Diduga Teroris Penyerang Jakarta, Seorang Pria Dicokok di Bekasi


r

RABU, 23 DESEMBER 2015 | 11:54 WIB

Diduga Teroris Penyerang Jakarta, Seorang Pria Dicokok di Bekasi

Tim Densus 88 Anti Teror menggeledah rumah kontrakan salah satu terduga teroris di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Ahad sore, 20 Desember 2015. TEMPO/ISHOMUDDIN

TEMPO.CO, Jakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian RI menangkap seorang pria di Bekasi, hari ini, 23 Desember 2015.

Dia diduga kuat jaringan kelompok teroris yang ditangkap di Tasikmalaya dan Sukoharjo pada Jumat dan Sabtu, pekan lalu. Pria itu bernama Abu Muzab. “Hasil pengembangan dari Tasikmalaya dan Solo,” kata seorang perwira polisi yang mengetahui penangkapan itu, Rabu, 23 Desember 2015.

Pihak kepolisian belum bisa dimintai penjelasan perihal detail penangkapan itu.

SIMAK:
Zaenal Diduga sebagai Pengantin Bom Malam Tahun Baru di Jakarta
Densus 88 Selidiki Hubungan Jaringan Abu Jundi dengan ISIS

Pada Jumat sore, pekan lalu, Densus 88 mencokok Zaenal, 35 tahun, di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar pukul 16.30 WIB. Dia ditangkap bersama Asep Urip, 31 tahun, guru sebuah pesantren di Tasikmalaya, di jalan sekitar Kampung Cihaji, Kelurahan Purbaratu, Kecamatan Purbaratu. Tapi, Asep dilepaskan karena tak terlibat terorisme.

Adapun Zaenal, asal Sulawesi, diduga akan menjadi pelaku bom bunuh diri pada Natal dan malam tahun baru 2015 pada pengujung bulan ini. Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan mereka akan meledakkan bom di Jakarta. Namun, “Mereka tidak eksplisit menyebutkan apakah untuk Natal atau tahun baru,” ujarnya kepada Tempo, Ahad, 20 Desember 2015.

Zaenal ditangkap setelah polisi meringkus Iwan alias Koki, asal Padang, bersama satu orang lagi di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, pada pukul 13.00. Iwan dalam perjalanan dari Tasikmalaya menuju Bandung untuk menemui Zaenal. Iwan diketahui sebagai perakit bom dan ditengarai akan membuat donut, sebutan mereka untuk bom, di Bandung.

Esoknya, Sabtu, Densus 88 menggulung jaringan Zaenal dan Iwan Koki di Sukoharjo, dekat Solo, Jawa Tengah. Di situ, polisi mencokok Abdul Karim alias Abu Jundi. Di antara barang bukti sejumlah penangkapan itu terdapat bendera hitam yang identik dengan bendera ISIS, Negara Islam Irak dan Suriah. Menurut sumber di komunitas antiterorisme, Zaenal juga disinyalir memasok uang ke Abdul Karim.

JOBPIE SUGIHARTO

11 Terduga Teroris yang Ditangkap Berasal dari Kelompok Berbeda

Kamis, 24 Desember 2015 | 12:36 WIB
AP PHOTO / KUSUMADIREZADensus 88 mengepung teroris di sebuah rumah di Kampung Batu Rengat, Desa Cigondewah Hilir Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jabar, Rabu (8/5/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan, total teroris yang telah ditangkap oleh tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri kini berjumlah 11 orang. Mereka berasal dari tiga kelompok berbeda.

“Di Jatim kan kelompok radikal lama, sudah gabungan. Kemudian, di Jateng itu kelompok ISIS yang berafiliasi di Solo,” tutur Anton di Kompleks Mabes Polri, Kamis (24/12/2015).

Terduga teroris di Bekasi yang baru ditangkap, kata Anton, berasal dari kelompok ISIS yang berhubungan langsung dari Suriah.

Adapun kelompok lainnya adalah gembong teroris Poso, Santoso. Anton menambahkan, terkait kelompok Santoso, Polri juga akan tetap mewaspadai pergerakannya selama Natal dan Tahun Baru.

(Baca: Kapolri: Terduga Teroris yang Ditangkap di Bekasi Terkait ISIS)

“Ya memang dia juga kan sudah mengancam sebelumnya bahwa akan mengadakan almaliyah, aksi di bulan Desember. Walaupun cuma ancaman, tetap harus kita waspadai,” ungkap Anton.

Anton menjelaskan, Polri telah melakukan upaya-upaya proaktif yang signifikan. Polri sebelumnya menangkap sejumlah terduga teroris di Jawa Timur, Sukoharjo, Tasikmalaya, Klaten, Solo, dan terakhir di Bekasi.

Dia juga menyinggung komentar sejumlah pihak yang mengatakan bahwa kepolisian terlalu demonstratif dalam menangkap pelaku terorisme. Menurut Anton, kepolisian bukan demonstratif, tetapi harus super-waspada.

(Baca: Menko Polhukam: Kawasan Obyek Vital “High Alert” hingga Tahun Baru)

“Bahkan, ada (teroris) yang siap untuk menjadi ‘pengantin’. Kalau terhadap teror, kita harus super-waspada, bukan demonstratif. Kalau nanti sudah kejadian meledak, siapa yang disalahkan? Kan polisi,” kata dia.

Terorisme, menurut Anton, tidak seperti kejahatan biasa, seperti copet atau pencurian. Karena itu, untuk memeranginya, diperlukan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat dan juga pemuka agama, terutama jika bicara soal ISIS.

“Memerangi terorisme itu kalau dibebankan kepada polisi, terus terang kami itu mungkin tidak akan selesai, tidak akan maksinal. Terorisme itu juga masalah ideologi dan keyakinan,” katanya.

Penulis : Nabilla Tashandra
Editor : Sabrina Asril
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: