Archive for ‘Indonesia techno research education news’

March 26, 2018

Observatorium Kupang, Harapan Baru Astronomi Indonesia

Reporter:

Anwar Siswadi (Kontributor)

Editor:

Amri Mahbub

Minggu, 25 Maret 2018 11:45 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Dosen astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana W. Premadi saat berkunjung ke Tempo, Jakarta, 2 Januari 2016. Tempo/ Aditia Noviansyah
Dosen astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana W. Premadi saat berkunjung ke Tempo, Jakarta, 2 Januari 2016. Tempo/ Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Bandung – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang menyiapkan pembangunan observatorium Kupang yang akan dibangun di Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Observatorium yang ditargetkan rampung pada 2020 ini akan dibangun dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung dan Universitas Cendana Kupang (Uncen).

Rencananya, observatorium ini akan menggunakan teropong 3,8 meter, terbesar di Asia Tenggara. Bagaimana kabarnya? Tempo sempat mewawancarai Direktur Observatorium Bosscha, Premana Wardayanti Premadi, selaku salah satu ilmuwan yang juga menyiapkan Observatorium kupang.

“Tak hanya bangunan fisik, dengan adanya observatorium itu wacana riset astronomi yang lebih maju juga akan dirumuskan,” kata astrofisikawan ITB ini saat ditemui di kantornya di ITB, Bandung, Selasa, 20 Maret 2018. Berikut petikan wawancaranya:

Baca juga: Observatorium Bosscha Kini Buka Malam Hari

Ilustrasi peta observatorium antariksa Bosscha di Kupang. Dok. Tim ITB dari Dir.Obs Bosscha Mahasena Putra.

Sebetulnya di mana posisi observatorium Kupang nanti di antara observatorium lainnya di dunia?
Target kami adalah membuat observatorium yang skalanya tidak terlalu jauh dari yang sudah ada di dunia. Disesuaikan dengan sumber daya manusia dan lokasi kita di ekuator temasuk kondisi keuangan negara. Kita nggak bikin observatorium yang superbesar. Karena mahalnya minta ampun. Untuk teleskop 10 meter saja konsorsium beberapa negara.

Observatorium Kupang tidak konsorsium internasional? Asia Tenggara?
Tidak. Dananya masuk lewat Lapan. Ini proyek yang sangat besar sekali, belum pernah kita dapat dana sebesar itu. Belum pernah kita bekerjasama besar-besaran begitu dalam jangka panjang. Biasanya ‘kan pengadaan hanya setahun. Belum lagi izin, perancangan detail.

Patokan instrumennya ke Observatorium dunia atau yang di Bosscha?
Dua-duanya. Kita pilih di mana kita tepat mengejar untuk unggul.

Dana totalnya sekarang berapa?
Anggarannya mencapai Rp 400 miliar. Kalau dapat dana segitu, harusnya jumlah publikasi ilmiah meningkat. Publikasi itu kan sesuatu yang baru. Standar alatnya ya internasional.

Kalau untuk rencana di Kupang, ukuran teleskopnya lebih besar dari yang di Thailand atau New Mexico. Itu pun mereka sudah sanggup menghasilkan data jutaan galaksi. Ukuran diameternya di Kupang 3,8 meter. Yang di Bosscha terbesar 60 sentimeter.

Baca juga: Observatorium Bosscha Lakukan Ini untuk Mengejar Bintang

Ilustrasi observatorium antariksa Bosscha di Kupang. Dok. Tim ITB dari Dir.Obs Bosscha Mahasena Putra.

Arah riset Observatorium Kupang akan ke mana?
Bisa ke peristiwa besar, seperti Supernova–ledakan bintang. Itu kan pengamatannya butuh waktu panjang sekali. Observatorium di Kupang bisa masuk ke situ, mengejar data yang belum terpenuhi. Penemuannya pasti berita besar. Nantinya, observatorium Kupang bisa melakukan riset follow uptentang temuan besar di luar negeri.

Artinya nanti astronomo dunia bakal antre untuk menggunakan observatorium Kupang?
Harapannya begitu. Syaratnya operasionalnya membuat orang nyaman.

Pakai alatnya nanti astronom harus bayar?
Ada beberapa skema, mulai dari grant orang mengajukan proposal. Ada juga yang bayar, sesuai aturan finansial pemilik teleskop. Untuk yang di Kupang nanti belum tahu sama sekali.

Baca juga: Wisata Lampung Berbenah, Ingin Teropong Bintang Melebihi Bosscha

Ilustrasi lokasi observatorium antariksa Bosscha di Kupang. Dok. Tim ITB dari Dir.Obs Bosscha Mahasena Putra.

Apa proyeksi riset yang diharapkan dari observatorium baru ini?
Kita harus advance, seperti eksoplanet (planet di luar tata surya). Keppler sudah menemukan banyak, tapi follow up-nya belum. Misalnya, mempelajari karakter bintang yang menjadi kepala rumah tangga sistem planet itu. Banyak sekali yang bisa digali.

Prioritas risetnya seperti apa?
Kita belum tahu. Nanti rencananya bulan November kita mau berembuk, ada seminar di antara astronom Indonesia. Perlu ada roadmap riset astronomi Indonesia mau dibawa ke arah mana.

Riset astronomi mutakhir Indonesia apa?
Ada di sini (Astronomi ITB) misalnya yang meneliti obyek apa yang memancarkan sinar X-Ray dengan sangat luar biasa intensitasnya. Apakah dari blackhole atau yang lain, sejauh ini masih diteliti.

Advertisements
January 19, 2018

Indonesia, Turkey Team up to Develop HALE Military Drones with Max Height 40,000 Feet  

18 Januari 2018

ANKA-TP (SIHA- Strategic Unmanned Aerial Vehicle), a 5+ ton, turbo-prop powered, High Altitude Long Endurance (HALE) version of the ANKA is also being planned. TAI officials have announced that the Strategic Unmanned Aerial Vehicle version named ANKA-TP will feature a new mission computer, airframe and have the ability to carry between 1 and 1.5 Tons in armament. It will have a span of 23 meters, speed of between 200 and 250 knots and a cruising altitude of 40,000+ ft. (photo : TAI)

Indonesia, Turkey Team up to Develop Military Drones

Aircraft company PT Dirgantara Indonesia (PTDI) is collaborating with Turkish Aerospace Industries (TAI) to produce unmanned aerial vehicles (UAVs), which are capable of flying at a maximum height of 40,000 feet.

“TAI has lengthy experience in building high-altitude UAVs. So we will collaborate with them in the project,” said PTDI president director Elfien Goentoro in Bandung on Monday.

TAI has developed UAVs or drones that are used by the Turkish Military and operated at a height of 20,000 feet. They are capable of being equipped with night vision and weapons systems.

Elfien said PTDI was currently developing a medium-altitude long-endurance UAV.

PTDI production director Arie Wibowo added that the government wanted to ensure that collaboration between PTDI and TAI in producing lightweight UAVs take place to reduce dependency on manufacturers in Western countries.

“We need an experienced firm like TAI, a firm from a Muslim country with an advanced technology in the aviation industry,” said Arie, adding that several other firms were only interested in direct selling, not technology transfer.

The UAV project is projected to be completed within one to three years, Arie said, adding that PTDI and TAI also planned to develop CN-235 and N219 planes, PTDI’s two flagship products.

Meanwhile, TAI CEO and president Temel Kotil expressed hope that the collaboration would result in the production of high-quality UAVs, saying that PTDI had a reputation as a major player in the Asian aerospace industry.

(The Jakarta Post)

January 15, 2018

PTDI dan TAI Bahas Framework Agreement  

15 Januari 2018

Pembuatan prototipe ke-2 dan ke-3 pesawat N-219 di PTDI (photo : PTDI)

Turki Mau Jual Pesawat N219 dan Kembangkan N245 Buatan Bandung

Jakarta – Turkish Aerospace Industries, Inc. (TAI) mengunjungi PT Dirgantara Indonesia untuk melakukan pembahasan Perjanjian Kerangka Kerja (Framework Agreement) dan meninjau secara langsung fasilitas produksi di hanggar Fixed Wing dan Rotary Wing PTDI.

Rombongan TAI yang terdiri dari President dan CEO TAI, Temel Kotil, PhD, beserta rombongan diterima oleh Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro beserta jajaran Direksi dan manajemen PTDI hari ini, Senin (15/1/2018).

Dalam keterangkan tertulis yang diterima detikFinance, setelah 2003 lalu PTDI mengembangkan pesawat CN235-100 militer menjadi pesawat CN235-100 MPA/ASW untuk Angkatan Laut Turki dan pesawat CN235-100 MSA untuk Badan Keamanan Laut Pantai Turki, PTDI kembali bekerjasama dengan Turki, yakni dengan TAI dalam perjanjian kerangka kerja yang ditandatangani pada 6 Juli 2017 di Ankara, Turki.

Hasil kerja sama yang berlanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani antara TAI dan PTDI selama IDEF 2017 ini, perjanjian kerangka kerja tersebut berisi kesepakatan kedua belah pihak untuk menggabungkan upaya pada domain kedirgantaraan untuk mendukung pengembangan kerjasama kedua negara dalam industri kedirgantaraan.

TAI akan berpartisipasi dalam kegiatan perancangan konseptual dari Proyek Pengembangan Pesawat Terbang dan UAV di Indonesia yang dilakukan oleh PTDI.

Pembahasan perjanjian framework agreement ini dilakukan untuk menjabarkan kerjasama strategis antara para pihak dalam program kedirgantaraan dan untuk bersama-sama membentuk dan menetapkan strategi terbaik yang akan dilaksanakan untuk setiap ruang lingkup kolaborasi.

Adapun ruang lingkup kolaborasi tersebut yang pertama adalah tentang pemasaran dan perluasan produksi pesawat N219 mengenai rencana program yang akan ditetapkan setelah penerbangan sertifikasi pesawat N219 mencapai 100 jam terbang serta tentang perjanjian industri dan komersial yang akan ditetapkan 2 (dua) bulan setelah Type Certificate N219 dari DGCA Indonesia diberikan, kemungkinan pada akhir tahun 2018.

Kedua, yaitu pengembangan bersama dan produksi pesawat N245 mengenai rencana program atau rekayasa dan pengembangan industri yang akan ditetapkan dalam waktu 6 bulan setelah kuartal keempat tahun 2017.

Dalam pertemuan yang dilakukan pagi ini pada pukul sekitar pukul 09.00 ini di gedung GPM, PT Dirgantara Indonesia juga dibahas juga tentang pembagian kerja untuk disain dan membangun kesepakatan yang akan ditetapkan pada kuartal ketiga tahun 2017.

Pembagian kerja untuk desain dan pembangunan sarana pengembangan dan produksi di kuartal ketiga tahun 2018 dan mengkomersialisasikan pesawat N245 yang akan ditetapkan pada kuartal keempat tahun 2018.

Anka UAV tipe MALE buatan TAI (photo : flug revue)

Pembahasan lainnya juga dilakukan terkait Pemasaran dan Perluasan Produksi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA)/UAV serta Kemungkinan Pengembangan Lebih Lanjut Untuk Wilayah Asia Tenggara yang akan ditentukan dalam tahapan diskusi berikutnya.

Definisi kebutuhan pasar serta pembagian kerja teknik dan industri untuk kedua belah pihak agar segera dan diselesaikan dalam waktu 6 bulan setelah penandatanganan Perjanjian framework agreement kali ini.

Pekerjaan Aerostruktur

Hal lain yang dibahas yaitu tentang, aerostruktur. TAI akan melakukan penilaian kemampuan PTDI dalam rangka pemberian pekerjaan komponen aerostruktur di PTDI, pada kuartal ketiga tahun 2017.

Perjanjian komersial hanya dapat ditentukan berdasarkan pada hasil tersebut di atas, kemungkinan pada kuartal pertama tahun 2018.

Kerja sama ini bertujuan untuk menetapkan kolaborasi strategis antara kedua belah pihak dalam bidang kedirgantaraan dan untuk bersama-sama merumuskan serta menetapkan strategi terbaik pada setiap ruang lingkup kolaborasi terkait.

Diharapkan kerjasama ini akan terus berlanjut dan saling menguntungkan kedua industri kedirgantaraan masing-masing negara tersebut.

(Detik)

September 11, 2017

3 Tes Harus Dilalui Pesawat N219 Sebelum Diproduksi Massal

11 September 2017

Pesawat angkut ringan N219 (photo : Lapan)

Mau Diproduksi Massal, Pesawat N219 Harus Lolos 3 Tes Ini

Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan pesawat N219 baru bisa diproduksi massal setelah PT Dirgantara Indonesia (Persero) menyelesaikan serangkaian tes. Pesawat hasil kerja sama LAPAN dan PTDI resmi melakukan uji terbang perdana pada Agustus lalu.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agus Santoso, mengungkapkan ada 3 tes yang harus dilewati N219 sebelum digunakan sebagai pesawat komersial dan diproduksi massal.

“Jadi harus ada tahapan yang ditunjukkan mereka hingga mereka dapat sertifikasi. Ada 3 tes yang harus dilewati,” kata Agus ditemui di Kemenhub, Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Ketiga uji tersebut meliputi tes penerbangan (flight test) selama 500-600 jam, Tes olah gerak (static test) untuk menguji sejauh mana pesawat ini mampu menahan beban maksimal, dan ketahanan tekanan (fatigue test) untuk mengukur seberapa panjang usia ekonomis pesawat.

Menurutnya, selain ketiga tes tersebut dilakukan secara paralel, uji terbang juga tak mesti harus selama 500-600 jam. Pihaknya menggunakan simulator untuk memastikan pesawat tersebut layak terbaik.

“Kalau tunggu 500-600 jam bertahun-tahun. Itu kami tes dengan menggunakan simulator dengan beberapa (sensor) secara langsung diletakkan di titik-titik pesawat. Agar PT DI bisa segera memenuhi pesanan yang datang,” ungkap Agus.

Diungkapkannya, dirinya tak tahu kapan pesawat yang bisa terbang dari landasan 500 meter itu bisa dinyatakan lulus dari ketiga tes tersebut. “Itu saya enggak tahu, tergantung hasilnya,” pungkasnya.

(Detik)

09 SEPTEMBER 2017

Pengembangan N245 Butuh Rp 3 Triliun

09 September 2017

Model pesawat N245 (photo : Defense Studies)

BANDUNG, KOMPAS — Setelah sukses dengan uji terbang pesawat N219, PT Dirgantara Indonesia segera mengembangkan pesawat N245. Pesawat N245 merupakan turunan dari CN235 hanya saja tanpa dilengkapi dengan fasilitas ramp door atau pintu di bagian ekor pesawat.

PT Dirgantara Indonesia memperkirakan sertifikasi pesawat N245 butuh dana 225 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun. Dalam sertifikasi itu akan dilakukan pengujian komponen vital pesawat, seperti sistem avionik, sayap, kelengkapan kokpit, dan peralatan pendaratan. Proses itu ditargetkan rampung pada 2018.

”Biaya sebesar itu untuk membuat tiga prototipe (purwarupa) hingga merampungkan proses sertifikasi,” kata Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo di Bandung, Rabu (6/9).

Arie mengatakan, saat ini, pengembangan N245 sedang dalam tahap desain awal. Menurut dia, targetnya pada 2018 selesai proses sertifikasi dan uji terbang dua tahun kemudian. Baru pada 2022, N245 dijadwalkan masuk pasar komersial.

Arie mengemukakan, potensi pasar N245 sangat besar di dalam negeri, terutama untuk melayani rute-rute yang berjarak antara 1 jam-1,5 jam melalui penerbangan.

”Di Indonesia belum banyak dijangkau penerbangan jarak pendek, seperti Surabaya-Jember, Bandung-Cirebon, Bandung-Pangandaran, yang kalau lewat jalur darat membutuhkan waktu agak lama. Sementara pesawat N219 nanti yang akan mengisi rute-rute perintis,” ujar Arie.

Arie juga menyinggung, kompetitor N245 adalah ATR 42 buatan Peransis. ”Namun, kami tidak khawatir karena keunggulan N245 dapat mendarat di landasan pendek kurang dari 1.000 meter. Banyak bandara di Indonesia yang kondisinya seperti ini, sedangkan pesawat kompetitor tidak mampu mendarat di landasan pendek,” ucapnya.

Menurut Arie, pangsa pasar pesawat kecil dan medium ini di Indonesia relatif besar, untuk N219 sekitar 100 unit. Sementara untuk N245 antara 50-80 unit. Apabila target pasar dalam negeri itu terpenuhi, target angka tersebut bagi PT DI sudah balik modal.

Potensi pasar untuk pesawat N219 dan N245 juga bukan saja di dalam negeri, melainkan di luar negeri. Secara geografis yang cocok dengan Indonesia di antaranya kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. ”Kami berharap pesawat ini disukai banyak konsumen dari sejumlah negara,” katanya.

Arie mengungkapkan, Pemerintah Turki melalui Turkish Aerospace Industries Inc (TAI) juga berminat menjajaki kerja sama dengan PT DI untuk menjual pesawat itu ke kawasan Afrika. Turki, menurut Arie, mengusulkan agar pesawat N245 juga diproduksi di negara itu. Hal ini untuk memudahkan pemasaran pesawat ke kawasan Afrika yang jaraknya lebih dekat dari Turki dibandingkan dari Indonesia. Dengan demikian akan lebih efisien.

”Tawaran Turki ini sedang dipertimbangkan, bentuk kerja samanya seperti apa. Namun, paling tidak tawaran ini juga menunjukkan pengakuan terhadap produk negara kita,” kata Arie.

Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro mengemukakan, PT DI juga perlu bersinergi dengan perusahaan besar dunia seperti Airbus dan Boeing. ”Kami perlu beraliansi dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dunia, tapi di sisi lain kita juga harus fokus pada pasar, misalnya pada negara kepulauan dengan memproduksi pesawat kecil dan medium,” ujar Goentoro.

(Kompas)

May 8, 2017

Kajian Terhadap Pesawat N219 Varian Amfibi

Walaupun di bumi Indonesia banyak penganut  “bumi datar”  dan “khilafah” perkembangan LAPAN membuat saya optimis dengan Indonesia Jaya! Masih ada putra bangsa ini yang sibuk berkarya buat masa depan bangsa .

May072017

 


Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pasar dan peluang yang besar dalam industri aeronautika.Hal itu disampaikan Thomas saat memberikan sambutan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Kesiapan Komunitas Dirgantara Indonesia dari Teknis, Project Management dan Bisnis dalam Menyambut Program Strategis Nasional.

Acara yang bertujuan mengkaji pesawat N219 varian amfibi ini berlangsung di Auditorium Balai Pertemuan Dirgantara Kantor Pusat LAPAN, Jakarta, pada Kamis (4/5).

Thomas menjelaskan bahwa program prioritas nasional dan proyek strategis nasional bisa selaras. Hal tersebut dapat memacu dan mendorong cita-cita dalam industri penerbangan yang maju mandiri. Pesawat N219 diharapkan bisa mendarat di pulau kecil dan perairan.

Hal ini sesuai harapan Presiden Joko Widodo agar selanjutnya dikembangkan pesawat kelas menengah dengan payload 30 sampai 60 orang. Keinginan itu pernah disampaikannya saat meninjau proyek N219. Ada cita-cita dan komitmen kuat, sehingga dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah dicantumkan program N219, N2145, N270.

Sementara itu, Ditjen Penguatan Inovasi Ristek Dikti Jumain Appe mengatakan bahwa N219 merupakan kebangkitan penerbangan nasional yang kedua setelah Indonesia berhasil menerbangkan pesawat buatan bangsa N-250 Gatotkaca. Secara spesifik, Indonesia yang terdiri dari kepulauan memerlukan dukungan nasional dalam transportasi penerbangan. Tipe daerahnya dengan jarak pendek yang membutuhkan konektivitas agar terwujud perekonomian yang merata. N219 dinilai tepat, industri komponen nasional perlu dikembangkan untuk mendukung pembuatan N219.

Selain membahas N219-A (Amfibi), diskusi sehari ini juga mengkaji kelayakan pengembangannya. Rencana pengembangan N219 dikupas mulai dari aspek teknis, project management, dan bisnis.

Sumber: lapan.go.id

 


 

April 5, 2017

Saringan dari Graphene bisa mengubah air laut jadi air minum !

menarik untuk di riset di Indonesia

Graphene sieve could make seawater drinkable

Graphene membrane

Discovering the world’s strongest material 02:25

(CNN)Researchers in the United Kingdom have developed a graphene-based sieve that can filter salt out of seawater, a development that could provide drinking water to millions of people around the globe.

The applications could be a game-changer in countries where access to safe, clean, drinkable water is severely limited.
Graphene — an ultra-thin sheet of carbon atoms organized in a hexagonal lattice — was first identified at the University of Manchester in 2002 and has since been hailed as a “wonder material,” with scientists racing to develop inexpensive graphene-based barriers for desalination on an industrial scale.
Now, the team at Manchester has used a compound of graphene, known as graphene oxide, to create a rigid sieve that could filter out salt using less energy.

Overcoming hurdles

In recent years, there had been some success in water filtration using graphene oxide to sift out other smaller nanoparticles and organic molecules.
But researchers had struggled to move forward after finding that the membrane’s pores would swell up when immersed in water, allowing particles to continue to pass through.
Rahul Nair’s team at Manchester now claims it has discovered how to control of the expansion and size of the pores.
Writing Monday in the Nature Nanotechnology journal, the team revealed it was able to restrict pore-swelling by coating the material with epoxy resin composite that prevented the sieve from expanding. This means common salt crystals could continue to be filtered out, while leaving behind uncontaminated, clean, drinking water.
The discovery is “a significant step forward and will open new possibilities for improving the efficiency of desalination technology,” Nair said in a statement from the university.
“This is the first clear-cut experiment in this regime. We also demonstrate that there are realistic possibilities to scale up the described approach and mass produce graphene-based membranes with required sieve sizes,” he added.

Global implications

Boosting global access to water is critical. By 2025, 14% of the global population will suffer from water scarcity, the United Nations predicts. In addition, climate change is expected to wreak havoc on urban water supplies, with decreased rainfall and rising temperatures expected to fuel demand.
Super substance may yield tech 'miracles'

Super substance may yield tech ‘miracles’ 01:41
Cities have been investing heavily in diversifying their water supplies, including developing new desalination technologies to make seawater potable. But existing, industrial-scale desalination plants can be costly and normally involve one of two methods: distillation through thermal energy, or filtration of salt from water using polymer-based membranes.
These techniques have drawn criticism from environmentalists, who argue they involve large amounts of energy, produce greenhouse gases and can be harm marine organisms.

What’s next?

The graphene-oxide breakthrough has been welcomed by scientists in the field as a promising development, but some are cautious of the next steps.
“The selective separation of water molecules from ions by physical restriction of interlayer spacing opens the door to the synthesis of inexpensive membranes for desalination,” wrote Ram Devanathan of the Pacific Northwest National Laboratory, in an accompanying news-and-views article in the journal.
More work still needs to be done to test the durability of the barriers and to confirm the membrane is resistant to “fouling by organics, salt and biological material,” he said.
Water treatment with membranes that separate water molecules from ions, pathogens and pollutants has been proposed as an energy-efficient solution to the freshwater crisis, Devanathan added.
“The ultimate goal is to create a filtration device that will produce potable water from seawater or waste water with minimal energy input.”

 

 

March 30, 2017

Teknologi Baterai Kapal Selam, BPPT Berguru ke Prancis

 

dari defense studies.blogspot.com

30 Maret 2017

Baterai kapal selam (image : MarineBio)

VIVA.co.id – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjadi salah satu lembaga pemerintah yang akan bekerja sama dengan institusi penelitian dan pengembangan (litbang) Prancis. Rangkaian kerja sama ini menjadi rangkaian lawatan Presiden Prancis, Francois Hollande ke Indonesia.

Dua institusi litbang Prancis yang hari ini mengadakan pertemuan dengan BPPT, yakni INSA dan CEA.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto, menyampaikan bahwa Prancis cukup maju dalam hal riset di bidang energi serta informasi dan teknologi komunikasi (ICT). Dalam hal energi misalnya, Unggul menjelaskan, seperti energi terbarukan seperti solar cell, fuel cell, dan teknologi baterai. Sementara itu, di bidang ICT, seperti security dan micro electronic.

“Atau teknologi lain, seperti manufakturing, kapal selam kalau mungkin (dikerjasamakan),” ujar Unggul usai courtesy call BPPT dengan CEA dan INSA Prancis di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Rabu 29 Maret 2017.

Terkait kapal selam, Unggul mengatakan, erat kaitannya dengan teknologi baterai. Sebab, kualitas kapal selam tergantung sekali dengan kualitas baterainya.

“Jadi, kapal selam ketika menyelam, energi mengandalkan baterai, semakin qualified baterainya, semakin lama bisa menyelam,” kata Unggul.

Sementara itu, kapal selam bisa menyelam juga karena beban dari baterai. Sekitar 60 persen berat kapal selam adalah berat baterai.

Kapal selam yang dikembangkan BPPT, baterainya terbuat dari lithium ion. Saat ini, kekuatan durasi menyelamkan kapal selama empat hari.

Sementara itu, Prancis, telah mengembangkan baterai sodium-ion. Diklaim, baterai pengganti lithium ini lebih murah dan memiliki kerapatan penyimpanan energi sangat tinggi, ketersediaan sodium pun melimpah.

“Kami masih lihat (hasil riset Prancis) baterai sodium ion ini,” tutur Unggul.

 

 

 

 

 

++++++++++++++++++++++++++++++++=

Berguru ke Prancis

Ada juga kerja sama untuk mencari periset-periset muda.
Rabu, 29 Maret 2017 | 12:06 WIB
Oleh : Siti Sarifah Alia, Mitra Angelia
Teknologi Baterai Kapal Selam, BPPT Berguru ke Prancis
Ilustrasi kapal selam mewah (emag.co.uk)

VIVA.co.id – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjadi salah satu lembaga pemerintah yang akan bekerja sama dengan institusi penelitian dan pengembangan (litbang) Prancis. Rangkaian kerja sama ini menjadi rangkaian lawatan Presiden Prancis, Francois Hollande ke Indonesia.

Dua institusi litbang Prancis yang hari ini mengadakan pertemuan dengan BPPT, yakni INSA dan CEA.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto, menyampaikan bahwa Prancis cukup maju dalam hal riset di bidang energi serta informasi dan teknologi komunikasi (ICT). Dalam hal energi misalnya, Unggul menjelaskan, seperti energi terbarukan seperti solar cell, fuel cell, dan teknologi baterai. Sementara itu, di bidang ICT, seperti security dan micro electronic.

“Atau teknologi lain, seperti manufakturing, kapal selam kalau mungkin (dikerjasamakan),” ujar Unggul usai courtesy call BPPT dengan CEA dan INSA Prancis di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Rabu 29 Maret 2017.

Terkait kapal selam, Unggul mengatakan, erat kaitannya dengan teknologi baterai. Sebab, kualitas kapal selam tergantung sekali dengan kualitas baterainya.

“Jadi, kapal selam ketika menyelam, energi mengandalkan baterai,
semakin qualified baterainya, semakin lama bisa menyelam,” kata Unggul.

Sementara itu, kapal selam bisa menyelam juga karena beban dari baterai. Sekitar 60 persen berat kapal selam adalah berat baterai.

Kapal selam yang dikembangkan BPPT, baterainya terbuat dari lithium ion. Saat ini, kekuatan durasi menyelamkan kapal selama empat hari.

Sementara itu, Prancis, telah mengembangkan baterai sodium-ion. Diklaim, baterai pengganti lithium ini lebih murah dan memiliki kerapatan penyimpanan energi sangat tinggi, ketersediaan sodium pun melimpah.

“Kami masih lihat (hasil riset Prancis) baterai sodium ion ini,” tutur Unggul.

Kerja Sama Pendidikan Periset

Unggul menyatakan, tak dipungkiri bahwa tenaga peneliti dari BPPT dan lembaga litbang lain di Indonesia masih minim yang menempuh S3 atau doktor. Disebut, BPPT baru sembilan persen, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tujuh persen, bahkan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) hanya tiga persen.

“Itu sangat jauh dari ideal. Kalau saya bandingkan di Jepang, doktor untuk lembaga seperti BPPT ini bisa 80 persen. Kemudian Taiwan 50 persen, Thailand 30 persen, jadi untuk mencapai ke sana itu cukup jauh,” ujar Unggul.

Untuk itu, selain mengambil kesempatan kerja sama dengan Prancis soal terapan teknologi, Unggul ingin menjajaki bidang pendidikan untuk para periset Indonesia.

“Nah, dengan adanya kerja sama seperti ini, paling tidak kita mendapat jaminan bahwa mereka mau menampung, menerima peneliti kita untuk mengambil S2 atau S3,” kata Unggul.

Sebagai informasi, untuk tindak lanjut diskusi, akan ada MoU antara BPPT dan CEA di bidang teknologi kelautan atau kemaritiman. Selain itu, dengan INSA untuk teknologi terapan. Penandatanganan akan dilakukan sore nanti secara tertutup. (art)

March 7, 2017

Dosen ITB Ciptakan Jalan Berpori untuk Mencegah Banjir

SELASA, 07 MARET 2017 | 12:09 WIB

Dosen ITB Ciptakan Jalan Berpori untuk Mencegah Banjir

Sejumlah kendaraan bermotor menerobos genangan air yang membanjiri ruas jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau, 28 Februari 2017. ANTARA/Rony Muharrman

TEMPO.CO, Bandung – Dosen Institut Teknologi Bandung atau ITB, Bambang Sunendar Purwasasmita, membuat jalan berpori yang berguna untuk menyerap genangan air secara cepat. Inovasi yang diberi nama GeoPore tersebut sangat bermanfaat untuk menanggulangi banjir atau genangan air di jalan-jalan saat musim hujan.

 

Syarat jalan berpori, kata Bambang, menihilkan penggunaan semen. Sehingga siraman air ke jalan biopori itu akan langsung meresap ke tanah tanpa menyisakan genangan. Model jalan berpori itu didemonstrasikan di acara pameran karya dan produk inovasi di Aula Barat ITB, Ahad, 5 Maret 2017.

Menurut Bambang, jalan biopori itu sudah dipakai di rumahnya dan sedang diuji coba di area PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, sejak September 2016. Jalan GeoPore yang dibuat sepanjang 25 meter dan selebar 4 meter, bersanding dengan jalan beton di sebelahnya sebagai pembanding. “Untuk jalan besar memakai rangka besi di bawahnya supaya kuat menahan beban kendaraan,” kata dosen Teknik Fisika ITB tersebut.

Adapun untuk di sekitar pekarangan rumah, tempat parkir, atau jalan komplek, menurut Bambang, bisa dibuat tanpa konstruksi besi, sepanjang beban kendaraan yang melintas kurang dari 5 ton. “Tahun ini mulai coba pasang di ITB dan rumah dinas Gubernur Jawa Barat,” ujar dia.

Latar belakang pembuatan GeoPore, kata Bambang, didorong oleh pengembangan bahan alami geopolimer seperti keramik yang terbukti kuat dan tahan lama serta tidak beracun. “Kekuatannya bisa berpuluh kali lipat daripada semen dan bertahan hingga 40 tahun menurut hasil studi yang ada,” kata Bambang. Riset geopolimer dilakukannya sejak 7 tahun lalu. Di sisi lain, ia melihat ada gerakan biopori dan banjir yang terus terjadi.

GeoPore, kata Bambang, merupakan lapisan setebal 40 sentimeter yang terbagi menjadi lima lapis. Lapisan teratas adalah jalan atau blok berpori yang memakai geopolimer untuk mengikat material pengganti semen. Di bawahnya terlapis pasir dan kerikil, kemudian batuan, dan geotekstil sebagai alasnya.

Selain untuk jalan, GeoPore bisa diterapkan untuk drainase. Dari hasil perhitungan Bambang, daya serap airnya bisa mencapai 1.000 liter per meter persegi setiap menit.

ANWAR SISWADI

March 3, 2017

Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in Bandung

Kamis 02 Mar 2017, 16:02 WIB

Danang Sugianto – detikFinance
Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in BandungFoto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta – Pesawat N245 masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek yang akan digarap PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan dimulai tahun ini.

N245 merupakan pengembangan dari pesawat CN235 yang sebelumnya pernah dibuat oleh PTDI. Pesawat ini memiliki kapasitas penumpang hingga 54 orang dan memiliki jarak tempuh hingga 1.100 kilometer (km) sekali terbang.

Pengembangan pesawat N245 yang akan dilakukan PTDI dan LAPAN akan menelan dana hingga US$ 190 juta atau Rp 2,47 triliun.

Baca juga: Pesawat N245 Mampu Melesat Hingga 500 Km/Jam

“Biaya development sekitar US$ 190 juta,” kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Pesawat ini akan dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney (PWC) PW127Z dengan mesin ganda. Berbeda dengan pendahulunya CN235, N245 memiliki ekor yang bertipe T dan tidak ada lagi ramp door alias pintu untuk menaruh barang di belakang pesawat.

N245 memiliki panjang 22,65 meter dengan tinggi 7,4 meter dan lebar sayap 25,8 meter. Pesawat ini nantinya digunakan sebagai pesawat jarak pendek untuk meningkatkan konektivitas udara antar daerah.

Baca juga: Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute Ini

Pesawat N245 mampu melesat hingga 500 km per jam dengan jarak tempuh hingga 1.100 km. Pesawat N245 bisa melakukan lepas landas dalam jarak sekitar 890 meter dan mendarat dalam jarak 765 meter. (ang/ang)

February 13, 2017

Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute Ini

Senin 13 Feb 2017, 13:37 WIB

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute IniFoto: Dok. PT Dirgantara Indonesia (PT DI)
Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) akan memproduksi pesawat N245 di tahun ini seiring sudah masuknya pengembangan pesawat ini ke Proyek Strategis Nasional (PSN). Pesawat ini nantinya memiliki kecepatan 270 knot atau sekitar 500 kilometer (km) per jam dengan daya jelajah 1.100 km.

Pesawat yang ditujukan untuk transportasi antar kota ini dikembangkan sesuai dengan amanat Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan konektivitas antar daerah.

Baca juga: Pesawat N245 Mampu Melesat Hingga 500 Km/Jam

“Kita ikuti amanat Presiden RI kita mesti menaikkan konektivitas melalui udara. Itu mau kita sambungkan kota-kota yang hari ini belum tersedia pesawat,” kata Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (13/2/2017).

Ia pun mencontohkan beberapa kota yang bisa dijangkau dengan adanya pesawat N245 nanti di 2020. Mulai dari kota-kota di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan.

“Jember-Surabaya, Jember-Malang ada daerah-daerah seperti Tanjung Bara-Balikpapan, kemudian Bali-Lombok, dan Kuching-Pontianak,” ujar Arie.

Baca juga: Masuk Proyek Strategis Nasional, Pesawat N245 Diproduksi Tahun Ini

Pengembangan N245 memakan biaya hingga US$ 200 juta. Dalam tahap awal, PTDI akan membuat 3 prototipe pesawat N245.

“Itu kan ada pengembangan engineering kemudian pengadaan material dan peralatan infrastruktur untuk pembuatan dan itu kita produce 2-3 prototipe,” tutup Arie. (hns/hns)