Archive for ‘bumn’

July 11, 2015

Jasamarga Juga Kepincut Bisnis Properti di PinggirTol

Dana Aditiasari – detikfinance
Sabtu, 11/07/2015 13:29 WIB
Halaman 1 dari 2
Jasamarga Juga Kepincut Bisnis Properti di Pinggri Tol
Jakarta -Memiliki properti di pinggir jalan tol apa lagi yang dekat dengan akses langsungnya dianggap sebagai aset investasi yang menjanjikan oleh kalangan pengembang. Hal itu dianggap PT Jasamarga (Persero) sebagai peluang yang menjanjikan.

Buktinya, di tahun 2013 operator jalan tol ini membentuk anak usaha yang diberi nama Jasamarga Properti (Jaspro). Salah satu tujuannya adalah meningkatkan pendapatan usaha perseroan dari bisnis di luar bisnis pengelolaan jalan tol.

Yang tengah dikonsentrasikan adalah pembangan proyek properti berbentuk Mixused yang terdiri dari bangunan perkantoran (office tower) hingga apartemen, residensial‎ hingga pusat perbelanjaan di dekat pintu keluar Ciledug di ruas Jalan Tol Jakarta-Tangerang.

“Kita sudah akuisisi lahan di dekat exit tol Ciledug‎ lokasinya sangat menarik. Memanfaatkan sebagian lahan pengembangan di sekitar jalan tol yang sudah kita bebaskan ditambah pembebasan lahan baru,” ujar Vice President Corporate Planing Dedy Krisnawan di Kantor Pusat Jasamarga, Jakarta, Jumat (10/7/2015).

Untuk mengembangkan proyek properti tersebut diperkirakan biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 600 miliar hingga Rp 1 triliun. “Pembangunan rencananya dimulai awal tahun 2016,” sambung dia.‎

Tahun ini sendiri, untuk membiayai sejumlah proyek properti yang tengah dibidik Jasamarga Properti mengalokasikan dana sekitar Rp 150 miliar. Dana tersebut digunakan sebagian besar untuk mengakuisisi lahan baru untuk pengembangan proyek properti.

Perusahaan tahun ini akan lebih fokus melakukan akuisisi dibandingkan ekspansif melakukan pembangunan proyek properti.

Dari pengembangan bisnis properti ini diharapkan bisa menyumbang 7-8% terhadap total pendapatan Jasamarga

Setiap ada pembangunan jalan tol baru ada pembangunan properti baru. Diharapkan pertumbuhan bisnisnya bisa seiring sejalan dengan pembangunan jalan tol,” sebut dia.

Selama ini PT Jasamarga mendapat tambahan pemasukan dari bisnis non pengelolaan tol sebesar 15%. Jenis bisnis yang dikelola dari mulai penyewaan papan iklan di jalan tol hingga pengelolaan rest area.

“Bisnis properti kurang lebih kita punya pengalaman dari kelola bisnis rest area. Ini hanya sekala lebih besar dengan lini bisnis lebih serius saja. Jadi kami harap bisa lebih menunjang kinerja perusahaan,” pungkasnya.

April 14, 2015

PT DI Rencanakan Kelahiran N-245 Pesawat Komersial Baru untuk Indonesia

14 April 2015

Ilustrasi pesawat N-245, Pesawat yang diberi nama N-245 itu mungkin saja punya target tujuan akhir sama jauhnya dengan pesawat biasa, tetapi memiliki beberapa pemberhentian untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di titik tersebut. Istilahnya ialah multihop atau spoke to spoke. (image : Kompas)

KOMPAS.com — PT Dirgantara Indonesia (DI) sedang merencanakan kelahiran pesawat komersial baru yang digadang-gadang mampu bersaing dengan jenis ATR 42 dan Q300.

“Sekarang sedang dalam tahap perencanaan. Kami akan evaluasi dulu kelayakan dan nilai ekonomisnya. Kalau layak, kami akan mulai kembangkan tahun depan,” kata Presiden Direktur PT DI Budi Santoso.

Pesawat yang dinamai N-245 dan direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 orang tersebut ditargetkan mampu melayani rute jarak dekat yang perlu pelayanan, tetapi dengan jumlah permintaan penumpang rendah.

“Misalnya rute Tanjung Karang ke Palembang, tidak ada pesawatnya sekarang. Nanti kami layani dengan N-245. Ya targetnya untuk jarak 100-200 mil laut, 400 kilometer, setara Jakarta ke Semarang,” kata Budi.

Ditemui di sela National Innovation Forum 2015 yang diadakan di Puspiptek Serpong, Senin (13/4/2015), Budi mengungkapkan, N-245 bisa dikatakan sebagai bentuk modifikasi karena beberapa rancangan pada bagian pesawatnya diambil dari CN-235.

“(Desain) sayapnya itu kami ambil dari desain CN-235 dan N-295. Sama. Sayap itu sudah bisa untuk angkut beban 23 ton. Sudah proven. Untuk badannya, kami sedang mikir ambil dari CN-235. Itu untuk bentuknya. Kalau panjang, kan nanti bisa disambung,” kata Budi.

Bagian yang baru dirancang adalah ekor. Menurut Budi, perancangan ulang bagian ekor diperlukan karena ekor pesawat CN-235 atau pesawat lain akan terlalu berat jika diaplikasikan.

Karena tidak merancang semua bagian dari awal, pengembangan N-245 bakal jauh lebih murah. “Kalau bikin pesawat dari nol, biayanya 1,5 miliar dollar AS sampai 2 miliar dollar AS. N-250 sekarang sudah hampir 2 miliar dollar AS. Untuk N-245, cuma 150 juta dollar AS, sudah sampai prototipe,” kata Budi.

Budi percaya bahwa permintaan penumpang terhadap pesawat jarak dekat akan semakin tinggi seiring pertumbuhan ekonomi. Ia mengatakan, bila N-245 terwujud dan dijual, maskapai bisa mencapai break even point dengan hanya membeli 50-70 pesawat.

(Kompas)

April 7, 2015

Akuisisi Ladang “Shale Gas” Di Amerika, PGAS Hanya Kucurkan US$125 Juta

Ipotnews – PT Perusahaan Gas Negara Tbk menegaskan anggaran untuk mengakuisisi 36 persen hak partisipasi area shale gas Fasken, Amerika Serikat, dari Swift Energy Company hanya US$125 juta.

Assistant VP Corporate Communication PGN, Irwan Andi Atmanto, mengatakan akuisisi Fasken hanya US$125 juta, sedangkan US$50 juta dialokasikan untuk pengembangan shale gas tersebut.

“Belinya hanya US$125 juta, pengembangan US$50 juta, itu juga belum digunakan semua,” ujar Irwan, di Jakarta, Senin (6/4). Seperti diketahui, akuisisi tersebut dilakukan PGN [PGAS 4,865 35 (+0,7%)] melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia.

Menurut Irwan, saat ini, produksi shale gas di area Fasken berada di angka 120 mmscfd, meningkat sejak Saka masuk pada 1 Januari 2014, yakni 70 mmscfd. Ditargetkan, produksi Fasken mampu mencapai angka 170-190 mmscfd pada tahun ini.

“Data terbaru produksi Faskem setiap hari 120 mmscfd, pernah mencapai 147 mmscfd pada minggu ketiga Maret, rata-rata 120 mmscfd,” ucapnya.

Dijelaskan, akuisisi saham tersebut merupakan langkah perseroan untuk memperoleh laba. Selain itu juga sebagai strategi untuk memperoleh ilmu dalam mengelola shale gas.

“Akuisisi di Fasken dalam rangka kepentingan usaha, selain itu menimba ilmu di Amerika. Kebetulan shale gas pesat di sana. Ke depan shale gas di Indonesia bakal booming,” kata dia.

Sementara, apakah Saka akan menjadi operator di Fasken atau tidak, Irwan mengatakan pihaknya masih harus melihat kondisi ke depan. (Rifai/ef)