ISIS Menguat di Asia Tenggara


Kita harus siap menghadapi teror susulan yang pasti lebih dasyat dari bom Thamrin ?
Koran Tempo SELASA, 19 JANUARI 2016

MANILA – Pasca-serangan teroris di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, negara-negara di Asia Tenggara meningkatkan keamanan dan kewaspadaan terhadap serangan sel-sel Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand juga mengintensifkan kerja sama.

Juru bicara Polisi Nasional Filipina (PNP), Chief Superintendent Wilben Mayor, menyerukan agar aksi teror ISIS segera diagendakan di forum Interpol regional, ASEANAPOL. “Kami punya hubungan bagus dengan Indonesia,” ujarnya dalam wawancara dengan Manila Bulettin, kemarin. Mayor juga menyebutkan PNP akan bekerja sama dengan Polri mengecek muasal senjata api pelaku serangan yang diduga dari Filipina.

Kepolisian RI meyakini pelakunya adalah jaringan ISIS. Juga pengakuan dari ISIS sendiri lewat Internet. Direktur Eksekutif Philippine Institute for Peace, Violence, and Terrorism Research, kepada UCA News, kemarin, menyebutkan bahwa pengaruh ISIS di Filipina akan menjadi “ancaman serius di dalam negeri” dan berdampak pada keamanan regional.

Di Filipina, Alharakatul Islamiyah atau Abu Sayyaf adalah kelompok militan yang bergabung dengan ISIS. Kamp-kamp yang mereka dirikan di Sulu dan Basilan menunjukkan pengaruh ISIS tak hanya menyebar di Filipina Selatan, tapi juga di Malaysia timur.

Di Malaysia, sehari setelah polisi menggagalkan aksi bom bunuh diri oleh pria yang terkait dengan kelompok militan ISIS, badan intelijen merilis tujuh lokasi yang rawan diserang, yakni Menara Kembar Petronas, KL Tower, mal dan destinasi turis Bangsar, Hartamas, Publika, The Curve, serta kawasan Bukit Bintang.

Menteri Teritorial Federal Tengku Adnan Tengku Mansor mengatakan polisi telah meningkatkan penjagaan. “Jumlah polisi bakal ditambah di area-area itu,” ujarnya kepada jurnalis di Kuala Lumpur, Ahad lalu.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Hishammuddin Hussien, seperti dilansir Daily Sabah, menyatakan personel Royal Malaysian Army siap dikerahkan ke area-area strategis.

Menurut kajian konsultan keamanan The Soufan Group dari Amerika Serikat, jumlah relawan dari Asia Tenggara yang bergabung dengan ISIS berlipat sekitar 10 kali dalam dua tahun terakhir. Pada 2014 terdapat 50-100 orang gabung ke ISIS di Suriah dan Irak. Tahun lalu membengkak menjadi 900 orang, terdiri atas Indonesia sebanyak 700 orang, Malaysia 100 orang, dan Filipina 100 orang.

Kewaspadaan terhadap ancaman ISIS sebenarnya telah mengemuka pada medio Desember lalu. Dikutip dari situs Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen membenarkan bahwa ancaman oleh ISIS disinyalir sudah merambah lima negara Asia Tenggara.

Menurut Eng, ancaman itu adalah dari relawan yang kembali dari Suriah dan Irak. Filipina bahkan telah mengantisipasinya dengan menggandeng Australia untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivis dan pendukung ISIS. Pengawasan itu, di antaranya, adalah kerja sama investigasi forensik dan saling tukar informasi, terutama arus milisi ISIS di Asia Tenggara. UCA NEWS | DAILY SABAH | LPKN | ASIA ONE | DEWI SUCI RAHAYU | DWI A


Jejak ISIS di Asia Tenggara

Sejumlah fakta mengindikasikan kehadiran Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) di Asia Tenggara kian mengkhawatirkan. Data lembaga konsultan keamanan asal Amerika Serikat, The Soufan Group, mengungkap jumlah penduduk di kawasan ini yang bertempur bersama ISIS telah mencapai 900 orang, dan sebagian sudah kembali. Zachary Abuza, profesor di National War College di Washington, Amerika Serikat, juga menyebut setidaknya ada dua organisasi militan penting di Asia Tenggara yang sudah berbaiat ke ISIS.

Malaysia 100

Lebih-kurang 5 orang yang sudah kembali.

Singapura 2

Tak ada data soal jumlah yang kembali.

Filipina 100

Tak ada data soal jumlah yang kembali.

Indonesia 700

Sumber di luar pemerintahan menaksir sekitar 500 orang. Sampai Juli 2015, ada 162 yang sudah kembali dari Suriah. Data Polda Metro Jaya: 384 orang bergabung ke ISIS, 54 tewas, dan 47 kembali.

Tiga Kelompok Militan

1. Kelompok Abu Sayyaf

Kelompok yang beroperasi di Provinsi Sulu and Basilan, Filipina selatan, ini telah rutin terlibat dalam penculikan dan pemenggalan. Dari 1990-an sampai 2004, penculikan sebagian besar untuk mengumpulkan dana. Salah seorang pemimpinnya, Isnilon Hapilon, berbaiat ke ISIS via YouTube dan memproklamasikan berdirinya kekhalifahan ISIS.

2. Jamaah Islamiyah

Organisasi ini merupakan afiliasi Al-Qaidah di kawasan ini. Pada 2005, Noordin M. Top memisahkan diri dari kepemimpinan JI dan mendirikan “Al-Qaidah di Kepulauan Melayu”. Sempalan JI lainnya adalah kelompok yang kemudian menjadi Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang dipimpin Santoso, berbaiat kepada ISIS pada 2014.

3. Pemberontak di Thailand Selatan.

Ada 6.500 orang tewas dan hampir 12 ribu terluka sejak 2004 akibat pertempuran di Thailand selatan. Menurut Zachary Abuza, ISIS sama sekali tak berperan dalam pemberontakan itu. Tapi propaganda ISIS semakin memiliki banyak kesamaan dengan aspirasi mereka. Ada kekhawatiran, gerilyawan muda yang frustrasi atas kecepatan pemberontakan akan bersedia meningkatkan skala kekerasan.DIOLAH DARI: ZACHARY ABUZA | THE SOUFAN GROUP

+++++++

Koran Tempo RABU, 20 JANUARI 2016

Jejak Bahrun di Teror Thamrin

JAKARTA – Polri mengindikasikan Bahrun Naim sebagai dalang tak lama setelah terjadi penembakan dan pengeboman di kawasan Thamrin, Jakarta, Kamis pekan lalu. Namun hingga kemarin polisi masih merahasiakan status hukum pria kelahiran Pekalongan, 6 September 1983, itu. “Kami masih rahasiakan dan belum bisa diungkap,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan di Jakarta, kemarin.

Ada dua soal yang masih terus didalami Polri untuk memastikan jejak Bahrun dalam teror yang hingga kemarin telah menewaskan 8 orang itu, termasuk empat yang diduga pelakunya: Dian Joni Kurniadi, Afif alias Sunakim, M. Ali, dan Ahmad Muhazin. Dua hal itu meliputi transfer dana Bahrun dari Suriah ke para pelaku teror dan keterkaitan Bahrun dengan ISIS di Suriah.

Menurut Anton, Polri sedang menyelidiki laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait dengan 10 laporan transaksi mencurigakan yang diduga mengalir ke pelaku teror Thamrin. Sebelumnya, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti menyebutkan dana itu ditransfer berkali-berkali, sebesar Rp 40-70 juta, dari Suriah melalui Western Union.

Kepolisian, kata Anton, bekerja sama dengan Interpol dan intelijen untuk mengintai Bahrun, yang ditengarai berada di Raqqa, Suriah. Dari data sementara yang didapatkan, Bahrun dikenal sebagai pemimpin ISIS kawasan Asia Tenggara. “Yang koordinir ISIS Indonesia di sana adalah Bahrun.” Data tersebut juga menyatakan Bahrun yang mengkoordinasi aksi teror itu.”

Mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII), Al Chaidar, ragu akan klaim polisi. Ia menyebutkan otak serangan adalah Aman Abdurahman, pemimpin Tauhid Wal Jihad, pendukung ISIS yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. “Analisis saya bukan Bahrun, tapi yang di penjara itu.”

Mantan anggota Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas, juga mengatakan otak peristiwa ini adalah Aman. Ia pula yang memerintahkan Bahrun menangani masalah amunisi pada 2010 yang menyebabkannya dipenjara pada 2011. Bahrun diketahui keluar Indonesia pada Februari 2015.

M. Jibriel Abdul Rahman, yang pernah ditahan karena kasus terorisme, juga ragu pada klaim polisi. Ia menilai garis komando antara Afif dan Bahrun terlalu jauh. Bahrun, yang pernah menjadi tukang urut Aman, dikeluarkan karena tidak sejalan. “Kemungkinan Afif ke Abu Jandal,” kata Jibriel. Abu adalah tokoh ISIS di Suriah.

Bahrun melalui rekaman suaranya di SoundCloud membantah terlibat. “Lha wong saya jarang online, dikira ada komunikasi. Komunikasi dari Hong Kong?” kata pemilik suara itu. Pihak keluarga mengkonfirmasi suara tersebut. “Suaranya memang seperti itu,” kata adiknya, Dahlan Zaim, kemarin. “Kami berharap Mas Bahrun segera pulang dan memberi penjelasan.”

Ketua Tim Pembela Muslim, Mahendradatta, menambahkan, keluarga tidak tahu Bahrun di mana. Menurut ayahnya, Bahrun izin memperdalam ilmu agama ke Timur Tengah pada Januari 2015. Soal tudingan polisi terhadap Bahrun, kata dia, “Ya dibuktikan saja.” AVIT HIDAYAT | IMRAN MA | LINDA TRIANITA | DEWI SUCI RAHAYU | EGI ADYATAMA | MITRA TARIGAN | AHMAD RAFIQ | REZA ADITYA | ABDUL MANAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: