Archive for ‘Energy’

February 13, 2014

Indonesia Punya 56 Komoditas Sumber Energi, Tapi Hanya Sedikit yang Potensial

 

 

Cape deh ngomongin potensi karena ujung ujungnya hanya OMDO (omong doang).  Potensi Indonesia  sangat banyak untuk energi terbarukan sudah suatu keniscayaan,  tinggal bagaimana kita menggarapnya, mulai dari kebijakan, insentif dan tarif ekonomisnya.   Sekarang ini  untuk urusan listrik saja PLN masih bergantung dengan  Genset Diesel, yang BBM Diesel ini di impor dari Singapore .. Hebat khan.. 

 

Zulfi Suhendra – detikfinance
Kamis, 13/02/2014 06:56 WIB
 
 
 
 
https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/13/1034/065938_kebunsawitcover.jpg
Jakarta -Indonesia kaya akan sumber energi alternatif. Tanpa harus terus mengimpor BBM dari negara asing, energi alternatif di dalam negeri bisa didapat dengan mudah. Namun sayangnya komoditi untuk energi alternatif tersebut belum banyak dimanfaatkan.

Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, Indonesia punya sebanyak 56 komoditi penghasil energi biodiesel dan bioetanol, yang mana bisa digunakan untuk dicampurkan dengan BBM.

“Kita ada 56 jenis, seperti kapuk, biji tembakau, itu bisa,” kata Dadan saat ditemui detikFinance di kantornya, Jalan Pegangsaan, Jakarta, Rabu (11/2/2014)

Dadan mengatakan, sayangnya hingga saat ini hanya sedikit komoditas yang bisa diberdayakan sebagai sumber bio energi. Salah satunya saat ini yang tengah diprogramkan adalah kelapa sawit yang bisa digunakan sebagai biodiesel.

“Yang potensial saat ini CPO karena telah dibudidayakan,” lanjut Dadan.

Selain CPO, pemerintah pun tengah mengembangkan buah kemiri sunan yang diklaim bisa menjadi sumber biodiesel masa depan.

Tanaman yang berpotensi untuk biodiesel adalah kelapa sawit, kelapa, kemiri sunan, jarak pagar, kepuh, bintaro, nyamplung, dan keranji.

Sedangkan untuk bioetanol adalah tebu, sagu, kelapa, ubi kayu, aren, dan nipah.

 

(zul/ang)

February 12, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik Rp 1.000/Kg, Pertamina Tetap Rugi Rp 6 Triliun

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:51 WIB

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/12/1034/125313_elpiji3202.jpg
Batam -PT Pertamina (Persero) mengaku akan rugi Rp 6 triliun tahun ini, dari bisnis penjualan gas elpiji 12 Kg. Alasannya kenaikan harga elpiji 12 Kg yang hanya Rp 1.000 per Kg tak signifikan karena perseroan masih menjual rugi.

“Tahun kita perkirakan akan rugi Rp 6 triliun dari bisnis elpiji 12 Kg,” ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya, ditemui disela-sela groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Hal ini karena elpiji 12 Kg hanya naik Rp 1.000 per Kg, membuat Pertamina masih memberikan subsidi cukup besar dalam setiap Kg elpiji 12 Kg.

“Karena naiknya cuma Rp 1.000, ini kerugian yang sia-sia bagi Pertamina,” tegas Hanung.

Pada 2013 Pertamina menderita kerugian Rp 5,6 triliun dari bisnis elpiji 12 kg. “Tahun 2013 saja kita sudah rugi Rp 5,6 triliun,” tutupnya.

February 12, 2014

Dalih klasik : Ingin Kurangi Impor BBM, Tapi RI Tak Punya Uang Bangun Kilang

Alasan klasik yang selalu didaur ulang, karena ada Mafia BBM yang tidak menginginkan ada Kilang .. Coba kurangi atau cabut subsidi BBM, dalam 3-5 tahun kilang pasti sudah berdiri..  Karena semua elit politik kena cipratan duit mafia BBM yaaa.. mereka selalu berdalih  bahwa RI tidak punya duit.. Kampret !
Agus Setiawan – detikfinance
Selasa, 11/02/2014 18:54 WIB

 

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/11/1034/185650_155154_kilang.jpg

Jakarta -Ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor cukup tinggi, dan impor BBM paling besar dari Singapura. Pemerintah ingin mengurangi impor ini dengan membangun kilang minyak. Tapi apa daya, uang tak ada.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, biaya pembangunan kilang minyak sangat mahal dan harus dibangun di sebuah kompleks industri khusus. Pemerintah memang tidak punya uang untuk membangun kilang, apalagi anggaran subsidi BBM sudah mencapai Rp 300 triliun lebih, dan ini untuk mengimpor BBM.

Bila mengandalkan swasta memang agak sulit, karena investasi yang besar dan pengembalian dana investasinya lama.

“Itu (biaya kilang) kalau investasi sudah puluhan atau ratusan triliun, dan kembalinya lama. Kalau kembalinya lama itu buat banyak perusahaan jadi tidak feasible kecuali ada insentif. Harusnya itu ada insentif fiskal, ada tax holiday atau apa,” kata Chatib di kantornya, Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Namun, lanjut Chatib, bila kilang bisa dibangun, maka impor BBM akan berkurang namun Indonesia masih akan mengimpor minyak mentah karena produksi yang jauh di bawah kebutuhan. “Jadi kalau itu pengilangan di sini, maka dengan sendirinya impor BBM akan mengalami penurunan,” jelas Chatib.

Seperti diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.

Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya sering dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:

  • Malaysia, dengan niai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun. Jumlahnya 6,7 juta ton
  • Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
  • Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun. Jumlahnya 1,07 juta ton
  • Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
  • Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jumlahnya 562 ribu ton
  • Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
  • Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 310 ribu ton
  • Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
  • China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
  • Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta ton

(dnl/dnl)

February 12, 2014

Ssstt..Pertamina Punya Pulau Pribadi Dekat Singapura

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 10:02 WIB

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/12/1034/sambu.jpg Foto: Pulau Sambu (Rista-detikFinance)

Sambu -BUMN migas PT Pertamina (Persero) memiliki sebuah pulau seluas 150 hektar. Letak pulau tersebut persis berseberangan dengan Singapura. Pulau ini bernama Pulau Sambu.

“Pulau ini, Pulau Sambu itu seluruhnya dimiliki Pertamina, luasnya sekitar 150 hektar, letaknya berseberangan dengan Singapura,” ujar Senior Vice President Marketing and Distribusi Suhartoko ditemui di Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Suhartoko mengatakan, Pulau Sambu sudah ada dan dikembangkan sebagai terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak zaman Belanda.

“Pulau ini jadi terminal BBM sejak zaman Belanda, sejak 1897,” katanya.

Menurut catatan Pertamina, fasilitas Terminal BBM Pulau Sambu merupakan tertua. Tangki tertua yang masih ada dibangun pada 1918 yakni tangki nomor 2 dengan kapasitas 4.131 kilo liter (KL).

Sebagian tangki dibangun pada tahun 1958-1972, yang terbesar kapasitasnya sekitar 20.000 KL. Total tangki yang ada di sambu sebanyak 26 tangki dengan kapasitas timbun total 210.000 KL.

(rrd/dnl)

 

+++++

Bos Pertamina Sering Ngomel Saat Datang ke Petral Singapura, Kenapa?

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:22 WIB

Batam -Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan selalu marah-marah saat berkunjung ke kantor Pertamina Energy Trading Ltd (PT Petral). PT Petral merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) bidang perdagangan minyak yang berkantor di Singapura.

“Setiap ke Petral saya selalu ngomel. Itu kok proyek Pulau Sambu belumgroundbreaking juga,” kata Karen dalam sambutannya di acara groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Proyek tangki timbun di Pulau Sambu, Batam untuk memperbesar kapasitas tangki timbun BBM milik Pertamina. Namun lambatnya proyek ini, membuat Pertamina kehilangan kesempatan memanfaatkan pasar BBM di Asia Pasifik yang nilainya besar dan selama ini dimanfaatkan Singapura.

“Karena opportunity di Asia Pasifik tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, karena kapasitas BBM dan minyaknya sedikit,” katanya.

Seperti diketahui, Singapura menjadi pemain besar dan utama dalam bisnis BBM dan minyak khususnya bagi kapal-kapal yang berlayar di Selat Malaka.

“Dengan dimulainya groundbreaking Sambu ini, saya minta ini tidak molor penyelesainnya, on budget dan on return, jadi selesainya tetap sesuai target yakni 2016,” tutupnya.

Seperti diketahui Pertamina akan meningkatkan kapasitas Tangki timbun BBM Pulau Sambu hingga mencapai total 300.000 KL, dermaga Kapasitas LR 100.000 DWT, dan fasilitas blending untuk produk Solar dan MFO dengan standar internasional.

Fasilitas ini diperuntukan untuk kerjasama jasa storage antara PT Pertamina (Persero) dengan anak perusahaan, PT Pertamina Energy Services, Ltd (PES), untuk mendukung rencana PES dalam menjadi trader di Regional Asia Tenggara dan mengoptimalkan profitabilitas perusahaan.

Pertamina juga melakukan pengembangan Terminal BBM Tanjung Uban yang utamanya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan stok dengan penambahan kapasitas tangki timbun sebesar 200.000 KL.

Di Tanjung Uban pula, telah diresmikan kapal Very Large Gas Carrier baru, yang bernama Pertamina Gas 1. Kapal berkapasitas 84,000 CuM ini akan memperkuat armada kapal LPG Pertamina guna memenuhi kebutuhan LPG masyarakat yang terus meningkat sebagai dampak dari konversi Minyak Tanah ke LPG.(rrd/hen)

February 11, 2014

Bahaya, Indonesia Tak Punya Cadangan BBM

inilah akibat kebijakan dipengaruhi oleh mafia minyaak .. Jadi cadangan BBM kita di Singapore.. Pinter deh para pejabat Indon..

Rista Rama Dhany – detikfinance
Selasa, 11/02/2014 08:16 WIB

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/11/1034/081839_tangkidalam.jpg

Jakarta -Indonesia memang punya stok operasional BBM selama 21 hari lamanya. Namun stok tersebut berada di depo minyak dan SPBU yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi seliter pun BBM tersebut disimpan menjadi cadangan khusus.

Wakil Ketua Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa mengatakan, Indonesia jadi negara luas yang tidak memiliki cadangan BBM.

“Stok operasional BBM nasional kita punya, yakni selama 21 hari, tapi negara ini tidak memiliki cadangan BBM,” ucap Fanshurullah dihubungi detikFinance, Selasa (11/2/2014).

Ketahanan energi Indonesia memang kalah jauh dari Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang memiliki cadangan BBM hingga 6-7 bulan lebih.

“Seperti Jepang, dia punya 6 bulan cadangan BBM, ketika diterjang tsunami, pasokan energi mereka tetap aman, bahkan pembangkit nuklir mereka saat ini tidak ada yang dioperasikan, Jepang tidak kekurangan energi sama sekali. Karena mereka punya cadangan energi, mulai dari BBM, gas dan energi lainnya,” ujarnya.

Fanshurullah menambahkan, rapuhnya ketahanan energi Indonesia saat ini, haru jadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi ini.

“Cadangan operasional BBM itu 70% masih dilakukan Pertamina, padahal undang-undang mengamanatkan kepada BPH Migas untuk menyediakan cadangan minyak,” katanya.

“Namun kenapa itu tidak dilakukan BPH Migas, ya karena nggak ada uangnya, karena pendapatan BPH Migas setahun yang mencapai Rp 1 triliun dari PNBP setiap transaksi BBM dan pipa gas, tapi anggaran BPH Migas setahun hanya Rp 100-200 miliar,” tambahnya.

Dirinya meminta kepada pemerintah, agar pendapatan yang dihasilkan BPH Migas tersebut digunakan untuk membangun infrastrutkur, yakni pembangunan cadangan BBM nasional.

“Pelan-pelan bangun infrastruktur cadangan BBM kita, karena kita sama sekali tidak punya cadangan BBM,” tutupnya.(dnl/ang)

February 11, 2014

Bangun Smelter, Freeport Siap Rogoh Rp 22 Triliun

Harus dikejar nih komitmen Freeport

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Senin, 10/02/2014 18:13 WIB

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/10/4/freeportrozik.jpg

Jakarta -PT Freeport Indonesia (Freeport) berencana membangun pabrik pengolahan dan pemurnian tembaga atau smelter senilai US$ 2,2 miliar atau sekitar Rp 22 triliun.

Freeport dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana melakukan studi untuk penentuan tempat yang ideal secara bisnis. Studi awal ini akan memakan waktu selama 3 bulan.

“Studi awal, butuh US$ 2,2 miliar,” kata Direktur Utama Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto saat MoU untuk pengkajian pembangunan pabrik pengolahan tembaga di Kantor Pusat Antam Jakarta, Senin (10/2/2014).

Tahap awal, Freeport bersama Antam akan mengkaji 4 lokasi yang bakal menjadi opsi pendirian pabrik smelter. Lokasi ini berada di Jawa Timur sebanyak 3 lokasi dan Papua sebanyak 1 lokasi. Setelah studi selama 3 bulan selesai dan menunjukkan hasil positif, akan dipilih 1 lokasi untuk pendirian pabrik smelter.

“Studi itu ada beberapa alternatif lokasi. Jatim ada 3 lokasi. 1 dekat Amamapare Papua. Itu 4 lokasi. Itu yang kita lakukan kajian. Secara detail akan dilakukan berdasar berbagai unsur pendukung untuk berdirinya 1 smelter tembaga,” sebutnya.

Untuk mendukung pembangunan pabrik smelter ini, pasokan listrik menjadi pertimbangan. Selain listrik, faktor yang akan menjadi penilaian adalah infrastruktur dan pelabuhan.

“Kebutuhan listrik 75 MW. Kalau di Jatim PLN bisa. Di sana ada kelebihan power 3.000 MW,” terangnya.

(feb/hen)

February 7, 2014

Pertamina Dinilai Kebablasan Terkait Rencana Bisnis Akuisisi PTBA

Ini sih jelas permainan politik tingkat tinggi untuk fund raising buat pemilihan umum . Perusahaan sehat dan kinclong macam PGAS dan PT BA didorong dorong untuk merger atau di akusisi Pertamina.  

 

 

Friday, February 07, 2014       17:29 WIB

  Ipotnews – Pengamat sektor pertambangan, Simon Felix Sembiring, menilai rencana PT Pertamina (Persero) mengakuisisi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan rencana bisnis yang tidak realistis.‬ Pasalnya, kedua perusahaan berbeda bisnis. Pertamina di sektor perminyakan, sedangkan PTBA di sektor batubara.

“Buat apa diakuisisi? Apa urusannya Pertamina mengakuisisi PTBA? Kalau bermimpi sih boleh saja tidak ada yang melarang, tapi yang realistis,” kata Simon kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/2).‬

‪Simon menambahkan, sangat tidak elok jika Pertamina melontarkan wacana akuisisi Bukit Asam *scahrt*PTBA#*echart*. Sebab, keduanya merupakan sama-sama BUMN dan ditambah lagi PTBA merupakan perusahaan yang sehat.‬ ‪”Lebih baik Pertamina urus rumah tangganya sendiri, jangan urus rumah tangga perusahaan lain. Mengurus rumah tangganya sendiri saja belum beres malah mau mencampuri rumah tangga perusahaan lain,” jelas dia.

Menurut Simon, Indonesia masih bergantung pada minyak impor baik minyak mentah maupun BBM serta elpiji impor. Itu seharusnya yang diurusi Pertamina.‬

‪Dihubungi terpisah, pengamat energi Reforminer Insitute Komaidi Notonegoro menilai bahwa rencana bisnis Pertamina untuk masuk ke batubara harus dikaji benar-benar. ‬‪Pasalnya, selama ini bisnis utama Pertamina di sektor minyak. “Seandainya benar, apa tujuannya? Harus clear dulu, harus jelas kajiannya dulu,” tegas Komaidi. ‬

‪Menurut Komaidi, harus dilihat ekspansi ini kemauan korporasi ataukah kemauan pihak lain. Jangan sampai keuntungan dari ekspansi itu kemudian menetes ke pihak yang menitipkan isu ekspansi akuisisi.
‪”Misal mengapa momentum akusisi, ekspansi, itu muncul sekarang ini, tidak sebelumnya? Kan itu jadi pertanyaan lagi,” tegasnya.

Sebelumnya beredar kabar bahwa Pertamina akan mencaplok PTBA. Hal itu terlihat dalam salah satu isi dari dokumen `Pertamina 2025 The Asian Energy Champion 2025` yang beredar di kalangan wartawan pada Rabu (5/2) lalu.‬

‪Adapun tujuan Pertamina mencaplok PTBA, agar Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia.‬ Sebagai perusahaan energi, Pertamina tak hanya ingin berbisnis di sektor perminyakan, namun juga merambah ke bisnis energi lain seperti batubara dan listrik.‬

‪Komaidi menambahkan, dalam teori ekonomi, penggabungan dua perusahaan, baru bisa dilakukan manakala ada masalah di salah satu perusahaan. ‬ ‪”Dalam bisnis, ada konsep spesialisasi. Semakin spesial sesuatu dia semakin optimal. Kalau mau ekspansi ke batubara, panas bumi, bisa saja jika sudah ada ruang gerak. Jangan yang satu belum tuntas, menggarap yang lain. Lama-lama tidak dapat semua,” jelas dia. ‬

‪Ia juga mengingatkan, dari sisi teori bisnis, sebuah perusahaan yang akan ekspansi, semua masalah internal harus selesai dulu. Core bisnisnya sudah optimal. “Bisnis minyak belum beres kok mau bisnis lainnya,” tutupnya.(Iwan/ha)

February 6, 2014

Chatib Basri: Freeport Tak Pernah Bilang Mau Bangun Smelter

Tuesday, February 04, 2014       13:37 WIB
 
 
Pemerintah menegaskan tak akan mengenakan Bea Keluar (BK) ekspor bahan mineral bagi perusahaan yang memiliki pabrik pemurnian (smelter) dan menghasilkan produk yang sudah dimurnikan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menjanjikan pembebasan BK kepada perusahaan tambang yang mau membangun smelter di dalam negeri, termasuk kepada PT Freeport Indonesia dan perusahaan tambang lainnya. Namun hingga kini belum ada realisasi dari Freeport.

‎”Supaya nggak kena BK, company-nya bikin smelter. Begini, BK itu fungsinya memaksa orang memangun smelter, kuncinya kita nggak bicara BK naik atau turun, intinya smelter ada atau tidak,” ungkap Chatib saat ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (4/2/2014).

Ia menjelaskan, perusahaan tambang yang belum membangun smelter akan dikenakan aturan bea keluar barang mineral progresif sesuai dengan ketentuan yang berlaku termasuk terhadap PT Freeport Indonesia, meski sudah melakukan sentuhan pengolahan seperti konsentrat tembaga.

Menurut Chatib, hingga saat ini belum ada laporan resmi soal perusahaan tambang tersebut bakal mendirikan smelter. Ia menegaskan tak ada alasan untuk tidak mengenakan BK terhadap barang-barang ekspor milik PT Freeport Indonesia.

“Kita belum bahas itu (BK Freeport) karena Freeport juga belum bilang mau bangun smelter. Saya nggak tahu. Freeport nggak pernah bilang sama saya bahwa dia mau bangun smelter,” katanya.

Chatib menambahkan, komitmen untuk pembangunan smelter dilakukan bukan hanya sebatas perjanjian penandatanganan namun harus direalisasikan dalam bentuk investasi konkret.

“Kalau ngomong doang nggak bisa, karena mesti investasi. Kalau ngomong doang apa buktinya. Komitmen gitu? Nggak bisa. Anda mesti taruh uang untuk bangun,” jelasnya.

Sebelumnya, PT Freeport Indonesia mengaku tengah melakukan studi bersama PT Aneka Tambang (Antam) membangun pabrik pemurnian bahan mineral mentah atau smelter. Rencananya akhir Januari 2014 Feasebility Studies (FS) ini sudah bisa selesai.

“Saat ini kami sedang melakukan studi salah satunya dengan Antam. FS-nya selesai bulan ini. Lokasi belum tahu, nilainya belum,” kata Direktur Utama Freeport Indonesia Rozik Soetjipto saat acara Indonesia Investor Forum 3 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (22/1/2014).

Rozik mengatakan, pihaknya bakal meniru smelter garapan China untuk menjadi acuan pembangunan smelter yang bernilai tambah. Pasalnya, hingga saat ini baru China yang mampu memproduksi olahan bahan mineral dan berdaya saing.

“Apa yang terjadi di China bisa kita tiru sehingga proyek bisa layak secara komersial. Secara umum hanya China yang mampu memproduksi dan bersaing karena industri hilir di China sudah begitu maju dan luas mereka menyerap semua produksi yang dibangun,” jelas dia.

Rozik mengungkapkan, dengan pembangunan smelter ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah baik untuk perusahaan maupun negara.

“Saya juga kecewa kenapa kita tidak bisa memberikan lebih kepada kepentingan negara dan masyarakat,” katanya.

Namun begitu, Rozik menyebutkan perseroan selama ini sudah memberikan kontribusi kepada negara dengan investasi smelter yang sudah dibangun dari tahun 1997 lalu di Gresik, Jawa Timur.

“Freeport bekerja dalam suatu kontrak karya, di situ kewajiban-kewajiban jelas, tercantum di kontrak wajib membangun pabrik pengolahan dan pemurnian dan sudah dilakukan 1997 di Gresik. Kebijakan baru pemerintah UU No. 4 Tahun 2009 juga mewajibkan itu. Harapan kita bisa mengolah lebih lanjut ke hilir,” katanya.

Sumber: detikcom 

February 3, 2014

Antam Bidik Penjualan 13,5 Ton Emas

 

Monday, February 03, 2014       14:14 WIB
Jakarta : PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) [1,015 -15 (-1,5%)] membidik penjualan emas sebanyak 13.570 kilogram (kg) atau setara 13,57 ton sepanjang 2014. Angka ini naik 44% dari realisasi tahun lalu sebanyak 9.391 kg.

Kenaikan target penjualan ditopang oleh tingginya minat masyrakat terhadap emas yang dijual perusahaan tambang pelat merah itu. Saat ini sekitar 97% dari komoditas emas Antam dijual di pasar domestik.

Untuk meningkatkan ekpansi di pasar ritel, Antam telah membuka lima Butik Emas LM di Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang dan Makassar. “Antam juga berencana membuka 5-10 Butik Emas LM lagi di tahun 2014,” kata Direktur Utama Antam Tato Miraza dalam laporan perseroan, Senin (3/2/2014).

Pada tahun ini, BUMN tambang itu mengincar produksi emas sebesar 2.572 per kg. Dari target itu, sekitar 1.570 kg berasal dari Pongkor, dan 1.002 kg dari tambang Cibaliung.

Saat ini emas merupakan kontributor utama pendapatan Antam. Perseroan telah mengantongi pendapatan sebesar Rp 4,7 triliun dari penjualan emas sepanjang 2013, atau sekitar 41,6% dari total pendapatan perseroan sekitar Rp 11,29 triliun.

Antam menjual emas sebesar 9.391 kg pada 2013, atau naik 34% dari tahun sebelumnya 7.024 kg seiring tingginya permintaan. Kenaikan penjualan emas juga menjadi pendorong pendapatan Antam naik tipis dari tahun 2012 sebesar Rp 10,45 triliun.

Tato menjelaskan kenaikan volume penjualan emas Antam berhasil menutupi turunnya harga jual emas sebesar 11% (year on year) menjadi US$ 1.523,23 per ounce.

Nilai penjualan emas Antam pada 2013 lebih tinggi 30% dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp 3,63 triliun. Emas yang dijual Antam itu tidak hanya berasal dari produksi dari tambang sendiri, tapi juga dari pembelian pihak ketiga.

“Produksi emas Antam pada 2013 mencapai 2.562 kg, di mana 1.722 kg berasal dari tambang Pongkor dan 840 kg dari tambang Cibaliung,” ungkap dia.

Tato menilai capaian produksi ini cukup baik di tengah kendala penurunan kadar bijih emas di Pongkor serta adanya kendala teknis di kegiatan penambangan di Cibaliung.

“Volume produksi emas Antam lebih rendah 11% dibandingkan tahun 2012 sekitar 2.874 kg,” paparnya.

http://bisnis.liputan6.com/read/816570/antam-bidik-penjualan-135-ton-emas

January 29, 2014

Ini Tujuan Bos Besar Freeport Datang Jauh-jauh dari AS ke Indonesia


Detik.com Wednesday, January 29, 2014       21:20 WIB Petinggi induk usaha PT Freeport Indonesia, yaitu Chief Executive Officer (CEO) Freeport McMoran Copper & Gold Inc Richard C Adkerson datang ke Indonesia. Hari ini Adkerson menemui Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, dirinya sempat bertemu dan berdialog hari ini dengan Adkerson. Inti dari pertemuan dengan orang nomor satu di Freeport global itu membahas soal implementasi kebijakan UU No.4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara (Minerba) yaitu soal larangan ekspor tambang mentah mulai 12 Januari 2014.

Hidayat mengungkapkan, Adkerson keberatan dengan pengenaan bea keluar (BK) atau pajak ekspor yang dikenakan hingga 60% terhadap mineral yang sudah tersentuh proses pengolahan namun belum sampai pemurnian. Dalam ketentuan yang diatur dalam peraturan menteri keuangan, perusahaan tambang yang sudah melakukan pengolahan maka boleh mengekspor produknya namun dikenakan BK progresif 20%-60% secara berkelanjutan hingga akhir tahun 2016

“Ya keberatan dengan bea keluar kelihatannya harapan tak dikenakan atau biayanya terlalu tinggi,” kata Hidayat kepada detikFinance, Rabu (29/1/2014)

Hidayat menceritakan percakapannya dengan Adkerson berlangsung hangat selama 2 jam. Hidayat mengaku, keduanya sudah saling mengenal, bahkan sebelum Hidayat menjadi menteri perindustrian, saat masih menjabat Ketua Kadin. Adkerson memahami posisi Hidayat yang kini sudah ada di dalam pemerintahan dan melaksanakan undang-undang, sedangkan Hidayat pun memahami posisi bos Freeport tersebut yang memimpin perusahaan global yang perlu kepastian hukum.

“Cuma masalah bea keluar, saya katakan sebagai menteri perindustrian, harus menjalankan UU Minerba. Dia kemudian, menyatakan akan mencari jalan keluar supaya bisa menjalankan UU,” katanya

Dalam percakapan itu, Hidayat menjelaskan, kebijakan pemerintah Indonesia soal program hilirisasi tambang, pihak Adkerson pun berkomitmen membangun smelter di Indonesia. Namun ketika pembahasan soal teknis kebijakan seperti bea keluar, bos Freeport tersebut mengungkit soal kebijakan kontrak karya, yang seharusnya tak mengikuti aturan terbaru di Indonesia.

“Dia bilang apapun yang sudah punya kontrak karya yang sudah berjalan, kalau nggak kita akan bertentangan dengan UU. Saya bilang nggak mau dispute soal UU, kita cari solusi saja,” tegas Hidayat.

Sesudah bertemu Hidayat, malam ini Adkerson juga datang ke kantor Menteri Keuangan Chatib Basri.

Sumber: detikcom

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers