Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

December 14, 2013

PAMERAN PERSENJATAAN KSAD: Ini Bentuk Pertanggungjawaban

Coba berani tidak duel dengan Malingsia atau negara si kancil Singapura ? Kalau dua negara itu minta ampun baru sebuah pertanggung jawaban terhadap bangsa, karena uang rakyat dipakai betul untuk memperkuat TNI, bukan mempertebal dompet pedagang senjata atau dompet petinggi TNI.

   

SURABAYA, KOMPAS — TNI Angkatan Darat mengadakan pameran alat utama sistem persenjataan di Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur. Pameran itu digelar salah satunya sebagai bentuk pertanggungjawaban TNI, khususnya AD, kepada masyarakat.”Kami diberi uang oleh negara untuk membeli persenjataan yang diperoleh dari pajak. Pajak dikumpulkan dari rakyat. Ini bentuk tanggung jawab kami bahwa uang yang diberikan kepada kami betul-betul dipergunakan secara transparan,” ujar Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman, Jumat (13/12), saat membuka pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Kodam V/Brawijaya.Menurut Budiman, alutsista yang dipamerkan sebagian besar sudah tua. Sementara alutsista yang dipesan dari sejumlah negara, salah satunya Korea, baru akan datang di Indonesia pada 2014. Alat-alat tersebut misalnya tank Leopard untuk dua batalyon dan helikopter Apache, yang saat ini tercanggih di dunia.

”Sampai tahun 2017, TNI akan memiliki helikopter Apache 8 unit. Jadi, nanti totalnya TNI AD akan memiliki 16 helikopter,” ujarnya.

Terus ditingkatkanSaat ini, TNI terus membenahi sistem alutsista. Salah satunya dengan melakukan riset persenjataan. Untuk itu, TNI telah bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya Institut Teknologi Bandung.

”Kami ingin ke depan sistem alutsista lebih banyak dibuat anak bangsa sendiri,” ujar Budiman.

Selain itu, Budiman telah meminta Badan Penelitian dan Pengembangan TNI AD untuk segera mematenkan penemuan sejumlah mahasiswa terkait dengan alat pertahanan. Dengan demikian, penemuan-penemuan anak bangsa tidak direbut oleh negara lain.

Menurut dia, hasil penelitian tersebut perlu diamankan karena ke depannya perang modern lebih menyasar tempat-tempat yang strategis, misalnya pusat keuangan, pusat pemerintahan, dan lokasi yang penduduknya paling banyak.

”Jadi bukan siapa pasukan yang dilawan. Namun, pelurunya apa. Maka, teknologi penangkal serangan udara harus canggih,” kata Budiman.

Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal R Ediwan Prabowo dalam kesempatan tersebut menuturkan, dengan adanya pameran seperti ini, hubungan baik antara TNI dan masyarakat diharapkan dapat dibangun. (ESA)

 

TNI AD Inginkan 24 Helikopter Blackhawk

08 Desember 2013

Helikopter Sikorsky Blackhawk (photo : Gunther Feniuk)

TNI Berencana Beli Black Hawk

SURYA Online, SITUBONDO – Setelah memastikan pembelian delapan helikopter canggih Apache dari pabrikan Boeing Amerika Serikat, Kementerian Pertahanan berencana menambah armada udaranya dengan membeli helikopter Black Hawk.

Hal ini disampaikan oleh  Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Letnan Jenderal Budiman usai menyaksikan latihan perang antarcabang  Kodam V Brawijaya di pusat latihan tempur Marinir di Karang Tekok, Banyuputih, Situbondo, Selasa (3/12/2013).

“Pembahasannya (pembelian helikopter Black Hawk) sudah masuk DPR RI, rencananya ada 24 helikopter atau satu skuadron,” terang Budiman.

Menurut Budiman, pembelian helikopter canggih Black Hawk sangat tepat jika melihat kondisi geografis Indonesia.

Selain mempunyai fungsi tempur yang canggih, helikopter ini mempunyai fungsi lain yang tak kalah penting, yakni bisa sebagai alat transportasi dan pengangkutan logistik.

“Tidak hanya untuk perang, tapi juga untuk fungsi lain, semisal pengiriman bantuan untuk korban bencana,” lanjut Budiman.

Sementara itu, terkait latihan perang antar cabang Kodam V Brawijaya yang Selasa pagi hingga siang digelar di Situbondo dengan jumlah prajurit yang dikerahkan mencapai 4300 lebih personel.

Budiman berharap latihan perang berikutnya sudah didukung dengan persenjataan yang lebih canggih. Tidak seperti saat ini yang beberapa peralatannya tergolong uzur meski tetap baik untuk digunakan.

Budiman mencontohkan penggunaan meriam 105 yang sudah cukup tua atau penggunaan 9 tank AMX 13 yang umurnya sudah lebih tua darinya yang saat ini 57 tahun.

“Tank AMX ini lebih tua dari saya,” ucapnya. “Begitu juga dengan tim pengisi bahan bakar tank yang masih menggunakan engkol untuk isi bahan bakar tank, kedepan akan ada sistem pengisian yang lebih canggih dan mungkin ada mobil khusus pengangkut bahan bakar.”

Pameran Alutsista

Sementara itu, Pangdam V Brawijaya Mayor Jendral TNI Ediwan Prabowo mengatakan Kodam V Brawijaya akan mengelar pameran Alutsista di Lapangan Kodam pada 13 hingga 15 Desember mendatang.

“Masih ingat dengan pameran Alutsista di Monas, Jakarta Oktober lalu? Di Surabaya akan ada pameran yang besar seperti itu, dan mungkin lebih besar,” terang Ediwan.

Ediwan menambahkan, pameran Alutsista ini sekaligus menjadi rangkaian peringatan hari Juang Kartika atau Hari TNI AD.

Dalam pameran nanti, akan dipamerkan berbagai macam peralatan tempur terbaru yang dimiliki oleh TNI.

(Surya)

 

December 13, 2013

Kapolri : Indonesia Belum Punya Industri Pertahanan Yang Baik

 

Alasan aja untuk impor  dan dapet fee broker. Kondisi industri Indonesia memang buruk, karena para buyer nya doyan produk IMPOR. 
Ok, deh Pak Kapolri sudah mau pakai Toyota Kijang sebagai mobil dinas dan  tidak mobil mewah Toyota Crown. Mungkin kedepannya coba mobil listrik local atau mobil buatan ESEMKA, pak. Jadi sekalian membantu industri lokal, Jika industri lokal, khusus industri otomotif kuat, lahirnya industru pertahanan yang baik adalah suatu keniscayaan saja.
 
Kamis, Desember 12, 2013

 

IDB

16

 Kompas  12 Dec 2013 : Kapolri Jenderal Pol Sutarman mengakui, jika sarana dan prasarana dalam menunjang keamanan yang dimiliki Polri masih minim. Hal itu diperparah dengan minimnya jumlah industri pertahanan yang dimiliki Indonesia.

“Indonesia adalah pengguna (sarana dan prasarana keamanan) yang besar, tapi belum memiliki industri pertahanan yang cukup,” kata Sutarman saat membuka pameran Aspacpol 2013 Expo and Forum di Jakarta Internastional Expo (JIExpo) Kemayoran, Rabu (11/12/2013).

Pameran internasional bidang keamanan internal negara tersebut akan dilangsungkan selama tiga hari hingga 13 Desember 2013 mendatang. Pameran tersebut diselenggarakan bersama dengan pameran Indo Security 2013 Expo and Forum dan Indo Firex 2013 Expo and Forum. Sebanyak 15 negara termasuk Indonesia turut ambil bagian dalam pameran ini, diantaranya Malaysia, Belarusia, China dan Taiwan. 

Kapolri mengatakan, selama ini hanya PT Pindad yang menunjang sarana dan prasarana Polri, sementara teknologi yang dimiliki Pindad masih belum maksimal. Ia menambahkan, Polri memiliki 400 ribu personel bertugas untuk menjaga keamananan lebih dari 240 juta penduduk Indonesia.

Dalam upaya mewujudkan keamanan, Polri harus dihadapkan dengan sejumlah persoalan keamanan. Persoalan itu diantaranya meliputi kejahatan transnasional, penyelundupan senjata, people smuggling, hingga perdagangan narkoba ilegal. Di samping itu, di era demokrasi seperti saat ini masyarakat diberikan kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya. 

Tak jarang mereka harus turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Ketika aksi tersebut diselenggarakan, diakui Sutarman, jika tidak sedikit yang berujung gesekan. Sehingga hal tersebut harus diantisipasi agar keamanan dan ketertiban masyarakat dapat terjamin. 

“Kita memerlukan senjata seperti laser atau senjata listrik yang dapat melumpuhkan para demonstran selama lima menit,” ujarnya. 

Sementara itu, Sutarman berharap, melalui pameran peralatan ini industri pertahanan dalam negeri dapat meningkat. Di samping juga muncul teknologi-teknologi baru yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

December 13, 2013

Indonesia Tetap Beli Hercules Australia

Pesawat Hercules eks Aussie yang pasti tidak bisa dipakai operasi clendestine , misal penyusupan ke Darwin, Aussie, atau operasi penerjunan ke Papua Nuigini, atau ke Malaysia.

RABU, 11 DESEMBER 2013 | 20:29 WIB

 

 

TEMPO.COJakarta – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah tetap melanjutkan kerja sama pembelian hibah pesawat angkut militer C-130 Hercules dengan Australia. Pada 29 November lalu, satu unit Hercules sudah diterima TNI Angkatan Udara dan kini sudah berada di Landasan Udara Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur. ”Baru satu unit yang masuk, yang lain dalam proses,” kata Purnomo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 11, Desember 2013.

Purnomo mengatakan, alasan tetap melanjutkan kerja sama dengan Australia karena pemerintah Indonesia telah membayar untuk pembelian dan biaya servis pesawat hibah tersebut ke Australia. ”Sayang, kalau sudah dibayar tapi tidak diambil,” kata bekas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini. Namun, Purnomo tak menjelaskan secara rinci dana yang sudah dibayarkan pemerintah kepada Australia.

Menurut Purnomo, pengiriman sisa pesawat Hercules akan dilakukan secara bertahap. Caranya, pilot dan kru TNI Angkatan Udara dikirim ke Pangkalan Udara Militer Australia di Richmond. Selanjutnya, pilot dan kru TNI Angkatan Udara akan membawa pulang pesawat ke Tanah Air.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menyatakan menghentikan kerja sama di bidang pertahanan dengan Australia. Hal ini sebagai respons menanggapi penyadapan yang dilakukan pihak Australia. Panglima TNI Jenderal Moeldoko bahkan sempat menyatakan menarik enam pesawat F-16 milik TNI AU yang hendak melakukan kerja sama dengan Australia pada 20 November lalu.

Purnomo menjelaskan, kerja sama pertahanan antara Indonesia dengan Australia memang terhenti, kecuali pembelian dan hibah pesawat Hercules. Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal Purnawirawan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan, kerja sama latihan bersama antara Indonesia-Australia memang dihentikan. ”Tapi kerja sama militer dalam pendidikan tetap berjalan,” kata dia di tempat yang sama.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Agus Gumiwang Kartasasmita, mendukung langkah Kementerian Pertahanan. Menurut dia, keputusan untuk tetap mengambil pesawat Hercules hasil pembelian dan hibah dari Australia sudah benar.

Menurut politikus Partai Golkar ini, langkah ini tak melanggar keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang meminta kerja sama pertahanan Indonesia dan Australia dihentikan sementara. ”Pesawat itu sudah dibayar ke Australia karena masuk anggaran 2013. Pembelian itu program lama, jauh sebelum ketegangan kedua negara,” kata Agus.

INDRA WIJAYA

December 11, 2013

RI Beli Kapal Selam dengan Rudal Balistik

SENIN, 9 DESEMBER 2013

PERTAHANAN

3 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia akan membeli kapal selam Kilo Class dari Rusia yang dilengkapi rudal balistik. Senjata ini merupakan kekuatan strategis sebagai efek gentar.

”Ini rencana yang sudah lama, tidak terkait dengan ada kasus atau tidak,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam konferensi pers seusai bertemu dengan perwakilan Rusia di Jakarta, Jumat (6/12).

Purnomo mengatakan, Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki tiga alur laut kepulauan Indonesia. Selain itu, juga ada tiga sea lines of communication yang di wilayah timur Indonesia terpecah menjadi tiga. Ini berarti, ada lima jalur masuknya kapal ke wilayah Indonesia dari arah selatan.

”Karena laut di timur dalam, sangat mungkin operasi kapal selam. Kita bahas untuk membangun armada kapal selam besar-besaran,” ujar Purnomo.

Ia mengakui, pengadaan ini merupakan percepatan pengadaan kapal selam dari rencana strategis. ”Fokusnya memang menjaga perbatasan,” lanjutnya.

Salah satu tekanan pembelian kapal selam dari Rusia adalah permintaan Indonesia agar kapal selam dilengkapi rudal balistik. Rudal kelas S-Club itu mampu menempuh jarak 300-400 kilometer. ”Rudal ini punya efek gentar strategis dan akan jadi rudal air ke permukaan Indonesia pertama,” kata Kepala Staf TNI AL Laksamana Marsetio.

Menurut dia, kebutuhan Indonesia adalah 12 kapal selam. Saat ini telah ada dua kapal selam buatan Jerman. Awal Desember, Marsetio juga ikut dalam proses awal pembuatan kapal selam Indonesia di Korea Selatan. Menurut rencana, kapal selam ketiga akan dibuat di Indonesia.

Marsetio mengatakan, kapal selam Kilo Class cocok untuk wilayah timur Indonesia sesuai kedalamannya di atas 150 meter.

Armada gado-gado
Politisi Partai Nasional Demokrat, Enggartiasto Lukita, yang mantan anggota Komisi I DPR bidang pertahanan, mempertanyakan rencana pengadaan kapal selam Rusia yang mengejutkan itu. ”Ini armada gado-gado. Ada kapal selam Jerman, Korsel yang sedang dalam proses, dan pengadaan kapal selam Rusia. Bagaimana nanti perawatannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, proyek kapal selam Korsel dengan Indonesia masih bermasalah. Prinsipal mitra kerja Korsel dari Jerman telah membatalkan kerja sama dan ada gugatan hukum terhadap pihak Korsel. Dalam kasus ini, akhirnya Korsel mengembangkan sendiri komponen penting yang tidak dibantu pihak Jerman. ”Itu belum pernah dilakukan dan belum pernah diuji. Kita menjadi sarana uji coba produk mereka,” Enggartiasto mengingatkan.

Dia berharap pemerintah tidak asal beli persenjataan demi mengangkat gengsi penguasa sebelum mundur dari jabatan pada tahun 2014. Apalagi diakui, situasi keuangan dan defisit berkepanjangan membutuhkan pengetatan anggaran negara untuk membantu masyarakat sebagai prioritas.

Ke Rusia
Purnomo mengatakan, tim Indonesia dalam waktu dekat akan ke Rusia untuk menentukan spesifikasi teknis. Karena itu, belum diputuskan soal jumlah, kapal selam baru atau bekas, mekanisme pembayaran, dan penggunaan rekanannya. Indonesia mendapat fasilitas pinjaman dari Pemerintah Rusia yang belum dipakai sebesar 700 juta dollar AS. Selain itu, juga masih ada dana top up milik pemerintah yang belum dipakai.

”Tidak ada masalah dengan anggaran, kita mulai dengan spesifikasi teknis,” kata Purnomo.

Selain kapal selam baru, lanjutnya, Rusia juga memiliki kapal selam bekas yang bisa dimodernisasi.

Marsetio mengatakan, secara teknis, tidak ada kesulitan untuk mengoperasikan kapal selam dari Jerman, Korsel, dan Rusia pada saat yang sama.

”Kalau soal rekanan, tadi juga rapat tidak dengan rekanan,” ujar Purnomo. (Edn/Ong)

Site Meter

December 11, 2013

KSAL Sampaikan Rencana Tambahan Alutsista dan Pemekaran Organisasi

 

 
09 Desember 2013  Suara Surabaya
 

Korps Marinir akan mendapatkan tambahan kendaraan tempur 5 unit BTR-4 dan 37 unit tank BMP-3F (photo : KMDB)

Kasal: Tingkatkan Kekuatan, TNI AL Tambah Alutsista

suarasurabaya.net – Untuk terus meningkatkan kemampuan tempur prajurit, serta memperkuat pertahanan NKRI, Tentara Nasional Inonesia Angkatan laut (TNI AL) akan terus meningkatkan Alutsista yang ada. Sejauh ini TNI AL terus berupaya untuk meningkatkan persenjata yang dimiliki, agar kekuatan yang dimiliki semakin diperhitungkan oleh negara-negara tetangga.

Laksamana TNI Marsetio Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) mengatakan, dalam proses pemenuhan Kekuatan Pokok Minimum atau MEF (Minimum Essential Force), dilaksanakan pengembangan organisasi dan pembangunan alutsista. Untuk pengembangan organisasi dilaksanakan validasi organisasi yang bertujuan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien yang saat ini sedang dalam proses menunggu Keputusan Presiden.

“Kita tetap merencanakan tiga Komando Armada di bawah Komando Pertahanan Laut, tiap Armada membawahi Guspurla dan Guskamla. Sedangkan Lantamal yang akan dikembangkan menjadi 14 di bawah kendali langsung Kohanla RI. Untuk proyeksi kekuatan ke darat, akan dikembangkan 3 Divisi Marinir, 3 Satlinlamil dan 3 Wing Udara,” kata Laksamana TNI Marsetio kepada wartawan, Kamis (5/12/2013).

Seiring dengan tambahan beberapa LST maka Satuan Lintas Laut Militer akan dimekarkan menjadi 3, demikian juga Penerbangan Angkatan Laut akan dimekarkan menjadi 3 Wing Udara dan Korps Marinir menjadi 3 Divisi (photo : Kaskus Militer)

Dia menambahkan, untuk pembangunan alutsista TNI AL akan melakukan pengadaan alutsista yang mengedepankan pemanfaatan industri dalam negeri, agar dapat memberikan dampak positif untuk mewujudkan kemajuan dan kemandirian alutsista nasional. “Sampai dengan tahun 2013, TNI AL sedang membangun alutsista dari luar negeri, yaitu 3 unit Kapal Selam Diesel Electric dimana Kapal Selam ke tiga akan dibangun di Galangan PT. PAL Indonesia,” ujarnya.

Selain kapal Selam, kata Kasal, juga akan dilakukan pengadaan 3 Kapal Multi Role Light Fregate (MRLF), 2 unit Kapal PKR, 2 unit Kapal Bantu Hidro Oceanografi (BHO), 1 unit Kapal Latih, 37 Unit Tank Amfibi BMP-3F dan 5 Unit BTR-4.

Untuk pengadaan dari dalam negeri terdiri dari 3 Unit Kapal Patroli 43 meter, 3 Unit Kapal Cepat Rudal 60 meter, 2 Unit Kapal Bantu Cair Minyak, 1 Unit Trimaran, 3 Unit KCR 40 meter, 3 Unit Kapal Angkut Tank, 2 Unit Pesud CN-235 MPA, 11 Unit Heli AKS, 3 Unit Heli Angkut dan 4 Unit Pesawat Latih.

Sekadar diketahui, dalam upacara peringatan HUT Armada RI yang dipusatkan di Koarmatim tadi, dilakukan pula penyerahan tanda kehormatan Satya Lencana Kesetiaan 32 Tahun, 24 Tahun, 16 Tahun dan 8 Tahun kepada perwakilan prajurit yang berhak menerima, serta pemberian Penghargaan Bendera KRI Teladan dari Kasal kepada KRI yaitu Teladan I di terima KRI Frans Kaisiepo-368 milik Satkor Koarmatim, Teladan II diterima KRI Patiunus-384 milik Satkor Koarmabar, dan Teladan III KRI Banda Aceh-593 milik Satlinlamil Jakarta.

December 11, 2013

TNI AD Akan Mendapatkan 1 Batalion Meriam Tarik KH-179 Kaliber 155mms

09 DESEMBER 2013

09 Desember 2013

KH-179 howitzer tarik 155mm dengan berat 6,9 ton dengan jarak jangkau 22 km dengan Normal HE Projectiles  atau 30 km dengan Rocket-Assisted Projectile (photo : Militaryphotos)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini berbicara mengenai alat utama sistem senjata, profesionalisme dan kesejahteran prajurit, serta netralitas TNI.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Angkatan Darat, terus berupaya meningkatkan kualitas maupun kuantitas alat utama sistem senjata (alutsista). Sebagai pengawal kedaulatan negara, wajar jika TNI dibekali persenjataan yang canggih. Selain senjata, TNI, khususnya Angkatan Darat juga berupaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan prajurit.

Untuk mengetahui lebih jauh soal ini, wartawan Koran Jakarta, Marcellus Widiarto, Wandi Yusuf, dan Mochamad Ade Maulidin mewawancarai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, di rumah dinasnya, di Jakarta, Kamis (5/11) malam lalu.

Masih mengenakan pakaian dinas lengkap, Jenderal yang kerap bertutur kata lembut dan bicaranya terstruktur ini, juga bercerita mengenai berbagai persoalan yang dihadapi prajurit TNI AD. Berikut wawancara selengkapnya.

Kini alutsista TNI AD sudah semakin canggih. Apakah sebagian besar merupakan produk dalam negeri?

Untuk alutsista, kebetulan prioritas kita di TNI AD adalah mengupayakan produk dalam negeri. Nah, dari berbagai penambahan alutsista, umumnya alutsista ini untuk menggantikan alutsista-alutsista yang sudah terlalu tua. Dan bahkan ada alutsista yang umurnya lebih tua dari saya.

Kita coba lihat dari alutsista infanteri. Hampir 95 persen adalah produk dalam negeri. Mulai dari senjata laras pendek, laras panjang, senapan mesin, mortir, sampai kendaraan taktis (rantis) Anoa, dan rantis Komodo. Itu semua produk dalam negeri.

Yang masih didatangkan dari luar seperti anti-tank guided missile (ATGM). Peluru yang pakai guided masih ada yang harus dibeli dari luar. Tapi, untuk satuan infanteri hampir keseluruhan sudah (produk dalam negeri). Untuk rantis Anoa mungkin kita masih terbatas. Tapi, secara keseluruhan sudah lebih dari 70 persen. Ini artinya, kita sudah modern kalau dihitung dari kebutuhannya berapa. Tank Marder juga masih kita beli dari luar. Marder itu adalah Infanteri Fighting Vehicle.

Bagaimana dengan satuan kavaleri?

Untuk kavaleri kita beli tank Leopard. Leopard adalah main battle tank terbaik di dunia. Kita beli untuk Leopard 2A4 sebanyak 1 batalion atau 42 unit. Kita juga beli Leopard 2 Revolution atau RI. Tank itu sebanyak 1 batalion plus 1 kompi. Jumlahnya sebanyak 42 tank ditambah 13, jadi ada sebanyak 55 unit.

Kemudian, kami juga melengkapi Leopard yang digunakan untuk jembatan, zeni, dozer, excavator, dan recovery. Basic mesinnya juga dari Leopard. Tank jenis ini ada sekitar 13–15 unit. Jumlah Marder sendiri ada sekitar 50 unit.

KH-178 howitzer tarik 105mm (photo : Defense Studies)

Untuk artileri medan (Armed)?

Untuk Armed itu cukup banyak (membeli dari luar). Kita membeli multi launch rocket system (MLRS). Itu untuk 2 batalion. MLRS ini kita beli yang Avibras buatan Brasil dengan daya jangkau lebih dari 100 km. Kemudian, areal kehancuran mencapai 4 hektare dan jenis kehancurannya menyeluruh dan mematikan.

Ini setara dengan Himars-nya Amerika Serikat atau buatan Rusia. Ini seimbang. Bedanya, kita menggunakan untuk kepentingan kedaulatan, sedangkan Himars untuk kepentingan terorisme dan akurasinya sangat tinggi.

Kita juga membeli Caesar atau meriam 155 Howitzer. Meriam ini bisa masuk pada kedudukan siap tembak hanya dalam 2 menit. Jarak tembak maksimal mencapai 42 km. Peluru belum sampai, dia sudah bisa tinggalkan tempat. Dalam prinsip perang artileri lawan artileri, sebelum musuh tahu, kita sudah harus bisa pindah. Jumlahnya sebanyak 2 batalion.

Kita juga beli juga meriam 155mm KH179 buatan Korea Selatan sebanyak 1 batalyon. Ada juga meriam 105mm KH178 Armed Korea Selatan sebanyak 3 batalyon.

Untuk penangkis serangan udara, kita membeli 9 baterai Mistral sebanyak 3 batalyon. Mistral ini memang digunakan untuk jarak pendek. Probabilitasnya mencapai 96 persen kemungkinnan kena. Jadi hanya human error yang membuat dia meleset. Kita juga akan membeli 5 detasemen Starstreak. Tapi, ini masih dalam proses.

Lalu, bagaimana dengan pengadaan helikopter?

Helikopter kita masih akan datang 16 unit Bell 412 dan 12 unit heli serang Fennec dan 8 unit heli Apache. Apache ini direncanakan akan datang pada 2017. Dan sesuai kontrak, Bell dan Fennec tinggal tunggu datang. Dipastikan sudah ada 80 persen pada 2014.Yang belum kita beli adalah peralatan untuk satuan Zeni dan bantuan lainnya. Pada satuan ini pembelian lebih pada tembakan fire precision. Mungkin akan kita lengkapi pada tahun anggaran selanjutnya.

Apakah semua ini sudah bisa memenuhi minimum essential forces (MEF)?

Kalau kita lihat MEF sudah bisa mencapai keseluruhan 30 persen. Tapi, nanti setiap orang ngomongnya berbeda karena bergantung dari sudut mana dia membuat satu penilaian. Kalau untuk penilaian sampai 2014, kita sudah memenuhi. Itu sebabnya kekuatan kita cukup lumayan diperhitungkan di Asia Tenggara.

Pada dasarnya kita memprioritaskan alutsista dalam negeri untuk menghemat devisa, tapi pada teknologi yang belum mampu, kita harus beli dari luar. Kebijakan yang akan datang, kalau kita membeli harus dilakukan alih teknologi. Paling tidak menjadi joint production (produksi bersama). Ini sesuai dengan UU tentang Industri Pertahanan.

Bagaimana dengan sumber daya prajuritnya, apakah sudah siap untuk mengawaki alutsista canggih tersebut?

Kebetulan semenjak saya masih Dan Kodiklat, untuk pendidikan kita sudah menuju pada era teknologi informasi. Komputerisasi. Jadi, dari 2010 kita sudah memulai setiap prajurit sudah menggunakan komputer dalam proses belajar-mengajar. Paling tidak dia sudah tak gaptek (gagap teknologi) lagi.

Khusus personel yang akan mengawaki alat-alat canggih, kita lakukan psikotes ulang. Baik pada skala IQ maupun EQ sehingga betul-betul seusuai peruntukan. Proses ini sedang dan sudah kita lakukan.

Kemudian, mulai ke depan, rekrutmen akan sangat memperhatikan kualitas intelektual selain kepribadian. Jasmani nanti kita bimbing. Kalau dapat yang memang larinya (fisiknya) bagus, itu lebih baik. Tapi dengan kita bimbing secara bertahap, kita yakin bisa. Yang penting modal otak dulu yang kita prioritaskan.

Selain itu, kita sedang membuat pokja yang menyiapkan piranti lunak dalam bentuk doktrin, petunjuk lapangan, petunjuk teknis, dan sebagainya. Kemudian, untuk sektor pendidikan sudah kita kirim ke negara pembuat (alutsista). Para calon pelatih kita prioritaskan kirim ke sana supaya hemat. Kalau kita kirim semua percuma, lebih baik para calon pelatihnya saja. Dan ini sudah berjalan, termasuk penyiapan kelengkapan seperti garasi hingga aturannya. Sudah kita siapkan semuanya.

See full article : Koran Jakarta

December 6, 2013

Prajurit Cicil Sepatu

duh bagaimana bisa mengharapkan prajurit TNI duel dengan Aussie atau tentara Singapore 

 

RABU, 4 DESEMBER 2013

kompas logo
 

 

Tak Ada Masalah dengan Kualitas dan Kuantitas Seragam

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS — Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Gatot Nurmantyo mengakui, prajurit Brigade Infanteri Linud 17 Kostrad mencicil pembelian sepatu lapangan. Pembelian itu dalam rangka penyesuaian dengan motif pakaian dinas lapangan TNI yang baru, yang disebut Loreng NKRI.

”Anggaran tidak memenuhi,” jawab Gatot, saat ditanya tentang sebab pembelian sepatu lapangan dengan cara mencicil tersebut.

Pencicilan pembelian sepatu terjadi sejak pertengahan 2012, saat dimulainya seragam Loreng NKRI di Kostrad. Para prajurit lalu berinisiatif memiliki sepatu yang motifnya serupa, yaitu pattern pixel. ”Itu bukan sepatu resmi, anak-anak Linud berinisiatif, alasannya untuk keserasian,” kata Gatot.

Menurut Gatot, awalnya harga sepatu tersebut Rp 1,2 juta. Namun, berhasil ditekan menjadi Rp 750.000. Dengan pengadaan lewat koperasi, sepatu itu kemudian dibeli dengan cicilan. Saat ini, motif Loreng NKRI akan diresmikan. Naiknya anggaran di TNI AD juga membuat sepatu itu akan diadakan oleh negara.

Berdasarkan catatan Kompas, motif Loreng NKRI pertama kali dipakai oleh Brigade Infanteri Linud 17 pada pertengahan 2012. Menurut beberapa anggota Kostrad, motif loreng ini dianggap bagus, tetapi belum dites kesesuaiannya untuk kamuflase dalam operasi.

Gatot mengatakan, anggaran pembelian pakaian masuk dalam kategori belanja barang di struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk TNI. Belanja barang ini terdiri dari pembelian barang-barang yang habis dipakai, seperti pemeliharaan perumahan dan kantor, latihan, kesehatan, pakaian, dan pendidikan. Pada 2012, setiap prajurit TNI AD mendapat anggaran Rp 7,6 juta per tahun untuk semua kebutuhan itu. Jumlah ini tidak memenuhi kebutuhan yang ada untuk pembinaan.

Gatot juga mengatakan, anggaran belanja barang untuk TNI AD relatif kecil dibandingkan dengan TNI AU dan TNI AL. Di APBN 2012, setiap prajurit TNI AL rata-rata mendapat alokasi Rp 27,68 juta dan TNI AU mendapat Rp 44,29 juta.

Pada 2014, prajurit TNI AD mendapat Rp 18,10 juta per tahun, sementara TNI AL rata-rata mendapat Rp 28,10 juta dan TNI AU Rp 52,67 juta.

Kebutuhan beda

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, tidak ada indeks per prajurit di TNI AU. Pasalnya, ada prajurit-prajurit yang khusus, seperti pilot dan Paskhas.

Tingginya anggaran untuk TNI AU, ungkap Hadi, karena ada kebutuhan perlengkapan perorangan yang khusus. Ini, misalnya, untuk pilot yang membutuhkan overall dan sarung tangan tahan api, topi untuk dudukan helm, sepatu terbang yang tahan benturan, hingga jam
tangan dengan banyak fasilitas. ”Untuk seragam, tidak pernah personel beli sendiri,” kata Hadi.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Untung Suropati. Dia mengatakan, perbedaannya sesuai dengan tugas. Misalnya, perwira tinggi mendapat jatah seragam pakaian dinas harian lebih banyak dibandingkan pasukan yang mendapat jatah pakaian dinas lapangan lebih sering.

Untung dan Hadi mengatakan, tidak pernah ada masalah dengan kualitas dan kuantitas pengadaan seragam yang terpusat di Mabes TNI AL dan Mabes TNI AU.

Namun, secara terpisah, perwira di Mabes TNI AL pernah mempertanyakan pengadaan seragam di TNI AL yang diduga marak peran rekanan di dalamnya. Peran rekanan yang terpisah antara seragam, sepatu, kaus kaki, dan lainnya membuat kualitas seragam sering tidak nyaman. ”Banyak yang dikerjakan rekanan yang tidak profesional,” kata seorang perwira. (EDN)

December 2, 2013

Menhan: Satelit Khusus Pertahanan Siber Masuk Rencana Anggaran 2014

29 NOVEMBER 2013


 

 
29 November 2013

Satelit pertahanan akan dimasukkan dalam anggaran 2014 (photo : Lockheed Martin)

VIVAnews – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro akan menindaklanjuti pengembangan sistem pertahanan siber dan memiliki satelit sendiri untuk kepentingan sektor pertahanan, keamanan, intelijen dan luar negeri. Menurutnya, rencana itu akan dimasukkan dalam program anggaran tahun depan.

“Soal satelit ini masuk dalam program anggaran 2014. Tahap berikutnya perlu ada mekanisme tambahan. Pengadaan satelit dari Kemenkominfo,” kata Purnomo di Jakarta, Jumat 29 November 2013.

Purnomo mengatakan, TNI Angkatan Darat telah lama memiliki siber pertahanan, meski masih sewa dari pihak luar. Namun kedepan, pemerintah harus memiliki satelit khusus untuk sistem pertahanan agar tidak mudah disadap oleh pihak asing.

“Oleh karena itu mesti diajukan anggarannya, sejauh ini belum ada anggaran untuk itu (satelit khusus milik RI),” ujarnya.

Pertahanan siber yang akan dibangun itu nantinya berada di bawah kendali Kementerian Pertahanan untuk sistem keamanan dan pertahanan Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS), Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dan Polri.

Purnomo menambahkan, untuk urusan siber ada dua institusi yang menangani. Yakni pertahanan siber dibawah Kementerian Pertahanan yang di operasikan oleh TNI. Sedangkan kriminal siber itu dibawah kewenangan Polri.

Sebelumnya Komisi I DPR yang merupakan mitra kerja Kemenhan mendukung penuh pemerintah untuk segera mengembangkan sistem pertahanan siber dan memiliki satelit khusus untuk kepentingan sektor pertahanan, keamanan, intelijen dan luar negeri.

Sebelumnya Komisi I DPR yang merupakan mitra kerja Kemenhan mendukung penuh pemerintah untuk segera mengembangkan sistem pertahanan siber dan memiliki satelit khusus untuk kepentingan sektor pertahanan, keamanan, intelijen dan luar negeri.

Hal itu merupakan salah satu butir rekomendasi hasil rapat antara Komisi I DPR dengan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Kapolri, Kepala BIN, Lemsaneg, Mensesneg dan Menkominfo terkait kasus penyadapan yang dilakukan oleh Australia, Kamis 28 November 2013. 

(VivaNews)

November 27, 2013

Pengadaan 9 Pesawat Hercules dari Australia Dibatalkan ?

 

Sudahlah beli pesawat transport yang baru saja.. Kenapa PT DI tidak diberi insentif untuk memproduksi pesawat sejenis dengan c130 Hercules ?

 

 

27 NOVEMBER 2013


 

 
27 November 2013

 

Pesawat angkut C-130H eks RAAF yang skema warnanya telah disesuaikan dengan TNI AU (photo : Kaskus Militer)

Pemerintah Tak Jadi Beli Hercules Australia

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah lewat Kementerian Pertahanan memutuskan membatalkan rencana pembelian enam pesawat angkut C-130 Hercules bekas dari Australia. Pemerintah juga menolak hibah empat unit pesawat serupa dari Negeri Kanguru itu.

“Proyek Hercules dari Australia digantikan,” kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis saat dihubungi Tempo, Selasa, 26 November 2013.

Pembatalan ini merupakan buntut pengungkapakan aksi penyadapan yang dilakukan pemerintah Australia pada 2009. Gusar pada tindakan negeri jiran itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lantas menghentikan kerja sama pertahanan dengan Australia.

Sebelumnya, Indonesia dan Australia sepakat dengan transaksi jual-beli enam unit pesawat angkut militer Hercules seharga US$ 15 juta per unit. Australia pun menawarkan empat unit pesawat Hercules secara cuma-cuma, meski Indonesia diwajibkan membayar biaya perawatan dan perbaikan senilai US$ 15 juta per unit, jumlah yang sama dengan harga pesawat Hercules baru.

Rachmad Lubis mengatakan sampai saat ini pemerintah belum membayarkan uang ke Australia. Menurut dia, besarnya anggaran proyek Hercules bekas Australia masih dalam perhitungan. “Karena sifatnya adalah biaya untuk pemeliharaan pesawat,” tuturnya.

Namun, Kementerian Pertahanan belum menentukan apaakh akan membeli pesawat angkut serupa dari negara lain. Sebab harga pesawat Hercules baru bisa mencapai lima kali lipat dari biaya hibah dari Australia. “Sementara kami masih wait and see,” ujarnya.

(Tempo)

November 21, 2013

Kapal perang eks Jerman Timur Tenggelam !

Kapal Perang Tenggelam

Ada Dugaan Menabrak Pilar Beton

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS — Kapal perang milik TNI AL, KRI Teluk Peleng (535), tenggelam saat sedang sandar di Dermaga Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta. Kapal itu karam diduga karena menabrak pilar beton. Namun, untuk memastikan penyebabnya, saat ini tengah dilakukan penyelidikan.

”Iya, benar ada KRI tenggelam. Itu KRI bekas dari Jerman Timur,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Rabu (20/11), dalam konferensi pers di kantor Badan Intelijen Strategis seusai bertemu dengan jajaran intelijen TNI. Moeldoko mengatakan, sebenarnya bukan tenggelam. Saat itu kapal sedang parkir dan diperkirakan menabrak pilar beton. Akibatnya, air masuk dan kapal lalu terjungkir sekitar 90 derajat. ”Namun, kini kondisinya sudah bisa diatasi,” katanya.

KRI Teluk Peleng adalah kapal perang jenis angkut. Bersama- sama dengan kapal TNI AL lain yang sempat menimbulkan kontroversi saat dibeli dari Jerman Timur, KRI Teluk Peleng bertugas di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat TNI AL. Moeldoko mengatakan, diduga ada kesalahan dari komandan kapal. ”Tentunya untuk yang bersangkutan ada konsekuensinya,” katanya.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati, insiden ini diawali dari bersandarnya KRI Teluk Peleng, Senin (18/11) pagi. Saat itu, KRI Teluk Peleng masuk ke Dermaga Pondok Dayung untuk bersandar. KRI Teluk Peleng merupakan kapal keempat yang ada di tempat itu. Pada pukul 16.00 di hari yang sama, perwira jaga mendapati ada genangan air di kamar mesin. ”Ini berarti memang ada kebocoran,” katanya.

Namun, karena susunan kamar mesin cukup rumit, bagian yang bocor masih diselidiki. Pasukan Katak pun dikerahkan walaupun terkendala air keruh. Menurut Untung, ada beberapa faktor alam yang tengah diselidiki. Diselidiki juga hubungan antara kapal dan dasar laut di dermaga. ”Yang jelas, tiga kapal yang sebelumnya sandar tidak mengalami hal yang sama,” katanya.

Kapal yang dibangun di VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur, pada 1978 dan dibeli TNI AL tahun 1993 itu sandar untuk mengambil bekal dan kemudian bertugas lagi. ”Jadi, kapal dalam keadaan sehat,” kata Untung.

Namun, tak tertutup kemungkinan terjadi metal fatigue, yaitu kelelahan material pembangun kapal karena masalah usia. Selain itu, ada faktor cuaca yang tidak pasti. ”Ini juga kapal keempat yang masuk ke dermaga. Jadi bisa jadi ada pengaruhnya seperti posisi,” kata Untung.

Pakar teknik perkapalan ITS, Daniel M Rosyid, menilai, otoritas pelabuhan atau kontraktor semestinya memberi peringatan jika ada tonggak cor yang terbuka yang dapat mengancam kapal. ”Nakhoda mungkin alpa jika peringatan tersebut sudah pernah diberikan,” katanya.

Anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin, mengatakan, pihaknya segera minta keterangan KSAL. ”Berdasarkan pengalaman, kita selalu lemah dalam perawatan. Bagaimana bisa kapal di dekat pelabuhan tenggelam,” katanya. (EDN/Ong)

KOMENTAR
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers