Archive for ‘Energy’

April 3, 2014

Bangun PLTA, Bukaka Contek Tiongkok

Bangun PLTA, Bukaka Contek Tiongkok

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. ANTARA/Zainuddin MN

 

TEMPO.COJakarta – PT Bukaka akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 200 megawatt di Poso Sulawesi Tengah. (Baca juga : Genjot Kapasitas PLTA, Pemerintah Manfaatkan Waduk ).

Menurut Direktur Utama Bukaka, Ahmad Kalla, desain pembangkit ini meniru proyek serupa di Tiongkok. “Jadi tidak perlu lagi research and development,” kata dia di kantor Kementerian Perindustrian, Kamis, 3 April 2014.

Ahmad mengatakan Bukaka tidak memiliki insinyur yang ahli dalam membangun pembangkit listrik. Karena itu, Ahmad kemudian pergi di Tiongkok dan menemukan gambar proyek pembangkit listrik di sebuah toko buku. Gambar-gambar tersebut adalah PLTA milik pemerintah Tiongkok yang sudah dibangun. “Saya pun mengambil contoh desainnya dari gambar di toko buku ini,” ujarnya. (Baca :Pembangunan PLTA Dipercepat).

Sejak 2003, Bukaka banting setir dari produsen mesin menjadi pembuat pembangkit listrik. Menurut Ahmad, keputusan ini didasarkan pada kondisi bisnis barang modal yang tidak terlalu menghasilkan keuntungan. “Kalau mendapatkan banyak penghargaan, iya. Tapi duitnya ternyata tidak ada,” katanya.

Ahmad mengaku tertarik untuk berinvestasi di bidang energi karena selama ini belum banyak dirambah perusahaan asing. Asing, kata dia, lebih tertarik menggarap sektor tambang dan perkebunan sawit yang menghasilkan keuntungan lebih besar.

AMIR TEJO

March 29, 2014

Patroli AL Tahan Timah Ilegal yang Dikawal Polisi

khas kebijkan yang dibuat pejabat Indonesia selalu menyisakan lubang kesempatan dan multitafsir. Sayang ya otak encer pejabat Indonesia lebih banyak dimanfaatkan untuk “ngobyek” atau “korupsi”. Yang paling jahat adalah mengutak atik kebijakan agar pejabat masih punya wewenang untuk mengeluarkan ijin tertentu.Contoh ekspor hasil tambang mentah sudah dilarang tapi dibuatkan celah agar beberapa perusahaan bisa tetap mengekspor. Bingung khan..>Bingung bagi warganegara Indonesia tapi tidak bagi pejabat dan pengusaha kroni

 

Patroli AL Tahan Timah Ilegal yang Dikawal Polisi  

Gulungan plat timah. ANTARA/HO

TEMPO.COJakarta – Komandan Pangkalan Angkatan Laut Batam Kolonel Laut Ribut Eko Suyatno mengatakan instansinya masih menahan 58 kontainer berisi timah ilegal yang disita pada 7 Maret 2014. Timah berbentuk solder, anode, dan billet senilai US$ 33,4 juta atau Rp 378 miliar itu akan diekspor ke Singapura dengan menggunakan kapal tongkang Bina Marine 76 yang berlayar dari pelabuhan laut Pangkal Balam, Bangka Belitung. “Kami masih menelusuri pelanggarannya,” katanya kepada Tempo, Rabu, 26 Maret 2014.

Peti kemas itu tetap ditahan setelah Kolonel Ribut mengundang instansi lain, di antaranya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, PT Surveyor Indonesia, dan Bursa Komoditi Derivatif Indonesia. Mereka diundang untuk menganalisis sah-tidaknya timah itu diekspor. Hasil analisis dan uji laboratorium menyebutkan timah dalam 58 kontainer itu tidak sesuai dengan isi dokumen.

Salah seorang yang diundang bercerita penahanan itu menjadi sensitif lantaran kapal berlayar di bawah kawalan polisi. Petugas patroli Angkatan Laut mendapati beberapa anggota Direktorat Polisi Air dan Udara berseragam serta bersenjata lengkap. Ribut enggan berkomentar saat ditanya keberadaan polisi itu. “Bukan kewenangan saya,” ujarnya.

Adapun juru bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Ronnie Frangky Sompie, membenarkan adanya polisi di kapal itu. Keberadaan polisi itu resmi untuk mengawal perjalanan kapal sampai pelabuhan laut di Batam, Kepulauan Riau. “Timah yang dikawal dari hasil lelang resmi, jadi tak ada pelanggaran,” katanya kepada Tempo, Kamis, 27 Maret 2014.

Celakanya, sebelum sandar, kapal itu dicegat patroli Gugus Keamanan Angkatan Laut Armada Barat. Menurut Ronnie, polisi pengawal langsung ditarik ke markas polisi setelah berkoordinasi dengan nakhoda. “Tidak ada yang ditahan Angkatan Laut,” ujarnya.

Tegangnya hubungan polisi dan Angkatan Laut dalam penahanan ekspor timah ilegal menjadi laporan majalah Tempo yang akan terbit Senin, 31 Maret 2014.

March 21, 2014

Batu Bara Nasional Masih Bisa Sampai 2050

 
Batu bara itu harusnya bisa menjadi berkah buat pembangunan. Nyatannya batu bara hanya menjadi komoditas yang dikuasai segelintir elit dan preman. Hasilnya hanya dipakai foya foya, beli mobil mewah impor dan beli istri muda. Nah belum lagi kerusakan alam akibat tambang batu bara  yang dibiarkan begitu saja. Lihat hasil penjarahan batu bara di Kalimantan Selatan, Tengah, Timur dan Jambi.
 
 
www.inilah.comonFollow on Google+
 

 

 
 
 
Headline
(Foto: inilahcom)
 
Oleh: Ranto Rajagukguk
ekonomi – Jumat, 21 Maret 2014 | 15:36 WIB
 

INILAHCOM, Jakarta – Dewan Energi Nasional (DEN) memperkirakan pasokan batu bara nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga di 2050 mendatang.

Asalkan, produksi komoditasi ini tidak berorientasi bisnis atau kerap diekspor. “Jadi kita harus sayang-sayang sama batubara kita. Biarkan di dalam perut bumi, jangan diekspor. Kalau diekspor terus nanti di 2050 batubara habis kita tidak bisa apa-apa,” ujar Anggota DEN, Renaldi Dalimi di Jakarta, Jumat (21/3/2014).

Ia menilai kebutuhan batubara di tahun mendatang sekitar 700 juta hingga 1 milar ton. Agar pemanfaatan batubara bisa maksimal, pemerintah harus segera menyerap produksi komoditas ini dari produsen nasional.

“Jangan sampai melarang ekspor tapi pasar dalam negeri tidak diperhatikan atau menyia-nyiakan produksi batubara dalam negeri,” tutur dia.

Renaldi memberikan opsi agar pemerintah mendorong keberadaan pembangkit listrik dari batubara bagi smelter. Sebab, hingga kini, pembangkit listrik yang murah berasal dari batubara.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik berjanji akan menyerap produksi batubara nasional bagi sumber Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pihaknya berencana menambah kapasitas listrik sebesar 7.000 mega watt (MW) dari produksi batu bara. [hid]

March 16, 2014

Pemasangan RFID di Jakarta Tak Capai Target

masang RFID yang super simpel aja tidak becus, bagaimana program konverter BBG ? Ingat PT DIGAS ( ????)
 
KAMIS, 13 MARET 2014 | 05:20 WIB

 

Pemasangan RFID di Jakarta Tak Capai Target

Petugas menunjukan alat nirkabel tekhnologi Radio Frequency Identification (RFID) sebelum dibagikan gratis kepada pengguna kendaraan pribadi di SPBU Cikini, Jakarta (27/11). ANTARA/M Agung Rajasa

 Berita Terkait

 

TEMPO.CO Jakarta:Manajer Sosialisasi Sistem Monitoring dan Pengendalian PT Inti, Andi Nugroho, mengungkapkan, realisasi pemasangan alat pemantau konsumsi bahan bakar minyak, radio frequency identification (RFID), di Jakarta masih rendah. Hingga 11 Maret, baru sekitar 290 ribu kendaraan di Ibu Kota yang dipasangi RFID dari target 4,5 juta kendaraan. “Kisarannya kurang-lebih lima persen,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Rabu, 12 Maret 2014.

Andi mengatakan antusiasme masyarakat terhadap pemasangan RFID tahun ini menurun dibanding tahun lalu. Hal tersebut terjadi lantaran masyarakat belum paham soal program Sosialisasi Sistem Monitoring dan Pengendalian BBM. Padahal, menurut dia, pasokan perangkat dari Inti untuk wilayah Jakarta sudah siap.

Guna mengatasi masalah tersebut, PT Inti akan menggencarkan sosialisasi. Caranya, dengan menghadirkan posko-posko di pusat belanja dan keramaian, selain posko di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sejauh ini, kata Andi, sudah terdapat 45 posko RFID di seluruh wilayah Jakarta. 

PT Inti adalah pemenang tender pemasangan RFID Pertamina. RFID ini memungkinkan Pertamina memantau dan mencatat konsumsi BBM, khususnya BBM bersubsidi, sekaligus melakukan sistem distribusi tertutup subsidi BBM. Tujuan akhir program ini adalah mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi. 
 
Pengamat minyak dan gas dari Center for Petroleum and Energy Economics Studies, Kurtubi, justru menyarankan agar pemerintah membatalkan proyek RFID. Dia menilai proyek ini bukan solusi untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi. “RFID dimaksudkan untuk memata-matai masyarakat saat mengkonsumsi BBM,” katanya saat dihubungi Tempo.  (baca juga: Chatib: Tak Ada Rencana Kenaikan Harga BBM)

Sebagai pemenang tender, PT Inti diharuskan memasang perangkat RFID yang berbentuk cincin pada 11 juta unit mobil, 80 juta sepeda motor, 3 juta bus, dan 6 juta truk di seluruh Indonesia. PT Inti juga menjadi pemantau penyaluran solar dan Premium bersubsidi dari 91.311 kepala slang (nozzle) di 5.027 SPBU. 

ANANDA PUTRI | ALI HIDAYAT | ANANDA TERESIA

March 4, 2014

Inilah Komponen Converter Kit Produksi PT DIGAS

Pabriknya sudah berdirikah ??  Atau pabriknya baru akan didirikan (…???). Jangan sampai ulusan converter kit jadi usaha  “calo proyek ” atau percaloan. PT DIGAS itu siapa  ?  Katanya  PT yang bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia.  Gimana bentuk kerjasamannya ?? Apa PT DI ada saham. Kok yang ngoceh “advisor “nya, tidak ada wakil dari PT DI ?  Dicari cari di internet tidak ada keterangannya sama sekali.  
Berandai andai: 
 Jika memang PT Dirgantara Indonesia, apa sudah ada di bisnis plan PT DI dan kementrian BUMN. Atau ini masih ide spontan ? Pada masa sulit memang PT DI dengan terpaksa  bikin panci dan parabola tv, tapi sekarang yang kinerja PT DI lagi mocer, sayang sekali jika diganggu bisnisnya untuk bikin tabung konverter atau apapun . 
 
Nah yang mengkhawatirkan dari kebijakan spontan macam begini karena akan berakhir GATOT alias gagal total .  Produksi konverter dan distribusi mandek, program konversi macet. konyol deh. 
 Ujungnya : pemerintah  ngimpor konvertor kit dari China! Weicha ! Semoga saya salah !\
 
Preseden program GATOT sudah ada contohnya,  lihat saja soal RFID eks PT Inti, yang berujung dengan lambatnya pemasangan padahal RFID diimpor dari CHINA. super konyol ! Yang rugi ya masyrakat dan pemerintah indonesia 
 
 
 
 
Headline
ist
 
Oleh: Budi Yuni Harto
ekonomi – Senin, 3 Maret 2014 | 15:24 WIB
  

INILAH.COM, Jakarta – Perusahaan lokal asal Bandung, Jawa Barat, PT DIGAS Indonesia tengah membangun kerja sama dengan Kementerian Perindustrian terkait pembuatan tabung gas Compressed Natural Gas (CNG) tipe 4 untuk converter kit.

Advisor PT DIGAS Indonesia, Tim Percepatan Pengembangan EBET dan Konversi BBM ke BBG, Kementerian ESDM, Gembong Primadjaja, menurutnya converter kit tipe 4 memiliki keunggulan bila dibandingkan tipe sebelumnya.

“Masing – masing tipe ada kelebihan dan kekurangannya. Tipe 1 dengan tipe 4 yang umum dipakai, tabung tipe 1 itu tidak ada pabrik lokal karena investasi pembuatannya cukup besar dan pembuatannya cukup rumit,” katanya usai presentasi di kantor Kementerian Perindustrian, Senin (3/3/2014).

Gembong juga menambahkan kelebihan tabung tipe 4 adalah teknologinya yang lebih maju. Hal ini bila dibandingkan dengan tipe sebelumnya. Tabung tipe 4 teknologinya yang bersifat leak before break.

“Kemudian tabung tipe 4, teknologinya leak before break, jadi tidak ada efek ledakan ketika dia tabrakan atau terjadi kebocoran. Tabung tipe 1 itu masih menimbulkan blasting (ledakan), kemudian dari sisi lifetime, berdasarkan ISO sama, tapi dengan kondisi gas di indonesia yang masih mengandung air, dia rawan terhadap korosi yang dari besi/tabung tipe 1,” imbuhnya.

Lanjut menurut Gembong, tabung gas LNG tipe 4 tidak mempengaruhi performa kendaraan. Ini berbeda dengan tipe 1 yang membebani performa kendaraan.

“Dari sisi pemakaian, karena tabung tipe 1 terbuat dari besi maka dia lebih berat, sehingga dia mempengaruhi jarak rem kendaraan, lifetime suspensi, terus ban. Tapi kalau tipe 4, beratnya hanya seperempat jadi dia tidak mempengaruhi performa kendaraan,” ujarnya. [hid]

February 20, 2014

Pembangunan Kilang Pertamina Bisa Jadi Solusi Penguatan Rupiah

Rupiah lemah karena Indon banyak impor minyak olahan  dari Singapore dan disubsidi pula.. Siapa yang untung?  Yang untung adalah mafia BBM dibawah  Moh Riza Chalid, sohib Hatta Rajaza dan Cikeas. Bertahun tahun MRC manghalangi atau melobi pemerintah untuk mempersulit pembangunan kilang.

 

 

Wednesday, February 19, 2014       19:31 WIB

Ipotnews – Selain memberi kebebasan berinvestasi bagi pemodal asing, ekonom Faisal Basri mengungkapkan bahwa pembangunan kilang minyak oleh PT Pertamina (Persero) akan mampu menciptakan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Untuk menekan defisit transaksi berjalan supaya surplus, tentunya harus meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Saat ini impor kita paling besar dari migas dan juga bahan baku. Bisa juga Pertamina segera membangun kilang, untuk menekan impor,” kata Faisal di Jakarta, Rabu (19/2).

Menurut dia, tidak beralasan jika Pertamina mengaku tidak memiliki sumber dana untuk membangun kilang minyak. “Jika alasan Pertamina tidak ada duitnya, kenapa mereka bisa melakukan ekspansi ke luar negeri?” ujar Faisal.

Dia menyebutkan, untuk mendanai pembangunan kilang, Pertamina juga bisa berutang atau meminta pengurangan pemberian dividen kepada pemerintah. “Itulah solusi terbaik untuk saat ini,” kata Faisal.

Faisal berpendapat, saat ini pemerintah tidak bisa mengandalkan penguatan rupiah pada peningkatan neraca modal yang selama ini berhasil menekan defisit neraca transaksi berjalan, dan akhirnya menciptakan surplus pada neraca pembayaran Indonesia. “Kita tidak ingin penguatan rupiah semata-mata dari capital account saja, karena itu di luar kendali kita. Tetapi, bisa juga dengan membebaskan asing masuk, supaya rupiah kita kuat,” jelasnya.

Faisal memperkirakan, pada akhir tahun ini rupiah akan menguat di kisaran Rp10.000 per dolar AS. Menurutnya, perkiraan ini sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia. “Rupiah bisa menguat karena harga komoditi membaik, seperti kakao, kopi dan harga kelapa sawit,” imbuhnya. (Budi/kk)

February 18, 2014

Kilang Terbakar dan Nasib Karir Karen Agustiawan

Selama menjabat tidak ada pembangunan kilang minyak baru, tapi yang ada malahan terbakar.. ckckck..
 
Selasa, 18 Februari 2014 | 04:44 WIB

 

Kilang Terbakar dan Nasib Karir Karen Agustiawan

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Tempo/Tony Hartawan

 

 

TEMPO.CO , Jakarta – Perjalanan karir Karen Agustiawan pernah ditentukan oleh kasus terbakarnya fasilitas minyak Pertamina yang terbakar.

Pertama, awal Januari 2009, tepatnya 18 Januari 2009, pukul 21.00 tangki nomor 24 di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, meledak dan terbakar. Setidaknya sebanyak tiga juta liter premium senilai Rp 15 miliar musnah. Selama dua hari 645 SPBU kawasan Jabodetabek mengalami kelangkaan bahan bakar dan kerugian Pertamina mencapai Rp 22 miliar. (Baca juga : Soal Kebakaran, Pertamina: Bukan Kilang, Pemanas)

Kejadian itu memicu perubahan posisi Direktur Hulu Karen Agustiawan, sekarang Direktur Utama. Namanya masuk dalam daftar calon Direktur Utama Pertamina yang disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Awalnya pada akhir 2008 terjadi kelangkaan bahan bakar minyak di beberapa wilayah Indonesia. Saking jengkelnya, Presiden SBY mengkritik jajaran Pertamina saat pidato pembukaan Bursa Efek. “Saya tidak happy,” kata Presiden Yudhoyono pada 5 Januari 2009.

Apalagi pihak pertamina beralasan kelangkaan BBM disebabkan hari libur. Menurut presiden alasan seperti itu keliru. ”Tidak ada hari libur untuk melayani rakyat, dan negara itu tidak tidur,” ujar presiden. (Lihat juga : Kilang Minyak Pertamina di Dumai Terbakar)

Sebetulnya pergantian Direktur Utama Pertamina direncanakan sehari sebelum kebakaran Plumpang. Praktis kejadian itu membulatkan presiden mengganti Ari H. Soemarno. Dalam pertemuan itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengusulkan nama Karen Agustiawan.

Nama Karen Agustiawan menyingkirkan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Kuntoro Mangkusubroto dan Erry Riyana. Calon lain yang dikalahkan Karen dari internal Pertamina yakni bekas Direktur Umum dan Sumber Daya Mineral Sony Soemarsono, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal, dan Komisaris Pertamina Maizar Rahman. (Berita terkait : Kebakaran di Plaju Diduga dari Kolam Minyak Curian)

Kedua, sekarang Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengalami kejadian hampir serupa dengan lima tahun lalu. Walaupun sama-sama menjelang masa pemilu, namun kali ini di penghujung masa jabatan Presiden SBY.

Kilang minyak Dumai yang beroperasi sejak 1971 terbakar pada 6 Februari 2014, sekitar pukul 22.30 WIB. Kilang minyak Dumai dengan kapasitas 170 ribu barel per hari selain untuk ekspor juga memasok gas dan BBM ke Sumatera Barat dan Riau.

Kilang Dumai meskipun masuk katagori kilang tua mempunyai beberapa kelebihan. Yakni kilang ini mampu mengelola minyak mentah dari Blok Duri yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia.

Selain itu Kilang Dumai mampu memaksimalkan produk bernilai tinggi berupa PKSA (Premium, Kerosene, Avtur,Solar). Sekaligus mampu menekan produk bernilai rendah (IFO,LSWR), agar mendapat nilai jual tinggi. Bahkan Kilang Dumai sekarang mampu menghasilkan Solphy, produk ramah lingkungan yang lebih mahal dari Avtur.

EVAN | PDAT  | Sumber Diolah Tempo

February 15, 2014

Impor Minyak Tetap Ancaman

 

Cabut saja subsidi BBM. Subsidi BBM kebijakan “dungu” yang hanya menguntungkan mafia BBM (Moh Riza cs) dan Penyelundup BBM. Solusi ini hanya akan terjadi jika rejim yang sekarang diganti . Urusan BBM dan Mata uang rupiah yang nilainya merosot terus, memang jadi dilematis bagi Hatta Rajasa dan SBY (Cikeas cs) Mereka tahu bahwa yang menyebabkan rupiah terpuruk adalah impor BBM Indonesia dari Singapore, tentu lewat konconnya  (Moh Riza cs) Moh Riza cs ini juga penyumbang dana buat kebutuhan dana untuk politik dan dompet dari Hatta dan Cikeas cs.  Untuk memperkuat rupiah adalah mengurangi impor BBM, menghapus subsidi dan membangun kilang minyak ! Nah jika hal itu dilakukan tentu setoran dari para bandit BBM jadi berkurang.. Dilema dus..

 

Neraca Pembayaran Masih Defisit

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS — Impor minyak masih mengancam transaksi berjalan Indonesia. Membaiknya neraca nonmigas pada transaksi berjalan tidak diiringi neraca minyak. Defisit minyak sepanjang tahun 2013 justru lebih besar dibandingkan dengan tahun 2012.

Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada Juni 2013 belum mampu mengerem impor minyak.

Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang dirilis Bank Indonesia kemarin, neraca minyak tahun 2013 defisit 22,476 miliar dollar AS. Defisit ini lebih besar dibanding tahun 2012, sebesar 20,436 miliar dollar AS. Defisit disebabkan impor minyak lebih besar daripada ekspor.

”Impor minyak masih lampu kuning,” kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Yogyakarta, Tony Prasetiantono, Jumat (14/2).

Tony yang dihubungi di Yogyakarta mengemukakan, instrumen kenaikan harga BBM sulit dilakukan lagi karena sensitif secara politik. Cara mengerem impor minyak bisa melalui kebijakan non-kenaikan harga. Hal itu misalnya keharusan mobil berkapasitas mesin besar menggunakan BBM nonsubsidi.

”Tetapi, apakah pemerintah sekarang berani, mau melakukannya? Kalau menunggu pemerintahan baru pada Oktober nanti, sudah kelamaan,” ujar Tony.

Sebagaimana dikemukakan Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. perbaikan signifikan terjadi pada neraca nonmigas yang mencatat surplus tahun 2013 sebesar 15,851 miliar dollar AS. Sumbangan surplus terbesar pada triwulan IV yang mencapai 7,011 miliar dollar AS. Pada triwulan III-2013, surplus neraca nonmigas sebesar 2,771 miliar dollar AS.

”Surplus pada triwulan IV- 2013 ini jauh lebih besar daripada prediksi semula,” kata Perry.

Defisit transaksi berjalan tahun 2013 sebesar 28,45 miliar dollar AS atau 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit ini lebih dalam dari tahun 2012 sebesar 24,418 miliar dollar AS atau 2,8 persen PDB.

Neraca pembayaran

NPI triwulan IV-2013 akhirnya surplus, yakni 4,412 miliar dollar AS. Namun, surplus tersebut belum mampu menutup defisit pada tiga triwulan lainnya. Akibatnya, NPI tahun 2013 masih defisit 7,325 miliar dollar AS.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, defisit NPI ini juga berasal dari berkurangnya surplus transaksi modal dan finansial sebesar 24,896 miliar dollar AS tahun 2012. Namun, defisit merosot menjadi 22,731 miliar dollar AS tahun 2013.

NPI defisit akibat turunnya modal yang masuk ke Indonesia sebagai dampak meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, dipengaruhi juga persepsi negatif investor asing terhadap inflasi dan defisit transaksi berjalan. (IDR/EVY)

 

 
February 14, 2014

Investor Asing Berminat Bangun Kilang di Bontang

Semoga bukan OMDO , sudah 15 tahun memang hanya Omong omong doang, karena insentif dari pemerintah tidak jelas (maklum lobi keras dari Mafia BBM)
Kamis, 13 Februari 2014 | 12:16 WIB

Investor Asing Berminat Bangun Kilang di Bontang  

TEMPO/Dhemas Reviyanto

 

TEMPO.CO, Jakarta – Hasil konsultasi pasar antara pemerintah Indonesia dan lebih dari 30 investor perusahaan minyak internasional di Singapura pada Senin kemarin membuahkan hasil yang cukup positif. Pemerintah mengaku optimistis tingginya kepercayaan investor akan memberi kepastian soal pembangunan kilang yang direncanakan berlokasi di dekat lokasi LNG, Bontang, Kalimantan Timur.

“Proyek ini merupakan salah satu peluang investasi terbesar di Indonesia dan membawa dukungan penuh dari pemerintah,” kata Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam siaran persnya, Kamis, 13 Februari 2014. (Baca juga : Transaksi Jumbo Perusahaan Minyak Indonesia-Iran)

Dalam konsultasi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta PT Pertamina memaparkan persentasi teknis pembangunan kilang tersebut. Skema pembangunan yang saat ini masih tengah diuji oleh pasar adalah kerja sama pemerintah dengan swasta (public private partnership).

Skema ini membuka peluang investor asing dan dalam negeri untuk bekerja sama dalam pengembangan dan pengoperasian proyek tersebut untuk melayani permintaan pasar. Peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam proyek itu akan segera diselesaikan dalam beberapa bulan mendatang. (lihat juga : Pemerintah Tawarkan Pembangunan Kilang ke Investor)

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo mengatakan pembangunan kilang baru akan berkontribusi pada target kemandirian energi. Indonesia saat ini tercatat masih mengimpor 30 persen kebutuhan produk olahan dan diproyeksikan akan terus naik jika tidak dibangun penyulingan. Pemerintah menargetkan kecukupan dalam pasar domestik bisa dipenuhi pada 2022.

“Kilang baru akan memberikan kontribusi untuk kemandirian energi Indonesia dan akan mengatur standar dalam hal teknologi, efisiensi, dan pembangunan ekonomi,” kata Susilo.

ANGGA SUKMA WIJAYA

February 13, 2014

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta

Selasa, 11 Februari 2014 | 18:39 WIB

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta  

Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

 

TEMPO.CO, Surakarta – Sejak seminggu lalu, warga Surakarta kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Maryanto, pedagang pengecer elpiji di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Surakarta, mengatakan jika biasanya dia mendapat kiriman sehari sekali, kini gas datang dua-tiga hari sekali. Jumlahnya pun dikurangi.

 

“Biasanya dapat jatah 12-18 tabung sekali kiriman, kini berkurang separuhnya,” kata Maryanto, Selasa, 11 Februari 2014. Karena kiriman tidak datang tiap hari, stok elpiji di tempatnya pun kerap kosong. Dampaknya, harga elpiji naik menjadi Rp 15.500 per tabung.

Pedagang pengecer di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasarkliwon, Mursito, menyatakan hal serupa. Sejak akhir Januari dia kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Kitiman gas melon yang biasanya datang sekali tiap hari menjadi dua kali seminggu dengan jumlah terbatas. “Hanya dijatah sepuluh tabung. Sejam langsung habis,” katanya.

Karena kelangkaan pasokan, tidak sedikit warga yang sengaja memberi uang kepada Mursito lebih dahulu agar mendapat jatah. “Banyak pelanggan saya yang kecewa karena kehabisan elpiji,” ucapnya. Dia akhirnya membeli dari pemasok seharga Rp 15 ribu per tabung dan menjualnya Rp 16 ribu per tabung.

Pengecer lain, di Desa Gambiran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, juga mengalami hal yang sama. Karena gas langka, harga pun naik. Apalagi harga jual dari pangkalan juga naik.

Salah seorang pengelola pangkalan elpiji kemasan tiga kilogram di Jebres mengatakan akhir-akhir ini permintaan masyarakat meningkat. Setiap kali elpiji dipasok ke pangkalan, dalam waktu setengah jam habis diborong masyarakat. “Sebelumnya, seharian baru habis,” kata pengelola pangkalan yang enggan disebutkan namanya ini.

Lantaran permintaan begitu banyak, meski kuota sudah ditambah dari 50 menjadi 80 tabung per hari, elpiji tetap ludes terjual. Dia tidak tahu penyebab meningkatnya permintaan masyarakat. Agar penjualan merata, dia tidak melayani masyarakat yang membeli dengan keranjang. Sebab dia khawatir gas tersebut dijual lagi ke konsumen akhir dengan harga yang lebih mahal. “Kami menjual Rp 14 ribu per tabung. Sasaran kami konsumen akhir,” ucapnya.

 

Sebelumnya, kelangkan gas rumah tangga bersubsidi terjadi di Surakarta akhir tahun lalu. Harga pun sempat melonjak mencapai Rp 17 ribu per kilogram. (Baca: Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta).

 

UKKY PRIMARTANTYO

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers