Archive for ‘Bakrie Empire’

June 19, 2015

Keluarga Bakrie Selamatkan Utang BNBR Rp 5,2 T

Friday, June 19, 2015       08:41 WIB
Jakarta.  Keluarga Bakrie akan menanggung utang PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) [50 0 (+0,0%)] ke kreditor senilai Rp 5,2 triliun. Sebagai kompensasi, keluarga Bakrie akan memperoleh sebanyak 55-58 persen saham Bakrie & Brothers.

Sesuai rencana, Bakrie & Brothers akan melangsungkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). Perusahaan investasi tersebut bakal menerbitkan saham baru setara 55-58 persen. Seluruh saham baru akan diserap oleh induk usaha Bakrie & Brothers.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengungkapkan, skema tukar utang menjadi saham (debt to equity swap) tersebut sedang dibahas dengan para kreditor. Berdasarkan negosiasi sementara, sebanyak 60 persen kreditor telah menyetujui skema tersebut.

Para kreditor itu antara lain Mitsubishi Corporation, Eurofa Capital Investment Inc, Glencore International, dan Credit Suisse.

“Kami harapkan pada kuartal III-2015 bisa langsung finalisasi kesepakatan. Dengan demikian, pelaksanaan bisa dilakukan pada kuartal akhir tahun ini,” kata Eddy, usai rapat umum pemegang saham (RUPS) Bakrie & Brothers di Jakarta, Kamis (18/6).

Eddy menegaskan, skema debt to equity swap merupakan bagian dari restrukturisasi utang grup senilai total US$ 600 juta. Pada saat yang sama, perseroan juga akan melunasi utang sebesar US$ 86,7 juta kepada Credit Suisse secara tunai. Jika berhasil, defisit ekuitas perseroan diperkirakan berubah positif hingga Rp 2-2,5 triliun.

Per September 2014, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Bakrie & Brothers tercatat sebesar 5,3 kali. Perseroan juga mengalami defisiensi modal sebesar Rp 1,9 triliun.

Eddy mengakui, skema penukaran akan mendilusi kepemilikan pemegang saham publik secara signifikan. Namun, dia yakin restrukturisasi utang bakal tetap menguntungkan seluruh shareholders.

“Meski terdilusi secara presentase, pemegang saham lama akan mendapatkan perusahaan dengan balance sheet yang sudah baik dan sehat,” tutur Eddy.

Untuk memuluskan rencana restrukturisasi, Bakrie & Brothers akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) guna meminta persetujuan. Panggilan RUPSLB akan segera diumumkan setelah proses negosiasi tuntas.

Selama kuartal I – 2015, Bakrie & Brothers membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,5 triliun atau turun 36,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,5 triliun. Perseroan juga mencatat rugi bersih sebesar Rp 303,2 miliar, dibandingkan kuartal I – 2014 yang masih mencetak laba bersih Rp 734,4 miliar.

Ekspansi
Pada 2015, Bakrie & Brothers akan multi menggarap lima proyek infrastruktur dan manufaktur. Total nilai proyek mencapai Rp 39 triliun.

Berdasarkan catatan Investor Daily, proyek infrastruktur terdiri atas pembangunan PLTU Tanjung Jati A senilai US$ 2,3 miliar (Rp 29 triliun), jalan tol Cimanggis – Cibitung senilai Rp 4,52 triliun, dan pipa gas Kalija senilai US$ 200 juta (Rp 2,5 triliun).

Sementara itu, proyek di segmen manufaktur meliputi peningkatan kapasitas produksi bahan bangunan dan komponen otomotif dengan biaya sekitar Rp 3 triliun.

Sebelumnya, Eddy pernah mengatakan, segmen infrastruktur secara khusus akan menjadi fokus perseroan tahun ini. Dirinya berharap, realisasi pembangunan tiga proyek dapat segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Penggarapan proyek-proyek ini akan dilakukan bersama mitra-mitra strategis kami. Untuk PLTU Tanjung Jati A, kami akan menggandeng partner asing. Sedangkan dalam proyek pipa, kami bekerja sama dengan PGN,” kata Eddy, baru-baru ini.

Eddy menambahkan, pihaknya juga sedang mencari investor baru untuk proyek jalan tol Cimanggis – Cibitung. Saat ini, perseroan sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan jalan tol asing maupun lokal. “Sambil mencari partner baru, pembebasan lahan untuk jalan tol juga terus dilakukan,” ujar dia.

Sesuai rencana, pembangunan konstruksi jalan tol tahap pertama akan dimulai pada awal kuartal II – 2015. Konstruksi baru bisa dilakukan setelah pembayaran ganti rugi lahan tuntas.

Kebutuhan dana ganti rugi untuk pembebasan tanah sepanjang 26 km jalan tol Cimanggis-Cibitung mencapai Rp 1,1 triliun. Jumlah tersebut dialokasikan untuk lima ruas, yakni seksi I dari Cimanggis-Trans Yogie sepanjang 3,5 km, seksi II Trans Yogie-Cikeas, seksi III dari Cikeas-Narogong sepanjang 3,5 km, seksi IV dari Narogong-Setu sepanjang 8,8 km, dan seksi V dari Setu ke Cibitung sepanjang 7,6 km.

Sementara itu, proyek infrastruktur perseroan lainnya yakni PLTU Jati A, akan memiliki kapasitas sebesar 2 x 660 megawatt (MW). Pembangkit listrik ini akan digarap oleh Bakrie & Brothers bersama dua investor asal Asia dan Eropa, dengan porsi kepemilikan masing-masing sekitar 33 persen.

Sejak akhir 2014, perseroan juga sudah memulai pengelasan pipa Kalija tahap pertama. Konstruksi pipa sepanjang 200 kilometer (km) itu akan dimulai pada April 2015, dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun ini. Menurut catatan Investor Daily, sebanyak 80 persen saham proyek Kalija dikuasai oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,245 30 (+0,7%)], sedangkan sisa 20 persen dimiliki perseroan.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/283807-keluarga-bakrie-selamatkan-utang-bnbr-rp-52-t.html

June 9, 2015

Setuju Sinarmas Akuisisi ARMS, Rothschild Mengaku “Kapok” Main Di Batubara Indonesia

Ipotnews – 8 June 2015 Investor Inggris sekaligus salah satu dari dua pendiri Asia Resource Minerals (ARMS), Nathaniel Rothschild, mengaku kapok dan tak akan lagi melakukan investasi di bisnis batubara di Indonesia. Pengakuan ini disampaikan sesaat setelah Rohtschild menerima tawaran akuisisi ARMS dari Asia Coal Energy Ventures (ACE) yang didanai Sinar Mas Group dan Argyle Street Management.

“Ini (investasi di ARMS) akan menjadi investasi pertama dan terakhir kami di sektor batubara Indonesia,” tegas Rothschild dengan suara pedas, seperti dilansir telegraph.co.uk, Senin (8/6). Maklum, sekitar setahun setelah mendirikan ARMS (dulu Bumi Plc) bersama keluarga Bakrie pada 2010, Rothschild langsung terlibat konflik dengan Bakrie, yang berujung pada hengkangnya Bakrie dari Bumi Plc dengan menarik kembali salah satu dari dua aset penting Bumi Plc, PT Bumi Resources Tbk [BUMI 67 -2 (-2,9%)].

Alhasil, aset Bumi Plc yang kemudian langsung berganti nama menjadi ARMS tinggal PT Berau Coal Energy Tbk [BRAU 0 -82 (-100,0%)], dengan kepemilikan saham lebih dari 80%. Namun, dengan terus melemahnya harga batubara global, saham ARMS tak kunjung naik di Bursa London.

Pada Maret 2015, Sinar Mas Group mengajukan tawaran akuisisi ARMS, dengan harga (7 Mei) 41 pence poundsterling per saham. Namun, penawaran ini mendapat tantangan dari Rothschild yang memiliki sekitar 17 persen saham di ARMS. Ia menawarkan kepada pemegang saham lainnya untuk melakukan refinancing di ARMS.

Lalu, pada Senin (8/6) hari ini, lewat perusahaan patungannya, ACE, Sinar Mas menaikkan harga penawaran sebesar 37% menjadi 51 pence pounsterling per saham. Artinya, dengan harga itu, nilai valuasi ARMS sebesar USD200 juta (131 juta poundsterling) dan Rothschild menerima.

“Tidak ada pikiran bahwa ini (akuisisi oleh ACE) adalah hasil yang baik bagi pemegang saham, tapi ini adalah yang terbaik secara jangka pendek mengingat kesulitan yang dialami ARMS dalam upaya pemulihan, melalui proses litigasi yang panjang dan mahal dan (dana) USD173 juta disalahgunakan oleh bekas pemegang saham pengendali dari Indonesia dan manajemen perusahaan ini,” papar Rothschild, merujuk pada perseteruannya dengan Bakrie dan tudingan adanya kecurangan.

Kesepakatan akuisisi oleg ACE, dinilai sebagai pukulan bagi Rothschild yang sebelumnya sangat percaya pada investasi batubara secara jangka panjang, sehingga ia mendirikan ARMS untuk berinvestasi dalam sumber daya alam Indonesia.

ACE sendiri didukung, selain Sinarmas Group, oleh Argyle Street Management. “ACE dan Sinarmas senang telah menerima usaha yang tidak dapat dibatalkan ini dari Yang Terhormat Nathaniel Rothschild dan NR Holdings. Kami berterima kasih kepada Mr Rothschild untuk iktikad baik dan profesionalisme dalam semua urusan kami,” papar Fuganto Widjaja, atas nama Sinarmas, menyusul persetujuan dari Rothschild atas akuisisi tersebut.(ha)

June 6, 2015

9 Tahun Lumpur Lapindo, Warga Siap Arak Ogoh-ogoh Menyerupai Aburizal Bakrie

Jumat, 29 Mei 2015 | 05:45 WIB
SURYA/SugihartoWarga mengusung patung yang ditaruh di area titik 22 Desa Siring, dekat pusat semburan lumpur Lapindo, Porong, Selasa (27/5/2014). Patung-patung ini sengaja dipasang sebagai tanda delapan tahun semburan lumpur yang tak kunjung terselesaikan, Kamis (29/5/2014).

SURABAYA, KOMPAS.com – Warga korban lumpur Lapindo akan menggelar peringatan sembilan tahun bencana lumpur Lapindo hari ini, Jumat (29/5/2015). Sejumlah kegiatan telah disiapkan untuk memperingati agenda tahunan tersebut.

Kegiatan tersebut antara lain adalah pawai ogoh-ogoh yang diarak menuju tanggul bekas Desa Siring.

“Patung ogoh-ogoh dibentuk menyerupai bos PT Lapindo, Aburizal Bakrie, yang dinilai korban lumpur sebagai orang yang paling bertanggung jawab pada bencana lumpur Sidoarjo,” kata relawan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Rere Kristanto, Kamis (28/5/2015) malam.

