Amerika dan Afrika Pasar Potensial Seragam Militer


INDUSTRI PERTAHANAN

Amerika dan Afrika Pasar Potensial Seragam Militer

JAKARTA, KOMPAS — Negara-negara di Amerika dan Afrika menjadi pasar potensial industri seragam militer yang belum digarap. Wakil Presiden Direktur PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto dalam Press Tour Kementerian Pertahanan, di pabrik Sritex, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (13/10) petang, mengatakan, diperlukan dukungan perbankan dan lobi diplomatik dalam menggarap pasar industri seragam militer di Afrika dan Amerika.

“Kami sudah mengekspor ke 30 negara, termasuk negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), seperti Jerman, Belanda, dan Swedia. Demikian pula Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan beberapa negara Teluk menjadi pasar produk seragam militer. Bahkan, Jerman dan Malaysia memesan seragam militer dengan spesifikasi untuk perang nuklir, biologi, dan kimia,” kata Kurniawan yang akrab disapa Wawan.

PT Sritex membuat seragam militer dengan spesifikasi khusus, seperti anti inframerah bagi negara-negara NATO, juga dibuat material seragam dengan bahan kimia anti serangga yang digunakan di wilayah padang pasir dan sub-Sahara.

Menurut Wawan, ekspansi produk seragam militer asal Indonesia ke Afrika dan Amerika masih terbuka lebar.

Adapun kendala pemasaran di Afrika adalah hubungan perbankan Indonesia dengan negara-negara Afrika. Jaminan perbankan sangat diperlukan mengingat kondisi perekonomian dan keuangan di negara-negara tersebut terkadang tidak menentu. Saat ini, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) aktif dalam memasok seragam dan perlengkapan militer ke sejumlah negara Afrika.

Sementara di Amerika, terutama di Amerika Utara, mencakup Amerika Serikat dan Kanada, diperlukan lobi diplomatik antarkementerian pertahanan karena adanya semacam pakta di antara negara-negara Amerika Utara.

Saat ini, PT Sritex menghasilkan 5-6 juta pasang seragam militer setiap tahun untuk organisasi militer di sejumlah negara, termasuk TNI. Berbagai kelengkapan, seperti aksesori militer berupa kantong penyimpan magasin, radio, granat, pelindung lutut dan siku bagi personel pasukan khusus, juga dibuat PT Sritex.

Ancaman bagi produk industri pertahanan tersebut, ujar Wawan, adalah barang selundupan dan masuknya kelebihan produk tekstil RRT yang merusak harga pasar. Saat ini, ada 20.000 karyawan bekerja di PT Sritex yang menempati lahan seluas 80 hektar di Kabupaten Sukoharjo. PT Sritex juga memiliki cabang di Jawa Barat dan sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal (TNI) Djundan Eko Bintoro mengatakan, produk seragam militer yang dihasilkan PT Sritex merupakan salah satu industri strategis yang mengangkat nama Indonesia.

“Proses menjadi eksportir dan memasok kebutuhan seragam militer di puluhan negara ini memakan waktu 50 tahun. Perwakilan RI di luar negeri dan para atase pertahanan juga membantu memperkenalkan produk-produk industri pertahanan Indonesia, seperti seragam dan perlengkapan militer di sini,” kata Djundan. (ONG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: