Archive for ‘GG business empire’

October 9, 2014

Krisis, Gudang Garam PHK 2.000 Karyawan

TEMPO/A

TEMPO.CO, Kediri – PT Gudang Garam Tbk mempensiunkan 2.000 lebih karyawannya dengan alasan efisiensi keuangan.Perusahaan rokok yang bermarkas di Kediri ini mengaku mengalami krisis keuangan, menyusul ketatnya regulasi pemerintah soal rokok. (Berita lain: Pelantikan Jokowi Terancam Dihambat)

Wakil Kepala Bidang Humas PT Gudang Garam Iwhan Tricahyono dalam siaran persnya, Kamis, 9 Oktober 2014, mengatakan bagian Sumber Daya Manusia Gudang Garam tengah menawarkan program pensiun dini kepada karyawan borongan sigaret kretek tangan (SKT) dan operasional. Divisi tersebut paling banyak menyerap tenaga kerja di wilayah Kota dan Kabupaten Kediri. (Baca juga: Miliuner Ini Bagikan iPhone 6 Cuma-cuma)

“Ini untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk,” kata Iwhan, Kamis, 9 Oktober 2014. Menurut dia, kondisi penjualan rokok Gudang Garam merosot drastis belakangan ini. Kondisi ini dipengaruhi regulasi pemerintah yang kurang menguntungkan bagi industri rokok nasional. (Baca: Buka Kantor di Jakarta, Twitter Akan Taat Hukum)

Di antaranya, pembatasan iklan di media massa terutama televisi, pembatasan kegiatan promosi dalam berbagai event, serta pencantuman gambar menyeramkan dalam kemasan rokok. Hal itu membuat penjualan rokok Gudang Garam turun jeblok hingga memaksa perusahaan melakukan efisiensi.

Divisi SKT dan operasional yang menyerap paling banyak tenaga kerja menjadi sasaran efisiensi karena menyedot biaya sangat besar. Untuk menekan dampak kerugian bagi karyawan, manajemen menawarkan program pensiun dini. Di antaranya, pemberian uang pensiun hingga sepuluh kali gaji di depan, pemberian tambahan uang pensiun, pemberian jaminan kesehatan BPJS kepada karyawan dan keluarganya sampai usia karyawan 55 tahun, serta memberikan pelatihan kewirausahaan bagi karyawan yang ingin mandiri. Hanya karyawan yang telah memiliki masa kerja di atas 20 tahun yang mendapat penawaran ini. (Baca: Polisi Sesalkan Pemerintah Tak Bubarkan FPI)

Iwhan mengklaim tawaran pensiun dini ini mendapat respons bagus dari karyawan. Sejak diumumkan 6 Oktober 2014 hingga hari ini, sudah 2.088 karyawan yang mengajukan diri kepada bagian SDM. Perusahaan tak akan membatasi jumlah karyawan yang ingin mengikuti program ini. Rencananya, penawaran ini akan ditutup hingga akhir Oktober 2014. (Baca: FPI: Ahok Tak Akan Bisa Bubarkan Kami)

Program pensiun dini dipastikan tidak mengundang keresahan karyawan di bagian produksi. Sebab, jauh sebelumnya, manajemen sudah mensosialisasikan dengan baik. Karyawan yang tidak menghendaki pensiun tetap diperkenankan bekerja hingga batas akhir usia pensiun 55 tahun. Belum diketahui pasti apakah peran mereka akan digantikan dengan mesin yang selama ini dilakukan di unit sigaret kretek mesin.

“Kami sempat mencoba bertahan lebih lama dari perusahaan rokok lain yang lebih dulu mengurangi karyawan,” tutur Iwhan.

Advertisements
April 7, 2011

Indonesia’s Gudang Garam Q4 net profit jumps 17 pct

Indonesia’s Gudang Garam Q4 net profit jumps 17 pct

JAKARTA, March 30 | Wed Mar 30, 2011 2:20am EDT
(Reuters) – Gudang Garam , Indonesia’s No.2 cigarette maker, on Wednesday said its fourth-quarter 2010 net profit rose 17 percent, driven by higher sales in Southeast Asia’s largest economy.

The firm’s fourth quarter net profit was 1.15 trillion rupiah, compared with 980 billion rupiah in the same period a year earlier, Reuters calculations showed based on published full-year and nine month results.

Gudang Garam, which is looking to expand into aviation, reported a full year 2010 net profit of 4.15 trillion rupiah, slightly below analyst expectations. It compared with a net profit of 3.46 trillion rupiah in the year-ago period.

Analysts had forecast full-year 2010 net profit up 21 percent to 4.19 trillion rupiah, according to Thomson Reuters’ Starmine Estimate.

Gudang Garam’s 2010 full-year net revenue rose 14 percent to 37.7 trillion rupiah, from 32.97 trillion rupiah a year earlier.

The cigarette maker’s shares were up 0.6 percent on Wednesday before the results, and has gained 4.8 percent so far this year.

The shares surged 86 percent in 2010, outperforming the 46 percent rally in the Jakarta index . (Reporting by Janeman Latul; Editing by Neil Chatterjee)

NON-CYCLICAL CONSUMER GOODS

April 3, 2011

Siapa Paling Untung di Industri Rokok?

Siapa Paling Untung di Industri Rokok?
Aset Gudang Garam tahun buku 2010 Rp30,47 triliun, sedangkan HM Sampoerna Rp20,52 triliun.
JUM’AT, 1 APRIL 2011, 15:21 WIB Antique

Produk rokok bermerk Gudang Garam (ANTARA/Arief Priyon)
BERITA TERKAIT
Fatwa Haram, Saham Rokok Tetap Menarik
VIVAnews – Dua emiten besar di sektor rokok mencatatkan kinerja positif untuk tahun buku 2010. Selain meraih peningkatan pendapatan usaha, kedua perusahaan juga mampu mencatatkan kenaikan laba.
Namun, di antara dua emiten besar di sektor rokok yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, perusahaan mana yang mengantongi keuntungan terbesar?

Berdasarkan data laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan di Jakarta, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan pendapatan usaha Rp37,69 triliun. Namun, perolehan pendapatan itu masih kalah dari pesaingnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang mencatatkan pendapatan bersih Rp43,38 triliun.

Dari laba kotor, terlihat Gudang Garam juga tertinggal, dengan perolehan sebesar Rp8,86 triliun, atau naik dari periode sama 2009 yang mencapai Rp7,16 triliun. Sementara itu, HM Sampoerna membukukan laba kotor sebesar Rp12,65 triliun atau naik dari tahun buku 2009 yang mencapai Rp11,23 triliun.

Kinerja Gudang Garam juga terlihat masih di bawah HM Sampoerna dalam membukukan laba bersih. HM Sampoerna berhasil mencatatkan keuntungan Rp6,42 triliun sepanjang 2010 dibanding tahun sebelumnya Rp5,09 triliun. Sedangkan Gudang Garam meraih laba bersih Rp4,15 triliun, atau meningkat dari perolehan tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,45 triliun.

Kendati demikian, dari sisi aset, Gudang Garam masih lebih unggul dibanding HM Sampoerna. Aset Gudang Garam selama periode itu sekitar Rp30,74 triliun, sedangkan HM Sampoerna Rp20,52 triliun. (art)
• VIVAnews

February 3, 2011

Gudang Garam belum seriusi diversifikasi usaha

Gudang Garam belum seriusi diversifikasi usaha

Senin, 22 November 10 | 17:53 wib ET

(istimewa)
SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih optimistis kinerja industri rokok bakal terus melaju di masa mendatang kendati berbagai aturan ketat soal kesehatan dan kampanye negatif terus menghadang.

”Meski banyak orang bilang rokok itu sunset industry, kita sih optimistis saja. Sudah sejak lama banyak yang bilang begitu, tapi nyatanya industri rokok tetap tumbuh berkelanjutan,” jelas Direktur dan Sekretaris Perusahaan GGRM Heru Budiman di Surabaya akhir pekan lalu.

Karena itu, sambung Heru, pihaknya hingga kini belum serius menggarap lahan bisnis lain. Diversifikasi usaha hanya dilakukan di bidang properti dengan membangun hotel dan pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Perseroan juga memiliki anak usaha di bidang kertas industri, yaitu PT Surya Pamenang.

”Kami belum ada rencana diversifikasi usaha lainnya. Kami tetap yakin industri rokok bakal terus berkembang,” jelasnya.

Bahwa ada kampanye negatif soal kesehatan memang benar, tapi itu masih dalam batas toleransi. Sehingga GGRM masih akan fokus mengembangkan bisnisnya di industri rokok.

Pada kuartal III/2010, market share perseroan turun menjadi 23% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 23%. Perusahaan rokok raksasa yang berbasis di Kediri itu membukukan pendapatan sebesar R[27,53 triliun, tumbuh 17% dibanding kuartal III/2009 sebesar Rp23,53 triliun. Perseroan berhasil mencetak laba sebesar Rp3,009 triliun atau meningkat 21,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,47 triliun. kbc5

October 21, 2010

Gudang Garam Dirikan Maskapai Penerbangan

Pasti boleh merokok selama penerbangan selama produk GG..

++++
Gudang Garam Dirikan Maskapai
21 Oct 2010
Ekonomi Media Indonesia
Perseroan mengklaim, dalam pendirian anak usaha tersebut, tidak terdapat benturan kepentingan.

Andreas Timothy

PRODUSEN rokok PT Gudang Garam Tbk melebarkan sayap ke bisnis penerbangan. Perseroan menginvestasikan dana Rp74,9 miliar untuk mendirikan anak usaha di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang diberi nama PT Surya Air.

“PT Surya Air didirikan pada 15 Oktober 2010 dengan dana Rp74,99 miliar atau setara dengan 74.999 saham dengan harga nominal Rpl juta per lembar,” ujar Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan nilai investasi tersebut mencerminkan 99,99% dari total modal disetor dan ditempatkan PT Surya Air sejumlah Rp75 miliar. Selain itu, perseroan mengklaim dalam pendirian anakusaha tersebut, tidak terdapat benturan kepentingan dengan perseroan.

“Kami mengharapkan pendirian anak usaha tersebut dapat menunjang core business perseroan, tambahnya.

Sepanjang semester I 2010, perseroan mencetak kenaikanlaba 24,30”; menjadi Rpl,78 triliun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rpl,432 triliun. Peningkatan tersebut dipicu naiknya pendapatan dan penjualan usaha perseroan selama semester 1 2010, yakni sebesar 19,48% menjadi Rpl8,001 triliun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rpl5,065 triliun.

Sementara itu, pada pos laba kotor, juga mengalami peningkatan menjadi Rp4,04 triliun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,262 triliun.

Perusahaan yang memiliki pabrik rokok di Kediri ini juga mencatatkan peningkatan laba usaha selama semester I 2010 sebesar 7,82% menjadi Rp2,523 triliun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan laba sebesar Rp2,34 triliun.

Bersinergi

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk bekerja sama dengan maskapai penerbangan

Air Asia Indonesia dengan meluncurkan tabungan CIMB Niaga Air Asia Savers. Dengan tabungan khusus itu, CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan 100 ribu nasabah baru hingga setahun ke depan.

Wakil Presiden Direktur CIMB Niaga Daniel James Rompas menyatakan produk CIMB Niaga Air Asia Savers merupakan salah satu strategi bank tersebut untuk memperluas pasar dan meningkatkan dana pihak ketiga melalui produk tabungan. Dengan tabungan tersebut, diharapkan, akan ada sekitar 60 ribu konsumen AirAsia yang membuka rekening baru CIMB Niaga.

“Selain itu, tabungan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi nasabah CIMB Niaga yang juga merupakan frequent flyer Air Asia,” ujarnya dalam peluncuran CIMB Niaga Air Asia Savers di Jakarta, kemarin.

CIMB Niaga dan Air Asia merupakan dua perusahaan yang memiliki costumer based regional di empat negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Presiden Direktur Air Asia Indonesia Dharmadi mengungkapkan, kerja sama itu diharapkan dapat memperkuat posisi maskapai di Asia Tenggara. Pasalnya, dengan adanya tabungan tersebut, pelanggan dimungkinkan untuk menerima keuntungan finansial dari CIMB Niaga sekaligus bonus penerbangan Air Asia. (CS/E-5)timothy@mediaindonesia.com

September 20, 2010

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG
Sumber : Swasembada .Thursday, May 24th, 2007
oleh : admin

Untuk kesekian kali Majalah Forbes menempatkan Rachman Halim (pemilik PT Gudang Garam Tbk./GG) dan keluarga dalam daftar orang terkaya dunia 2007. Keluarga pengusaha rokok asal Kediri, Jawa Timur itu berada di posisi ke-538 dengan total kekayaan US$ 1,9 miliar atau setara Rp 17,29 triliun. Maklum, meski telah tergerser oleh PT HM Sampoerna Tbk., tahun lalu GG masing sanggup membukukan omset Rp 26,3 triliun.
Mesin uang keluarga GG sebetulnya tak hanya rokok, tetapi juga sejumlah bisnis lain. “Sejak 1987 Gudang Garam melakukan diversifikasi bisnis di luar rokok,” kata Thomas Wibisono, pengamat bisnis dari Pusat Data Business Indonesia. Mula-mula mereka menjajal bidang properti pariwisata dengan mengelola kawasan wisata Tretes, Malang, melalui dua anak perusahaan: PT Suryaraya Indah dan PT Suryawisata. Selanjutnya, mereka membentuk dua anak usaha baru: PT Suryaduta Cahaya Perkasa (proyek gedung perkantoran) dan PT Taman Mustika Doho (pengembang real estat).
Setelah properti, GG memasuki industri makanan dan minuman. Ini ditandai dengan kepemilikan saham 20,7% di PT Perkebunan Lijen — bergerak dalam pengelolaan perkebunan kopi arabica di Banyuwangi. Kemudian pada 1993, GG berinvestasi di PT Adhiguna Multi Planextrak (produsen essence rokok) dan PT Lotte Indonesia (produsen permen karet). Juga, PT Selowarih, PT Taman Sriwedari dan PT Halim Wonowidjojo. Bisnis air minum dalam kemasan juga disambar GG dengan mengibarkan PT Tirtamas Megah yang berlokasi di Pasuruan. Beberapa merek air minum dalam kemasan (AMDK) diproduksi, misalnya Total, Zangrandi Tawar, Atlantic Air Minum dan Sprit AMDK. Menurut Eko Susilo dan Go Siang Chen, keduanya mantan eksekutif Tirtamas, sejak 2001 bisnis AMDK keluarga GG melesat. Mereka menuturkan, untuk segmen AMDK cup di Jawa Timur, Tirtamas memimpin pasar dengan pangsa signifikan. Contohnya, pada Februari 2001-Maret 2002, pangsa pasar Tirtamas untuk AMDK cup mencapai 53,8%.
Sektor keuangan tak luput dari bidikan keluarga GG. Tahun 1989 mereka mendirikan PT Halim Indonesia Bank. Usaha bank ini bertujuan menampung dan memberikan kredit kepada para agen rokoknya. Porsi kepemilikan saham keluarga GG tidak besar di bank ini, cuma 7,5% (Rachman Halim) yang akhirnya dijual kembali semuanya ke Industrial & Commercial Bank of China pada 30 Desember 2006.
Untuk sektor perdagangan, GG memiliki afiliasi dengan 10 perusahaan, yakni PT Adilaksa Manunggal, PT Karya Niaga Bersama, PT Madistrindo Abadi, PT Madistrindo Makmur, PT Madistrindo Prima, PT Pandya Perkasa, PT Surya Bhakti Utama, PT Surya Jaya Bhakti, PT Surya Kerta Bhakti dan Enso Surya Pte. Ltd.
Ada juga bidang bisnis mineral nonmetalik dengan bendera PT Pamenang Panchadatu, kimia (PT Panverta Cakrakencana dan PT Trias Sentosa) plus kertas (PT Primabox Adiperkasa, PT Surya Pamenang, PT Surya Zig Zag) — lihat Pohon Bisnis Grup GG. GG masuk pula ke bidang kehutanan melalui PT Finanntara Intiga, tapi kini sudah didivestasi.
Menurut Thomas, investasi terakhir yang dimasuki GG dalam kaitan grup adalah PT Panverta Cakrakencana, PT Cikal Sarana Hygienis dan PT Primabox Adiperkasa. Panverta ditujukan untuk memperkuat divisi pengemasan. Primabox yang didirikan dengan investasi Rp 12 miliar untuk memproduksi carton box di Pasuruan. Adapun Cikal yang membidangi makanan telah dilikuidasi pada Juli 1999.
Bisnis-bisnis keluarga GG tersebut dipayungi 9 holding company. Perusahaan yang dijadikan perusahaan induk adalah PT Bhakti Suryawangsa, PT Hari Mahardika Usaha, PT Intisurya Corpora, PT Lakta Utama, PT Surya Investindo Perkasa, PT Suryaduta Investama, PT Suryamitra Kusuma, PT Suryani Budimandala serta PT Suryasapta Pramesti.
Sebetulnya, hingga awal 1970 saja, dikatakan Thomas, GG cuma berkonsentrasi pada bisnis produksi rokok keretek. Namun, pada 1973 raksasa rokok ini mendiversifikasi usaha yang erat kaitannya dengan bisnis utamanya itu. Lihatlah, GG mendirikan PT Selowarih untuk memproduksi rokok. Lantas, PT Taman Sriwedari yang khusus memproduksi sigaret keretek kelobot. Perusahaan ini pun menerjuni industri paper cones. Berikutnya, PT Halim Wonowidjojo, yang menghasilkan produk rokok putih pada 1974 dan 1979.
Tahun 1986, keluarga GG mendirikan PT Surya Zig Zag untuk memproduksi kertas kemasan sigaret dengan menggandeng Probosutedjo. Namun, pada 1993 keluarga GG mengambil alih kepemilikan Probosutedjo di perusahaan itu. Tahun 1990, mereka membentuk PT Surya Pamenang untuk memproduksi coated dan uncoated board yang diperkuat dengan hadirnya PT Primabox Adiperkasa pada 1994.
Tahun 1990, Sigid Sumargo Wonowidjojo tercatat sebagai pemegang saham 38,7% di PT Trias Sentosa Tbk. (perusahaan patungan yang pemegang sahamnya antara lain Grup Panggung). Afiliasi ini menguntungkan GG karena Trias memproduksi OPP film yang digunakan untuk lapisan plastik pembungkus rokok. Selanjutnya, kepemilikan saham keluarga GG di sini menggunakan nama PT Adilaksa Manunggal. “Terhitung tahun 1998 dan seterusnya, investasi GG lebih banyak dilakukan secara pribadi oleh masing-masing anggota keluarga GG,” Thomas menjelaskan.
Susilo Wonowidjojo bersama istrinya, Melinda Setyo (almarhum), termasuk yang paling aktif berbisnis. Aktivitas bisnis mereka diawali dengan masuknya Melinda ke PT Hair Star Indonesia dengan kepemilikan saham 50%. Ini merupakan pabrik rambut palsu yang bermarkas di Sidoarjo. Sementara itu, Susilo mengawali bisnis pribadinya dengan mendirikan PT Panglima Pamenang, bermitra dengan, antara lain, Hadi Kristanto Nitisantoso. Perusahaan dagang itu memiliki penyertaan modal 50% di PT Mitragemilang Intiperkasa pada medio 1992. Pendirian usaha baru terus berlanjut. Hingga akhir 1992, nama-nama perusahaan lain yang ada dalam genggaman Susilo adalah PT Agro Green Up (pupuk kompos), PT Dutikon Sejatera (kontruksi), PT Perfectindo Pratama Plastic (botol palstik), PT Prasidha Intijaya (properti) dan PT Jatipurna Artindo Design (komponen bahan bangunan dari kayu).
Bisnis pribadi Susilo makin besar setelah PT Matahari Kahuripan Indonesia (Makin) yang didirikan pada 1993 mengambil alih 10 unit usaha milik Grup Antang yang sebelumnya dimiliki keluarga Mochtar Ramlie. Ke-10 usaha itu ada yang bergerak di pertanian-perkebunan (PT Antang Ganda Utama & PT Wana Yasa Kahuripan Indonesia), kehutanan-kayu (PT Antang Cahaya Baru, PT Antang Kalimantan, PT Antang Permai Plywood Industri, PT Antang Permata Timber, PT Rimba Berlian Hijau, PT Wana Inti Kahuripan Intiga), pertambangan (PT Mohusindo) dan kimia (PT Indoraya Everlatex).
Investasi pribadi Susilo yang cukup besar juga ada di PT Pamenang Highlands, PT Soka Jati Luwih dan PT Karyadibya Mahardika. PT Pamenang Highlands membangun kawasan perumahan di Pasuruan dengan nilai investasi Rp 126,5 miliar, sedangkan PT Soka Jati Luwih merupakan pengembang kawasan wisata di Tabanan, Bali, yang bernilai Rp 199,5 miliar. Adapun PT Karyadibya Mahardika adalah pabrik sigaret keretek tangan dengan kapasitas produksi 2,5 miliar batang/tahun dan sigaret keretek mesin (15 miliar batang/tahun) dengan nilai investasi Rp 734,25 miliar. Juga ada usaha logam dasar melalui PT Pratama Enginanusa dan PT Pratama Eraktanindo.
Lalu, awal 2005 Susilo dengan Grup Makinnya mulai merambah ke perkebunan kelapa sawit di Jambi. Ia siap membenamkan dana Rp 2,28 triliun untuk mengelola perkebunan seluas 74 ribu hektare di empat kabupaten di Jambi selama 2005-08. Total jenderal, ia memiliki 28 perusahaan pribadi. Padahal, anak-anak Surya yang lain rata-rata hanya memiliki 10 perusahaan.
Katakanlah, Sumarto Wonowidjojo hanya mempunyai 6 perusahaan: tiga perusahaan menggeluti investasi dan perdagangan (PT Citramahardhika Usaha, PT Suryamitra Mandiri, PT Titian Sarana Niaga), satu perusahaan pengangkutan (PT Trans Manggala Inti Persada), dan dua perusahaan jasa (PT Media Lintas Komunikatama, PT Nugraha Sarana Aneka Tirta Alam Raya).
Sigid Wonowidjojo tak mau ketinggalan. Awalnya, ia berinvestasi di PT BPR Surya Danakarya, lalu mendirikan PT Suryamega Margajaya (investasi & perdagangan), PT Adimega Multiusaha (properti/berkongsi dengan Sumarto) dan Lakta Utama (holding company).
Sementara itu, Rachman Halim (anak sulung Surya) menggantikan posisi kepemilikan keluarga GG di PT Perkebunan Lidjen. Ia sepenuhnya tercatat sebagai pemilik perkebunan tersebut. Sementara itu, dua putri Surya (Juni Setiawati Wonowidjojo & Wurniati Wonowidjojo) masing-masing memiliki PT Tiara Mas Kumala dan PT Gandum.
Dari keempat putra Surya, tampak Rachman paling sedikit menggengam bisnis pribadi (hanya satu perusahaan). Mengapa? Go Siang Chen, yang juga pengamat bisnis dari Surabaya, berusaha menebak. “Dugaan saya, Ing Hwie (Surya) yang tiap hari bersama anak-anaknya tahu persis karakter tiap anak. Yang suka mengutak atik hal baru, diberi kepercayaan mengembangkan usaha. Berbeda dari To Hing (Rachman Halim) yang memiliki kepiawaian dalam manajemen, maka diberi jabatan Presiden Direktur GG,” ujar Go.

November 17, 2009

Gudang Garam Tambah Modal Rp 600 Miliar

Untuk mengenjot penjualan rokok, PT Gudang Garam Tbk menambah belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2010 sebanyak Rp 600 miliar. Adapun belanja modal rutin ditambah Rp 250 miliar sehingga pada 2010 total belanja modal mencapai Rp 850 miliar.

Menurut Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Gudang Garam Heru Budiman, belanja modal ekstra tersebut akan digunakan untuk pendanaan pembangunan kantor baru, peremajaan beberapa gedung dan depo (gudang) milik perseroan, pembelian armada baru untuk distribusi rokok, dan pembelian perangkat telekomunikasi dan teknologi informasi perseroan.

“Dana tersebut kita ambil dari kas internal dan pinjaman dari pihak luar untuk pemenuhan kebutuhan anggaran capital expenditure 2010,” kata Heru pada paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (17/11).

Hingga Oktober 2009 utang perseroan mencapai Rp 4,5 triliun, atau turun 32,83 persen ketimbang utang tahun-tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,7 triliun. Sedangkan dalam laporan keuangan triwulan III-2009, perseroan mencatat penjualan Rp 23,579 miliar atau turun 0,19 persen dibandingkan periode yang sama pada 2008 sebanyak Rp 23,534 miliar.

Sedangkan laba bersih perseroan pada triwulan III-2009 sebanyak Rp 1,504 miliar atau turun 39,23 persen jika dibandingkan periode yang sama 2008 sebanyak Rp 2,475 miliar. “Bulan puasa dan Lebaran 2009 jatuh pada September sehingga perseroan libur selama 14 hari. Ini mempengaruhi distribusi dan penjualan (rokok) kami,” ujar Heru.

Selain itu, penurunan pendapatan juga dikarenakan dampak konsolidasi anak perusahaan PT Surya Medistrindo yang berperan sebagai distributor perseroan. Secara tidak langsung laporan keuangan anak perusahaan tersebut terkonsolidasi ke dalam laporan keuangan Gudang Garam.

Menurut Istata, Wakil Derektur PT Gudang Garam, hingga triwulan III-2009, penjualan rokok perusahaan itu turun hingga 3 milliar batang, atau menjadi 152 miliar batang rokok. Padahal pada periode yang sama 2008 produksiya mencapai 155 miliar batang.

Jarum memproduksi dua macam rokok: Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Untuk jenis rokok SKT produksinya mencapai 53 miliar batang, dan SKM mencapai Rp 99 miliar batang.

November 4, 2009

Gudang garam masih tetap ngebul

(indofinanz) Meski penjualan bersih relatif statis, tetapi laba bersih yang dikantongi PT Gudang Garam Tbk (GGRM) per triwulan III 2009 melonjak hingga 64,6 persen yoy menjadi Rp2.475,42 milyar atau Rp1.287 per saham dari Rp1.503,87 milyar atau Rp782 per saham pada triwulan III 2008.

Manajemen GGRM dalam laporan keuangannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan, penjualan bersih tahun lalu relatif stagnan dari RP23.578,65 milyar menjadi Rp23.533,87 milyar.

Hanya saja perseroan mampu menekan beban pokok penjualan sehingga laba kotor yang dibukukan bertambah 33,6 persen yoy menjadi Rp5.223,09 milyar dari Rpo3.908,18 milyar.

Posisi beban usaha juga berhasil ditekan walau tipis namun hasilnya berdampak pada pos laba usaha yang menggelembung dari Rp3.911,32 milyar dari sebelumnya Rp2.539,19 milyar.

October 12, 2009

Gudang garam serius garap sawit

PT Gudang Garam Tbk berencana mendiversifikasi bisnis kepada perkebunan sawit dengan mengakuisisi beberapa perkebunan di Provinsi Kalimatan. Kebun sawit tersebut merupakan milik pengusaha Malaysia.

“Rencana Gudang Garam ekspansi kepada perkebunan sawit di Kalimantan cukup santer bagi kalangan analis belum lama ini,” ujar eksekutif dari perusahaan asing kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sumber lain menyebutkan, produsen rokok terbesar di Indonesia tersebut akan mengakuisisi kebun sawit PT Bukit Harapan Desa dan PT Surya Putra Semesta. Kedua perusahaan merupakan milik investor Malaysia.

“Saya tidak tahu persis nama investor Malaysia itu, yang jelas merupakan salah satu pemain terbesar pada perkebunan sawit dan pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia,” tandas sumber itu.

Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Frank W van Gelder, komisaris Gudang Garam, lewat pesan singkat, dia tidak membalasnya.

Menurut catatan Investor Daily, Kulim Bhd, Federal Land Development Authority (Felda), TH Plantation Bhd, dan Federal Land Rehabilitation Authority memiliki ratusan ribu hektare areal perkebunan sawit di provinsi tersebut.

Sementara itu, pengamat dan praktisis pasar modal Robin Setiawan berpendapat, bisa saja Gudang Garam ekspansi ke perkebunan. Pasalnya, industri agribisnis sedang booming dan cukup menjanjikan. “Ya, tidak tertutup kemungkinan kalau Gudang Garam melirik usaha perkebunan,” ujar dia.

Menurut Robin, wajar Gudang Garam melirik industri agribisnis, mengingat sektor tersebut menjadi primadona di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terkait rencana pemerintah menggalakkan energi alternatif biodiesel dalam mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, harga minyak kelapa sawit mentah masih bagus di pasar global.

“Cukup masuk akal bila perusahaan rokok itu masuk ke sektor yang lebih menjanjikan,” tegas dia.

Sedangkan Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata berpendapat, kinerja Gudang Garam kurang begitu mengembirakan belakangan ini. Sehingga bisa saja ekspansi kepada industri perkebunan ditempuh guna memperbaiki kinerja perseroan ke depan.

“Kalau benar perseroan berniat ekspansi kepada agribisnis, tujuannya mungkin mengatasi anjloknya kinerja,” jelasnya.

Dia mengaku, kalaupun benar Gudang Garam ekspansi ke industri perkebunan, arah bisnis harus dicermati, apakah kebun sawit atau kebun karet. Sebab, tidak gampang bagi pemain baru mampu bersaing dengan pemain lama yang lebih berpengalaman.

Hingga semester I 2006, penjualan bersih perseroan meningkat 2,8% menjadi Rp 12,67 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 12,32 triliun. Tapi laba bersih turun sekitar 49% menjadi Rp 544,99 miliar dari sebelumnya Rp 1,07 triliun. Penurunan laba bersih terutama disebabkan rendahnya daya beli konsumen pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Oktober 2005.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga saham Gudang Garama ditutup menguat Rp 100 ke level Rp 9.050 per lembar. Volume saham berpindah tangan mencapai 164.500 unit atau senilai Rp 1,49 miliar. Frekuensi transaksi tercatat 45 kali.

Restrukturisasi Saham

Berdasarkan data GAPPRI, segmen pasar sigaret keretek tangan (SKT) Gudang Garam turun dari 30% pada semeter I 2005 menjadi 29,5% pada semester pertama 2006. Pangsa pasar sigaret keretek mesin (SKM) turun dari 42,7% menjadi 42,5%. Mayoritas pangsa pasar produsen rokok lainnya juga berkurang, kecuali PT HM Sampoerna Tbk. HM Sampoerna belum lama investasi Rp 2,8 triliun dengan membangun pabrik baru di Bekasi, Jabar. Sedangkan Gudang Garam belum berencana menambah investasi, sebab tiga tahun terakhir sudah meningkatkan kapasitas produksi.

Secara terpisah, Darjoto Setiawaan, managing director and business development Rajawali Group mengatakan, pihaknya telah merekstrukturisasi kepemilikan saham pada PT Bentoel International Investama Tbk.

“Kami tidak menambah jumlah kepemilikan saham pada Bentoel, tapi hanya merestrukturisasi saham kepada PT Rajawali menjadi 34,8%,” ujar dia.

Dengan adanya restrukturisasi saham, lanjut dia, tidak mengubah jumlah kepemilikan saham Rajawali sebesar 50%