Archive for March, 2016

March 31, 2016

Pasukan Elit TNI Disiapkan Bebaskan Sandera Kapal

30 Maret 2016

Persiapan operasi gabungan TNI (image : Jawapo, Detik, ManadoPost)

Siap Siaga!!TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU Kumpul di Tarakan 

JAKARTA – Keluarga warga Sulawesi Utara (Sulut) yang disandera kelompok radikal Abu Sayyaf, tak perlu khawatir. Pemerintah Indonesia mengaku sudah menyiapkan cara untuk menyelamatkan mereka. Yakni, Peter Tonsen Barahama (Tahuna), Julian Philip (Bitung), Alvian Elvis Repi (Airmadidi). Ketiganya termasuk dengan 10 warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan teroris Filipina ini.

Saat ini, Kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan di tangan otoritas Filipina. Sedangkan Kapal Anand 12 dan 10 orang awak kapal, masih berada di tangan pembajak. Namun belum diketahui persis keberadaannya. Dalam komunikasi melalui telepon kepada perusahaan pemilik kapal, pembajak/penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan. Sejak 26 Maret, pihak pembajak sudah dua kali menghubungi pemilik kapal.

Jubir Kemenlu RI Arrmanatha Nasir menjelaskan, saat dibajak kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. Kami belum mengetahui persis kapan kapal dibajak. Namun, pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan 26 Maret 2016.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan pihak Menhan Filipina. Sebab, saat ini, posisi tahanan berada di wilayah kedaulatan Filipina. Sehingga TNI tidak bisa masuk begitu saja.

Menhan memastikan, TNI dalam posisi siap Siaga, jika sewaktu-waktu diperlukan Filipina untuk melakukan  pembebasan. ’’Kami monitor terus. Kapal patroli AL sudah siap di Dekat Ambalat,’’ ujar Ryacudu di Kantor Kemhan, Jakarta, kemarin. Namun, jika pihak Filipina menyatakan kesiapannya, Indonesia tidak akan memberikan bantuan militer.

Sementara terkait negosiasi, dia menegaskan jika hal tersebut menjadi domain Kementerian Luar Negeri. Termasuk kemungkinan melakukan penebusan atau tidak. ’’Kalau kita bisa lepas tanpa bayar ya buat apa bayar,’’ imbuhnya. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mensinyalir, perampok memanfaatkan ketegangan Laut Cina Selatan untuk melakukan aksinya. ’’Sudah saya sampaikan dari dulu, harus ada patroli bersama. Kalau ada patroli bersama tak akan ada perompak pencuri ikan,’’ tuturnya.

Diketahui, mulai kemarin pasukan TNI dari berbagai matra sudah mendarat di Tarakan, Kalimantan Utara. Mereka disiagakan di Pangkalan Aju Tarakan, jika operasi militer diperlukan untuk pembebasan sandera.

Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim Laksma TNI I Nyoman Gede Ariawan mengatakan, mendapat perintah untuk mengoordinasi kekuatan laut. ”Dalam operasi penyelamatan sandera disiagakan 5 KRI, 1 helikopter, 2 pesawat fixed wing, dan sea rider. Saat ini, Pasukan Katak sedang menuju Tarakan untuk merapat di pangkalan aju,” ungkap Ariawan kepada Radar Tarakan (Manado Post Group), kemarin.

Ariawan mengungkapkan, operasi penyelamatan sandera merupakan operasi gabungan TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU. ”Semua unsur TNI terlibat dalam operasi penyelamatan sandera. Khusus untuk TNI-AL sudah ada pasukan khusus yang menggunakan sea rider dalam operasi penyelamatan nantinya,” jelas dia.

Soal skenario penyelamatan sandera, Ariawan belum bisa memberitahukan ke media bagaimana prosesnya. Sebab, masih dilakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam operasi penyelamatan. ”Saya sudah mempunyai pengalaman upaya pembebasan MV Sinar Kudus. Ini bisa menjadi pengalaman dalam operasi penyelamatan sandera kali ini. Untuk target dan kapan dimulai operasi penyelamatan, saya belum bisa beritahukan karena masih perlu koordinasi,” terangnya.

Komandan Lantamal XIII Tarakan Laksamana Pertama TNI Wahyudi Dwiyono mengatakan, Dermaga Lantamal XIII Tarakan ditetapkan sebagai pangkalan aju karena posisinya sangat strategis. Yaitu hanya 180 nautical mile dari rencana operasi penyelamatan sandera. ”Kekuatan unsur TNI akan bergeser ke Tarakan. Nanti ada sekitar 159 pasukan TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU yang berdatangan ke sini karena Tarakan merupakan pusat Pangkalan Aju,” ucapnya.

Saat ini, Lantamal XIII Tarakan sudah menyiapkan semua kebutuhan logistik unsur TNI yang terlibat dalam operasi penyelamatan. ”Lantamal XIII Tarakan sudah siap menjadi pangkalan aju. Saat ini, akomodasi sudah kami persiapkan, mulai bahan makanan, bahan bakar, hingga kebutuhan lainnya, selama menjalankan operasi penyelamatan,” bebernya.

Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo menyampaikan hal yang sama. Anggota Kopassus berada dalam keadaan siap Siaga. ’’Setiap waktu diminta siap. Itu kan kewenangan pemerintah. Kalau Danjen kita disuruh siap,’’ ujar Joko saat dihubungi. Untuk peristiwa khusus, lanjutnya, selain Kopassus, satuan lainnya adalah Paskhas dan Denjaka.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Edi Sucipto menambahkan, ada atau tidak ada penyanderaan, KRI TNI AL sudah siaga di berbagai lokasi di sekitar perairan utara Indonesia. ’’Kami selalu siap, kalau ada perintah,’’ terangnya saat dihubungi Jawa Pos (Manado Post Group).

(ManadoPost)

Advertisements
March 31, 2016

“Kendaraan Intai Tempur” TNI Pakai Fin Komodo

31 Maret 2016

Fin Komodo kendaraan taktis ringan (photo : Fin Komodo)

Jakarta, KompasOtomotif – Jadi salah satu prinsipal kendaraan lokal yang masih bertahan, PT Fin Komodo Teknologi (FKT), terus memperluas pasarnya. Masih menggunakan produk andalan, Komodo, kali ini pihaknya sedang dalam proses kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Komodo versi militer yang sedang dalam tahap uji coba Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD. (photos : Kompas)

Kerja sama antara FKT dan TNI, nantinya akan menelurkan “Kendaraan Intai Tempur” yang punya kualiatas menjelajah medan non-aspal. Produk belum diproduksi besar, karena sampai saat ini masih dalam tahap pengujian.

“Memang untuk produk baru kami belum keluarkan lagi, namun saat ini kami sedang bekerja sama dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD. Hanya tinggal melalui tahap uji terakhir, dijatuhkan dari pesawat, baru setelah itu akan berlanjut ke proses selanjutnya,” ujar Dewa Yuniardi, Marketing FKT, Selasa (29/3/2016).

Fin Komodo versi militer yang masih dalam proses uji coba.

Dewa melanjutkan, kerja sama yang dilakukan FKT dengan TNI tentu akan memberi keuntungan baik. Merek kendaraan nasional ini, nantinya bisa lebih dipercaya konsumen untuk dibeli.

“Saat ini masih banyak yang masih ragu untuk membeli Komodo, pastinya terkait kepercayaan akan kualitasnya. Namun, jika kerja sama dengan TNI berhasil, maka ini bisa jadi batu loncatan untuk bisa semakin dipercaya. Seperti diketahui, TNI punya standar cukup tinggi,” tutur Dewa saat ditemui di pameran komponen INAPA di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

March 28, 2016

Ini Penampakan Kelompok Santoso Saat Berlatih Militer di Hutan Poso

Gerombolan ini dijadikan sparing latihan untuk Kopasus ??
Senin 28 Mar 2016, 15:15 WIB

Mei Amelia R – detikNews
Ini Penampakan Kelompok Santoso Saat Berlatih Militer di Hutan PosoKelompok Santoso saat berlatih militer. (Foto: istimewa)

Jakarta – Kelompok teroris pimpinan Abu Wardah alias Santoso melakukan kegiatan tadrib (pelatihan militer) di hutan di lokasi persembunyiannya di Poso, Sulawesi Tengah. Mereka membuat halang rintang sendiri untuk kegiatan tadrib ini.

“Mereka mendirikan tenda dari terpal sebagai camp mereka selama di hutan. Di hutan itu mereka melakukan tadrib,” ujar Kapolda Sulteng Brigjen Rudy Sufahriadi kepada detikcom, Senin (28/3/2016).

Rudy mengatakan, kelompok Santoso terus bergerak berpindah-pindah tempat setiap hari. Mereka berjalan menyusuri hutan dari pagi hingga sore hari.

“Saat menemukan lokasi yang cocok untuk dijadikan sebagai camp kemudian mendirikan tenda terpal dan masak makanan,” imbuhnya.

Adapun, pelatihan militer dilakukan kelompok Santoso di hutan dengan membuat halang rintang sendiri.

Dari foto yang diperoleh detikcom, kelompok Santoso melakukan kegiatan tadrib dengan berlatih di halang rintang tersebut. Mereka bergelantungan di atas seutas tambang atau berlatih keseimbangan di antara tiang kayu yang dibentuk seperti esteger.

Rudy mengungkap, keberadaan Santoso saat ini diyakini masih berada di Poso, Sulteng. Santoso semakin terjepit karena banyak kurir yang sudah diputus oleh tim Satgas Tinombala yang terua memburunya dalam keadaan hidup atau mati.

Sejumlah anak buahnya baik WNI maupun WN China etnis Uighur juga telah ditangkap. Salah satu pengikutnya, MAQ alias S alias Brother (19), ditangkap tim Satgas Tinombala saat turun gunung karena kelaparan.

Pasokan logistik kelompok Santoso juga sudah menipis setelah tim Satgas menangkap kurir-kurirnya dan anak buahnya. Untuk bertahan hidup selama menunggu pasokan, kelompok Santoso berburu hewan yang ada di hutan.

(mei/erd)

March 28, 2016

Pertamina Terima 2 Kapal Tanker Made In Cina

Berdasarkan pengalaman rejim PDIP doyan jual asset. Ingat jaman si Mbok Mega jual tanker VLC Pertamina khan .. Nah tanker eks China ini keliatannya tinggal nunggu waktu saja dilego..

 

Oleh : | Senin, 28 Maret 2016 | 10:36 WIB
Pertamina Terima 2 Kapal Tanker Made In Cina

(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta – PT Pertamina (Persero) menerima 2 kapal tanker berkonsep eco-ship, yaitu MT Sanana dan MT Serui. Masing-masing kapal berbobot 40.000 Long Ton Dead Weight (LTDW), senilai US$ 62 juta.

Dalam siaran pers kepada media di Jakarta, Minggu (27/3/2016), Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan kedua kapal yang dipesan Pertamina itu, merupakan sister ship atau kapal kembar dari MT Sanggau yang telah diserahterimakan pada Januari 2016. Kapal ini bakal digunakan untuk mengirim minyak mentah ke kilang-kilang Pertamina.

Serah terima kapal ini dilakukan secara simbolik pada hari ini, dari New Times Shipbuilding kepada Dirut Pertamina Dwi Soetjipto, disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno.

MT Sanana, MT Serui, dan MT Sanggau diambil dari nama-nama Terminal BBM Pertamina di Maluku, Papua, dan Kalimantan Barat, dibangun oleh Newtimes Shipbuilding Co. Ltd, yang berlokasi di Jingjiang, Provinsi Jiangsu, Cina.

“Kehadiran MT Sanana dan MT Serui menjadikan jumlah armada milik Pertamina kini mencapai 68 dari total 273 kapal pengangkut energi yang dioperasikan Pertamina untuk menjamin ketahanan energi nasional,” kata Dwi.

Dwi mengatakan, MT Sanana dan MT Serui akan berlayar menuju pelabuhan di Indonesia pada akhir Maret 2016 dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir April 2016, atau lebih cepat lima pekan dari target semula.

Kapal dengan investasi masing-masing US$ 31 juta ini, mampu mengangkut minyak mentah maksimal 315.000 barel, atau jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal regular berkapasitas 200.000 barel.

Dengan konsep eco-ship (ramah lingkungan), kapal tanker tersebut memiliki daya angkut diyakini bisa lebih efisien. Kedua kapal ini, dilengkapi dengan peralatan-peralatan yang ramah lingkungan dan serta emisi gas buang mesin penggerak kapal yang sudah mengikuti persyaratan International Maritime Organization (IMO) Tier II.

Dwi bilang, penambahan armada kapal tanker ini, merupakan langkah terobosan Pertamina dalam meningkatkan efisiensi biaya transportasi minyak mentah. Dengan demikian, produk akhir Pertamina dapat memiliki daya saing yang tinggi. Lantaran, biaya transportasi bisa lebih irit.

Hingga akhir 2016, Pertamina direncanakan akan memiliki 72 unit kapal yang berstatus milik, sebanyak 34 unit kapal atau 47 persen merupakan kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, di mana 30 unit di antaranya telah beroperasi dan 4 unit masih dalam tahap konstruksi.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengapresiasi langkah strategis Pertamina untuk melakukan optimalisasi pemanfaatan kapal-kapal milik yang dipercaya dapat meningkatkan efisiensi pendistribusian minyak dan produk minyak Pertamina.

Menurut dia, langkah tersebut sangat relevan dengan semakin terbukanya kompetisi yang menuntut Pertamina harus lebih efisien dan kompetitif.

Dengan pengalaman luasnya, Pertamina dinilai dapat menjadi model bagi industri perkapalan di Tanah Air dan dapat melakukan transfer knowledge dari pengalamannya bermitra dengan perusahaan-perusahaan global di sektor perkapalan kepada perusahaan galangan kapal dalam negeri.

“Seperti kita tahu, baru PT PAL yang memiliki kemampuan membuat kapal dengan ukuran 30.000 LTDW,” kata Rini.

Di sisi lain, lanjut Rini, untuk keperluan efisiensi distribusi minyak dan produk di dalam negeri serta ekspansi internasional, Pertamina memerlukan kapal-kapal berukuran besar.

Yang belum dapat dibangun di galangan kapal nasional sehingga untuk saat ini Pertamina harus bermitra dengan perusahaan global untuk memenuhi kebutuhan kapal dengan spesifikasi tersebut.

“Secara bertahap nanti, galangan kapal harus dapat meningkatkan kemampuannya sehingga benar-benar memenuhi seluruh kebutuhan Pertamina,” kata Menteri Rini. [tar]

 

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2283893/pertamina-terima-2-kapal-tanker-made-in-cina#sthash.DvK3rBUd.dpuf

March 25, 2016

Akhir Maret, INKA Ekspor 15 Kereta Made in Madiun ke Bangladesh

 

Ayo maju terus BUMN Inka !

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 25/03/2016 11:20 WIB
Akhir Maret, INKA Ekspor 15 Kereta Made in Madiun ke BangladeshFoto: Ilustrasi kereta penumpang buatan INKA (dok. INKA)
Jakarta -PTINKA (Persero) akan melakukan ekspor kereta penumpang sebanyak 15unitkeBangladesh pada akhir Maret 2016. Pengiriman akan dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak,Surabaya pada 31 Maret 2016. “Nanti kita undangan tanggal 31 Maret ini. Nanti pengiriman pertama untuk 15 unit gerbong penumpang semua,” menurut sumber INKA kepada detikFinance, Kamis (25/3/2016).

Pengiriman ini merupakan bagian dari kontrak pengadaan 150 unit gerbong kereta yang dimenangkan oleh INKA. INKA berhasil menang tender pengadaan kereta penumpang berbagai tipe di Bangladesh setelah mengalahkan beberapa produsen kereta dari India dan China.
Pengiriman nantinya akan dilakukan secara bertahap setiap bulannya hingga Agustus 2016.
INKA pada tahun 2006 telah mengekspor kereta penumpang ke Bangladesh.

(feb/feb)

March 25, 2016

Tuberkulosis di Indonesia Terbanyak Kedua di Dunia

 

Daripada ngurusin LGBT coba deh basmi dulu TBC dan ISIS di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS — Dari hasil survei terbaru, jumlah kasus baru tuberkulosis atau TB di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus per tahun atau naik dua kali lipat dari estimasi sebelumnya. Posisi Indonesia pun melonjak ke negara dengan kasus TB terbanyak kedua setelah India. Ini menjadi alarm di tengah peringatan Hari TB Sedunia pada hari ini.

Penguji    melakukan uji disolusi obat program antiretroviral tuberkulosis dan malaria (ATM) di laboratorium Biofarmasi, Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya, Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Jakarta, Senin (12/1/2015). Laboratorium ini sedang dipersiapkan sebagai laboratorium prekualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk obat program ATM, yang bisa melayani pengujian bagi Indonesia dan sejumlah negara lain.
KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARAPenguji melakukan uji disolusi obat program antiretroviral tuberkulosis dan malaria (ATM) di laboratorium Biofarmasi, Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya, Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Jakarta, Senin (12/1/2015). Laboratorium ini sedang dipersiapkan sebagai laboratorium prekualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk obat program ATM, yang bisa melayani pengujian bagi Indonesia dan sejumlah negara lain.

Dalam laporan Tuberkulosis Global 2014 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, insidensi di Indonesia pada angka 460.000 kasus baru per tahun. Namun, di laporan serupa tahun 2015, angka tersebut sudah direvisi berdasarkan survei sejak 2013, yakni naik menjadi 1 juta kasus baru per tahun. Persentase jumlah kasus di Indonesia pun menjadi 10 persen terhadap seluruh kasus di dunia sehingga menjadi negara dengan kasus terbanyak kedua bersama dengan Tiongkok. India menempati urutan pertama dengan persentase kasus 23 persen terhadap yang ada di seluruh dunia.

Ini menjadi salah satu faktor Indonesia mendapatkan beban ganda. “Jumlah penyakit tidak menular di Indonesia naik, tetapi penyakit menular juga tetap masalah yang besar, termasuk TB. Seperti fenomena gunung es, belum seluruh kasus terungkap,” tutur Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Mohammad Ali Toha saat Peringatan Hari TB Sedunia di RSUP Persahabatan, Jakarta, Kamis (24/3/2016).

TB disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang ditemukan Robert Koch. Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia untuk mengenang penemuan yang diumumkan pada 24 Maret 1882 tersebut. Sebanyak 90 persen TB menyerang paru dengan tanda-tanda batuk lebih dari tiga minggu, demam, berat badan menurun, keringat malam, mudah lelah, nafsu makan hilang, nyeri dada, dan batuk darah.

content

Ali mengatakan, salah satu faktor jumlah kasus TB di Indonesia masih tinggi adalah karena banyak penderita tidak melanjutkan pengobatan sampai benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter. Apalagi, setelah dua bulan menjalani pengobatan, kondisi pasien biasanya sudah seperti sediakala, tidak lagi merasakan gejala TB, sehingga merasa percaya diri untuk meninggalkan pengobatan. Padahal, dengan meninggalkan pengobatan, TB akan kambuh, bahkan bakteri M tuberculosis dapat kebal pada pengobatan biasa. Selain itu, kuman bisa menyebar ke orang-orang di sekitar sehingga berpotensi menambah jumlah penderita.

Faktor edukasi

Secara terpisah, mantan orang dengan TB, Ully Ulwiyah, menuturkan, faktor-faktor selain jaminan akses terhadap obat juga sangat memengaruhi keberhasilan program pengobatan TB. Salah satu hal penting adalah edukasi terhadap masyarakat mengenai pencegahan TB dan jika sudah terkena TB, pasien sangat mungkin sembuh asalkan disiplin mengonsumsi obat. “Gaungnya jangan hanya saat momentum Hari TB Sedunia karena setiap hari ada yang meninggal akibat TB,” ujarnya.

Tahanan yang  menderita penyakit tuberkulosis tengah beristirahat usai menjalani pengobatan di ruang perawatan Rumah Tahanan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur,  Selasa (24/2/2015). Penularan penyakit tuberkulosis di sejumlah rutan dan lapas terjadi akibat jumlah tahanan yang melebihi kapasitas dan minimnya sirkulasi udara.
VINA OKTAVIA
Pasien tuberkulosis  resisten obat (TB MDR) yang telah selesai minum obat berada di gazebo di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Jumat (20/3/2016), menunggu efek samping obat hilang. Mereka harus menjalani pengobatan hingga dua tahun agar penyakit TB MDR-nya sembuh.
KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN

Ully mencontohkan, karena minim informasi, banyak pasien TB tahap awal yang tidak mengetahui pentingnya masker guna pencegahan penularan penyakit selama belum dinyatakan sembuh, baik untuk dikenakan oleh pasien maupun orang-orang yang berinteraksi dengan pasien.

Kebanyakan lebih teredukasi saat kuman sudah telanjur resisten dan pengobatan lebih rumit. Informasi yang minim juga membuat pasien berisiko menghentikan pengobatan setelah merasa kondisi tubuh sudah normal.

Faktor nonmedis lain adalah dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar terhadap pasien TB. Pengobatan dalam jangka berbulan-bulan, bahkan dua tahun jika kuman sudah resisten, kerap membuat pasien bosan hingga depresi.

Masalah bertambah karena dari pengalaman rekan-rekan Ully sesama mantan orang dengan TB, ada yang ditinggalkan keluarganya atau bercerai dengan pasangannya. Karena itu, edukasi tentang TB juga penting untuk menekan diskriminasi pasien.

TOTO S
Seorang  karyawan  swasta menggunakan masker untuk mengantisipasi penyebaran virus TB, Kamis  (24/3/2016).
March 23, 2016

Halim Kalla: Biogas Bisa Dukung Pencapaian Target 35.000 MW Jokowi

Dana Aditiasari – detikfinance
Rabu, 23/03/2016 11:54 WIB
Halim Kalla: Biogas Bisa Dukung Pencapaian Target 35.000 MW JokowiFoto: Dana Aditiasari
Jakarta -Sebagai negara yang terkenal dengan industri perkebunan dan pertanian, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan penyediaan sumber energi baru terbarukan berbentuk biogas.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi Terbarukan Halim Kalla dalam gelaran ‘Biogas Forum 2015’ di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (23/3/2016).

“Sebagai negara yang berbasis perkebunan dan pertanian, Indonesia punya peluang mengembangan energi baru terbarukan, terutama bioenergy,” kata dia dalam sambutannya.

Sayangnya, sambung dia, selama ini konsumsi energi Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, terdiri dari bahan bakar minyak (BBM) berkontribusi lebih dari 50% dari total konsumsi energi nasional. Sementara, pemanfaatan energi baru terbarukan masih kurang dari 5%.

Padahal, kata Halim, biogas bisa dihasilkan dari hal paling sederhana dengan memanfaatkan produk sisa kegiatan perkebunan yang selama ini terbuang sia-sia menjadi limbah yang tidak dikelola lebih lanjut.

Sebagai contoh, kata dia, limbah hasil pengolahan kelapa sawit. Ia mengatakan, ada sekitar 800 pabrik pengolahan kelapa sawit yang selain memproduksi minyak sawit, juga menghasilkan berbagai limbah termasuk salah satunya POME (Palm Oil Mill Effluent) alias Limbah Cair Pengolahan Sawit.

Ia menghitung, dengan rata-rata 100 ribu ton tandan buah segar (TBS) yang diolah setiap tahunnya, dapat dihasilkan POME yang bisa diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biogas. Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi listrik hingga 1,3 Giga Watt atau sekitar 1.300 Mega Watt.

Dengan produksi yang demikian, maka sektor perkebunan kelapa sawit nasional dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian program pemerintah membangun 35.000 Mega Watt pembangkit listrik dalam 5 tahun hanya dengan mengolah limbah sisa pengolahan kelapa sawit.

“Seperti yang kita tahu, Pemerintah Indonesia punya program besar yakni membangun pembangkit baru dengan kapasitas 35.000 Mega Watt. 25% di antaranya bakal dikontribusi dari energi baru terbarukan termasuk biogas,” kata dia.

Untuk itu, lewat gelaran Biogas Indonesia Forum 2016 ini, ia mengharapkan ada sumbang pemikiran yang dapat diterapkan untuk memaksimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia termasuk dalam pemanfaatan untuk mendukung program-program pemerintah.

Selain rangkaian diskusi yang digelar hari ini, ada juga pameran dari sekitar 32 perusahaan produsen teknologi dan permesinan untuk memproduksi biogas serta ratusan peserta seminar yang datang dari kalangan industri, investor dan regulator serta pemerintah.

“Kadin (Kamar Dagan dan Industri) Indonesia punya tanggung jawab untuk mewujudkan target pemerintah tersebut dengan menciptakan koordinasi yang baik antara pemerintah dan swasta. Saya harap forum ini bisa memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan ketahanan energi nasional,” pungkas dia.

(dna/drk)

March 22, 2016

Dana diduga juga Mengalir ke Pejabat Kementerian

DPR RI itu kumpulan predator uang rakyat ! Geram dan murka lihat kualitas anggota DPR sejak reformasi . DPR Senayan hanya dihuni oleh : artis tidak laku, predator APBN, calo. pecandu narkoba (ivan hazz) dan koruptor ( papa minta saham). Sekarang presiden Joko lagi memacu pembangunan infrastruktur salah salah bisa membuat anggota DPR makin sejahtera saja dan rakyat harus membayar cicilan hutang luar negeri Indonesia ..
Laporan Utama
Senin, 21 Maret 2016

 Dana diduga juga Mengalir ke Pejabat Kementerian

JAKARTA – Aliran dana suap dalam proyek infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengalir ke kantong banyak orang. Menurut dokumen yang diketahui Tempo, bos konstruksi PT Windu Tunggal Utama, Abdul Khoir, dan kontraktor lain, mengucurkan dana setidaknya Rp 24,28 miliar kepada anggota Komisi Infrastruktur DPR serta pejabat di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dana dari kontraktor itu mengalir tidak hanya ke dua anggota Komisi V DPR yang sudah menjadi tersangka dalam kasus suap Khoir, yaitu politikus PDI Perjuangan Damayanti Wisnu Putranti dan politikus Golkar Budi Supriyanto. Dana sekitar Rp 15,67 miliar diduga juga mengucur ke seorang pejabat di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan sedang mengusut aliran dana kepada anggota Komisi V DPR lainnya dan pejabat di Kementerian Pekerjaan Umum tersebut. “Penyidik sudah memiliki planning untuk itu tanpa mengesampingkan kehati-hatian soal penyertaan dan berperan sebagai apa mereka dalam kasus tersebut,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dimintai konfirmasi oleh Tempo, kemarin.

Khoir dan kontraktor lainnya diketahui mengeluarkan uang miliaran rupiah agar bisa mendapatkan proyek-proyek di bidang jasa konstruksi yang dibiayai dari dana aspirasi DPR di Provinsi Maluku yang dicairkan melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Pada 2016, di wilayah II Maluku, akan ada 19 paket pekerjaan yang terdiri atas 14 jalan dan 5 jembatan.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan sejumlah tersangka-selain Damayanti dan Budi. Mereka adalah Abdul Khoir, sebagai penyuap; serta dua asisten Damayanti, Julia Prasetyarini alias Uwi dan Dessy A. Edwin, yang diduga sebagai perantara suap. Khoir, Damayanti, Julia, dan Dessy ditangkap saat transaksi suap pada pertengahan Januari lalu. Suap diduga diberikan untuk memenangkan pengerjaan proyek infrastruktur itu.

Berbeda dengan keempatnya, Budi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 2 Maret lalu. Dia dijemput secara paksa dan akhirnya ditahan pada 15 Maret lalu karena dua kali mangkir dari pemeriksaan. Pengacara Budi, Iwan Gunawan, mengakui aliran dana ke kliennya. “Iya benar, tapi bukan dari Abdul Khoir,” ujarnya, kemarin. Duit ke Budi sebesar Sin$ 305 ribu diserahkan oleh Uwi. Uwi tak lain adalah sapaan Julia Prasetyarini, asisten Damayanti.

Menurut dokumen tersebut, di luar Damayanti dan Budi Supriyanto, dana lain juga mengalir ke kolega mereka di Komisi V DPR dengan jumlah yang juga cukup besar, yaitu Rp 6,7 miliar dan Rp 8 miliar. Sedangkan dana yang mengucur ke pejabat di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sekitar Rp 15,67 miliar, yang diberikan secara bertahap.

Pengacara Abdul Khoir, Khaeruddin Masarro, tak mau berkomentar banyak soal informasi yang diperoleh Tempo. Khaeruddin hanya mengatakan, “Selain Budi, ada anggota lain yang juga menerima aliran suap dari Khoir.”

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Velix Wanggai belum bisa dimintai konfirmasi soal aliran dana ini. Saat dihubungi Tempo lewat telepon, ia belum menjawab. Pesan pendek yang dikirim Tempo juga belum dibalas. REZA ADITYA | MITRA TARIGAN | ABDUL MANAN

March 22, 2016

Pemerintah percepat pembangunan PLTSa

Lamban sekali !!

Kontan online

INFRASTRUKTUR LISTRIK

Oleh : Agus Triyono, Herlina KD
Senin, 14 Maret 2016
11:54 WIB

Pemerintah percepat pembangunan PLTSa

JAKARTA. Rencana pemerintah untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis sampah sepertinya akan segera terealisasi. Pasalnya, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar.

Dalam beleid yang diteken Presiden Joko Widodo pada 13 Februari 2016 dan berlaku sejak diundangkan pada 19 Februari 2016 ini disebutkan pemerintah melakukan percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah (PLTSa) mulai tahun 2016 hingga 2018 dengan memanfaatkan sampah yang ada di tujuh kota di Indonesia yakni DKI Jakarta, Kota Tangerang, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya dan Makassar.

Khusus untuk Kota Surakarta yang jumlah sampahnya belum mencapai skala keekonomian yang diperlukan untuk membangun PLTSa, maka pembangunan PLTSa ini dilakukan dengan beberapa kabupaten yang ada di sekitarnya seperti Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

“Kota Surakarta produksi sampahnya tidak sampai 1.000 ton per hari, tapi dimasukkan supaya jadi pilot project untuk kota menengah,” kata Pramono Anung, Sekretaris Kabinet beberapa waktu lalu.

Demi merealisasikan pembangunan PLTSa ini, para pemerintah daerah bisa menugaskan badan usaha milik daerah (BUMD) atau menunjuk badan usaha swasta. “BUMD atau badan usaha yang ditunjuk untuk bertindak selaku pengelola sampah kota dan pengembang PLTSa,” begitu bunyi pasal 4 ayat 2 Perpres tersebut, seperti yang dikutip KONTAN dari situs Setkab Minggu (13/3).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Kepala Bappenas Sofyan Djalil menambahkan, lewat beleid ini, pemerintah juga menunjuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menjadi pembeli listrik dari BUMD atau badan usaha swasta yang diberikan penugasan untuk mengembangkan PLTSa. Penunjukan PLN ini akan dilakukan lewat penugasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Penugasan Menteri ESDM kepada PLN ini akan memuat penugasan untuk pembelian tenaga listrik oleh PLN dan persetujuan harga pembelian tenaga listrik oleh PLN.

Untuk mendukung pelaksanaan percepatan pembangunan PLTSa, pemerintah juga akan membentuk tim koordinasi percepatan pelaksanaan pembangunan PLTSa.

Tim yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan wakil ketua Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini bertugas melakukan koordinasi dan pengawasan serta membantu kelancaran proyek pembangunan PLTSa.

 

March 21, 2016

Kapal Cina Berulah, Jokowi Beri Instruksi Khusus Menteri Susi  

 

Selama pemerintahan Megawati terus ke SBY (10 thn), kapal Cina itu bisa leluasa menggaruk ikan di wilayah Indonesia rupanya.. Coba selidiki menteri perikanan masa SBY , mister Cicip S  dan pejabat pejabat angkatan laut deh.. pastinya mereka hidup sangat makmur .

SENIN, 21 MARET 2016 | 14:51 WIB
Presiden Jokowi (kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) menyerahkan DIPA tahun 2016 kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) di Istana Negara, Jakarta, 14 Desember 2015. ANTARA/Pool – Wisnu

TEMPO.CO, Jakarta – Juru bicara Presiden Joko Widodo, Johan Budi Sapto Pribowo, mengatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susu Pudjiastuti akan melaporkan ulah kapal Coast Guard Cina yang diduga sengaja menabrak kapal ilegal penangkap ikan yang ditarik Indonesia. Presiden pun, kata Johan, sudah menyiapkan instruksi khusus untuk Susi.

“Nah, apa yang diinstruksikan Presiden kepada Menteri KKP saya belum tahu,” ujar Johan di Kompleks Istana Negara, Senin, 21 Maret 2016.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu pekan lalu, KP Hiu berupaya menangkap KM Kway Fey 10078. Kapal itu disebut sebagai pelaku penangkapan ikan ilegal asal Cina di Perairan Natuna.

Proses penangkapan itu tidak berjalan mulus. Sebabnya, ada campur tangan dari kapal Coast Guard Cina yang secara sengaja menabrak KM Kway Fey 10078. Hal itu diduga untuk mempersulit KP Hiu 11 menarik masuk KM Kway Fey 10078.

Menurut Susi, kejadian pekan lalu tersebut bukan pertama kalinya. Pada 2013, kejadian serupa terjadi di mana sejumlah kapal asal Cina mengejar dan mengancam kapal Indonesia agar melepas kapal penangkap ikan ilegal yang mereka tarik.

Johan mengaku tidak tahu kapan Susi akan melapor kepada Presiden Joko Widodo. Namun, ia mendapat kabar bahwa Susi akan berkunjung ke Istana hari ini meski belum diketahui agendanya apa.

“Kalau pun benar datang, itu hal biasa,” ujar Johan mengakhiri.

ISTMAN M.P.

 

+++++

Coastguard Cina Lindungi Pencuri Ikan, Susi Protes Keras

SENIN, 21 MARET 2016 | 09:42 WIB

Coastguard Cina Lindungi Pencuri Ikan, Susi Protes Keras  

Salah satu dari tiga kapal pencuri ikan asal Filipina yg ditangkap KRI Hiu TNI AL. Foto: Dispen TNI AL.

TEMPO.COJakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meradang setelah upaya anak buahnya menangkap kapal pencuri ikan KM Kway Fey 10078 di perairan Indonesia digagalkan kapal coastguard Cina. Ia segera meminta Kementerian Luar Negeri mengajukan protes diplomatik.

“Saya sudah bicara dengan Bu Retno (Menteri Luar Negeri Retno Marsudi) agar menyatakan protes keras secara diplomatik atas sikap arogansi Cina,” kata Susi kepada wartawan di rumah dinasnya di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Ahad, 20 Maret 2016.

Selain itu, Susi akan menyurati Presiden Joko Widodo dengan tembusan ke Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan serta Menteri Pertahanan untuk membangun operasi terintegrasi dalam pengawasan dan penegakan hukum di laut. “Kita harus lebih sering menghadirkan KRI ke perairan seperti Natuna ini,” katanya.

Susi menjelaskan, kapal pencuri ikan KM Kway Fey 10078 pertama kali terdeteksi pada Sabtu, 19 Maret 2016, pukul 14.15. Posisi kapal tersebut 05°05,866’N. 109°07,046’E pada jarak 2,7 mil haluan 67°. “Posisi kapal tersebut berada di wilayah Indonesia,” kata Susi.

KM Kway Fey 10078 sempat berusaha lari. Namun, setelah dikejar selama 45 menit, petugas berhasil masuk ke kapal itu dan menahan delapan awaknya. Tak lama setelah kapal tersebut dikawal untuk kembali ke perairan Indonesia, muncul kapal coastguard Cina dan menabrak kapal pencuri ikan itu.

Setelah tabrakan di perbatasan, KM Kway Fey 10078 pun rusak dan tak mungkin lagi digiring ke perairan Indonesia. Sementara itu, kapal pengawas (KP) Hiu 11 ukurannya lebih kecil sehingga tak mungkin menyeretnya.

Mau tak mau, petugas pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan pun meninggalkan kapal tersebut. Mereka hanya membawa delapan awak kapal pencuri ikan. “Mereka menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Apalagi, saat itu sudah ada kapal coastguard kedua yang ukurannya 10 kali lebih besar dari kapal kita,” tutur Susi.

Saat ini, delapan ABK KM Kway Fey telah dibawa dengan KP Hiu 11 menuju Pulau Tiga Natuna untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Untuk proses ad hoc selanjutnya di Natuna atau Pontianak, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan berkoordinasi dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut Ranai. “Saat ini posisi kapal sudah dekat ke Natuna,” kata Susi.

Susi juga menyatakan peristiwa ini merupakan yang kedua dalam tiga tahun. Saat itu, tepatnya pada 26 Maret 2013, Kapal Pengawas Hiu Macan berhasil menghentikan kapal ikan asing berbendera Cina bernomor lambung 58081 di Perairan Natuna.

Namun, dalam pengawalan ke PSDKP Natuna, tiba-tiba muncul kapal patroli Cina, Nanfeng. Kapal Nanfeng meminta kapal 58081 dilepaskan. Petugas pun terpaksa menurutinya karena kapal Nanfeng berukuran lebih besar dengan persenjataan lengkap. “Ini tidak boleh terulang lagi,” kata Susi.

PINGIT ARIA