Pola Teror Bahrun Naim cs Mirip JI


JUM AT, 23 DESEMBER 2016

 Pola Teror Bahrun Naim cs Mirip JIJAKARTA – Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan pola rekrutmen dan instruksi aksi kelompok Jamaah Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), yang dipimpin oleh terpidana kasus terorisme, Aman Abdurrahman, mirip dengan yang dilakukan Jamaah Islamiyah pimpinan Abu Bakar Baasyir. Kedua kelompok ini sama-sama terkoneksi dengan grup teroris radikal di luar negeri. Baasyir berhubungan dengan gerakan Al-Qaidah di Afganistan, sedangkan Aman diduga berafiliasi kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). “Sama-sama membentuk lagi sel-sel kecil,” kata Tito, kepada wartawan, kemarin.

Kemiripan ini tampak dalam penangkapan tujuh terduga teroris pada Rabu lalu. Meski dari sel yang berbeda, mereka memiliki mediator yang sama, yaitu Muhammad Bahrunnaim Anggih Tamtomo alias Bahrun Naim, Bachrumsyah, dan Salim Mubarok.

Menurut Tito, para mediator inilah yang merekrut dan melatih anggota sel teroris serta menyusun rencana aksi teror. Pola itu dierapkan juga oleh jaringan JI melalui sosok Riduan Isamudin alias Hambali, otak di balik bom Natal pada 2000 dan bom Bali pada 2002.

“Sekarang pun polanya sama. ISIS punya operator (di Indonesia), yaitu JADKN dengan Aman Abdurrahman, yang memiliki banyak sel,” ujar Tito.

Rabu lalu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri menangkap empat terduga teroris dari sel kecil JADKN di Tangerang Selatan, Banten. Seorang pria ditahan, yakni Adam Noor Syiam. Adapun tiga laiannya, yaitu Omen alias Juhaiman, Helmi alias Hilmi alias Abu Afkar, dan Irwan, tewas ditembak.

Polisi juga menangkap Jhon Tanamal alias Hamzah, anggota sel kecil JADKN pimpinan Abu Mushab, di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di Deli Serdang, Sumatera Utara, polisi menciduk Syafi’i, anggota jaringan Katibah Gongong Rebus. Terakhir, terduga teroris Abisya dibekuk di Sagulung, Batam.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan jaringan Katibah Gongong Rebus, JADKN sel Abu Mushab, dan JADKN sel Adam Noor memiliki perantara instruksi yang sama, yaitu Bahrun Naim. Perintah disebar Bahrun Naim melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

JADKN sel Adam Noor, menurut Martinus, dibongkar melalui sel teror lain, yaitu kelompok Muhammad Nur Solihin, perakit bom panci di Bintara, Bekasi. Polisi mencatat “pengantin” atau calon pelaku bom bunuh diri dari kelompok Solihin, Dian Yulia Novi, beberapa kali berkomunikasi dengan Adam “Mereka secara fisik mungkin tidak saling kenal, tapi di bawah atau berkomunikasi dalam jaringan dari sumber yang sama,” kata dia.

Selain melalui media sosial, menurut polisi, rekrutmen sering dilakukan di penjara.

Wakil Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim, yang biasa menjadi kuasa hukum tersangka kasus teroris, Achmad Michdan, meragukan pernyataan Polri soal jaringan teroris selama beberapa hari terakhir. “Bagaimana cara membuktikan orang seperti Bahrun Naim menjadi operator?” kata dia. “Bagaimana mungkin Aman Abdurrahman memberi instruksi dari dalam penjara?” ARKHELAUS W | KODRAT


Target Stasiun Televisi hingga Istana

Polisi membongkar jaringan dan menangkap sejumlah terduga teroris sejak Juni lalu. Para teroris itu membidik target-target strategis, yakni kantor pemerintah, stasiun televisi, serta Istana Presiden.

8 Juni 2016

Detasemen Khusus 88 menangkap tiga terduga teroris, yaitu Priyo Hadi Purnomo, Befri Rahmawan alias Ibnu alias Azis, dan Feri Novandi alias Abu Fahri alias Koceng. Dua diantaranya ditangkap di Jalan Lebak Timur 3D/18, Tambaksari. Mereka dicurigai terlibat dalam jaringan Oman Abdurahman (Jamaah Ansharut Daulah), Bahrun Naim. Barang bukti yang ditemukan adalah tiga bom aktif berdaya ledak tinggi, 20 bom yang belum selesai dirakit, tiga pucuk senjata laras panjang, dan sebuah senjata jenis airsoft gun.

