Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

August 9, 2017

RAI: Pesawat R-80 Dikirim ke Maskapai Pada 2025

Antara,09 Agustus 2017

Model pesawat penumpang R-80 (photo : Detik)

Terbang perdana 2022

Jakarta (ANTARA News) – Pesawat terbang penumpang bermesin turboprop R-80 yang dikembangkan PT Regio Aviasi Industri (RAI) ditargetkan mulai dikirim kepada maskapai pemesan pada 2025 setelah mendapat sertifikasi penerbangan.

Deputi Direktur Keuangan Urusan Pendanaan PT RAI Desra Firza Ghazfan mengatakan uji coba penerbangan perdana ditargetkan pada 2022 kemudian setelah memiliki sertifikasi penerbangan, pesawat R80 siap dikirim.

“Tahun 2022 kita rencana first flight kemudian sertifikasi. Tahun 2025 kita mulai deliver ke maskapai-maskapai,” kata Desra saat ditemui Antara di Habibie Festival JI Expo Kemayoran, Senin.

Ia menyebutkan sejumlah maskapai, seperti NAM Air, Kalstar, Trigana Air dan Aviastar sudah menyatakan minatnya untuk memesan total hingga 155 unit pesawat R-80 melalui Letter of Interest (LOI).

Ada pun maskapai NAM Air memesan pesawat R-80 sebanyak 100 unit, Kalstar 25 unit, Trigana Air 20 unit dan Aviastar 10 unit.

Pengembangan pesawat R-80 resmi masuk dalam proyek strategis nasional pada 2017 dengan kebutuhan pendanaan mencapai 1,5 miliar dolar AS. Pesawat ini merupakan pengembangan dari pesawat N-250 dalam usaha untuk membangkitkan kembali industri dirgantara di Indonesia.

Pesawat R-80 yang menggunakan mesin twin-turboprop merupakan jenis pesawat berkapasitas 80 hingga 92 penumpang dengan target pasar menengah regional.

Keunggulan pesawat ini dari pesaing terdekatnya, yaitu ATR-72 yang digunakan Garuda Indonesia, antara lain lebih efisien, nyaman dan ekonomis terutama untuk jarak dekat dengan jarak tempuh 400-800 nautical mile atau sekitar 1400-1500 kilometer.

“Kalau terbang jarak dekat dengan Boeing 737 tapi hanya setengah penumpang yang terisi, harga tiket otomatis akan lebih mahal karena untuk mengisi kekosongan. Untuk jarak dekat, pesawat baling-baling lebih ekonomis,” papar dia.

(Antara)

August 8, 2017

Su-35 Sementara akan Ditempatkan di Makassar

08 Agustus 2017

Pesawat Su-35 sebagai pengganti F-5 sementara akan ditempatkan di Makassar sambil menunggu infrastrukstur ground handling untuk pesawat buatan Rusia ini tersedia di lanud Madiun (photo : Michael Polyakov)

TNI AU Tempatkan 11 Pesawat Sukhoi Baru di Makassar

Liputan6.com, Yogyakarta – Sebanyak 11 pesawat sukhoi pengganti skuadron F5 di Madiun, Jawa Timur yang dibeli Kementerian Pertahanan akan ditempatkan di Makassar untuk sementara waktu. Sebab, Madiun yang seharusnya menjadi tempat alutsista terbaru milik TNI itu belum memiliki infrastruktur yang memadai.

“Untuk sementara kami tempatkan di Makassar yang sudah siap secara infrastruktur sembari menyiapkan infrastruktur di Madiun, kalau sudah siap baru dipindah,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Yogyakarta, Senin (7/8/2017).

Hadi menjelaskan, Kementerian Pertahanan sudah memproses pembelian pesawat sesuai dengan spesifikasi yang diajukan oleh TNI AU. Pesawat Sukhoi generasi 4,5 plus diklaim memiliki kemampuan manuver yang lebih unggul.

“Normalnya, pesan pesawat, hari ini ditandatangani, 1-2 tahun baru datang,” ucap dia.

Hadi juga menegaskan akan menjaga pesawat sukhoi baru ini sebagai pesawat kebanggaan rakyat.

(Liputan6)

May 25, 2017

Kunjungi Indonesia, Raja Swedia Pastikan Pembelian Pesawat Tempur Gripen ?

Sebagai warganegara RI dan pembayar pajak saya sih setuju banget kerjasama dengan negara Skadinavia : Finland Swedia Norwegia dan Denmark..  Transfer of technology  bisa lebih baik dari mereka dan juga kwalitas produk mereka SANGAT mumpuni.. Coba bandingkan dengan produk dari RRT China… ampun deh ( Norinco cs) , itu sih sama saja  cari celaka.

 

 

 

dari  http://militermeter.com/kunjungi-indonesia-raja-swedia-pastikan-pembelian-pesawat-tempur-gripen/

Kunjungan Raja Swedia Carl XVI Gustaf ke Indonesia pada Senin 22 Mei 2017 bertujuan meningkatkan hubungan ekonomi dan bisnis, termasuk kerja sama bidang pertahanan.

Indonesia dan Swedia berencana melakukan kerja sama di bidang militer termasuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan pesawat tempur JAS 39 Gripen.

Hal ini sebagai tindak lanjut hasil pertemuan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dengan Menteri Pertahanan Swedia Carl Anders Peter Hultqvist di Stockholm, Swedia, awal Mei 2017.

Pembelian sistem teknologi militer jet tempur JAS 39 Gripen yang diproduksi SAAB sebagai bagian dari peremajaan alutsista yang sudah tua.

“Kementerian Pertahanan memang sedang membicarakan masalah pembelian alutsista dari Swedia. Mengenai berapa jumlahnya dan mekanismenya, sedang dalam pembicaraan,” kata Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pertahanan, Kolonel (Arm) Totok Sugiarto, Selasa (23/5/2017).

Pembelian alutsista dari negara Skandinavia itu juga berlandaskan UU Pertahanan Negara, yakni harus ada kesediaan memberikan produksi offset, koordinasi secara sistem government to government (G to G), dan transfer teknologi yang melibatkan industri pertahanan lokal dari BUMN.

Menurut Totok, pembelian tersebut sebagai wujud dari pembangunan kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/ MEF). Sejauh ini, kata lelaki kelahiran Madiun itu, kekuatan alutsista Indonesia di atas Israel.

“Saat ini keberadaan alutsista Indonesia di atas Israel, dari segi jumlah dan teknologi. Jadi kita harus bangga. Namun masih di bawah Pakistan,” terangnya.

Dengan pembelian serta produksi dari industri pertahanan dalam negeri, kata dia, hal itu akan meningkatkan kekuatan pertahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman potensial dan ancaman faktual.

Selain dari Swedia, Kemhan juga akan membeli alutsista dari Rusia dengan sistem imbal dagang.

Sumber: sindonews.com

May 19, 2017

Malfungsi senjata eks China (Norinco)

Sudah saatnya TNI melakukan moratorium pembelian alutsista dari China ( RRC/T). Setelah roket C705  yang gagal meluncur sekarang meriam anti pesawat terbang Giant Bow ngadat dan menewaskan tentara dan perwira  TNI..  Usut siapa yang memberikan rekomendasi pembelian alutsista eks China ?? Periksa,  tangkap dan adili !  Tangkap oknum petinggi TNI /  Dephan sudah menerima dan menikmati “angpaw “dari Norinco /Chang Chong atau terima angpau dari broker senjata Norinco di Indonesia.

 

Mau tunggu apa lagi ? Kebayang TNI membali JF 17 Pesawat buatan Pakistan-China.. apa jadinya kekuatan TNI AU ??? Sebelum pergi berperang sudah mencelakan awaknya di darat ..

Diunduh dari situs http://militermeter.com/

Spesifikasi Meriam Giant Bow Yang Menewaskan 4 Prajurit TNI di Natuna

4 Prajurit TNI gugur dan 8 lainya dilaporkan mengalami luka-luka dalam gladi bersih latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Natuna, Kepulauan Riau.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh mengatakan, jenazah empat orang prajurit TNI AD yang menjadi korban dalam insiden kecelakaan latihan di Natuna telah diberangkatkan menuju ke daerah asal masing-masing.

“Jenazah almarhum Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru, jenazah almarhum Kapt Arh Heru Bahyu ke Padang, jenazah almarhum Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang, dan jenazah almarhum Praka Edi ke Palopo,” kata Alfret dalam keterangan resmi, Kamis (18/5/2017).

Para prajurit menjadi korban malfungsi meriam kanon 23mm/Giant Bow II buatan China. Menurut Alfret, meriam pertahanan udara tersebut dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K.

Namun saat digunakan, diduga sistem mekanisnya macet. Sehingga arah tembakan yang seharusnya ke atas malah ke samping menembaki personel TNI di sekelilingnya.

Tim dari TNI AD tengah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab insiden tersebut “Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI,” ucap Alfret.

Spesifikasi Kanon Giant Bow Buatan China.

Meriam ZU-23 atau kanon Giant Bow merupakan senjata penangkis serangan udara jarak sedang, buatan negara China yang diproduksi tahun 2000.

Perangkat ini terdiri dari meriam 23 mm/Giant Bow dan kendaraan BCV (Battery Command Vehicle). Meriam 23 mm/Giant Bow adalah kategori twin gun dengan kaliber ganda, ukuran peluru 23milimeter.

Alutsista ini merupakan senjata efektif untuk melawan sasaran di udara yang terbang rendah serta memberikan aplikasi pengoperasian pertahanan udara dengan mobilitas tinggi. Saat ini kanon Giant Bow digunakan Arhanud TNI AD sebagai pertahanan titik. Konon, TNI memiliki belasan unit yang tersebar di satuan Arhanud TNI AD.

Meriam ini dapat dioperasikan dalam tiga mode yakni Mode otomatis penuh (dikendalikan secara penuh dan otomatis melalui BCV). Yang kedua adalah mode semi otomatis (Di kendalikan dengan dukungan tenaga listrik dari baterai yang di miliki meriam itu sendiri).

Ketiga adalah mode manual yaitu di kendalikan oleh awak meriam. Kendaraan BCV bukan hanya sebagai sistem komando namun merupakan FCS (Firing Control System) dari senjata meriam 23 mm/Giant Bow.

Pabrikan senjata Norinco milik negara China ini, mengembangkan Giant Bow dari senjata yang sama atau jiplakan buatan Soviet yang benama Zu-23- 2 Sergey. Di Indonesia senjata pertahanan udara sejenis Giant Bow ini juga sudah digunakan sebelumnya yaitu turunan dari Zu-23-2 yang modern yakni Zur-23-2KG Gun/ Misille.

Meriam Buatan China Salah Sasaran, 4 Prajurit TNI Gugur Saat Latihan di Natuna

4 Prajutit TNI dilaporkan meninggal dunia menjadi korban akibat meledaknya meriam kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm sedangkan 12 lainya menderita luka-luka dalam gladi bersih latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk, Natuna, Kepri, Rabu (17/5/2017) sekitar pukul 11.21 WIB.

Kejadian itu bermula saat gladi bersih latihan PPRC dan gladi bersih pengamanan RI 1 di Aula Kartika dan Tanjung Datuk Teluk Buton. Gladi dimulai pukul 10.00 WIB dan dihadiri oleh Panglima TNI.

Pada saat latihan dimulai pukul 10.21 WIB, sebuah drone melintas di atas meriam pertahanan udara kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm Stelling. Masing-masing penembak yang siap di belakang kanon mulai melakukan penembakan ke arah drone sebagai bentuk latihan menembak ancaman dari udara.

Namun, pucuk 8 diduga mengalami los kendali pada penyekat kiri yang mengakibatkan penembak tidak dapat mengendalikan pucuknya.

Meriam Giant Bow kaliber 23mm

Diduga, moncong meriam tidak terkendali dan arah tembakan membabat ke arah sekitarnya. Dari kejadian tersebut mengakibatkan 12 korban jiwa, 4 meninggal dunia, 6 luka berat, dan 2 orang luka ringan. Korban kecelakaan berasal dari Satuan Yon Arhanud I Kostrad.

Nama-nama korban:
1. Danrai Kapten Arh Heru Bayu (meninggal dunia)
2. Pratu Ibnu Hidayat (meninggal dunia)
3. Pratu Marwan (meninggal dunia)
4. Praka Edy (meninggal dunia)
5. Pratu Bayu Agung (Luka Berat)
6. Serda Alpredo Siahaan (Luka Berat)
7. Prada Danar (Luka Berat)
8. Sertu B Stuaji (Luka Berat)
9. Serda Afril (Luka Berat)
10. Sertu Blego Switage (Luka Berat)
11. Pratu Ridai (Luka Ringan)
12. Pratu Didi Hardianto (Luka Ringan)

Hingga saat ini korban meninggal dunia dan luka berat telah dibawa ke RSUD Natuna dan akan dievakuasi ke rumah sakit di Kalimantan Barat. Untuk korban luka ringan dirawat di tenda pengungsian dan Rumah Sakit Sementara.

Penampakan meriam Giant Bow II 23mm

Sumber: batamnews.co.id

 

++++++++++++++++

 

TNI-AD Tarik Seluruh Meriam Giant Bow

20 Mei 2017

Meriam Giant Bow II 2x23mm Kostrad TNI AD (photo : kostrad)

NATUNA – Investigasi insiden yang mengakibatkan empat prajurit Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad berlanjut. Polisi Militer TNI-AD (Pomad) masih menggali data mengenai insiden tersebut. Berdasar laporan terakhir, meriam Giant Bow yang mengalami gangguan berada dalam kondisi baik.

Insiden itu terjadi ketika latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) Rabu lalu (17/5)

Berdasar informasi di lokasi kejadian, sejumlah perubahan dilakukan pasca kejadian. TNIAD tak hanya mengerahkan petugas untuk mengidentifikasi insiden tersebut. Tapi juga menarik mundur seluruh meriam Giant Bow yang semula turut serta dalam latihan.

Total ada sembilan Giant Bow yang ditarik. Selain Giant Bow yang mengalami gangguan, delapan lainnya turut ditarik mundur. Meski demikian, Mabes TNI-AD memastikan bahwa alutsista tersebut tetap siap siaga. ” Yang diidentifikasi hanya satu,” terang Kadispen AD Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh kemarin. Dia menekankan kembali bahwa alutsista itu berada dalam kondisi baik. Sebab, Yon Arhanud 1/ Divisi Infanteri 1 memeriksa peralatan tersebut sebelum dibawa ke Natuna.

”Dipelihara dengan baik di satuan Yon Arhanud 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad,” ungkap dia kepada Jawa Pos kemarin (18/5). Namun, Denny belum bisa memastikan insiden tersebut bersumber dari malfungsi alutsista atau kesalahan prajurit. Berkaitan dengan hal itu, POM TNI-AD mendapat tugas untuk menginvestigasi insiden tersebut. ”Tim dari TNI-AD masih, sedang, dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” terangnya. Hasil investigasi tersebut bakal dihimpun dan dilaporkan langsung kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai pemegang komando PPRC TNI.

Meriam Giant Bow II 2x23mm diatas truk Isuzu Elf NPS 4×4 milik Batalyon Arhanud Ringan 1 Kostrad TNI AD (photo : vidio)

Denny memastikan, setiap korban yang terdampak insiden di lokasi latihan PPRC TNI diurus dengan baik. Itu merupakan bentuk tanggung jawab TNI-AD terhadap para korban peristiwa tersebut. Jenazah empat prajurit yang gugur dalam latihan yang puncaknya diselenggarakan hari ini (19/5) tersebut sudah berada di tengah keluarga masing-masing. ”Rabu malam (17/5) jenazah empat prajurit TNI-AD telah diberangkatkan menuju daerah asal masing-masing,” ujarnya.

Jenazah Danrai Kapten Arh Heru Bayu dibawa ke keluarganya di Padang, Sumatera Barat. Jenazah Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru, Riau. Lalu, jenazah Praka Edy ke Palopo dan jenazah Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang. Seluruhnya dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan dari TNI-AD kepada prajurit.

Sementara itu, kondisi delapan korban luka terus dipantau. Laporan terakhir menyebutkan, kondisi empat korban luka ringan membaik. Mereka adalah Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto, dan Pelda Dawid. ”Mereka berobat jalan,” kata Denny. Bahkan, Pelda Dawid yang berasal dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI sudah keluar dari rumah sakit. Empat korban lainnya, Serda Alfredo Siahaan, Sertu Blego, Prada Wahyu Danar, serta Pratu Bayu Agung, masih dirawat secara intensif di RS Kartika Husada Pontianak. Mereka mengalami luka berat.

Meski insiden di Natuna merenggut empat nyawa prajurit TNI-AD, puncak latihan PPRC hari ini dilaksanakan sesuai dengan agenda. Kemarin seluruh prajurit TNI yang terlibat memang sudah tidak berlatih. Namun, persiapan dilakukan dengan matang. Sebab, bukan hanya panglima TNI dan kepala staf masing-masing angkatan yang dijadwalkan hadir. Presiden Joko Widodo pun turut menyaksikan langsung agenda tersebut. Bersama Gatot, Presiden Jokowi akan memimpin seremoni pembaretan gubernur-gubernur yang turut hadir.

(Jawa Pos)

+++++++++++++++++

 

May192017

 

Jakarta – TNI didesak untuk menginvestigasi secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa sebenarnya terjadi di lapangan terkait meledaknya meriam “Giant Bow” saat digunakan oleh tim Pasukan Pemukul Reaksi Cepat.

Meriam “Giant Bow bermasalah saat gladi bersih di Tanjung Datuk, Natuna pada (17/5/2017), ujar anggota Komisi I DPR Sukamta.

“Apapun hasil investigasinya, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista menjadi suatu keharusan dan keniscayaan,” ujar Sukamta di Jakarta, 18/5/2017.

Dia mengatakan, Indonesia harus meningkatkan kemampuan, kedisiplinan dan kesejahteraan prajurit TNI.

Hal itu disebabkan semua senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya seperti meriam ‘giant bow’ yang memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik.

“Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main,” ujarnya.

Sukamta menilai setidaknya ada dua kemungkinan penyebab peristiwa itu, bisa karena kerusakan teknis senjatanya yaitu ‘Giant Bow’ bermerek Chang Chong.

Selain itu, dia menilai, bisa disebebkan kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya atau bisa jadi karena kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah “human error” karena panik.

“Kecelakaan yang menimpa TNI sudah beberapa kali terjadi, pesawat jatuh, helikopter jatuh. Bisa jadi faktor penyebabnya karena human error atau memang alutsistanya dan belakangan juga terjadi rudal C705 terlambat meledak saat uji coba di KRI Banjarmasin September 2016,” ujarnya.

Politisi PKS itu juga menilai pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (alutsista) harus diperketat pengontrolan kualitasnya dan juga terus mendorong peningkatan alutsista TNI, tidak hanya kuantitasnya namun aspek kualitas juga harus diprioritaskan.

Menurut dia, lebih baik memiliki jumlah alutsista tidak banyak tapi berkualitas dari pada punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas, karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan kita sendiri.

Sebelumnya, sebuah meriam yang digunakan gladi bersih oleh tim PPRC di Tanjung Datuk, Natuna mengalami masalah pada Rabu (17/5). Moncong meriam yang seharusnya mengarah ke atas justru berbalik arah.

Antara

+++++++++++++++++

Sep062015

 

MLRS 122mm Norinco

Indonesia telah menandatangani kontrak pembeian MLRS 122mm Norinco China, pada bulan Agustus 2015. Di awal bulan Agustus 2015, pihak Kementerian Pertahanan Indonesia telah diundang oleh Norinco China ke pabrik mereka.

MLRS 122mm Norinco

Undangan ini untuk menyaksikan langsung kemampuan MLRS 122mm, seperti SR2. Kerja sama alutssita ini akan terus ditingkakan oleh kedua lembaga.

AA Gun with FCS Air Defense System, Norinco

Dari Norinco, Indonesia juga membeli alutsista AA Gun with FCS Air Defense System. Kontrak pembelian itu efektif berlaku pada awal tahun ini. Norinco akan terus meningkatkan kerjasama bidang militer dengan Indonesia, khususnya di bidang pertahanan udara. Termasuk up grade AA Gun manual bersama PT Pindad. Norinco dan Indonesia juga sedang membuat konstruksi baru dari missile gun integrated air defense network.

by Semar Mendem

+++++++++++++++++++++++++++

Indonesia Mendapatkan Lisensi Produksi 3 Jenis Senjata dari China

13 Maret 2015

Peluncur roket laras banyak Type 90B MLRS (photo : Militaryphotos)

(Kien Thuc) – Indonesia akan mendapatkan teknologi produksi tiga senjata dari China termasuk Type 90B, meriam otomatis 30mm dan RCWS jenis UW-1.

Jurnal Kanwa (Kanada) melaporkan bahwa China North Industries Corporation (Norinco) telah memberikan lisensi produksi atas teknologi tiga senjata China kepada IndoMesin dari Indonesia, termasuk peluncur roket berlaras 40 dengan kaliber 122 mm Type 90B, sistem senjata remote control weapon station UW-1 dan meriam laut (naval gun) kaliber 30mm.

Senjata-senjata ini akan diproduksi di Indonesia dan akan melengkapi Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Dalam tahap awal Indonesia hanya bertanggung jawab untuk perakitan, sedangkan semua komponen dipasok oleh Norinco, di waktu kemudian Indonesia akan memproduksi sendiri. Namun senjata ini hanya diperbolehkan untuk digunakan oleh militer Indonesia, dan tidak diperbolehkan untuk ekspor.

UW-1 Remote Control Weapon Station (RCWS) buatan Norinco (photo : China Defense Mashup)

Dalam beberapa tahun terakhir, kerjasama militer – kerjasama teknis antara Indonesia dan China semakin menguat. Indonesia bukan hanya membeli sistem persenjataan China namun juga membeli teknologi produksi. Contohnya adalah dalam hal pengadaan rudal jelajah anti-kapal C-705, Indonesia membeli 18 set rudal dari China dan kemudian meminta lisensi produksi.

Peluncur roket Type 90B dirancang dari peluncur roket Type 81 yang telah ditingkatkan kemampuannya, berasal dari duplikasi China atas peluncur roket BM-21 Grad buatan Uni Soviet. Tipe 90B ditempatkan pada platform chasis kendaraan 6×6 roda ban jenis Beifang Benchi 2629. Roket dengan 40 laras ukuran 122 mm ini dapat mencapai jarak pada kisaran 20-40 km tergantung pada jenis roketnya.

Meriam 6 barrel 30mm jenis NG-18 buatan Norinco (photo : Kaskus Militer)

Perbedaan utama antara Tipe 90B dibandingkan dengan peluncur roket generasi sebelumnya terletak pada tambahan kendaraan pengintai artileri (artillery reconnaissance vehicles) yang secara signifikan meningkatkan ketepatan daya tembak MLRS ini.

Sedangkan UW-1 Remote Control Weapon Station (RCWS) dapatdiintegrasikan dengan senjata mesin ringan otomatis kaliber 14,5 mm atau 12,7 mm yang dilengkapi dengan peralatan surveilance modern termasuk kamera CCD warna dan alat bidik berpemandu inframerah.

Nama meriam otomatis 30 mm masih belum diketahui, namun menurut pejabat Indonesia senjata ini dapat menembak dengan kecepatan 320 putaran/menit, jangkauan maksimum 4.000 meter, dan dipasang pada kapal patroli kecil. Selain itu, informasi ini juga menyebutkan bahwa Indonesia sedang melakukan negosiasi untuk membeli teknologi meriam 76 mm dari China.

(Kien Thuc)

May 11, 2017

PAL-Filipina Bahas SSV 3 dan SSV 4 dengan Tipe yang Berbeda

10 Mei 2017

Desain awal kapal rumah sakit Angkatan Laut Filipina (photo : Navy Recognition)

PT PAL Akan Buat Kapal Angkut untuk Militer Filipina

Liputan6.com, Jakarta Indonesia melalui BUMN, yaitu PT PAL Indonesia (Persero) telah mengirim kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) kedua ke angkatan militer Filipina. Kapal itu dinamakan BRP Davao Del Sur LD 602.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan,‎ Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, pesanan kapal dari Filipina tidak berhenti di situ. Harry mengaku Indonesia masih memproses pembuatan kapal pesanan Filipina ke 3 dan ke 4 dengan tipe yang berbeda.

“Sudah ada pembicaraan dengan Filipina, rencana ada SSV 3 dan SSV 4,” tegas Harry saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Selasa (9/5/2017).

‎Dijelaskannya, meski dua kapal yang dipesan itu memiliki tipe yang sama, namun Militer Filipina menginginkan memiliki fungsi khusus. Satu sebagai kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit, dan satu sebagai markas pasukan.

Dalam kapal rumah sakit ini, nantinya dijadikan cover kesehatan bagi para pasukannya yang tengah melakukan operasi di daerah-daerah pertempuran.‎ Di dalamnya akan ada laboratorium hingga ruang perawatan.

Sementara untuk kapal markas pasukan, nantinya akan digunakan militer Filipina dalam memberantas perompak-perompak di perairannya.

“‎Nanti juga dilengkapi dengan senjata. ‎Filipina ini negara kepulauan seperti Indonesia, sehingga pemberontak-pemberontak akan dimasukkan ke kapal, sehingga tidak perlu turun ke darat. Nah SSV ini cocok,” papar Harry.

(Liputan6)

May 10, 2017

Wow Keren, Tank Modern FNSS – Pindad

May102017

 

Setelah ditunggu tunggu sejak Indo Defence November 2016 di Jakarta, prototype tank Medium FNSS-Pindad akhirnya muncul juga di pemeran IDEF 2017, Istanbul Turki. Bahkan pada tank medium ini telah terpasang gambar bendera Turki – Indonesia.

Tank Medium KAPLAN membawa sebuah nafas baru ke medan perang dengan kemampuan tembakan langsung yang akurat, berbagai pilihan amunisi mulai dari dukungan tembakan (close fire support) hingga amunisi anti-tank. Tank ini juga memiliki mobilitas taktis dan strategi yang superior.

Tank Medium KAPLAN didukung oleh power pack di bagian belakang kendaraan, yang memberikan rasio power-to-weight sekitar 20 HP / ton. Mesin memindahkan tenaga ini ke sistem penggerak, yang memiliki sistem suspensi anti-shock enam roda dengan tuas ganda yang dipasang pada torsi. Daya tembak tank disediakan oleh CMI Cockerill 3105 turret, terintegrasi dengan senapan tekanan tinggi 105mm Cockerill dan autoloader tingkat lanjut. Berkat turret ini, tank medium KAPLAN memiliki kekuatan senjata yang tinggi meski bobotnya relatif rendah.

FNSS menyebut tank ini KAPLAN Modern Medium Weight Tank yang dipamerkan kepada pengunjung di IDEF 2017 dengan prototipe siap uji.

Bagian dalam kendaraan direkayasa dengan hati-hati dengan mempertimbangkan ergonomi awak kapal dan kondisi taktis dan medan perang yang berbeda, termasuk pengemudi, penembak dan amunisi bongkar muat. Tipe khusus kursi pengemudi memungkinkan operator memiliki bidang pandang yang memadai, dan untuk mengakses semua peralatan kabin. Tank Medium KAPLAN juga dilengkapi dengan sistem manajemen medan perang dan sistem peringatan laser yang memberikan kesadaran taktis kepada komandan kendaraan.

“Tank Medium KAPLAN adalah kendaraan yang sangat spesial. Pada tahap selanjutnya, saat kami akan menunjukkan kinerja kendaraan di lapangan, keefektifan desain ini akan ditunjukkan dengan lebih jelas”, ujar K. Nail Kurt, General Manager dan CEO FNSS.

 

K. Nail Kurt, melanjutkan :” Kami sangat senang bisa mengembangkan kendaraan ini bersama dengan mitra kami di Indonesia. FNSS telah berhasil menerapkan model kerjasama yang berbeda selama bertahun-tahun. Di Malaysia, kami sedang melakukan proyek AV8 dengan mitra bisnis kami DEFTECH. Di Arab Saudi, kami mengoperasikan pabrik milik negara melalui perusahaan patungan kami, FNSS ME. Di Indonesia, kita menerapkan model yang berbeda dimana kita bersama-sama mengembangkan produk. Dengan teknologinya dan pengalamannya, FNSS siap untuk bekerja sama dengan negara-negara yang bersahabat dan bersekutu dengan model kerjasama yang berbeda”.

Belum diketahui jelas apakah tank medium Pindad akan sama persis dengan tampilan medium tank Kaplan yang dimunculkan FNSS di IDEF Turki, atau Pindad akan mengeluarkan prototype dengan varian yang berbeda.

Monch.com

May 9, 2017

Gaji Prajurit TNI Saat Jalani Tugas PBB di Luar Negeri

Pantes.. Pakistan dan Bangladesh kirim sampai 10 batalyon untuk ikutan jadi pasukan PBB.. Indonesia harusnya kirim lebih banyak lagi.. minimal 10 Bat deh, biar prajurit TNI sejahtera dan makin profesional.

dari Militermeter.com

http://militermeter.com/gaji-prajurit-tni-saat-jalani-tugas-pbb-di-luar-negeri/

Mungkin banyak yang bertanya-tanya soal pendapatan prajurit TNI yang mendapat tugas menjadi Prajurit Garuda PBB di Luar Negeri. Ya, mereka memang mendapat gaji juga dari pihak PBB dengan cukup besar.

Ambil contoh Satgas Yon Komposit TNI Konga XXXV-B/Unamid (United Nations–African Union Mission in Darfur) Sudan Afrika yang baru saja pulang dan disambut di Yonif 623/Bhakti Wira Utama.

Selain telah berjasa kepada dunia sebagai bagian pasukan dari PBB, para prajurit yang menyelesaikan tugas juga membawa hasil yang cukup besar untuk menambah pendapatan jeluarga.

Diungkapkan Pangdam VI/Mulawarman Mayor Jenderal TNI Sonhadji, Senin (8/5) di Yonif 623/Bhakti Wira Utama Banjarbaru, setiap prajurit yang ditugaskan ke luar negeri akan mendapatkan gaji dari PBB.

Menurut indeks gaji yang mereka terima, satu orang prajurit harus menyisihkan 1.000 dolar perbulan dari gajinya terlepas dari biaya makan dan lain-lain.

“Kalau mereka setiap bulan menabung 1.000 dolar, sementara mereka bertugas selama setahun berarti 12.000 dolar kalau dirupiahkan maka akan lebih dari 100 juta,” jelasnya.

Nilai itu ungkapnya bahkan nilai minimal yang dibawa pulang para prajurit ke Tanah Air.

Namun ia mengimbau kepada para prajurit yang tiba agar tak menghabiskan uang mereka sia-sia. “Jangan sampai digunakan untuk yang tak bernilai aset,” ucapnya.

Seperti diketahui para prajurit yang ditugaskan ke Darfur Sudan dikirim selama setahun 20 hari.

sumber: tribunnews.com

May 3, 2017

Jokowi Diminta Evaluasi Menhan & Panglima TNI

RAKER ANGGARAN PERTAHANAN

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta mengevaluasi kinerja Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Pasalnya, berbagai kebijakan di sektor pertahanan kerap tidak sejalan dengan agenda reformasi pertahanan yang dicita-citakan dalam Nawacita.

Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf mengatakan, agenda reformasi pertahanan bukan hanya jalan di tempat. Dalam sejumlah isu, kebijakan yang dikeluarkan Menhan dan Panglima TNI justru mundur ke belakang.

Karena itu, bagi Al Araf, perlu regenerasi di pucuk pimpinan kedua institusi tersebut. Tujuannya, agar agenda reformasi pertahanan bisa kembali ke rel yang tepat.

“Ada agenda-agenda reformasi pertahanan yang harusnya didorong malah macet dalam dua setengah tahun kepemimpinan Menhan Ryamizard dan Gatot. Karena itu, perlu ada evaluasi menyeluruh. Tidak ada salahnya Jokowi melakukan regenerasi,” ujar Al Araf dalam diskusi Evaluasi Bidang Pertahanan dan Menimbang Pergantian Panglima TNI dan Menhan di Kantor Imparsial, Tebet, Jakarta, Selasa 2 Mei 2017.

Al Araf menjelaskan, setidaknya ada 7 tolok ukur yang bisa digunakan untuk menilai kinerja keduanya. Pertama, bidang legislasi. Kedua, kebijakan. Ketiga, implementasi kebijakan. Keempat, profesionalisme aktor. Kelima, efektivitas pengawasan. Keenam, pengelolaan angaran. Dan terakhir, perspektif hak asasi manusia (HAM).

Terkait legislasi misalnya, Al Araf mengatakan, hingga kini Menhan dan Panglima TNI belum memasukan perubahan UU Nomor 31 Tahun 97 tentang Peradilan Militer dan RUU Perbantuan Militer dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).

“Tapi justru RUU Kamnas (Keamanan Nasional) yang dengan substansi yang sama dengan dulu yang mengancam demokrasi,” ujarnya.

Di sisi lain, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irine Hiraswari Gayatri mengatakan, ada upaya TNI kembali ke ranah sipil dengan menandatangani nota kesepahaman bersama sedikitnya 30 institusi dan lembaga. Dalam kesepakatan-kesepakatan itu, prajurit-prajurit TNI diperbantukan untuk tugas-tugas sipil yang bukan keahlian mereka.

“Sejauh mana militer itu bisa masuk ranah sipil. Itu harus diperhatikan. Sekarang sudah sekitar 30 MoU. Outputnya apa? Ini juga perlu dievaluasi. Seharusnya ada keputusan politik kalau TNI itu diperbantukan di ranah sipil,” ujarnya.

Deputi Direktur Riset Elsam Wahyudi Djafar menambahkan, mandeknya agenda reformasi pertahanan berimbas pada sulitnya menuntaskan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM berat di masa lalu. Terlebih, sejumlah pensiunan TNI yang diduga melanggar HAM di masa lalu juga masih bercokol di pemerintahan Jokowi-JK.

sumber: metrotnews.com

May 2, 2017

Enam BUMN Strategis Gelar Penjualan Bersama

Sebanyak enam BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang tergabung dalam “cluster” “National Defence and Hightech Industry” (NDHI) sepakat melakukan penjualan bersama produk melalui pameran yang digelar di Indonesia maupun di luar negeri.

Siaran pers BUMNIS yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu menyebutkan keenam BUMN tersebut adalah PT Dahana (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), PT Industri Nuklir Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero), serta PT Pindad (Persero).

Ketua Konsolidasi BUMNIS yang juga Sekretaris Perusahaan PT Dahana (Persero) Mamat Ruhimat mengatakan sinergi BUMNIS itu bagian dari peta jalan (roadmap) BUMN 2015-2019.

Dijadwalkan, cluster NDHI yang dibentuk pada 22 November 2015 ini akan berpartisipasi pada ajang “Indonesia and Business Development Expo” (IBD) dan “RiTech Expo 2017” pada Agustus dan September 2017.

Sebelumnya pada Juni 2017 di Tokyo, tiga BUMN NDHI, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Pindad (Persero) serta PT PAL Indonesia dari cluster “National Shipbuilding and Heavy Industry” (NSHI) juga mengikuti pameran pada MAST Asia 2017.

“Konsolidasi ini tidak hanya menjadi ajang mengejar target penjualan, tapi juga untuk menggodok sejumlah kesepakatan untuk bersinergi dalam melakukan publikasi bersama,” ujarnya.

Publikasi bersama juga telah dilakukan antara lain di media sosial Twitter, Facebook, Youtube, dan Instagram yang membawa bendera NDHI BUMN, dilanjutkan dengan launching website dan E-Bulletin NDHI pada IBD Expo.

Menurut Mamat, konsep publikasi ini sebagai jalan memperkokoh agenda sinergi BUMN, sekaligus menggali kompetensi masing-masing perusahaan.

“Target publikasi bersama ini memberikan peluang kolaborasi antar-BUMNIS atau partner BUMNIS lainnya. Apabila masyarakat ingin lebih tahu tentang NDHI kami persilahkan untuk dapat mengikuti atau follow media sosial NDHI,” ujarnya.

Sumber : antaranews.com

April 22, 2017

LM’s Sniper Targeting Pod for Indonesia

hmm makin canggih F 16 TNI AU

dari defense-studies,blogspot.co.id

21 April 2017

Sniper advanced targeting pod for F-16 figthers (photo : f16-net)

US sells fighter jets in US$10 billion deals with Indonesia

U.S. and Indonesian companies are signing 11 commercial and investment agreements during U.S. Vice President Mike Pence’s visit to Jakarta that the two governments say are worth a combined US$10 billion over time.

The deals include Lockheed Martin providing an advanced weapons targeting system for Indonesia’s F-16 fighter jets, ExxonMobil selling 1 million tons of liquid natural gas to state-owned oil and gas company Pertamina for 20 years starting in 2025,

Honeywell supplying turboprop engines to Indonesian aerospace company Dirgantara Indonesia, and a US$2 billion electricity metering system organized by a consortium of companies.

Pence told business leaders today the signings represent the “tremendous excitement” that U.S. based companies feel about investing in Indonesia.

The deals were announced as part of Pence’s meetings with Indonesian-based business leaders. The vice president was departing for Australia later today.

(The Standard)