Raja Arab Bakal Teken Kerja Sama Penanganan Radikalisme


Pendidikan Arab Saudi smp sekarang hanya menghasilkan lulusan yang siap menjadi …

 

SENIN, 27 FEBRUARI 2017 | 18:45 WIB

Raja Arab Bakal Teken Kerja Sama Penanganan Radikalisme  

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri peluncuran Ensklopedia pemuka agama Nusantara di Jakarta, 19 Desember 2016. Ensiklopedia ini bertujuan membangun karakter bangsa sebagai bagian dari gerakan revolusi mental. Tempo/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan ada lima perjanjian yang telah disiapkan oleh pemerintah Republik Indonesia mejelang kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Dua di antaranya dengan Kementerian Agama.

Politikus Partai Persatuan Pembangunan ini menuturkan perjanjian tersebut menyangkut penyelenggaraan haji dan umroh serta peningkatan kerjasama kebudayaan di antar kedua negara. “Sudah mendapatkan persetujuan dengan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Februari 2017.

Baca juga:Pengamanan Raja Arab,Kapolri Sebut Ketat,Rahasia,dan Waspada

Lukman menjelaskan, ada beberapa poin penting terkait kesepahaman di antara kedua negara terkait penyelenggaraan haji dan umroh. Menurut dia, kesepahaman ini akan ditindaklanjuti dengan program-program yang lebih rinci ke depannya. Sementara itu, kata Lukman, di bidang pendidikan dan kebudayaan, ada perjanjian kerjasama kedua negara tentang penanggulangan radikalisme.

Namun, Lukman enggan membeberkan lebih lanjut terkait poin kerjasama antara Indonesia dengan Arab Saudi. “Tentu saya tidak bisa mendahului. Pada waktunya akan saya jelaskan,” tutur dia.

Baca berita lain:Kronologi Bom Panci Bandung, Pelaku Dikejar Murid SMA

Lukman menambahkan, hal yang tidak boleh dilupakan  adalah soal kerja sama di bidang ekonomi. Sebab, Raja Salman datang dengan membawa investasi sekitar US$ 25 miliar. “Dan akan ditanamkan di sini,” ucapnya.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz direncanakan akan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Dalam lawatannya kali ini, ia akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo, berpidato di depan anggota MPR, DPR dan DPD, berkunjung ke Masjid Istiqlal lalu berlibur ke Bali.

AHMAD FAIZ

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017 | 10:29 WIB

Raja Arab Datang, Pengamat: Jokowi Dapat 'Durian Runtuh'  

Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi A.M. Fachir (kedua kanan) menerima kunjungan kehormatan Ketua Majelis Al-Syura Kerajaan Arab Saudi Abdullah Bin Mohammed Bin Ibrahim Al-Sheikh (kelima kiri) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/2/2017). Kunjungan kehormatan tersebut merupakan kunjungan pendahuluan sebelum Raja Arab Saudi melawat ke Indonesia pada awal Maret 2017. ANTARA FOTO

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat politik Adi Priyanto dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, mengatakan kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia, Selasa, 28 Februari 2017, tentunya secara politik memiliki dampak sertaannya. “Kunjungan Raja Salman memiliki dampak politik yang cukup positif terhadap Presiden Joko Widodo,” katanya, kepada Tempo, Ahad, 26 Februari 2017.

Menurut Adi, bisa dikatakan, kunjungan ini adalah anugerah tak terhingga bagi Pemerintah Joko Widodo untuk membuka peluang invetasi di berbagai sektor strategis, terutama infrastruktur. “Bak dapat durian runtuh yang jatuh di siang bolong,” ujarnya, tertawa. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Baca juga: Pengamat: Raja Arab Datang, Momentum Alihkan Hegemoni Barat

 

Apalagi, kunjungan Raja Salman beserta 1.500 rombongannya ini, dilakukan setelah 47 tahun Raja Arab Saudi tak pernah datang ke Indonesia. “Padahal, Presiden Indonesia pasca-reformasi mulai dari Gus Dur hingga Jokowi hilir mudik berkunjung ke Arab Saudi. Jelas ini menjadi peluang yang baik buat Jokowi,” katanya. Tentu, menjadi catatan politik tersendiri dalam sejarah hubungan Indonesia-Arab Saudi.

Kunjungan Raja Arab ini merupakan momen penting untuk memperkuat hubungan diplomasi antar-kedua negara di sejumlah sektor strategis.  Menurut Adi, Meski Indonesia dan Arab Saudi memiliki kesamaan agama, namun hubungan bilateral kedua negara tak semesra yang dibayangkan banyak pihak.

Baca pula:
Raja Arab Bawa 1.500 Orang, Kementerian Luar Negeri: Bukan Urusan Bilateral
Raja Arab ke Indonesia, Para Pengeran Datang Lebih Awal

“Indonesia tak pernah menjadi mitra strategis Arab Saudi dalam banyak isu strategis seperti politik, ekonomi dan hukum. Isu yang paling dominan hanya terkait dengan kuota haji dan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi,” katanya.

Adi menegaskan, momentum ini harusnya bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mengurangi hegemoni Barat dalam kebijakan politik luar negeri Arab Saudi. Menurutnya, saat ini Arab Saudi sedang berada dalam dilema, kini ada upaya menjadikan Asia, melalui Indonesia, sebagai mitra altetnatif.

S. DIAN ANDRYANTO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: