Realisasikan Hilirisasi Karet


Pemerintah selama ini “tidur” dan meninak bobokan petani saja. Jadi potensi besar hilang dimanfaatkan negara lain. Program Hilirisasi sepertinya hanya bagus di bibir pejabat saja, sebab kenyataan soal realisasi masih sangat jauh dari harapan..Indonesia dari awal kemerdekaan sampai sekarang diurus secara “asal asalan” dengan pejabat yang doyan “duit dan project” semata. Cilaka !

Kalimantan Barat Jajaki Investor untuk Bangun Pusat Industri Karet
Ikon konten premium Cetak | 21 Januari 2016 Ikon jumlah hit 126 dibaca Ikon komentar 0 komentar
BANYUASIN, KOMPAS — Harga karet yang terus merosot dalam tiga tahun terakhir ini belum ada tanda-tanda membaik. Pemerintah diharapkan dapat merealisasikan hilirisasi karet agar hasil karet petani dapat terserap juga untuk kebutuhan dalam negeri sehingga harga karet dalam negeri bisa naik.

Data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan, harga karet di atas kapal per 19 Januari 2016 sebesar 1,052 dollar AS, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 1,360 dollar AS.

Tidak hanya di pabrikan, anjloknya harga juga terjadi di tingkat petani. Harga karet masih berkutat di kisaran Rp 3.700-Rp 4.000 per kg. Harga ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram.

Kebijakan untuk memperkuat sektor karet dari hulu hingga hilir yang tak kunjung terealisasi dinilai menjadi salah satu penyebab belum pulihnya harga karet dalam negeri.

Ketua Gapkindo Sumsel Alex K Eddy, Rabu (20/1), mengatakan, hilirisasi yang dimaksud adalah menjadikan karet sebagai produk turunan. Dia mencontohkan, karet dapat dijadikan bahan baku aspal, bahan tepian tempat kapal bersandar, atau produk turunan lainnya.

Karena itu, ia berharap Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-api dapat terealisasi sehingga banyak investor yang masuk ke Sumsel, termasuk untuk membangun industri pengolahan karet.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan, hilirisasi industri terus diupayakan agar hasil komoditas karet dapat diserap tidak hanya di luar negeri, tetapi juga dalam negeri. “Produk yang diekspor jangan bahan mentah, tetapi harus memberikan nilai tambah,” katanya.

Jajaki investor

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tengah menjajaki investor yang mau bekerja sama membangun pusat industri karet di Kabupaten Landak. Sejauh ini, kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Kalbar Robertus Isdius, investor masih melihat perkembangan pembangunan infrastruktur penunjang.

Beberapa waktu lalu, Bupati Landak Adrianus Asia Sidot meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Badan Pengelola Kawasan Industri Karet. “Itu sudah masuk dalam program nasional 2015-2019. Dinas perdagangan dan perindustrian secara perlahan menata infrastruktur di dalamnya, misalnya pembebasan lahan dan pembenahan sarana jalan. Selain itu, membenahi instalasi listrik dan air bersih agar investor tertarik bekerja sama dengan pemerintah,” katanya.

Tak kunjung membaiknya harga karet membuat pendapatan petani dan buruh penyadap karet turun. Petani Karet di Pulau Harapan, Sembawa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Khori (44), mengatakan, 4 hektar lahan karet miliknya kini hanya menghasilkan Rp 3,5 juta per bulan. Pada 2013, hasilnya bisa mencapai Rp 7 juta per bulan.

Hal senada dikatakan buruh penyadap karet di Pulau Harapan, Hasanudin (50). Dia mengatakan, pendapatannya dari bagi hasil dengan pemilik lahan karet kini hanya Rp 500.000 per bulan. Dahulu, pendapatannya bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan.

Karena itu, Hasanudin menggarap lahan padi seluas 1 hektar. “Setelah menyadap karet, saya langsung menggarap sawah,” ujarnya. Dari hasil menggarap sawah tersebut, ia dapat memenuhi kebutuhan beras sehari- hari.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Pulau Harapan Budi Putra mengatakan, pihaknya memang mengajak petani karet untuk juga menggarap sawah. Hal ini untuk membantu petani memenuhi kebutuhannya terutama beras.

Dia mengatakan, dari 2.300 keluarga di desanya, 1.159 keluarga di antaranya menggarap kebun karet. Namun, sejak 2015, sebanyak 300 petani karet juga menggarap sawah padi. “Mereka menggarap padi untuk kebutuhan sendiri, bukan untuk dijual,” katanya.

Ardian (30), petani karet di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, berharap pemerintah bisa memberikan kepastian pasar sehingga karet memiliki nilai jual yang tinggi seperti dahulu, Rp 10.000 per kilogram.

“Sekarang, harga 1 kilogram karet tidak cukup untuk membeli 1 kilogram gula. Harga gula mencapai Rp 13.000 per kilogram. Petani akhirnya berharap dari penghasilan tambahan sebagai kerja serabutan. Ada yang sambil bekerja di proyek fisik dan menjadi buruh sawit dengan upah Rp 50.000-Rp 70.000 per hari,” ujarnya. (ESA/RAM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: