Archive for ‘Corporate spotlight’

February 11, 2014

Bangun Smelter, Freeport Siap Rogoh Rp 22 Triliun

Harus dikejar nih komitmen Freeport

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Senin, 10/02/2014 18:13 WIB

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/10/4/freeportrozik.jpg

Jakarta -PT Freeport Indonesia (Freeport) berencana membangun pabrik pengolahan dan pemurnian tembaga atau smelter senilai US$ 2,2 miliar atau sekitar Rp 22 triliun.

Freeport dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana melakukan studi untuk penentuan tempat yang ideal secara bisnis. Studi awal ini akan memakan waktu selama 3 bulan.

“Studi awal, butuh US$ 2,2 miliar,” kata Direktur Utama Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto saat MoU untuk pengkajian pembangunan pabrik pengolahan tembaga di Kantor Pusat Antam Jakarta, Senin (10/2/2014).

Tahap awal, Freeport bersama Antam akan mengkaji 4 lokasi yang bakal menjadi opsi pendirian pabrik smelter. Lokasi ini berada di Jawa Timur sebanyak 3 lokasi dan Papua sebanyak 1 lokasi. Setelah studi selama 3 bulan selesai dan menunjukkan hasil positif, akan dipilih 1 lokasi untuk pendirian pabrik smelter.

“Studi itu ada beberapa alternatif lokasi. Jatim ada 3 lokasi. 1 dekat Amamapare Papua. Itu 4 lokasi. Itu yang kita lakukan kajian. Secara detail akan dilakukan berdasar berbagai unsur pendukung untuk berdirinya 1 smelter tembaga,” sebutnya.

Untuk mendukung pembangunan pabrik smelter ini, pasokan listrik menjadi pertimbangan. Selain listrik, faktor yang akan menjadi penilaian adalah infrastruktur dan pelabuhan.

“Kebutuhan listrik 75 MW. Kalau di Jatim PLN bisa. Di sana ada kelebihan power 3.000 MW,” terangnya.

(feb/hen)

February 10, 2014

Kinerja Garuda Indonesia di 2013 babak belur

 

Dari Kontan online

Oleh Amailia Putri Hasniawati – Senin, 10 Februari 2014 | 17:38 WIB
Kinerja Garuda Indonesia di 2013 babak belur

JAKARTA. Kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sepanjang 2013 rupanya babak belur. Laba bersih BUMN penerbangan ini anjlok hingga 10 kali lipat. Per akhir 2013, laba bersih perseroan hanya US$ 11,03 juta.

Sebagai perbandingan, akhir tahun 2012, laba bersih GIAA mencapai US$ 110,59 juta. Pendapatan usaha GIAA rupanya hanya naik tipis dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 3,71 miliar.

Sementara itu, beban usaha dan rugi kurs kian membengkak. Beban usaha GIAA naik dari US$ 3,29 miliar menjadi US$ 3,7 miliar. Di saat yang sama, beban akibat selisih kurs tercatat mencapai US$ 47,92 juta, naik lebih dari lima kali lipat dibanding 2012.

Pos lain yang membuat laba bersih Garuda mengkerut adalah selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan. Nilainya mencapai US$ 26,86 juta. Padahal, di pengujung 2012 nilainya hanya US$ 3,84 juta.

Emirsyah Satar, Direktur Utama GIAA dalam pernyataan resminya mengatakan, kinerja Garuda tahun lalu dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, dan tingginya harga bahan bakar.

Selain itu, tahun lalu perusahaan juga melakukan investasi dalam jumlah yang cukup besar untuk penambahan armada guna menunjang peningkatan operasional.

Salah satunya untuk mengembangkan bisnis Citilink sebagai armada berbiaya murah alias low cost carrier (LCC) yang beroperasi secara mandiri.

February 10, 2014

Merger Emiten BUMN Tidak Ada Unsur Politik : Analis

Masah siiihh… ??

 

Dari Ipotnews,Monday, February 10, 2014       10:40 WIB

Merger Emiten BUMN Tidak Ada Unsur Politik : Analis Ipotnews – Rencana pemerintah untuk melakukan merger atau penggabungan sesama perusahaan BUMN, seperti Pertamina-PGN, Pertamina-PTBA dan Bank Mandiri dan Bank BRI rebutan Bank BTN adalah sesuatu yang biasa di pasar modal.

“Kalaupun rencana itu tiba-tiba batal atau pun jadi, itu sesuatu yang biasa di pasar modal,” kata Pengamat Pasar Modal, Yanuar Rizki di Jakarta, Senin (10/2).

Yanuar mengatakan, penggabungan atau penjualan anak usaha atau holdingisasi perusahaan BUMN buat pasar modal biasa dilakukan. Namun, jika dibalik semua rencana tersebut ada pihak-pihak yang memang mencari keuntungan dirinya belum bisa memastikan. “Kalau ada unsur politik saya tidak tahu, tapi untuk korporasi itu aksi biasa,” kata dia.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan, kalaupun Menteri BUMN, Dahlan Iskan berencana melakukan beberapa penggabungan/akusisi perusahaan BUMN, hal itu juga tidak bisa dijadikan bukti bahwa dia telah mengacaukan pasar modal. Pasalnya, naik turunnya pasar modal tidak bisa dari ucapan Dahlan saja. “Itu kan hanya rencana, apalagi itu tujuannya baik,” kata dia.

Meski akan melakukan akuisisi, pemerintah sampai saat ini tidak bisa menjelaskan sampai dimana proses pembelian saham Perusahaan Gas Negara [PGAS 4,880 50 (+1,0%)] oleh Pertamina. Meski sudah ditanya berulang kali Dahlan Iskan terkesan menutup-nutupi rencana tersebut. Begitu juga dengan isu yang mengatakan Pertamina ingin membeli saham [PTBA 9,675 50 (+0,5%)]. “Saya tidak mau ngomongin itu, engga mau saya ngomong itu. Pertamina mau akuisisi PTBA saya juga belum dengar infonya,” kata Dahlan.

(Tio/mk)

February 7, 2014

Pertamina Dinilai Kebablasan Terkait Rencana Bisnis Akuisisi PTBA

Ini sih jelas permainan politik tingkat tinggi untuk fund raising buat pemilihan umum . Perusahaan sehat dan kinclong macam PGAS dan PT BA didorong dorong untuk merger atau di akusisi Pertamina.  

 

 

Friday, February 07, 2014       17:29 WIB

  Ipotnews – Pengamat sektor pertambangan, Simon Felix Sembiring, menilai rencana PT Pertamina (Persero) mengakuisisi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan rencana bisnis yang tidak realistis.‬ Pasalnya, kedua perusahaan berbeda bisnis. Pertamina di sektor perminyakan, sedangkan PTBA di sektor batubara.

“Buat apa diakuisisi? Apa urusannya Pertamina mengakuisisi PTBA? Kalau bermimpi sih boleh saja tidak ada yang melarang, tapi yang realistis,” kata Simon kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/2).‬

‪Simon menambahkan, sangat tidak elok jika Pertamina melontarkan wacana akuisisi Bukit Asam *scahrt*PTBA#*echart*. Sebab, keduanya merupakan sama-sama BUMN dan ditambah lagi PTBA merupakan perusahaan yang sehat.‬ ‪”Lebih baik Pertamina urus rumah tangganya sendiri, jangan urus rumah tangga perusahaan lain. Mengurus rumah tangganya sendiri saja belum beres malah mau mencampuri rumah tangga perusahaan lain,” jelas dia.

Menurut Simon, Indonesia masih bergantung pada minyak impor baik minyak mentah maupun BBM serta elpiji impor. Itu seharusnya yang diurusi Pertamina.‬

‪Dihubungi terpisah, pengamat energi Reforminer Insitute Komaidi Notonegoro menilai bahwa rencana bisnis Pertamina untuk masuk ke batubara harus dikaji benar-benar. ‬‪Pasalnya, selama ini bisnis utama Pertamina di sektor minyak. “Seandainya benar, apa tujuannya? Harus clear dulu, harus jelas kajiannya dulu,” tegas Komaidi. ‬

‪Menurut Komaidi, harus dilihat ekspansi ini kemauan korporasi ataukah kemauan pihak lain. Jangan sampai keuntungan dari ekspansi itu kemudian menetes ke pihak yang menitipkan isu ekspansi akuisisi.
‪”Misal mengapa momentum akusisi, ekspansi, itu muncul sekarang ini, tidak sebelumnya? Kan itu jadi pertanyaan lagi,” tegasnya.

Sebelumnya beredar kabar bahwa Pertamina akan mencaplok PTBA. Hal itu terlihat dalam salah satu isi dari dokumen `Pertamina 2025 The Asian Energy Champion 2025` yang beredar di kalangan wartawan pada Rabu (5/2) lalu.‬

‪Adapun tujuan Pertamina mencaplok PTBA, agar Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia.‬ Sebagai perusahaan energi, Pertamina tak hanya ingin berbisnis di sektor perminyakan, namun juga merambah ke bisnis energi lain seperti batubara dan listrik.‬

‪Komaidi menambahkan, dalam teori ekonomi, penggabungan dua perusahaan, baru bisa dilakukan manakala ada masalah di salah satu perusahaan. ‬ ‪”Dalam bisnis, ada konsep spesialisasi. Semakin spesial sesuatu dia semakin optimal. Kalau mau ekspansi ke batubara, panas bumi, bisa saja jika sudah ada ruang gerak. Jangan yang satu belum tuntas, menggarap yang lain. Lama-lama tidak dapat semua,” jelas dia. ‬

‪Ia juga mengingatkan, dari sisi teori bisnis, sebuah perusahaan yang akan ekspansi, semua masalah internal harus selesai dulu. Core bisnisnya sudah optimal. “Bisnis minyak belum beres kok mau bisnis lainnya,” tutupnya.(Iwan/ha)

February 6, 2014

Telkom Ekspansi ke Tiga Negara

Hebat sih expansi tapi tolong deh masih banyak daerah di Indonesia yang tidak ada sinyal telekom.  
 
 
RABU, 05 FEBRUARI 2014 | 19:24 WIB

 

Telkom Ekspansi ke Tiga Negara

Telkom Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

 

 

TEMPO.CO, Bandung- Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia ,Tbk. (Telkom) Arief Yahya mengungkapkan, tahun ini korporasi menargetkan merambah bisnis di tiga negara lagi. Dengan demikian, ekspansi Telkom genap ke sepuluh negara. “Menyusul Taiwan, Arab Saudi, dan New Zealand,” kata dia selepas memimpin Sidang Senat IV Telkom Corporate University di Bandung, Rabu, 5 Februari 2014.

Arief menjelaskan, hingga saat ini bisnis internasional Telkom yang dikelola oleh Telkom Internasional itu sudah merambah tujuh negara. Ketujuh negara tersebut adalah Singapura, Hongkong, Timor Leste, Autralia, Myanmar, Malaysia, serta Amerika. 

Namun Arief mengungkapkan, strategi bisnis untuk masuk negara itu di antaranya dengan mengikuti tren traffic komunikasi, atau okupansi warga Indonesia di negara itu. Dia mencontohkan, Telkom merambah bisnis data di Amerika dengan alasan lalu lintas traffic data dari Indonesia menuju negara itu menembus 60-70 persen. “Kita ikuti aja aliran itu, bisnis trafik telekomunikasi itu menunjukkan aliran bisnis dan aliran uang,” kata Arief.

Menurut Arief, ekspansi bisnis Telkom menjadi satu dari program utama tahun ini. Program utama lainnya adalah memacu pertumbuhan Telkomsel tetap dua digit, serta merampungkan infrastruktur Indonesia Digital Network pada 2015 nanti. 

Arief mengatakan, sumbangan bisnis internasional Telkom tahun 2013 baru menembus 4 persen dari revenue Telkom consolidated. Sementara penyumbang terbear pendapatan grup Telkom masih berasal dair Telkomsel, yakni 60 persennya. Telkomsel pada 2013 lalu membukukan pendapatan menembus Rp 60 triliun.

AHMAD FIKRI

January 29, 2014

Ini Tujuan Bos Besar Freeport Datang Jauh-jauh dari AS ke Indonesia


Detik.com Wednesday, January 29, 2014       21:20 WIB Petinggi induk usaha PT Freeport Indonesia, yaitu Chief Executive Officer (CEO) Freeport McMoran Copper & Gold Inc Richard C Adkerson datang ke Indonesia. Hari ini Adkerson menemui Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, dirinya sempat bertemu dan berdialog hari ini dengan Adkerson. Inti dari pertemuan dengan orang nomor satu di Freeport global itu membahas soal implementasi kebijakan UU No.4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara (Minerba) yaitu soal larangan ekspor tambang mentah mulai 12 Januari 2014.

Hidayat mengungkapkan, Adkerson keberatan dengan pengenaan bea keluar (BK) atau pajak ekspor yang dikenakan hingga 60% terhadap mineral yang sudah tersentuh proses pengolahan namun belum sampai pemurnian. Dalam ketentuan yang diatur dalam peraturan menteri keuangan, perusahaan tambang yang sudah melakukan pengolahan maka boleh mengekspor produknya namun dikenakan BK progresif 20%-60% secara berkelanjutan hingga akhir tahun 2016

“Ya keberatan dengan bea keluar kelihatannya harapan tak dikenakan atau biayanya terlalu tinggi,” kata Hidayat kepada detikFinance, Rabu (29/1/2014)

Hidayat menceritakan percakapannya dengan Adkerson berlangsung hangat selama 2 jam. Hidayat mengaku, keduanya sudah saling mengenal, bahkan sebelum Hidayat menjadi menteri perindustrian, saat masih menjabat Ketua Kadin. Adkerson memahami posisi Hidayat yang kini sudah ada di dalam pemerintahan dan melaksanakan undang-undang, sedangkan Hidayat pun memahami posisi bos Freeport tersebut yang memimpin perusahaan global yang perlu kepastian hukum.

“Cuma masalah bea keluar, saya katakan sebagai menteri perindustrian, harus menjalankan UU Minerba. Dia kemudian, menyatakan akan mencari jalan keluar supaya bisa menjalankan UU,” katanya

Dalam percakapan itu, Hidayat menjelaskan, kebijakan pemerintah Indonesia soal program hilirisasi tambang, pihak Adkerson pun berkomitmen membangun smelter di Indonesia. Namun ketika pembahasan soal teknis kebijakan seperti bea keluar, bos Freeport tersebut mengungkit soal kebijakan kontrak karya, yang seharusnya tak mengikuti aturan terbaru di Indonesia.

“Dia bilang apapun yang sudah punya kontrak karya yang sudah berjalan, kalau nggak kita akan bertentangan dengan UU. Saya bilang nggak mau dispute soal UU, kita cari solusi saja,” tegas Hidayat.

Sesudah bertemu Hidayat, malam ini Adkerson juga datang ke kantor Menteri Keuangan Chatib Basri.

Sumber: detikcom

January 29, 2014

Akuisisi PGN Dinilai Bikin Pertamina Makin tak Efisien

http://market.bisnis.com/read/20140129/192/199971/akuisisi-pgn-dinilai-bikin-pertamina-makin-tak-efisien

Wednesday, January 29, 2014       10:39 WIB JAKARTA -

Renacana akuisisi Pertamina (Persero) terhadap PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) [4,760 160 (+3,5%)] dikhawatirkan justru menambah perseroan itu semakin tidak efisien.

Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa menyatakan kinerja Pertamina selama ini memprihatinkan dibandingkan dengan perusahaan migas milik negara di negara lain yang umurnya lebih muda.

Dia menilai terkait wacana akuisisi Pertamina terhadap PGN menjadi hal yang janggal.

“Hal ini akan semakin tidak efisien bagi Pertamina. Menurut saya lebih tepat bahwa Pertamina mengurusi minyak, PGN mengurusi gas, PLN mengurusi listrik dan di bawah naungan Kementrian BUMN dan ESDM bersinergi demi kepentingan bangsa dan sebagai agen pembangunan,” tandasnya.

Saat ini, kata Iwa, Pertamina bisa dianggap broker tanpa mampu membangun ladang-ladang minyak baru. Yang ada hanya kerja sama dengan pihak luar. Sehingga target lifting minyak tidak tercapai.

“Pertamina seberapa besar keberhasilan mereka menunjang industri migas ini? Kemajuannya memprihatinkan dibandingkan dengan negara lain yang umurnya lebih muda,” kata Iwa kepada wartawan, Rabu (29/1/2014)

Iwa melanjutkan Pertamina saat ini menjadi agen pembangunan yang tergantung pada investor asing. Pemerintah, imbuh dia, bisa memberikan petroleum fund kepada Pertamina untuk mampu membangun infrastruktur serta mampu mengekploitasi ladang baru atau lama.

Tentang akuisisi itu, Iwa juga menilai sebagai hal yang aneh karena tidak menyelesaikan persoalan utamanya. Persoalan utama saat ini adalah Indonesia sangat bergantung pada impor minyak dan BBM yang menguras devisa negara dan membebani APBN.

Hal itu terjadi karena lifting minyak terus menurun dan tak ada pembangunan kilang yang memproduksi BBM sejak 1994. “Pertamina harusnya kan fokus ke situ,” katanya.

Dia menjelaskan Indonesia memiliki gas, tetapi tidak bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia, karena infrastrukturnya tidak terbangun. Infrastruktur itu tidak terbangun, karena adanya aturan open access serta unbundling di mana terdapat lebih dari 60 broker gas inginnya menggunakan infrastruktur yang ada tidak berniat membangun infrastruktur.

“Akhirnya lebih senang ekspor dan akhirnya kebutuhan dalam negeri tidak berkembang, yang menikmati negara lain,” kata Iwa.

Pada akhirnya, melihat persoalan itu, bukannya undang-undang dan atau peraturannya yang direview atau diperbaiki, malah diotak atik korporatnya.
“Kalau akuisisi ini dilaksanakan ya makin tidak efisien karena organisasinya terlalu besar dan akar permasalahannya tidak diselesaikan, akhirnya akan dipaksakan dan menabrak UU. Cilaka, negara ini mau jadi apa,” tegas dia.

 

January 27, 2014

Dalam 5 Tahun Hanya Ada 1 Pabrik Gula Baru yang Berhasil Dibangun

kebijanan BBM dan Gula hampir sama : GATOT (Gagal Total) ! Selama 15 tahun pemerintah (pertamina) tidak berhasil membangun 1 kilang pun. sama halnya dengan kebijakan soal revitalisasi Pabrik Gula (PG) Milik Pemerintah ,selama 5 tahun hanya berhasil membangun 1 pabrik

Sunday, October 20, 2013       14:42 WIB
D
 
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengapresiasi langkah PT Gula Multi Manis (GMM) membangun pabrik gula baru, karena akan meningkatkan produksi gula, dapat mengurangi impor dan membantu pemerintah dalam program swasembada gula. GMM diklaim satu-satunya pabrik gula baru yang berdiri sejak 5 tahun terakhir atau sejak 2009.

Pabrik gula GMM dibangun dengan investasi sebesar Rp 1,7 triliun. Pabrik ini akan memiliki kapasitas penggilingan tebu sebesar 6.000 TCD (Ton of Cane per Day). Tahun 2014 rencananya pabrik baru gula ini akan mulai berproduksi. Dengan rendemen minimal sampai 8 persen, produksi gula pabrik GMM akan mencapai 50 ribu ton pe tahun.

Suswono mengatakan program swasembada gula banyak mengalami kendala. Pertama, kendala lahan karena dibutuhkan setidaknya tambahan lahan 350.000 hektar khusus untuk menanam tebu.

“Hingga sekarang tambahan lahan itu tidak ada, sehingga luas panen tebu sejak dicanangkan tahun 2009 hingga sekarang tidak bertambah,” kata Suswono saat meresmikan gudang gula milik pabrik gula PT Gula Multi Manis (GMM) di Desa Jappah, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dikutip Minggu (20/10/2013)

Kedua, adalah revitalisasi pabrik gula. Pabrik gula yang ada merupakan pabrik gula peninggalan Belanda. Mesin-mesinnya perlu diremajakan agar dapat meningkatkan rendemen, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produksi gula nasional. Namun langkah revitalisasi pabrik gula juga tidak dilakukan. Sehinga pabrik-pabrik yang ada masih beroperasi menggunakan mesin-mesin lama.

Ketiga, adalah pembangunan pabrik gula baru. Untuk mencapai swasembada gula ketika itu diperlukan 20-25 pabrik gula baru. Tetapi sejak 2009 baru satu pabrik yang dibangun yakni GMM.

“Ya baru GMM ini, pabrik (gula) baru yang dibangun sejak 2009,” kata Suswono.

Ia mengatakan ketiga masalah tadi kewenangannya tidak berada di kementeriannya. Menurutnya wilayah Kementan adalah peningkatan produksi tebu petani untuk mensuplai pabrik gula.

“Kementan hanya fokus pada penyediaan bibit tebu yang baik dan pembinaan petani agar produksi tebunya meningkat,” kilah Suswono.

Selain itu, Suswono meminta pengusaha agar tak hanya menjadi pedagang saja. Pengusaha harus berani keluar modal untuk membangun fasilitas produksi khususnya di sektor pangan khususnya gula.

“Jangan bisanya hanya impor, kemudian dijual di dalam negeri. Ini namanya hanya mau untungnya saja,” katanya.

January 27, 2014

OJK Korek Isu Akuisisi PGN & Pertamina Lewat Pihak Terkait

Isu ini pasti ada deal patgulipat antara Pertamina dan politikus.. Maklum menjelang pemilu, politikus elit pada perlu duit. Coba akusisi menurut Meneg BUMN harus tuntas di bulan Agustus 2014.. Memang merger perusahaan tempe tahu ???

dari Liputan 6

Friday, January 24, 2014       17:22 WIB

OJK Korek Isu Akuisisi PGN & Pertamina Lewat Pihak Terkait Jakarta: Isu akuisisi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,555 -145 (-3,1%)] oleh PT Pertamina sudah banyak beredar di kalangan pelaku pasar. Namun ternyata, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga saat ini belum memperoleh kejelasan terkait kabar tersebut.

Meski mengaku sudah memperoleh klarifikasi PGN terkait isu yang dilontarkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan tersebut, OJK mengaku masih harus mencari kejelasan dari pihak-pihak terkait.

“PGN belum menyampaikan dokumen tentang aksi korporasinya. Jadi kami belum tahu apakah nanti bentuknya merjer atau akuisisi. Jadi belum bisa memberikan komentar,” kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Nurhaida usai menghadiri Rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) di Kemenkeu, Jakarta, Jumat (24/1/2014).

Nurhaida mengungkapkan, OJK ingin mendapatkan klarifikasi penuh terkait aksi korporasi dari perusahaan gas yang sahamnya dikuasai pemegang saham publik sebanyak 47% tersebut. Terlebih lagi, isu akuisisi tersebut sudah ramai diberitakan media masa.

“OJK sudah minta klarifikasi dari PGN tentang rencana tersebut. Tapi jawaban PGN, sampai saat ini belum ada perintah dari pemegang saham untuk melakukan aksi korporasi tertentu. Jadi, kami tidak bisa follow up lagi,” tutur dia.

Dengan minimnya informasi yang diperoleh, OJK mengaku terus berupaya mencari kejelasan dari pihak-pihak terkait perihal rencana besar dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

“Saya belum bisa menyampaikan siapa saja pihak itu terkait dengan rencananya seperti apa, bagaimana kedepannya,” ujar dia.

Dengan informasi minim tersebut, Nurhaida mengatakan OJK sebagai pengawas pasar modal tak dapat menduga sampai mengetahui secara jelas rencana aksi korporasi PGN.

“Kami tak dapat menduga-duga hingga ada kejelasan dari kondisi itu. Kami lihat kondisi market sejak Oktober saat isu mencuat. Kami sedang tahap klarifikasi ke pihak terkait dan nanti akan kami sampaikan setelah ada klarifikasi yang lebih jelas,” tukas dia.

http://bisnis.liputan6.com/read/808953/ojk-korek-isu-akuisisi-pgn-pertamina-lewat-pihak-terkait

 

+++++++++

 

Monday, January 27, 2014       11:20 WIB
Benarkah Ada Penumpang Gelap Di Balik Isu Akuisisi Pertamina-PGN?
 
‪Ipotnews – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Drajad Wibowo menilai, pihak yang paling bersalah dan harus bertanggung jawab atas turunnya harga saham PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) yang berkode PGAS adalah PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

‪Menurutnya, kedua pihak tersebut paling bersalah karena mengeluarkan isu akuisisi PGN  [PGAS 4,530 -170 (-3,6%)] dengan PT Pertamina (Persero) atau PT Pertagas. Padahal akuisisi tersebut belum solid argumen mengenai biaya dan manfaatnya.

“Yang salah adalah pemerintah sendiri, terutama Pertamina dan Kementerian BUMN. Mengapa isu se-sensitif ini sampai muncul? Di sisi lain, benefit dan cost dari akuisisi tersebut tidak solid argumennya. Saya yakin ada penggorengan saham,” kata Drajad kepada wartawan, Senin (27/1).‬

‪Melihat hal tersebut dia juga meyakini ada penumpang gelap dalam isu akuisisi tersebut. Para penumpang gelap tersebut kata dia ingin mendapatkan keuntungan dari turunnya harga saham PGAS. Walaupun susah membuktikan siapa penumpang gelap tersebut.‬

‪”Biasanya kalau ada isu akuisisi, harga terdorong naik. Ini malah turun. Sepertinya ada penumpang gelap yang belum punya saham PGAS, lalu mau ambil murah, nanti menjelang akuisisi, baru harga naik. Penumpang gelap ini dapat gain. Siapa dia? Mudah menduganya, tapi susah membuktikannya kecuali melalui investigasi yang bersih,” imbuhnya.

Seperti diketahui, saham PGAS merosot sejak adanya isu akuisisi itu pada Oktober tahun lalu, yakni dari Rp5.450 menjadi di kisaran Rp4700 pada pekan lalu. Akibat penurunan saham sejak Oktober itu, negara menderita kerugian sekitar Rp15 triliun.‬

January 19, 2014

DPR Menolak Pertamina Akuisisi PGN

HomeBisnisBisnis
SABTU, 18 JANUARI 2014 | 23:19 WIB
DPR Menolak Pertamina Akuisisi PGN

Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat menolak rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan supaya PT Pertamina mengakuisisi PT Perusahaan Gas Negara ). “Sangat tidak masuk akal, karena rencana yang begitu strategis dan melibatkan dua BUMN besar hanya diputuskan dalam beberapa pekan,” kata Ketua DPR Marzuki Alie melalui keterangan resmi, Sabtu, 18 Januari 2014, malam.

Politikus Partai Demokrat tersebut menganggap Dahlan tidak memperhitungkan dampak dari langkah tersebut. Menurut Marzuki, isu akuisisi oleh Pertamina dalam beberapa bulan belakangan ini telah membuat saham PGN anjlok sehingga kapitalisasinya turun hingga puluhan triliun rupiah.

Marzuki mengatakan kementerian seharusnya mampu mengelola informasi dengan baik agar tidak merugikan pemegang saham PGN. Dia menuturkan, para Dana Pensiun terpaksa cut lost sehingga rugi. Marzuki pun mempertanyakan ganti rugi untuk dana pensiun. “Kalau investor minoritas menuntut, siapa yang akan menanggung?” katanya. Sebelumnya, Dahlan yakin isu akuisisi tidak tekan saham PGN.

Marzuki mengatakan pantang melontarkan kebijakan tanpa pertimbangan matang, terlebih yang melibatkan perusahaan publik. “Perlu dicermati siapa yang mendapatkan untung atas kerugian pemegang saham publik yang sudah lama memiliki saham PGN,” kata Marzuki. “BUMN jangan dipakai spekulasi.” Pemerintah masih membahas rencana tersebut.

MARIA YUNIAR

Berita Terpopuler
Suara Kesal Ahok: Kenapa Harus Tunggu Genangan?
Singgung Banjir, Presiden Bacakan SMS Ani SBY
Jokowi Minta Pintu Air Arah Istana Dibuka
Ani SBY Tertawa Dipanggil Ibu Presiden
Pintu Air Manggarai Tahap Kritis

Komentar (0)

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Foto Terbaru

Nongkrong di Kafe Ini harus Bayar per Menit

Erupsi Sinabung, Tempat Ini Jadi Desa Mati

Banjir Kurung Kawasan Jatinegara

Puluhan Anak Jalanan Ikuti Seleksi Timnas Anak Jalanan

Melihat Pembuatan Lilin Imlek

Tren Busana Pria Musim Dingin ala Kenzo

Top Stories

Stasiun Tanah Abang Terendam 8 cm

Titik-titik Banjir Pagi Ini, 19 Januari 2014

Kisruh Kebun Binatang Dibawa Risma ke KPK Besok

Gol Penalti Selamatkan Liverpool dari Kekalahan

Real Madrid Pesta Gol di Kandang Real Betis

Banjir Tahun Ini Tak Akan Sedahsyat Tahun Lalu

Hatta: Jakarta Harus Bangun Tanggul Laut Raksasa

Siaga I Pintu Air Manggarai Mulai Dibuka

Banjir Ciliwung Dibagi ke Arah Istana

Hujan Deras, Petamburan Tergenang 1,7 Meter

SBY Terima 2 Ribu SMS dan 70 Surat Tiap Minggu

Editor’s Choice
Angel Lelga Senam dan Nyanyi Lagu Rhoma Irama
Teuku Wisnu Ikut Program Ngaji di Twitter
Nongkrong di Kafe Ini harus Bayar per Menit
Erupsi Sinabung, Tempat Ini Jadi Desa Mati
PNS Juga Nyambi Jualan Cukrik
Juventus Bidik Dua Pemain Manchester United
Jembatan Putus, Manado Minta Bantuan Pusat
Berita Utama Bisnis
Pusat Belanja Keberatan dengan Kenaikan TDL
Djoko Kirmanto: Jokowi Jangan Ambil Wewenang Pusat
Bakrie Beli Path Prospek Lebih Bagus dari Facebook
Indonesia Larang Ekspor Mineral, Australia Untung
Amdal Lalu Lintas Bandara Halim Rampung Bulan Ini
Baru 1 Persen Pedagang Tanah Abang Bayar Pajak
SBY Lebih dari Tiga Jam Rapat di Cikeas

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers