Teroris Kelompok Batam Ditangkap


SABTU, 06 AGUSTUS 2016

 Teroris Kelompok Batam Ditangkap

Jakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI dan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau menangkap enam orang terduga teroris di sejumlah lokasi yang berbeda di Batam, Kepulauan Riau, kemarin. “Namanya KGR, kepanjangan dari Kitabah Gonggong Rebus,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto, kemarin di kantornya.

Gonggong Rebus merupakan nama masakan sejenis seafood di Batam. Kelompok ini dipimpin oleh Gigih Rahmat Dewa. Gigih Rahmat ditangkap di Batam Center, Jalan Daeng Kamboja. Pria berusia 31 tahun itu bekerja sebagai karyawan pabrik. Selain Gigih, polisi membekuk Trio Syafrido, seorang karyawan bank. Pria 46 tahun yang berasal dari Padang, Sumatera Barat, itu ditangkap di Jalan Tengku Umar, Nagoya, Batam. Ada pula Eka Saputra, 35 tahun, yang ditangkap di jalan keluar perumahan Cluster Sakura, Batam Centre.

Tiga lainnya yang dicokok Densus 88 antara lain Tarmidzi, 21 tahun, Hadi Gusti Yanda (20), dan Muhammad Tegar (19). Ketiganya merupakan karyawan pabrik. Tarmidzi ditangkap di depan pabrik Panasonic, Jalan Laksamana Bintan, Batam Center. Sedangkan Hadi dan Tegar ditangkap di Jalan Brigjen Katamso, Batu Aji.

Menurut Agus, kelompok ini masih ada hubungannya dengan jaringan Santoso dan Bahrun Naim. Gigih menjadi fasilitator bagi orang yang ingin bergabung dengan kelompok radikal di Suriah, melalui Turki. Polisi juga menduga Gigih sebagai penerima dan penyalur dana kegiatan radikalisme di Indonesia. “Khususnya yang berasal dari BN (Bahrun Naim) yang ada di Suriah,” kata Agus lagi.

Pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, menuturkan, dalam jaringan teroris Bahrun Naim, Gigih bertugas mengirim pengikut-pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melalui jalur laut ke Turki atau Suriah. “Jalur laut diambil karena penjagaannya tidak seketat jalur udara yang biasanya melalui Jakarta,” kata Taufik. Ia yakin pengiriman para pengikut ke luar negeri dilakukan melalui jalur ilegal.

Adapun pengamat teroris Al Chaidar mengatakan kelompok Gonggong Rebus baru terbentuk sekitar 2014. Gigih sudah lama tinggal di Batam, yang merupakan salah satu daerah yang dianggap sebagai cabang ISIS. Pada awal perekrutannya, Gigih mampu merangkul 14 orang.

Menurut Al Chaidar, Kitabah Gonggong Rebus sempat berencana melakukan teror di laut. Mereka terinspirasi oleh kelompok Abu Sayyaf yang membajak kapal. Menurut dia, pembajakan itu bukan hanya bertujuan memperoleh uang. “Bisa juga mereka melakukan barter untuk melepaskan anggotanya yang sedang dipenjara di Nusakambangan,” kata dia. lREZKI ALVIONITASARI | MITRA TARIGAN


Singapura Jadi Target Teror

Jakarta – Terduga teroris Gigih Rahmat Dewa, yang merupakan pemimpin kelompok Kitabah Gonggong Rebus, pernah berencana menyerang Singapura. “Saya tegas menyatakan (Gigih) berencana melakukan serangan di Singapura dan Batam,” ujar Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, kemarin.

KepalaBiro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto, menambahkan, rencana penyerangan itu pernah dibahas kelompok Kitabah dengan petempur ISIS, Bahrun Naim. “Yang bersangkutan bersama BN (Bahrun Naim),” ujar dia, kemarin.

Polisi telah mengantongi sejumlah bukti terkait dengan rencana penyerangan itu. “Kami punya data, peralatan, dan informasi,” Agus menambahkan. Polisi, ujar dia, telah lama mengincar mereka dan mengikuti perkembangan komunikasi mereka melalui telepon.

Berdasarkan informasi dan bukti yang terkumpul, Gigih dan Bahrun diketahui bermaksud menyerang Marina Bay, Singapura, menggunakan roket dari Batam. Mereka telah membicarakan rencana penyerangan itu sejak sebelum Bahrun Naim berangkat ke Suriah.

“Kemungkinan rencana tersebut pas sebelum BN (Bahrun Naim) pergi ke Suriah,” ucap Agus lagi. Tapi polisi belum mengetahui pasti apa motif mereka merencanakan serangan ke Singapura.

Kemarin, Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI menangkap Gigih dan lima kawannya di sejumlah lokasi yang berbeda di Batam, Kepulauan Riau. Selain Singapura, Gigih telah merencanakan bom bunuh diri di sejumlah tempat keramaian dan kantor kepolisian.

Ia pernah menampung dua anggota kelompok jaringan teroris yang berasal dari Uighur, yakni Doni dan Ali. Doni dideportasi ke negaranya, sedangkan Ali ditangkap di Bekasi pada akhir 2015. “Dia juga mengembangkan sel-sel teroris di Indonesia ataupun di Asia Tenggara,” tutur Agus.REZKI ALVIONITASARI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: