Menanti Jembatan Selat Bali, “Perekat” Bali dan Jawa


 

Sampe kiamat juga blm akan terwujud. Beda  sejarah budaya bung !

Pada tahun 1930-an, perempuan Amerika Serikat, Muriel Stuart Walker, yang kemudian dikenal sebagai K’tut Tantri, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Bali. Dari Ketapang, Jawa Timur, K’tut menyeberang dengan menaiki kapal nelayan menuju Gilimanuk, Bali. Hingga kini, puluhan tahun kemudian, sebagian rakyat negeri ini tetap menyeberang melalui jalur tersebut.

Antrean kendaraan  yang hendak masuk ke kapal feri penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Penyeberangan dari Jawa ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk cukup ramai, terutama saat musim libur.
KOMPAS/PRIYOMBODOAntrean kendaraan yang hendak masuk ke kapal feri penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Penyeberangan dari Jawa ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk cukup ramai, terutama saat musim libur.

Perjuangan K’tut Tantri untuk menyeberangi Selat Bali dapat dipelajari dengan utuh dalam bukunya yang berjudul Revolusi di Nusa Damai (Gramedia Pustaka Utama, 1982). Kali pertama, K’tut Tantri menyeberang bersama Pito, sahabat kecilnya, dengan perahu nelayan.

K’tut menyeberang saat malam tiba. “. perahu begitu sempit sehingga orang tidak bisa naik atau turun mobil selama pelayaran,” tulis K’tut. Menurut K’tut, penyeberangan itu berjarak 5 mil atau kira-kira 8 kilometer.

Persoalannya, begitu tiba di Gilimanuk, K’tut harus kembali mengantarkan Pito yang tidak nyaman meninggalkan Pulau Jawa. K’tut pun kembali menyeberang ke Bali meski perahu yang ditumpanginya berlabuh di Jembrana.

Dalam penyeberangan K’tut yang kedua kalinya, kapal yang dinaiki K’tut diterjang badai. Para penumpang keturunan Arab, kata K’tut, mati-matian berdoa meminta pertolongan Allah, sedangkan penumpang keturunan Tionghoa tenang-tenang saja karena telah memahami perilaku badai.

“Belum pernah aku melihat ombak mengempas sedemikian dahsyat. Aku mendapat kesan bahwa setiap saat ombak akan menyapu seluruh perahu dari permukaan laut atau menyedotnya sehingga karam. Aku mencengkeram papan geladak dengan panik. Seluruh sarafku tegang, menunggu saat maut datang mencengkeram. Kami tak mungkin menyelamatkan diri lagi,” tulis K’tut (hal 24).

Sebelum K’tut Tantri menyeberang melalui lintas Ketapang-Gilimanuk, sudah sejak berabad-abad silam terjalin hubungan antara Pulau Bali dan Pulau Jawa. Penyeberangan melintasi Selat Bali sudah biasa dilakukan oleh penduduk kedua pulau.

Ketika Majapahit berhasrat menaklukkan Bali, prajurit Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada juga berlayar menyeberangi Selat Bali untuk menebar maut di pulau tersebut.

Sebagaimana dikatakan K’tut, lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang diseberanginya berjarak kira-kira 8 kilometer. Meski demikian, kira-kira 6 kilometer ke arah utara dari lintas feri Ketapang-Gilimanuk, lebar Selat Bali hanya sekitar 2 kilometer walaupun untuk sisi Bali letak titik itu berada dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Akan tetapi, di atas kertas, sesungguhnya Selat Bali sangat memungkinkan untuk dihubungkan oleh sebuah jembatan. Lebar Selat Bali di titik tersempit bahkan “hanya” 2 kilometer sehingga jauh lebih pendek dibandingkan dengan Jembatan Suramadu dengan panjang 5,4 kilometer.

Bilamana akan dibangun jembatan, maka diproyeksikan panjang jembatan kira-kira mencapai 3 kilometer dengan bentang utama sepanjang 2 kilometer. Panjang Jembatan Selat Bali ini pun kira-kira hanya 10 persen dari panjang Jembatan Selat Sunda, yang kini masih diidam-idamkan.

Ketika Jembatan Selat Sunda selalu dalam perdebatan akibat keberadaan Gunung Krakatau, maka sebaliknya rencana pembangunan jembatan di Selat Bali tidak akan menghadapi persoalan serupa. Tidak ada gunung berapi besar dan sejarah tsunami di pesisir Banyuwangi ataupun Bali barat.

Tri Nusa Bima Sakti

Telah sejak tahun 1960 Guru Besar Teknik Sipil ITB Sedijatmo menggagas keterhubungan antara Pulau Sumatera, Jawa, hingga Bali. Jembatan, diunggulkan oleh Sedijatmo-penemu konstruksi fondasi cakar ayam-sebagai penghubung pulau-pulau.

Jadi, ada satu jembatan yang berada di Selat Sunda dan satu jembatan lain penghubung Selat Bali. Dua jembatan itu disebutnya sebagai Tri Nusa Bima Sakti. Tri Nusa artinya tiga pulau, yakni Sumatera, Jawa, dan Bali.

Jembatan Suramadu sesungguhnya tidak masuk dalam rencana Prof Sedijatmo.

content

Dari penelusuran arsip harian Kompas, pemerintah tidak sepenuh hati dengan rencana jembatan Selat Bali. Sudah ada pembicaraan, tetapi sejauh ini belum ada realisasinya.

Harian Kompas, Rabu, 25 Juni 1986 di halaman 1, misalnya, menurunkan artikel berjudul “Trinusa Bima Sakti Hubungkan Sumatera-Jawa-Bali”.

Dalam artikel itu, Menristek BJ Habibie mengatakan, Presiden Soeharto telah memutuskan rencana pembangunan sebuah terowongan raksasa atau jembatan panjang di Selat Sunda dan Bali. Ketika itu, pemerintah telah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Jepang.

Menurut Menristek, studi kelayakan bagi pembangunan dua jembatan tersebut akan memakan waktu dua tahun dengan biaya sekitar 3,8 juta dollar AS. Dari total dana 3,8 juta dollar AS, Jepang akan membantu dana 3,5 juta dollar AS, sedangkan dana dari pemerintah sebesar 300.000 dollar AS.

Namun, faktanya jembatan-jembatan itu belum terbangun hingga hari ini.

Keselamatan

Ingatan kita terhadap rencana Jembatan Selat Bali kembali menyeruak saat Kapal Motor Penumpang Rafelia II tenggelam di Selat Bali pada Jumat (4/3/2016) siang. Peristiwa itu tidak hanya menenggelamkan kendaraan-kendaraan milik penumpang, tetapi juga menyebabkan hilangnya nyawa penumpang.

KMP Rafelia II jelas bukan kapal pertama yang kandas di Selat Bali. Berdasarkan arsip harian Kompas, pada hari Selasa (19/4/1994), kapal penyeberangan jenis LST/LCT “Kal Tim Mas II” mengalami kebocoran dan tenggelam di Selat Bali pada pukul 22.18 Wita.

Delapan buah truk besar semuanya berisi muatan, dan sebuah bus “Jawa Baru” EA 7326 D jurusan Jakarta-Bima, juga dengan muatan penuh tenggelam ke dasar Selat Bali. Peristiwa itu juga menimbulkan korban jiwa.

Sementara itu, pada hari Rabu (7/6/2000) sekitar pukul 20.00, Kapal Motor Penumpang (KMP) Citra Mandala Bhakti (CMB) milik PT Jembatan Madura juga tenggelam di perairan Selat Bali. Korban jiwa juga terjadi dalam peristiwa itu.

Kita tidak tahu, apakah suatu hari nanti akan dibangun jembatan penghubung antara Pulau Jawa dan Bali. Pembangunan mega-infrastruktur mana pun jelas menimbulkan pro dan kontra. Apalagi, pembangunan jembatan menuju Pulau Bali yang jelas akan menghadirkan pro-kontra dari sisi budaya.

Akan tetapi, apabila dilakukan survei mendalam terhadap kebutuhan jembatan di Selat Bali, maka hasil survei seharusnya dapat mempersuasi berbagai pihak. Dengan perkembangan Banyuwangi yang luar biasa, maka Bali dan Banyuwangi dapat saling memperkuat.

Bagi Pulau Bali, dibangunnya Jembatan Selat Bali menghadirkan potensi pembangunan Bali barat. Pada akhirnya industri pariwisata takkan hanya terpusat di Bali selatan, tetapi juga menyebar ke berbagai penjuru Bali.

Ketika Bali membangun bandara kedua di Bali utara, maka keterhubungan jalan dengan Bali barat dan Jembatan Selat Bali makin baik. Tentu saja hal ini mensyaratkan perencanaan Bali utara dan Bali barat yang lebih baik daripada kawasan Bali yang telah terbangun.

Secara teknis, bangsa ini tentu saja mampu membangun Jembatan Selat Bali. Akhir tahun lalu, kita sudah menyelesaikan pembangunan Jembatan Tayan di Kalimantan Barat dengan panjang 1.440 meter dan bulan Februari 2016 telah menuntaskan pembangunan Jembatan Merah Putih di Ambon, Maluku, dengan panjang 1.140 meter. Jadi, hanya perlu menambah panjang 500 meter bagi pembangunan Jembatan Selat Bali.

Namun kini, terlepas dari mimpi-mimpi dihadirkannya kembali jembatan penghubung di Selat Bali, ada baiknya keselamatan penyeberangan benar-benar dijaga. Nyawa yang sudah hilang tidak akan mungkin kembali, Bung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: