Archive for ‘Indonesia techno research education news’

March 3, 2016

Liputan CNN soal pembuatan jet KFX

Buat Jet Tempur, Indonesia Siapkan Sumber Daya Besar-besaran

03 Maret 2016

Infografis pesawat tempur KFX/IFX (image : CNN)

Jakarta, CNN Indonesia — “Pesawat tempur itu seperti ponsel. Teknologinya dalam setahun sudah berubah lebih canggih, apakah itu menyangkut sistem elektronik, sensor, atau senjata.”

Heri Yansyah, Kepala Program Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) PT Dirgantara Indonesia, mengatakan hal itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (19/2).

“Jadi Indonesia harus mampu melakukan upgrading teknologi yang selalu berubah ini. Kalau tidak punya kemampuan upgrade, lalu beli pesawat yang sama dengan negara-negara tetangga, maka dalam waktu dua-tiga tahun, Indonesia sudah kalah,” ujar Heri.

Meski membandingkan pesawat tempur dengan ponsel, untuk membuatnya jauh dari kata mudah. Perlu waktu 10 tahun lebih mengembangkan KF-X/IF-X yang dirancang menjadi jet tempur multiperan generasi 4,5 dengan teknologi mendekati kemampuan pesawat siluman (stealth fighter) generasi 5.

Sejak mesin jet pertama kali dikembangkan tahun 1946, pesawat tempur telah berevolusi hingga generasi kelima. Generasi termutakhir ini menggabungkan teknologi siluman untuk tak terdeteksi radar, kemampuan menjelajah supersonik, dan sensor baru yang terintegrasi.

Satu-satunya persawat tempur generasi 5 yang kini telah beroperasi ialah F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS. Sementara sejumlah jet lain dari generasi itu seperti F-35 Lighting II dan Sukhoi PAK FA, masih pada tahap uji coba.

200 Insinyur Indonesia

Untuk membuat prototipe KF-X/IF-X, ilmuwan Indonesia dan Korea Selatan akan bekerja bahu-membahu di markas Korea Aerospace Industries di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan.

“Saat puncak pembuatan prototipe pesawat, 200 insinyur Indonesia akan terlibat,” kata Heri yang pada periode 2011-2012 ikut ke Korea Selatan selama 18 bulan untuk mengerjakan fase pertama proyek KF-X/IF-X, yakni pengembangan konsep.

Jumlah insinyur Indonesia yang berangkat ke Korea Selatan pada penggarapan fase kedua – pembuatan prototipe– mulai tahun 2016 ini jauh lebih banyak daripada fase pertama yang hanya berjumlah 52 orang.

Para ilmuwan Indonesia itu akan berdatangan ke Korea Selatan secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. “Ada insinyur yang harus tinggal di sana selama 10 tahun penuh, tapi ada juga yang dirotasi,” ujar Heri.

Pembangunan fasilitas produksi PT DI untuk program IFX/KFX (photo : Kaskus Militer)

Bangun fasilitas

Di dalam negeri, Indonesia mengebut persiapan sumber daya manusia dan teknologi, mulai dari riset soal teknologi inti mesin jet tempur, material, avionik, aeroninamika, hingga membangun laboratorium untuk menunjang riset tersebut.

Selain itu, meski penggarapan KF-X/IF-X dipusatkan di Korea Selatan, markas PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, bakal tak kalah sibuk. PTDI akan memantau seluruh pengerjaan pesawat tempur tersebut.

PTDI misalnya menyiapkan Design Center Indonesia (DCI) untuk membangun kemampuan teknologi, infrastruktur, dan simulasi. Di tempat ini, seluruh tahap pengerjaan KF-X/IF-X di Korea Selatan akan dikomunikasikan.

DCI merupakan mirroring dari gedung Design Center yang juga dibangun di Sacheon, Korea Selatan. Design Center di Sacheon semacam bangunan yang tertutup rapat dan steril. Orang-orang yang memasukinya dilarang membawa flashdisk dan komputer. Di sana ilmuwan Indonesia dan Korsel akan kerja bersama.

Indonesia juga kebagian tugas membuat komponen pesawat bagian sayap dan ekor kanan, serta penguat di bawah sayap.

Pun, Indonesia mendapat jatah untuk membuat prototipe pesawat. Total ada delapan prototipe yang akan dibuat –enam prototipe terbang, dan dua prototipe tak terbang untuk uji struktur.

“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,” imbuh pakar aerodinamika PTDI itu.

Pesawat tempur IFX/KFX (photo : CNN)

Oleh sebab itu PTDI juga menyiapkan fasilitas hanggar composing, hanggar titanium, hanggar produksi, dan hanggar perakitan akhir pesawat tempur.

Tak kalah penting, Indonesia bersiap untuk membangun kemampuan persenjataan secara bertahap.

Sementara dari segi sumber daya manusia, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan mendapat pelatihan untuk mempertajam kemampuan, termasuk dengan disekolahkan lagi di dalam dan luar negeri.

Untuk di dalam negeri, Institut Teknologi Bandung digandeng. “Ada 25 orang kandidat S2 dan enam orang kandidat S3 di ITB. Semua sudah dites,” kata Heri.

Sebagian ilmuwan lainnya disekolahkan ke Inggris. Negeri di barat laut benua Eropa itu dipilih karena karena masa kuliah di sana relatif singkat. Dengan demikian, para ilmuwan Indonesia diharapkan cepat merampungkan kuliah dan langsung mempraktikkan pengetahuan barunya di Indonesia.

Teknologi, seperti diucapkan Heri, berubah cepat. Indonesia mesti berpacu, bersiap dengan cepat jika tak mau tertinggal. (CNN)

Lima pilot TNI AU disiapkan

TNI Angkatan Udara turut dilibatkan dalam proyek KF-X/IF-X yang pengerjaannya dipusatkan di Sacheon, Korea Selatan –kota yang menjadi markas Korea Aerospace Industries.

Sejak fase awal, yakni pengembangan teknologi KF-X/IF-X, sejumlah personel TNI AU ikut mendesain bentuk pesawat dan menyatukan doktrin militer dengan angkatan bersenjata Korea Selatan sampai tingkat tertentu.

TNI AU dilibatkan penuh karena KF-X/IF-X terang dibuat untuk memenuhi kebutuhan armada tempur mereka. Nantinya akan ada sekitar 50 unit pesawat KF-X/IF-X yang digunakan TNI AU.

Pesawat tempur KFX/IFX (photo : Aviation Week)

TNI AU juga menyiapkan lima orang pilot untuk menguji terbang KF-X/IF-X. Usai prototipe pesawat rampung dibuat pada 2019, KF-X/IF-X akan diuji terbang di Korea Selatan dan Indonesia sebelum memasuki proses produksi yang direncanakan dimulai tahun 2020.

“Uji terbang pesawat tempur akan butuh waktu lama. Tak bisa dilakukan sembarang pilot. Jadi lima penerbang muda TNI AU disekolahkan S1 Teknik Penerbangan ITB supaya mereka bisa melakukan test flight dengan baik,” kata Andi.

Kelima penerbang muda itu saat ini pun sudah bisa menerbangkan pesawat-pesawat buatan Korea Selatan, yakni pesawat latih dasar KT-1 Woongbi dan jet tempur ringan T-50 Golden Eagle yang memang dimiliki TNI AU masing-masing satu skuadron.

Kebutuhan-kebutuhan TNI AU juga diakomodasi dalam KF-X/IF-X. Contohnya, AU butuh pesawat tempur yang bisa mendarat di landasan pacu pendek daerah mana pun mengingat wilayah Indonesia yang amat luas.

Soal jenis KF-X/IF-X yang dirancang menjadi pesawat tempur canggih generasi 4,5 di atas F-16 Fighting Falcon, Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, atau Sukhoi Su-30 yang masuk generasi 4, Andi menyebut kecanggihan bukan segalanya.

Selain teknologi pesawat, ujar Andi, ada sejumlah hal lain yang tak kalah penting, antara lain doktrin tempur, strategi berdasarkan letak geografis, atau cuaca di udara.

“Yang utama, Indonesia harus punya pesawat dengan doktrin tempur yang dimiliki TNI AU, seperti Amerika mendesain F-16 berdasarkan doktrin tempur dia, dan Perancis merancang Rafale untuk dia sendiri.

TNI AU, melalui Kepala Dinas Penerangan Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, berharap KF-X/IF-X akan terwujud dan menjadi kebanggaan Indonesia di masa depan.

Pakar pertahanan dari Universitas Indonesia, Connie Rahakundini, mengingatkan agar KF-X/IF-X tak menjadi euforia sesaat. Tak kalah penting, ujarnya, doktrin dan orientasi pertahanan Indonesia juga mesti dibangun seiring penguatan industri pertahanan. (CNN)

++++++
Advertisements
January 25, 2016

Wulung, Drone Pertama di ASEAN yang Berstandar Industri Pesawat

Detik 25 Januari 2016

Wulung UAV produksi PT Dirgantara Indonesia (all photos : Detik)

Tak tanggung-tanggung, PTDI melibatkan 100 insinyur hingga mekanik pesawat untuk melahirkan drone siap produksi.

Selama proses ujicoba hingga sertifikasi, PTDI memakai 5 unit drone. Bila berhasil mengantongi sertifikat dari IMAA, Wulung akan menyerahkan 3 unit kepada Kementerian Pertahanan pada Februari 2016, sedangkan sisanya dipakai untuk tahap pengembangan drone fase berikutnya.

“Kami sudah buat 5 pesawat, yakni 3 diserahkan ke Kemhan, 1 kita diserahkan ke Balitbang (TNI), 1 sebagai pesawat untuk development,” tambahnya.

Setelah masuk fase produksi, PTDI mampu melahirkan 1 unit drone jenis Wulung siap terbang dalam waktu 5 minggu. PTDI mengaku komponen lokal pada drone jenis Wulung telah mencapai 75%.

“Komponen lokal di atas 75%. Airframe bikin sendiri, yang belum komponen elektronik, pilot control, dan kamera belum ditemukan (diproduksi) di Indonesia,” sebutnya.

Jakarta -Wulung merupakan pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam waktu dekat, Wulung akan mengantongi sertifikat tipe siap produksi dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Bila sertifikat terbit, Wulung diklaim sebagai drone pertama di Asia Tenggara yang mengikuti standar industri penerbangan, yakni mulai material, proses hingga kualitas.

“Di Asia Tenggara yang mengikuti standar pesawat baru Indonesia,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016). (Detik)

Ini ‘Si Wulung’, Drone Buatan PTDI yang Terbang Hingga Radius 120 Km

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperoleh penugasan pemerintah untuk melakukan proses produksi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone. Tahap awal, PTDI hampir menyelesaikan sertikat tipe (type certificate) PTTA Wulung.

PTTA Wulung merupakan hasil pengembangan drone yang awalnya dirancang oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Setelah keluar hasil prototype drone bernama Wulung, selanjutnya PTDI diberi tugas oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk melakukan tahap sertifikasi hingga produksi.

Secara bentuk PTDI tidak melakukan perubahan, namun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat terbang ini melakukan perombakan dari material hingga sistem drone tersebut.

“Pesawat ini bentuk luar luar mirip dengan dikembangkan oleh BPPT, tetapi secara dalamannya sudah jauh berbeda yakni mulai dari material dan proses pembuatan. Kemudian sistem itu sudah jauh berbeda dengan yang dipakai dan dikembangkan teman-teman BPPT,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

PTDI melakukan persiapan proses produksi untuk Wulung sejak 2014. Wulung sudah menjalani berbagai uji agar bisa mengantongi sertifikat tipe. Pada akhir Januari 2016, Wulung ditargetkan bisa memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Bila proses sertifikasi tuntas, Wulung telah memenuhi standar industri penerbangan dan siap diproduksi massal. Rencananya, 3 unit Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan (Kemhan) mulai awal Februari 2016, setelah sertifikat tipe terbit.

Selain itu, Bona juga menjelaskan, fungsi drone made in Bandung ini yakni dirancang untuk melakukan misi pengawasan, pemantauan, hingga intelijen alias mata-mata. Saat terbang, Wulung mampu terbang dari pusat take off hingga radius 100-120 kilometer (km), dan mampu terbang selama 4 jam non stop. Wulung mampu terbang dengan ketinggian 8.000 kaki (feet).

“Wulung bisa terbang sejauh 100-120 km,” sebutnya. (Detik)

Kandungan Lokal 75%, Wulung Si Mata-mata Dikerjakan 100 Insinyur RI

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengerahkan 100 insinyur dalam proses pengembangan dan sertifikasi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung. Para insinyur dan mekanik pesawat itu bekerja dari tahun 2014, agar drone yang awalnya dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bisa diproduksi, dan mengikuti standar industri penerbangan.

“Ini melibatkan 100 insinyur untuk pengembangan drone,” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Bona menjamin, para insinyur dan mekanik tersebut merupakan putra-putri Indonesia yang bekerja di PTDI.

“Kita menggunakan insinyur PTDI dan nggak ada yang asing,” tambahnya.

Kerja keras 100 insinyur dan mekanik pesawat tersebut membuahkan hasil. Akhir Januari 2016 ini, drone yang memiliki tugas mata-mata ini ditargetkan akan memperoleh sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Dengan dikantonginya sertifikat tipe, Wulung telah siap diproduksi massal.

“Sertifikat tipe akhir bulan dapat,” sebutnya.

Pesawat tanpa awak tersebut diklaim memiliki komponen lokal sampai 75%. PTDI masih mengimpor peralatan elektronik, pilot control hingga kamera. Ke depan, PTDI akan menggandeng BUMN lainnya yakni PT LEN untuk meningkatkan komponen lokal.

“Sekarang komponen lokal di atas 75%. Dari airframe bikin sendiri, terus kita uji,” tambahnya. (Detik)

Hasil Foto Mata-mata ‘Si Wulung’, Drone Made In Bandung

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada awal Februari 2016 akan menyerahkan Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) atau drone bernama Wulung, kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Saat diserahkan, selanjutnya Wulung akan dioperasikan oleh TNI AU untuk menjalankan misi intelijen, pemantauan, dan pengawasan.

Wulung, saat bertugas, bisa terbang dengan radius 120 kilometer (km) dari pusat take off dengan ketinggian jelajah maksimal 8.000 kaki. Sebelum menjalankan misi mata-mata, pusat pengendali telah menyusun rencana rute atau terbang.

Selama terbang, Wulung bisa mengambil gambar sesuai target yang diincar.

“Sebelum terbang sudah diset mau ke mana, namun saat terbang juga bisa berubah rute sesuai perintah (pusat pengendali),” kata Chief Engineer untuk PTTA, PTDI, Bona P Fitrikananda, kepada detikFinance, Senin (25/1/2016).

detikFinance pun memperoleh beberapa gambar sasaran atau saat wulung sedang uji terbang di udara. Meski mampu terbang hingga ketinggian 8.000 dari permukaan, Wulung hanya bisa mengambil foto secara jelas dengan ketinggian antara 3.000-4.000 kaki.

“Ini lumayan tinggi sampai 8.000 kaki. Itu maksimum altitude (ketinggian), kalau kamera punya keterbatasan optimalnya 3.000-4.000 kaki,” sebutnya.

Selain terbang siang, Wulung memiliki teknologi infra red, sehingga misi mata-mata tetap bisa dijalankan saat malam hari. Dengan kemampuan itu, Wulung memang akan ditempatkan di daerah perbatasan atau daerah yang rawan kegiatan ilegal.

“Misi utamanya ialah mengawasi perbatasan,” tambahnya. (Detik)

January 14, 2016

Riset Belum Jadi Budaya

KEBIJAKAN PUBLIK (biasa copy paste )

JAKARTA, KOMPAS — Pendapat akademik ataupun hasil riset belum selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan publik. Pemanfaatan hasil riset ataupun kajian akademik dalam pembuatan kebijakan publik masih sangat bergantung pada sosok pemimpin.

Cendekiawan  Daniel Dhakidae (tengah), Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Jusario Vermonte (kiri), dan Direktur Politik dan Komunikasi Bappenas Wariki Sutikno (kanan), menjadi pembicara pada diskusi di CSIS, Jakarta, Rabu (13/1). Diskusi tersebut membahas peran cendekiawan dalam  pengambilan kebijakan publik oleh pemimpin.
KOMPAS/LASTI KURNIACendekiawan Daniel Dhakidae (tengah), Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Jusario Vermonte (kiri), dan Direktur Politik dan Komunikasi Bappenas Wariki Sutikno (kanan), menjadi pembicara pada diskusi di CSIS, Jakarta, Rabu (13/1). Diskusi tersebut membahas peran cendekiawan dalam pengambilan kebijakan publik oleh pemimpin.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips Vermonte, dalam diskusi bertema “Cendekiawan dan Pemerintahan”, Rabu (13/1), di Jakarta, menyebutkan, beberapa masalah dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan publik saat ini.

Seorang menteri dengan latar profesional, misalnya, cenderung meminta riset atau evaluasi sebelum menentukan kebijakan. Sebaliknya, seorang menteri yang ditunjuk dengan alasan politis cenderung mengabaikan pertimbangan-pertimbangan akademis.

Riset, tambah Philips, juga terkendala kemauan politik keuangan di birokrasi Indonesia. Riset yang melampaui satu tahun anggaran biasanya sulit dilakukan.

Selain itu, korupsi dan tiadanya mekanisme peer review dari orang-orang dengan kepakaran serupa menjadi kendala lain dalam membudayakan riset sebagai landasan pengambilan keputusan.

Cendekiawan Daniel Dhakidae memaparkan perubahan cendekiawan dalam pengambilan keputusan. Zaman Demokrasi Terpimpin, misalnya, para cendekiawan lahir dari organisasi-organisasi berdasarkan kekhususannya.

Hal ini berlanjut pada era Orde Baru. Namun, tambah penulis bukuCendekiawan dan Kekuasaan di Negara Orde Baru ini, khusus untuk urusan sosial politik, Orde Baru sangat anti riset dan menolak pertimbangan yang berbasis temuan.

Kebijakan malah dirumuskan oleh intelektual-intelektual asing yang ketika itu banyak berkumpul di Bappenas, Departemen Keuangan, dan Departemen Dalam Negeri.

Dalam era Reformasi, lanjut Daniel, riset kembali dibolehkan. Karakter lainnya adalah banyak riset berbasis jajak pendapat yang kemudian menjadi temuan-temuan untuk penentuan kebijakan publik.

Lembaga swadaya masyarakat, kalangan akademik, dan organisasi sipil pun umumnya bisa memberikan masukan kepada pemerintah. Namun, pada era yang lebih terbuka ini, masalah metodologi riset, kualitas riset, dan seberapa independen penelitinya menjadi pertanyaan.

Direktur Politik dan Komunikasi Badan Perencanaan Pembangunan Wariki Sutikno menambahkan, pengambilan keputusan di Bappenas umumnya menggunakan pertimbangan riset seperti Indeks Demokrasi Indonesia (IDI).

Indeks ini menjadi alat ukur atas kebebasan sipil, hak-hak politik, dan kualitas lembaga demokrasi. Dari pengukuran 28 indikator, diharapkan pada 2025, konsolidasi demokrasi di Indonesia sudah terjadi. (INA)

January 8, 2016

Some 300 Indonesians to Learn Jet Fighter Production in South Korea  

08 Januari 2016

KAI’s assembly line (photo : koreajoongangdaily)

Jakarta (ANTARA News) – Some 300 Indonesian aviation experts and technicians will leave for South Korea to learn the manufacture of KF-X/IF-X jet fighters.

“We will send 200 to 300 people to Korea,” Budi Santoso, president director of state aircraft manufacturer PT Dirgantara Indonesia, said here on Thursday.

The sending of Indonesian aviation experts and technicians to South Korea is part of a contract between the two countries for joint manufacture of KF-X/IF-X jet fighters.

Under the contract, South Korea has agreed to finance 80 percent of the total costs to manufacture the jet fighters, while Indonesia will bear 20 percent of the production costs.

The Indonesian government is expected to spend Rp18 trillion on the project.

“Although we only have a 20 percent stake in the project, we will receive 100 percent of the knowledge to develop the plane. The transfer of technology will reach 100 percent instead of 20 percent,” he said.

All the technicians will study the entire program for the manufacture of KF-X/IF-X jet fighters for three to four years in South Korea.

Defense Minister Ryamizard Ryacudu said 20 percent of people employed in the manufacture of the first unit of the jet fighters in South Korea will come from Indonesia and 50 percent in the manufacture of the second unit of such plane.

Meanwhile, 80 percent of workers to [produce KF-X/IF-X jet fighters in Indonesia will be Indonesians.

(Antara)

December 20, 2015

Profesor Bermutu yang Masih Semu

Nasib bangsa Indonesia.. Kualitas intelektual rendah.. pendidikan butut (mirip metro mini). Bagaimana indonesia bisa bersaing dengan negara ASEAN ?? Lawan Vietnam aja sudah repot !

Profesor bermutu yang mampu menjadi pendidik profesional dan ilmuwan yang punya sumbangsih untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa menjadi dambaan negeri ini. Namun, jalan menuju pencapaian jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi sebagai guru besar alias profesor tidaklah mudah.

Sejumlah profesor,  yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema
KOMPAS/RIZA FATHONISejumlah profesor, yaitu Paul Suparno, Malik Fadjar, dan Satryo Brodjonegoro (dari kanan ke kiri), hadir sebagai pembicara dalam Kongres Asosiasi Profesor Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/6). Kongres tersebut mengambil tema “Asia sebagai Pusat Peradaban dan Pembangunan Dunia, di Mana Posisi Indonesia?”.

Apalagi, ketentuan baru soal pemenuhan kriteria guru besar sedikitnya harus punya satu karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi dengan penilaian yang ketat. Alhasil, kualitas riset pun harus bagus, harus menawarkan kebaruan atau inovasi, dan mampu dikomunikasikan lewat tulisan karya ilmiah yang baik.

Menggenjot riset dan publikasi ilmiah menjadi salah satu upaya meningkatkan daya saing bangsa. Indonesia punya banyak dosen dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, tetapi jumlah publikasi internasionalnya rendah.

“Yang profesor pun tidak semua produktif meriset dan melakukan publikasi ilmiah di jurnal internasional,” kata Guru Besar di Universitas Negeri Makassar Eko Hadi Sujiono yang juga anggota Tim Penilaian Angka Kredit (PAK) Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Sayangnya, soal riset dan publikasi ilmiah ini sering kali jadi ganjalan bagi para doktor yang sudah di jenjang akademik lektor kepala untuk naik tingkat jadi guru besar. Jalan pintas pun ada yang dipilih calon profesor agar bisa lolos dalam penilaian.

Dalam seminar nasional keprofesoran bertajuk “Menggagas Format Baru untuk Menghasilkan Profesor yang Lebih Berkualitas, Kreatif, dan Produktif” di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, yang dilaksanakan Direktorat Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti, berbagai sebab gagalnya pengajuan calon profesor diungkap. Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti “turun gunung” untuk berbagi tips kepada para doktor yang bersiap mengajukan usulan sebagai guru besar.

Tergiur

Yanuarsyah Haroen, Ketua Tim PAK yang juga Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, mengatakan, dari pengamatan sejak 2011, terlihat kualitas karya ilmiah dan publikasi ilmiah calon profesor masih rendah. “Bahkan, cara-cara curang dan tidak beretika juga dilakukan calon profesor. Ada berbagai temuan kecurangan yang membuat calon profesor gagal diproses,” ungkapnya.

Ada calon profesor yang mengganti cover jurnal, isi diganti atau diselipkan dengan karya ilmiahnya. Ada yang mengambil data-data penelitian orang lain seolah-olah hasil risetnya, hingga ada isi karya ilmiah yang tidak ada kaitan dengan daftar referensi. “Banyak pula doktor yang tergiur publikasinya mudah masuk jurnal ilmiah internasional tertentu. Akan tetapi, ternyata jurnal itu abal-abal atau palsu. Demikian juga tawaran ikut seminar/konferensi internasional dengan jaminan karya ilmiahnya bisa masuk ke jurnal ilmiah,” tutur Yanuarsyah.

Para calon profesor, menurut Yanuarsyah, memang masih butuh peningkatan untuk melakukan riset bermutu sehingga menghasilkan publikasi internasional yang diakui. Dalam realitasnya, ada dosen yang tidak layak mendapat jabatan akademik profesor.

Seminar nasional  keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULUSeminar nasional keprofesoran digelar Kementerian Ristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (29/10), dalam upaya mengoptimalkan peran profesor untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi dan pembangunan nasional.

“Ada kebodohan-kebodahan yang tampak jelas dalam proses pengajuan, terutama di syarat publikasi. Ada yang copy paste karya orang lain, hingga dalam artikel ilmiah di jurnal disebut dalam skripsi ini,” ujar Yanuarsyah

Guru Besar di Universitas Diponegoro Heru Susanto yang juga anggota Tim PAK Kementerian Ristek dan Dikti mengatakan, penilaian publikasi yang baik meliputi content yang ditulis dengan baik ataupun penerbitannya. Sayang, banyak dosen yang tidak jeli dalam memahami jurnal ilmiah yang baik. Sebab, jurnal internasional yang terindeks Scopus saja belum tentu bagus.

“Ada salah satu PT di Indonesia yang progresif publikasi ilmiahnya di jurnal. Tetapi, lebih dari 15 persen publikasinya di jurnal yang tidak baik,” ujar Heru.

Dalam publikasi karya ilmiah, para dosen di Indonesia banyak yang tidak ada kebaruan, tidak ditulis dengan format yang baik, ada indikasi pelanggaran etika publikasi ilmiah, referensi tidak nyambung, hingga standar bahasa Inggris tidak terpenuhi.

“Ada doktor bidang hukum yang dalam publikasinya menerjemahkan hukum tidak berjalan ke dalam bahasa Inggris menjadi the law us not walking. Padahal, kendala bahasa ini, kan, bisa diatasi dengan bantuan penerjemahan,” ungkap Heru.

Ditingkatkan

Bunyamin Maftuh, Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kementerian Ristek dan Dikti, mengatakan, sosialisasi keprofesoran terus dilakukan, baik untuk para doktor yang siap mengusulkan profesor maupun pimpinan perguruan tinggi agar memiliki rencana strategis untuk menyiapkan calon profesor sesuai kebutuhan tiap-tiap perguruan tinggi. “Yang penting juga lewat sosialisasi di sejumlah daerah ini bisa berbagi soal hal-hal yang membuat pengajuan profesor gagal dan apa yang mesti diperbaiki,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Ristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menuturkan, terobosan untuk menambah kuantitas dan kualitas profesor harus dilakukan. “Akan tetapi, bukan asal profesor, melainkan yang bermutu,” ujarnya.

Para dosen bergelar doktor, yang berjumlah sekitar 23.000 orang, setiap tahun akan bertambah karena yang menempuh pendidikan pascasarjana di dalam dan luar negeri saat ini berkisar 12.000 orang. Para dosen yang telah mencapai jabatan lektor kepala didorong untuk meningkatkan kariernya menjadi profesor. Setidaknya ditargetkan sekitar 23.000 profesor sesuai jumlah program studi yang ada. Jumlah profesor saat ini berkisar 5.300 orang.

Sejak pertengahan 2015, pengusulan profesor dilakukan secara online. Ada kepastian batas waktu untuk memproses pengajuan kepada Kementerian Ristek dan Dikti, yakni maksimal dua bulan pengajuan segera bisa diketahui diterima atau ditolak. Selain itu, ada masukan-masukan perbaikan sehingga calon profesor bisa segera mengusulkan kembali proses guru besarnya.

  • 0
  • 0
  • 2
December 14, 2015

Setelah N219, Dirgantara Indonesia dan Lapan Garap N245

Bravo PT DI !
Mengharukan walaupun sumber daya sangat terbatas mereka terus berkarya buat bangsa. bandingkan dengan politikus (tikus) Senayan yang bergelimang harta dan kuasa.. APA KARYA MEREKA ???????
12 Desember 2015

Pesawat N219 buatan LAPAN bersama PT DI (photo : Detik)

TEMPO.CO, Bandung – PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih menyimpan rencana pengembangan sederet pesawat lainnya setelah sukses merancang pesawat N219 yang diperkenalkan perdana Kamis, 10 Desember 2015.

“Selanjutnya, N234 untuk 50 penumpang. Ini sudah mulai disiapkan. Berikutnya generasi N270 untuk 70 penumpang,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Thomas mengatakan, lembaganya ditunjuk pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional sebagai lembaga riset dan pengembangan pesawat terbang, lalu PT Dirgantara menjadi pengembang manufaktur pesawat.

“Pada 2011, Lapan secara resmi membentuk Pusat Teknologi Penerbangan,” katanya. Pembuatan N219 menjadi kerja sama perdana Lapan dan Dirgantara Indonesia.

Thomas memperkirakan, pengembangan N219 bersama PT Dirgantara Indonesia menyedot dana Rp 500 miliar hingga pesawat itu mendapat sertifikasi laik terbang dari pemerintah yang ditargetkan pada 2017. Pengembangan N219 juga masih terus berlanjut dengan pengembangan variasi lainnya. “Sesuai kebutuhan user,” ujarnya.

Thomas mengatakan, rencana pembuatan N245 sudah memasuki tahap desain lewat pengujian di fasilitas wind-tunnel atau terowongan angin. “Sudah mulai konsep desain awal, beberapa sudah mulai pengujian,” katanya.

Dia mengaku, biaya yang dikeluarkan masih terhitung kecil. Namun Thomas enggan memerincinya. Lembaganya bersama PT Dirgantara berencana mengajukan pendanaan khusus pada pemerintah untuk membiayai pembuatan prototipe N245.

Thomas mengaku belum bisa menaksir dana yang dibutuhkan untuk pembuatan pesawat N245. “Belum ada gambaran, tapi yang jelas lebih mahal dari ini (N219),” katanya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan, pesawat N245 merupakan generasi terbaru dari pesawat CN235 yang sudah diproduksi PT Dirgantara. “Kami lagi membangun pesawat CN235 yang dimodifikasi menjadi N245,” kata Andi di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Andi mengatakan, perbedaan mencolok dengan pesawat CN235 ada pada bagian ekornya. Pesawat N245 dirancang dengan memodifikasi bagian ekor pesawat CN235 yang memiliki ramp-door atau pintu belakang yang bisa dibuka. “Pintu belakang itu dicopot sehingga bisa membawa penumpang yang tadinya 42 penumpang menjadi 50 penumpang,” katanya.

Menurut Andi, ramp-door atau pintu belakang itu menjadi kelebihan CN235 untuk memenuhi fungsi ganda pesawat tersebut, yakni sebagai pesawat sipil sekaligus pesawat militer. “Pintu belakangnya besar sehingga bisa nerjuni orang. Nah, N245 itu dicabut supaya lebih ringan karena pintu itu berat,” ujarnya.

Andi mengatakan, dengan mencabut pintu besar itu, N245 dirancang lebih ringan kendati ukurannya bakal lebih panjang agar memuat penumpang hingga 50 orang.

Dia optimistis pengembangan pesawat N245 bakal lebih cepat dibandingkan saat mengembangkan N219. “Basisnya sudah ada. Tahun 2019 itu diharapkan sudah selesai dan bisa dijual,” kata Andi.

(Tempo)

November 24, 2015

Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Ayo manfaatkan dong tawaran ini
SENIN, 23 NOVEMBER 2015

 Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Perusahaan pembuat alat pertahanan militer asal Swedia, Svenska Aeroplan Aktiebolag (SAAB), menyatakan sejumlah hal positif terkait dengan alat utama sistem persenjataan yang ditawarkan ke pemerintah Indonesia bakal menjadi pertimbangan. Beberapa hal di antaranya adalah tentang kemajuan teknologi yang ditawarkan serta bagaimana transparansi yang diusung perusahaan tersebut.

Untuk menjelaskan lebih detail, Kepala Perwakilan SAAB di Indonesia Peter Carlqvist menerima Indra Wijaya dan Tri Artining Putri dari Tempo untuk kesempatan wawancara pada akhir Oktober lalu. Pertemuan sekitar 15 menit itu berlangsung di kediaman Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, di Jalan Sriwijaya Raya No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berikut ini petikannya.

Pemerintah kami baru saja memutuskan meningkatkan anggaran pertahanan. Bagaimana Anda melihat peluang ini? Karena pemerintah kita memutuskan membeli pesawat tempur F16 atau Sukhoi.

Peter Carlqvist: Kami memiliki sebuah tawaran yang unik dan kami yakin pemerintah akan menghargai konten dalam sistem pertahanan udara. Bukan hanya jet tempur Gripen dan pesawat Airborne Peringatan Dini, kami memiliki transparansi penuh yang merupakan persyaratan yang kuat oleh pemerintah Swedia dan SAAB.

Sistem ini akan memiliki kerja sama industri yang begitu banyak sehingga kita dapat membuat Indonesia mandiri untuk memproduksi bagian-bagian dan pemeliharaan yang mendukungnya. Saya pikir itu tawaran unik dan tak dipikirkan oleh pesaing lainnya.

Johanna Brismar Skoog: Dan saya ingin garis kerja sama yang jelas antara industri, alih teknologi, dan kolaborasi dengan universitas. Itu adalah konsep yang sangat baik. Dari catatan kami, kami dapat menjamin bahwa SAAB selalu membuktikan janjinya.

Bisa diceritakan pengalaman Anda melakukan kerja sama semacam ini di Brasil, Thailand, atau Afrika Selatan?

Peter Carlqvist: Ada pengalaman yang fantastis, banyak tantangan karena sebagian besar waktu industri pertahanan tidak begitu canggih. Tapi akhirnya bisa maju ketika kita mentransfer teknologi, kita harus bergandengan tangan dengan industri lokal, membangun kemampuan, fasilitas pengujian baru, dan laboratorium baru.

Kita perlu membawa insinyur baru dalam kolaborasi dengan universitas sehingga kita mendapatkan orang yang berkualitas untuk datang untuk belajar ini. Jadi ini adalah paket besar.

Seperti di Brasil, kami membawa 150 insinyur untuk Swedia untuk mempelajari produksi Gripen. Sebanyak 150 orang dengan keluarga yang pindah ke Swedia untuk belajar bagaimana mengembangkan dan memproduksi Gripen.

Kami memanfaatkan rantai pasokan kami dengan membeli yang terbaik dari yang terbaik. Perlu kompetitif, sehingga selama keluar transfer teknologi kami akan menjaga kualitas, kami memiliki pengalaman yang baik dalam melakukan ini dari negara-negara lain.

Bagaimana skema pembayaran pengadaannya?

Peter Carlqvist: Tentang pembayaran akan menjadi salah satu hal yang penting untuk dibahas dengan pemerintah. Tapi sekali lagi, kami memiliki proses yang sepenuhnya transparan ketika datang ke pembayaran, kredit ekspor, dan yang akan didukung oleh pemerintah Swedia.

Johanna Brismar Skoog: Ya, pemerintah Swedia sepenuhnya di balik itu. Misalnya fasilitas kredit ekspor, sesuatu yang dari sisi pemerintah, seperti hal-hal yang bisa dibahas juga suku bunga serta masa tenggang dan sebagainya. Hal-hal itu akan menjadi hasil dari negosiasi. Tentu saja sekali lagi itu semua akan menjadi proses yang transparan.

November 8, 2015

RI Gencar Bikin Pesawat, Setelah N219 Ada N245 dan N270

Detik, 06 November 2015

Pesawat angkut rungan N219 (photo : Kaskus Militer)

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana mengembangkan pesawat lanjutan pasca N219. Sebelum N219 terbang perdana (first flight) pada Mei 2016, PTDI dan LAPAN pada awal 2016 akan memulai mengembangkan pesawat berkapasitas antara 50 penumpang hingga 90 penumpang yakni N245 dan N270.

Tahap awal, PTDI dan LAPAN masuk pada pesawat baling-baling kelas 50-60 penumpang di 2016. Pesawat ini adalah N245, yang merupakan pesawat baling-baling pengembangan dari pesawat versi militer, CN235.

PTDI dan LAPAN memulai pengembangan N245, meskipun N219 belum terbang karena proses pengembangan pesawat dari desain konseptual dan feasibility study, hingga pesawat mengantongi sertfikasi dan siap produksi memakan waktu tidak sebentar.

“Proses pengembangan pesawat bukan langsung gambar maksudnya program ini dimulai, sambil N219 berjalan dan sudah mendekati selesai. Kita (untuk N219) melakukan studi pasar sama membuat desain konseptual terlebih dahulu,” kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN, Agus Aribowo, kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Setelah melakukan desain konseptual dan diketahui tentang potensi pasar, PTDI dan LAPAN melakukan pada tahapan uji terowongan angin fase 1. Selanjutnya, PTDI dan LAPAN melakukan verifikasi desain dan disusul preliminary design. Di sini bentuk pesawat sudah terlihat aerodinamiknya.

Proses kemudian berlanjut ke uji terowongan ke-2 dan ke-3, baru masuk ke fase detil desain. Di sini seluruh komponen pesawat digambar secara detil. Proses berikutnya ialah pembuatan prototype.

“Baru roll out dan terakhir test flight dalam rangka sertifikasi,” jelasnya.

PTDI dan LAPAN menargetkan pesawat N245 bisa mengantongi sertifikasi dari regulator penerbangan nasional pada akhir 2019.

Agus menjelaskan, pengembangan N245 relatif tidak terlalu komplek daripada pengembangan N219, karena N245 merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari CN235 yang telah lama dikembangkan oleh PTDI bersama Airbus Military. Dengan modifikasi, N245 bisa memiliki kapasitas 50 sampai 60 penumpang.

“Kebutuhan pasar dengan kemampuan basic CN235, itu kita akan modifikasi dari versi militer jadi versi sipil dengan ganti engine yang lebih efisien dan lebih irit. Kemudian avionic system pada cokpit diganti dengan varian terbaru yakni glass cockpit,” tuturnya.

Untuk varian N270, PTDI dan LAPAN merencanakan pengembangan pesawat ini pada periode 2019-2024. N270 dirancang mampu membawa penumpang antara 70 sampai 90 orang.

“N270 itu memanjangkan yang N245 jadi 70-90 penumpang. Ini biaya development lebih irit karena hanya pengembangan,” jelasnya.

(Detik)

October 28, 2015

Pesawat Perintis N219 akan Dijual Tahun 2017

28 OKTOBER 2015

28 Oktober 2015

Cutaway pesawat N219 (image : PTDI)

JAKARTA. PT Dirgantara Indonesia tengah merampungkan pembuatan pesawat perintis bertipe N219. Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini akan mulai dipamerkan November 2015 mendatang.

Kepala Divisi Perencanaan Dirgantara Indonesia , Sonny Saleh Ibrahim mengungkapkan, pesawat dengan misi penerbangan antar pulau ini telah dipesan oleh tiga maskapai penerbangan.

“ Sudah mulai dipesan oleh tiga maskapai, 2017 akan mulai dijual,” ujar Sonny kepada KONTAN, Jumat( 23/10). Tiga maskapai tersebut yakni PT Aviastar Mandiri, PT Trigana Air, dan PT Nusantara Buana Air.

Meski enggan merinci satu persatu, jumlah unit N219 yang dipesan oleh ketiga perusahaan tersebut, Sonny bilang, secara total ada 30 pesawat N219 yang telah dipesan dengan total opsi pembelian mencapai 30 unit.

Pihaknya secara bertahap akan mulai mendistribusikan N219 ke ketiga maskapai tersebut pada 2017 mendatang. Untuk harga perunit, N219 dibandrol sebesar US$ 4 juta- US$ 5 juta.

Selain itu, untuk pembuatan bahan pembuatan pesawat, Sonny bilang diawal pembuatannya N219 telah menyerap sekitar 40%-50% kandungan lokal dalam negri. Pihaknya berencana akan meningkatkan kandungan lokal hingga 70%-75%.

Namun sebelum produksi massal yang direncanakan pada 2017 mendatang, Sonny bilang pihaknya harus mengurus izin sertifikasi nasional yang diperkirakan mencapai satu tahun.

JIka sudah diproduksi secara massal, Dirgantara menargetkan penjualan N219 tidak hanya memenuhi kebutuhan pesawat perintis dalam negri, namun pihaknya juga akan menjual pesawat tersebut hingga ke negara negara Asia Tenggara lainnya.

Terkait target penjualan Sonny enggan memberitahu target penjualan N219. Namun pihaknya akan fokus memenuhi kebutuhan pesawat perintis di Asia yang diperkirakan mencapai 800 unit hingga 20 tahun kedepan.

“ Makanya kami akan terus tingkatkan produksinya dari empat unit ditahun pertama, delapan unit tahun kedua dan 12 unit pada tahun selanjutanya,” ujar Sonny.

(Kontan)

October 22, 2015

November, Pesawat N219 Made in Bandung Diluncurkan ke Publik

Detik, 22 Oktober 2015

Pesawat N219 yang dibuat oleh PT DI (image : DI)

Jakarta -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berencana meluncurkan pesawat terbang baling-baling N219 pada bulan November 2015. Wujud pesawat penumpang karya insinyur penerbangan di Bandung, Jawa Barat, ini bakal ditampilkan ke publik (roll out).

”N219 pada bulan depan akan roll out. Dia dikeluarkan dari hanggar dengan desain sudah freeze,” kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno kepada detikFinance, Rabu (21/10/2015).

Setelah ditampilkan ke publik, PTDI sebagai pengembang akan melakukan uji terbang hingga mengurus sertifikasi nasionall. Proses ini berlangsung 1 tahun. Selanjutnya, diikuti oleh produksi massal.

“Saat uji terbang dibuat beberapa tipe,” ujarnya.

Selain mengurus sertifikasi di tanah air, N219 akan didaftarkan ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA).

“Kita langsung sertifikasi EASA juga. Ini nggak sertifikasi FAA karena kita nggak terbang (dijual) ke Amerika” ujarnya.

Saat diperkenalkan pada November nanti, komponen lokal masih berkontribusi 35% terhadap produk N219. Kontribusi komponen lokal akan ditingkatkan 60% sampai 70%, seiring selesainya pembuatan komponen aluminium yang dibuat oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

“Kita rencanakan 60-70% komponen lokal. Engine dan landing gear, kita masih impor. Ada Inalum buat alumunium sehingga komponen lokal naik. Terus LEN (BUMN) buat avionic,” ujarnya.

Harry menyebut N219 akan membidik pasar di Indonesia dan Asia Tenggara. Untuk Indonesia saja, Harry memperkirakan kebutuhan N219 mencapai 500 unit. Pesawat yang mampu membawa 19 orang penumpang ini diperuntukan melayani penerbangan perintis dan daerah terpencil.

“Ini belum kebutuhan ASEAN,” jelasnya.

(Detik)