Archive for ‘Indonesia techno research education news’

September 16, 2014

Indonesia dilibas Israel kembangkan pembangunan berbasis Iptek

Untuk urusan IPTEK menang dodol dan kedodoran yang namanya Indonesia, bayangkan negara lain menaikan anggaran untuk IPTEK , Indonesia justru menurunkan. Kwalitas penelitinya juga sangat menurun.. Bayangkan gaji peneliti di Indonesia sama dengan gaji petugas SATPOL PP.. eneg nggak bacanya..

Lantas kemana anggaran negara negeri ini, ya  dihambur hamburkan untuk mensubsidi BBM dan untuk urusan yang tidak jelas..

 

MERDEKA.COM. Kedudukan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) semakin menentukan kemajuan suatu bangsa. Walaupun sebuah negara mempunyai sumber daya alam melimpah, ini tidak akan membawa kesejahteraan dan hanya menjadi santapan empuk negara maju yang rakus mengeruk kekayaan alam negara lain.

Kondisi ini bisa terjadi di Indonesia karena tingkat pengembangan iptek masih sangat rendah. Indonesia masih harus perlu bekerja keras mengejar ketertinggalan dari penguasaan ilmu pengetahuan atau biasa disebut knowledge based society (KBS).

Peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, Riefqi Muna mengatakan, Indonesia berada di peringkat juru kunci dalam peta persaingan riset dunia. Salah satu faktornya, rendahnya Gross Expenditure in R&D (GERD) atau persentase anggaran R&D dibandingkan PDB Indonesia. Anggaran Gerd Indonesia masih di bawah satu persen. Anggaran ini sangat kecil jika dibandingkan negara lain seperti Israel.

“Persentasenya itu cuma 0,07 persen. Kita ketinggalan jauh di bawah Singapura, Australia dan negara maju lainnya. Apalagi dengan Israel yang anggarannya mencapai 4 persen dari GDP,” ucap Riefqi dalam seminar di Kantor LIPI, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/9).

Selain anggaran penelitian yang dilibas Israel, Indonesia juga bermasalah dalam jumlah ilmuwan. Dugaannya lagi-lagi soal minimnya budget yang masuk dalam kategori penelitian.

“Bahkan angka ilmuwan ini terus mengalami penurunan dari tahun 2000-2009. Jika dibandingkan dengan negara Asia Timur, Indonesia sangat ketinggalan apalagi dibandingkan negara maju,” tegasnya.

Riefqi yang juga Anggota Research Committee ini mengatakan dari data UNESCO melalui science report 2010, untuk kawasan Asia Tenggara produk akademik Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

“Apalagi juga memperhitungkan faktor dengan jumlah penduduk yang terbesar di Asia Tenggara dan keempat di dunia,” tutupnya.

Baca Berita Selanjutnya:

+++++++

Baru Tahu LIPI di Bawah Presiden, Jokowi Ditertawai Peneliti

Selasa, 16 September 2014 | 16:05 WIB
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWANJoko Widodo (Jokowi)


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dengan polosnya mengaku baru tahu bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah lembaga yang berada di bawah presiden. Pengakuan itu disampaikan Jokowi saat membuka pidatonya dalam seminar di Gedung LIPI, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2014) sore.

“LIPI adalah lembaga penelitian di bawah presiden, dan saya baru tahu itu setelah (perwakilan) LIPI datang kepada saya,” kata Jokowi.

Sontak, pengakuan Jokowi itu langsung disambut tawa oleh sekitar seratus peneliti yang hadir. Jokowi hanya menanggapi santai, meski ucapannya dijadikan bahan tertawaan.

“Ya ndak apa-apa, kan belum tahu. Sekarang saya jadi tahu,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan bahwa penelitian adalah sebuah hal yang penting bagi kemajuan Indonesia. Dia berjanji akan membuat bidang penelitian Indonesia menjadi lebih baik dalam pemerintahannya pada masa mendatang.

“Tidak ada negara mana pun yang maju tanpa sebuah lembaga penelitian yang baik, yang punya kemampuan, baik di bidang teknologi, nuklir, pangan, energi, dan otomotif. Semuanya bermula dari hasil riset yang baik,” ujar Jokowi yang kali ini disambut tepuk tangan para peneliti.

September 11, 2014

First Cutting Detail Part Manufacturing N219

Rabu, September 10, 2014

0

BANDUNG-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219.

“Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat,” kata Jasyanto, dalam keterangan resminya.

N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem.

“Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia),” ujar Jasyanto.

Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219.

“Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014,” katanya.

Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016.

Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil.

Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun.

Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri.

Sumber : Vivanews

Read more: http://indo-defense.blogspot.com/2014/09/first-cutting-detail-part-manufacturing.html#ixzz3CzLzAuk4

September 10, 2014

R80 Bakal Terbang Perdana di Bandara Kertajati

RABU, 10 SEPTEMBER 2014 | 17:06 WIB

R80 Bakal Terbang Perdana di Bandara Kertajati
Mantan Presiden RI BJ. Habibie berpose di belakang miniatur pesawat usai dialog Merah Putih di kediamannya di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Rabu (7/3). ANTARA/Rosa Panggabean

TEMPO.CO, Bandung – Mantan Presiden RI, Baharudin Jusuf Habibie yang kini mendirikan PT Regio Aviasi Indonesia (RAI) mengatakan, pesawat R80 yang tengah disiapkan akan terbang perdana pada 2018. “Insya Allah first-flight pesawat itu di Majalengka (Bandara Kertajati),” kata dia selepas bertemu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan Bandung, Rabu, 10 September 2014.

Menurut dia, keputusan memilih lokasi penerbangan perdana pesawat itu di Majalengka dilakukan setelah mendengar pemerintah Jawa Barat yang sedang menyiapkan bandara baru di sana. “Saya mendengar pemerintah Jawa Barat sedang mempersiapkan lapangan terbang di Majlengka, Insya Allah selesainya juga kurang lebih 2017,” kata Habibie. (Baca: Habibie Perkenalkan Pesawat R80 Rancangannya)

Habibie mengatakan, setelah terbang perdana itu, pesawat R80 hasil pengembangan pesawat N250 yang sempat dikembangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara, atau PT Dirgantara Indonesia saat ini, ditargetkan akan mendapat sertifikasi kelaikan terbangnya. “Kita bisa deliver,” ujarnya.

Dia mengatakan, persiapan penerbangan perdana pesawat R80 itu akan dilakukan di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati. “Kita akan arahkan semua persiapannya di Majalengka,” kata Habibie. (Baca: Habibie Kembangkan N250 Jadi Pesawat R80)

Menurut dia, R80 itu merupakan pesawat yang khusus dikembangkan untuk membidik pasar penerbangan komuter, untuk menghubungkan antar daerah di Indonesia. Kode R pesawat yang dirancang punya kapasitas angkut 80 penumpang hingga 90 penumpang itu merupakan singkatan dari Regional. “Jadi pesawat terbang penunjang,” kata Habibie.

Dia mencontohkan, jumlah pengguna pesawat di Indonesia terus tumbuh rata-rata 19,6 persen setiap tahun, dan terakhir jumlah pembeli tiket pesawat di seluruh penerbangan di Indonesia mencapai 70,2 juta orang. Habibie membandingkan dengan Amerika Serikat dengan jumlah pembeli tiket pesawat domestiknya mencapai 3 kali lipat jumlah penduduknya.

“Mengikuti Amerika seharusnya yang membeli tiket itu 3 kali jumlah penduduk, kenyataannya baru 70,2 juta tiket, tapi kebutuhannya sudah meningkat,” kata dia.

Habibie yakin, pesawat terbang murah bisa mendorong perekonomian Indonesia. Penguasaan teknologi penerbangan menjadi tolak-ukur penilaian kemampuan satu bangsa atas teknologi. “Satu bangsa dinilai dari kemampuannya membuat pesawat penumpang di atas 50 penumpang, ke atas sama saja persyaratannya untuk mendapatkan keahliannya. Kita sudah membuktikan dengan N235,” kata dia.

Komisaris PT RAI, Ilham Akbar Habibie mengatakan, saat ini pengembangan R80 sudah memasuki fase akhir pengembangan. Pesawat itu rencananya akan diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia, yang saat ini juga tengah mengembangkan pesawat baru N219. “Keduanya berbeda spesifikasinya,” kata dia.

Ilham mengatakan, pesawat R80 dirancang untuk beradaptasi dengan kondisi bandara yang umumnya ada di Indonesia. Jika ada lapangan terbang kecil, dia punya satu landasan, penerbangan per harinya terbatas. “Saat penumpangnya makin banyak yang harus dilakukan adalah pesawatnya diperbesar,” kata dia.

Menurut dia, PT RAI akan memulai komunikasi intensif dengan pemerintah Jawa Barat untuk persiapan penerbangan perdana R80. “Kita akan melaksanakan penerbangan perdana tahun 2018, tepatnya bulan Agustus, kemungkinan besar di Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat,” kata Ilham.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pemerintah provinsi mendapat kehormatan atas pilihan PT RAI itu untuk menggunakan Bandara Kertajati untuk penerbangan perdana R80. “Ini klop. Insya Allah bandara beroperasi 2017 akhir. Mudah-mudahan ada bandara baru yang kita operasikan, dan saat yang bersamaan pesawat ini terbang pertama kali,” kata dia.

Aher mengatakan, kendati pengembangan teknologi dirgantara tertinggal akibat terhentinya proyek N250, Indonesia masih punya kesempatan untuk mengembangkannya lagi. “Tempat terbang pertama kalinya bisa di Majalengka, kalau mungkin rancang bangunnya juga pada saatnya disana,” kata dia.

Kepala Badan Pengembangan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat Deny Juanda Puradimaja mengatakan, rencana penerbangan perdana R80 membuka peluang bagi pemerintah provinsi untuk menawarkan fasilitas pabrikasi pesawat itu di kawasan Bandara Kertajati. Dia beralasan, menjelang terbang perdana itu butuh hangar serta serangkaian pengujian di bandara itu. “Itu pasti membangun di sana, mau gak mau. Tapi tergantung PT Dirgantara Indonesia,” kata dia.

Baharudin Jusuf Habibie mengajak sejumlah pimpinan PT RAI untuk bertemu Gubernur Ahmad Heryawan. Selain Habibie dan putranya Ilham, ikut dalam pertemuan itu Komisaris PT RAI lainnya, yakni mantan Kepala Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah.

AHMAD FIKRI

September 2, 2014

Pakar UAV Dunia Tawarkan “Drone” Garuda Khusus untuk Indonesia

 

Kalau masih disiasiakan kesempatan ini.. beneran kelewatan elite bangsa ini.

 
02 September 2014

Ilustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda. (image : Kompas)

KOMPAS.com – Pakar UAV dunia menawarkan drone untuk mendukung visi presiden terpilih Joko Widodo. Penawaran tersebut dikatakan khusus untuk Indonesia.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo yang juga berasal dari Indonesia menawarkan drone bernama Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.

Drone tersebut adalah jenis stratosphere drone. Drone ini dirancang terbang di ketinggian 13-20 kilometer di atas permukaan laut sehingga tidak mengganggu penerbangan sipil.

“Stratosphere drone ini saya propose khusus untuk Indonesia saja,” kata Josh yang saat ini bekerja di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

Josh telah memaparkan drone yang dikembangkannya kepada perwira di Direktorat Topografi TNI-AD dan Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI-AU pada 15 Agustus 2014 lalu di Jakarta.

Drone Garuda memiliki dua fungsi, sebagai drone sekaligus satelit. Selain itu, drone ini juga dapat dilengkapi dengan beragam sensor, mulai kamera hingga teleskop.

Dengan beragam sensor, drone bisa mendukung tujuan pengawasan wilayah perbatasan, penebangan dan perikanan ilegal, sampai pengejaran terorisme.

Ada beragam sensor yang bisa dibeli. Namun, Indonesia juga bisa mengembangkannya sendiri sekaligus memberdayakan ilmuwan dan akademisi di lokal.

Contoh sensor yang bisa dikembangkan Indoensia antara lain sensor cuaca dan relay telekomunikasi untuk daerah terpencil.

Untuk perangkat navigasi, Indonesia harus mengembangkan sendiri. Sistem navigasi biasa macam GPS tidak bisa digunakan sebab ketinggian maksimal pemakaian GPS adalah 18 km.

“Bila kita kembangkan dan operasikan saat ini secepatnya, maka jelas bisa dikatakan ini buatan Indonesia dan Indonesia menjadi pemimpin terdepan,” urai Josh lewat email, Senin (1/9/2014).

Josh yang mengepalai Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory mengatakan, jumlah drone “Garuda” yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan pemantauan.

Misalnya, jika tujuan pemakaian drone adalah untuk pemantauan daerah perbatasan kritis seperti Malaysia, Australia, dan Papua Niugini, jumlah drone yang dibutuhkan 6 unit.

Sementara, Josh mengungkapkan bahwa untuk satu unit drone, harganya adalah Rp 10 miliar, belum termasuk ragam sensornya.

Sensor setidaknya terdiri atas sensor optik dan Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dapat tembus awan dengan harga kira-kira 10M dan 15M rupiah.

Harga tersebut berlaku bila menggunakan komponen-komponen impor. Bila komponen bisa dikembangkan sendiri dan produksi massal, harga bisa ditekan.

(Kompas)

August 19, 2014

INILAH HASIL PEMERINGKATAN WEBOMETRICS JULI 2011

 

diunduh dari : http://emka.web.id/

 

Webometrics, atau pemeringkatan kepopuleran sebuah perguruan tinggi di dunia maya yang dijadikan rujukan bagi beberapa universitas dan perguruan tinggi di indonesia telah merilis hasil pemeringkatannya pada Juli 2011. Setelah di undur satu hari dari jadwal semula, berikut adalah hasil pemeringkatan Webometrics untuk wilayah Indonesia (Top 50):

IND. RANK WORLD RANK UNIVERSITY    SIZE  VISIBILITY RICH FILES SCHOLAR
1 562 University of Indonesia   247 827 538 460
2 632 Institute of Technology Bandung   293 715 929 845
3 817 Universitas Gadjah Mada   258 805 1255 1643
4 845 Gunadarma University   411 971 326 1908
5 1180 Bogor Agricultural University   995 1105 985 1653
6 1218 Universitas Negeri Malang   1088 1397 760 1673
7 1260 Petra Christian University   448 3323 606 1681
8 1264 Universitas Muhammadiyah Malang   1282 2135 638 1588
9 1274 Institut Teknologi Sepuluh Nopember   467 1474 1760 1609
10 1294 Diponegoro University   230 2267 1619 1624
11 1348 Andalas University   2458 1603 598 1729
12 1361 Universitas Sebelas Maret   434 1526 1277 1978
13 1388 Airlangga University   875 2837 577 1881
14 1473 Universitas Sriwijaya   879 2385 1298 1812
15 1477 Brawijaya University   986 1248 1224 2480
16 1540 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta   2069 1140 2158 1835
17 1580 Universitas Islam Indonesia   1074 1373 2956 1809
18 1604 Universitas Muhammadiyah Surakarta   984 3184 1246 1912
19 1671 Universitas Sumatera Utara   1290 2969 2584 1614
20 1760 Universitas Mercu Buana   1498 2388 1266 2238
21 1850 Indonesia University of Education *   1009 1976 1957 2707
22 1912 Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya   2253 2280 1782 2062
23 1950 Universitas Padjadjaran   978 2339 2374 2490
24 2043 Yogyakarta State University   2174 2408 3114 1836
25 2083 Universitas Lampung   1897 4056 1296 2308
26 2162 Informatics and Computer College Stmik Amikom   2758 2914 2938 1805
27 2226 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang   2372 2469 2752 2139
28 2373 Universitas Negeri Semarang   1596 3721 4490 1811
29 2553 Universitas Tarumanagara *   3988 7322 1697 1761
30 2600 Bina Nusantara University   2236 2956 1710 5165
31 2632 Universitas Hasanuddin University   2129 3569 2105 3885
32 2723 Universitas Udayana   3633 4439 2392 2225
33 3051 Unikom   2171 5880 3419 2410
34 3068 Ahmad Dahlan University   2259 2453 4883 3810
35 3403 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya   1158 3298 4599 7229
36 3468 Atma Jaya Yogyakarta University   6033 5715 1219 4932
37 3471 Universitas Riau Beranda   3077 6989 4432 2065
38 3556 Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel   2654 9472 3984 1966
39 3770 Duta Wacana Christian University   3183 4701 3475 5165
40 3912 Universitas Terbuka   2653 3092 6274 4932
41 4127 Universitas Katolik Parahyangan   2423 7697 4499 3548
42 4182 Institut Sains & Teknologi Akprind   3058 6332 6932 2333
43 4201 ISI Denpasar   4424 9814 4344 1977
44 4342 Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta   9227 6503 4570 1867
45 4651 Universitas Trisakti   3117 6989 5336 4118
46 4871 Institut Teknologi Telkom (Sekolah Tinggi Teknologi Telkom)   2346 5982 5454 7229
47 4939 Universitas Jenderal Soedirman   2965 6226 4731 7229
48 4965 Universitas Negeri Surabaya   5756 6932 3017 6048
49 5075 Universitas Sanata Dharma   4878 5715 5671 4723
50 5081 Universitas Negeri Gorontalo
August 18, 2014

Lamaran Kerja Doktor Indonesia Lulusan Australia Ditolak

Ditolak lamaran karena perusahaan Indonesia  tidak mampu bayar gaji seorang Phd

 

 

Selasa, 12 Agustus 2014 | 12:43 WIB
ABCBagus Nugroho di markas Badan Antariksa Jepang (Jaxa), Juli 2014.
 
KOMPAS.COM — Kalau Anda menyandang gelar doktor, apalagi dari luar negeri seperti Australia, maka ketika melamar pekerjaan di Indonesia, pastilah banyak yang akan menerima Anda bekerja. Benarkah?

Dalam pengalaman awal Bagus Nugroho, mahasiswa Phd Universitas Melbourne, tidaklah demikian.

Bagus yang menekuni Ilmu Aerodinamika tersebut akan selesai dalam waktu dua bulan mendatang dan karenanya sudah mulai berusaha mencari pekerjaan di Indonesia.

“Saya mengajukan lamaran ke dua perusahaan di Indonesia, satu perusahaan konsultan dan satu lagi yang bergerak di bidangengineering,” kata Bagus Nugroho kepada wartawan ABC International L Sastra Wijaya.

“Namun, dalam kurang dari dua minggu, saya sudah mendapat surat jawaban penolakan bahwa saya tidak sesuai dengan apa yang mereka cari,” tambah Bagus.

Menurut dia, jenis pekerjaan yang diminatinya bukanlah merupakan pekerjaan yang “luar biasa”. Bagus merasa heran bahwa kedua perusahaan tersebut tidak berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut latar-belakang pendidikannya, sebelum kemudian mengambil keputusan.

“Jadi saya mendapat jawaban standar penolakan biasa dari bagian personalia,” tambahnya.

Walau ini masih dalam tahap awal usahanya mencari kerja, Bagus Nugroho merasa heran karena sebenarnya dia mendapat tawaran bekerja di beberapa negara, termasuk Australia, Inggris, dan Singapura.

Bagus juga baru kembali dari Jepang setelah dia mengikuti program magang di Badan Antariksa Jepang (Jaxa) yang sedang berusaha membuat sebuah wahana yang bisa mendarat di Planet Mars. Bagus merupakan salah satu dari tiga mahasiswa dari seluruh dunia yang terpilih untuk program tersebut.

“Saya mendapatkan rekomendasi dari profesor saya untuk sebuah pekerjaan di Australia di bidang pertahanan, yang sesuai dengan bidang yang saya tekuni. Namun, persyaratannya adalah saya harus menjadi warga negara Australia,” kata Bagus lagi.

Dua perusahaan lagi di Inggris dan Singapura juga sedang mempertimbangkan lamaran yang diajukannya.

Mirip dengan Bagus Nugroho, Alex Senaputra, mahasiswa Indonesia yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Curtin di Perth juga menceritakan keadaan yang hampir sama. Alex menyelesaikan studinya di bidang pengolahan mineral dan sekarang bekerja di Connecticut, Amerika Serikat.

“Saya pernah berhubungan dengan sebuah perusahaan BUMN di Indonesia, tetapi lamaran saya tidak mendapat tanggapan dari bidang personalia mereka. Saya mendapatkan pekerjaan di Amerika Serikat ini karena ditawari, bukan saya yang mengajukan lamaran,” kata Alex.

Menurut Alex yang dulunya menamatkan pendidikan S-1 di ITB tersebut, sering kali perusahaan di Indonesia beranggapan bahwa para doktor baru lulusan luar negeri ini tidak memiliki pengalaman di bidang operasional dan hanya kuat di bidang riset.

“Di perusahaan di Indonesia, tampaknya level-level strategis diisi orang-orang yang berpengalaman dan riset tidak termasuk kriteria berpengalaman,” tambah Alex.

“Sebenarnya yang kita butuhkan adalah kesempatan dan kadang kesempatan itu datangnya tidak seperti garis lurus. Kalau di Indonesia bisa seperti mengurai benang kusut. Sekarang tergantung kemauan pribadi yang berbeda-beda untuk mengurai benang kusut tersebut,” kata Alex lagi.

“Beberapa orang yang tidak tahan dengan keadaan ini, memilih kemudian bekerja di luar negeri ketika mendapat tawaran. Saya sendiri masih berharap akan bisa kerja di Indonesia karena saya masih berusaha ikut mengurai benang kusut tersebut,” demikian Alex Senaputra.

 

 

August 12, 2014

Yohanes Surya Bangun Komplek Techno Park Senilai Rp36 Triliun

Dini Hariyanti   –   Jum’at, 08 Agustus 2014, 23:56 WIB

BERITA TERKAIT

Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Komplek technology park seluas 600 hektare akan dibangun di Bogor, Jawa Barat. Proyek ini menelan investasi hingga Rp36 triliun.

Yohanes Surya, selaku pengagas proyek, menyatakan komplek tersebut meliputi 13  technology park dan infrastruktur pendidikan, seperti gedung Universitas Surya, Kampus STKIP Surya, gedung sekolah Genius serta fasilitas pendukungnya.

“Ada pula pusat penelitian, research hospital yang fokus untuk otak, jantung, dan kanker, serta business dan theme park,” kata pria yang diakrab dikenal sebagai fisikawan itu saat dihubungi Bisnis, Jumat (8/8/2014).

Infrastruktur pemukiman juga akan disediakan berupa perumahan dan apartemen. Total jangka waktu dibutuhkan untuk mengembangkan proyek ini diproyeksikan sekitar 10 – 15 tahun.

“Pada tahun depan kami akan mulai konstruksi. Proyek ini kemungkinan akan menggunakan nama PT Surealindo,” ucap Yohanes.

Yohanes mendatangi Menteri Perindustrian M.S. Hidayat di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, untuk meminta dukungan dalam pengerjaan komplek techno park ini. Kemenperin menunjuk Realestat Indonesia (REI) untuk mendampingi pelaksanaan proyek tersebut.

Editor : Sepudin Zuhri

Tags:
August 7, 2014

Lockheed Martin Announces Indonesian Radar Industry Initiative

 Teknologi radar Indonesia sebenarnya juga sudah sangat maju lho..
06 Agustus 2014

AN/TPS-77 air surveillance radar (photo : militaryphotos)

JAKARTA, Indonesia/PRNewswire/ — Lockheed Martin (NYSE: LMT) has launched an Indonesian radar industry initiative as part of its efforts to support the country’s plans to modernize and extend its air surveillance coverage.

This initiative includes technology transfers to aid in the development of a new Indonesian radar industry, as well as partnerships with local universities to cultivate the workforce necessary to support it. Enhancing Indonesia’s ability to make critical radar components will reduce the nation’s reliance on foreign suppliers, while providing employment opportunities for its citizens.

“Lockheed Martin is committed to supporting Indonesia and its defense industry revitalization plans,” said Robert Laing, National Executive, Lockheed Martin, Indonesia. “Our goal is to create a new technology sector and associated jobs to ensure a sustainable industry in Indonesia.”

Lockheed Martin has worked with the Bandung Institute of Technology (ITB) to produce an engineering curriculum focused on radar technologies. Similar programs, along with ongoing technical seminars and education opportunities, are training future leaders in the development of this technology. The Corporation also has established an Indonesia-based manufacturing capability with local companies, which have begun producing radar components.

Lockheed Martin is competing for Indonesia’s Ground Control Intercept (GCI) radar program. Should the company be selected for this opportunity, it would provide significant new employment possibilities for its local industry partners, estimated at up to 2 million labor hours over the lifetime of these radars. These Indonesian partners would be capable of producing nearly $100M (USD) of radar components per year.

Lockheed Martin’s extensive air surveillance radar experience can help Indonesia ensure a safe and secure airspace for both civilian air traffic and national sovereignty for many years to come. Lockheed Martin has produced and currently maintains more than 200 air surveillance radars in 30 countries. Operational around the world 24 hours a day, these radars work completely unmanned and many have performed for decades in extremely harsh, remote environments. None of these radars has ever been taken out of service, and many systems continue to operate well beyond their original 20-year service lives. This longevity is a result of Lockheed Martin’s continuous investment in state-of-the-art technology and its commitment to customer missions.

Headquartered in Bethesda, Maryland, Lockheed Martin is a global security and aerospace company that employs approximately 113,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s net sales for 2013 were $45.4 billion.

(PRNewswire)

June 30, 2014

Lima Tahun ke Depan, BPPT Menargetkan Membuat Pesawat Nirawak MALE

 Sepertinya BPPT sudah mulai ketinggalan dengan Univ Surya
30 Juni 2014

BPPT dengan dukungan dana dari Kementerian Pertahanan menargetkan dalam lima tahun mampu membuat MALE UAV yang mampu terbang lebih 20 jam sehari, ketinggian 20-30 ribu kaki, serta mampu membawa kamera dan radar. (photo : Shephard)

VIVAnews – Drone atau pesawat nirawak untuk pengawasan, menjadi topik hangat beberapa hari lalu, saat menjadi bahasan debar capres sesi ketiga antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Tak hanya seru di debat, topik drone juga ramai dibicarakan di sosial media.

Sejauh ini kemampuan Indonesia untuk mengembangkan teknologi pesawat nirawak itu sudah berjalan. Pengembangan teknologi pesawat nirawak itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Kepala Program Pesawat Udara Nirawak (PUNA) BPPT, Joko Purwono, kepada VIVAnews, Senin malam, 25 Juni 2014 mengatakan institusinya sudah mengembangkan pesawat nirawak Wulung, yang tengah diproduksi, dan pesawat nirawak Sriti.

“Sedang diproduksi di PT Dirgantara Indonesia, Bandung dan digunakan Balitbang Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Menurutnya dengan kemampuan daya jelajah 200 km, PUNA Wulung bisa dimanfaatkan untuk pengawasan di perbatasan, misalnya di Kalimantan bagian Utara. Namun untuk pengawasan itu diperlukan dukungan base station, sebagai lokasi pendaratan pesawat nirawak itu.

“Pulau Kalimantan itu kan panjangnya sampai 2000 Km, itu harus ada base station. Setidaknya di Kalimantan butuh 4 base station,” katanya.

Untuk menjangkau pengawasan seluruh wilayah Indonesia, menurutnya butuh 25 titik base station.

Joko mengakui selama ini pesawat nirawak yang dikembangkan masih untuk memasok untuk kebutuhan pengawasan di wilayah perairan Indonesia. Sama pentingnya, pengawasan di perairan didorong untuk menekan pencurian ikan.

Ditambahkan Joko, pesawat nirawak yang dikembangkan BPPT, masih memiliki keterbatasan yaitu ketinggian terbang, lama terbang dan muatan yang dibawa.

Wulung, jelasnya, hanya mampu terbang dengan ketinggian 12-14 ribu kaki, terbang 6 jam dan tak mampu terbang sampai di atas awan.

“Tidak bisa lihat (area pengawasan) jika  di atas awan. Kalau cuaca bagus (Tak ada awan) bisa terbang sampai 20 ribu kaki, tapi jangkauannya 150 km, dan di titik itu nggak bisa online kirim data,” katanya.

Ia menambahkan pesawat nirawak Wulung mampu mengirimkan data pengawasan secara realtime dalam terbang ketinggian normal.

Untuk itu, BPPT dalam lima tahun mendatang manargetkan mampu kembangkan pesawat nirawak dengan kemampuan lebih dari Wulung. Pesawat itu dinamakan Medium Altitude Long Endurance (MALE).

Pesawat ini lebih besar dari Wulung, mampu terbang lebih tinggi dan memiliki kelengkapan fasilitas muatan untuk kebutuhan pengintaian.

Data terbangnya lebih dari 20 jam dalam sehari, terbang dalam ketinggian 20-30 ribu kaki.

“Muatannya bukan kamera saja, tapi radar untuk melihat benda di bawah awan,” katanya.

Pengembangan pesawat nirawak MALE itu akan didanai oleh Kementerian Pertahanan.

(Viva)

June 23, 2014

Lapan Sudah Produksi Pesawat Tanpa Awak Seperti Keinginan Jokowi

Wiji Nurhayat – detikfinance
Senin, 23/06/2014 12:55 WIB
https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2014/06/23/1036/pesawat.jpgFoto: Pesawat Tanpa Awak Lapan (Wiji-detikFinance)
Jakarta -Calon presiden nomor urut 2 Joko Widodo (Jokowi) menginginkan penggunaan Drone atau pesawat tanpa awak untuk meminimalisir praktik perikanan ilegal (illegal fishing) yang merugikan negara. Drone ini sudah diproduksi di dalam negeri oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan).

“Lapan sudah membuat pesawat tanpa awak atau disebut Lapan Surveillance Unmanned (LSU) Aerial Vehicle,” kata Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lapan Rika Andiarti saat ditemui detikFinance di Kantor Pusat Lapan, Jalan Pemuda Persil, Rawamangun, Jakarta, Senin (23/06/2014).

Rika mengungkapkan, Lapan sudah memulai memproduksi pesawat tanpa awak sejak tahun 2011 seiring pengembangan program penerbangan nasional. Pesawat tanpa awak pertama yang dibuat dan dikembangkan Lapan adalah jenis Lapan Surveillance UAV-01X.

“LSU 01X dioperasional pada tahun 2012. Saat itu kita operasikan untuk mitigasi bencana meletusnya Gunung Merapi,” imbuhnya.

Lapan Surveillance UAV-01X adalah jenis pesawat tanpa awak berukuran kecil yang membawa kamera seberat 1,5 kg. Cara menerbangkan pesawat ini cukup hanya dilempar dan dapat mengudara selama 30 menit sepanjang 40 km dengan daya tinggi jelajah 500 meter.

Setelah itu, Lapan kemudian mengembangkan LSU 02 dengan ukuran dan tingkat daya jelajah lebih besar dibandingkan 01X. Teknologi yang digunakan juga jauh lebih tinggi dibandingkan 01X.

“Lapan Surveillance Unmanned Aerial Vehicle-02 atau LSU 02 terbang sejauh 200 kilometer. Dengan kecepatan terbang mencapai 100 km/jam. LSU 02 memiliki bentang sayap 2.400 mm dengan panjang beda 1.700 mm. Pesawat tanpa awak ini dapat digunakan untuk keperluan Airbone Remonte Sensing dengan tinggi daya jelajah 3.000 meter,” paparnya.

(wij/dnl)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers