Guru Besar di Universitas Negeri Makassar Eko Hadi Sujiono yang juga anggota Tim Penilaian Angka Kredit (PAK) Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Sayangnya, soal riset dan publikasi ilmiah ini sering kali jadi ganjalan bagi para doktor yang sudah di jenjang akademik lektor kepala untuk naik tingkat jadi guru besar. Jalan pintas pun ada yang dipilih calon profesor agar bisa lolos dalam penilaian.

Dalam seminar nasional keprofesoran bertajuk “Menggagas Format Baru untuk Menghasilkan Profesor yang Lebih Berkualitas, Kreatif, dan Produktif” di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang dilaksanakan Direktorat Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti, berbagai sebab gagalnya pengajuan calon profesor diungkap. Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti “turun gunung” untuk berbagi tips kepada para doktor yang bersiap mengajukan usulan sebagai guru besar.

Tergiur

Yanuarsyah Haroen, Ketua Tim PAK yang juga Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, mengatakan, dari pengamatan sejak 2011, terlihat kualitas karya ilmiah dan publikasi ilmiah calon profesor masih rendah. “Bahkan, cara-cara curang dan tidak beretika juga dilakukan calon profesor. Ada berbagai temuan kecurangan yang membuat calon profesor gagal diproses,” ungkapnya.

Ada calon profesor yang mengganti cover jurnal, isi diganti atau diselipkan dengan karya ilmiahnya. Ada yang mengambil data-data penelitian orang lain seolah-olah hasil risetnya, hingga ada isi karya ilmiah yang tidak ada kaitan dengan daftar referensi. “Banyak pula doktor yang tergiur publikasinya mudah masuk jurnal ilmiah internasional tertentu. Akan tetapi, ternyata jurnal itu abal-abal atau palsu. Demikian juga tawaran ikut seminar/konferensi internasional dengan jaminan karya ilmiahnya bisa masuk ke jurnal ilmiah,” tutur Yanuarsyah.

Para calon profesor, menurut Yanuarsyah, memang masih butuh peningkatan untuk melakukan riset bermutu sehingga menghasilkan publikasi internasional yang diakui. Dalam realitasnya, ada dosen yang tidak layak mendapat jabatan akademik profesor.

Seminar nasional  keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULUSeminar nasional keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.

“Ada kebodohan-kebodahan yang tampak jelas dalam proses pengajuan, terutama di syarat publikasi. Ada yang copy paste karya orang lain, hingga dalam artikel ilmiah di jurnal disebut dalam skripsi ini,” ujar Yanuarsyah

Guru Besar di Universitas Diponegoro Heru Susanto yang juga anggota Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti mengatakan, penilaian publikasi yang baik meliputi content yang ditulis dengan baik ataupun penerbitannya. Sayang, banyak dosen yang tidak jeli dalam memahami jurnal ilmiah yang baik. Sebab, jurnal internasional yang terindeks Scopus saja belum tentu bagus.

“Ada salah satu PT di Indonesia yang progresif publikasi ilmiahnya di jurnal. Tetapi, lebih dari 15 persen publikasinya di jurnal yang tidak baik,” ujar Heru.

Dalam publikasi karya ilmiah, para dosen di Indonesia banyak yang tidak ada kebaruan, tidak ditulis dengan format yang baik, ada indikasi pelanggaran etika publikasi ilmiah, referensi tidak nyambung, hingga standar bahasa Inggris tidak terpenuhi.

“Ada doktor bidang hukum yang dalam publikasinya menerjemahkan hukum tidak berjalan ke dalam bahasa Inggris menjadi the law us not walking. Padahal, kendala bahasa ini, kan, bisa diatasi dengan bantuan penerjemahan,” ungkap Heru.

Ditingkatkan

Bunyamin Maftuh, Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kementerian Ristek dan Dikti, mengatakan, sosialisasi keprofesoran terus dilakukan, baik untuk para doktor yang siap mengusulkan profesor maupun pimpinan perguruan tinggi agar memiliki rencana strategis untuk menyiapkan calon profesor sesuai kebutuhan tiap-tiap perguruan tinggi. “Yang penting juga lewat sosialisasi di sejumlah daerah ini bisa berbagi soal hal-hal yang membuat pengajuan profesor gagal dan apa yang mesti diperbaiki,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menuturkan, terobosan untuk menambah kuantitas dan kualitas profesor harus dilakukan. “Akan tetapi, bukan asal profesor, melainkan yang bermutu,” ujarnya.

Para dosen bergelar doktor, yang berjumlah sekitar 23.000 orang, setiap tahun akan bertambah karena yang menempuh pendidikan pascasarjana di dalam dan luar negeri saat ini berkisar 12.000 orang. Para dosen yang telah mencapai jabatan lektor kepala didorong untuk meningkatkan kariernya menjadi profesor. Setidaknya ditargetkan sekitar 23.000 profesor sesuai jumlah program studi yang ada. Jumlah profesor saat ini berkisar 5.300 orang.

Sejak pertengahan 2015, pengusulan profesor dilakukan secara online. Ada kepastian batas waktu untuk memproses pengajuan kepada Kementerian Ristek dan Dikti, yakni maksimal dua bulan pengajuan segera bisa diketahui diterima atau ditolak. Selain itu, ada masukan-masukan perbaikan sehingga calon profesor bisa segera mengusulkan kembali proses guru besarnya.

  • 0
  • 0
  • 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: