Archive for ‘Indonesia techno research education news’

July 23, 2015

Bakteri Enggano Potensial Awetkan Makanan

Semoga tidak hanya jadi makalah yang disimpan dalam rak perpustakaan LIPI saja

JAKARTA, KOMPAS — Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memperoleh isolat bakteri asam laktat unggul dari bahan-bahan hayati Pulau Enggano, Bengkulu. Bakteri itu berpeluang hasilkan pengawet alami makanan, memperlambat kebusukan dibandingkan jika makanan masih berwujud pangan segar.

“Kami dapat tiga isolat bakteri unggul,” kata peneliti mikrobiologi LIPI, Sulistiani, di Bogor, Jawa Barat, dihubungi pada Rabu (22/7). Awalnya ada sekitar 300 isolat bakteri dari berbagai macam bahan koleksi dari Enggano, antara lain jeruk, kakao, pisang, salak hutan, dan nira kelapa.

Peneliti fokus mencari bakteri asam laktat unggul dari sumber nira kelapa, yakni kelapa hibrida dan kelapa tinggi. Tiga isolat bakteri unggul tadi diperoleh dari 85 isolat bakteri asal nira kelapa.

Bakteri asam laktat masuk golongan GRAS (Generally Recognized as Safe) atau aman dikonsumsi. Bakteri itu punya senyawa bioaktif bakteriosin yang berfungsi mengawetkan pangan, terutama pada sayuran, susu, dan serealia (tanaman biji-bijian).

Demi memperoleh bakteri asam laktat unggul, peneliti menguji kemampuan bakteri melawan bakteri pembusuk dan patogen. Bakteri ‘jahat’, yaituEscherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella enterica, Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Isolat dijadikan satu dengan masing-masing bakteri pembusuk atau patogen dalam cairan di microplate uji. Isolat bakteri unggul menjaga cairan uji tetap bening, sedangkan cairan keruh menunjukkan bakteri tidak unggul. “Yang bening menunjukkan bakteri asam laktat menghasilkan senyawa biopreservatif yang mampu menghambat perkembangan bakteri pembusuk dan patogen,” ujar Sulistiani.

Selanjutnya, peneliti akan mengujicoba aplikasi dengan memfermentasi bahan pangan menggunakan bakteri asam laktat unggul. Peneliti bakal menguji pada pisang dan ikan, dua komoditas pangan melimpah di Enggano. Tujuan besarnya, pisang dan ikan, setelah melalui proses pengolahan, tahan lebih lama daripada jika hanya berbentuk pangan segar.

Enggano merupakan pulau terluar Provinsi Bengkulu yang menghadap Samudra Hindia. Pulau di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara itu berjarak 175 kilometer dari Kota Bengkulu dan 513 km dari Jakarta.

Dihubungi dari Kota Bengkulu, Camat Enggano Marlianus mengatakan, kebanyakan penduduk pulau itu petani sekaligus nelayan. Hampir seluruh penduduk punya kebun pisang. Pisang segar yang tak tahan lama bisa menimbulkan kerugian, jika terlambat dijual. Apalagi penjualan ke Pulau Sumatera sangat bergantung pada pelayaran feri yang kadang tertunda.

Tahun ini saja, Sulistiani menargetkan uji laboratorium aplikasi fermentasi pada makanan selesai. Tahun depan, hasil eksperimen bisa diuji coba lebih luas, mencakup bahan pangan di sejumlah daerah.

Pakar mikrobiologi pangan LIPI Tatik Kusniati menambahkan, bakteri asam laktat sebenarnya juga berpotensi membuat bahan pangan mudah dicerna, karena menghasilkan enzim amilase yang mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Jika ditambahkan pada tepung dari bahan pangan, tepung dan produk turunannya pun mudah dicerna.

Tatik juga menguji coba pada tepung dari bahan-bahan asal Enggano, antara lain jagung, beras, melinjo, dan umbi-umbian seperti ubi kayu hutan, taka, dan talas telur. Ternyata, bakteri asam laktat yang juga berasal dari tanaman-tanaman di Enggano hanya mengandung sedikit enzim amilase. (JOG)

July 4, 2015

Indonesia Mulai Menembus Antariksa

Calon astronaut itu Rizman Adhi Nugraha. Sayang, bukan program negara.
Sabtu, 4 Juli 2015 | 05:40 WIB
Oleh : Amal Nur Ngazis
Stasiun Ruang Angkasa Internasional (Nasa.gov)

VIVA.co.id – Rencana program pengiriman siswa Indonesia untuk meneliti di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) disambut riuh oleh masyarakat Indonesia.

Mayoritas menyampaikan rasa bangga sebagai warga negara menyaksikan pelajar Indonesia nanti menghasilkan riset di NASA dan hasilnya diuji coba di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS).

Masyarakat menyambut positif rencana riset siswa yang akan diuji di laboratorium stasiun tersebut dan dipantau dari laboratorium di daratan Bumi. Kebanggaan itu seakan menggambarkan “rasa haus” masyarakat atas pencapaian Indonesia di wilayah luar Bumi.

Program riset siswa tersebut digalang Surya University dan Indonesia Tranformation Network atas inisiasi peneliti Indonesia, Joko W Saputro yang sudah lama, 21 tahun, belajar dan mengajar di negeri Paman Sam.

Pria yang akrab disapa Prof. Sap itu mengatakan, awalnya ia bertemu dengan peneliti NASA dan kemudian meminta kuota dalam roket peluncur NASA yang akan terbang ke ISS.

“Jadi, lima minggu lalu saya ketemu dengan NASA. Saya kemudian minta slot ke NASA untuk dua tim bikin eksperimen yang dititipkan di roket yang akan naik ke ISS. Saya pesan dua eksperimen,” kata pria yang akrab disapa Prof. Sap kepada VIVA.co.id, Rabu 1 Juli 2015.

Gayung pun bersambut. NASA mengabulkan permintaan Prof. Sap. Segera, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu langsung mengontak fisikawan Yohanes Surya, koleganya saat belajar di Amerika Serikat.

Setelah dicari, program ini telah menemukan dua tim SMA yaitu SMA Unggul Del, Sumatera Utara dan gabungan SMA di bawah Surya Institute.

Menurut jadwal, tim siswa yang terpilih dalam program ini akan menjalankan riset mini selama satu hingga dua pekan di laboratorium mini ISS di Amerika Serikat. Uji coba hasil risetnya dilakukan Desember 2015.

Disebutkan, hasil akhir riset siswa Indonesia, yang berupa modul eksperimen, akan diserahkan ke Badan Antariksa AS (NASA) pada awal Januari 2016, sebelum diluncurkan ke ISS pada 2 April 2016.

Peluncuran hasil riset siswa Indonesia akan menumpang muatan di roket SpaceX CRS-8. Prof. Sap mengatakan, tiap roket yang meluncur ke ISS akan membawa bobot dua ton. Nantinya, riset siswa Indonesia itu akan diuji di Laboratorium Nasional AS di ISS.

Sebagai langkah awal menjalankan program ini, dua guru dari masing-masing tim SMA akan dikirimkan ke NASA pada akhir Juli ini. Empat guru itu, yang akan menjadi pendamping tim masing-masing.

“Empat guru kami bawa ke California, untuk training. Kasih tahu cara desain eksperimen untuk di antariksa itu seperti apa,” tutur Prof. Sap yang merupakan doktor jebolan University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat itu.

Sepulang dari pelatihan, guru tersebut wajib menularkan ilmunya ke tim siswanya.

Sayangnya, sang inisiator program mengatakan, program ini diluncurkan tanpa uluran bantuan negara, tak ada sumbangan dana dari pemerintah.

Prof. Sap mengatakan, saat ini tengah berupaya keras menggalang dan mencari dana dari sponsor untuk mendanai misi riset yang butuh biaya setidaknya Rp200 juta untuk satu tim.

Praktis selama ini, Prof. Sap mengaku saweran dengan jaringannya untuk mendanai program ini. Miris, negara tak hadir.

Padahal, program ini bisa dibilang istimewa. Sebab, jika berhasil diuji di ISS, maka riset siswa Tanah Air itu akan menjadi riset pertama Indonesia yang ada di ISS. Selama ini, belum ada nama Indonesia hadir di antariksa. Jangankan untuk astronaut, untuk riset pun simbol Indonesia belum menembus.

Hal itu dikuatkan dengan keterangan dari Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Clara Yatini. Ia mengatakan, sejauh ini, kontribusi Indonesia dalam riset dalam dunia antariksa hanyalah menyumbangkan material penelitian.

“Kalau untuk hadir di sana (ISS) belum. Yang ada kerja sama dengan modul untuk diletakkan di ISS milik Jepang, Kibo. Itu kerja sama dengan ITB,” ujar Clara kepadaVIVA.co.id.

Kerja sama dengan negeri Matahari Terbit itu pun, kata Clara, masih tahap diskusi dan baru diluncurkan ke ISS pada 2017. Artinya, riset peneliti ITB dan Jepang itu akan didahului oleh pengujian eksperimen dari siswa SMA Indonesia.

Clara mengatakan, selama ini riset keantariksaan dari peneliti Indonesia masih menjalankan uji coba di daratan Bumi saja.

Misalnya, peneliti Indonesia melakukan simulasi dengan peralatan untuk meniru kondisi mikro gravitasi di antariksa. Pencapaian terbaik peneliti Indonesia dalam riset antariksa yaitu sebatas berkontribusi mengirimkan material penelitian di ISS. Peneliti Tanah Air tak terlibat.

“Kita kirimkan biji diterbangkan ke sana dan dikembalikan dan ditanam ke Bumi,” tutur perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang itu.

Inspirasi generasi muda

Prof. Sap mengatakan, program yang dicetuskan itu bertujuan menginspirasi kepada generasi muda bangsa untuk melahirkan karya dunia.

Program riset itu akan menjadi ujian sejauh mana kemajuan sains generasi muda Indonesia dalam melahirkan eksperimen kelas dunia. Dia mendorong dua tim SMA terpilih untuk bereksperimen masalah yang relevan diterapkan di Tanah Air tercinta. Misalnya, riset padi atau tempe di antariksa.

Meski risetnya jauh di luar angkasa, tapi para siswa tetap bisa memantau eksperimen mereka dari Bumi. Sebab, pada uji coba hasil riset itu akan dipasang monitor berupa kamera, termometer atau alat ukur lainnya.

Sebagai bentuk kebanggaan, nama Indonesia bisa hadir di ISS. Prof. Sap berencana menambahkan bendera Indonesia dan logo garuda pada kotak eksperimen yang dikirim ke antariksa.

“Saya ingin ngipasi (memacu) inspirasi kecintaan sains antariksa ini menular di Indonesia,” ujarnya.

Prof. Sap ingin memanfaatkan momentum hasil riset siswa Indonesia di ISS untuk makin menggaungkan program ilmiah dari Indonesia. Ia juga berharap dengan terus mendapat kesempatan riset, kualitas riset Indonesia di NASA dan antariksa bisa makin berkembang.

“Yang lain, riset sudah canggih, di ISS mereka meneliti bagaimana manusia bisa hidup di antariksa dalam jangka panjang. Penelitian sudah sampai astromedical science, ini untuk persiapan ke Mars,” kata dia.

Untuk itu, ia berharap pada tahun-tahun selanjutnya, riset dari peneliti dan siswa Indonesia bisa mendapatkan tempat di ISS maupun NASA.

Tak hanya soal riset, Prof. Sap berharap nantinya NASA mau untuk memberikan ruang bagi astronaut asal Indonesia bisa terbang ke ISS.

Hal itu untuk memecah kebuntuan kehadiran astronaut Indonesia di antariksa. Terakhir kali, Indonesia serius untuk mengirimkan astronaut sudah lama, yakni pada 1986 melalui calon astronaut Pratiwi Sudarmono.

Namun sayangnya, kesempatan Pratiwi itu gagal lantaran pesawat ulang alik Challenger, yang membawa misi NASA sebelum misi yang dijalani Pratiwi, meledak. Akhirnya, NASA membatalkan beberapa misi penerbangan ke antariksa, termasuk pesawat ulang alik Columbia yang akan diikuti oleh Pratiwi.

Calon astronaut Indonesia

Saat Indonesia absen dari pengiriman astronaut sejak 1980-an, jelang peralihan tahun 2013 ke 2014, ada harapan astronaut Tanah Air yang akan mewakili Indonesia di antariksa.

Calon astronaut tersebut yaitu Rizman Adhi Nugraha. Rizman memang bukan “lahir” dari program pemerintah, melainkan muncul dari sebuah kompetisi parfum, Axe Apollo Space Academy.

Sebuah ajang kompetisi global yang menjanjikan pemenangnya bisa terbang ke luar angkasa. Rizman menjadi salah satu pemenang kompetisi global tersebut.

Rizman pun ikut kompetisi setelah ia “bertarung” dengan 80 ribuan pendaftar di Indonesia, 40 peserta dalam tingkatan National Space Camp, dan berkompetisi dengan 105 perserta lainnya di tingkatan Global Space Camp di Amerika Serikat.

Melalui dua tahapan pengujian itu, Rizman melewati beragam tantangan yang membangun menguji fisik dan mental peserta. Akhirnya, pada penghujung 2013, Rizman terpilih menjadi salah satu dari 23 peserta yang berhak untuk terbang ke luar angkasa.

“Dan akhirnya terpilih, Alhamdulillah ini mungkin rezeki saya,” kata dia.

Rizman menyadari, penerbangannya ke titik nol gravitasi itu berbeda dengan misi astronaut badan antariksa reguler. Menurut dia, astronaut reguler menjalani tes yang lebih berat dan berada di antariksa serta menjalankan misi dalam jangka panjang.

“Kalau kayak itu (astronaut NASA) lebih beda. Astronaut dari NASA kan ada misi khususnya, di satelit tinggal berapa lama itu, memang ada yang lebih spesifik, jadi beda, ya. Lebih berat astronaut reguler,” kata dia.

Sementara itu, untuk penerbangan yang dijalaninya pada akhir 2015 atau paling lambat akhir 2016, ia mengatakan hanya “mencicipi” antariksa selama 6 menit. Tak ada aktivitas penelitian atau pengamatan. Rizman akan melalui itu hanya sekadar melihat dan merekam pemandangan Bumi dari luar angkasa.

Meski cuma sekejap dan tak menjalankan misi khusus, pemuda asal Bangka Belitung tersebut mengatakan, momen itu akan menjadi hal yang khusus bagi dia secara pribadi dan Indonesia.

“Jadi, momen 6 menit itu bisa mengubah sejarah Indonesia, jangan sampai kalah dengan negara tetangga, Malaysia saja sudah (kirimkan astronaut), kita belum ada satu pun,” ujar Rizman kepada VIVA.co.id di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis malam, 2 Juli 2015.

Jika ia terbang ke luar angkasa, kata Rizman, bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu “mengirimkan” warganya ke antariksa.

Rizman mengatakan, penerbangannya juga membawa pesan ke generasi muda untuk tak patah arang dalam menggapai mimpi. Terlepas ambisi apa pun, selama itu positif haruslah diusahakan secara keras agar bisa tercapai.
Tak punya program

Di tengah munculnya riset dan astronaut yang membawa nama Indonesia, pemerintah pun bisa dibilang angkat tangan terkait dengan program keantariksaan.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, Clara Yatini, mengatakan, pemerintah hingga hari ini tak memiliki program nasional antariksa, terlebih untuk pengiriman astronaut. Dengan demikian, lembaga sekelas Lapan pun bingung.

“Belum ada programnya itu, rasanya siapa (lembaga) yang harus jadileader-nya, belum tahu. Rasanya, siapa yang dipersiapkan untuk jadi astronaut itu, nggak ada ya, karena program nggak ada,” kata dia.

Maka, kata Clara, sudah seharusnya program nasional riset antariksa harus mendapat sokongan dana pemerintah. Ia yakin, jika pemerintah ada komitmen, banyak peneliti yang akan mendukung program tersebut.

Tapi, Clara menyadari kenapa program antariksa dan astronaut belum menjadi prioritas. Sebab, untuk mengirimkan misi ke luar angkasa itu butuh biaya yang sangat besar.

Untuk meluncurkan roket beserta muatan ke luar angkasa setidaknya butuh US$70 juta atau Rp1 triliun. Belum lagi anggaran riset nasional di Indoensia tergolong sangat kecil.

Perempuan jebolan Astronomi Universitas Tohoku, Jepang, itu membandingkan bagaimana pemerintah Malaysia peduli dengan program antariksa, sehingga negeri jiran itu bisa mengirimkan astronautnya ke antariksa.

“Mereka (astronaut Malaysia) didanai pemerintah, mereka dapatkan pelatihan di luar, di NASA, dibiayai,” kata dia.

Dengan absennya pemerintah dalam program astronaut, menurut Clara, agar bisa mengirimkan astronaut bisa dengan menggalang dukungan dana dari luar atau swasta. Menurut dia, hal itu sah-sah saja sepanjang pemerintah tak mampu mendanai program.

“Saya pribadi pasti akan mendukung, sayangnya pihak asing belum ada yang mau merekrut (astronaut dari Indonesia),” kata dia.

Pihak asing tak mau merekut bukan karena daya tawar Indonesia maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia rendah. Menurut dia, jika ikut program NASA atau badan antariksa lain, juga tetap perlu memikirkan sokongan dana.

Jika pun ikut NASA, kata Clara, pasti badan antariksa AS itu akan meminta biaya untuk mengakomodasi peluncuran tersebut.

Hal yang paling mungkin saat ini, dia menambahkan, adalah mengirimkan hasil riset peneliti Indonesia untuk dititipkan roket dan diuji di ISS.

Untuk itu, ia memuji gagasan atau ide uji coba hasil riset siswa Indonesia di ISS. Clara pun mengomentari pancapaian Rizman.

“Bisa seperti itu bagus sekali, apalagi nanti misalnya Rizman dititipin penelitian, itu bagus sekali. Tapi, kan itu swasta dan mereka pasti motivasinya kan untung rugi sih,” katanya.

Waktu singkat yang dimiliki Rizman sebenarnya, kata dia, tak menjadi kendala untuk menjalankan riset di antariksa.

Clara mencontohkan di tingkatan Asia, pernah ada program parabolic flight yang disokong Jepang. Misi yang diikuti pelajar dan mahasiswa itu meneliti dan melakukan percobaan di wilayah nol gravitasi, meski waktunya kurang dari 6 menit.

“6 menit (Rizman) rasanya percobaan juga bisa,” kata dia.

Di tengah kebuntuan dukungan dana tersebut, Clara pun tersenyum saat mendengar kelakar, mungkin perlu menunggu kaum filantropi yang gila sains menggelontorkan program astronaut Indonesia.

“Industri (swasta) kita memang belum melihat (kebutuhan riset antariksa). Sulit bagi industri swasta karena kan orientasinya bisnis, sulit,” kata dia.

Ia menambahkan, di tengah kekosongan program astronaut dan riset antariksa, ia mengharapkan ada pihak yang berani usul ke pemerintah secara intens agar melahirkan program astronaut.

“Harus ada yang berani mengusulkan, harus didukung, juga oleh yang lain. Misalnya Lapan yang usulkan, tapi kalau sendirian nggak mungkin, perlu konsorsium usulkan itu, biar lebih kuat. Lapan tak bisa sendiri,” tuturnya. (art)

June 30, 2015

Moratorium Alih Status PTS Dilanjutkan

mau jadi apa bangsa ini, jika pendidikan tingginya sekedar “pabrik pencetak ijazah” saja.. Coba dari daftar eks PTS yang menjadi PTN ini apa ada yang sudah berprestasi Internasional ??

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah meneruskan moratorium, penghentian sementara, perubahan status perguruan tinggi swasta menjadi perguruan tinggi negeri. Keputusan itu karena adanya persoalan anggaran, pengelolaan aset, dan perubahan status kepegawaian. Pemerintah tidak ingin menambah persoalan menjadi lebih kompleks di kemudian hari.

Program penegerian perguruan tinggi swasta (PTS) yang dimulai 2010 bertujuan meningkatkan akses, memeratakan pendidikan tinggi, dan meningkatkan mutu. Lantaran banyaknya masalah, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melakukan moratorium perubahan status sejak 29 Juli 2013.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, masih ada persoalan perubahan status 36 perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah itu terdiri dari tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) baru dan 29 PTS yang berubah statusnya menjadi negeri. “Banyak masalah bermunculan. Pertama, masalah pegawai, kedua masalah aset, lalu masalah anggaran,” kata Muhammad Nasir seusai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, di Jakarta, Senin (29/6).

Setelah perubahan status perguruan tinggi swasta menjadi negeri, status pegawai tidak bisa otomatis jadi pegawai negeri sipil (PNS) semua. Saat ini, masih ada 4.358 pegawai yang status kepegawaiannya dilematis. Nasir berpendapat, status mereka tetap pegawai non-PNS.

Masalah berikutnya ialah anggaran. Seharusnya pemerintah daerah ikut menanggung beban anggaran perubahan status PTS di wilayahnya. Namun, ada sejumlah PTS yang sudah berubah status selama lima tahun, tetapi belum mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan mengkaji persoalan itu dalam dua pekan. Tahun ini, Kementerian Ristek dan Dikti menerima anggaran Rp 41,5 triliun untuk anggaran operasional 134 perguruan tinggi negeri dan bantuan operasional sekitar Rp 300 miliar.

Beban keuangan

Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Ristek dan Dikti memperpanjang moratorium peralihan status PTS menjadi PTN. Arahan Presiden dalam rapat terbatas yang membahas penegerian PTS menjadi PTN itu disampaikan Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki.

Presiden memperpanjang moratorium itu karena berpengaruh pada ruang fiskal negara. Masalah proses penegerian PTS lebih banyak menyangkut keterbatasan anggaran APBN, pencatatan peralihan aset dari swasta ke pemerintah pusat, dan status kepegawaian. Selanjutnya, Presiden akan memilih dan memutuskan PTS yang layak diubah statusnya, termasuk mempelajari masalah di Universitas Trisakti dan Universitas Pancasila.

content

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamid menyambut baik moratorium penegerian PTS berlanjut. “Kebijakan penegerian PTS harus dikaji komprehensif. Penegerian yang terjadi selama ini tidak jelas arahnya,” kata Edy. (NDY/ELN)

Mutu Perguruan Tinggi Tertinggal

Kualitas Pendidikan Tinggi Timpang

JAKARTA, KOMPAS — Mutu pendidikan tinggi Indonesia masih tertinggal jauh dan membutuhkan perhatian serius. Pada salah satu indikator mutu, publikasi ilmiah, misalnya, Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga. Perguruan tinggi yang masuk 500 peringkat terbaik dunia pun berkurang.

Mengacu data publikasi ilmiah yang terindeks Scopus, total produksi 10 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia sekalipun belum bisa mengalahkan publikasi ilmiah satu universitas di Malaysia, yakni Universitas Kebangsaan Malaysia. Jika UKM mampu menghasilkan hingga 18.000 publikasi yang terindeks Scopus, total publikasi ilmiah dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia baru berkisar 14.000 yang terindeks Scopus.

Kondisi mutu pendidikan tinggi Indonesia tersebut dipaparkan Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo dalam seminar nasional dan deklarasi Gerakan Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis Mutu, di Jakarta, Jumat (24/4). Kegiatan itu digagas Pusat Layanan Pengkajian dan Implementasi (Puslapim) Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Berbasis Sistem Pengendalian Mutu Internal.

“Masalah akses pendidikan mulai teratasi. Tetapi, untuk mutu, kondisinya akut. Oleh karena itu, pada 2015-2019, prioritas pendidikan tinggi difokuskan untuk meningkatkan mutu dan relevansi,” kata Patdono.

Tertinggalnya mutu pendidikan tinggi Indonesia juga terlihat dari jumlah perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 terbaik dunia. Jika beberapa tahun lalu, Indonesia mampu menempatkan enam perguruan tinggi negeri di 500 top dunia, kini cuma tersisa dua, yakni Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Adapun Malaysia justru meningkat dengan menempatkan lima perguruan tingginya di 500 top dunia.

Patdono mengatakan, pemerintah mendorong perguruan tinggi negeri potensial, seperti Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Airlangga, untuk masuk 500 top dunia. Dukungan berupa dana dan pendampingan.

Ketimpangan

Persoalan mutu perguruan tinggi di Indonesia bukan hanya kalah bersaing di dunia internasional. Di dalam negeri, terjadi ketimpangan mutu mencolok antara perguruan tinggi di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Berdasarkan penilaian mutu eksternal dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi pada 2014, terdata baru 164 perguruan tinggi dari total 4.274 perguruan tinggi yang terakreditasi institusinya. Hanya dua perguruan tinggi di luar Pulau Jawa yang mampu meraih akreditasi A.

Demikian pula dengan akreditasi program studi. Hanya 223 prodi dari perguruan tinggi luar Jawa yang mendapat nilai A daripada 1.478 prodi di Pulau Jawa yang meraihnya.

Menurut Patdono, peningkatan mutu harus serius. Harapan masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak lagi cukup sebagai agen pendidikan ataupun riset. “Pendidikan tinggi kini diharapkan jadi agen pembangunan ekonomi. Untuk itu, perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan lulusan dan riset yang baik, tetapi menghasilkan inovasi, pekerjaan, industri, dan devisa,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Puslapim Willy Susilo mengatakan, pembangunan pendidikan tinggi menjadi elemen fundamental dalam mencapai kemajuan, kesejahteraan, dan kekuatan Indonesia pada masa depan. Puslapim sebagai institusi nirlaba memiliki misi dalam menyediakan layanan pengembangan, bimbingan penerapan, jasa pemeriksaan, pengkajian, serta peningkatan sistem manajemen mutu penyelenggaraan perguruan tinggi.

Pada kesempatan itu, sejumlah pemimpin perguruan tinggi bersama Kementerian Ristek dan Dikti mendeklarasikan komitmen mengupayakan penyelenggaraan perguruan tinggi bermutu. Harapannya, lulusan mampu berperan dan berkontribusi lebih besar dalam pembangunan nasional.

Laksamana Madya DA Mamahit, selaku penasihat Puslapim yang juga Rektor Universitas Pertahanan, mendorong perguruan tinggi membangun kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa sebagai salah satu bentuk penguatan karakter. Generasi muda yang mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Associate Puslapim, Iyung Pahan, mengatakan, peningkatan mutu perguruan tinggi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan bonus demografi, yakni angkatan kerja produktif. Pendidikan tinggi berbasis mutu perlu dengan mengacu manajemen mutu terpadu. (ELN)

June 7, 2015

Laboratorium Hujan di Bunder

Lereng Merapi Tua yang menjadi tempat hidup warga Dusun Bunder, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, tak mungkin memancurkan air. Secara turun-temurun mereka mengonsumsi air hujan. Pada awalnya air hujan dianggap tak berharga, tetapi kini air dari langit itu dipercaya sebagai air murni yang berkualitas paling baik.

Warga mengolah air hujan menggunakan alat elektrolisis di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Jatinom,  Klaten, Jawa Tengah. Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOWarga mengolah air hujan menggunakan alat elektrolisis di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.

Posisi air hujan makin berharga sejak warga berduyun-duyun menggunakan teknik elektrolisis dengan teknologi sederhana, yaitu disetrum dengan aliran listrik, sejak dua tahun terakhir. Karena mengonsumsi air berkualitas yang telah terionisasi menjadi bersifat basa dan lebih banyak mengandung oksigen, pelan-pelan warga merasa kesehatan mereka membaik.

Darmo Suwito (57), yang akrab disapa Mbah Jelam, sempat putus asa hingga dua kali mencoba bunuh diri karena penyakit kencing batu menahun yang diidap sejak remaja. Ia pernah mencoba gantung diri dengan lilitan selimut rumah sakit sebelum kepergok perawat. Usaha bunuh diri kedua kali dilakukan di rumahnya, tetapi diselamatkan tetangga. Keputusasaan menghinggapi Mbah Jelam. Ia sudah menjalani enam kali operasi batu ginjal dan bolak-balik memeriksakan diri ke rumah sakit rutin satu pekan sekali. Ketika dijumpai di rumahnya yang berlantai tanah, tak ada jejak putus asa. Semangat hidupnya malah meluap-luap.

“Saya biasanya ke Apotek Klaten tiap minggu, beli obat. Kemarin, petugasnya tanya, kok, lama enggak ke sini? Saya jawab, sudah sembuh setelah minum air hujan yang disetrum,” katanya.

Sejak setahun terakhir, Mbah Jelam menyaring air hujan sebelum dielektrolisis. “Setelah kenal air setrum. Saya enggak pernah beli obat lagi, sudah pulih,” tambah Mbah Jelam yang memakai air setrum untuk masak, menanak nasi, hingga mandi.

Bagi warga, kesembuhan dianggap sebagai efek samping setelah mengonsumsi air minum berkualitas, bukan obat. Ketika racun di tubuh terlarutkan oleh air ionisasi, beragam penyakit pun turut sembuh. Warga mengamini logika sederhana bahwa bersih pasti pangkal sehat.

Karmi (50) juga terbebas dari penyakit jantung, diabetes, hingga asma. Karena komplikasi penyakit, ia pernah dua kali rawat inap di rumah sakit hanya dalam waktu satu bulan. “Saya opname di rumah sakit sampai 10 kali. Punya anak sapi hasil nggaduh (bagi hasil) terpaksa langsung dijual buat berobat,” ujar Karmi.

Setahun setelah mengonsumsi air setrum, penyakit Karmi tak pernah kambuh. Paling-paling kini ia hanya menghabiskan uang Rp 15.000 per bulan untuk membeli cadangan obat asma.

Laboratorium desa

Tak hanya membawa kesembuhan, manfaat air setrum ternyata sangat luas. Suami Karmi, Karno (60), merasa tubuhnya makin bugar. Bahkan, rambut di kepalanya yang sempat botak tumbuh lagi. Semangatnya bekerja di ladang, memelihara sapi, dan membuat kerajinan kurungan ayam pun terdongkrak.

Warga memainkan gamelan di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Gunawan meminum air hujan yang telah diolah di Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5).  Sebagian besar masyarakat dusun itu telah rutin mengkonsumsi air hujan yang dielektrolisa untuk meningkatkan kesehatan mereka.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Intelegensia anak-anak konsumen air ionisasi terbukti meningkat. Anak dari pasangan Supriyono (47) dan Marni (37), menanjak prestasi belajarnya dari peringkat ke-19 menjadi peringkat ke-5. Ketika anaknya terkena sengatan tarantula, Supriyono bereksperimen merendam luka dengan larutan asam dari air setrum dan ternyata membaik.

Berkat air setrum, adik Karno, Sunarno (50) yang dulunya penjudi berat memilih “bertobat”. Kecanduan pada konsumsi minuman instan penambah stamina juga hilang. Sunarno pun menggunakan air ionisasi untuk menghilangkan bau kotoran sapi yang biasanya melekat berhari-hari. “Air itu fungsinya untuk bersih-bersih. Enggak hanya tubuh, tetapi juga pikiran,” katanya.

Saking cintanya pada air hujan, rumah Sunarno yang terdiri dari satu ruangan untuk tidur dan menerima tamu, semarak dengan hiasan botol stok air hujan. Di rumah tersebut terdapat dua dipan beralas tikar, satu dipan untuk tidur Sunarno dan satu lagi menjadi wadah botol-botol air hujan. Di rumah yang menyatu dengan kandang sapi itulah Sunarno mencoba hidup sehat dengan air setrum.

Rohaniwan Romo Kirjito berdialog dengan warga di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKORohaniwan Romo Kirjito berdialog dengan warga di Kampus Kandang Udan, Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (18/5). Rumah itu menjadi pusat pengembangan dan penelitian pemanfaatan air hujan untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat setempat.

Selain bereksperimen sebagai konsumen, mereka aktif meneliti sebagai produsen di laboratorium yang mereka kelola secara mandiri. Gaya mereka seperti MacGyver dalam serial televisi yang digandrungi pada 1980-an itu. Jika MacGyver yang diperankan aktor Richard Dean Anderson piawai merakit senjata dari benda sederhana berbekal pisau lipat serta pengetahuan fisika dan kimia, warga Bunder, hanya mengandalkan ilmu elektronika setara pendidikan SMP.

Laboratorium Kampus Kandang Udan yang bermarkas di rumah pinjaman milik mantan kepala desa itu menjadi sarana warga untuk terus belajar. Di lab tersebut, warga seperti Wono (31) yang hanya jebolan kelas III sekolah dasar aktif meneliti air hujan sekaligus membuat bejana elektrolisis hingga larut malam.

Naik kasta

Dengan teknologi sederhana, warga menciptakan kemandirian produksi air minum sendiri. Teknik elektrolisis diterapkan menggunakan dua bejana berhubungan yang dialiri listrik searah (DC). Molekul air kemudian terurai menjadi ion bermuatan negatif dan ion positif. Ion yang bersifat basa dengan PH >8 yang kemudian dikonsumsi warga.

Kepala Dusun Bunder Giyanto selalu membawa alat pengukur keasaman dantotal dissolved solid (TDS) untuk mengecek kualitas air baku. Saat ditemui di Kampus Kandang Udan, ia sedang sibuk mengukur kandungan mineral terlarut (TDS) dalam air embung. Angka TDS dari air embung setelah diendapkan adalah 16 mg/l, masih memenuhi standar laik minum maksimum 500 mg/l versi Standar Nasional Indonesia (SNI) 2006.

Warga rata-rata memiliki bak tampungan air hujan berukuran besar yang dibuat tahun 1970-an. Jika musim kemarau berkepanjangan, mereka membeli 4-5 tangki air berisi 5.000 liter per tangki seharga Rp 100.000. Jalur pipa air minum sudah dipasang, tetapi tak sanggup mengalirkan air dari sumur dalam karena debit airnya yang terlalu kecil, 0,5 liter per detik. Padahal, biaya pengadaan paralon saja sudah mencapai Rp 800 juta dan menjadi mubazir tanpa aliran air.

“Disebut Kandang Udan karena semua warga di sini punya kandang. Tempatpanggulawentah rajakaya. Sekarang harta bendanya, ya, air hujan,” kata Agus Bimo Prayitno (56), seniman yang pertama kali memperkenalkan teknologi elektrolisis bersama rohaniwan V Kirdjito Pr di Dusun Bunder.

Sejak mulai mengonsumsi air hujan yang disetrum pada 2013, 80 persen dari total 162 keluarga di Dusun Bunder dan Dusun Jarakan perlahan mulai bangga dengan konsumsi air hujan. Dulu, mereka malu menyuguhkan air hujan bagi tamu. “Sekarang air hujan dieman-eman, disisakan untuk musim kemarau. Air tangki dipakai buat minum ternak,” kata Gunawan (42).

Pakar Gizi Medis Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, menegaskan, belum ada bukti ilmiah berbasis penelitian tentang manfaat air hujan terelektrolisis untuk penyembuhan penyakit. “Semua air minum layak konsumsi mempunyai manfaat kesehatan karena akan menggantikan cairan yang hilang sehingga dapat membantu metabolisme dan reaksi kimia yang terjadi di dalam sel tubuh untuk fungsi fisiologis semua organ tubuh,” katanya.

Elektrolisis, katanya, merupakan salah satu cara untuk melakukan disinfeksi atau menghilangkan bakteri penyebab penyakit dalam air hujan yang banyak diteliti sampai sekarang.

Terlepas dari dampak kesembuhan yang diperoleh, kegigihan warga untuk meneliti dan memproduksi air minumnya sendiri patut diacungi jempol. Kemandirian air yang memunculkan para “MacGyver” dari Lereng Merapi.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2015, di halaman 1 dengan judul “Laboratorium Hujan di Bunder”.

May 28, 2015

Kasus Ijazah Palsu Dibongkar

Waspada Kriminalitas Pendidikan

Kasus sudah menahun.. Baru sekarang dibongkar.. Membersihkan sampahnya perlu berapa generasi..

MEDAN, KOMPAS — Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Medan mengungkap kasus pemalsuan ijazah oleh tersangka MY (63) yang mengaku sebagai Rektor Universitas Sumatera. Tersangka mengeluarkan ijazah tanpa melalui prosedur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tersangka langsung mencetak ijazah dan menjual kepada pemohon dengan harga Rp 10 juta sampai Rp 40 juta per ijazah. Tersangka MY melakukan hal tersebut sejak 2003.

”Modusnya ialah berkeliling di Medan dan Sumatera Utara dengan mobil lalu menawarkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dari pengakuannya, tersangka telah mencetak 1.200 ijazah,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Medan Komisaris Besar Nico Afinta, Rabu (27/5), di Medan, Sumatera Utara.

Nico mengatakan, ijazah yang dikeluarkan dan universitas milik tersangka, yaitu Universitas Sumatera atau University of Sumatera, tidak teregistrasi, baik di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi maupun di Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah I Sumatera Utara. ”Seseorang yang menyelenggarakan atau membuat ijazah palsu diancam pidana 10 tahun penjara,” kata Nico.

Nico mengimbau instansi atau perusahaan yang menerima pekerja dengan ijazah dari Universitas Sumatera untuk melapor. ”Kepolisian masih mencari dan mengecek siapa saja yang pernah membeli dan memakai ijazah ini. Mereka yang memakai ijazah ini juga akan terkena pidana. Ini merugikan pendidikan nasional,” ujarnya.

Barang bukti

Barang bukti yang disita antara lain brosur Universitas Sumatera sebanyak 2.500 lembar, 8 stempel, 2 ijazah pascasarjana yang akan diberikan kepada pemohon bernama Sucipto, buku kuliah, uang Rp 15 juta untuk pembelian ijazah S-2, blangko ijazah yang masih kosong untuk S-1 dan S-2, transkrip nilai, serta skripsi.

Kampus yang digunakan pun meragukan. Misalnya, kampus I Universitas Sumatera di Jalan Letda Sujono Nomor 90, Kecamatan Medan Tembung, ternyata rumah penduduk. Kampus II di Jalan Abd Sani Muthalib ternyata adalah SMP Swasta PGRI 3.

Koordinator Kopertis Wilayah I Sumatera Utara Dian Armanto menyatakan, kampus yang legal antara lain harus ada badan penyelenggara, perkumpulan atau yayasan divalidasi Kementerian Hukum dan HAM, data mahasiswa dan dosen terdaftar di pangkalan data pendidikan tinggi, serta ada izin dari pemerintah.

Pihak Kopertis tak berwenang menutup universitas itu. ”Kami melaporkannya ke kepolisian,” ujarnya. (DKA)

May 27, 2015

Indonesia Mengubah Pandangan Ilmu Arkeolog Dunia

Indonesia juga sudah berhasil merubah pandangan ilmu sosial dan politik oleh keberhasilan seorang “jongos” jadi presiden

News / Sains

Selasa, 26 Mei 2015 | 15:51 WIB
Feri LatiefGambar Anoa dan stensil tangan menjadi salah satu temuan gambar cadas yang fenomenal di goa Uhalie, Bone, Sulawesi Selatan. Temuan gambar-gambar cadas di Sulawesi selatan berusia sama dengan temuan di El Castillo di Spanyol yang berumur sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Peneliti senior arkeologi prasejarah dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Profesor Truman Simanjuntak, menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia masih mempunyai banyak temuan-temuan yang terpendam di dalam tanah.

“Satu waktu dengan penelitian yang intensif kita akan mendapatkan lagi penemuan-penemuan besar,” katanya.

Hal ini disampaikannya dalam seminar “Indonesia Sebagai Tapak Temuan Ilmiah Akbar Dunia” yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang sedang merayakan ulang tahun berdirinya yang ke-25, Senin (25/5/2015) di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Prof. Truman menceritakan bahwa sekitar bulan Oktober tahun lalu dunia ilmu pengetahuan dikejutkan oleh sebuah jurnal ilmiah tentang penemuan seni lukis tertua atau salah satu dari dua yang tertua di dunia yaitu di Maros, Sulawesi Selatan. Dunia terhentak.

Sebelumnya Indonesia atau Sulawesi Selatan tidak begitu dikenal oleh para ilmuwan tentang lukisan gua. Mereka lebih mengenal Eropa kemudian Australia sebagai wilayah yang potensial.

Biasanya setiap temuan baru yang diterbitkan di jurnal ilmiah akan banyak yang mempertanyakan atau mendebatnya. Tapi untuk temuan di Maros ini sedikit sekali yang mempertanyakannya karena bukti dan metode yang digunakan valid.

“Dengan temuan itu para ahli mulai melihat wilayah kita sebuah potensi yang sangat besar di bidang lukisan gua,” tandas Truman.

Lukisan tertua pertama ditemukan di El Castillo, Spanyol. Menurut penelitian usia penanggalannya berkisar dari 40.800 tahun yang lalu. Sedangkan Liang Timpuseng di Maros berusia 39.900 tahun yang lalu. Tradisi menggambar di cadas gua masih terus berlanjut sampai 2.000-4.000 tahun yang lalu. Gambar-gambar berarti dibuat oleh manusia modern awal atau Homo sapiens bukan manusia purba.

Gambar-gambar yang terdapat di dalam goa itu terdiri dari berbagai motif, ada gambar binatang, motif tangan, figur manusia, motif geometris, alat-alat batu, dan juga moda transportasi. Mereka menggunakan bahan pewarna dari batu oker atau hematit yang dihaluskan lalu dicampur dengan getah pohon tertentu atau lemak binatang.

Di seluruh dunia terdapat 70.000 situs lukisan cadas yang tersebar di 160 negara. Kurang lebih terdapat 45 juta gambar dan simbol-simbol yang tercatat. Di Indonesia lukisan goa banyak terkonsentrasi di bagian tengah dan timur Indonesia. Tapi kemudian belakangan ini ditemukan juga di Sangkulirang di Kalimantan, Padang Bindu di Sumatera Selatan, dan Cilacap di Jawa Tengah.

Di daerah pegunungan kars antara Maros dan Pangkep ditemukan 101 goa. Dari jumlah itu 93 goa di antaranya memiliki gambar cadas, dan 54 gua lainnya mempunyai gambar stensil tangan.

Dr. Pindi Setiawan, dosen komunikasi visual dari Fakultas Seni Rupa ITB, pernah mengatakan bahwa pendahulu kita di Nusantara adalah penggambar cadas yang adiluhung. Dalam penelitiannya di goa-goa pegunungan Sangkulirang dan Mangkalihat di Kalimantan ia menyebutkan banyak menemukan gambar stensil tangan yang dibuat dengan teknik kesulitan yang tinggi. Di dalam langit-langit gua yang tinggi mereka membuat gambar yang sulit dijelaskan bagaimana cara mereka mengerjakannya. Gambar-gambar cadas di Sangkulirang berusia sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Dr. J.C.A Joodens peneliti asal belanda yang juga tampil dalam seminar itu memaparkan temuan arkeologis baru. Para peneliti di negaranya menemukan bahwa manusia purba di Trinil Jawa Tengah, Homo erectus, telah menggunakan alat dan kreativitas seni dari 500.000 tahun yang lalu. Mereka menemukan ukiran motif geometrik tertentu pada artefak kulit kerang.

Manusia purba Jawa juga menggunakan kulit kerang sebagai alat untuk keperluan sehari-hari. Saat temuan itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah banyak yang terkejut karena manusia purba di Jawa telah melakukan seni awal. Ini membawa pertanyaan lebih lanjut tentang kecerdasan Homo erectus. Seperti diketahui, Homo erectus hanya ada di dua tempat di dunia, yaitu di Jawa dan Afrika.

Semua temuan-temuan itu arkeologis yang mendunia yang banyak itu menurut Prof. Truman adalah sumbangan leluhur-leluhur kita di Nusantara untuk pengetahuan dunia. “Sekarang apa yang bangsa ini bisa berikan pada dunia? Konflik saja yang bisa diberikan pada dunia?”

Ia dan rekan-rekan lainnya berusaha mencoba mengangkat nilai-nilai itu dan memasyarakatkannya. Karena menurutnya semua temuan arkeologis itu bisa menjadi landasan peradaban kita sekarang.

“Jadi kalau ada nilai keuletan, nilai gotong royong, nilai kerja sama, semua itu harusnya dikembangkan bukan dihilangkan. Itu yang membuat bangsa ini bangsa yang berbudaya dan berkepribadian berdasarkan nilai-nilai yang memang sudah berakar jauh ke masa silam. Itu namanya strategi kebudayaan,” tandas Profesor Truman Simanjuntak menutup pembicaraan.(Feri Latief)

May 20, 2015

Jokowi Teken Perpres Organisasi Baru LAPAN

udah dibaca dulu nggak Pak Presiden ?

RABU, 20 MEI 2015 | 14:39 WIB

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pembukaan pada Konferensi Parlemen Asia-Afrika di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 23 April 2015. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengingatkan kembali kontekstualisasi nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) agar tetap relevan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2015 tentang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Perpres ini diterbitkan untuk melaksanakan amanat Pasal 38 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Kentariksaan.

Dalam Perpres itu disebutkan, LAPAN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang berada dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang riset dan teknologi.

“LAPAN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya, serta penyelenggaraan keantariksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” seperti dikutip situs setkab.go.id dari Pasal 2 Perpres tersebut, Rabu, 20 Mei 2015.

Organisasi ini terdiri dari kepala, sekretaris utama, deputi bidang sains antariksa dan atmosfer, deputi bidang teknologi antariksa, dan deputi bidang penginderaan jauh. Kepala LAPAN merupakan jabatan struktural eselon I.a atau Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. Sedangkan Sekretaris atau Deputi merupakan jabatan struktural eselon I.a atau jabatan Pimpinan Tinggi Madya.

Adapun Kepala Biro, Kepala Pusat, dan Inspektur merupakan jabatan struktural esleon II.a atau jabatan Pimpinan Tinggi Pratama. Sedangkan Kepala Bagian dan Kepala Bidang merupakan jabatan struktural eselon III.a atau Administrator, dan Kepala Subbagian dan Kepala Subbidang merupakan jabatan struktural eselon IV.a atau jabatan Pengawas.

“Kepala diangkat dan diberhentikan oleh presiden atas usul menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang riset dan teknologi,” seperti dikutip dari Pasal 38 beleid tersebut.

Sedangkan, sekretaris utama dan deputi diangkat dan diberhentikan oleh presiden atas usul Kepala LAPAN sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk pejabat struktural eselon II ke bawah diangkat dan diberhentikan oleh Kepala LAPAN.

“Peraturan Presiden ini berlaku mulai pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 45 Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2015 yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada tanggal 29 April 2015 itu.

TIKA PRIMANDARI | SETKAB.GO.ID

May 18, 2015

Tahapan Menuju Roket Pengorbit Satelit, Lapan Berhasil Luncurkan RX-450

Indonesia memang sangat potensial untuk bisnis mengorbitkan satelit. harusnya sudah dari dahulu terus dikembangkan..

16 Mei 2016

Roket RX-450 buatan Lapan meluncur (photo : Lapan)

Lapan berhasil meluncurkan roket RX-450. Peluncuran berlangsung di Balai Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Jawa Barat, Rabu (13/5). RX 450 merupakan roket sonda yang mempunyai diameter 450 mm yang dapat digunakan untuk mengukur parameter atmosfer.

Roket ini direncanakan mampu mencapai ketinggian dan jangkauan maksimum berturut-turut sebesar 44 km dan 129 km jika ditembakkan pada sudut elevasi 70 derajat. Roket RX 450 merupakan bagian dari roket bertingkat yang akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS). Uji terbang roket ini merupakan bagian dari tahapan dalam penguasaan roket RPS yang direncanakan dapat membawa muatan 50 kg ke orbit rendah.

Pada uji terbang roket RX 450 tersebut motor roket dapat berfungsi dengan baik untuk membawa terbang roket. Beberapa hal masih harus terus dilakukan untuk memperoleh hasil terbang yang maksimal.

Setelah peluncuran RX-450, Lapan berencana untuk menuju peluncuran berikutnya yaitu RX-550 dan roket berdiameter yang lebih besar. Hasil peluncuran tersebut menjadikan motivasi bagi Lapan untuk lebih maju dalam peningkatan dan pengembangan teknologi antariksa khususnya roket.

Peluncuran disaksikan oleh Kepala Lapan Prof. Thomas Djamaluddin, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Dr. Rika Andiarti beserta pejabat struktural dan para peneliti Lapan, perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, serta PT Pindad.

(Lapan)

April 20, 2015

Takdir Kota Riset Botani

Saya sih berharap agar pemerintah bisa membangun taman botani di kota besar di Sumatra, Kalimantan dan Papua..Selama ini pulau pulau itu hanya dieksploitasi saja alamnya

GIONAL > METROPOLITAN > TAKDIR KOTA RISET BOTANI

KEBUN RAYA

Pohon leci (“Litchi chinensis”) itu masih tegak berdiri dan turut menghijaukan Kota Bogor. Tanaman buah asal Tiongkok itu sudah berada di sana sejak 1823 dan menjadi saksi bisu perkembangan Kebun Raya Bogor sejak kebun botani itu dikembangkan ahli biologi Karel Lodewijk Blume.

Pohon-pohon penghasil buah berkulit merah jingga dan berdaging kenyal manis segar itu adalah pohon tertua yang masih hidup saat ini dari total 13.368 spesimen pohon koleksi Kebun Raya Bogor (KRB). “Saksi hidup meskipun bisu,” kata Kepala Pusat Konservasi Tanaman KRB Didik Widiatmoko, akhir Februari lalu.

Bisa jadi, tidak sedikit ayahanda dan ibunda yang semasa remaja atau kuliah di Bogor pernah memadu kasih di bawah naungan deretan pohon nan menjulang dan rindang atau di taman-taman dan kolam-kolam yang indah itu. Kawasan seluas 87 hektar di jantung Kota Bogor itu bukan sekadar tempat bersemai dan bersemi berbagai pohon dan bunga, melainkan juga kisah kasih pengunjung.

Bagi penulis yang lahir dan tumbuh di Bogor periode 1970-1990, Kebun Raya bukan sekadar kompleks pepohonan yang rimbun, hijau, dengan Istana Bogor yang megah, mentereng, indah, dan diagungkan. Kebun raya juga merupakan laboratorium kehidupan. Selain mengenal kebesaran Ilahi melalui ragam flora dan fauna, di area ini juga bersemi hubungan antarmanusia.

“Papa dan Mama pacarannya ke Kebun Raya,” kata FX Sutoto, ayahanda penulis, saat berbagi cerita tentang masa lalu KRB, Sabtu (18/4). Pacaran pada era 1970-1980 mungkin tidak sevulgar perilaku remaja sekarang. Berpakaian rapi dan trendi, pergi ke Kebun Raya naik bemo, bergandengan tangan menyusuri bulevar pepohonan sambil mengobral rayuan, mungkin adalah “ritual” romantis masa itu.

Periode 1980-1990, saat masa kanak-kanak, bermain ke Kebun Raya adalah keasyikan tiada tara. Paling malas jika diajak pulang menjelang petang. Rengek dan tangis membuat orangtua luluh membiarkan anak-anak yang dengan usil menyusup, mencari, mengintip, memergoki, dan mengganggu pasangan yang sedang bermesraan. Kalau tidak ditegur atau dimarahi oleh yang pacaran, rasanya tidak puas.

Pengalaman lain, mengusili orang pacaran dari trotoar Jalan Jalak Harupat karena sisi utara Kebun Raya berada di bawah. Saat melihat ada yang pacaran, muncul sifat iseng; mengolok-olok dan kemudian melempari mereka dengan buah kenari yang banyak jatuh di tepi jalan. Duh, rasanya nikmat banget.

content
,

Masih di periode 1980-1990, saat sore sehabis mandi, merengek kepada ibunda meminta naik bemo ke Kebun Raya. Jika dikabulkan, dengan riang gembira berjalan dari rumah di Pondok Rumput ke Pejagalan di Jalan Pemuda menyetop bemo, angkutan umum saat itu. Biasanya turun setelah Kantor Pos Bogor di Jalan Juanda yang pada masa kolonial adalah gereja.

Trotoar Jalan Juanda yang merupakan batas barat Kebun Raya merupakan lokasi yang cukup asyik saat sore untuk menengadah dan melihat kegaduhan kepak beribu-ribu kelelawar besar dari deretan pohon rindang. Selain itu, melihat sejumlah pemuda usil yang membawa bedil angin untuk menembaki kelelawar atau burung demi kesenangan.

“Setelah naik bemo, lihat kalong terus pulang, tapi sambil minta jajan,” kata V Pudjoharti, ibunda penulis. Mendengar cerita dan mengingat lagi memori masa kecil bukan sekadar menggali romantisisme, melainkan juga menghayati rasa syukur masih dapat menikmati Kota Bogor yang relatif sejuk, asri, nyaman, dan menyenangkan.

Obyek wisata

Sampai kini, Kebun Raya masih menjadi obyek wisata pilihan dan terkemuka. Saat akhir pekan dan musim libur, tempat ini didatangi lebih kurang 10.000 orang. Rerata harian, jumlah pengunjung 2.000-3.000 orang. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung 4.000-5.000 orang, bahkan dua kali lipat.

Lihatlah pada akhir pekan, Jalan Juanda, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Raya Pajajaran, dan Jalan Jalak Harupat yang mengelilingi kebun raya padat. Semrawut dan macet karena kunjungan pelancong domestik dan mancanegara. Di Kebun Raya, menjadi lazim terasa hiruk-pikuk serta kebisingan massa pengunjung. Sampah bekas kemasan makanan, minuman, atau mainan rusak terkadang berserakan atau meluber dari tong sampah pertanda betapa banyak orang yang berkunjung.

Sebagai obyek wisata, Kebun Raya menjadi tempat yang asyik untuk piknik. Menggelar tikar di bawah pohon rindang, membuka rantang-rantang berisi berbagai jenis makanan dan juga botol-botol penuh berisi limun dan sirup. Menikmati makanan minuman lalu bercengkerama dengan bernyanyi atau sekadar melihat anak-anak bermain adalah pemandangan biasa yang luar biasa.

Yang disayangkan, beberapa kali bencana terjadi, pengunjung tewas tertimpa pohon yang tiba-tiba tumbang. Pohon tumbang pada Januari 2015 menewaskan tujuh orang dari keluarga buruh yang sedang piknik. Pohon damar yang tumbang itu keropos dan tidak terdeteksi sehingga tidak sempat ditebang sebelum bencana.

Riset botani

Meski demikian, mungkin banyak yang menyadari atau tidak memahami bahwa Kebun Raya bukan sekadar obyek wisata. Taman yang ditata sejak era Gubernur Jenderal Hindia-Belanda atau Letnan Gubernur Jawa (1811-1816) Thomas Stamford Bingley Raffles sejatinya adalah kawasan pemuliaan tanaman untuk penelitian dan budidaya.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, Kebun Raya diduga adalah bagian dari samida; hutan, kebun, atau taman buatan Kerajaan Pajajaran. Keberadaan samida teridentifikasi dalam Prasasti Batutulis untuk keperluan kelestarian lingkungan, perlu ada kawasan khusus untuk memelihara benih kayu dan tanaman langka.

Budayawan Sunda Bogor, Eman Sulaeman, menceritakan, samida juga dibuat Kerajaan Pajajaran di perbatasan Cianjur-Bogor yang kini dikenal dengan Kawasan Ciung Wanara. “Bangsa Eropa menemukan kembali lalu membangun, menata, dan memperkaya samida yang tidak terawat,” katanya.

Samida tidak terawat atau dibiarkan kembali menjadi hutan setelah Kerajaan Pajajaran takluk dan bumi hangus oleh Kesultanan Banten. Dari fakta itulah, sebelum kedatangan bangsa Eropa, jantung Kerajaan Pajajaran, kini adalah Kota Bogor, ibarat ditakdirkan jadi pusat perlindungan benih tanaman.

Takdir itu menjadi nyata di tangan para ahli botani asal Eropa. Pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen meresmikan pendirian Kebun Raya dengan nama ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg dengan menancapkan ayunan cangkul pertama. Pembangunan dipimpin Caspar Georg Carl Reinwardt, ahli botani dan Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan Kerajaan Belanda untuk Pulau Jawa. Tak ketinggalan penata dan botanis James Hooper dan W Kent dari Kebun Botani Kew Kerajaan Inggris yang amat tersohor di “Benua Biru” kala itu.

Yang bersekolah di Bogor atau dari luar daerah ketika studi wisata ke Kebun Raya tentu tak mudah lupa tugas Biologi, misalnya mendata koleksi tanaman bambu atau mengidentifikasi pepohonan dan anggrek. Setelah itu, pekerjaan rumah secara pribadi atau kelompok biasanya dipresentasikan di kelas.

Bila Anda jeli, tentu sejuta jejak riset Kebun Raya ini berupa benda dan tak benda masih bisa dilihat dan dirasakan.

(AMBROSIUS HARTO)

April 20, 2015

Presiden Jokowi Masukkan Pesawat R80 Sebagai Program Nasional

Semoga…!

17 April 2015

R80 adalah pesawat hemat bahan bakar berkapasitas 80 hingga 90 penumpang dengan jangkauan antarpulau atau provinsi di Indonesia. Pendanaan pesawat direncanakan 50 persen mendapatkan investasi co-founder dari swasta dan 50 persen bisa co-founder dari pemerintah. Pesawat akan selesai pada 2019, dan R80 sudah dapat dioperasikan pada 2020 (photo : Kaskus Militer)

JAKARTA – Pemerintah menjanjikan akan ikut dalam pengembangan pesawat R80 yang diinisiasi perusahaan Regio Aviasi Industri (RAI) yang didirikan Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Presiden Joko Widodo sudah menyatakan kesiapan untuk memasukkan dalam program nasional.

”Iya, ini seharusnya mendapat perhatian, menjadi proyek nasional,” kata Presiden Jokowi, di sela-sela menghadiri National Innovation Forum 2015, di Graha Widya Bhakti, Puspitek, Tangerang Selatan, kemarin (13/4).

Presiden menyatakan, pengembangan di bidang teknologi ke depan memang perlu difokuskan pada hal-hal yang menjadi kebutuhan bangsa. Karena itu, dia menyambut baik rencana RAI mengembangkan pesawat R80.

Data-data pesawat R80 (photo & image : IndoCropCircles)

Pada kesempatan itu, perusahaan yang didirikan Habibie bersama putranya Ilham Habibie itu menjadi salah satu peserta event yang diprakarsai Kementerian Riset dan Teknologi. Forum itu diadakan khusus untuk membantu menghubungkan hasil inovasi teknologi dengan dunia usaha dan masyarakat secara umum.

Kepada Jokowi, Habibie sempat mengutarakan kalau perusahaannya membutuhkan dukungan pemerintah dalam hal finansial. Dukungan itu nantinya diharapkan bersinergi dengan support dari pihak swasta dan luar negeri.

”Mereka akan ikut kalau dari pemerintah ikut menyumbang, dalam arti mengatakan ’silakan’. Karena, industri pesawat terbang seperti Boeing dan Airbus dapat bantuan yang sama,” beber Habibie di tempat yang sama.

Sambil menunjukkan miniatur R80, dia menuturkan kepada presiden tentang sejumlah kelebihan yang dimiliki pesawat dengan kapasitas 80-90 orang tersebut. Di antaranya, tentang pilihan penggunaan baling-baling sebagai penggerak. Menurut Habibie, pesawat akan hemat bahan bakar dan akan lebih mudah perawatannya.

Lebih Efisien dari Boeing dan Airbus

Dia menambahkan, pesawat R80 juga dirancang agar bisa sesuai dengan tipe bandara yang banyak ada di Indonesia. ”Pesawat ini tidak akan kalah hebat dengan Boeing 777,” tutur Habibie.

Saat ini, pesawat tersebut masih dalam tahap desain awal. Sejak dua tahun yang lalu, RAI telah bekerja melakukan studi kelayakan di Amerika Serikat. ”Kalau (dukungan pemerintah) itu terjadi, (tahun) 2019, pesawat ini akan mengudara,” imbuh Habibie.

Pesawat R80 didesain sebagai penyempurnaan pesawat N250 buatan anak-anak negeri yang sempat terbang perdana, namun terkendala pengembangannya pada 1995 lalu. Ada banyak perubahan drastis dari sisi teknologi. Misalnya, pesawat telah didesain lebih hemat bahan bakar hingga 30 persen.

Selain itu, pesawat yang juga akan menggunakan teknologi fly by wire, baling-baling di sayap pesawat juga termasuk teknologi baru. Sebab, punya kemampuan menentukan arah angin dingin dan panas yang dihasilkan mesin. Secara garis besar, dengan berbagai teknologi yang dipakai, pesawat dapat melaju dengan kecepatan lebih tinggi, namun tetap efisien.

Sebelumnya, Habibie menyebut R80 akan lebih cepat dan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding Airbus ataupun Boeing. Sebab, R80 dirancang dengan perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di bodi pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada mesin di belakang pesawat lebih tinggi (bypass ratio).

“Saya menyampaikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass ratio-nya 12. Makin tinggi bypass ratio, makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat. Ini (R80) bypass ratio-nya 40. Kami perhitungkan pesawat terbang ini lebih sedikit 30 persen (penggunaan bahan bakar, Red),” kata pria kelahiran Parepare, Sulsel, ini.

Meski secara fisik belum mulai dibuat, pesawat R80 sudah mulai banjir pesanan. Terutama, dari maskapai penerbangan komersial dalam negeri. Sudah tiga perusahaan yang menandatangani letter of intent (LoI), yakni Nam Air untuk pemesanan 100 unit, Kalstar (25 unit), dan Trigana Air (20 unit). (Kaltim Post)


PT DI: Jangan Lupakan Marketnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Dirgantara Indonesia (DI) menyambut baik komitmen Presiden Joko Widodo untuk memberikan suntikan modal bagi pengembangan pesawat R80. PT DI juga berharap pemerintah tidak melupakan segi pemasaran pesawat yang idenya berasal dari mantan Presiden Indonesia BJ Habibie

Kepala Humas PT DI Rakhendi Triatna menjelaskan, justru biasanya pengembangan sebuah unit pesawat dilakukan setelah ada pasar atau pemesan. Untuk itu, pengembangan pesawat perlu didanai, hanya saja pemerintah harus juga membantu mencarikan pasar.

“Kami sih senang karena dengan dibantu, kami bisa mulai kerjakan. Dan engineer kami bisa latihan juga. Cuma permasalahan paling utama, kalau pesawatnya sih kami yakin bisa buat. Tapi justru marketnya. Market di 80 penumpang ada. Tapi bersaing dengan pesawat 100 penumpang dan ATR. Nah mampu tidak?,” jelasnya.

Ia mengatakan, PT DI sendiri berharap pemerintah justru mengembangkan pasar yang bisa disasar oleh R80. Dia menambahkan, proyek R80 ini dikembangkan oleh PT RAI milik keluarga BJ Habibie. PT DI, lanjutnya, sebatas pelaku produksi dan pengembangan.

“Dana, kalau kasih modal bisa saja. Tapi jadinya nanti milik negara. Ini yang penting adalah pengembangan. Belum hasilkan uang. Itu 5 tahun bikin prototype. Itu pengembangan saja butuh 1 miliar dolar AS. Lalu baru bisa dijual,” katanya.

Namun sebelum itu, tambah Rakhendi, pemerintah harus memperjelas dahulu status proyek R80 ini apakah dikerjakan oleh swasta atau pemerintah. Pasalnya, apabila pemerintah memberikan pendanaan maka proyek ini akan menjadi proyek pemerintah, bukan lagi PT RAI.

“Kalau pemerintah ingin mendanakan bisa saja tapi tidak lagi milik RAI atau bisa jadi dibeli lalu yang kerjakan PT DI. Nah itu masih belum jelas. Kalau misal pemerintah mendanai itu bagus saja, tapi masyarakat akan tanyakan. Ini kaitannya soal dana. Kalau yang kerjakan swasta kan bisa,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Mantan Presiden BJ Habibie hingga kini terus mengembangkan industri penerbangan Tanah Air. Saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo dalamNational Innovation Forum (NIF) 2015 di Pusat penelitian IPTEK (Puspitek) Serpong, Habibie meminta dukungan pemerintah dalam pengembangan industri pesawat.

Habibie menjelaskan, saat ini ia tengah mengembangkan pesawat baling-baling R80 yang menurutnya paling cocok digunakan untuk menjangkau antarpulau di Indonesia. Ia mengaku, telah melakukan studi kelayakan pesawat tersebut selama dua tahun di Amerika Serikat. (Republika)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 97 other followers