Archive for ‘Industry Manufactur’

September 29, 2017

Dua BUMN Kerja Sama Kembangkan Teknologi Pintar untuk Industri

Rabu 20 Sep 2017, 16:56 WIB

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Dua BUMN Kerja Sama Kembangkan Teknologi Pintar untuk IndustriFoto: Dok . PT Barata
Jakarta – PT Barata Indonesia (Persero) menjalin kerja sama dengan dua perusahaan, yakni PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) alias INTI dengan PT Pertamina Pertagas.

Penandatanganan MOU yang dilakukan pada pameran IBD EXPO 2017, di Jakarta Convention Center, tersebut merupakan salah satu bentuk dari sinergi BUMN.

Dengan PT INTI, kedua belah pihak sepakat menyediakan solusi Smart Digital Factory bagi perusahaan pelat merah di Indonesia yang bergerak di bidang manufaktur dan/atau memiliki fasilitas produksi dan pabrikasi.

MOU yang ditandatangani Direktur Utama INTI, Darman Mappangara, dan Direktur Utama BARATA Silmy Karim ini, merupakan langkah awal sinergi BUMN dalam rangka mengembangkan solusi Smart Digital Factory untuk pasar industri manufaktur dalam negeri.

“Khususnya memberikan solusi bagi perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang manufaktur dan atau memiliki fasilitas produksi dan pabrikasi,” ungkap Direktur Utama PT INTI (Persero) Darman Mappangara, usai penandatanganan MOU, pada Indonesia Business and Development (IBD) Expo 2017 yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Sementara itu Direktur Utama Barata Indonesia, Silmy Karim menambahkan, Smart Digital Factory yang rencananya dikerjasamakan dalam jangka waktu 3 tahun ini akan menjadi bentuk sinergi BUMN yang potensial karena perusahaan manufaktur di Indonesia harus responsif pada kemajuan era digital.

“Industri membutuhkan sebuah perubahan yang cepat karena perkembangan teknologi sangat masif, tidak menunggu kesiapan industri tersebut,” papar Silmy.

Dalam kerja sama ini, PT INTI dan PT Barata memiliki pembagian, meliputi:

1) INTI

Mengembangkan perangkat sistem Smart Digital Factory, tapi tidak terbatas pada sistem monitoring proses produksi, sistem data analisis, operasi, dan pemeliharaan.
Memproduksi atau menyediakan perangkat elektronik Smart Digital Factory yang dibutuhkan pelanggan.
Memproduksi atau menyediakan perangkat sensor, backbone, dan sistem data center.
Melakukan instalasi atau pemasangan atas perangkat yang disediakan atau dipasok oleh INTI.
Melakukan integrasi atas perangkat yang dipasang INTI dengan perangkat yang disediakan atau dipasok oleh BARATA, pemilik proyek, atau pihak ketiga lainnya agar perangkat yang disediakan para pihak dapat berfungsi dan diserahterimakan kepada pemilik poyek.
Memberi dukungan teknis kepada pelanggan.

2) BARATA

Melaksanakan kegiatan pemasaran dan komersialisasi Smart Digital Factory.
Memproduksi atau menyediakan perangkat mekanik Smart Digital Factory yang dibutuhkan pelanggan.
Melakukan instalasi atau pemasangan atas perangkat yang disediakan atau dipasok oleh BARATA.
Melakukan integrasi atas perangkat yang dipasang BARATA dengan perangkat yang disediakan atau dipasok oleh INTI, pemilik proyek, atau pihak ketiga lainnya agar perangkat yang disediakan para pihak dapat berfungsi dan diserahterimakan kepada pemilik poyek.
Memberi dukungan teknis ke pelanggan.

Silmy menambahkan, Smart Digital Factory yang rencananya dikerjasamakan dalam jangka waktu tiga tahun ini akan menjadi bentuk sinergi BUMN yang potensial karena perusahaan manufaktur di Indonesia harus responsif pada kemajuan era digital.

“Industri membutuhkan sebuah perubahan yang cepat karena perkembangan teknologi sangat masif, tidak menunggu kesiapan industri tersebut,” papar Silmy.

Selain berkerja sama dengan INTI, Barata Indonesia juga meneken kerja sama dengan Pertagas di bidang pembangunan infrastruktur gas bumi berupa pipa untuk Pertagas. (ara/hns)

Advertisements
May 11, 2017

Bangun Industri Smelter, RI Kejar Produksi Nikel 4 Juta Ton di 2020

aturannya dulu beresin deh..
Kamis 11 May 2017, 12:08 WIB

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Bangun Industri Smelter, RI Kejar Produksi Nikel 4 Juta Ton di 2020Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta – Kawasan Indonesia Timur menjadi basis industri smelter. Saat ini di kawasan Indonesia Timur, tengah difokuskan pengembangan industri berbasis smelter khususnya bijih nikel dan stainless steel.

Lewat industri smelter ini, ditargetkan mampu memproduksi nikel sebanyak 4 juta ton pada tahun 2020 atau berkontribusi sebesar 10 persen untuk memenuhi kebutuhan dunia sebanyak 40 juta ton per tahun.

“Kami optimistis, karena Indonesia memiliki 32 titik proyek pemurnian dan pengolahan nikel yang tersebar di beberapa kawasan industri, antara lain di Konawe, Kolaka, Pulau Obi, Halmahera dan Morowali,” ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan, dalam keterangan tertulis Kamis (11/5/2017).

Baca juga: Industri Smelter di Sulawesi Serap 1.200 Tenaga Kerja Lokal

Salah satunya pengembangan industri smelter itu berada di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Kawasan seluas 2.000 hektar yang ditargetkan akan menarik investasi sebesar US$ 6 miliar atau setara Rp78 triliun, serta menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 20 ribu orang dan tidak langsung sekitar 80 ribu orang.

Kemudian, Kawasan Industri Bantaeng memiliki luas 3.000 hektare yang diperkirakan akan menarik investasi sebesar USD 5 miliar atau setara Rp 55 triliun, dengan Harbour Group bertindak sebagai investor.

Sedangkan, untuk Kawasan Industri Konawe, diprediksi akan menarik investasi sebanyak Rp 28 triliun. Bertindak sebagai anchor industry di kawasan ini adalah Virtue Dragon Nickel Industry, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 18 ribu orang.

“Berkembangnya industri smelter di dalam negeri, selain mampu mendorong perekonomian nasional, diharapkan juga dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar,” tutur Putu.

Untuk itu, diperlukan kemitraan strategis di antara pemangku kepentingan guna membawa kemajuan bersama.

“Interaksi ini mulai dari para pelaku industri, tenaga kerja hingga pemerintah,” imbuhnya.

Menurut Putu, langkah hilirisasi juga merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2015 tentang Sumber Daya Industri. Dalam peraturan tersebut, diatur mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara efisien,ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Selanjutnya, pelarangan atau pembatasan ekspor sumber daya alam dalam rangka peningkatan nilai tambah Industri guna pendalaman dan penguatan struktur Industri dalam negeri, serta jaminan ketersediaan dan penyaluran sumber daya alam untuk Industri dalam negeri. (hns/hns)

March 24, 2017

  PTDI Siapkan Pesawat ‘Bandel’ untuk Penerbangan Perintis

Jumat 24 Mar 2017, 10:15 WIB

Baban Gandapurnama – detikFinance
PTDI Siapkan Pesawat Bandel untuk Penerbangan PerintisFoto: Dok. PTDI
Pekanbaru – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) gencar menyasar pasar angkutan udara perintis. Ada dua jenis pesawat karya perusahaan pelat merah bermarkas di Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut yang disiapkan khusus terbang menjelajah wilayah terpencil dan pedalaman nusantara.

Supervisor Pengembangan Bisnis Pesawat Terbang PTDI M. Umar Saripudin menegaskan pihaknya jauh-jauh hari membidik target market pesawat kecil. Penetrasi digulirkan PTDI sejak dua tahun terakhir dengan ‘mendekati’ sejumlah operator dalam negeri.

“PTDI punya dua pesawat yang nanti bisa mengisi rute penerbangan perintis. Yaitu pesawat NC212i dan N219,” ucap Umar kepada detikfinance di sela-sela kegiatan media trip di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru, Riau, Kamis petang (23/3/2017) kemarin.

NC212i ialah pesawat multiguna generasi terbaru dari NC212 dengan daya angkut 28 penumpang, memiliki ramp door, sistem navigasi dan komunikasi yang lebih moderen. N219 bobotnya ringan, berkapasitas 19 orang, serta dilengkapi teknologi avionik moderen.

Dua pesawat tersebut, sambung Umar, mumpuni di kelasnya. Tipe 212 kiprahnya dikenal sebagai pesawat militer dari dalam dan luar negeri. Untuk N219, kini tengah tahap sertifikasi oleh Kementerian Perhubungan, diproyeksikan PTDI menjadi pesawat perintis.

“Ini pesawat kuat dan ‘bandel’. Karakteristik NC212i dan N219 dapat mendarat di landasan rumput, pasir dan berbatu. Jadi, dua pesawat yang khusus didesain oleh PTDI ini bisa dioperasikan di rute perintis,” ujar Umar.

NC212i dan N219, menurut Umar, cocok untuk pesawat penumpang dan kargo di jalur perintis.

“Untuk daerah ekstrem dengan landasan sangat tinggi dan pendek, kami mengembangkan 219. Nantinya dapat diperuntukkan di daerah seperti Papua. Untuk daerah-daerah pantai serta landai, seperti di Indonesia bagian barat, tengah, dan sebagian timur, pesawat 212 enggak masalah,” tutur Umar.

Sekadar diketahui, Kementerian Perhubungan menyediakan anggaran Angkutan Udara Perintis tahun 2017 sebesar Rp 499 miliar yang melayani 193 rute di lebih dari 100 bandara yang dikelola 26 Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Hal itu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara bernomor : KP. 353 tahun 2016 tentang Rute dan Penyelenggara Subsidi Angkutan Udara Perintis serta Penyelenggara Subsidi Angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) Tahun Anggaran 2017.

Angkutan udara perintis ini memiliki peran penting dalam mengakomodir rute penerbangan jarak pendek. Selain itu, tujuannya menjangkau masyarakat serta membentuk konektifitas rute wilayah pedalaman dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani moda transportasi lain.

Umar menyatakan, PTDI siap memproduksi dan memasarkan angkutan udara perintis. Tentu saja, semangat mencintai hasil produk dalam negeri terus digaungkan PTDI kepada para calon pembeli pesawat.

Strategi pemasaran yang diusung perusahaan ini yaitu mengikuti acara-acara pameran, penetrasi pasar ke mitra strategis, serta menjalin komunikasi bersama operator dalam negeri. PTDI terus menggali keinginan pasar dengan mendatangi langsung para operator.

“Dulu PTDI selalu lebih banyak menjual produk untuk militer, sekarang kami mulai masuk pasar sipil atau penumpang. Sudah ada pesawat N219 yang diminati operator dalam negeri. Animonya memang tinggi,” kata Umar.(bbn/ang)

March 23, 2017

Honeywell Teken Kontrak 34 Mesin Pesawat dengan PTDI

Mar232017

 

Honeywell Aerospace telah dipilih oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk memasok 34 mesin turboprop TPE331 untuk pesawat NC212i selama empat tahun ke depan.

Honeywell diharapkan memberikan enam mesin pertama pada tahun 2017, dan sisa akan disampaikan hingga tahun 2020.

Honeywell juga akan memberikan pelatihan mesin TPE331 gratis kepada enam insinyur PTDI untuk mendapatkan keterampilan pemeliharaan dan transfer pengetahuan teknis untuk PTDI.

“Pesawat generasi baru PTDI NC212i adalah pesawat luar biasa yang sesuai dengan kebutuhan di Asia Tenggara untuk berbagai misi, termasuk pengawasan maritim & patroli penjaga pantai, angkut penumpang, angkut pasukan, transportasi kargo, pencarian dan penyelamatan, dan evakuasi medis. Wilayah dengan pertumbuhan yang pesat ini, merupakan kunci untuk Honeywell, kami berkomitmen untuk mendukung operator pesawat dan produsen seperti PTDI yang memperluas kemampuan mereka di seluruh wilayah,” ujar Mark Burgess, wakil presiden, APAC, Defense and Space, Honeywell Aerospace.

“Kami sangat senang dan percaya diri untuk melihat mesin TPE331 Honeywell memberikan respon throttle yang lebih cepat dan efisiensi bahan bakar yang meningkat, Untuk kinerja maksimum”, tambahnya.

Asiatraveltips.com

March 20, 2017

PTDI Akan Bikin Pesawat N219 Versi Amfibi

Ini Baru TOP !! cocok sekali buat pulau pulau kecil yang tersebar di Indonesia.

19 MARET 2017

PTDI Akan Bikin Pesawat N219 Versi Amfibi

19 Maret 2017

Pesawat N-219 versi amfibi (all images : PTDI)

PTDI Bikin Pesawat yang Bisa Mendarat di Air

Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) berencana membuat pesawat N219 Amphibious Version. Pesawat ini merupakan pengembangan dari N219 yang nantinya bisa mendarat di air dan di darat.

Pesawat ini rencananya akan dimulai desainnya pada akhir tahun 2018 mendatang. Produksi pesawat N219 amfibi ini akan dimulai setelah pesawat N219 mendapatkan sertifikasi.

“Kalau ada kebutuhan itu akan kita desain setelah selesai sertifikat di N219. Kita dapatkan sertifikasi dulu, kalau sudah selesai baru amfibi. Harapan kita 2018 akhir kita mulai desain,” jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).

Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.

Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.

Agar bisa mendarat di air, bagian bawah pesawat dilengkapi dengan tambahan yang mirip seperti perahu nelayan. Jika ingin melakukan pendaratan di darat, roda pesawat akan keluar dari dari landing gear.

“Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat,” kata Arie. (Detik)

 
Begini Penampakan Pesawat PTDI yang Bisa Mendarat di Air
Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) akan membuat pesawat N219 Amphibious Version di akhir 2018 mendatang. Pesawat ini akan bisa mendarat di darat maupun air.
Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.
Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.
“Ini kita nanti target pulau-pulau kecil di (Indonesia) timur banyak tempat pariwisata. Bisa bawa turis-turis ke pulau-pulau terpencil,” jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).
Jika mendarat di perairan, N219 amfibi ini mengandalkan landing gear yang mirip seperti perahu dan bisa mengapung. Kemudian untuk meneruskan landing di darat, roda pesawat akan keluar dari landing gear.
“Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat,” kata Arie.
Pesawat ini bisa mengangkut penumpang sebanyak 19 orang. Selain itu, pesawat multi fungsi ini juga bisa digunakan untuk angkutan barang atau cargo transportation. Sedikitnya bisa mengangkut tiga kontainer tipe D2 dengan dimensi 1,4 meter x 1,06 meter x 1,14 meter sebanyak 3 unit.
“Satu pesawat bisa multi roles,” tambah Arie.
Selain itu, pesawat N219 amfibi juga bisa digunakan untuk angkutan medis di pulau-pulau terpencil. Setelah mengangkut pasien, pesawat ini kemudian bertolak ke rumah sakit yang ada di daerah terdekat.
Beberapa contoh daerah yang bisa didarati pesawat N219 amfibi, antara lain pulau-pulau terluar di Papua Barat, pulau-pulau kecil sekitar pesisir barat Sumatera, pulau-pulau kecil sekitar Biak, pulau-pulau kecil sekitar Banda Neira, dan Kepulauan sekitar Selat Karimata. (Detik)
March 8, 2017

Komponen Lokal di Pesawat N245 Diperkirakan 45-50%

Pesawat CN 235 berapa persen yaa komponen lokal nya ??
Rabu 08 Mar 2017, 21:10 WIB

Danang Sugianto – detikFinance
Komponen Lokal di Pesawat N245 Diperkirakan 45-50%Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta
PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI akan mengembangkan pesawat N245 yang telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Jika sudah ada pendanaan PTDI siap untuk memulai produksi prototype.

Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo, mengatakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pesawat N245 nantinya cukup tinggi.

“TKDN kita harapkan bisa mencapai 40-50%. Cukup tinggi,” tutur Arie di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Arie menjelaskan, tidak mudah memenuhi komponen pesawat dari dalam negeri, karena masih ada beberapa yang harus impor.

“Ya kan kalau dibikin airframe-nya, strukturnya. Sedangkan engine mesti beli, propoller (baling-baling) beli, avionik mesti beli, elektronik musti beli. Kan belum dibuat di Indonesia, belum ada perusahaan terkualifikasi untuk pesawat terbang,” imbuhnya.

Kendati begitu, untuk badan pesawat akan diproduksi sendiri oleh PTDI. Saat ini PTDI mulai menawarkan pesawat N245 ke maskapai nasional, salah satunya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

PTDI ingin pesawat N245 digunakan oleh maskapai lokal.

“Sekarang tinggal usaha PTDI meyakinkan Garuda yang akan memakai pesawat. Karena intinya kita buat dan desain tapi harus ada yang beli jugakan. Pasar kita lihat ada tapi yang paling penting adalah nasional airliner dalam hal ini Garuda,” terang Arie.

PTDI tengah merayu Garuda Indonesia untuk membeli pesawat tersebut. Namun pihak Garuda Indonesia belum merespons.

“Kita berusaha meyakinkan Garuda bahwa pesawat yang kita bikin itu bagus. Sudah mendengar mereka, tapi belum bilang iya saya mau beli. Karena tugas saya untuk meyakinkan Garuda bahwa pesawatnya bagus dan bisa dipakai terbang untuk tourism,” kata Arie.

Produksi prototipe N245 bisa rampung pada 2019. Itupun jika proses pendanaan dari pemerintah bisa dilakukan tahun ini.

“Kalau pemerintah iyakan sekarang dan danai tahun ini, kita harapkan 2019 selesai, 2020 masuk ke service. Kami sudah dipakai sama airliner. Karena ini kan derifativ dari CN235. Jadi bukan desain baru,” tambah Arie.(hns/hns)

March 3, 2017

Pembentukan Indonesia Service Hub

Semoga.. Indonesia Service Hub ini bakal seperti ST Aerospace Singapore..

Mar032017

 

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyaksikan penandatanganan kesepakatan antar perusahaan BUMN untuk membentuk Indonesia Service Hub.

Penandatanganan tersebut dilakukan di lantai 21 Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis, Indonesia Service Hub merupakan kesepakatan strategis antar perusahaan BUMN di bidang transportasi udara.

Perusahaan BUMN tersebut antara lain PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Dirgantara Indonesia, PT Indopelita Aircraft Service, serta PT Merpati Maintenance Facility.

Indonesia Service Hub diharapkan akan menjadi sebuah perusahaan gabungan yang nantinya mampu mengelola pesawat terbang, baik perawatan dan perbaikan. Kemudian mampu juga menciptakan berbagai komponen pesawat, baik jenis jet dan Air Bus.

Kemudian hal-hal yang dicanangkan mampu menjadi penyedia jasa pelayanan perawatan dan pengembangan pesawat tersebut ditujukan tidak hanya untuk pesawat sipil namun juga pesawat militer.

Dalam arahannya, Menteri BUMN menginginkan target proyek yang tidak hanya skala ASEAN, namun merambah pada kawasan Afrika, mengingat secara geografis, Indonesia dekat dengan Afrika.

“Ini memperkuat BUMN dalam skala nasional dalam menghadapi era globalisasi, karena di negara lain seperti Malaysia, Tiongkok dan Australia dalam hal maintenance pesawat, mereka sudah mampu melakukannya juga atas dasar holding perusahaan. Jadi kita jangan takut untuk holding strategis, karena semua peralatan dan perlengkapan sebenarnya kita sudah punya,” kata Rini.

Secara kemampuan, menurutnya sebenarnya Indonesia tidak kalah, baik dari segi Sumber Daya Manusia dan peralatan. Hanya saja masih terpisah-pisah ada di perusahaan yang bergerak berbeda, oleh karena itu, kesepakatan strategis ini bertujuan agar menghasilkan suatu kemampuan baru dari para BUMN yang terkait.

Untuk mewujudkan Perusahaan Indocorporated tersebut, dalam bidang penerbangan, harus bersatu untuk bisa menyatukan teknologi yang ada. Jika sudah tercapai, posisi geografis Indonesia yang menguntungkan dapat menjadi bengkel pesawat serta pembuat suku cadang pesawat yang mudah ditemukan oleh negara-negara sekitar.

“Target saya, Indonesia Service Hub tak hanya menjadi penyedia jasa maintenance & service terdepan di Indonesia, tapi juga di Asean dan bahkan Asia. Saya yakin, dengan keunggulan kapabilitas dari masing-masing BUMN yang terlibat dan letak geografis Indonesia, kita bisa menjadi service hub bagi negara-negara di sekitar kita, dan tidak mustahil, kita dapat merebut sebagian pangsa pasar maskapai di Tiongkok,” tutup Rini.

Antara

March 3, 2017

Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in Bandung

Kamis 02 Mar 2017, 16:02 WIB

Danang Sugianto – detikFinance
Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in BandungFoto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta – Pesawat N245 masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek yang akan digarap PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan dimulai tahun ini.

N245 merupakan pengembangan dari pesawat CN235 yang sebelumnya pernah dibuat oleh PTDI. Pesawat ini memiliki kapasitas penumpang hingga 54 orang dan memiliki jarak tempuh hingga 1.100 kilometer (km) sekali terbang.

Pengembangan pesawat N245 yang akan dilakukan PTDI dan LAPAN akan menelan dana hingga US$ 190 juta atau Rp 2,47 triliun.

Baca juga: Pesawat N245 Mampu Melesat Hingga 500 Km/Jam

“Biaya development sekitar US$ 190 juta,” kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Pesawat ini akan dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney (PWC) PW127Z dengan mesin ganda. Berbeda dengan pendahulunya CN235, N245 memiliki ekor yang bertipe T dan tidak ada lagi ramp door alias pintu untuk menaruh barang di belakang pesawat.

N245 memiliki panjang 22,65 meter dengan tinggi 7,4 meter dan lebar sayap 25,8 meter. Pesawat ini nantinya digunakan sebagai pesawat jarak pendek untuk meningkatkan konektivitas udara antar daerah.

Baca juga: Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute Ini

Pesawat N245 mampu melesat hingga 500 km per jam dengan jarak tempuh hingga 1.100 km. Pesawat N245 bisa melakukan lepas landas dalam jarak sekitar 890 meter dan mendarat dalam jarak 765 meter. (ang/ang)

February 16, 2017

Industri Komponen Kapal Minta Galangan Kapal Prioritaskan Produk Domestik

Kamis, 16 Februari 2017 | 20:08 WIB
Pramdia Arhando JuliantoIlustrasi Galangan Kapal – Kapal Logistik Oriental Diamond saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta/ Pramdia Arhando/Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) Eki Komarudin mengatakan, pihaknya meminta kepada pemerintah dan pengusaha galangan kapal agar berpihak kepada industri komponen kapal dalam negeri.

“Anggota PIKKI yang mayoritas Industri Kecil Menengah merupakan sektor padat karya, jadi kami berperan menyediakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan,” ujarnya di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Eki mengungkapkan, kualitas komponen kapal yang diproduksi dalam negeri tidak kalah dari produk impor. Namun, diakuinya, harga komponen lokal saat ini sedikit lebih mahal karena keterbatasan bahan baku.

“Akan tetapi, apalah arti dari selisih harga sedikit tersebut, jika dibanding dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional khususnya industri komponen dalam negeri,” tuturnya.

Eki juga berharap agar pemerintah terus memberikan bantuan dan pembinaan terhadap industri komponen kapal dalam negeri agar mampu berdaya saing global.

“Percayalah, yang kami dapatkan dari APBN, pasti akan balik lagi melalui pajak-pajak yang kami bayarkan. Jadi ada take and give,” terangnya.

Jumlah anggota PIKKI saat ini sekitar 60 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia seperti Batam, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

“Kami ikut mengambil peran dalam mewujudkan program pemerintah di industri perkapalan sekaligus menjadikan industri komponen kapal dalam negeri semakin kuat, mandiri, maju, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri,” paparnya.

February 16, 2017

Kamis, 16 Februari 2017 | 11:30 WIB
Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.comKetua Pelaksana Harian Detiknas, Ilham Akbar Habibie

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie menyatakan pihaknya akan mulai membuat purwarupa atau prototipe pesawat R-80 pada tahun 2017 ini.

Dengan demikian, pesawat R-80 ditargetkan bisa melakukan penerbangan perdana pada tahun 2021.

“Kita akan mulai membuat prototipe Insya Allah dalam tahun ini, tapi penerbangan perdananya paling cepat 2021,” kata Ilham di TPS 05 Kuningan Timur, Rabu (15/2/2017).

Ilham mengungkapkan, purwarupa pesawat tersebut akan dibuat dari nol. Adapun biaya yang diperlukan untuk pembuatan pesawat tersebut secara total diperkirakan mencapai 1 miliar dollar AS.

Menurut Ilham, sumber dana untuk proyek tersebut beragam. Selain brasal dari pemerintah, dana juga diperoleh dari kocek RAI sendiri, investor strategis, pasar finansial, dan beberapa sumber lainnya.

Ilham menyatakan, sesuai dengan namanya, pesawat R-80 akan berkapasitas 80 orang. Adapun jarak tempuh optimal pesawat tersebut adalah jarak pendek, yakni 500 kilometer.

“Di situlah keunggulan pesawat terbang baling-baling dibandingkan dengan jet. Kalau pakai jet lebih boros. Di jarak tertentu, 500 kilometer ke bawah lebih optimal pakai turboprop,” ungkap Ilham.

Mengenai lokasi produksi, Ilham menyatakan pihaknya membedakan lokasi produksi dari prosesnya.

Untuk bagian pesawat single part atau bagian-bagian kecil sebelum menjadi rakitan, kemungkinan besar produksi dilakukan di Bandung.

Adapun bila proses produksi sudah merangkak menjadi rakitan kecil dan menengah hingga final, maka rencananya RAI akan membuat pabrik baru di kawasan Kertajati.

“Di bandara, jadi di bandara Kertajati akan ada semacam industrial park. Jadi kawasan industri, ada bagian khusus industri dirgantara,” ungkap Ilham.

Terkait lokasi produksi di Kertajati, Ilham mengaku saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan. Adapun landasannya kemungkinan sudah mencapai 70 persen sebelum akhirnya rampung.