Malfungsi senjata eks China (Norinco)


Sudah saatnya TNI melakukan moratorium pembelian alutsista dari China ( RRC/T). Setelah roket C705  yang gagal meluncur sekarang meriam anti pesawat terbang Giant Bow ngadat dan menewaskan tentara dan perwira  TNI..  Usut siapa yang memberikan rekomendasi pembelian alutsista eks China ?? Periksa,  tangkap dan adili !  Tangkap oknum petinggi TNI /  Dephan sudah menerima dan menikmati “angpaw “dari Norinco /Chang Chong atau terima angpau dari broker senjata Norinco di Indonesia.

 

Mau tunggu apa lagi ? Kebayang TNI membali JF 17 Pesawat buatan Pakistan-China.. apa jadinya kekuatan TNI AU ??? Sebelum pergi berperang sudah mencelakan awaknya di darat ..

Diunduh dari situs http://militermeter.com/

Spesifikasi Meriam Giant Bow Yang Menewaskan 4 Prajurit TNI di Natuna

4 Prajurit TNI gugur dan 8 lainya dilaporkan mengalami luka-luka dalam gladi bersih latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Natuna, Kepulauan Riau.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh mengatakan, jenazah empat orang prajurit TNI AD yang menjadi korban dalam insiden kecelakaan latihan di Natuna telah diberangkatkan menuju ke daerah asal masing-masing.

“Jenazah almarhum Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru, jenazah almarhum Kapt Arh Heru Bahyu ke Padang, jenazah almarhum Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang, dan jenazah almarhum Praka Edi ke Palopo,” kata Alfret dalam keterangan resmi, Kamis (18/5/2017).

Para prajurit menjadi korban malfungsi meriam kanon 23mm/Giant Bow II buatan China. Menurut Alfret, meriam pertahanan udara tersebut dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K.

Namun saat digunakan, diduga sistem mekanisnya macet. Sehingga arah tembakan yang seharusnya ke atas malah ke samping menembaki personel TNI di sekelilingnya.

Tim dari TNI AD tengah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab insiden tersebut “Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI,” ucap Alfret.

Spesifikasi Kanon Giant Bow Buatan China.

Meriam ZU-23 atau kanon Giant Bow merupakan senjata penangkis serangan udara jarak sedang, buatan negara China yang diproduksi tahun 2000.

Perangkat ini terdiri dari meriam 23 mm/Giant Bow dan kendaraan BCV (Battery Command Vehicle). Meriam 23 mm/Giant Bow adalah kategori twin gun dengan kaliber ganda, ukuran peluru 23milimeter.

Alutsista ini merupakan senjata efektif untuk melawan sasaran di udara yang terbang rendah serta memberikan aplikasi pengoperasian pertahanan udara dengan mobilitas tinggi. Saat ini kanon Giant Bow digunakan Arhanud TNI AD sebagai pertahanan titik. Konon, TNI memiliki belasan unit yang tersebar di satuan Arhanud TNI AD.

Meriam ini dapat dioperasikan dalam tiga mode yakni Mode otomatis penuh (dikendalikan secara penuh dan otomatis melalui BCV). Yang kedua adalah mode semi otomatis (Di kendalikan dengan dukungan tenaga listrik dari baterai yang di miliki meriam itu sendiri).

Ketiga adalah mode manual yaitu di kendalikan oleh awak meriam. Kendaraan BCV bukan hanya sebagai sistem komando namun merupakan FCS (Firing Control System) dari senjata meriam 23 mm/Giant Bow.

Pabrikan senjata Norinco milik negara China ini, mengembangkan Giant Bow dari senjata yang sama atau jiplakan buatan Soviet yang benama Zu-23- 2 Sergey. Di Indonesia senjata pertahanan udara sejenis Giant Bow ini juga sudah digunakan sebelumnya yaitu turunan dari Zu-23-2 yang modern yakni Zur-23-2KG Gun/ Misille.

Meriam Buatan China Salah Sasaran, 4 Prajurit TNI Gugur Saat Latihan di Natuna

4 Prajutit TNI dilaporkan meninggal dunia menjadi korban akibat meledaknya meriam kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm sedangkan 12 lainya menderita luka-luka dalam gladi bersih latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk, Natuna, Kepri, Rabu (17/5/2017) sekitar pukul 11.21 WIB.

Kejadian itu bermula saat gladi bersih latihan PPRC dan gladi bersih pengamanan RI 1 di Aula Kartika dan Tanjung Datuk Teluk Buton. Gladi dimulai pukul 10.00 WIB dan dihadiri oleh Panglima TNI.

Pada saat latihan dimulai pukul 10.21 WIB, sebuah drone melintas di atas meriam pertahanan udara kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm Stelling. Masing-masing penembak yang siap di belakang kanon mulai melakukan penembakan ke arah drone sebagai bentuk latihan menembak ancaman dari udara.

Namun, pucuk 8 diduga mengalami los kendali pada penyekat kiri yang mengakibatkan penembak tidak dapat mengendalikan pucuknya.

Meriam Giant Bow kaliber 23mm

Diduga, moncong meriam tidak terkendali dan arah tembakan membabat ke arah sekitarnya. Dari kejadian tersebut mengakibatkan 12 korban jiwa, 4 meninggal dunia, 6 luka berat, dan 2 orang luka ringan. Korban kecelakaan berasal dari Satuan Yon Arhanud I Kostrad.

Nama-nama korban:
1. Danrai Kapten Arh Heru Bayu (meninggal dunia)
2. Pratu Ibnu Hidayat (meninggal dunia)
3. Pratu Marwan (meninggal dunia)
4. Praka Edy (meninggal dunia)
5. Pratu Bayu Agung (Luka Berat)
6. Serda Alpredo Siahaan (Luka Berat)
7. Prada Danar (Luka Berat)
8. Sertu B Stuaji (Luka Berat)
9. Serda Afril (Luka Berat)
10. Sertu Blego Switage (Luka Berat)
11. Pratu Ridai (Luka Ringan)
12. Pratu Didi Hardianto (Luka Ringan)

Hingga saat ini korban meninggal dunia dan luka berat telah dibawa ke RSUD Natuna dan akan dievakuasi ke rumah sakit di Kalimantan Barat. Untuk korban luka ringan dirawat di tenda pengungsian dan Rumah Sakit Sementara.

Penampakan meriam Giant Bow II 23mm

Sumber: batamnews.co.id

 

++++++++++++++++

 

TNI-AD Tarik Seluruh Meriam Giant Bow

20 Mei 2017

Meriam Giant Bow II 2x23mm Kostrad TNI AD (photo : kostrad)

NATUNA – Investigasi insiden yang mengakibatkan empat prajurit Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad berlanjut. Polisi Militer TNI-AD (Pomad) masih menggali data mengenai insiden tersebut. Berdasar laporan terakhir, meriam Giant Bow yang mengalami gangguan berada dalam kondisi baik.

Insiden itu terjadi ketika latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) Rabu lalu (17/5)

Berdasar informasi di lokasi kejadian, sejumlah perubahan dilakukan pasca kejadian. TNIAD tak hanya mengerahkan petugas untuk mengidentifikasi insiden tersebut. Tapi juga menarik mundur seluruh meriam Giant Bow yang semula turut serta dalam latihan.

Total ada sembilan Giant Bow yang ditarik. Selain Giant Bow yang mengalami gangguan, delapan lainnya turut ditarik mundur. Meski demikian, Mabes TNI-AD memastikan bahwa alutsista tersebut tetap siap siaga. ” Yang diidentifikasi hanya satu,” terang Kadispen AD Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh kemarin. Dia menekankan kembali bahwa alutsista itu berada dalam kondisi baik. Sebab, Yon Arhanud 1/ Divisi Infanteri 1 memeriksa peralatan tersebut sebelum dibawa ke Natuna.

”Dipelihara dengan baik di satuan Yon Arhanud 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad,” ungkap dia kepada Jawa Pos kemarin (18/5). Namun, Denny belum bisa memastikan insiden tersebut bersumber dari malfungsi alutsista atau kesalahan prajurit. Berkaitan dengan hal itu, POM TNI-AD mendapat tugas untuk menginvestigasi insiden tersebut. ”Tim dari TNI-AD masih, sedang, dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” terangnya. Hasil investigasi tersebut bakal dihimpun dan dilaporkan langsung kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai pemegang komando PPRC TNI.

Meriam Giant Bow II 2x23mm diatas truk Isuzu Elf NPS 4×4 milik Batalyon Arhanud Ringan 1 Kostrad TNI AD (photo : vidio)

Denny memastikan, setiap korban yang terdampak insiden di lokasi latihan PPRC TNI diurus dengan baik. Itu merupakan bentuk tanggung jawab TNI-AD terhadap para korban peristiwa tersebut. Jenazah empat prajurit yang gugur dalam latihan yang puncaknya diselenggarakan hari ini (19/5) tersebut sudah berada di tengah keluarga masing-masing. ”Rabu malam (17/5) jenazah empat prajurit TNI-AD telah diberangkatkan menuju daerah asal masing-masing,” ujarnya.

Jenazah Danrai Kapten Arh Heru Bayu dibawa ke keluarganya di Padang, Sumatera Barat. Jenazah Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru, Riau. Lalu, jenazah Praka Edy ke Palopo dan jenazah Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang. Seluruhnya dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan dari TNI-AD kepada prajurit.

Sementara itu, kondisi delapan korban luka terus dipantau. Laporan terakhir menyebutkan, kondisi empat korban luka ringan membaik. Mereka adalah Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto, dan Pelda Dawid. ”Mereka berobat jalan,” kata Denny. Bahkan, Pelda Dawid yang berasal dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI sudah keluar dari rumah sakit. Empat korban lainnya, Serda Alfredo Siahaan, Sertu Blego, Prada Wahyu Danar, serta Pratu Bayu Agung, masih dirawat secara intensif di RS Kartika Husada Pontianak. Mereka mengalami luka berat.

Meski insiden di Natuna merenggut empat nyawa prajurit TNI-AD, puncak latihan PPRC hari ini dilaksanakan sesuai dengan agenda. Kemarin seluruh prajurit TNI yang terlibat memang sudah tidak berlatih. Namun, persiapan dilakukan dengan matang. Sebab, bukan hanya panglima TNI dan kepala staf masing-masing angkatan yang dijadwalkan hadir. Presiden Joko Widodo pun turut menyaksikan langsung agenda tersebut. Bersama Gatot, Presiden Jokowi akan memimpin seremoni pembaretan gubernur-gubernur yang turut hadir.

(Jawa Pos)

+++++++++++++++++

 

May192017

 

Jakarta – TNI didesak untuk menginvestigasi secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa sebenarnya terjadi di lapangan terkait meledaknya meriam “Giant Bow” saat digunakan oleh tim Pasukan Pemukul Reaksi Cepat.

Meriam “Giant Bow bermasalah saat gladi bersih di Tanjung Datuk, Natuna pada (17/5/2017), ujar anggota Komisi I DPR Sukamta.

“Apapun hasil investigasinya, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista menjadi suatu keharusan dan keniscayaan,” ujar Sukamta di Jakarta, 18/5/2017.

Dia mengatakan, Indonesia harus meningkatkan kemampuan, kedisiplinan dan kesejahteraan prajurit TNI.

Hal itu disebabkan semua senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya seperti meriam ‘giant bow’ yang memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik.

“Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main,” ujarnya.

Sukamta menilai setidaknya ada dua kemungkinan penyebab peristiwa itu, bisa karena kerusakan teknis senjatanya yaitu ‘Giant Bow’ bermerek Chang Chong.

Selain itu, dia menilai, bisa disebebkan kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya atau bisa jadi karena kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah “human error” karena panik.

“Kecelakaan yang menimpa TNI sudah beberapa kali terjadi, pesawat jatuh, helikopter jatuh. Bisa jadi faktor penyebabnya karena human error atau memang alutsistanya dan belakangan juga terjadi rudal C705 terlambat meledak saat uji coba di KRI Banjarmasin September 2016,” ujarnya.

Politisi PKS itu juga menilai pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (alutsista) harus diperketat pengontrolan kualitasnya dan juga terus mendorong peningkatan alutsista TNI, tidak hanya kuantitasnya namun aspek kualitas juga harus diprioritaskan.

Menurut dia, lebih baik memiliki jumlah alutsista tidak banyak tapi berkualitas dari pada punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas, karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan kita sendiri.

Sebelumnya, sebuah meriam yang digunakan gladi bersih oleh tim PPRC di Tanjung Datuk, Natuna mengalami masalah pada Rabu (17/5). Moncong meriam yang seharusnya mengarah ke atas justru berbalik arah.

Antara

+++++++++++++++++

Sep062015

 

MLRS 122mm Norinco

Indonesia telah menandatangani kontrak pembeian MLRS 122mm Norinco China, pada bulan Agustus 2015. Di awal bulan Agustus 2015, pihak Kementerian Pertahanan Indonesia telah diundang oleh Norinco China ke pabrik mereka.

MLRS 122mm Norinco

Undangan ini untuk menyaksikan langsung kemampuan MLRS 122mm, seperti SR2. Kerja sama alutssita ini akan terus ditingkakan oleh kedua lembaga.

AA Gun with FCS Air Defense System, Norinco

Dari Norinco, Indonesia juga membeli alutsista AA Gun with FCS Air Defense System. Kontrak pembelian itu efektif berlaku pada awal tahun ini. Norinco akan terus meningkatkan kerjasama bidang militer dengan Indonesia, khususnya di bidang pertahanan udara. Termasuk up grade AA Gun manual bersama PT Pindad. Norinco dan Indonesia juga sedang membuat konstruksi baru dari missile gun integrated air defense network.

by Semar Mendem

+++++++++++++++++++++++++++

Indonesia Mendapatkan Lisensi Produksi 3 Jenis Senjata dari China

13 Maret 2015

Peluncur roket laras banyak Type 90B MLRS (photo : Militaryphotos)

(Kien Thuc) – Indonesia akan mendapatkan teknologi produksi tiga senjata dari China termasuk Type 90B, meriam otomatis 30mm dan RCWS jenis UW-1.

Jurnal Kanwa (Kanada) melaporkan bahwa China North Industries Corporation (Norinco) telah memberikan lisensi produksi atas teknologi tiga senjata China kepada IndoMesin dari Indonesia, termasuk peluncur roket berlaras 40 dengan kaliber 122 mm Type 90B, sistem senjata remote control weapon station UW-1 dan meriam laut (naval gun) kaliber 30mm.

Senjata-senjata ini akan diproduksi di Indonesia dan akan melengkapi Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Dalam tahap awal Indonesia hanya bertanggung jawab untuk perakitan, sedangkan semua komponen dipasok oleh Norinco, di waktu kemudian Indonesia akan memproduksi sendiri. Namun senjata ini hanya diperbolehkan untuk digunakan oleh militer Indonesia, dan tidak diperbolehkan untuk ekspor.

UW-1 Remote Control Weapon Station (RCWS) buatan Norinco (photo : China Defense Mashup)

Dalam beberapa tahun terakhir, kerjasama militer – kerjasama teknis antara Indonesia dan China semakin menguat. Indonesia bukan hanya membeli sistem persenjataan China namun juga membeli teknologi produksi. Contohnya adalah dalam hal pengadaan rudal jelajah anti-kapal C-705, Indonesia membeli 18 set rudal dari China dan kemudian meminta lisensi produksi.

Peluncur roket Type 90B dirancang dari peluncur roket Type 81 yang telah ditingkatkan kemampuannya, berasal dari duplikasi China atas peluncur roket BM-21 Grad buatan Uni Soviet. Tipe 90B ditempatkan pada platform chasis kendaraan 6×6 roda ban jenis Beifang Benchi 2629. Roket dengan 40 laras ukuran 122 mm ini dapat mencapai jarak pada kisaran 20-40 km tergantung pada jenis roketnya.

Meriam 6 barrel 30mm jenis NG-18 buatan Norinco (photo : Kaskus Militer)

Perbedaan utama antara Tipe 90B dibandingkan dengan peluncur roket generasi sebelumnya terletak pada tambahan kendaraan pengintai artileri (artillery reconnaissance vehicles) yang secara signifikan meningkatkan ketepatan daya tembak MLRS ini.

Sedangkan UW-1 Remote Control Weapon Station (RCWS) dapatdiintegrasikan dengan senjata mesin ringan otomatis kaliber 14,5 mm atau 12,7 mm yang dilengkapi dengan peralatan surveilance modern termasuk kamera CCD warna dan alat bidik berpemandu inframerah.

Nama meriam otomatis 30 mm masih belum diketahui, namun menurut pejabat Indonesia senjata ini dapat menembak dengan kecepatan 320 putaran/menit, jangkauan maksimum 4.000 meter, dan dipasang pada kapal patroli kecil. Selain itu, informasi ini juga menyebutkan bahwa Indonesia sedang melakukan negosiasi untuk membeli teknologi meriam 76 mm dari China.

(Kien Thuc)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: