Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

July 16, 2018

Pindad Targetkan Mampu Produksi 100 Medium Tank di 2019

sumber dari defense-studies blogspot dan /jakartagreater.com

16 Juli 2018

Tank medium Pindad-FNSS (photo : Pindad)

BANDUNG – PT Pindad (Persero) menargetkan membuat 100 unit medium tank yang saat ini masih dalam proses pengujian. Selain untuk memenuhi kebutuhan TNI, tank tersebut juga bakal di ekspor.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja mengatakan, setelah medium tank Pindad menjalani serangkaian pengujian dan sertifikasi, Pindad akan memproduksi massal pada 2019.

“Setelah ini selesai disertifikasi, akan dilanjutkan produksi. Sertifikasi fokus pada mobilitas dan daya gempur. Bagaimana mobilitas dan kemampuannya menggempur musuh,” kata Ade seusai seminar uji ledak ranjau medium tank Pindad di Grha Pindad, Kota Bandung, Jumat (12/7/2018).

Menurut dia, dalam satu tahun Pindad mampu membuat medium tank hingga 100 unit. Namun kapasitas maksimal itu bisa berjalan bila tak ada order kendaraan tempur lainnya. “Lini produksi sudah siap. Mesin berukuran besar akan datang akhir 2018,” ujar dia.

Selain mengandalkan lini produksi sendiri, Pindad juga akan melibatkan sekitar 50 usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memproduksi komponen tertentu. Bila nantinya diproduksi dalam skala besar, diperkirakan akan ada 100 UKM yang terlibat.

“Medium tank ini akan kami improve terus. Sehingga mungkin akan berbeda dengan yang kita buat di Turki. Tetapi intinya kami akan berusaha memenuhi semua spesifikasi yang dibutuhkan TNI. Bila semua terpenuhi, kami yakin medium tank Pindad akan menjadi yang terbaik di kelasnya,” pungkas dia.

Soal proyeksi, TNI diperkirakan akan mengganti tank AMX yang saat ini sudah tua. Diperkirakan ada 400 tank yang perlu diganti. Selain itu, ada negara tetangga yang siap melakukan pemesanan. Namun Ade belum bisa menyebut nama dan kebutuhan negara tersebut.

(SindoNews)

Jul142018

 

Batujajar – PT Pindad bersama FNSS Turki melakukan tes uji ledak ranjau terhadap satu prototipe medium tank seri turret 105 mm di Pusdikpassus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis, 12/7/2018, dirilis Kompas.com.

Bahan peledak berupa TNT seberat 10 kilogram ditaruh pada track, untuk mengetahui sejauh mana kekuatan struktur medium tank dalam menahan ledakan dari bawah.

Setelah diledakkan, terlihat konstruksi medium tank yang masih kokoh di atas lubang bekas ledakan. Tank hanya mengalami kerusakan di bagian roda (boogey wheel) dan rantai yang putus.

“Secara kasat mata dapat dikatakan berhasil. Tujuan tes ini untuk memastikan tidak terjadi kerusakan terhadap struktur kendaraan tempur,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagja.

“Komponen yang copot akibat ledakan dapat diperbaiki seperti track yang patah dan boogey wheel yang rusak,” ujarnya. Medium tank ini masih akan diteliti untuk mengetahui tingkat cedera terhadap pengemudi dan operator turret pasca diledakkan.

“Fatal atau tidak besaran kuantitafnya dapat dilihat beberapa hari ke depan,” jelasnya.

Tujuan uji ledakan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif tentang perancangan maupun pengujian perlindungan kendaraan tempur terhadap ledakan ranjau sesuai standar internasional STANAG 4569.

Uji ledak berikutnya direncanakan dengan TNT 8 kilogram disimpan di bawah hull tank medium tersebut.

Pemasaran Tank Medium

PT Pindad dan FNSS Turki telah menyepakati kawasan pemasaran tank medium mereka, setelah nantinya dilakukan produksi massal tank medium hasil kerjasama kedua pihak mulai 2019.

Hal ini diungkapkan Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad, Ade Bagja di sela-sela Seminar Uji Ledak Ranjau Tank Medium di Bandung, Jumat , 13/7/2018, dirilis Suaramerdeka.com.

“Untuk kebutuhan Turki dan Indonesia, tak ada batasan berapa pun produksinya. Hanya saja, untuk di luar itu, kita sepakati untuk membatasi wilayah mana yang jadi fokus pemasaran,” katanya.

Pindad kebagian menggarap wilayah sebagian besar kawasan Asia plus Pasifik. Sementara FNSS Turki mendapat porsi sebagian kecil plus Afrika.

“Produk ini milik siapa sesungguhnya, ini milik bersama antara Pindad dan FNSS, beda kalau kemudian Pindad memproduksi secara mandiri,” ujarnya.

Bagikan:
Advertisements
July 12, 2018

Menteri Luhut Minta Tingkatkan Produksi Amunisi, Pindad Bangun Pabrik Baru  

Menko maritim kok ngurusin Pindad ?? Bukan lebih baik dia urus PT Pal aja ?
11 Juli 2018

Amunisi buatan Pindad (photo : Kumparan)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, meminta PT Pindad (Persero) untuk meningkatkan kemampuan memproduksi amunisi dan propelan. “Jadi Pak Menko maunya dikurangi impor, jadi kemampuan dalam negeri ditambah,” kata Direktur Utama Pindad, Abraham Mose seusai rapat di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Selasa (10/7).

Abraham menjelaskan, untuk memenuhi permintaan Luhut, perusahaan BUMN itu harus bisa mandiri dalam produksi amunisi dan propelan (bahan peledak pendorong peluru). Saat ini kebutuhan amunisi dan propelan masih harus dipenuhi dari impor.

“Untuk mandiri di amunisi berarti kita harus menambah kapasitas amunisi kita melalui investasi. Beliau (Luhut) minta segera Pindad memberikan proposal untuk pembangunan penambahan (pabrik) amunisi dan propelan,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Abraham mengatakan pihaknya diberi waktu dua minggu, untuk menyiapkan proposal kebutuhan investasi untuk pembangunan pabrik baru tersebut. Kendati demikian, ia belum dapat menyebut nilai investasi yang dibutuhkan untuk penambahan fasilitas produksi tersebut.

Abraham menjelaskan, saat ini kapasitas produksi amunisi Pindad mencapai sekitar 197 juta butir per tahun. Pada 2019 mendatang diharapkan bisa meningkat hingga 300 juta butir per tahun.

Ada pun produksi propelan diharapkan bisa meningkat menjadi 600-800 ton untuk mendukung produksi amunisi.
“Tadi belum sampai bicara kekurangan dana tapi (diminta) buatlah proposal untuk kapasitas misalnya 200 juta butir per tahun untuk munisi dan proplan bisa sampai 600 hingga 800 ton,” tutup Abraham.

(Kumparan)

June 7, 2018

PT DI Paling Banyak Pasok Pesawat dan Helikopter untuk TNI

06 JUNI 2018

06 Juni 2018

EC-725 Cougar TNI AU (photo : Jeff Prananda)

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemesanan pesawat dan helikopter kepada PT Dirgantara Indonesia paling banyak oleh domestik. Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro mengatakan, pihaknya paling banyak mendapat permintaan dari TNI untuk pengaaan pesawat.

“Paling banyak dri Angkatan Udara tentunya, juga Angkatan Laut. Untuk heli paling banyak Angkatan Darat,” ujar Elfien di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Saat ini PTDI telah terikat kontrak dengan TNI untuk pengadaan 9 pesawat NC-212 dan 7 heli Cougar untuk Angkatan Udara serta 9 heli untuk Angkatan Darat. Elfien tidak bisa memastikan berapa pengadaan pesawat dan heli untuk TNI pertahunnya karena sistem kontrak multiyears.

“Untuk kontrak sekarang untuk pesawat NC-212 akan mulai deliver 2019 ada lima. 2020 akan deliver lagi empat. Karena leap time pembuatan sekitar 1 tahunan,” kata Elfien.

NC-212 TNI AU (photo : Fahmun)

Tak hanya di dalam negeri, PTDI juga kebanjiran pesanan dari luar negeri. Di awal tahun ini, PT DI telah mengekspor lima pesawat jenis NC-212 untuk Filipina dan Vietnam.

Rencananya PT DI akan mengirim lagi satu pesawat ke Senegal. Namun, belum dapat dipastikan apakah Desember 2018 bisa dikirim atau awal 2019. Elfien berharap negara-negara yang sudah pernah memesan pesawat ke PT DI akan kembali melakukan pesanan.

“Mudah-mudahan tahun ini ada target di Korea dan Malaysia kita dapat juga. Dan beberapa repeat order lagi,” kata Elfien.

Sejauh ini, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Korea sudah beberapa kali memesan pesawat dan tenaga pemeliharaannya ke PTDI.

“Seperti Korea, mereka akan repeat order untuk CN-235. Mudah-mudahan dapat kontraknya tahun ini,” kata Elfien.

(Kompas)

June 6, 2018

Pemerintah Akan Beli Lima Pesawat Hercules Baru

selama Indonesia beli pesawatnya dalam jumlah ” ketengan” mana ada pabrikan pesawat mau transf technologi atau bekerja sama dalam perawatan pesawat. Yang ada beli putus terus, yang ujungnya Indonesia tergantung 100 % sama onderdil dan perawatan pesawat luar negeri.. Nggak heran di embargo sebentar saja pesawat kita pada rontok.  Coba bandingkan dengan Iran yang sudah diembargo lebih dari 30 thn pesawat terbang F14 dan H130 masih bisa mengudara lho.. Salah satu alasan adalah mereka dulu beli dalam jumlah yang banyak, sehingga cadangan onderdilnya juga banyak, dan ada komponen yang bisa diproduksi d dalam negeri.

Indonesi untuk urusan pertahanan setelah jaman Soekarno kenapa masih terus beli dalam jumlah yang sangat kecil “ketengan” alasan keuangan negara tidak mencukupi..(alasan basi) tapi buat bayar PNS dan Politikus Bego nan Korup mah anggaran selalu cukup dan ditambah terus!

 

05 JUNI 2018

05 Juni 2018

Pesawat angkut C-130J Hercules (photo : Sohu)

Jakarta – Pemerintah akan membeli lima pesawat Hercules baru. Kelima pesawat tersebut untuk menambah pesawat Hercules yang ada sekarang.

“Enggak banyak-banyak, lima biji aja,” kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (5/6).

‎Ia menjelaskan pesawat Hercules yang ada sekarang sudah tua-tua. Keberadaannya pun lebih banyak karena hibah dari negara lain. Dengan kondisi tersebut, pemerintah ingin membeli yang baru agar bisa bertahan lama.

Dia menegaskan pemerintah maunya membuat sendiri. Namun kemampuan untuk membuat sendiri belum sepenuhnya bisa dilakukan. Maka dalam membeli yang baru, pemerintah inginkan ada transfer teknologi sehingga kedepan, Indonesia sudah bisa membuat sendiri.

“Kalau bisa kita bisa buat, seperti panser dan tank kita buat sendiri. Tapi sembari membeli sambil meningkatkan persahabatan, terutama pertahanan dan alih teknologi,” tegas Ryamizard.

(CNN)

 

May 27, 2018

Belarus Tawarkan Pemeliharaan Berat dan Rudal Pesawat Sukhoi  

kudu segera ditindak lanjuti dong. Masa perawatan pesawat harus mengandalkan luar negeri terus.. kalau terjadi perang bisa repot
26 Mei 2018

Pemeliharaan berat pesawat Sukhoi di 558 Aviation Repair Plant (photo : 558ARP)

Kasau Terima Kunjungan Kehormatan Dubes Belarus

Bisnis Metro, JAKARTA — Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M menerima kunjungan kehormatan Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Belarus untuk Indonesia H.E. Mr. Valery Kolesnik di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (25/5/2018).

Kasau sangat mengapresiasi kunjungan Dubes Belarus untuk Indonesia yang dimaksudkan untuk mempererat hubungan kedua negara yang telah terjalin baik selama ini dan menyampaikan ucapan terima kasih karena Belarus telah ikut ambil bagian dalam perawatan pesawat tempur Sukhoi milik TNI AU.

“Belarus merupakan negara sahabat yang juga sekaligus sebagai mitra TNI AU di bidang pertahanan, seperti pemeliharaan tingkat berat dan system upgrade pesawat tempur Sukhoi di fasilitas 558 Aviation Repair Plant,” kata Kasau.

Pada tahun 2017 telah dilaksanakan pemeliharaan 2 unit pesawat Sukhoi, dan saat ini sedang dilaksanakan pemeliharaan 2 unit pesawat Sukhoi Su-30MK yang akan selesai pada bulan September 2018.

TNI AU terus melengkapi persenjataan pesawat Sukhoi (photo : su-27 flanker)

Sementara itu, Dubes Kolesnik mengatakan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Belarus semakin erat khususnya di bidang pertahanan yang dibuktikan dengan adanya kerja sama di bidang pemeliharaan pesawat tempur Sukhoi TNI AU di Belarus.  Ia juga menawarkan kerja sama di bidang pertukaran Taruna/Cadet Akademi Angkatan Udara kedua negara.

“Saat ini Belarus memiliki kemampuan yang luas di bidang industri pertahanan, bukan hanya di bidang pemeliharaan pesawat namun juga sudah mampu memproduksi berbagai alutsista diantaranya peluru kendali dari udara ke udara jarak menengah serta teknologi optik untuk penginderaan pasukan khusus,” ujar Dubes Kolesnik.

Menanggapi hal tersebut, Kasau menyambut baik tawaran pertukaran Taruna AAU dengan Taruna Akademi Angkatan Udara Belarus dan akan mengkaji lebih lanjut metode pertukaran yang akan digunakan.

Terkait produk peluru kendali udara ke udara jarak menengah di atas 20 km buatan Belarus, Kasau menyampaikan bahwa TNI AU saat ini dalam tahap pengembangan kekuatan dan perlu memiliki peluru kendali jarak menengah, khususnya untuk pesawat tempur Sukhoi.

Pada kesempatan tersebut, Kasau didampingi Aspam Kasau Marsda TNI Dwi Fajariyanto, Aslog Kasau Marsda TNI Eko Supriyanto, S.E., M.M., dan Kadispenau Marsma TNI Ir. Novyan Samyoga, M.M., Sedangkan Dubes Belarus didampingi staf Kedubes Belarus Mr. Glen Krykanov.

(Bisnis Metro)

May 19, 2018

TNI AL Target Punya 12 Kapal Selam Seperti Zaman Soekarno

diunduh dari :http://militermeter.com

Angkatan Laut (AL) Indonesia menambah satu lagi koleksi kapal selam, kerjasama Angkatan Laut bersama Menteri Pertahanan dengan Korea Selatan.

Kapal selam KRI Ardadedali 404 adalah kapal selam kedua pesanan Indonesia kepada Korea Selatan (korsel), setelah KRI Nagapasa 403 yang datang Senin (28/8/2017) lalu.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi SE MAP menjelaskan kehadiran kapal ke 2 ini, untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia.

“Kami menunggu kapal selam ketiga. Saat ini proses duet produsen PT PAL dengan Korea Selatan di PT PAL. Kapal selam baru memang dibutuhkan untuk pengamanan laut karena kapal selam yang kita punya U 209 buatan tahun 1980an. Jadi sudah uzur karena usianya mencapai 37 tahun,” kata Kasal Ade Supandi, saat menyambut KRI Ardadedali 404 sandar di Dermaga Kapal Selam Koarmada II, Ujung, Surabaya, Kamis (17/5/2018).

Ade berharap kedatangan dua kapal, tipe baru buatan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea selatan ini mampu memperkuat peperangan bawah air.
“Karena kebutuhan kapal untuk memenuhi peperangan bawah air. Kapal selam sampai saat ini menjadi senjata strategis dan menjadi penangkalan yang tinggi,” tambahnya.

Kasal Ade melanjutkan Angkatan Laut Indonesia sebenarnya butuh 12 kapal selam. Jumlah ini berhubungan dengan jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia pada tahun 1960 silam.

Salah satu kapal yang baru datang ini pun, Ardadedali 404 merupakan nama salah satu kapal selam yang dimiliki Indonesia tahun 60an itu.

Baca Juga:  200 Prajurit TNI Misi PBB di Afrika Tengah Peringati HUT Ke-72 TNI

Kerjasama kapal selam Indonesia dan Korea Selatan masib berlanjut pada pembuatan kapal selam ke tiga.

Kasal Ade menerangkan proses kapal selam ke tiga ini bertahap. Artinya modul kapal selam dibuat di Korea Selatan, kemudian digabung di Indonesia.

“Memang prosesnya tidak tiba-tiba di bawa ke sini. Karena terkait tools, ada beberapa alat yang kita gunakan khusus untuk membuat kapal ini,” katanya.

Kontrak kerjasama Indonesia dan Korea Selatan berlangsung untuk pembuatan 3 kapal selam. Harapannya melaui proses ini PT PAL mampu memproduksi kapal sendiri, khususnya untuk kebutuhan angkatan laut.

“Membuat kapal selam tidaklah mudah, karena dari sisi level kesulitan kapal selam ini diatas kapal kombatan (apung), terutama dari sisi platform. Kalau kapal di atas air jelas hanya ngapung. Tapi kalau kapal selam, khususnya tipe disel seperti ini dia harus mampu sampai 300 meter di dalam laut,”jelasnya.
Membuat kapal seperti ini menurut Kasal Ade tidak mudah. Untuk itu kerjasama dengan Korsel merupakan awal yang bagus untuk PT.PAL mempelajari teknologi yang digunakan. Rencananya kapal selam ketiga akan rampung sekitar bulan Juli – Agustus 2019.

May 19, 2018

TNI-AD Bakal Bangun Skadron Penerbad di Bandara Tebelian Sintang-Kalbar  

16 MEI 2018

16 Mei 2018

Skuadron heli Penerbad (photo : Republika)

SINTANG-Danrem 121/ABW Brigjen TNI, Bambang Ismawan membenarkan wacana Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) bakal membangun skadron Penerbangan TNI AD (Penerbad) di Bandara Tebelian Sintang. Realisasi pembangunan secepatnya jika persiapan sudah tuntas dan disetujui.

“Kalau sudah tuntas tahun ini (2018), maka 2019 sudah bisa dibangun,” kata Danrem kepada Pontianak Post.

Kedudukan Skadron Penerbad di bandara Tebelian ditujukan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan. Seiring Sintang berbatasan langsung dengan Malaysia. Begitu juga dua kabupaten lain di timur Kalbar. Sanggau dan Kapuas Hulu. Keduanya secara geografis berbatasan dengan Malaysia. “Untuk menjaga perbatasan,” ungkap Bambang.

Menurut dia, skadron penerbad akan dibangun bersebelahan dengan Bandara Tebelian. Kajian maupun persiapan sedang berlangsung. Bila tuntas, maka pembangunannya bisa segera berjalan. Jika berjalan lancar, kata Danrem, pembangunan skadron penerbad pada 2019 mendatang sudah dapat dibangun.

Skadron penerbad di Bandara Tebelian sendiri akan dipimpin seorang perwira menengah. “Komandan skadron berpangkat kolonel,” ujarnya.

Bandara Tebelian sendiri sudah resmi dioperasionalkan terhitung 26 April lalu. Keberadaannya menggantikan bandara Susilo di jalan MT Haryono. Areal kawasan bandara Tebelian ditargetkan mencapai 300 hektar. Sebagian sudah disertifikatkan dan telah dihibahkan ke kementerian perhubungan oleh Pemkab Sintang.

Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan pemkab masih mengejar seluruh lahan bisa segera disertifikatkan. Alokasi lahan tidak hanya untuk kawasan bandara. Namun juga dibutuhkan bagi kepentingan pertanahan dan keamanan. Antara lain untuk pembangunan skadron TNI. Pemkab disebutnya intens berkoordinasi mengenai pembangunan tersebut.

Jarot menambahkan dengan areal luas, diharapkan bandara Tebelian menjadi mudah pengembangannya kedepan. Landasan pacu bandara juga menjadi sangat memungkinkan terus ditambah. Kini panjang landasan pacu bandara Tebelian 1.660 meter. Ditarget bisa menjadi 1800 meter pada 2018, dan proses pengerjaannya tengah berlangsung.

(PontianakPost)

May 19, 2018

2018, PT Dirgantara Indonesia Bidik Pertumbuhan Laba Dua Kali Lipat

19 Mei 2018

Pesawat NC-212 pesanan Angkatan Udara Vietnam (photo : Fahmun)

Bisnis.com, JAKARTA – PT Dirgantara Indonesia (Persero) memproyeksi pertumbuhan laba konsolidasi akan melonjak dua kali lipat atau menjadi US$12 juta pada 2018, dari sebelumnya US$5,4 juta pada 2017.

Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia (DI) Elfien Goentoro optimistis target tersebut dapat diraih karena perseroan mendapatkan kontrak pemesanan dari beberapa lembaga di Tanah Air pada tahun lalu.

“Ada hasil yang cukup signifikan yang kami peroleh pada November dan Desember 2017, antara lain pemesanan 9 pesawat jenis NC-212 dari Angkatan Udara,” ujarnya di Jakarta, Senin (29/1/2018).

Peningkatan target laba juga tidak lepas dari kontribusi dua anak perusahaan asal Bandung tersebut yang diprediksi ikut menyokong pundi-pundi perseroan, yaitu PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP) dan IPTN North America Inc.

Pada 2018, NTP diyakini mampu meraih laba sebesar US$2,8 juta, dengan kontrak senilai US$34,9 juta dan penjualan sebesar US$32,7 juta. Sementara itu, anak usaha IPTN North America Inc. ditargetkan bisa meraih cuan US$1 juta dengan penjualan US$15 juta dan kontrak US$16 juta.

Adapun laba bersih PT DI sendiri diharapkan dapat menembus US$7,9 juta dari kontrak senilai US$592,4 juta dan penjualan US$455,4 juta. Perusahaan dirgantara nasional ini juga disebut membukukan investasi sebesar US$33,9 juta, serta dipatok target efisiensi material sebesar 5%.

“Ini artinya kami melakukan inovasi dan peningkatan penggunaan dalam produksi karena 70% dari biaya kami ada di material,” ungkap Elfien.

(Bisnis)

February 11, 2018

Rusia Pilih Thailand Untuk Buka Bengkel Perawatan Helikopter, Indonesia Ngaploo?

pasti ada yang nggak bener.. padahal helicopter Rusia banyak dipakai di Indonesia.

 

Harapan agar Rusia membuka bengkel Helikopter di Indonesia akhirnya punah. Padahal sebelumnya Indonesia adalah yang paling terdepan untuk menjadi negara kedua di ASEAN yang dipercaya untuk ngurusin servis resmi helikopter buatan negerinya Putin itu.

Helikopter buatan Rusia cukup populer di Indonesia. Enggak hanyak dipakai oleh Pupenerbad TNI seperti seri Mi-17v5 dan Mi-35p, Namun juga banyak perusahaan kayu dan migas serta perusahaan pemadam kebakaran di Papua dan Kalimantan yang menggunakan heli seperti Mi-8, Mi-17, dan Ka-27 dalam operasinya.

Selama ini, untuk servis overhaul, harus dikirim ke luar negeri. Contoh helikopter Mi-35P yang harus diprotoli diangkut pakai pesawat untuk dikirim ke Vietnam buat menjalani servis perawatan rutin.
Banyaknya pengguna helikopter Rusia di itulah yang menyebabkan Indonesia menjadi yang terdepan buat dapat lisensi untuk membuka bengkel resmi setelah Vietnam.
Ehh apa daya, ternyata malah Thailand yang dapat lisensinya.

Kontraknya telah ditandatangani kantara perusahaan Datagate Co. Ltd. Dengan Russian Helicopters yang membuat helikopter Mil dalam Singapore Airshow 2018.

Kerjasama yang ditandatangani Deputi Direktur urusan Purnajual Russian Helicopter Chechikov dan Direktur Datagate Ny. Issary Benjarattanaporn itu mencakup pendirian pusat perawatan helikopter buatan Rusia di Kerajaan Thailand yang komprehensif sampai urusan perbaikan dan penggantian komponen.

“Memorandum ini mencakup agenda dasar untuk mengembangkan kerjasama dengan partner kami dari Thailand. Kami setuju untuk memeriksa seluruh prosepek dan kesempatan yang ada serta membuat rencana bersama di masa mendatang,” ujar Direktur Utama Russian Helicopters Andre Boginsky.

February 9, 2018

Indonesia Shopping for Western Fighters  

09 Februari 2018

Lockheed Martin is pitching its F-16V to Indonesia, emphasizing “numerous enhancements designed to keep the F-16 at the forefront of international security.” (photo : Lockheed Martin)

Indonesia is in talks with Western manufacturers about a possible fighter order and is considering the Eurofighter Typhoon and Lockheed Martin F-16V, according to two industry sources in the country.

The Saab Gripen and Dassault Rafale are also likely to be candidates, since the manufacturers of both of those fighters have offices in Jakarta. The number of fighters under consideration is not known, but some multiple of 16, the usual size of an Indonesian fighter squadron, is likely.

Talks began last year, says one industry source, who named the Typhoon as one candidate among several.

Budgetary pressures may force Indonesian withdrawal from the Korea Aerospace Industries KF-X fighter program, depriving KAI of the endorsement of a second operator. If Indonesia does not quit the KF-X entirely, it may take a smaller role.

The Indonesian Air Force likes the F-16, because it already operates that type, says another industry source. Both sources are closely connected to the military.

Meanwhile, Indonesia has taken delivery of the last two of 24 refurbished F-16C/Ds ordered in 2012. The Indonesian Air Force now has 23 of the aircraft, which it calls F-16IDs.

Eurofighter Typhoon (photo : Zuhour Mahmoud)

Going forward, Lockheed Martin has proposed the F-16V version of its fighter with the Pratt & Whitney F100-PW-229 engine, says the second source. Since the Indonesian Air Force’s current 32 F-16s have similar engines in the F100-PW-200 series, Lockheed Martin’s propulsion proposal would reduce training and logistics costs.

Lockheed Martin says that current aircraft could be upgraded to the V standard with the installation of new radars and avionics.

Missiles, bombs and targeting pods purchased for the current F-16 fleet would also be compatible on the newer variant, again reducing procurement costs, the company has told Indonesian officials. Some of the F-16A/Bs may not be operational.

The Indonesian air force is supposed to have 180 fighter jets in 2024 under a plan introduced in 2007 called Minimum Essential Force, but little progress has been made toward that target. It has 48 now and plans to order 11 more Sukhoi Su-35s.

The Su-35 has the advantage that the Indonesian armed forces, stung by a U.S. arms embargo two decades ago, insist on sourcing some fighters from non-Western suppliers. Western manufacturers kept marketing their fighters in Indonesia; they were looking to the next order.

They have had a presence in Indonesia since 2014.

(Aviation Week)