Archive for ‘Indonesia techno research education news’

August 19, 2014

INILAH HASIL PEMERINGKATAN WEBOMETRICS JULI 2011

 

diunduh dari : http://emka.web.id/

 

Webometrics, atau pemeringkatan kepopuleran sebuah perguruan tinggi di dunia maya yang dijadikan rujukan bagi beberapa universitas dan perguruan tinggi di indonesia telah merilis hasil pemeringkatannya pada Juli 2011. Setelah di undur satu hari dari jadwal semula, berikut adalah hasil pemeringkatan Webometrics untuk wilayah Indonesia (Top 50):

IND. RANK WORLD RANK UNIVERSITY    SIZE  VISIBILITY RICH FILES SCHOLAR
1 562 University of Indonesia   247 827 538 460
2 632 Institute of Technology Bandung   293 715 929 845
3 817 Universitas Gadjah Mada   258 805 1255 1643
4 845 Gunadarma University   411 971 326 1908
5 1180 Bogor Agricultural University   995 1105 985 1653
6 1218 Universitas Negeri Malang   1088 1397 760 1673
7 1260 Petra Christian University   448 3323 606 1681
8 1264 Universitas Muhammadiyah Malang   1282 2135 638 1588
9 1274 Institut Teknologi Sepuluh Nopember   467 1474 1760 1609
10 1294 Diponegoro University   230 2267 1619 1624
11 1348 Andalas University   2458 1603 598 1729
12 1361 Universitas Sebelas Maret   434 1526 1277 1978
13 1388 Airlangga University   875 2837 577 1881
14 1473 Universitas Sriwijaya   879 2385 1298 1812
15 1477 Brawijaya University   986 1248 1224 2480
16 1540 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta   2069 1140 2158 1835
17 1580 Universitas Islam Indonesia   1074 1373 2956 1809
18 1604 Universitas Muhammadiyah Surakarta   984 3184 1246 1912
19 1671 Universitas Sumatera Utara   1290 2969 2584 1614
20 1760 Universitas Mercu Buana   1498 2388 1266 2238
21 1850 Indonesia University of Education *   1009 1976 1957 2707
22 1912 Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya   2253 2280 1782 2062
23 1950 Universitas Padjadjaran   978 2339 2374 2490
24 2043 Yogyakarta State University   2174 2408 3114 1836
25 2083 Universitas Lampung   1897 4056 1296 2308
26 2162 Informatics and Computer College Stmik Amikom   2758 2914 2938 1805
27 2226 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang   2372 2469 2752 2139
28 2373 Universitas Negeri Semarang   1596 3721 4490 1811
29 2553 Universitas Tarumanagara *   3988 7322 1697 1761
30 2600 Bina Nusantara University   2236 2956 1710 5165
31 2632 Universitas Hasanuddin University   2129 3569 2105 3885
32 2723 Universitas Udayana   3633 4439 2392 2225
33 3051 Unikom   2171 5880 3419 2410
34 3068 Ahmad Dahlan University   2259 2453 4883 3810
35 3403 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya   1158 3298 4599 7229
36 3468 Atma Jaya Yogyakarta University   6033 5715 1219 4932
37 3471 Universitas Riau Beranda   3077 6989 4432 2065
38 3556 Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel   2654 9472 3984 1966
39 3770 Duta Wacana Christian University   3183 4701 3475 5165
40 3912 Universitas Terbuka   2653 3092 6274 4932
41 4127 Universitas Katolik Parahyangan   2423 7697 4499 3548
42 4182 Institut Sains & Teknologi Akprind   3058 6332 6932 2333
43 4201 ISI Denpasar   4424 9814 4344 1977
44 4342 Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta   9227 6503 4570 1867
45 4651 Universitas Trisakti   3117 6989 5336 4118
46 4871 Institut Teknologi Telkom (Sekolah Tinggi Teknologi Telkom)   2346 5982 5454 7229
47 4939 Universitas Jenderal Soedirman   2965 6226 4731 7229
48 4965 Universitas Negeri Surabaya   5756 6932 3017 6048
49 5075 Universitas Sanata Dharma   4878 5715 5671 4723
50 5081 Universitas Negeri Gorontalo
August 18, 2014

Lamaran Kerja Doktor Indonesia Lulusan Australia Ditolak

Ditolak lamaran karena perusahaan Indonesia  tidak mampu bayar gaji seorang Phd

 

 

Selasa, 12 Agustus 2014 | 12:43 WIB
ABCBagus Nugroho di markas Badan Antariksa Jepang (Jaxa), Juli 2014.
 
KOMPAS.COM — Kalau Anda menyandang gelar doktor, apalagi dari luar negeri seperti Australia, maka ketika melamar pekerjaan di Indonesia, pastilah banyak yang akan menerima Anda bekerja. Benarkah?

Dalam pengalaman awal Bagus Nugroho, mahasiswa Phd Universitas Melbourne, tidaklah demikian.

Bagus yang menekuni Ilmu Aerodinamika tersebut akan selesai dalam waktu dua bulan mendatang dan karenanya sudah mulai berusaha mencari pekerjaan di Indonesia.

“Saya mengajukan lamaran ke dua perusahaan di Indonesia, satu perusahaan konsultan dan satu lagi yang bergerak di bidangengineering,” kata Bagus Nugroho kepada wartawan ABC International L Sastra Wijaya.

“Namun, dalam kurang dari dua minggu, saya sudah mendapat surat jawaban penolakan bahwa saya tidak sesuai dengan apa yang mereka cari,” tambah Bagus.

Menurut dia, jenis pekerjaan yang diminatinya bukanlah merupakan pekerjaan yang “luar biasa”. Bagus merasa heran bahwa kedua perusahaan tersebut tidak berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut latar-belakang pendidikannya, sebelum kemudian mengambil keputusan.

“Jadi saya mendapat jawaban standar penolakan biasa dari bagian personalia,” tambahnya.

Walau ini masih dalam tahap awal usahanya mencari kerja, Bagus Nugroho merasa heran karena sebenarnya dia mendapat tawaran bekerja di beberapa negara, termasuk Australia, Inggris, dan Singapura.

Bagus juga baru kembali dari Jepang setelah dia mengikuti program magang di Badan Antariksa Jepang (Jaxa) yang sedang berusaha membuat sebuah wahana yang bisa mendarat di Planet Mars. Bagus merupakan salah satu dari tiga mahasiswa dari seluruh dunia yang terpilih untuk program tersebut.

“Saya mendapatkan rekomendasi dari profesor saya untuk sebuah pekerjaan di Australia di bidang pertahanan, yang sesuai dengan bidang yang saya tekuni. Namun, persyaratannya adalah saya harus menjadi warga negara Australia,” kata Bagus lagi.

Dua perusahaan lagi di Inggris dan Singapura juga sedang mempertimbangkan lamaran yang diajukannya.

Mirip dengan Bagus Nugroho, Alex Senaputra, mahasiswa Indonesia yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Curtin di Perth juga menceritakan keadaan yang hampir sama. Alex menyelesaikan studinya di bidang pengolahan mineral dan sekarang bekerja di Connecticut, Amerika Serikat.

“Saya pernah berhubungan dengan sebuah perusahaan BUMN di Indonesia, tetapi lamaran saya tidak mendapat tanggapan dari bidang personalia mereka. Saya mendapatkan pekerjaan di Amerika Serikat ini karena ditawari, bukan saya yang mengajukan lamaran,” kata Alex.

Menurut Alex yang dulunya menamatkan pendidikan S-1 di ITB tersebut, sering kali perusahaan di Indonesia beranggapan bahwa para doktor baru lulusan luar negeri ini tidak memiliki pengalaman di bidang operasional dan hanya kuat di bidang riset.

“Di perusahaan di Indonesia, tampaknya level-level strategis diisi orang-orang yang berpengalaman dan riset tidak termasuk kriteria berpengalaman,” tambah Alex.

“Sebenarnya yang kita butuhkan adalah kesempatan dan kadang kesempatan itu datangnya tidak seperti garis lurus. Kalau di Indonesia bisa seperti mengurai benang kusut. Sekarang tergantung kemauan pribadi yang berbeda-beda untuk mengurai benang kusut tersebut,” kata Alex lagi.

“Beberapa orang yang tidak tahan dengan keadaan ini, memilih kemudian bekerja di luar negeri ketika mendapat tawaran. Saya sendiri masih berharap akan bisa kerja di Indonesia karena saya masih berusaha ikut mengurai benang kusut tersebut,” demikian Alex Senaputra.

 

 

August 12, 2014

Yohanes Surya Bangun Komplek Techno Park Senilai Rp36 Triliun

Dini Hariyanti   –   Jum’at, 08 Agustus 2014, 23:56 WIB

BERITA TERKAIT

Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Komplek technology park seluas 600 hektare akan dibangun di Bogor, Jawa Barat. Proyek ini menelan investasi hingga Rp36 triliun.

Yohanes Surya, selaku pengagas proyek, menyatakan komplek tersebut meliputi 13  technology park dan infrastruktur pendidikan, seperti gedung Universitas Surya, Kampus STKIP Surya, gedung sekolah Genius serta fasilitas pendukungnya.

“Ada pula pusat penelitian, research hospital yang fokus untuk otak, jantung, dan kanker, serta business dan theme park,” kata pria yang diakrab dikenal sebagai fisikawan itu saat dihubungi Bisnis, Jumat (8/8/2014).

Infrastruktur pemukiman juga akan disediakan berupa perumahan dan apartemen. Total jangka waktu dibutuhkan untuk mengembangkan proyek ini diproyeksikan sekitar 10 – 15 tahun.

“Pada tahun depan kami akan mulai konstruksi. Proyek ini kemungkinan akan menggunakan nama PT Surealindo,” ucap Yohanes.

Yohanes mendatangi Menteri Perindustrian M.S. Hidayat di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, untuk meminta dukungan dalam pengerjaan komplek techno park ini. Kemenperin menunjuk Realestat Indonesia (REI) untuk mendampingi pelaksanaan proyek tersebut.

Editor : Sepudin Zuhri

Tags:
August 7, 2014

Lockheed Martin Announces Indonesian Radar Industry Initiative

 Teknologi radar Indonesia sebenarnya juga sudah sangat maju lho..
06 Agustus 2014

AN/TPS-77 air surveillance radar (photo : militaryphotos)

JAKARTA, Indonesia/PRNewswire/ — Lockheed Martin (NYSE: LMT) has launched an Indonesian radar industry initiative as part of its efforts to support the country’s plans to modernize and extend its air surveillance coverage.

This initiative includes technology transfers to aid in the development of a new Indonesian radar industry, as well as partnerships with local universities to cultivate the workforce necessary to support it. Enhancing Indonesia’s ability to make critical radar components will reduce the nation’s reliance on foreign suppliers, while providing employment opportunities for its citizens.

“Lockheed Martin is committed to supporting Indonesia and its defense industry revitalization plans,” said Robert Laing, National Executive, Lockheed Martin, Indonesia. “Our goal is to create a new technology sector and associated jobs to ensure a sustainable industry in Indonesia.”

Lockheed Martin has worked with the Bandung Institute of Technology (ITB) to produce an engineering curriculum focused on radar technologies. Similar programs, along with ongoing technical seminars and education opportunities, are training future leaders in the development of this technology. The Corporation also has established an Indonesia-based manufacturing capability with local companies, which have begun producing radar components.

Lockheed Martin is competing for Indonesia’s Ground Control Intercept (GCI) radar program. Should the company be selected for this opportunity, it would provide significant new employment possibilities for its local industry partners, estimated at up to 2 million labor hours over the lifetime of these radars. These Indonesian partners would be capable of producing nearly $100M (USD) of radar components per year.

Lockheed Martin’s extensive air surveillance radar experience can help Indonesia ensure a safe and secure airspace for both civilian air traffic and national sovereignty for many years to come. Lockheed Martin has produced and currently maintains more than 200 air surveillance radars in 30 countries. Operational around the world 24 hours a day, these radars work completely unmanned and many have performed for decades in extremely harsh, remote environments. None of these radars has ever been taken out of service, and many systems continue to operate well beyond their original 20-year service lives. This longevity is a result of Lockheed Martin’s continuous investment in state-of-the-art technology and its commitment to customer missions.

Headquartered in Bethesda, Maryland, Lockheed Martin is a global security and aerospace company that employs approximately 113,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s net sales for 2013 were $45.4 billion.

(PRNewswire)

June 30, 2014

Lima Tahun ke Depan, BPPT Menargetkan Membuat Pesawat Nirawak MALE

 Sepertinya BPPT sudah mulai ketinggalan dengan Univ Surya
30 Juni 2014

BPPT dengan dukungan dana dari Kementerian Pertahanan menargetkan dalam lima tahun mampu membuat MALE UAV yang mampu terbang lebih 20 jam sehari, ketinggian 20-30 ribu kaki, serta mampu membawa kamera dan radar. (photo : Shephard)

VIVAnews – Drone atau pesawat nirawak untuk pengawasan, menjadi topik hangat beberapa hari lalu, saat menjadi bahasan debar capres sesi ketiga antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Tak hanya seru di debat, topik drone juga ramai dibicarakan di sosial media.

Sejauh ini kemampuan Indonesia untuk mengembangkan teknologi pesawat nirawak itu sudah berjalan. Pengembangan teknologi pesawat nirawak itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Kepala Program Pesawat Udara Nirawak (PUNA) BPPT, Joko Purwono, kepada VIVAnews, Senin malam, 25 Juni 2014 mengatakan institusinya sudah mengembangkan pesawat nirawak Wulung, yang tengah diproduksi, dan pesawat nirawak Sriti.

“Sedang diproduksi di PT Dirgantara Indonesia, Bandung dan digunakan Balitbang Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Menurutnya dengan kemampuan daya jelajah 200 km, PUNA Wulung bisa dimanfaatkan untuk pengawasan di perbatasan, misalnya di Kalimantan bagian Utara. Namun untuk pengawasan itu diperlukan dukungan base station, sebagai lokasi pendaratan pesawat nirawak itu.

“Pulau Kalimantan itu kan panjangnya sampai 2000 Km, itu harus ada base station. Setidaknya di Kalimantan butuh 4 base station,” katanya.

Untuk menjangkau pengawasan seluruh wilayah Indonesia, menurutnya butuh 25 titik base station.

Joko mengakui selama ini pesawat nirawak yang dikembangkan masih untuk memasok untuk kebutuhan pengawasan di wilayah perairan Indonesia. Sama pentingnya, pengawasan di perairan didorong untuk menekan pencurian ikan.

Ditambahkan Joko, pesawat nirawak yang dikembangkan BPPT, masih memiliki keterbatasan yaitu ketinggian terbang, lama terbang dan muatan yang dibawa.

Wulung, jelasnya, hanya mampu terbang dengan ketinggian 12-14 ribu kaki, terbang 6 jam dan tak mampu terbang sampai di atas awan.

“Tidak bisa lihat (area pengawasan) jika  di atas awan. Kalau cuaca bagus (Tak ada awan) bisa terbang sampai 20 ribu kaki, tapi jangkauannya 150 km, dan di titik itu nggak bisa online kirim data,” katanya.

Ia menambahkan pesawat nirawak Wulung mampu mengirimkan data pengawasan secara realtime dalam terbang ketinggian normal.

Untuk itu, BPPT dalam lima tahun mendatang manargetkan mampu kembangkan pesawat nirawak dengan kemampuan lebih dari Wulung. Pesawat itu dinamakan Medium Altitude Long Endurance (MALE).

Pesawat ini lebih besar dari Wulung, mampu terbang lebih tinggi dan memiliki kelengkapan fasilitas muatan untuk kebutuhan pengintaian.

Data terbangnya lebih dari 20 jam dalam sehari, terbang dalam ketinggian 20-30 ribu kaki.

“Muatannya bukan kamera saja, tapi radar untuk melihat benda di bawah awan,” katanya.

Pengembangan pesawat nirawak MALE itu akan didanai oleh Kementerian Pertahanan.

(Viva)

June 23, 2014

Lapan Sudah Produksi Pesawat Tanpa Awak Seperti Keinginan Jokowi

Wiji Nurhayat – detikfinance
Senin, 23/06/2014 12:55 WIB
https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/06/23/1036/pesawat.jpgFoto: Pesawat Tanpa Awak Lapan (Wiji-detikFinance)
Jakarta -Calon presiden nomor urut 2 Joko Widodo (Jokowi) menginginkan penggunaan Drone atau pesawat tanpa awak untuk meminimalisir praktik perikanan ilegal (illegal fishing) yang merugikan negara. Drone ini sudah diproduksi di dalam negeri oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan).

“Lapan sudah membuat pesawat tanpa awak atau disebut Lapan Surveillance Unmanned (LSU) Aerial Vehicle,” kata Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lapan Rika Andiarti saat ditemui detikFinance di Kantor Pusat Lapan, Jalan Pemuda Persil, Rawamangun, Jakarta, Senin (23/06/2014).

Rika mengungkapkan, Lapan sudah memulai memproduksi pesawat tanpa awak sejak tahun 2011 seiring pengembangan program penerbangan nasional. Pesawat tanpa awak pertama yang dibuat dan dikembangkan Lapan adalah jenis Lapan Surveillance UAV-01X.

“LSU 01X dioperasional pada tahun 2012. Saat itu kita operasikan untuk mitigasi bencana meletusnya Gunung Merapi,” imbuhnya.

Lapan Surveillance UAV-01X adalah jenis pesawat tanpa awak berukuran kecil yang membawa kamera seberat 1,5 kg. Cara menerbangkan pesawat ini cukup hanya dilempar dan dapat mengudara selama 30 menit sepanjang 40 km dengan daya tinggi jelajah 500 meter.

Setelah itu, Lapan kemudian mengembangkan LSU 02 dengan ukuran dan tingkat daya jelajah lebih besar dibandingkan 01X. Teknologi yang digunakan juga jauh lebih tinggi dibandingkan 01X.

“Lapan Surveillance Unmanned Aerial Vehicle-02 atau LSU 02 terbang sejauh 200 kilometer. Dengan kecepatan terbang mencapai 100 km/jam. LSU 02 memiliki bentang sayap 2.400 mm dengan panjang beda 1.700 mm. Pesawat tanpa awak ini dapat digunakan untuk keperluan Airbone Remonte Sensing dengan tinggi daya jelajah 3.000 meter,” paparnya.

(wij/dnl)

June 23, 2014

Di Asia Tenggara, Teknologi Pesawat Tanpa Awak Indonesia Lebih Maju

Apalagi jika yang menjadi presiden Jokowi.. bakal banyak beli drone untuk memantau teritori dan laut Indonesia

Di Asia Tenggara, Teknologi Pesawat Tanpa Awak Indonesia Lebih Maju

Ilustrasi

Iman Herdiana – Okezone
UAV buatan PT Aviator Teknologi Indonesia (ATI) diperlihatkan dalam
sebuah pameran Indo-Defense 2008 lalu.
Teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia diklaim paling maju di kawasan Asia Tenggara. Misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia dan Singapura.
“Malaysia masih di bawah kita. Bahkan dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti, Singapura, kita masih lebih bagus,” ungkap Ketua Jurusan Aeronautika dan Astronautika Fakultas Teknik Mesin Penerbangan (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Taufiq Mulyanto, kepada Okezone, Sabtu (3/11/2012).
Sejak kemarin Jumat 2 November hingga Minggu 4 November mendatang, FTMD ITB menggelar kontes pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) lewat Indonesia Aerial Robot Contest (IARC) 2012 di Lanud Sulaeman, Soreang, Kabupaten Bandung.
Menurut Taufiq, Singapura memang memiliki resource yang bagus. Namun jika ditelusuri, SDM-nya justru dari Indonesia, misalnya dari ITB. “Malaysia juga belum (UAV-nya belum maju), dapurnya di kita,” tambahnya.
detail berita
Mahasiswa peserta kontes UAV (pesawat tanpa awak)
di ITB sedang bekerja (Foto: Iman Herdiana/Okezone)
Makanya dengan dihelatnya IARC 2012, semangat untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia makin meningkat. “Lewat event ini bendera kita harus terus berkibar,” ujarnya.
IARC 2012 merupakan event tahunan FTMD ITB yang sudah digelar sejak 2008. Kali ini, IARC berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana acara dihelat di outdoor. Biasanya, IARC ITB digelar di ruangan FTMD ITB, Jalan Ganeca, Bandung. Sehingga tantangan peserta IARC kali ini akan lebih berat.
“Sekarang outdoor. Sebelumnya pada September kami telah melakukan workshop, dan survei tentang bagaimana jika dilakukan kontes outdoor. Sehingga kesiapannya sudah diperhitungkan,” terangnya.
Ada tiga tujuan utama kenapa IARC. Kata Taufiq, intinya even ini ingin menumbuhkan spirit inovasi khususnya bidang UAV, bukan hanya sekedar kontes menang kalah.
Kedua, kata dia, diharapkan ada kolaborasi antara ilmu di perguruan tinggi dan sekolah tingkat SMA.
“Ketiga, ada proses, kita enggak lihat hasil akhir saja tapi penguasaan teknik UAV di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi UAV Indonesia tentu sangat jauh ketinggalan jika dengan UAV di negara maju misalnya Jepang.
Jika dihitung-hitung, teknologi UAV di negara maju sudah ada sejak 20 tahun lalu. “Ya ketika dibandingkan dengan kita, ibarat bayi dengan pelari. Jadi perlu investasi waktu supaya UAV di Indonesia maju. Di kita sendiri bentuk UAP baru ada 2004, kalau penelitiannya sejak 94,” ceritanya.
Perkembangan dan Prospek UAV Di Indonesia
Pemanfaatan UAV di Indonesia pertama kali dirasakan manfaatnya saat melacak keberadaan sandera di pedalaman hutan Papua. saat itu operasi militer satuan khusus TNI AD, Kopassus, ditugasi melakukan operasi penyelamatan para peneliti Ekspedisi Lorentz’95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Karena luasnya medan operasi di hutan Mapenduma, Jayawijaya, Kopassus meminta bantuan pesawat pengintai (UAV) dari negara lain, untuk mendeteksi keberadaan OPM. Pengintaian dilakukan untuk mengatur strategi penggelaran operasi militer.
Pemanfaatan UAV ternyata berhasil dengan baik, dalam pengejaran dan penyelamatan yang sukses dilakukan Kopassus. Keberhasilan penggunaan UAV ini adalah awal bangkitnya pengenalan pesawat intai portabel di TNI untuk dapat mengatur strategi pasukan di lapangan. Dan menjadi awal pemikiran akan teknologi pesawat intai portabel yang bisa digunakan untuk operasi militer. TNI menyadari selain menggunakan pesawat intai dan radar, ada gap yang belum tercover dan hanya bisa ditutupi oleh UAV.
Kemelut Pengadaan UAV
Pertengahan 2006, sejumlah perwira menengah (Pamen) TNI dikabarkan berkunjung ke produsen pesawat UAV, Israel Aircraft Industry (IAI) di Haifa, Israel. Pada 22 Oktober 2006 media Israel, Jerusalam Post, mengabarkan bahwa militer Indonesia tertarik untuk membeli salah satu produk UAV buatan IAI. Keputusan ini diambil setelah Pamen TNI mengamati kemampuan dan kehandalan beberapa UAV buatan IAI yang mampu beroperasi siang hingga malam. Setelah melakukan penilaian dan diskusi panjang dengan pihak produsen, akhirnya TNI memilih UAV jenis Searcher MK II untuk Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Pemilihan UAV jenis Searcher MK II oleh TNI berdasarkan pada keunggulan teknologi yang dimilikinya dan sudah terbukti tangguh (battle proven) dibandingkan dengan UAV sejenis dari negara lain.
Pembelian UAV sempat disamarkan dengan memanipulasi pembelian sarana pendukung alutsista TNI dari perusahaan Filipina, padahal barang tersebut berupa UAV berasal dari Israel.
Manipulasi pembelian UAV pun terdengar dan ditolak parlemen di Senayan. Menhan Juwono Sudarsono saat itu mengungkapkan bahwa pengadaan UAV berasal dari Israel adalah langkah realistik, mengingat kebutuhan BAIS yang memerlukan teknologi canggih yang handal.
Rencana ini marak diberitakan pers di Indonesia, sehingga masyarakat terutama kaum muslim di tanah air banyak yang menolak pembelian alutsista dari Israel, dengan melakukan demo di depan kedubes AS. Karena Israel dikenal negara penjajah yang menindas dan melanggar HAM di Palestina.
Lembaga riset militer intenasional, SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) dalam laporannya yang menyebutkan pembelian UAV ini dengan status uncertain (tidak pasti). Namun jadi atau tidak pembelian UAV ini, Informasi yang beredar TNI sedang menyiapkan satu skuadron UAV.
Meskipun rencana tersebut tidak jelas, UAV ditanah air akan menjadi tanggung jawab TNI AU dalam pengoperasian maupun pemeliharaan. Sedangkan tanggung jawab dalam penggunaannya berada dibawah Badan Intelijen TNI (BAIS).
Untuk pengoperasian wahana intelijen di Indonesia, Mabes TNI telah menyiapkan dana tambahan 16 juta dollar untuk membangun sarana dan prasarananya di Jakarta. Salah satunya adalah pusat komando dengan berbagai fitur pengintai canggih yang terhubung ke beberapa jaringan server. Sistem ini dikenal sebagai ‘I3C’ (Integrated Intelligence and Information center).
Jika proyek ini terealisasi semua perwakilan TNI diluar negeri (Atase Pertahanan) dapat terhubung jalur komunikasi secara realtime – online, jalur ini juga dilengkapi sistem pengacak signal (encrypto) pada sistem telekomunikasinya. Konsep ini diharapkan dapat memperkuat sistem keamanan jalur komunikasi sehingga sangat sulit disadap.
Selain itu pusat komando juga diproyeksikan mampu menggerakkan pasukan kemanapun diseluruh pelosok tanah air baik dipedalaman hutan maupun ditengah lautan. Bukan hanya jaringan komunikasi saja yang terpantau, lalu-lintas email, internet, data-link bahkan situs jejaring sosial semacam facebook dan lainnya dapat dimonitor secara online. Semua ditempuh demi keamanan dan keselamatan negara, salah satu pejabat TNI menyebut perangkat ini sebagai total-defence.
 UAV Nasional
Penelitian dan pengembangan (litbang) UAV di Indonesia telah lama dilakukan. Pertama kali yang merintis teknologi ini adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1999. Almarhum Prof Dr Said D Jenie merupakan salah seorang penggerak hadirnya UAV di Indonesia. Beliau yang pertama kali mencanangkan peta jalan bagaimana Indonesia mengembangkan pesawat tanpa awak (UAV).
Awal-awal pengembangan UAV oleh BPPT dimulai dengan pembuatan target drone untuk sasaran tembak TNI. Seiring dengan itu dibuat juga wahana tanpa awak bernama Rutav single boom dan double boom berkerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Namun karena memburuknya kinerja PT DI saat itu mengakibatkan proyek ini tertunda.
Lalu BPPT melakukan riset sendiri dengan membuat beberapa prototipe PUNA (Pesawat Udara Nir Awak). Hingga kini BPPT sudah memproduksi 10 unit, generasi pertama tercipta PUNA degan tiga varian, yaitu Wulung (2006), Pelatuk dan Gagak (2007). BPPT lalu mengembangkan PUNA generasi kedua, dengan nama Alap-alap dan Sriti.
UAV Wulung
UAV BPPT-01A Wulung.

Untuk mewujudkan berbagai macam prototipe PUNA, BPPT berkerjasama dengan pihak swasta, PT Aviator Teknologi Indonesia dan UKM Djubair OD yang mempunyai bengkel pesawat di kawasan Pondok Cabe, Tangerang.

Prototipe pertama UAV nasional diperkenalkan ke umum pada pameran Indo-defence 2004 di PRJ Kemayoran, Jakarta. Saat itu Industri Pertahanan Indonesia (IPI) menampilkan UAV berbobot 35 kilogram dengan panjang 2,5 meter dan rentang sayap mencapai 5 meter. UAV tersebut belum diberi nama, hanya terdapat tulisan ‘Departemen Pertahanan’.

Badan UAV berbentuk seperti ujung pensil dan panjang. Sedangkan di bagian belakang terdapat mesin pistonmini, lengkap dengan propeler yang menjadi tenaga penggerak utama. Untuk kepentingan pengintian, dibawah pesawat dipasang kamera mini. Sedangkan untuk mengirim hasil pengintaian digunakan antena yang terhubung dengan satelit melalui sinyal GPS.

Soal kemampuan, UAV mampu mengudara selama 3 jam tanpa mengisi bahan bakar. Selain itu, mampu terbang hingga ketinggian 3.000 kaki atau sekitar 1.000 meter. Sedangkan untuk jarak terbang, UAV dikontrol melalui Ground Control Station pada jarak 20 kilometer.

Menurut Direktur Teknologi dan Industri Dirjen Sarana dan Pertahanan (Ranahan) Dephan Suwendro, UAV merupakan salah satu hasil pengembangan teknologi paling mutakhir Indonesia. Suwendro menjelaskan, UAV baru rampung dikembangkan akhir 2003 lalu.

UAV Sriti buatan BPPT

Ia juga menjelaskan, research and development untuk membangun UAV tersebut membutuhkan waktu 3 tahun. “Saat ini UAV siap diujicobakan untuk melaksanakan tugas-tugas pengintaian,” kata perwira berbintang satu ini. Soal dana, Suwendro menjelaskan, proyek UAV menelan dana Rp 7 miliar. “Saat ini kita memiliki 5 pesawat intai tanpa awak,” terangnya.

Puna Sriti

Suwendro juga mengakui, pembuatan pesawat tanpa awak ini diilhami dari pesawat sejenis buatan Amerika Serikat. Namun UAV ini dilakukan penyesuaian, khusus dengan kepentingan tugas di Indonesia. Menurut Suwendro, UAV dirancang khusus untuk menunjang tugas-tugas tempur Komando Strategis TNI AD (Kostrad). “Karena itu, mereka yang dibidik sebagai pasar bagi UAV ini,” terangnya.

Masih dalam rangka uji coba prototipe, pada Mei 2006 Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyerahkan 5 unit UAV kepada Panglima TNI yang merupakan hasil pengembangan bersama Litbang Dephan, PT DI, PT Pacific Teknology, PT Pindad dan PT LEN. Pembuatan dan Pengembangan UAV Indonesia ini dibiayai oleh Kredit Ekspor.

Dari sini Dislitbang TNI coba menggali dan mengembangkan potensi serta kebutuhan teknis yang diinginkan untuk penyempurnaan UAV dalam negeri, seperti penggunaan jenis sensor, elektronik, mesin pesawat dan lain sebagainya.

“Kita masih perlu waktu dan dana besar untuk bisa mengembangkan pesawat tanpa awak bagi kepentingan militer sekaligus komersial. Untuk meng-up grade prototipe yang sudah ada saja, kita masih perlu kajian lagi dan itu perlu waktu dan dana besar,” kata Juwono.

Dalam pengembangan UAV Balitbang Dephan berkerjasama dengan PT Uavindo Nusantara sempat merancang prototipe UAV khusus untuk kepentingan militer dengan nama Close Range Surveilance (CR-10). CR-10 ini dirancang untuk keperluan misi pemantauan dan pengintaian, dan tergolong kelas Low Altitude, Short range UAV. CR-10 menggunakan dua sistem pengendalian yakni unit udara dan unit stasiun darat. Meski telah menjalani beberapa ujicoba, CR-10 dengan avionik buatan dalam negeri ini gagal dikembangkan.

PUNA

Banyak kemajuan pesat yang dilakukan BPPT, salah satunya kendali terbang terintergrasi (auto-pilot) dimana sistem kontrol berupa heading, bearing, altitude dan lainnya mampu di input-by-system kedalam ‘otak’ PUNA.

Pengoperasian PUNA BPPT dilakukan dari sebuah stasiun pengontrol yang secara realtime menerima hasil pengamatan untuk selanjutnya dikirimkan ke posko komando kemudian mengirimkan datalink via satelit yang mampu diterima langsung di Jakarta. Selain itu unit Ground ControlStation (GCS) PUNA mampu mengendalikannya secara manual melewati garis batas horizon (40-60 km). Rencananya tahun 2009 jarak jangkau PUNA akan ditingkatkan hingga mencapai 120 km dengan ketinggian operasional hingga 2.300 meter.

Berkat kemampuan PUNA ini, dikatakan cocok untuk misi pengintaian, pemotretan atau kegiatan militer lainnya. PUNA ditenagai mesin ‘Limbach’ buatan Jerman berbahan bakar oktan tinggi (Pertamax Plus), dengan kapasitas tangki hingga 40 liter. Dalam ujicobanya PUNA memerlukan konsumsi bahan bakar sekitar 9 liter untuk 1 jam penerbangan.

Pengembangan UAV Swasta Nasional 

Oktober 2006, pemerintah dikabarkan telah mengalokasikan 5 juta dollar AS untuk pembelian UAV dari Israel jenis Searcher Mk-II. Jenis UAV ini memang unggul secara teknologi dan yang jelas sudah battle proven. Mampu terbang selama 15 jam dengan jarak jangkau hingga 250 km serta mampu terbang hingga 20.000 kaki. Dengan daya beban hingga 100 kg, UAV Israel ini dapat membawa kamera TV resolusi tinggi, serta Automatic Video Tracker yang sangat dibutuhkan dalam sebuah operasi militer. Namun kelanjutan rencana ini tidak bisa diketahui karena kemudian mengundang demo penolakan produk Israel.

30 Mei 2006, Menhan sudah menyerahkan 5 UAV kepada TNI hasil produksi bersama PT DI, PT PacificTechnology, PT Pindad dan LEN. Akhir April 2009, TNI juga terus melakukan uji coba lanjutan meliputi uji manuver, low speed performance, low altitude capability dan recovery. Bila berhasil, berikutnya adalah uji coba sistem termasuk monitoring dan pengiriman data dan pengendalian dari Command Post Cabin.
Melihat fakta di atas sepertinya pemerintah sudah melirik UAV sebagai teknologi militer masa depan.
Yang jadi masalah sekarang adalah jangan sampai ahli-ahli dan industri UAV kita hanya melongo dan menjadi penonton saja dari UAV-UAV yang nanti akan beterbangan di langit kita. Jangan sampai kita mengulangi kebodohan pemerintah dulu terhadap teknologi GSM. Saat itu kita sudah memiliki ahli-ahli yang menguasai teknologi GSM tapi pemerintah lebih suka mengimpor handphone dan teknologi GSM sehingga sekarang kita hanya bisa menjadi konsumen belaka sehingga duit kita lari semua ke Finlandia (Nokia), Korea Selatan (Samsung) maupun Cina.

UAV Helikopter buatan dalam negeri antara lain dimanfaatkan untuk pengambilan gambar dari atas oleh TV swasta nasional seperti laporan lalu lintas.
Kalau Anda masih meragukan otak kita dalam urusan UAV, cobalah berkunjung ke Bandung. Di kota ini berderet industri swasta yang bergerak di bidang pengembangan UAV seperti Globalindo Technology Services Indonesia, Uavindo, Aviator, dan Robo Aero Indonesia. Juga ada perusahaan berbasis aeromodelling sebagai pemasok suku cadang UAV seperti Telenetina dan Bandung Modeler.
UAV KUJANG diproduksi oleh PT. GTSI
PT Dirgantara Indonesia, sebenarnya memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk urusan UAV, wong membuat pesawat saja bisa.Tapi sayang, PT DI baru bisa menghasilkan prototipe UAV kelas ringan dengan nama RUTAV. Alasan utama adalah tiadanya dana.
PT Globalindo Technology Services Indonesia (GTSI) didirikan oleh Endri Rachman, mantan karyawan PT DI yang hijrah ke Malaysia menjadi dosen di Universiti Sains Malaysia. Beliau dan bersama sesama mantan karyawan PT DI mendirikan perusahaan PT GTSI. UAV perdananya adalah Kujang , mampu membawa muatan kamera survaillance 20 kg, lama terbang 2-3 jam dengan kecepatan maksimal sampai 150 km/jam. Ironisnya, peminat pertama UAV Kujang ini adalah Malaysia, bukan pemerintah Indonesia.
Selain UAV Kujang, PT. GTSI telah berhasil menbuat pesawat UAV lainnya seperti UAV Keris dan UAV Bumerang.
SS-5 diproduksi oleh PT.UAVINDO
PT Uavindo sudah mengembangkan UAV sejak 1994 di mana dimulai dengan berkumpulnya para insinyur lulusan Teknik Penerbangan ITB dengan dimotori Dr Djoko Sardjadi. Produk pertamanya adalah SS-5 (SkySpy-5) di tahun 2003 yang kemudian menjadi UAV lokal pertama yang dioperasikan oleh militer, lengkap dengan Ground Control Station yang ditempatkan pada sebuah truk Perkasa keluaran Texmaco. SS-5 ini mampu terbang selama 2-3 jam dengan jarak sampai 25 km untuk fungsi survaillance melalui kamera yang dibawanya. Saya tidak tahu apakah TNI masih menggunakan produknya (selanjutnya ada pengembangan ke SS-20), tapi ironisnya Malaysia memesan UAV SM-75 dari perusahaan ini.
PT Aviator, dibentuk oleh beberapa mantan karyawan PT Uavindo. Produk unggulannya adalah SmartEagle II , mampu terbang selama 6 jam dengan jarak maksimum 300 km. Bisa diadu dengan Searcher Mk II dari Israel, hanya sayangnya berat muatan maksimum hanya sampai 20 kg, bandingkan dengan beban 100 kg yang mampu dibawa oleh Searcher Mk II. Sekarang PT Aviator menggandeng Irkuts dari Rusia untuk memasarkan produk secara bersama.
Smart Eagle II diproduksi oleh PT. AVIATOR
PT Robo Aero Indonesia (RAI) didirikan oleh beberapa dosen ITB yang melihat peluang besar bisnis UAV di dalam maupun luar negeri. Mereka sudah membuat prototipe UAV dengan jarak operasional 20 km, 50 km dan 100 km secara otonomi .
UAV buatan mahasiswa Teknik Penerbangan ITB sudah mampu unjuk gigi dengan menjuarai kontes UAV di Taiwan dan Korea Selatan.
BPPT juga sudah membuat beberapa prototipe UAV yang dalam produksi dan pemasarannya menggandeng PT Aviator dan UKM Djubair OD di Tangerang.
Yang membuat saya bangga, kalau Anda membaca The UAV Market Report: Forecast and Analysis 2008 – 2018, Indonesia ditempatkan di posisi terhormat sebagai salah satu produsen UAV di Asia Pasifik dengan produk yang dituliskan di laporan tersebut adalah PUNA (keluaran BPPT), Smart Eagle I & II (keluaran PT Aviator) dan SS-5 (keluaran PT Uavindo)
Sebagai penutup tulisan ini marilah kita hitung-hitungan. Untuk membeli sebuah pesawat patroli maritim sekelas CN-235 MPA butuh dana 30-35 juta dollar AS. Dengan dana yang sama kita bisa beli 6-7 buah UAV dari Israel lengkap dengan GCS, kamera dan sistem pendukungnya. Berarti kita sudah bisa membentuk 1 skuadrom UAV lengkap. Kalau dana itu dipakai untuk membeli UAV lokal dengan spesifikasi standar, kita bisa membeli 20-30 UAV intai, berarti bisa membentuk 3-4 skuadron intai.
Coba kalau Patroli Bea Cukai di Kepulauan Riau dan Selat Malaka menggunakan UAV, pastilah penyelundupan dari Singapura dan Malaysia ke pantai timur Sumatera bisa banyak dicegah.
Demikian pula seandainya kapal patroli DKP (Departemen kelautan dan perikanan) di laut Natuna, laut Aru, laut Banda maupun Selat Sulawesi dilengkapi UAV pastilah pencurian ikan bisa ditindak dengan biaya yang lebih murah. Bukan seperti tahun lalu, baru tender pengadaan kapal patroli saja sudah ada korupsi.
Kalau Anda cermat, beberapa bulan belakangan ini MetroTV sudah mulai menggunakan UAV untuk siaran langsung saat penggebrekan teroris di Jatiasih, Temanggung dan Jebres Solo, juga saat liputan mudik lebaran yag lalu. Jadi UAV ini akan semakin memasyarakat, sayang kalau orang-orang bule dan para tengkulak (baca: importir) yang dapat untung dari negeri ini seperti kasus-kasus teknologi sebelumnya.
Ditulis dari berbagai sumber, antara lain tulisan Dipl.-Ing. Endri Rachman dari Kompasiana – Internet online.
May 23, 2014

Indonesia Rusia Kerjasama Luncurkan Roket

 

Mantaf !! Lanjutkan !

 

Kamis, Mei 22, 2014

0

Polet, roket carrier dua tingkat  berbobot 100 ton, wahana pengorbit satelit
Polet, roket carrier dua tingkat berbobot 100 ton, wahana pengorbit satelit
JAKARTA-(IDB) : Rusia, Indonesia, dan Jerman hendak bekerja sama meluncurkan Polet, sebuah roket carrier dua tingkat berbobot 100 ton. Roket yang merupakan bagian dari proyek Air Launch tersebut akan diluncurkan dari Biak, Papua.
Wakil Menteri Perkembangan Ekonomi Federasi Rusia Aleskey Likhachev menyatakan saat ini koordinasi dasar di Papua sudah dilaksanakan dan negosiasi pembiayaan proyek tengah berlangsung.
sergey
Sergey Teselkin dalam pertemuan di Jakarta. Kredit: Mikhail Tsyganov
Hal itu dinyatakan Likhachev dalam kunjungannya ke Jakarta pada Maret lalu, saat memimpin lawatan delegasi bisnis Rusia ke negara-negara ASEAN. Menurut Likhachev, pelaksanaan proyek Air Launch di Indonesia memang tidak berjalan terlalu cepat, namun Rusia berharap proyek yang penting bagi kedua negara tersebut dapat segera terwujud. “Tidak menutup kemungkinan proyek ini akan melibatkan lingkup kerja sama yang lebih besar yakni antara Rusia dan beberapa negara ASEAN,” terang Likhachev.
Salah satu pencetus Air Launch, Sergey Teselkin, juga hadir dalam pertemuan di Jakarta tersebut.
Polet tidak diluncurkan dari permukaan bumi, melainkan dari ketinggian sepuluh kilometer di atas permukaan laut. Roket tersebut akan diangkut oleh Ruslan, pesawat terbang terbesar di dunia dan kemudian akan diluncurkan saat pesawat itu tengah mengudara. Hal itu akan menekan biaya peluncuran hingga dua kali lebih rendah.
air-launch
Air Launch dapat berfungsi sebagai sistem tanggap darurat.
Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa. Dengan kecepatan rotasi bumi 0.4 kilometer per detik, maka biaya pengiriman satelit ke orbit menjadi lebih murah, karena putaran bumi sendiri yang akan mendorong satelit menuju orbit.
Teleskin menyatakan Air Launch dapat berfungsi sebagai sistem tanggap darurat. “Bayangkan saat para astronom menemukan asteroid yang datang mendekati bumi tanpa diduga, Air Launch (jika infrastrukturnya sudah dibangun dan berbekal roket ini) dapat menjadi satu-satunya sistem yang dapat mengatasi ancaman tersebut. Sistem ini akan menghancurkan asteroid berkeping-keping dalam dalam waktu sekitar lima hari setelah penemuan,” terang Teleskin
Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa. Foto: Mikhail Tsyganov
Peluncuran satelit akan dilakukan di Pulau Biak, Papua, yang hanya bersudut dua derajat dari garis khatulistiwa.
Pelabuhan udara di Pulau Biak, Papua. Foto: Mikhail Tsyganov
Pelabuhan udara di Pulau Biak, Papua.
Selain itu, Teleskin menawarkan sistem yang revolusioner dalam proyek ini. Biasanya, sebelum peluncuran satelit dibawa ke kosmodrom (stasiun peluncuran roket) dan dijaga sepanjang waktu, tapi tak menutup kemungkinan terjadi kebocoran teknologi. Sementara, Polet akan didatangkan (dengan pesawat) kepada klien dengan menggunakan roket upper stage dan perakitannya dilakukan dibawah kontrol penuh klien.
Teknologi Air Launch merupakan milik Pusat Roket Negara (PRN) Rusia Makeyev yang telah bergerak di pasar persenjataan roket selama 60 tahun dan berpengalaman puluhan tahun di bidang teknologi peluncuran roket dari kapal selam.
Replika pesawat terbesar di dunia AN-124-100BC Ruslan. Foto: Mikhail Tsyganov
Replika pesawat terbesar di dunia AN-124-100BC Ruslan.
Teleskin menjelaskan, teknologi milik PRN sangat berguna dalam mempermudah peluncuran roket. “Roket seberat 100 ton yang terjun dari pesawat, dengan berat keseluruhan 400 ton, akan membuat kerusakan spesifik pada dinamika penerbangan. Air Launch membuat peluncuran beban seberat itu di udara menjadi lebih mudah dibanding melepaskan gelembung di hidrosfer,” terang Teleskin. Pesawat An-124 Ruslan sendiri memang dirancang untuk menerjunkan beban yang sangat berat.
Teleskin optimis proyek ini mampu menarik perhatian investor. “Semua investor yang kami temui menyarankan untuk melakukan pencobaan peluncuran roket. Bila kami berhasil melakukannya, investor akan menilai proyek ini berbeda dari sebelumnya. Para pengamat ahli dari Rusia, Eropa, bahkan AS memprediksi banyak klien potensial yang akan mengantri untuk berinvestasi,” kata Teleskin.
Proyek ini telah diajukan ke pemerintah Rusia, tapi Teleskin khawatir reorganisasi kepemimpinan Badan Antariksa Rusia Roskosmos akan menghambat kelancaran proyek. “Keputusan sudah diterima, tapi proyek baru boleh dilaksanakan setelah pembentukan struktur Roskosmos yang baru. Maka kami masih harus menunggu untuk merealisasikannya. Supaya tidak membuang waktu sia-sia, kami melanjutkan pekerjaan kami dengan mitra dari Indonesia dan Jerman.” Ujar Teleskin.
Sumber : RBTH
May 22, 2014

Perkembangan Pesawat R-80 Karya Habibie

Rabu, Mei 21, 2014

0

JAKARTA-(IDB) : Banyak orang yang menunggu kapan pesawat R-80 yang merupakan pengembangan dari pesawat N250 buatan Bacharudin Jusuf Habibie, atau yang lebih familiar disapa BJ Habibie, bisa beroperasi. Barangkali ada kerinduan yang amat sangat di dalam hati rakyat Indonesia terhadap karya-karya anak bangsa yang mampu diakui dan diterima oleh dunia.

PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan industri pesawat terbang tempat BJ Habibie duduk sebagai ketua dewan komisarisnya, sedang membuat pesawat R-80 yang sudah dimulai dari tahun 2013 lalu.

Komisaris PT RAI, Ilham Habibie, yang merupakan putra BJ Habibie, mengatakan bahwa pembuatan desain awal pesawat R-80 akan selesai pada tahun ini. “Jadi, akhir tahun ini, kita sudah punya desain yang menyeluruh,” ujar Ilham saat ditemui Kompas.com setelah menghadiri acara diskusi di Jakarta, Sabtu (17/5/2014).

Saat selesainya fase awal akhir tahun nanti, PT RAI akan menentukan komponen-komponen yang akan dipakai oleh pesawat R-80. Pria yang lahir di Aachen, Jerman, itu mengatakan, komponen-komponen pesawat berkapasitas 80 penumpang tersebut hingga kini belum ditentukan.

“Pada akhir tahun, kita sudah pilih dari mana komponen-komponen yang saat ini belum kita hadirkan. Misalkan,engine-nya dari mana, kokpitnya dari mana. Kita sudah punya desain,” ucapnya.

Ilham menuturkan, pemilihan pesawat baling-baling untuk transportasi udara di Indonesia memiliki keuntungan tersendiri. Menurut dia, meskipun pesawat lebih lambat daripada pesawat bermesin jet, pesawat baling-baling lebih hemat dalam penggunaan bahan bakar.

Hal tersebut disesuaikan juga dengan kontur wilayah serta rute-rute di Indonesia yang cenderung pendek-pendek. Jadi, menurut dia, akan lebih efektif menggunakan pesawat berbaling-baling ketimbang pesawat bermesin jet.

Ilham menjelaskan, ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh PT RAI hingga R-80 mampu terbang menjelajahi langit Nusantara. Tahap pertama adalah pembuatan desain pesawat yang membutuhkan waktu dua tahun, tahap kedua adalah pembuatan prototipe pesawat selama tiga tahun, dan tahap ketiga merupakan tahap terakhir, yakni pengujian pesawat yang diperkirakan memakan waktu dua tahun.

Dengan demikian, menurut pria yang mendapatkan gelar doktor dari Technical University Of Munich ini, pembuatan pesawat tersebut bisa memakan waktu enam tahun.

“Dari awal desain sampai jadi itu totalnya bisa 6-7 tahun. Kita mulai 2013, desain selesai akhir tahun ini. Tahun 2017, kita meluncurkan prototipe-nya, setelah itu dilakukan pengujian, itu lebih kurang dua tahun. Maksimal ya 2019 (beroperasi),” ucapnya.

Ilham mengatakan, pembuatan pesawat memang membutuhkan waktu cukup lama. Ia pun mencontohkan Boeing 737. “Memang begitu gak bisa cepat-cepat. Kalau kita lihat sebagai contoh, tahu pesawat 737 buatan Boeing kan? Tahu gak itu dibuat tahun berapa? Itu tahun 1965, itu sampai sekarang masih terbang kan. Sudah 50 tahun dibuat. Tentu terus di-update, mesinnya dan sebagainya, tetapi desainnya kan sama itu,” tandasnya.

Mengenai kontrak bisnis, ia mengaku belum memiliki kontrak dengan perusahaan penerbangan, baik nasional maupun internasional. Penandatanganan pemesanan 100 pesawat oleh NAM Air dan 25 pesawat oleh Kalstars hanya sebatas kesepakatan (MoU) dan belum berbentuk kontrak.

“Jadi, kalau mau jual pesawat, belum bisa karena belum tahu harga. Kalau sudah kontrak, kan sudah pasti,” katanya sambil tersenyum.

Sumber : Kompas
May 12, 2014

Pertama Kali Dalam Sejarah, Mahasiswa RI Juara Lomba Debat Internasional

senangnya  anak bangsa punya prestasi dahsyat ! Coba bandingkan dengan para politisi negeri ini. prestasi apa yang pernah mereka raih ??

 

Minggu, 05/01/2014 10:01 WIB

Rachmadin Ismail – detikNews

Jakarta – Dua mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Fauzan Reza Maulana dan Vicario Reinaldo mencatatkan sejarah baru di dunia debat internasional. Untuk pertama kalinya mereka mampu membawa Indonesia menjadi juara debat antar universitas dunia.

Fauzan dan Vicario mengalahkan mahasiswa asal Rusia (New Economic School), Polandia (University of Warsaw) dan Jerman (Eberhard Karls University Tubingen) dalam kategori English-as-Foreign-Language. Tema debat yang diusung adalah ‘This House Believes That Multinational Companies Should be Liable for Human Rights Abuses That Occur Anywhere in Their Supply Chain”. Untuk dua kategori lain yang lebih tinggi, diraih mahasiswa Jerman dan Harvard AS.

Kedua mahasiswa ITB itu datang sebagai pesaing terlemah dalam kejuaraan. Namun berkat keberaniannya, strategi oposisi yang diterapkan untuk menyerang kesalahan pemerintah berhasil.

“Vicario Reinaldo and Fauzan Reza Maulana of Bandung A are the EFL debate champions of the world. Congratulations! #wudc” demikian isi twitter resmi debat tersebut.

Kompetisi ini digelar tanggal 26 Desember 2013 hingga 4 Januari 2014 di Chennai India. Ada tiga kategori lomba yakni EFL, ESL dan terbuka. ESL adalah untuk universitas yang menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar di universitasnya. Dari Indonesia, UI dan Bina Nusantara mengirim perwakilannya.

Kompetisi debat internasional ini sudah digelar sejak tahun 1982 lalu. Berawal dari kompetisi kecil di Inggris, Amerika Utara dan Australia, akhirnya berkembang hingga diikuti 200 universitas dari 45 negara.

Turnamen debat ini menggunakan sistem debat parlemen Inggris. Topiknya diumumkan beberapa saat sebelum debat dimulai. Kontestan dibagi menjadi empat tim, dua mewakili pro pemerintah dan dua mewakili oposisi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 88 other followers