Anggaran Perawatan Pesawat Tempur Dipersoalkan


SABTU, 13 FEBRUARI 2016

JAKARTA – Anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Salim Mengga, prihatin atas biaya perawatan dan pemeliharaan alat-alat utama sistem pertahanan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia. Menurut dia, anggaran negara untuk kebutuhan itu selalu tak mencukupi.

Pensiunan TNI Angkatan Darat berpangkat mayor jenderal itu mengatakan anggaran ideal untuk pemeliharaan alat tempur dan sistem pertahanan adalah 1,5 persen dari pendapatan negara. “Jika dikira-kira, sekitar

Rp 150 triliun per tahun,” kata Salim kemarin.

Kecilnya anggaran itulah yang diduga turut menjadi penyebab jatuhnya pesawat Super Tucano saat berlatih di Malang, Jawa Timur, pada Rabu lalu. Dalam dua tahun, sudah empat kejadian pesawat tempur jatuh saat berlatih. Pesawat yang baru dibeli dari Brasil itu jatuh menimpa sebuah rumah di Jalan L.A. Sucipto Gang 12, Kelurahan Blimbing.

Kecelakaan itu menewaskan dua orang penduduk dan pilot Mayor Ivy Safatillah, serta juru mesin Sersan Mayor Syaiful Arief Rakhman. Tiga insiden sebelumnya adalah terbakarnya pesawat tempur F-16 di Halim Perdanakusuma Jakarta pada 16 April 2015; jatuhnya Hercules C-130 di Medan pada 30 Juni 2015, dan jatuhnya pesawat Golden Eagle di Yogyakarta pada 20 Desember 2015.

Menurut Salim, anggaran pertahanan jarang menyentuh angka ideal itu. Pada 2015 pemerintah menganggarkan Rp 102 triliun untuk pertahanan, dan turun menjadi Rp 99 triliun pada tahun ini. “Dari total anggaran itu, sebanyak 30 persen untuk perawatan dan pemeliharaan alutsista,” kata dia.

Dengan anggaran kurang itu, kata Salim, perawatan dan pemeliharaan alat-alat pertahanan terkesan ala kadarnya. Ia mencontohkan, untuk matra kendaraan perang Angkatan Darat tak semuanya kebagian jatah bahan bakar. “Begitu pula di matra lain. Jadi, alutsista TNI itu banyak yang tak bisa dioperasikan bukan karena rusak, tapi karena keterbatasan oli dan bahan bakar,” kata Salim.

Pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi, tak melihat minimnya anggaran perawatan dan pemeliharaan sebagai faktor jatuhnya Super Tucano, karena pesawat itu masih baru. Ia menduga pembeliannya hanya meliputi perawatan dan suku cadang dalam waktu pendek, tidak sampai 10 tahun. “Pengurangan ini lazim untuk menekan harga paket pesawatnya,” kata dia.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Dwi Badarmanto belum bisa berkomentar soal dugaan minimnya biaya perawatan dan pemeliharaan pesawat tempur. “Saya harus tanyakan dulu ke Asisten Perencanaan Kepala Staf,” kata Dwi kemarin.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga belum bisa menduga penyebab kecelakaan itu. Menurut dia, kementeriannya rajin mengaudit kelayakan pesawat tempur. “Saya jalan ke lapangan terbang, industri, depo-depo, kemudian hanggar-hanggar,” kata dia di Jakarta, kemarin. INDRA WIJAYA | EGI ADYATAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: