Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

April 22, 2015

TNI AL Tambah Lagi Pesawat Latih

kapan Puspernebal jadi  macam Top Gun nya TNI AL ?  Kenapa TNI AL tidak punya pesawat jet tempur atau jet untuk intai ?

Detik,20 April 2015

Pesawat latih Bonanza G-36 milik Skuadron Udara 200 Wing Udara 1 Puspenerbal (photo : Diana Haryanti)

TNI AL Tambah 4 Pesawat Latih Bonanza G36

Surabaya – TNI Angkatan Laut terus meningkatkan kemampuan prajurit udaranya dengan menambah pesawat latih. Hari ini, Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda mendapatkan 4 buah pesawat latih dasar Bonanza G36 yang diserahkan langsung KSAL Laksamana TNI Ade Supandi.

Komandan Puspenerbal, Laksamana Pertama Sigit Setiyanta mengatakan, pesawat latih yang akan tergabung dalam skuadron 200 wing Udara I Puspenerbal di Surabaya merupakan bagian dari program pembangunan kekuatan TNI AL berdasarkan Minimum Essential Force hingga tahun 2024.

“Pesawat latih dasar ini akan digunakan untuk mendidik calon-calon penerbang TNI AL sebelum mengoperasikan pesawat operasional,” katanya pada wartawan di Base Ops Lanudal Juanda, Senin (20/4/2015).

Sigit menambahkan, penyerahan 4 pesawat yang mampu mencapai ketinggian maksimal 5.600 meter di atas permukaan laut ini untuk memenuhi pembangunan kekuatan penerbangan.

“Oleh karena itu, KSAL terus melakukan upaya untuk memenuhi pembangunan kekuatan dan mendorong pengadaan pesawat udara untuk memenuhi kebutuhan fungsi intai udara taktis, anti kapal selam serta dukungan logistik cepat dan pengamatan laut,” ungkap dia.

Perlu diketahui dalam periode 2015-2019, TNI AL berkomitmen membangun kekuatan khususnya untuk pesawat udara yakni helikopter anti kapal selam 11 buah, helikopter anti kapal permukaan air sebanyak 8 unit, helikopter angkut taktis 4 unit.

Selain alutsista udara, TNI AL juga akan mengembangkan beberapa pangkalan udara Angkatan Laut (Lanudal) Kelas A sebagai antisipasi pengembangan Kogabwilhan Armada Timur, Tengah dan Barat. (Detik)

4 pesawat latih Bonanza G36 yang diserahkan ke TNI AL (photo : Detik)

Usai Datangkan Bonanza G36, TNI AL akan Beli 6 Twin Engine

Surabaya – TNI AL bertekad meningkatkan kemampuan udaranya. Usai mendatangkan 4 unit pesawat latih dasar Bonanza G36, TNI AL akan kembali membeli pesawat latih jenis twin engine.

Menurut KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, pembelian pesawat latih twin engine, dalam program pengadaan alutsista pesawat latih sebagai bentuk upaya meningkatkan kemampuan prajurit agar berkelanjutan.

“4 unit pesawat latih Bonanza G36 kan single engine dan tahun ini akan ada pengadaan pesawat latih twin engine agar kemampuannya berkelanjutan,” kata KSAL usai penyerahan 4 pesawat latih Bonanza G36 ke Puspenerbal di Base Ops Lanudal Juanda, Senin (20/4/2015).

Dengan adanya pesawat latih dasar Bonanza G36, Ade mengaku sudah mempunyai 8 pesawat single engine dan berencana menambah 4 unit lagi. “Kita berharap kuota 12 unit pesawat latih single engine bisa terpenuhi dan twin engine 6 unit bisa terpenuhi sehingga mampu meningkatkan kemampuan pilot Angkatan Laut sebagai kepanjangan tangan dan deteksi kapal permukaan laut,” ungkap dia.

Ia juga berpesan kepada Komandan Puspenerbal, Laksamana Pertama Sigit Setiyanta agar menjaga dan merawat 4 unit pesawat latih dasar buatan Amerika Serikat yang dibeli seharga Rp 59 miliar.

Perlu diketahui dalam periode 2015-2019, TNI AL berkomitmen membangun kekuatan khususnya untuk pesawat udara yakni helikopter anti kapal selam 11 buah, helikopter anti kapal permukaan air sebanyak 8 unit, helikopter angkut taktis 4 unit.

Selain alutsista udara, TNI AL juga akan mengembangkan beberapa pangkalan udara Angkatan Laut (Lanudal) Kelas A sebagai antisipasi pengembangan Kogabwilhan Armada Timur, Tengah dan Barat.

April 20, 2015

Evaluasi Semua Alutsista

Pesawat F-16 Tidak Akan Digunakan dalam Waktu Dekat

JAKARTA, KOMPAS — Terbakarnya pesawat tem- pur F-16 saat persiapan lepas landas di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (16/4), menjadi momentum untuk mengevaluasi semua alat utama sistem persenjataan. Ke depan, kita tak bisa bergantung pada alutsista bekas negara lain.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna (kanan) bertemu anggota Komisi I DPR, Nurhayati Ali Assegaf (kiri); Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon (kedua dari kiri); dan Ketua DPR Setya Novanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4). Mereka membahas berbagai hal, antara lain peristiwa terbakarnya pesawat tempur F-16 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis lalu.
KOMPAS/HERU SRI KUMOROKepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna (kanan) bertemu anggota Komisi I DPR, Nurhayati Ali Assegaf (kiri); Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon (kedua dari kiri); dan Ketua DPR Setya Novanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4). Mereka membahas berbagai hal, antara lain peristiwa terbakarnya pesawat tempur F-16 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis lalu.

Demikian kesimpulan dari pertemuan antara Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna, Ketua DPR Setya Novanto, serta Wakil Ketua DPR Bidang Politik dan Keamanan Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (17/4).

“Evaluasi dulu (alutsista) yang ada sekarang. Apakah barang-barang bekas hasil hibah itu betul-betul layak dipakai, bagaimana riwayatnya, kekurangannya, pernah dipakai bertempur di mana saja. Karena bekas, harus tajam evaluasinya,” kata Fadli.

Sebelumnya, Kamis pukul 08.15, pesawat F-16 yang akan melakukan latihan untuk pengamanan Peringatan Ke-60 Konferensi Asia Afrika terbakar saat hendak lepas landas. Terjadi gangguan mesin dan kebocoran hidrolik sehingga pengereman tidak maksimal. Percikan api muncul dan berujung kebakaran karena pesawat penuh bahan bakar (Kompas, 17/4).

Agus Supriatna mengatakan, mengetahui rekam jejak pesawat merupakan hal penting. Jika pesawat yang dibeli masih baru, rekam jejak dan penggunaannya dapat didata. “Yang sekarang ini, kita tidak tahu bagaimana rekam jejaknya. Permasalahannya di mana, pernah dipakai di mana saja,” ucap Agus.

Dari 24 pesawat F-16 yang masuk proyek hibah dari Amerika Serikat itu, saat ini sudah lima pesawat yang sampai di Indonesia. Agus mencontohkan, dua dari lima pesawat itu retak di bagian kanopi pesawat. “Untung bukan di mesin pesawat sehingga oleh teknisi-teknisi kami yang berpengalaman dengan F-16 sebelumnya masih bisa diatasi dan diperbaiki,” kata Agus.

Sampai saat ini, proses investigasi atas peristiwa terbakarnya pesawat F-16 itu masih berlangsung. Terkait nasib pesawat F-16 lainnya, Agus mengatakan, tidak akan digunakan dalam waktu dekat. Pesawat-pesawat itu akan diperiksa, demikian pula dengan 19 pesawat sisanya yang saat ini masih berada di AS.

“Setelah kejadian Kamis lalu, saya langsung sampaikan ke pihak AS. Mereka juga di sana akan mencari tahu dulu kondisi pesawat-pesawat itu sebelum diberangkatkan ke sini,” katanya.

Setya Novanto mengatakan, sudah saatnya Indonesia memiliki alutsista baru dengan teknologi termutakhir. “Kalau pengadaannya tetap seperti ini, perlu dievaluasi, apakah ini (hibah pesawat bekas) efektif? Harus dievaluasi agar tidak terulang lagi ke depan,” katanya.

Menurut dia, pemerintah memiliki anggaran cukup untuk membeli alutsista baru. Bahkan, Presiden pernah menjanjikan menaikkan anggaran alutsista. Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (APBN-P) 2015 untuk TNI pun sudah naik, dari Rp 83,3 triliun dalam APBN-P 2014 menjadi Rp 96,9 triliun.

“TNI harus punya alat baru. Anggaran bisa diatur. Lebih baik membeli lima pesawat baru daripada 10 pesawat bekas tetapi tidak terjamin,” kata Fadli.

Anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, yang pada periode 2009-2014 mengetahui proses hibah itu menjelaskan, “Awalnya DPR dan pemerintah setuju membeli 6 pesawat F-16 baru lengkap dengan persenjataannya dengan menyediakan dana 650 juta dollar AS. Tapi, tiba-tiba pemerintah mengubah sikap dan lebih memilih menerima hibah 24 pesawat F-16 bekas yang sudahgrounded di gurun Arizona. Hibah itu diikuti dengan biaya perbaikan 650 juta dollar AS, bahkan membengkak menjadi lebih dari 800 juta dollar AS pada anggaran tambahan 2013.”

Dia berharap insiden gagal tinggal landas F-16 menjadi bahan evaluasi pemerintahan baru. DPR dan pemerintah didorong meninjau ulang kesepakatan hibah 24 jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Amerika Serikat.

Pengamat pertahanan Susaningtyas Kertopati menerangkan, sesungguhnya pesawat hibah F-16 itu masih bisa dipakai sekitar 10 tahun lagi. “Akan tetapi, barang bekas itu memang rentan gangguan potensial, baik dalam teknologi maupun risiko keselamatan,” ujarnya.

(AGE/ONG)

April 17, 2015

Negara Bayar 800 Juta Dolar Datangkan Pesawat Hibah Amerika

Katanya “hibah ” .. Apanya yang hibah ?? Sudah mahal jatuh pula .. Urusean pengadaan senjata pasti ada unsur “korup” dan “mark up” bagi para politikus, birokrat dan tentara.. ehem..

Sama dengan kejadian kapal perang dari eks Jerman Timur.. nilainya kurang lebih mirip., dan pakai acara ditinggal tenggelam oleh sang kapten kapal (yang konon sempat jadi KSAL )..

Intan fauzi – 17 April 2015 09:19 wib

LINE it!

Metrotvnews.com, Jakarta: Pesawat tempur F-16 yang mengalami kecelakaan kemarin di Lanud Halim Perdana Kusuma merupakan hibah dari Amerika Serikat. Anggota Komisi I DPR TB Hasanudin menuturkan, pemerintah perlu menggelontorkan dana hingga Rp 800 juta Dollar AS untuk mendatangkan 24 pesawat F-16 itu.

“Ternyata hibah itu mengeluarkan uang 650 juta USD. DPR waktu itu menolak, mending beli baru. Kemudian anggarannya bertambah 150 juta USD pada tahun 2015,”  jelas Hasanudin dalam Prime Time News Metro TV, Kamis (16/4/2015).

“Pada tahun 2010 itu anggaran untuk pembelian pesawat 650 juta USD dan sepakat membeli enam unit F-16 tipe 52 bahkan terbaru dengan senjata lengkap. Tiba-tiba muncul dari Menhan (Menteri Pertahanan) akan mendapatkan hibah 24 unit pesawat yang sudah melalui persetujuan Presiden SBY saat itu,” sambung dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara jatuh dan terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma pada pukul 08.20 WIB saat isedang dilangsungkan misi Pembaretan Presiden Joko Widodo.

Adapun pesawat adalah pesawat tempur dengan tail number TS-1643 dengan pilot Letnan Kolonel Penerbang Firman. Akibat insiden ini, roda kiri pesawat terlepas dan mesin terbakar dan pilot mengalami luka bakar 11 persen.
(dsb )

+++++++++++++++++++++

Moeldoko: Jangan Ada Lagi Hibah Pesawat Bekas

BANDUNG, KOMPAS — Panglima TNI Jenderal Moeldoko berharap, jangan ada lagi hibah pesawat bekas dari luar negeri. Ini disampaikan terkait gangguan mesin yang dialami pesawat F-16 saat persiapan lepas landas di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (16/4) pukul 08.15.

“Diharapkan jangan ada lagi hibah pesawat bekas. Sebaiknya pesawat yang baru,” kata Moeldoko, kemarin, di Bandung.

Moeldoko menuturkan, F-16 yang mengalami gangguan mesin sehingga gagal lepas landas dan terbakar itu baru saja didatangkan dari Amerika Serikat. Saat kejadian, pesawat itu akan melakukan latihan untuk pengamanan Peringatan Konferensi Asia Afrika Ke-60.

Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna mengatakan, saat pesawat dengan nomor ekor Tempur Sergap (TS) 1643 itu melakukan persiapan lepas landas, tiba-tiba pilot Letnan Kolonel (Penerbang) Firman Dwi Cahyono melihat lampu peringatan menyala dan diikuti indikator lain. “Terlihat peringatan sistem hidrolik dan kelistrikan. Meski dalam kecepatan lepas landas, diputuskan membatalkan lepas landas dan melakukan pengereman penuh. Ternyata ada kebocoran hidrolik sehingga pengereman tidak maksimal. Pilot memilih banting haluan ke arah pangkalan untuk menghindari permukiman yang ada di ujung landasan,” tutur Agus.

Karena pesawat yang berasal dari Skuadron Udara 16 di Pekanbaru ini penuh bahan bakar dan terjadi percikan api di mesin, terjadi kebakaran. “Dengan cepat pilot keluar dari pesawat dengan luka bakar di tangan dan pundak,” lanjutnya.

00:00:00
KOMPAS/PRIYOMBODOPesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon milik TNI Angkatan Udara, Kamis (16/4) pagi, terbakar saat hendak lepas landas di landasan pacu Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Badan pesawat yang telah berhasil dipadamkan itu ditutup dengan penutup bewarna putih. KOMPAS/Priyombodo

Menurut Agus, pesawat itu bagian dari proyek hibah 24 F-16 dari AS. Saat ini sudah lima pesawat yang datang dari Utah, AS, ke Madiun, Jawa Timur. Sebanyak 19 pesawat lainnya, menurut rencana, tiba tahun ini.

Wakil Ketua Komisi I DPR periode 2009-2014 TB Hasanuddin menuturkan, dalam hibah ini, pada 2010, pemerintah menganggarkan 650 juta dollar AS untuk meningkatkan spesifikasi teknis pesawat yang dibuat pada 1980-an tersebut. Pada 2013, anggaran ditambah lagi karena tidak cukup.

“Awalnya DPR tidak setuju gagasan hibah ini dan lebih memilih membeli enam pesawat F-16 yang baru, lengkap dengan persenjataannya. Namun, saat itu pemerintah tetap menginginkan hibah,” katanya. (ONG/B12/SEM/ARN)

 

+++++++++++++

 

Karismanya Tak Lekang oleh Waktu

“Dua satuan Angkatan Udara AS menerima penghargaan ‘Gerald John J Pesch’ karena keselamatan terbang yang luar biasa pada 2004”.

Pesawat tempur F-16 dievakuasi  di  landas pacu Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat dengan nomor ekor Tempur Sergap (TS) 1643  itu gagal lepas landas  dan terbakar. Sistem hidrolik dan listrik pesawat tempur yang dipiloti Letnan Kolonel (Pnb) Firman Dwi Cahyono itu terganggu.
KOMPAS/PRIYOMBODOPesawat tempur F-16 dievakuasi di landas pacu Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat dengan nomor ekor Tempur Sergap (TS) 1643 itu gagal lepas landas dan terbakar. Sistem hidrolik dan listrik pesawat tempur yang dipiloti Letnan Kolonel (Pnb) Firman Dwi Cahyono itu terganggu.

(Ralf Leinburger, “Fighter-Technology, Fact, History”)

Menurut penuturan buku di atas, semenjak beralih ke F-16, dua skuadron ini tidak pernah mengalami kecelakaan dalam 65.000 jam terbang. Untuk Blok 50/52, hanya ada empat kecelakaan fatal atau kehilangan pesawat dalam 100.000 jam terbang. Ini alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa pesawat yang dijuluki “Fighting Falcon” ini merupakan pesawat bermesin tunggal yang paling aman yang pernah dibuat.

Dengan latar belakang semacam itu, berita gagal lepas landasnya jet F-16 TNI AU pada Kamis (16/4) kemarin cukup mengentak. Pesawat yang baru diremajakan dalam proyek Peace Bimasena II senilai 700 juta dollar AS (sekitar Rp 9,1 triliun) ini semestinya tampil prima, meskipun ia berasal dari Blok 25 yang sudah tak digunakan lagi di lingkungan militer Amerika Serikat. Akan tetapi, pesawat hibah ini telah di-“hidup”-kan lagi di Ogden Air Logistics Center di Pangkalan AU Hill, Utah, AS. Pilot yang menerbangkannya pun-Letkol Penerbang Firman Dwi Cahyono-adalah pilot yang menerbangkan pesawat ini saat datang dari Pangkalan AU Yokota di Jepang (September lalu dengan pesawat TS-1620 dan kemarin dengan TS-1643).

Kita tentu prihatin dengan kejadian kemarin dan sudah sepatutnyalah ada penyelidikan mengenai insiden ini. Sebagaimana dilakukan terhadap dunia penerbangan pada umumnya, penyelidikan tidak untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Jika memang terjadi kebakaran pada mesin dan roda kiri lepas (Kompas.com, 16/4, 10.44), bisa dicari sebab dan kaitannya. (Sekadar mengenang musibah jet supersonik Concorde 25 Juli 2000, kecelakaan disebabkan ban meletus dan pecahannya menghantam tangki bahan bakar, membuat rentetan kejadian yang lalu menimbulkan api. Kedua mesinnya gagal dan pesawat jatuh 60 detik setelah lepas landas dari Paris [Concordesst.com].)

Terus terbang

Sebagaimana dialami oleh tim Jupiter yang mengalami musibah di Pameran Maritim dan Dirgantara Internasional di Langkawi, Minggu (15/3), insiden F-16 terakhir tak perlu menciutkan nyali. Pesawat dari Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin di Pekanbaru segera digantikan oleh F-16 dari Madiun dan melanjutkan tugas, sebagaimana tim Jupiter yang segera mempersiapkan diri untuk menyemarakkan HUT TNI AU pada 9 April lalu.

F-16 C/D-sebut saja demikian karena menambahkan 52ID sempat diberi catatan oleh pihak Kedutaan Besar AS-diakuisisi oleh Indonesia sebagai bagian dari pembangunan kekuatan pokok minimum (minimum essential force).

Jet-jet F-16 ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan kekuatan udara (air power) RI untuk menegakkan kedaulatan nasional. Selain itu, pesawat tempur ini juga diharapkan menjadi tulang punggung operasi pertahanan udara dan sebagai penjamin keunggulan udara komando gabungan TNI dalam penyelenggaraan operasi darat, laut, dan udara.

Memang, ditinjau dari evolusi F-16, tipe yang diterima Indonesia bukan dari tipe yang paling mutakhir. Tipe paling mutakhir, F-16 E/F, dimiliki oleh Uni Emirat Arab, yakni dari Blok 60, yang tergolong pesawat tempur generasi 4,5, sementara F-16 yang membentuk kekuatan udara AS dan sejumlah AU dunia lain dari Blok 50/52 (Defense Industry Daily, 26/1/2014).

Personil TNI Angkatan Udara berjaga-jaga di dekat pesawat tempur F16 yang ditutupi kain di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono itu gagal tinggal landas (takeoff) dan terbakar.
KOMPAS/ PRIYOMBODO
Personil TNI Angkatan Udara berjaga-jaga di dekat pesawat tempur F16 yang ditutupi kain di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono itu gagal tinggal landas (takeoff) dan terbakar.
KOMPAS/ PRIYOMBODO

Sekadar mengingat proses pengadaannya, pada waktu itu, sekitar tahun 2012, terdapat dua pandangan, yakni yang menghendaki hibah 24 pesawat dari Blok 25 dan yang menghendaki Blok 52, tetapi dengan dana yang sama, hanya akan diperoleh tak lebih dari enam pesawat. Akhirnya pandangan pertama yang lolos.

Tentu ada plus-minusnya pada setiap pilihan, tetapi pilihan pertama-yakni hibah-bernuansa kearifan. Toh kawasan aman, jadi tidak urgen untuk membeli F-16 yang setara dengan AU Singapura (RSAF) dengan tangki bahan bakar konformal di punggungnya. Dengan memiliki 24 pesawat ditambah dengan delapan F-16A/B yang dibeli pada 1989, akan lebih banyak kesempatan yang bisa diraih oleh para pilot TNI AU untuk berlatih menerbangkan pesawat mutakhir.

Pihak yang pro beli Blok 52 tentu punya argumen, jika saja ada konflik terbuka, Blok 52 brand-new akan lebih unggul dibandingkan dengan pesawat hasil peremajaan. Namun, saat itu pihak yang pro hibah menyebutkan, rangka pesawat telah diganti dan diperkuat, kokpit diperbarui, serta jaringan kabel dan elektronik baru dipasang. Semua sistem lama diperbarui dan mission computeryang menjadi otak pesawat ditambahkan. Tujuannya agar kemampuan jet meningkat setara dengan Blok 50/52.

Di luar perdebatan ini, yang terpenting sekarang adalah melanjutkan misi pengawalan dan penegakan kedaulatan negara. F-16 yang dirancang untuk misi tempur dan serang darat hanya akan mencapai tujuannya ketika para pilot tekun berlatih. Jet-jet tempur yang telah dibuat sekitar 5.000 pesawat ini oleh penggunanya, yang tersebar mulai dari Asia hingga Amerika Latin, hanya akan tampak kegunaannya manakala ia bisa menjadi sarana penggentaran bagi pesawat yang akan menyusup ke wilayah negara kita (tentu di luar pesawat tak kasatradar, seperti F-22 Raptor). Atau minimum ia bisa menjadi wahana untuk mengembangkan airmanship bagi para penerbang TNI AU sehingga ia terampil untuk menerbangkan pesawat yang dari awal dirancang untuk tidak stabil (sehingga lincah, agile) ini.

Memang ada insiden TS-1643, tetapi kita akan terus terbang menjaga dirgantara Nusantara.

April 16, 2015

Pesawat F-16 Terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma

waduuh…

Kamis, 16 April 2015 | 09:34 WIB
Reska K. Nistanto/Kompas.comPesawat F-16A Block 15AG milik TNI AU dengan registrasi TS-1611.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pesawat F-16 dengan nomor pesawat TS-1643 dikabarkan terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma karena gagal take-off. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (16/4/2015) sekitar pukul 08.15.

“Iya, gagal take-off jam 08.15,” kata KadispenTNI AU Marsma Hadi Tjahjanto kepada Kompas.com.

Kejadian tersebut terjadi di Runway 06 mengarah 24 atau dekat Pos Lama. Adapun pilot pesawat adalah Letkol Pnb Firman.

Roda kiri pesawat copot dan mesin terbakar. Beruntung, pilot Letkol Pnb Firman selamat karena berhasil keluar dengan kursi pelontar.

Pesawat F-16 TS-1643 akan melaksanakan misi fly passpembaretan RI-1 dengan rute Halim Perdanakusuma-Mabes TNI-Halim Perdanakusuma.

Pesawat ini terbang bersama tiga pesawat lainnya yang bernomor penerbangan TS-1606 dengan pilot Alimi, TS-1608 dengan pilot Andri, dan TS-1610 dengan pilot Gigih.

April 14, 2015

PT DI Rencanakan Kelahiran N-245 Pesawat Komersial Baru untuk Indonesia

14 April 2015

Ilustrasi pesawat N-245, Pesawat yang diberi nama N-245 itu mungkin saja punya target tujuan akhir sama jauhnya dengan pesawat biasa, tetapi memiliki beberapa pemberhentian untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di titik tersebut. Istilahnya ialah multihop atau spoke to spoke. (image : Kompas)

KOMPAS.com — PT Dirgantara Indonesia (DI) sedang merencanakan kelahiran pesawat komersial baru yang digadang-gadang mampu bersaing dengan jenis ATR 42 dan Q300.

“Sekarang sedang dalam tahap perencanaan. Kami akan evaluasi dulu kelayakan dan nilai ekonomisnya. Kalau layak, kami akan mulai kembangkan tahun depan,” kata Presiden Direktur PT DI Budi Santoso.

Pesawat yang dinamai N-245 dan direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 orang tersebut ditargetkan mampu melayani rute jarak dekat yang perlu pelayanan, tetapi dengan jumlah permintaan penumpang rendah.

“Misalnya rute Tanjung Karang ke Palembang, tidak ada pesawatnya sekarang. Nanti kami layani dengan N-245. Ya targetnya untuk jarak 100-200 mil laut, 400 kilometer, setara Jakarta ke Semarang,” kata Budi.

Ditemui di sela National Innovation Forum 2015 yang diadakan di Puspiptek Serpong, Senin (13/4/2015), Budi mengungkapkan, N-245 bisa dikatakan sebagai bentuk modifikasi karena beberapa rancangan pada bagian pesawatnya diambil dari CN-235.

“(Desain) sayapnya itu kami ambil dari desain CN-235 dan N-295. Sama. Sayap itu sudah bisa untuk angkut beban 23 ton. Sudah proven. Untuk badannya, kami sedang mikir ambil dari CN-235. Itu untuk bentuknya. Kalau panjang, kan nanti bisa disambung,” kata Budi.

Bagian yang baru dirancang adalah ekor. Menurut Budi, perancangan ulang bagian ekor diperlukan karena ekor pesawat CN-235 atau pesawat lain akan terlalu berat jika diaplikasikan.

Karena tidak merancang semua bagian dari awal, pengembangan N-245 bakal jauh lebih murah. “Kalau bikin pesawat dari nol, biayanya 1,5 miliar dollar AS sampai 2 miliar dollar AS. N-250 sekarang sudah hampir 2 miliar dollar AS. Untuk N-245, cuma 150 juta dollar AS, sudah sampai prototipe,” kata Budi.

Budi percaya bahwa permintaan penumpang terhadap pesawat jarak dekat akan semakin tinggi seiring pertumbuhan ekonomi. Ia mengatakan, bila N-245 terwujud dan dijual, maskapai bisa mencapai break even point dengan hanya membeli 50-70 pesawat.

(Kompas)

April 14, 2015

Tembus Tank Baja, Senapan ‘Sniper’ Indonesia Gegerkan Dunia

Liputan Khusus

By

on 13 Apr 2015 at 22:29 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Penembak runduk. Istilah itu bisa ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit kolonial Inggris di India. Barang siapa mahir memburu burung snipe yang konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan ‘sniper’.

Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti. Yakni, prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.

Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia, Tatang Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015. Namun, Bumi Pertiwi menghasilkan kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang diproduksi PT Pindad: SPR 2.

SPR ini bukan sembarang senjata. Pelurunya bisa menembus tank baja. Dan bahkan, ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2 kilometer (km). Kemunculannya menggemparkan dunia sniper.

“Senjata yang mendunia, kalau kita fokus ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus,” kata Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada Liputan6.com.

(Saksikan: Melihat Lebih Dekat SPR2 yang Mendunia)

http://www.vidio.com/embed/54513-melihat-lebih-dekat-senapan-runduk-spr-2-yang-mendunia-seg-2

Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang merupakan produk unggulan Pindad,  kualitasnya sudah teruji. Siap digunakan di medan tempur. “Dan ternyata memang bisa diterima dan malah lebih unggul dari pada produk impor,” ujar dia.

Secara rinci, SPR 2  berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapan 1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 mm (15”) twist. Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan 2 km.

Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Senjata ini juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.

“Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini cukup membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang digunakan oleh sniper. Di samping itu, senjata sniper ini relatif sangat khusus. Dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya harus maksimal,” ungkap dia.

Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2 ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi ia menekankan, keberhasilan pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan alutsista yang inovatif dan mutakhir.

“Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak, tetapi secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi kita dalam hal ini melakukan dalam konteks kemandirian. Dalam konteks kita mampu membuat senjata yang dapat digunakan oleh sniper,” kata Silmy.

Kepada Liputan6.com, teknisi Pindad Diding Sumardi menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan berbagai pelurunya. Ada tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakkan target.

http://www.vidio.com/embed/54497-inilah-senjata-spr-2-teaser
Atas kemampuannya yang luar biasa, Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia internasional. Terbukti, senapan jitu ini masuk rekomendasi di situs alat utama sistem senjata (alutsista) Weaponsystems.net, bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Serbia.

Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. “Good!“, ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan tiga negara lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni Amerika Serikat (AS) dan dua negara di Eropa.

Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu, PT Pindah belum menjualnya kepada negara lain. Sejauh ini, baru Komando Pasukan Khusus (Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya. Mengenai harga per unitnya, SPR 2 ini dibanderol sekitar Rp 200 juta per pucuknya.

April 13, 2015

TNI AU Akan Menambah Jumlah Skuadron Operasi

 sumber Defence studies  http://defense-studies.blogspot.com/
11 Oktober 2015

Rencana TNI akan menambah empat skuadton tempur, enam skuadron angkut, empat skuadron helikopter, dan skuadron pengintaian (photo : Kaskus Militer)

TNI AU Bakal Tambah Empat Skuadron Baru

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berencana menambah empat skuadron tempur baru untuk menjaga kedaulatan wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemungkinan besar, skuadron baru tersebut akan dibentuk di wilayah timur Indonesia. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Hadi Tjahjanto membenarkan ada rencana penambahan rencana empat skuadron baru tersebut.

Dalam rencana strategis (renstra) yang disusun, TNI AU akan memiliki 11 skuadron pesawat tempur. Saat ini skuadron yang telah terbentuk baru ada tujuh dengan kekuatan di masing-masing skuadron sebanyak 16 pesawat tempur dari berbagai jenis. ”Sehingga masih kurang empat skuadron lagi. Ini akan dibentuk sampai rencana strategis (renstra) ketiga.

Saat ini kita masih berada di renstra kedua, mudah-mudahan mulai 2019 sampai 2024 keinginan kita untuk membentuk 11 skuadron tempur bisa terwujud. Namun, harus diingat bahwa renstra ini berbasis pada minimum essential force (MEF), bukan pada kondisi ideal,” ungkap Hadi di Jakarta kemarin.

Rencana itu termasuk pembentukan enam skuadron angkut, empat skuadron helikopter, dan skuadron pengintaian. Hadi menambahkan, saat ini keberadaan skuadron pesawat tempur milik TNI AU terkonsentrasi di bagian tengah, dalam hal ini Pulau Jawa. Kemudian di bagian barat yakni Pekanbaru, Riau yang sudah ada 1 skuadron F-16.

”Skuadron tersebut juga bisa diback up oleh skuadron yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Barang kali evaluasi itu akan ke timur, tapi semua itu akan dilihat dari tren dan spektrum ancaman,” ungkapnya.

Pengamat militer Universitas Indonesia (UI) Wawan Purwanto menilai, penambahan skuadron tempur merupakan hal yang wajar untuk diwujudkan dan kebutuhan yang selayaknya harus dimiliki dalam rangka menuju pada kekuatan minimum.

”Selama ini banyak kejadian yang tidak kita inginkan karena sistem pertahanan udara kita keropos dan alutsista yang dimiliki terbatas ditambah pesawat yang ada sudah berumur,” katanya. (Koran Sindo)

Koopsau III Akan Dibentuk di Wilayah Timur

MAKASSAR,UPEKS– Mengingat wilayah negara Indonesia yang begitu luas dan hanya dicover oleh dua Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau), saat ini pihak TNI Angkatan Udara berencana bentuk Koopsau III di wilayah Timur.

Hal itu dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI Agus Supriatna, Senin (6/4) kemarin.Disela-sela serah terima jabatan Pangkoopsau II Marsda TNI Abdul Muis kepada Marsma TNI Bahrim, Agus mengaku pembentukan Koopsau III perlu dibentuk. Pasalnya, jika hanya dua Koopsau yang mencover wilayah Indonesia diniali agak sulit. Khususnya Koopsau II ini yang wilayahnya seperdua Indonesia.

“Rencananya kita akan bentuk Koopsau III di wilayah Timur, yakni Papua. Panglima TNI rencana bangun Markas Koopsau III, mengingat wilayah Indonesia begitu luas dan hanya dicover dua Koopsau. Khususnya, Koopsau II ini wilayah operasinya begitu luas,” ucap Agus.

Agus mengaku, pembentukan Koopsau III perlu dilakukan. Pasalnya, saat ini wilayah Indonesia khusunya diudara sangat luas. Jika hanya dicover dua Komando Operasi TNI Angkatan Udara, itu sangat sulit. Apalagi saat ini, sangat rawan masuknya pesawat yang melanggar. Namun, selama ini hal itu mampu diatasi.

“Soal kerawanan memang ada. Tapi, selama kita laksanakan terus-menerus pengawasan dan melakukan pengintaian hal itu bisa diatasi. Sehingga, pesawat manapun yang masuk di wilayah Indonesia tanpa izin akan disergap,” tegasnya.

Setiap pesawat yang disergap itu lanjut Agus, pasti akan dilakukan penyelidikan. Semua ada SOPnya, kepana masuk di wilayah Indonesia tanpa izin. Untuk memperkuat pertahanan ditingkatkan pengaktifan radar.”Apalagi jika Armada ada tiga dan Koopsau ada tiga, seluruh Indonesai bisa dicover. Namun secara ideal kita akan tambah peralatan tempur,” tutupnya. (Ujung Pandang Express)

April 10, 2015

Kegigihan Taruni Mengejar Cita-cita

Dirgahayu TNI AU !

Menjadi taruni Akademi Angkatan Udara atau AAU angkatan pertama memang bukan hal yang mudah. Namun, tujuh lulusan sekolah- sekolah favorit dari Sumatera sampai Papua tersebut bertekad mewujudkan cita-cita mereka menjadi perempuan perwira pertama yang menerbangkan pesawat tempur TNI AU.

Uci Sipayung, alumnus SMAN 1 Tebing Tinggi, Sumatera Utara, mengatakan, sejak dulu dia mau jadi tentara. Menurut dia, tentara identik dengan sikap disiplin. Adapun Ghaesanie Putri Pujasari, alumnus SMA Krida Nusantara, Bandung, Jabar, mengatakan, orang- tua mendukungnya menjadi tentara karena negara menanggung semua biaya kebutuhan.

Sementara Anisa Amalia, alumnus SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, mengatakan, ia sempat mendaftar masuk fakultas hukum universitas swasta di Yogyakarta. Namun, akhirnya, dia memilih akademi militer. Astria Fancolla dari SMAN 5 Jayapura, Papua, merasa beruntung aktif sebagai pasukan pengibar bendera (paskibra) sehingga lulus AAU.

Mereka merupakan generasi pertama taruni AAU, Yogyakarta, yang masuk tahun 2013. Sebagai karbol AAU, mereka juga mengikuti jadwal belajar dan berlatih yang ketat dengan penuh disiplin. Setiap hari, mereka harus bangun pukul 04.00. Setelah beribadah, pukul 05.00 mereka lari pagi mengitari kampus sejauh 3,5 kilometer. Kemudian mereka sarapan dan bersiap mengikuti upacara pukul 06.30.

Sejak pukul 07.00-13.45, mereka belajar sesuai jurusan yang sudah dibagi sejak awal pendidikan berdasarkan hasil tes psikologi. Ada jurusan manajemen industri, elektronika, dan aeronautika. Sore harinya, ketujuh taruni AAU berlatih olahraga militer. Dalam waktu dekat, mereka akan mengikuti pesta olahraga antartaruna dan taruni dalam bidang menembak pistol dan debat bahasa Inggris. Jadwal padat sepanjang hari tersebut kemudian ditutup dengan makan malam dan belajar sampai pukul 20.00.

Memanjakan diri

Setelah memeras otak dan keringat lima hari dalam sepekan, mereka bisa bersantai sejenak di akhir pekan. Pada hari Sabtu dan Minggu, mereka menikmati jadwal rekreasi untuk mengaktifkan telepon genggam, dengan syarat sama sekali tidak menggunakan media sosial, dan memanjakan diri.

“Biasanya kami belanja, menonton bioskop, refleksi, saling bercerita, atau ke salon,” kata Anisa. Terbiasa menghabiskan waktu bersama membuat hubungan mereka semakin dekat.

Yhusrina, alumnus SMA Taruna Nusantara, mengatakan, dia merasakan solidaritas dan soliditas yang tinggi sebagai sesama siswa TNI AU. Apalagi, mereka sama-sama ingin menjadi penerbang tempur setelah lulus sebagai perwira muda TNI Angkatan Udara.

Pembina taruni AAU Letnan Kolonel Rony Widodo mengatakan, taruni lebih tekun belajar sehingga tetap kompetitif menghadapi para taruna. Rony dibantu istrinya mendampingi para taruni agar lebih mudah mendekati mereka dari sudut pandang perempuan.

Rony pun berusaha membina ketujuh taruni menjadi profesional dan pribadi yang unggul agar menjadi sosok tangguh. Hal ini terus ditanamkan kepada mereka. “Pernah juga ada yang menangis sewaktu mereka tidak dikasih izin rekreasi,” katanya.

Sebagai taruni angkatan pertama AAU, mereka tetap optimistis dan semakin mandiri. Mereka merancang sendiri seragam dan perlengkapan dasar standar taruni, termasuk Dewa Ayu, alumnus SMAN 1 Gianyar, Bali, yang bertugas sebagai mayoret drumband AAU dalam perayaan Hari Ulang Tahun Ke-69 TNI AU di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (9/4).

Dengan gigih mereka belajar dan berlatih. Semoga saja kita segera punya perempuan penerbang tempur yang andal melindungi wilayah udara Negara Kesatuan RI. (EDNA CAROLINE)

March 27, 2015

France Ready to Give RI Technology Transfer

26 Maret 2015

Dassault Aviation Rafale (all photos : Okezone)

France asserted on Wednesday that it was willing to provide an industrial cooperation with Indonesia should the Dassault Rafale jet fighter be selected to modernize the Indonesian Air Force.

French Ambassador to Indonesia Corinne Breuzé said that France was open to all cooperation possibilities involving French aircraft maker Dassault Aviation and state-owned aircraft maker PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

“With the support of the French government, Dassault is open to any possibility of partnerships and transfer technology,” she said in a prepared statement.

Other than technology transfer, she said that being 100 percent French, the Rafale would allow its users independence. “It is designed with Safran/Snecma for the engine, Thales for the avionics and MBDA for the armament,” she said.

Breuzé was speaking at an event to introduce the French jet fighter to the Indonesian public, at the Halim Perdanakusuma Air Force Base in East Jakarta.

She said that the decision to bring the Rafale to Jakarta, despite a high level of operational engagement especially in Iraq, was made by the French defense minister and air force following a courtesy call from Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu, who met his French counterpart Jean-Yves Le Drian on March 10.

Ryamizard also visited the Rafale’s assembly line in Bordeaux-Merignac during the March visit.

Two Rafale jet fighters, a Rafale B double-seater and a Rafale C single-seater, arrived on Monday from the just-concluded 2015 Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) exhibition in Malaysia.

On Tuesday, the jet fighters performed three flights for Indonesian Air Force pilots who flew on the Rafale B, taking the back seat.

There was also a solo aerobatic display performed by Capt. Benoit Blanche of the French Air Force.

The Rafale is a latecomer in the competition to replace the aging American-made F-5 E/F Tiger II operated by the Indonesian Air Force.

The French jet fighter is facing tough competition, locking horns with a stable of other contenders including the Russian-made Sukhoi Su-35, American-made F-16 Block 60, Swedish-made Saab JAS-39 Gripen and the Eurofighter Typhoon, a collaboration between Germany, Italy, Spain and the UK.

The Indonesian Air Force has repeatedly said it prefers the Su-35, the latest iteration of the Flanker family of jet fighters, although the final decision will be made by the Defense Ministry.

Meanwhile, Dassault Aviation executive vice president for America, Africa and Asia military sales JPHP Chabriol told The Jakarta Post that the best example of French will to transfer technology was India, which selected the Rafale.

He said that from an order of 126 units, 18 were supposed to be produced in France and the rest to be produced locally by Indian industries through progressive transfer of technology.

“From French authorities’ point of view as well as from French industry, there is no limitation to transfer technologies of the Rafale to friendly foreign countries,” he said.

“The only constraints we have are linked to the budgetary aspect, good sense and cost efficiency.”

He said Dassault and all associated French companies were quite open to discussions with Indonesian actors to set up a program that suited Indonesian requirements.

“We are not imposing anything; we are ready for discussion to define what is the optimized scheme of transfer of technology in the framework of the Rafale bid,” Chabriol said.

Other than technology transfer, Chabriol emphasized that Indonesia would get total independence if it selected the Rafale because, as it is a 100-percent French product, Indonesia would not have to deal with a third party.

Another advantage of buying the Rafale, he added, was that it could be deployed with very minimal logistical support.

(The Jakarta Post)

March 25, 2015

F-5E Tiger, Pertahanan Udara Orde Baru

POLITIK > F-5E TIGER, PERTAHANAN UDARA ORDE BARU

PESAWAT TEMPUR

Pada 1960-an, TNI Angkatan Udara memiliki arsenal udara yang ditakuti di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik berbasiskan jet tempur MiG-15 hingga MiG-21, pengebom Tu-16, peluru kendali, pesawat intai Gannet, dan pesawat transpor C-130 Hercules. Namun, kekuatan itu kemudian lenyap seiring dengan pembersihan militer oleh penguasa Orde Baru.

Sejumlah pesawat tempur disiagakan saat Panglima Kostrad Letnan Jenderal M Munir meninjau  komando tugas udara gabungan di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 27 April 2013.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANSejumlah pesawat tempur disiagakan saat Panglima Kostrad Letnan Jenderal M Munir meninjau komando tugas udara gabungan di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 27 April 2013.

Sejarawan Yayasan Nation Building, Didi Kwartanada, mengatakan, semasa awal 1970-an hingga akhir 1970-an, bisa dikatakan kekuatan udara Indonesia nyaris lumpuh karena ketiadaan suku cadang akibat terganggunya hubungan dengan Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Di dalam negeri, konsolidasi kekuatan rezim Soeharto yang berbasiskan TNI Angkatan Darat berusaha meredam kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang dikenal memiliki banyak elemen pendukung rezim Soekarno.

“Pesawat MiG-21 akhirnya di-grounded setelah terjadi beberapa kali kecelakaan. Sesudah itu, pada 1970-an sempat didatangkan hibah pesawat F-86 Sabre eks RAAF Australia dan pesawat latih T-33 dari Amerika Serikat untuk menjaga kemampuan terbang para penerbang TNI AU. Kondisi memang sangat memprihatinkan ketika itu. Pada Operasi Seroja di Timor-Timur 1976 masih dioperasikan pesawat tua, termasuk B-25 Mitchell dan pesawat-pesawat tua Dakota untuk mendukung operasi tempur,” kata Didi.

Akhirnya, menjelang dekade 1970-an, meski ada tekanan internasional terkait dengan operasi militer di Timor-Timur, Soeharto berhasil meyakinkan Amerika Serikat untuk mendapat dukungan persenjataan, termasuk jet-jet tempur.

Hadirlah jet tempur yang ditampilkan dalam parade Hari ABRI pertama kali-dan belum pernah terulang-di Jalan Tol Jagorawi, 5 Oktober 1980, jet tempur F-5E yang dibeli baru dari Amerika Serikat dan jet tempur A4-E Skyhawk (Skuadron Udara 11) bekas pakai yang dibeli dari Israel hasil Operasi Alpha yang diungkap dalam buku terbitan TNI AU, Elang Tanah Air di Kaki Lawu:Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi, 1939-2003.

F-5E dirancang sejak medio 1950-an oleh pabrikan Northrop. Pesawat dengan persenjataan dua kanon 20 milimeter M39 serta bom dan rudal AIM-9 Sidewinder yang legendaris.

Pesawat-pesawat F-5E Tiger datang dengan diangkut pesawat angkut raksasa C-5A Galaxy yang mendarat di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 21 April 1980. Teknisi Amerika Serikat melatih teknisi TNI AU. Pelatihan kepada penerbang TNI AU di Amerika Serikat dimulai dengan kehadiran mereka sejak 5 Desember 1979 dan 19 Januari 1980 di Lanud Williams di Negara Bagian Arizona. Sebanyak 16 unit atau satu skuadron penuh F-5E dimiliki TNI AU.

Operator F-5E adalah Skuadron Udara 14 yang sebelumnya mengoperasikan MiG-21 (1962-1970) dan F-86 Sabre (1974-1980). F-86 Sabre dikenal kiprahnya dalam Perang Korea (1950-1953) dan F-5E Tiger termasyhur dalam Perang Vietnam yang dioperasikan Amerika Serikat dan sekutunya, Vietnam Selatan.

Wakil Asisten Operasi KSAU Marsekal Pertama Yuyu Sutisna, yang lama mengawaki F-5E Tiger, mengaku, pesawat tersebut membutuhkan keahlian khusus untuk mengendalikannya karena kecepatannya tinggi. “Bentuknya sangat ramping sehingga kecepatannya tinggi dan harus pas mengatur pendaratan. Sangat mudah terjadi over shoot-melewati pendaratan-sehingga pesawat celaka,” kata Yuyu yang sempat berlatih dengan sesama penerbang F-5E Tiger dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Memang, bentuk fuselage- badan pesawat Tiger-mirip dengan F-104 Starfighter yang dijuluki “widow maker” karena sering mengalami kecelakaan yang menewaskan penerbang yang mengawaki Starfighter, lama digunakan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Secara fisik, pesawat berbentuk mirip pensil terbang yang memiliki panjang 14,45 meter dan lebar bentang sayap 8,13 meter itu memiliki kecepatan terbang 940 knot atau 1,5 kali kecepatan suara!

Tulang punggung

Yuyu mengisahkan, dirinya mengalami era transisi F-5E yang mengalami modernisasi ibarat dari sistem analog ke digital yang serba terkomputerisasi. Ketika itu, KSAU Marsekal Rilo Pambudi, seusai mengunjungi Pameran Dirgantara Le Bourget di Paris, Perancis, berniat mengadakan up gradingpesawat F-5E yang sudah 13 tahun dioperasikan TNI AU. Program modernisasi Tiger tersebut diberi nama “MACAN” yang merupakan singkatan dari Modernisation of Avionics Capabilities for Armament and Navigation. Pemenang kontrak adalah SABCA, sebuah perusahaan Belgia. Pada 1995, dialokasikan waktu 18 bulan untuk memodernisasi F-5E Tiger.

Namun, dalam buku Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi diungkapkan, ada kendala pembuatan konfigurasi sistem avionik yang ditargetkan selesai dalam tujuh bulan ternyata terlambat hingga hampir dua tahun baru selesai. “Saya adalah salah satu penerbang yang menguji dan menerbangkan pesawat program MACAN tersebut. Pesawat ini unik, bisa start scramble dengan satu mesin, lalu menjelang take off menyalakan mesin kedua,” kata Yuyu Sutisna.

Modifikasi yang dilakukan mencakup radar warning receiver, inertial navigation unit, pilot display unit, dan sistem airborne video camera recorder (AVCR). Sistem baru tersebut bisa mendeteksi ancaman rudal ataupun arah radar lawan secara 360 derajat. Salah satu yang berkesan dalam mengoperasikan F-5E Tiger, menurut Yuyu Sutisna, adalah ketika dirinya dalam satu flight (empat pesawat) terjebak awan badai (Cumulonimbus) di atas perairan Laut Jawa di utara Cirebon saat terbang ferry dari Pekanbaru ke Lanud Iswahjudi, Madiun.

“Selama tiga-empat menit kami terjebak Cumulonimbus. Bahkan, pesawat yang diterbangkan Errys Heryanto dihantam petir di bagian ekor. Pesawat anjlok dari ketinggian 37.000 kaki (10,6 kilometer) ke 13.000 kaki (4.000 meter). Kami tidak bisa saling berkomunikasi dan saling menjaga heading arah pesawat agar tidak bertabrakan,” kata Yuyu. Akhirnya, flight F-5E itu bisa lolos dari perangkap Cumulonimbus.

Modernisasi MACAN sempat terhenti karena embargo Barat terhadap rezim Orde Baru pasca Mei 1998. Meski demikian, para teknisi TNI AU akhirnya berhasil melakukan modernisasi MACAN mengacu pada pesawat yang sudah diselesaikan oleh Belgia.

Semasa Perang Dingin dan puncak kekuasaan Orde Baru pada 1980-an hingga 1990-an, F-5E Tiger menjadi tulang punggung kekuatan dirgantara yang terlibat dalam pelbagai operasi, termasuk menjaga Konferensi Tingkat Tinggi Nonblok di Jakarta pada 1992 hingga misi gila, yakni merekam penembakan rudal Harpoon yang dilakukan Mayor Dradjad Rahardjo dan Letda Agung Sasongkojati sebagai juru kamera. F-5E mereka terbang dengan kecepatan 0,93 Indicated Mach Number atau 1.000 kilometer per jam membuntuti rudal Harpoon. Peristiwa itu terjadi pada 3 November 1989.

Purna tugas

Saat ini, F-5E Tiger TNI AU memasuki masa purna tugas dan ada beragam pilihan jet tempur, seperti Rafale buatan Perancis, Sukhoi 27 atau Sukhoi 30 buatan Rusia, serta Saab JAS 39 Grippen buatan Swedia.

Sementara itu, para penerbang senior yang dilahirkan dari F-5E Tiger, di antaranya adalah Marsekal Madya (Purn) Errys Heryanto dan Marsekal (Purn) Djoko Suyanto. Djoko Suyanto kemudian menjadi Panglima TNI dan selanjutnya menjadi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode kedua (2009-2014).