Drone Lokal Bakal Jaga Perbatasan


Koran Tempo KAMIS, 18 FEBRUARI 2016

 Drone Lokal Bakal Jaga Perbatasan

CHANGI – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bakal menandatangani kontrak pembelian tiga unit pesawat intai tanpa awak, atau drone, buatan PT Bhinneka Dwi Persada bernama Rajawali 330 untuk menjaga wilayah perbatasan. Kontrak bernilai miliaran rupiah ini dipercayakan kepada produsen lokal yang ikut menjejerkan teknologinya di Singapore Airshow 2016.

Prajurit di perbatasan itu hanya mampu melihat batas laut saja. Dengan ini (Rajawali 330), bisa lebih jelas dan jauh, kata Ryamizard, Selasa lalu.

Booth atau ruang pameran PT Bhinneka menjadi salah satu tujuan kunjungan Ryamizard selain milik PT Dirgantara Indonesia dan sejumlah usaha kecil-menengah lokal lainnya. Booth bernuansa militer yang memajang lima jenis drone, termasuk dua berbentuk helikopter, tersebut memang cukup mencolok di sisi D Changi Exhibition Centre.

Sayangnya, Ryamizard enggan menjelaskan secara detail soal alasan pemilihan Rajawali 330 ketimbang produk lain PT Bhinneka. Yang pasti, daerah kita harus dikontrol, apalagi perbatasan, pulau-pulau terluar, kata dia.

Komisaris PT Bhinneka, Feba Henry Affan, mengatakan Rajawali 330 memiliki keunggulan dalam sistem operasi dan durasi terbang yang tinggi. Pesawat seberat 21,5 kilogram ini mampu terbang non-stop selama delapan jam hingga ketinggian 4.000 kaki dan dapat dikendalikan hingga jarak 100 kilometer. Dalam pertahanan perbatasan laut, menurut Feba, pesawat yang dirakit di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, tersebut mampu dioperasikan terbang dan mendarat dari kapal laut yang bergerak.

Kami akan menggelar pelatihan kepada pilot drone ini mulai bulan depan, kata Feba. Rencananya di daerah Serpong, Tangerang.

Rajawali memang tak memiliki kemampuan antiradar atau mata-mata. Alutsista ini semata diproduksi sebagai sarana pertahanan yang menginput seluruh data melalui kamera electro optical atau infrared dan hyper spectral sebagai fungsi surveillance atau pengawasan.

PT Bhinneka merancang Rajawali terintegrasi dengan produk mereka yang bernama Indonesian Future Soldier (IFS). Sistem ini memungkinkan semua prajurit yang mengenakan IFS mampu melihat pantauan mata Rajawali melalui layar atau wrist-mounted computer yang berada di sisi lengan kanan.

Data dari Rajawali tak hanya ke monitor utama, tapi bisa ke semua pakaian IFS, kata Feba. Cocok dengan operasi mendadak dan berbahaya di daerah sulit seperti pegunungan Poso.

Kementerian Pertahanan sendiri sebenarnya sudah meneken kontrak tiga unit drone kembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta PT DI bernama Wulung. Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 8.000 kaki dengan jarak hingga 120 kilometer selama empat jam. Rencananya, Wulung akan mulai diserahkan ke Kementerian Pertahanan usai memperoleh sertifikasi Indonesian Military Airworthiness Authority.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Tubagus Hasanuddin senang atas keputusan Ryamizard menambah alutsista pengawasan di wilayah perbatasan. Purnawirawan jenderal bintang dua TNI Angkatan Darat ini sepakat pemerintah harus menambah kekuatan dan teknologi di wilayah perbatasan yang sangat luas. Kontrol akan lebih efektif dan informasi akan lebih aktual yang diterima prajurit, kata Tubagus. FRANSISCO ROSARIANS


Rajawali dan Tentara Masa Depan

PT Bhinneka Dwi Persada merancang sistem pertahanan dan pengawasan terintegrasi antara pesawat intai tanpa awak atau drone, Rajawali 330, dan pakaian tempur prajurit yang disebut Indonesia Future Soldier. Pakaian tempur itu sendiri sudah dipasarkan ke satuan khusus, seperti Komando Pasukan Khusus, Komando Pasukan Katak, Komando Pasukan Khas, dan Detasemen Jala Mangkara. Sedangkan Kementerian Pertahanan sudah memesan tiga unit Rajawali untuk menambah kekuatan di perbatasan. Ini spesifikasi keduanya:

Rajawali 330

  • Kecepatan: 22 meter/detik atau 43 knot
  • Kecepatan maksimum: 36 meter/detik atau 70 knot
  • Landasan pacu terbang: 30 meter
  • Rentang sayap: 3,3 meter atau 10,8 kaki
  • Panjang tubuh: 2,27 meter atau 7,44 kaki
  • Tinggi: 0,9 meter atau 2,9 kaki
  • Berat: 21 kilogram atau 47,4 lbs
  • Beban bawaan: 10 kilogram atau 22 lbs
  • Jarak tempuh: 100 kilometer
  • Durasi terbang: 8 jam
  • Ketinggian terbang: 4.000 kaki

    IFS

  • Personal mesh radio
  • Augmented reality and NVG integrated
  • Wrist-mounted computer
  • Weapon-mounted camera
  • Bio sensor
  • Indoor positioning system

One Comment to “Drone Lokal Bakal Jaga Perbatasan”

  1. Hello there! This post couldn’t be written any better!
    Reading through this post reminds me of my good old room mate!
    He always kept chatting about this. I will forward this
    post to him. Pretty sure he will have a good read.

    Thanks for sharing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: