Archive for ‘Energy’

March 4, 2014

Inilah Komponen Converter Kit Produksi PT DIGAS

Pabriknya sudah berdirikah ??  Atau pabriknya baru akan didirikan (…???). Jangan sampai ulusan converter kit jadi usaha  “calo proyek ” atau percaloan. PT DIGAS itu siapa  ?  Katanya  PT yang bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia.  Gimana bentuk kerjasamannya ?? Apa PT DI ada saham. Kok yang ngoceh “advisor “nya, tidak ada wakil dari PT DI ?  Dicari cari di internet tidak ada keterangannya sama sekali.  
Berandai andai: 
 Jika memang PT Dirgantara Indonesia, apa sudah ada di bisnis plan PT DI dan kementrian BUMN. Atau ini masih ide spontan ? Pada masa sulit memang PT DI dengan terpaksa  bikin panci dan parabola tv, tapi sekarang yang kinerja PT DI lagi mocer, sayang sekali jika diganggu bisnisnya untuk bikin tabung konverter atau apapun . 
 
Nah yang mengkhawatirkan dari kebijakan spontan macam begini karena akan berakhir GATOT alias gagal total .  Produksi konverter dan distribusi mandek, program konversi macet. konyol deh. 
 Ujungnya : pemerintah  ngimpor konvertor kit dari China! Weicha ! Semoga saya salah !\
 
Preseden program GATOT sudah ada contohnya,  lihat saja soal RFID eks PT Inti, yang berujung dengan lambatnya pemasangan padahal RFID diimpor dari CHINA. super konyol ! Yang rugi ya masyrakat dan pemerintah indonesia 
 
 
 
 
Headline
ist
 
Oleh: Budi Yuni Harto
ekonomi – Senin, 3 Maret 2014 | 15:24 WIB
  

INILAH.COM, Jakarta – Perusahaan lokal asal Bandung, Jawa Barat, PT DIGAS Indonesia tengah membangun kerja sama dengan Kementerian Perindustrian terkait pembuatan tabung gas Compressed Natural Gas (CNG) tipe 4 untuk converter kit.

Advisor PT DIGAS Indonesia, Tim Percepatan Pengembangan EBET dan Konversi BBM ke BBG, Kementerian ESDM, Gembong Primadjaja, menurutnya converter kit tipe 4 memiliki keunggulan bila dibandingkan tipe sebelumnya.

“Masing – masing tipe ada kelebihan dan kekurangannya. Tipe 1 dengan tipe 4 yang umum dipakai, tabung tipe 1 itu tidak ada pabrik lokal karena investasi pembuatannya cukup besar dan pembuatannya cukup rumit,” katanya usai presentasi di kantor Kementerian Perindustrian, Senin (3/3/2014).

Gembong juga menambahkan kelebihan tabung tipe 4 adalah teknologinya yang lebih maju. Hal ini bila dibandingkan dengan tipe sebelumnya. Tabung tipe 4 teknologinya yang bersifat leak before break.

“Kemudian tabung tipe 4, teknologinya leak before break, jadi tidak ada efek ledakan ketika dia tabrakan atau terjadi kebocoran. Tabung tipe 1 itu masih menimbulkan blasting (ledakan), kemudian dari sisi lifetime, berdasarkan ISO sama, tapi dengan kondisi gas di indonesia yang masih mengandung air, dia rawan terhadap korosi yang dari besi/tabung tipe 1,” imbuhnya.

Lanjut menurut Gembong, tabung gas LNG tipe 4 tidak mempengaruhi performa kendaraan. Ini berbeda dengan tipe 1 yang membebani performa kendaraan.

“Dari sisi pemakaian, karena tabung tipe 1 terbuat dari besi maka dia lebih berat, sehingga dia mempengaruhi jarak rem kendaraan, lifetime suspensi, terus ban. Tapi kalau tipe 4, beratnya hanya seperempat jadi dia tidak mempengaruhi performa kendaraan,” ujarnya. [hid]

February 20, 2014

Pembangunan Kilang Pertamina Bisa Jadi Solusi Penguatan Rupiah

Rupiah lemah karena Indon banyak impor minyak olahan  dari Singapore dan disubsidi pula.. Siapa yang untung?  Yang untung adalah mafia BBM dibawah  Moh Riza Chalid, sohib Hatta Rajaza dan Cikeas. Bertahun tahun MRC manghalangi atau melobi pemerintah untuk mempersulit pembangunan kilang.

 

 

Wednesday, February 19, 2014       19:31 WIB

Ipotnews – Selain memberi kebebasan berinvestasi bagi pemodal asing, ekonom Faisal Basri mengungkapkan bahwa pembangunan kilang minyak oleh PT Pertamina (Persero) akan mampu menciptakan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Untuk menekan defisit transaksi berjalan supaya surplus, tentunya harus meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Saat ini impor kita paling besar dari migas dan juga bahan baku. Bisa juga Pertamina segera membangun kilang, untuk menekan impor,” kata Faisal di Jakarta, Rabu (19/2).

Menurut dia, tidak beralasan jika Pertamina mengaku tidak memiliki sumber dana untuk membangun kilang minyak. “Jika alasan Pertamina tidak ada duitnya, kenapa mereka bisa melakukan ekspansi ke luar negeri?” ujar Faisal.

Dia menyebutkan, untuk mendanai pembangunan kilang, Pertamina juga bisa berutang atau meminta pengurangan pemberian dividen kepada pemerintah. “Itulah solusi terbaik untuk saat ini,” kata Faisal.

Faisal berpendapat, saat ini pemerintah tidak bisa mengandalkan penguatan rupiah pada peningkatan neraca modal yang selama ini berhasil menekan defisit neraca transaksi berjalan, dan akhirnya menciptakan surplus pada neraca pembayaran Indonesia. “Kita tidak ingin penguatan rupiah semata-mata dari capital account saja, karena itu di luar kendali kita. Tetapi, bisa juga dengan membebaskan asing masuk, supaya rupiah kita kuat,” jelasnya.

Faisal memperkirakan, pada akhir tahun ini rupiah akan menguat di kisaran Rp10.000 per dolar AS. Menurutnya, perkiraan ini sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia. “Rupiah bisa menguat karena harga komoditi membaik, seperti kakao, kopi dan harga kelapa sawit,” imbuhnya. (Budi/kk)

February 18, 2014

Kilang Terbakar dan Nasib Karir Karen Agustiawan

Selama menjabat tidak ada pembangunan kilang minyak baru, tapi yang ada malahan terbakar.. ckckck..
 
Selasa, 18 Februari 2014 | 04:44 WIB

 

Kilang Terbakar dan Nasib Karir Karen Agustiawan

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Tempo/Tony Hartawan

 

 

TEMPO.CO , Jakarta – Perjalanan karir Karen Agustiawan pernah ditentukan oleh kasus terbakarnya fasilitas minyak Pertamina yang terbakar.

Pertama, awal Januari 2009, tepatnya 18 Januari 2009, pukul 21.00 tangki nomor 24 di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, meledak dan terbakar. Setidaknya sebanyak tiga juta liter premium senilai Rp 15 miliar musnah. Selama dua hari 645 SPBU kawasan Jabodetabek mengalami kelangkaan bahan bakar dan kerugian Pertamina mencapai Rp 22 miliar. (Baca juga : Soal Kebakaran, Pertamina: Bukan Kilang, Pemanas)

Kejadian itu memicu perubahan posisi Direktur Hulu Karen Agustiawan, sekarang Direktur Utama. Namanya masuk dalam daftar calon Direktur Utama Pertamina yang disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Awalnya pada akhir 2008 terjadi kelangkaan bahan bakar minyak di beberapa wilayah Indonesia. Saking jengkelnya, Presiden SBY mengkritik jajaran Pertamina saat pidato pembukaan Bursa Efek. “Saya tidak happy,” kata Presiden Yudhoyono pada 5 Januari 2009.

Apalagi pihak pertamina beralasan kelangkaan BBM disebabkan hari libur. Menurut presiden alasan seperti itu keliru. ”Tidak ada hari libur untuk melayani rakyat, dan negara itu tidak tidur,” ujar presiden. (Lihat juga : Kilang Minyak Pertamina di Dumai Terbakar)

Sebetulnya pergantian Direktur Utama Pertamina direncanakan sehari sebelum kebakaran Plumpang. Praktis kejadian itu membulatkan presiden mengganti Ari H. Soemarno. Dalam pertemuan itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengusulkan nama Karen Agustiawan.

Nama Karen Agustiawan menyingkirkan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Kuntoro Mangkusubroto dan Erry Riyana. Calon lain yang dikalahkan Karen dari internal Pertamina yakni bekas Direktur Umum dan Sumber Daya Mineral Sony Soemarsono, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal, dan Komisaris Pertamina Maizar Rahman. (Berita terkait : Kebakaran di Plaju Diduga dari Kolam Minyak Curian)

Kedua, sekarang Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengalami kejadian hampir serupa dengan lima tahun lalu. Walaupun sama-sama menjelang masa pemilu, namun kali ini di penghujung masa jabatan Presiden SBY.

Kilang minyak Dumai yang beroperasi sejak 1971 terbakar pada 6 Februari 2014, sekitar pukul 22.30 WIB. Kilang minyak Dumai dengan kapasitas 170 ribu barel per hari selain untuk ekspor juga memasok gas dan BBM ke Sumatera Barat dan Riau.

Kilang Dumai meskipun masuk katagori kilang tua mempunyai beberapa kelebihan. Yakni kilang ini mampu mengelola minyak mentah dari Blok Duri yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia.

Selain itu Kilang Dumai mampu memaksimalkan produk bernilai tinggi berupa PKSA (Premium, Kerosene, Avtur,Solar). Sekaligus mampu menekan produk bernilai rendah (IFO,LSWR), agar mendapat nilai jual tinggi. Bahkan Kilang Dumai sekarang mampu menghasilkan Solphy, produk ramah lingkungan yang lebih mahal dari Avtur.

EVAN | PDAT  | Sumber Diolah Tempo

February 15, 2014

Impor Minyak Tetap Ancaman

 

Cabut saja subsidi BBM. Subsidi BBM kebijakan “dungu” yang hanya menguntungkan mafia BBM (Moh Riza cs) dan Penyelundup BBM. Solusi ini hanya akan terjadi jika rejim yang sekarang diganti . Urusan BBM dan Mata uang rupiah yang nilainya merosot terus, memang jadi dilematis bagi Hatta Rajasa dan SBY (Cikeas cs) Mereka tahu bahwa yang menyebabkan rupiah terpuruk adalah impor BBM Indonesia dari Singapore, tentu lewat konconnya  (Moh Riza cs) Moh Riza cs ini juga penyumbang dana buat kebutuhan dana untuk politik dan dompet dari Hatta dan Cikeas cs.  Untuk memperkuat rupiah adalah mengurangi impor BBM, menghapus subsidi dan membangun kilang minyak ! Nah jika hal itu dilakukan tentu setoran dari para bandit BBM jadi berkurang.. Dilema dus..

 

Neraca Pembayaran Masih Defisit

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS — Impor minyak masih mengancam transaksi berjalan Indonesia. Membaiknya neraca nonmigas pada transaksi berjalan tidak diiringi neraca minyak. Defisit minyak sepanjang tahun 2013 justru lebih besar dibandingkan dengan tahun 2012.

Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada Juni 2013 belum mampu mengerem impor minyak.

Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang dirilis Bank Indonesia kemarin, neraca minyak tahun 2013 defisit 22,476 miliar dollar AS. Defisit ini lebih besar dibanding tahun 2012, sebesar 20,436 miliar dollar AS. Defisit disebabkan impor minyak lebih besar daripada ekspor.

”Impor minyak masih lampu kuning,” kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Yogyakarta, Tony Prasetiantono, Jumat (14/2).

Tony yang dihubungi di Yogyakarta mengemukakan, instrumen kenaikan harga BBM sulit dilakukan lagi karena sensitif secara politik. Cara mengerem impor minyak bisa melalui kebijakan non-kenaikan harga. Hal itu misalnya keharusan mobil berkapasitas mesin besar menggunakan BBM nonsubsidi.

”Tetapi, apakah pemerintah sekarang berani, mau melakukannya? Kalau menunggu pemerintahan baru pada Oktober nanti, sudah kelamaan,” ujar Tony.

Sebagaimana dikemukakan Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. perbaikan signifikan terjadi pada neraca nonmigas yang mencatat surplus tahun 2013 sebesar 15,851 miliar dollar AS. Sumbangan surplus terbesar pada triwulan IV yang mencapai 7,011 miliar dollar AS. Pada triwulan III-2013, surplus neraca nonmigas sebesar 2,771 miliar dollar AS.

”Surplus pada triwulan IV- 2013 ini jauh lebih besar daripada prediksi semula,” kata Perry.

Defisit transaksi berjalan tahun 2013 sebesar 28,45 miliar dollar AS atau 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit ini lebih dalam dari tahun 2012 sebesar 24,418 miliar dollar AS atau 2,8 persen PDB.

Neraca pembayaran

NPI triwulan IV-2013 akhirnya surplus, yakni 4,412 miliar dollar AS. Namun, surplus tersebut belum mampu menutup defisit pada tiga triwulan lainnya. Akibatnya, NPI tahun 2013 masih defisit 7,325 miliar dollar AS.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, defisit NPI ini juga berasal dari berkurangnya surplus transaksi modal dan finansial sebesar 24,896 miliar dollar AS tahun 2012. Namun, defisit merosot menjadi 22,731 miliar dollar AS tahun 2013.

NPI defisit akibat turunnya modal yang masuk ke Indonesia sebagai dampak meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, dipengaruhi juga persepsi negatif investor asing terhadap inflasi dan defisit transaksi berjalan. (IDR/EVY)

 

 
February 14, 2014

Investor Asing Berminat Bangun Kilang di Bontang

Semoga bukan OMDO , sudah 15 tahun memang hanya Omong omong doang, karena insentif dari pemerintah tidak jelas (maklum lobi keras dari Mafia BBM)
Kamis, 13 Februari 2014 | 12:16 WIB

Investor Asing Berminat Bangun Kilang di Bontang  

TEMPO/Dhemas Reviyanto

 

TEMPO.CO, Jakarta – Hasil konsultasi pasar antara pemerintah Indonesia dan lebih dari 30 investor perusahaan minyak internasional di Singapura pada Senin kemarin membuahkan hasil yang cukup positif. Pemerintah mengaku optimistis tingginya kepercayaan investor akan memberi kepastian soal pembangunan kilang yang direncanakan berlokasi di dekat lokasi LNG, Bontang, Kalimantan Timur.

“Proyek ini merupakan salah satu peluang investasi terbesar di Indonesia dan membawa dukungan penuh dari pemerintah,” kata Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam siaran persnya, Kamis, 13 Februari 2014. (Baca juga : Transaksi Jumbo Perusahaan Minyak Indonesia-Iran)

Dalam konsultasi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta PT Pertamina memaparkan persentasi teknis pembangunan kilang tersebut. Skema pembangunan yang saat ini masih tengah diuji oleh pasar adalah kerja sama pemerintah dengan swasta (public private partnership).

Skema ini membuka peluang investor asing dan dalam negeri untuk bekerja sama dalam pengembangan dan pengoperasian proyek tersebut untuk melayani permintaan pasar. Peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam proyek itu akan segera diselesaikan dalam beberapa bulan mendatang. (lihat juga : Pemerintah Tawarkan Pembangunan Kilang ke Investor)

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo mengatakan pembangunan kilang baru akan berkontribusi pada target kemandirian energi. Indonesia saat ini tercatat masih mengimpor 30 persen kebutuhan produk olahan dan diproyeksikan akan terus naik jika tidak dibangun penyulingan. Pemerintah menargetkan kecukupan dalam pasar domestik bisa dipenuhi pada 2022.

“Kilang baru akan memberikan kontribusi untuk kemandirian energi Indonesia dan akan mengatur standar dalam hal teknologi, efisiensi, dan pembangunan ekonomi,” kata Susilo.

ANGGA SUKMA WIJAYA

February 13, 2014

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta

Selasa, 11 Februari 2014 | 18:39 WIB

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta  

Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

 

TEMPO.CO, Surakarta – Sejak seminggu lalu, warga Surakarta kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Maryanto, pedagang pengecer elpiji di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Surakarta, mengatakan jika biasanya dia mendapat kiriman sehari sekali, kini gas datang dua-tiga hari sekali. Jumlahnya pun dikurangi.

 

“Biasanya dapat jatah 12-18 tabung sekali kiriman, kini berkurang separuhnya,” kata Maryanto, Selasa, 11 Februari 2014. Karena kiriman tidak datang tiap hari, stok elpiji di tempatnya pun kerap kosong. Dampaknya, harga elpiji naik menjadi Rp 15.500 per tabung.

Pedagang pengecer di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasarkliwon, Mursito, menyatakan hal serupa. Sejak akhir Januari dia kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Kitiman gas melon yang biasanya datang sekali tiap hari menjadi dua kali seminggu dengan jumlah terbatas. “Hanya dijatah sepuluh tabung. Sejam langsung habis,” katanya.

Karena kelangkaan pasokan, tidak sedikit warga yang sengaja memberi uang kepada Mursito lebih dahulu agar mendapat jatah. “Banyak pelanggan saya yang kecewa karena kehabisan elpiji,” ucapnya. Dia akhirnya membeli dari pemasok seharga Rp 15 ribu per tabung dan menjualnya Rp 16 ribu per tabung.

Pengecer lain, di Desa Gambiran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, juga mengalami hal yang sama. Karena gas langka, harga pun naik. Apalagi harga jual dari pangkalan juga naik.

Salah seorang pengelola pangkalan elpiji kemasan tiga kilogram di Jebres mengatakan akhir-akhir ini permintaan masyarakat meningkat. Setiap kali elpiji dipasok ke pangkalan, dalam waktu setengah jam habis diborong masyarakat. “Sebelumnya, seharian baru habis,” kata pengelola pangkalan yang enggan disebutkan namanya ini.

Lantaran permintaan begitu banyak, meski kuota sudah ditambah dari 50 menjadi 80 tabung per hari, elpiji tetap ludes terjual. Dia tidak tahu penyebab meningkatnya permintaan masyarakat. Agar penjualan merata, dia tidak melayani masyarakat yang membeli dengan keranjang. Sebab dia khawatir gas tersebut dijual lagi ke konsumen akhir dengan harga yang lebih mahal. “Kami menjual Rp 14 ribu per tabung. Sasaran kami konsumen akhir,” ucapnya.

 

Sebelumnya, kelangkan gas rumah tangga bersubsidi terjadi di Surakarta akhir tahun lalu. Harga pun sempat melonjak mencapai Rp 17 ribu per kilogram. (Baca: Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta).

 

UKKY PRIMARTANTYO

February 13, 2014

Indonesia Punya 56 Komoditas Sumber Energi, Tapi Hanya Sedikit yang Potensial

 

 

Cape deh ngomongin potensi karena ujung ujungnya hanya OMDO (omong doang).  Potensi Indonesia  sangat banyak untuk energi terbarukan sudah suatu keniscayaan,  tinggal bagaimana kita menggarapnya, mulai dari kebijakan, insentif dan tarif ekonomisnya.   Sekarang ini  untuk urusan listrik saja PLN masih bergantung dengan  Genset Diesel, yang BBM Diesel ini di impor dari Singapore .. Hebat khan.. 

 

Zulfi Suhendra – detikfinance
Kamis, 13/02/2014 06:56 WIB
 
 
 
 
https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/13/1034/065938_kebunsawitcover.jpg
Jakarta -Indonesia kaya akan sumber energi alternatif. Tanpa harus terus mengimpor BBM dari negara asing, energi alternatif di dalam negeri bisa didapat dengan mudah. Namun sayangnya komoditi untuk energi alternatif tersebut belum banyak dimanfaatkan.

Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, Indonesia punya sebanyak 56 komoditi penghasil energi biodiesel dan bioetanol, yang mana bisa digunakan untuk dicampurkan dengan BBM.

“Kita ada 56 jenis, seperti kapuk, biji tembakau, itu bisa,” kata Dadan saat ditemui detikFinance di kantornya, Jalan Pegangsaan, Jakarta, Rabu (11/2/2014)

Dadan mengatakan, sayangnya hingga saat ini hanya sedikit komoditas yang bisa diberdayakan sebagai sumber bio energi. Salah satunya saat ini yang tengah diprogramkan adalah kelapa sawit yang bisa digunakan sebagai biodiesel.

“Yang potensial saat ini CPO karena telah dibudidayakan,” lanjut Dadan.

Selain CPO, pemerintah pun tengah mengembangkan buah kemiri sunan yang diklaim bisa menjadi sumber biodiesel masa depan.

Tanaman yang berpotensi untuk biodiesel adalah kelapa sawit, kelapa, kemiri sunan, jarak pagar, kepuh, bintaro, nyamplung, dan keranji.

Sedangkan untuk bioetanol adalah tebu, sagu, kelapa, ubi kayu, aren, dan nipah.

 

(zul/ang)

February 12, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik Rp 1.000/Kg, Pertamina Tetap Rugi Rp 6 Triliun

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:51 WIB

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/12/1034/125313_elpiji3202.jpg
Batam -PT Pertamina (Persero) mengaku akan rugi Rp 6 triliun tahun ini, dari bisnis penjualan gas elpiji 12 Kg. Alasannya kenaikan harga elpiji 12 Kg yang hanya Rp 1.000 per Kg tak signifikan karena perseroan masih menjual rugi.

“Tahun kita perkirakan akan rugi Rp 6 triliun dari bisnis elpiji 12 Kg,” ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya, ditemui disela-sela groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Hal ini karena elpiji 12 Kg hanya naik Rp 1.000 per Kg, membuat Pertamina masih memberikan subsidi cukup besar dalam setiap Kg elpiji 12 Kg.

“Karena naiknya cuma Rp 1.000, ini kerugian yang sia-sia bagi Pertamina,” tegas Hanung.

Pada 2013 Pertamina menderita kerugian Rp 5,6 triliun dari bisnis elpiji 12 kg. “Tahun 2013 saja kita sudah rugi Rp 5,6 triliun,” tutupnya.

February 12, 2014

Dalih klasik : Ingin Kurangi Impor BBM, Tapi RI Tak Punya Uang Bangun Kilang

Alasan klasik yang selalu didaur ulang, karena ada Mafia BBM yang tidak menginginkan ada Kilang .. Coba kurangi atau cabut subsidi BBM, dalam 3-5 tahun kilang pasti sudah berdiri..  Karena semua elit politik kena cipratan duit mafia BBM yaaa.. mereka selalu berdalih  bahwa RI tidak punya duit.. Kampret !
Agus Setiawan – detikfinance
Selasa, 11/02/2014 18:54 WIB

 

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/11/1034/185650_155154_kilang.jpg

Jakarta -Ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor cukup tinggi, dan impor BBM paling besar dari Singapura. Pemerintah ingin mengurangi impor ini dengan membangun kilang minyak. Tapi apa daya, uang tak ada.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, biaya pembangunan kilang minyak sangat mahal dan harus dibangun di sebuah kompleks industri khusus. Pemerintah memang tidak punya uang untuk membangun kilang, apalagi anggaran subsidi BBM sudah mencapai Rp 300 triliun lebih, dan ini untuk mengimpor BBM.

Bila mengandalkan swasta memang agak sulit, karena investasi yang besar dan pengembalian dana investasinya lama.

“Itu (biaya kilang) kalau investasi sudah puluhan atau ratusan triliun, dan kembalinya lama. Kalau kembalinya lama itu buat banyak perusahaan jadi tidak feasible kecuali ada insentif. Harusnya itu ada insentif fiskal, ada tax holiday atau apa,” kata Chatib di kantornya, Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Namun, lanjut Chatib, bila kilang bisa dibangun, maka impor BBM akan berkurang namun Indonesia masih akan mengimpor minyak mentah karena produksi yang jauh di bawah kebutuhan. “Jadi kalau itu pengilangan di sini, maka dengan sendirinya impor BBM akan mengalami penurunan,” jelas Chatib.

Seperti diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.

Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya sering dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:

  • Malaysia, dengan niai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun. Jumlahnya 6,7 juta ton
  • Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
  • Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun. Jumlahnya 1,07 juta ton
  • Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
  • Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jumlahnya 562 ribu ton
  • Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
  • Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 310 ribu ton
  • Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
  • China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
  • Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta ton

(dnl/dnl)

February 12, 2014

Ssstt..Pertamina Punya Pulau Pribadi Dekat Singapura

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 10:02 WIB

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/12/1034/sambu.jpg Foto: Pulau Sambu (Rista-detikFinance)

Sambu -BUMN migas PT Pertamina (Persero) memiliki sebuah pulau seluas 150 hektar. Letak pulau tersebut persis berseberangan dengan Singapura. Pulau ini bernama Pulau Sambu.

“Pulau ini, Pulau Sambu itu seluruhnya dimiliki Pertamina, luasnya sekitar 150 hektar, letaknya berseberangan dengan Singapura,” ujar Senior Vice President Marketing and Distribusi Suhartoko ditemui di Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Suhartoko mengatakan, Pulau Sambu sudah ada dan dikembangkan sebagai terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak zaman Belanda.

“Pulau ini jadi terminal BBM sejak zaman Belanda, sejak 1897,” katanya.

Menurut catatan Pertamina, fasilitas Terminal BBM Pulau Sambu merupakan tertua. Tangki tertua yang masih ada dibangun pada 1918 yakni tangki nomor 2 dengan kapasitas 4.131 kilo liter (KL).

Sebagian tangki dibangun pada tahun 1958-1972, yang terbesar kapasitasnya sekitar 20.000 KL. Total tangki yang ada di sambu sebanyak 26 tangki dengan kapasitas timbun total 210.000 KL.

(rrd/dnl)

 

+++++

Bos Pertamina Sering Ngomel Saat Datang ke Petral Singapura, Kenapa?

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:22 WIB

Batam -Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan selalu marah-marah saat berkunjung ke kantor Pertamina Energy Trading Ltd (PT Petral). PT Petral merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) bidang perdagangan minyak yang berkantor di Singapura.

“Setiap ke Petral saya selalu ngomel. Itu kok proyek Pulau Sambu belumgroundbreaking juga,” kata Karen dalam sambutannya di acara groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Proyek tangki timbun di Pulau Sambu, Batam untuk memperbesar kapasitas tangki timbun BBM milik Pertamina. Namun lambatnya proyek ini, membuat Pertamina kehilangan kesempatan memanfaatkan pasar BBM di Asia Pasifik yang nilainya besar dan selama ini dimanfaatkan Singapura.

“Karena opportunity di Asia Pasifik tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, karena kapasitas BBM dan minyaknya sedikit,” katanya.

Seperti diketahui, Singapura menjadi pemain besar dan utama dalam bisnis BBM dan minyak khususnya bagi kapal-kapal yang berlayar di Selat Malaka.

“Dengan dimulainya groundbreaking Sambu ini, saya minta ini tidak molor penyelesainnya, on budget dan on return, jadi selesainya tetap sesuai target yakni 2016,” tutupnya.

Seperti diketahui Pertamina akan meningkatkan kapasitas Tangki timbun BBM Pulau Sambu hingga mencapai total 300.000 KL, dermaga Kapasitas LR 100.000 DWT, dan fasilitas blending untuk produk Solar dan MFO dengan standar internasional.

Fasilitas ini diperuntukan untuk kerjasama jasa storage antara PT Pertamina (Persero) dengan anak perusahaan, PT Pertamina Energy Services, Ltd (PES), untuk mendukung rencana PES dalam menjadi trader di Regional Asia Tenggara dan mengoptimalkan profitabilitas perusahaan.

Pertamina juga melakukan pengembangan Terminal BBM Tanjung Uban yang utamanya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan stok dengan penambahan kapasitas tangki timbun sebesar 200.000 KL.

Di Tanjung Uban pula, telah diresmikan kapal Very Large Gas Carrier baru, yang bernama Pertamina Gas 1. Kapal berkapasitas 84,000 CuM ini akan memperkuat armada kapal LPG Pertamina guna memenuhi kebutuhan LPG masyarakat yang terus meningkat sebagai dampak dari konversi Minyak Tanah ke LPG.(rrd/hen)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers