Archive for ‘Creative industry’

December 28, 2013

Indonesia Peringkat 70 Indeks Perjalanan Wisata

Padahal sudah ada kementrian Pariwisata dan ekonomi kreatif , urusan pariwisata masih ketinggalan negera tetangga. 

 

 

Sabtu, 28 Desember 2013 | 18:16 WIB

 

Indonesia Peringkat 70 Indeks Perjalanan Wisata

Warga suku kawe bermain dengan Ikan Hiu di Kawasan Konservasi Perairan Laut Kawe Kepulauan Wayaq Raja Ampat Papua (14/05) Tempo/Amston Probel

 

TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia menempati peringkat ke-70 Indeks Daya Saing Perjalanan dan Wisata (TTCI) dari 140 negara yang disurvei oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) berbasis di Jenewa, Swiss. Pada 2011, Indonesia menempati peringkat 74, dan pada 2009 peringkat 81.

Hal ini disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dalam jumpa pers di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada 24 Desember 2013.

“Posisi daya saing pariwisata Indonesia membaik pada 2013. Pada 2011, ranking 74, dan 2009 ranking 81,” kata Mari.

Pada 2013, keunggulan daya saing pariwisata Indonesia bertambah dibanding negara Asean lain yakni dari daya saing harga, prioritas kepariwisataan, dan sumber daya budaya. (Baca : Indonesia Pasar Hotel Terbesar Setelah Cina )

Ini terkait dengan peningkatan kualitas daya tarik wisata alam dan budaya yang difokuskan pada 29 daya tarik wisata Indonesia. Yakni, Pulau Weh (Sabang), Nias, Toba, Mentawai (Siberut), Pulau Abang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Kota Tua Jakarta, Pangandaran, Karimunjawa, Candi Borobudur, Dieng, Merapi-Sleman, Bromo-Tengger-Semeru, Batur, Rinjani, Tambora, Komodo, Kelimutu, Sentarum, Tanjung Putting, Derawan, Toraja, Togean, Tomini, Bunaken, Wakatobi, Bandaneira, dan Raja Ampat. (Baca : Kepulauan Togean, Senja Sunyi di Lidah Sulawesi )

Mari mengatakan, jumlah wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia pada akhir tahun 2013 mencapai 8,6 juta orang. Jumlah ini mengalami pertumbuhan 7,37% dibanding tahun 2012 dengan jumlah 8,04 juta orang.

Wisatawan mancanegara tercatat memiliki pengeluaran terbanyak pertama dalam aspek akomodasi, yakni sebesar 48,9%; kedua, kuliner sebesar 17,7%; ketiga, suvenir 7,9%. “Target pada 2014 ada 9,2 juta wisatawan mancanegara dan 255 ribu wisatawan nusantara,” kata dia.

EVIETA FADJAR

Advertisements
December 7, 2013

Mandela Nyaman dalam Batik

KEMEJA BATIK

 

 

  

NELSON Mandela memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia. Kedekatan itu bukan hanya karena dia pejuang anti-apartheid yang beberapa kali berkunjung ke Indonesia, melainkan karena dia jadi ”duta batik” Indonesia ke masyarakat internasional.

Dalam catatan Kompas, Mandela yang berpulang Kamis (5/12) malam pada usia 95 tahun berkunjung ke Indonesia tahun 1990 saat masih menjadi Ketua African National Congress (ANC). Presiden Soeharto saat itu memberi mantan Presiden Afrika Selatan itu batik.

Sejak saat itu, gaya berpakaian Mandela seperti lekat dengan kemeja batik, terutama corak batik dari Jawa, berlengan panjang. Kerahnya kecil dan lancip, selalu tertutup hingga ke leher.

Kepada wartawan Indonesia yang menanyakan kesukaannya pada kemeja batik dalam jumpa pers di Wisma Negara saat kunjungan di Jakarta, 15 Juli 1997, Mandela mengatakan, hal tersebut adalah soal selera.

Masyarakat di Indonesia dapat menerima kemeja batik lengan panjang pada acara resmi tertentu, tetapi setelan jas dan dasi tetap dianggap sebagai pakaian resmi kenegaraan, seperti kebiasaan di berbagai negara dan lembaga internasional.

Bagi Mandela, aturan tersebut bukan tidak dapat dinegosiasikan. Nyatanya, keinginannya berkemeja batik dalam acara paling resmi sekalipun dapat diterima, sebagai bukti penghargaan atas keteguhannya melawan praktik diskriminasi apartheid dan tetap membuat rakyat Afrika Selatan bersatu.

Mandela mengenakan kemeja batik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Juga dalam kunjungan resmi kepada pemimpin pemerintahan, seperti Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Atau saat berkunjung resmi kepada Ratu Elizabeth II dari Inggris seperti dicatat Rosihan Anwar dalam tulisannya di Kompas.

Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia sebagai Presiden Afrika Selatan pada 14 Juli 1997, Mandela mengenakan kemeja sutra batik berwarna dasar hitam dengan corak gurda (garuda) kuning kecoklatan. Presiden Soeharto sendiri mengenakan setelan jas.

Identitas

Pakaian adalah identitas pemakainya. Melihat pilihan Mandela berbatik yang tidak seiring dengan kebiasaan umum, tidak bisa tidak adalah cermin pribadi yang kuat dan berani.

Dia bergeming meski media Afrika Selatan mengkritik seharusnya Mandela mengenakan pakaian bercorak Afrika daripada batik dari Indonesia.

Bukan tanpa alasan jika Mandela menyukai batik. Corak batik banyak mengambil bentuk dari alam, seperti daun, batang, bunga, dan aneka hewan, seperti juga corak tekstil Afrika.

Mandela juga mengenal Indonesia jauh sejak masih dalam penjara, yaitu melalui tulisan Syekh Yusuf (1626-1699) dari Makassar yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan. Mandela menyebutnya sebagai pelopor perjuangan Afrika Selatan melawan kolonialisme dan kemudian hari menjadikan Syekh Yusuf pahlawan nasional Afrika Selatan.

Konsistensinya melawan penjajahan di Afrika yang melahirkan apartheid tidak berhenti meskipun dia telah keluar dari penjara. Itu dicerminkan dari pilihannya berkemeja batik.

Sonwabile Ndamase, desainer mode, dalam Daily Maverick (18/7), menyebut gaya pakaian Mandela adalah wujud keinginannya atas kebebasan dan rasa nyaman yang tidak dia dapat selama 27 tahun di dalam penjara.

Mandela ingin diidentifikasikan dengan rakyat Afrika Selatan yang kebanyakan tidak mengenakan jas. Dia menciptakan gayanya sendiri, yaitu kemeja yang dikenakan di luar celana panjang, longgar, kancing tertutup hingga ke leher, dalam warna berani atau sederhana. Batik adalah favoritnya. (ninuk m pambudy)

 

Nelson Mandela Sukai Batik Iwan Tirta

Ainun Fika Muftiarini – Okezone
Jum’at, 6 Desember 2013 12:23 wib
detail berita

Nelson Mandela (Foto: Askmen)
 

 

NELSON Mandela memang dikenal sebagai sosok yang mencintai batik. Mantan Presiden Afrika Selatan itu juga diketahui menjadi salah satu klien dari maestro batik Iwan Tirta.

“Saat itu, Mas Iwan memberi batik yangrelated secara emosional,” tutur Era Soekamto, Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection saat dihubungiOkezone, Jumat (6/12/2013).

“Dia memang suka batik karena di negerinya ada teknik batik. Dia mengapresiasi karena sekalinya dipakai jadi lambang pluralisme juga,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Nelson Mandela meninggal di usia 95 tahun akibat infeksi paru-paru. Semasa hidupnya, pejuang perdamaian dan persamaan hak itu telah banyak berjasa dalam mempromosikan batik Indonesia ke kancah internasional. Bahkan, Mandela juga tidak ragu untuk memakai batik di berbagai acara internasional, termasuk sidang PBB sekalipun. (tty)

June 26, 2013

Tak Ada Regenerasi, Batik Sukapura Terancam Punah

 

Ironis,  Kaum Koruptor dan Munafikun tidak punah punah justru  makin subur di negeri tercinta ini

 
Tak Ada Regenerasi, Batik Sukapura Terancam Punah  

Sejumlah pekerja membuat batik tulis di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kamis (5/1). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

 

TEMPO.COTasimalaya – Batik Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terancam punah. Penyebabnya bukan karena pengrajin kekurangan modal, tapi tidak adanya regenerasi perajin batik Sukapura.

“Dulu ada 50 perajin batik Sukapura, sekarang tinggal 13 pengrajin. Itu pun hanya home industri (industri rumahan),” kata Uun Kurniasih, salah seorang pelestari Batik Sukapura di sela acara Kreasi Batik Sukapura, di kantor Setda Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 26 Juni 2013.

Dia mengatakan minat remaja untuk menjadi pengrajin batik sangat minim. Mereka, kata dia, sibuk dengan kegiatannya sehari-hari dan sekolah. “Generasi muda tak ada yang mau membatik. Anak-anak zaman sekarang penginnya main hp dan nonton tivi. Tidak ada yang peduli,” kata Uun.

Atas kondisi ini, dia mengaku sedih dan khawatir. Uun pun meminta pemerintah daerah mencari solusinya. “Saya butuh orang yang peduli terhadap batik Sukapura. Sekarang hampir punah batik Sukapura,” Uun menjelaskan.

Menurut Uun, batik Sukapura memiliki ciri-ciri warna gelap dan bermotif tumbuhan. Batik ini bisa tahan lama dan warnanya tidak mudah luntur. “Bahan pewarnanya masih pakai kimia. Memang pernah ada pelatihan memakai pewarna alami, tapi belum dicoba, pengin yang praktis,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Tasikmalaya, Nana Heryana, mengatakan selain faktor sumber daya manusia (SDM), kurangnya kreasi dari perajin batik Sukapura juga menjadi ancaman punahnya batik ini. “Dengan acara Kreasi Batik Sukapura, kami dan Diskoperindag memberi motivasi kepada perajin batik Sukapura agar berkreasi,” katanya.

Menurut Nana, perajin batik Sukapura masih memegang teguh pakem lama dan tidak berani membuat inovasi dan kreasi. Mereka tidak mau memakai warna yang sedang tren maupun memadukan warna. “Ini yang jadi kendala (dalam pemasaran batik Sukapura),” kata dia.

Namun demikian, menurut Nana, saat ini sudah ada sebagian pengrajin yang mulai berkreasi. Itupun jumlahnya belum banyak. “Memang pakem dan tradisi harus dipertahankan. Namun kami juga berharap muncul perajin-perajin baru dengan kreasi baru. Kreasi baru dengan tetap mempertahankan ciri khas batik Sukapura,” tegas Nana.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tasikmalaya, Lina Ruzhanul Ulum mengatakan, pihaknya pernah mengadakan pelatihan membatik khusus di Kabupaten Tasikmalaya. “Pelatihan untuk regenerasi perajin batik,” kata dia.

Dalam pelatihan itu, pengrajin diberi pelajaran mengenai teknik pewarnaan kain batik. Dia mengakui, warna Batik Sukapura masih terkesan kolot dan kuno.

“Pada pelatihan kemarin, disampaikan agar perajin batik membikin warna tak monoton. Lihat batik kota (Tasik), berani main warna.

Akhirnya perajin batik Sukaraja mulai berani main warna. Pertahankan tradisi harus, tapi kejar pasar juga harus,” Lina menjelaskan.

Upaya regenerasi lainnya, adalah memasukan pelajaran membatik ke dalam mata pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah menengah pertama. “Di SMPN Sukaraja ada pelajaran membatik,” katanya.

April 25, 2013

Penanda Batik Indonesia

Penting nih supaya Malingsia tidak bisa seenaknya mengklaim batik

 
Kamis,25 April 2013
 

 

 

Produsen Harus Mengikuti Serangkaian Tes

Jakarta, Kompas – Pengenaan logo yang menunjukkan identitas dan ciri batik Indonesia memberikan manfaat terkait jaminan mutu, kepercayaan konsumen, dan perlindungan hukum terhadap produk batik Indonesia. Untuk mendapatkannya, produsen harus mengikuti tes.

”Logo ini merupakan alat pembeda batik buatan Indonesia dengan produk batik negara lain,” kata Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat pada pembukaan Pameran Batikmart di Plasa Pameran Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (23/4). Logo tersebut sudah didaftarkan dan tercantum dalam perlindungan Hak Cipta Nomor 034100 pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 74 Tahun 2007 tentang Penggunaan Batikmark dan Peraturan Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Nomor 71 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Batikmark Batik Indonesia ditujukan untuk memasyarakatkan pemakaian logo tersebut.

Sebagai gambaran, produsen harus mengikuti serangkaian tes yang dilakukan Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik untuk memperoleh sertifikat penggunaan Batikmark.

Hidayat mengatakan, Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik saat ini mendapat tugas memproses sertifikasi Batikmark. ”Sampai saat ini telah dikeluarkan 106 sertifikat,” katanya.

Jumlah sertifikat itu akan semakin meningkat seiring semakin sadarnya IKM batik akan pentingnya pemanfaatan Batikmark. Dinilai penting adanya sosialisasi dan bantuan biaya yang bersumber dari dana dekonsentrasi yang ada di daerah.

Warna

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Euis Saedah menuturkan, label Batikmark bertuliskan Batik Indonesia warna emas diperuntukkan bagi produk batik tulis. Label bertuliskan warna perak untuk batik kombinasi tulis dan cap, sedangkan label dengan tulisan warna putih untuk batik cap.

Pameran

Euis menuturkan, Pameran Batikmart 2013 yang berlangsung empat hari pada 23-26 April 2013 diikuti 44 perajin IKM batik binaan Yayasan Batik Indonesia.

IKM batik dimaksud berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua. Dalam acara itu digelar pula unjuk bincang dan seminar sosialisasi tentang Batikmark kepada para perajin dan masyarakat.

”Ini penting agar masyarakat mengenal batik tulis, batik kombinasi tulis dan cap, serta batik cap produksi Indonesia. Apalagi, saat ini sudah ada 10 negara yang juga memasarkan produk batik,” kata Euis.(CAS)

March 21, 2013

Ini Cara Melawan Serbuan Batik Impor Malaysia & China

 

Wiji Nurhayat – detikfinance
Kamis, 21/03/2013 18:14 WIB
 
 
 

Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pembantik Indonesia harus lebih kreatif dan inovatif untuk membuat motif dan desain batik. Cara ini diyakini akan efektif menahan serbuan batik impor asal China dan Malaysia.

“Harus inovatif baik motif dan desainnya harus berganti mengikuti tren, kalau bisa tiap bulan ganti motif dan desain. Ini suatu hal yang bisa membuat batik kita bertahan dan berkembang dari serbuan batik asing,” ungkap Ketua Umum API Ade Sudrajat saat dihubungi detikFinance, Kamis (21/3/2013). 

Pasar yang besar menjadi alasan mengapa negara lain termasuk China dan Malaysia berlomba-lomba membidik pasar Indonesia “Kita itu pangsa pasarnya besar sekali, jadi semua berlomba-lomba buat datangi produk ke sini,” imbuhnya.

Selain itu cara efektif lain agar batik lokal bisa bertahan dan berkembang adalah dengan membudayakan memakai baju atau kemeja batik di hari-hari tertentu. Selain mencerminkan batik sebagai identitas asli Indonesia, cara ini bisa mendongkrak pembelian batik dalam negeri. 

“Yang paling efektif pakai batik di hari-hari tertentu, ini sudah dilakukan di beberapa instansi yang pegawainya juga sudah pakai baju batik,” tandasnya.

Seperti diketahui kebutuhan penduduk Indonesia terhadap pakaian cukup besar. Kebutuhan pakaian rata-rata per kapita/tahun orang Indonesia sebesar 7,5 Kg termasuk di dalamnya ada batik.

“Produksi kain batik per tahun itu adalah 20 juta meter. Karena konsumsi pakaian Indonesia sudah 7,5 kg/kapita/tahun, lalu kita hitung celana itu 2 kg, sisanya 5,5 kg itu baju dan produk batik masuk disini. Jadi menurut perhitungan kita khusus pakaian batik hampir 15 meter/kapita/tahun,” kata Ade Sudrajat.

(wij/hen)

March 6, 2013

Batik China Datang Menggempur

Pemerintah kok santai santai saja ????
Headline

Batik China – Ist
Oleh: Bastaman
ekonomi – Senin, 4 Maret 2013 | 20:43 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Ini memang keterlaluan. Tak hanya perkakas rumah tangga, mainan, dan sepeda motor saja, batik China juga kuasa menggempur pasar Indonesia. Tak percaya?

Tengok saja di dua pusat penjualan garmen di Jakarta, Tanah Abang dan Mangga Dua. Di sana, produk batik China berjibun jumlahnya. Serbuan batik asal Negeri Tirai Bambu itu diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut catatan BPS, sepanjang 2012, impor batik dari China mencapai 1.037 ton dengan nilai US$30 juta atau sekitar Rp285 miliar. Impor terbesar adalah batik mekanik dengan jumlah 677,4 ton dengan nilai US$23,3 juta. Batik mekanik adalah batik cap yang dikerjakan dengan mesin.

Selain volumenya besar, batik asal China ini harganya jauh lebih murah dibandingkan batik lokal. Selisih harganya bisa mencapai Rp20–30 ribu per helai. Untuk batik batik cap berbahan katun, misalnya, i tanah Abang, batik China ini dijual Rp70 ribu per helai. Sementara batik sejenis buatan Pekalongan Jawa Tengah harganya Rp 100 ribu.

Menurut Mustofa, pemilik pabrik batik di Pekalongan, batik China bisa lebih murah karena bahan bakunya juga murah. Selain itu, produkitivitas pekerja di China lebih tinggi ketimbang Indonesia. Sudah begitu, boleh jadi, masuknya batik asal China itu melalui jalur ilegal. Desain yang ditawarkan batik Tiongkok pun lebih menarik.

Alhasil, makin terancamlah produsen batik cap di dalam negeroi. Dengan berbekal harga murah dan motif yang menarik, batik China sekarang diperkirakan telah menguasai pangsa 25% hingga 30%. Tentu saja, ini menjadi ancaman bagi pengusaha batik di Pekalongan, Cirebon atau Solo.

Yang menyebalkan, pemerintah tampaknya tak begitu khawatir dengan serbuan batik China ini. Seorang pejabat di Kementerian Perindustrian mengatakan, produk tekstil asal China yang masuk ke Indonesia bukanlah batik beneran. “Tidak seperti batik yang diproduksi oleh para pengrajin,” katanya.

Ciyus nih?

February 21, 2013

ERA SOEKAMTO: Karya Iwan Tirta

ERA SOEKAMTO

Karya Iwan Tirta

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY

ERA SOEKAMTO

Meskipun memiliki berbagai pekerjaan, perancang busana Era Soekamto (36) sejak setahun terakhir masih menyisihkan waktu untuk kegiatan kewiraswastaan sosial.

”Para ibu itu sangat terampil. Mereka ibu-ibu biasa di beberapa lokasi di Jakarta yang sebelumnya tidak mengenal mode,” kata Era, pekan lalu, di gerai sebuah yayasan dalam Pekan Mode Indonesia di Balai Sidang, Jakarta.

Era memperlihatkan selendang dari sisa kain serta tas, dompet, dan tikar dari anyaman bekas tube pasta gigi. ”Semua hasil penjualan akan dikembalikan untuk kegiatan di komunitas lagi,” kata Era.

Kegiatan utama Era tetap dalam dunia rancang busana. Selain diminta membuat rancangan busana untuk merek Iwan Tirta Private Collection, Era masih menangani desain, produksi, dan pemasaran produknya sendiri.

Era mengaku masih terus belajar memahami karya-karya almarhum Iwan Tirta. Dia mencontohkan, rumah-rumah mode terkenal di dunia tetap populer meskipun perancang pendirinya telah lama meninggal.

”Cita-cita saya membawa merek Iwan Tirta setara dengan merek asing yang high end,” kata Era. Lagi pula, siapa lagi yang akan menghargai batik jika bukan masyarakat Indonesia sendiri.(NMP)

November 29, 2012

Produser animasi Jepang akan investasi di Indonesia

 

 
 

Produser animasi Jepang akan investasi di Indonesia

Sabtu, 24 November 2012 16:44 WIB | 2806 Views

 
 

Jakarta (ANTARA News) – Beberapa produser film dan animasi Jepang menyatakan berencana menanamkan modal di Indonesia dan akan mewujudkan investasi dalam waktu dekat.

“Kami sudah menyiapkan dana investasi dua juta dolar AS untuk membuat film bertema semi-animasi di Indonesia,” kata Director Head of Nikkatsu Studio, Keizo Yuri, saat mengunjungi Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 di Jakarta, Sabtu.

Nakkatsu Corporation, yang memproduksi film “The Killers,” akan merealisasikan investasi dalam waktu dekat dengan melakukan produksi bersama dengan perusahaan Indonesia.

Menurut Yuri, prospek industri animasi dan film di Indonesia termasuk pasarnya tergolong cerah dan menjanjikan.

“Saya pikir Jepang dan Indonesia akan maju bersama di bidang film dan animasi,” kata produser film “Yattare-Man.” 

Nakkatsu Corporation, kata dia, siap berbagi ilmu dan pengalaman dengan para pelaku industri film dan animasi di Indonesia.

Wakil Presiden International Business Development Aniplex Jepang, Hiroshi Sasaki, juga menyatakan sedang menjajaki pasar film dan konten animasi di Indonesia.

“Saya hanya dua hari di sini, sebelumnya saya belum tahu pasar Asia seperti apa. Ternyata sangat apresiatif, ada banyak toko komik dan toko buku di sini. Ini mencerminkan ada peluang dan kesempatan yang besar di Indonesia,” ujarnya.

Pelaku usaha lokal, Direktur Caravan Studio, Chris Lie, mengaku selama ini 92 persen proyek yang dia kerjakan adalah pesanan dari negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dan sebagian Eropa.

“Ini menunjukkan belum ada yang butuh service kita di sini,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu ada sosialisasi dan dukungan kebijakan pemerintah seperti kewajiban bagi stasiun televisi untuk menayangkan animasi lokal.

“Kebijakan wajib tayang lebih penting ketimbang bantuan permodalan. Harus ada slot untuk animasi lokal,” tuturnya.

Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Armein Firmansyah, mengatakan pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan industri animasi dalam negeri. 

“Kita akan mengarah ke sana, karena kalau kita tidak segera bergerak industri konten animasi kita bisa dikuasai asing,” tukasnya.

 (H016)

September 3, 2012

Fashion Jadi Peluang di Tengah Krisis

 

Senin,
03 September 2012

 

EKONOMI KREATIF

Jakarta, Kompas – Meski dunia tengah dilanda resesi ekonomi, produk-produk fashion masih berpeluang mengisi pasar. Salah satu indikasinya adalah kenaikan secara pengeluaran ritel global untuk barang mewah dari merek-merek terkemuka di Eropa sebesar 17 persen. Kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, merupakan pangsa pasar terbesar produk-produk fashion tersebut.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pengembangan Produk Ekspor dan Ekonomi Kreatif, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Dody Edward di Jakarta, pekan lalu. ”Peluang pasar bagi produk fashion di dalam negeri ataupun di luar negeri masih sangat besar di tengah krisis yang saat ini terjadi di beberapa negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara maju lainnya,” katanya.

Pendapatan per kapita Indonesia yang saat ini mencapai 3.500 dollar AS dengan peningkatan jumlah kelas menengah, ditopang daya beli yang kuat, merupakan faktor-faktor yang dapat mendukung pertumbuhan dunia fashion di dalam negeri. ”Ibu rumah tangga kelas menengah sangat menentukan pembelian produk fashion sebagai bentuk aktualisasi diri,” katanya.

Dalam mengembangkan fashion di Indonesia, diperlukan berbagai upaya strategis dalam pelaksanaannya. Kementerian Perdagangan akan memprioritaskan distribusi produk untuk menguasai pasar lokal, Asia, dan dunia internasional. ”Langkah-langkah yang dilakukan antara lain melaksanakan promosi yang efektif, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasar bagi pelaku fashion,” ungkap Dody Edward.

Lebih lanjut, Dody Edward menyatakan harapannya agar para pelaku usaha produk fashion mampu mempersiapkan kekuatan dalam memaksimalkan peluang-peluang yang ada, baik di dalam maupun di luar negeri.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengatakan, nilai ekspor subsektor fashion dan kerajinan nasional tahun ini diperkirakan naik 5-7 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat 13 miliar dollar AS. (ENY)

July 23, 2012

Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

July 23, 2012, 12:00 PM SGT
Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

Article
Comments
SOUTHEAST ASIA REAL TIME HOME PAGE »
smaller
Larger
facebook
twitter
google plus
linked in
Email
Print
By Eric Bellman

harpoen.com
A screenshot demonstrating how harpoen.com works on an iPhone.
JAKARTA – While Indonesians are some of the most active Twitter and Facebook users in the world, few companies have found ways to make much money off of their social clicks.

Yet as one of Indonesia’s biggest online success stories, Koprol – a location-based social network that was bought by Yahoo – is being shut down, a new location-based platform called Harpoen thinks it can make bucks off of Indonesia’s buddy-based buzz.

The creators of the iPhone application say the secret is to use Indonesia as a sort of intense beta testing ground. Indonesians post more tweets and Facebook updates than almost any other group in the world, and they love to try new things online on their cellphones. That means that if you give them something cool to try out, they will quickly find the glitches in the system and create new ways to use it, programmers say.

Harpoen, which lets users drop comments, photos or videos (which it calls “digital graffiti”) at specific locations for others to find, figures it can leverage all that enthusiasm to make its products better—and also find ways to make them profitable on a global scale.

“Indonesia has a huge population of hip and tech-savvy urbanites who are very open-minded to new ideas and concepts,” says J.P. Ellis, a Jakarta-based American who left his job at a private equity firm to start Harpoen. “Indonesians are also naturally social. We may be the friendliest country in the world.”

Though it was released only four months ago, users have already dropped tens of thousands of “harps” around Jakarta, Bandung and other cities. Many comments left are predictable gripes at big traffic bottlenecks. But users are also using the service in other unexpected ways.

Some are using it to tell others about their favorite waitress at a restaurant, while others are using it to post poetry connected to a certain location. Others are dropping harps to recommend street-food stands. One of the unexpected uses has been to post Wi-Fi passwords at the locations of the many restaurants and cafes that have free Wi-Fi for customers.

There are other services that have stumbled upon surprising popularity in Indonesia. Mig33—which allows people without smartphones chat and blog on their less-expensive cellphones—has millions of users in Indonesia. Meanwhile, Indonesia has become one of BlackBerry’s most important markets, with Indonesians often using it for its instant-messaging services rather than its email capabilities.

“Indonesians are driven to always be in contact with their peers,” said Aulia Masna, editor of Dailysocial, an Indonesian technology news website. “When somebody that [an Indonesian] looks up to uses a particular technology and looks like they are having fun with it, everyone will follow.”

Of course, that doesn’t mean anything launched in Indonesia will become a hit, especially when it comes to making money. Harpoen, for example, needs much more user-generated content to make it fun. In malls or college campuses there may be many harps to see, but elsewhere when people open their Harpoen application, they often find nothing nearby.

Meanwhile, the app may be handicapping itself by offering the service only to iPhone users. Indonesia’s sticky social networkers may be incredibly active online, but few can afford the $600 phones.

The company hopes to fix that soon by making it available for phones that use the Android operating system. That will expand its potential audience from the hundreds of thousands to millions in Indonesia.

If Harpoen can capture the attention of a large enough group of Indonesian hipsters, the company hopes the local advertising, and then the international expansion, will follow.

Blackberry, Facebook, Indonesia, Technology, Twitter