Archive for ‘Industry Manufactur’

March 3, 2017

Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in Bandung

Kamis 02 Mar 2017, 16:02 WIB

Danang Sugianto – detikFinance
Ini Spesifikasi Pesawat N245 Made in BandungFoto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta – Pesawat N245 masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek yang akan digarap PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan dimulai tahun ini.

N245 merupakan pengembangan dari pesawat CN235 yang sebelumnya pernah dibuat oleh PTDI. Pesawat ini memiliki kapasitas penumpang hingga 54 orang dan memiliki jarak tempuh hingga 1.100 kilometer (km) sekali terbang.

Pengembangan pesawat N245 yang akan dilakukan PTDI dan LAPAN akan menelan dana hingga US$ 190 juta atau Rp 2,47 triliun.

Baca juga: Pesawat N245 Mampu Melesat Hingga 500 Km/Jam

“Biaya development sekitar US$ 190 juta,” kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Pesawat ini akan dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney (PWC) PW127Z dengan mesin ganda. Berbeda dengan pendahulunya CN235, N245 memiliki ekor yang bertipe T dan tidak ada lagi ramp door alias pintu untuk menaruh barang di belakang pesawat.

N245 memiliki panjang 22,65 meter dengan tinggi 7,4 meter dan lebar sayap 25,8 meter. Pesawat ini nantinya digunakan sebagai pesawat jarak pendek untuk meningkatkan konektivitas udara antar daerah.

Baca juga: Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute Ini

Pesawat N245 mampu melesat hingga 500 km per jam dengan jarak tempuh hingga 1.100 km. Pesawat N245 bisa melakukan lepas landas dalam jarak sekitar 890 meter dan mendarat dalam jarak 765 meter. (ang/ang)

Advertisements
February 16, 2017

Industri Komponen Kapal Minta Galangan Kapal Prioritaskan Produk Domestik

Kamis, 16 Februari 2017 | 20:08 WIB
Pramdia Arhando JuliantoIlustrasi Galangan Kapal – Kapal Logistik Oriental Diamond saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta/ Pramdia Arhando/Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) Eki Komarudin mengatakan, pihaknya meminta kepada pemerintah dan pengusaha galangan kapal agar berpihak kepada industri komponen kapal dalam negeri.

“Anggota PIKKI yang mayoritas Industri Kecil Menengah merupakan sektor padat karya, jadi kami berperan menyediakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan,” ujarnya di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Eki mengungkapkan, kualitas komponen kapal yang diproduksi dalam negeri tidak kalah dari produk impor. Namun, diakuinya, harga komponen lokal saat ini sedikit lebih mahal karena keterbatasan bahan baku.

“Akan tetapi, apalah arti dari selisih harga sedikit tersebut, jika dibanding dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional khususnya industri komponen dalam negeri,” tuturnya.

Eki juga berharap agar pemerintah terus memberikan bantuan dan pembinaan terhadap industri komponen kapal dalam negeri agar mampu berdaya saing global.

“Percayalah, yang kami dapatkan dari APBN, pasti akan balik lagi melalui pajak-pajak yang kami bayarkan. Jadi ada take and give,” terangnya.

Jumlah anggota PIKKI saat ini sekitar 60 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia seperti Batam, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

“Kami ikut mengambil peran dalam mewujudkan program pemerintah di industri perkapalan sekaligus menjadikan industri komponen kapal dalam negeri semakin kuat, mandiri, maju, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri,” paparnya.

February 16, 2017

Kamis, 16 Februari 2017 | 11:30 WIB
Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.comKetua Pelaksana Harian Detiknas, Ilham Akbar Habibie

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie menyatakan pihaknya akan mulai membuat purwarupa atau prototipe pesawat R-80 pada tahun 2017 ini.

Dengan demikian, pesawat R-80 ditargetkan bisa melakukan penerbangan perdana pada tahun 2021.

“Kita akan mulai membuat prototipe Insya Allah dalam tahun ini, tapi penerbangan perdananya paling cepat 2021,” kata Ilham di TPS 05 Kuningan Timur, Rabu (15/2/2017).

Ilham mengungkapkan, purwarupa pesawat tersebut akan dibuat dari nol. Adapun biaya yang diperlukan untuk pembuatan pesawat tersebut secara total diperkirakan mencapai 1 miliar dollar AS.

Menurut Ilham, sumber dana untuk proyek tersebut beragam. Selain brasal dari pemerintah, dana juga diperoleh dari kocek RAI sendiri, investor strategis, pasar finansial, dan beberapa sumber lainnya.

Ilham menyatakan, sesuai dengan namanya, pesawat R-80 akan berkapasitas 80 orang. Adapun jarak tempuh optimal pesawat tersebut adalah jarak pendek, yakni 500 kilometer.

“Di situlah keunggulan pesawat terbang baling-baling dibandingkan dengan jet. Kalau pakai jet lebih boros. Di jarak tertentu, 500 kilometer ke bawah lebih optimal pakai turboprop,” ungkap Ilham.

Mengenai lokasi produksi, Ilham menyatakan pihaknya membedakan lokasi produksi dari prosesnya.

Untuk bagian pesawat single part atau bagian-bagian kecil sebelum menjadi rakitan, kemungkinan besar produksi dilakukan di Bandung.

Adapun bila proses produksi sudah merangkak menjadi rakitan kecil dan menengah hingga final, maka rencananya RAI akan membuat pabrik baru di kawasan Kertajati.

“Di bandara, jadi di bandara Kertajati akan ada semacam industrial park. Jadi kawasan industri, ada bagian khusus industri dirgantara,” ungkap Ilham.

Terkait lokasi produksi di Kertajati, Ilham mengaku saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan. Adapun landasannya kemungkinan sudah mencapai 70 persen sebelum akhirnya rampung.

February 13, 2017

Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute Ini

Senin 13 Feb 2017, 13:37 WIB

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Daya Jelajah 1.100 Km, Pesawat N245 Mampu Terbangi Rute-rute IniFoto: Dok. PT Dirgantara Indonesia (PT DI)
Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) akan memproduksi pesawat N245 di tahun ini seiring sudah masuknya pengembangan pesawat ini ke Proyek Strategis Nasional (PSN). Pesawat ini nantinya memiliki kecepatan 270 knot atau sekitar 500 kilometer (km) per jam dengan daya jelajah 1.100 km.

Pesawat yang ditujukan untuk transportasi antar kota ini dikembangkan sesuai dengan amanat Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan konektivitas antar daerah.

Baca juga: Pesawat N245 Mampu Melesat Hingga 500 Km/Jam

“Kita ikuti amanat Presiden RI kita mesti menaikkan konektivitas melalui udara. Itu mau kita sambungkan kota-kota yang hari ini belum tersedia pesawat,” kata Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (13/2/2017).

Ia pun mencontohkan beberapa kota yang bisa dijangkau dengan adanya pesawat N245 nanti di 2020. Mulai dari kota-kota di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan.

“Jember-Surabaya, Jember-Malang ada daerah-daerah seperti Tanjung Bara-Balikpapan, kemudian Bali-Lombok, dan Kuching-Pontianak,” ujar Arie.

Baca juga: Masuk Proyek Strategis Nasional, Pesawat N245 Diproduksi Tahun Ini

Pengembangan N245 memakan biaya hingga US$ 200 juta. Dalam tahap awal, PTDI akan membuat 3 prototipe pesawat N245.

“Itu kan ada pengembangan engineering kemudian pengadaan material dan peralatan infrastruktur untuk pembuatan dan itu kita produce 2-3 prototipe,” tutup Arie. (hns/hns)

February 10, 2017

Pakai Plastik dari Indonesia, Komponen Lokal Toyota Jadi 65%

ternyata baru 65%… belum 80-90% spt yang sering diberitakan..
Jumat 10 Feb 2017, 09:12 WIB

Khairul Imam Ghozali – detikOto
Pakai Plastik dari Indonesia, Komponen Lokal Toyota Jadi 65%Foto: Khairul Imam Ghozali
Karawang – Toyota kini menggunakan bahan baku plastik resin Polypropylene (PP) Impact Copolymer lokal dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Kandungan lokal Toyota pun akan naik menjadi 65 persen tahun depan.

“Itu dipakai untuk semua produk, semua model, saat ini masih sekitar 60 persen,” ujar Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, kepada wartawan, di Karawang, Kamis (9/2/2017).

Selain itu TMMIN juga menargetkan dengan menambahnya pasokan bahan lokal untuk kandungan lokal pada produknya, mencapai 75 persen. “Kita targetkan sampai 2019 mencapai 75 persen,” ucap Warih.

Namun target tersebut bukan untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), melainkan untuk true localization.

“Definisi-nya, ada yang namanya lokal konten (TKDN), yaitu diproduksi di Indonesia, diberi nilai tambah di Indonesia, nah itu lokal konten. Nah sedangkan true localization itu, diproduksi di Indonesia, tapi industri hulu-nya juga di Indonesia,” tutur Warih.

“Jadi kalau lokal konten saja bisa juga industri hulu-nya impor. Nah yang kita harapkan true localization 75 persen itu, kita berharap bahwa local production, tapi industri hulunya juga di Indonesia,” tambahnya.

Lanjut Warih mengatakan, target tersebut akan dicapai dengan melalui dulu beberapa proses. “Jadi step by step. Dari 60 persen true localization, jadi 75 persen (di 2019),” pungkasnya. (khi/ddn)

November 7, 2016

Garuda Maintenance Optimis Raup Pendapatan US$ 450 Juta

KAMIS, 27 OKTOBER 2016 | 04:00 WIB

Garuda Maintenance Optimis Raup Pendapatan US$ 450 Juta

Garuda Maintenance Facility (GMF). TEMPO/Zulkarnain

TEMPO.CO, Jakarta – PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia (GMF) menargetkan pendapatan pada 2017 sebesar 450 juta dolar AS atau meningkat dari rencana 2016 sebesar 400 juta dolar AS.

“Penjualan kami (2016) di angka 360-400 juta dolar AS dan kami punya kapasitas harus bisa menghasilkan sekian, tahun depan kami naikkan 400-450 juta dolas AS,” kata Direktur Utama GMF Juliandra Nurtjahjo saat ditemui di Jakarta, Rabu (26 Oktober 2016).

Ia mengaku optimistis dapat mencapai target tersebut karena pada 2016, GMF resmi menjadi pusat logistik berikat (PLB) dari pemerintah yang diyakini bisa menggenjot pendapatan secara signifikan.

Dia menuturkan dengan adanya PLB, maka jangka waktu perawatan pesawat bisa disingkat yang awalnya tujuh menjadi dua hari.

“Buat kami sebagai pelaku bisnis ada tambahan kapasitas karena percepatan, kalau dihitung dalam setahun dari tujuh menjadi dua hari akan sangat menghemat,” katanya.

Dengan demikian, menurut dia, percepatan tersebut juga akan berdampak kepada maskapai, yaitu perputaran operasional pesawat menjadi semakin cepat.

“Akan lebih efisien, karena akan lebih cepat untuk berjualan lagi, maka akan berkontribusi juga ke penurunan harga tiket karena akan lebih sering terbang, sehingga maskapai bisa memberikan harga yang lebih baik lagi,” katanya.

Juliandra menyebutkan dengan adanya percepatan tersebut bisa menghemat biaya logistik GMF sekitar 10-15 persen, yang saat ini masih 20-30 persen.

Selain itu, dia menjelaskan dengan adanya PLB, pihaknya bisa menawarkan kerja sama maupun usaha patungan (joint venture) dengan sejumlah perusahaan terkait perawatan pesawat, penyimpanan atau penyewaan gudang logistik di kawasan berikat.

“Dengan mereka melakukan aktivitas di area logistik kami, maka pertama mendatangkan devisa, kedua pajak kami bertambah dan ketiga mendatangkan tenaga kerja baru yang pasti akan menggunakan sumber daya lokal,” katanya.

Juliandra menyebutkan salah satu kerja sama yang telah diprakarsai dengan pemanfaatan PLB tersebut, yaitu dengan perusahaan manufaktur pesawat Airbus dan Rolls-Royce.

“Dengan Rolls Royce, mereka sudah melihat area di Cengkareng, tapi kami pilihkan opsi selain di Cengkareng, yang jelas kerja sama dengan kami, mesin pesawat Garuda akan dikerjakan oleh mereka,” katanya.

Dia berharap tahun bisa dilakukan penandatangan kerja sama, termasuk dengan Airbus dalam hal pemanfaatan logistik serta SDM.

“Nilai investasi sedang dihitung, baik dari tim GMF maupun Rools-Royce, dari sisi investasinya yang jelas mereka sangat tertarik,” katanya.

November 3, 2016

Apple Berencana Bangun Pabrik di Indonesia

Harus terjadi nih.. jaman SBY , Foxconn batal karena ada pejabat “malak”.. semoga rejim Joko nggak begitu ya.

Prima Gumilang, CNN Indonesia
Rabu, 14/10/2015 09:51 WIB
Apple Berencana Bangun Pabrik di IndonesiaPemerintah akan menyiapkan sejumlah fasilitas yang dibutuhkan Apple Inc untuk dapat memenuhi janjinya berinvestasi di Indonesia. (Getty Image/Justin Sullivan).
Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menggelar pertemuan dengan perusahaan teknologi Apple Inc. Dalam pertemuan tersebut manajemen Apple mengungkapkan kepada pemerintah rencananya membangun industri software dan hardware di Indonesia.

Namun, Rudiantara menyatakan dalam pembicaraan tersebut belum dibahas secara serius rencana investasi Apple di Indonesia.

“Apple melihat pasar di Indonesia cukup baik, karena itu mereka berencana mendirikan pabrik di Indonesia. Tetapi belum dibahas secara detil,” ujar Rudiantara, kemarin.

Ia memastikan pemerintah akan berupaya merealisasikan rencana investasi Apple dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan perusahaan Amerika Serikat tersebut. Sebab menurut mantan Direktur Keuangan PT PLN (Persero) tersebut, pada umumnya perusahaan teknologi di dunia selalu mendirikan pusat produksi di beberapa negara untuk memenuhi permintaan di setiap regional dunia.

Rudiantara menyebut perusahaan Korea Selatan, Samsung justru memiliki pabrik di Vietnam. Lantasan pemerintah Vietnam menyediakan fasilitas yang mereka butuhkan. Hasil produksi tersebut terlihat banyak disebar di Asean, termasuk Indonesia.

“Nah, sekarang bagaimana kita bisa memenangkan itu. Jangan hanya jadi pasar saja,” kata Rudiantara.

Sementara Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Surya Wirawan menyatakan pemerintah telah memiliki peta jalan (road map) industri teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Hal tersebut menjadi salah satu pertanyaan Apple kepada pemerintah.

“Yang penting Apple harus investasi dulu. Tidak usah bicara tingkat kandungan dalam negeri dulu, tetapi investasi diarahkan pada berapa besar bisnis dan lapangan kerja yang akan diciptakan di Indonesia,” kata Putu.

Sejak 2000 silam, lanjut Putu, Indonesia dihadapkan pada Information Technology agreement di mana seluruh barang hardware tidak boleh dikenai tarif. Di sisi ini, pemerintah berusaha mencari cara untuk mengembangkan industri software di Indonesia.

Cara pertama, kata Putu, adalah dengan membuat kerjasama dengan perusahaan besar. Dia menyebutnya Regional ICT Centre for Excelent (RICE). Dengan begitu diharapkan ada perusahaan besar yang memiliki nama baik dunia akan melakukan kerjasama strategis dengan pemerintah Indonesia.

“Tanpa itu pihak kita akan sulit untuk bersaing di pasar global,” ujar Putu.

Cara kedua, lanjutnya, melalui program Incubator Business Centre (IBC) yang berada di sejumlah perguruan tinggi. Program ini ditujukan bagi para lulusan perguruan tinggi yang memiliki kreativitas tinggi dan ingin menjadi wirausahawan.

“Itu yang kami sampaikan tadi. Mereka bilang akan mempelajarinya, dan akan masuk di jalur yang mana,” kata Putu.

Namun Putu sendiri berharap Apple masuk melalui jalur pertama. Kehadiran Apple di Indonesia diharapkan sebagai perusahaan besar yang akan menjadi mitra strategis dari industri software di negara ini.

“Sehingga industri software kita bisa ikut ke tarik ke dunia internasional,” katanya.

Bukan tidak mungkin, ke depan jalur ini akan dijadikan model untuk investasi dengan yang lain, seperti Microsoft, BlackBerry, Google.

“Itu kan industri besar yang sudah punya nama di dunia tapi kita hanya bisa melihatnya di dunia maya. Tanpa tahu kantornya di mana dan tidak tahu investasi mereka di sini apa,” ujar Putu.

Namun pada dasarnya, kata Putu, Apple tidak hanya ingin membangun industri di bidang software. Kalau memungkinkan dan pasarnya besar, lanjutnya, Apple juga akan membangun industri di bidang hardware.

“Tapi memang kelihatannya Apple akan mulai dari software,” kata Putu.

Nilai investasi untuk membangun industri di bidang software, menurut Putu, dinilai dari seberapa besar kreativitas yang akan dibangun. Sebab baginya, ini adalah bisnis kreativitas.

“Ada yang investasi kecil tapi menghasilkan software yang begitu brilian sehingga menghasilkan uang begitu banyak, bisnis dan lapangan kerja yang begitu banyak,” tandasnya.

Putu menilai software sebagai sebuah solusi. Software menciptakan solusi sesuai dengan waktu, tempat dan harganya. “Anak-anak Indonesia punya potensi di situ. Kita akan mencari alat hitung dan alat ukurnya,” katanya. (gen)

August 5, 2016

PT Dirgantara Indonesia Siap Jual 60 Pesawat N 219 Akhir 2017

 Dari : http://defense-studies.blogspot.co.id/
Tribun News 05 Agustus 2016

Pesawat N-219 (photo : BUMN)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso mengatakan bahwa pihaknya siap untuk menjual 60 unit Pesawat N 219 pada akhir 2017 mendatang.

Kata dia, sudah banyak perusahaan dan negara-negara memesan produk hasil karya anak bangsa tersebut.

“Iya saat ini memang sudah banyak yang mau. Asal syaratnya bisa terbang dulu, kalau tidak bisa terbang mereka tidak jadi beli. Target kami 60 unit akhir tahun 2017,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (3/8/2016).

Budi menjelaskan saat ini pesawat tersebut masih dalam tes struktur, sehingga pilot dapat menerbangkan tanpa kendala dan mendapatkan sertifikasi.

Bantuan Airbus

Dia melanjutkan, mengenai sertifikasi pesawat N-219, pihaknya sangat bersyukur dengan kehadiran pihak Airbus yang mau membantu melakukan sertifikasi internasional.

“Ini seperti berkah, tadi yang datang Dirut Military Airbus, Fernando Alonso yang sebelumnya sempat melakukan sertifikasi untuk seluruh unit Airbus komersil,” katanya.

Pesawat N-219 dirancang dapat mengangkut 19 penumpang dalam dua baris.

Bagian kanan 14 tempat duduk (2×7) dan bagian kiri 5 tempat duduk (1×5). Tinggi kabin 1,7 meter, lebih luas dibanding Twin Otter yang tinggi kabin dalamnya hanya 1,5 meter.

Pesawat itu juga dirancang mampu terbang di landasan pendek atau Short Take-Off Landing (STOL) di landasan 500 meter.

(TribunNews)

May 8, 2016

Investasi Prototipe Tank Medium Pindad Mencapai USD30 Juta

07 Mei 2016

Model tank medium Pindad (photo : Defense Studies)

Indonesia-Turki Kembangkan Tank Medium Senilai USD30 Juta

JAKARTA – PT Pindad (Persero) menggandeng perusahaan asal Turki FNSS Savunma Sistemleri (Defense System), untuk mengembangkan tank medium guna memperkuat pertahanan militer kedua negara.

Direktur Utama Pindad, Silmy Karim mengatakan latar belakang kerja sama tank jenis ini karena banyak dipakai di beberapa negara. Dan menjadi potensi bagi kedua perusahaan.

Pengarang buku Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia ini, menerangkan kerja sama ini memakan investasi USD30 juta. Pada tahap awal, kedua negara sepakat menyelesaikan prototipe yang berlangsung sekitar tiga tahun. Tahun ini sudah memasuki tahun kedua setelah proyek dimulai akhir 2015 kemarin.

“Investasinya untuk research and development sebesar USD30 juta untuk dua unit prototipe tank,” katanya kepada Sindonews, Kamis (5/5/2016).

Meski tank prototipe ini belum diberi nama, namun kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini kemampuan tank kolaborasi Pindad dan FNSS mumpuni seperti produksi negara maju lainnya.

Bobot tank tidak lebih dari 30 ton dan dipasang kemampuan teknologi mutakhir terkini. Sehingga bobotnya yang ringan membuatnya akselerasinya sempurna dan lincah.

“Bahkan kami ingin memperingan menjadi 25 ton. Hingga kini, tank-tank medium memiliki berat di atas 30 ton,” katanya.

Selain bobotnya yang lincah, kelebihan lainnya adalah pada kemampuan tembak tank ini yang kaliber pelurunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan pemesanan. Bahkan kaliber yang digunakan juga cukup besar, mulai meriam 105 mm hingga bisa ditingkatkan menggunakan meriam 120 mm. Proyek kedua negara ini ditargetkan selesai untuk dikenalkan kepada publik pada 2017 mendatang.

May 2, 2016

Garbarata Made in Cileungsi Sudah Diekspor ke 13 Negara

Dina Rayanti – detikfinance
Senin, 02/05/2016 14:44 WIB
Garbarata Made in Cileungsi Sudah Diekspor ke 13 NegaraFoto: Rengga Sancaya
Bogor -Indonesia boleh berbangga hati, karena merupakan satu-satunya produsen garbarata atau jembatan naik turun penumpang pesawat di ASEAN. Perusahaan yang membuat garbarata ini adalah PT Kalla Bukaka Tbk (BUKK).

Saat ini Bukaka sudah mampu mengekspor garbarata ke 13 negara, yaitu Jepang, China, Singapura, Thailand, Hong Kong, India, Malaysia, Filipina, Myanmar, Brunei Darusalam, Bangladesh, Chile, dan Australia.

“Bukaka pertama kali ekspor bandara Hachiko di Jepang, saat ini sudah mengkspor ke 13 negara seperti 98 unit ke Jepang, Singapura 52 unit, Hongkong 97 unit, Thailand 20 unit, India 120 unit, Malaysia 62 unit, Filipina 10 unit, Myanmar 9 unit, Brunei Darussalam, Bangladesh, dan chili masing-masing 2, Australia kita sudah masukan tender ada 6 unit pengumuman Juli,” ujar Direktur Operasional Bukaka, Saptiastuti Hapsari, di pabrik garbarata di Cileungsi, Jawa Barat, Senin (2/5/2016).

Ia mengatakan saat ini produsen garbarata hanya ada 5 negara di dunia dan Indonesia merupakan salah satunya. Kompetitor terbesar berasal dari China.

“Di dunia, hanya 5 Jerman, Jepang ada 2, China, dan Indonesia (produsen garbarata), kan ada pesaing dari China, biasanya China suka ketakutan dengan kita dia pasang harga sama dengan kita. jadi memang China raja,” lanjut Hapsari.

Pangsa pasar paling besar berada di India yaitu sebesar 40%. Pabrik garbarata ini telah mempekerjakan 300 karyawan.

“Pangsa pasar asia 40% India 120 unit, Jepang 98 unit, Hongkong 94 unit, Indonesia semua pakai kita termasuk bandara baru yang di Soekarno-Hatta, kecuali kemarin di Batam 2 dari China. Untuk pabrik garbarata sendiri ada 300 pekerja,” tuturnya.

Saat ini Bukaka mampu memproduksi 8 unit garbarata/bulan. Garbarata ini didesain dan dibuat sesuai permintaan.

“Kapasitas produksi 8 unit/bulan,  garbarata didesain sesuai dengan airport, tidak bisa kaya beli mobil, karena tergantung dengan tipe pesawat. Seperti ketinggian terminal kita ikuti rekomendasi, lebar apron kalau terlalu sempit rekomendasi, dari data-data kasih ke engineer mereka buat garbarata tipenya apa dua tunnel atau 3 tunnel. Dua tunnel pesawat biasanya untuk white body Airbus 330 Boeing 747 dan 777, sementara 3 tunnel biasanya untuk boeing 737 semua seri dan Airbus 320, tapi belum pasti begitu tergantung klasifikasinya,” kata Marketing Manager Bukaka, Omar S Ahmad.

(ang/ang)