Target pengeboman: sejumlah tempat di wilayah Jawa Timur, kantor-kantor pemerintah, serta polisi yang sedang operasi dan bertugas di lapangan.

Rencana pengeboman: Idul Fitri

23 November

Rio Priatna Wibowo ditangkap di Desa Girimulya, Majalengka. Rio adalah anggota Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN).

Barang bukti: bahan baku bom seperti asam nitrat, asam sulfat, air raksa, pupuk urea, gelas kimia, dan kristal warna cokelat.

26 November 2016

Bahrain Agam ditangkap di Desa Blang Tarakan, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Bahrain diduga sebagai pencetus ide pembuatan bom, pembeli bahan peledak, dan penyedia uang

Rp 7 juta untuk pengadaan perlengkapan teror.

27 November 2016

Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap seorang terduga teroris bernama Saiful Bahri alias Abu Syifa di Desa Baros, Serang, Banten. Polisi menduga Saiful terlibat dalam pembuatan laboratorium bahan peledak dengan kekuatan daya ledak tinggi (high explosives).

28 November 2016

Hendra alias Abu Pase dibekuk di sebuah tempat pemancingan di Jalan Ismaya Raya, Pondok Benda, Kota Tangerang Selatan, Banten. Polisi menduga ia terlibat dalam jaringan Bahrun Naim.

Target pengeboman: Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Markas Besar Kepolisian, Kedutaan Besar Myanmar, kantor TV One, dan kantor Metro TV.

Rencana waktu: Natal dan tahun baru.

10—12 Desember

Tujuh orang tertangkap di Bekasi; Kalimalang, Jakarta Timur; serta Ngawi, Solo, dan Karanganyar, Jawa Tengah. Di antaranya seorang perempuan “calon pengantin bom” bernama Dian Yulia Novi. Mereka juga terkait dengan jaringan Bahrun Naim.

Barang bukti: sebuah bom rakitan dalam panci.

Target pengeboman: Istana Presiden saat pergantian Paspampres, yang diadakan pada Minggu, 12 Desember 2016. FERY F | DANNI MIUHADIANSYAH (PDAT)

Selamat Datang, otto pratama Profil
LAPORAN UTAMA
JUM AT, 23 DESEMBER 2016

Pola Teror Bahrun Naim cs Mirip JI

 Pola Teror Bahrun Naim cs Mirip JIJAKARTA – Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan pola rekrutmen dan instruksi aksi kelompok Jamaah Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), yang dipimpin oleh terpidana kasus terorisme, Aman Abdurrahman, mirip dengan yang dilakukan Jamaah Islamiyah pimpinan Abu Bakar Baasyir. Kedua kelompok ini sama-sama terkoneksi dengan grup teroris radikal di luar negeri. Baasyir berhubungan dengan gerakan Al-Qaidah di Afganistan, sedangkan Aman diduga berafiliasi kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). “Sama-sama membentuk lagi sel-sel kecil,” kata Tito, kepada wartawan, kemarin.

Kemiripan ini tampak dalam penangkapan tujuh terduga teroris pada Rabu lalu. Meski dari sel yang berbeda, mereka memiliki mediator yang sama, yaitu Muhammad Bahrunnaim Anggih Tamtomo alias Bahrun Naim, Bachrumsyah, dan Salim Mubarok.

Menurut Tito, para mediator inilah yang merekrut dan melatih anggota sel teroris serta menyusun rencana aksi teror. Pola itu dierapkan juga oleh jaringan JI melalui sosok Riduan Isamudin alias Hambali, otak di balik bom Natal pada 2000 dan bom Bali pada 2002.

“Sekarang pun polanya sama. ISIS punya operator (di Indonesia), yaitu JADKN dengan Aman Abdurrahman, yang memiliki banyak sel,” ujar Tito.

Rabu lalu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri menangkap empat terduga teroris dari sel kecil JADKN di Tangerang Selatan, Banten. Seorang pria ditahan, yakni Adam Noor Syiam. Adapun tiga laiannya, yaitu Omen alias Juhaiman, Helmi alias Hilmi alias Abu Afkar, dan Irwan, tewas ditembak.

Polisi juga menangkap Jhon Tanamal alias Hamzah, anggota sel kecil JADKN pimpinan Abu Mushab, di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di Deli Serdang, Sumatera Utara, polisi menciduk Syafi’i, anggota jaringan Katibah Gongong Rebus. Terakhir, terduga teroris Abisya dibekuk di Sagulung, Batam.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan jaringan Katibah Gongong Rebus, JADKN sel Abu Mushab, dan JADKN sel Adam Noor memiliki perantara instruksi yang sama, yaitu Bahrun Naim. Perintah disebar Bahrun Naim melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

JADKN sel Adam Noor, menurut Martinus, dibongkar melalui sel teror lain, yaitu kelompok Muhammad Nur Solihin, perakit bom panci di Bintara, Bekasi. Polisi mencatat “pengantin” atau calon pelaku bom bunuh diri dari kelompok Solihin, Dian Yulia Novi, beberapa kali berkomunikasi dengan Adam “Mereka secara fisik mungkin tidak saling kenal, tapi di bawah atau berkomunikasi dalam jaringan dari sumber yang sama,” kata dia.

Selain melalui media sosial, menurut polisi, rekrutmen sering dilakukan di penjara.

Wakil Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim, yang biasa menjadi kuasa hukum tersangka kasus teroris, Achmad Michdan, meragukan pernyataan Polri soal jaringan teroris selama beberapa hari terakhir. “Bagaimana cara membuktikan orang seperti Bahrun Naim menjadi operator?” kata dia. “Bagaimana mungkin Aman Abdurrahman memberi instruksi dari dalam penjara?” ARKHELAUS W | KODRAT


Target Stasiun Televisi hingga Istana

Polisi membongkar jaringan dan menangkap sejumlah terduga teroris sejak Juni lalu. Para teroris itu membidik target-target strategis, yakni kantor pemerintah, stasiun televisi, serta Istana Presiden.

8 Juni 2016

Detasemen Khusus 88 menangkap tiga terduga teroris, yaitu Priyo Hadi Purnomo, Befri Rahmawan alias Ibnu alias Azis, dan Feri Novandi alias Abu Fahri alias Koceng. Dua diantaranya ditangkap di Jalan Lebak Timur 3D/18, Tambaksari. Mereka dicurigai terlibat dalam jaringan Oman Abdurahman (Jamaah Ansharut Daulah), Bahrun Naim. Barang bukti yang ditemukan adalah tiga bom aktif berdaya ledak tinggi, 20 bom yang belum selesai dirakit, tiga pucuk senjata laras panjang, dan sebuah senjata jenis airsoft gun.

Target pengeboman: sejumlah tempat di wilayah Jawa Timur, kantor-kantor pemerintah, serta polisi yang sedang operasi dan bertugas di lapangan.

Rencana pengeboman: Idul Fitri

23 November

Rio Priatna Wibowo ditangkap di Desa Girimulya, Majalengka. Rio adalah anggota Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN).

Barang bukti: bahan baku bom seperti asam nitrat, asam sulfat, air raksa, pupuk urea, gelas kimia, dan kristal warna cokelat.

26 November 2016

Bahrain Agam ditangkap di Desa Blang Tarakan, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Bahrain diduga sebagai pencetus ide pembuatan bom, pembeli bahan peledak, dan penyedia uang

Rp 7 juta untuk pengadaan perlengkapan teror.

27 November 2016

Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap seorang terduga teroris bernama Saiful Bahri alias Abu Syifa di Desa Baros, Serang, Banten. Polisi menduga Saiful terlibat dalam pembuatan laboratorium bahan peledak dengan kekuatan daya ledak tinggi (high explosives).

28 November 2016

Hendra alias Abu Pase dibekuk di sebuah tempat pemancingan di Jalan Ismaya Raya, Pondok Benda, Kota Tangerang Selatan, Banten. Polisi menduga ia terlibat dalam jaringan Bahrun Naim.

Target pengeboman: Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Markas Besar Kepolisian, Kedutaan Besar Myanmar, kantor TV One, dan kantor Metro TV.

Rencana waktu: Natal dan tahun baru.

10—12 Desember

Tujuh orang tertangkap di Bekasi; Kalimalang, Jakarta Timur; serta Ngawi, Solo, dan Karanganyar, Jawa Tengah. Di antaranya seorang perempuan “calon pengantin bom” bernama Dian Yulia Novi. Mereka juga terkait dengan jaringan Bahrun Naim.

Barang bukti: sebuah bom rakitan dalam panci.

Target pengeboman: Istana Presiden saat pergantian Paspampres, yang diadakan pada Minggu, 12 Desember 2016. FERY F | DANNI MIUHADIANSYAH (PDAT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: