Archive for ‘Indonesia techno research education news’

November 14, 2014

Guru Besar Unhas dan Mahasiswi Tertangkap Nyabu  

TEMPO.CO, Makassar – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Musakkir, tertangkap pesta sabu bersama dosen dan mahasiswinya di Hotel Grand Malibu Jalan Pelita Raya, Makassar, Jumat, 14 November 2014, dinihari sekitar pukul 03.00 Wita.

“Kita tangkap mereka setelah ada laporan dari warga. Jadi kita langsung grebek,” kata Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Besar Syamsu Arib, Jumat. (Baca: Edaskan Ganja, Mahasiswa Ditangkap)

Selain Musakkir, menurut Syamsu, polisi juga menangkap Ismail Alrip, juga seorang dosen, dan Nilam serta Ainum Nakiyah yang tercatat sebagai mahasiswi Unhas. Mereka tertangkap di kamar 308 dan kamar 205. “Kita tangkap mereka di kamar yang berbeda,” ujar Syamsu.

Musakkir, Ismail, dan Nilam ditangkap dengan barang bukti 2 paket sabu dan alat pengisap. Setelah diinterogasi, pelaku mengatakan masih ada temannya lagi. Sehingga polisi ke kamar 308 dan menemukan dua orang lagi yakni Andi Syamsudin alias Ancu, 44 tahun, dan Ainum. Dari keduanya, polisi menemukan barang bukti 1 gram sabu, 2 biji inex, dan alat pengisap. (Baca: Bisnis Narkoba Dikendalikan dari LP)

“Pengakuan mahasiswi ini dapat dari temannya, yang juga berada di hotel itu,” ujar Syamsu.

Dari pengakuan itu, polisi menggerebek kamar 205 dan menemukan Harianto alias Ito, 32 tahun, dengan barang bukti sabu sisa pakai dan alat pengisap. “Kita kembangkan terus ini kasus, siapa saja yang terlibat,” tutur Syamsu. Profesor Musakkir adalah guru besar Fakultas Hukum Unhas.

 

++++++++

 

calendarSabtu, 15 November 2014

Korps Profesor Prihatin

Guru Besar Ditangkap, Diduga Salah Gunakan Narkotika

MAKASSAR, KOMPAS — Asosiasi Profesor Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, prihatin dan menyayangkan kasus yang menimpa Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin Prof Musakkir (48). Ia ditangkap dalam kasus penyalahgunaan narkotika, Jumat (14/11) pagi.Ketua Asosiasi Profesor Indonesia (API) Prof Muin Fahmal merasa sedih dan menyayangkan jika benar Musakkir terlibat dalam kasus narkotika. ”Kalau benar, itu musibah besar, baik bagi dirinya maupun Korps Guru Besar,” katanya.

Ia menyatakan, kasus itu menjadi bahan kajian API dan mungkin bisa mendorong API membuat kode etik untuk anggotanya. Hal itu akan menjadi panduan bagi para guru besar dalam setiap langkah dan perilaku.

Anggota API, Prof Marwan Mas, menyatakan, ”Jika benar, ini merupakan tamparan bagi dunia akademis dan kampus.” Selain proses hukum, kasus ini juga harus ditindaklanjuti secara etika oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Gelar guru besar harus dijaga karena menjadi panutan secara keilmuan dan kemasyarakatan.

Di hotelMusakkir, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Jumat, ditangkap Satuan Narkotika Polrestabes Makassar. Ia diduga menikmati narkotika jenis sabu bersama orang lain.

Kepala Kepolisian Daerah Sulsel dan Sulbar Inspektur Jenderal Anton Setiadji membenarkan adanya penangkapan tersebut. ”Kami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui peranan setiap orang,” ujarnya.

Polrestabes Makassar hingga Jumat petang masih memeriksa Musakkir dan lima orang yang diamankan bersamanya. Polisi juga melakukan tes urine terhadap mereka dan memeriksa sejumlah barang bukti.

Kepala Subbagian Humas Polrestabes Makassar Komisaris Mantasiah menjelaskan, Musakkir ditangkap di kamar sebuah hotel di Makassar, Jumat sekitar pukul 03.00 Wita. Ia tengah bersama dosen FH Unhas lainnya, Ismail Alrip, dan seorang mahasiswi yang belum diketahui asal kampusnya, Nilam.

”Bukti yang diamankan adalah dua paket sabu dan peralatan isap,” ujar Mantasiah. Dari penangkapan itu, polisi mengembangkan penyelidikan ke dua kamar lain di hotel tersebut dan mendapatkan tiga orang, yakni Andi Syamsudin, Ainum Nakiyah, serta Harianto, dengan barang bukti berupa 1 gram sabu, 2 butir pil inex, sisa pemakaian sabu, dan alat isap.

Acram M Azis, pengacara Musakkir, mengatakan, pihaknya menghormati proses hukum. Namun, sesuai keterangan kliennya, Musakkir tak tahu-menahu soal sabu itu. ”Beliau menyayangkan adanya barang itu,” kata Acram.

Acram mengatakan, saat kejadian, kliennya sedang sendiri di kamar karena tengah mengerjakan karya tulis. ”Lalu, kedua orang itu datang,” katanya.

Rektor Unhas Dwia Aries Tina mengatakan, pihaknya menanti hasil penyelidikan polisi dan berpegang pada asas praduga tidak bersalah. Mahasiswi yang ditangkap bukan dari Unhas. (ENG)

November 6, 2014

8 Universitas di Indonesia Masuk Terbaik Dunia

kapan ya universitas di Indonesia masuk dalam top 100

Reporter : Syahid | Rabu, 17 September 2014 09:37

Ilustrasi (www.huffintonpost.com)
QS World University Rangkings kembali mengeluarkan daftar univeritas terbaik di dunia, 8 diantaranya berasal dari Indonesia. Universitas anda?

Dream – Universitas di Amerika Serikat (AS) dan Inggris mendominasi daftar perguruan tinggi terbaik di dunia. Dalam laporan terbaru QS World University Rangkings, terdapat juga delapan universitas dari Indonesia.

Mengutip laman topuniversities.com, Rabu, 17 September 2014, pemeringkatan kali ini dilakukan dengan menggunakan enam indikator. Faktor reputasi akademis masih menjadi indikator terpenting dalam penilaian ini.

Indikator lainnya diantaranya reputasi para akademisi, rasio fakultas/mahasiswa, serta rasio pengajar dan mahasiswa internasional.

Dari hasil pemeringkatan itu, QS World University menemukan daftar pemuncak universitas terbaik di dunia dalam satu dekade terakhir tak mengalami perubahan berarti.

“Hanya sedikit perubahan posisi yang terjadi setiap tahunnya,” tulis laporan itu.

Meski diakui, perbedaan diantara peringkat teratas universitas terbaik ini relatif kecil. Hal ini tak terlepas dari perbaikan yang dilakukan setiap universitas.

Berada di peringkat pertama adalah Massachusetts Institute of Technology (MIT) dari AS atau tak bergeser dari posisi setahun sebelumnya.

Peringkat kedua dihuni oleh University of Cambridge (Inggris), Imperial College London (Inggris), Harvard University (AS), dan University of Oxford (Inggris).

Dari Indonesia, QS World Universities juga mencatat sedikitnya ada delapan universitas terbaik. Untuk kawasan Asia sendiri, National Universities of Singapore masih menjadi yang terbaik dan menempati posisi ke-22 dunia.

Berikut adalah delapan universitas terbaik Indonesia versi QS World University Rangkings:

1. Universitas Indonesia

Posisi dunia: 310
Skor: 40,9

2. Institut Teknologi Bandung

Posisi dunia: 461-470

3. Universitas Gadjah Mada

Posisi dunia: di atas 701

4. Universitas Airlangga

Posisi dunia: di atas 701

5. Institut Pertanian Bogor

Posisi dunia: di atas 701

6. Universitas Diponegoro

Posisi dunia: di atas 701

7. Institut Teknologi Sepuluh November

Posisi dunia: di atas 701

8. Universitas Brawijaya

Posisi dunia: di atas 701

(Ism)

November 3, 2014

Jalan Hilirisasi Hasil Riset

Sabtu, 1 November 2014

Kebijakan Iptek

PRODUK penelitian dan pengembangan teknologi di lembaga riset mulai dimanfaatkan industri setelah Kementerian Riset dan Teknologi menerapkan kebijakan sistem inovasi nasional dan pola konsorsium. Penyatuan kementerian itu dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Kabinet Kerja diharapkan mewujudkan proses estafet hasil riset mulai dari hulu, dari produk riset dasar ke terapan, hingga diaplikasikan industri.Dalam hilirisasi karya iptek ini arahnya bukan hanya meningkatkan daya saing produk industri pada bagian hilir, melainkan juga daya saing sumber daya manusia, terutama peneliti di lembaga riset dan perguruan tinggi yang menaunginya. ”Saat ini kinerja peneliti masih sangat rendah,” kata Menristek-Dikti Muhammad Nasir, Rabu (29/10).

Penilaian itu didasarkan pada pemeringkatan perguruan tinggi di dunia berdasarkan jumlah penelitian yang masuk publikasi atau jurnal ilmiah internasional. Pada peringkat Webomatric salah satunya, hanya dua perguruan tinggi di Indonesia yang masuk 500 besar. Padahal, ada ratusan perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya 130 perguruan tinggi negeri.

Aspek pendayagunaan SDM iptek itulah yang mendapat perhatian lebih pada Kabinet Kerja. Oleh karena itu, Kemenristek- Dikti ditempatkan di bawah koordinasi kementerian baru, yaitu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Jika pada kementerian sebelumnya target pengembangan iptek pada hasil akhir berupa produk, saat ini targetnya adalah pengembangan kapasitas manusianya atau subyek dalam prosesnya.

Konsekuensi penggabungan harus terjadi pembagian sumber daya berupa dana, fasilitas laboratorium, dan tenaga peneliti yang berdampak positif bagi kedua lembaga. Selama ini, alokasi pendanaan Ditjen Dikti pada Kemdikbud sebesar Rp 41 triliun, jauh lebih besar dibandingkan pendanaan di lingkungan Kemenristek yang mengoordinasikan tujuh LPNK (Lembaga Pemerintah Nonkementerian) bidang ristek. Adapun dari fasilitas riset dan penguasaan
teknologi terapan, lembaga riset lebih baik.

Oleh karena itulah kedua pihak perlu bersinergi menyusun program kerja bersama. Patdono Suwignjo, Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi, sependapat mengenai pentingnya membuat peta jalan penelitian nasional yang mencakup lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Penelitian di perguruan tinggi akan mendukung program riset nasional yang nanti ditetapkan Kemenristek- Dikti.

Pada penyusunan program riset nasional, Muhammad Nasir mengingatkan agar mengacu visi dan misi yang ditetapkan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam sembilan agenda pada Nawa Cita. Menurut Erry Ricardo, Kepala Biro Perencanaan Kemenristek, akan terkait dengan NC I untuk pembangunan industri pertahanan, pembangunan science and technology park, kedaulatan pangan dan energi, serta peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia.

IntegrasiMelalui pengintegrasian proses bisnis di perguruan tinggi dan lembaga penelitian—dalam hal ini LPNK Ristek—maka riset dan pelayanan masyarakat pendidikan tinggi di Indonesia diharapkan menjadi lebih baik.

Saat ini tim restrukturisasi yang merupakan gabungan dari Ditjen Dikti Kemdikbud dan Kemenristek terus berkoordinasi untuk menemukan bentuk integrasi dan sinergi baru yang baik di dalam Kemenristek dan Dikti. ”Penggabungan ini akan membuat proses bisnis yang baru yang membuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat semakin berlangsung baik,” kata Patdono.

Nantinya, dalam Kemenristek-Dikti tetap ada Ditjen Dikti yang mengurusi pendidikan tinggi. Adapun riset yang dilaksanakan pendidikan tinggi, yang tadinya hanya ditangani direktorat di Kemdikbud, ditingkatkan untuk digabung dengan Ditjen Riset yang akan dibentuk nantinya di Kemenristek-Dikti. ”Dengan penyatuan riset di perguruan tinggi dan di lembaga riset pemerintah, maka kegiatan ini akan terorganisasi, sinkron, serta tidak tumpang tindih,” ujar Patdono.

Menurut dia, seiring dengan penggabungan itu, Kemenristek yang tadinya sebagai pembuat kebijakan yang berada di kluster III, dengan penggabungan ini maka Kemenristek-Dikti akan masuk kluster II. ”Penyesuaian ini masih terus dibahas,” kata Patdono.

Penggabungan Kemenristek dan Ditjen Dikti tidak akan diikuti pemindahan karyawan. Saat ini Ditjen Dikti menempati gedung 14 lantai di lingkungan Kemdikbud. Sementara Kemenristek selama ini menempati beberapa lantai di Gedung II BPPT. Lokasi yang terpisah itu dinilai tidak masalah karena komunikasi dapat dilakukan secara elektronik.

Lingkup kerja dua lembaga itu pun tidak akan banyak berubah. Melalui penggabungan itu ada sekitar 75.000 dosen dan pegawai di perguruan tinggi negeri serta pegawai tetap ditangani Ditjen Dikti di kementerian baru. Tantangannya, bagaimana lembaga baru itu mewujudkan hasil riset hingga hilir dan bermanfaat bagi orang banyak.

October 30, 2014

Jebolan ITB Ikut Desain Mobil F1 Scuderia Toro Rosso

Kalau yang ini sangat membanggakan , bandingkan jebolan pesantren ikutan gerombolan ISIS Syria Iraq

tribunnews.com
5 jam yang lalu
Pembalap Max Verstappen mengendarai mobil Toro Rosso keluar dari garasi pada sesi pertama latihan Grand Prix Formula 1 Jepang di Sirkuit Suzuka, 3 Oktober 2014. © AP Photo/Shizuo Kambayashi Pembalap Max Verstappen mengendarai mobil Toro Rosso keluar dari garasi pada sesi pertama latihan Grand Prix Formula 1 Jepang di Sirkuit Suzuka, 3 Oktober 2014.

TRIBUNNEWS.COM – Balapan Formula 1 adalah salah satu ajang olahraga balap mobil paling bergengsi di dunia. Nama-nama besar, baik secara personal maupun konstruktor tim, ada di F1, seperti Ferrari, Mercedes, Renault, dan McLaren.

Ternyata, di balik ingar-bingar F1 terdapat satu sosok pemuda Indonesia. Stephanus Widjanarko merupakan anak bangsa yang mampu menjadi salah satu tim pengembangan dengan tugas mendesain mobil balap F1 bersama tim Scuderia Toro Rosso.

Stephanus merupakan lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2004. Tephie, demikian ia akrab disapa, menjadi bagian dalam tim desain Scuderia Toro Rosso dengan tugas mendesain computational fluid dynamics (CFD), aerodinamika di bagian eksternal aero development.

“Saya bertugas untuk merancang bagian depan berdasarkan sisi aerodinamisnya. Secara detail, ini ada pada bagian sayap depan, hidung, forward barge board, tata letak suspensi, dan pelindung ban,” ujar Stephanus, dilansir laman resmi ITB, Selasa (28/10/2014).

Tim Scuderia Toro Rosso bermarkas di Faenza, Italia, yang dipimpin direktur teknis James Key. Musim ini, Toro Rosso dibela dua pebalap, Jean-Éric Vergne asal Perancis dan pebalap asal Rusia, Daniil Kvyat. Kedua pebalap ini menggunakan mobil Toro Rosso STR9 bermesin Renault Energy F1-2014 1,6 liter, V6, plus turbo.

Sayangnya, Scuderia Toro Rosso tidak terlalu sukses pada F1 musim ini. Tim yang berada di bawah Renault tersebut berada di posisi ketujuh dalam klasemen konstruktor, dengan mengoleksi 29 poin saja.

October 20, 2014

Dana Riset Perlu Diperbesar

SENIN, 20 OKTOBER 2014

  Penelitian Menjadi Tumpuan Utama Industrialisasi
SOLO, KOMPAS — Proporsi anggaran riset Indonesia saat ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara lain, seperti India, Tiongkok, dan negara-negara maju. Dana riset dalam negeri hanya 0,1-0,3 persen dari produk domestik bruto. Anggaran itu diharapkan dapat diperbesar menjadi 1-3 persen produk domestik bruto.”Dana riset sangat rendah proporsinya dibandingkan dengan PDB (produk domestik bruto) kita,” ujar Rektor Institut Pertanian Bogor Herry Suhardiyanto dalam Simposium Nasional Forum Rektor Indonesia (FRI) bertema ”Mempertegas Komitmen dan Kepentingan Nasional Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”, di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (18/10).

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, besaran PDB Indonesia tahun 2013 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 9.084 triliun. Artinya anggaran riset hanya Rp 9,084 triliun-Rp 27,252 triliun. Sebagai perbandingan, subsidi bahan bakar minyak pada 2013 mencapai Rp 210 triliun. Herry mengusulkan anggaran riset ditambah menjadi Rp 90,84 triliun-Rp 272,52 triliun.

Ketua FRI Ravik Karsidi mengatakan, kerja sama perguruan tinggi dengan industri dan dunia usaha adalah keniscayaan. Penguatan industri dalam negeri harus dilakukan agar Indonesia lepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah. ”Riset harus merupakan tumpuan utama industrialisasi, tanpa melupakan riset-riset murni ilmu pengetahuan,” tutur Ravik, yang juga Rektor UNS.

Untuk itulah, kata dia, penting membangun kekuatan riset yang menggabungkan universitas, industri, dan pemerintah. Terkait hal itu, Ravik mengatakan, FRI telah mengusulkan pendirian Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek kepada Joko Widodo-Jusuf Kalla. Menurut Ravik, Indonesia pernah memiliki Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.

Berdasarkan catatan Kompas, hal itu terwujud pada Kabinet Kerja III (6 maret 1962-13 November 1963) yang dijabat Thojib Hadiwidjaja. Thojib menjabat kementerian serupa pada Kabinet Kerja IV (13 November 1963-27 Agustus 1964). Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan juga dibentuk oleh Presiden Soekarno dalam Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964-22 Februari 1966) yang dijabat Syarif Thayeb. Dalam Kabinet Dwikora II (24 Februari-28 Maret 1966), Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan dijabat J Leimena.

Namun, usul pemisahan pendidikan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini pernah dikritik mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef.

Daoed menilai, pendidikan tinggi jangan dipisah dari pendidikan dasar dan menengah karena pendidikan bersifat menyeluruh, mulai dari pendidikan anak usia dini sampai dengan program doktor (strata tiga). ”Kalau dipisah, nanti bisa saling menyalahkan. Dikti (pengelola pendidikan tinggi) menyalahkan dikdas dan dikmen (pengelola pendidikan dasar dan menengah) karena menghasilkan sumber daya manusia berkemampuan rendah. Dikdas dan dikmen bisa berdalih, bukan tugas mereka mempersiapkan siswa menuju pendidikan tinggi,” papar Daoed (Kompas, 19/9/2014). (RWN)

September 19, 2014

Saab Offers “100% Technology Transfer” in Bid to Secure TNI Gripen Deal

Harusnya kesempatan emas semacam ini segera disambut.. tapi kelihatannya pejebat negeri ini punya pertimbangan lain rupanya/

19 September 2014

JAS-39 Gripen (photo : Saab)

Saab is offering “100% technology transfer” in its bid to supply the Indonesian Air Force (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara – TNI-AU) with its JAS 39 Gripen combat aircraft, a company executive has told IHS Jane’s .

The TNI-AU is understood to be considering the Gripen along with other fighter aircraft, including the Boeing F/A-18 Super Hornet and the Sukhoi Su-35, to replace its ageing Northrop F-5E Tiger II fleet before the end of the decade.

The programme will procure 16 aircraft and is projected to be valued at more than USD1 billion.

Speaking to IHS Jane’s on 15 September, Kaj Rosander, head of marketing and sales in Saab Asia Pacific, said the company had a “number of discussions” with the TNI-AU and the Indonesian government in which Saab had “shared the capabilities” of the Gripen E, the single-seat derivative of the two-seat JAS 39 Gripen NG.

(Jane’s)

September 16, 2014

Indonesia dilibas Israel kembangkan pembangunan berbasis Iptek

Untuk urusan IPTEK menang dodol dan kedodoran yang namanya Indonesia, bayangkan negara lain menaikan anggaran untuk IPTEK , Indonesia justru menurunkan. Kwalitas penelitinya juga sangat menurun.. Bayangkan gaji peneliti di Indonesia sama dengan gaji petugas SATPOL PP.. eneg nggak bacanya..

Lantas kemana anggaran negara negeri ini, ya  dihambur hamburkan untuk mensubsidi BBM dan untuk urusan yang tidak jelas..

 

MERDEKA.COM. Kedudukan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) semakin menentukan kemajuan suatu bangsa. Walaupun sebuah negara mempunyai sumber daya alam melimpah, ini tidak akan membawa kesejahteraan dan hanya menjadi santapan empuk negara maju yang rakus mengeruk kekayaan alam negara lain.

Kondisi ini bisa terjadi di Indonesia karena tingkat pengembangan iptek masih sangat rendah. Indonesia masih harus perlu bekerja keras mengejar ketertinggalan dari penguasaan ilmu pengetahuan atau biasa disebut knowledge based society (KBS).

Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Riefqi Muna mengatakan, Indonesia berada di peringkat juru kunci dalam peta persaingan riset dunia. Salah satu faktornya, rendahnya Gross Expenditure in R&D (GERD) atau persentase anggaran R&D dibandingkan PDB Indonesia. Anggaran Gerd Indonesia masih di bawah satu persen. Anggaran ini sangat kecil jika dibandingkan negara lain seperti Israel.

“Persentasenya itu cuma 0,07 persen. Kita ketinggalan jauh di bawah Singapura, Australia dan negara maju lainnya. Apalagi dengan Israel yang anggarannya mencapai 4 persen dari GDP,” ucap Riefqi dalam seminar di Kantor LIPI, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/9).

Selain anggaran penelitian yang dilibas Israel, Indonesia juga bermasalah dalam jumlah ilmuwan. Dugaannya lagi-lagi soal minimnya budget yang masuk dalam kategori penelitian.

“Bahkan angka ilmuwan ini terus mengalami penurunan dari tahun 2000-2009. Jika dibandingkan dengan negara Asia Timur, Indonesia sangat ketinggalan apalagi dibandingkan negara maju,” tegasnya.

Riefqi yang juga Anggota Research Committee ini mengatakan dari data UNESCO melalui science report 2010, untuk kawasan Asia Tenggara produk akademik Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

“Apalagi juga memperhitungkan faktor dengan jumlah penduduk yang terbesar di Asia Tenggara dan keempat di dunia,” tutupnya.

Baca Berita Selanjutnya:

+++++++

Baru Tahu LIPI di Bawah Presiden, Jokowi Ditertawai Peneliti

Selasa, 16 September 2014 | 16:05 WIB
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWANJoko Widodo (Jokowi)


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dengan polosnya mengaku baru tahu bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah lembaga yang berada di bawah presiden. Pengakuan itu disampaikan Jokowi saat membuka pidatonya dalam seminar di Gedung LIPI, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2014) sore.

“LIPI adalah lembaga penelitian di bawah presiden, dan saya baru tahu itu setelah (perwakilan) LIPI datang kepada saya,” kata Jokowi.

Sontak, pengakuan Jokowi itu langsung disambut tawa oleh sekitar seratus peneliti yang hadir. Jokowi hanya menanggapi santai, meski ucapannya dijadikan bahan tertawaan.

“Ya ndak apa-apa, kan belum tahu. Sekarang saya jadi tahu,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan bahwa penelitian adalah sebuah hal yang penting bagi kemajuan Indonesia. Dia berjanji akan membuat bidang penelitian Indonesia menjadi lebih baik dalam pemerintahannya pada masa mendatang.

“Tidak ada negara mana pun yang maju tanpa sebuah lembaga penelitian yang baik, yang punya kemampuan, baik di bidang teknologi, nuklir, pangan, energi, dan otomotif. Semuanya bermula dari hasil riset yang baik,” ujar Jokowi yang kali ini disambut tepuk tangan para peneliti.

September 11, 2014

First Cutting Detail Part Manufacturing N219

Rabu, September 10, 2014

0

BANDUNG-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219.

“Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat,” kata Jasyanto, dalam keterangan resminya.

N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem.

“Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia),” ujar Jasyanto.

Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219.

“Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014,” katanya.

Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016.

Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil.

Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun.

Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri.

Sumber : Vivanews

Read more: http://indo-defense.blogspot.com/2014/09/first-cutting-detail-part-manufacturing.html#ixzz3CzLzAuk4

September 10, 2014

R80 Bakal Terbang Perdana di Bandara Kertajati

RABU, 10 SEPTEMBER 2014 | 17:06 WIB

R80 Bakal Terbang Perdana di Bandara Kertajati
Mantan Presiden RI BJ. Habibie berpose di belakang miniatur pesawat usai dialog Merah Putih di kediamannya di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Rabu (7/3). ANTARA/Rosa Panggabean

TEMPO.CO, Bandung – Mantan Presiden RI, Baharudin Jusuf Habibie yang kini mendirikan PT Regio Aviasi Indonesia (RAI) mengatakan, pesawat R80 yang tengah disiapkan akan terbang perdana pada 2018. “Insya Allah first-flight pesawat itu di Majalengka (Bandara Kertajati),” kata dia selepas bertemu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan Bandung, Rabu, 10 September 2014.

Menurut dia, keputusan memilih lokasi penerbangan perdana pesawat itu di Majalengka dilakukan setelah mendengar pemerintah Jawa Barat yang sedang menyiapkan bandara baru di sana. “Saya mendengar pemerintah Jawa Barat sedang mempersiapkan lapangan terbang di Majlengka, Insya Allah selesainya juga kurang lebih 2017,” kata Habibie. (Baca: Habibie Perkenalkan Pesawat R80 Rancangannya)

Habibie mengatakan, setelah terbang perdana itu, pesawat R80 hasil pengembangan pesawat N250 yang sempat dikembangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara, atau PT Dirgantara Indonesia saat ini, ditargetkan akan mendapat sertifikasi kelaikan terbangnya. “Kita bisa deliver,” ujarnya.

Dia mengatakan, persiapan penerbangan perdana pesawat R80 itu akan dilakukan di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati. “Kita akan arahkan semua persiapannya di Majalengka,” kata Habibie. (Baca: Habibie Kembangkan N250 Jadi Pesawat R80)

Menurut dia, R80 itu merupakan pesawat yang khusus dikembangkan untuk membidik pasar penerbangan komuter, untuk menghubungkan antar daerah di Indonesia. Kode R pesawat yang dirancang punya kapasitas angkut 80 penumpang hingga 90 penumpang itu merupakan singkatan dari Regional. “Jadi pesawat terbang penunjang,” kata Habibie.

Dia mencontohkan, jumlah pengguna pesawat di Indonesia terus tumbuh rata-rata 19,6 persen setiap tahun, dan terakhir jumlah pembeli tiket pesawat di seluruh penerbangan di Indonesia mencapai 70,2 juta orang. Habibie membandingkan dengan Amerika Serikat dengan jumlah pembeli tiket pesawat domestiknya mencapai 3 kali lipat jumlah penduduknya.

“Mengikuti Amerika seharusnya yang membeli tiket itu 3 kali jumlah penduduk, kenyataannya baru 70,2 juta tiket, tapi kebutuhannya sudah meningkat,” kata dia.

Habibie yakin, pesawat terbang murah bisa mendorong perekonomian Indonesia. Penguasaan teknologi penerbangan menjadi tolak-ukur penilaian kemampuan satu bangsa atas teknologi. “Satu bangsa dinilai dari kemampuannya membuat pesawat penumpang di atas 50 penumpang, ke atas sama saja persyaratannya untuk mendapatkan keahliannya. Kita sudah membuktikan dengan N235,” kata dia.

Komisaris PT RAI, Ilham Akbar Habibie mengatakan, saat ini pengembangan R80 sudah memasuki fase akhir pengembangan. Pesawat itu rencananya akan diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia, yang saat ini juga tengah mengembangkan pesawat baru N219. “Keduanya berbeda spesifikasinya,” kata dia.

Ilham mengatakan, pesawat R80 dirancang untuk beradaptasi dengan kondisi bandara yang umumnya ada di Indonesia. Jika ada lapangan terbang kecil, dia punya satu landasan, penerbangan per harinya terbatas. “Saat penumpangnya makin banyak yang harus dilakukan adalah pesawatnya diperbesar,” kata dia.

Menurut dia, PT RAI akan memulai komunikasi intensif dengan pemerintah Jawa Barat untuk persiapan penerbangan perdana R80. “Kita akan melaksanakan penerbangan perdana tahun 2018, tepatnya bulan Agustus, kemungkinan besar di Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat,” kata Ilham.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pemerintah provinsi mendapat kehormatan atas pilihan PT RAI itu untuk menggunakan Bandara Kertajati untuk penerbangan perdana R80. “Ini klop. Insya Allah bandara beroperasi 2017 akhir. Mudah-mudahan ada bandara baru yang kita operasikan, dan saat yang bersamaan pesawat ini terbang pertama kali,” kata dia.

Aher mengatakan, kendati pengembangan teknologi dirgantara tertinggal akibat terhentinya proyek N250, Indonesia masih punya kesempatan untuk mengembangkannya lagi. “Tempat terbang pertama kalinya bisa di Majalengka, kalau mungkin rancang bangunnya juga pada saatnya disana,” kata dia.

Kepala Badan Pengembangan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat Deny Juanda Puradimaja mengatakan, rencana penerbangan perdana R80 membuka peluang bagi pemerintah provinsi untuk menawarkan fasilitas pabrikasi pesawat itu di kawasan Bandara Kertajati. Dia beralasan, menjelang terbang perdana itu butuh hangar serta serangkaian pengujian di bandara itu. “Itu pasti membangun di sana, mau gak mau. Tapi tergantung PT Dirgantara Indonesia,” kata dia.

Baharudin Jusuf Habibie mengajak sejumlah pimpinan PT RAI untuk bertemu Gubernur Ahmad Heryawan. Selain Habibie dan putranya Ilham, ikut dalam pertemuan itu Komisaris PT RAI lainnya, yakni mantan Kepala Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah.

AHMAD FIKRI

September 2, 2014

Pakar UAV Dunia Tawarkan “Drone” Garuda Khusus untuk Indonesia

 

Kalau masih disiasiakan kesempatan ini.. beneran kelewatan elite bangsa ini.

 
02 September 2014

Ilustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda. (image : Kompas)

KOMPAS.com – Pakar UAV dunia menawarkan drone untuk mendukung visi presiden terpilih Joko Widodo. Penawaran tersebut dikatakan khusus untuk Indonesia.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo yang juga berasal dari Indonesia menawarkan drone bernama Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.

Drone tersebut adalah jenis stratosphere drone. Drone ini dirancang terbang di ketinggian 13-20 kilometer di atas permukaan laut sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil.

“Stratosphere drone ini saya propose khusus untuk Indonesia saja,” kata Josh yang saat ini bekerja di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

Josh telah memaparkan drone yang dikembangkannya kepada perwira di Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU pada 15 Agustus 2014 lalu di Jakarta.

Drone Garuda memiliki dua fungsi, sebagai drone sekaligus satelit. Selain itu, drone ini juga dapat dilengkapi dengan beragam sensor, mulai kamera hingga teleskop.

Dengan beragam sensor, drone bisa mendukung tujuan pengawasan wilayah perbatasan, penebangan dan perikanan ilegal, sampai pengejaran terorisme.

Ada beragam sensor yang bisa dibeli. Namun, Indonesia juga bisa mengembangkannya sendiri sekaligus memberdayakan ilmuwan dan akademisi di lokal.

Contoh sensor yang bisa dikembangkan Indoensia antara lain sensor cuaca dan relay telekomunikasi untuk daerah terpencil.

Untuk perangkat navigasi, Indonesia harus mengembangkan sendiri. Sistem navigasi biasa macam GPS tidak bisa digunakan sebab ketinggian maksimal pemakaian GPS adalah 18 km.

“Bila kita kembangkan dan operasikan saat ini secepatnya, maka jelas bisa dikatakan ini buatan Indonesia dan Indonesia menjadi pemimpin terdepan,” urai Josh lewat email, Senin (1/9/2014).

Josh yang mengepalai Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory mengatakan, jumlah drone “Garuda” yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan pemantauan.

Misalnya, jika tujuan pemakaian drone adalah untuk pemantauan daerah perbatasan kritis seperti Malaysia, Australia, dan Papua Niugini, jumlah drone yang dibutuhkan 6 unit.

Sementara, Josh mengungkapkan bahwa untuk satu unit drone, harganya adalah Rp 10 miliar, belum termasuk ragam sensornya.

Sensor setidaknya terdiri atas sensor optik dan Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dapat tembus awan dengan harga kira-kira 10M dan 15M rupiah.

Harga tersebut berlaku bila menggunakan komponen-komponen impor. Bila komponen bisa dikembangkan sendiri dan produksi massal, harga bisa ditekan.

(Kompas)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers