KORUPSI PENGGUNAAN LOGIKA (-Updated-)

[1] KORUPSI PENGGUNAAN LOGIKA — TERHADAP SAUDARA KANDUNG


(analisis kasus penggelapan Irma Reuneker)

Kata korupsi sudah tidak asing lagi di telinga kita. Setiap saat kita mendengar adanya kasus korupsi yang terkuak. Terlebih lagi setelah KPK terbentuk. Dalam kaitannya dengan kata korupsi yang sudah baku dipergunakan di Indonesia berdasarkan definisi yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan penulis merasa perlu untuk menjelaskan arti kata korupsi yang digunakan dalam tulisan ini agar tidak terjadi salah pengertian yang tentunya dapat berimplikasi hukum (Untuk selanjutnya penulisan kata korupsi (dengan huruf kecil) dipergunakan untuk menunjukkan arti sesuai dengan peraturan perundang-undangan anti korupsi dan kata KORUPSI (dengan huruf besar) dipergunakan dalam konteks sebagaimana dijelaskan berikut ini).

Asal kata KORUPSI adalah corrumpere (bahasa latin) yang berarti pembusukkan. Jadi sebenarnya kata korupsi mempunyai arti yang lebih luas daripada arti yang dimengerti dalam konteks peraturan perundang-undangan Indonesia. Kata korupsi dalam arti pembusukkan (arti yang luas) merupakan genus dari istilah korupsi yang mempunyai arti khusus sesuai dengan konteksnya yang disebut spesies. Berdasarkan penjelasan tersebut penulis mendefinisikan kata KORUPSI sebagai berikut,

KORUPSI adalah perbuatan yang sengaja dilakukan pemberi penjelasan dengan menggunakan argumen yang menyesatkan  yang bertujuan agar orang-orang yang menerima penjelasan bersimpati kepada pemberi penjelasan.

KORUPSI inilah yang dilakukan Irma Reuneker melalui penasihat hukumnya Januardi S. Haribowo ketika memberikan keterangan di dalam harian Suara Pembaruan hari Rabu tanggal 5 Agustus 2009 yang berjudul ”Presdir Airfast Tidak Pernah Menjadi Tersangka”.

Dalam pemberitaan itu dikatakan bahwa tanah dan bangunan yang terletak di Jl. Raden Patah III No.18, Kebayoran Baru (”Rumah”) adalah rumah warisan dan Marjan Pane ingin mengambil bagian yang bukan merupakan haknya karena sebenarnya rumah itu merupakan hak empat orang. Selain dalam pemberitaan itu Irma Reuneker juga bergerilya melakukan KORUPSI ini terhadap orang-orang di sekitarnya yang dianggap penting untuk mendapatkan dukungan dengan menjelek-jelekkan Marjan Pane.

Untuk meluruskan KORUPSI yang dilakukan Irma Reuneker tersebut perlu kiranya disampaikan fakta-fakta tentang permasalahan ini.

Rumah tersebut bukan merupakan harta warisan melainkan bekas warisan yang telah dilepaskan oleh ahli waris lain karena telah memilih untuk melepaskan kewarganegaraan Indonesia (berdasarkan Akta Pelepasan Hak No.83 tertanggal 18 September 1980 yang dibuat di hadapan Frederik Alexander Tumbuan, dahulu notaris di Jakarta).Pelepasan hak tersebut juga telah diikuti dengan perhitungan-perhitungan tertentu menyangkut hak-hak ahli waris yang melepas kewarganegaraan. Setelah pelepasan hak tersebut dilakukan dan Hak Pakai atas Tanah habis sehingg Tanah kembali di bawah penguasaan Negara, Irma Reuneker dan Marjan Pane secara bersama-sama mengajukan kembali hak atas Rumah kepada Negara dan mendapatkan hak tersebut dengan bukti berupa sertifikat hak guna bangunan atas nama keduanya.

KORUPSI berikutnya yang dilakukan Irma Reuneker adalah: dengan menggunakan argumentasi bahwa Marjan Pane menginginkan bagian yang bukan menjadi haknya, ia justru menutupi kenyataan bahwa seluruh uang hasil penjualan Rumah diambil sendiri. Pernyataannya bahwa ia akan membagikan uang itu kepada saudara-saudaranya tidak pernah dilakukan. Irma Reuneker tidak pernah dapat memberikan bukti bahwa uang hasil penjualan telah dibagikan (sehubungan dengan bukti pembagian uang diketahui bahwa Irma Reuneker membuat tanda terima yang seolah-olah merupakan penerimaan pembagian uang tetapi tidak pernah memberikan bukti transfer yang wajar melalui bank ke masing-masing pihak yang ia anggap berhak; sungguh aneh bagi seseorang yang menjalankan bisnis jika melakukan pembagian uang dengan cara-cara yang tidak konvesional; hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kejujuran dan itikad baik Irma Reuneker!).

Ternyata baru diketahui kemudian bahwa uang hasil kejahatan tersebut dipergunakan oleh Irma Reuneker dipakai untuk membeli saham di PT Aifast Indonesia yang dicatatkan atas nama anak perempuan satu-satunya Cassandra (Transaksi jual beli saham senilai kurang lebih 10 milyar rupiah, uang hasil penjualan Rumah kurang lebih 12,7 milyar rupiah).

Argumentasi bahwa Marjan Pane serakah sebetulnya argumentasi karangan Irma Reuneker yang terbaru setelah sebelumnya mengatakan bahwa Marjan Pane dan anaknya memiliki hutang kepadanya dan harus dibayarkan segera dan disertai pernyataan bahwa ia akan memotong langsung dari hasil penjualan Rumah. Irma Reuneker mungkin lupa atau tidak tahu tetapi seharusnya ia meminta nasihat kepada penasihat hukumnya bahwa keberadaan hutang harus dibuktikan oleh yang mendalilkan berdasarkan persyaratan tertentu dan perjumpaan hutang (set-off) tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena jelas sekali diatur tata caranya dalam KUHPerdata Indonesia.

Untuk melakukan kejahatannya tersebut ternyata Irma Reuneker tidak segan-segan melakukan/mempengaruhi pihak-pihak lain untuk turut membantunya misalnya notaris Erna Priyono, S.H., untuk tidak memberikan dokumen yang berkaitan dengan penjualan Rumah dan menutup rekening penampungan uang hasil penjualan Rumah.

Hal yang sangat konsisten dilakukan oleh Irma Reuneker untuk mengatakan bahwa Rumah merupakan warisan adalah dengan mendeklarasikan hasil penjualan Rumah tersebut (seperempat bagian) sebagai hasil warisan dalam SPT pribadinya.  Hal inilah yang menjadi batu sandungan bagi Irma Reuneker: mendeklarasikan sebagian hasil penjualan sebagai warisan (tidak dikenakan pajak) tetapi sekaligus membayar BPHTB sebesar 5%…..suatu kontradiksi!! dan hal inilah yang disoroti oleh kantor pajak yang menangani perkara ini. Permasalahan lain yang dihadapi oleh Irma Reuneker ketika mengatakan bahwa sebagian uang telah dibagikan kepada saudaranya di luar negeri adalah bahwa ia sebagai warga negara Indonesia sebenarnya wajib memotong penghasilan pihak asing yang bersumber di Indonesia (withholding tax), itupun tidak dilakukannya….singkat kata Irma Reuneker berada dalam posisi maju kena mundur kena…..kerancuan dan kebohongan tersebut dalam waktu dekat harus ia pertanggungjawabkan terhadap otoritas pajak.

Jadi kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa sejak meminta untuk menjual Rumah, Irma Reuneker sudah berniat untuk mengambil hasil penjualan tersebut untuk dikuasainya sendiri.

Hal yang sangat mencolok mata adalah bahwa seseorang dengan kadar intelektualitas dan status sosial sepert Irma Reuneker melakukan hal-hal yang sangat tidak pantas serta menjerumuskan banyak pihak ke dalam suatu keadaan yang sulit. Tanpa disadarinya dengan melakukan KORUPSI tersebut ia telah melibatkan putrinya dan Airfast dalam suatu tindakan yang akibatnya sangat sukar diprediksi dan sangat berisiko bagi kelangsungan usaha Airfast maupun nama baik dirinya, Cassandra dan Airfast. Belum lagi kalau dibayangkan bahwa menjalankan Airfast merupakan amanat almarhum Frank D. Reuneker yang telah menghabiskan tenaga dan pikirannya sehingga Airfast menjadi perusahaan charter yang mempunyai status dan nama baik yang patut dibanggakan ketika masih dipimpin olehnya.

Melanjutkan uraian di atas penulis mendengar selentingan berita yang cukup menggembirakan sekaligus menyedihkan. Menggembirakan karena setelah lama menunggu ternyata kasus Irma Reuneker akhirnya ditangani pihak Kejaksaan tetapi sekaligus menyedihkan karena walaupun sudah dilengkapi bukti yang kuat Jaksa yang menangani perkara ini masih saja mengembalikan berkas kepada kepolisian untuk dilengkapi (istilah teknisnya P19). Mungkin hal ini memang murni masalah teknis. Dalam hal ini pihak kepolisian pasti akan mudah untuk memenuhi permintaan Jaksa.

Tetapi jika sifatnya non teknis atau dengan kata lain ada unsur pembusukkan (korupsi) maka masalahnya akan menjadi lain. mungkin Irma Reuneker atau siapapun yang menasihatinya lupa akan kejadian yang baru berlangsung di tanah air kita ini…..cicak melawan buaya!!!

Indonesia pada saat ini telah memasuki era baru yang tidak menerima adanya kejanggalan-kejanggalan dalam penegakkan hukum, terlebih jika terdapat indikasi korupsi. Mungkin Irma Reuneker masih belum dapat menarik kesimpulan yang positif tentang kejadian-kejadian di tanah air kita akhir-akhir ini. Jika memang seperti itu kenyataannya maka Irma Reuneker harus mendapatkan pembelajaran dari kasus yang sedang dihadapinya sekarang dengan membawa kasus ini ke ranah publik melalui advokasi lembaga-lembaga anti korupsi……kita tunggu sepak terjang Kejaksaan selanjutnya!!

[2] KORUPSI PENGGUNAAN LOGIKA — TERHADAP KELUARGA REUNEKER

(analisis potensi berbagai tindak pidana yang dilakukan Irma Reuneker dan Cassandra Maria Reuneker)

KORUPSI yang dilakukan oleh Irma Reuneker (dan putrinya, Cassandra Maria Reuneker) ternyata tidak terbatas pada keluarga kandungnya sendiri. Keluarga Reuneker, tepatnya adik-adik almarhum Frank Delano Reuneker (”FDR”), juga terkena getahnya.

Modus yang dipergunakan tidak berbeda dengan modus terhadap saudara kandungnya yaitu dengan mengatakan bahwa selama hidupnya, adik-adik almarhum FDR telah menerima uang untuk membiayai berbagai kebutuhan hidup mereka. Hal ini tentu wajar dilakukan oleh seorang kakak yang sukses secara ekonomis sesuai dengan kebudayaan timur.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang tagihan-tagihan yang diajukan oleh Irma Reuneker dan Cassandra Maria Reuneker (“Cassandra”) terhadap saudara-saudara kandung FDR, perlu diketahui juga bahwa tujuan utama keduanya (seperti juga kasus Irma Reuneker dengan saudara kandungnya) adalah untuk menguasai tanah dan bangunan warisan orang tua keluarga Reuneker di Jl. Raden Patah III No.5 (“Rumah Reuneker”) yang kebetulan terletak di jalan yang sama dengan tanah dan bangunan milik Irma Reuneker dan Marjan E. Pane.

Hal yang dilakukan untuk menguasai Rumah Reuneker tidak lebih baik dari cara sebelumnya yaitu dengan menyembunyikan surat wasiat dari almarhum Ibu Eveline Reuneker, ibunda keluarga Reuneker. Berhubung masih adanya pihak-pihak yang bersimpati dengan keluarga Reuneker maka foto kopi surat wasiat tersebut diketahui pula oleh keluarga Reuneker.

Orang yang pertama kali dipergunakan oleh Irma Reuneker untuk berkomunikasi tentang permasalahan Rumah Reuneker adalah Cassandra. Permintaan dari pihak Irma Reuneker adalah agar seluruh saudara kandung FDR memberikan kuasa kepada Cassandra untuk menjual Rumah Reuneker (termasuk kuasa untuk menentukan harga jual dan menampung uang hasil penjualan). Tentu hal ini tidak disetujui oleh pihak keluarga Reuneker karena bersamaan dengan permintaan kuasa tersebut juga telah diberikan perhitungan-perhitungan yang dibuat oleh Irma Reuneker tentang pemberian dari FDR berupa uang kepada adik-adiknya serta permintaan Irma Reuneker untuk melakukan perjumpaan hutang (set-off).

Setelah upaya yang dilakukan Cassandra tidak berhasil, Irma Reuneker sendiri yang mengambil alih peran secara aktif untuk menguasai Rumah Reuneker. Modus tentang adanya hutang yang telah dipraktekkan sebelumnya terhadap saudara kandungnya pun dipraktekkan dengan lebih menyeluruh. Adik-adik almarhum FDR masing-masing diberikan tagihan beserta bukti-bukti pembayaran yang telah dilakukan (termasuk antara lain: pakaian, uang sekolah, odol, sandal, bahkan peti jenasah bagi adik yang telah meninggal dunia) Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa perhitungan jumlah uang-uang tersebut dilakukan secara sepihak oleh Irma Reuneker dengan menggunakan bunga yang ditentukannya sendiri pula. Bahkan yang lebih parah lagi terdengar berita (masih perlu dikonfirmasi) bahwa Irma Reuneker sengaja meminta agar perhitungan jumlah uang-uang yang harus dikembalikan (konversi menjadi hutang secara sepihak) dilakukan sedemikian rupa sehingga angka totalnya kira-kira sama dengan harga pasaran Rumah Reuneker jika dijual. Dengan begitu Irma Reuneker dapat menguasai keseluruhan hasil penjualan Rumah Reuneker….luar biasa sekali akalnya!


Site Meter

Advertisements

One Trackback to “KORUPSI PENGGUNAAN LOGIKA (-Updated-)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: