Archive for ‘Indonesia techno research education news’

October 17, 2015

Apple Ingin Bangun Pusat Penelitian di Indonesia

semoga terwujud

EKONOMI_DAN_BISNIS
SABTU, 17 OKTOBER 2015

JAKARTA – Produsen peralatan telekomunikasi, Apple Inc, melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi. Hal itu terlihat dari rencana perusahaan membangun pusat penelitian dan pengembangan (research and development atau R&D) di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan usul Apple membangun pusat penelitian itu disampaikan setelah perusahaan sukses mengembangkan hal yang sama di Brasil. “Mereka mengusulkan modelnya seperti di Brasil. Mereka mau adopt ke Indonesia,” tutur dia kemarin. Ia menyatakan pembicaraan soal rencana investasi Apple dengan pemerintah tersebut belum terlalu rinci.

Pemerintah Joko Widodo memang sedang menarik investor dengan berbagai kemudahan dan layanan perizinan lewat penerbitan paket kebijakan ekonomi. Jokowi juga menginstruksikan para menteri agar saling berkoordinasi untuk mempermudah rencana investor menanamkan modalnya di Indonesia.

Ihwal rencana investasi Apple, Rudiantara mengatakan pihaknya akan membahas aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang diwajibkan sebesar 30 persen. Kementerian Perindustrian, kata dia, sedang menyiapkan beleid TKDN 30 persen tersebut dengan sangat rinci.

Menteri Perindustrian Saleh Husin sebelumnya mengatakan perusahaan besutan Steve Job itu berniat mengikuti langkah PT Samsung Electronics Indonesia untuk membangun pabrik telepon seluler di Tanah Air. “Pembangunan pabrik Samsung bisa menjadi contoh yang sangat baik untuk produsen ponsel lainnya. Kami harapkan Apple dan merek lainnya juga bisa membangun pabrik di sini,” tutur dia, pertengahan Juni lalu.

Upaya itu, kata Saleh, berkaitan dengan industri elektronika, termasuk telepon seluler, yang menjadi salah satu industri prioritas atau kelompok industri dengan pertumbuhan tinggi. Telepon seluler yang memiliki pabrik di Indonesia pada 2017 harus memenuhi standar TKDN minimal 30 persen. “Saya sampaikan agar Indonesia dijadikan basis produksi, tidak hanya sebagai market.”ALI HIDAYAT | ANTARA

September 28, 2015

Satelit Pertama Bikinan Indonesia Diluncurkan, Tepuk Tangan Membahana

Senin 28 Sep 2015, 12:44 WIB

Nur Khafifah – detikNews
Satelit Pertama Bikinan Indonesia Diluncurkan, Tepuk Tangan MembahanaFoto: DoordarshanNational
Jakarta – Satelit Lapan A2/Orari telah diluncurkan bersama satelit India, Astrosat. Peluncuran dilakukan dari India dan disaksikan melalui live streaming dari kantor Lapan, Jl Pemuda, Jakarta Timur.

Satelit mulai diluncukan pukul 10.00 waktu India atau 11.30 WIB. Satelit Lapan A2/Orari diluncurkan pada menit ke 1.52. Tampak dari video streaming, satelit Lapan A2/Orari meluncur ke orbit dengan lancar. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan tempat menonton peluncuran tersebut.

Wajah cerah para ilmuwan di India juga terlihat dari video streaming. Mereka juga bertepuk tangan penuh semangat.

“Saat ini ketinggian satelit Lapan sudah 267 km. Kita menuju 650 km,” ujar Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Kantor Lapan, Jl Pemuda, Rawamangun, Jaktim, Senin (28/9/2015), sekitar pukul 12.00 WIB.

Suasana nobar peluncuran di kantor LAPAN (foto: Nur Khafifah)

Perkembangan posisi satelit dapat disaksikan dalam grafik yang diaksea dari India. Hingga saat ini satelit Lapan A2 masih bergerak menuju orbitnya.

Dikutip dari situs LAPAN, LAPAN-A2 merupakan satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa LAPAN. Seluruh kegiatan perancangan, pembuatan, dan pengujiannya selesai pada Agustus 2012 di dalam negeri. Keberhasilan pembangunan satelit tersebut membangkitkan kepercayaan diri dan kemandirian bangsa.

Pencapaian kemandirian penguasaan teknologi satelit mikro ini juga merupakan langkah maju setelah sebelumnya berhasil melaksanakan program pembangunan satelit LAPAN-A1/ LAPAN-TUBSAT, hasil kerja sama dengan TU Berlin, Jerman. LAPAN-A1 telah diluncurkan pada 2007 yang saat ini masih berada di orbit pada ketinggian 630 kilometer, namun masa operasionalnya telah berakhir pada 2013.

LAPAN-A2 akan diorbitkan dekat ekuator dengan inklinasi enam derajat pada ketinggian 650 kilometer dari permukaan Bumi. Dengan orbit dekat ekuatorial, LAPAN-A2 akan melintasi wilayah Indonesia 14 kali setiap hari dengan periode orbit 100 menit. Dengan demikian, satelit ini dapat mendukung pemantauan wilayah nusantara dari luar angkasa. Satelit tersebut akan bergerak di cakupan enam derajat Lintang Selatan hingga enam derajat Lintang Utara.

Satelit LAPAN A2

Satelit berbobot 78 kilogram dan berdimensi 500 x 470 x 380 milimeter tersebut membawa misi pemantauan permukaan bumi, identifikasi kapal laut, dan komunikasi radio amatir. Untuk misi pemantauan wilayah RI, satelit LAPAN-A2 membawa kamera video analog dengan resolusi lima meter dan kamera digital dengan resolusi 3,5 meter.

Untuk menjalankan misi pemantauan lalu lintas kapal, operasi keamanan laut, perikanan, dan eksplorasi sumber daya kelautan Indonesia, satelit dilengkapi dengan Automatic Identification System (AIS). Teknologi ini dapat mendeteksi ribuan kapal dengan cakupan area pengamatan mencapai ribuan kilometer. Sementara itu, misi komunikasi amatir pada LAPAN-A2 bertujuan untuk komunikasi pada kondisi darurat bencana dan kegiatan radio amatir dalam mendukung kepentingan nasional.

Dalam berkomunikasi dengan stasiun bumi, LAPAN-A2 menggunakan frekuensi UHF dan S-Band. Untuk sistem kontrol perilaku, satelit ini juga dilengkapi dengan tiga wheel/ fiber optic laser gyros dalam axis orthogonal, dua CCD star sensor, tiga magnetic coils, enam panel surya tunggal untuk sensor matahari, dan 3 axis magnetic fields sensor.

Sinyal pertama LAPAN-A2 akan diterima oleh satelit bumi LAPAN di Rancabungur Bogor pada 28 September 2015 pukul 13.18 WIB hingga 13.32 WIB. Data pertama yang akan diterima oleh LAPAN-A2 yaitu Power Control Unit Telemetry. Data tersebut terdiri dari informasi mengenai konsumsi daya listrik tiap komponen satelit, data sensor matahari pada enam sisi satelit, temperature tiap komponen satelit, dan timer sejak satelit mengalami separasi.

Pembangunan LAPAN-A2 ini merupakan upaya Indonesia melalui LAPAN untuk dapat menguasai teknologi satelit secara mandiri. Selanjutnya, LAPAN juga sedang menyiapkan peluncuran satelit generasi berikutnya, LAPAN-A3, yang akan memiliki fitur dan misi yang lebih baik dari LAPAN-A2. Di masa depan, LAPAN juga sedang menyiapkan diri untuk membangun satelit-satelit operasional melalui konsorsium nasional.
(khf/mad)

September 16, 2015

Industri Pertahanan Swasta : Menawarkan Kemandirian Teknologi

 Lanjutkan !
16 September 2015

Awak PT Technology and Engineering Simulation (TES) melakukan simulasi terbang menggunakan simulator pesawat tempur F-16 di bandung, Jawa Barat, awal September 2015. PT TES menjadi salah satu perusahaan swasta di bidang pertahanan yang memproduksi simulator dan produknya telah digunakan di dalam dan luar negeri (photo : Kompas)

Di dalam kokpit pesawat tempur bertuliskan F-16, mata minus Ricky Wiradisurya (40) tajam menghadap angkasa di atas kota tanpa nama, awal September 2015. Kedua tangannya sibuk mengendalikan alat kontrol pesawat. “Kontrol pesawat ini sangat responsif. Cara mengemudikannya harus cermat apabila ingin memaksimalkan kekuatan pesawat ini,” katanya.

Ricky bukan pilot pesawat tempur sebenarnya. Bagian pesawat F-16 yang dikemudikannya hanya setengah moncong dan ruang kemudi. Pemandangan kota juga adalah rupa digital yang terpampang dalam layar lebar cembung.

“Ini simulator pesawat tempur F-16. Karena dibuat mirip aslinya, secara teknis saya mungkin bisa mengemudikan pesawat sebenarnya. Namun, tentu tidak diizinkan karena tidak punya lisensi dan jam terbang khusus,” katanya.

Simulator F-16 adalah satu dari beberapa simulator alat tempur yang dibuat PT Technology and Engineering Simulation (PT TES) Bandung, Jawa Barat. Ricky adalah satu dari beberapa tim pembuat simulator F-16 dari perusahaan industri pertahanan di Lembang ini.

Simulator multi ranpur (photo : Detik)

“Simulator F-16 ini sedang dalam tahap pengujian sebelum nantinya akan diserahkan kepada TNI Angkatan Udara. Kami juga tengah mendalami penjajakan konten lokal untuk Sukhoi,” ujar Direktur PT TES Deny Isnanto.

Deny yakin simulator buatan anak negeri memiliki masa depan cerah. Negara pengguna bisa menghemat biaya pengadaan alat tempur, menjamin keamanan personel tempur saat melatih, hingga mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain. “Negara yang kuat di sektor pertahanan tempurnya jarang menggunakan alat tempur sebenarnya untuk latihan. Simulator jadi solusi menyiapkan diri lebih tangguh,” katanya.

PT TES didirikan tahun 2004 oleh beberapa mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI), jejak PT TES lebih dulu dikenal di Malaysia. Saat banyak kalangan dalam negeri belum percaya, Pemerintah Malaysia menyediakan dana riset meningkatkan kualitas simulator pesawat tempur Hawk tahun 2006 dan diikuti simulator tank ACV300.

“Malaysia mengenal keunggulan produk Indonesia lewat simulator CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 2004,” kata Deny yang pernah menjabat Manager Simulation Technology PT DI.

Simulator Bell 412 TNI AD (photo : pusdikpenerbad)

Kepercayaan itu memicu TNI menggunakan teknologi yang sama beberapa tahun kemudian. PT TES diminta membuat simulator bagi Hawk, simulator helikopter Super Puma NAS 332, serta helikopter Bell 412. Selain itu ada juga simulator multikendaraan tempur (multiranpur) untuk tank FV101 Scorpion dan AMX 13. “Keberadaan simulator multiranpur ini lebih hemat biaya. Satu simulator bisa digunakan untuk dua kendaraan tempur,” katanya.

Deny yakin kualitas teknologi simulator buatan Bandung ini tak kalah dari produsen Kanada, Inggris, Perancis, dan Rusia. Satu-satunya perbedaan hanya dalam besaran omzet perusahaan. “Kami siap bersaing. Dengan kualitas seimbang, harganya 25 persen lebih murah,” katanya.

Menurut Deny, produk yang dibuat tidak semata-mata bicara seputar keuntungan finansial. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan apabila mendukung produksi dalam negeri.
Dia mencontohkan kemampuan anak-anak muda Indonesia yang bekerja di PT TES. Saat ini, sebanyak 50 orang dari 70 karyawan berusia di bawah 40 tahun. Ketimbang menerima tawaran dari luar negeri, anak muda itu memilih berkarya di Tanah Air sendiri.

Mandiri

Octorotor Surveillance System buatan PT Uavindo (photo : Uavindo)

Semangat yang sama ditunjukkan Robert Bessie (35) dan Ricardo Pandiangan (27) saat menguji kemampuan pesawat terbang nirawak (UAV) baling-baling yang dibuat PT. UAVINDO, perusahaan swasta bidang pertahanan di Bandung, tempat keduanya bekerja.

Empat baling-balingnya diperiksa satu per satu. Perangkat lunak hingga sambungan antarkabel yang dipasang melilit tubuh UAV yang masuk kategori berteknologi menengah hingga tinggi itu. Dengan kecepatan 15 meter per detik, banyak hal bisa dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan hingga pemantauan beragam kondisi dari udara.

Direktur Uavindo Djoko Sardjadi mengatakan, UAV baling-baling adalah satu dari beberapa UAV yang dibuat Uavindo. Mirip dengan PT TES, produk Uavindo lebih dikenal di luar negeri. Di Jepang, Uavindo ikut membantu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Universitas Chiba di Jepang membangun pesawat tanpa awak JX-1. Pesawat ini ikut membantu JMRSL melakukan penginderaan jarak berbasis gelombang mikro.

JX-1 UAV JMRSL (photo : Liputan6)

“Alat ini juga bisa dikembangkan untuk pemetaan di Indonesia, mulai dari potensi sumber daya alam, kewilayahan, hingga pemetaan areal rawan kebakaran hutan,” katanya.

Di Universitas King Fahd, Arab Saudi, karya Uavindo berupa terowongan angin (wind tunnel) untuk pengujian aerodinamika juga digunakan. Kini, Uavindo diajak memperbarui terowongan udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Terowongan ini diproyeksikan menguji pesawat buatan PT DI, N-219.

Produk buatan anak negeri itu juga bisa menghemat pengeluaran negara. Ronald Bessie, Direktur Operasional Uavindo, mengatakan, pihaknya sudah dibuktikan lewat mobil Mata Garuda yang kini dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.Mata Garuda dijejali teknologi mutakhir, mulai dari sensor topografi dan inersial hingga kamera resolusi tinggi. “Teknologi ini akurat menentukan titik mana yang rusak dan perbaikan apa yang harus dilakukan. Cara ini jelas menghemat anggaran perbaikan jalan,” ujarnya.

MTD-25 target drone (photo : Uavindo)

Seperti belum cukup, sektor pengembangan minat pendidikan dunia penerbangan yang terinspirasi dari teknologi pertahanan juga bisa coba direbut lewat penerapan simulator terjun bebas (skydiving tunnel).

Teknologi itu sudah diterapkan di Australia dan Singapura. Di balik penyediaan wahana itu untuk rekreasi, kemungkinan besar ada misi besar yang ingin dicapai, memupuk kecintaan pada pengembangan teknologi penerbangan ke depan. “Kami sudah memulainya dengan membuat teknologi simulator terjun bebas untuk Komando Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung Barat,” katanya.

Indonesia punya anak-anak bangsa yang piawai menguasainya. Giliran pemerintah yang menentukan pilihan, berdiri bersama mereka atau bergantung kepada bangsa lain.

(Kompas)

September 8, 2015

Indonesia Perlu Terus Mengatasi Defisit Pilot

EKONOMI > SEKTOR RIIL > INDONESIA PERLU TERUS MENGATASI DEFISIT PILOT
PENERBANGAN

Ikon konten premium Cetak | 8 September 2015 Ikon jumlah hit 22 dibaca   Ikon komentar 0 komentar
JAKARTA, KOMPASIndonesia harus segera mengupayakan langkah-langkah untuk memenuhi jumlah pilot yang masih jauh dari kebutuhan. Jika tidak segera diupayakan, akan terjadi kekurangan tenaga pilot yang sangat besar pada tahun-tahun mendatang.

Apalagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, akan sangat memungkinkan semua lulusan pilot di negara-negara anggota ASEAN tidak bekerja di negara asalnya.

“Kebutuhan pilot di Indonesia pada saat ini sekitar 900 setiap tahunnya. Namun, sekolah pilot milik pemerintah dan swasta yang ada saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 300 pilot per tahun,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan Wahyu S Utomo, di Jakarta, Senin (7/9).

Menurut Wahyu, setiap tahun ada sekitar 77 pesawat terbang baru yang datang ke Indonesia. Jika setiap pesawat terbang ini membutuhkan enam set pilot yang pada setiap setnya terdiri atas dua pilot, Indonesia membutuhkan 924 pilot per tahun.

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Yudhi Sari Sitompul mengatakan, sedikitnya jumlah lulusan sekolah penerbangan karena terbatasnya ruang udara untuk latihan penerbangan. “Saat ini ruang udara untuk taruna STPI berlatih hanya lima ruang udara. Idealnya STPI mempunyai 32 ruang udara,” kata Yudhi di sela-sela acara wisuda 328 siswa STPI.

Menurut Yudhi, STPI bersama BPSDM dan Kementerian Perhubungan sedang membahas penambahan ruang udara di beberapa kota, seperti Palembang, Lampung, Semarang, Rengat, dan Cilacap.

“Ruang udara ini penting karena sangat membatasi jumlah frekuensi penerbangan. STPI mempunyai 22 pesawat latih, tetapi ruang udara yang tersedia hanya lima. Jadi, pesawat banyak yang tidak bisa terbang,” ujar Yudhi.

Sekolah penerbangan baru

content
Selain menambah ruang udara untuk memperbanyak latihan penerbangan, Wahyu mengatakan, BPSDM juga sedang mempersiapkan dua sekolah penerbangan baru di Berau, Kalimantan Timur, dan di Merauke Papua.

BPSDM juga segera mendatangkan sekitar 51 pesawat latih hingga tahun 2017. Pesawat-pesawat ini akan dibagikan ke STPI dan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi serta dua sekolah baru di Berau dan Merauke.

“Setiap pesawat bisa menghasilkan lima penerbang setiap tahun. Dengan adanya tambahan ruang udara dan jumlah pesawat latih baru, diharapkan Indonesia bisa mengejar kebutuhan pilot yang cukup tinggi,” ujar Wahyu.

Pesawat yang didatangkan tersebut terdiri dari 1 helikopter, 5 pesawat bermesin ganda, dan 45 pesawat bermesin tunggal.

Mengenai 328 taruna yang baru diwisuda, Yudhi mengatakan, semua wisudawan itu berasal dari sembilan jurusan yang ada di STPI. Dari jumlah itu, penerbang yang diwisuda sebanyak 25 orang.

Ke depan, Yudhi mengatakan, pihaknya ingin meminta agar Bandara Budiarto yang terletak di kompleks STPI bisa dimanfaatkan maksimal oleh STPI. Bandara Budiarto merupakan milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, bukan milik STPI.

“Dengan demikian, siswa-siswa jurusan navigasi bisa belajar memasang alat-alat navigasi. Demikian juga dengan siswa jurusan listrik bandara juga bisa berlatih di bandara itu,” ujar Yudhi.

September 1, 2015

Setelah Lapan A2, ini 4 Satelit yang akan Diproduksi Ahli Dalam Negeri

30 Agustus 2015

Suasana ruang Assembly, Integration, and Test (AIT) atau perakitan, integrasi, dan uji di Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Rancabungur, Bogor, (photo : Detik)

Jakarta – Satelit pertama karya anak bangsa, Lapan A2/Orari sedang dipersiapkan untuk peluncuran di India pada September mendatang. Namun, seakan tak tinggal diam kini tim ahli LAPAN juga tengah berkutat membangun Lapan A3.

“Tim yang sudah selesai dengan A2 sekarang sedang membangun Lapan A3,” kata Lead Engineer Lapan A2/Orari M. Mukhayadi saat berbincang dengan detikcom di ruang kontrol LAPAN di kantor LAPAN Rancabungur, Bogor, Kamis (28/8/2015).

Saat detikcom berkesempatan melihat ruang AIT LAPAN, Lapan A2 yang kini tinggal waktu pengiriman ke India tampak diletakkan di salah satus sudut ruangan. Boks berwarna hitam merah itu masih diuji untuk kesempurnaan komponennya saat sudah mengorbit.

Satelit Lapan A1/TUB Sat (photo : Lapan)

Satelit Lapan A3

Selain sibuk menyempurnakan A2, ternyata sebagian ahli sedang sibuk merakit komponen satelit selanjutnya, yakni Lapan A3.  Dalam ruangan itu, cikal bakal A3 diletakkan dengan penuh kehati-hatian.

Untuk A3, LAPAN masih mempertahankan bentuk kotak. Namun, bobotnya akan lebih berat.

“Kami masih menggunakan kamera namun A3 lebih pada images pencitraan,” kata Kepala Pustek Lapan Rancabungur, Suhermanto, kepada detikcom, Kamis (27/8/2015).

Pada satelit A3 ini juga nanti paket datanya akan menggunakan standar internasional. Tujuannya agar pesan dari satelit bisa diterima banyak stasiun bumi namun tetap saja hanya stasiun yang diijinkan LAPAN saja yang boleh membuka dan membaca pesan tersebut.

“A3 kami rencanakan tahun depan,” terangnya.

Satelit Lapan A2 (photo : Lapan)

Satelit Lapan A4

Dalam jangka panjang, Hermanto mengatakan secara bertahap LAPAN akan membuat satelit yang lebih besar dengan bantuan supervisi Technical University Berlin, Jerman. Besar harapannya Indonesia mampu mandiri membuat satelit sendiri dalam ukuran besar di tahun 2021.

Sebenarnya LAPAN sudah berencana membuat satelit hingga Lapan A6. Untuk Lapan A4 masih akan dibuat kotak dan fokus pada kamera. Namun, A4 akan dibuat dengan kamera semi profesional. Saat ini memang LAPAN sudah menggunakan kamera  namun versi murahnya. Pihak LAPAN memesan khusus kamera untuk digunakan pada satelit serta memodifikasi kamera video yang lazim digunakan khalayak untuk menangkap momen dengan baik.

Satelit Lapan A2 siap dikirim ke India untuk diluncurkan (photo : possore)

Satelit Lapan A5

Untuk A5, LAPAN mencoba untuk masuk teknologi radar. Namun, seperti apa bentuk dan soesifikasinya sementara masih dikonsepkan karena sumber daya manusia yang masih terbatas.

“Kami akan kerjasama dengan Chiba University di Jepang karena kita masih melihat apakah teknologi kita siap?” sambungnya.

Satelit Lapan A6

Namun, untuk satelit A6, Hermanto masih belum meramu konsep yang tepat. Ia hanya berpikir bahwa satelit itu harusnya berbobot lebih dari 240 kg sehingga membutuhkan ruang pembuatan yang lebih besar. Saat ini, Pusteksat Rancabungur hanya bisa untuk tempat pembuatan satelit di bawah 100 kg.

Ia juga berharap sepanjang proses pembuatan satelit tersebut dukungan pemerintah semakin kuat mengingat pentingnya satelit untuk kebutuhan pertahanan, penanggulangan bencana dan prioritas pemerintah saat ini yakni kemaritiman.

(Detik)

August 31, 2015

BPPT dan SAAB Kerja Sama Teknologi Pertahanan

30 Agustus 2015

BPPT terus mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak (drone) khususnya untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan yang memiliki teknologi tersebut. (photo : Antara)

Tangerang, 28/8 (Antara) – BPPT dan SAAB perusahaan global yang bergerak dibidang pertahanan menjalin kerja sama untuk mengembangkan teknologi pertahanan dalam rangka menuju kemandirian pertahanan dan keamanan di Indonesia.

“Industri pertahanan kita tidak kalah dengan negara tetangga, namun untuk teknologi harus terus diperbarui mengikuti perkembangan terkini,” kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Erzi Angson Gani saat dihubungi, Jumat.

Dia menunjuk beberapa negara ASEAN, alat utama sistem persenjataan (Alutista) masih harus didatangkan dari luar negeri, sedangkan Indonesia sudah memiliki sejumlah industri strategis seperti PT Pindad, PT LEN, PT PAL, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia.

“Industri strategis yang kita miliki tinggal dikembangkan saja, salah satu caranya dengan menggandeng perusahaan yang memiliki teknologi terkini dan efisien,” ujar Erzi.

Erzi berharap Indonesia dapat mencontoh Korea Selatan dan Tiongkok yang telah dikenal memiliki industri kapal selam paling lengkap berteknologi tinggi.

UAV yang dikembangkan Saab diantaranya adalah Skeldar V-200 Maritime UAV (photo : Saab)

Terkait hal tersebut lanjut Erzi, BPPT telah menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan SAAB dibidang teknologi pertahanan pada Kamis (29/8) di Puspiptek Serpong. Kerja sama dilaksanakan mengingat perusahaan ini telah sukses menjalin kerja sama serupa dibidang pertahanan dengan negara lain.

Dia menunjuk kerja sama perusahaan ini dengan Swedia dalam mengembangkan teknologi sistem pertempuran udara yang didalamnya juga melibatkan lembaga akademis dan pemerintah.

Sedangkan di Indonesia, jelas Erzi, BPPT memiliki enam program dibidang pengembangan teknologi pertahanan yang siap dikerjasamakan diantaranya pesawat tempur, kapal selam, kapal korvet, rudal, medium tank, dan pengintai.

Salah satu yang akan digarap dengan SAAB adalah pesawat tanpa awak (drone) yang sudah banyak dikembangkan di berbagai negara untuk tujuan pertahanan dan keamanan, jela Erzi.

Erzi mengatakan dalam kerja sama tersebut diharapkan akan berlanjut tidak hanya sebatas implementasi pada industri strategis yang kita miliki, tetapi juga harus ada transfer teknologi.

“Negara-negara yang tergabung dalam G-20 telah menyepakati apabila terdapat kerja sama dibidang teknologi dikalangan negara anggota harus juga dimasukkan klausul alih teknologi, ujar Erzi.

(Antara)

August 27, 2015

BPPT Siap Bekerja Sama dengan Saab untuk Alih Teknologi

J GALUH BIMANTARA
Siang | 27 Agustus 2015 16:28 WIB 660 dibaca 0 komentar
TANGERANG SELATAN, KOMPAS — – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sepakat bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, Saab, melalui penandatanganan nota kesepahaman di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/8) siang. Kerja sama bertujuan melakukan alih teknologi maju produk industri pertahanan.

KOMPAS/J GALUH BIMANTARA
Hal tersebut sebagai bagian upaya mewujudkan kemandirian bangsa di bidang penelitian, pengembangan, dan kerekayasaan teknologi produk industri peralatan pertahanan dan keamanan nasional.

“Ini untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki kemampuan untuk pengkajian dan penerapan teknologi dari hasil kerja sama,” ujar Direktur Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT, Samudro, Kamis, dalam pidato sebelum penandatanganan nota kesepahaman.

Chief Technology Officer Saab, Pontus de Laval, menuturkan, Swedia dan Saab sudah menunjukkan contoh sukses pelaksanaan konsep triple helix (sinergi akademisi, pemerintah, dan industri) dalam memajukan riset. Salah satu hasilnya adalah pengembangan sistem pertempuran udara. “Kerja sama ini akan memperkuat semua pihak dan memungkinkan berkontribusi maksimal dalam pembuatan inovasi,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari alamat laman http://saabgroup.com/about-company/company-in-brief/, Saab merupakan perusahaan yang menyediakan produk, jasa, dan solusi terkait pertahanan militer maupun keamanan sipil. Pasar penting Saab AB saat ini adalah Eropa, Afrika Selatan, Australia, dan Amerika Serikat.

Penjualan tahunan perusahaan ini mencapai sekitar 24 miliar krona Swedia (Rp 39,9 triliun). Lebih kurang 20 persen dari penjualan digunakan untuk penelitian dan pengembangan.

July 25, 2015

Inilah 20 Universitas Terbaik Dunia, Indonesia?

univ Indonesia hanya melahirkan banyak administratur, birokrat dan koruptor hehe

SABTU, 25 JULI 2015 | 04:19 WIB

Gedung Widener Library di kampus Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 30 Juni 2015. Nama Harvard diambil dari nama John Harvard, penyumbang terbesar universitas tersebut, yang merupakan lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images

TEMPO.CO , Jakarta: Sebuah daftar yang dirilis  Centres for World University Rankings (CUWR) pada 17 Juli 2015 di Jeddah menampilkan 1000 universitas terbaik dunia. Harvard University memperoleh kasta tertinggi di daftar ini dengan nilai 100 atau sempurna.

Dari kategori negara, negeri Abang Sam juga mendominasi daftar dengan 229 universitas. Sedangkan National University of Singapore menjadi perguruan tinggi nomor satu Asia Tenggara dengan berada di peringkat 65.

Malaysia dan Thailand mendampingi Singapura dalam daftar dengan berhasil menempatkan masing-masing tiga perguruan tinggi. Mereka berhasil mempertahankan posisinya di dalam daftar CUWR dua tahun beruntun.

Lalu di mana perwakilan Indonesia? Sayangnya tak satu pun nama besar UGM, UI, atau ITB memenuhi kualifikasi 1000 universitas terbaik dunia versi CUWR.

Berikut 20 besar universitas terbaik dunia versi CUWR:

1. Harvard University
2. Stanford University
3. Massachusetts Institute of Technology
4. University of Cambridge
5. University of Oxford
6. Columbia University
7. University of California, Berkeley
8. University of Chicago
9. Princeton University
10. Cornell University
11. Yale University
12. California Institute of Technology
13. University of Tokyo
14. University of Pennsylvania
15. University of California, Los Angeles
16. John Hopkins University
17. Kyoto University
18. New York University
19. University of Michigan, Ann Arbor
20. Swiss Federal Institute of Technology in Zurich

CUWR adalah salah satu lembaga pemeringkat perguruan tinggi terbaik di dunia yang bermarkas di Arab Saudi. Dalam pengukurannya, CUWR tidak bergantung pada metode survei.

Adapun CUWR memakai 8 indikator yang mempengaruhi skor sebuah universitas, yaitu: kualitas pendidikan, kualitas pekerjaan alumni, kualitas fakultas, jumlah publikasi ilmiah, jumlah publikasi dalam jurnal bereputasi tinggi, kutipan, dampak ilmiah, dan jumlah paten.

Peringkat ini membuktikan tren warga Indonesia belajar ke luar negeri yang terus meningkat tiap tahun. Di AS, pelajar yang belajar di sana mencapai 7.921, bertambah sekitar 300 dari tahun sebelumnya. Kemudian Australia dan Malaysia dua negara favorit pelajar Indonesia melanjutkan pendidikannya, menerima lebih dari 10.000 pelajar Indoensia tiap tahunnya.

CWUR.ORG | BUSINESS INSIDER | BINTORO AGUNG S.

July 23, 2015

Bakteri Enggano Potensial Awetkan Makanan

Semoga tidak hanya jadi makalah yang disimpan dalam rak perpustakaan LIPI saja

JAKARTA, KOMPAS — Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memperoleh isolat bakteri asam laktat unggul dari bahan-bahan hayati Pulau Enggano, Bengkulu. Bakteri itu berpeluang hasilkan pengawet alami makanan, memperlambat kebusukan dibandingkan jika makanan masih berwujud pangan segar.

“Kami dapat tiga isolat bakteri unggul,” kata peneliti mikrobiologi LIPI, Sulistiani, di Bogor, Jawa Barat, dihubungi pada Rabu (22/7). Awalnya ada sekitar 300 isolat bakteri dari berbagai macam bahan koleksi dari Enggano, antara lain jeruk, kakao, pisang, salak hutan, dan nira kelapa.

Peneliti fokus mencari bakteri asam laktat unggul dari sumber nira kelapa, yakni kelapa hibrida dan kelapa tinggi. Tiga isolat bakteri unggul tadi diperoleh dari 85 isolat bakteri asal nira kelapa.

Bakteri asam laktat masuk golongan GRAS (Generally Recognized as Safe) atau aman dikonsumsi. Bakteri itu punya senyawa bioaktif bakteriosin yang berfungsi mengawetkan pangan, terutama pada sayuran, susu, dan serealia (tanaman biji-bijian).

Demi memperoleh bakteri asam laktat unggul, peneliti menguji kemampuan bakteri melawan bakteri pembusuk dan patogen. Bakteri ‘jahat’, yaituEscherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella enterica, Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Isolat dijadikan satu dengan masing-masing bakteri pembusuk atau patogen dalam cairan di microplate uji. Isolat bakteri unggul menjaga cairan uji tetap bening, sedangkan cairan keruh menunjukkan bakteri tidak unggul. “Yang bening menunjukkan bakteri asam laktat menghasilkan senyawa biopreservatif yang mampu menghambat perkembangan bakteri pembusuk dan patogen,” ujar Sulistiani.

Selanjutnya, peneliti akan mengujicoba aplikasi dengan memfermentasi bahan pangan menggunakan bakteri asam laktat unggul. Peneliti bakal menguji pada pisang dan ikan, dua komoditas pangan melimpah di Enggano. Tujuan besarnya, pisang dan ikan, setelah melalui proses pengolahan, tahan lebih lama daripada jika hanya berbentuk pangan segar.

Enggano merupakan pulau terluar Provinsi Bengkulu yang menghadap Samudra Hindia. Pulau di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara itu berjarak 175 kilometer dari Kota Bengkulu dan 513 km dari Jakarta.

Dihubungi dari Kota Bengkulu, Camat Enggano Marlianus mengatakan, kebanyakan penduduk pulau itu petani sekaligus nelayan. Hampir seluruh penduduk punya kebun pisang. Pisang segar yang tak tahan lama bisa menimbulkan kerugian, jika terlambat dijual. Apalagi penjualan ke Pulau Sumatera sangat bergantung pada pelayaran feri yang kadang tertunda.

Tahun ini saja, Sulistiani menargetkan uji laboratorium aplikasi fermentasi pada makanan selesai. Tahun depan, hasil eksperimen bisa diuji coba lebih luas, mencakup bahan pangan di sejumlah daerah.

Pakar mikrobiologi pangan LIPI Tatik Kusniati menambahkan, bakteri asam laktat sebenarnya juga berpotensi membuat bahan pangan mudah dicerna, karena menghasilkan enzim amilase yang mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Jika ditambahkan pada tepung dari bahan pangan, tepung dan produk turunannya pun mudah dicerna.

Tatik juga menguji coba pada tepung dari bahan-bahan asal Enggano, antara lain jagung, beras, melinjo, dan umbi-umbian seperti ubi kayu hutan, taka, dan talas telur. Ternyata, bakteri asam laktat yang juga berasal dari tanaman-tanaman di Enggano hanya mengandung sedikit enzim amilase. (JOG)

July 4, 2015

Indonesia Mulai Menembus Antariksa

Calon astronaut itu Rizman Adhi Nugraha. Sayang, bukan program negara.
Sabtu, 4 Juli 2015 | 05:40 WIB
Oleh : Amal Nur Ngazis
Stasiun Ruang Angkasa Internasional (Nasa.gov)

VIVA.co.id – Rencana program pengiriman siswa Indonesia untuk meneliti di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) disambut riuh oleh masyarakat Indonesia.

Mayoritas menyampaikan rasa bangga sebagai warga negara menyaksikan pelajar Indonesia nanti menghasilkan riset di NASA dan hasilnya diuji coba di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS).

Masyarakat menyambut positif rencana riset siswa yang akan diuji di laboratorium stasiun tersebut dan dipantau dari laboratorium di daratan Bumi. Kebanggaan itu seakan menggambarkan “rasa haus” masyarakat atas pencapaian Indonesia di wilayah luar Bumi.

Program riset siswa tersebut digalang Surya University dan Indonesia Tranformation Network atas inisiasi peneliti Indonesia, Joko W Saputro yang sudah lama, 21 tahun, belajar dan mengajar di negeri Paman Sam.

Pria yang akrab disapa Prof. Sap itu mengatakan, awalnya ia bertemu dengan peneliti NASA dan kemudian meminta kuota dalam roket peluncur NASA yang akan terbang ke ISS.

“Jadi, lima minggu lalu saya ketemu dengan NASA. Saya kemudian minta slot ke NASA untuk dua tim bikin eksperimen yang dititipkan di roket yang akan naik ke ISS. Saya pesan dua eksperimen,” kata pria yang akrab disapa Prof. Sap kepada VIVA.co.id, Rabu 1 Juli 2015.

Gayung pun bersambut. NASA mengabulkan permintaan Prof. Sap. Segera, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu langsung mengontak fisikawan Yohanes Surya, koleganya saat belajar di Amerika Serikat.

Setelah dicari, program ini telah menemukan dua tim SMA yaitu SMA Unggul Del, Sumatera Utara dan gabungan SMA di bawah Surya Institute.

Menurut jadwal, tim siswa yang terpilih dalam program ini akan menjalankan riset mini selama satu hingga dua pekan di laboratorium mini ISS di Amerika Serikat. Uji coba hasil risetnya dilakukan Desember 2015.

Disebutkan, hasil akhir riset siswa Indonesia, yang berupa modul eksperimen, akan diserahkan ke Badan Antariksa AS (NASA) pada awal Januari 2016, sebelum diluncurkan ke ISS pada 2 April 2016.

Peluncuran hasil riset siswa Indonesia akan menumpang muatan di roket SpaceX CRS-8. Prof. Sap mengatakan, tiap roket yang meluncur ke ISS akan membawa bobot dua ton. Nantinya, riset siswa Indonesia itu akan diuji di Laboratorium Nasional AS di ISS.

Sebagai langkah awal menjalankan program ini, dua guru dari masing-masing tim SMA akan dikirimkan ke NASA pada akhir Juli ini. Empat guru itu, yang akan menjadi pendamping tim masing-masing.

“Empat guru kami bawa ke California, untuk training. Kasih tahu cara desain eksperimen untuk di antariksa itu seperti apa,” tutur Prof. Sap yang merupakan doktor jebolan University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat itu.

Sepulang dari pelatihan, guru tersebut wajib menularkan ilmunya ke tim siswanya.

Sayangnya, sang inisiator program mengatakan, program ini diluncurkan tanpa uluran bantuan negara, tak ada sumbangan dana dari pemerintah.

Prof. Sap mengatakan, saat ini tengah berupaya keras menggalang dan mencari dana dari sponsor untuk mendanai misi riset yang butuh biaya setidaknya Rp200 juta untuk satu tim.

Praktis selama ini, Prof. Sap mengaku saweran dengan jaringannya untuk mendanai program ini. Miris, negara tak hadir.

Padahal, program ini bisa dibilang istimewa. Sebab, jika berhasil diuji di ISS, maka riset siswa Tanah Air itu akan menjadi riset pertama Indonesia yang ada di ISS. Selama ini, belum ada nama Indonesia hadir di antariksa. Jangankan untuk astronaut, untuk riset pun simbol Indonesia belum menembus.

Hal itu dikuatkan dengan keterangan dari Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Clara Yatini. Ia mengatakan, sejauh ini, kontribusi Indonesia dalam riset dalam dunia antariksa hanyalah menyumbangkan material penelitian.

“Kalau untuk hadir di sana (ISS) belum. Yang ada kerja sama dengan modul untuk diletakkan di ISS milik Jepang, Kibo. Itu kerja sama dengan ITB,” ujar Clara kepadaVIVA.co.id.

Kerja sama dengan negeri Matahari Terbit itu pun, kata Clara, masih tahap diskusi dan baru diluncurkan ke ISS pada 2017. Artinya, riset peneliti ITB dan Jepang itu akan didahului oleh pengujian eksperimen dari siswa SMA Indonesia.

Clara mengatakan, selama ini riset keantariksaan dari peneliti Indonesia masih menjalankan uji coba di daratan Bumi saja.

Misalnya, peneliti Indonesia melakukan simulasi dengan peralatan untuk meniru kondisi mikro gravitasi di antariksa. Pencapaian terbaik peneliti Indonesia dalam riset antariksa yaitu sebatas berkontribusi mengirimkan material penelitian di ISS. Peneliti Tanah Air tak terlibat.

“Kita kirimkan biji diterbangkan ke sana dan dikembalikan dan ditanam ke Bumi,” tutur perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang itu.

Inspirasi generasi muda

Prof. Sap mengatakan, program yang dicetuskan itu bertujuan menginspirasi kepada generasi muda bangsa untuk melahirkan karya dunia.

Program riset itu akan menjadi ujian sejauh mana kemajuan sains generasi muda Indonesia dalam melahirkan eksperimen kelas dunia. Dia mendorong dua tim SMA terpilih untuk bereksperimen masalah yang relevan diterapkan di Tanah Air tercinta. Misalnya, riset padi atau tempe di antariksa.

Meski risetnya jauh di luar angkasa, tapi para siswa tetap bisa memantau eksperimen mereka dari Bumi. Sebab, pada uji coba hasil riset itu akan dipasang monitor berupa kamera, termometer atau alat ukur lainnya.

Sebagai bentuk kebanggaan, nama Indonesia bisa hadir di ISS. Prof. Sap berencana menambahkan bendera Indonesia dan logo garuda pada kotak eksperimen yang dikirim ke antariksa.

“Saya ingin ngipasi (memacu) inspirasi kecintaan sains antariksa ini menular di Indonesia,” ujarnya.

Prof. Sap ingin memanfaatkan momentum hasil riset siswa Indonesia di ISS untuk makin menggaungkan program ilmiah dari Indonesia. Ia juga berharap dengan terus mendapat kesempatan riset, kualitas riset Indonesia di NASA dan antariksa bisa makin berkembang.

“Yang lain, riset sudah canggih, di ISS mereka meneliti bagaimana manusia bisa hidup di antariksa dalam jangka panjang. Penelitian sudah sampai astromedical science, ini untuk persiapan ke Mars,” kata dia.

Untuk itu, ia berharap pada tahun-tahun selanjutnya, riset dari peneliti dan siswa Indonesia bisa mendapatkan tempat di ISS maupun NASA.

Tak hanya soal riset, Prof. Sap berharap nantinya NASA mau untuk memberikan ruang bagi astronaut asal Indonesia bisa terbang ke ISS.

Hal itu untuk memecah kebuntuan kehadiran astronaut Indonesia di antariksa. Terakhir kali, Indonesia serius untuk mengirimkan astronaut sudah lama, yakni pada 1986 melalui calon astronaut Pratiwi Sudarmono.

Namun sayangnya, kesempatan Pratiwi itu gagal lantaran pesawat ulang alik Challenger, yang membawa misi NASA sebelum misi yang dijalani Pratiwi, meledak. Akhirnya, NASA membatalkan beberapa misi penerbangan ke antariksa, termasuk pesawat ulang alik Columbia yang akan diikuti oleh Pratiwi.

Calon astronaut Indonesia

Saat Indonesia absen dari pengiriman astronaut sejak 1980-an, jelang peralihan tahun 2013 ke 2014, ada harapan astronaut Tanah Air yang akan mewakili Indonesia di antariksa.

Calon astronaut tersebut yaitu Rizman Adhi Nugraha. Rizman memang bukan “lahir” dari program pemerintah, melainkan muncul dari sebuah kompetisi parfum, Axe Apollo Space Academy.

Sebuah ajang kompetisi global yang menjanjikan pemenangnya bisa terbang ke luar angkasa. Rizman menjadi salah satu pemenang kompetisi global tersebut.

Rizman pun ikut kompetisi setelah ia “bertarung” dengan 80 ribuan pendaftar di Indonesia, 40 peserta dalam tingkatan National Space Camp, dan berkompetisi dengan 105 perserta lainnya di tingkatan Global Space Camp di Amerika Serikat.

Melalui dua tahapan pengujian itu, Rizman melewati beragam tantangan yang membangun menguji fisik dan mental peserta. Akhirnya, pada penghujung 2013, Rizman terpilih menjadi salah satu dari 23 peserta yang berhak untuk terbang ke luar angkasa.

“Dan akhirnya terpilih, Alhamdulillah ini mungkin rezeki saya,” kata dia.

Rizman menyadari, penerbangannya ke titik nol gravitasi itu berbeda dengan misi astronaut badan antariksa reguler. Menurut dia, astronaut reguler menjalani tes yang lebih berat dan berada di antariksa serta menjalankan misi dalam jangka panjang.

“Kalau kayak itu (astronaut NASA) lebih beda. Astronaut dari NASA kan ada misi khususnya, di satelit tinggal berapa lama itu, memang ada yang lebih spesifik, jadi beda, ya. Lebih berat astronaut reguler,” kata dia.

Sementara itu, untuk penerbangan yang dijalaninya pada akhir 2015 atau paling lambat akhir 2016, ia mengatakan hanya “mencicipi” antariksa selama 6 menit. Tak ada aktivitas penelitian atau pengamatan. Rizman akan melalui itu hanya sekadar melihat dan merekam pemandangan Bumi dari luar angkasa.

Meski cuma sekejap dan tak menjalankan misi khusus, pemuda asal Bangka Belitung tersebut mengatakan, momen itu akan menjadi hal yang khusus bagi dia secara pribadi dan Indonesia.

“Jadi, momen 6 menit itu bisa mengubah sejarah Indonesia, jangan sampai kalah dengan negara tetangga, Malaysia saja sudah (kirimkan astronaut), kita belum ada satu pun,” ujar Rizman kepada VIVA.co.id di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis malam, 2 Juli 2015.

Jika ia terbang ke luar angkasa, kata Rizman, bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu “mengirimkan” warganya ke antariksa.

Rizman mengatakan, penerbangannya juga membawa pesan ke generasi muda untuk tak patah arang dalam menggapai mimpi. Terlepas ambisi apa pun, selama itu positif haruslah diusahakan secara keras agar bisa tercapai.
Tak punya program

Di tengah munculnya riset dan astronaut yang membawa nama Indonesia, pemerintah pun bisa dibilang angkat tangan terkait dengan program keantariksaan.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, Clara Yatini, mengatakan, pemerintah hingga hari ini tak memiliki program nasional antariksa, terlebih untuk pengiriman astronaut. Dengan demikian, lembaga sekelas Lapan pun bingung.

“Belum ada programnya itu, rasanya siapa (lembaga) yang harus jadileader-nya, belum tahu. Rasanya, siapa yang dipersiapkan untuk jadi astronaut itu, nggak ada ya, karena program nggak ada,” kata dia.

Maka, kata Clara, sudah seharusnya program nasional riset antariksa harus mendapat sokongan dana pemerintah. Ia yakin, jika pemerintah ada komitmen, banyak peneliti yang akan mendukung program tersebut.

Tapi, Clara menyadari kenapa program antariksa dan astronaut belum menjadi prioritas. Sebab, untuk mengirimkan misi ke luar angkasa itu butuh biaya yang sangat besar.

Untuk meluncurkan roket beserta muatan ke luar angkasa setidaknya butuh US$70 juta atau Rp1 triliun. Belum lagi anggaran riset nasional di Indoensia tergolong sangat kecil.

Perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang, itu membandingkan bagaimana pemerintah Malaysia peduli dengan program antariksa, sehingga negeri jiran itu bisa mengirimkan astronautnya ke antariksa.

“Mereka (astronaut Malaysia) didanai pemerintah, mereka dapatkan pelatihan di luar, di NASA, dibiayai,” kata dia.

Dengan absennya pemerintah dalam program astronaut, menurut Clara, agar bisa mengirimkan astronaut bisa dengan menggalang dukungan dana dari luar atau swasta. Menurut dia, hal itu sah-sah saja sepanjang pemerintah tak mampu mendanai program.

“Saya pribadi pasti akan mendukung, sayangnya pihak asing belum ada yang mau merekrut (astronaut dari Indonesia),” kata dia.

Pihak asing tak mau merekut bukan karena daya tawar Indonesia maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia rendah. Menurut dia, jika ikut program NASA atau badan antariksa lain, juga tetap perlu memikirkan sokongan dana.

Jika pun ikut NASA, kata Clara, pasti badan antariksa AS itu akan meminta biaya untuk mengakomodasi peluncuran tersebut.

Hal yang paling mungkin saat ini, dia menambahkan, adalah mengirimkan hasil riset peneliti Indonesia untuk dititipkan roket dan diuji di ISS.

Untuk itu, ia memuji gagasan atau ide uji coba hasil riset siswa Indonesia di ISS. Clara pun mengomentari pancapaian Rizman.

“Bisa seperti itu bagus sekali, apalagi nanti misalnya Rizman dititipin penelitian, itu bagus sekali. Tapi, kan itu swasta dan mereka pasti motivasinya kan untung rugi sih,” katanya.

Waktu singkat yang dimiliki Rizman sebenarnya, kata dia, tak menjadi kendala untuk menjalankan riset di antariksa.

Clara mencontohkan di tingkatan Asia, pernah ada program parabolic flight yang disokong Jepang. Misi yang diikuti pelajar dan mahasiswa itu meneliti dan melakukan percobaan di wilayah nol gravitasi, meski waktunya kurang dari 6 menit.

“6 menit (Rizman) rasanya percobaan juga bisa,” kata dia.

Di tengah kebuntuan dukungan dana tersebut, Clara pun tersenyum saat mendengar kelakar, mungkin perlu menunggu kaum filantropi yang gila sains menggelontorkan program astronaut Indonesia.

“Industri (swasta) kita memang belum melihat (kebutuhan riset antariksa). Sulit bagi industri swasta karena kan orientasinya bisnis, sulit,” kata dia.

Ia menambahkan, di tengah kekosongan program astronaut dan riset antariksa, ia mengharapkan ada pihak yang berani usul ke pemerintah secara intens agar melahirkan program astronaut.

“Harus ada yang berani mengusulkan, harus didukung, juga oleh yang lain. Misalnya Lapan yang usulkan, tapi kalau sendirian nggak mungkin, perlu konsorsium usulkan itu, biar lebih kuat. Lapan tak bisa sendiri,” tuturnya. (art)