Patung tersebut akan diarak ratusan korban lumpur dari Pasar Porong Lama ke tanggul titik 21 bekas lokasi Desa Siring.

“Selain membawa patung, warga juga membawa poster berisi tulisan-tulisan ungkapan hati sebagai korban lumpur,” ucap Rere.

Selain itu, warga juga akan menggelar kegiatan Festival Pulang Kampung. Warga, kata Rere, akan membuat instalasi rumah, sekolah, dan tempat ibadah di lokasi kolam lumpur.

“Warga seperti bernostalgia bahwa di lokasi tersebut pernah ada kehidupan sosial. Kini hilang karena bencana lumpur,” ucap Rere.

Sementara itu, malam ini warga korban lumpur sedang melakukan doa bersama di tanggul. Doa bersama agar semua permasalahan terkait ganti rugi korban lumpur segera terselesaikan.

June 6, 2015

Belitan utang group Bakrie

Yang paling parah adalah Bakrie Telecom, sebentar lagi tinggal papan nama.

Utang Masih Membelit Bakrieland

Sabtu, 6 Juni 2015 | 18:47 WIB
KONTAN/ Daniel PrabowoRasuna Epicentrum

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) masih terbelit utang besar. Salah satu utang yang harus dituntaskan segera adalah obligasi konversi atau equity linked bonds sebesar 155 juta dollar AS yang telah jatuh tempo pada 23 Maret 2015.

Tapi hingga kini manajemen ELTY dan pemegang obligasi (bond holders) belum mencapai kesepakatan atas restrukturisasi utang itu.

Direktur Utama ELTY Ambono Januarianto bilang, pekan depan ELTY bersama bond holders melanjutkan pembahasan soal skema restrukturisasi. “Kami terikat perjanjian untuk tidak menyebutkan skema yang dimaksud,” ujar dia, Jumat (5/6/2015).

Negosiasi masih tahap penjadwalan ulang obligasi. Namun Ambono optimistis skema restrukturisasi obligasi bisa disepakati sebelum tutup tahun ini. Sebelumnya, sempat ada wacana memakai aset tanah ELTY untuk membayar utang. “Tetapi itu tak lagi menjadi opsi. Karena menentukan valuasinya tidak mudah. Jadi kami cari opsi lain,” imbuh dia.

Beban keuangan yang tinggi cukup mengkhawatirkan kinerja ELTY. Misalnya, per 31 Maret 2015, beberapa entitas anak ELTY mengalami akumulasi kerugian bersih dan defisiensi modal.

Jumlah akumulasi rugi entitas anak itu mencapai Rp 2,03 triliun dan defisiensi modal Rp 1,56 triliun. Jika ditotal, pemenuhan likuiditas ELTY yang berhubungan dengan utang bank dalam jangka panjang dan utang obligasi mencapai Rp 4,4 triliun.

Dari seluruh utang itu, utang yang jatuh tempo pada kuartal I 2015 mencapai Rp 3,75 triliun. Di saat yang sama, kas internal ELTY cuma Rp 80,2 miliar atau 2,25 persen dari utang yang jatuh tempo itu.

Ambono bilang, ELTY masih bisa melunasi utang itu dari pendapatan operasional dari proyek yang sudah berjalan. ELTY juga membuka peluang refinancing dengan pinjaman bank.

Tapi Ambono tak mengungkapkan secara pasti jumlah pinjaman yang akan dicari. “Untuk divestasi aset belum terpikirkan. Namun, jumlah kas kami sebenarnya tak sekecil itu karena ada dari operasional,” kilahnya.

Ambono juga yakin, akan mendapatkan kesepakatan baru untuk melunasi utang obligasi konversinya. Tetap ekspansi Meski dililit utang, ELTY tetap mengupayakan ekspansi bisnis untuk memperbesar pendapatan.

Maklum, per kuartal I 2015, perseroan masih menderita kerugian Rp 42,39 miliar ketimbang periode sama tahun lalu Rp 68,5 miliar. Adapun pendapatannya menurun drastis dari Rp 630,95 miliar menjadi Rp 320,2 miliar.

Namun tahun ini, ELTY mematok bisa membukukan pendapatan Rp 1,5 triliun dan laba bersih Rp 200 miliar. ELTY menyiapkan belanja modal (capex) Rp 1,1 triliun tahun ini.

Sebagian capex akan dibiayai dari pinjaman bank. Belanja modal itu untuk mendanai apartemen dengan tiga tower di Surabaya. ELTY juga akan membangun Jungle Water Wendit di Malang.

ELTY pun melanjutkan pembangunan The Jungle Waterpark & Jungle World di Sidoarjo. Di sisi lain, ELTY masih memiliki piutang dari Surat Utang Konversi (SUK) dari PT Madison Global senilai Rp 1,65 triliun.

Madison menguasai aset berupa tanah dalam pengembangan (landbank) seluas 126,32 hektare di Karawang, Cirebon dan Sawangan, serta landbank seluas 250 ha di Kalianda. “Piutang ini akan jatuh tempo pada Desember tahun ini dan akan dikonversi ke saham,” ujar Ambono.

Kelak, ELTY akan membangun properti di atas lahan Madison. Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities menilai investor sudah telanjur pesimistis ELTY bisa membayar utangnya yang menumpuk.

Melihat struktur keuangan ELTY yang semakin tak sehat, Reza masih menyarankan untuk menghindari saham ELTY. Harga ELTY masih anteng di level gocap alias Rp 50 per saham. (Narita Indrastiti, Wuwun Nafsiah)

++++

Utang Menumpuk, Bakrie Telecom Terancam Tinggal Papan Nama

SENIN, 16 MARET 2015 | 06:22 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Anak usaha Grup Bakrie yang bergerak di sektor telekomunikasi, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), mengurangi jumlah karyawan hingga 28 persen atau 400 dari 1.400 total karyawannya untuk menekan biaya operasional. Namun, analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee, menganggap langkah ini tak berdampak signifikan untuk memperkuat perusahaan. “Efisiensi untuk menurunkan beban operasional tetap tidak banyak membantu selama produktivitas rendah,” katanya kepada Tempo, Ahad malam, 15 Maret 2015.

Hans Kwee memprediksi BTEL akan sulit bertahan dalam industri telekomunikasi. Terlebih lagi jumlah utang BTEL dianggap melebihi kemampuan finansial perusahaan tersebut. “Restrukturisasi utang hanya langkah menunda, bukan menyembuhkan penyakit yang sebenarnya,” kata Hans Kwee. Menurut Hans, cara membayar utang sekaligus untuk memperkuat perusahaan adalah dengan merger atau akuisisi dengan perusahaan yang sangat kuat.

Sebabnya, kata Hans Kwee, produksi utama BTEL, yakni Esia, yang masih mengandalkan layanan suara harus segera bermigrasi ke layanan data yang membutuhkan investasi yang sangat besar. “Investasi dalam teknnologi ini tidak sanggup dikerjakan sendiri oleh BTEL lantaran butuh modal yang sangat besar. Apalagi teknologi CDMA (Code Division Multiple Acess) sudah lama ditinggalkan orang,” kata Hans Kwee.

BTEL mulai mencatatkan rugi bersih sejak 2011 dan mencatatkan ekuitas negatif sejak 2013. Pada 2011 perusahaan merugi Rp 782,7 miliar, kemudian utang kian melonjak menjadi Rp 3,13 triliun pada 2012 dan Rp 2,64 triliun pada 2013. Pada tiga bulan pertama 2014, laporan perusahaan keuangan sempat membukukan laba bersih Rp 210 miliar karena terdongkrak selisih kurs. Namun pada kuartal ketiga 2014, BTEL mencatatkna rugi bersih yang membengkak menjadi Rp 1,52 triliun.

Perusahaan juga mencatatkan defisiensi modal Rp 3,3 triliun pada triwulan III 2014. Jumlah ini melonjak dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1 triliun. Di sisi lain jumlah utang sudah melampaui nilai aset perusahaan. Nilai liabilitas BTEL per September 2014 Rp 10.940 triliun adalah 143 persen dibandingkan jumlah aset perusahaan yang hanya mencapai Rp 7,63 triliun. Mayoritas liabilitas perusahaan atau sebesar 98 persen merupakan utang jangka pendek.

Presiden Direktur Bakrie Telecom, Jastiro Abi, mengatakan pemecatan pegawai sebagai strategi perusahaan agar operasional menjadi lebih efektif. “Tapi jumlahnya tidak seberapa, tidak sampai 800 karyawan. Setengahnya dari itu juga nggak sampai,” kata dia. Menurut Jastiro, pengurangan jumlah karyawan merupakan bagian dari langkah efisiensi perusahaan agar operasional lebih efektif.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto, menambahkan, satu-satunya cara menyelamatkan BTEL dengan penyuntikan modal atau menjual BTEL. Meski BTEL memangkas jumlah karyawan dan berdasarkan persentase dinilai signifikan, tetap saja tidak akan membantu perusahaan untuk bertahan. “Opsi menjual juga sulit karena tidak ada satu investor pun yang mau masuk ke pasar telekomunikasi Indonesia yang sudah menjadi arena berdarah-darah,” kata David.

Esia yang menjadi produk utama BTEL diprediksi tidak akan sanggup bersaing sebab masih mengandallkan layanan pesan pendek (SMS) dan suara. Sementara itu, kemajuan teknologi membuat masyarakat lebih membutuhkan layanan data ketimbang suara atau pesan singkat. “Siapa sih memang yang masih betah SMS kalau ada fitur seperti wasap atau line yang lebih murah?” kata dia. Ia pesimistis ekuitas dan laba perusahaan akan terdongkrak tahun ini.

DINI PRAMITA | BC

April 25, 2015

Sinarmas gencar menadah aset Bakrie

 

Dari kontan online

Sabtu, 25 April 2015 | 10:33 WIBOleh: Adisti Dini IndreswariDibaca: 22027 kaliJAKARTA. Gencarnya aksi Grup Sinar Mas mengincar aset Grup Bakrie mencuatkan banyak tanya. Salah satunya adalah dugaan adanya motif tersembunyi atas aksi Grup Sinarmas yang terus menadah aset-aset Grup Bakrie.Kabar yang beredar di kalangan pebisnis menyebut, kedekatan Franky Oesman Widjaja, salah satu putra mahkota  taipan Eka Tjipta Widjaja dengan Nirwan Bakrie disebut-sebut menjadi alasan. Sinarmas  mencoba  membangunkan bisnis Bakrie Grup yang tengah surut.Sayang, Nirwan yang selama ini disebut-sebut sebagai otak bisnis dalam Grup Bakrie tak bisa dikonfirmasi. Tapi, jawaban datang dari Managing Director Grup Sinar Mas Soeherman Gandi Sulistiyanto. Dia menyangkal kabar tersebut. “Tidak ada hubungannya, kecuali pertimbangan bisnis,” tandas Gandi, panggilan karibnya kepada KONTAN, Jumat (24/4).Biro Riset KONTAN mencatat, aksi Sinarmas mengoleksi aset Bakrie sudah dimulai sejak tahun 2013. Kala itu, Sinar Mas melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk membeli 3 hektare (ha)  lahan di superblok Rasuna Epicentrum Jakarta milik PT Bakrieland Development Tbk. Sinarmas mengeluarkan  dana investasi  sebesar Rp 868,93 miliar untuk mendanai aksi korporasi itu. Rencananya, Sinarmas akan mendirikan apartemen di lahan tersebut. Tak puas sampai disitu. Pada tahun 2014, Sinarmas kembali mengambil alih mal Epicentrum Walk yang berada di Rasuna Epicentrum. Nilai investasi atas aksi korporasi itu Rp 297 miliar.Melalui anak usaha lain yang bergerak di bisnis perkebunan, yakni Golden Agri Resources Ltd, perusahaan ini menadah dua aset lahan sawit seluas 16.000 hektare milik PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk senilai US$ 178 juta.Pada akhir tahun 2014 lalu, PT Smarfren Telecom, perusahaan telekomunikasi yang dimiliki Sinarmas juga telah merangsek masuk ke Bakrie Telecom, dengan kerjasama pemakaian jaringan.Sinarmas juga agresif memborong saham Grup MNC yang mengempit aset eks Bakrie. Belum lama ini, lewat Argyle Street Management Limited (ASML) Sinarmas membeli 5% saham PT MNC Land Tbk (KPIG). Dan, portofolio MNC Land adalah lahan eks Bakrie antara Lido Resort, jalan ton dan Bali Nirwana Resort.Yang terakhir, konglomerasi yang dibangun taipan Eka Tjipta itu ingin menguasai PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), salah satu tentakel bisnis Bakrie di pertambangan batubara. Lewat ASML, Sinarmas menawar 100% saham Asia Resource Minerals Plc (ARMS), induk usaha BRAU. Saat ini, ASML mengempit 11,1 juta, setara 4,65% saham ARMS yang tercatat di Bursa Efek London.Adapun, pengendali saham ARMS adalah Samin Tan yang menguasai 47,6% saham ARMS, yaitu 23,8% melalui PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) dan 23,8% melalui Ravenwood.ASML menawar saham ARMS seharga 41 pence per saham. Perusahaan ini juga berjanji menyuntikkan dana segar US$ 150 juta ke ARMS sebagai salah satu alternatif restrukturisasi utangnya. Asal tahu saja, BRAU memiliki utang senilai US$ 950 juta yang jatuh tempo tahun ini dan tahun 2017.Namun, niat ASML tersebut bisa jadi tak mulus karena Nathaniel Rothschild  juga berambisi menguasai saham mayoritas ARMS. Saat ini Rothschild menggenggam 17,5% saham ARMS.Editor : Hendra Gunawan 

April 2, 2015

Rugi Bakrie Telecom Bertambah 7,6% Jadi Rp 2,8 Triliun

Angga Aliya – detikfinance
Kamis, 02/04/2015 19:34 WIB
Rugi Bakrie Telecom Bertambah 7,6% Jadi Rp 2,8 Triliun
Jakarta -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih mencatat rugi di 2014, yaitu sebesar Rp 2,8 triliun. Rugi ini bertambah 7,6% dibandingkan posisi 2013 yang hanya Rp 2,6 triliun.

Seperti dikutip dari laporan keuangan tahun buku 2014, Kamis (2/4/2015), pendapatan perusahaan telekomunikasi Grup Bakrie ini berkurang drastis, dari tahun 2013 sebanyak Rp 2 triliun menjadi hanya Rp 1,1 triliun di akhir tahun lalu.

Pada saat omzet turun, beban usaha perusahaan justru naik menjad Rp 2,1 triliun dari sebelumnya hanya Rp 2 triliun.

Akibatnya, perusahaan yang dipimpin Direktur Utama Jastiro Abi itu langsung mencatat rugi usaha hingga Rp 947,5 miliar di 2014. Pada 2013, Bakrie Telecom masih mencatat laba usaha Rp 3,6 triliun.

Beban kuangan BTEL tercatat naik di 2014, untungnya bisa diimbangi dengan adanya merger Smartfren yang dicatat sebagai penghasilan lain-lain di pos kerjasama penggabungan usaha sebesar Rp 591 miliar.

Merger tersebut hanya menahan kerugian Bakrie Telecom menjadi tidak terlalu dalam. Namun tetap saja perseroan akhirnya membukukan rugi bersih Rp 2,8 triliun di 2014 dari sebelumnya Rp 2,6 triliun.

Anak usaha Grup Bakrie itu sudah berniat melakukan berbagai penghematan untuk mengembalikan kinerja ke jalur positif. Salah satu caranya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

April 2, 2015

Nasib nasabah Bakrie Life yang tak kunjung dibayar

Group usaha kelompok pribumi ini memang paling brutal di antara konglomerat. Group Bakrie sudah biasa “nipu” atau membohongi mulai dari kaum  Investor ( contohRothshield), bankir lokal,  pemerintah Daerah, nasabah (asuransi Bakrie Life ) sampai warga Lapindo.. semua mereka sikat !!!

Tidak kebayang jika pasangan Mister Aboerizal Bakrie jadi RI 1 , mungkin Indonesia yang akan dia jual mulai dari isi sampai dengan penguhuninya..

Curhatan Nasabah Bakrie Life yang Uangnya Tak Kunjung Dibayar

Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Kamis, 02/04/2015 14:52 WIB
Halaman 1 dari 2
Curhatan Nasabah Bakrie Life yang Uangnya Tak Kunjung Dibayar
Jakarta -Sedikitnya 250 orang nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) dibuat terombang-ambing atas janji pengembalian uang yang tak kunjung dibayar sekitar Rp 207,5 miliar.

Salah satu nasabah bernama Joseph mengaku sudah mengikuti segala kemauan Bakrie Life agar uangnya bisa kembali.

Awalnya, Joseph menyebutkan, total utang Bakrie Life senilai total Rp 360 miliar. Saat itu, Bakrie Life meminta keringanan pembayaran dengan cara dicicil. Para nasabah pun menyetujuinya.

“Selama ini nasabah selalu nurut apa yang diminta Bakrie Life, dari 2008 mereka minta, bayar uangnya dicicil selama 2 tahun, nah kita jabanin, okelah dicicil asal dibayar,” jelas dia di Jakarta, Kamis (2/4/2015).

Permintaan Bakrie Life tak sampai di situ, Joseph menyebutkan, pihak Bakrie Life juga meminta diskon pembayaran utang-utangnya sebesar 30%. Daripada tak dibayar, Joseph bersama rekan lainnya pun menyepakati permintaan Bakrie Life.

“Terus terakhir dia minta pembayarannya di diskon 30%, itu kita ikuti juga, daripada nggak dibayar ya masih mending didiskon,” katanya.

Joseph menyebutkan, saat ini total utang Bakrie Life kurang lebih tinggal Rp 207,5 miliar setelah sebelumnya Bakrie Life membayarnya dengan cicilan

“Awalnya uang kita itu totalnya Rp 360 miliar, terus dibayar (dicicil) Rp 90 miliar, sisanya tinggal Rp 270 miliar, nah yang Rp 270 miliar ini, Bakrie minta didiskon 30%, dari angka diskon itu baru dibayar Rp 62,5 miliar, berarti sisanya sekitar Rp 207,5 miliar,” papar dia.

Joseph bercerita, dirinya mulai membeli asuransi Diamond Investa milik Bakrie Life di sekitar tahun 2004-2005. Saat itu, transaksi masih lancar.

Bahkan, saat itu Bakrie Life dalam 2 tahun berturut-turut masuk perusahaan asuransi jiwa terbaik, itu sebelum krisis 2008.

“Setelah krisis tahun 2008, mereka udah nggak bisa bayar lagi, alasan mereka karena krisis global,” ucap dia.

Joseph mengungkapkan, yang penting saat ini adalah kepastian Bakrie Life membayar utang-utangnya.

“Sekarang nasabah mau uang kembali secara penuh. Nggak mau lagi ada diskon. Kita minta kepastian kapan dibayar. Nasabah asuransi itu umumnya butuh perlindungan, mereka bukan orang kaya, beli asuransi itu untuk jaminan masa tua. Kita ingin kepastian hukum dan jaminan negara ke nasabah,” pungkasnya.

December 24, 2014

Epiwalk Milik Bakrie Menunggak Pajak Rp 8,8 M

Nunggak utang dan pajak sudah jadi gaya hidup Bakrie..   Mulai dari warga Sidoarjo sampai Investor kelas Kakap di London sudah merasakan pahitnya berurusan dengan usaha Keluarga Bakrie.

Sebuah instalasi seni dpajang di depan pintu masuk acara Indonesia Creative Power di Epiwalk, Kuningan, Jakarta, Rabu (21/11). TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Mal Epicentrum Walk (Epiwalk) di Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, dilaporkan menunggak pajak bumi dan bangunan sebesar Rp 8,8 miliar. Kepala Unit Pelayanan Pajak Daerah (UPPD) Kecamatan Setiabudi, Fadluddin, mengatakan Epiwalk Bakrie menunggak pajak pada 2013 dan 2014.

“Kami sudah lakukan langkah persuasif. Karena belum ada respons, kami pasangi papan penunggak pajak,” kata dia kepadaTempo, Selasa, 23 Desember 2014. (Baca juga: Banding Ditolak, Grup Asian Agri Harus Setor Pajak)

Petugas sempat memasang papan penunggak pajak di bangunan milik PT Bakrie Swasakti Utama itu. Fadluddin mengatakan pemasangan papan penunggak pajak dilakukan pada pukul 10.00 WIB. Namun satu jam kemudian, kata Fadludin, pengelola Epiwalk datang dan membayar tagihan pajaknya.

Menurut Fadludin, pemasangan papan tersebut dilakukan sebagaishock therapy bagi para penunggak pajak. “Agar mereka segera sadar untuk membayar pajak,” ujarnya. Fadluddin mengatakan pengelola Epiwalk sudah membayar Rp 2,8 miliar. Sisa tunggakan pajak senilai Rp 6 miliar, kata dia, akan dibayarkan sampai akhir tahun. (Baca juga: Ini Modus Utama Pengemplang Pajak)

Selain Epiwalk, petugas memasang papan penunggak pajak di dua bangunan lain di Kecamatan Setiabudi. Satu papan dipasang di bangunan milik PT Windu Eka di Jalan Karet Sawah Ujung Nomor 81, Karet Semanggi, dengan tagihan Rp 1,29 miliar. Pengelola gedung itu menunggak pajak sejak 2005. Satu papan lagi dipasang di sebuah tanah kosong di Jalan Gembira, Kelurahan Guntur, milik PT Irco Central. Perusahaan itu menunggak pajak sejak 1995 dengan tagihan Rp 9,6 miliar.

NINIS CHAIRUNNISA

December 22, 2014

Kasus Lapindo, Duit Negara Rp 10 T, Ical Rp 3,8 T

JUM’AT, 19 DESEMBER 2014 | 20:00 WIB

Kondisi tanggul lumpur Lapindo yang sedang di bangun di titik 73B desa kedungbendo, Porong, Sidoarjo, 17 Desember 2014. Pembangunan tanggul baru untuk menampung luberan lumpur sepanjang 1.5 kilometer dan tinggi 5 meter. TEMPO/Fully Syafi

Berita Terkait
JK Klaim Pemerintah Untung Sita Aset Lapindo
Jokowi Bantu Lapindo, Ruhut: Ical Harus Tahu Diri
Kasus Lumpur Lapindo, Desmond: Jokowi Sandera Ical
BPLS Akan Bagikan Ganti Rugi Korban Lapindo
Jokowi Talangi Lapindo, Soekarwo: Saya Lega Sekali
Grafis Terkait

Adu Populer Kandidat
Foto Terkait

Pemasangan Pipa Separator untuk Mengalirkan Lumpur Lapindo
Video Terkait

Cover Tempo : Mendongkrak Citra Aburizal
Topik
#Lumpur Lapindo
#Wakil Presiden RI
#Aburizal Bakrie | ARB | Ical
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Presiden Joko WIdodo alias Jokowi merumuskan solusi untuk penanganan sisa dana talangan bagi masyarakat yang terkena dampak lumpur Lapindo–perusahaan yang dimiliki keluarga Abrurizal Bakrie–di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Namun ini terjadi setelah pemerintah menggelontorkan dana yang sangat mahal, yaitu sekitar Rp 9,53 triliun.

Dana ini untuk membiayai kegiatan operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo dalam melokalisasi dampak semburan lumpur perusahaan Ical tersebut. (Baca: BPLS Akan Bagikan Ganti Rugi Korban Lapindo)

BPLS ini bertugas menangani dampak semburan lumpur, dari membangun tanggul, mengalirkan lumpur ke Kali Porong lalu ke laut di Selat Madura, hingga menangani endapan lumpur di wilayah muara sungai.

Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), pemerintah akan menalangi sisa dana kompensasi sekitar Rp 781 miliar. Menurut JK, ini merupakan pelaksanaan dari putusan Mahkamah Konstitusi pada awal tahun ini. (Baca: Kasus Lumpur Lapindo, Desmond: Jokowi Sandera Ical)

“Kalau lumpur itu berhenti, dan pasti berhenti, nilainya akan triliunan rupiah,” kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jumat, 19 Desember 2014.

Menurut Kalla, pemerintah akan mendapatkan ganti rugi dari dana talangan yang dibayarkan ini. Lapindo akan membayar dana ini kembali dalam empat tahun.

Jika tidak bisa dilakukan, pemerintah akan menjual aset perusahaan termasuk lokasi rumah penduduk yang telah dibayarkan dana kompensasinya karena terkena semburan lumpur. (Baca: Lapindo Ditalangi, Ruhut: Ical Harus Tahu Diri)

Bila rencana pemerintahan Jokowi itu dilakukan, berarti negara menggelontorkan Rp 9,53 triliun ditambah Rp 781 miliar, atau totalnya Rp 10,311 triliun. Sedangkan manajemen Lapindo yang dimiliki keluarga Aburizal Bakrie alias Ical menyatakan perusahaannya telah menggelontorkan dana sekitar Rp 3,8 triliun. Dana itu digunakan sebagai kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak semburan lumpur ini. Masih ada sisa Rp 781 miliar yang belum dibayarkan manajemen kepada masyarakat, atau mencapai 20 persen.

Menurut Gubernur Jawa Timur Soekarwo, pemerintah akan membayarkan dana Rp 781 miliar ini kepada Lapindo. Manajemen Lapindo lalu membayarkan dana ini kepada masyarakat yang belum menerima haknya.

December 7, 2014

Analis: Saham ‘Gocap’ Bakrie Gara-gara Nama Ical  

TEMPO.CO, Jakarta – Senior analis dari LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan nama Aburizal Bakrie masih mempengaruhi harga saham perusahaan yang ia miliki. “Nama besar Bakrie berpengaruh 20 persen,” katanya saat dihubungi, Kamis, 4 Desember 2014. (Baca: Awas, Saham Bumi Bisa Masuk Kelompok Gocap)

Faktor lainnya adalah pengaruh kinerja perusahaan. Lucky mengatakan, selama tiga tahun terakhir, saham Bakrie Group sudah tak bergerak dari harga Rp 50 per lembar. (Baca: Gagal Bayar, Saham Bumi Dihindari Investor)

Padahal, kata dia, yang diminati oleh pelaku pasar adalah margin dan dividen yang menarik. Bakrie Group tak mampu menawarkan keduanya. “Jadi tak ada yang bisa diharapkan,” ujarnya.

Saham gocap merupakan istilah yang biasa digunakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk saham yang nilainya Rp 50 per lembar. Saham ini biasanya sudah tidak likuid dan jarang sekali bergerak.

Sejumlah perusahaan yang bernaung di bawah bendera Bakrie Group sudah masuk dalam kategori saham gocap ini, di antaranya Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), Darma Henwa (DEWA), Bakrieland Development (ELTY), dan Bakrie Brothers (BNBR). Bukan tak mungkin, menurut Lucky, saham perusahaan pertambangan Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk, juga masuk dalam kategori saham gocap.

Saat ini Bumi Resources sedang dililit utang dalam jumlah jumbo. Hingga September 2014, jumlah utangnya mencapai US$ 3,73 miliar atau sekitar Rp 44,77 triliun. Utang terbesar berasal dari Country Forest Limited Facility sebesar US$ 1,03 miliar, yang merupakan lembaga keuangan milik China Investment Corporation (CIC).

Direktur Keuangan BUMI Andrew Christopher Beckham mengatakan, pada awalnya, utang kepada CIC mencapai US$ 1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12 persen. Namun, pada tahun 2013 dan 2014, perseroan telah membayar ‎masing-masing US$ 600 juta. “Tahun depan akan dibayar US$ 700 juta,” kata Andrew saat konferensi pers di Jakarta, Rabu, 26 November 2014.

Jabat Ketum Golkar, Bakrie Tak Akan Mampu Dongkrak Saham Grup

Antara

Ipotnews – Jabatan Ketua Umum Partai Golkar yang kembali dipegang Abu Rizal Bakrie untuk periode 2014-2019 diyakini tidak akan mampu meningkatkan harga saham grup Bakrie yang selama ini terpuruk akibat sentimen utang dan lemahnya kinerja bisnis perusahaan. Pasalnya, secara umum, sudah tak ada optimisme lagi pada pelaku pasar terhadap saham-saham grup Bakrie.

Hal tersebut seperti dikatakan Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/12). “Memang tidak ada kaitan secara langsung jabatan ketua umum Golkar dengan saham-saham grup Bakrie,” ujarnya.

Namun demikian, kata dia, setidaknya ada sejumlah kalangan yang mengekspektasikan bahwa jabatan Ketua Umum Golkar yang kembali dipegang Abu Rizal Bakrie akan memberi sentimen positif bagi saham-saham grup Bakrie.

“Tetapi secara umum, sudah tidak ada optimisme lagi bagi para pelaku pasar terhadap saham-saham Bakrie. Usianya (Abu Rizal Bakrie) sudah 68 tahun, seharusnya bisnis diberikan kepada generasi berikutnya,” tutur Haryajid.

Dia mengatakan, langkah awal yang paling tepat untuk mendongkrak seluruh saham grup Bakrie adalah memperbaiki kinerja saham PT Bumi Resources Tbk. “Sekarang ini saham BUMI begitu jelek. Kondisi ini sangat riskan bagi saham-saham Bakrie yang lain,” ujarnya.

Menurut Haryajid, selama ini saham [BUMI 78 0 (+0,0%)] menjadi indikator bagi pergerakan saham-saham Bakrie yang lain. “BUMI menjadi motor penggerak saham-saham Bakrie. Kalau motornya sudah jelek, maka yang lain akan ikut jelek,” ungkap Haryajid.

Lebih lanjut dia menyatakan, saham BUMI akan terdorong ke atas apabila manajemen perusahaan mampu melakukan aksi korporasi yang bisa menciptakan sentimen positif bagi para pelaku pasar. “Bukan hanya restrukturisasi utang. Kalau perusahaan tetap ada intervensi dari luar, maka tetap saja (saham) sulit naik,” ujarnya.

Apabila tata kelola perusahaan yang buruk tersebut terus berlanjut, maka kata Haryajid, sudah bisa dipastikan investor akan bergeser ke perusahaan yang memiliki prospek lebih baik. “Investor akan memilih perusahaan yang utangnya tidak terlalu besar, agar bisa dapat dividen,” tegas Haryajid.

Kalau pun BUMI mengubah struktur manajemen perusahaan, ujar dia, diyakini harga saham tidak akan menanjak signifikan. “Sehebat apa pun manajemennya, kalau orang di belakangnya tetap sama, maka saham tetap susah bergerak. Jadi, BUMI perlu ada perubahan plan yang matang,” katanya.

(Budi)

+++++++++++++++

Jumat, 05/12/2014 14:15 WIB

Minarak Lapindo Jaya: Keluarga Bakrie Tak Sanggup Bayar Ganti Rugi Lumpur Lapindo

Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Jakarta – Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto meminta agar grup perusahaan Bakrie segera menuntaskan kewajibannya membayar ganti rugi pada warga korban lumpur lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun menurut Direktur Utama PT Minarak Lapindo Jaya Andi Darusalam Tabusala, sebagai perwakilan grup Bakrie, kondisi keuangan perusahaan keluarga Bakrie tidak memungkinkan melakukan pembayaran.

“Kami akan patuhi putusan pemerintah, opsi apa pun itu, kami tunggu Perpres dari Presiden Jokowi, tapi kalau disuruh bayar sekarang, harus kita akui bahwa kami tidak sanggup sekarang, melihat situasi perdagangan keluarga Bakrie, bukan rahasia kalau Grup Bakrie sekarang mencoba bangkit kembali,” ujar ADS dalam keterangan pers-nya di warkop Olala, jalan Boulevard, Makassar, jumat (5/12).

Pria yang akrab disapa ADS ini, menantikan keluarnya Peraturan Presiden terkait penanganan lumpur Lapindo. ADS menambahkan, bahwa pihaknya sejak 8 tahun terakhir telah membayar sekitar 10.000 lembar sertifikat tanah warga, hingga tersisa saat ini 3127 berkas yang nilainya Rp 781 Milyar. ADS menyebutkan bahwa pihaknya terakhir membayar warga korban lumpur pada April 2013 silam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers