Archive for ‘Elpiji watch’

April 16, 2015

Konsumsi Elpiji 3 Kg Meningkat

Perbedaan Harga Jadi Pemicu

Kebijakan “dongo” …

JAKARTA, KOMPAS — Konsumsi elpiji 3 kilogram pada periode Januari-Maret 2015 meningkat 12,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan konsumsi ini dipicu oleh perbedaan harga antara elpiji dalam tabung 3 kg dan 12 kg yang semakin besar.

Pemerintah didesak agar skema distribusi tertutup segera dilaksanakan untuk mencegah kuota elpiji 3 kg jebol.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, konsumsi elpiji 3 kg pada Januari-Maret 2015 sebanyak 1,32 juta ton. Pada Januari-Maret 2014, konsumsinya sebanyak 1,173 juta ton.

”Salah satu pemicu naiknya konsumsi adalah perbedaan harga elpiji 3 kilogram dengan yang 12 kilogram cukup lebar. Apabila distribusi tertutup tidak diterapkan, kami khawatir kuota (elpiji 3 kilogram) bisa jebol,” kata Ahmad, Rabu (15/4), di Jakarta.

Ahmad menambahkan, naiknya harga elpiji 12 kg membuat sebagian pengguna beralih ke elpiji kemasan 3 kg. Pertamina memperkirakan, sekitar 20 persen konsumen elpiji 12 kg pindah memakai elpiji 3 kg. Tahun ini diperkirakan konsumsi elpiji kemasan 12 kg sekitar 870.000 ton.

Saat berkunjung ke Kompas, kemarin petang, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menekankan, distribusi tertutup merupakan cara yang tepat mengantisipasi melonjaknya konsumsi elpiji 3 kg. Dengan demikian, elpiji bersubsidi yang ditujukan bagi masyarakat miskin itu akan tepat sasaran.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015, pemerintah mengalokasikan kuota elpiji 3 kg sebesar 5,7 juta ton. Jumlah itu lebih banyak daripada realisasi pada 2014 yang sebanyak 4,9 juta ton. Penambahan kuota tahun ini disebabkan program konversi minyak tanah ke gas sebanyak 2 juta rumah tangga di Kalimantan dan Sumatera.

Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg pada 1 April lalu menjadi Rp 142.000 per tabung di tingkat agen atau sekitar Rp 150.000 di tingkat pengecer di Jawa. Dengan harga baru itu, perbedaan harga dengan elpiji 3 kg makin lebar. Saat ini, harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer Rp 20.000 per tabung.

content

”Apabila distribusi tertutup tidak segera diterapkan, ada kemungkinan kami meminta agar kuota elpiji 3 kilogram ditambah. Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu menaikkan harga elpiji 3 kilogram agar kuotanya tak jebol, tetapi itu bukan wewenang Pertamina,” ucap Ahmad.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha mengatakan pemerintah lamban menerapkan pola distribusi tertutup. Mestinya, saat harga elpiji 12 kg naik, sistem ini sudah siap. ”Selama ini siapa saja bebas mendapat elpiji 3 kilogram yang diperuntukkan bagi konsumen berdaya beli rendah,” katanya.(APO)

April 2, 2015

Menaikkan Harga Elpiji, Pemerintah Tidak Memiliki Empati

Semprul si Joko

JAKARTA, KOMPAS — Keputusan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga elpiji 12 kilogram per 1 April 2015 dinilai kurang bijaksana. Kenaikan harga tersebut terjadi beberapa hari setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak jenis solar dan premium. Keputusan menaikkan harga elpiji itu dirasa terlalu terburu-buru.

Pekerja  menurunkan  elpiji kemasan tabung 12 kilogram dari truk di agen penjualan elpiji di kawasan Gedong, Jakarta, Senin (2/3). Mulai 1 April, PT Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram   sebesar Rp 8.000 per tabung  sehingga  harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANPekerja menurunkan elpiji kemasan tabung 12 kilogram dari truk di agen penjualan elpiji di kawasan Gedong, Jakarta, Senin (2/3). Mulai 1 April, PT Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp 8.000 per tabung sehingga harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung.

“Kebijakan (menaikkan harga elpiji 12 kilogram) itu kurang tepat. Pemerintah tidak punya empati. Seharusnya masyarakat diberi jeda untuk bernapas dulu setelah harga BBM (bahan bakar minyak) dinaikkan. Sebaiknya menunggu situasi di masyarakat stabil,” kata anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, kepada Kompas, Kamis (2/4), di Jakarta.

Menurut dia, harga baru elpiji 12 kilogram (kg) akan semakin menurunkan daya beli masyarakat setelah kenaikan harga BBM 28 Maret lalu.

Selain menurunkan daya beli masyarakat, imbuh Tulus, naiknya harga elpiji 12 kg bakal berdampak pula pada perpindahan konsumen gas tersebut ke elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah. Elpiji 3 kg disubsidi pemerintah dan diperuntukkan bagi konsumen berdaya beli rendah.

Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 8.000 per tabung sehingga harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung. Alasan kenaikan itu adalah naiknya harga gas acuan kontrak Aramco, yang menjadi acuan harga gas internasional, dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

00:00:00
KOMPASTVKenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang di tetapkan pemerintah, berimbas pada kenaikan harga elpiji. Di Makassar, Sulawesi Selatan, pertamina kembali menaikkan harga elpiji ukuran 12 kilogram sebesar Rp.670,- per kilogram. KOMPASTV

“Konsumsi elpiji 12 kg per tahun rata-rata 800.000 ton. Jumlahnya masih terbilang jauh lebih kecil ketimbang konsumsi elpiji 3 kilogram yang sebanyak 5,7 juta ton dan masih disubsidi,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.

Rawan penyelewengan

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha berpendapat, naiknya harga elpiji 12 kg akan mendorong perpindahan konsumen ke elpiji 3 kg. Menurut dia, situasi seperti itu tidak dapat dihindari lantaran adanya perbedaan harga yang lebar antara elpiji 12 kg dan 3 kg.

“Ada potensi penyelewengan di lapangan kalau ada perbedaan harga yang lebar untuk komoditas yang sama, tetapi berbeda jenis (12 kg dan 3 kg). Salah satunya ada pengoplosan. Pemerintah harus bisa mengawasi dan mencegah upaya penyelewengan semacam itu,” ujar Satya.

,,

Harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer berkisar Rp 16.000 sampai Rp 20.000 per tabung. Agar distribusi elpiji 3 kg tepat sasaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang menyiapkan skema distribusi tertutup. Skema tersebut menggunakan kartu identitas tertentu untuk masyarakat berdaya beli rendah sebagai bukti saat membeli elpiji 3 kg.

Hanya, skema distribusi tertutup masih sebatas proyek percontohan yang menurut rencana diterapkan pada pertengahan tahun ini di tiga wilayah, yaitu Bali, Batam, dan Bangka Belitung. Realisasi distribusi tertutup direncanakan dapat terwujud tahun depan.

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi ini terkesan diam-diam sehingga mengagetkan sebagian masyarakat. Hal itu, antara lain, tampak dari suara-suara yang dicuitkan dalam linimasa media sosial, seperti Twitter.

Frasa “harga elpiji” sangat populer dalam satu hari terakhir. Layanan aplikasi Topsy pada Kamis pukul 12.30 WIB mencatat, terdapat 2.645 kali cuitan dengan frasa tersebut lalu lalang di linimasa Twitter dalam periode sehari terakhir.

Dwi Aris Wibowo dengan akun @bo_wo22, misalnya, mengatakan, “Harga BBM naik, harga Elpiji naik, harga ini naik, harga itu naik. coba dong naikin negara ini jadi negara maju. bisa gk?”.

Sorotan tentang efek yang mungkin terjadi setelah kenaikan harga elpiji 12 kg juga diutarakan sejumlah pengguna. Hal itu termasuk ihwal kemungkinan bakal diserbunya elpiji bersubsidi dalam kemasan 3 kg sebagai alternatif pengganti.

Maryati Asmara dengan akun ?@MarieMar9 menulis, “Harga gas elpiji 12kg 145rb yg 3kg 20rb (bersubsidi).. jls byk yg beralih ke 3kg.. klo mis yg 12kg 100rb..msh bs dimaklumi”.

Adapun pengguna akun @Taepaw mengatakan, “Nilai tukar dollar menguat, bbm naik, gas elpiji naek, harga barang n kebutuhan pokok naik. USAHA NABUNG MAKIN PEDIIIIH”.

March 9, 2015

Elpiji 3 Kg Langka, Warga Beralih ke Minyak Tanah

Elpiji 3 Kg Langka, Warga Beralih ke Minyak Tanah

Petugas menurunkan gas 3 kg dari truk saat Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg di Cimahi, Jawa Barat, 5 Maret 2015. Langkanya gas elpiji 3 kg menyebabkan harga melonjak di pasaran, warga pun menyerbu Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg yang disebar di tiap kelurahan di Kota Cimahi. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.CO , Makassar: Warga Kelurahan Manggala terpaksa beralih ke minyak tanah untuk melakukan aktifitas memasak. Pasalnya, elpiji 3 kilogram di sejumlah toko pengecer sulit didapatkan.

“Kami tidak tahu alasan kenapa elpiji 3 kilogram langka,” kata Rahmatiwi pengecer elpiji 3 kilogram kepada Tempo Ahad, 8 Maret 2015.

Rahmatiwi mengatakan, kelangkaan terjadi hampir tiga hari belakangan ini. Akibatnya, warga yang gasnya habis terpaksa membeli minyak tanah. “Beruntung saya masih menjual minyak tanah,” ujar Rahmatiwi.

Menurut Rahmatiwi, minyak tanah yang dijual didapatkan dari distributor yang dijual dengan harga Rp 10 ribu per liter. Pemakaiannya paling lama 2 sampai 3 hari. Berbeda dengan gas 3 kilogram dengan harga Rp 17 ribu per tabung, bisa digunakan sampai 3 minggu. Tapi warga akhirnya tetap membeli minyak tanah karena tidak ada pilihan lain. Sebab, kalau harus menunggu gas, pasti tidak bisa masak.

Rahmatiwi menambahkan, banyaknya konsumsi gas melon kemungkinan disebabkan oleh banyaknya warga yang beralih dari gas 12 kilogram ke gas ukuran 3 kilogram yang disubsidi pemerintah. Karena harga gas 12 kilogram saat ini sangat memberatkan.

“Banyak wajah baru yang datang ke toko saya menanyakan ketersediaan gas 3 kilogram. Mereka mau membeli dengan harga mahal tapi memang barangnya tida ada,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar Ismail Tallu Rahim mengatakan kelangkaan elpiji 3 kilogram di Kelurahan Manggala kemungkinan hanya faktor distribusi. Karena secara umum, di Kota Makassar pasokan elpiji 3 kilogram terpantau lancar.

“Karena Makassar adalah pusat pengisian elpiji 3 kilogram. Saya kira itu hanya kasus di beberapa toko saja. Biasanya karena masalah distribusi di pengecer, bukan di tingkat agen elpiji,” kata Ismail.

Ismail menambahkan, Pemerintah Kota Makassar sampai saat ini belum berencana melakukan operasi pasar elpiji 3 kilogram. Sebab, harga dan ketersediaan elpiji 3 kilogram masih normal.

MUHAMMAD YUNUS

March 3, 2015

Pertamina pastikan stok elpiji 3 kg melimpah

ELPIJI 3 KG

Dari kontan-online

Telah dibaca sebanyak 197 kali
Pertamina pastikan stok elpiji 3 kg melimpah

JAKARTA. PT Pertamina (Persero) menyatakan, bahwa tidak ada kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram (kg). Pertamina juga menjamin bahwa stok gas melon tersebut masih melimpah. “Masyarakat tidak perlu panik,” himbau Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, Selasa (3/3).

Dia menyarankan, jika sulit mendapatkan gas elpiji 3 kg atau harganya tinggi, masyarakat bisa langsung membeli ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat. Seluruh SPBU sudah ditugaskan Pertamina untuk menyediakan elpiji 3 kg dengan harga eceran tertingi (HET).

“Silahkan cari di SPBU terdekat. Jika kosong, laporkan ke call center di no 021 500.000 bebas pulsa atau call center setempat agar segera dilakukan operasi pasar,” terangnya.

Bambang juga meminta masyarakat segera melaporkan jika ada pangkalan yg menaikkan harga melebihi HET yg ditetapkan pemerintah daerah (Pemda). Juga, jika ada penyalahgunaan maupun pengoplosan elpiji 3 kg. “Segera laporkan kepada kami, mohon dipahami, bahwa elpiji 3 Kg ini hanya untuk rakyat tidak mampu,” tandasnya

February 26, 2015

Elpiji 3 Kg Langka, Pertamina: Ini Ada Permainan Agen

Penyakit urusan distribusi Pertamina yang belum pernah beres…

Rista Rama Dhany – detikfinance
Kamis, 26/02/2015 11:54 WIB
Elpiji 3 Kg Langka, Pertamina: Ini Ada Permainan Agen
Jakarta -PT Pertamina (Persero) menduga ada permainan dari pihak pangkalan elpiji yang menahan stok elpiji 3 kg. Hal tersebut bertujuan agar seolah elpiji melon ini langka, sehingga harganya dinaikkan.

“Ini pasti ada permainan, baik dari pihak pangkalan, agen, dan warung penjual elpiji 3 kg,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, di Kantor Pusat Pertamina, Medan Merdeka Timur No 1 A, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2015).

Bambang mengatakan, para agen-agen dan pangkalan yang nakal ini sengaja menahan penjualan elpiji 3 kg, sehingga terkesan langka. Isu kelangkaan ini membuat agen nakal bisa leluasa menaikkan harga seenaknya.

“Harusnya dia cuma untung Rp 1.000/tabung, tapi kalau ada isu langka seperti ini mereka bisa menaikkan harga sesukanya, bisa untung Rp 4.000/tabung,” ungkapnya.

Kemudian, masyarakat kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg karena stoknya ditahan. Akibatnya terjadi panic buying, dan ada pembelian berlebihan.

“Kita juga sudah mengetahui agen-agen dan pangkalan yang nakal, di Bogor kita PHU (Pemutusan Hubungan Usaha) dan ini akan bertambah lagi, agen nakal kita sikat, nggak ada ampun lagi, daripada mereka buat masyarakat resah,” tegasnya.

Bambang menambahkan lagi, dugaan permainan agen dan pangkalan ini nyata adanya, karena setelah dilakukan pengecekan di lapangan, ternyata stok elpiji banyak di pangkalan dan agen elpiji.

“Bahkan operasi pasar yang kita lakukan, gelontorkan sebanyak mungkin elpiji 3 kg, ternyata yang beli hanya 10 tabung, 20 tabung, intinya nggak laku,” tutupnya.

(rrd/dnl)

January 3, 2015

Masyarakat Kecewa Pertamina Naikkan Harga Elpiji 12 kg

03 Jan 2015 01:48 PM

Masyarakat Kecewa Pertamina Naikkan Harga Elpiji 12 kg

Politisi Terkait

JAKARTA,BIJAKS – Kemarin, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram (kg) sebesar Rp 1.500 per kg. Alasannya untuk menekan kerugian Pertamina dalam penjualan gas elpiji 12 kg yang mencapai Rp 5 triliun.

Dengan begitu, harga gas elpiji nonsubsidi 12 kg menjadi Rp 134.700 per tabung. Kenaikan harga gas elpiji 12 kg disesalkan masyarakat. Apalagi, tidak ada pemberitahuan terlebih dulu.

Sebelumnya, Tanpa pemberitahuan ke publik, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi kemasan 12 Kg sebesar Rp 1.500 per Kg. Harga baru ini berlaku mulai tanggal 2 Januari pukul 00.00 waktu setempat atau hari ini.

Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan kebijakan korporasi ini merupakan pelaksanaan Roadmap Penyesuaian Harga Elpiji 12 kg secara berkala untuk menuju harga keekonomian sesuai dengan kaidah bisnis korporasi. (as/mc/yc)

September 21, 2014

Prediksi Pertamina soal migrasi elpiji dinilai manipulatif

6 jam lalu | Dibaca 4258 kaliOleh Hanny Sofia SoepardiPermintaan Elpiji 3 Kg. Pekerja menata tabung gas Elpiji 3 Kg di Depo SPBE Blabak Kediri, Jawa Timur, Jumat (12/9). Kenaikan harga elpiji 12 kilogram membuat permintaan pengisian gas Elpiji 3 Kg di Depo SPBE meningkat hingga 30 persen. PT Pertamina (Persero) telah mengantisipasi kemungkinan migrasi sementara para pengguna elpiji nonsubsidi tabung 12 kg ke 3 kg dengan menjalankan sistem monitoring elpiji tiga kg yang bisa mendeteksi secara dini penyalahgunaan penggunaan elpiji termasuk migrasi dan pengoplosan akibat disparitas harga 12 kg dan 3 kg. (ANTARA FOTO/Rudi Mulya) ()Jakarta (ANTARA News) – Pengamat Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai prediksi Pertamina soal migrasi elpiji dari 12 kg ke 3 kg yang diperkirakan hanya dua persen cenderung manipulatif.”Perkiraan Pertamina yang menyebutkan migrasi hanya akan terjadi sekitar 2 persen itu prediksi yang manipulatif,” kata Suroto di Jakarta, Minggu.Menurut dia fakta penetapan kenaikan harga elpiji 12 kg oleh Pertamina sangatlah memberatkan UKM hingga membuat mereka terpaksa bermigrasi ke gas 3 kg karena pertimbangan ongkos produksi.Ia berpendapat hal itu terjadi karena kenaikan itu mengakibatkan ongkos produksi menjadi tidak rasional lagi karena harganya bisa dua kali lipat dari gas subsidi 3 kg.”Kalau dihitung harga eceran gas 12 kg bisa sampai Rp125 ribu di tangan pembeli. Artinya jika dibandingkan dengan harga gas 3 kg yang bersubsidi yang harga ecerannya Rp17 ribu atau Rp68 ribu per 12 kg berarti selisihnya bisa sampai Rp57 ribu atau hampir dua kali lipat,” katanya.Suroto memantau hingga kini para pedagang kecil sudah mulai banyak yang migrasi dan keputusan ini juga merepotkan mereka karena di beberapa tempat persediaan gas 3 kg mulai sulit didapat. Menurut dia kenaikan harga gas 12 kg hanya berdampak pada UKM yang bahkan tidak dapat menaikkan harga jual barang mereka karena pelanggannya juga masyarakat kecil yang daya belinya terbatas.”Kebijakan ini adalah keliru besar karena mencoba untuk mengambil keuntungan dari selisih harga psikologis para pengusaha kecil yang tak mungkin akan mampu menaikkan harga jual mereka,” katanya.Ia meminta pemerintah untuk tidak selalu menyelesaikan masalah dengan menaikkan harga karena sebetulnya persoalan pokoknya justru menumpas mafia migas. “Mereka itu yang harus dibersihkan, jangan rakyat kecil yang jadi sasaran untuk menanggung beban,” katanya.Suroto menekankan pentingnya untuk menghentikan kebiasaan buruk menaikkan harga itu dan menyudahi orientasi ekonomi yang “trickle up”.Motivasi untuk mengejar target keuntungan bagi Pertamina yang dilandasi “profit oriented” kata dia juga harus dihentikan.”Keberadaan BUMN itu seharusnya memberikan daya dorong ekonomi kecil, bukan menghabisi mereka,” kata Suroto. (H016)Editor: B Kunto Wibisono

September 10, 2014

Di Cianjur, Beli Gas Elpiji 3 Kilogram Harus Inden

RABU, 10 SEPTEMBER 2014 | 16:47 WIB

Di Cianjur, Beli Gas Elpiji 3 Kilogram Harus Inden
Warga antre untuk membeli gas elpiji 12 kg di Bandung, Jawa Barat, (10/5). Mereka harus rela antre selama dua jam dan hanya boleh membeli paling banyak dua tabung. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Cianjur – Warga dan pedagang makanan di Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan langkanya elpiji kemasan 3 kilogram sejak dua pekan terakhir. Kelangkaan ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan gas bersubsidi tersebut dari tingkat agen ke pengecer. “Kalaupun ada harganya mencapai Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per tabung. Itu pun harus inden dulu ke warung,” kata Neng Yayu, 38 tahun, warga Desa Cibiuk, Rabu, 10 September 2014.

Menurut dia, kondisi ini sangat menyulitkan para pengguna elpiji bersubsidi. Dia menduga kelangkaan ini disengaja lantaran pemerintah membatasi subsidi elpiji. “Jika memang kondisinya akan seperti ini, kenapa warga diharuskan memakai elpiji?” ucapnya.

Ujang Supri, 40 tahun, pemilik warung nasi, mengungkapkan, untuk mendapatkan elpiji kemasan 3 kilogram, dia kadang harus memesan dulu ke pengecer atau warung. Jika tidak begitu, dia tidak akan kebagian karena harus berebut dengan pembeli lain yang sudah memesan. “Kami harus menyimpan tabung di pengecer agar bisa mendapatkan jatah elpiji karena pasokannya terbatas dan jadwal pengirimannya juga tidak jelas,” kata Ujang.

Dalam sehari ia menghabiskan dua tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Jika harga gas terus melonjak, dipastikan usaha warung nasinya terkena dampak. “Jika harganya naik terus, bagaimana saya mau berjualan?” katanya.

Kelangkaan gas melon tersebut itu dipicu rencana pemerintah menaikkan harga epliji 12 kilogram. Akibat munculnya rencana ini, banyak warga yang beralih menggunakan elpiji 3 kilogram, sehingga persediaan gas itu menjadi berkurang.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho, mengatakan kebutuhan atau penyerapan elpiji 12 kilogram di Kabupaten Cianjur rata-rata 16 ribu tabung per bulan. Adapun agen elpiji 12 kilogram di sini hanya ada dua, yakni PT Mekar Leo dan PT Tenaga Dian. “Di Kabupaten Cianjur, penyerapannya sebanyak 16 ribu per bulan,” katanya.

Sales Representative PT Pertamina Jawa Barat, Aria, mengatakan kebutuhan elpiji 12 kilogram di Cianjur diperkirakan 25 ribu tabung per bulan. Di kabupaten ini, dia melanjutkan, sudah ada penggantian elpiji bright gas dan ease gas.

“Penggantian itu tabungnya lebih menarik lebih dan bagus warna tabungnya, juga lebih bagus. Tujuannya untuk menarik konsumen supaya menggunakan elpiji yang subsidinya lebih kecil. Bright gas (12 kilogram) di kisaran harga Rp 115 ribu per tabung dan ease gas (9 kilogram) Rp 95 ribu per tabung,” ucapnya.

DEDEN ABDUL AZIZ

September 10, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik, Pertamina Klaim Masih Alami Kerugian

Wednesday, September 10, 2014       11:48 WIB

– Walau harga elpiji 12 kg sudah dinaikan Rp1.500 per kg, PT Pertamina Persero mengaku masih rugi. Karena harga tersebut masih di bawah harga keekonomian.Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya mengatakan, saat ini harga elpiji 12 kg berada di kisaran Rp7.569 per kg. Sedangkan harga keekonomian elpiji di kisaran Rp15.100 per kg. Dengan begitu Pertamina masih menombok kekurangan tersebut.

“Berdasarkan rata-rata CP Aramco y-o-y Juni 2014 sebesar US$891,78 per metric ton dan kurs Rp11.453 per US$ ditambah komponen biaya seperti di atas maka harga keekonomian elpiji 12 kg saat ini seharusnya Rp15.100 per kg atau Rp181.400 per tabung,” ujar Hanung di Jakarta, Rabu (10/9).

Sebagaimana diketahui, Pertamina telah memutuskan untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi 12 kg pada hari ini, Rabu (10/9) mulai Pukul 00.00 waktu setempat. Kebijakan korporasi ini ditetapkan setelah mendengar masukkan pemerintah dalam rapat di Kementerian perekonomian 8 September 2014 lalu.

Dengan adanya penyesuaian harga tersebut, kerugian Pertamina di 2014 dalam penjualan elpiji 12 kg sebesar Rp452 miliar sehingga total rugi menjadi Rp5,7 triliun dari prognosa semula Rp6,1 triliun dengan proyeksi tingkat konsumsi elpiji 12 kg mencapai 907.000 metric ton.

Saat ini, harga jual rata elpiji 12 kg net dari Pertamina menjadi Rp7.569 per kg dari sebelumnya Rp6.069 per kg. Apabila ditambahkan dengan komponen biaya lainnya, seperti transport, filing fee, margin agen dan PPN, maka harga jual di agen menjadi Rp9.519 per kg atau Rp114.300 per tabung dari sebelumnya Rp7.731 per kg atau Rp92.800 per tabung.

“Kerguian ini masih melebihi proyeksi RKAP 2014 sebesar Rp5,4 triliun yang dipatok pada asumsi CP Aramco sebesar US$833 per metric ton dan kurs
Rp10.500 per US$,” ujar Hanung.

(Rifai/mk)

August 22, 2014

Harga Elpiji Tabung Melon Tembus Rp 26 Ribu

HomeBisnisBisnis
JUM’AT, 22 AGUSTUS 2014 | 18:43 WIB

Truk berisi tabung gas 3 Kg yang dibagikan secara gratis oleh Pertamina kepada warga korban banjir di jalan Jatinegara Barat, Jakarta (20/1). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Berita Terkait
Chairul Tanjung: Harga Elpiji Belum Tentu Naik
Agen Gas Nakal Terancam Diberi Sanksi
Kenaikan Harga Elpiji Dongkrak Inflasi 0,5 Persen
Elpiji Naik, Wagub Bali Anggap Wajar
Wakil Menkeu Minta Pertamina Kawal Harga Elpiji
Foto Terkait

Presiden SBY Minta Kenaikan Harga Elpiji Ditinjau Lagi
Video Terkait

Langka, Harga Gas 3kg Meroket
Topik
#Harga Gas
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Majalengka – Gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Majalengka sulit didapatkan dalam sepekan terakhir. Kalaupun ada, di pedesaan harganya tembus sampai Rp 26 ribu per tabung.

“Seharian ini saya mencari tabung elpiji 3 kilogram, sudah lebih dari 10 toko, kios dan pengecer yang saya datangi,” kata Ade Nurjanah, warga Kelurahan/Kecamatan Majalengka, Jumat, 22 Agustus 2014. “Tapi habis semua. Stoknya kosong.”

Ade mengungkapkan dirinya memiliki 2 tabung elpiji 3 kg. Satu tabung sudah kosong. “Sedangkan tabung satunya sudah 3 hari dipakai,” kata Ade. Ini berarti tabung tersebut umurnya tinggal 3 atau 4 hari lagi. “Kalau belum dapat juga, bisa-bisa saya tidak masak,” kata Ade. (Baca: Harga Elpiji 12 Kg Naik, Gas Melon Bakal Diserbu)

Sedangkan seorang pengecer elpiji 3 kg di Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Yuli, mengaku jika pasokan elpiji 3 kg terus menurun sejak sepekan ini. “Normalnya saya dapat pasokan 10 hingga 15 tabung elpiji 3 kg setiap harinya,” kata Yuli. Namun selama sepekan ini pasokan elpiji terus berkurang menjadi hanya 5 tabung setiap hari. Bahkan hari ini Yuli mengaku hanya mendapatkan kiriman elpiji 3 kg sebanyak 3 tabung. (Baca: Harga Akan Naik, Elpiji Mulai Langka di Pasaran)

Tidak hanya di perkotaan, kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg pun terjadi di daerah pedesaan di Kabupaten Majalengka. Termasuk di Desa Cipendeuy, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. “Harga elpiji 3 kg di desa kami sudah mencapai Rp 26 ribu per tabung,” kata Budi. (Baca: ESDM Akui Gas Melon Laris Bila LPG Naik)

Padahal biasanya paling mahal harga elpiji 3 kg hanya berkisar antara Rp 18 ribu-20 ribu per kg. “Sudah mahal, dapatnya sulit lagi,” kata Budi. Karena tidak ada pilihan lain lagi, akhirnya Budi mengaku keluarganya kini menggunakan kayu bakar untuk memasak.

IVANSYAH

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers