Archive for ‘BUMN news’

February 6, 2016

Belasan Petinggi BUMN Akan Diganti

Yang pasti puluhan orang partai dan para penjilat Jokowi lagi banyak beribadah atau ke dukun untuk mendapatkan posisi yang menggiurkan ini

Koran Tempo
SABTU, 06 FEBRUARI 2016

JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara akan mengganti 18 komisaris dan direksi perusahaan negara karena memasuki masa pensiun. “Ada tujuh direksi dan 11 komisaris yang akan diganti,” kata Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, di Jakarta, kemarin.

Menurut Wahyu, masa jabatan ketujuh direksi tersebut akan habis dalam kurun Januari-Maret 2016. Adapun 11 komisaris akan pensiun pada Januari-Juni 2016. Wahyu tak merinci petinggi BUMN mana saja yang akan memasuki masa purna tugas. “Berasal dari BUMN sektor perbankan, minyak dan gas, agro, serta farmasi,” ujarnya.

Ketua Komisi VI DPR yang membidangi BUMN, Achmad Hafisz Tohir, meminta agar rekam jejak para calon petinggi BUMN dipublikasikan, termasuk kepada Dewan. Bahkan, usul tersebut akan dimasukkan dalam wacana revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang BUMN yang akan diajukan oleh DPR. Ia menolak anggapan bahwa usul tersebut merupakan bentuk intervensi DPR.

“Harus ada keterbukaan. BUMN ini kan mengelola aset negara hingga Rp 4.500 triliun. Kami hanya ingin mengawasi dan memastikan bahwa perusahaan negara dikelola orang yang tepat,” ujar Achmad.

Hafisz mengatakan revisi Undang-Undang BUMN tak cuma meminta perubahan dalam hal pengangkatan petinggi, tapi juga beberapa poin usul lain. Misalnya, soal pembentukan induk usaha (holding), penggabungan usaha (merger), penawaran perdana saham kepada publik (IPO), serta aturan soal penugasan negara.

Menanggapi permintaan DPR, Wahyu tak banyak berkomentar. Saat ini kementerian masih berpatokan pada Peraturan Menteri BUMN Nomor Pe-02/MBU/02/2015. Ketentuan tersebut mengatur persyaratan dan tata cara pengangkatan anggota Dewan Komisaris dan Dewan Direksi BUMN.

“Peraturan tetap pada Permen 02. Kalau penggantinya dari lingkup internal, kami minta dari dewan komisaris. Tapi kalau dari luar, rekomendasinya dari dewan teknis atau menteri langsung.”

Dalam ketentuan itu, seorang pejabat tidak bisa menduduki lagi bidang yang sama setelah menjabat selama dua periode. “Jadi, seperti Direksi Bank Mandiri, itu tidak bisa diangkat lagi karena sudah dua periode,” kata Wahyu. FAIZ NASHRILLAH | DESTRIANITA KUSUMASTUT

January 31, 2016

Proyek Pesawat N219 Libatkan Industri Lokal

Koran Tempo
SABTU, 30 JANUARI 2016

 Proyek Pesawat N219 Libatkan Industri Lokal

BANDUNG – Kepala Divisi Rekayasa Manufaktur Direktorat Produksi PT Dirgantara Indonesia, Mukhamad Robiawan, mengatakan pembuatan pesawat N219 melibatkan industri lokal untuk memasok alat bantu manufaktur. “Kurang-lebih ada 60 persen assembly jig yang dibuat oleh industri lokal,” kata dia, di Bandung, kemarin.

Robiawan mengatakan PT Dirgantara menyisihkan sekitar US$ 5 juta untuk investasi pembuatan alat pendukung produksi massal pesawat N219. Nilai kontrak masing-masing pembuatan assembly jig itu mencapai Rp 200-400 juta. Industri manufaktur permesinan yang digandeng adalah industri pemasok jig kendaraan roda empat. Saat ini, dari 20 industri lokal yang dilibatkan dalam program N219, baru 12 perusahaan yang dinyatakan mampu memasok pembuatan tools dan jig pesawat.

Alat bantu tersebut akan digunakan untuk memproduksi pesawat N219. PT Dirgantara menargetkan pesawat N219 bisa berproduksi massal mulai tahun depan dengan kapasitas perdana tiga pesawat per tahun. “Semua yang dibuat ini sudah dirancang untuk diproduksi massal, maksimum 24 set (pesawat) per tahun. Dalam sebulan dua pesawat,” kata Robiawan.

Menurut Robiawan, pembuatan tools jig dan serta tools untuk produksi komponen kecil pesawat sudah lama dirintis dengan menggandeng industri lokal. Sedikitnya ada tiga program pesawat PT Dirgantara yang melibatkan industri manufaktur lokal, yakni program helikopter MK2 Eurocopter untuk beberapa tools sederhana, disusul program N295 dengan kapasitas lebih besar, yakni 50 persen tools, serta terakhir N219.

PT TEHA, perusahaan manufaktur di Bandung yang sudah berdiri sejak 1921, termasuk salah satu perusahaan yang menggarap assembly jig pesawat N219. “Kami mendapat kontrak pembuatan jig wing salah satunya. Ini jig yang paling besar,” kata engineer PT TEHA, Dedi Wahyudi, di kompleks PT Dirgantara Indonesia di Bandung, kemarin.

Menurut Dedi, PT TEHA telah menggarap jig pesawat sejak 2013. Perusahaan ini berinisiatif melamar ke PT Dirgantara, dan setelah mendapat persetujuan menerima bimbingan khusus pembuatan alat bantu perakitan pesawat.

Ada sejumlah mesin baru yang harus dibeli perusahaan itu agar bisa menggarap pembuatan jig pesawat. “Pada 2013, kami sempat membuat jig dan tools untuk pesawat N295,” kata dia. AHMAD FIKRI

January 29, 2016

Peringatan! BUMN Berpendapatan Di Bawah Rp1 Triliun Bakal Dilebur

Ipotnews – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki pendapatan di bawah Rp1 triliun diindikasikan akan dilebur dengan badan usaha “pelat merah” lain yang sejenis dan lebih kuat.

“Kami tengah mempertimbangkan untuk membuat ketentuan terkait pendapatan yang harus didapatkan oleh perusahaan `pelat merah`, dengan minimal pendapatan yang harus diraih sebesar Rp1 triliun per tahun,” kata Deputi Menteri BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno, di Subang, Kamis (28/1).

Menurut Harry, jika pendapatan yang diraih sebuah BUMN kurang dari Rp1 triliun, perusahaan tersebut dinilai tidak efisien dan kurang sehat, sehingga perlu dipertimbangkan untuk dilakukan peleburan.

“Jika kurang dari itu menjadi tidak efisien, artinya harus digabungkan dengan yang lain. Malah kalau yang sudah tidak punya masa depan, sudah bukan BUMN lagi,” ujar dia.

Harry menjelaskan sebenarnya ide peleburan tersebut bukan berasal dari Kementerian BUMN, tetapi terlontar dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menginginkan BUMN ke depan harus tumbuh besar, kuat dan sehat.

“Ini sebenarnya bukan kami yang buat, itu dari Pak Jokowi, supaya BUMN itu besar, kuat dan lincah, oleh karena itu ada trace hold minimal Rp1 trilliun,” paparnya.

Lebih lanjut, Harry mengatakan saat ini BUMN di bawah kedeputiannya yang terindikasi tidak sehat dan perlu dipertimbangkan untuk dilebur dengan BUMN lain jumlahnya mencapai delapan BUMN. Namun dia enggan merinci kedelapan BUMN tersebut.

“Kalau di kedeputian saya ada delapan, untuk siapanya, nanti saja. Sedangkan untuk peleburan, tergantung komite eksekutif mau bagaimana,” tutur dia. (Ant/ef)

January 29, 2016

Pemerintah Kaji Pembangunan Kawasan Industri Kedirgantaraan  

28 Januari 2016

Perakitan pesawat di PT DI (photo : Detik)

Pemerintah Kaji Pembangunan Kawasan Industri Pesawat Terbang

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengkaji rencana pembangunan kawasan industri khusus kedirgantaraan. Hal ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan industri pesawat terbang di dalam negeri.

“Kemenperin sedang berupaya membuat kajian terhadap peluang terbentuknya kawasan industri kedirgantaraan yang diharapkan dapat diwujudkan di Kawasan Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Selain soal kawasan industri, saat ini Kemenperin juga tengah mengkaji pembentukan Aerospace Design Center di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai sarana pusat desain pesawat udara dan komponennya.

Putu mengatakan, kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan Kemenperin selama ini dalam upaya mendukung pengembangan industri pesawat udara nasional, di antaranya yaitu mengidentifikasi industri nasional yang memiliki potensi sebagai industri komponen pesawat udara serta melaksanakan bimbingan teknis kepada industri komponen agar memiliki kompetensi dan standar dalam pembuatan komponen-komponen pesawat.

“Hingga saat ini, beberapa bimbingan teknis yang dilaksanakan antara lain bimtek rubber seal, interior, komponen metal, tools dan jig, standar mutu komponen pesawat, ban vulkanisir pesawat serta workshop pembuatan main dan nose landing gear untuk pesawat N219,” kata dia.

Kemenperin Fasilitasi Sinergi Industri Komponen Pesawat

Selanjutnya, Kemenperin telah memfasilitasi sinergi antara industri komponen nasional yang berpotensi membuat komponen pesawat udara dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Regio Aviasi Industri (RAI).

Program ini mendorong industri nasional terlibat dalam pembuatan komponen pesawat N219, N245, N270, NC 212, CN 235, R-80, Helikopter dan lain-lain.

“Saat ini telah terfasilitasi konsorsium industri dalam pembuatan main dan nose landing gear serta konsorsium pembuatan windshield pada Pesawat N219. Hal ini sebagai upaya dalam mewujudkan target TKDN pada pesawat N219 sebesar 60 persen,” jelas dia.

Sementara dari sisi industri komponen, Kemenperin juga tengah memfasilitasi komponen pesawat udara nasional untuk mendapatkan sertifikasi baik dari dalam maupun luar negeri, melakukan monitoring konsorsium pengembangan komponen pesawat N219, melakukan sosialisasi keunggulan pesawat N219 ke pemerintah propinsi, serta membangun kerjasama luar negeri untuk mengembangkan kapasitas industri komponen pesawat udara nasional.

Seperti diketahui, saat ini, pemerintah sedang membangun purwarupa pesawat N-219 yang pelaksanaan roll out-nya telah dilaksanakan pada 10 Desember 2015 dan pada Mei 2016 akan dilaksanakan first flight.

Program pengembangan selanjutnya, pemerintah akan mengembangkan pesawat N245 dengan kapasitas 50 orang, N270 dengan kapasitas 70 orang, serta pesawat tempur Ifx.

“Pemerintah juga mendukung pengembangan Pesawat R-80 yang saat ini dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri,” kata Putu.

Pengembangan pesawat-pesawat tersebut diharapkan akan menjadi sarana dalam membangun konektivitas antar daerah terutama pada daerah-daerah terpencil, dan yang lebih penting lagi adalah sebagai penggerak tumbuhnya industri komponen di dalam negeri, karena pesawat tersebut ditargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dapat mencapai lebih dari 60 persen.

Hal ini memberikan peluang yang sangat besar bagi tumbuhnya industri komponen atau pendukung pesawat udara nasional serta membuka peluang investasi dan penyerapan tenaga kerja.

“Selain itu, Kementerian Pertahanan bersama dengan PT Dirgantara Indonesia sedang mengembangkan pesawat tempur IF-X. Diharapkan pada  2026 sudah dapat diproduksi masal,” tandas dia.

(Liputan6)

January 29, 2016

Indonesia Tawarkan Pesawat Terbang N219 untuk Laos

29 Januari 2016

Pesawat angkut N219 (photo : PKSNews)

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia dan Laos bersepakat untuk terus meningkatkan hubungan kerja sama di bidang transportasi.

Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah menyampaikan tawaran produk pesawat terbang N219 Light Transport Aircraft buatan PT Dirgantara Indonesia.

Tawaran tersebut disampaikan ketika Menlu melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Laos Thoungloun Sisoulith di Vientiane, 27/1/2016.

“Pesawat ini berkapasitas 19 penumpang dan dinilai sesuai dengan geografis Laos. Kontak awal telah dilakukan melalui Kementerian Transportasi dan Lao Airlines,” ujar juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir, di kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis (28/1/2016).

Menurut Arrmanatha, saat ini Laos masih mempelajari lebih lanjut mengenai tawaran yang diajukan. Ia pun masih belum memastikan berapa unit pesawat yang nanti akan dibeli oleh Laos.

“Ini baru upaya, Laos masih mempelajari lebih lanjut. Sudah ada beberapa negara ASEAN yang telah membeli pesawat dari Indonesia. Saya harap mereka beli yang banyak,” ujarnya.

Dalam pertemuan bilateral tersebut Menlu Retno juga menyampaikan masukan terkait kerja sama maritim dalam bentuk pengembangan penanganan penangkapan ikan secara ilegal, pelaksanaan kerja sama maritim dalam konteks EAS.

Selain itu dibahas juga kerja sama mengenai pembentukan instrumen hukum untuk perlindungan hak buruh migran, penanggulangan terorisme, radikalisme dan ektremisme.

Selain membahas upaya peningkatan kerja sama bilateral, pertemuan itu juga digunakan Menlu Retno untuk menyampaikan dukungan penuh Indonesia terhadap keketuaan Laos di ASEAN.

(Kompas)

January 27, 2016

KAI and PT Dirgantara Indonesia to Develop Passenger Jets

Korean Times 26 Januari 2016

KAI and PT DI to develop passenger jets (photo : wkrg)

KAI to develop passenger plane

Korea Aerospace Industries (KAI) has launched a project to develop passenger jets, a market that has long been dominated by Boeing and Airbus, sources said Wednesday.

“We are seeking to make a foray into the commercial airplane market through a joint project with an Indonesian defense firm,” a KAI official told The Korea Times.

The move comes at a time when Boeing and Airbus face challenges from China, which recently unveiled a commercial airliner.

Beijing’s state-owned Commercial Aircraft of China, or Comac, delivered its first of 30 ARJ21 passenger aircraft to Chengdu Airlines in late November.

Comac is also pushing to develop a larger jetliner, the C919, with targets efficiency levels comparable with those of the Airbus A320neo and Boeing 737 MAX, according to local media. A prototype of the 158-to-174 seater was unveiled in early November.

In order to join the race, KAI signed a Strategic Cooperation Agreement (SCA) with Indonesia’s state-run PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Dec. 4, the company said.

KAI KC-100 Naraon (photo : KAI)

Under the deal, the two companies will strengthen collaboration in the defense aviation industry, but also work toward making commercial airplanes.

The Indonesian company is already participating in Korea’s domestic KF-X fighter jet development project.

PTDI has experience in developing its own 50-seater N-250 and the 100-seater N-2130 civil aircraft in the 1990s, while KAI has successfully developed military aircraft such as the T-50 supersonic trainer and the FA-50 light-combat aircraft.

“It will be a win-win for both parties, as each can help the other in their respective areas of technological superiority,” said the official.

He noted that the two companies plan to meet twice a year to discuss their cooperation in the development of a civilian jetliner and other aircraft including drones.

“The first meeting will take place within the first half of this year,” he said.

PT DI N-250 (photo : Kaskus Militer)

He added that the feasibility study to figure out potential demand for civilian aircraft will also take place, saying, “Securing demand in the domestic markets of both Korea and Indonesia is our preliminary goal.”

From 2008 to 2013, KAI developed the four-seat, low-wing, single-engine KC-100 Naraon that was marked as the nation’s first passenger plane. The Naraon is expected to enter service this year.

KAI President and CEO Ha Sung-yong said last year that taking the commercialization of Naraon as an opportunity, KAI will make efforts to attain its ambition to develop and produce a 100-seater passenger plane.

The move apparently comes because sales of civilian aircraft account for almost 80 percent of the world aviation market, so there is a limit to focusing only on the defense aviation industry.

January 26, 2016

PTDI Tawarkan Varian Baru Heli Super Puma ke Polri  

cocok buat operasi menangkap Santoso cs
Detik 26 Januari 2016

Super Puma AS332C1e (photo : Airbus Helicopters)

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (Persero) menawarkan helikopter kepada Kepolisian Indonesia. PTDI bermaksud menawarkan helikopter varian terbaru jenis Super Puma AS332C1e. Untuk perakitan dan penjualan ini, PTDI bekerjasama dengan Airbus Helicopters.

“Tanggal 19 Januari 2016 Direktur Utama PTDI, Budi Santoso telah berkesempatan memaparkan produk alat material khusus (almatsus) yang dihasilkan oleh PTDI untuk memenuhi kebutuhan operasional POLRI dalam menjalankan tugas dan misinya. Dari pihak POLRI hadir Wakapolri Komjen Budi Gunawan,” tulis PTDI dalam siaran persnya, Senin (25/1/2016).

Dalam kesempatan tersebut, Budi Santoso menjelaskan produk Helikopter AS332C1e merupakan varian terbaru dari family Helikopter Super Puma AS332. Helikopter ini, lanjut Budi, memiliki kemampuan yang sangat cocok bagi POLRI dalam tugas penegakan hukum, menjaga perdamaian, keamanan publik, pengawasan perdagangan narkoba, misi bantuan kemanusiaan, angkut pasukan, angkut logistik, evakuasi medis, pertempuran, pemadam kebakaran serta pencarian dan penyelamatan (SAR).

Dalam menjalankan tugas, heli jenis ini bisa dilengkapi senjata khusus sesuai kebutuhan Polri.

“Heli ini dapat dipersenjatai dengan door gun berkaliber sampai dengan 12.7 mm serta dilengkapi dengan armoured plate,” sebutnya.

(Detik)

January 26, 2016

PT DI Kembangkan MALE UAV

Top !!  Maju terus PT DI !

25 Januari 2016

Konsep MALE UAV rancangan PT DI (images : Detik)

‘MALE’, Drone Canggih Buatan PTDI Bisa Terbang 24 Jam Non Stop

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan masuk pengembangan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone kelas ini dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah sampai 23.000 kaki (feet).

“Saat ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Dengan kemampuan terbang 24 jam tanpa jeda, drone canggih jenis ini memang dirancang untuk misi terbang jarak jauh, yakni bertugas hingga ke pulau-pulau terluar.

Bila pergerakan pasukan memerlukan waktu sampai ke lokasi, drone jenis ini bisa melakukan pengintaian lebih awal bahkan penindakan langsung kepada obyek sasaran yang dinilai berbahaya. Drone bisa langsung menembak sasaran dengan roket.

“Ini permintaan TNI supaya bisa penindakan. Kalau ada sesuatu berbahaya yang istilahnya sebelum tentara atau bantuan datang, maka kita bisa melakukan penindakan,” sebutnya.

Dalam fase pengembangan ini, PTDI berencana menggandeng PT LEN (Persero) untuk mendukung pembuatan sistem elektronik. Langkah ini juga dilakukan dalam misi untuk meningkatkan konten lokal.

“Kita kolaborasi dengan PT LEN untuk pengembangan electronic mission system,” ujar Bona.

Ditargetkan, drone canggih jenis ini bisa uji terbang (test flight) mulai 2018.

“Tahun ini preliminary design, tahun depan masuk detail design dan prototype, kemudian uji terbang baru bisa dilakukan pada tahun 2018,” tambah Bona. (Detik)

Saingi AS dan China, PTDI Rancang Drone yang Bisa Tembakkan Roket

Jakarta -Pengembangan drone atau pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tak berhenti sampai di Wulung. PTDI sedang merancang drone yang memiliki kemampuan dan ukuran lebih besar.

Drone tersebut masuk kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). PTTA jenis ini mengikuti drone sekelas buatan Amerika Serikat (AS), MQ-1 Predator dan China, CH-4. Dengan kemampuan serupa, PTDI akan merancang drone yang dilengkapi sistem persenjataan.

Artinya, drone tersebut bisa dilengkapi roket untuk misi perang. Drone jenis direncanakan bisa membawa 2 sampai 4 unit roket.

“Jadi kita rencana buat drone yang mirip dengan drone buatan Amerika dan China. Drone ini nantinya dilengkapi senjata,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Drone sejenis seperti MQ-1 Predator biasa dipakai oleh AS untuk menjalankan misi di Irak hingga Afganistan. Lanjut Bona, PTDI sekarang sedang masuk tahap preliminary design untuk pengembangan MALE.

Roket RD702 buatan PT DI (photo : pr1v4t33r)

“Tahun depan masuk detail design dan prototype, kemudian uji terbang baru bisa dilakukan pada tahun 2018,” tambahnya.

Hingga saat ini, PTDI belum memberi nama drone yang dirancang ini. Meski demikian, PTDI telah memiliki gambaran tentang kemampuan dan bentuk dari drone kelas MALE ini.

Nantinya, drone ini mampu terbang dengan ketinggian maksimal 23.000 kaki dan radius terbang dari pusat kendali ialah 250 kilometer (km). Saat menjalankan misi, drone jenis ini bisa terbang non stop selama 24 jam.

“Saat ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara karena didesain untuk jaga perbatasan terluar yang jauh,” tambahnya.

Sejalan dengan pengembangan drone jenis MALE, PTDI juga sedang melakukan pembuatan roket untuk mendukung operasional drone. Roket jenis ini dirancang mampu menembak sasaran dengan radius efektif 5-6 km.

“Senjatanya masih open, tapi kita rencanakan yang dibuat oleh PTDI yakni RD 702. RD 702 ini bisa menembak dengan radius 5-6 km,” sebutnya. (Detik)

January 25, 2016

Wulung, Drone Pertama di ASEAN yang Berstandar Industri Pesawat

Detik 25 Januari 2016

Wulung UAV produksi PT Dirgantara Indonesia (all photos : Detik)

Tak tanggung-tanggung, PTDI melibatkan 100 insinyur hingga mekanik pesawat untuk melahirkan drone siap produksi.

Selama proses ujicoba hingga sertifikasi, PTDI memakai 5 unit drone. Bila berhasil mengantongi sertifikat dari IMAA, Wulung akan menyerahkan 3 unit kepada Kementerian Pertahanan pada Februari 2016, sedangkan sisanya dipakai untuk tahap pengembangan drone fase berikutnya.

“Kami sudah buat 5 pesawat, yakni 3 diserahkan ke Kemhan, 1 kita diserahkan ke Balitbang (TNI), 1 sebagai pesawat untuk development,” tambahnya.

Setelah masuk fase produksi, PTDI mampu melahirkan 1 unit drone jenis Wulung siap terbang dalam waktu 5 minggu. PTDI mengaku komponen lokal pada drone jenis Wulung telah mencapai 75%.

“Komponen lokal di atas 75%. Airframe bikin sendiri, yang belum komponen elektronik, pilot control, dan kamera belum ditemukan (diproduksi) di Indonesia,” sebutnya.

Jakarta -Wulung merupakan pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam waktu dekat, Wulung akan mengantongi sertifikat tipe siap produksi dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Bila sertifikat terbit, Wulung diklaim sebagai drone pertama di Asia Tenggara yang mengikuti standar industri penerbangan, yakni mulai material, proses hingga kualitas.

“Di Asia Tenggara yang mengikuti standar pesawat baru Indonesia,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016). (Detik)

Ini ‘Si Wulung’, Drone Buatan PTDI yang Terbang Hingga Radius 120 Km

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperoleh penugasan pemerintah untuk melakukan proses produksi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone. Tahap awal, PTDI hampir menyelesaikan sertikat tipe (type certificate) PTTA Wulung.

PTTA Wulung merupakan hasil pengembangan drone yang awalnya dirancang oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Setelah keluar hasil prototype drone bernama Wulung, selanjutnya PTDI diberi tugas oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk melakukan tahap sertifikasi hingga produksi.

Secara bentuk PTDI tidak melakukan perubahan, namun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat terbang ini melakukan perombakan dari material hingga sistem drone tersebut.

“Pesawat ini bentuk luar luar mirip dengan dikembangkan oleh BPPT, tetapi secara dalamannya sudah jauh berbeda yakni mulai dari material dan proses pembuatan. Kemudian sistem itu sudah jauh berbeda dengan yang dipakai dan dikembangkan teman-teman BPPT,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

PTDI melakukan persiapan proses produksi untuk Wulung sejak 2014. Wulung sudah menjalani berbagai uji agar bisa mengantongi sertifikat tipe. Pada akhir Januari 2016, Wulung ditargetkan bisa memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Bila proses sertifikasi tuntas, Wulung telah memenuhi standar industri penerbangan dan siap diproduksi massal. Rencananya, 3 unit Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan (Kemhan) mulai awal Februari 2016, setelah sertifikat tipe terbit.

Selain itu, Bona juga menjelaskan, fungsi drone made in Bandung ini yakni dirancang untuk melakukan misi pengawasan, pemantauan, hingga intelijen alias mata-mata. Saat terbang, Wulung mampu terbang dari pusat take off hingga radius 100-120 kilometer (km), dan mampu terbang selama 4 jam non stop. Wulung mampu terbang dengan ketinggian 8.000 kaki (feet).

“Wulung bisa terbang sejauh 100-120 km,” sebutnya. (Detik)

Kandungan Lokal 75%, Wulung Si Mata-mata Dikerjakan 100 Insinyur RI

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengerahkan 100 insinyur dalam proses pengembangan dan sertifikasi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung. Para insinyur dan mekanik pesawat itu bekerja dari tahun 2014, agar drone yang awalnya dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bisa diproduksi, dan mengikuti standar industri penerbangan.

“Ini melibatkan 100 insinyur untuk pengembangan drone,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Bona menjamin, para insinyur dan mekanik tersebut merupakan putra-putri Indonesia yang bekerja di PTDI.

“Kita menggunakan insinyur PTDI dan nggak ada yang asing,” tambahnya.

Kerja keras 100 insinyur dan mekanik pesawat tersebut membuahkan hasil. Akhir Januari 2016 ini, drone yang memiliki tugas mata-mata ini ditargetkan akan memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Dengan dikantonginya sertifikat tipe, Wulung telah siap diproduksi massal.

“Sertifikat tipe akhir bulan dapat,” sebutnya.

Pesawat tanpa awak tersebut diklaim memiliki komponen lokal sampai 75%. PTDI masih mengimpor peralatan elektronik, pilot control hingga kamera. Ke depan, PTDI akan menggandeng BUMN lainnya yakni PT LEN untuk meningkatkan komponen lokal.

“Sekarang komponen lokal di atas 75%. Dari airframe bikin sendiri, terus kita uji,” tambahnya. (Detik)

Hasil Foto Mata-mata ‘Si Wulung’, Drone Made In Bandung

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada awal Februari 2016 akan menyerahkan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung, kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Saat diserahkan, selanjutnya Wulung akan dioperasikan oleh TNI AU untuk menjalankan misi intelijen, pemantauan, dan pengawasan.

Wulung, saat bertugas, bisa terbang dengan radius 120 kilometer (km) dari pusat take off dengan ketinggian jelajah maksimal 8.000 kaki. Sebelum menjalankan misi mata-mata, pusat pengendali telah menyusun rencana rute atau terbang.

Selama terbang, Wulung bisa mengambil gambar sesuai target yang diincar.

“Sebelum terbang sudah diset mau ke mana, namun saat terbang juga bisa berubah rute sesuai perintah (pusat pengendali),” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

detikFinance pun memperoleh beberapa gambar sasaran atau saat wulung sedang uji terbang di udara. Meski mampu terbang hingga ketinggian 8.000 dari permukaan, Wulung hanya bisa mengambil foto secara jelas dengan ketinggian antara 3.000-4.000 kaki.

“Ini lumayan tinggi sampai 8.000 kaki. Itu maksimum altitude (ketinggian), kalau kamera punya keterbatasan optimalnya 3.000-4.000 kaki,” sebutnya.

Selain terbang siang, Wulung memiliki teknologi infra red, sehingga misi mata-mata tetap bisa dijalankan saat malam hari. Dengan kemampuan itu, Wulung memang akan ditempatkan di daerah perbatasan atau daerah yang rawan kegiatan ilegal.

“Misi utamanya ialah mengawasi perbatasan,” tambahnya. (Detik)

January 23, 2016

BUMN Media dan Percetakan Akan Dimerger

Muhammad Idris – detikfinance
Jumat, 22/01/2016 18:45 WIB

BUMN Media dan Percetakan Akan Dimerger
Jakarta -Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berencana melakukan merger 4 perusahaan pelat merah bidang percetakan dan media.

Tahap awal, Kementerian BUMN akan memfasilitasi pembentukan usaha patungan antar BUMN media dan penerbitan lewat National Publishing and News Corporation (NPNC). Tujuannya, mensinergikan bisnis antar BUMN media dan percetakan agar memiliki daya saing yang lebih kuat.

“Bentuk sementara kerjasama operasi, di mana operasional dilakukan bersama-sama. Kalau sama-sama digabung secara legal (merger), kita lihat ke depannya. Tapi sekarang secara operasi disamakan,” kata Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Harry Sampurno ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

BUMN yang membentuk usaha bersama ini meliputi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Perum Percetakan Negara RI (PNRI), PT Balai Pustaka, dan PT Perusahaan Perfilman Negara (PFN).

Harry menuturkan, dengan penggabungan sumber daya tersebut, daya saing keempat BUMN ini diharapkan akan meningkat, dan bisa menggarap lebih banyak proyek-proyek, khususnya di lingkungan BUMN dan instansi pemerintah.

“Kalau PNRI dan Balai Pustaka sudah ada KSO (Kerjasama Operasi), secara operasi sekarang sudah jadi satu, kemudian kalau order bisa sama-sama, tidak saling sikut,” katanya.

Harry mengungkapkan, nantinya keempat perusahaan ini akan melakukan penawaran tender atas nama NPNC, dan kemudian proyek tender akan dikerjakan sesuai dengan bidang usaha mereka.

Dia mencontohkan, saat ada tender pengadaan Alquran di Kementerian Agama, percetakan bisa dilakukan oleh PNRI, publishing oleh Balai Pustaka. Sementara PFN dan Antara bisa menggarap konten-konten terkait lainnya.
(feb/feb)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers