Archive for ‘Airfast’

November 13, 2016

Perbesar Pangsa Pasar Perawatan Pesawat, GMF dan MMF Jalin Kerja Sama Bisnis

Ayo kuasai pasar MRO dari Asing !

Sabtu, 12 November 2016 | 18:35 WIB
Kontributor Surabaya, Achmad FaizalTeknisi PT GMF beraktifitas di hanggar Merpati milik PT MMF di komplek Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sabtu (12/11/2016)

SURABAYA, KOMPAS.com – PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF) dan PT Merpati Maintenance Facility (MMF) menandatangani joint operation untuk meraih pangsa pasar perawatan pesawat yang sebagian besar lebih masih dikuasai perusahaan asing.

Direktur Utama GMF, Juliandra Nurtjahjo mengatakan kerja sama meliputi pekerjaan penerbangan umum seperti maintenance, repair and overhaul untuk airframe, engine dan komponen pesawat Cessna 172/152, Twin Otter, Casa 212, Cessna Caravan 208/206.

“GMF dan MMF memiliki keunggulan dalam hal perawatan pesawat. GMF unggul di perawatan pesawat jenis turbo dan jet, sementara MMF unggul di perawatan pesawat turbo propeller,” terangnya usai penandatanganan, Sabtu (12/11/2016).

Dalam kerjasama yang berjangka waktu lima itu, GMF dan MMF sama-sama memberikan kontribusi teknis maupun non teknis dalam pengembangan bisnis bengkel pesawat.

“Target keuntungan itu tujuan utama, tapi berapa nilai target keuntungan masih dalam proses penghitungan,” tambahnya.

Sementara itu Dirut PT MMF Suharto mengatakan, kerjasama tersebut adalah salah satu upaya perusahaannya untuk kembali eksis di bisnis bengkel pesawat pasca-Merpati dinyatakan pailit sejak 2014.

“Kami masih punya fasilitas yang dapat dioptimalkan untuk bengkel pesawat seperti di Surabaya dan biak,” katanya.

Di sisi lain dia menyambut baik kerjasama tersebut, karena saat ini sebagian besar maskapai yang beroperasi di Indonesia justru memilih melakukan perawatan pesawat di luar negeri.

“Mereka ambil uang di Indonesia, tapi giliran perawatan diberikan ke luar negeri. Harusnya uang untuk perawatan harus kembali ke dalam negeri,” terangnya.

++++++++++++

Indutri MRO butuh 1000 lulusan D3 untuk hadapi persaingan global

Jumat, 2 Desember 2016 18:06 WIB | 1.854 Views

Kami 90 persen membutuhkan teknisi lulusan D3, 10 persennya lulusan S1 yang teknisi, juga sebagian kecil administrasi.”

Jakarta (ANTARA News) – Industri perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintainance Repair and Overhaul (MRO) membutuhkan 1.000 lulusan Diploma 3 untuk dapat menghadapi persaingan global.

“Kami menyarankan, kalau untuk bersaing secara internasional, basic entry kita harus D3,” kata Ketua Asosiasi Perawatan Pesawat Indonesia atau Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Richard Budihadianto di Jakarta, Jumat.

Richard menilai, lulusan D3 bidang penerbangan akan lebih mudah menyerap pelatihan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan yang menggunakan teknologi tinggi dibidang penerbangan.

“Beberapa perusahaan menerapkan D3. Jadi, bisa D2 atau D3,” tukas Richard.

Untuk itu, Richard menyarankan agar mereka yang lulus SMK bidang penerbangan dapat melanjutkan sekolahnya hingga D3 agar dapat menjadi tenaga kerja yang mampu bersaing di dunia penerbangan internasional.

Menurut Richard, industri MRO di Indonesia membutuhkan 1.000 Sumber Daya Manusia yang menguasai keahlian dibidang perawatan dan perbaikan pesawat.

Saat ini, SDM yang tersedia baru mencapai 300 orang per tahun, sehingga perlu ditingkatkan tiga kali lipat hingga beberapa tahun mendatang.

“Kami 90 persen membutuhkan teknisi lulusan D3, 10 persennya lulusan S1 yang teknisi, juga sebagian kecil administrasi,” ujar Richard.

Menurutnya, IAMSA, industri dan Kementerian Perindustrian akan bekerja sama untuk membangun sekolah vokasi bidang penerbangan yang dapat mendukung industri MRO.

“Kami akan bekerja sama dengan Kemenperin untuk pembangunan sekolah maupun penyediaan tenaga pengajar ahli. Selain itu, ada juga dengan industri yang akan menampung lulusan ini agar dapat langsung terserap,” ungkap Richard.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2016

+++

February 3, 2016

Soal Pemalsuan Approval Flight PT Airfast Indonesia

Rabu 03 Feb 2016, 14:50 WIB

Ini Surat Laporan Penemuan Flight Approval Palsu yang Dilaporkan ke Kemenhub

Nograhany Widhi K – detikNews
Ini Surat Laporan Penemuan Flight Approval Palsu yang Dilaporkan ke KemenhubFoto: Istimewa/detikcom

Jakarta – Kemenhub melaporkan maskapai swasta ke Bareskrim karena mengajukan flight approval palsu. Ini dia surat laporan pada Kemenhub.

Dari sumber detikcom, surat laporan ke Kemenhub itu berkop Kementerian Perhubungan Ditjen Perhubungan Udara Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, yang dikeluarkan di Denpasar 26 Januari 2016. Surat bernomor AU.010/175/1/Otwil.IV/2016 dengan perihal “Laporan Awal Tindakan Pemalsuan Dokumen Persetujuan Terbang (Flight Approval) AINTBDN PT Airfast Indonesia.

(Foto: Istimewa/detikcom)

Dalam surat yang ditujukan ke Dirjen Perhubungan Udara tersebut, selain tercantum nama maskapai Airfast Indonesia, juga tercantum tipe pesawat yang digunakan yakni MD-82 dengan nomor registrasi PK-OCU dengan rute DPS-UPG (Denpasar-Makassar-red).

Disebutkan ground handling yang menyampaikan rencana terbang (flight plan) menggunakan persetujuan terbang (flight approval) adalah PT JAS Airport Service Station Denpasar. Dokumen surat tersebut menyampaikan kronologi penemuan flight approval palsu tersebut.

Pada poin 3 c surat tersebut, disebutkan bahwa:

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kasubdit Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal Direktorat Angkutan Udara diperoleh hasil bahwa seluruh Flight Approval yang disampaikan PT Airfast Indonesia kepada Unit AIS Perum LPPNPI Kantor Cabang Denpasar melalui PT. JAS Airport Service Station DPS yang berjumlah sebanyak 7 (tujuh) dokumen adalah seluruhnya TIDAK VALID (PALSU) karena nomor izin yang diberikan tidak diperuntukkan bagi penerbangan PT Airfast Indonesia, melainkan milik operator penerbangan lainnya.

(Foto: Istimewa/detikcom)

Dalam surat tersebut, flight approval itu seharusnya ditujukan bagi maskapai PT Nusantara Air Charter dan PT Trigana Air Charter. Berikut isi surat laporan itu secara lengkap:

Sebelumnya, Kemenhub membenarkan adanya laporan ke Bareskrim pun menyerahkan proses hukum seutuhnya kepada Bareskrim Polri.

“Pengaduan ini sudah kita sampaikan ke Bareskrim. Dari Kemenhub sudah melaporkan tentang adanya flight approval (izin terbang) palsu,” ungkap Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub JA Barata saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (2/2/2015) malam.

Sayangnya Barata enggan merinci mengenai dugaan pemalsuaan dokumen terbang bagi maskapai itu. Ia juga tidak bersedia memberi tahu maskapai mana yang melakukan pelanggaran tersebut.

“Sepertinya termasuk salah satu berkas yang dilampirkan,” demikian kata Barata yang dikonfirmasi kembali hari ini tentang dokumen tersebut.

Hari ini 3 personel yang menemukan flight approval palsu itu diapresiasi Menhub Ignasius Jonan. Sedangkan detikcom mencoba mengkonfirmasi pihak PT Airfast Indonesia melalui telepon kantor, namun PT Airfast Indonesia belum memberikan respons.

“Direktur sedang tidak di tempat, Humas masih rapat,” demikian staf operator merespons telepon detikcom hari ini.
(nwk/dra)

_______
Rabu 03 Feb 2016, 12:50 WIB

Temukan Flight Approval Palsu, 3 Orang ini Diberi ‘Uang Permen’ Menhub Jonan

Edward Febriyatri Kusuma – detikNews
Temukan Flight Approval Palsu, 3 Orang ini Diberi Uang Permen Menhub JonanFoto: Tiga petugas penemu Flight Approval palsu dari kiri-kanan: Dwi Putu Eka Cahyadi, Hadi Permana, Nurkholis Akbar (Edward Febriyatri/detikcom)
Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan maskapai AF ke Bareskrim karena mengajukan flight approval palsu. Ini dia 3 orang yang berjasa menemukan FA palsu itu.

Tiga orang tersebut adalah:

1. Dwi Putu Eka Cahyadi, Kasi Angkutan Udara Kelayakan Udara dan Pengoperasian Wilayah IV Bali
2. Nurkholis Akbar, Inspektur Angkutan Udara, anak buah Dwi Putu Eka Cahyadi
3. Hadi Permana, staf Aeronautika Information System (AIS) Bali

Ketiga orang itu diundang ke Kemenhub Jakarta dan diberi hadiah Menhub Ignasius Jonan sebagai wujud apresiasi. Hadiah berupa uang senilai US$1.000 per orang plus kenaikan pangkat.

“Ya benar, Menhub memberi penghargaan kepada tiga orang yang dianggap berjasa menemukan Flight Approval palsu,” demikian kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub, JA Barata kala dikonfirmasi, Rabu (3/2/2016).

Ketiga orang itu juga membenarkan bahwa mereka diberikan apresiasi oleh Menhub Jonan.

“Saya terkejut diundang Pak Menteri. Saya coba terbuka di sini ya Mas, karena selama ini beliau (Menhub) terlalu kencang secara internal. Sampai-sampai saya merasa tidak bisa tidur. Tapi terbuka arahan dan teguran, sudah membuat kami menjadi terbiasa. Kami merasa surprise. Ada apresiasi, mendapat mutasi kerja dan dikasih reward,” demikian kata Dwi Putu dalam jumpa pers di Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

“Saya dikasih uang sama Pak menteri, tapi Pak Menteri bilang uang permen. Saya dikasih amplop sama Pak Menteri, bilang “Ini buat beli permen”,” imbuh Dwi.

Dwi mengaku belum membuka amplop yang diberikan Jonan sehingga belum mengetahui jumlahnya. Yang jelas, imbuh Dwi, ini memacu dia dan rekannya untuk lebih giat bekerja.

Sedangkan Hadi, staf AIS, belum mengetahui untuk apa uang yang diberikan Jonan itu.

“Buat apa ya, saya bingung Mas jujur, nggak tahu, tapi saya berterima kasih banget. Ya buat apanya nanti saya belum mikirin,” tutur Hadi.

Hal senada dikatakan Nurkolis, “Saya juga nggak tahu, terima kasih ini jadi pemacu kami buat bekerja lebih giat lagi”.

Kemenhub melaporkan maskapai AF ke Bareskrim pada Selasa (2/2) kemarin. Kejadian ditemukannya flight approval palsu ini antara 25-26 Januari 2016.

Berdasarkan informasi yang berhasil detikcom dapat, pelaporan dugaan pemalsuan ini berawal saat petugas AIS (sebelumnya disebut ATC-red) menaruh kecurigaan terhadap dokumen flight approval yang diajukan maskapai AF. Sebab kondisi dokumen itu terlihat lebih buram dari dokumen izin terbang pada umumnya.

Kemudian petugas AIS berkoordinasi dengan otoritas bandara. Terbukti, setelah dicek, nomor flight approval tersebut ternyata palsu dan ternyata dokumen izin terbang itu adalah milik maskapai lain. Pesawat akhirnya tidak diperbolehkan terbang.

Saat dilakukan penyidikan, manajemen AF menyebut mendapat flight approval palsu itu dari ‘permainan’ orang bawah. Namun petugas yang melakukan pemalsuan mengaku mendapat perintah dari manajemen maskapai. Akhirnya penyidikan diserahkan kepada Ditjen Perhubungan Kemenhub yang akhirnya melaporkan peristiwa itu kepada Bareskrim.
(nwk/dra)

++++
Rabu 03 Feb 2016, 14:43 WIB

Polisi: Pelaku Pemalsuan Dokumen Izin Terbang Terancam Pidana 4 Tahun

Idham Kholid – detikNews
Polisi: Pelaku Pemalsuan Dokumen Izin Terbang Terancam Pidana 4 TahunFoto: Hasan Al Habsy
Jakarta – Kasus dugaan pemalsuan izin terbang dengan terlapor seorang pejabat maskapai AirFast berinisial MT kini ditangani Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri. Penyidik akan memanggil saksi pelapor untuk dimintai keterangan.

“Akan panggil saksi pelapor, maupun periksa dokumen-dokumen yang terkait dengan penerbangan itu,” kata Kepala Bagian Evaluasi dan Analisa Bareskrim Polri Kombes Hadi Ramdhani di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/2/2016).

“Sudah direncanakan panggil saksi pelapor,” sambungnya.

Dalam kasus ini, lanjut Hadi, terlapor diduga melanggar pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen. Berapa tahun penjara ancaman pidananya?

“Yang pasti di atas 4 tahun,” tandasnya.

Kabag Penum Polri Kombes Suharsono sebelumnya menyampaikan, terlapor dalam perkara ini adalah Flight Operator Officer PT AirFast berinisial MT. Pihak Kemenhub melaporkan hal itu pada Selasa (2/2) kemarin.

“Jadi laporan Kementerian Perhubungan ini berdasarkan laporan dari Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilayah 4 Bali Tanggal 26 Januari,” tandasnya.

Laporan penerbangan itu terjadi pada akhir Januari 2016, tujuan Denpasar-Makassar.

February 3, 2016

Airfast Segera Terbang ke Sejumlah Bandara Jawa Timur

Rabu, 20 Januari 2016 | 14:53

      Email

Penerbangan perintis.

Penerbangan perintis. (Antara)

Sumenep– Pesawat milik maskapai PT Airfast dijadwalkan segera melakukan penerbangan untuk mengecek rute jalur perintis ke sejumlah bandara di Jawa Timur.

“Kalau tidak ada perubahan jadwal, pesawat milik PT Airfast yang merupakan operator penerbangan perintis pada tahun ini, akan terbang cek rute pada Senin (25/1) pekan depan,” ujar Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep, Wahyu Siswoyo di Sumenep, Rabu.

Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo adalah instansi kepanjangan tangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang berada di Sumenep.

Sementara PT Airfast merupakan maskapai yang menjadi operator penerbangan perintis pada tahun ini di empat jalur, di antaranya Sumenep-Surabaya dan sebaliknya, dan Surabaya-Bawean (Gresik) dan sebaliknya.

“PT Airfast akan mengoperasikan satu pesawat terbang jenis Twin Otter DHAC 300 dengan kapasitas angkut 15 penumpang guna melayani jalur penerbangan perintis yang menjadi tanggungjawabnya,” kata Wahyu, menerangkan.

Ia menjelaskan, pesawat milik PT Airfast tersebut dijadwalkan tiba di Bandara Trunojoyo Sumenep pada Minggu (24/1).

“Pilot dan kru pesawat tersebut akan melakukan terbang ‘solo’ atau tanpa penumpang dari Balikpapan ke Sumenep pada Minggu (24/1) dan selanjutnya melakukan penerbangan cek rute jalur penerbangan perintis pada Senin (25/1) dari Bandara Trunojoyo Sumenep,” ujarnya.

Wahyu juga mengemukakan, sesuai informasi dari pihak terkait di Kemenhub, pesawat milik PT Airfast akan memulai penerbangan perdana untuk melayani jalur perintis pada Selasa (26/1).

Secara keseluruhan, jalur penerbangan perintis yang akan dilayani oleh pesawat PT Airfast pada tahun ini adalah Sumenep-Surabaya dan sebaliknya, Surabaya-Bawean dan sebaliknya, Surabaya-Karimunjawa (Jawa Tengah) dan sebaliknya, dan Karimunjawa-Semarang dan sebaliknya.

“Untuk kepastian jadwal dan waktu penerbangan pesawat perintis tersebut di masing-masing bandara, menunggu pemberitahuan lebih lanjut. Saat ini, kami memang masih menunggu pemberitahuan secara resmi dari pihak terkait dan maskapai,” katanya.

/HRB

ANTARA

+++++

Diduga Palsukan Izin Terbang, Maskapai Airfast Dilaporkan ke Bareskrim

Selasa, 2 Februari 2016 | 18:47 WIB
SHUTTERSTOCKIlustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan melaporkan perusahaan maskapai penerbangan Airfast ke Bareskrim Mabes Polri, Selasa (2/2/2016) pagi.

Maskapai tersebut dilaporkan atas perkara dugaan pemalsuanflight approval atau izin penerbangan.

“Betul, tadi pakai Dirjen Angkutan Udara yang melaporkan itu ke Bareskrim,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan, JA Barata saat dihubungi, Selasa sore.

Barata mengungkapkan, pelaporan itu disertai dengan sejumlah bukti. Namun, dia belum mau mengungkapkan apa bukti-bukti yang diserahkannya kepada penyidik.

Barata juga menolak menjelaskan bagaimana Kemenhub menemukan tindak pidana pemalsuan itu.

“Nantilah, biar menunggu hasil penyelidikan polisi saja,” ujar dia.

Kompas.com masih berusaha mencari konfirmasi dari pihak Airfast.

Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Sabrina Asril
October 8, 2015

Hampir Semua Maskapai Memenuhi Ekuitas

Ikon konten premium Cetak | 7 Oktober 2015 Ikon jumlah hit 146 dibaca Ikon komentar 0 komentar
JAKARTA, KOMPAS — Evaluasi terhadap maskapai di Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan menyimpulkan bahwa sebagian besar maskapai bisa memenuhi syarat ekuitas. Penyuntikan modal dilakukan untuk menaikkan ekuitas tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo di Jakarta, Selasa (6/10), mengumumkan, hampir semua maskapai, baik berjadwal maupun tidak berjadwal, akhirnya memenuhi syarat ekuitas positif.

Hanya satu maskapai yang tidak mampu menambah modal sehingga ekuitasnya tetap negatif. Maskapai Survei Udara Penas, yang merupakan BUMN, dibekukan izin operasionalnya karena tidak menambah modal dan jumlah pesawat tidak mencukupi.

Maskapai Indonesia AirAsia, yang semula tercatat pembukuannya negatif, berhasil menambah modal Rp 4,2 triliun sehingga ekuitasnya positif. Adapun AirAsia Xtra yang jumlah pesawatnya hanya lima unit telah menambah lima pesawat lagi sehingga memenuhi syarat kepemilikan. “Penyuntikan modal ini berasal dari investor lokal dan asing, tetapi tetap memenuhi asas kabotase, jadi investor lokal masih menjadi mayoritas,” kata Suprasetyo.

Sementara itu, Aviastar Mandiri kini tidak memiliki izin berjadwal karena jumlah kepemilikan pesawatnya kurang.

“Selama ini jumlah pesawat Aviastar memang sudah kurang untuk izin berjadwal. Oleh karena itu, sekarang Aviastar hanya memegang izin tidak berjadwal,” kata Suprasetyo.

Layanan navigasi

Layanan navigasi udara dari Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Airnav Indonesia berupaya meningkatkan layanannya. Saat ini, layanan Airnav Indonesia sudah sesuai dengan standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), tetapi masih di bawah kemampuan negara-negara tetangga.

“Kami terus berupaya untuk meningkatkan layanan udara kami. Apalagi pertumbuhan industri penerbangan cukup tinggi, 10-12 persen setiap tahunnya. Pertumbuhan ini membutuhkan kemampuan tersendiri,” kataDirektur Operasi Airnav Indonesia Wisnu Darjono seusai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama dengan MITRE Corporation, di Jakarta.

Dalam kerja sama ini, MITRE Corporation akan memberikan dukungan teknis dalam program modernisasi pelayanan navigasi penerbangan Indonesia dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“MITRE berpengalaman menyatukan layanan penerbangan Asia dan Eropa di Timur Tengah. Demikian juga layanan navigasi di India juga disatukan MITRE. Kami ingin penyatuan antara Jakarta dan Makassar agar penerbangan menjadi mulus dan setara dengan negara lain,” ujar Wisnu.

(ARN)

July 4, 2015

Pemerintah Diminta Hati-hati soal Freeport

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah diminta berhati-hati mengambil keputusan terkait status dan perpanjangan operasi PT Freeport Indonesia. Jika status operasi perusahaan yang berinduk di Amerika Serikat itu hendak diubah dari kontrak karya menjadi izin usaha pertambangan khusus, sebaiknya menunggu masa kontraknya habis. Pemerintah juga punya pilihan lain dengan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

Demikian benang merah pendapat Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya dan Guru Besar Hukum Ekonomi Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, Jumat (3/7), di Jakarta. Pendapat itu terkait kesepakatan pemerintah dengan Freeport tentang perubahan status operasi dari kontrak karya (KK) ke izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

“Saya setuju jika Presiden meminta permasalahan perubahan status operasi Freeport dikaji terlebih dulu. DPR meminta sebaiknya (perubahan status) itu menunggu revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,” kata Satya.

Satya menambahkan, apabila pemerintah menempuh jalur sesuai UU Nomor 4/2009, maka setelah masa kontrak Freeport berakhir pada 2021, wilayah pertambangan yang dikelola Freeport akan masuk ke dalam wilayah pencadangan milik negara. Wilayah tersebut menjadi wilayah izin usaha pertambangan yang kemudian ditenderkan oleh pemerintah untuk kelanjutan operasi berikutnya.

“Jika pemerintah tidak mau menempuh prosedur itu, bisa lewat penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti UU atau Perppu. Inisiatif Perppu ada di pemerintah dan DPR yang nanti menyetujui,” tambah Satya.

Hikmahanto berpendapat, pemerintah sebaiknya perlu bertindak hati-hati dalam memutuskan perubahan status operasi Freeport. Kedatangan Chairman Freeport McMoRan Inc James R Moffett yang bertemu dengan Presiden Joko Widodo dapat dinilai sebagai permintaan Freeport terkait percepatan penetapan status IUPK.

“Kontrak Freeport akan selesai pada tahun 2021. Dalam kurun waktu menuju tahun itu, pemerintah bersama DPR dan rakyat perlu menghormati masa kontrak tersebut. Saya harap keputusan tidak diambil terburu-buru sebab pengelolaan tambang selalu bertujuan untuk rakyat,” kata Hikmahanto.

Pengelolaan tambang di Indonesia, lanjut Hikmahanto, perlu berpijak kepada paradigma kesejahteraan rakyat. Pada kasus komitmen Freeport menjadi perusahaan pemegang IUPK, pemerintah sebaiknya tidak terburu-buru memutuskan penetapan perubahan status tersebut.

Dalam siaran pers PT Freeport Indonesia yang diterima Kompas, perusahaan tersebut bersedia mengurangi luas wilayahnya menjadi 90.360 hektar, termasuk penyerahan Blok Wabu kepada pemerintah daerah. Freeport juga menyampaikan, perusahaan telah menyepakati dan melaksanakan sebagian dari kesepakatan terkait amandemen KK.

Beberapa poin amandemen yang sudah disetujui Freeport adalah meningkatkan penerimaan negara, menambah kapasitas dan ekspansi unit pengolahan dan pemurnian mineral (smelter), meningkatkan kepemilikan Pemerintah Indonesia atas saham Freeport, dan mengutamakan penggunaan tenaga kerja lokal serta barang dan jasa dalam negeri. (APO/MED)

April 9, 2014

Efisiensi Tantangan Maskapai

Kontrol Keuangan Harus Ketat

JAKARTA, KOMPAS — Maskapai penerbangan saat ini menghadapi tantangan mahalnya bahan bakar avtur. Idealnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di bawah Rp 11.000 per dollar AS. Untuk bertahan, maskapai harus memperketat manajemen keuangan dan efisiensi.”Dengan demikian, harga jual avtur juga tidak terlalu mahal sehingga maskapai dapat mengefisienkan biaya operasional,” ujar Kepala Sekretaris Perusahaan dan Komunikasi PT AirAsia Indonesia Audrey Progastama di Jakarta, Selasa (8/4).

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah maskapai menutup sementara sejumlah rute penerbangan. Maskapai itu antara lain Sriwijaya Air, Sky Aviation, AirAsia, dan Tigerair Mandala.

Audrey menyatakan, semua maskapai kini menghadapi tantangan besar dengan mahalnya harga avtur. ”Tantangan harus diatasi dengan meningkatkan pendapatan dan mengefisiensikan biaya operasional,” ujarnya.

Indonesia AirAsia kini berupaya mengenjot pendapatan sampingan dengan penjualan makanan, layanan asuransi, dan layanan VIP Red Carpet. ”Pendapatan sampingan Indonesia AirAsia mencapai 22 persen dari total pendapatan. Di AirAsia Malaysia, misalnya, sudah 23 persen,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menyarankan, apabila ada maskapai berbiaya rendah yang tidak kuat menanggung biaya operasional, mereka dapat pindah menjadi medium atau layanan penuh. ”Tinggal bilang ke Kementerian Perhubungan, keputusan ada di tangan manajemen maskapai,” ujarnya. Menurut Bayu, bisa jadi pasar penerbangan berbiaya murah sudah jenuh.

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan, hanya maskapai yang efisien dan kontrol keuangannya ketat yang bisa bertahan dalam situasi saat ini.

”Selama ini kita terbuai dengan ungkapan bahwa pertumbuhan penumpang udara meningkat. Pesawat pun ditambah. Namun, banyak yang lupa bahwa infrastruktur penerbangan tidak siap, belum lagi ada kemungkinan harga avtur terus meningkat dan kurs rupiah yang melemah. Ini yang terlupakan,” kata Gerry.

Kondisi ini diperparah dengan keinginan orang bepergian menurun. ”Ketika nilai tukar rupiah melemah, ada sebagian masyarakat yang menurunkan keinginan bepergian. Akibatnya, jumlah penumpang pun menurun. Padahal, maskapai sudah telanjur mendatangkan pesawat sehingga kewajiban meningkat,” ujar Gerry.

Sementara itu, penutupan beberapa rute penerbangan tidak berpengaruh bagi agen perjalanan. Mereka lebih mengkhawatirkan pelanggan beralih memesan tiket pesawat melalui internet.

Pemesanan tiket melalui agen perjalanan turun hingga 30 persen. Penurunan ini terjadi sejak dibukanya pemesanan tiket daring (online) sejak 2012.

Wiwik, petugas agen perjalanan Dina Setya Rahma, Jakarta Timur, menggambarkan, tiap 10 pelanggannya, sebanyak tiga orang beralih ke pemesanan melalui internet. (RYO/ARN/A12)

October 1, 2013

Garuda Indonesia sewa 35 Pesawar

Tuesday, October 01, 2013       12:31 WIB
Garuda Indonesia Sewa 35 Pesawat ATR 72-600
PT Garuda Indonesia Tbk dalam waktu dekat akan mendatangkan 35 pesawat jenis ATR72-600. Pesawat-pesawat ini didatangkan melalui mekanisme sewa dengan perusahaan leasing dan financing asal Denmark, Nordic Aviation Capital (NAC).

“Kami akan terus ekspansi untuk mengembangkan penerbangan kami dengan teknologi dan untuk mendukung peengembangan potensial penerbangan di Indonesia. Pembiayaan pesawat dilakukan antara perusahaan manufaktur dengan airlines kami yaitu dengan Nordic Aviation Capital (NAC) sehingga hal ini tentunya tidak membebani neraca perdagangan Indonesia,” ungkap Direktur Utama PT Garuda Indonesia Airlines Tbk Emirsyah Satar saat membuka acara di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Selasa (1/10/2013).

Turut hadir dalam acara ini Menteri BUMN Dahlan Iskan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan CEO ATR Filippo Bagnato serta Chairman NAC Martin Moller.

Sebanyak 35 pesawat ATR 72-600 akan didatangkan PT Garuda Indonesia secara bertahap hingga tahun 2017. Sementara itu, pada bulan November mendatang, dua pesawat ATR 72-600 akan tiba.

Jumlah 35 pesawat itu terdiri dari 25 pesawat berupa ‘film order’ dan 10 pesawat berupa ‘options’. Pesawat-pesawat ini untuk melayani penerbangan point to point pada rute-rute jarak dekat.

“Kapasitasnya 70 penumpang untuk melayani penerbangan dari hub maupun spoke Garuda Indonesia, di antaranya Denpasar, Makassar, dan Ambon menuju Labuan Bajo, Tambolaka, dan Ende di NTT, Bima NTB, Banyuwangi, Jember, Bau-bau, dan Wangi-wangi di Sulteng, Luwuk, Mamuju, Poso, Kaimana, serta Tual,” katanya.

Sementara itu, Chairman NAC Martin Moller menyambut baik kerjasama antara NAC dan Garuda Indonesia serta ATR dalam upaya peningkatan konektivitas sektor transportasi udara di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

“Pesatnya pertumbuhan industri penerbangan di wilayah ini menjadi bisnis yang luar biasa bagi kami. Dan ATR 72-600 merupakan pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan akan armada yang mampu beroperasi di bandara kecil maupun daerah terpencil,” katanya.

Sumber: detikcom

August 28, 2012

Pesawat Lion Air Serempet Airfast

Bandara Internasional Soekarno Hatta sudah mirip terminal angkot/bus. Memalukan !!

 

JUM”AT, 24 AGUSTUS 2012 | 11:28 WIB

Pesawat Lion Air Serempet Airfast

 

TEMPO.COJakarta – Pesawat Lion Air menyerempet pesawat Airfast Indonesia pada Jumat dinihari, 24 Agustus 2012. Corporate Secretary Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengatakan kejadian tersebut terjadi di tempat parkir pesawat.

“Peristiwa terjadi sekitar pukul 03.05 WIB di areal parkir pesawat Bandara Soekarno-Hatta,” kata Trisno ketika dihubungi Tempo, Jumat, 24 Agustus 2012.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hanya, Trisno belum bisa mengkalkulasi berapa kerugian akibat insiden ini.

Juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan, menduga insiden tersebut akibat kelalaian ketika proses parkir. “Jadi, saat pesawat ditarik atau istilahnya push back, ada rutenya. Nah, mungkin sedikit keluar jalur sehingga serempetan,” kata Bambang.

Bambang mengatakan, saat ini, pihak terkait masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab kecelakaan tersebut.

Dari gambar yang beredar di layanan microblogging Twitter, tampak ujung sayap sebelah kanan pesawat Lion Air membentur ekor pesawat Airfast yang dalam posisi terparkir.

SYAILENDRA

 

 

JUM”AT, 24 AGUSTUS 2012 | 14:28 WIB

Kronologi ”Senggolan” Lion Air dengan Airfast

 

TEMPO.COJakarta – Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan insiden serempetan antara maskapainya dan Airfast akibat kelalaian dari petugas pemindah pesawat. “Saat itu, Lion Air sudah parkir duluan,” kata Edward ketika dihubungi Tempo, Jumat, 24 Agustus 2012.

Edward menjelaskan, pesawat Lion Air sudah terparkir di Bandara Soekarno-Hatta sejak Rabu, 22 Agustus 2012. Selang satu hari kemudian, pesawat Airfast datang untuk parkir juga.

Kemudian sekitar pukul 03.00 dinihari tadi, petugas datang untuk memindahkan pesawat Lion Air yang akan menjalani pengecekan sebelum beroperasi. Namun, menurut Edward, petugas yang memindahkan tidak melihat jarak sayap Lion Air telalu dekat dengan ekor Airfast.

Menurut Edward, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut karena memang kedua pesawat tidak beroperasi. Hanya Edward belum bisa menaksir kerugian akibat insiden itu karena masih dihitung.

“Saat ini, kami masih melakukan pemeriksaan kerusakan supaya bisa mengetahui kapan beroperasi lagi,” ujarnya.

SYAILENDRA

July 17, 2012

Pesawat Airfast alami gangguan di Jayapura

Pesawat Airfast alami gangguan di Jayapura
Selasa, 17 Juli 2012 10:40 WIB | 113 Views

Jayapura (ANTARA News) – Pesawat Airfast dengan kode penerbangan AFE 413 dari Timika menuju Biak, Selasa sekitar pukul 09.25 WIT mengalami gangguan sesaat setelah mendarat di Bandara Frans Kaisepo Biak, Papua.

Data yang dihimpun ANTARA menyebutkan pesawat yang membawa 127 penumpang itu mengalami gangguan hidrolik pada ban depan sesaat setelah mendarat.

Akibat gangguan tersebut ban terkancing dan tidak bisa berjalan sehingga harus ditarik petugas bandara Biak menuju Apron.

Kapolres Biak AKBP Ricko Taruna Mauruh ketika dihubungi mengakui adanya insiden tersebut, namun saat ini pesawat tersebut sedang dalam perbaikan oleh teknisi dari Airfast.

Pesawat dengan delapan kru itu dipiloti Wahyu DT dan kopilot Yunus B.

Sementara itu ke 127 penumpang pesawat AIRFAST itu merupakan karyawan PT Freeport dan keluarga itu saat ini masih menunggu di ruang tunggu bandara Frans Kaisepo Biak.
(E006)
Editor: Ella Syafputri

June 18, 2012

Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi

SENIN, 18 JUNI 2012 | 06:42 WIB
Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak mulai terkuak. Pengawas udara diduga kurang memandu pilot yang tak paham medan.

Laporan utama majalah Tempo, “Musabab Jatuhnya Sukhoi”, edisi Senin, 18 Juni 2012, memuat isi rekaman percakapan terakhir antara pilot Sukhoi Superjet 100, Aleksandr, dan N, petugas pengatur lalu lintas udara di Terminal East Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. (Baca juga: Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!)

“Tower 36801 good afternoon, establish Radial 200 degrees VOR ten thousand feet…(Selamat siang tower 36801, ada di ketinggian 10.000 kaki)” ucap sang pilot pada pukul 14.24. Petugas menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller), sebut saja bernama N menjawab, “RA36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area. (RA36801 kontak rada, jaga ketinggian di 10.000 kaki di area itu)” Sesuai dengan prosedur, pilot Aleksandr mengulang instruksi petugas: “Maintain level 10.000 feet 36801 (jaga ketinggian di 10.000 kaki).”

Jet baru itu melaju menuju Pelabuhan Ratu sesuai dengan tujuan penerbangan. Pilot menerbangkan pesawatnya dengan status Instrument Flight Rules. Artinya, pilot mengikuti panduan alat navigasi di kokpit dan panduan petugas pengatur lalu lintas udara.

Dua menit terbang di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: “Tower, 36801 request descend 6.000 feet. (Tower, 36801 meminta turun di 6.000 kaki).” Petugas N menjawab, “36801 say again request (36801 kembali meminta turun).” Pilot Aleksandr mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke ketinggian 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, “Ok, 6.000 copied. (Ok. 6.000 kaki diterima).” Sang pilot mengulang, “Descend to 6.000 feet 36801 (turun ke 6.000 kaki).”

Di radio, ketika jam berdetak pada pukul 14.28, pilot Aleksandr terdengar kembali meminta persetujuan. “Tower, 36801 request turn right orbit present position.” Tak menanyakan alasan pilot memutarkan pesawatnya ke kanan, N langsung setuju: “RA 36801 approve orbit to the right six thousand (RA 36801 setuju orbit ke kanan ke 6.000 kaki).” (Baca juga: Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Diizinkan Bekerja Lagi)

Permintaan memutarkan pesawat itu merupakan komunikasi terakhir pilot. Hampir lima menit setelahnya, pesawat menabrak tebing. Dari rekaman kotak hitam, menurut seorang penyelidik dari Rusia, sesaat setelah permintaan memutar disetujui, pilot menjerit.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi tak menampik ketika dimintai konfirmasi soal komunikasi pilot dan pemandunya itu. “Percakapan ini normatif, tak ada petunjuk apa pun. Kami punya yang lebih lengkap,” kata dia, Selasa pekan lalu.

Menurut Tatang, semua data komunikasi, rekaman radar, juga kotak hitam pesawat telah diserahkan kepada lembaganya. “Semua petugas juga telah dimintai keterangan.”

Seorang investigator Rusia yang mengetahui analisis sementara kotak hitam mengatakan Yablontsev berniat melakukan manuver setelah permintaan turunnya disetujui menara Cengkareng. “Dia mau terbang di celah dua puncak gunung,” katanya. Salak punya tiga pucuk dengan lembah-lembahnya yang curam.

Seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. “Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung,” ujarnya. Selengkapnya baca laporan utama majalah Tempo, Musabab Jatuhnya Sukhoi.