Archive for ‘Pertamina’

May 22, 2017

Dwi Soetjipto Kritik Program BBM Satu Harga Pertamina

Aulia Bintang Pratama , CNN Indonesia
Senin, 22/05/2017 15:15 WIB
Dwi Soetjipto Kritik Program BBM Satu Harga PertaminaMenurut mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ini, melalui program BBM Satu Harga, subsidi dari pemerintah malah kembali ditambah. (CNN Indonesia/Diemas Kresna Duta)
Jakarta, CNN Indonesia — Rencana pemerintah memukul rata harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh wilayah Indonesia dianggap mantan Direktur Utama Pertamina Dwi Sucipto bertentangan dengan konsep yang seharusnya diterapkan.

Menurutnya, penyamarataan melalui program BBM Satu Harga tersebut sama saja membuat subsidi dari pemerintah kembali ditambah. Padahal seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya, di mana subdisi semakin tahun harus semakin ditekan.

“Idealnya pemerintah itu setiap tambah tahun tambah menekan subsidi negara untuk BBM. Namun kini malah merencanakan tambah subsidi demi realisasikan satu harga BBM secara nasional,” kata Dwi saat ditemui di Kantor Wakil Presiden, Senin (22/5).

Konsep awal dari pencanangan satu harga BBM itu, kata Dwi, sebenarnya ditujukan pada daerah-daerah terpencil yang tentunya konsumsi BBM-nya tak banyak. Namun dengan konsumsi yang sedikit itu pula lah sesungguhnya biaya distribusi ke daerah terluar juga masih dipikul oleh pemerintah.

Dengan konsep seperti itu, Dwi menganggap bahwa seharusnya subsidi tersendiri tak perlu dilakukan lantaran secara keseluruhan sudah ada dalam proses manajemen di Pertamina.

Hanya saja, Dwi mengatakan keputusan Presiden Joko Widodo yang ingin memukul rata tarif BBM di seluruh Indonesia pasti sudah melalui pertimbangan yang sangat matang.

Dia menilai Jokowi ingin membuat masyarakat lebih mandiri hingga akhirnya memberi subsidi tambahan tersebut.

“Rasanya arahan Pak Presiden begitu, yaitu agar masyarakat mandiri dan subsidi itu diarahkan pada pihak yang memang membutuhkan, bukan ke komunitas,” ujarnya.

Namun begitu, Dwi enggan menyatakan bahwa Pertamina akan mengalami kerugian jika satu harga BBM itu benar-benar terealisasi. Ia menilai ekspose terhadap kinerja harus dipelajari lebih jauh untuk menghitung apakah kerugiaan Pertamina akan bertambah atau tidak. (gir)

Advertisements
March 20, 2017

Laba bersih Pertamina 2016 naik 122%

dari Kontan online

Laba bersih Pertamina 2016 naik 122%

BERITA TERKAIT

  • Elia Massa Manik diangkat jadi Dirut Pertamina

  • Menteri BUMN apresiasi Pertamina berhemat Rp 26 T

JAKARTA. Di tengah pergerakan harga minyak yang cukup volatil pada tahun lalu, PT Pertamina (Persero) masih bisa membukukan laba bersih 2016 yang telah teraudit sebesar US$ 3,15 miliar. Laba bersih tersebut meningkat sebesar 122% dibandingkan laba bersih tahun 2015.

Perolehan laba tersebut didukung kinerja operasi yang meningkat serta efisiensi dan penciptaan nilai tambah perusahaan melalui program Breakthrough Project 2016. Untuk itu, Pertamina akan menjaga kinerja dan menerapkan strategi yang tepat di tengah fluktuasi harga minyak mentah dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dapat mempengaruhi kinerja finansial perusahaan.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, secara umum, Pertamina melewati tahun 2016 dengan tidak mudah, terlebih pada kuartal IV 2016 yang menunjukkan terjadinya tren kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah, yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja finansial.

“Dengan kondisi itu, peningkatan kinerja operasi dan efisiensi di segala lini yang mengacu pada 5 Pilar Strategis Pertamina menjadi langkah tepat sehingga Pertamina dapat meraih laba bersih US$ 3,15 miliar pada 2016,” kata Massa dalam siaran pers, Kamis (16/3).

Secara umum, Pertamina mencatatkan realisasi produksi migas sebesar 650,01 mboepd. Volume penjualan gas mencapai 708,68 ribu bbtu atau meningkat 130% dari RKAP 2016 dan untuk transportasi gas mencapai sebesar 522,11 bscf.

Di sektor pengolahan minyak, Pertamina bisa meningkatkan yield valuable product menjadi 77,76% naik 4,5% dibandingkan pencapaian tahun 2015. Di sisi lain, biaya pokok produksi kilang Pertamina semakin rendah menjadi 97,1% atau turun 6,3% dibandingkan tahun 2015 sebesar 103,6%.

Untuk sektor pemasaran, Pertamina mencatatkan realisasi volume penjualan produk tahun 2016 untuk BBM sebesar 64,63 juta KL atau naik 2,8% dari tahun 2015. Sementara untuk penjualan LPG meningkat 6,3% menjadi 12,09 juta KL.

Tahapan penting megaproyek pengolahan dan petrokimia juga dicapai pada tiga megaproyek yang sudah dijalankan selama 2016 dan bentuk konkret komitmen pengembangan kapasitas kilang Pertamina menjadi 2 juta bopd pada 2023. Beberapa tahapan penting yang dicapai yaitu penandatanganan joint venture development agreement untuk RDMP Cilacap dengan Saudi Aramco, penuntasan basic engineering design dan topping off fasilitas hunian pekerja untuk RDMP Balikpapan, serta kesepakatan framework agreement yang dilanjutkan denganjoint venture agreement bersama Rosneft Oil Company untuk GRR Tuban.

“Pertamina telah melalui tahun 2016 dengan cukup baik. Namun, gejala yang muncul pada kuartal keempat 2016 masih tetap harus diwaspadai sepanjang tahun 2017 dengan berbagai langkah antisipasi yang sudah dicanangkan dan diamanatkan pemegang saham,” pungkas Massa.

March 19, 2017

Pertamina allocates US$5 billion for refinery plans

  • Jakarta Post
    Viriya P. SinggihThe Jakarta Post

Jakarta | Fri, March 17, 2017 | 12:25 pm

Pertamina allocates US$5 billion for refinery plansA security officer patrols by bicycle an oil refinery in Cilacap, Central Java, owned by state-owned energy company Pertamina. (Antara/Idhad Zakaria)

State-owned oil and gas giant Pertamina has allocated at least US$5 billion in capital expenditure in 2017 to fund its ambitious refinery development plans.

Pertamina plans to upgrade four of its refineries and build two new ones to boost its refined oil production capacity to 2.6 million barrels of oil per day (bopd) by 2030 from only around 830,000 bopd at present.

This year alone, Pertamina plans to start the Balikpapan refinery upgrade project in East Kalimantan in the first quarter, while the groundbreaking ceremony for Cilacap refinery upgrade project in Central Java and the new Tuban refinery project in East Java are slated for the third quarter.

“As several of the refinery projects are set to start this year, we have allocated $5-$6 billion in capital expenditure,” Pertamina finance director Arief Budiman said in Jakarta on Thursday.

(Read also: Elia Massa Manik appointed Pertamina chief)

Therefore, Arief said the company was considering several financing options to help fund its operations this year amid various efforts to tighten its belt.

“We need to maintain our efficiency measures to boost our performance,” Arief said.

Through the efficiency measures, Pertamina was able to save $2.67 billion in 2016. As a result, the company’s net profit surged 121.8 percent annually to $3.15 billion in 2016, even though its revenue plunged 12.6 percent to $36.5 billion.

This year, it aims to save at least $1 billion from such measures. (bbn)

March 16, 2017

Elia Jadi Dirut Pertamina, Tanri Abeng: Jangan Setengah-setengah

Kamis 16 Mar 2017, 12:52 WIB

Elia Jadi Dirut Pertamina, Tanri Abeng: Jangan Setengah-setengahFoto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta – Kursi Direktur Utama PT Pertamina persero sudah jatuh ke Elia Massa Manik. Sebagai pengganti dari Dwi Soetjipto, Elia diminta untuk tidak setengah-setengah dalam menjalankan jabatannya.

Terutama ketika berbicara mengenai kerja sama tim pada jajaran Direksi. Direktur Utama harus mengambil peran dalam menciptakan tim yang solid agar bisa melahirkan program yang tepat.

Demikianlah disampaikan oleh Komisaris Utama Tanri Abeng saat jumpa pers di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (16/3/2017).

“Soal teamwork memang kurang optimal, karena Pertamina ini, jangan setengah-setengah,” kata Tanri Abeng.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi dan Jasa Lain, Gatot Trihargo, menyatakan pemiliihan Elia karena sudah berhasil memimpin Holding BUMN Perkebunan yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III.

“Hari ini penyerahan SK Pertamina kepada Pak Elia Massa Manik. Saya kira sudah kenal sebelumnya sebagai dirut PTPN,” kata Gatot pada kesempatan yang sama.

“Elia Massa Manik lebih ditekankan pada seleksi yang dilakukan oleh Ibu (Rini Soemarno, Menteri BUMN) dan beberapa menteri terkait, mengenai leadership yang sudah dilakukan di PTPN,” tukasnya. (mkj/ang)

January 23, 2017

Wadirut Pertamina Buka-bukaan Soal Bisnis BBM Hingga Elpiji

Senin 23 Jan 2017, 06:54 WIB

Wawancara Khusus

Michael Agustinus – detikFinance
Wadirut Pertamina Buka-bukaan Soal Bisnis BBM Hingga ElpijiFoto: Michael Agustinus
Yogyakarta – Sejak 2014, PT Pertamina (Persero) banyak meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji jenis baru. Misalnya pada Juli 2015 diluncurkan Pertalite, lalu ada Dexlite pada April 2016, juga ada Bright Gas 5,5 kg.

Kemunculan produk-produk baru yang memberikan alternatif pada masyarakat ini terkait erat dengan kebijakan subsidi BBM, subsidi elpiji, dan keuangan Pertamina.

Ditemui di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta, Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, menjelaskan kepada detikFinance sembari bersantai dan menikmati kopi, Kamis (19/1/2017). Berikut petikannya:

Bisa diceritakan latar belakang munculnya berbagai produk baru Pertamina seperti Pertalite, Dexlite, hingga Bright Gas?
Akhir Desember saya pelajari laporan keuangan 2014, dari 10 kelompok bisnis marketing, itu 5 merugi. Retail rugi, itu gabungan Premium, Solar, minyak tanah, elpiji, yang masih subsidi semua. Yang non subsidi seperti Pertamax, Pertamax Plus untung tapi secara volume cuma 3%, hanya 900.000 kiloliter (KL), enggak bisa menutup ruginya yang 97%. Kemudian BBM industri rugi yang untuk PLN. Elpiji kerugiannya bablas sampai Rp 4 triliun. Petrokimia juga rugi waktu itu.

Di pemasaran itu yang sudah dikelola Perseroan Terbatas bisnisnya baru pelumas, baru satu anak usaha. Gross profit-nya di pemasaran itu kami rugi US$ 100 juta, banyak rugi.

Saya targetkan di 2015 pemasaran untung (gross profit) US$ 1,410 miliar. Enggak ada yang percaya. Makanya saya naikkan harga elpiji 12 kg. Sempat dimarahi oleh menteri, padahal elpiji yang 12 kg. Masalahnya waktu itu 2 bulan menjelang puasa. Tapi saya jamin waktu puasa enggak naik, saya jelaskan efek inflasinya, yang penting yang elpiji 3 kg yang dampak inflasinya cukup besar enggak naik.

Baru kemudian saya mikir, orang marketing itu karena banyak mengurusnya subsidi akhirnya pikirannya kena kuota, enggak boleh lebih. Kuota Premium sekian, kuota solar sekian, enggak boleh lebih. Saya minta lupakan kuota, enggak ada lagi kitir, enggak ada lagi pembatasan. Bagaimana kalau lebih? Kami keluarkan produk baru, konsumennya dipindah.

Jadi bukan mengendalikan angka konsumsinya tapi memberi alternatif untuk konsumen?
Iya, konsumennya yang dipindah. Makanya kita develop Pertalite, kami luncurkan akhir Juli 2015. Waktu itu sampai akhir 2015, Premium sudah turun dari 97 persen menjadi 86 persen. Pertalite dan Pertamax sudah 14 persen. Pertamax naik hampir 3 kali lipat.

Makin ngebut saya di 2016. Akhir 2016 kemarin, Premium itu (konsumi) sudah tinggal 47 persen. Sisanya Pertalite 33 persen, Pertamax 18 persen, sisanya Pertamax Plus dan Pertamax Turbo.

Wadirut Pertamina Buka-bukaan Soal Bisnis BBM Hingga ElpijiFoto: Ardan Adhi Chandra

Kalau untuk mengurangi subsidi elpiji bagaimana?
Keluarin lah Bright Gas 5,5 kg. Saya sudah katakan dari awal, sebetulnya banyak orang mampu yang enggak mau pakai gas 3 kg, tapi di rumah enggak ada laki-laki atau laki-lakinya kerja terus jarang di rumah, ibu-ibu gendong gas 12 kg enggak kuat, iya kan?

Target pasar Bright Gas yang kedua adalah orang-orang di apartemen. Makanya kita bikin 5,5 kg kan ringan. Warnanya pink. Tapi kita terhambat oleh penyediaan tabung. Pengusaha tabung gas enggak yakin bahwa Bright Gas 5,5 kg bakal laku. Kalau Kami pakai strategi promosi yang bagus, tabung gasnya dibuat cantik warna pink, ibu-ibu nanti yang bujuk bapak-bapak di rumah.

Kenapa penjualan solar ke PLN masih terus rugi?
Akhir 2015, dari 10 bisnis di pemasaran sudah untung semua kecuali solar untuk PLN. Kalau PLN pakai formula harga seperti tahun sebelumnya, yaitu 111% x MOPS, kami untung.

Pada waktu harga minyak tinggi, PLN tahu bahwa selama ini dizalimi Pertamina dengan harga tinggi. Saya mengerem supaya PLN tidak menuntut yang dulu-dulu. Jadi harganya sekarang 105-107% MOPS. Tapi ruginya enggak banyak karena kita efisien.

Disparitas harga Pertalite dan Premium makin lebar di awal 2017. Bagaimana upaya Pertamina agar penjualan Pertalite dan Pertamax bisa tetap didorong menggantikan Premium?
Keyakinan tetap ada, cuma situasi harus dikendalikan. Situasi saat ini demam media sosial menyerang pemerintah lagi tinggi, apa-apa dipelesetkan. Kami naikkan BBM non subsidi yang sudah biasa, normal saja, dibilang menaikkan BBM. Mahasiswa dipanas-panasi kenapa enggak demo menolak kenaikan BBM, padahal yang naik bukan BBM subsidi. Kami enggak menyangka seperti itu.

Tapi sekarang kami sudah sosialisasi, di SPBU kami pasangi spanduk, di medsos sudah kami mulai tahu. Saya agak mengerem harga Pertalite dan Pertamax, jadi untungnya enggak sesuai target. Keuntungan kotor sesuai Permen (Peraturan Menteri ESDM) kan harusnya 5-10 persen, kemarin Januari harusnya naik Rp 500/liter hanya kita naikkan Rp 300/liter. Tanggal 16 Januari kemarin harusnya naik lagi tapi kami tahan dulu. Jadi untung sekarang sudah di bawah 5 persen.

Kenaikan itu ditahan pada 16 Januari lalu agar perbedaan harga dengan Premium tak makin lebar?
Enggak, pertimbangan situasi saja. Lebih karena kondisi. Begitu situasi sudah reda akan kami sesuaikan. Bagaimana pun Pertamina 100 persen milik negara, artinya representasi pemerintah, kita harus pahami itu, enggak bisa bertindak sebagai bisnis murni.

Apa yang membuat Bapak yakin penjualan Pertalite tetap bisa naik sekarang?
Ini sama dengan 2015, ketika awal kami keluarkan Pertalite selisih harganya dengan Premium Rp 800/liter. Jadi enggak masalah. Secara harga kita juga masih di bawah saat 2015, sekarang Pertalite masih Rp 7.350/liter, dulu Rp 8.400/liter saat launching pertama kali.

Jadi penjualan Pertalite enggak akan turun?
Enggak akan turun. Saya masih yakin harga Rp 8.400/liter itu enggak akan tercapai tahun ini. Kalau naik enggak sampai Rp 8.000/liter. (mca/wdl)

December 23, 2016

Pertamina: Penambahan Kapasitas Kilang Cilacap Dipercepat  

Setelah 10 tahun sama  team Hatta R dan SBY diputer puter.. dengan segala macam alasan demi keuntungan si Petral dan Moh Re..

 

KAMIS, 22 DESEMBER 2016 | 23:08 WIB

Pertamina: Penambahan Kapasitas Kilang Cilacap Dipercepat  

Dirut Pertamina Dwi Soetjipto (kanan) bersama CEO Saudi Aramco Amin al-Nasser (kiri), menandatangani penetapan kontrak proyek RDMP di Kompleks Pertamina Lomanis, Cilacap, Jateng, 26 November 2015. ANTARA FOTO

TEMPO.COJakarta – PT Pertamina dan Saudi Aramco bersepakat mempercepat proses penambahan kapasitas Kilang Cilacap, Jawa Timur, dari rencana awal selesai pada 2022 menjadi 2021.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya telah mengukuhkan kemitraan dengan Saudi Aramco untuk menambah kapasitas Kilang Cilacap dari 348 ribu barel per hari (bph) menjadi 400 ribu bph.

Dwi mengatakan pihaknya menandatangani kesepakatan kerja sama berupa joint venture agreement dengan Direktur Utama Saudi Aramco Amin Nasser.

Setelah memperpanjang head of agreement (HoA) dua kali, tutur Dwi, empat poin telah disepakati sejak akhir November 2016. Empat poin yang telah disepakati adalah terkait pasokan minyak mentah, kontrol manajemen, lifting, dan valuasi aset eksisting di Kilang Cilacap.

Dengan kesepakatan tersebut, pihaknya pun optimistis proyek bisa berjalan, bahkan dipercepat, dari target awal, yaitu selesai pada 2021 atau setahun lebih cepat.

Untuk menyelesaikan proyek lebih cepat, pihaknya harus memulai persiapan lahan pada 2017, yang dilanjutkan dengan tahap pendefinisian proyek (front end engineering design/FEED) selama setahun. Kemudian, kata Dwi, konstruksi fisik dilakukan pada 2019.

“Awalnya proyek ini selesai pada 2022, tapi dalam rapat terakhir, CEO Saudi Aramco Amin Nasser men-challenge tim dan commit untuk menyelesaikan pada 2021,” ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 22 Desember 2016.

Adapun proyek tersebut membutuhkan investasi US$ 5 miliar, yang nantinya akan dibagi sesuai dengan kepemilikan saham. Pertamina menguasai 55 persen dan Aramco 45 persen.

Sementara untuk pasokan minyak mentahnya, Aramco akan memasok minyak mentah hingga 270 ribu bph. Sisanya, yakni sekitar 130 ribu bph, akan dipasok Perseroan.

Melalui proyek tersebut, Kilang Cilacap akan menghasilkan tambahan produk berupa gasolin sebesar 80 ribu bph, solar 60 ribu bph, dan avtur 40 ribu dengan standar emisi Euro 5. Selain itu, unit produksi bahan bakar minyak akan terhubung dengan unit produksi pelumas dan petrokimia.

“Untuk saham, masih sama dengan kesepakatan sebelumnya, Pertamina 55 persen, Aramco 45 persen,” ucap Dwi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Megaproyek Kilang dan Petrokimia Pertamina Rachmad Hardadi mengatakan, ketika proyek selesai, kilang bisa beroperasi lebih efisien dengan capaian Nelson Complexity Index (NCI) yang semakin tinggi, yaitu dari posisi saat ini 4 menjadi 9,4.

NCI yang lebih tinggi, kata Rachmad, bisa mengoptimalkan penyulingan minyak hingga 92 persen dari semula 74 persen. Dengan demikian, kendati kapasitas terpasangnya hanya naik 52 ribu bph, dari sisi kemampuan untuk menghasilkan produk bernilai (yield valuable product), lebih tinggi.

“Kompleksitasnya tertinggi, dengan NCI 9,4. Dengan NCI 9,4 dari sekarang 4, yield konversi hanya 73 persen, 74 persen, konversi naik menjadi 92 persen,” ujarnya.

Sementara untuk proyek lain, seperti penambahan kapasitas Kilang Dumai, Riau dan Kilang Balongan, Jawa Barat, Hardadi menyebut HoA dengan Saudi Aramco tak diperpanjang.

Dengan demikian, pihaknya harus melakukan kajian apakah akan melanjutkan proyek sendiri seperti pada Kilang Balikpapan atau mencari mitra baru. Rachmad mengatakan ada beberapa faktor pertimbangan, seperti waktu penyelesaian dan aspek finansial.

“HoA antara Saudi Aramco untuk Balongan dan Dumai sudah berakhir pada 26 November 2016,” katanya.

BISNIS.COM

November 21, 2016

PROFIL CEO PERTAMINA :Jurus Efisiensi Hulu-Hilir

keren Pak Dwi.. cocok untuk jadi presiden  atau menteri BUMN!

..  Selama ini Pertamina menjadi sapi perah buat gerombolan rentenir dan elit politik negeri ini..  Dahulu Level Manajer – General Manajer  Pertamina    yang bisa menjilat kepentingan gerombolan rentenir  bisa menjadi  tajir abis,  bisa tiap hari main golf ( dibayarin mitra Pertamina tentunya), mobil mewah dan rumah  top !  Semoga di birokrasi pertamina lapisan rentenir itu sudah  masukan kotak semua oleh pak Dwi.

 

EKONOMI > ENERGI > JURUS EFISIENSI HULU-HILIR

PT Pertamina (Persero) mengumumkan laba 2,83 miliar dollar AS atau Rp 36,8 triliun. Pencapaian triwulan III-2016 itu melampaui sejumlah perusahaan minyak dan gas lain. Apa kuncinya? Ternyata, sekitar 1,6 miliar dollar AS di antaranya disumbangkan oleh efisiensi perusahaan.

Laba Pertamina memang melampaui perusahaan migas lain, seperti Exxon Mobil (2,65 miliar dollar AS), Total (1,98 miliar dollar AS), dan Chevron (1,28 miliar dollar AS). Selain itu, juga melampaui Petronas milik Malaysia yang labanya sebesar 300 juta dollar AS.

Berikut ini petikan wawancara Kompasdengan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di ruang kerjanya.

Semua perusahaan migas juga menerapkan hal yang sama di situasi harga minyak rendah sekarang ini. Kenapa pencapaian Pertamina lebih tinggi?

Semua perusahaan pasti bicara efisiensi. Akan tetapi, pada saat orang sudah berada di level efisiensi yang tinggi, menemukan peluang efisiensinya (yang baru), kan, terbatas. Jadi begini, kalau misalnya indeks efisiensi mereka sudah di angka 7 naik ke 9, kan, cuman dua poin. Kalau di Pertamina dari 3 ke 9, kan, besar lonjakannya. Itu salah satu faktor kalau kita bicara komparasi dalam hal efisiensi.

Pertanyaannya kenapa Pertamina lebih bagus? Itu karena Pertamina terintegrasi dari hulu sampai hilir. Pertamina ada di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, maka ritel kita besar. Berbeda mungkin dengan Petronas di Malaysia yang jumlah penduduknya tidak banyak, maka hilirnya enggak banyak. Kalau ditanya, apa yang menunjang di samping efisiensi? Itu karena kekuatan hilir. Jadi, bila diringkas, dimulainya efisiensi yang berbeda dan dukungan pasar di hilir yang besar menjadi kekuatan Pertamina saat ini.

Apakah efisiensi sudah maksimum?

Efisiensi belum mencapai titik maksimum. Kalau sekarang digarap di aspek hulu untuk efisiensi, berikutnya efisiensi di hilir. Misalnya, ditentukan harga bahan bakar minyak (BBM) Rp 6.500 per liter, masyarakat yang harus beli. Nah, sampai di sana rantainya sudah efisien atau belum? Misalnya, gas yang rantainya panjang perlu ditata ulang agar efisien. Ini yang akan saya garap ke depan.

Pengadaan minyak mentah dan BBM berkontribusi besar terhadap efisiensi, artinya pembubaran Petral sangat besar pengaruhnya?

Oh, besar sekali. Sangat besar. (Dwi lantas menunjukkan angka-angka “pemborosan” saat Petral berperan dalam pengadaan dan jual beli minyak mentah dan BBM, serta penghematan yang didapat setelah pembubaran Petral).

Saat akan masuk ke Pertamina, Anda melihat Pertamina seperti apa?

Jadi, begitu akan masuk, saya mencoba membandingkan Pertamina dari informasi di internet dan media massa. Di situ terlihat, produktivitas nilai aset Pertamina tidak sebanding dengan produktivitas nilai aset perusahaan lain. Lalu, saya baca komentar orang-orang bahwa Pertamina tidak efisien dan sebagainya. Ketika saya masuk, yang ada dalam pikiran saya adalah saya harus melihat lebih dalam soal efisiensi. Kemudian pada 2013, saya melihat posisi aset Pertamina sepertiga dari aset Petronas. Tetapi, dari sisi laba, laba Pertamina sepersepuluh dari laba Petronas. Ini artinya produktivitas aset tidak sebaik di sana.

Adakah perlawanan saat menerapkan efisiensi?

Pasti. Misalnya, dari sisi sentralisasi pengadaan di luar hidrokarbon dan BBM, pengadaan di direktorat masing-masing. Dalam pengamatan kami, yang melakukan studi, sampai ada perbedaan harga 40 persen untuk barang yang sama. Diputuskan pengadaan harus terpusat, yang selama ini di setiap unit. Ada perlawanan, tetap saya putuskan terpusat.

Perlawanan dari luar?

Tentu ada. Mereka yang selama ini mendapat keuntungan tentu resisten. Kirim pesan singkat (SMS) mengkritik dan sebagainya. Biasa kritik-kritik semacam itu. Itu karena mereka tidak paham saja.

Bagaimana menyeimbangkan Pertamina sebagai perusahaan yang harus membukukan laba dan tugas menjalankan kewajiban melaksanakan pelayanan publik (PSO)?

Pertama, Pertamina harus bermain di area biaya atau efisiensi. Harga di pembeli sudah ditentukan, harga jual juga sudah ditentukan pemerintah. Bagaimana menyederhanakan organisasi dan birokrasi. Yang kedua, mengembangkan bisnis. Laba per satuan volume, maka volume harus ditingkatkan, bisa di hilir dan hulu. Kalau di hilir dalam negeri, pangsa pasar kita sudah 90 persen. Kalau harga rendah, orang akan membeli lebih banyak. Maka, kita harus go international di hilir untuk bisa menaikkan volume tadi.

Menteri Keuangan pernah berkata, dengan menyelesaikan masalah di PLN, Pertamina, dan Kemenkeu, dapat mengurangi 50 persen masalah negara. Tanggapan Anda?

Beliau melihat, pelaku besar di perekonomian Indonesia, seperti Pertamina dan PLN, berada dalam posisi efisiensi yang bagus, maka urusan negara beres. Pertamina bisa mengirim BBM semurah mungkin, PLN bisa menghasilkan listrik semurah mungkin. Demikian juga masalah gas terselesaikan, pasti industri tumbuh dan ekonomi akan jalan. Apabila semua efisien, hal yang tidak benar tidak akan terjadi.

October 10, 2016

Skema Diubah, Proyek Kilang Bontang Bisa Selesai Sebelum 2023

1o tahun sama SBY ngapain aja ya ??  Yang pasti diganjel oleh Moh Riza dan si Hatta R
Senin 10 Oct 2016, 19:13 WIB

Michael Agustinus – detikFinance
Skema Diubah, Proyek Kilang Bontang Bisa Selesai Sebelum 2023Foto: Grandyos Zafna
Jakarta – Proyek Grass Root Refinery (GRR) Bontang berkapasitas produksi 300.000 barel per hari (bph) ditargetkan bisa selesai tahun 2023. Sebenarnya, GRR Bontang bisa diselesaikan lebih cepat lagi.

Caranya dengan mengubah skema pembangunannya dari Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi penugasan untuk PT Pertamina (Persero).

Dengan skema penugasan, Pertamina bisa bergerak cepat memilih partner untuk pembangunan kilang, seperti saat memilih Rosneft untuk proyek GRR Tuban. Berkaca dari GRR Tuban, Pertamina dapat memilih partner dalam waktu hanya 3 bulan. Lalu Joint Venture (JV) untuk proyek GRR Tuban terbentuk 6 bulan kemudian.

“Sampai hari ini yang kami pahami (GRR Bontang) adalah skema KPBU atau Public Private Partnership (PPP). Bedanya kalau penugasan, yang cari investor Pertamina. Estimasi kami, kalau penugasan, Pertamina bisa cepat sampai 2023. Kalau KPBU yang cari (investor) ya konsultan pendamping,” kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, saat ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (10/10/2016).

Sampai saat ini, pemerintah masih mempertahankan skema KPBU untuk GRR Bontang. Masih belum diputuskan apakah skema tersebut akan diubah atau tidak.

“Masih dalam evaluasi internal Kementerian Keuangan,” ujarnya.

Bila menggunakan skema KPBU, pertama-tama perlu dibuat regulasi dalam bentuk Keputusan Menteri (Kepmen) untuk menunjuk Pertamina menjadi Penanggung Jawab Proyek Kerja sama (PJPK) GRR Bontang.

Lalu pemerintah melakukan tender untuk memilih konsultan pendamping, yang kemudian juga ditetapkan melalui Kepmen. Konsultan pendamping inilah yang melakukan tender untuk memilih partner Pertamina di proyek GRR Tuban.

Proses pemilihan partner lebih panjang dibanding skema penugasan. Saat ini, konsultan pendamping belum ditunjuk pemerintah, tendernya pun belum. Maka Pertamina belum bisa bergerak.

“Khusus Bontang kan PJPK, kalau belum ada otorisasi dari pemerintah, kami belum bisa mulai,” ucap Hardadi.

Setelah partner terpilih, langkah selanjutnya adalah membentuk JV. Lalu mulai dibuat desain kilang dan proyek bisa dikerjakan dalam waktu kira-kira 4 tahun.

Kalau Pertamina diberi penugasan membangun GRR Bontang sebelum pertengahan 2017, proyek bisa selesai 2022. Dari sisi pendanaan, kata Hardadi, Pertamina siap.

“Kita siap. Kilang baru, kalau cepat empat tahun,” tutupnya.(drk/drk)

October 10, 2016

PT Rekind Garap Proyek Pipa Bawah Laut Pertamina Rp 1,67 T

Nggak dikasih ke perusahaan Archandra T nih..
Senin 10 Oct 2016, 22:06 WIB

Michael Agustinus – detikFinance
PT Rekind Garap Proyek Pipa Bawah Laut Pertamina Rp 1,67 TFoto: Dok. Reuters
Jakarta – PT Pertamina (Persero) dan PT Rekayasa Industri (Rekind) hari ini menandatangani kontrak proyek Engineering, Procurement, Construction, Installation and Commissioning (EPCIC) Subsea Pipeline (SPL) and Single Point Mooring (SPM) dan Flushing System Facilities untuk kilang RU VI Balongan.

SPL dan SPM adalah pipa bawah laut untuk menerima minyak mentah. Nilai proyek ini mencapai Rp 1,67 triliun.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, dan Direktur Utama Rekayasa Industri, Jobi Triananda Hasjim. Disaksikan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta. Rekind akan bertindak selaku pimpinan konsorsium yang menangani seluruh fase EPCIC tersebut dan bermitra dengan InterMoor Pte., Ltd.

Konsorsium Rekind dan InterMoor terpilih sebagai pelaksana proyek setelah melalui proses tender yang dilakukan Pertamina. Proyek yang sangat penting bagi upaya mendukung peningkatan kehandalan operasional RU VI Balongan ditargetkan tuntas dalam 23 bulan terhitung sejak ditandatanganinya kontrak.

Pembangunan Proyek yang berlokasi di Balongan, Kabupaten Indramayu Jawa Barat ini bertujuan untuk menggantikan dan meningkatkan fasilitas loading/unloading SPM berkapasitas 150.000 Deadweight Tonnage (DWT) dan jaringan offshore pipeline Pertamina yang sudah berusia 52 tahun.

Fasilitas SPM dan jaringan offshore pipeline yang baru memiliki kapasitas 165.000 DWT, jaringan ganda 32 inchi offshore pipeline, onshore pipeline, dan fasilitas flushing system, fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan efektifitas operasional loading/unloading.

Kilang Balongan memang membutuhkan SPM dan SPL berkapasitas lebih besar karena kapasitas produksi kilang akan ditingkatkan dari saat ini 125.000 barel per hari (bph) menjadi 300.000 bph.

“Terpilihnya Rekind dan konsorsium sebagai pelaksana proyek ini sekaligus dapat mengukuhkan sinergi BUMN yang akan memberikan manfaat optimal bagi negara. Selanjutnya, kami mengharapkan agar proyek ini dapat dilaksanakan oleh konsorsium dengan baik, tepat waktu, tepat budget, dan tepat kualitas sehingga dapat cepat mendukung sehingga dapat cepat mendukung kehandalan Kilang RU VI Balongan,” ungkap Rachmad Hardadi dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (10/10/2016).

Jobi Triananda menambahkan bahwa sebagai consortium leader, Rekind akan akan bersinergi dengan seluruh stakeholer dalam membangun dan menyelesaikan proyek SPL dan SPM ini. Proyek ini akan mengintegrasikan teknologi SPM, Pipeline End Manifold (PLEM), Offshore Pipeline, Onshore pipeline dan receiving facility sebagai satu sistem yang beroperasi bersama.

“Pembangunan proyek di Industri offshore dan onshore merupakan salah satu keahlian dan core competencies yang Rekind miliki,” tutupnya. (hns/hns)

September 30, 2016

Pertamina Bangun Pabrik Komponen Ban

JUM AT, 30 SEPTEMBER 2016

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) telah bersepakat dengan perusahaan energi Spanyol, Repsol S.A., untuk membangun pabrik pengolahan treated distillate aromatic extract (TDAE) atau bahan baku ban. Kedua perusahaan telah menandatangani head of agreement pada pekan lalu. “Akan dibangun di area Kilang Cilacap,” kata juru bicara Pertamina, Wianda A. Pusponegoro, di Jakarta, kemarin.

Rencananya, Wianda menjelaskan, Pertamina-Repsol akan mendirikan fasilitas produksi berkapasitas 60 ribu ton per tahun. Mereka akan membuat perusahaan patungan untuk mewujudkan rencana Plant TDAE di Cilacap itu. Diperkirakan, pembangunan pabrik tersebut memerlukan investasi US$ 80 juta (lebih dari Rp 1 triliun).

Wianda mengatakan Pertamina sebenarnya telah mengkaji kelayakan bisnis kilang TDAE ini sejak dua tahun lalu. Bahkan, keinginan menggarap bisnis bahan baku ban telah muncul sejak 2012.

Pertamina juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Pura Barutama untuk menggarap fasilitas pengolahan berkapasitas 50 ribu ton per tahun. Tapi rencana itu tak terdengar lagi, hingga Pertamina meneken kesepakatan serupa dengan Repsol pada pekan lalu.

Pembangunan pabrik diperkirakan akan membutuhkan waktu 18-24 bulan. Dengan begitu, “Targetnya, paling tidak, JV sudah ada pada awal 2017,” ujar Wianda.

Pertamina menargetkan pabrik beroperasi komersial pada 2019. KHAIRUL ANAM | DIKO OKTARA