KORUPSI BUMD JAWA TIMUR


Mantab jualan aset BUMD… tak heran sang tersangka kuaya raya…
Koran Tempo
RABU, 19 OKTOBER 2016

SURABAYA – Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dandeni Herdiana, mengatakan penjualan 33 aset PT Panca Wira Usaha (PT PWU) pada periode 2000-2010 dilakukan sepengetahuan Dahlan Iskan, yang saat itu menjabat direktur utama. Keputusan pelepasan aset tersebut berada di tangan Dahlan, sedangkan proses dan teknisnya oleh Manajer Aset PT PWU Wisnu Wardhana. “Akta jual-belinya ditandatangani direktur (Dahlan),” kata dia seusai pemeriksaan Dahlan, di kantornya kemarin.

Dalam pemeriksaan tersebut, Dahlan menjadi saksi untuk Wisnu Wardhana, yang kini telah menjadi tersangka kasus penjualan 33 aset yang dinilai bermasalah. Kejaksaan mencecar Dahlan dengan 23 pertanyaan, terutama soal alasan badan usaha milik daerah (BUMD) tersebut menjual aset di Kediri dan Tulungagung pada 2003 yang nilainya di bawah nilai jual obyek pajak.

Berdasarkan peraturan daerah tentang BUMD, penjualan aset BUMD harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur melalui sidang paripurna, bukan dari persetujuan rapat umum pemegang saham. “Surat persetujuan dari ketua dewan ada, tapi kami teliti prosesnya bagaimana,” kata Dandeni.

Selain Dahlan, penyidik kemarin juga mengagendakan pemeriksaan terhadap Wisnu Wardhana dan dua saksi kunci dari rekanan pembeli aset, yakni Dirut PT Sempulur Adi Mandiri, Oetojo Sardjono, serta mantan Dirut PT SAM, Santoso. Namun Wisnu tidak hadir karena alasan sakit, sedangkan dua saksi lainnya tidak datang tanpa alasan.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Maruli Hutagalung mengatakan penyidik akan terus memeriksa Dahlan secara maraton untuk menggali alasan materiil pelepasan aset BUMD tersebut. “Kami belum menemukan benang merah dalam kasus ini sebagai salah satu syarat menetapkan tersangka,” katanya.

Kuasa hukum Wisnu, Daud Budi Sutrisno, mengatakan keputusan kejaksaan menetapkan kliennya sebagai tersangka sangat janggal. Menurut dia, Wisnu tidak mungkin menjadi pelaku tunggal karena seluruh penjualan aset berdasarkan keputusan direksi. “Wisnu tak punya kewenangan untuk memutuskan penjualan,” kata Daud.

Kuasa hukum Dahlan, Pieter Talawai, mengatakan pemeriksaan yang dilakukan kejaksaan hanya soal kewenangan kliennya dalam penjualan aset. Menurut dia, kliennya menjual aset BUMD yang kepemilikannya di tangan pihak lain. Selain itu, penjualan dilakukan pada aset yang hanya memiliki sertifikat hak guna bangunan. “Dijual, lalu beli aset baru yang lebih bisa produktif dan menguntungkan,” kata Pieter.

Selain itu, menurut dia, penjualan tak memerlukan izin DPRD Jawa Timur karena aset tersebut milik BUMD sebagai perseroan terbatas. Persetujuan Dewan hanya dibutuhkan jika PT PWU hendak menjual aset milik pemerintah daerah.

Adapun seusai pemeriksaan Dahlan tidak berkomentar ketika dicecar pertanyaan soal keterlibatannya dalam kasus ini oleh awak media. Dia langsung masuk ke mobil. FRANSISCO ROSARIANS | NUR HADI | EDWIN FAJERIAL | EKO ARI


Aset Bermasalah

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur kembali memeriksa mantan Direktur Utama PT Panca Wira Usaha, Dahlan Iskan, dalam dugaan penyelewengan penjualan 33 aset Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Aset-aset yang berupa tanah dan bangunan itu tersebar di berbagai daerah, termasuk di Surabaya, Tuban, Tulungagung, Kediri, Pasuruan, Banyuwangi, dan beberapa daerah lain. Berikut ini di antaranya:

Bangunan bekas pabrik

keramik di Jalan Sultan Hasanudin Nomor 1 Tulungagung, Jawa Timur

Luas 24.560 meter persegil Lahan dan bangunan bengkel terletak di Jalan Hasanudin Nomor 21, Kediri

Luas: 2.400 meter persegi Tanah di Jalan Bancar, Tuban (jurusan Tubang-Rembang)

Luas: 10 hektare Gedung bekas kampus Universitas Teknologi Surabaya di Jalan Ngagel Nomor 89, Surabaya

Luas: 500 ribu meter persegi Bangunan bekas pabrik Perusahaan Negara Rakyat “Parwitayasa” di Jalan Ngagel Nomor 137, Surabaya

Luas: 15.480 meter persegiTanah dan bangunan bekas Perusahaan Daerah Aneka Industri di Jalan Ngagel Nomor 139-141, Surabaya

Luas: 4.705 meter persegil EKO ARI | BERBAGAI SUMBER

 

+++++++++++++++

KAMIS, 20 OKTOBER 2016

Dahlan Kutip Nama Bekas Gubernur

SURABAYA – Mantan Direktur Umum PT Panca Wira Usaha (PWU), Dahlan Iskan, menyeret peran mantan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo karena memberikan izin dan persetujuan dalam penjualan 33 aset milik PT PWU, badan usaha milik pemerintah daerah Jawa Timur. Izin tersebut juga diberikan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur Bisri Abdul Jalil.

Dahlan siap menyerahkan salinan dokumen perizinan tersebut ke kejaksaan jika diminta. “Barang itu ada. Itu dokumen lama,” kata kuasa hukum Dahlan Iskan, Pieter Talawai, saat dihubungi Tempo kemarin.

Dahlan menjalani pemeriksaan maraton selama tiga hari berturut-turut sejak Senin lalu. Dia diperiksa Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebagai saksi untuk tersangka kasus dugaan korupsi penjualan aset PT PWU selama 2000-2010, yang dilakukan mantan Manajer Aset PT PWU, Wisnu Wardhana, terutama di Kediri dan Tulungagung. Sebagai direktur utama, Dahlan dinilai mengetahui penjualan tersebut karena menandatangani semua akta jual-beli aset.

Penyidik kejaksaan sudah memeriksa Imam Utomo da-lam kaitan kasus ini pada 14 September lalu. Dalam pemeriksaan, penyidik mencecar Imam dengan 20 pertanyaan soal dugaan adanya izin kepada Dahlan untuk menjual sejumlah aset PT PWU. Kejaksaan memang menggali proses dan prosedur penjualan aset, selain pemeriksaan adanya kerugian negara.

Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dandeni Herdiana, mengakui lembaganya telah mengantongi surat izin atau penegasan dari Ketua DPRD Jawa Timur. Namun dia enggan mengkonfirmasi apakah isinya berupa persetujuan PT Panca Wira Usaha bisa menjual aset tanpa perlu izin DPRD dan cukup melalui rapat umum pemegang saham sebagai perseroan terbatas. “Orangnya sudah almarhum, tapi kami masih punya cara untuk membuktikan maksud dari surat itu,” kata dia.

Adapun soal izin dari Imam Utomo, Dandeni enggan memaparkan detail isinya dengan dalih termasuk dalam materi penyidikan dan pembuktian. Menurut dia, penyidik memeriksa seluruh sisi dari proses penjualan aset untuk menemukan pelbagai kemungkinan pelanggaran, termasuk dugaan korupsi dan penyimpangan prosedur. “Kami sudah punya bukti. Dia (Dahlan) akan diperiksa lagi Senin mendatang,” kata dia.

Imam belum bisa dimintai konfirmasi soal pemberian izin untuk menjual aset PT PWU. Upaya Tempo mendatangi rumahnya di Jalan Margorejo Indah C 419 RT 003 RW 008, Surabaya, Jawa Timur, tak berbuah. “Bapak lagi ke luar kota sejak pagi,” kata seorang penjaga rumah.

Tempo juga sempat menghubungi Imam lewat nomor telepon pribadinya, tapi teleponnya tak aktif. Ketua Palang Merah Indonesia Jawa Timur ini juga tak bisa ditemui di kantornya. FRANSISCO ROSARIANS | NUR HADI | EDWIN FAJERIAL | EKO ARI


Modus Pelepasan Aset

Mantan Direktur Umum PT Panca Wira Usaha, Dahlan Iskan, diduga menyelewengkan dan menjual 33 aset milik PT PWU, badan usaha milik pemerintah daerah Jawa Timur. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menduga ada sejumlaah modus yang digunakan untuk melepaskan aset yang berada di sejumlah kota, seperti Tulungagung, Kediri, Tuban, dan Banyuwangi. Berikut ini modus yang digunakan.

Menjual tanah dan bangunan di bawah nilai jual obyek pajak (NJOP).

  • Menggadaikan lahan dan bangunan ke bank sebagai jaminan kredit tanpa membayar cicilan.
  • Menyewakan aset namun uangnya sebagian tak masuk ke kas PT PWU.
  • Menyewakan lahan di bawah harga pasar.
  • Menyewakan aset dengan jangka waktu di atas 30 tahun tanpa persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur.

+++++++++++++++++++

KAMIS, 20 OKTOBER 2016

Aset PWU Berubah Jadi Mal dan Toko

KEDIRI – Sejumlah aset PT Panca Wira Usaha telah beralih fungsi menjadi pusat belanja dan pertokoan. Perusahaan yang dulu bernama PT Nabatiasa ini memiliki banyak aset yang terbengkalai. Mukti, 74 tahun, bekas karyawan PT Nabatiasa, mengatakan perusahaan itu sempat mengalami masa kejayaan. Nabatiasa terpuruk pada 1978 dan sempat bangkit lagi. “Namun pada 1985, perusahaan ini mati,” ujar bekas kepala administrasi di perusahaan tersebut, kemarin.

Di Kediri, aset perusahaan itu tersebar di berbagai tempat. Salah satu yang terbesar berada di kawasan perempatan yang menghubungkan Jalan Hasanudin dengan Jalan Basuki Rahmat. Selain tempat produksi, kawasan ini juga menjadi kompleks rumah dinas karyawan Nabatiasa.

Setelah bangkrut, seorang warga Kediri, Upojo Sarjono, memborong aset PT Panca Wira Usaha pada 2003 dengan transaksi total Rp 17 miliar. Lahan yang sangat luas di Jalan Hasanudin dan Jalan Basuki Rahmat itu kini beralih fungsi menjadi kantor dealer Auto 2000, Hypermart, dan Ruko Hayam Wuruk.

Selain itu, 42 rumah dinas milik perusahaan juga dalam sengketa dengan bekas karyawan yang enggan pindah dan akhirnya rumah itu ditempati oleh anak-cucu mereka. “Dari 42 rumah, tak ada yang bersertifikat karena hak guna bangunannya di tangan PT Panca Wira Usaha,” ujar Iswanto, penghuni rumah dinas tersebut.

Iswanto baru mengetahui bahwa pengalihan aset itu bermasalah setelah didatangi oleh pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Sepekan lalu, lima penyidik menanyakan seputar peralihan status aset dari PT PWU kepada pengelola mal, pertokoan, dan bekas karyawan. Penyelidikan berkaitan dengan dugaan korupsi yang dilakukan Wisnu Wardhana, ketua tim pelepasan aset PT PWU.

Di Surabaya, tanah milik PT PWU di Jalan Ngagel telah berubah menjadi Carrefour Kalimas Surabaya. Iskandar, warga setempat, mengatakan pembangunan pusat belanja itu dilakukan pada 2007 dan rampung setahun kemudian. HARI TRI WASONO | EDWIN FAJERIAL | M. SYARRAFAH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: