Archive for September, 2017

September 20, 2017

Kata Polisi Soal Penyebab Driver Aston Martin Meleng Tabrak Separator

Rabu 20 September 2017, 11:17 WIB

Ahmad Mustaqim, – detikNews
Kata Polisi Soal Penyebab Driver Aston Martin Meleng Tabrak SeparatorAston Martin yang tabrak separator di Harmoni/Foto: Dok.TMC Polda Metro
Jakarta – Karena meleng atau kurang fokus, pengemudi Aston Martin menabrak separator busway di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Menurut polisi, hal itu disebabkan minimnya rambu.

“Itu minim tanda dan rambu saja. Ada juga di kawasan Senen, memang separator buswaynya nggak kelihatan,” ujar Ipda Arif Rubiyantoro Pasubnit Laka Lantas Polres Jakarta Pusat saat ditemui di kantornya di Lapangan Banteng, Rabu (20/9/2017).

Biasanya mobil yang terlibat kecelakaan di kawasan Jakarta Pusat akan dibawa ke Kantor Polisi Lakalantas di Lapangan Banteng. Namun mobil Aston Martin yang menabrak separator itu tidak dibawa ke tempat itu. Arif mengatakan kondisi mobil tersebut rusak di bagian depan namun tetap masih bisa jalan.

“Tidak (dibawa). Memang kalau dilihat kerusakan di depan agak parah, tapi mobil masih bisa tetap jalan tanpa perlu diderek,” ujar Arif.

Kecelakaan tersebut terjadi pada pagi tadi. Dari gambar yang diunggah akun Twitter @TMCPoldaMetro, nampak mobil tersebut ringsek akibat menabrak separator busway. Terlihat logo dari mobil tersebut seperti Aston Martin.
(fjp/fjp)

Advertisements
September 11, 2017

3 Tes Harus Dilalui Pesawat N219 Sebelum Diproduksi Massal

11 September 2017

Pesawat angkut ringan N219 (photo : Lapan)

Mau Diproduksi Massal, Pesawat N219 Harus Lolos 3 Tes Ini

Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan pesawat N219 baru bisa diproduksi massal setelah PT Dirgantara Indonesia (Persero) menyelesaikan serangkaian tes. Pesawat hasil kerja sama LAPAN dan PTDI resmi melakukan uji terbang perdana pada Agustus lalu.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agus Santoso, mengungkapkan ada 3 tes yang harus dilewati N219 sebelum digunakan sebagai pesawat komersial dan diproduksi massal.

“Jadi harus ada tahapan yang ditunjukkan mereka hingga mereka dapat sertifikasi. Ada 3 tes yang harus dilewati,” kata Agus ditemui di Kemenhub, Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Ketiga uji tersebut meliputi tes penerbangan (flight test) selama 500-600 jam, Tes olah gerak (static test) untuk menguji sejauh mana pesawat ini mampu menahan beban maksimal, dan ketahanan tekanan (fatigue test) untuk mengukur seberapa panjang usia ekonomis pesawat.

Menurutnya, selain ketiga tes tersebut dilakukan secara paralel, uji terbang juga tak mesti harus selama 500-600 jam. Pihaknya menggunakan simulator untuk memastikan pesawat tersebut layak terbaik.

“Kalau tunggu 500-600 jam bertahun-tahun. Itu kami tes dengan menggunakan simulator dengan beberapa (sensor) secara langsung diletakkan di titik-titik pesawat. Agar PT DI bisa segera memenuhi pesanan yang datang,” ungkap Agus.

Diungkapkannya, dirinya tak tahu kapan pesawat yang bisa terbang dari landasan 500 meter itu bisa dinyatakan lulus dari ketiga tes tersebut. “Itu saya enggak tahu, tergantung hasilnya,” pungkasnya.

(Detik)

09 SEPTEMBER 2017

Pengembangan N245 Butuh Rp 3 Triliun

09 September 2017

Model pesawat N245 (photo : Defense Studies)

BANDUNG, KOMPAS — Setelah sukses dengan uji terbang pesawat N219, PT Dirgantara Indonesia segera mengembangkan pesawat N245. Pesawat N245 merupakan turunan dari CN235 hanya saja tanpa dilengkapi dengan fasilitas ramp door atau pintu di bagian ekor pesawat.

PT Dirgantara Indonesia memperkirakan sertifikasi pesawat N245 butuh dana 225 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun. Dalam sertifikasi itu akan dilakukan pengujian komponen vital pesawat, seperti sistem avionik, sayap, kelengkapan kokpit, dan peralatan pendaratan. Proses itu ditargetkan rampung pada 2018.

”Biaya sebesar itu untuk membuat tiga prototipe (purwarupa) hingga merampungkan proses sertifikasi,” kata Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo di Bandung, Rabu (6/9).

Arie mengatakan, saat ini, pengembangan N245 sedang dalam tahap desain awal. Menurut dia, targetnya pada 2018 selesai proses sertifikasi dan uji terbang dua tahun kemudian. Baru pada 2022, N245 dijadwalkan masuk pasar komersial.

Arie mengemukakan, potensi pasar N245 sangat besar di dalam negeri, terutama untuk melayani rute-rute yang berjarak antara 1 jam-1,5 jam melalui penerbangan.

”Di Indonesia belum banyak dijangkau penerbangan jarak pendek, seperti Surabaya-Jember, Bandung-Cirebon, Bandung-Pangandaran, yang kalau lewat jalur darat membutuhkan waktu agak lama. Sementara pesawat N219 nanti yang akan mengisi rute-rute perintis,” ujar Arie.

Arie juga menyinggung, kompetitor N245 adalah ATR 42 buatan Peransis. ”Namun, kami tidak khawatir karena keunggulan N245 dapat mendarat di landasan pendek kurang dari 1.000 meter. Banyak bandara di Indonesia yang kondisinya seperti ini, sedangkan pesawat kompetitor tidak mampu mendarat di landasan pendek,” ucapnya.

Menurut Arie, pangsa pasar pesawat kecil dan medium ini di Indonesia relatif besar, untuk N219 sekitar 100 unit. Sementara untuk N245 antara 50-80 unit. Apabila target pasar dalam negeri itu terpenuhi, target angka tersebut bagi PT DI sudah balik modal.

Potensi pasar untuk pesawat N219 dan N245 juga bukan saja di dalam negeri, melainkan di luar negeri. Secara geografis yang cocok dengan Indonesia di antaranya kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. ”Kami berharap pesawat ini disukai banyak konsumen dari sejumlah negara,” katanya.

Arie mengungkapkan, Pemerintah Turki melalui Turkish Aerospace Industries Inc (TAI) juga berminat menjajaki kerja sama dengan PT DI untuk menjual pesawat itu ke kawasan Afrika. Turki, menurut Arie, mengusulkan agar pesawat N245 juga diproduksi di negara itu. Hal ini untuk memudahkan pemasaran pesawat ke kawasan Afrika yang jaraknya lebih dekat dari Turki dibandingkan dari Indonesia. Dengan demikian akan lebih efisien.

”Tawaran Turki ini sedang dipertimbangkan, bentuk kerja samanya seperti apa. Namun, paling tidak tawaran ini juga menunjukkan pengakuan terhadap produk negara kita,” kata Arie.

Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro mengemukakan, PT DI juga perlu bersinergi dengan perusahaan besar dunia seperti Airbus dan Boeing. ”Kami perlu beraliansi dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dunia, tapi di sisi lain kita juga harus fokus pada pasar, misalnya pada negara kepulauan dengan memproduksi pesawat kecil dan medium,” ujar Goentoro.

(Kompas)

September 6, 2017

Gaji PNS dari Masa ke Masa: Tahun 1977 Rp 12.000/Bulan

Rabu 06 Sep 2017, 11:58 WIB

Dana Aditiasari – detikFinance
Gaji PNS dari Masa ke Masa: Tahun 1977 Rp 12.000/BulanFoto: Muhammad Ridho
FOKUS BERITALowongan CPNS 2017
Jakarta – Tahun ini pemerintah sudah dua kali melakukan pembukaan lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pertama yakni pada 1 Agustus 2017 dan yang baru saja diumumkan tadi malam.

Tiap kali ada pembukaan lowongan CPNS, masyarakat selalu antusias terlihat dari banyaknya pelamar yang jauh melebihi jumlah lowongan yang dibuka. Salah satu daya tariknya adalah gaji dan berbagai fasilitas hingga masa pensiun yang dianggap lebih di atas rata-rata upah pekerja di level yang sama.

Berapa sih gaji PNS dari masa ke masa?

Hari ini, Rabu (6/9/2017), detikFinance merangkum besaran gaji PNS sejak tahun 1977 yang disajikan dalam rentang gaji terkecil hingga gaji terbesar setiap tahunnya. Berikut rinciannya:

Tahun 1977 (PP 7-1977): Rp 12.000-Rp 120.000
Tahun 1980 (PP 13-1980): Rp 12.000-Rp 120.000
Tahun 1985 (PP 15-1985): Rp 12.000-Rp 120.000
Tahun 1992 (PP 51-1992): Rp 12.000-Rp 120.000
Tahun 1993 (PP 15-1993): Rp 78.000-Rp 537.600
Tahun 1997 (PP 6-1997): Rp 135.000-Rp 722.500
Tahun 2001 (PP 26-2001): Rp 500.000-Rp 1.500.000
Tahun 2003 (PP 11-2003): Rp 575.000-Rp 1.800.000
Tahun 2005 (PP 66-2005): Rp 661.300-Rp 2.070.000
Tahun 2007 (PP 9-2007): Rp 760.500-Rp 2.405.400
Tahun 2008 (PP 10-2008): Rp 910.000-Rp 2.910.000
Tahun 2009 (PP 8-2009): Rp 1.040-Rp 3.400.000
Tahun 2010 (PP 25-2010): Rp 1.095.000-Rp 3.580.000
Tahun 2011 (PP 11-2011): Rp 1.175.000-Rp 4.100.000
Tahun 2012 (PP 15-2012): Rp 1.260.000-Rp 4.603.000
Tahun 2013 (PP 22-2013): Rp 1.323.000-Rp 5.002.000
Tahun 2014 (PP 34-2014): Rp 1.402.400-Rp 5.302.100
Tahun 2015 (PP 30-2015): Rp 1.486.500-Rp 5.620.300 (dna/mkj)