Archive for ‘Indonesia techno research education news’

December 20, 2015

Profesor Bermutu yang Masih Semu

Nasib bangsa Indonesia.. Kualitas intelektual rendah.. pendidikan butut (mirip metro mini). Bagaimana indonesia bisa bersaing dengan negara ASEAN ?? Lawan Vietnam aja sudah repot !

Profesor bermutu yang mampu menjadi pendidik profesional dan ilmuwan yang punya sumbangsih untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa menjadi dambaan negeri ini. Namun, jalan menuju pencapaian jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi sebagai guru besar alias profesor tidaklah mudah.

Sejumlah profesor,  yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema
KOMPAS/RIZA FATHONISejumlah profesor, yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema “Asia sebagai Pusat Peradaban dan Pembangunan Dunia, di Mana Posisi Indonesia?”.

Apalagi, ketentuan baru soal pemenuhan kriteria guru besar sedikitnya harus punya satu karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi dengan penilaian yang ketat. Alhasil, kualitas riset pun harus bagus, harus menawarkan kebaruan atau inovasi, dan mampu dikomunikasikan lewat tulisan karya ilmiah yang baik.

Menggenjot riset dan publikasi ilmiah menjadi salah satu upaya meningkatkan daya saing bangsa. Indonesia punya banyak dosen dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, tetapi jumlah publikasi internasionalnya rendah.

“Yang profesor pun tidak semua produktif meriset dan melakukan publikasi ilmiah di jurnal internasional,” kata Guru Besar di Universitas Negeri Makassar Eko Hadi Sujiono yang juga anggota Tim Penilaian Angka Kredit (PAK) Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Sayangnya, soal riset dan publikasi ilmiah ini sering kali jadi ganjalan bagi para doktor yang sudah di jenjang akademik lektor kepala untuk naik tingkat jadi guru besar. Jalan pintas pun ada yang dipilih calon profesor agar bisa lolos dalam penilaian.

Dalam seminar nasional keprofesoran bertajuk “Menggagas Format Baru untuk Menghasilkan Profesor yang Lebih Berkualitas, Kreatif, dan Produktif” di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang dilaksanakan Direktorat Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti, berbagai sebab gagalnya pengajuan calon profesor diungkap. Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti “turun gunung” untuk berbagi tips kepada para doktor yang bersiap mengajukan usulan sebagai guru besar.

Tergiur

Yanuarsyah Haroen, Ketua Tim PAK yang juga Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, mengatakan, dari pengamatan sejak 2011, terlihat kualitas karya ilmiah dan publikasi ilmiah calon profesor masih rendah. “Bahkan, cara-cara curang dan tidak beretika juga dilakukan calon profesor. Ada berbagai temuan kecurangan yang membuat calon profesor gagal diproses,” ungkapnya.

Ada calon profesor yang mengganti cover jurnal, isi diganti atau diselipkan dengan karya ilmiahnya. Ada yang mengambil data-data penelitian orang lain seolah-olah hasil risetnya, hingga ada isi karya ilmiah yang tidak ada kaitan dengan daftar referensi. “Banyak pula doktor yang tergiur publikasinya mudah masuk jurnal ilmiah internasional tertentu. Akan tetapi, ternyata jurnal itu abal-abal atau palsu. Demikian juga tawaran ikut seminar/konferensi internasional dengan jaminan karya ilmiahnya bisa masuk ke jurnal ilmiah,” tutur Yanuarsyah.

Para calon profesor, menurut Yanuarsyah, memang masih butuh peningkatan untuk melakukan riset bermutu sehingga menghasilkan publikasi internasional yang diakui. Dalam realitasnya, ada dosen yang tidak layak mendapat jabatan akademik profesor.

Seminar nasional  keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULUSeminar nasional keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.

“Ada kebodohan-kebodahan yang tampak jelas dalam proses pengajuan, terutama di syarat publikasi. Ada yang copy paste karya orang lain, hingga dalam artikel ilmiah di jurnal disebut dalam skripsi ini,” ujar Yanuarsyah

Guru Besar di Universitas Diponegoro Heru Susanto yang juga anggota Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti mengatakan, penilaian publikasi yang baik meliputi content yang ditulis dengan baik ataupun penerbitannya. Sayang, banyak dosen yang tidak jeli dalam memahami jurnal ilmiah yang baik. Sebab, jurnal internasional yang terindeks Scopus saja belum tentu bagus.

“Ada salah satu PT di Indonesia yang progresif publikasi ilmiahnya di jurnal. Tetapi, lebih dari 15 persen publikasinya di jurnal yang tidak baik,” ujar Heru.

Dalam publikasi karya ilmiah, para dosen di Indonesia banyak yang tidak ada kebaruan, tidak ditulis dengan format yang baik, ada indikasi pelanggaran etika publikasi ilmiah, referensi tidak nyambung, hingga standar bahasa Inggris tidak terpenuhi.

“Ada doktor bidang hukum yang dalam publikasinya menerjemahkan hukum tidak berjalan ke dalam bahasa Inggris menjadi the law us not walking. Padahal, kendala bahasa ini, kan, bisa diatasi dengan bantuan penerjemahan,” ungkap Heru.

Ditingkatkan

Bunyamin Maftuh, Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kementerian Ristek dan Dikti, mengatakan, sosialisasi keprofesoran terus dilakukan, baik untuk para doktor yang siap mengusulkan profesor maupun pimpinan perguruan tinggi agar memiliki rencana strategis untuk menyiapkan calon profesor sesuai kebutuhan tiap-tiap perguruan tinggi. “Yang penting juga lewat sosialisasi di sejumlah daerah ini bisa berbagi soal hal-hal yang membuat pengajuan profesor gagal dan apa yang mesti diperbaiki,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menuturkan, terobosan untuk menambah kuantitas dan kualitas profesor harus dilakukan. “Akan tetapi, bukan asal profesor, melainkan yang bermutu,” ujarnya.

Para dosen bergelar doktor, yang berjumlah sekitar 23.000 orang, setiap tahun akan bertambah karena yang menempuh pendidikan pascasarjana di dalam dan luar negeri saat ini berkisar 12.000 orang. Para dosen yang telah mencapai jabatan lektor kepala didorong untuk meningkatkan kariernya menjadi profesor. Setidaknya ditargetkan sekitar 23.000 profesor sesuai jumlah program studi yang ada. Jumlah profesor saat ini berkisar 5.300 orang.

Sejak pertengahan 2015, pengusulan profesor dilakukan secara online. Ada kepastian batas waktu untuk memproses pengajuan kepada Kementerian Ristek dan Dikti, yakni maksimal dua bulan pengajuan segera bisa diketahui diterima atau ditolak. Selain itu, ada masukan-masukan perbaikan sehingga calon profesor bisa segera mengusulkan kembali proses guru besarnya.

  • 0
  • 0
  • 2
December 14, 2015

Setelah N219, Dirgantara Indonesia dan Lapan Garap N245

Bravo PT DI !
Mengharukan walaupun sumber daya sangat terbatas mereka terus berkarya buat bangsa. bandingkan dengan politikus (tikus) Senayan yang bergelimang harta dan kuasa.. APA KARYA MEREKA ???????
12 Desember 2015

Pesawat N219 buatan LAPAN bersama PT DI (photo : Detik)

TEMPO.CO, Bandung – PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih menyimpan rencana pengembangan sederet pesawat lainnya setelah sukses merancang pesawat N219 yang diperkenalkan perdana Kamis, 10 Desember 2015.

“Selanjutnya, N234 untuk 50 penumpang. Ini sudah mulai disiapkan. Berikutnya generasi N270 untuk 70 penumpang,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Thomas mengatakan, lembaganya ditunjuk pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional sebagai lembaga riset dan pengembangan pesawat terbang, lalu PT Dirgantara menjadi pengembang manufaktur pesawat.

“Pada 2011, Lapan secara resmi membentuk Pusat Teknologi Penerbangan,” katanya. Pembuatan N219 menjadi kerja sama perdana Lapan dan Dirgantara Indonesia.

Thomas memperkirakan, pengembangan N219 bersama PT Dirgantara Indonesia menyedot dana Rp 500 miliar hingga pesawat itu mendapat sertifikasi laik terbang dari pemerintah yang ditargetkan pada 2017. Pengembangan N219 juga masih terus berlanjut dengan pengembangan variasi lainnya. “Sesuai kebutuhan user,” ujarnya.

Thomas mengatakan, rencana pembuatan N245 sudah memasuki tahap desain lewat pengujian di fasilitas wind-tunnel atau terowongan angin. “Sudah mulai konsep desain awal, beberapa sudah mulai pengujian,” katanya.

Dia mengaku, biaya yang dikeluarkan masih terhitung kecil. Namun Thomas enggan memerincinya. Lembaganya bersama PT Dirgantara berencana mengajukan pendanaan khusus pada pemerintah untuk membiayai pembuatan prototipe N245.

Thomas mengaku belum bisa menaksir dana yang dibutuhkan untuk pembuatan pesawat N245. “Belum ada gambaran, tapi yang jelas lebih mahal dari ini (N219),” katanya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan, pesawat N245 merupakan generasi terbaru dari pesawat CN235 yang sudah diproduksi PT Dirgantara. “Kami lagi membangun pesawat CN235 yang dimodifikasi menjadi N245,” kata Andi di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Andi mengatakan, perbedaan mencolok dengan pesawat CN235 ada pada bagian ekornya. Pesawat N245 dirancang dengan memodifikasi bagian ekor pesawat CN235 yang memiliki ramp-door atau pintu belakang yang bisa dibuka. “Pintu belakang itu dicopot sehingga bisa membawa penumpang yang tadinya 42 penumpang menjadi 50 penumpang,” katanya.

Menurut Andi, ramp-door atau pintu belakang itu menjadi kelebihan CN235 untuk memenuhi fungsi ganda pesawat tersebut, yakni sebagai pesawat sipil sekaligus pesawat militer. “Pintu belakangnya besar sehingga bisa nerjuni orang. Nah, N245 itu dicabut supaya lebih ringan karena pintu itu berat,” ujarnya.

Andi mengatakan, dengan mencabut pintu besar itu, N245 dirancang lebih ringan kendati ukurannya bakal lebih panjang agar memuat penumpang hingga 50 orang.

Dia optimistis pengembangan pesawat N245 bakal lebih cepat dibandingkan saat mengembangkan N219. “Basisnya sudah ada. Tahun 2019 itu diharapkan sudah selesai dan bisa dijual,” kata Andi.

(Tempo)

November 24, 2015

Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Ayo manfaatkan dong tawaran ini
SENIN, 23 NOVEMBER 2015

 Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Perusahaan pembuat alat pertahanan militer asal Swedia, Svenska Aeroplan Aktiebolag (SAAB), menyatakan sejumlah hal positif terkait dengan alat utama sistem persenjataan yang ditawarkan ke pemerintah Indonesia bakal menjadi pertimbangan. Beberapa hal di antaranya adalah tentang kemajuan teknologi yang ditawarkan serta bagaimana transparansi yang diusung perusahaan tersebut.

Untuk menjelaskan lebih detail, Kepala Perwakilan SAAB di Indonesia Peter Carlqvist menerima Indra Wijaya dan Tri Artining Putri dari Tempo untuk kesempatan wawancara pada akhir Oktober lalu. Pertemuan sekitar 15 menit itu berlangsung di kediaman Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, di Jalan Sriwijaya Raya No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berikut ini petikannya.

Pemerintah kami baru saja memutuskan meningkatkan anggaran pertahanan. Bagaimana Anda melihat peluang ini? Karena pemerintah kita memutuskan membeli pesawat tempur F16 atau Sukhoi.

Peter Carlqvist: Kami memiliki sebuah tawaran yang unik dan kami yakin pemerintah akan menghargai konten dalam sistem pertahanan udara. Bukan hanya jet tempur Gripen dan pesawat Airborne Peringatan Dini, kami memiliki transparansi penuh yang merupakan persyaratan yang kuat oleh pemerintah Swedia dan SAAB.

Sistem ini akan memiliki kerja sama industri yang begitu banyak sehingga kita dapat membuat Indonesia mandiri untuk memproduksi bagian-bagian dan pemeliharaan yang mendukungnya. Saya pikir itu tawaran unik dan tak dipikirkan oleh pesaing lainnya.

Johanna Brismar Skoog: Dan saya ingin garis kerja sama yang jelas antara industri, alih teknologi, dan kolaborasi dengan universitas. Itu adalah konsep yang sangat baik. Dari catatan kami, kami dapat menjamin bahwa SAAB selalu membuktikan janjinya.

Bisa diceritakan pengalaman Anda melakukan kerja sama semacam ini di Brasil, Thailand, atau Afrika Selatan?

Peter Carlqvist: Ada pengalaman yang fantastis, banyak tantangan karena sebagian besar waktu industri pertahanan tidak begitu canggih. Tapi akhirnya bisa maju ketika kita mentransfer teknologi, kita harus bergandengan tangan dengan industri lokal, membangun kemampuan, fasilitas pengujian baru, dan laboratorium baru.

Kita perlu membawa insinyur baru dalam kolaborasi dengan universitas sehingga kita mendapatkan orang yang berkualitas untuk datang untuk belajar ini. Jadi ini adalah paket besar.

Seperti di Brasil, kami membawa 150 insinyur untuk Swedia untuk mempelajari produksi Gripen. Sebanyak 150 orang dengan keluarga yang pindah ke Swedia untuk belajar bagaimana mengembangkan dan memproduksi Gripen.

Kami memanfaatkan rantai pasokan kami dengan membeli yang terbaik dari yang terbaik. Perlu kompetitif, sehingga selama keluar transfer teknologi kami akan menjaga kualitas, kami memiliki pengalaman yang baik dalam melakukan ini dari negara-negara lain.

Bagaimana skema pembayaran pengadaannya?

Peter Carlqvist: Tentang pembayaran akan menjadi salah satu hal yang penting untuk dibahas dengan pemerintah. Tapi sekali lagi, kami memiliki proses yang sepenuhnya transparan ketika datang ke pembayaran, kredit ekspor, dan yang akan didukung oleh pemerintah Swedia.

Johanna Brismar Skoog: Ya, pemerintah Swedia sepenuhnya di balik itu. Misalnya fasilitas kredit ekspor, sesuatu yang dari sisi pemerintah, seperti hal-hal yang bisa dibahas juga suku bunga serta masa tenggang dan sebagainya. Hal-hal itu akan menjadi hasil dari negosiasi. Tentu saja sekali lagi itu semua akan menjadi proses yang transparan.

November 8, 2015

RI Gencar Bikin Pesawat, Setelah N219 Ada N245 dan N270

Detik, 06 November 2015

Pesawat angkut rungan N219 (photo : Kaskus Militer)

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana mengembangkan pesawat lanjutan pasca N219. Sebelum N219 terbang perdana (first flight) pada Mei 2016, PTDI dan LAPAN pada awal 2016 akan memulai mengembangkan pesawat berkapasitas antara 50 penumpang hingga 90 penumpang yakni N245 dan N270.

Tahap awal, PTDI dan LAPAN masuk pada pesawat baling-baling kelas 50-60 penumpang di 2016. Pesawat ini adalah N245, yang merupakan pesawat baling-baling pengembangan dari pesawat versi militer, CN235.

PTDI dan LAPAN memulai pengembangan N245, meskipun N219 belum terbang karena proses pengembangan pesawat dari desain konseptual dan feasibility study, hingga pesawat mengantongi sertfikasi dan siap produksi memakan waktu tidak sebentar.

“Proses pengembangan pesawat bukan langsung gambar maksudnya program ini dimulai, sambil N219 berjalan dan sudah mendekati selesai. Kita (untuk N219) melakukan studi pasar sama membuat desain konseptual terlebih dahulu,” kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN, Agus Aribowo, kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Setelah melakukan desain konseptual dan diketahui tentang potensi pasar, PTDI dan LAPAN melakukan pada tahapan uji terowongan angin fase 1. Selanjutnya, PTDI dan LAPAN melakukan verifikasi desain dan disusul preliminary design. Di sini bentuk pesawat sudah terlihat aerodinamiknya.

Proses kemudian berlanjut ke uji terowongan ke-2 dan ke-3, baru masuk ke fase detil desain. Di sini seluruh komponen pesawat digambar secara detil. Proses berikutnya ialah pembuatan prototype.

“Baru roll out dan terakhir test flight dalam rangka sertifikasi,” jelasnya.

PTDI dan LAPAN menargetkan pesawat N245 bisa mengantongi sertifikasi dari regulator penerbangan nasional pada akhir 2019.

Agus menjelaskan, pengembangan N245 relatif tidak terlalu komplek daripada pengembangan N219, karena N245 merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari CN235 yang telah lama dikembangkan oleh PTDI bersama Airbus Military. Dengan modifikasi, N245 bisa memiliki kapasitas 50 sampai 60 penumpang.

“Kebutuhan pasar dengan kemampuan basic CN235, itu kita akan modifikasi dari versi militer jadi versi sipil dengan ganti engine yang lebih efisien dan lebih irit. Kemudian avionic system pada cokpit diganti dengan varian terbaru yakni glass cockpit,” tuturnya.

Untuk varian N270, PTDI dan LAPAN merencanakan pengembangan pesawat ini pada periode 2019-2024. N270 dirancang mampu membawa penumpang antara 70 sampai 90 orang.

“N270 itu memanjangkan yang N245 jadi 70-90 penumpang. Ini biaya development lebih irit karena hanya pengembangan,” jelasnya.

(Detik)

October 28, 2015

Pesawat Perintis N219 akan Dijual Tahun 2017

28 OKTOBER 2015

28 Oktober 2015

Cutaway pesawat N219 (image : PTDI)

JAKARTA. PT Dirgantara Indonesia tengah merampungkan pembuatan pesawat perintis bertipe N219. Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini akan mulai dipamerkan November 2015 mendatang.

Kepala Divisi Perencanaan Dirgantara Indonesia , Sonny Saleh Ibrahim mengungkapkan, pesawat dengan misi penerbangan antar pulau ini telah dipesan oleh tiga maskapai penerbangan.

“ Sudah mulai dipesan oleh tiga maskapai, 2017 akan mulai dijual,” ujar Sonny kepada KONTAN, Jumat( 23/10). Tiga maskapai tersebut yakni PT Aviastar Mandiri, PT Trigana Air, dan PT Nusantara Buana Air.

Meski enggan merinci satu persatu, jumlah unit N219 yang dipesan oleh ketiga perusahaan tersebut, Sonny bilang, secara total ada 30 pesawat N219 yang telah dipesan dengan total opsi pembelian mencapai 30 unit.

Pihaknya secara bertahap akan mulai mendistribusikan N219 ke ketiga maskapai tersebut pada 2017 mendatang. Untuk harga perunit, N219 dibandrol sebesar US$ 4 juta- US$ 5 juta.

Selain itu, untuk pembuatan bahan pembuatan pesawat, Sonny bilang diawal pembuatannya N219 telah menyerap sekitar 40%-50% kandungan lokal dalam negri. Pihaknya berencana akan meningkatkan kandungan lokal hingga 70%-75%.

Namun sebelum produksi massal yang direncanakan pada 2017 mendatang, Sonny bilang pihaknya harus mengurus izin sertifikasi nasional yang diperkirakan mencapai satu tahun.

JIka sudah diproduksi secara massal, Dirgantara menargetkan penjualan N219 tidak hanya memenuhi kebutuhan pesawat perintis dalam negri, namun pihaknya juga akan menjual pesawat tersebut hingga ke negara negara Asia Tenggara lainnya.

Terkait target penjualan Sonny enggan memberitahu target penjualan N219. Namun pihaknya akan fokus memenuhi kebutuhan pesawat perintis di Asia yang diperkirakan mencapai 800 unit hingga 20 tahun kedepan.

“ Makanya kami akan terus tingkatkan produksinya dari empat unit ditahun pertama, delapan unit tahun kedua dan 12 unit pada tahun selanjutanya,” ujar Sonny.

(Kontan)

October 22, 2015

November, Pesawat N219 Made in Bandung Diluncurkan ke Publik

Detik, 22 Oktober 2015

Pesawat N219 yang dibuat oleh PT DI (image : DI)

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berencana meluncurkan pesawat terbang baling-baling N219 pada bulan November 2015. Wujud pesawat penumpang karya insinyur penerbangan di Bandung, Jawa Barat, ini bakal ditampilkan ke publik (roll out).

”N219 pada bulan depan akan roll out. Dia dikeluarkan dari hanggar dengan desain sudah freeze,” kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno kepada detikFinance, Rabu (21/10/2015).

Setelah ditampilkan ke publik, PTDI sebagai pengembang akan melakukan uji terbang hingga mengurus sertifikasi nasionall. Proses ini berlangsung 1 tahun. Selanjutnya, diikuti oleh produksi massal.

“Saat uji terbang dibuat beberapa tipe,” ujarnya.

Selain mengurus sertifikasi di tanah air, N219 akan didaftarkan ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA).

“Kita langsung sertifikasi EASA juga. Ini nggak sertifikasi FAA karena kita nggak terbang (dijual) ke Amerika” ujarnya.

Saat diperkenalkan pada November nanti, komponen lokal masih berkontribusi 35% terhadap produk N219. Kontribusi komponen lokal akan ditingkatkan 60% sampai 70%, seiring selesainya pembuatan komponen aluminium yang dibuat oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

“Kita rencanakan 60-70% komponen lokal. Engine dan landing gear, kita masih impor. Ada Inalum buat alumunium sehingga komponen lokal naik. Terus LEN (BUMN) buat avionic,” ujarnya.

Harry menyebut N219 akan membidik pasar di Indonesia dan Asia Tenggara. Untuk Indonesia saja, Harry memperkirakan kebutuhan N219 mencapai 500 unit. Pesawat yang mampu membawa 19 orang penumpang ini diperuntukan melayani penerbangan perintis dan daerah terpencil.

“Ini belum kebutuhan ASEAN,” jelasnya.

(Detik)

October 17, 2015

Apple Ingin Bangun Pusat Penelitian di Indonesia

semoga terwujud

EKONOMI_DAN_BISNIS
SABTU, 17 OKTOBER 2015

JAKARTA – Produsen peralatan telekomunikasi, Apple Inc, melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi. Hal itu terlihat dari rencana perusahaan membangun pusat penelitian dan pengembangan (research and development atau R&D) di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan usul Apple membangun pusat penelitian itu disampaikan setelah perusahaan sukses mengembangkan hal yang sama di Brasil. “Mereka mengusulkan modelnya seperti di Brasil. Mereka mau adopt ke Indonesia,” tutur dia kemarin. Ia menyatakan pembicaraan soal rencana investasi Apple dengan pemerintah tersebut belum terlalu rinci.

Pemerintah Joko Widodo memang sedang menarik investor dengan berbagai kemudahan dan layanan perizinan lewat penerbitan paket kebijakan ekonomi. Jokowi juga menginstruksikan para menteri agar saling berkoordinasi untuk mempermudah rencana investor menanamkan modalnya di Indonesia.

Ihwal rencana investasi Apple, Rudiantara mengatakan pihaknya akan membahas aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang diwajibkan sebesar 30 persen. Kementerian Perindustrian, kata dia, sedang menyiapkan beleid TKDN 30 persen tersebut dengan sangat rinci.

Menteri Perindustrian Saleh Husin sebelumnya mengatakan perusahaan besutan Steve Job itu berniat mengikuti langkah PT Samsung Electronics Indonesia untuk membangun pabrik telepon seluler di Tanah Air. “Pembangunan pabrik Samsung bisa menjadi contoh yang sangat baik untuk produsen ponsel lainnya. Kami harapkan Apple dan merek lainnya juga bisa membangun pabrik di sini,” tutur dia, pertengahan Juni lalu.

Upaya itu, kata Saleh, berkaitan dengan industri elektronika, termasuk telepon seluler, yang menjadi salah satu industri prioritas atau kelompok industri dengan pertumbuhan tinggi. Telepon seluler yang memiliki pabrik di Indonesia pada 2017 harus memenuhi standar TKDN minimal 30 persen. “Saya sampaikan agar Indonesia dijadikan basis produksi, tidak hanya sebagai market.”ALI HIDAYAT | ANTARA

September 28, 2015

Satelit Pertama Bikinan Indonesia Diluncurkan, Tepuk Tangan Membahana

Senin 28 Sep 2015, 12:44 WIB

Nur Khafifah – detikNews
Satelit Pertama Bikinan Indonesia Diluncurkan, Tepuk Tangan MembahanaFoto: DoordarshanNational
Jakarta – Satelit Lapan A2/Orari telah diluncurkan bersama satelit India, Astrosat. Peluncuran dilakukan dari India dan disaksikan melalui live streaming dari kantor Lapan, Jl Pemuda, Jakarta Timur.

Satelit mulai diluncukan pukul 10.00 waktu India atau 11.30 WIB. Satelit Lapan A2/Orari diluncurkan pada menit ke 1.52. Tampak dari video streaming, satelit Lapan A2/Orari meluncur ke orbit dengan lancar. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan tempat menonton peluncuran tersebut.

Wajah cerah para ilmuwan di India juga terlihat dari video streaming. Mereka juga bertepuk tangan penuh semangat.

“Saat ini ketinggian satelit Lapan sudah 267 km. Kita menuju 650 km,” ujar Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Kantor Lapan, Jl Pemuda, Rawamangun, Jaktim, Senin (28/9/2015), sekitar pukul 12.00 WIB.

Suasana nobar peluncuran di kantor LAPAN (foto: Nur Khafifah)

Perkembangan posisi satelit dapat disaksikan dalam grafik yang diaksea dari India. Hingga saat ini satelit Lapan A2 masih bergerak menuju orbitnya.

Dikutip dari situs LAPAN, LAPAN-A2 merupakan satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa LAPAN. Seluruh kegiatan perancangan, pembuatan, dan pengujiannya selesai pada Agustus 2012 di dalam negeri. Keberhasilan pembangunan satelit tersebut membangkitkan kepercayaan diri dan kemandirian bangsa.

Pencapaian kemandirian penguasaan teknologi satelit mikro ini juga merupakan langkah maju setelah sebelumnya berhasil melaksanakan program pembangunan satelit LAPAN-A1/ LAPAN-TUBSAT, hasil kerja sama dengan TU Berlin, Jerman. LAPAN-A1 telah diluncurkan pada 2007 yang saat ini masih berada di orbit pada ketinggian 630 kilometer, namun masa operasionalnya telah berakhir pada 2013.

LAPAN-A2 akan diorbitkan dekat ekuator dengan inklinasi enam derajat pada ketinggian 650 kilometer dari permukaan Bumi. Dengan orbit dekat ekuatorial, LAPAN-A2 akan melintasi wilayah Indonesia 14 kali setiap hari dengan periode orbit 100 menit. Dengan demikian, satelit ini dapat mendukung pemantauan wilayah nusantara dari luar angkasa. Satelit tersebut akan bergerak di cakupan enam derajat Lintang Selatan hingga enam derajat Lintang Utara.

Satelit LAPAN A2

Satelit berbobot 78 kilogram dan berdimensi 500 x 470 x 380 milimeter tersebut membawa misi pemantauan permukaan bumi, identifikasi kapal laut, dan komunikasi radio amatir. Untuk misi pemantauan wilayah RI, satelit LAPAN-A2 membawa kamera video analog dengan resolusi lima meter dan kamera digital dengan resolusi 3,5 meter.

Untuk menjalankan misi pemantauan lalu lintas kapal, operasi keamanan laut, perikanan, dan eksplorasi sumber daya kelautan Indonesia, satelit dilengkapi dengan Automatic Identification System (AIS). Teknologi ini dapat mendeteksi ribuan kapal dengan cakupan area pengamatan mencapai ribuan kilometer. Sementara itu, misi komunikasi amatir pada LAPAN-A2 bertujuan untuk komunikasi pada kondisi darurat bencana dan kegiatan radio amatir dalam mendukung kepentingan nasional.

Dalam berkomunikasi dengan stasiun bumi, LAPAN-A2 menggunakan frekuensi UHF dan S-Band. Untuk sistem kontrol perilaku, satelit ini juga dilengkapi dengan tiga wheel/ fiber optic laser gyros dalam axis orthogonal, dua CCD star sensor, tiga magnetic coils, enam panel surya tunggal untuk sensor matahari, dan 3 axis magnetic fields sensor.

Sinyal pertama LAPAN-A2 akan diterima oleh satelit bumi LAPAN di Rancabungur Bogor pada 28 September 2015 pukul 13.18 WIB hingga 13.32 WIB. Data pertama yang akan diterima oleh LAPAN-A2 yaitu Power Control Unit Telemetry. Data tersebut terdiri dari informasi mengenai konsumsi daya listrik tiap komponen satelit, data sensor matahari pada enam sisi satelit, temperature tiap komponen satelit, dan timer sejak satelit mengalami separasi.

Pembangunan LAPAN-A2 ini merupakan upaya Indonesia melalui LAPAN untuk dapat menguasai teknologi satelit secara mandiri. Selanjutnya, LAPAN juga sedang menyiapkan peluncuran satelit generasi berikutnya, LAPAN-A3, yang akan memiliki fitur dan misi yang lebih baik dari LAPAN-A2. Di masa depan, LAPAN juga sedang menyiapkan diri untuk membangun satelit-satelit operasional melalui konsorsium nasional.
(khf/mad)

September 16, 2015

Industri Pertahanan Swasta : Menawarkan Kemandirian Teknologi

 Lanjutkan !
16 September 2015

Awak PT Technology and Engineering Simulation (TES) melakukan simulasi terbang menggunakan simulator pesawat tempur F-16 di bandung, Jawa Barat, awal September 2015. PT TES menjadi salah satu perusahaan swasta di bidang pertahanan yang memproduksi simulator dan produknya telah digunakan di dalam dan luar negeri (photo : Kompas)

Di dalam kokpit pesawat tempur bertuliskan F-16, mata minus Ricky Wiradisurya (40) tajam menghadap angkasa di atas kota tanpa nama, awal September 2015. Kedua tangannya sibuk mengendalikan alat kontrol pesawat. “Kontrol pesawat ini sangat responsif. Cara mengemudikannya harus cermat apabila ingin memaksimalkan kekuatan pesawat ini,” katanya.

Ricky bukan pilot pesawat tempur sebenarnya. Bagian pesawat F-16 yang dikemudikannya hanya setengah moncong dan ruang kemudi. Pemandangan kota juga adalah rupa digital yang terpampang dalam layar lebar cembung.

“Ini simulator pesawat tempur F-16. Karena dibuat mirip aslinya, secara teknis saya mungkin bisa mengemudikan pesawat sebenarnya. Namun, tentu tidak diizinkan karena tidak punya lisensi dan jam terbang khusus,” katanya.

Simulator F-16 adalah satu dari beberapa simulator alat tempur yang dibuat PT Technology and Engineering Simulation (PT TES) Bandung, Jawa Barat. Ricky adalah satu dari beberapa tim pembuat simulator F-16 dari perusahaan industri pertahanan di Lembang ini.

Simulator multi ranpur (photo : Detik)

“Simulator F-16 ini sedang dalam tahap pengujian sebelum nantinya akan diserahkan kepada TNI Angkatan Udara. Kami juga tengah mendalami penjajakan konten lokal untuk Sukhoi,” ujar Direktur PT TES Deny Isnanto.

Deny yakin simulator buatan anak negeri memiliki masa depan cerah. Negara pengguna bisa menghemat biaya pengadaan alat tempur, menjamin keamanan personel tempur saat melatih, hingga mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain. “Negara yang kuat di sektor pertahanan tempurnya jarang menggunakan alat tempur sebenarnya untuk latihan. Simulator jadi solusi menyiapkan diri lebih tangguh,” katanya.

PT TES didirikan tahun 2004 oleh beberapa mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI), jejak PT TES lebih dulu dikenal di Malaysia. Saat banyak kalangan dalam negeri belum percaya, Pemerintah Malaysia menyediakan dana riset meningkatkan kualitas simulator pesawat tempur Hawk tahun 2006 dan diikuti simulator tank ACV300.

“Malaysia mengenal keunggulan produk Indonesia lewat simulator CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 2004,” kata Deny yang pernah menjabat Manager Simulation Technology PT DI.

Simulator Bell 412 TNI AD (photo : pusdikpenerbad)

Kepercayaan itu memicu TNI menggunakan teknologi yang sama beberapa tahun kemudian. PT TES diminta membuat simulator bagi Hawk, simulator helikopter Super Puma NAS 332, serta helikopter Bell 412. Selain itu ada juga simulator multikendaraan tempur (multiranpur) untuk tank FV101 Scorpion dan AMX 13. “Keberadaan simulator multiranpur ini lebih hemat biaya. Satu simulator bisa digunakan untuk dua kendaraan tempur,” katanya.

Deny yakin kualitas teknologi simulator buatan Bandung ini tak kalah dari produsen Kanada, Inggris, Perancis, dan Rusia. Satu-satunya perbedaan hanya dalam besaran omzet perusahaan. “Kami siap bersaing. Dengan kualitas seimbang, harganya 25 persen lebih murah,” katanya.

Menurut Deny, produk yang dibuat tidak semata-mata bicara seputar keuntungan finansial. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan apabila mendukung produksi dalam negeri.
Dia mencontohkan kemampuan anak-anak muda Indonesia yang bekerja di PT TES. Saat ini, sebanyak 50 orang dari 70 karyawan berusia di bawah 40 tahun. Ketimbang menerima tawaran dari luar negeri, anak muda itu memilih berkarya di Tanah Air sendiri.

Mandiri

Octorotor Surveillance System buatan PT Uavindo (photo : Uavindo)

Semangat yang sama ditunjukkan Robert Bessie (35) dan Ricardo Pandiangan (27) saat menguji kemampuan pesawat terbang nirawak (UAV) baling-baling yang dibuat PT. UAVINDO, perusahaan swasta bidang pertahanan di Bandung, tempat keduanya bekerja.

Empat baling-balingnya diperiksa satu per satu. Perangkat lunak hingga sambungan antarkabel yang dipasang melilit tubuh UAV yang masuk kategori berteknologi menengah hingga tinggi itu. Dengan kecepatan 15 meter per detik, banyak hal bisa dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan hingga pemantauan beragam kondisi dari udara.

Direktur Uavindo Djoko Sardjadi mengatakan, UAV baling-baling adalah satu dari beberapa UAV yang dibuat Uavindo. Mirip dengan PT TES, produk Uavindo lebih dikenal di luar negeri. Di Jepang, Uavindo ikut membantu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Universitas Chiba di Jepang membangun pesawat tanpa awak JX-1. Pesawat ini ikut membantu JMRSL melakukan penginderaan jarak berbasis gelombang mikro.

JX-1 UAV JMRSL (photo : Liputan6)

“Alat ini juga bisa dikembangkan untuk pemetaan di Indonesia, mulai dari potensi sumber daya alam, kewilayahan, hingga pemetaan areal rawan kebakaran hutan,” katanya.

Di Universitas King Fahd, Arab Saudi, karya Uavindo berupa terowongan angin (wind tunnel) untuk pengujian aerodinamika juga digunakan. Kini, Uavindo diajak memperbarui terowongan udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Terowongan ini diproyeksikan menguji pesawat buatan PT DI, N-219.

Produk buatan anak negeri itu juga bisa menghemat pengeluaran negara. Ronald Bessie, Direktur Operasional Uavindo, mengatakan, pihaknya sudah dibuktikan lewat mobil Mata Garuda yang kini dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.Mata Garuda dijejali teknologi mutakhir, mulai dari sensor topografi dan inersial hingga kamera resolusi tinggi. “Teknologi ini akurat menentukan titik mana yang rusak dan perbaikan apa yang harus dilakukan. Cara ini jelas menghemat anggaran perbaikan jalan,” ujarnya.

MTD-25 target drone (photo : Uavindo)

Seperti belum cukup, sektor pengembangan minat pendidikan dunia penerbangan yang terinspirasi dari teknologi pertahanan juga bisa coba direbut lewat penerapan simulator terjun bebas (skydiving tunnel).

Teknologi itu sudah diterapkan di Australia dan Singapura. Di balik penyediaan wahana itu untuk rekreasi, kemungkinan besar ada misi besar yang ingin dicapai, memupuk kecintaan pada pengembangan teknologi penerbangan ke depan. “Kami sudah memulainya dengan membuat teknologi simulator terjun bebas untuk Komando Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung Barat,” katanya.

Indonesia punya anak-anak bangsa yang piawai menguasainya. Giliran pemerintah yang menentukan pilihan, berdiri bersama mereka atau bergantung kepada bangsa lain.

(Kompas)

September 8, 2015

Indonesia Perlu Terus Mengatasi Defisit Pilot

EKONOMI > SEKTOR RIIL > INDONESIA PERLU TERUS MENGATASI DEFISIT PILOT
PENERBANGAN

Ikon konten premium Cetak | 8 September 2015 Ikon jumlah hit 22 dibaca   Ikon komentar 0 komentar
JAKARTA, KOMPASIndonesia harus segera mengupayakan langkah-langkah untuk memenuhi jumlah pilot yang masih jauh dari kebutuhan. Jika tidak segera diupayakan, akan terjadi kekurangan tenaga pilot yang sangat besar pada tahun-tahun mendatang.

Apalagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, akan sangat memungkinkan semua lulusan pilot di negara-negara anggota ASEAN tidak bekerja di negara asalnya.

“Kebutuhan pilot di Indonesia pada saat ini sekitar 900 setiap tahunnya. Namun, sekolah pilot milik pemerintah dan swasta yang ada saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 300 pilot per tahun,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan Wahyu S Utomo, di Jakarta, Senin (7/9).

Menurut Wahyu, setiap tahun ada sekitar 77 pesawat terbang baru yang datang ke Indonesia. Jika setiap pesawat terbang ini membutuhkan enam set pilot yang pada setiap setnya terdiri atas dua pilot, Indonesia membutuhkan 924 pilot per tahun.

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug Yudhi Sari Sitompul mengatakan, sedikitnya jumlah lulusan sekolah penerbangan karena terbatasnya ruang udara untuk latihan penerbangan. “Saat ini ruang udara untuk taruna STPI berlatih hanya lima ruang udara. Idealnya STPI mempunyai 32 ruang udara,” kata Yudhi di sela-sela acara wisuda 328 siswa STPI.

Menurut Yudhi, STPI bersama BPSDM dan Kementerian Perhubungan sedang membahas penambahan ruang udara di beberapa kota, seperti Palembang, Lampung, Semarang, Rengat, dan Cilacap.

“Ruang udara ini penting karena sangat membatasi jumlah frekuensi penerbangan. STPI mempunyai 22 pesawat latih, tetapi ruang udara yang tersedia hanya lima. Jadi, pesawat banyak yang tidak bisa terbang,” ujar Yudhi.

Sekolah penerbangan baru

content
Selain menambah ruang udara untuk memperbanyak latihan penerbangan, Wahyu mengatakan, BPSDM juga sedang mempersiapkan dua sekolah penerbangan baru di Berau, Kalimantan Timur, dan di Merauke Papua.

BPSDM juga segera mendatangkan sekitar 51 pesawat latih hingga tahun 2017. Pesawat-pesawat ini akan dibagikan ke STPI dan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi serta dua sekolah baru di Berau dan Merauke.

“Setiap pesawat bisa menghasilkan lima penerbang setiap tahun. Dengan adanya tambahan ruang udara dan jumlah pesawat latih baru, diharapkan Indonesia bisa mengejar kebutuhan pilot yang cukup tinggi,” ujar Wahyu.

Pesawat yang didatangkan tersebut terdiri dari 1 helikopter, 5 pesawat bermesin ganda, dan 45 pesawat bermesin tunggal.

Mengenai 328 taruna yang baru diwisuda, Yudhi mengatakan, semua wisudawan itu berasal dari sembilan jurusan yang ada di STPI. Dari jumlah itu, penerbang yang diwisuda sebanyak 25 orang.

Ke depan, Yudhi mengatakan, pihaknya ingin meminta agar Bandara Budiarto yang terletak di kompleks STPI bisa dimanfaatkan maksimal oleh STPI. Bandara Budiarto merupakan milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, bukan milik STPI.

“Dengan demikian, siswa-siswa jurusan navigasi bisa belajar memasang alat-alat navigasi. Demikian juga dengan siswa jurusan listrik bandara juga bisa berlatih di bandara itu,” ujar Yudhi.