Archive for July, 2018

July 16, 2018

Pindad Targetkan Mampu Produksi 100 Medium Tank di 2019

sumber dari defense-studies blogspot dan /jakartagreater.com

16 Juli 2018

Tank medium Pindad-FNSS (photo : Pindad)

BANDUNG – PT Pindad (Persero) menargetkan membuat 100 unit medium tank yang saat ini masih dalam proses pengujian. Selain untuk memenuhi kebutuhan TNI, tank tersebut juga bakal di ekspor.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja mengatakan, setelah medium tank Pindad menjalani serangkaian pengujian dan sertifikasi, Pindad akan memproduksi massal pada 2019.

“Setelah ini selesai disertifikasi, akan dilanjutkan produksi. Sertifikasi fokus pada mobilitas dan daya gempur. Bagaimana mobilitas dan kemampuannya menggempur musuh,” kata Ade seusai seminar uji ledak ranjau medium tank Pindad di Grha Pindad, Kota Bandung, Jumat (12/7/2018).

Menurut dia, dalam satu tahun Pindad mampu membuat medium tank hingga 100 unit. Namun kapasitas maksimal itu bisa berjalan bila tak ada order kendaraan tempur lainnya. “Lini produksi sudah siap. Mesin berukuran besar akan datang akhir 2018,” ujar dia.

Selain mengandalkan lini produksi sendiri, Pindad juga akan melibatkan sekitar 50 usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memproduksi komponen tertentu. Bila nantinya diproduksi dalam skala besar, diperkirakan akan ada 100 UKM yang terlibat.

“Medium tank ini akan kami improve terus. Sehingga mungkin akan berbeda dengan yang kita buat di Turki. Tetapi intinya kami akan berusaha memenuhi semua spesifikasi yang dibutuhkan TNI. Bila semua terpenuhi, kami yakin medium tank Pindad akan menjadi yang terbaik di kelasnya,” pungkas dia.

Soal proyeksi, TNI diperkirakan akan mengganti tank AMX yang saat ini sudah tua. Diperkirakan ada 400 tank yang perlu diganti. Selain itu, ada negara tetangga yang siap melakukan pemesanan. Namun Ade belum bisa menyebut nama dan kebutuhan negara tersebut.

(SindoNews)

Jul142018

 

Batujajar – PT Pindad bersama FNSS Turki melakukan tes uji ledak ranjau terhadap satu prototipe medium tank seri turret 105 mm di Pusdikpassus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis, 12/7/2018, dirilis Kompas.com.

Bahan peledak berupa TNT seberat 10 kilogram ditaruh pada track, untuk mengetahui sejauh mana kekuatan struktur medium tank dalam menahan ledakan dari bawah.

Setelah diledakkan, terlihat konstruksi medium tank yang masih kokoh di atas lubang bekas ledakan. Tank hanya mengalami kerusakan di bagian roda (boogey wheel) dan rantai yang putus.

“Secara kasat mata dapat dikatakan berhasil. Tujuan tes ini untuk memastikan tidak terjadi kerusakan terhadap struktur kendaraan tempur,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagja.

“Komponen yang copot akibat ledakan dapat diperbaiki seperti track yang patah dan boogey wheel yang rusak,” ujarnya. Medium tank ini masih akan diteliti untuk mengetahui tingkat cedera terhadap pengemudi dan operator turret pasca diledakkan.

“Fatal atau tidak besaran kuantitafnya dapat dilihat beberapa hari ke depan,” jelasnya.

Tujuan uji ledakan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif tentang perancangan maupun pengujian perlindungan kendaraan tempur terhadap ledakan ranjau sesuai standar internasional STANAG 4569.

Uji ledak berikutnya direncanakan dengan TNT 8 kilogram disimpan di bawah hull tank medium tersebut.

Pemasaran Tank Medium

PT Pindad dan FNSS Turki telah menyepakati kawasan pemasaran tank medium mereka, setelah nantinya dilakukan produksi massal tank medium hasil kerjasama kedua pihak mulai 2019.

Hal ini diungkapkan Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad, Ade Bagja di sela-sela Seminar Uji Ledak Ranjau Tank Medium di Bandung, Jumat , 13/7/2018, dirilis Suaramerdeka.com.

“Untuk kebutuhan Turki dan Indonesia, tak ada batasan berapa pun produksinya. Hanya saja, untuk di luar itu, kita sepakati untuk membatasi wilayah mana yang jadi fokus pemasaran,” katanya.

Pindad kebagian menggarap wilayah sebagian besar kawasan Asia plus Pasifik. Sementara FNSS Turki mendapat porsi sebagian kecil plus Afrika.

“Produk ini milik siapa sesungguhnya, ini milik bersama antara Pindad dan FNSS, beda kalau kemudian Pindad memproduksi secara mandiri,” ujarnya.

Bagikan:
Advertisements
July 12, 2018

Menteri Luhut Minta Tingkatkan Produksi Amunisi, Pindad Bangun Pabrik Baru  

Menko maritim kok ngurusin Pindad ?? Bukan lebih baik dia urus PT Pal aja ?
11 Juli 2018

Amunisi buatan Pindad (photo : Kumparan)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, meminta PT Pindad (Persero) untuk meningkatkan kemampuan memproduksi amunisi dan propelan. “Jadi Pak Menko maunya dikurangi impor, jadi kemampuan dalam negeri ditambah,” kata Direktur Utama Pindad, Abraham Mose seusai rapat di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Selasa (10/7).

Abraham menjelaskan, untuk memenuhi permintaan Luhut, perusahaan BUMN itu harus bisa mandiri dalam produksi amunisi dan propelan (bahan peledak pendorong peluru). Saat ini kebutuhan amunisi dan propelan masih harus dipenuhi dari impor.

“Untuk mandiri di amunisi berarti kita harus menambah kapasitas amunisi kita melalui investasi. Beliau (Luhut) minta segera Pindad memberikan proposal untuk pembangunan penambahan (pabrik) amunisi dan propelan,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Abraham mengatakan pihaknya diberi waktu dua minggu, untuk menyiapkan proposal kebutuhan investasi untuk pembangunan pabrik baru tersebut. Kendati demikian, ia belum dapat menyebut nilai investasi yang dibutuhkan untuk penambahan fasilitas produksi tersebut.

Abraham menjelaskan, saat ini kapasitas produksi amunisi Pindad mencapai sekitar 197 juta butir per tahun. Pada 2019 mendatang diharapkan bisa meningkat hingga 300 juta butir per tahun.

Ada pun produksi propelan diharapkan bisa meningkat menjadi 600-800 ton untuk mendukung produksi amunisi.
“Tadi belum sampai bicara kekurangan dana tapi (diminta) buatlah proposal untuk kapasitas misalnya 200 juta butir per tahun untuk munisi dan proplan bisa sampai 600 hingga 800 ton,” tutup Abraham.

(Kumparan)