FPI jadi bela “negara” ? come on !


Wiih kalau dibiarkan terus bisa ada DANDIM latih teroris ISIS buat bela” Negara” .  Apakah FPI cs ini sedang mempersiapakan Angkatan ke 5 ( macam PKI tahun 1965 ?)

Ormas macam FPI, GNPF MUI, MMI, FUI, dan HTI  dari ideologinya saja mirip dengan ISIS..Apa ini persiapan buat pelatihan eks jihadis Syria yang pada pulang kampung ?

Indonesia bakal rusak jika ada oknum di TNI bermain main dengan ormas sempalan dan teroris ISIS.. Pada  Tahun 1999-2003  konflik Ambon dan Poso  makin jadi edan karena disusupi anasir teroris Al Qaida dan oknum TNI yang bermain.. Beberapa oknum TNI yang bermain api di konflik Ambon bukan ditangkap tapi malah menjadi pejabat tinggi di Rejim SBY.. ngeri khan.. Tidak heran sekarang setelah SBY lengser permainan jorok semacam ini mulai lagi. Pemerintah dan TNI harus tegas terhadap segala macam upaya penyusupan gerombolan teroris ditubuh angkatan bersenjata, jangan sampai peristiwa tahun 1965  terulang !!

Dandim Lebak Banten dicopot

Minggu, 8 Januari 2017 23:47 WIB | 3.992 Views
Bandung (ANTARA News) – Kodam III/Siliwangi mencobot jabatan Komandan Kodim (Dandim) 0603 Lebak, Banten karena dinilai telah melakukan kesalahan yakni menyelenggarakan kegiatan bela negara dengan ormas keagamaan Front Pembela Islam (FPI).

“Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan oleh Kodam III/Siliwangi terhadap Dandim Lebak, ditemukan kesalahan prosedur yaitu Dandim tidak berlapor terlebih dahulu baik kepada Danrem maupun Pangdam III/Siliwangi sebelum menyelenggarakan kegiatan bela negara tersebut,” kata Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi Kol Arh M Desi Arianto, dalam siaran persnya, di Bandung, Minggu.

Karena menyelenggarakan kegiatan tersebut, kata dia, maka Pangdam III Siliwangi memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Dandim Lebak, Banten. “Sanksinya yaitu dicopot dari jabatannya dan segera digantikan oleh pejabat yang baru,” ujar M Desi lagi.

Kegiatan bela negara tersebut diketahui dari salah satu unggahan sebuah akun media sosial instagram @dpp_fpi yang mengunggah sejumlah foto kegiatan pelatihan bela negara.

“TNI dan FPI menggelar Pelatihan Pendahuluan Bela Negara serta tanam 10.000 pohon di Lebak Banten,” ujar akun @dpp_fpi sekitar dua hari lalu.

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

++++++++++++++++

Pangdam: Pelatihan TNI dan FPI di Lebak tidak sesuai aturan

Reporter : Dwi Prasetya | Senin, 9 Januari 2017 10:49
  • 384SHARES
Pangdam: Pelatihan TNI dan FPI di Lebak tidak sesuai aturan

latihan bela negara FPI di Lebak. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com – Pangdam III Siliwangi Mayjen M Herindra angkat bicara mengenai pencopotan Komandan Daerah Militer (Dandim) 06/03 Lebak, Letkol Czi Ubaidillah. Pangdam menilai, pelaksanaan pelatihan bela negara tersebut tidak dilalui menggunakan standar operasional prosedur (SOP) yang ada di internal TNI.

Pergi.com bagi-bagi voucher tiket pesawat Rp 100,000“Saya sudah cek, latihan di Kodim Lebak khususnya di wilayah Koramil Cipanas. Saya sudah melihat itu. ternyata pelaksanaan latihan bela negara tersebut tidak melalui SOP yang seharusnya dilakukan,” kata Mayjen M Herindra, usai acara serah terima jabatan Komandan Korem 064/Maulana Yusuf di Alun-alun Barat, Kota Serang, Senin (9/1).

Oleh sebab itu, Pangdam mengambil langkah dengan mencopot Dandim 06/03 Lebak, Letkol Czi Ubaidillah. Seharusnya, Pangdam menambahkan, latihan Bela Negara dilakukan melalui izin berjenjang di tubuh TNI.

“Dandim ke Danrem, dari Danrem ke saya (Pangdam), baru kemudian saya akan menentukan iya atau tidaknya,” kata Pangdam.

Setelah melakukan pencopotan terhadap Dandim Lebak, Pangdam juga memastikan besok, Selasa (10/1) sudah menempatkan pejabat penggantinya. “Penggantinya yakni Letkol Safa, sebelumnya dia di Kasiter (Kepala Seksi Teritorial),” kata Pangdam.

Sebelumnya diberitakan, beberapa hari belakangan masyarakat kembali dihebohkan dengan beredarnya foto latihan bersama antara Kodim Lebak bersama Front Pembela Islam (FPI) pada Kamis, 05 Januari 2017 di Kabupaten Lebak, Banten. Foto latihan bersama itu beredar di media sosial dan di unggah ke dalam akun Instagram DPP_FPI.

Latihan tersebut dinilai menyalahi prosedur karena Dandim Lebak tidak menyampaikan izin berjenjang di internal TNI.

Baca juga:

+++++++

Kemhan: Bela Negara Hak Seluruh WNI, Termasuk Anggota FPI

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia
Selasa, 10/01/2017 08:40 WIB
Kemhan: Bela Negara Hak Seluruh WNI, Termasuk Anggota FPIKementerian Pertahanan menyebut organisasi masyarakat sebagai satu dari sejumlah kelompok masyarakat yang mereka sasar untuk mengikuti program bela negara. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia — Direktur Bela Negara pada Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan di Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama Muhammad Faisal, menyatakan setiap warga negara Indonesia berhak mengikuti program bela negara.

Faisal mengeluarkan pernyataan itu terkait pelatihan bela negara yang diberikan Komando Rayon Militer 0305/ Cipanas kepada Front Pembela Islam.

“Undang-undang menyebutkan bela negara itu merupakan hak dan kewajiban. Hak dulu, baru kewajiban, bagi warga negara untuk membela negara,” kata Faisal kepada CNNIndonesia.com di Jakarta, Senin (9/1) kemarin.

Faisal menuturkan, Kemhan menyusun program bela negara sesuai target besar Nawacita yang diusung Presiden Joko Widodo, yakni revolusi mental. Melalui program itu, kata Faisal, pemerintah ingin setiap WNI memiliki karakter yang sesuai dengan budaya Indonesia.

Pembentukan karakter yang disebut Faisal berpegang pada lima nilai dasar. Ia menyebut cinta tanah air sebagai nilai dasar pertama.

Faisal berkata, setelah mengikuti program bela negara, Kemhan berharap kecintaan dan kepedulian terhadap sesama WNI dan kebudayaan nasional dapat tumbuh.

Empat nilai dasar yang lain, kata Faisal, adalah kesadasaran berbangsa dan bernegara, keyakinan terhadap Pancasila, rela berkoban demi negara, serta kemampuan dasar mempertahankan kedaulatan.

Faisal menjelaskan, pelatihan program bela negara diberikan ke tiga macam lingkungan, yakni lembaga pendidikan; perkantoran, baik pemerintahan maupun swasta; dan pemukiman.

Bela negara di pemukiman, kata Faisal, digelar melalui kerja sama dengan tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat.

Awal 2017, program bela negara ramai diperbincangkan setelah sejumlah foto pelatihan Koramil Cipanas kepada FPI beredar di media sosial. Buntut dari peristiwa itu, Panglima Kodam Siliwangi mencopot Komandan Komando Distrik Militer 0603 Lebak, Letnan Kolonel Ubaidillah.

Kepala Dinas Penerangan Kodam III/Siliwangi Kolonel ARH M Desi Ariyanto mengatakan, Ubaidaillah diberhentikan dari jabatannya karena tidak melaporkan pelatihan bela negara untuk FPI kepada atasan.

“Itu sudah menyalahi komando,” kata Ariyanto. Merujuk garis komando, Koramil Cipanas berada di bawah Kodim Lebak.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo berencana mengalihkan program bela negara dari Kemhan ke Dewan Ketahanan Nasional. Sekretaris Kabinet Pramono Anung berkata, wacana itu didiskusikan untuk mencegah tumpang tindih kewenangan.

“Presiden sudah memutuskan yang berkaitan dengan bela negara, nanti rumusannya dilakukan Wantannas sehingga tidak ada lagi overlapping,” kata Pramono.

(abm/gil)

+++++++

Kemhan: FPI Dilatih Berkarakter Indonesia, Bukan Islam Arab

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia
Selasa, 10/01/2017 07:25 WIB
Kemhan: FPI Dilatih Berkarakter Indonesia, Bukan Islam ArabSuasana latihan bela negara di Semarang. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia — Semua organisasi kemasyarakatan boleh mengikuti latihan bela negara, termasuk Front Pembela Islam (FPI). Organisasi pimpinan Rizieq Shihab itu dididik agar anggotanya memiliki karakter Indonesia, bukan orang Islam yang lekat dengan karakter Arab.

“Misalnya seperti FPI, ya agar FPI yang berwarna Indonesia, Islam yang berwarna Indonesia, bukan Islam yang Arab. Jadi kita harus menyadari bahwa kita ini orang Indonesia yang beragama Islam atau Kristen, bukan orang Islam yang ada di Indonesia,” kata pejabat Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan, Letkol Eka Sundawan, saat ditemui di kantornya, Senin (9/1).

Eka melanjutkan, Kemhan sudah melakukan kerja sama dengan berbagai ormas karena banyak di antara mereka yang meminta untuk dibina tentang kesadaran bela negara. Hal itu sebagai upaya untuk membangun karakter yang hilang selama ini, seperti kecintaan terhadap tanah air.

“Kemarin kami sudah melaksanakan kerja sama dengan 25 ormas, misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih dan lainnya. Kalau sekarang sudah lebih banyak lagi,” jelasnya.

Sementara Direktur Bela Negara Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan, Laksamana Muda M. Faisal mengatakan, pemerintah tidak melarang ormas mana pun untuk mengikuti latihan bela negara selama ormas tersebut memenuhi dan mengikuti kurikulum yang dibuat oleh Kementerian Pertahanan.

Sebaliknya, Faisal mengatakan, pemerintah tidak akan memberikan latihan bela negara jika ormas tersebut meminta ajaran yang menyimpang.

“Bukan masalah ormasnya, tetapi kita bicara manusianya, warga negaranya. Pembinaan karakter manusia, bukan karakter ormas. Kalau karakter ormas ya, silahkan bina sendiri,” ujar Faisal.

Latihan bela negara untuk ormas menjadi pembahasan hangat belakangan ini setelah salah satu ormas, Front Pembela Islam diberitakan mengikuti latihan bela negara yang dipimpin Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak Letkol Czi Ubaidillah.

Akun instagram @dpp_fpi mengirim sejumlah foto mengenai kegiatan tersebut. Dalam foto itu, terlihat latihan seperti melewati sungai dengan memanjat jaring tambang. (pmg)

‘Kedekatan’ TNI dan FPI Persulit Penanganan Intoleransi

Prima Gumilang & Raja Eben Lumbanrau, CNN Indonesia
Senin, 09/01/2017 15:05 WIB
'Kedekatan' TNI dan FPI Persulit Penanganan IntoleransiIlustrasi kegiatan bela negara. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia — Kegiatan bela negara yang diadakan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak Letkol Czi Ubaidillah di Lebak, Banten, dianggap sebagai bukti kedekatan TNI dengan kelompok intoleran. Latihan yang melibatkan beberapa anggota Front Pembela Islam (FPI) itu dikhawatirkan mengancam demokrasi.

“Langkah ini mempertegas dugaan ‘kedekatan’ TNI dengan kelompok Islam radikal semacam FPI yang hanya akan mempersulit penegakan hukum atas aksi-aksi intoleransi yang dilakukan kelompok ini,” kata Ketua Setara Institute Hendardi, Senin (9/1).

Aktivis HAM ini memandang TNI mengalami disorientasi serius dalam menjalankan perannya sebagai aparat pertahanan negara. Seharusnya, kata Hendardi, TNI menjadi elemen yang ikut berkontribusi menjaga kebinekaan.

Berdasarkan aturan yang berlaku, tindakan TNI melatih FPI dalam kegiatan bela negara bukan pelanggaran. Namun Hendardi menilai secara politik dan etis, tindakan tersebut dapat memunculkan ketegangan dan kontroversi baru.

Dia menduga, Presiden Joko Widodo tidak mengetahui tindakan TNI, termasuk agenda sesungguhnya di balik kedekatan militer dengan FPI. Hendardi berpendapat, kolaborasi TNI dengan FPI menunjukkan pertemuan ideologi militerisme dan Islamisme. Hal ini menurutnya memiliki daya destruktif yang lebih serius pada iklim demokrasi.

“Sejak aksi 411 dan 212 saya termasuk yang mendesak agar Jokowi mendisiplinkan TNI yang tampak memiliki kepribadian ganda dalam menghadapi aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok intoleran,” katanya.

Hendardi juga mengritik pelaksanaan program bela negara yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan. Pendidikan bela negara tanpa konsep dan pendekatan yang jelas, menurutnya, hanya akan melahirkan milisi sipil yang merasa “naik kelas” karena dekat dengan TNI.

“Bagaimana mungkin organisasi semacam FPI, yang antikemajemukan dan memiliki daya rusak serius, menjadi partner kerja TNI dalam membela negara,” ucapnya.

Mantan Kabais Soleman Ponto saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pertengahan tahun lalu.Mantan Kabais Soleman Ponto saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pertengahan tahun lalu. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)

Post-Power Syndrome

Berbeda dengan Hendardi, Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS) Soleman Ponto menilai TNI dan FPI tidak memiliki kedekatan formal. Hubungan kedua lembaga itu, menurutnya, sama seperti hubungan TNI dengan ormas yang lain.

Dia berpendapat, tentara aktif tidak akan berani berkolaborasi dengan FPI. Pencopotan Letkol Czi Ubaidillah dari jabatan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak adalah bukti tidak adanya kedekatan di antara kedua lembaga tersebut. Namun Soleman mengritik tindakan Dandim sebagai langkah keliru.

“Tidak ada, militer tidak akan berani, buktinya begitu ketahuan (di Lebak) saja langsung ganti karena sudah terkontrol apa yang boleh dan tidak,” kata Soleman.

Meski demikian, Soleman tidak menepis hubungan antara pensiunan tentara atau purnawirawan TNI dengan kelompok seperti FPI. Bahkan menurutnya, beberapa pensiunan tentara mulai kembali berpolitik.

“Saya kira tidak ada (kedekatan) itu kalau secara formal organisasi milter. Militer aktif tidak ada. Tapi kalau sudah purnawirawan, lain cerita. Beberapa purnawirawan tampil kembali, hanya ingin tampil beda, post power sindrome,” ucapnya.

Soleman mengatakan, kegiatan bela negara bukan untuk melatih masyarakat menjadi militan. Dalam undang-undang, tambahnya, berkelahi atas nama negara bukan termasuk upaya bela negara.

Kepala Dinas Penerangan Kodam III/Siliwangi Kolonel ARH M Desi Ariyanto mengatakan, sanksi tegas yang dilakukan Pangdam III Siliwangi, Mayor Jenderal TNI Muhammad Herindra, dengan mencopot Dandim Lebak karena murni kesalahan prosedur. Dia membantah pencopotan jabatan tersebut karena terkait latihan bela negara bersama anggota Front Pembela Islam (FPI).

“Bukan (soal FPI), karena dia tidak lapor terlebih dahulu, semuanya harus lapor. Dia melanggar aturan atau SOP yang ada di tentara,” kata Desi. (gil/rdk)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: