Archive for ‘Energy’

March 4, 2015

Dari Rugi Rp 26 T Jadi Untung Rp 11,7 T, PLN Ingin Bertahan di Fortune 500

Semoga bukan sulap akutansi

Rabu, 04/03/2015 18:17 WIB

Rista Rama Dhany – detikFinance
Jakarta – PT PLN (Persero) berhasil membukukan laba bersih Rp 11,7 triliun di 2014 lalu. Laba ini naik 145% dari 2013 yang merugi Rp 26,2 triliun. Kenaikan ini didorong oleh pendapatan usaha dan kenaikan laba selisih kurs.

Dalam keterangan resmi PLN, Rabu (4/3/2015), pada 2014 lalu, pendapatan usaha PLN mencapai RP 292,7 triliun, naik 11,8% dibanding 2013 yang sebesar Rp 261,8 triliun.

Meningkatnya pendapatan usaha tersebut berasal dari kenaikan volume penjualan kWh tenaga listrik menjadi 198,6 Terra Watt hour (TWh), naik 5,9% dibanding dengan periode yang sama di 2013 sebesar 187,5 TWh. 

Jumlah pelanggan yang dilayani perusahaan pada akhir tahun mencapai 57,49 juta pelanggan, atau naik 6,5% dari tahun sebelumnya.

Meski begitu, beban usaha PLN di 2014 juga naik 11,8% menjadi Rp 246,9 triliun. Kenaikan beban usaha disebabkan konsumsi bahan bakar, terutama gas dan batu bara seiring dengan peningkatan permintaan tenaga listrik pelanggan. 

Biaya pemakaian batu bara dan gas di 2014 masing-masing Rp 44,8 triliun dan Rp 47,7 triliun. Naik sebesar 20,55% dan 26,14 % dari 2013. 

Dalam keterangannya, PLN mengaku terus melakukan efisiensi dan pengendalian terhadap pengeluaran untuk beban usaha, terutama dengan mengalihkan biaya energi primer dari BBM ke non BBM serta efisiensi biaya yang merupakan controllable cost bagi perseroan.

Dari hasil itu, laba usaha PLN di 2014 mencapai Rp 45,8 triliun, naik Rp 4,9 triliun atau 11,9 % dibanding 2013 sebesar Rp 40,9 triliun. Laba bersih PLN di 2014 adalah Rp 11,7 triliun, naik 145% dari rugi Rp 26,2 triliun di 2013.

Kenaikan laba bersih ini, di samping disebabkan kenaikan laba usaha, juga karena peningkatan laba selisih kurs. PLN di 2014 mencatatkan laba selisih kurs Rp 1,3 triliun, lebih baik dibandingkan 2013 yang mengalami rugi selisih kurs Rp 48,1 triliun.

EBITDA Perseroan mengalami peningkatan 8,6% menjadi Rp 70,8 triliun di 2014, dibandingkan 2013 sebesar Rp 65,2 triliun. Peningkatan EBITDA menunjukkan bahwa, likuiditas keuangan perusahaan semakin bagus dan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan perusahaan dalam menyediakan dana untuk memenuhi kewajiban pokok dan bunga utang serta untuk tambahan investasi.

Total aset PLN pada akhir 2014 adalah Rp 603,7 triliun, atau naik 2,3% dibanding 2013 sebesar Rp 590,2 triliun. 

Terkait dengan masuknya PLN dalam Fortune Global 500 pada tahun 2014 atas kinerja Laporan Keuangan 2013, maka pencapaian di Laporan Keuangan Tahun 2014 memberikan harapan PLN dapat tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu dari 500 perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia.


 



Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Untuk akses lebih cepat install detikcom untuk iPhone

Ads by Iklanbaris« Back

    March 3, 2015

    Pertamina pastikan stok elpiji 3 kg melimpah

    ELPIJI 3 KG

    Dari kontan-online

    Telah dibaca sebanyak 197 kali
    Pertamina pastikan stok elpiji 3 kg melimpah

    JAKARTA. PT Pertamina (Persero) menyatakan, bahwa tidak ada kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram (kg). Pertamina juga menjamin bahwa stok gas melon tersebut masih melimpah. “Masyarakat tidak perlu panik,” himbau Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, Selasa (3/3).

    Dia menyarankan, jika sulit mendapatkan gas elpiji 3 kg atau harganya tinggi, masyarakat bisa langsung membeli ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat. Seluruh SPBU sudah ditugaskan Pertamina untuk menyediakan elpiji 3 kg dengan harga eceran tertingi (HET).

    “Silahkan cari di SPBU terdekat. Jika kosong, laporkan ke call center di no 021 500.000 bebas pulsa atau call center setempat agar segera dilakukan operasi pasar,” terangnya.

    Bambang juga meminta masyarakat segera melaporkan jika ada pangkalan yg menaikkan harga melebihi HET yg ditetapkan pemerintah daerah (Pemda). Juga, jika ada penyalahgunaan maupun pengoplosan elpiji 3 kg. “Segera laporkan kepada kami, mohon dipahami, bahwa elpiji 3 Kg ini hanya untuk rakyat tidak mampu,” tandasnya

    February 27, 2015

    Kilang Minyak RI Tidak Efisien, Haruskah Ditutup Saja?

    Kamis, 26/02/2015 17:44 WIB

    Rista Rama Dhany – detikFinance
    Jakarta – Enam kilang minyak yang dikelola PT Pertamina (Persero) berusia tua, sehingga tidak efisien. Hasil produksinya BBM-nya lebih mahal dari BBM impor. Haruskah kilangnya ditutup saja?

    “Pertamina saat ini memang sedang mengkaji untuk menutup beberapa kilang minyak dari 6 kilang minyak yang ada. Salah satu alasannya karena tidak efisien, hasil produksinya lebih mahal daripada impor BBM dari luar negeri. Mana yang ditutup masih kita akan kaji lagi lebih dalam,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Kamis (26/2/2015).

    Bambang mengungkapkan, tidak mudah memutuskan menutup salah satu kilang minyak Pertamina saat ini, walaupun operasionalnya rugi. Pasalnya, efek yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar.

    “Kita coba analisis satu per satu, karena begini, ini misal, kilang Plaju, memang kilangnya tidak efisien, tapi kilang Plaju selama ini mengola minyak dari Jambi yang diproduksi Pertamina EP, kalau kilangnya tutup, siapa yang memasak minyak ini? Lalu di Lampung pasokan BBM-nya dari mana? Selama ini kan dipasok dari Kilang Plaju. Paling dimungkinkan Kilang Kasim di Papua, tapi risikonya nanti rakyat Papua marah. Kita bisa saja tetap gaji pegawai walau kilangnya tutup, tapi efek berantainya ini panjang,” jelasnya.

    Bambang mengakui, bila saat ini pasokan BBM mengandalkan sebagian besar dari impor BBM, maka harga BBM di Indonesia bisa sampai dengan di Malaysia dan Singapura.

    “Tapi, kita tidak punya ketahanan energi sama sekali, kilang minyak itu cerminan ketahanan energi suatu negara. Kalau impor semua apa kita mau harga BBM dikendalikan negara lain, negara lain bisa saja seenaknya menentukan harga BBM yang kita beli, karena suka tidak suka kita butuh,” tutup Bambang.



    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com

    Untuk akses lebih cepat install detikcom untuk iPhone

    Ads by Iklanbaris« Back

      February 26, 2015

      Pasokan Batubara di Setop, PLN Damprat Kideco Jaya

      Ini hasil dari jor joran memberikan konsesi ke perusahan tambang asing. Konyol eli bangsa ini.

      Ekonomi

      Kamis, 26/02/2015 17:49
      Agung

      Reporter: Giras Pasopati, CNN IndonesiaIlustrasi batubara. (Jakarta, CNN Indonesia — PT PLN (Persero) menyatakan telah memprotes kebijakan perusahaan tambang batubara asal Korea Selatan PT Kideco Jaya Agung yang berencana menghentikan pasokan komoditas tersebut ke beberapa pembangkit listrik setelah kontrak habis.“Saya bilang pada mereka, ini batubara berasal dari negara siapa? Kok bisa-bisanya mereka seenaknya berbuat tanpa menghiraukan negara kita?” ujar Kepala Divisi Batubara PLN Helmi Najamuddin di Jakarta, Kamis (26/2).Dia menjelaskan, ada dua kontrak yang terkesan dibuat ‘main-main’ oleh Kideco. Yang pertama adalah kontrak pengadaan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Cilacap sebesar 500 ribu ton per tahun yang berakhir pada Desember 2015.“Yang kedua kontrak pasokan untuk PLTU Paiton sebanyak 2 juta ton sampai Desember 2016. Setelah negosiasi, mereka cuma mau menambah setahun saja. Lah, terus habis itu mati PLTU-nya kan? Ya enggak bisa seperti itu lah,” ungkapnya. PLTU Cilacap sendiri selama ini memasok listrik sebanyak 2×300 megawatt (MW) dan Paiton sebesar 2×600 MW untuk kebutuhan listrik di Pulau Jawa, Madura, dan Bali.“Mereka (Kideco) beralasan terhambat kontrak ekspor. Jadi rencana mereka mau diekspor ke ‘majikan’ di Korea,” ungkapnya.Menurut Helmi, kontrak dengan Kideco tersebut sebelumnya telah berjalan selama 10 tahun. Namun, Helmi menginginkan ada kelanjutan kontrak hingga PLTU tersebut tidak bisa digunakan lagi.“PLTU itu masanya 30 tahun. Tapi kalau dipelihara dengan baik bisa sampai 50 tahun. Ya kami maunya sampai masanya habis. Seharusnya, perpanjangan kontrak bisa dilakukan dengan opsi dari pemilik PLTU, yaitu PLN,” ujarnya.Pilihan Redaksi

      HARGA BATUBARA DIPERKIRAKAN MERANGKAK NAIK KE US$ 70 PER TON

      BATUBARA ANDALAN PENERIMAAN NEGARA

      PEMBANGKIT BERBAHAN BATUBARA CAIR DITARGETKAN RAMPUNG 2015

      Mengutip data dari Kideco, sejak pertama kali beroperasi di Indonesia pada 1993 lalu, perusahaan yang dipimpin oleh Chief Executive Officer Lee Chang-hoon tersebut selalu menorehkan peningkatan produksi.Selama 21 tahun beroperasi di Kalimantan, Kideco tercatat telah memproduksi batubara sebanyak 250,1 juta ton. Berikut data produksi batubara Kideco selama lima tahun terakhir:2014 – 40 juta ton2013 – 37 juta ton2012 – 34 juta ton2011 – 31,5 juta ton2010 – 29 juta ton

      February 26, 2015

      Elpiji 3 Kg Langka, Pertamina: Ini Ada Permainan Agen

      Penyakit urusan distribusi Pertamina yang belum pernah beres…

      Rista Rama Dhany – detikfinance
      Kamis, 26/02/2015 11:54 WIB
      Elpiji 3 Kg Langka, Pertamina: Ini Ada Permainan Agen
      Jakarta -PT Pertamina (Persero) menduga ada permainan dari pihak pangkalan elpiji yang menahan stok elpiji 3 kg. Hal tersebut bertujuan agar seolah elpiji melon ini langka, sehingga harganya dinaikkan.

      “Ini pasti ada permainan, baik dari pihak pangkalan, agen, dan warung penjual elpiji 3 kg,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, di Kantor Pusat Pertamina, Medan Merdeka Timur No 1 A, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2015).

      Bambang mengatakan, para agen-agen dan pangkalan yang nakal ini sengaja menahan penjualan elpiji 3 kg, sehingga terkesan langka. Isu kelangkaan ini membuat agen nakal bisa leluasa menaikkan harga seenaknya.

      “Harusnya dia cuma untung Rp 1.000/tabung, tapi kalau ada isu langka seperti ini mereka bisa menaikkan harga sesukanya, bisa untung Rp 4.000/tabung,” ungkapnya.

      Kemudian, masyarakat kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg karena stoknya ditahan. Akibatnya terjadi panic buying, dan ada pembelian berlebihan.

      “Kita juga sudah mengetahui agen-agen dan pangkalan yang nakal, di Bogor kita PHU (Pemutusan Hubungan Usaha) dan ini akan bertambah lagi, agen nakal kita sikat, nggak ada ampun lagi, daripada mereka buat masyarakat resah,” tegasnya.

      Bambang menambahkan lagi, dugaan permainan agen dan pangkalan ini nyata adanya, karena setelah dilakukan pengecekan di lapangan, ternyata stok elpiji banyak di pangkalan dan agen elpiji.

      “Bahkan operasi pasar yang kita lakukan, gelontorkan sebanyak mungkin elpiji 3 kg, ternyata yang beli hanya 10 tabung, 20 tabung, intinya nggak laku,” tutupnya.

      (rrd/dnl)

      February 19, 2015

      Tiru Kanada dan Norwegia, 30 Kapal Pelni dan 286 Kereta Akan Pakai BBG

      Semoga bukan omong doang

      Feby Dwi Sutianto – detikfinance
      Kamis, 19/02/2015 15:50 WIB

      Jakarta -Pemerintah akan mengadopsi pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) seperti di Kanada dan Norwegia, agar dapat digunakan sebagai bahan bakar lokomotif penarik kereta dan kapal laut. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program bauran energi yang murah dan ramah lingkungan.

      “Kapal dan kereta rencana mau pakai gas. BBG sudah dipakai untuk kereta di Kanada dan kapal di Norwegia. Ini efisien,” kata Direktur Gas Badan Pengatur Hilir Kegiatan Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto di Batam, Kamis (19/2/2015).

      Djoko mengatakan, tahap awal pemerintah akan melakukan uji coba terhadap lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan kapal laut milik PT Pelni (Persero).

      “KAI dan Pelni akan sediakan kapal dan kereta. PGN atau Pertamina yang sediakan fasilitas pengisian (BBG). Perhubungan Laut sediakan pelabuhan yang bisa dipasang SPBG, dan kita (pemerintah) sediakan konverter kit,” jelasnya.

      Nantinya kata Djoko, angkutan kereta dan kapal laut memang harus memakai energi alternatif, khusus untuk angkutan kapal. Regulasi internasional telah mensyaratkan pemakaian bauran energi alternatif seperti gas bumi.

      “Untuk kapal ada peraturan internasional baru, bahwa kapal Indonesia enggak bisa ke Eropa karena masih pakai solar. Regulasi yang baru menyebutkan 70% bahan bakar kapal harus pakai LNG, kalau enggak gini, kita hanya bisa berlayar ke ASEAN saja,” ujarnya.

      BPH Migas menargetkan sebanyak 286 lokomotif, 50 kapal perintis hingga 30 kapal Pelni akan terpasang konvertir kit untuk mendukung pemanfaatan energi gas. Proses koversi bahan bakar tersebut akan dilakukan secara bertahap.

      “Sebanyak 286 lokomotif bisa dikonvert pakai gas, kemudian ada 50 kapal perintis, dan Pelni ada 30 kapal,” ujarnya.

      February 17, 2015

      Potret Reklamasi “Setengah Hati” di Bekas Tambang Harita di Kendawangan

      Selasa, 17 Februari 2015 | 12:08 WIB
      KOMPAS.com/Yohanes Kurnia IrawanKolam penampung limbah di kawasan bekas tambang bauksit milik PT.HPAM di site desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat (9/2/2015).

      Terkait

      KENDAWANGAN, KOMPAS.com – Siang itu, Senin (9/2/2015), waktu kira-kira sudah menujukkan pukul 11.00 siang. Matahari pun sudah mulai menyengat, siap menggosongkan kulit.

      Kompas.com bersama dua jurnalis lokal dan nasional lainnya, ditemani supir dan pemandu warga lokal mulai bersiap berangkat dari hotel tempat kami menginap di Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Tujuan kami menuju lokasi bekas tambang bauksit, milik raksasa pertambangan PT.Harita Prima Abadi Mineral (HPAM).

      Kendawangan khususnya, dan Kabupaten Ketapang umumnya merupakan salah satu kawasan pertambangan yang dikelola oleh HPAM. Namun, sejak adanya Peraturan Menteri Nomor 7 Tahun 2012, tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, HPAM mulai menghentikan produksinya secara bertahap hingga tahun 2013. Hal ini diikuti dengan merumahkan tenaga kerjanya.

      Salah satunya yang beroperasi di Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Perjalanan siang itu sengaja melewati perkebunan kelapa sawit, menuju Dusun Suka Ria, yang masuk dalam kawasan Izin Usaha Pertambangan (IUP) HPAM.

      Di sana, kami singgah sejenak di Dusun Suka Ria, untuk bertemu Nikodemus (32), Kepala Dusun yang baru menjabat tidak lebih dari dua tahun. Nikodemus pun mulai menguraikan kondisi sebenarnya di kawasan bekas tambang HPAM di dusun nya.

      “Reklamasi kawasan bekas tambang bauksit HPAM yang beroperasi di Kendawangan belum 100 persen. Kebanyakan tanah yang dikembalikan ke masyarakat tidak direklamasi pasca tambang. Masyarakat pun berusaha mencoba menanam sendiri lahan bekas tambang itu. Tapi tumbuhnya kerdil dan tidak bagus,” kata Nikodemus mengawali ceritanya, Senin (9/2/2015) kemarin.

      Sekilas, kawasan di sekitar pemukiman di Dusun Sukaria tampak asri dan rindang. Pepohonan menghijau, dan suasana khas pedesaan masih kental terasa. Nikodemus pun mengajak berkeliling menuju bekas tambang, yang jaraknya hanya 200 meter dari dusun.

      Begitu memasuki kawasan bekas pertambangan, suasana teduh di perkampungan terlihat seperti kamuflase untuk mengaburkan keadaan sebenarnya di belakang kampung mereka. Kawasan bekas tambang HPAM dengan lubang menganga dan genangan air. Sejauh mata memandang, warna merah dari tanah bekas galian bauksit memenuhi pemandangan.

      “Ini kolam bekas washing plant (WP). Dulu dikenal dengan nama Jisamsu. Kolam ini dulu ada sungai nya. Tapi sengaja diputus aliran sungainya untuk dibuat kolam penampungan air. Yang di sebelah sana itu tempat pembuangan limbah, sampai ke rawa-rawa,” kata Nikodemus.

      Di kawasan yang luas itu, memang tidak terlihat adanya tumbuhan hijau. Bahkan rumput pun enggan untuk tumbuh. Aktivitas bekas tambang rupanya sudah merusak sistem hidrologi dan menghilangkan unsur hara tanah.

      Nikodemus pun menujukkan bekas lahan tambang yang ditanam sendiri oleh warga, terlihat batang karet yang berusia sekitar tiga tahun hanya sebesar lengan orang dewasa.

      KOMPAS.com/Yohanes Kurnia IrawanKawasan rawa yang terkena dampak pembuangan limbah bekas tambang bauksit milik PT.HPAM yang digunakan sebagai tempat washing plant di site desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat (9/2/2015).

      Sawit
      Secara visual, areal bekas tambang tersebut ada yang sudah ditanami dengan pohon kelapa sawit. Tambang hilang, Sawit pun didulang. Warga pun masih belum paham tentang masuknya sawit tersebut di bekas areal tambang.

      “Sawit ini ada yang memang ditanam sendiri oleh warga. Tapi ada juga yang dari perusahaan. Tidak lama setelah tambang beroperasi, masuk lagi sawit. Sekarang masyarakat mau nuntut ke mana, ke perusahaan tambang sudah tidak mungkin lagi kan sudah berhenti beroperasi, ke perusahaan sawit juga dia dapatnya dari perusahaan tambang,” kata Nikodemus.

      Adanya perusahaan sawit milik PT Bumi Gunajaya Agro yang masuk di areal bekas tambang juga menjadi tanda tanya yang sangat besar bagi warga. Tidak adanya sosialisasi bagi masyarakat, sehingga terjadi saling lempar tanggung jawab antara perusahaan sawit dan perusahaan tambang.

      Menurut Nikodemus, warga tidak tau berapa luas kawasan yang dikelola HPAM dan kawasan milik masyarakat. Sejak zaman kepala dusun sebelumnya, Nikodemus mengatakan bahwa warga sudah pernah meminta diperlihatkan peta kawasan kepada pihak perusahan. Tetapi tidak pernah ditanggapi dan diperlihatkan oleh pihak perusahaan.

      Tak jauh dari bekas tambang HPAM, ada sebuah bukit yang mulai terpangkas. Warna bukit pun tak lagi hijau seperti bukit lainnya. Warna nya merah, karena sudah dikupas. Ketinggiannya pun tidak utuh lagi.

      Puluhan truk dan puluhan alat berat tak henti menggaruk dan membawa tanah-tanah itu untuk material timbunan. Sebaliknya, di beberapa kawasan terlihat timbunan, seperti bekas galian dari daerah rawa dan gambut.

      Berdasarkan penuturan Nikodemus, lahan rawa gambut sengaja digali dan ditimbun kembali dengan tanah dari bukit. Proses itu untuk membangun smelter bauksit yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan.

      Smelter Grade Alumina itu dibangun oleh PT. Wall Harvest Wining Alumina Refinery (WHW). “Jadi tanah rawa gambut dipindah ke bukit, tanah yang dibukit ditimbun dibekas rawa gambut” kata Nikodemus.

      Dampak Lingkungan
      Tak hanya reklamasi yang tidak dilakukan HPAM yang dikeluhkan oleh warga. Dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkan juga dikeluhkan hingga masyarakat yang tinggal di pesisir pantai Kendawangan.

      Dari cerita Nikodemus, sebelumnya di kawasan bekas tambang tersebut, setiap aliran sungai merupakan bagian dari rawa dan hutan. Sungai itu yang dulu biasa mereka gunakan untuk mandi, mencari ikan dan aktivitas lainnya. Namun, sejak dibukanya kawasan untuk pertambangan bausit, tempat yang ada menjadi keruh.

      Sungai yang ada diputus alirannya dan dijadikan kolam raksasa untuk kebutuhan washing plant bauksit. “Kalau musim hujan tiba, banjir sudah pasti juga akan menghampiri kampung kami. Kami sekarang bikin sumur masing-masing di rumah untuk sumber air bersih,” kata Nikodemus.

      Bekas pembuangan limbah mengakibatkan banyak pepohonan rawa yang hidup segan mati pun tak mau. Bahkan, banyak pepohonan yang merana mengiring, menunggu waktu untuk tumbang dengan sendirinya.

      Benar-benar tidak ada upaya pengembalian kawasan seperti semula. Tak hanya warga Mekar Utama yang merasakan dampak lingkungan, warga Desa Pagar Mentimun yang berada persis di bibir pantai Kendawangan pun mengalami dampak yang luar biasa.

      Amat Amran (50) salah satunya, seorang warga Parit Mentimun yang sangat merasakan dampaknya. Pria yang dari kecil sudah menjadi nelayan pesisir ini, merasakan dampaknya sejak limbah mencemari ekosistem pinggir pantai melalui aliran Sungai Tengar.

      Limbah tersebut merusak rumput laut di pesisir pantai yang menjadi tempat berkembang biak ikan. “Sejak sekitar tahun 2007-2008, rumput laut di pesisir pantai habis mati. Setiap kali musim hujan, tanggul pembungan limbah selalu jebol, limbahnya masuk melalui sungai Tengar dan mengalir menuju ke laut,” kata Amran.

      Bagi nelayan pesisir seperti dia, keberadaan rumput laut sangat berperan terhadap hasil tangkapan. Amran dan nelayan pesisir lainnya hanya mengandalkan sampan kayuh untuk mencari ikan.

      “Sebelum ada limbah, hasil ikan lebih mudah di dapat. Sekarang sudah susah cari ikan di pinggiran. Mau melaut kita hanya pakai sampan kayuh, paling jauh jarak 200 meter saja. Sekarang nelayan juga sudah banyak yang beralih profesi,” kata Amran.

      Dikonfirmasi melalui telepon seluler, Agus Tri Wibowo, Manajer Operasional PT.Harita site Kendawangan membantah semua temuan di lapangan. Menurut dia, pihak perusahaan sudah melakukan reklamasi pasca-tambang dengan menaman pohon karet. Kemudian, lahan milik masyarakat juga sidak dikembalikan oleh perusahaan.

      Masuknya perusahaan sawit yang menawarkan lahan bekas tambang untuk dijadikan kebun plasma, menurut Agus Tri diterima oleh warga dengan kesepakatan 80:20. Terkait limbah, Agus Tri mengatakan, kawasan tersebut dibeli putus dari warga. Kawasan tersebut masih digunakan untuk kepentingan pembangunan smelter.

      February 12, 2015

      Bisnis Batu Bara RI Suram, ESDM: 60 Juta Ton/Tahun Diekspor Ilegal

      Pengusaha atau yang mengaku “pengusaha batu bara” rata memang tukang keruk dan penyelundup..Tidak heran bisnis “emas hitam” ini harus selalu dibantu dengan aparat keamanan negari ini (Polisi, TNI, BIN). Jika presiden Indonesia macam si Putin gerombolan pengusaha batu bara sudah dimasukan ke penjara .

      Rista Rama Dhany – detikfinance
      Kamis, 12/02/2015 15:08 WIB
      //images.detik.com/content/2015/02/12/1034/151232_batubara.jpg
      Jakarta -Ditengah anjloknya harga batu bara sejak 2011 hingga saat ini. Ternyata masih banyak batu bara Indonesia yang diekspor secara ilegal. Pemerintah mengakui, pengawasannya cukup sulit.Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, yang dikutipdetikFinance, Kamis (12/2/2015). Dalam setahun sekitar 50-60 juta ton batu bara per tahun diekspor secara ilegal.

      Banyaknya batu bara yang diekspor secara ilegal ini disebabkan sulitnya mengawasi pengapalan batu bara. Pasalnya, wilayah laut Indonesia begitu luasnya.

      “Sampai saat ini belum ada aturan pemakaian pelabuhan ekspor batu bara. Sementara, pengapalan batu bara banyak dilakukan di tengah laut dengan cara transshipment, dari tongkang ke kapal (vessel), sehingga sulit diawasi,” tulis Ditjen Minerba.

      Ekspor ilegal batu bara ini dapat dilihat berdasarkan perbandingan data ekspor Ditjen Minerba dengan Kementerian Perdagangan, di antaranya:

      Pada 2008, Minerba mencatat ekspor batu bara mencapai 200 juta ton, namun Kemendang mencatat ekpor batu bara mencapai 210 juta ton. Artinya ada sekitar 10 juta ton ekspor batu bara yang tidak tercatat alias ilegal.

      Pada 2009, Ditjen Minerba mencatat ekspor batu bara mencapai 200 juta ton, namun Kemendang mencatat ekspor mencapai 240 juta ton.

      Pada 2010, Ditjen Minerba mencatat ekspor batu bara 210 juta ton, Kemendang mencatat ekspor batu bara 300 juta ton.

      Pada 2011, Ditjen Minerba mencatat ekspor batu bara mencapai 290 juta ton, namun Kemendang mencatat ekspor 350 juta ton

      Pada 2012, Ditjen Minerba mencatat ekspor batu bara mencapai 340 juta ton, namun Kemendang mencatat ekspornya mencapai 390 juta ton.

      (rrd/hen)

       

      Kebijakan Pemerintah Ini ‘Mencekik’ Bisnis Batu Bara RI

      Angga Aliya – detikfinance
      Kamis, 12/02/2015 15:11 WIB
      //images.detik.com/content/2015/02/12/1034/151321_ptba1dalam.jpg
      Jakarta -Tahun ini bukanlah tahun yang baik bagi bisnis batu bara. Selain harga jual internasional yang masih rendah, kebijakan pemerintah juga dinilai tidak mendukung.

      Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemasok Energi dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo), Ekawahyu Kasih mengatakan, dua kebijakan yang bisa mencekik pengusaha tambang batu bara adalah kenaikan royalti dan pengenaan bea keluar.

      “Berbagai isu regulasi pemerintah bisa mengakibatkan industri makin tertekan. Soal rencana kenakan royalti. Perusahaan tambang sekarang saja sudah rugi, apalagi kena royalti,” ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Kamis (12/2/2014).

      Royalti ini, kata dia, di satu sisi bisa berdampak ke kesejahteraan rakyat Indonesia tapi di sisi lain justru makin membuat industri tambang terpuruk.

      Rencananya pemerintah akan merivisi Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Nantinya, revisi aturan itu akan mengubah besaran royalti usaha pertambangan mineral dan batu bara.

      Pemerintah berencana menyamakan tarif royalti batu bara antara perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

      Dalam PP No. 9 Tahun 2012 tersebut dinyatakan tarif royalti yang berlaku bagi perusahaan PKP2B berbeda dengan pemegang IUP. Pemegang PKP2B dikenakan royalty sebesar 13,5%. Sementara pemegang IUP ditetapkan 3-7% sesuai nilai kalori dari batubara.

      Untuk industri batubara berkalori rendah ditetapkan royalti 3%, untuk berkalori sedang 5%, dan untuk yang berkalori tinggi 7%. Nah, nanti semua akan disamaratakan menjadi sebesar 13,5%.

      “Ada juga bea keluar. Sekarang saja tidak ada bea keluar ini sudah terpuruk, apalagi kalau ditambah bea keluar. Nanti harganya makin tidak kompetitif,” ujarnya.

      Pengenaan bea keluar ini dimungkinkan terjadi mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2008 tentang Pengenaan Bea Keluar terhadap Barang Ekspor. Dua kebijakan pemerintah tersebut saat ini masih dibahas pemerintah.

      (ang/dnl)

      February 10, 2015

      Harga Minyak Bisa Tembus US$20 Dalam Waktu Dekat: Riset Citigroup

      dari ipotnews https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Harga_Minyak_Bisa_Tembus_US$20_dalam_Waktu_Dekat__Riset_Citigroup&level2=newsandopinion&id=3384964&img=level1_bigtopnews_1&urlImage=1200x-1-4.jpg#.VNl73fmUcrU

      Tuesday, February 10, 2015 08:16 WIB

      Kereta pengangkut tanker minyak di Richmond, California. (Bloomberg)
      Ipotnews – Citigroup menurunkan proyeksinya untuk harga minyak mentah dunia, dengan mengatakan kenaikan harga belakanan ini hanya kondisi sesaat. Dalam risetnya, Citigroup memperkirakan harga minyak mentah dunia bisa menembus level US$20 per barel dalam waktu dekat.

      Menurut Edward Morse, Kepala Riset Komoditas Global Citigroup, seperti dilansir laman Bloomberg, Selasa (10/2) pagi WIB, kendati penurunan investasi eksplorasi global telah mendorong harga minyak dalam beberapa pekan terakhir, produksi minyak Amerika Serikat tetap meningkat.

      Di sisi lain, tutur Morse dalam laporannya, Brasil dan Rusia terus memompa minyak, bahkan tingatannya menembus rekor, sedangkan Arab Saudi, Irak dan Iran terus berupaya mempertahankan pangsa pasar mereka dengan memangkas harga untuk Asia. “Pasar sudah kelebihan pasokan, dan tangki penyimpanan sudah kepenuhan,” jelas Morse.

      Penurunan produksi, tutur dia, sepertinya tidak mungkin sampai kuartal ketiga. Sementara, harga minyak patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), yang saat ini diperdagangkan di kisaran US$52 per barel, bisa anjlok hingga level US$20 per barel.

      Revolusi shale-oil yang dilakukan Amerika, menurut Morse, berhasil menghancurkan kemampuan Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) untuk memainkan harga dan memaksimalkan keuntungan bagi negara penghasil komoditas tersebut.

      “Kelihatannya sangat tidak mungkin bagi OPEC untuk kembali ke pola lama dalam melakukan bisnis,” ujar Morse. “Sementara banyak analis melihat dalam krisis pasar di masa lalu sebagai era ‘berakhirnya OPEC’, dan kali ini mungkin akan berbeda.”

      Citi memangkas proyeksi tahunan minyak mentah Brent untuk kali kedua sepanjang 2015. Harga di kisaran US$45-55 per barel dinilai tidak berkelanjutan serta akan memicu “penarikan investasi dari sektor perminyakan”, dan kuartal keempat bakal rebound menjadi US$75 per barel, menurut laporan tersebut. Harga minyak pada tahun ini, rata-rata kemungkinan akan mencapai US$54 per barel. (ef)

      February 7, 2015

      Pertamina Kembangkan Bahan Bakar Alternatif

      Thursday, February 05, 2015 15:10

      JAKARTA–PT Pertamina (Persero) terus mengembangkan bahan bakar jenis baru untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini diimpor.Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina, mengatakan perseroan terus mencari sumber alternatif dari bahan bakar yang ada saat ini. Pasalnya, saat ini Indonesia masih tergantung dengan bahan bakar minyak, dan menjadi negara net importir minyak.”Mudah-mudahan kedepannya bisa bahan bakar yang kami miliki dapat lebih beragam. Itu kan juga untuk membangun kekuatan dan kemandirian energi,” katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/2/2015).Pertamina memang sedang menguji produk bahan bakar minyak (BBM) jenis baru dengan jenis gasoline research octane number (RON) 88 yang dicampur dengan beberapa kandungan adiktif lainnya.BBM yang akan dijual di Jawa, Madura, dan Bali itu diklaim lebih ramah lingkungan dan hemat dibandingkan dengan Premium yang memiliki RON sama. Harganya pun akan lebih kompetitif dibandingkan dengan Premium, sehingga dapat menjadi alternatif bahan bakar.Selain itu, Divisi Riset dan Pengembangan Pertamina juga sedang mengembangkan tiga jenis bahan bakar alternatif pengganti Solar, yaitu Bio-Diesel Euro 5, Algae to Oil, dan Diesel Emulsion.Bio-Diesel Euro 5 diperoleh dari proses kimiawi dengan bahan baku 100% palm oil dan katalis Hydrotreated Bio-Diesel temuan Pertamina.Algae to Oil diproses dari alga yang banyak terdapat di negara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Alga tersebut kemudian diolah menjadi Bio-Diesel dengan standar Euro 4 hingga Euro 5. kemudian Diesel Emulsion dihasilkan dari komposisi Diesel, air, dan surfaktan.http://industri.bisnis.com/read/20150205/44/399260/pertamina-kembangkan-bahan-bakar-alternatif