Archive for ‘Entrepreneur’

June 18, 2012

Berbisnis Itu Sederhana

Senin,18 Juni 2012
KORPORASI
Berbisnis Itu Sederhana
Bagaimana cara berbisnis yang efisien dan efektif? Pertanyaan ini diajukan spontan seorang mahasiswa kepada usahawan Sudono Salim (Liem Sioe Liong) di sebuah acara rileks di Hotel Grand Hyatt tahun 1996. Oom Liem, sapaan akrab usahawan itu, hanya tertawa, tetapi kemudian hanya terdiam.

Om Liem, yang hari Minggu, 10 Juni lalu, meninggal dunia di Singapura, tetap diam seribu bahasa sekalipun terus dipancing untuk berbicara. Oom Liem memang dikenal tidak suka banyak bicara.

Dua temannya yang hadir di sana, usahawan Eka Tjipta Widjaja dan Sukanta Tanudjaja dari PT Sinar Sahabat, juga diam saja. Namun, akhirnya ketika melihat mahasiswa tadi masih duduk, Oom Liem pun tidak tega.

”Saya ini orang lapangan, mana mengerti pertanyaan seperti itu,” ujarnya. Ia mengatakan, berbisnis itu pada intinya meraih untung. Kalau tidak laba, bukan dagang namanya. Namun, laba di sini tidak asal laba, tetapi dengan cara benar. Tidak menabrak aturan, tidak merugikan atau mengganggu orang lain.

Ia menambahkan, hal penting yang harus digenggam erat adalah ”menjaga nama” (reputasi). Jangan menipu, dan kalau berutang, bayarlah utang itu. Jangan sampai tidak bayar utang. Tak baik itu. ”Sekali dua, kamu masih bisa menipu. Tetapi, pada kesempatan berikutnya, tidak ada lagi yang percaya kepada kamu. Itu celaka namanya!”

Oom Liem lalu bercakap-cakap akrab dengan Eka dan Sukanta. Usia mereka tidak berselisih jauh. Saat itu, Oom Liem berusia 81 tahun, Eka Tjipta 75 tahun, dan Sukanta 68 tahun.

Usahawan Tong Djoe, sahabat baik Oom Liem, pada kesempatan lain mengatakan, apa yang disampaikan Oom Liem adalah pokok-pokok berbisnis yang benar. Tong mengatakan, berbisnis pada intinya memang untuk meraih profit. Namun, para pebisnis harus memahami bahwa meraih profit di sini dalam konteks mengail keuntungan dengan jalan lurus.

Tidak menipu, tidak mengelabui, tidak membohongi, tidak curang. Jangan menjual barang kedaluwarsa. Stok barang masih sangat banyak, tetapi dibilang habis. Hanya untuk meraih untung ketika barang langka. Sebab, harga otomatis naik saat permintaan lebih tinggi dibandingkan dengan suplai.

Menjaga nama baik juga digarisbawahi Tong Djoe. Ia mengatakan, dulu ketika generasi pertama masih aktif berdagang, kepercayaan menjadi sendi bisnis yang amat memesona. Pinjaman ratusan juta rupiah (amat besar pada awal 1970-an) bisa diberikan begitu saja tanpa tanda terima.

Saat utang dikembalikan dengan bunga, yang meminjami tidak bersedia menerima bunga. Ia hanya mau menerima pokok utang. Menerima bunga berarti mencederai pertemanan dalam bisnis.

Ini membuat yang tadinya berutang merasa berkewajiban menjaga perangai. Jangan sampai melakukan tindakan tidak patut. Ia pun mesti melakukan hal yang sama kepada usahawan lain yang membutuhkan. Jadilah bisnis dengan sistem kepercayaan itu berjalan mulus dan damai.

Dalam era kini, utang-piutang berjumlah besar selalu butuh saksi, tanda terima, pakai akta notaris, dan jaminan berlapis, tetapi kerap masih dibayangi masalah. Bagi Tong, itu mencederai filosofi bisnis yang baik dan benar.

Mestinya, kata Tong, langgam kita berbisnis kembali ke masa lalu yang penuh damai, persahabatan tulus, persaingan sehat, dan setia kawan yang dalam. (Abun Sanda)

Advertisements
June 11, 2012

Untuk Menjadi Negara Maju Harus Miliki 4% Wirausahawan

Untuk Menjadi Negara Maju Harus Miliki 4% Wirausahawan
Jumat, 8 Juni 2012 | 15:55
Hatta Rajasa. Foto: inilah.com/Agus Priatna

Berita Terkait
Semangat Berwirausaha
Indonesia Membutuhkan 4 Juta Wirausaha
Aptisi Bertekad Siapkan Sejuta Wirausahawan Baru
IPB Terus Kembangkan Wirausaha Muda di Kampus
Kadin dan HKTI Siapkan Pelajar Jadi Wirausaha
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, untuk menjadi negara maju, dibutuhkan paling tidak 4 persen dari seluruh masyarakat bergerak di bidang wirausaha.

Saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 1,56 persen wirausaha, diharapkan bisa menembus 2 persen wirausaha pada akhir tahun ini.

Hatta mengungkapkan, tidak ada negara maju yang luput dari peran kewirausahaan sebagai motor pendorong perekonomian. Untuk itu, tegas dia, pemerintah akan terus mendorong kewirausahaan khususnya pada kaum muda. “Untuk bisa maju sekurang-kurangnya 4 persen masyarakat menjadi wirausaha,” ujar Hatta di Jakarta, hari ini.

Menurut Hatta, berdasarkan data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), sebuah negara maju paling tidak memiliki 40 persen dari total pemuda suatu negara yang memiliki akses pada perguruan tinggi, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan di Indonesia, saat ini baru mencapai sekitar 8 persen.

“Kita baru 8 persen. Kita kekurangan 125 ribu insinyur dan 10 ribu Phd. Ada missmatch karena kita tidak ditopang sumber daya manusia yang memiliki keahlian Iptek dalam pembangunan ekonomi,” tutur dia.

Pendidikan bidang Iptek tersebut, menurut Hatta berperan dalam mendorong wirausahawan muda untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi modern. Pasalnya, menurut dia, di era global ini, banyak kewirausahaan dilakukan dengan teknopreneur yaitu kewirausahaan berbasis terkonogi.

Hatta mencontohkan, seorang teknopreneur yang mengembangkan produk, tak hanya memandang dari satu sisi fungsi, tetapi menjadi sesuatu hal yang memiliki nilai jual dengan teknologi yang baik.

Dengan menanamkan semangat kewirausahaan dari generasi muda, diharapkan jumlah masyarakat yang bekerja semakin meningkat sehingga perkonomian makin terakselerasi. “Agar semakin banyak orang. Bukan hanya deretan pekerja tapi membuka lapangan kerja,” tambah dia.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan menuturkan pemerintah menargetkan jumlah wirausaha pada tahun ini mencapai 2 persen dari total seluruh penduduk Indonesia. Angka tersebut menurut dia meningkat dibandingkan jumlah wirausaha pada tahun lalu sebesar 1,56 persen.

“Tahun 2008, jumlah entreprenuer kita hanya 0,24 persen dari total penduduk Indonesia. Tahun lalu kita sudah di angka 1,56 persen dan tahun ini diharapkan bisa mencapai 2 persen,” ungkap dia. (ID/agustiyanti)

June 11, 2012

Mau jadi milyuner harus pandai bermain catur

ini artikel menarik buat para wirausaha yang hendak menjadi milyuner. Menurut penulis anda bisa menjadi seorang milyarder jika pandai bermain catur, sebab dengan permainan catur mental/emosi anda dilatih untuk berpikir jernih dan hati hati menghadapi suatu masalah.


Peter Thiel used Chess concepts to become a billionaire

By Business Insider | Inc – Wed, Jun 6, 2012 12:50 AM EDT

Check out how Peter Thiel used classic chess strategy to make money.
Through notes from Peter Thiel’s CS183: Startup class at Stanford University, we have a unique window into the mind of the venture capitalist and hedge fund manager. He’s fascinated with human nature, and integrates what he learned from his former career as a chess master into his lectures.
Chess is a contained universe: there are only 32 pieces on the board and 64 squares those pieces can occupy. But starting up a company takes much more than raw intellectual ability; it requires what Thiel calls “The Mechanics of Mafia,” or the understanding of complex human dynamics. Linking the two worlds is Thiel’s passion. Here are some of the chess concepts he highlighted in his class, thanks to notes from one of his former students, Blake Masters:
Know the relative value of your pieces.
In chess, the queen is the most valuable piece on the board. In the standard valuation system, it is given a 9, whereas the rook (5), bishop (3), knight (3), and pawn (1) are lower. In his lecture Value Systems, Thiel mentions Guy Kawasaki’s equation [from a deliberately provocative presentation about the merits of MBAs for startups – Yahoo! Eds] on how to assess the value of a company based on the types of people you have:
Pre-money valuation = ($1M x Number of Engineers) – ($500k x Number of MBAs).
So engineers are more valuable pieces than MBAs.
From his lecture If You Build It, Will They Come? Thiel points out that within any group, there is a wide range of talent. This goes for engineering as much as it goes for sales. “Engineering is transparent … It is fairly easy to evaluate how good someone is. Are they a good coder? An ubercoder? Things are different with sales. Sales isn’t very transparent at all. We are tempted to lump all salespeople in with vacuum cleaner salesmen, but really there is a whole set of gradations. There are amateurs, mediocrities, experts, masters, and even grandmasters.”
“But if you don’t believe that sales grandmasters exist, you haven’t met Elon [Musk]. He managed to get $500m in government grants for building rockets, which is SpaceX, and also for building electric cars, which is done by his other company, Tesla.”
The take-away lesson: Just like with chess pieces, people are not of equal value when it comes to your organization. You must be able to accurately assess their value. And within any field there are amateurs, mediocrities, experts, masters, and grandmasters.
Know how your pieces work best together.
In his lecture The Mechanics of Mafia Thiel discusses two personality types: “nerds” and “athletes.” “Engineers and STEM people tend to be highly intelligent, good at problem solving, and naturally non zero-sum. Athletes tend to be highly-motivated fighters; you only win if the other guy loses.” A company made up of only athletes will be biased toward competing. A company made up of only nerds will ignore the situations where you have to fight. “So you have to strike the right balance between nerds and athletes.”
The take-away lesson: You need some athletes to protect your nerds when it’s time to fight.
Know the phases of the game and have a plan.
In chess, there are three phases: the opening, the middle game and the end game.
From his lecture Value Systems Thiel notes: “People often talk about ‘first mover advantage.’ But focusing on that may be problematic; you might move first then fade away. The danger there is that you simply aren’t around to succeed, even if you do end up creating value. More important than being the first mover is the last mover. You have to be durable. In this one particular at least, business is like chess. Grandmaster Jose Raul Capablanca put it very well: to succeed ‘you must study the endgame before anything else.’”
From his lecture War and Peace: “A good intermediate lesson in chess is that even a bad plan is better than no plan at all. Having no plan is chaotic. And yet people default to no plan.”
Take away lesson: Moving first isn’t always an advantage. Think about poker. If you’re the last to bet, you have the most information. The endgame is where the most decisive moves are made. Study it and make sure you’re around at the right time to make your move. Have a plan.
Talent matters; there is more to success than luck.
In chess, talent clearly matters. In business and life, both talent and luck matter.
From his lecture You Are Not A Lottery Ticket, Thiel said that “when we know that someone successful is skilled, we tend to discount that or not talk about it. There’s always a large role for luck. No one is allowed to show how he actually controlled everything.”
In his lecture If You Build It, Will They Come? Thiel explained that “since the best people tend to make the best companies, the founders or one or two key senior people at any multimillion-dollar company should probably spend between 25 percent and 33 percent of their time identifying and attracting talent.”
Take away lesson: Some people hold more value and control more resources than you realize. Invest your time in finding those talented people for your organization.
Chess is a brutal mental game. So is life. Make your moves carefully.
According to chess grandmaster Danny King’s interview with 60 Minutes, “Chess is a really brutal game. I think because it’s so contained. It’s all going on in the head. And if you lose to your opponent, you feel stupid. You can call someone all the names under the sun, but if you call someone stupid, that’s the worst thing you can say to another human being. And that’s a bit what it feels like when you lose a game of chess. It’s all intellectual.”
Take away lesson: In the words of King: “You can’t take your moves back. Once you play your move you could be stepping into some horrible trap.”
© 2012 by Jonathan Wai

June 10, 2012

Kisah Om Lim Sioe Liong

Kisah Putus Sekolah Om Liem dan Keberhasilan Bisnisnya di Indonesia
M Rizki Maulana – detikNews
Minggu, 10/06/2012 21:01 WIB

Foto: Forbes
Jakarta Soedono Salim atau yang akrab dipanggil Om Liem dikenal sebagai salah satu konglomerat paling sukses di Indonesia. Namun siapa yang menyangka jika Om Liem harus jatuh bangun sebelum meraih kesuksesan itu.

Om Liem lahir di Cina daratan, di Fuqing sebuah desa kecil di wilayah Fujian, Cina bagian selatan, pada 16 Juli 1916. Lahir dengan nama Lim Sioe Liong, ia pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia beberapa dimulainya Perang Dunia II pada tahun 1939. Om Liem kecil yang merupakan anak kedua dari seorang petani itu, hidup dengan sangat kekurangan, bahkan saking miskinnya pada usia 15 tahun ia harus putus sekolah dan berjualan mie di sekitar wilayahnya.

Kisah ini diceritakan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karangan Marleen Dieleman tahun 2007. Buku ini mengambil data dari berbagai sumber, salah satunya adalah laporan tahunan resmi perusahaan Salim Group.

Kemiskinan itulah yang mendasari ia hijrah ke Indonesia, mengikuti jejak kakaknya yangb terlebih dahulu tinggal di Indonesia. Saat pertama kali berada di Indonesia, Om Liem merintis usahanya dengan menjadi supplier cengkeh bagi beberapa pengusaha rokok yang berada di Kudus dan Semarang, Jawa Tengah. Tidak heran bisnis cengkeh menjadi salah satu bisnis yang menunjang kerajaan bisnisnya di masa mendatang, selain bisnis textile tentunya.

Pada era Soeharto, ia sempay mendirikan beberapa bank, seperti Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia. Dia juga bersama tiga kolega bisnisnya Soedono Salim, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad (belakangan dikenal sebagai The Gangs of Four) membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Perusahaan ini pun berhasil memonopoli pasar terigu di Indonesia dengan menyuplai 2/3 dari seluruh kebutuhan terigu nasional

Kehidupan Om Liem pun ibarat roda yang berputar, saat krisis moneter pada tahun 1997 menghantam Indonesia, kapal bisnis miliknya sempat goyah. Beberapa saham unit bisnisnya seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA dan PT Indomobil Sukses Internasional harus dilepas untuk menutup hutang perusahaan yang disebut mencapai 52 triliun rupiah.

Meski sempat goyah, Om Liem berhasil membangkitkan kembali usaha-usaha yang dipegangnya. Salah satunya adalah melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang menghasilkan produk Indomie yang dikenal hingga seantero dunia. Hasilnya pada tahun 2006, namanya kembali menduduki peringkat nomor 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Kekayaannya pada saat itu ditaksir mencapai US$ 800 juta.

Pada era reformasi, Om Liem yang rumahnya yang berada di Gunung Sahari, Jakarta Pusat sempat menjadi korban pengerusakan dan penjarahan pada kerusuhan yang melanda Jakarta pada 1998, mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anakanya Anthony Salim. Lalu mulai saat itu pindah ke Singapura, hingga maut menjemputnya, pada Minggu (10/6/2012).

Selamat Jalan Om Liem.

(riz/fjp)

Apindo: RI Butuh Banyak Om Liem untuk Pembangunan
Ramdhania El Hida – detikNews
Minggu, 10/06/2012 19:08 WIB

Jakarta Meninggalnya pendiri Indofood dan Salim Group, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim rupanya membawa duka mendalam dalam dunia perindustrian tanah air.

Meskipun berbeda generasi, Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengakui begitu besar kontribusi lelaki yang akrab dipanggil Om Liem ini bagi pembangunan Indonesia.

“Apa yang dilakukan beliau, memberikan kontribusi pembangunan Indonesia,” ujar Franky kepada detikFinance, Minggu (10/6/2012).

Menurut Franky, pada saat ini, Indonesia masih membutuhkan sosok seperti Liem Soei Liong mengingat negara ini masih dalam tahap berkembang.

“Kita perlu membutuhkan banyak Om Liem saat ini karena negara kita masih negara berkembang,” ujarnya.

Pasalnya, lanjut Franky, sebagai pengusaha yang bisa mencapai status konglomerat masih sangat terbatas di Indonesia. Namun, Sudono Salim mampu memberikan kesempatan kerja yang besar bagi rakyat Indonesia.

“Banyak usahanya dan cukup memberikan kesempatan kerja yang cukup besar dan untuk profesional. Jadi untuk perusahaan yang diawali keluarga, saat ini banyak profesional yang terlibat. Pak Anthony, anaknya pun pakai profesional, agar efektif dan efisien dalam mengelola perusahaan,” tandasnya.

Sudono meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Pria bernama lahir Liem Sioe Liong ini lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Anthony Salim yang merupakan anak dari Sudono beserta menantunya Franciscus Welirang kini meneruskan seluruh usaha yang dirintisnya.

Cerita Fuad Bawazier Soal Om Liem di Universitas Bangkalan
Ramdhan Muhaimin – detikNews
Senin, 11/06/2012 05:05 WIB

forbes
Jakarta Salah seorang pengusaha terkaya Indonesia, Liem Sioe Liong (Sudono Salim) atau yang akrab dipanggil Om Liem meninggal dunia. Kabar tersebut mengejutkan politisi Partai Hanura yang pernah menjadi Menteri Keuangan era Orde baru, Fuad Bawazier.

Sebagai politisi yang pernah berada di lingkungan pemerintahan Orde Baru, Fuad mengaku mempunyai kesan tersendiri terhadap sosok Om Liem yang dikenal sebagai salah seorang pengusaha di lingkaran Presiden Soeharto.

Fuad pertama kali mengenal Om Liem ketika dirinya ditunjuk menjadi Direktur Pembinaan BUMN Direktorat Jenderal Moneter Departemen Keuangan RI pada kabinet presiden Soeharto tahun 1990.

“Pemerintah saat itu punya saham sekitar 28 persen di PT Indocement, dan saya adalah direktur pembinaan BUMN tahun 1990. Karena itu, ketika itu saya suka RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) bareng dengan beliau. Posisi saya mewakili pemerintah. Di situ lah saya kenal pertama kali dengan beliau,” tutur Fuad saat berbincang dengan detikcom, Minggu (10/6/2012).

Menurutnya, Om Liem dikenal sebagai sosok yang sederhana, disiplin, mudah bergaul, dan terlihat betul sebagai seorang yang bekerja dan berfikir keras serta serius.

Selain itu, Fuad juga mengenal sosok Om Liem sebagai salah seorang sponsor Universitas Bangkalan, Madura, yang kini telah berubah menjadi Universitas Negeri Trunojoyo. Hal itu diketahuinya ketika suatu ketika sekitar tahun 1990-an dirinya diundang universitas tersebut.

Dalam perjalanan menuju Madura dari Surabaya, Fuad sempat bertemu dan berbincang dengan Om Liem di kapal yang mereka tumpangi.

“Untuk ke Bangkalan itu kan mesti menyeberang kapal dari Surabaya. Ternyata di kapal itu ada Om Liem. Terus saya tanya,Om Liem mau ke mana. Ternyata beliau juga dapat undangan yang sama. Saya bilang, apa hubungannya Bangkalan dengan Om Liem,” tanya Fuad.

“Saya itu jadi sponsor utama Universitas Bangkalan. Mumpung ada orang yang mau membangun, saya kan cuma nyumbang duit aja,” tutur Fuad menirukan jawaban Om Liem.

“Oo, ternyata saya baru tahu juga kalau Om Liem mensponsori universitas,” ungkapnya.

Saat merayakan ulang tahun yang ke-90 pada tahun 2005 di Hotel Shangri-La Singapura, 2000 orang diundang hadir pada acara tersebut. Undangan yang hadir juga banyak dari kalangan pejabat dan mantan pejabat Indonesia. Fuad Bawazier termasuk yang hadir dalam acara tersebut.

Om Liem tutup usia pada usia 97 tahun. Om Liem meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Pria bernama lahir Liem Sioe Liong ini lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Anthony Salim yang merupakan anak dari Sudono beserta menantunya Franciscus Welirang kini meneruskan seluruh usaha yang dirintisnya.

(rmd/fjp)

+++++

Kompas Senin,11 Juni 2012
OBITUARI

Sarapan Bubur Oom Liem
Jangan pernah membayangkan kehidupan Sudono Salim atau Liem Sioe Liong yang serba wah meski waktu itu disebut sebagai salah satu orang terkaya di Asia. Oom Liem, begitu dia akrab di sapa, suatu waktu menerima wartawan Kompas di kediamannya di Jalan Gunung Sahari pada Juli 1995. Rautnya cerah, senyumnya lebar. Ia menyambut tamunya hanya dengan mengenakan celana pendek.

Pagi itu, ia mengundang Kompas makan pagi di kediamannya. Sebelumnya, pertemuan dengan Oom Liem selalu di kantornya di gedung Indocement, Jalan Jenderal Sudirman. Sempat terbayang, makan pagi seperti apa dengan orang sekaya Oom Liem. Ternyata, ia mengajak makan bubur polos, asinan sayur, telur rebus, dan ikan teri. Ia makan dengan lahap, menggunakan mangkok kecil dan sumpit hitam. Seusai dengan sarapan istimewa itu, ia minum Chinese Tea.

Ia mengajak Kompas duduk di ruang tamunya. Di situ ada beberapa sofa kulit. Namun, tampak benar bahwa, meski semua terawat baik, sofa sudah tua. Di beberapa bagian, warnanya mulai kusam. Oom Liem dapat menangkap keheranan tamunya, lalu berkata, ”Kursi itu memang sudah tua, tetapi aduh untuk apa diganti? Masih empuk.”

Ia meminta waktu sejenak untuk cukur rambut di halaman samping. Rupanya ia mempunyai tukang cukur favorit yang sudah belasan tahun mencukur rambutnya. Kursi yang digunakan kursi butut milik tukang cukur itu.

Kesan yang segera mencuat, alangkah bersahaja pria yang selama puluhan tahun menjadi orang terkaya di Indonesia itu. Tidak ada kesan berpura-pura sederhana. Oom Liem, ya, memang seperti itulah. Kini, tokoh yang bisnisnya ikut memengaruhi perekonomian Indonesia itu telah berpulang ke Yang Maha Pencipta, Minggu, di Singapura pada usia 97 tahun.

Banyak hal bisa dikenang dari usahawan ini. Di balik sikapnya yang amat sederhana, tersimpan kearifan dan belas yang tinggi. Kalau berada di Jakarta, hampir setiap hari menerima tamu yang meminta bantuannya. Ada yang minta dibantu karena belum membayar biaya rumah sakit, uang sekolah anak, kredit macet, kekurangan modal, atau tetek bengek yang tidak jelas.

Inilah salah satu latar belakang, tentu juga karena kedekatannya dengan Presiden Soeharto, mengapa para usahawan Tionghoa di Indonesia menjadikan dia seperti ”kepala suku”. Apa yang disampaikan Oom Liem selalu dipatuhi para usahawan. Bahkan, kalau ada sesama usahawan ”bertikai”, Oom Liem cukup mengangkat telepon dan bergurau. Dan, kedua pengusaha itu langsung berdamai.

Suatu ketika ia mendengar masih terdapat ratusan ribu warga keturunan Tionghoa sedang kesulitan. Mereka puluhan tahun tinggal di Indonesia, tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk mengurus proses pindah kewarganegaraan. Oom Liem mengontak beberapa sahabatnya untuk bersama-sama mengeluarkan lebih dari Rp 150 miliar untuk membantu mereka.

Ia suka membatu siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka. ”Ada satu teman dari Jawa Tengah, aduh dia baru saja kehilangan istri dan dua anaknya. Ia hidup sebatang kara, sekarang dirawat di rumah sakit. Tidak bisa keluar karena miskin. Kasihan, dia harus dibantu,” ujar Oom Liem sambil menyeka air matanya.

Dalam banyak percakapan dengan Kompas, Oom Liem kerap menyatakan bahwa ia merasa heran mengapa banyak yang melihat ia seolah langsung menjadi pengusaha besar. Menurut Oom Liem, ia bisa tiba pada taraf tinggi karena berjuang tanpa lelah dari bawah sejak datang dari Futsing, Hokkian, China selatan, lebih dari tujuh puluhan tahun silam.

Ia jatuh bangun dalam bisnis. Ia menaruh respek saat kawan-kawannya lebih maju. Ia bersabar saat banyak kalangan mencibir ihwal bisnisnya yang dulu beraroma dekat penguasa.

Pasca-kerusuhan Mei 1998, Oom Liem lebih banyak menetap di Singapura. Ia tidak menyampaikan persis mengapa. Akan tetapi, dengan gerak tubuh, ia seolah ingin menyatakan bahwa ia amat sedih rumahnya dibakar. Di rumah itu juga dia kembali ke Sang Pencipta. (Abun Sanda)

+++++++++++++++++++++

Om Liem Pernah Bantu Sembunyikan Mertua Soekarno di Perang Kemerdekaan
M Rizki Maulana – detikNews
Senin, 11/06/2012 07:01 WIB

Forbes
Jakarta Soedono Salim atau Om Liem dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses. Ternyata ada sisi lain dari Om Liem, yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Pria kelahiran Juli 1916 ini ternyata pernah membantu menyembunyikan beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu menjadi buronan para tentara Jepang.

Salah satunya orang yang dibantu Om Liem tanpa mungkin dia mengetahui sosok itu adalah, Hasan Din, seorang pemimpin Muhammadiyah yang juga merupakan ayah kandung dari Fatmawati, istri Presiden pertama RI, Soekarno.

Kisah ini disebutkan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karangan Marleen Dieleman tahun 2007.

Dalam buku tersebut Marleen menyebutkan pada masa pendudukan Kolonial Belanda maupun Jepang, warga keturunan Cina memiliki kedudukan di atas penduduk pribumi. Itu menyebabkan banyak warga keturunan Cina yang tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Namun tidak demikian dengan Om Liem, ia bersama dengan perkumpulannya saat itu sesama warga keturunan Cina malah mendukung perjuangan rakyat pribumi.

“Liem saat itu tergabung dalam organisasi Futsing Hwee, yang nantinya berganti nama menjadi Siang Bu. Pimpinan organisasi itu memilih rumah milik Liem sebagai tempat persembunyian para buron. Liem dipilih karena ia mempunyai karakter pendiam dan dapat dipercaya. Salah satu orang yang ikut disembunyikan oleh Liem adalah pemimpin Muhammadiyah, Hasan Din, yang juga merupakan mertua dari Soekarno,” tulis Marleen seperti dikutip detikcom dari bukunya hal 83, Minggu (10/6/2012).

Selanjutnya masih di halaman yang sama, Marleen menulis bahwa, karena kebaikannya itu, pada saat Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan Liem juga mendapat imbasnya. Selain melanjutkan bisnis yang sebelumnya sudah dijalankan, Liem juga melebarkan sayapnya ke industri militer. Melalui koneksi yang ia bangun dengan Hasan Din, ia dipercaya menjadi penyuplai barang-barang untuk Divisi Diponegoro, Jawa Tengah.

“Ia menyuplai barang-barang untuk keperluan para serdadu di Divisi Diponegoro. Bisnis menguntungkan antara kedua belah pihak ini berlangsung cukup lama. Hubungan dagang yang awet ini juga karena ia berhasil membina hubungan baik dengan Hasan Din,” tulisnya.

Marleen menambahkan, hubungan baik antara Liem dan Hasan Din ternyata terus berlanjut termasuk pada akhirnya Liem mendirikan grup usahanya yang dikenal sebagai Salim Group. Din disebut-sebut sempat duduk di jajaran direksi di beberapa perusahaan milik Liem.

“Hasan Din juga diketahui merupakan salah satu pendiri dari Salim Group tersebut,” terangnya.

(riz/fjp)

++++++++++++++++
Jejak Kemesraan Om Liem dan Pak Harto
M Rizki Maulana – detikNews
Senin, 11/06/2012 09:53 WIB

dok Forbes
Jakarta Soedono Salim atau Liem Sioe Liong alias Om Liem dan Soeharto dikenal mempunyai kedekatan yang spesial. Keakraban yang bermula saat keduanya masih berada di Semarang, Jawa Tengah, pada era 1950-an ini berhasil dibina hingga berakhirnya era Orde Baru sekitar 1998.

Salah satu bukti kedekatan antara Om Liem dan Soeharto adalah berdirinya sebuah perusahaan pengolahan tepung terigu, PT Bogasari. Om Liem membangun perusahaan terigu terbesar di Indonesia bersama Sudwikatmono (sepupu Pak Harto), Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto.

Hal ini dijabarkan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karya Marleen Dieleman tahun 2007.

Dalam buku ini Marleen menyebutkan, PT Bogasari menjadi yang terbesar, karena perusahaan itu mendapatkan hak monopoli untuk melakukan distribusi terigu dari PT Bulog. Hak monopoli itu membuat keuntungan PT Bogasari melonjak tajam, namun fasilitas yang diberikan Soeharto tidak gratis.

“26% Keuntungan perusahaan harus diserahkan kepada ‘badan amal’. Badan amal yang dimaksud adalah Harapan Kita dan Dharma Putra,” tulis Dieleman.

Selain PT Bogasari, perusahaan lain yang menunjukkan dekatnya hubungan antara Liem dan Pak Harto dapat dilihat, ketika perusahan lain milik Liem, PT Waringin dan PT Mega mendapat kemudahan. Melalui dua perusahaan ini, Om Liem yang mempunyai keahlian bisnis ditambah koneksi politik yang cukup kuat, berhasil mendapatkan hak monopoli impor cengkeh.

“Sempat disebut-sebut izin dan fasilitas kredit yang diberikan ini semata-mata karena kedekatan Liem Sioe Liong dengan Soeharto. Monopoli bisnis ini membuat perusahaan Liem membukukan pendapatan mencapai US$340.000 antara tahun 1968-1970,” tulisnya.

Keberhasilan Liem dalam bisnisnya selain karena kehandalan bisnisnya juga karena kemampuannya untuk memlih partner bisnis. Seperti mengajak Sudwikatmono dalam membangun PT Bogasari, ia juga sempat menjadikan anak-anak Pak Harto, seperti Sigit Hardjojudanto, dan Siti Hardjianti Hastuti Rukmana sebagai partner bisnisnya.

“Dia mempunyai insting yang baik dalam memilih rekan bisnis. Seperti memilih Sudwikatmono, ia seorang pribumi, sepupunya Soeharto, ini tentu sangat berpengaruh terhadap bisnisnya,” ungkap Dieleman.

Jaringan politik-ekonomi di ring I Soeharto inilah yang kemudian melahirkan istilah KKN, korupsi, kolusi dan nepotisme. Istilah ‘kroni’ menjadi populer.

Masa keemasan Soeharto-Liem berakhir saat terjadi kerusuhan massa pada Mei 1998. Rumah Om Liem di Jl Gunung Sahari dibakar massa yang marah sembari meneriakinya sebagai kaki tangan Soeharto. Soeharto kemudian turun pada 21 Mei.

Kemarahan massa mendorong Om Liem pergi ke Singapura. “Bila rumah Anda telah dibakar, selanjutnya mereka akan mencoba mendapatkan orangnya,” kata Om Liem dalam wawancara yang langka di Singapura, seperti diberitakan New York Times edisi 16 Mei 1999.

“Anda tentunya tidak ingin tertangkap di tengah (kerusuhan) seperti itu,” imbuhnya.

Di Singapura, Om Liem hidup damai. Kebangkitan bisnisnya di Indonesia ditangani oleh anak-cucunya.

Pada tahun 2005, Om Liem masuk daftar orang terkaya nomor 23 di Asia Tenggara dengan kekayaan 750 juta dolar AS. Media Singapura Asia One melaporkan, pada tahun itu juga dia menggelar pesta mewah 2 hari untuk merayakan ulang tahun ke-90. Pesta itu diikuti 2.000 tamu undangan berlangsung di Hotel Shangri-La Singapura. Diperkirakan pesta itu menelan ongkos sekitar 2 juta dolar.
+++++++++++++++++++++

Taipan Senior Itu Telah Tiada
Oleh Damiana N Simanjuntak dan Abdul Muslim

Dari Investor daily 11 Juni 2012

Indonesia kehilangan pengusaha besar. Soedono Salim
alias Liem Sioe Liong, yang akrab disapa Om Liem,
meninggal dunia di Singapura sekitar pukul 15.08 waktu
setempat. Taipan senior pendiri imperium bisnis dengan
bendera Salim Group itu mengembuskan napas terakhir
pada usia 97 tahun di sebuah rumah sakit di Singapura
karena sudah lama sakit dan usia yang sudah sepuh.
Kabar berpulangnya Om Liem dibenarkan oleh sang
menantu, Franky Welirang. Sampai tadi malam, belum diketahui
di mana ayah empat putra dan dua putri kelahiran
Tiongkok, 10 September 1915, itu hendak dikuburkan karena
masih dirapatkan oleh keluarga besar.
“Benar, Bapak telah meninggal di sebuah rumah sakit
di Singapura dan masih disemayamkan di sana,” ujar
Franky kepada Investor Daily per telepon, Minggu (10/6)
malam.
Om Liem merupakan salah satu pengusaha terkemuka
dan konglomerat dengan jaringan bisnis yang solid di Tanah
Air maupun di mancanegara. Semasa hidup, Om Liem
dikenal dekat dengan Soeharto, presiden ke-2 Indonesia.
Selepas kejatuhan Soeharto pada 1998, Om Liem tinggal di
Singapura dan kerajaan bisnisnya diteruskan sang anak,
Anthony Salim, dan menantunya, Franky Welirang.
Om Liem adalah pendiri dan pemilik Central Bank Asia
pada 1957, yang kemudian diubah menjadi Bank Central Asia
(BCA) pada 1960.
BCA adalah bank swasta yang tumbuh
pesat. Ia kemudian mendirikan
Grup Salim, yang membawahi perusahaan-
perusahaan ternama seperti
Indofood, Indomobil, PT Indocement
Perkasa Tbk, PT Bogasari Flour Mill,
Indomaret, Indomarco, Indomiwon,
dan Salim Palm Plantation.
Selain di dalam negeri. Grup Salim
sukses melebarkan sayap bisnis ke
mancanegara, di antaranya Tiongkok,
India, dan Filipina.
Periode 1980-an dan 1990-an imperium
bisnisnya berkembang cepat. Memiliki
sekitar 40 perusahaan, Om Liem
diperkirakan menghasilkan omzet
bisnis tak kurang dari US$ 1 miliar
setahun. Kekayaan pribadi Om Liem
yang pernah dilansir terakhir adalah
sekitar US$ 1,9 miliar (Rp 17,78 triliun).
Sejarah Om Liem dimulai di sebuah
pelabuhan kecil, Fukien, di bagian selatan
Tiongkok. Kakaknya yang tertua,
Liem Sioe Hie, sejak tahun 1922 telah
lebih dulu bermigrasi ke Indonesia
yang waktu itu masih dijajah Belanda
dan bekerja di sebuah perusahaan pamannya
di kota Kudus.
Di tengah hiruk-pikuk usaha ekspansi
Jepang ke Pasifik dan dongeng
tentang harta karun kerajaan-kerajaan
Eropa di Asia Tenggara, pada 1939,
Liem Sioe Liong muda mengikuti jejak
abang tertuanya. Dari Fukien, ia menumpang
sebuah kapal dagang Belanda
yang membawanya menyeberangi
Laut Tiongkok. Sebulan kemudian
sampai di Indonesia.
Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal
sebagai pusat pabrik rokok kretek,
yang sangat banyak membutuhkan bahan
baku tembakau dan cengkih. Dan
sejak zamam revolusi, Om Liem sudah
terlatih menjadi pemasok cengkeh dari
Maluku, Sumatera, dan Sulawesi Utara
melalui Singapura ke Kudus.
Karena itu, berdagang cengkeh merupakan
salah satu pilar utama bisnis
Om Liem pada awal memulai bisnisnya,
selain tekstil. Dulu, dia juga banyak
mengimpor tekstil dari Shanghai.
Untuk memperlancar semua usahanya,
di bidang keuangan, dia pun punya
beberapa buah bank, seperti Bank
Windu Kencana dan BCA. Pada 1970-
an, BCA tumbuh menjadi bank swasta
kedua terbesar di Indonesia.
Salah satu peluang besar yang diperoleh
Om Liem dari pemerintah Indonesia
adalah dengan didirikannya PT Bogasari
pada Mei 1969 yang menguasai
suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian
barat yang meliputi sekitar 2/3 penduduk
Indonesia, di samping PT Prima
untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Hampir di setiap perusahaan Om
Liem saat itu, dia berkongsi dengan
Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang
yang juga berasal Fukien. Sejak itu,
usahanya terus berkembang dan tercipta
banyak perusahaan hingga sekarang,
yang dinakhodai oleh putra mahkota,
Anthoni Salim, dan menantunya,
Franky Welirang.
Berjasa
Mengomentari kepergian sang taipan,
Ketua Umum Hipmi Raja Sapta
Oktohari mengatakan, Indonesia kehilangan
sosok pengusaha sekaliber
Soedono Salim. Menurut dia, Om Liem
adalah pengusaha sejati yang tidak
terbatas pada skala nasional tapi juga
bereputasi internasional.
“Banyak cerita tentang almarhum dan
usaha bisnisnya. Menorehkan signature
di perekonomian Indonesia. Banyak
karyanya di tingkat internasional,” ujar
Okto di sela resepsi Ulang Tahun Hipmi
ke-40 di Jakarta, tadi malam.
Dalam pandangan politikus senior
yang juga Ketua DPP Partai Golkar Firman
Subagyo, banyak sikap dan pandangan
hidup yang bisa dicontoh dari
sosok Om Liem. “Lepas dari kontroversinya,
tak sedikit contoh positif
yang bisa dipetik dari seorang Liem
Sioe Liong,” ujar Firman.
Salah satu contoh adalah kontribusi
Liem terhadap kemajuan Indonesia.
“Kontribusi terbesar bagi negeri ini
adalah keberhasilannya membangun
industri yang menampung banyak
tenaga kerja,” kata Firman.
Sekjen Hipmi Harry Warganegara
Harun bahkan berpendapat, tidak berlebihan
menjuluki seorang Soedono
Salim sebagai pahlawan nasional karena
kontribusinya yang besar terhadap
perekonomian nasional. “Beliau
tokoh nasional yang banyak berkontribusi
bagi ekonomi bangsa. Sejak zaman
Orde Baru, di era pembangunan
Repelita, beliau sudah ikut membangun
ekonomi. Harapannya, semakin
banyak pengusaha sekaliber beliau
yang lahir, terutama dari Hipmi. Kami
meneladani prinsipnya yang ulet, tekun
memulai dari nol, dan jeli melihat
peluang. Ini yang penting, karena
peluang bisa muncul hanya satu detik lalu hilang, ujar Harry

+++++++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:50 WIB
Setia Kawan, Sudono Salim Tak Lari Kala Soeharto Jatuh
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta: – Taipan Sudono Salim atau populer dengan Liem Sioe Liong, dikenal berjaya karena kedekatannya dengan Soeharto, mantan Presiden. Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan.

“Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima,”

Salim memang dikenal dekat dengan Presiden RI ke-2, Soeharto. Kedekatan Salim dengan Soeharto diakui Che Wei berperan penting dalam perkembangan usaha-usaha Salim. Tak pernah ada penguasa lain yang sedekat itu dengan Salim, selain Soeharto. “Pengusaha pasti ada kedekatan, tapi pascaSoeharto lengser, tidak ada yang sedekat itu,” ucap Che Wei.

Pengusaha yang lahir di tanah Tiongkok tersebut, seingat Che Wei, memulai bisnisnya dari berdagang kacang-kacangan dari Medan. Usahanya mulai berkembang ketika ia membuat pabrik sabun dan menjadi supplier sabun untuk militer.

Saat berbisnis sabun inilah, Salim mengenal Soeharto. Pada 1968, ia mendapat peluang bisnis besar sebagai supplier cengkeh. Pada masa tahun ”68-”98 inilah, Che Wei menyebut tahun keemasan Salim. “Setelah jadi supplier sabun ke tentara, dia mulai kenal ke Soeharto, setelah itu dia bikin BCA, bikin pabrik terigu, indomobil dan seterusnya,” ucap Che Wei.

Seiring kejatuhan Soeharto dan krisis ekonomi 1998, TSalim ikut terpuruk. Ia harus kehilangan aset-aset sejumlah perusahaannya termasuk aset BCA. Sebuah perusahaan, Holdiko Perkasa, bahkan sengaja dibentuk pemerintah untuk menjual satu per satu aset Salim. Ketika masa itu, Che Wei mengingat, kisruh terjadi antara generasi kedua Salim dengan generasi kedua kawan sekongsinya Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad. “Satu kali ada ribut generasi kedua ketika beberapa aset dipakai untuk menebus utang. Level kedua saling menuntut,” ujarnya.

Namun, di tangan Salim, masalah selesai dengan mudah, pembicaraan antar-orang tua. “Penyelesaiannya dengan mengingat hubungan sejak lama, mereka menyelesaikan masalah dengan kepercayaan,” ucapnya.

MARTHA T.

+++++++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:38 WIB
Mengapa “Om Liem” Pilih Nama Sudono Salim
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta:-Di dunia bisnis, ia lebih dikenal dengan nama Liem Sioe Liong. Namun, di pertengahan orde baru ia memiliki nama baru yang dipakainya hingga ia menghembuskan nafas terakhir, Sudono Salim.

Pemilihan nama ini bukan sembarangan. Nama Salim yang dipilih keluarga Liem itu — seperti dikutip Majalah Tempo edisi 2 Juli 1983, punya arti tersendiri yaitu tiga bersaudara. San dalam bahasa Mandarin berarti tiga, dan setelah ditambah dengan she asli, yakni she Liem, menjadi Salim.

Ya, Sudono Salim adalah anak kedua dari tiga bersaudara keluarga petani di Fukien, Fujian, Cina Selatan, 16 Juli 1916. Salim meninggalkan negaranya dan berlabuh di Medan, Sumatera Utara, pada 1936. Ia bergabung dengan saudaranya, Liem Sioe Hie, dan saudara iparnya, Zheng Xusheng.

Hijrah ke Kudus, Jawa Tengah, Salim mulai mencoba pertaruhan sebagai penyalur cengkeh. Bisnisnya terus berkembang pesat dari permintaan untuk produksi rokok kretek.

Nama “Salim” rupanya tak kalah hoki dengan nama “Liem”. Berkat tangan dingin lelaki ini, kapal perusahaannya yang diberi nama Grup Salim menjadi salah satu perusahaan raksasa di Tanah Air. Di bawah bendera Grup Salim, kerajaan bisnisnya menggurita di berbagai bidang antara lain kepemilikannya di Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, dan peritel Indomaret.

Minggu 10 Juni 2012, Sudono Salim meninggal di Singapura, pada pukul 15.50 waktu setempat. Sudono wafat karena sakit yang telah dideritanya dua tahun terakhir.

Om Liem, panggilan akrabnya, konglomerat yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia itu, meninggal di usia 95 tahun.

MUNAWWAROH | PDAT

++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:50 WIB
Setia Kawan, Sudono Salim Tak Lari Kala Soeharto Jatuh
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta: – Taipan Sudono Salim atau populer dengan Liem Sioe Liong, dikenal berjaya karena kedekatannya dengan Soeharto, mantan Presiden. Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan.

“Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima,”

Salim memang dikenal dekat dengan Presiden RI ke-2, Soeharto. Kedekatan Salim dengan Soeharto diakui Che Wei berperan penting dalam perkembangan usaha-usaha Salim. Tak pernah ada penguasa lain yang sedekat itu dengan Salim, selain Soeharto. “Pengusaha pasti ada kedekatan, tapi pascaSoeharto lengser, tidak ada yang sedekat itu,” ucap Che Wei.

Pengusaha yang lahir di tanah Tiongkok tersebut, seingat Che Wei, memulai bisnisnya dari berdagang kacang-kacangan dari Medan. Usahanya mulai berkembang ketika ia membuat pabrik sabun dan menjadi supplier sabun untuk militer.

Saat berbisnis sabun inilah, Salim mengenal Soeharto. Pada 1968, ia mendapat peluang bisnis besar sebagai supplier cengkeh. Pada masa tahun ”68-”98 inilah, Che Wei menyebut tahun keemasan Salim. “Setelah jadi supplier sabun ke tentara, dia mulai kenal ke Soeharto, setelah itu dia bikin BCA, bikin pabrik terigu, indomobil dan seterusnya,” ucap Che Wei.

Seiring kejatuhan Soeharto dan krisis ekonomi 1998, TSalim ikut terpuruk. Ia harus kehilangan aset-aset sejumlah perusahaannya termasuk aset BCA. Sebuah perusahaan, Holdiko Perkasa, bahkan sengaja dibentuk pemerintah untuk menjual satu per satu aset Salim. Ketika masa itu, Che Wei mengingat, kisruh terjadi antara generasi kedua Salim dengan generasi kedua kawan sekongsinya Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad. “Satu kali ada ribut generasi kedua ketika beberapa aset dipakai untuk menebus utang. Level kedua saling menuntut,” ujarnya.

Namun, di tangan Salim, masalah selesai dengan mudah, pembicaraan antar-orang tua. “Penyelesaiannya dengan mengingat hubungan sejak lama, mereka menyelesaikan masalah dengan kepercayaan,” ucapnya.

MARTHA T.

++++++++++++++++++++++
ENIN, 11 JUNI 2012 | 13:13 WIB
Orde Baru Tumbang, Salim Lepas Politik Soeharto
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Aktivis masa rezim Orde Baru Soeharto, Budiman Sudjatmiko, mengatakan kerajaan bisnis Salim Grup yang didirikan mendiang Liem Sioe Liong alias Sudono Salim piawai beradaptasi. Grup bisnis yang jaya pada masa Orde Baru itu terbukti tak runtuh seiring lengsernya bekas Presiden Soeharto.

“Grup Salim terbukti mampu beradaptasi,” kata Budiman saat dihubungi pada Senin, 11 Juni 2012.

Budiman mengatakan sedikit-sedikit, setelah Orde Baru digulingkan, grup Salim mulai melepaskan diri dari jaringan-jaringan politik yang dibangun bersama Soeharto. Di bawah pimpinan Anthony Salim, putra Sudono Salim, grup bisnis tersebut membuktikan tetap bisa bertahan tanpa kemudahan-kemudahan yang diberikan Soeharto. “Meskipun bisnisnya tak sebesar dulu lagi. Bank BCA akhirnya dijual,” ujar Budiman yang kini menjadi anggota parlemen dari PDI-Perjuangan.

Pada 1950-an Salim menggandeng tiga sahabatnya bernama Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono untuk mendirikan PT Waringin Kentjana. Perusahaan ini merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim. Sudwikatmono tak lain adalah sepupu Soeharto.

Kedekatan Liem dengan Soeharto, kata Budiman, turut membantunya mengembangkan bisnis. Hubungan keduanya bertahan karena saling menguntungkan. Liem beroleh keuntungan dari perlindungan politik, sedangkan Soeharto diuntungkan karena perkembangan ekonomi.

Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan. “Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu, 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima.”

Hingga dekade 2000-an, kerajaan bisnis Salim Grup tetap bertahan. Di bawah grup ini bernaung perusahaan-perusahaan antara lain Indofood, Indocement, PT Bogasari, Indomobil, serta Indosiar. Taipan yang sejak akhir 1990-an memilih menetap di Singapura itu meninggal pada Minggu 10 Juni 2012 di Singapura.

+++

Bagaimana Hubungan Soeharto dan Om Liem?
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Bisnis pengusaha nasional, Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, berjaya ketika taipan ini dekat dengan bekas penguasa negeri ini, Presiden Soeharto.

Aktivis masa Orde Baru Budiman Sudjatmiko mengatakan hubungan bekas Presiden Soeharto dengan mendiang Liem bertahan lama karena keduanya saling menguntungkan.

“Om Liem butuh payung politik untuk melindungi bisnisnya dan Soeharto diuntungkan dari bisnis dan perkembangan ekonomi,” kata Budiman saat dihubungi Tempo, Senin, 11 Juni 2012.

Kedekatan Sudono Salim yang akrab dipanggil Om Liem dengan Soeharto bermula saat Soeharto menjabat Panglima Komando Daerah Militer Jawa Tengah tahun 1950-an. Liem dipercaya Soeharto untuk memasok kebutuhan tentara.

Salim menggandeng sahabatnya Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono. Sudwikatmono tak lain adalah sepupu Soeharto. Mereka mendirikan PT Waringin Kentjana yang merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim.

Kedekatan Liem dengan Soeharto berjalan seiring dengan perkembangan bisnisnya. Kiprahnya sebagai menanjak di dekade 1960-an. Saat itu Liem mendapat peluang bisnis besar menjadi supplier cengkeh. Dekade berikutnya, ekspansi bisnis Liem semakin luas.

Liem membangun pabrik tepung terigu raksasa PT Bogasari Flour Mills yang seterusnya berkembang menjadi Indofood. Ia juga mendirikan antara lain Indosiar, Indocement, serta Indomobil.

Budiman mengatakan ekspansi bisnis Liem tak akan semegah itu tanpa kedekatannya dengan Soeharto. Liem memanfaatkan jaringan politik yang ia punya untuk mengembangkan bisnisnya.

Seiring dengan runtuhnya Orde Baru, bisnis Liem juga ikut menurun. Tak lagi sebesar dulu. Tapi, kata Budiman, grup Salim piawai beradaptasi. Inilah yang membuat perusahaan yang dirintis Liem tak ikut runtuh bersama dengan rezim Orde Baru. “Sedikit-sedikit, usahanya tak lagi mengandalkan jaringan politik,” ujar Budiman. “Kemudahan-kemudahan pada masa Orde Baru mulai dilepas.”

Pada era Orde Baru, Budiman dikenal sebagai aktivis penentang pemerintah. Pada akhir 1990-an, sebelum kejatuhan Soeharto, Budiman menjadi ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD). Melalui PRD ia mendorong pemilihan umum yang bersih dan bercita-cita menjadi presiden. Dinamika politik kemudian menyatakan PRD adalah partai terlarang dan Budiman dijebloskan ke penjara Cipinang.

ANANDA BADUDU

++++++++++++++++++++++

Bisnis Salim

Dalam negeri Luar negeri

Indofood First Pacific Ltd (Hongkong)
Bogasari PLDT ,Philex, (philipine)
Indosiar Indofood, QAF ( singpore)
Indocement Singfood investment (singpore)
Indomobil Kolkata West International city (india)

+++++++++++++++++

Om Liem Ubah Mentalitas Bangsa Indonesia Lewat Mie Instan
Ahmad Toriq – detikNews
Senin, 11/06/2012 11:23 WIB

Jakarta Peneliti LIPI Asvi Warman Adam mengenang Sudono Salim atau Om Liem sebagai sosok yang banyak berpengaruh bagi bangsa Indonesia. Tak hanya di bidang perkenomian, Om Liem berpengaruh mengubah mental masyarakat Indonesia melalui Indomie, mie instan besutan PT Indofood, yang didirikannya.

“Bahwa dia berbisnis Indomie yang seakan lagunya mewakili Indonesia ini, menurut saya membawa perubahan mentalitas bagi bangsa. Orang yang selama ini memakan nasi, sekarang jadi makan mie yang bahannya impor. Ini membawa perubahan tidak hanya di bidang kuliner, tapi juga menyangkut mentalitas Indonesia,” kata Asvi saat berbincang dengan detikcom, Senin (11/6/2012).

Asvi menilai kemudahan penyajian mie instan berpengaruh pada mentalitas masyarakat. “Efek dari pola makan itu kita lihat sendiri, kan kita tahu Indomie secara gizi itu tidak cukup. Saya mengatakan ini menyebabkan pola makan dan mental jadi kita ingin sesuatu yang instan,” papar peneliti yang banyak mengkaji Orba ini.

“Saya tidak mengatakan ini sepenuhnya negatif ya, tapi membuat kita jadi terbiasa dengan sesuatu yang instan,” lanjutnya.

Asvi juga menilai kebiasaan makan mie instan saat ini seakan menjadi ciri khas pola makan masyarakat kalangan bawah. “Ini menjadi sesuatu bagi masyarakat kalangan bawah yang sering merasa cukup dengan Indomie saja,” imbuhnya.

Selain tentang mie instan, Asvi juga mengenang Om Liem sebagai sosok yang dekat dengan Presiden Soeharto. Berkat kedekatannya dengan Soeharto, Om Liem mendapat banyak kemudahan dalam menjalankan bisnisnya.

“Soeharto memberikan berbagai hak monopoli, bukan hanya dengan Liem Sioe Liong, seperti monopoli impor cengkeh,” tutur Asvi.

Menurut Asvi, hubungan Om Liem dan Soeharto saat itu saling menguntungkan. Om Liem banyak diberi kemudahan dalam menjalankan bisnis, Soeharto banyak mendapat bantuan keuangan.

“Jelas Om Liem menjadi orang yang diuntungkan oleh Soeharto, dia menjadi semacam bendahara, memberikan bantuan juga ke Soeharto dalam banyak hal, bantuan keuangan. Lim Sioe Liong ini orang yang setia dengan Soeharto,” pungkasnya.

Om Liem meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Bisnis pria kelahiran Tiongkok, 16 Juli 1916 ini diteruskan oleh anaknya, Anthony Salim, beserta menantunya, Franciscus Welirang.

++++++

Om Liem Berpesan Kembangkan Tahapan BCA

Grup Salim melalui anaknya, Anthoni Salim, kini hanya memiliki 1,76 persen saham di BCA.
SENIN, 11 JUNI 2012, 07:57 WIB Arinto Tri Wibowo

Om Liem pernah minta untuk mengembangkan Tahapan BCA. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
BERITA TERKAIT
Akbar Tandjung Layat Om Liem ke Singapura
Om Liem Disemayamkan di Mount Vernon Funeral
Indofood, Mesin Uang Grup Salim
Sofjan: Om Liem Ingin Menikmati Hari Tua
Om Liem, dari Jual Tahu Hingga Terkaya Asia
VIVAnews – Kalangan pengusaha dan dunia bisnis Indonesia kembali berduka. Liem Sioe Liong atau dikenal dengan nama Sudono Salim, tutup usia pada usia 95 tahun di Singapura.

Pengusaha yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia di masa Orde Baru itu meninggal dunia setelah lama menderita sakit karena usia tua.

“Saya sudah cek, betul beliau meninggal di Singapura,” kata Sofjan Wanandi, rekan bisnis Liem Sioe Liong, ketika dihubungi VIVAnews, Minggu, 10 Juni 2012.

Sofjan yang juga ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu, mengungkapkan, kabar wafatnya Sudono Salim diperolehnya dari pesan singkat. Tercatat tiga buah SMS dari rekannya yang berada di Singapura mengabarkan kabar duka tersebut kepadanya.

Franciscus Welirang, wakil direktur utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang juga menantu Lim Sioe Liong, membenarkan bahwa mertuanya meninggal di Singapura pada 10 Juni 2012, pukul 15.50 waktu setempat.

“Benar beliau sudah meninggal. Saya sudah mendapat kabar dari istri saya yang berada di sana,” kata Franciscus melalui sambungan telepon, Minggu, 10 Juni 2012.

Liem Sioe Liong lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Om Liem, sapaan Liem Sioe Liong adalah pendiri Grup Salim dan pemilik sejumlah perusahaan besar, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk.

Namun, salah satu bisnis terbesarnya di industri perbankan itu, Grup Salim tak lagi miliki mayoritas saham di BCA. Bank yang kini berusia 55 tahun itu sempat menjadi bank terbesar di Indonesia, dengan salah satu andalannya adalah produk Tahapan.

Berdasarkan data di laman bca.co.id, Grup Salim melalui anaknya, Anthoni Salim, kini hanya memiliki 1,76 persen saham di BCA.

Pemilik mayoritas saham BCA per 31 Desember 2011 adalah Grup Djarum melalui Farindo Investment, Ltd, yang berbasis di Mauritius, yakni sebesar 47,15 persen. Selanjutnya, saham yang dibeli kembali oleh BCA (treasury stock) sebesar 1,18 persen, sedangkan publik 49,91 persen.

Direktur Utama BCA Jahja Setiatmadja mengatakan, Om Liem, sapaan Liem Sioe Liong, pernah menitipkan pesan kepada manajemen BCA. “Beliau dulu selalu berpesan untuk mengembangkan Tahapan BCA,” ujar dia dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 11 Juni 2012.

Jahja menambahkan, pesan Om Liem saat itu untuk mengembangkan bernama Tahapan BCA tersebut dimaksudkan agar produk tabungan itu dapat dimiliki seluruh masyarakat Indonesia.

Kini, berdasarkan data di Bursa Efek Indonesia, nilai kapitalisasi pasar saham BCA di BEI per 8 Juni 2012 telah mencapai Rp172,07 triliun.

Nilai kapitalisasi pasar BCA itu terbesar keempat setelah PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp269,2 triliun, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp219,15 triliun, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang mencapai Rp174,7 triliun.(np)

___________________

Dari Kompas Cetak :

Satu Cerita Soeharto tentang Om Liem

Minggu pagi, 24 September 1995, udara di rumah joglo peternakan Tri S, Tapos, Bogor, dingin sekali. Tawa dan gelak silih berganti menggema di tempat sekitar 150 peserta Musyawarah Nasional Kerukunan Usahawan Kecil dan Menengah Indonesia III berkumpul. Ada tawa spontan dan tawa yang dibuat-buat.

Tawa dan gelak itu pecah karena Presiden Soeharto bercerita tentang sahabatnya, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim.

Dalam ceritanya, Soeharto banyak menirukan ucapan Liem. ”Beliau itu, kan, celat (cadel),” ujarnya. Ia mengklarifikasi anggapan, Liem dapat berbagai fasilitas usaha dari kekuasaannya sehingga bisa memonopoli usaha terigu dan semen.

Ketika itu, PT Bogasari Flour Mills dan PT Indocement Tunggal Perkasa tampak mencorong.

”Nah, sekarang saya buka saja mengenai masalah Bogasari. Itu (Bogasari) dibangun tahun 1970-an oleh yang bernama Om Liem. Dia, kan, pengusaha yang saya kenal sejak di Semarang. Dia datang kepada saya dengan suara celat mengatakan, ’Pak saya ini olang kelja, untuk lakyat apa yang halus saya lakukan’,” demikian cerita Soeharto.

Kata Soeharto, Liem datang minta tugas, mau kerja tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. ”Lalu saya bilang, kamu jangan hanya dagang saja, …tapi industri yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah pangan,” cerita Soeharto.

”Apakah punya teman di luar negeri untuk mendukung permodalan? Lalu dijawab ada. Baiklah kalau begitu, kamu mendirikan pabrik tepung terigu,” demikian Soeharto menceritakan dialognya dengan Liem.

Menurut Soeharto, yang diberi kesempatan soal semen dan gandum bukan hanya Liem. Beberapa pihak juga mendapat fasilitas izin mendirikan pabrik semen dan terigu. Akan tetapi, mereka tidak berkembang.

Di kesempatan lain, ketika menjelaskan soal Liem dan konglomerat lain, Soeharto pernah mengatakan. ”Pemerintah tetap punya kekuasaan mengendalikan mereka dan bisa mengarahkan kerjanya untuk rakyat banyak. Kalau mereka meninggal dunia, kekayaannya tidak bisa dibawa,” ujar Soeharto.

Kini Liem dan Soeharto sudah tiada. Tidak usah kita tanyakan apa yang mereka bawa. Kita lihat saja apa yang mereka wariskan. (J Osdar)

December 15, 2011

Waralaba Asing agar Diperketat

Kamis,
15 Desember 2011
PERDAGANGAN
Waralaba Asing agar Diperketat
Jakarta, Kompas – Pemerintah didesak untuk memperketat kontrol terhadap waralaba asing. Meski ada rambu-rambu, selama ini mereka bebas beroperasi. Jika terus dibiarkan, kehadiran mereka bisa menjadi parasit karena cenderung memberikan efek negatif.

Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kamar Dagang dan Industri Indonesia Amir Karamoy, di Jakarta, Rabu (14/12), mengatakan, rambu-rambu yang ada mengatur soal bahan baku waralaba dari pasokan lokal dan perjanjian waralaba menggunakan hukum Indonesia.

”Aturan yang ada masih sangat sedikit. Itu pun tidak ada pengawasan sehingga banyak dilanggar,” ujarnya.

Aturan yang perlu ditambahkan adalah soal kewajiban bermitra dengan pengusaha lokal. Menurut dia, banyak waralaba asing yang beroperasi dengan modal sendiri dan tidak bermitra dengan pengusaha lokal.

”Jadinya seperti cabang usaha karena kepemilikannya tetap di tangan mereka. Padahal, prinsip waralaba seharusnya menularkan kesuksesan kepada orang lain,” paparnya.

Amir menjelaskan pertumbuhan waralaba asing tahun ini sangat pesat. Tahun 2010, ada 70 waralaba asing. Tahun ini, jumlahnya sudah bertambah menjadi 152 waralaba.

”Sebelum 16 waralaba Amerika Serikat datang ke sini, ada 30 waralaba dari Malaysia yang datang untuk menjajaki pasar Indonesia,” ujarnya.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, aturan yang ada terkait waralaba asing memang perlu dilihat lagi. Aturan tersebut harus bisa memastikan waralaba asing memberikan manfaat bagi ekonomi Indonesia.

Sekretaris Jenderal Gabungan Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani mengatakan, pemerintah seharusnya lebih banyak mengembangkan waralaba dalam negeri. (ENY)

December 1, 2011

Kel Hamami : Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor

HomeBisnisProfil bisnis

Kantor Pusat PT. Trakindo Utama. Dok.TEMPO/Ramdani

Bagikan
76

JUM’AT, 25 NOVEMBER 2011 | 13:05 WIB
Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Keberuntungan memang tengah hinggap di keluarga Hamami saat ini. Berbisnis alat berat sejak dekade 1970-an, keluarga ini masuk dalam daftar 10 orang terkaya Indonesia versi majalah ekonomi Forbes, dengan taksiran aset US$ 2,2 miliar.

Adalah Ahmad Hamami, sang kepala keluarga, yang menjadi nakhoda utama bisnis ini. Sebelum menjadi pengusaha, pria yang kini berusia 81 tahun itu berkarier sebagai penerbang di jajaran TNI Angkatan Laut.

Perjalanannya sebagai prajurit cukup cerah. Hamami muda bahkan sempat mendapat pendidikan pilot di Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan menyandang predikat kolonel termuda pada akhir 1960.

Sayang, karier militernya lantas terhenti. Seperti dikutip dari Forbes.com, Hamami pensiun dini lantaran muak dengan wabah korupsi yang ada di tempat kerjanya saat itu. Setelah pensiun, Hamami memulai bisnis kecil-kecilan. Awalnya, ia membuka les matematika untuk pelajar di rumahnya. Anak-anaknya membantu menopang keuangan dengan berjualan es lilin.

Dewi fortuna hinggap kala seorang kerabat mengajaknya terlibat dalam penggarapan proyek infrastruktur. Saat itulah Hamami berkenalan dengan manajemen Caterpillar, pabrikan traktor dan alat berat lain yang berbasis di California, Amerika Serikat.

Caterpillar, yang sebelumnya memiliki agen penjualan di Surabaya, melirik Hamami sebagai dealer pengganti lantaran tertarik dengan latar belakang militer dan reputasinya yang bersih. Ia lantas mulai belajar manajemen secara profesional dan mengambil kuliah bisnis.

Maraknya pembangunan infrastruktur pada pertengahan dekade 70-an membawa angin segar pada bisnis traktor. Order bertambah, pundi-pundi Trakindo pun makin tebal.

Tapi jalan tak selalu mulus. Tahun 1999, saat krisis ekonomi merebak, Trakindo terpukul dan Hamami berusaha keras melunasi utang US$ 118 juta.

Selepas itu, tak ada bank yang mau membiayai bisnisnya. Tak cuma bisnis yang lesu, kesehatan Hamami pun menurun. Ia terserang glaukoma dan mengalami kebutaan hingga saat ini.

Lepas krisis, perlahan Trakindo bangkit. Di bawah komando Rachmat Mulyana alias Muki, putra ketiga Hamami, perusahaan ini tumbuh dan beranak-pinak. Kini, tak cuma bisnis traktor dan alat berat karena mereka juga menggarap sektor pertambangan, pembiayaan, logistik, hingga teknologi informasi. Hebatnya, hingga 2009, perusahaan ini berkembang tanpa mengandalkan utang.

Kepada Forbes, Muki mengatakan tahun lalu pendapatan mereka mencapai US$ 2 miliar dan akan tumbuh hingga US$ 3,2 miliar tahun ini. Ditargetkan pada 2015 mereka bisa membukukan pendapatan US$ 6 miliar. Toh, meski sayapnya kini melebar, ia mengatakan bisnis utama Trakindo tetap alat berat. “Ibaratnya, alat berat menjadi roti dan mentega bagi kami,” kata dia.

FERY FIRMANSYAH

November 29, 2011

Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru

HomeBisnisWirausaha
foto

Djoko Susanto. Dok.TEMPO/Taufik Subarkah
Bagikan17
B
Bisnis Ritel

Sabtu, 26 November 2011 | 10:08 WIB
Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, – Namanya mencuat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Joko Susanto, disebut majalah Forbes di urutan 25 dari 40 orang terkaya di Indonesia yang dilansir Rabu, 23 November lalu.

Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart, berhasil mengungguli kekayaan orang-orang terkenal Indonesia, seperti Aburizal Bakrie (peringkat 30) dan Ciputra (peringkat 27). Kekayaannya yang dikumpulkan berjumlah US$ 1,040 miliar (Rp 9,36 triliun).

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.

“Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji,” ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau–beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)–kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.

FORBES.COM | FERY FIRMANSYAH | EKA UTAMI

October 20, 2011

Ketua Umum Hipmi Harus Siapkan Pengusaha Muda

apa masih relevan HIPMI ? Selain harus menyiapkan “pengusaha muda” juga memberantas mental calo project yang lama hinggap dikalangan pengusaha (pribumi)

Kamis,
20 Oktober 2011
MUNAS XIV HIPMI

Ketua Umum Hipmi Harus Siapkan Pengusaha Muda
MAKASSAR, KOMPAS – Pertarungan empat calon ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (19/10) malam, berlangsung alot. Para kandidat mulai berkoalisi menggalang kekuatan. Ketua umum Hipmi terpilih nanti akan menanggung beban berat untuk menyiapkan pengusaha muda Indonesia.

Empat kandidat yang bertarung menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), yakni Harry Warganegara Harun, Erik Hidayat, Raja Sapta Oktohari, dan Raditya Priamanaya Djan, masih dikarantina.

Menjelang pemilihan semalam, koalisi antarcalon menguat. Kubu Raja Sapta Oktohari berkoalisi dengan Harry Warganegara Harun mewakili pengusaha. Erik Hidayat, putra Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat, merapat ke Raditya Priamanaya Djan, putra Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz.

Terdapat 165 suara dari 33 Badan Pengurus Daerah Hipmi yang diperebutkan para calon.

Ketua umum yang terpilih akan memimpin Hipmi hingga tahun 2014.

Sehari sebelumnya, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap posisi di Hipmi tidak dijadikan tangga untuk berkarier di dunia politik. Sebaliknya, Hipmi harus bekerja dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia.

Dalam konteks itulah, pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, berpendapat, Hipmi seharusnya memiliki peran strategis dalam menyiapkan pengusaha muda sebagai penggerak roda perekonomian pada tahun 2020-2045.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan ialah dengan membentuk pusat informasi usaha yang menyediakan informasi tentang perkembangan dunia usaha, baik di tingkat nasional maupun internasional. ”Iklim usaha itu dapat memotivasi pengusaha-pengusaha muda di daerah untuk berkiprah di bidang ekonomi riil,” ujar Hamid.

Akbar Djohan, Ketua Dewan Pertimbangan Hipmi Perguruan Tinggi, mengatakan, secara konkret, para pengusaha juga bisa membina para pengusaha pemula yang masih duduk di perguruan tinggi. (SIN/RIZ)

August 11, 2011

Manajemen Tonijack’s kacau

Namanya juga bajak laut, wajar kalau kacau

Dari Kontan online
Link : http://industri.kontan.co.id/v2/read/1312962101/75103/Wali-Euforia-manajemen-Tonijacks-kacau
Rabu, 10 Agustus 2011 | 14:41 oleh Maria Rosita
BISNIS TONIJACK’S
Wali: Euforia, manajemen Tonijack’s kacau
dibaca sebanyak 614 kali
0 Komentar

JAKARTA. Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali), Amir Karamoy, yakin, ditutupnya gerai Tonijack’s di Solo tak lain dilatari kekacauan manajemen lama berwajah baru. Menurut Amir, Tonijack’s mengalami euforia lantaran resmi berpisah dari McD dan membentuk manajemen baru.

“Mereka telanjur merasa sukses. Saya sempat peringatkan Bambang, ini perusahaan baru yang mulai dari nol. Jangan memaksakan anak buah gaji setinggi kantor lama, masa iya seorang digaji Rp 20 juta per bulan,” kata dia. Setahu Amir, tidak ada perubahan salary dari McD ke Tonijack’s.

Perkara lain, kata Amir, utang Tonijack’s ke pengelola properti menumpuk lantaran tidak diatur. Belum lagi, pertama kali membuka gerai saat bulan puasa. “Hal seperti itu harusnya diantisipasi, kalau enggak yah jadinya menumpuk, klien ikut rugi,” ungkap dia.

Lebih lanjut Amir menegaskan, seharusnya Bambang Rachmadi tidak kembali mengembangkan ataupun terjun di bisnis serupa. Dalam post exfiry non-competition clause tertera, setelah perjanjian berakhir, termasuk bisnis waralaba, pihak yang meneken tidak boleh kembali mengembangkan bisnis sejenis dalam periode tertentu. “Itu fakta hukum, harusnya tidak boleh. Tapi yang terjadi justru Bambang bergerak di belakang layar, maka berdirilah satu per satu Tonijack’s. Ini semua ide Bambang,” papar Amir.

Sekadar catatan, setelah diputus kerja samanya dengan sejumlah mal di Jakarta, kini plang restoran cepat saji ala Amerika itu bakal dilepas dari Solo Center Point, mal di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Susanto Liem, Direktur PT Dutra Mitra Propertindo, pengembang Solo Center Point, memastikan telah mengurus penutupan restoran Tonijack’s. Restoran akan dibuka lagi dengan merek berbeda.

Di Solo, kata Amir, Tonijack’s sebenarnya unggul ketimbang Tonijack’s lain. Soalnya, menu yang ditawarkan lebih beragam. Tak heran saban hari restoran itu ramai dikunjungi pembeli. Sementara Tonijack’s di Surabaya, menurut Amir, masih beroperasi dua bulan lalu. “Surabaya dan bandara di Cengkareng juga belum jelas nanti kelanjutannya, apakah nasibnya sama dengan Sarinah dan Solo,” kata Amir.

Sampai saat ini KONTAN belum berhasil menghubungi manajemen dan komisaris Tonyjack’s. Amir sendiri mengaku sempat kontak dengan Bambang Rachmadi. “Kami memang berteman akrab. Tapi, saya tidak tahu bisnis apa dia (Bambang) sekarang. Cuma pas mau masuk puasa dia kirim sms ucapan,” jelasnya.

August 7, 2011

Fortuna Shoes: Dari Bandung Menembus Dunia

Fortuna Shoes: Dari Bandung Menembus Dunia

Dari  Swa.co.id dan Posted by

Produknya telah menembus pasar Eropa. Armani pun memesan darinya. Inilah jatuh- bangun anak Tasik merenda bisnis.

Fokus. Itulah pilar kesuksesan Dede Chandra mengembangkan bisnis sepatu. Sejak mengibarkan CV Fortuna Shoes (FS) pada 1968, dia memang selalu fokus: menggarap sepatu kulit segmen premium. Dan dia sukses dengan cara itu. Memproduksi 40 ribu pasang setahun, sepatunya menembus negara maju seperti Belanda, Jerman, Prancis dan Italia.

Perjalanan bisnis ini tidak diperkirakan sebelumnya. “Saya masuk ke bisnis sepatu ini tidak sengaja,” ujar Dede, pria kelahiran Tasikmalaya 69 tahun lalu. Setelah ditinggal mangkat ayah dan ibunya, Dede kecil (12 tahun) hidup bersama pamannya di Bandung. Sang paman adalah pembuat sepatu perempuan dewasa dan menjualnya di toko miliknya, Rofina.

Hidup bersama paman yang pebisnis sepatu membuat Dede menggeluti urusan serupa. Dia membantu sang paman, dari pekerjaan ringan hingga mengurusi pemasaran. Merasa sudah mampu dan ingin mandiri, selepas SLTA, dia menggulirkan bisnisnya sendiri. Berdirilah FS di sebuah rumah kontrakan di Lengkong Kecil, Bandung, yang mempekerjakan tiga karyawan.

Seperti pamannya, Dede menggeluti sepatu kulit. Bedanya, dia fokus pada sepatu anak perempuan usia 5-12 tahun. Selain belum banyak pesaing, “Saya tak mau mengambil pasar Paman,” katanya.

Pilihan ini tak keliru. Tahun pertama berdiri, banyak toko sepatu tertarik menjual produknya karena bahan baku kulitnya lebih empuk dibandingkan sepatu anak yang ada. Dede mengenang, ketika menggulirkan usahanya, tiap Jumat sebelum adzan Subuh dia di Stasiun Kereta Bandung. Berangkat ke Jakarta, dia mendarat di Proyek Pasar Senen. Pukul 07.00, sebelum toko-toko di Proyek Senen dibuka, dia menyiapkan 25 pasang sepatu untuk ditawarkan.

Sambutan pedagang Senen sangat baik. Tak mengherankan, rutinitas seperti itu terus berlanjut sampai beberapa tahun. Jumlah produksi pun meningkat. Di tahun kedua, 50 pasang. Dan seiring dengan itu, Dede membuat sepatu anak lelaki usia 5-12 tahun.

Diakui Dede, pesatnya usaha FS turut dipengaruhi bersatunya dua kekuatan sepatu di Bandung. Pasalnya, pada 1970 dia menikahi putri pemilik toko sepatu ternama di Kota Kembang. Orang tua Faleria Wijaya, istri Dede, adalah pemilik toko sepatu Shensen yang terkenal sejak zaman Belanda. “Tahun itu dahsyat sekali karena kami bisa bekerja berdua,” ucapnya bersemangat. Kapasitas pun meningkat sampai 250 pasang sepatu.

Namun, empat tahun kemudian malang tak bisa ditolak. Pasar Proyek Senen terlalap si jago merah, dan Dede terkena imbasnya. Banyak toko pelanggannya menunggak pembayaran. Akan tetapi, itu tak memukulnya terlalu lama. Terbakarnya pasar Proyek Senen membuatnya mengarahkan produknya ke Pasar Baru, Jakarta. Dan terbukti pilihannya tak keliru. Di sini dia justru makin moncer sehingga bisa melebarkan pasar ke wilayah lain di Jakarta seperti Pancoran dan Cipete.

Tahun 1975 Dede membeli mesin jahit sepatu paling mutakhir dari Jerman. Keberadaan mesin ini menandai era baru karena sebelumnya FS menggunakan mesin jahit konvensional dengan ayunan kaki. Di tahun itu pula Dede dilibatkan memasarkan sepatu produksi toko Shensen, merek Robin Hood (RH), yang persebarannya hingga Makassar. Toko Shensen sendiri sudah tenar dengan Goodyear Welted System (GYWS) yang menghasilkan sepatu yang nyaman, tahan banting dan awet.

Waktu terus berjalan. Tahun 1995 menjadi momen emas dunia sepatu Tanah Air, tak terkecuali FS. Memiliki 300 karyawan, Dede sudah mampu mengekspor beberapa jenis sepatu kulit, termasuk sepatu golf yang dipasarkan ke Jepang dengan merek Puccini. Sayang, badai krisis moneter datang memukul industri sepatu. Dede pun kena dampaknya. Padahal, dia baru memindahkan pusat produksi ke pabrik baru yang lebih luas, 4.000 m2, di Jl. Sriwijaya, Bandung. “Semuanya habis. Ekspor sempat berhenti,” ujarnya mengenang.

Tak mau limbung, Dede mencoba berpikir positif dan justru mengisi dua tahun krisis untuk belajar cara pembuatan sepatu berbasis GYWS. Namun, upaya memasarkan hasil teknologi ini tak mulus. Dia sempat mencoba ekspor ke Taiwan, tetapi hanya berlangsung dua kali. “Bahan baku lokal yang saya gunakan dianggap tak sesuai standar walau sebenarnya sama bagusnya.”

Tak patah arang, Dede mengimpor bahan baku kulit dan material lain dari Eropa. Dia juga menjadikan Eropa yang telah terbiasa dengan produk GYWS sebagai pasarnya. Dan nasib baik menemaninya. Pemesan berdatangan dari Belanda, Jerman dan Prancis. Yang menarik, dia kemudian diminta memproduksi sepatu dengan merek pesanan importir. Antara lain, Van Bommel, Prime Shoes, Oehler dan Bexley. “Tapi hampir semuanya dicap ‘made in Indonesia’,” katanya. Bahkan, pernah beberapa kali desainer terkemuka dunia, Giorgio Armani, mengorder sepatu ke FS. “Tapi tidak mau disebutkan made in Indonesia,” ujar Dede seraya tersenyum geli.

Ada pengalaman menarik lain. Seorang pejabat dari kabinet Indonesia Bersatu pernah tertarik membeli sepatu Prime Shoes di Jerman. Jika dikurs rupiah, harganya sekitar Rp 4 Juta. “Pejabat itu kaget sekali begitu membaca ada cap ‘made in Indonesia’ di bawah sepatu. Begitu sampai di Indonesia, dia menyempatkan berkunjung ke pabrik saya dan sampai sekarang menjadi pelanggan loyal,” papar Dede.

Dari sisi harga, produk FS memang cukup premium. Meski demikian, sebenarnya masih lebih murah dibanding produk selevel buatan Eropa. Sepatu dengan teknik yang sama di Eropa dibanderol Rp 4-5 juta. “Kalau beli di sini, hanya Rp 1,5 Juta,” katanya. Dia akui, bagi masyarakat Indonesia, produknya terbilang sangat mahal.

Yang jelas, sejak order ekspor dari Belanda datang, negara Eropa lain ikut memesan. Produksi sepatu Dede dengan pola GYWS yang dimulai pada 1997 itu pun terus meningkat kapasitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2004 pabrik Dede mampu berproduksi sampai 40 ribu pasang/tahun. “Sampai sekarang produksi masih berada di kisaran angka itu,” ujarnya. Dede menargetkan tahun depan bisa mencapai produksi lebih dari 40 ribu pasang.

Mengapa FS tidak memasarkan merek sendiri ke Eropa? “Kalau untuk ekspor sepatu dengan sistem GYWS, jika belum punya nama, kita tidak bisa jual mahal,” Dede memberi alasan. Namun, untuk Jepang, dia mengekspor dengan merek sendiri: Fortuna Shoes.

Kendati dalam negeri bukan pasar utama, banyak orang Indonesia mengenal dan mengapresiasi FS. Bahkan, tahun lalu FS memperoleh penghargaan bidang Rintisan Teknologi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dede benar-benar melejit di sepatu kulit.

Di dalam negeri, produk-produk FS antara lain dijual di galeri sepatu Eternity, Bandung. Astri Budiarti, karyawan Divisi Penjualan Eternity, menjelaskan bahwa penjualan produk FS di galerinya cukup bagus. “Dalam sebulan ini lebih dari 10 pasang terjual,” katanya. Ada empat merek sepatu FS yang dijual di Eternity: Red Rum, Van Bommel, Lederer dan Quarvif.

Dari perjalanannya menggeluti bisnis sepatu kulit ini, Dede menyimpulkan bahwa agar bisa bertahan, ada tiga hal terpenting yang mesti dilakukan. Pertama, mengamankan bahan baku. Mendapatkan kulit tak semudah karet PVC sepatu olah raga. Hanya ada tiga negara penghasil bahan baku. Komponen bahan baku sepatu FS kebanyakan diimpor. Ada yang solnya dari Italia, kulitnya dari Prancis dan material lain dari Belanda. Komponen impor yang tinggi ini memengaruhi harga jual.

Kedua, menguasai teknologi. FS memiliki 43 jenis mesin yang dibeli satu per satu dan merupakan satu-satunya pabrik sepatu di Indonesia yang memiliki mesin pemotong kulit terintegrasi dengan komputerisasi. Satu mesin pemotong kulit, misalnya, dibelinya dari Swiss seharga Rp 1 miliar.

Ketiga, harus berani nekat. Dia memberi contoh saat dirinya mendirikan pabrik di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, seluas 6.000 m2. Contoh lain, dia pernah ikut berpameran di Tokyo yang hasilnya belum jelas dengan biaya Rp 270 juta. “Saya nekat saja, waktu pameran hanya ada order 25 pasang. Tapi saya percaya dampaknya. Dan memang betul, seminggu setelah ekspor pertama, datang pesanan bertubi-tubi hingga ratusan pasang,” paparnya.

Budi W. Soetjipto, pemerhati bisnis dan manajemen dari Universitas Indonesia, melihat apa yang dilakukan Dede sudah bagus. Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya, dia menyarankan agar Dede terus membesarkan mereknya sendiri. Caranya: memasukkan mereknya ke gerai-gerai, di negara tujuan ekspor maupun di Indonesia. “Lebih bagus lagi jika membangun outlet miliknya sendiri. Langkah ini cukup penting supaya tidak melulu menjadi tukang jahit merek sepatu impor,” katanya.

Dengan cara itu, masyarakat Eropa akan tahu kualitas merek FS tak kalah dari merek premium yang sudah dikenal dunia. Budi melihat FS kini telah berada pada fase peralihan dari imitasi ke inovasi. “Yang penting, terus menguasai teknologinya dan membuat desain sendiri.”

Saran di atas jelas sangat masuk akal meski memiliki risiko tersendiri. Barangkali bukan Dede yang mewujudkannya, melainkan generasi berikutnya. Dede yang hingga kini masih datang ke kantor untuk memastikan manajemen berjalan sesuai dengan rencana memang telah menempatkan anak dan menantunya dalam operasional FS.