Archive for ‘Indonesia techno research education news’

September 16, 2015

Industri Pertahanan Swasta : Menawarkan Kemandirian Teknologi

 Lanjutkan !
16 September 2015

Awak PT Technology and Engineering Simulation (TES) melakukan simulasi terbang menggunakan simulator pesawat tempur F-16 di bandung, Jawa Barat, awal September 2015. PT TES menjadi salah satu perusahaan swasta di bidang pertahanan yang memproduksi simulator dan produknya telah digunakan di dalam dan luar negeri (photo : Kompas)

Di dalam kokpit pesawat tempur bertuliskan F-16, mata minus Ricky Wiradisurya (40) tajam menghadap angkasa di atas kota tanpa nama, awal September 2015. Kedua tangannya sibuk mengendalikan alat kontrol pesawat. “Kontrol pesawat ini sangat responsif. Cara mengemudikannya harus cermat apabila ingin memaksimalkan kekuatan pesawat ini,” katanya.

Ricky bukan pilot pesawat tempur sebenarnya. Bagian pesawat F-16 yang dikemudikannya hanya setengah moncong dan ruang kemudi. Pemandangan kota juga adalah rupa digital yang terpampang dalam layar lebar cembung.

“Ini simulator pesawat tempur F-16. Karena dibuat mirip aslinya, secara teknis saya mungkin bisa mengemudikan pesawat sebenarnya. Namun, tentu tidak diizinkan karena tidak punya lisensi dan jam terbang khusus,” katanya.

Simulator F-16 adalah satu dari beberapa simulator alat tempur yang dibuat PT Technology and Engineering Simulation (PT TES) Bandung, Jawa Barat. Ricky adalah satu dari beberapa tim pembuat simulator F-16 dari perusahaan industri pertahanan di Lembang ini.

Simulator multi ranpur (photo : Detik)

“Simulator F-16 ini sedang dalam tahap pengujian sebelum nantinya akan diserahkan kepada TNI Angkatan Udara. Kami juga tengah mendalami penjajakan konten lokal untuk Sukhoi,” ujar Direktur PT TES Deny Isnanto.

Deny yakin simulator buatan anak negeri memiliki masa depan cerah. Negara pengguna bisa menghemat biaya pengadaan alat tempur, menjamin keamanan personel tempur saat melatih, hingga mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain. “Negara yang kuat di sektor pertahanan tempurnya jarang menggunakan alat tempur sebenarnya untuk latihan. Simulator jadi solusi menyiapkan diri lebih tangguh,” katanya.

PT TES didirikan tahun 2004 oleh beberapa mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI), jejak PT TES lebih dulu dikenal di Malaysia. Saat banyak kalangan dalam negeri belum percaya, Pemerintah Malaysia menyediakan dana riset meningkatkan kualitas simulator pesawat tempur Hawk tahun 2006 dan diikuti simulator tank ACV300.

“Malaysia mengenal keunggulan produk Indonesia lewat simulator CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 2004,” kata Deny yang pernah menjabat Manager Simulation Technology PT DI.

Simulator Bell 412 TNI AD (photo : pusdikpenerbad)

Kepercayaan itu memicu TNI menggunakan teknologi yang sama beberapa tahun kemudian. PT TES diminta membuat simulator bagi Hawk, simulator helikopter Super Puma NAS 332, serta helikopter Bell 412. Selain itu ada juga simulator multikendaraan tempur (multiranpur) untuk tank FV101 Scorpion dan AMX 13. “Keberadaan simulator multiranpur ini lebih hemat biaya. Satu simulator bisa digunakan untuk dua kendaraan tempur,” katanya.

Deny yakin kualitas teknologi simulator buatan Bandung ini tak kalah dari produsen Kanada, Inggris, Perancis, dan Rusia. Satu-satunya perbedaan hanya dalam besaran omzet perusahaan. “Kami siap bersaing. Dengan kualitas seimbang, harganya 25 persen lebih murah,” katanya.

Menurut Deny, produk yang dibuat tidak semata-mata bicara seputar keuntungan finansial. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan apabila mendukung produksi dalam negeri.
Dia mencontohkan kemampuan anak-anak muda Indonesia yang bekerja di PT TES. Saat ini, sebanyak 50 orang dari 70 karyawan berusia di bawah 40 tahun. Ketimbang menerima tawaran dari luar negeri, anak muda itu memilih berkarya di Tanah Air sendiri.

Mandiri

Octorotor Surveillance System buatan PT Uavindo (photo : Uavindo)

Semangat yang sama ditunjukkan Robert Bessie (35) dan Ricardo Pandiangan (27) saat menguji kemampuan pesawat terbang nirawak (UAV) baling-baling yang dibuat PT. UAVINDO, perusahaan swasta bidang pertahanan di Bandung, tempat keduanya bekerja.

Empat baling-balingnya diperiksa satu per satu. Perangkat lunak hingga sambungan antarkabel yang dipasang melilit tubuh UAV yang masuk kategori berteknologi menengah hingga tinggi itu. Dengan kecepatan 15 meter per detik, banyak hal bisa dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan hingga pemantauan beragam kondisi dari udara.

Direktur Uavindo Djoko Sardjadi mengatakan, UAV baling-baling adalah satu dari beberapa UAV yang dibuat Uavindo. Mirip dengan PT TES, produk Uavindo lebih dikenal di luar negeri. Di Jepang, Uavindo ikut membantu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Universitas Chiba di Jepang membangun pesawat tanpa awak JX-1. Pesawat ini ikut membantu JMRSL melakukan penginderaan jarak berbasis gelombang mikro.

JX-1 UAV JMRSL (photo : Liputan6)

“Alat ini juga bisa dikembangkan untuk pemetaan di Indonesia, mulai dari potensi sumber daya alam, kewilayahan, hingga pemetaan areal rawan kebakaran hutan,” katanya.

Di Universitas King Fahd, Arab Saudi, karya Uavindo berupa terowongan angin (wind tunnel) untuk pengujian aerodinamika juga digunakan. Kini, Uavindo diajak memperbarui terowongan udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Terowongan ini diproyeksikan menguji pesawat buatan PT DI, N-219.

Produk buatan anak negeri itu juga bisa menghemat pengeluaran negara. Ronald Bessie, Direktur Operasional Uavindo, mengatakan, pihaknya sudah dibuktikan lewat mobil Mata Garuda yang kini dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.Mata Garuda dijejali teknologi mutakhir, mulai dari sensor topografi dan inersial hingga kamera resolusi tinggi. “Teknologi ini akurat menentukan titik mana yang rusak dan perbaikan apa yang harus dilakukan. Cara ini jelas menghemat anggaran perbaikan jalan,” ujarnya.

MTD-25 target drone (photo : Uavindo)

Seperti belum cukup, sektor pengembangan minat pendidikan dunia penerbangan yang terinspirasi dari teknologi pertahanan juga bisa coba direbut lewat penerapan simulator terjun bebas (skydiving tunnel).

Teknologi itu sudah diterapkan di Australia dan Singapura. Di balik penyediaan wahana itu untuk rekreasi, kemungkinan besar ada misi besar yang ingin dicapai, memupuk kecintaan pada pengembangan teknologi penerbangan ke depan. “Kami sudah memulainya dengan membuat teknologi simulator terjun bebas untuk Komando Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung Barat,” katanya.

Indonesia punya anak-anak bangsa yang piawai menguasainya. Giliran pemerintah yang menentukan pilihan, berdiri bersama mereka atau bergantung kepada bangsa lain.

(Kompas)

September 8, 2015

Indonesia Perlu Terus Mengatasi Defisit Pilot

EKONOMI > SEKTOR RIIL > INDONESIA PERLU TERUS MENGATASI DEFISIT PILOT
PENERBANGAN

Ikon konten premium Cetak | 8 September 2015 Ikon jumlah hit 22 dibaca   Ikon komentar 0 komentar
JAKARTA, KOMPASIndonesia harus segera mengupayakan langkah-langkah untuk memenuhi jumlah pilot yang masih jauh dari kebutuhan. Jika tidak segera diupayakan, akan terjadi kekurangan tenaga pilot yang sangat besar pada tahun-tahun mendatang.

Apalagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, akan sangat memungkinkan semua lulusan pilot di negara-negara anggota ASEAN tidak bekerja di negara asalnya.

“Kebutuhan pilot di Indonesia pada saat ini sekitar 900 setiap tahunnya. Namun, sekolah pilot milik pemerintah dan swasta yang ada saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 300 pilot per tahun,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan Wahyu S Utomo, di Jakarta, Senin (7/9).

Menurut Wahyu, setiap tahun ada sekitar 77 pesawat terbang baru yang datang ke Indonesia. Jika setiap pesawat terbang ini membutuhkan enam set pilot yang pada setiap setnya terdiri atas dua pilot, Indonesia membutuhkan 924 pilot per tahun.

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Yudhi Sari Sitompul mengatakan, sedikitnya jumlah lulusan sekolah penerbangan karena terbatasnya ruang udara untuk latihan penerbangan. “Saat ini ruang udara untuk taruna STPI berlatih hanya lima ruang udara. Idealnya STPI mempunyai 32 ruang udara,” kata Yudhi di sela-sela acara wisuda 328 siswa STPI.

Menurut Yudhi, STPI bersama BPSDM dan Kementerian Perhubungan sedang membahas penambahan ruang udara di beberapa kota, seperti Palembang, Lampung, Semarang, Rengat, dan Cilacap.

“Ruang udara ini penting karena sangat membatasi jumlah frekuensi penerbangan. STPI mempunyai 22 pesawat latih, tetapi ruang udara yang tersedia hanya lima. Jadi, pesawat banyak yang tidak bisa terbang,” ujar Yudhi.

Sekolah penerbangan baru

content
Selain menambah ruang udara untuk memperbanyak latihan penerbangan, Wahyu mengatakan, BPSDM juga sedang mempersiapkan dua sekolah penerbangan baru di Berau, Kalimantan Timur, dan di Merauke Papua.

BPSDM juga segera mendatangkan sekitar 51 pesawat latih hingga tahun 2017. Pesawat-pesawat ini akan dibagikan ke STPI dan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi serta dua sekolah baru di Berau dan Merauke.

“Setiap pesawat bisa menghasilkan lima penerbang setiap tahun. Dengan adanya tambahan ruang udara dan jumlah pesawat latih baru, diharapkan Indonesia bisa mengejar kebutuhan pilot yang cukup tinggi,” ujar Wahyu.

Pesawat yang didatangkan tersebut terdiri dari 1 helikopter, 5 pesawat bermesin ganda, dan 45 pesawat bermesin tunggal.

Mengenai 328 taruna yang baru diwisuda, Yudhi mengatakan, semua wisudawan itu berasal dari sembilan jurusan yang ada di STPI. Dari jumlah itu, penerbang yang diwisuda sebanyak 25 orang.

Ke depan, Yudhi mengatakan, pihaknya ingin meminta agar Bandara Budiarto yang terletak di kompleks STPI bisa dimanfaatkan maksimal oleh STPI. Bandara Budiarto merupakan milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, bukan milik STPI.

“Dengan demikian, siswa-siswa jurusan navigasi bisa belajar memasang alat-alat navigasi. Demikian juga dengan siswa jurusan listrik bandara juga bisa berlatih di bandara itu,” ujar Yudhi.

September 1, 2015

Setelah Lapan A2, ini 4 Satelit yang akan Diproduksi Ahli Dalam Negeri

30 Agustus 2015

Suasana ruang Assembly, Integration, and Test (AIT) atau perakitan, integrasi, dan uji di Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Rancabungur, Bogor, (photo : Detik)

Jakarta – Satelit pertama karya anak bangsa, Lapan A2/Orari sedang dipersiapkan untuk peluncuran di India pada September mendatang. Namun, seakan tak tinggal diam kini tim ahli LAPAN juga tengah berkutat membangun Lapan A3.

“Tim yang sudah selesai dengan A2 sekarang sedang membangun Lapan A3,” kata Lead Engineer Lapan A2/Orari M. Mukhayadi saat berbincang dengan detikcom di ruang kontrol LAPAN di kantor LAPAN Rancabungur, Bogor, Kamis (28/8/2015).

Saat detikcom berkesempatan melihat ruang AIT LAPAN, Lapan A2 yang kini tinggal waktu pengiriman ke India tampak diletakkan di salah satus sudut ruangan. Boks berwarna hitam merah itu masih diuji untuk kesempurnaan komponennya saat sudah mengorbit.

Satelit Lapan A1/TUB Sat (photo : Lapan)

Satelit Lapan A3

Selain sibuk menyempurnakan A2, ternyata sebagian ahli sedang sibuk merakit komponen satelit selanjutnya, yakni Lapan A3.  Dalam ruangan itu, cikal bakal A3 diletakkan dengan penuh kehati-hatian.

Untuk A3, LAPAN masih mempertahankan bentuk kotak. Namun, bobotnya akan lebih berat.

“Kami masih menggunakan kamera namun A3 lebih pada images pencitraan,” kata Kepala Pustek Lapan Rancabungur, Suhermanto, kepada detikcom, Kamis (27/8/2015).

Pada satelit A3 ini juga nanti paket datanya akan menggunakan standar internasional. Tujuannya agar pesan dari satelit bisa diterima banyak stasiun bumi namun tetap saja hanya stasiun yang diijinkan LAPAN saja yang boleh membuka dan membaca pesan tersebut.

“A3 kami rencanakan tahun depan,” terangnya.

Satelit Lapan A2 (photo : Lapan)

Satelit Lapan A4

Dalam jangka panjang, Hermanto mengatakan secara bertahap LAPAN akan membuat satelit yang lebih besar dengan bantuan supervisi Technical University Berlin, Jerman. Besar harapannya Indonesia mampu mandiri membuat satelit sendiri dalam ukuran besar di tahun 2021.

Sebenarnya LAPAN sudah berencana membuat satelit hingga Lapan A6. Untuk Lapan A4 masih akan dibuat kotak dan fokus pada kamera. Namun, A4 akan dibuat dengan kamera semi profesional. Saat ini memang LAPAN sudah menggunakan kamera  namun versi murahnya. Pihak LAPAN memesan khusus kamera untuk digunakan pada satelit serta memodifikasi kamera video yang lazim digunakan khalayak untuk menangkap momen dengan baik.

Satelit Lapan A2 siap dikirim ke India untuk diluncurkan (photo : possore)

Satelit Lapan A5

Untuk A5, LAPAN mencoba untuk masuk teknologi radar. Namun, seperti apa bentuk dan soesifikasinya sementara masih dikonsepkan karena sumber daya manusia yang masih terbatas.

“Kami akan kerjasama dengan Chiba University di Jepang karena kita masih melihat apakah teknologi kita siap?” sambungnya.

Satelit Lapan A6

Namun, untuk satelit A6, Hermanto masih belum meramu konsep yang tepat. Ia hanya berpikir bahwa satelit itu harusnya berbobot lebih dari 240 kg sehingga membutuhkan ruang pembuatan yang lebih besar. Saat ini, Pusteksat Rancabungur hanya bisa untuk tempat pembuatan satelit di bawah 100 kg.

Ia juga berharap sepanjang proses pembuatan satelit tersebut dukungan pemerintah semakin kuat mengingat pentingnya satelit untuk kebutuhan pertahanan, penanggulangan bencana dan prioritas pemerintah saat ini yakni kemaritiman.

(Detik)

August 31, 2015

BPPT dan SAAB Kerja Sama Teknologi Pertahanan

30 Agustus 2015

BPPT terus mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak (drone) khususnya untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan yang memiliki teknologi tersebut. (photo : Antara)

Tangerang, 28/8 (Antara) – BPPT dan SAAB perusahaan global yang bergerak dibidang pertahanan menjalin kerja sama untuk mengembangkan teknologi pertahanan dalam rangka menuju kemandirian pertahanan dan keamanan di Indonesia.

“Industri pertahanan kita tidak kalah dengan negara tetangga, namun untuk teknologi harus terus diperbarui mengikuti perkembangan terkini,” kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Erzi Angson Gani saat dihubungi, Jumat.

Dia menunjuk beberapa negara ASEAN, alat utama sistem persenjataan (Alutista) masih harus didatangkan dari luar negeri, sedangkan Indonesia sudah memiliki sejumlah industri strategis seperti PT Pindad, PT LEN, PT PAL, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia.

“Industri strategis yang kita miliki tinggal dikembangkan saja, salah satu caranya dengan menggandeng perusahaan yang memiliki teknologi terkini dan efisien,” ujar Erzi.

Erzi berharap Indonesia dapat mencontoh Korea Selatan dan Tiongkok yang telah dikenal memiliki industri kapal selam paling lengkap berteknologi tinggi.

UAV yang dikembangkan Saab diantaranya adalah Skeldar V-200 Maritime UAV (photo : Saab)

Terkait hal tersebut lanjut Erzi, BPPT telah menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan SAAB dibidang teknologi pertahanan pada Kamis (29/8) di Puspiptek Serpong. Kerja sama dilaksanakan mengingat perusahaan ini telah sukses menjalin kerja sama serupa dibidang pertahanan dengan negara lain.

Dia menunjuk kerja sama perusahaan ini dengan Swedia dalam mengembangkan teknologi sistem pertempuran udara yang didalamnya juga melibatkan lembaga akademis dan pemerintah.

Sedangkan di Indonesia, jelas Erzi, BPPT memiliki enam program dibidang pengembangan teknologi pertahanan yang siap dikerjasamakan diantaranya pesawat tempur, kapal selam, kapal korvet, rudal, medium tank, dan pengintai.

Salah satu yang akan digarap dengan SAAB adalah pesawat tanpa awak (drone) yang sudah banyak dikembangkan di berbagai negara untuk tujuan pertahanan dan keamanan, jela Erzi.

Erzi mengatakan dalam kerja sama tersebut diharapkan akan berlanjut tidak hanya sebatas implementasi pada industri strategis yang kita miliki, tetapi juga harus ada transfer teknologi.

“Negara-negara yang tergabung dalam G-20 telah menyepakati apabila terdapat kerja sama dibidang teknologi dikalangan negara anggota harus juga dimasukkan klausul alih teknologi, ujar Erzi.

(Antara)

August 27, 2015

BPPT Siap Bekerja Sama dengan Saab untuk Alih Teknologi

J GALUH BIMANTARA
Siang | 27 Agustus 2015 16:28 WIB 660 dibaca 0 komentar
TANGERANG SELATAN, KOMPAS — – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sepakat bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, Saab, melalui penandatanganan nota kesepahaman di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/8) siang. Kerja sama bertujuan melakukan alih teknologi maju produk industri pertahanan.

KOMPAS/J GALUH BIMANTARA
Hal tersebut sebagai bagian upaya mewujudkan kemandirian bangsa di bidang penelitian, pengembangan, dan kerekayasaan teknologi produk industri peralatan pertahanan dan keamanan nasional.

“Ini untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki kemampuan untuk pengkajian dan penerapan teknologi dari hasil kerja sama,” ujar Direktur Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT, Samudro, Kamis, dalam pidato sebelum penandatanganan nota kesepahaman.

Chief Technology Officer Saab, Pontus de Laval, menuturkan, Swedia dan Saab sudah menunjukkan contoh sukses pelaksanaan konsep triple helix (sinergi akademisi, pemerintah, dan industri) dalam memajukan riset. Salah satu hasilnya adalah pengembangan sistem pertempuran udara. “Kerja sama ini akan memperkuat semua pihak dan memungkinkan berkontribusi maksimal dalam pembuatan inovasi,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari alamat laman http://saabgroup.com/about-company/company-in-brief/, Saab merupakan perusahaan yang menyediakan produk, jasa, dan solusi terkait pertahanan militer maupun keamanan sipil. Pasar penting Saab AB saat ini adalah Eropa, Afrika Selatan, Australia, dan Amerika Serikat.

Penjualan tahunan perusahaan ini mencapai sekitar 24 miliar krona Swedia (Rp 39,9 triliun). Lebih kurang 20 persen dari penjualan digunakan untuk penelitian dan pengembangan.

July 25, 2015

Inilah 20 Universitas Terbaik Dunia, Indonesia?

univ Indonesia hanya melahirkan banyak administratur, birokrat dan koruptor hehe

SABTU, 25 JULI 2015 | 04:19 WIB

Gedung Widener Library di kampus Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 30 Juni 2015. Nama Harvard diambil dari nama John Harvard, penyumbang terbesar universitas tersebut, yang merupakan lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images

TEMPO.CO , Jakarta: Sebuah daftar yang dirilis  Centres for World University Rankings (CUWR) pada 17 Juli 2015 di Jeddah menampilkan 1000 universitas terbaik dunia. Harvard University memperoleh kasta tertinggi di daftar ini dengan nilai 100 atau sempurna.

Dari kategori negara, negeri Abang Sam juga mendominasi daftar dengan 229 universitas. Sedangkan National University of Singapore menjadi perguruan tinggi nomor satu Asia Tenggara dengan berada di peringkat 65.

Malaysia dan Thailand mendampingi Singapura dalam daftar dengan berhasil menempatkan masing-masing tiga perguruan tinggi. Mereka berhasil mempertahankan posisinya di dalam daftar CUWR dua tahun beruntun.

Lalu di mana perwakilan Indonesia? Sayangnya tak satu pun nama besar UGM, UI, atau ITB memenuhi kualifikasi 1000 universitas terbaik dunia versi CUWR.

Berikut 20 besar universitas terbaik dunia versi CUWR:

1. Harvard University
2. Stanford University
3. Massachusetts Institute of Technology
4. University of Cambridge
5. University of Oxford
6. Columbia University
7. University of California, Berkeley
8. University of Chicago
9. Princeton University
10. Cornell University
11. Yale University
12. California Institute of Technology
13. University of Tokyo
14. University of Pennsylvania
15. University of California, Los Angeles
16. John Hopkins University
17. Kyoto University
18. New York University
19. University of Michigan, Ann Arbor
20. Swiss Federal Institute of Technology in Zurich

CUWR adalah salah satu lembaga pemeringkat perguruan tinggi terbaik di dunia yang bermarkas di Arab Saudi. Dalam pengukurannya, CUWR tidak bergantung pada metode survei.

Adapun CUWR memakai 8 indikator yang mempengaruhi skor sebuah universitas, yaitu: kualitas pendidikan, kualitas pekerjaan alumni, kualitas fakultas, jumlah publikasi ilmiah, jumlah publikasi dalam jurnal bereputasi tinggi, kutipan, dampak ilmiah, dan jumlah paten.

Peringkat ini membuktikan tren warga Indonesia belajar ke luar negeri yang terus meningkat tiap tahun. Di AS, pelajar yang belajar di sana mencapai 7.921, bertambah sekitar 300 dari tahun sebelumnya. Kemudian Australia dan Malaysia dua negara favorit pelajar Indonesia melanjutkan pendidikannya, menerima lebih dari 10.000 pelajar Indoensia tiap tahunnya.

CWUR.ORG | BUSINESS INSIDER | BINTORO AGUNG S.

July 23, 2015

Bakteri Enggano Potensial Awetkan Makanan

Semoga tidak hanya jadi makalah yang disimpan dalam rak perpustakaan LIPI saja

JAKARTA, KOMPAS — Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memperoleh isolat bakteri asam laktat unggul dari bahan-bahan hayati Pulau Enggano, Bengkulu. Bakteri itu berpeluang hasilkan pengawet alami makanan, memperlambat kebusukan dibandingkan jika makanan masih berwujud pangan segar.

“Kami dapat tiga isolat bakteri unggul,” kata peneliti mikrobiologi LIPI, Sulistiani, di Bogor, Jawa Barat, dihubungi pada Rabu (22/7). Awalnya ada sekitar 300 isolat bakteri dari berbagai macam bahan koleksi dari Enggano, antara lain jeruk, kakao, pisang, salak hutan, dan nira kelapa.

Peneliti fokus mencari bakteri asam laktat unggul dari sumber nira kelapa, yakni kelapa hibrida dan kelapa tinggi. Tiga isolat bakteri unggul tadi diperoleh dari 85 isolat bakteri asal nira kelapa.

Bakteri asam laktat masuk golongan GRAS (Generally Recognized as Safe) atau aman dikonsumsi. Bakteri itu punya senyawa bioaktif bakteriosin yang berfungsi mengawetkan pangan, terutama pada sayuran, susu, dan serealia (tanaman biji-bijian).

Demi memperoleh bakteri asam laktat unggul, peneliti menguji kemampuan bakteri melawan bakteri pembusuk dan patogen. Bakteri ‘jahat’, yaituEscherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella enterica, Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Isolat dijadikan satu dengan masing-masing bakteri pembusuk atau patogen dalam cairan di microplate uji. Isolat bakteri unggul menjaga cairan uji tetap bening, sedangkan cairan keruh menunjukkan bakteri tidak unggul. “Yang bening menunjukkan bakteri asam laktat menghasilkan senyawa biopreservatif yang mampu menghambat perkembangan bakteri pembusuk dan patogen,” ujar Sulistiani.

Selanjutnya, peneliti akan mengujicoba aplikasi dengan memfermentasi bahan pangan menggunakan bakteri asam laktat unggul. Peneliti bakal menguji pada pisang dan ikan, dua komoditas pangan melimpah di Enggano. Tujuan besarnya, pisang dan ikan, setelah melalui proses pengolahan, tahan lebih lama daripada jika hanya berbentuk pangan segar.

Enggano merupakan pulau terluar Provinsi Bengkulu yang menghadap Samudra Hindia. Pulau di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara itu berjarak 175 kilometer dari Kota Bengkulu dan 513 km dari Jakarta.

Dihubungi dari Kota Bengkulu, Camat Enggano Marlianus mengatakan, kebanyakan penduduk pulau itu petani sekaligus nelayan. Hampir seluruh penduduk punya kebun pisang. Pisang segar yang tak tahan lama bisa menimbulkan kerugian, jika terlambat dijual. Apalagi penjualan ke Pulau Sumatera sangat bergantung pada pelayaran feri yang kadang tertunda.

Tahun ini saja, Sulistiani menargetkan uji laboratorium aplikasi fermentasi pada makanan selesai. Tahun depan, hasil eksperimen bisa diuji coba lebih luas, mencakup bahan pangan di sejumlah daerah.

Pakar mikrobiologi pangan LIPI Tatik Kusniati menambahkan, bakteri asam laktat sebenarnya juga berpotensi membuat bahan pangan mudah dicerna, karena menghasilkan enzim amilase yang mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Jika ditambahkan pada tepung dari bahan pangan, tepung dan produk turunannya pun mudah dicerna.

Tatik juga menguji coba pada tepung dari bahan-bahan asal Enggano, antara lain jagung, beras, melinjo, dan umbi-umbian seperti ubi kayu hutan, taka, dan talas telur. Ternyata, bakteri asam laktat yang juga berasal dari tanaman-tanaman di Enggano hanya mengandung sedikit enzim amilase. (JOG)

July 4, 2015

Indonesia Mulai Menembus Antariksa

Calon astronaut itu Rizman Adhi Nugraha. Sayang, bukan program negara.
Sabtu, 4 Juli 2015 | 05:40 WIB
Oleh : Amal Nur Ngazis
Stasiun Ruang Angkasa Internasional (Nasa.gov)

VIVA.co.id – Rencana program pengiriman siswa Indonesia untuk meneliti di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) disambut riuh oleh masyarakat Indonesia.

Mayoritas menyampaikan rasa bangga sebagai warga negara menyaksikan pelajar Indonesia nanti menghasilkan riset di NASA dan hasilnya diuji coba di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS).

Masyarakat menyambut positif rencana riset siswa yang akan diuji di laboratorium stasiun tersebut dan dipantau dari laboratorium di daratan Bumi. Kebanggaan itu seakan menggambarkan “rasa haus” masyarakat atas pencapaian Indonesia di wilayah luar Bumi.

Program riset siswa tersebut digalang Surya University dan Indonesia Tranformation Network atas inisiasi peneliti Indonesia, Joko W Saputro yang sudah lama, 21 tahun, belajar dan mengajar di negeri Paman Sam.

Pria yang akrab disapa Prof. Sap itu mengatakan, awalnya ia bertemu dengan peneliti NASA dan kemudian meminta kuota dalam roket peluncur NASA yang akan terbang ke ISS.

“Jadi, lima minggu lalu saya ketemu dengan NASA. Saya kemudian minta slot ke NASA untuk dua tim bikin eksperimen yang dititipkan di roket yang akan naik ke ISS. Saya pesan dua eksperimen,” kata pria yang akrab disapa Prof. Sap kepada VIVA.co.id, Rabu 1 Juli 2015.

Gayung pun bersambut. NASA mengabulkan permintaan Prof. Sap. Segera, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu langsung mengontak fisikawan Yohanes Surya, koleganya saat belajar di Amerika Serikat.

Setelah dicari, program ini telah menemukan dua tim SMA yaitu SMA Unggul Del, Sumatera Utara dan gabungan SMA di bawah Surya Institute.

Menurut jadwal, tim siswa yang terpilih dalam program ini akan menjalankan riset mini selama satu hingga dua pekan di laboratorium mini ISS di Amerika Serikat. Uji coba hasil risetnya dilakukan Desember 2015.

Disebutkan, hasil akhir riset siswa Indonesia, yang berupa modul eksperimen, akan diserahkan ke Badan Antariksa AS (NASA) pada awal Januari 2016, sebelum diluncurkan ke ISS pada 2 April 2016.

Peluncuran hasil riset siswa Indonesia akan menumpang muatan di roket SpaceX CRS-8. Prof. Sap mengatakan, tiap roket yang meluncur ke ISS akan membawa bobot dua ton. Nantinya, riset siswa Indonesia itu akan diuji di Laboratorium Nasional AS di ISS.

Sebagai langkah awal menjalankan program ini, dua guru dari masing-masing tim SMA akan dikirimkan ke NASA pada akhir Juli ini. Empat guru itu, yang akan menjadi pendamping tim masing-masing.

“Empat guru kami bawa ke California, untuk training. Kasih tahu cara desain eksperimen untuk di antariksa itu seperti apa,” tutur Prof. Sap yang merupakan doktor jebolan University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat itu.

Sepulang dari pelatihan, guru tersebut wajib menularkan ilmunya ke tim siswanya.

Sayangnya, sang inisiator program mengatakan, program ini diluncurkan tanpa uluran bantuan negara, tak ada sumbangan dana dari pemerintah.

Prof. Sap mengatakan, saat ini tengah berupaya keras menggalang dan mencari dana dari sponsor untuk mendanai misi riset yang butuh biaya setidaknya Rp200 juta untuk satu tim.

Praktis selama ini, Prof. Sap mengaku saweran dengan jaringannya untuk mendanai program ini. Miris, negara tak hadir.

Padahal, program ini bisa dibilang istimewa. Sebab, jika berhasil diuji di ISS, maka riset siswa Tanah Air itu akan menjadi riset pertama Indonesia yang ada di ISS. Selama ini, belum ada nama Indonesia hadir di antariksa. Jangankan untuk astronaut, untuk riset pun simbol Indonesia belum menembus.

Hal itu dikuatkan dengan keterangan dari Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Clara Yatini. Ia mengatakan, sejauh ini, kontribusi Indonesia dalam riset dalam dunia antariksa hanyalah menyumbangkan material penelitian.

“Kalau untuk hadir di sana (ISS) belum. Yang ada kerja sama dengan modul untuk diletakkan di ISS milik Jepang, Kibo. Itu kerja sama dengan ITB,” ujar Clara kepadaVIVA.co.id.

Kerja sama dengan negeri Matahari Terbit itu pun, kata Clara, masih tahap diskusi dan baru diluncurkan ke ISS pada 2017. Artinya, riset peneliti ITB dan Jepang itu akan didahului oleh pengujian eksperimen dari siswa SMA Indonesia.

Clara mengatakan, selama ini riset keantariksaan dari peneliti Indonesia masih menjalankan uji coba di daratan Bumi saja.

Misalnya, peneliti Indonesia melakukan simulasi dengan peralatan untuk meniru kondisi mikro gravitasi di antariksa. Pencapaian terbaik peneliti Indonesia dalam riset antariksa yaitu sebatas berkontribusi mengirimkan material penelitian di ISS. Peneliti Tanah Air tak terlibat.

“Kita kirimkan biji diterbangkan ke sana dan dikembalikan dan ditanam ke Bumi,” tutur perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang itu.

Inspirasi generasi muda

Prof. Sap mengatakan, program yang dicetuskan itu bertujuan menginspirasi kepada generasi muda bangsa untuk melahirkan karya dunia.

Program riset itu akan menjadi ujian sejauh mana kemajuan sains generasi muda Indonesia dalam melahirkan eksperimen kelas dunia. Dia mendorong dua tim SMA terpilih untuk bereksperimen masalah yang relevan diterapkan di Tanah Air tercinta. Misalnya, riset padi atau tempe di antariksa.

Meski risetnya jauh di luar angkasa, tapi para siswa tetap bisa memantau eksperimen mereka dari Bumi. Sebab, pada uji coba hasil riset itu akan dipasang monitor berupa kamera, termometer atau alat ukur lainnya.

Sebagai bentuk kebanggaan, nama Indonesia bisa hadir di ISS. Prof. Sap berencana menambahkan bendera Indonesia dan logo garuda pada kotak eksperimen yang dikirim ke antariksa.

“Saya ingin ngipasi (memacu) inspirasi kecintaan sains antariksa ini menular di Indonesia,” ujarnya.

Prof. Sap ingin memanfaatkan momentum hasil riset siswa Indonesia di ISS untuk makin menggaungkan program ilmiah dari Indonesia. Ia juga berharap dengan terus mendapat kesempatan riset, kualitas riset Indonesia di NASA dan antariksa bisa makin berkembang.

“Yang lain, riset sudah canggih, di ISS mereka meneliti bagaimana manusia bisa hidup di antariksa dalam jangka panjang. Penelitian sudah sampai astromedical science, ini untuk persiapan ke Mars,” kata dia.

Untuk itu, ia berharap pada tahun-tahun selanjutnya, riset dari peneliti dan siswa Indonesia bisa mendapatkan tempat di ISS maupun NASA.

Tak hanya soal riset, Prof. Sap berharap nantinya NASA mau untuk memberikan ruang bagi astronaut asal Indonesia bisa terbang ke ISS.

Hal itu untuk memecah kebuntuan kehadiran astronaut Indonesia di antariksa. Terakhir kali, Indonesia serius untuk mengirimkan astronaut sudah lama, yakni pada 1986 melalui calon astronaut Pratiwi Sudarmono.

Namun sayangnya, kesempatan Pratiwi itu gagal lantaran pesawat ulang alik Challenger, yang membawa misi NASA sebelum misi yang dijalani Pratiwi, meledak. Akhirnya, NASA membatalkan beberapa misi penerbangan ke antariksa, termasuk pesawat ulang alik Columbia yang akan diikuti oleh Pratiwi.

Calon astronaut Indonesia

Saat Indonesia absen dari pengiriman astronaut sejak 1980-an, jelang peralihan tahun 2013 ke 2014, ada harapan astronaut Tanah Air yang akan mewakili Indonesia di antariksa.

Calon astronaut tersebut yaitu Rizman Adhi Nugraha. Rizman memang bukan “lahir” dari program pemerintah, melainkan muncul dari sebuah kompetisi parfum, Axe Apollo Space Academy.

Sebuah ajang kompetisi global yang menjanjikan pemenangnya bisa terbang ke luar angkasa. Rizman menjadi salah satu pemenang kompetisi global tersebut.

Rizman pun ikut kompetisi setelah ia “bertarung” dengan 80 ribuan pendaftar di Indonesia, 40 peserta dalam tingkatan National Space Camp, dan berkompetisi dengan 105 perserta lainnya di tingkatan Global Space Camp di Amerika Serikat.

Melalui dua tahapan pengujian itu, Rizman melewati beragam tantangan yang membangun menguji fisik dan mental peserta. Akhirnya, pada penghujung 2013, Rizman terpilih menjadi salah satu dari 23 peserta yang berhak untuk terbang ke luar angkasa.

“Dan akhirnya terpilih, Alhamdulillah ini mungkin rezeki saya,” kata dia.

Rizman menyadari, penerbangannya ke titik nol gravitasi itu berbeda dengan misi astronaut badan antariksa reguler. Menurut dia, astronaut reguler menjalani tes yang lebih berat dan berada di antariksa serta menjalankan misi dalam jangka panjang.

“Kalau kayak itu (astronaut NASA) lebih beda. Astronaut dari NASA kan ada misi khususnya, di satelit tinggal berapa lama itu, memang ada yang lebih spesifik, jadi beda, ya. Lebih berat astronaut reguler,” kata dia.

Sementara itu, untuk penerbangan yang dijalaninya pada akhir 2015 atau paling lambat akhir 2016, ia mengatakan hanya “mencicipi” antariksa selama 6 menit. Tak ada aktivitas penelitian atau pengamatan. Rizman akan melalui itu hanya sekadar melihat dan merekam pemandangan Bumi dari luar angkasa.

Meski cuma sekejap dan tak menjalankan misi khusus, pemuda asal Bangka Belitung tersebut mengatakan, momen itu akan menjadi hal yang khusus bagi dia secara pribadi dan Indonesia.

“Jadi, momen 6 menit itu bisa mengubah sejarah Indonesia, jangan sampai kalah dengan negara tetangga, Malaysia saja sudah (kirimkan astronaut), kita belum ada satu pun,” ujar Rizman kepada VIVA.co.id di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis malam, 2 Juli 2015.

Jika ia terbang ke luar angkasa, kata Rizman, bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu “mengirimkan” warganya ke antariksa.

Rizman mengatakan, penerbangannya juga membawa pesan ke generasi muda untuk tak patah arang dalam menggapai mimpi. Terlepas ambisi apa pun, selama itu positif haruslah diusahakan secara keras agar bisa tercapai.
Tak punya program

Di tengah munculnya riset dan astronaut yang membawa nama Indonesia, pemerintah pun bisa dibilang angkat tangan terkait dengan program keantariksaan.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, Clara Yatini, mengatakan, pemerintah hingga hari ini tak memiliki program nasional antariksa, terlebih untuk pengiriman astronaut. Dengan demikian, lembaga sekelas Lapan pun bingung.

“Belum ada programnya itu, rasanya siapa (lembaga) yang harus jadileader-nya, belum tahu. Rasanya, siapa yang dipersiapkan untuk jadi astronaut itu, nggak ada ya, karena program nggak ada,” kata dia.

Maka, kata Clara, sudah seharusnya program nasional riset antariksa harus mendapat sokongan dana pemerintah. Ia yakin, jika pemerintah ada komitmen, banyak peneliti yang akan mendukung program tersebut.

Tapi, Clara menyadari kenapa program antariksa dan astronaut belum menjadi prioritas. Sebab, untuk mengirimkan misi ke luar angkasa itu butuh biaya yang sangat besar.

Untuk meluncurkan roket beserta muatan ke luar angkasa setidaknya butuh US$70 juta atau Rp1 triliun. Belum lagi anggaran riset nasional di Indoensia tergolong sangat kecil.

Perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang, itu membandingkan bagaimana pemerintah Malaysia peduli dengan program antariksa, sehingga negeri jiran itu bisa mengirimkan astronautnya ke antariksa.

“Mereka (astronaut Malaysia) didanai pemerintah, mereka dapatkan pelatihan di luar, di NASA, dibiayai,” kata dia.

Dengan absennya pemerintah dalam program astronaut, menurut Clara, agar bisa mengirimkan astronaut bisa dengan menggalang dukungan dana dari luar atau swasta. Menurut dia, hal itu sah-sah saja sepanjang pemerintah tak mampu mendanai program.

“Saya pribadi pasti akan mendukung, sayangnya pihak asing belum ada yang mau merekrut (astronaut dari Indonesia),” kata dia.

Pihak asing tak mau merekut bukan karena daya tawar Indonesia maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia rendah. Menurut dia, jika ikut program NASA atau badan antariksa lain, juga tetap perlu memikirkan sokongan dana.

Jika pun ikut NASA, kata Clara, pasti badan antariksa AS itu akan meminta biaya untuk mengakomodasi peluncuran tersebut.

Hal yang paling mungkin saat ini, dia menambahkan, adalah mengirimkan hasil riset peneliti Indonesia untuk dititipkan roket dan diuji di ISS.

Untuk itu, ia memuji gagasan atau ide uji coba hasil riset siswa Indonesia di ISS. Clara pun mengomentari pancapaian Rizman.

“Bisa seperti itu bagus sekali, apalagi nanti misalnya Rizman dititipin penelitian, itu bagus sekali. Tapi, kan itu swasta dan mereka pasti motivasinya kan untung rugi sih,” katanya.

Waktu singkat yang dimiliki Rizman sebenarnya, kata dia, tak menjadi kendala untuk menjalankan riset di antariksa.

Clara mencontohkan di tingkatan Asia, pernah ada program parabolic flight yang disokong Jepang. Misi yang diikuti pelajar dan mahasiswa itu meneliti dan melakukan percobaan di wilayah nol gravitasi, meski waktunya kurang dari 6 menit.

“6 menit (Rizman) rasanya percobaan juga bisa,” kata dia.

Di tengah kebuntuan dukungan dana tersebut, Clara pun tersenyum saat mendengar kelakar, mungkin perlu menunggu kaum filantropi yang gila sains menggelontorkan program astronaut Indonesia.

“Industri (swasta) kita memang belum melihat (kebutuhan riset antariksa). Sulit bagi industri swasta karena kan orientasinya bisnis, sulit,” kata dia.

Ia menambahkan, di tengah kekosongan program astronaut dan riset antariksa, ia mengharapkan ada pihak yang berani usul ke pemerintah secara intens agar melahirkan program astronaut.

“Harus ada yang berani mengusulkan, harus didukung, juga oleh yang lain. Misalnya Lapan yang usulkan, tapi kalau sendirian nggak mungkin, perlu konsorsium usulkan itu, biar lebih kuat. Lapan tak bisa sendiri,” tuturnya. (art)

June 30, 2015

Moratorium Alih Status PTS Dilanjutkan

mau jadi apa bangsa ini, jika pendidikan tingginya sekedar “pabrik pencetak ijazah” saja.. Coba dari daftar eks PTS yang menjadi PTN ini apa ada yang sudah berprestasi Internasional ??

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah meneruskan moratorium, penghentian sementara, perubahan status perguruan tinggi swasta menjadi perguruan tinggi negeri. Keputusan itu karena adanya persoalan anggaran, pengelolaan aset, dan perubahan status kepegawaian. Pemerintah tidak ingin menambah persoalan menjadi lebih kompleks di kemudian hari.

Program penegerian perguruan tinggi swasta (PTS) yang dimulai 2010 bertujuan meningkatkan akses, memeratakan pendidikan tinggi, dan meningkatkan mutu. Lantaran banyaknya masalah, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melakukan moratorium perubahan status sejak 29 Juli 2013.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, masih ada persoalan perubahan status 36 perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah itu terdiri dari tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) baru dan 29 PTS yang berubah statusnya menjadi negeri. “Banyak masalah bermunculan. Pertama, masalah pegawai, kedua masalah aset, lalu masalah anggaran,” kata Muhammad Nasir seusai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, di Jakarta, Senin (29/6).

Setelah perubahan status perguruan tinggi swasta menjadi negeri, status pegawai tidak bisa otomatis jadi pegawai negeri sipil (PNS) semua. Saat ini, masih ada 4.358 pegawai yang status kepegawaiannya dilematis. Nasir berpendapat, status mereka tetap pegawai non-PNS.

Masalah berikutnya ialah anggaran. Seharusnya pemerintah daerah ikut menanggung beban anggaran perubahan status PTS di wilayahnya. Namun, ada sejumlah PTS yang sudah berubah status selama lima tahun, tetapi belum mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan mengkaji persoalan itu dalam dua pekan. Tahun ini, Kementerian Ristek dan Dikti menerima anggaran Rp 41,5 triliun untuk anggaran operasional 134 perguruan tinggi negeri dan bantuan operasional sekitar Rp 300 miliar.

Beban keuangan

Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Ristek dan Dikti memperpanjang moratorium peralihan status PTS menjadi PTN. Arahan Presiden dalam rapat terbatas yang membahas penegerian PTS menjadi PTN itu disampaikan Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki.

Presiden memperpanjang moratorium itu karena berpengaruh pada ruang fiskal negara. Masalah proses penegerian PTS lebih banyak menyangkut keterbatasan anggaran APBN, pencatatan peralihan aset dari swasta ke pemerintah pusat, dan status kepegawaian. Selanjutnya, Presiden akan memilih dan memutuskan PTS yang layak diubah statusnya, termasuk mempelajari masalah di Universitas Trisakti dan Universitas Pancasila.

content

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamid menyambut baik moratorium penegerian PTS berlanjut. “Kebijakan penegerian PTS harus dikaji komprehensif. Penegerian yang terjadi selama ini tidak jelas arahnya,” kata Edy. (NDY/ELN)

Mutu Perguruan Tinggi Tertinggal

Kualitas Pendidikan Tinggi Timpang

JAKARTA, KOMPAS — Mutu pendidikan tinggi Indonesia masih tertinggal jauh dan membutuhkan perhatian serius. Pada salah satu indikator mutu, publikasi ilmiah, misalnya, Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga. Perguruan tinggi yang masuk 500 peringkat terbaik dunia pun berkurang.

Mengacu data publikasi ilmiah yang terindeks Scopus, total produksi 10 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia sekalipun belum bisa mengalahkan publikasi ilmiah satu universitas di Malaysia, yakni Universitas Kebangsaan Malaysia. Jika UKM mampu menghasilkan hingga 18.000 publikasi yang terindeks Scopus, total publikasi ilmiah dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia baru berkisar 14.000 yang terindeks Scopus.

Kondisi mutu pendidikan tinggi Indonesia tersebut dipaparkan Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo dalam seminar nasional dan deklarasi Gerakan Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis Mutu, di Jakarta, Jumat (24/4). Kegiatan itu digagas Pusat Layanan Pengkajian dan Implementasi (Puslapim) Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Berbasis Sistem Pengendalian Mutu Internal.

“Masalah akses pendidikan mulai teratasi. Tetapi, untuk mutu, kondisinya akut. Oleh karena itu, pada 2015-2019, prioritas pendidikan tinggi difokuskan untuk meningkatkan mutu dan relevansi,” kata Patdono.

Tertinggalnya mutu pendidikan tinggi Indonesia juga terlihat dari jumlah perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 terbaik dunia. Jika beberapa tahun lalu, Indonesia mampu menempatkan enam perguruan tinggi negeri di 500 top dunia, kini cuma tersisa dua, yakni Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Adapun Malaysia justru meningkat dengan menempatkan lima perguruan tingginya di 500 top dunia.

Patdono mengatakan, pemerintah mendorong perguruan tinggi negeri potensial, seperti Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Airlangga, untuk masuk 500 top dunia. Dukungan berupa dana dan pendampingan.

Ketimpangan

Persoalan mutu perguruan tinggi di Indonesia bukan hanya kalah bersaing di dunia internasional. Di dalam negeri, terjadi ketimpangan mutu mencolok antara perguruan tinggi di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Berdasarkan penilaian mutu eksternal dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi pada 2014, terdata baru 164 perguruan tinggi dari total 4.274 perguruan tinggi yang terakreditasi institusinya. Hanya dua perguruan tinggi di luar Pulau Jawa yang mampu meraih akreditasi A.

Demikian pula dengan akreditasi program studi. Hanya 223 prodi dari perguruan tinggi luar Jawa yang mendapat nilai A daripada 1.478 prodi di Pulau Jawa yang meraihnya.

Menurut Patdono, peningkatan mutu harus serius. Harapan masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak lagi cukup sebagai agen pendidikan ataupun riset. “Pendidikan tinggi kini diharapkan jadi agen pembangunan ekonomi. Untuk itu, perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan lulusan dan riset yang baik, tetapi menghasilkan inovasi, pekerjaan, industri, dan devisa,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Puslapim Willy Susilo mengatakan, pembangunan pendidikan tinggi menjadi elemen fundamental dalam mencapai kemajuan, kesejahteraan, dan kekuatan Indonesia pada masa depan. Puslapim sebagai institusi nirlaba memiliki misi dalam menyediakan layanan pengembangan, bimbingan penerapan, jasa pemeriksaan, pengkajian, serta peningkatan sistem manajemen mutu penyelenggaraan perguruan tinggi.

Pada kesempatan itu, sejumlah pemimpin perguruan tinggi bersama Kementerian Ristek dan Dikti mendeklarasikan komitmen mengupayakan penyelenggaraan perguruan tinggi bermutu. Harapannya, lulusan mampu berperan dan berkontribusi lebih besar dalam pembangunan nasional.

Laksamana Madya DA Mamahit, selaku penasihat Puslapim yang juga Rektor Universitas Pertahanan, mendorong perguruan tinggi membangun kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa sebagai salah satu bentuk penguatan karakter. Generasi muda yang mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Associate Puslapim, Iyung Pahan, mengatakan, peningkatan mutu perguruan tinggi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan bonus demografi, yakni angkatan kerja produktif. Pendidikan tinggi berbasis mutu perlu dengan mengacu manajemen mutu terpadu. (ELN)

June 7, 2015

Laboratorium Hujan di Bunder

Lereng Merapi Tua yang menjadi tempat hidup warga Dusun Bunder, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, tak mungkin memancurkan air. Secara turun-temurun mereka mengonsumsi air hujan. Pada awalnya air hujan dianggap tak berharga, tetapi kini air dari langit itu dipercaya sebagai air murni yang berkualitas paling baik.

Warga mengolah air hujan menggunakan alat elektrolisis di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Jatinom,  Klaten, Jawa Tengah. Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOWarga mengolah air hujan menggunakan alat elektrolisis di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.

Posisi air hujan makin berharga sejak warga berduyun-duyun menggunakan teknik elektrolisis dengan teknologi sederhana, yaitu disetrum dengan aliran listrik, sejak dua tahun terakhir. Karena mengonsumsi air berkualitas yang telah terionisasi menjadi bersifat basa dan lebih banyak mengandung oksigen, pelan-pelan warga merasa kesehatan mereka membaik.

Darmo Suwito (57), yang akrab disapa Mbah Jelam, sempat putus asa hingga dua kali mencoba bunuh diri karena penyakit kencing batu menahun yang diidap sejak remaja. Ia pernah mencoba gantung diri dengan lilitan selimut rumah sakit sebelum kepergok perawat. Usaha bunuh diri kedua kali dilakukan di rumahnya, tetapi diselamatkan tetangga. Keputusasaan menghinggapi Mbah Jelam. Ia sudah menjalani enam kali operasi batu ginjal dan bolak-balik memeriksakan diri ke rumah sakit rutin satu pekan sekali. Ketika dijumpai di rumahnya yang berlantai tanah, tak ada jejak putus asa. Semangat hidupnya malah meluap-luap.

“Saya biasanya ke Apotek Klaten tiap minggu, beli obat. Kemarin, petugasnya tanya, kok, lama enggak ke sini? Saya jawab, sudah sembuh setelah minum air hujan yang disetrum,” katanya.

Sejak setahun terakhir, Mbah Jelam menyaring air hujan sebelum dielektrolisis. “Setelah kenal air setrum. Saya enggak pernah beli obat lagi, sudah pulih,” tambah Mbah Jelam yang memakai air setrum untuk masak, menanak nasi, hingga mandi.

Bagi warga, kesembuhan dianggap sebagai efek samping setelah mengonsumsi air minum berkualitas, bukan obat. Ketika racun di tubuh terlarutkan oleh air ionisasi, beragam penyakit pun turut sembuh. Warga mengamini logika sederhana bahwa bersih pasti pangkal sehat.

Karmi (50) juga terbebas dari penyakit jantung, diabetes, hingga asma. Karena komplikasi penyakit, ia pernah dua kali rawat inap di rumah sakit hanya dalam waktu satu bulan. “Saya opname di rumah sakit sampai 10 kali. Punya anak sapi hasil nggaduh (bagi hasil) terpaksa langsung dijual buat berobat,” ujar Karmi.

Setahun setelah mengonsumsi air setrum, penyakit Karmi tak pernah kambuh. Paling-paling kini ia hanya menghabiskan uang Rp 15.000 per bulan untuk membeli cadangan obat asma.

Laboratorium desa

Tak hanya membawa kesembuhan, manfaat air setrum ternyata sangat luas. Suami Karmi, Karno (60), merasa tubuhnya makin bugar. Bahkan, rambut di kepalanya yang sempat botak tumbuh lagi. Semangatnya bekerja di ladang, memelihara sapi, dan membuat kerajinan kurungan ayam pun terdongkrak.

Warga memainkan gamelan di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Gunawan meminum air hujan yang telah diolah di Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5).  Sebagian besar masyarakat dusun itu telah rutin mengkonsumsi air hujan yang dielektrolisa untuk meningkatkan kesehatan mereka.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Intelegensia anak-anak konsumen air ionisasi terbukti meningkat. Anak dari pasangan Supriyono (47) dan Marni (37), menanjak prestasi belajarnya dari peringkat ke-19 menjadi peringkat ke-5. Ketika anaknya terkena sengatan tarantula, Supriyono bereksperimen merendam luka dengan larutan asam dari air setrum dan ternyata membaik.

Berkat air setrum, adik Karno, Sunarno (50) yang dulunya penjudi berat memilih “bertobat”. Kecanduan pada konsumsi minuman instan penambah stamina juga hilang. Sunarno pun menggunakan air ionisasi untuk menghilangkan bau kotoran sapi yang biasanya melekat berhari-hari. “Air itu fungsinya untuk bersih-bersih. Enggak hanya tubuh, tetapi juga pikiran,” katanya.

Saking cintanya pada air hujan, rumah Sunarno yang terdiri dari satu ruangan untuk tidur dan menerima tamu, semarak dengan hiasan botol stok air hujan. Di rumah tersebut terdapat dua dipan beralas tikar, satu dipan untuk tidur Sunarno dan satu lagi menjadi wadah botol-botol air hujan. Di rumah yang menyatu dengan kandang sapi itulah Sunarno mencoba hidup sehat dengan air setrum.

Rohaniwan Romo Kirjito berdialog dengan warga di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKORohaniwan Romo Kirjito berdialog dengan warga di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.

Selain bereksperimen sebagai konsumen, mereka aktif meneliti sebagai produsen di laboratorium yang mereka kelola secara mandiri. Gaya mereka seperti MacGyver dalam serial televisi yang digandrungi pada 1980-an itu. Jika MacGyver yang diperankan aktor Richard Dean Anderson piawai merakit senjata dari benda sederhana berbekal pisau lipat serta pengetahuan fisika dan kimia, warga Bunder, hanya mengandalkan ilmu elektronika setara pendidikan SMP.

Laboratorium Kampus Kandang Udan yang bermarkas di rumah pinjaman milik mantan kepala desa itu menjadi sarana warga untuk terus belajar. Di lab tersebut, warga seperti Wono (31) yang hanya jebolan kelas III sekolah dasar aktif meneliti air hujan sekaligus membuat bejana elektrolisis hingga larut malam.

Naik kasta

Dengan teknologi sederhana, warga menciptakan kemandirian produksi air minum sendiri. Teknik elektrolisis diterapkan menggunakan dua bejana berhubungan yang dialiri listrik searah (DC). Molekul air kemudian terurai menjadi ion bermuatan negatif dan ion positif. Ion yang bersifat basa dengan PH >8 yang kemudian dikonsumsi warga.

Kepala Dusun Bunder Giyanto selalu membawa alat pengukur keasaman dantotal dissolved solid (TDS) untuk mengecek kualitas air baku. Saat ditemui di Kampus Kandang Udan, ia sedang sibuk mengukur kandungan mineral terlarut (TDS) dalam air embung. Angka TDS dari air embung setelah diendapkan adalah 16 mg/l, masih memenuhi standar laik minum maksimum 500 mg/l versi Standar Nasional Indonesia (SNI) 2006.

Warga rata-rata memiliki bak tampungan air hujan berukuran besar yang dibuat tahun 1970-an. Jika musim kemarau berkepanjangan, mereka membeli 4-5 tangki air berisi 5.000 liter per tangki seharga Rp 100.000. Jalur pipa air minum sudah dipasang, tetapi tak sanggup mengalirkan air dari sumur dalam karena debit airnya yang terlalu kecil, 0,5 liter per detik. Padahal, biaya pengadaan paralon saja sudah mencapai Rp 800 juta dan menjadi mubazir tanpa aliran air.

“Disebut Kandang Udan karena semua warga di sini punya kandang. Tempatpanggulawentah rajakaya. Sekarang harta bendanya, ya, air hujan,” kata Agus Bimo Prayitno (56), seniman yang pertama kali memperkenalkan teknologi elektrolisis bersama rohaniwan V Kirdjito Pr di Dusun Bunder.

Sejak mulai mengonsumsi air hujan yang disetrum pada 2013, 80 persen dari total 162 keluarga di Dusun Bunder dan Dusun Jarakan perlahan mulai bangga dengan konsumsi air hujan. Dulu, mereka malu menyuguhkan air hujan bagi tamu. “Sekarang air hujan dieman-eman, disisakan untuk musim kemarau. Air tangki dipakai buat minum ternak,” kata Gunawan (42).

Pakar Gizi Medis Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, menegaskan, belum ada bukti ilmiah berbasis penelitian tentang manfaat air hujan terelektrolisis untuk penyembuhan penyakit. “Semua air minum layak konsumsi mempunyai manfaat kesehatan karena akan menggantikan cairan yang hilang sehingga dapat membantu metabolisme dan reaksi kimia yang terjadi di dalam sel tubuh untuk fungsi fisiologis semua organ tubuh,” katanya.

Elektrolisis, katanya, merupakan salah satu cara untuk melakukan disinfeksi atau menghilangkan bakteri penyebab penyakit dalam air hujan yang banyak diteliti sampai sekarang.

Terlepas dari dampak kesembuhan yang diperoleh, kegigihan warga untuk meneliti dan memproduksi air minumnya sendiri patut diacungi jempol. Kemandirian air yang memunculkan para “MacGyver” dari Lereng Merapi.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2015, di halaman 1 dengan judul “Laboratorium Hujan di Bunder”.