Tersangka Teror Bom Bekasi Ungkap Rahasia Nikahi Dian Yulia


SABTU, 17 DESEMBER 2016 | 07:14 WIB

Tersangka Teror Bom Bekasi Ungkap Rahasia Nikahi Dian Yulia

Polisi menyita sejumlah dokumen dari toko milik terduga teroris Nur Solihin di Sukoharjo, Jawa Tengah, 11 Desember 2016. Nur merupakan jaringan bom panci yang ditangkap di Bekasi. TEMPO/Ahmad Rafiq

TEMPO.CO, Jakarta – Rencana sejoli yang diduga akan meledakkan bom di Istana Presiden, Jakarta, mengejutkan Tanah Air. Namun sebelum rencana itu dijalankan, Dian Yulia Novi dan suaminya M. Nur Solihin lebih dulu ditangkap polisi, Minggu, 11 Desember 2016. Dari pengembangan kasus itu, tiga terduga teroris pun ditangkap dan ibu rumah tangga yang diduga mempertemukan Dian, calon pengantin bom, dengan Solihin selaku pemimpin aksi. Dian dan Solihin juga menjadi tersangka.

Baca: Peran 7 Terduga Teroris yang Akan Mengebom Istana Presiden

Namun, ada cerita menarik di balik perekrutan Dian sebagai calon pengantin. Solihin mengungkap motifnya menikah lagi lantaran Dian berkeinginan menjalankan tugas amaliyah istisyhadiyah yang dipahami sebagai pengorbanan nyawa untuk agama. “Secara otomatis dia memerlukan ikhwan (laki-laki) untuk mengurus persiapan yang tidak boleh di luar saya (sebagai suami),” kata Solihin lewat program Kabar Khusus yang disiarkan stasiun televisi TV One, Selasa, 13 Desember 2016.

Menurut Solihin, cara pernikahan yang dilandasi niat peledakan bom bunuh diri dibenarkan karena bertujuan mengharap ridho Tuhan. Solihin menyadari niat pernikahannya itu berbeda dengan kelompok lain. Solihin menilai niat pernikahan yang ia lakukan semata hanya untuk akhirat. Adapun proses pernihakan, Solihin mengaku mempersiapkannya sendiri. Menurut Solihin, pernikahan ia lakukan diam-diam karena tanpa dihadiri wali dan calon pengantin perempuan.

Baca: Ibu Rumah Tangga yang Diduga Terlibat Bom Bekasi Ditangkap

Wali pernikahan digantikan wali hakim yang ditunjuk pihaknya. “Kalau nanti saya menikah dengan Neng Dian banyak yang tahu, nanti akan bocor rencana amaliyah-nya,” ujar Solihin. Setelah menikah, meski tidak saling kenal Solihin bertugas membantu Dian mempersiapkan diri menjelang peledakkan di area sekitar istana negara. Secara teknis, Solihin mengatakan dirinya mendapat tugas dari simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yaitu Bahrun Naim.

Solihin mengaku tidak terlalu banyak tahu soal perakitan bom, waktu, dan tempat. “Saya hanya tahu barang sudah jadi,” kata Solihin. Solihin mengaku ia baru diberi tahu soal rencana rinci sekitar 1-2 pekan sebelum eksekusi. Soal target, waktu dan tempat sepenuhnya ditentukan oleh Bahrun Naim. Secara teknis Solihin telah mengajari Dian bagaimana cara meledakkan bom. Namun, Dian ternyata belum terlalu memahami sehingga ia masih butuh arahan lebih lanjut.

Baca: Pengakuan Eko Patrio Soal Tuduhan Bom Bekasi Pengalihan Isu

Solihin menilai Bahrun Naim tokoh unik dan fenomenal di kalangannya sendiri. Solihin mengaku mengenal Bahrun sejak Bahrun Naim masih di Indonesia. Solihin mengatakan dirinya mengenal Bahrun Naim meski belum pernah bertemu. “Ketika itu dia (Bahrun Naim) punya media, saya diajak ke media itu. Pas saya kasih biodata, tahu-tahu dia menghilang tidak ada kabar tahu-tahu dia sudah di sana (Suriah). Sekarang sudah di Suriah, di negeri yang sudah diberkahi,” ujar Solihin.

LARISSA HUDA

 

+++++++++++++++++++

 

Koran Tempo
SABTU, 17 DESEMBER 2016

Pendanaan Bom Panci Diduga Via PayPal

JAKARTA – Kepolisian RI terus melacak aliran dana jaringan Muhammad Bahrunna’im Anggih Tamtomo alias Bahrun Naim, salah satu pemimpin Khatibah Nusantara. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan Bahrun Naim mendanai rencana teror bom panci oleh kelompok Muhammad Nur Solihin yang digagalkan Detasemen Khusus 88 Antiteror di Bekasi, akhir pekan lalu. “Semua alirannya itu akan dideteksi dan dijadikan bahan penyidikan,” kata Boy di kantornya, kemarin.

Sejauh ini, menurut Boy, pembiayaan kelompok Solihin oleh Bahrun Naim dilakukan lewat transfer dana dari luar negeri senilai Rp 1-8 juta. Transaksi tersebut diduga kuat menggunakan sejumlah nama orang lain. “Bisa pekerja di luar negeri, atau perantara yang berada di negara lain,” ujarnya.

Kepala Densus 88 Antiteror, Brigadir Jenderal Eddy Hartono, mengatakan timnya sedang menyelidiki sejumlah akun pembayaran online PayPal. “Kami masih melakukan pendalaman,” ujarnya. Paypal adalah jenis alat pembayaran virtual yang bisa digunakan untuk transaksi oleh seluruh pengguna Internet dari negara mana saja.

Hal yang sama sedang dilakukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Wakil Ketua PPATK Dian Ediana Rae menjelaskan, lembaganya akan melacak aliran dana dari Bahrun Naim yang ada kemungkinan menggunakan akun PayPal. “Kami bekerja sama de-ngan badan intelijen keua-ngan lain di seluruh dunia. Jadi, dana datang dari mana saja, pasti bisa kami deteksi,” kata Dian.

Seorang penegak hukum mengungkapkan, penggunaan PayPal oleh Bahrun Naim sebelumnya telah terlacak dalam pendanaan teror bom di Markas Kepolisian Resor Kota Surakarta, Jawa Tengah, 4 Juli lalu. Kala itu Bahrun Naim mengirim dana via akun PayPal seseorang di Sukabumi yang kemudian mendistribusikan secara berantai hingga bahan peledak diperoleh oleh pelaku teror Nur Rochman.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan, pendanaan melalui akun PayPal sebagai salah satu metode baru di jaringan ISIS. Bahrun Naim, kata Chaidar, kemungkinan besar terilhami model pembayaran ini dari jaringan ISIS di Amerika Serikat. “Selain PayPal, Bahrun juga bisa memanfaatkan e-Bay dan beberapa cara transaksi lain,” kata Al Chaidar.

Menurut Al Chaidar, metode pembayaran lama, se-perti transfer bank, sudah ditinggalkan jaringan ISIS menyusul semakin ketatnya perbankan. Modus menitipkan uang kepada tenaga kerja Indonesia atau via remitansi juga kerap terbongkar kepolisian. “Karena dianggap cukup aman, transaksi via PayPal juga dilakukan jaringan ISIS di negara lain,” katanya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan kuat dugaan Bahrun Naim dia diyakini berada di Suriah hingga sejak tahun lalu memperoleh pendanaan dari komunitasnya di sejumlah negara. Meski demikian, kata Rikwanto, Polri belum berkepentingan untuk mencari pemodal kelompok Bahrun Naim. MITRA TARIGAN | MUHAMMAD KURNIANTO


Dana Asing untuk Teror

SETAHUN terakhir, Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI, dibantu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), secara intensif melacak aliran dana sejumlah orang yang diduga berkaitan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sejumlah temuan menyebutkan, aliran uang yang disinyalir untuk pendanaan teroris itu tidak hanya dari Indonesia ke Timur Tengah. Arus uang tersebut juga untuk membiayai keberangkatan simpatisan ISIS ke Suriah dan aksi teror di Indonesia.

Caranya beragam. Dana mengalir mulai dari transfer bank, berkedok remitansi, hingga transaksi pembayaran online. Jaringan Muhammad Bahrunna’im Anggih Tamtomo, mantan terpidana terorisme kepemilikan amunisi yang diyakini berada di Suriah, ada di dalamnya.

17 Hasil Analisis

Hingga September lalu, PPATK telah menyetorkan 17 hasil analisis tentang pendanaan terorisme kepada penyidik.

217 Transaksi Mencurigakan

Jumlah laporan transaksi mencurigakan yang berkaitan dengan terorisme hingga September lalu meningkat tajam dibanding laporan yang diterima PPATK sepanjang tahun lalu, yang hanya 185 transaksi.

Rp 10 Miliar

Perkiraan dana asing yang mengalir ke Indonesia berkaitan dengan terorisme sepanjang 2013-2015.

Sumber: Wawancara Tempo, PPATK, AUSTRAC

 

+++++++++++++++

koran tempo

JUM AT, 16 DESEMBER 2016

Perekrutan Teroris Sasar Balita

JAKARTA – Sel Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia telah mengalihkan pola perekrutan teroris dengan menyasar anak balita. Caranya, menikahi perawan ataupun janda, lalu mendidik anak mereka menjadi teroris. “Perempuan dijadikan pabrik anak oleh mereka,” kata pengamat terorisme Al Chaidar kemarin.

Al Chaidar pernah meneliti pola-pola perekrutan teroris. Menyasar bayi merupakan modus baru. Menurut dia, anggota ISIS sebetulnya penganut Islam Salafi Sururi, yang monogami. “Sejak 2014, mereka berpoligami,” ujarnya. Dengan punya istri banyak, para teroris akan menjadikan mereka prajurit.

Modus menikah seperti yang dilakukan Muhammad Nur Solihin yang menikah secara virtual dengan Dian Yulia Novi. Keduanya kini menjadi tersangka terorisme bom panci di Bekasi.

Bukan hanya bayi, ISIS juga mengincar anak usia dini untuk dididik dengan paham radikalisme. Ia menduga sudah banyak sekolah radikal di Indonesia. Al Chaidar pernah menemukan sekolah dengan ajaran terorisme ini di pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar di Depok pada 2013. “Ada empat sekolah yang mengajarkan gerakan radikal ini di Depok, tapi saya baru mendatangi satu sekolah,” tuturnya.

Metode pengajaran di sekolah radikal itu, kata Chaidar, mirip pelajaran di sekolah umum, seperti bernyanyi. Namun bukan lagu-lagu nasional yang mereka pelajari, melainkan lagu-lagu yang diubah liriknya dengan kalimat intoleransi dan menghina keyakinan agama lain. “Harapannya agar intoleransi tertanam sejak kecil,” ucapnya.

Pengajaran radikalisme juga menyasar panti asuhan yang dihuni anak-anak usia hingga belasan tahun. Pola seperti ini pernah ditemukan polisi di kawasan Jonggol, Jawa Barat. Ada pula pendidikan radikal yang dilakukan dengan mengangkat anak. Menurut Al Chaidar, ia pernah menemui salah satu anggota kelompok ISIS yang memiliki anak angkat untuk dijadikan teroris.

Pengajaran memegang senjata pun pernah dilakukan kepada anak-anak usia 4 tahun di sekolah Indonesia yang berada di Suriah. “Video tentang pengajaran itu sempat beredar beberapa waktu lalu,” kata Chaidar.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, mengatakan timnya sempat mendengar kabar ada pola rekrutmen menikahi para wanita untuk diambil bayinya. Polisi, kata dia, masih menggali informasi tersebut. “Kami sedang mendalaminya,” ujarnya.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irfan Idris, mengakui banyak cara perekrutan yang dilakukan ISIS. Ia mengkonfirmasi penelitian Chaidar tentang modus mendidik teroris sejak bayi dengan menikahi perempuan yang diceraikan atau ditinggal wafat suaminya. “Dengan menikahi janda, status perempuan itu bisa kembali terangkat,” ucapnya. MITRA TARIGAN | EKO ARI


Cara Baru Merekrut ‘Pengantin’

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terus mengembangkan jaringan dan pengaruhnya dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan tersangka teroris Bekasi, Muhammad Nur Solihin, dengan menikahi Dian Yulia Novi, yang baru dikenal tiga bulan lewat media sosial. Dian disiapkan menjadi “pengantin” atau pelaku bom bunuh diri. Berikut ini cara baru merekrut para pengantin. EKO ARI | BERBAGAI SUMBER

Menggelar pelatihan militer untuk menyiapkan jihadis yang siap perang. Pelatihan dilakukan mulai pukul 3 sore hingga subuh, biasanya lokasinya di hutan.

Masuk ke asrama polisi untuk menyebarkan paham takfiri atau daulah.

Menyebarkan paham radikal melalui media sosial.

Menyiarkan paham radikal lewat radio.

Mendirikan sekolah pendidikan anak usia dini untuk mendidik anak menjadi calon mujahid.

Memberangkatkan perempuan perawan dan janda ke Suriah atau ke Filipina selatan untuk dinikahkan dengan jihadis. Sandi yang digunakan “khitan massal”.

Membentuk rumah singgah bagi keluarga tersangka teroris.

Melakukan radikalisasi di kamp pengungsi Rohingya.

Mendekati tokoh Islam moderat untuk memperluas dukungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: