Archive for ‘Energy’

April 30, 2015

Pertamina Optimistis

Efisiensi Ditargetkan 581 Juta Dollar AS

JAKARTA, KOMPAS — Meski industri minyak dan gas bumi lesu, PT Pertamina (Persero) optimistis akan mencapai target rencana kerja dan anggaran perusahaan atau RKAP. Hingga triwulan I-2015, perseroan masih mendapatkan laba bersih 28 juta dollar AS atau setara Rp 362,9 miliar. Efisiensi dan peningkatan produksi menjadi andalan.

“Kondisi 2014, kinerja relatif stabil. Namun, ada aspek eksternal yang berdampak pada kinerja, khususnya pada triwulan III dan IV-2014. Oleh karena itu, manajemen mengambil langkah-langkah restrukturisasi,” kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (29/4).

Pada triwulan I-2015, pendapatan PT Pertamina tercatat sebesar 10,67 miliar dollar AS atau Rp 138,3 triliun. Di dalam RKAP, pendapatan ditargetkan 12,31 miliar dollar AS. Meski keuangan pada Januari dan Februari tercatat negatif, Pertamina masih memperoleh laba bersih 28 juta dollar AS atau sekitar Rp 362,9 miliar, karena pendapatan yang diperoleh pada bulan Maret. Namun, jumlah itu jauh di bawah target RKAP 427 juta dollar AS.

Sementara itu, produksi minyak sebesar 248,4 ribu barrel setara minyak per hari (MBOPD) dan gas 1,63 juta standar kaki kubik per hari. Produksi itu diharapkan meningkat seiring dengan peningkatan produksi minyak dari Blok Cepu, melalui anak perusahaan, yakni PT Pertamina EP yang menguasai hak partisipasi 45 persen.

Menurut Soetjipto, harga minyak mentah yang rendah merupakan faktor utama yang menyebabkan pendapatan perusahaan tidak sesuai target. Meskipun demikian, pihaknya telah mengambil langkah strategis, seperti efisiensi, pengembangan sektor hulu, peningkatan kapasitas kilang, pengembangan infrastruktur, dan perbaikan struktur keuangan.

Nilai efisiensi yang didapatkan Pertamina sebesar 95,95 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,2 triliun. Nilai itu didapatkan dari renegosiasi kontrak pengadaan minyak, pengurangan cost fee, dan optimalisasi aset penunjang. Efisiensi dari restrukturisasi pemasaran dan operasi mencapai 46 juta dollar AS. Ditargetkan, efisiensi yang didapatkan hingga akhir tahun sebesar 581 juta dollar AS.

Darurat

Kepala Divisi Pengendalian Program dan Anggaran Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Benny Lubiantara mengatakan, pemerintah perlu membuka pintu yang lebar untuk kegiatan eksplorasi migas. “Sekarang sudah krisis energi dan industri migas darurat, sebab tidak ada penemuan cadangan baru,” katanya.

Untuk mengatasi itu, kegiatan eksplorasi harus dilakukan untuk menemukan cadangan sumur migas baru. Namun, Indonesia masih memiliki banyak hambatan, seperti banyaknya perizinan, proses pengadaan yang lambat, tumpang tindih aturan di pusat dengan daerah, dan masalah perpajakan. “Kegiatan eksplorasi, kan, menggunakan dana investor, sementara belum tentu menemukan cadangan baru. Jadi, buka pintu yang lebar untuk eksplorasi,” kata Benny. (NAD)

April 23, 2015

Pertamina Bersiap Bubarkan Petral

TATA KELOLA MIGAS

JAKARTA, KOMPAS — PT Pertamina (Persero) bersiap membubarkan unit usaha perusahaan tersebut, yakni Pertamina Energy Trading Ltd atau Petral, secepatnya. Alasan pembubaran adalah untuk meningkatkan efisiensi dalam pengadaan bahan bakar minyak dan minyak mentah.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat Pertamina dengan Komisi VII DPR, Rabu (22/4), di Jakarta. Rapat dipimpin Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika, sedangkan dari pihak Pertamina dihadiri Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan jajaran direksi lainnya.

“Sekarang sedang dalam persiapan (pembubaran Petral). Akan dilakukan sesegera mungkin,” kata Dwi.

Ia melanjutkan, setelah pengadaan bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah dilakukan langsung oleh Pertamina, posisi Petral tidak lagi seperti semula. Sebelumnya, Petral berperan dalam seluruh proses pengadaan BBM dan minyak mentah kendati unit usaha tersebut sebenarnya merupakan perusahaan dagang minyak dan gas bumi (migas).

“Pertamina akan mengambil alih aset-aset (milik Petral) yang ada. Nanti, peran Petral akan digantikan unit usaha yang langsung di bawah Pertamina,” ujar Dwi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menambahkan, niat Pertamina membubarkan Petral akan disampaikan kepada pemegang saham Pertamina. Rencana pembubaran ini juga kemungkinan akan menjadi bahasan pada Rapat Umum Pemegang Saham Pertamina dalam waktu dekat.

“Kami masih perlu mengkaji lagi bentuk dan peran lembaga baru yang akan menggantikan Petral,” ucap Wianda.

Secara terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan, rencana pembubaran Petral adalah urusan korporasi. Dalam hal ini, ujarnya, isu tersebut merupakan wilayah Pertamina.

content

“Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana memperoleh minyak lewat cara-cara yang fair. Impor minyak sekarang sudah hanya melalui Pertamina. Impor sudah terbuka. Dengan adanya kompetitor, baik untuk Pertamina agar semakin efisien,” tutur Sudirman.

Bisa dikendalikan

Pengamat energi dari Universitas Trisakti Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan, seandainya lembaga baru dibentuk Pertamina untuk menggantikan peran Petral, perusahaan tersebut harus tunduk dan patuh pada kebijakan Pertamina sebagai perusahaan induknya. Perusahaan baru tersebut benar-benar merupakan perpanjangan tangan Pertamina.

“Jangan sampai pembubaran Petral dan pembentukan lembaga baru nantinya hanya sekadar pergantian baju, tetapi perannya tidak jauh berbeda dengan Petral,” ujar Pri Agung.

Ia juga mengingatkan agar rencana pembubaran Petral tidak menonjolkan unsur politisnya.

Sebelumnya, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri merekomendasikan, pemerintah agar tidak memberikan kewenangan kepada Petral untuk melaksanakan tender penjualan dan pengadaan impor minyak mentah dan BBM.

Mulai awal tahun ini, peran Petral dalam pengadaan BBM dan minyak mentah diambil alih oleh Integrated Supply Chain (ISC), salah satu divisi usaha Pertamina. ISC membeli langsung BBM dan minyak mentah dari produsen tanpa melalui pihak ketiga. Selama ini, pengadaan yang dilakukan Petral kerap melalui dua sampai tiga mata rantai penjual.

Dengan pemangkasan dalam proses pembelian atau tanpa melalui pihak ketiga, Pertamina bisa menghemat 30 sen dollar AS sampai 40 sen dollar AS per barrel. Secara keseluruhan, Pertamina bisa menghemat hingga 120 juta dollar AS untuk impor minyak mentah tersebut pada tahun ini. (APO/LAS)

April 22, 2015

Pendapatan Pertamina US$ 11 Miliar, Laba Cuma US$ 28 Juta

Pendapatan Pertamina US$ 11 Miliar, Laba Cuma US$ 28 Juta

Seorang pekerja mengamati bagian kapal VLGC Pertamina 2 saat bersandar di perairan Tanjung Priok, Jakarta, 7 Februari 2015. Kapal ini bersiap berlayar menuju Ruwais, Uni Emirat Arab untuk mengangkut LPG impor sebanyak 44.000 MT. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta – PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 28 juta (sekitar Rp 358,4 miliar) sepanjang kuartal pertama 2015. Angka tersebut jauh di bawah target laba bersih kuartal pertama 2015 yang dipatok sebesar US$ 427 juta.

“Total pendapatan yang diperoleh perseroan mencapai US$ 10,675 miliar,” kata Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Rabu, 22 April 2015.

Kondisi ini berkebalikan dengan kinerja perusahaan pelat merah itu sepanjang Januari-Februari 2015 yang masih mencatatkan rugi US$ 212 juta. Kerugian itu terdiri atas rugi Januari sebesar US$ 107 juta dan rugi Februari US$105 juta.

Dalam rapat dengar pendapat itu, Dwi juga memaparkan beban pokok penjualan sebesar US$ 9,675 miliar; beban usaha US$449 juta; laba usaha US$550 juta; dan EBITDA (laba sebelum pajak dan lain-lain) sebesar US$ 932 juta.

April 20, 2015

Lemah, Pengawasan terhadap Ekspor Ilegal Konsentrat Timah

Jadi si PT Timah dan ESDM ngapain aja ya ?? ternyata yang juara ekspor timah justru PT RBT..

JAKARTA, KOMPAS — Pengawasan aparat terkait dengan ekspor ilegal konsentrat timah terbilang lemah. Hal itu berakibat membanjirnya timah di pasaran yang menyebabkan harga timah jatuh. Pemerintah diminta menertibkan izin usaha pertambangan timah dan menerapkan status clear and clean.

Pekerja memeriksa  balok-balok timah di gudang PT Bukit Timah di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. Timah merupakan komoditas utama dari Bangka Belitung dengan nilai ekspor rata-rata Rp 2 triliun per bulan atau setara 70 persen nilai ekspor provinsi tersebut.
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADAPekerja memeriksa balok-balok timah di gudang PT Bukit Timah di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. Timah merupakan komoditas utama dari Bangka Belitung dengan nilai ekspor rata-rata Rp 2 triliun per bulan atau setara 70 persen nilai ekspor provinsi tersebut.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo) Ladjiman Damanik mengatakan, selain membanjirnya timah di pasar internasional akibat ekspor ilegal, secara umum harga mineral tambang di dunia tengah lesu. Hal ini terkait dengan lambannya pertumbuhan ekonomi global.

“Kenapa ekspor ilegal timah bisa terjadi? Itu hanya satu penyebab, yakni lemahnya pengawasan oleh aparat di lapangan. Konsentrat timah mudah sekali dibawa ke luar negeri, cukup disimpan di dalam karung-karung dan dimuat perahu kecil saja. Ini tentu saja tanggung jawab pemerintah lewat aparat-aparatnya,” papar Ladjiman, Senin (20/4), di Jakarta.

Harga timah merosot dari 23 dollar AS per metrik ton pada Maret lalu dan kini menjadi 9 dollar AS per metrik ton. Dengan penjualan rata-rata 60.000 metrik ton setahun, penurunan ini menyebabkan Indonesia kehilangan devisa sekitar 540 juta dollar AS. Penurunan ini disebabkan membanjirnya timah di pasaran lantaran ekspor ilegal.

“Selama pasar banjir oleh pasokan yang tidak jelas, harga timah bisa terus menurun,” ujar Direktur PT Refined Bangka Tin, sebuah perusahaan tambang timah, Petrus Tjandra (Kompas, 20/4).

Ladjiman juga heran dengan produksi timah dari negara-negara yang notabene minim sumber daya bahan baku timah, seperti Vietnam dan Thailand. Namun, fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) timah di negara tersebut berkembang pesat. Ia menduga konsentrat timah di negara itu berasal dari hasil ekspor ilegal.

“Tak usah jauh-jauh. Di dalam negeri saja, khususnya di Bangka Belitung, ada lebih dari 30 smelter timah yang beroperasi. Ini banyak sekali. Itu konsentratnya dari mana? Ya, dari tambang rakyat yang ada. Tak peduli apakah status tambang itu sudah clear and clean (CNC), yang penting pasokan konsentrat lancar,” ujar Ladjiman.

Pemerintah juga diminta menertibkan izin usaha pertambangan dan penerapan status CNC. Selain untuk mencegah tumpang tindih perizinan, penertiban ini juga berpengaruh terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Dari sekitar 10.000 izin usaha pertambangan di Indonesia, baru sekitar 60 persen yang sudah berstatus CNC.

April 16, 2015

Konsumsi Elpiji 3 Kg Meningkat

Perbedaan Harga Jadi Pemicu

Kebijakan “dongo” …

JAKARTA, KOMPAS — Konsumsi elpiji 3 kilogram pada periode Januari-Maret 2015 meningkat 12,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan konsumsi ini dipicu oleh perbedaan harga antara elpiji dalam tabung 3 kg dan 12 kg yang semakin besar.

Pemerintah didesak agar skema distribusi tertutup segera dilaksanakan untuk mencegah kuota elpiji 3 kg jebol.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, konsumsi elpiji 3 kg pada Januari-Maret 2015 sebanyak 1,32 juta ton. Pada Januari-Maret 2014, konsumsinya sebanyak 1,173 juta ton.

”Salah satu pemicu naiknya konsumsi adalah perbedaan harga elpiji 3 kilogram dengan yang 12 kilogram cukup lebar. Apabila distribusi tertutup tidak diterapkan, kami khawatir kuota (elpiji 3 kilogram) bisa jebol,” kata Ahmad, Rabu (15/4), di Jakarta.

Ahmad menambahkan, naiknya harga elpiji 12 kg membuat sebagian pengguna beralih ke elpiji kemasan 3 kg. Pertamina memperkirakan, sekitar 20 persen konsumen elpiji 12 kg pindah memakai elpiji 3 kg. Tahun ini diperkirakan konsumsi elpiji kemasan 12 kg sekitar 870.000 ton.

Saat berkunjung ke Kompas, kemarin petang, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menekankan, distribusi tertutup merupakan cara yang tepat mengantisipasi melonjaknya konsumsi elpiji 3 kg. Dengan demikian, elpiji bersubsidi yang ditujukan bagi masyarakat miskin itu akan tepat sasaran.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015, pemerintah mengalokasikan kuota elpiji 3 kg sebesar 5,7 juta ton. Jumlah itu lebih banyak daripada realisasi pada 2014 yang sebanyak 4,9 juta ton. Penambahan kuota tahun ini disebabkan program konversi minyak tanah ke gas sebanyak 2 juta rumah tangga di Kalimantan dan Sumatera.

Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg pada 1 April lalu menjadi Rp 142.000 per tabung di tingkat agen atau sekitar Rp 150.000 di tingkat pengecer di Jawa. Dengan harga baru itu, perbedaan harga dengan elpiji 3 kg makin lebar. Saat ini, harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer Rp 20.000 per tabung.

content

”Apabila distribusi tertutup tidak segera diterapkan, ada kemungkinan kami meminta agar kuota elpiji 3 kilogram ditambah. Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu menaikkan harga elpiji 3 kilogram agar kuotanya tak jebol, tetapi itu bukan wewenang Pertamina,” ucap Ahmad.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha mengatakan pemerintah lamban menerapkan pola distribusi tertutup. Mestinya, saat harga elpiji 12 kg naik, sistem ini sudah siap. ”Selama ini siapa saja bebas mendapat elpiji 3 kilogram yang diperuntukkan bagi konsumen berdaya beli rendah,” katanya.(APO)

April 7, 2015

Akuisisi Ladang “Shale Gas” Di Amerika, PGAS Hanya Kucurkan US$125 Juta

Ipotnews – PT Perusahaan Gas Negara Tbk menegaskan anggaran untuk mengakuisisi 36 persen hak partisipasi area shale gas Fasken, Amerika Serikat, dari Swift Energy Company hanya US$125 juta.

Assistant VP Corporate Communication PGN, Irwan Andi Atmanto, mengatakan akuisisi Fasken hanya US$125 juta, sedangkan US$50 juta dialokasikan untuk pengembangan shale gas tersebut.

“Belinya hanya US$125 juta, pengembangan US$50 juta, itu juga belum digunakan semua,” ujar Irwan, di Jakarta, Senin (6/4). Seperti diketahui, akuisisi tersebut dilakukan PGN [PGAS 4,865 35 (+0,7%)] melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia.

Menurut Irwan, saat ini, produksi shale gas di area Fasken berada di angka 120 mmscfd, meningkat sejak Saka masuk pada 1 Januari 2014, yakni 70 mmscfd. Ditargetkan, produksi Fasken mampu mencapai angka 170-190 mmscfd pada tahun ini.

“Data terbaru produksi Faskem setiap hari 120 mmscfd, pernah mencapai 147 mmscfd pada minggu ketiga Maret, rata-rata 120 mmscfd,” ucapnya.

Dijelaskan, akuisisi saham tersebut merupakan langkah perseroan untuk memperoleh laba. Selain itu juga sebagai strategi untuk memperoleh ilmu dalam mengelola shale gas.

“Akuisisi di Fasken dalam rangka kepentingan usaha, selain itu menimba ilmu di Amerika. Kebetulan shale gas pesat di sana. Ke depan shale gas di Indonesia bakal booming,” kata dia.

Sementara, apakah Saka akan menjadi operator di Fasken atau tidak, Irwan mengatakan pihaknya masih harus melihat kondisi ke depan. (Rifai/ef)

April 2, 2015

Menaikkan Harga Elpiji, Pemerintah Tidak Memiliki Empati

Semprul si Joko

JAKARTA, KOMPAS — Keputusan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga elpiji 12 kilogram per 1 April 2015 dinilai kurang bijaksana. Kenaikan harga tersebut terjadi beberapa hari setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak jenis solar dan premium. Keputusan menaikkan harga elpiji itu dirasa terlalu terburu-buru.

Pekerja  menurunkan  elpiji kemasan tabung 12 kilogram dari truk di agen penjualan elpiji di kawasan Gedong, Jakarta, Senin (2/3). Mulai 1 April, PT Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram   sebesar Rp 8.000 per tabung  sehingga  harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANPekerja menurunkan elpiji kemasan tabung 12 kilogram dari truk di agen penjualan elpiji di kawasan Gedong, Jakarta, Senin (2/3). Mulai 1 April, PT Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp 8.000 per tabung sehingga harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung.

“Kebijakan (menaikkan harga elpiji 12 kilogram) itu kurang tepat. Pemerintah tidak punya empati. Seharusnya masyarakat diberi jeda untuk bernapas dulu setelah harga BBM (bahan bakar minyak) dinaikkan. Sebaiknya menunggu situasi di masyarakat stabil,” kata anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, kepada Kompas, Kamis (2/4), di Jakarta.

Menurut dia, harga baru elpiji 12 kilogram (kg) akan semakin menurunkan daya beli masyarakat setelah kenaikan harga BBM 28 Maret lalu.

Selain menurunkan daya beli masyarakat, imbuh Tulus, naiknya harga elpiji 12 kg bakal berdampak pula pada perpindahan konsumen gas tersebut ke elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah. Elpiji 3 kg disubsidi pemerintah dan diperuntukkan bagi konsumen berdaya beli rendah.

Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 8.000 per tabung sehingga harga jual di tingkat agen menjadi Rp 142.000 per tabung. Alasan kenaikan itu adalah naiknya harga gas acuan kontrak Aramco, yang menjadi acuan harga gas internasional, dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

00:00:00
KOMPASTVKenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang di tetapkan pemerintah, berimbas pada kenaikan harga elpiji. Di Makassar, Sulawesi Selatan, pertamina kembali menaikkan harga elpiji ukuran 12 kilogram sebesar Rp.670,- per kilogram. KOMPASTV

“Konsumsi elpiji 12 kg per tahun rata-rata 800.000 ton. Jumlahnya masih terbilang jauh lebih kecil ketimbang konsumsi elpiji 3 kilogram yang sebanyak 5,7 juta ton dan masih disubsidi,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.

Rawan penyelewengan

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha berpendapat, naiknya harga elpiji 12 kg akan mendorong perpindahan konsumen ke elpiji 3 kg. Menurut dia, situasi seperti itu tidak dapat dihindari lantaran adanya perbedaan harga yang lebar antara elpiji 12 kg dan 3 kg.

“Ada potensi penyelewengan di lapangan kalau ada perbedaan harga yang lebar untuk komoditas yang sama, tetapi berbeda jenis (12 kg dan 3 kg). Salah satunya ada pengoplosan. Pemerintah harus bisa mengawasi dan mencegah upaya penyelewengan semacam itu,” ujar Satya.

,,

Harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer berkisar Rp 16.000 sampai Rp 20.000 per tabung. Agar distribusi elpiji 3 kg tepat sasaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang menyiapkan skema distribusi tertutup. Skema tersebut menggunakan kartu identitas tertentu untuk masyarakat berdaya beli rendah sebagai bukti saat membeli elpiji 3 kg.

Hanya, skema distribusi tertutup masih sebatas proyek percontohan yang menurut rencana diterapkan pada pertengahan tahun ini di tiga wilayah, yaitu Bali, Batam, dan Bangka Belitung. Realisasi distribusi tertutup direncanakan dapat terwujud tahun depan.

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi ini terkesan diam-diam sehingga mengagetkan sebagian masyarakat. Hal itu, antara lain, tampak dari suara-suara yang dicuitkan dalam linimasa media sosial, seperti Twitter.

Frasa “harga elpiji” sangat populer dalam satu hari terakhir. Layanan aplikasi Topsy pada Kamis pukul 12.30 WIB mencatat, terdapat 2.645 kali cuitan dengan frasa tersebut lalu lalang di linimasa Twitter dalam periode sehari terakhir.

Dwi Aris Wibowo dengan akun @bo_wo22, misalnya, mengatakan, “Harga BBM naik, harga Elpiji naik, harga ini naik, harga itu naik. coba dong naikin negara ini jadi negara maju. bisa gk?”.

Sorotan tentang efek yang mungkin terjadi setelah kenaikan harga elpiji 12 kg juga diutarakan sejumlah pengguna. Hal itu termasuk ihwal kemungkinan bakal diserbunya elpiji bersubsidi dalam kemasan 3 kg sebagai alternatif pengganti.

Maryati Asmara dengan akun ?@MarieMar9 menulis, “Harga gas elpiji 12kg 145rb yg 3kg 20rb (bersubsidi).. jls byk yg beralih ke 3kg.. klo mis yg 12kg 100rb..msh bs dimaklumi”.

Adapun pengguna akun @Taepaw mengatakan, “Nilai tukar dollar menguat, bbm naik, gas elpiji naek, harga barang n kebutuhan pokok naik. USAHA NABUNG MAKIN PEDIIIIH”.

April 1, 2015

Premium Biang Kerok Kontroversi Harga BBM

dulu Petral sekarang Jembrong

Rabu, 1 April 2015 | 16:06 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODOIlustrasi bahan bakar minyak bersubsidi

JAKARTA, KOMPAS.com
– Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) atau Tim Anti Mafia Migas kembali mendorong pemerintah untuk serius menghapus premium (Research Octane Number 88) dari pasar. Menurut ketua tim, Faisal Basari, kontroversi harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini terjadi disebabkan masih adanya RON 88.

“Persoalannya kita masih terpaku rumus lama karena kehadiran RON 88 masih ada. Kehadiran RON 88 yang diminta maksimum dua tahun ini akan menimbulkan komplikasi luar biasa,” kata dia ditemui di kantor Tim Anti Mafia Migas, Jakarta, Rabu (1/4/2015).

Faisal menyebutkan, rumus lama yang digunakan dalam perhitungan harga eceran BBM selalu berubah-ubah, alias tidak konsisten. Utamanya terkait besaran komponen alpha dimana sangat tergantung pada pertimbangan yang bersifat temporer dan kondisi sesaat.

“Transisi di masa Pak Jokowi dan kaitannya dengan penataan BBM ini masih dalam proses konsolidasi mencari keseimbangan baru, mencari rumus lebih mantap. Saat ini, setiap penetapan harga baru alphanya berubah-ubah,” ujar Faisal.

Sebelum Januari 2015, alpha premium besarnya Rp 728 per liter atau 3,23 persen dari MOPS (Mean of Platts Singapore). Karena tidak ada RON 88, maka MOPS yang diacu adalah harga RON 92 ditambah Rp 484 ditambah gamma.

Kemudian, mulai 1 Januari 2015 formula penghitungan BBM menggunakan formula 3,92 persen dikalikan Harga Indeks Pasar (HIP) ditambah Rp 672, sehingga totalnya menjadi Rp 891 per liter. Lantas, pada 19 Januari 2015 formulanya menjadi 3,92 dikalikan HIP ditambah Rp 1.022.

“Jadi ada tambahan stock of money Rp 300-Rp 350 karena pom bensin yang rugi, dia beli harga mahal dan jual harga murah,” jelas Faisal.

Dan pada 19 Februari 2015, formulanya menjadi 3,29 dikalikan HIP ditambah Rp 830 – dipicu kenaikan harga minyak – sehingga total alpha Rp 1.011 per liter.

Menurut Faisal, adanya perubahan alpha ini dikarenakan Komisi VII DPR-RI meminta pemerintah melakukan penyesuaian dari yang tadinya dua mingguan menjadi satu bulan. “Ini (alpha) berubah terus, masih mencari pola. Kami mengimbau pemerintah untuk memantapkan formula ini supaya bisa lebih accountable,” ucap ekonom Universitas Indonesia itu.

April 1, 2015

Eksplorasi Migas Gagal, Rp 22 Triliun Amblas

Dari Katadata
Energi 31 Maret 2015 Leafy Anjangi

Sesuai peraturan, biaya eksplorasi gagal tidak bisa diklaim ke negara.

KATADATA – Dalam lima tahun terakhir, 11 kontraktor migas telah kehilangan US$ 1,9 miliar (Rp 22 triliun) karena eksplorasi yang mereka lakukan gagal menemukan cadangan minyak dan gas. Kerugian ini merupakan risiko yang harus ditanggung kontraktor migas. Kondisi ini menunjukan bahwa sektor migas hanya cocok dilakukan oleh kontraktor yang mampu menanggung risiko kegagalan serta memiliki perencanaan anggaran yang matang.

Bila proses eksplorasi berbuah penemuan cadangan minyak yang cukup untuk ditambang  negara akan mengganti biaya (cost recovery) yang telah dikeluarkan kontraktor. Biaya ini terdiri dari ongkos tenaga kerja (lokal dan ekspatriat), peralatan, dan fasilitas ekplorasi. Namun, bila eksplorasi gagal, tak ada penggantian biaya. Hal ini sesuai Peraturan Pemerintah No.79 Tahun 2010 yang menyebutkan biaya eksplorasi gagal tidak dapat diklaim ke negara.

Tingginya risiko tersebut membuat kontraktor berpikir lebih panjang untuk melakukan eksplorasi. Belum lagi ada berbagai masalah yang dikeluhkan, antara lain belum selesainya sengketa pajak ekplorasi, minimnya insentif ekplorasi, dan proses permintaan tax holiday yang lama hingga menyebabkan proyek molor. Anggota Komisi VII DPR Kurtubi bahkan menyebut Iklim investasi Indonesia untuk sektor migas merupakan yang terburuk di Asia Pasifik.

Selain permasalahan tersebut, kontraktor juga masih dibayangi harga jual minyak yang rendah. Tiga dari sebelas kontraktor yang gagal eksplorasi bahkan sudah menyatakan bakal mengembalikan area eksplorasi ke pemerintah dan hengkang. Perusahaan tersebut ialah Marathon Oil, Murphy Semai Oil dan Talisman Energy Inc.

– See more at: http://katadata.co.id/infografik/2015/03/30/19-triliun-resiko-besar-tambang-migas#sthash.uDlNDvyA.Dx2icowX.dpuf

March 24, 2015

Indonesia Butuh 150 Juta Ton Batu Bara per Tahun

HomeBisnisBisnis
SENIN, 16 MARET 2015 | 08:17 WIB

Mesin penggali batubara terlihat sedang menggali batu bara, Borodinsky merupakan wilayah tambang batu bara yang setiap tahunnya menghasilkan 20 juta ton batu bara. 9 Desember 2014. REUTERS/Ilya Naymushin.

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan, sampai lima tahun ke depan, kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik mencapai 150 juta ton per tahun. Batu bara disebut bisa mengimbangi pertumbuhan keperluan listrik dalam jangka pendek.

“Cuma sekarang kita harus mengamankan batu bara,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, di Jakarta, Ahad, 15 Maret 2015.

Batu bara, kata Jarman, bisa mengimbangi kebutuhan listrik seiring pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Adapun untuk menyediakan pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan, kata Jarman, perlu waktu lama. “Namun batu bara masih bisa dipasok,” kata Jarman.

Berdasarkan data Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero), pembangkit listrik batu bara merupakan pembangkit listrik terbesar di Indonesia yang mencapai 51,50 persen atau 74.269 Gwh.

Gas alam merupakan bahan baku pembangkit listrik terbesar kedua dengan porsi 28,61 persen atau 41.254 Gwh, disusul tenaga air 9,02 persen atau 13.010 Gwh, minyak 7,84 persen atau 11.307 Gwh, dan panas bumi sebesar 3,01 persen atau 4.345 Gwh.

KHAIRUL ANAM

Berita Terkait
Kadar Biofuel Solar Ditambah, Impor Minyak Turun 15 Persen
50 Persen Proyek Pembangkit 35 Ribu MW Sudah Berjalan
Perusahaan Tambang Diputus Kontrak, Warga Bancakan Lahan
Ketua Komisi Energi Tolak Pelabuhan Cilamaya
Kementerian Energi Jaring Tiga Nama untuk Eselon I

Berita Terpopuler
Jokowi Ngamuk Soal Harga Beras, Begini Cerita JK
Ahok Bakal Bikin Aturan Baru di Car Free Day
Menjalin Cinta dengan Pemuda, Wanita Tua Ini Jadi Langsing
Di-bully Soal Persib, Ini Kata Ridwan Kamil
Hore…Gaji TKI di Malaysia Rp 27,6 juta
Begini Cara JK Melobi Prabowo dan Ical
Rata-rata Mahasiswa Inggris Bercinta dengan 8 Orang Berbeda
Soal Kisruh Golkar, JK: Yang Benar Selalu Belakang
Penyerang Baru Persib, Spasojevic, Tampil Perdana Hari Ini
Ikut Rapat Golkar Agung Laksono, Jatuh Langsung Meninggal

BISNIS BOLA GAYA! DUNIA METRO POLITIK OLAHRAGA OTOMOTIF SELEB! TEKNO TRAVEL FOTO INFOGRAFIS VIDEO FOKUS! JEDA
ENGLISH EDITION MAJALAH TEMPO KORAN TEMPO TRAVELOUNGE TEMPO STORE INDONESIANA FORUM LELANG
CAPING OPINI KOLOM CARI ANGIN INFORIAL :: TEMPO MOBILE APPS MOBILE SITE IPAD IPHONE BLACKBERRY ANDROID
TENTANG KAMI TERM OF USE KODE ETIK KARIR COPYRIGHT © 2011TEMPO MEDIA GROUP