Archive for ‘China’

April 30, 2011

Potensi Investasi Cina US$ 10,4 Miliar

Potensi Investasi Cina US$ 10,4 Miliar
SABTU, 30 APRIL 2011 | 20:49 WIB
Besar Kecil Normal
MS Hidayat. TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menteri Perindustrian MS Hidayat menuturkan elama dua hari lawatan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao, pemerintah dan perusahaan Cina menjanjikan potensi investasi baru sekitar US$ 10,4 miliar (Rp 90,48 triliun).

Potensi investasi berasal dari 16 kesepakatan kerja sama dalam bentuk pemberian pinjaman, rencana investasi, dan perjanjian bisnis dengan PT PLN (Persero), pabrik semen, kertas, serta minyak sawit.
Hidayat menyebutkan, beberapa kesepakatan berbentuk pinjaman bagi industri. Misalnya pinjaman komersial senilai US$ 8 miliar bagi proyek infrastruktur dan industri dari dua bank Cina.
Dana tersebut akan digunakan untuk membantu perusahaan Cina yang berminat berinvestasi di Indonesia. “Yang dianjurkan adalah investasi industri manufaktur di sini, kemudian produknya diekspor lagi ke Cina,” ujarnya usai penandatanganan perjanjian Indonesia – Cina di Hotel Grand Hyatt, Sabtu, 30 April 2011.

Hidayat berharap, perjanjian ini benar-benar bisa mendorong peningkatan investasi dari Cina. Sebab, investasi Cina kecil sekali selama ini, hanya US$ 170 juta. Jauh lebih kecil ketimbang nilai perdagangan kedua negara yang senilai US$ 36 miliar.

Direktur Kerja Sama Industri Internasional, Kementerian Perindustrian, Agus Tjahajana mengatakan, pinjaman sebesar US$ 8 miliar dari Cina sebetulnya tergolong kecil untuk investasi.
Bandingkan, misalnya, dengan kebutuhan investasi Krakatau Steel saat ingin tanur tinggi senilai US$ 5 miliar. Tapi, menurut Agus, pinjaman tersebut bisa menjadi awalan yang baik. “Jika satu industri saja sudah masuk, maka industri pendukungnya akan ikut berpindah,” kata dia.
Saat ini pemerintah sudah mampu menarik perusahaan alat berat asal Cina, Sany Group. Perusahaan alat berat semacam ini bisa menarik masuk 30-40 industri pendukung.

EKA UTAMI | MUNAWWAROH

Advertisements
March 24, 2011

Indonesia Sasaran Relokasi Industri China

Indonesia Sasaran Relokasi Industri China
Indonesia merupakan negara yang dapat menjadi prioritas relokasi industri China.
KAMIS, 24 MARET 2011, 06:01 WIB Eko Priliawito, Ajeng Mustika Triyanti

Ilustrasi Pabrik (bunniestudios.com)

VIVAnews – Pesatnya pertumbuhan ekonomi China merupakan peluang yang harus ditangkap pengusaha Indonesia. Banjirnya berbagai produk China di Indonesia harus dibarter dengan relokasi industri produk China.

Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Mochamad Ridwan Mustofa, tingginya upah buruh dan harga tanah di China menjadi faktor yang mendorong relokasi industri China.

“Indonesia merupakan negara yang dapat menjadi prioritas relokasi industri dari China,” kata Ridwan Mustofa di Jakarta.

Ridwan menjelaskan, China juga ingin mencari pabrik yang dekat dengan pasar. Dan Indonesia merupakan negara yang dinilai menjadi prioritas relokasi industri dari China itu.

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat pesat bukan hanya harus dimanfaatkan Indonesia untuk menggandeng pengusaha Negeri Tirai Bambu untuk berinvestasi di Indonesia. Dengan melihat kondisi perekonomian Jepang dan Amerika yang sedang terganggu, maka China yang dianggap paling bisa diandalkan untuk berivestasi di Indonesia.

“Sebaiknya Indonesia menggandeng China untuk berinvestasi di high capital seperti infrastruktur dan manufaktur,” kata Ridwan.

Berapa total investasi yang diharapkan dari China? Mengenai hal ini –dalam membangun infrastruktur– Indonesia membutuhkan Rp500-1.000 triliun.

Dari kisaran investasi tersebut, China diharapkan dapat menyumbang 20 hingga 30 persen untuk pembangunan infrastruktur.

China merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat serta populasi terbesar di dunia. China mencetak rekor sebagai negara dengan cadangan devisa paling besar di dunia. Total cadangan devisa China sebesar US$2,65 triliun pada akhir September 2010.

Menurut People’s Bank of China, kepemilikan mata uang asing naik US$194 miliar. Perdagangan China mencetak surplus dan aliran dana investasi juga menaikkan cadangan devisa sebesar 16,5 persen pada akhir September 2010. (art)
• VIVAnews

Rating

March 24, 2011

China Tightens Censorship of Electronic Communications

China ketakutan dengan peristiwa yang terjadi di Arab
++++
IHT March 21, 2011
China Tightens Censorship of Electronic Communications
By SHARON LaFRANIERE and DAVID BARBOZA
BEIJING — If anyone wonders whether the Chinese government has tightened its grip on electronic communications since protests began engulfing the Arab world, Shakespeare may prove instructive.

A Beijing entrepreneur, discussing restaurant choices with his fiancée over their cellphones last week, quoted Queen Gertrude’s response to Hamlet: “The lady doth protest too much, methinks.” The second time he said the word “protest,” her phone cut off.

He spoke English, but another caller, repeating the same phrase on Monday in Chinese over a different phone, was also cut off in midsentence.

A host of evidence over the past several weeks shows that Chinese authorities are more determined than ever to police cellphone calls, electronic messages, e-mail and access to the Internet in order to smother any hint of antigovernment sentiment. In the cat-and-mouse game that characterizes electronic communications here, analysts suggest that the cat is getting bigger, especially since revolts began to ricochet through the Middle East and North Africa, and homegrown efforts to organize protests in China began to circulate on the Internet about a month ago.

“The hard-liners have won the field, and now we are seeing exactly how they want to run the place,” said Russell Leigh Moses, a Beijing analyst of China’s leadership. “I think the gloves are coming off.”

On Sunday, Google accused the Chinese government of disrupting its Gmail service in the country and making it appear as if technical problems at Google — not government intervention — were to blame.

Several popular virtual private-network services, or V.P.N.’s, designed to evade the government’s computerized censors, have been crippled. This has prompted an outcry from users as young as ninth graders with school research projects and sent them on a frustrating search for replacements that can pierce the so-called Great Firewall, a menu of direct censorship and “opinion guidance” that restricts what Internet users can read or write online. V.P.N.’s are popular with China’s huge expatriate community and Chinese entrepreneurs, researchers and scholars who expect to use the Internet freely.

In an apology to customers in China for interrupted service, WiTopia, a V.P.N. provider, cited “increased blocking attempts.” No perpetrator was identified.

Beyond these problems, anecdotal evidence suggests that the government’s computers, which intercept incoming data and compare it with an ever-changing list of banned keywords or Web sites, are shutting out more information. The motive is often obvious: For six months or more, the censors have prevented Google searches of the English word “freedom.”

But other terms or Web sites are suddenly or sporadically blocked for reasons no ordinary user can fathom. One Beijing technology consultant, who asked not to be identified for fear of retribution against his company, said that for several days last week he could not visit the Web site for the Hong Kong Stock Exchange without a proxy. LinkedIn, a networking platform, was blocked for a day during the height of government concerns over Internet-based calls for protests in Chinese cities a few weeks ago, he said.

Hu Yong, a media professor at Peking University, said government censors were constantly spotting and reacting to new perceived threats. “The technology is improving and the range of sensitive terms is expanding because the depth and breadth of things they must manage just keeps on growing,” Mr. Hu said.

China’s censorship machine has been operating ever more efficiently since mid-2008, and restrictions once viewed as temporary — like bans on Facebook, YouTube and Twitter — are now considered permanent. Government-friendly alternatives have sprung and developed a following.

Few analysts believe that the government will loosen controls any time soon, with events it considers politically sensitive swamping the calendar, including a turnover in the Communist Party’s top leadership next year.

“It has been double the guard, and double the guard, and you never hear proclamations about things being relaxed,” said Duncan Clark, chairman of BDA China, an investment and strategy consultancy based in Beijing, and a 17-year resident of China. “We have never seen this level of control in the time I have been here, and I have been here since the beginning of the Internet.”

How far China will clamp down on electronic communications is unclear. “There’s a lot more they can do, but they’ve been holding back,” said Bill Bishop, a Internet expert based in Beijing. Some analysts suggest that officials are exploring just how much inconvenience the Chinese are willing to tolerate. While sentiment is hard to gauge, a certain segment of society rejects censorship.

For many users, an inoperable V.P.N. is an inconvenience, not a crisis. But Internet consultants said interfering with an e-mail service on which people depend every day is more serious. “How people respond is going to be more intense, more visceral,” one consultant said.

Google began receiving complaints from Gmail users and its own employees in China about a month ago, around the time anonymous Internet posts urged people unhappy with the government to gather every Sunday. Some Gmail users found their service disconnected when they tried to send or save messages.

Engineers determined that there were no technical difficulties on Google’s end, Google said; rather, the hand of the Chinese government was at work. China’s Foreign Ministry did not respond Monday to calls or faxed questions about Google’s statement.

Disrupting Web sites and Internet connections is a standard tactic in dealing with companies that fall out of government favor. Mark Seiden, an Internet consultant, said Chinese officials typically left the companies and users to guess the reason.

In the Google case, an article on the Web site of People’s Daily, the Communist Party’s official publication, offered a strong hint. The March 4 article, attributed to a netizen, called Google a tool of the United States government. Like Facebook and Twitter, the article said, Google has “played a role in manufacturing social disorder” and sought to involve itself in other nations’ politics.

China has treated Google as a threat for some time. Last year, Google closed its search service and redirected Chinese users to Google’s Hong Kong site after the company said China was behind a cyberattack aimed partly at Gmail accounts.

Mr. Moses, the Beijing analyst, said the latest moves further expand government control of electronic communications. “The model for this government is that every day is a new challenge and a new opportunity to show the strength of the state here,” he said. “There is clear confidence in the capability of the political authorities to maintain order.”

Jonathan Ansfield contributed reporting from Beijing, and Claire Cain Miller from San Francisco. Jonathan Kaiman and Li Bibo contributed research from Beijing.

February 3, 2011

Di China, Investor seperti Dewa

kapan ya pemerintah daerah indonesia bisa berubah spt China ? Di mata pejabat Indonesia pengusaha itu bukan dewa tapi sapi , object untuk diperas susunya dan kemudian dipotong.

Di China, Investor seperti Dewa
Shutterstock
RABU, 2 FEBRUARI 2011 | 14:03 WIB
KOMPAS.com – ”Di sini ada dua yang ditakuti, yaitu polisi dan investor asing. Persoalannya, warga takut sama polisi. Sementara jika warga ada masalah dengan investor asing, warga memilih mengalah karena merasa polisi pasti akan membela pengusaha,” kata Iskandar Tanuwidjaya, Direktur Utama Great Orient Chemical (Tai Cang) Co Ltd di Shanghai.

Iskandar adalah warga Indonesia yang sudah 11 tahun bekerja di China. Ini adalah kisah serupa yang juga pernah diutarakan seorang investor asal Taiwan saat Kompas berkunjung ke China tahun 2004. Pernyataan positif para pengusaha tak kunjung berhenti.

”Itu benar, sepanjang Anda bisa membawa keberuntungan dan jangan terlibat politik, China adalah lahan investasi menarik. Mereka melayani dengan baik,” kata Kepala Perwakilan Garuda di China Pikri Ilham K, yang sudah sembilan tahun bertugas di sana.

George Gozalie, Manajer Pembelian dari Dephaner, importir sarang burung walet dari Indonesia juga sependapat. ”Saya punya kenalan pengusaha asing di sini yang ditipu sebesar Rp 70 juta. Saat berurusan dengan polisi, si penipu langsung dikenai tindakan,” kata George, yang juga sudah lama tinggal di China. Ia juga tengah belajar di sebuah universitas di Chongqing.

Iskandar bertutur, terutama di awal-awal reformasi, para pejabat pemerintah daerah (pemda) seperti berebutan mendekati pengusaha. ”Intinya, yang ada di pikiran pemda lokal, bagaimana agar aktivitas perekonomian di daerahnya berkembang,” kata Iskandar, yang pernah ditunjuk langsung oleh seorang wali kota untuk memimpin sebuah organisasi bisnis.

Bukan itu saja, pemda-pemda di China, yang memang berpacu untuk saling memajukan daerahnya, sudah siap dengan program-program pembangunan daerah yang akan ditawarkan sebelum bertemu dengan pengusaha. Pemda di China, misalnya, sudah mendirikan beberapa lokasi industri sesuai dengan kategori sektor industri. Para pengusaha tinggal memilih. ”Mereka siap dengan program dan konsep pembangunan daerahnya. Bahkan, ada kasus, sebuah pagar bagi perusahaan sengaja dibangun pemda setempat,” ujar Iskandar.

Dasar pemikiran pejabat pemda di China, jika kegiatan perekonomian daerah berkembang, pemerintah akan mendapatkan pajak. Bisnis yang dijalankan investor asing akan melahirkan serangkaian kegiatan ekonomi lainnya. Jika investor hadir, akan lahir industri perhotelan, hiburan, makanan, transportasi, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Kedatangan investor asing juga menjadi kriteria utama bagi kenaikan pangkat para pejabat di China. Tidak heran jika seorang pejabat bisa menjemput langsung tamu asing di bandara.

”Anak emas”

Kini, China sedang mendorong kedatangan investor berteknologi tinggi, teknologi ramah lingkungan, teknologi informasi, pendorong inovasi. ”Perusahaan saya tergolong sebagai perusahaan berbasis teknologi tinggi, dan saya mendapatkan fasilitas pembebasan pajak,” kata Frederic Montier, Manajer Umum Bull Information Systems, sebuah perusahaan teknologi informasi asal Perancis.

”Saat mendapatkan pembebasan pajak itu, saya tidak perlu mengisi berbagai formulir dan mendatangi kantor perpajakan. Pengembalian pajak yang dibebaskan itu akan otomatis masuk ke rekening perusahaan tepat pada waktunya,” kata Montier.

Investor kategori ini memang menjadi anak emas. Namun, perusahaan asing yang bisa memahami cara bergaul dan paham dengan guangxi (perkawanan) tetap mendapatkan layanan yang mirip dengan penumpang kelas satu maskapai penerbangan.

Jack Leblanc, eksekutif asal Belgia, sudah 22 tahun tinggal di China. Ia sependapat dengan semua itu. Namun, ia mengingatkan, ada juga kasus di mana pengusaha asing tertipu. ”Hal yang paling tidak saya sukai dari peliputan media, mereka menulis keadaan yang baik-baik saja. Saya tidak membantah, tetapi jangan lupa, ada juga kasus negatif,” kata Leblanc, yang menulis buku berjudul Business Republic of China: Tales from the Front Line of China’s New Revolution.

Leblanc mengingatkan, ada sejumlah pengusaha yang menjalankan bisnis mirip aksi petualangan dan tak sedikit yang rugi, bahkan tertipu. Leblanc mengingatkan bahwa para investor harus tahu kiat-kiat bisnis agar tidak mengalami hal itu.

Meski demikian, data investasi China menunjukkan arus investasi asing yang masuk ke China sudah mencapai 100 miliar dollar AS pada tahun 2010. Ini adalah rekor yang tidak pernah dicapai negara berkembang lain.

Ekonom dari Universitas Zhejiang, Dr Yan Jianmao, di Hangzhou menegaskan, kemajuan ekonomi China memang terutama didorong oleh keberadaan investor asing. Bagi kalangan di China, melayani asing adalah standar. Bagi mereka, asing membawa manfaat ekonomi dan selayaknya dilayani. (MON)

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/02/02/14033369/Di.China.Investor.seperti.Dewa

February 3, 2011

Di China, Investor seperti Dewa

kapan ya pemerintah daerah indonesia bisa berubah spt China ? Di mata pejabat Indonesia pengusaha itu bukan dewa tapi sapi , object untuk diperas susunya dan kemudian dipotong.

Di China, Investor seperti Dewa
Shutterstock
RABU, 2 FEBRUARI 2011 | 14:03 WIB
KOMPAS.com – ”Di sini ada dua yang ditakuti, yaitu polisi dan investor asing. Persoalannya, warga takut sama polisi. Sementara jika warga ada masalah dengan investor asing, warga memilih mengalah karena merasa polisi pasti akan membela pengusaha,” kata Iskandar Tanuwidjaya, Direktur Utama Great Orient Chemical (Tai Cang) Co Ltd di Shanghai.

Iskandar adalah warga Indonesia yang sudah 11 tahun bekerja di China. Ini adalah kisah serupa yang juga pernah diutarakan seorang investor asal Taiwan saat Kompas berkunjung ke China tahun 2004. Pernyataan positif para pengusaha tak kunjung berhenti.

”Itu benar, sepanjang Anda bisa membawa keberuntungan dan jangan terlibat politik, China adalah lahan investasi menarik. Mereka melayani dengan baik,” kata Kepala Perwakilan Garuda di China Pikri Ilham K, yang sudah sembilan tahun bertugas di sana.

George Gozalie, Manajer Pembelian dari Dephaner, importir sarang burung walet dari Indonesia juga sependapat. ”Saya punya kenalan pengusaha asing di sini yang ditipu sebesar Rp 70 juta. Saat berurusan dengan polisi, si penipu langsung dikenai tindakan,” kata George, yang juga sudah lama tinggal di China. Ia juga tengah belajar di sebuah universitas di Chongqing.

Iskandar bertutur, terutama di awal-awal reformasi, para pejabat pemerintah daerah (pemda) seperti berebutan mendekati pengusaha. ”Intinya, yang ada di pikiran pemda lokal, bagaimana agar aktivitas perekonomian di daerahnya berkembang,” kata Iskandar, yang pernah ditunjuk langsung oleh seorang wali kota untuk memimpin sebuah organisasi bisnis.

Bukan itu saja, pemda-pemda di China, yang memang berpacu untuk saling memajukan daerahnya, sudah siap dengan program-program pembangunan daerah yang akan ditawarkan sebelum bertemu dengan pengusaha. Pemda di China, misalnya, sudah mendirikan beberapa lokasi industri sesuai dengan kategori sektor industri. Para pengusaha tinggal memilih. ”Mereka siap dengan program dan konsep pembangunan daerahnya. Bahkan, ada kasus, sebuah pagar bagi perusahaan sengaja dibangun pemda setempat,” ujar Iskandar.

Dasar pemikiran pejabat pemda di China, jika kegiatan perekonomian daerah berkembang, pemerintah akan mendapatkan pajak. Bisnis yang dijalankan investor asing akan melahirkan serangkaian kegiatan ekonomi lainnya. Jika investor hadir, akan lahir industri perhotelan, hiburan, makanan, transportasi, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Kedatangan investor asing juga menjadi kriteria utama bagi kenaikan pangkat para pejabat di China. Tidak heran jika seorang pejabat bisa menjemput langsung tamu asing di bandara.

”Anak emas”

Kini, China sedang mendorong kedatangan investor berteknologi tinggi, teknologi ramah lingkungan, teknologi informasi, pendorong inovasi. ”Perusahaan saya tergolong sebagai perusahaan berbasis teknologi tinggi, dan saya mendapatkan fasilitas pembebasan pajak,” kata Frederic Montier, Manajer Umum Bull Information Systems, sebuah perusahaan teknologi informasi asal Perancis.

”Saat mendapatkan pembebasan pajak itu, saya tidak perlu mengisi berbagai formulir dan mendatangi kantor perpajakan. Pengembalian pajak yang dibebaskan itu akan otomatis masuk ke rekening perusahaan tepat pada waktunya,” kata Montier.

Investor kategori ini memang menjadi anak emas. Namun, perusahaan asing yang bisa memahami cara bergaul dan paham dengan guangxi (perkawanan) tetap mendapatkan layanan yang mirip dengan penumpang kelas satu maskapai penerbangan.

Jack Leblanc, eksekutif asal Belgia, sudah 22 tahun tinggal di China. Ia sependapat dengan semua itu. Namun, ia mengingatkan, ada juga kasus di mana pengusaha asing tertipu. ”Hal yang paling tidak saya sukai dari peliputan media, mereka menulis keadaan yang baik-baik saja. Saya tidak membantah, tetapi jangan lupa, ada juga kasus negatif,” kata Leblanc, yang menulis buku berjudul Business Republic of China: Tales from the Front Line of China’s New Revolution.

Leblanc mengingatkan, ada sejumlah pengusaha yang menjalankan bisnis mirip aksi petualangan dan tak sedikit yang rugi, bahkan tertipu. Leblanc mengingatkan bahwa para investor harus tahu kiat-kiat bisnis agar tidak mengalami hal itu.

Meski demikian, data investasi China menunjukkan arus investasi asing yang masuk ke China sudah mencapai 100 miliar dollar AS pada tahun 2010. Ini adalah rekor yang tidak pernah dicapai negara berkembang lain.

Ekonom dari Universitas Zhejiang, Dr Yan Jianmao, di Hangzhou menegaskan, kemajuan ekonomi China memang terutama didorong oleh keberadaan investor asing. Bagi kalangan di China, melayani asing adalah standar. Bagi mereka, asing membawa manfaat ekonomi dan selayaknya dilayani. (MON)

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/02/02/14033369/Di.China.Investor.seperti.Dewa

January 3, 2011

2011, China Batasi Kuota Mobil di Beijing

Hebat China.. Kapan DKI bisa buat kebijakan semacam ini ???? Kapan ???
2011, China Batasi Kuota Mobil di Beijing
Headline

Foto:Istimewa

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Ekonomi – Minggu, 2 Januari 2011 | 14:49 WIB

INILAH.COM, Beijing – Tahun 2011 ini, pemerintah China bakal batasi kuota kendaraan roda empat di ibukota China.

Pemerintah kota diharapkan mengurangi pemberian ijin kendaraan roda empat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Berdasar laporan harian Beijing Daily, dalam 10 menit saja sekitar 6.000 orang mengajukan aplikasi perijinan kendaraan roda empat.

Pada pukul 17.00 waktu setempat, lebih dari 53 ribu aplikan mengajukan ijin secara online, demikian diungkap dalam Xinhua News Agency, seperti dikutip dari AP, Minggu (2/1). Para aplikan tersebut bersaing untuk memperebutkan jatah 20 ribu ijin yang akan diakhiri pada 25 Januari, untuk bulan ini.

Dengan adanya sistem baru ini, diharapkan dapat menekan pertumbuhan kendaraan di ibukota. Ibukota China hanya akan membuka kuota perijinan baru sebanyak 240 ribu kendaraan roda empat untuk tahun ini. Angka ini hanya dua pertiga dari tahun lalu. Saat ini, jumlah kendaraan bermotor telah mencapai 4,76 juta atau naik 2,6 juta sejak 2005. [AP/mre]

 

December 14, 2010

Indonesia Akan Tiru Ekonomi China

Semoga bisa kesampaian.
Masalah paling besar yang harus dihadapi adalah MENTALITAS korup dan munafik dari pejabat negara negeri ini.

14 Desember 2010 | 04.24 WIB

Indonesia Akan Tiru Ekonomi China

Beijing, Kompas – Perkembangan ekonomi China yang pesat menjadi salah satu contoh untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada Komite Ekonomi Nasional membuat master plan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

”Untuk itu KEN (Komite Ekonomi Nasional) melihat langsung pembangunan ekonomi di China. Model pembangunan ekonomi yang juga ditiru adalah India, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan,” ujar Ketua KEN Chairul Tanjung di sela-sela kunjungan ke Beijing, China, Senin (13/12).

Selain Beijing, KEN juga melihat implementasi kebijakan ekonomi China di Shanghai dan Guangzhou, yang dilakukan HS Dillon dan Sandiaga Uno.

Dalam kunjungan ke Beijing, Chairul Tanjung didampingi anggota KEN, Suahasil Nazara, Raden Pardede, dan John Prasetyo.

Saat ini cadangan devisa China 2,6 triliun dollar AS, pendapatan per kapita penduduk 3.600 dollar AS. Pertumbuhan ekonomi China mencapai 11 persen.

Di Beijing, KEN bertemu Wakil Menteri Perdagangan China Urusan Asia Chen Jian serta Dirjen Investasi Luar Negeri dan Modal Asing Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional Kong Linglong.

”Kami datang untuk mengetahui transformasi ekonomi di China. Presiden Indonesia kagum dengan perkembangan ekonomi China. Dia menginstruksikan KEN membuat master plan untuk mempercepat pembangunan ekonomi di indonesia,” kata Chairul Tanjung kepada Wakil Menteri Perdagangan China.

Menurut Chen Jian, nilai perdagangan Indonesia-China 37,8 miliar dollar AS. Saat ini adalah kesempatan emas bagi kedua negara melakukan kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Chairul menanyakan kepada Chen Jian apakah China bisa membantu jika Indonesia membangun kawasan ekonomi khusus. Menjawab hal itu, Chen Jiang mengatakan, ”Indonesia bisa mengajukan usulan itu. Kawasan industri juga bisa ikut mendorong perekonomian Indonesia.”

China tak hanya memberi kemudahan, tetapi juga insentif pajak yang menarik bagi investor yang membangun pabrik di kawasan industri. Pajak, misalnya, hanya dikenakan bila

perusahaan untung selama 2 tahun pertama. Tiga hingga lima tahun berikutnya, perusahaan itu cukup membayar pajak setengahnya.

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Beijing)

Tags:
November 24, 2010

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan
SELASA, 23 NOVEMBER 2010 | 15:02 WIB

Aktifitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan JICT Tanjung Priok. TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta -Indonesia mengajak Cina ikut berpartisipasi pada pembangunan pelabuhan di Indonesia. “Selat Malaka di pantai timur Sumatra dilewati 110 ribu kapal atau sekitar 30 persen volume perdagangan dunia. Maka pemerintah mendorong industri perkapalan dan kepelabuhan nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Kementerian Koordinasi Perekonomian, Edy Putra Irawadi dalam Seminar Prospek Hubungan Indonesia-Cina di Jakarta, Selasa (23/11).

Selain di pantai timur Sumatera, pemerintah juga ingin membangun konektivitas di Indonesia timur. “Dengan perkembangan Indonesia timur, maka diharapkan akan mengurangi aktivitas di Jawa,” ujarnya.

Menurut Edy, Cina memiliki teknologi perkapalan dan kepelabuhan yang baik. Sehingga pemerintah berharap Cina mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan pelabuhan di Indonesia.

Edy menambahkan, Indonesia juga ingin memajukan industri pertanian dan maritim. “Maka, diharapkan ada kerjasama mesin pertanian sehingga mampu bangun industri pertanian,” kata dia. Selain itu, Pemerintah ingin ada investasi industri perikanan dan proses perikanan.

Duta Besar Cina untuk Indonesia, Zhang Qiyue mengatakan bahwa Cina termasuk investor baru di Indonesia. Pada 2008, nilai investasi Cina sudah sempat mencapai US$ 139,6 juta. Pada 2009, nilai investasi menurun hanya US$ 65,5 juta.

Dia ingin perusahaan Cina terlebih dahulu mengenal Indonesia secara optimal. “Mulai dari kebijakannya, keperluan serta prioritas pengembangan Indonesia,” kata dia.

Zhang sendiri melihat saat ini, Indonesia memprioritaskan pembangunan infrastruktur. “Maka pemerintah akan dukung perusahaan untuk ikut serta dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ujarnya.

Zhang menambahkan, pemerintah Cina juga memperhatikan pemerintah Indonesia tengah membangun koridor ekonomi. “Maka kami dukung perusahaan untuk ikut serta,” kata dia.

Pemerintah Cina juga mendukungperluasan bidang investasi Cina di Indonesia. “Kami pandu dan dukung investasi berpindah dari energi dan sumberdaya ke industri komunikasi, pertanian, jasa, perikanan, energi baru,” ujarnya.

Untuk itu, Cina telah menyediakan kredit lunak sebesa US$ 2 miliar untuk mendukung pembangunan jalan, jembatan dan pembangkit listrik di Indonesia. “Indonesia negara paling besar mendapatkan dana dari Cina,” kata dia.

Eka Utami Aprilia

November 4, 2010

Perdagangan RI-China bisa tembus US$40 miliar

Perdagangan RI-China bisa tembus US$40 miliar
Selasa, 02/11/2010 14:05:56 WIB
Oleh: Rudi Ariffianto
JAKARTA: China menargetkan volume perdagangan dengan Indonesia menembus US$40 miliar pada tahun ini dengan harapan kerja sama kedua negara diperluas.

Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia Fang Quichen mengatakan tingkat perdagangan kedua negara kini telah melampaui US$30 miliar.

Menurut dia, dengan tingkat kerja sama yang terus meningkat diharapkan volume perdagangan kedua negara bisa menembus US$40 miliar pada tahun ini.

“Volume perdagangan kedua negara hingga kini mencapai US$30,35 miliar. Dan semoga bisa tembus US$40 miliar tahun ini,” ungkapnya Senin malam.

Quichen mengatakan saat ini investasi China cukup besar di Indonesia, yang kini menjadi tujuan utama investasi China di Asean.

“Kerja sama dengan Indonesia akan terus diperluas. Perusahaan-perusahaan China banyak terlibat dalam pembangunan infrastruktur seperti pembangkit listrik,” katanya.

Dia mengatakan China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) telah memberikan semangat baru bagi perdagangan kedua negara. Saat ini, katanya, kedua negara telah menikmati tarif 0% untuk 90% perdagangan kedua negara.

“CAFTA semakin memudahkan perdagangan bilateral dan diharapkan bisa diperluas dan diperdalam,” katanya.

Ketua Indonesia China Business Council Alim Markus mengatakan pihaknya akan terus mengupakan peningkatan investasi China di Indonesia.

Dia mengakui investasi China di Indonesia terus meningkat. “Kami akan undang investor China untuk berinvestasi di Indonesia. Harapannya, itu investasi langung karena menyerap tenaga kerja. Konsulat perdagangan RRC sudah menyatakan banyak investasi baru yang mulai masuk, seperti pembangkit listrik,” ujarnya.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (Apegti) Natsir Mansyur mengatakan kendati Indonesia menjadi tujuan utama investasi di Asean, secara global China lebih banyak menginvestasikan di negara-negara Afrika.

Untuk kawasan tersebut, tuturnya, China bahkan memasok lebih dari 50% karena sumber daya yang dimiliki sangat besar.

“China banyak investasi ke negara-negara dengan sumber daya yang besar, tetapi tidak terlalu banyak aturan seperti Afrika. Indonesia tergolong sudah mulai baik dari sisi kebijakannya,” katanya. (hl)

October 19, 2010

Wapres: Perkuat relasi ekonomi dengan China

Wapres: Perkuat relasi ekonomi dengan China
Selasa, 19/10/2010 14:42:42 WIB
Oleh: Linda T. Silitonga
NANNING: Wakil Presiden Boediono mengatakan untuk memperkuat perekonomian di Asia Tenggara dan China diperlukan dialog bisnis antarnegara di kawasan tersebut, sehingga mampu tumbuh bersama dan saling mendapatkan peluang.

Wapres Boediono juga mengatakan adanya krisis global diharapkan juga dapat memperkuat hubungan serta menjaganya agar tetap tercipta harmoni antarnegara tersebut.

“Harus ada dialog bisnis. China Asean Expo salah satu contoh bagus,” kata Wapres Boediono yang memberikan sambutan sebelum dibukanya 7thChina Asean Expo di Nanning hari ini.

Menurut dia, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah banyak bermitra satu dengan lainnya, terutama dengan China. Indonesia, katanya, termasuk yang telah mengimplementasikan Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) yang dilakukan mulai awal tahun ini.

Di samping itu antarnegara untuk saling mendukung dalam hal investasi dan perdagangan.

Wapres juga mengharapkan ada partisipasi antara masyarakat Indonesia dan China untuk mencapai keseimbangan hubungan ekonomi. (ln)