Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

December 19, 2015

Japan and Indonesia Agree to Start Defence Trade Talks

18 Desember 2015

ShinMaywa Industries US-2 amphibious aircraft (photo : theweek)

Japan and Indonesia have agreed to start negotiations on defence trade and technology transfers, it was announced on 17 December.

The pact, which was made during meetings in Tokyo between the country’s defence and foreign ministers, is geared towards supporting Japanese sales to Indonesia. A platform identified for potential export is ShinMaywa Industries US-2i amphibious search-and-rescue aircraft.

The Japanese Ministry of Defense (MoD) said in a statement that the talks will provide a framework for a deeper collaboration in defence and security including Japan’s provision of equipment and co-operation on related technologies.

Japan’s defence minister Gen Nakatani was quoted as saying, “We agreed to start negotiation on the transfer of defence technology, which is a great achievement.” Nakatani’s counterpart, Ryamizard Ryacudu, reiterated Indonesia’s interest in acquiring the US-2i aircraft to support the country’s efforts to improve maritime surveillance and security.

(Jane’s)

Advertisements
December 18, 2015

TNI Terlambat Terima Jet Tempur F-16 Refurbished dari AS

17 Desember 2015

F-16C/D refurbished (photo : wiraaryaguna)

Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letnan Jenderal Ediwan Prabowo mengatakan TNI Angkatan Udara tidak menerima sejumlah pesawat tempur F-16 Fighting Falcon sebagaimana tenggat waktu yang diatur pada perjanjian jual beli antara Kemhan RI dan  Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

AS, menurut Ediwan, tak sengaja mengulur waktu pengiriman sejumlah pesawat tempur bekas pakai itu. “Saya sudah mendapat laporannya. Ini hanya masalah teknis dalam proses produksi,” kata di Jakarta, Kamis (17/12).

Ediwan memaparkan, TNI AU melalui Kemhan sebelumnya merevisi spesifikasi teknis F-16. Revisi itu dilakukan untuk meningkatkan teknologi pesawat F-16 yang sebelumnya dioperasionalkan oleh Angkatan Udara AS itu.

“Pengiriman terlambat bukan karena kelalaian. Itu karena kami melakukan perubahan,” kata Ediwan.

Mengutip Reuters, Indonesia dan AS sepakat melakukan jual beli 24 pesawat F-16 pada November 2011. Ketika itu pada forum Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pasifik, kedua pemimpin negara, Susilo Bambang Yudhoyono dan Barack Obama, mengumumkan rencana tersebut.

Pada keterangan resminya, AS menyebut pembelian F-16 refurbished yang bernilai US$750 miliar itu akan meningkatkan kemampuan Indonesia mempertahankan kedaulatan udara.

Sebelum diterbangkan ke Indonesia, AS akan melakukan upgrading dan refurbisheing terhadap rangka, sistem avionic, serta persenjataan F-16 itu di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah, AS.

Hingga akhir 2014, pesawat-pesawat tempur F-16 itu telah tiba di Indonesia dalam dua gelombang.

(CNN)

December 17, 2015

Badak Akan Menggantikan Panser Saladin

17 Desember 2015

Panser Badak buatan PT Pindad (image : detik)

Presiden Jokowi Dukung ‘Badak’ Perkuat Alutsista TNI

Jakarta – Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi atas kehadiran Panser Badak dalam jajaran alutsista Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jokowi berharap alutsista buatan anak negeri ini dapat semakin memperkuat TNI.

“Panglima TNI dan KSAD tentu akan dukung kehadiran alutsista buatan anak-anak negeri,” ujar Jokowi di sela-sela kunjungannya ke booth PT PINDAD di Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2015 yang berlangsung di Markas Besar TNI, Jakarta, Rabu (16/12/2015).

KSAD TNI Jenderal Mulyono yang turut mendampingi kunjungan Presiden Jokowi dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyambut baik dukungan Jokowi untuk kehadiran panser Badak di jajaran alutsista TNI Angkatan Darat. Panser Badak ini akan menggantikan tugas tank yang sudah harus segera dikandangkan.

“Kami ada rencana menggantikan jajaran tank Saladin yang sudah tua dengan Badak buatan Pindad,” ujar Mulyono.

Hal senada juga dikatakan Direktur Komersial PT Pindad, Widjajanto, yang menjadi ‘sales person’ untuk menjelaskan sosok Badak kepada Presiden dan para petinggi TNI itu. WIdjajanto menjelaskan keunggulan anggota baru alutsista TNI AD tersebut.

Panser FV-601 Saladin (photo : Kikavser2)

“Perkenankan kami sampaikan pada pekan lalu, Badak dengan dukungan Dislitbang TNI AD telah sukses jalani uji tembak di Cipatat. Akurasi tinggi dan kondisi kendaraan tercatat stabil dalam berbagi posisi penembakan sebagaimana bisa dilihat dalam video presentasi kami,” ujar Widjajanto.

Panser Badak merupakan produk kendaraan tempur terbaru buatan PT Pindad. Panser 6×6 ini memiliki turret 90 mm hasil kerjasama PT Pindad dengan CMI Defense dari Belgia.

Dalam paparannya Widjajanto menjelaskan kini staf PT Pindad telah menyelesaikan program Transfer of Technology dan telah mampu melakukan proses manufaktur turret 90 mm. “Tinggal laras senjata 90 mm yang kami import dari Belgia selebihnya dikerjakan oleh anak-anak negeri di pabrik kendaraan tempur PINDAD di Bandung,” tambahnya. Pindad siap memproduksi Badak untuk tahun anggaran 2016.

(Detik)

December 17, 2015

TNI AL Menimbang 3 Tipe Kapal Selam

16 Desember 2015

Spesifikasi dua kapal selam yang akan dibeli lagi oleh TNI AL adalah : tipe diesel elektrik, berteknologi AIP, dan mampu meluncurkan rudal ketika masih menyelam (photo : Navy Recognition)

TNI AL Masih Kaji Soal Kapal Selam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Staff Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Ade Supandi mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan kajian terkait pembelian kapal selam. Dalam rencana strategis tiga tahun ini, AL memang berencana akan membeli kapal selam baru untuk keperluan penambahan Alutsista.

Ade mengatakan tahapan pembelian memang tak bisa cepat. Setidaknya butuh tiga tahun untuk bisa merealisasikan hal ini. Ade mengatakan, tahap pertama adalah tahap perencanaan spesifikasi kapal selam. Kedua, tahap perencanaan anggaran. Ketiga, tahap pembangunan.

Saat ini Ade bersama tim di Mabes TNI AL masih mengkaji setidaknya tiga pilihan jenis kapal selam. Pertama, kapal selam jenis Kilo keluaran Rusia. Kedua, kapal selam produksi Jerman dan Kapal selam jenis Chong Bogo dari Korea Selatan.

“Kita masih kaji. Namun, yang pasti spesifiknya kita butuh kapal selam tipe diesel elektrik,” ujar Ade di Balai Samudra, Selasa (15/12).

Ade mengatakan ketika spesifikasi sudah dipilih maka tinggal menyesuaikan kondisi anggaran negara. Meski begitu, Ade tak menampik di dalam negeri memang ada pabrik untuk membuat kapal selam. Namun, terkait hal tersebut Ade mengembalikan lagi kepada pihak PT. PAL di Surabaya apakah siap atau tidak membuat itu.

(Republika)

December 15, 2015

Menengok Teknologi Tiga Dimensi di Kokpit N219

13 Desember 2015

Kokpit dalam pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia. (all photos : Kompas)

BANDUNG, KOMPAS.com – Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang resmi diperkenalkan pada Kamis (10/12/2015) lalu, di dalam kokpitnya dilengkapi dengan teknologi synthetic vision.

Synthetic Vision Technology (SVT) adalah sistem komputer yang menampilkan citra lingkungan sekitar pesawat di layar utama kokpit (multi function display/MFD).

Layar akan menampilkan kontur permukaan bumi (topografi) dalam model tiga dimensi (3D), komplit dengan informasi-informasi utama penerbangan (primary flight display/PFD) yang dibutuhkan pilot, seperti altitude (ketinggian), airspeed (kecepatan di udara), serta attitude pesawat.

“Synthetic vision ini seperti main game, semua data informasi ditampilkan, kalau ada data gunung di sekitar kita bisa masukkan dan disinkronisasi,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana kepada KompasTekno, Kamis (10/12/2015).

“Jadi kalau di depan ada gunung, ya beneran ada, gunungnya akan keliatan (di layar),” imbuh Andi di sela peluncuran pesawat N219 di hangar PT DI, Bandung, Jawa Barat.

Tampilan Synthetic Visual dalam sistem instrumen Garmin G1000 yang dipakai N219, menampilkan pegunungan di sebelah barat bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. (photo : Kompas)

Menurut Andi, teknologi SVT ini bisa membantu pilot dan kopilot dalam mengambil keputusan. Meskipun dalam kondisi gelap atau saat ada kabut, pilot tetap bisa melihat kondisi alam sekeliling.

“Ini bisa dikatakan sebagai teknologi yang bisa menyelamatkan orang,” katanya.

Riset puluhan tahun

Synthetic vision pertama kali dikembangkan oleh NASA dan Angkatan Udara AS (US Air Force) pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an.

Setelah riset puluhan tahun, pada 2005 lalu NASA berhasil mengintegrasikan sistem synthetic vision ini ke dalam pesawat Gulfstream V yang dipakai dalam pengujian.

FAA (lembaga otoritas penerbangan AS) memberikan sertifikasi pertama untuk teknologi SV-PFD (synthetic vision-primary flight display) ini pada 2009 lalu dalam pesawat Gulfstream.

SV-PFD pun menggantikan artificial horizon biru-coklat tradisional dengan tampilan data topografi yang dihasilkan komputer, sekaligus ditimpa dengan simbol-simbol PFD yang sudah dikenal pilot selama ini.

Tampilan synthetic vision di layar instrumen, memadukan kontur dataran (terrain) dengan informasi-informasi yang biasa ditampilkan di primary flight display (PFD). (image : Kompas)

Semenjak itu, banyak pabrikan sistem glass cockpit mengintegrasikan teknologi itu ke dalam produk-produknya, termasuk Garmin dengan G1000 yang juga dipakai dalam N219.

Kini, sebagian besar pesawat-pesawat terbang keluaran terbaru sudah mengintegrasikan SV-PFD di dalam kokpitnya, seperti Twin Otter Series 400 dan Cessna Mustang.

Sementara 4 pabrikan pesawat besar, Boeing, Airbus, Bombardier, dan Embraer telah berkomitmen untuk memberikan fitur SV-PFD dalam pesawat-pesawat buatannya pada 2018 nanti, jika pihak pemesan memintanya.

Riset yang dilakukan oleh CAST (commercial aviation safety team) yang mempelajari 18 kejadian kecelakaan sepanjang 2003 hingga 2012 menyebut bahwa tampilan visual virtual, alias SVT, bisa membantu mencegah 17 dari 18 kejadian kecelakaan yang terkait dengan hilangnya orientasi awak pesawat.

Beberapa insiden kecelakaan yang dimaksud termasuk kecelakaan Bombardier Q400 milik Colgan Air dan Boeing 737-800 Turkish Airlines, yang keduanya terjadi pada 2009 lalu.

Menurut CAST, seperti dikutiup KompasTekno dari Aviation Week, tampilan visual yang mengalir itu bisa membantu awak pesawat dalam menentukan orientasi, gerakan, dan merasakan jarak dengan daratan, dibandingkan dengan tampilan layar attitude sebelumnya.

CAST memprediksi risiko kecelakaan akibat hilang orientasi ini bisa dikurangi sebesar 16 persen, dengan asumsi 30 persen maskapai di dunia sudah menggunakannya pada 2035 nanti.

(Kompas)

December 14, 2015

Pindad Sukses Lakukan Uji Tembak Panser Ba

14 Desember 2015

dak

Panser kanon Badak buatan Pindad (all photos : defence.pk)

Bandung – Panser Cannon 90mm “Badak” buatan PT Pindad (Persero) sukses menjalani uji tembak. Kegiatan yang merupakan bagian dari proses sertifikasi oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD) itu berlangsung antara 10 sampai 12 Desember 2015 di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Kami bersyukur bahwa uji penembakan dinilai oleh pihak Dislitbang TNI AD berhasil dengan baik,” ujar Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Bandung, Minggu (13/12).

Panser 90 mm Badak melakukan uji tembak dengan menggunakan 19 munisi kaliber besar. Panser buatan anak-anak bangsa itu melakukan serangkaian materi uji. Pengujian pertama yaitu masuk ke titik tengah sasaran dengan menggunaka 10 butir munisi.

Selanjutnya dilakukan penembakan arah jam 12, di mana turret dan kendaraan menggunakan 5 butir munisi. Lalu, dilakukan penembakan arah jam 6, di mana turret mengarah ke target dan badan kendaraan berbalik 180 derajat. Setelah itu dilakukan penembakan arah jam 3, di mana turret mengarah ke target dan melepaskan 2 butir munisi.

Semua penembakan mengenai target sasaran yang berukuran 4×4 m dengan jarak kurang lebih 1 km dan kendaraan dalam stabil dan terkendali.

Silmy menuturkan, rangkaian uji tembak Paner Badak itu merupakan bagian dari proses sertifikasi untuk memastikan performa panser buatan anak-anak bangsa ini sudah sesuai dengan Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD. Uji tembak itu bisa terlaksana dengan baik berkat dukungan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Kementerian Pertahanan, Asisten Logistik Kasad, Dislitbang TNI AD, Gudang Pusat Amunisi Bojong Koneng, dan Pusdikif di Cipatat.

“Kami berharap dengan kerja sama baik ini, Panser Badak dapat segera memperkuat jajaran alutsista TNI AD tahun depan,” ujar Silmy.

Sementara itu, uji tembak secara lebih spesifik dilaksanakan untuk mengukur akurasi tembakan senjata utama, yaitu turret 90 mm. Ini merupakan hasil kerja sama dengan CMI Defence, perusahaan pertahanan dari Belgia. Regional Director for Asia and Indonesia CMI Defence, Patrick Ledig menyampaikan apresiasi pada hasil kerja tim PT Pindad.

“Para staf ahli kami yang ikut hadir dari Belgia bekerja sama dengan Dislitbang TNI AD telah memastikan bahwa selama proses uji tembak kondisi kendaraan atau platform Panser Badak terlihat stabil,” ujar Patrick.

Dalam proses pengembangan Panser Badak, awak PT Pindad bekerja sama dengan CMI Defence untuk memperoleh keahlian dalam manufaktur turret 90mm sebagai bagian dari proses transfer of technology.

“Para staf kami yang terlibat dalam program manufaktur turret 90mm telah menyelesaikan proses pelatihan dan mulai kegiatan manufaktur di Pindad. Jadi, produk kendaraan dan senjata utama Panser Badak di fase produksi massal nanti merupakan karya anak bangsa,” tambah Silmy.

Di fase produksi, tidak kurang dari 25 hingga 30 Panser Badak bisa dilahirkan setiap tahun dari pabrik PT Pindad di Bandung. “Kapasitas produksi ini bisa kami tambahkan untuk menyesuaikan dengan peningkatan permintaan dari TNI AD atau Kementerian Pertahanan,” kata Silmy.

Pindad mulai memperkenalkan Panser Badak dalam pameran IndoDefence 2014 di Jakarta. Kendaraan tempur itu dirancang sebagai program lanjutan pengembangan varian Panser Anoa sekaligus menjembatani kebutuhan fungsi penggempuran oleh TNI AD.

PanserBadak dimodifikasi dengan mesin diesel 6 silinder berkekuatan 340 tenaga kuda, monocoque body yang bisa menahan tembakan amunisi hingga 12,7 mm, dan penggunaan teknologi double wishbone independent suspension untuk menjaga kestabilan kendaraan saat menembakkan cannon 90 mm.

Setelah uji tembak, beberapa mata pengujian lain, seperti uji laboratorium dan uji jelajah eksternal, akan dilaksanakan bersama Dislitbang AD. Hasil pengujian yang maksimal tentunya diharapkan agar Panser Cannon 90 mm Badak dapat menjadi salah satu produk unggulan PT Pindad di masa depan sekaligus menjadi kebanggaan TNI dan bangsa Indonesia.

Selain mulai memproduksi Badak, pada triwulan I 2016, PT Pindad juga akan memperkenalkan produk senjata baru kepada publik.

(Berita Satu)

December 14, 2015

Setelah N219, Dirgantara Indonesia dan Lapan Garap N245

Bravo PT DI !
Mengharukan walaupun sumber daya sangat terbatas mereka terus berkarya buat bangsa. bandingkan dengan politikus (tikus) Senayan yang bergelimang harta dan kuasa.. APA KARYA MEREKA ???????
12 Desember 2015

Pesawat N219 buatan LAPAN bersama PT DI (photo : Detik)

TEMPO.CO, Bandung – PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih menyimpan rencana pengembangan sederet pesawat lainnya setelah sukses merancang pesawat N219 yang diperkenalkan perdana Kamis, 10 Desember 2015.

“Selanjutnya, N234 untuk 50 penumpang. Ini sudah mulai disiapkan. Berikutnya generasi N270 untuk 70 penumpang,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Thomas mengatakan, lembaganya ditunjuk pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional sebagai lembaga riset dan pengembangan pesawat terbang, lalu PT Dirgantara menjadi pengembang manufaktur pesawat.

“Pada 2011, Lapan secara resmi membentuk Pusat Teknologi Penerbangan,” katanya. Pembuatan N219 menjadi kerja sama perdana Lapan dan Dirgantara Indonesia.

Thomas memperkirakan, pengembangan N219 bersama PT Dirgantara Indonesia menyedot dana Rp 500 miliar hingga pesawat itu mendapat sertifikasi laik terbang dari pemerintah yang ditargetkan pada 2017. Pengembangan N219 juga masih terus berlanjut dengan pengembangan variasi lainnya. “Sesuai kebutuhan user,” ujarnya.

Thomas mengatakan, rencana pembuatan N245 sudah memasuki tahap desain lewat pengujian di fasilitas wind-tunnel atau terowongan angin. “Sudah mulai konsep desain awal, beberapa sudah mulai pengujian,” katanya.

Dia mengaku, biaya yang dikeluarkan masih terhitung kecil. Namun Thomas enggan memerincinya. Lembaganya bersama PT Dirgantara berencana mengajukan pendanaan khusus pada pemerintah untuk membiayai pembuatan prototipe N245.

Thomas mengaku belum bisa menaksir dana yang dibutuhkan untuk pembuatan pesawat N245. “Belum ada gambaran, tapi yang jelas lebih mahal dari ini (N219),” katanya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan, pesawat N245 merupakan generasi terbaru dari pesawat CN235 yang sudah diproduksi PT Dirgantara. “Kami lagi membangun pesawat CN235 yang dimodifikasi menjadi N245,” kata Andi di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Andi mengatakan, perbedaan mencolok dengan pesawat CN235 ada pada bagian ekornya. Pesawat N245 dirancang dengan memodifikasi bagian ekor pesawat CN235 yang memiliki ramp-door atau pintu belakang yang bisa dibuka. “Pintu belakang itu dicopot sehingga bisa membawa penumpang yang tadinya 42 penumpang menjadi 50 penumpang,” katanya.

Menurut Andi, ramp-door atau pintu belakang itu menjadi kelebihan CN235 untuk memenuhi fungsi ganda pesawat tersebut, yakni sebagai pesawat sipil sekaligus pesawat militer. “Pintu belakangnya besar sehingga bisa nerjuni orang. Nah, N245 itu dicabut supaya lebih ringan karena pintu itu berat,” ujarnya.

Andi mengatakan, dengan mencabut pintu besar itu, N245 dirancang lebih ringan kendati ukurannya bakal lebih panjang agar memuat penumpang hingga 50 orang.

Dia optimistis pengembangan pesawat N245 bakal lebih cepat dibandingkan saat mengembangkan N219. “Basisnya sudah ada. Tahun 2019 itu diharapkan sudah selesai dan bisa dijual,” kata Andi.

(Tempo)

December 10, 2015

Presiden Jokowi Perintahkan KSAU Meninjau Pesawat N219 Buatan PT DI

KASAU yang satu ini ingin jadi Komut Westland /Agusta , Pak Jokowi !

KSAU  Agus Supriatna tidak percaya produk PT DI !

 

Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews
Presiden Jokowi Perintahkan KSAU Meninjau Pesawat N219 Buatan PT DIPerakitan pesawat N-219: Foto: pool
Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedianya akan menghadiri penampilan perdana pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia. Namun kemudian Jokowi memerintahkan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna untuk mewakili dirinya di acara tersebut.

Pesawat N219 dibuat oleh 300 insinyur anak bangsa yang dirancang sejak tahun 2007. Target awal purwarupa atau prototype dari pesawat ini adalah Agustus 2015, tetapi kemudian menjadi November 2015 dan akan tampil perdana hari ini.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

Dalam keterangan tertulis dari Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (10/12/2015) disebutkan bahwa Presiden Jokowi sangat mengapresiasi pembuatan pesawat yang 100 persen karya anak bangsa ini. Pesawat N219 juga memiliki kelebihan yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

“Presiden pun sangat berharap agar industri kedirgantaraan di Indonesia untuk mendukung kebijakan penguatan transportasi udara untuk pembangunan di daerah terpencil (remote area), mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar,” tulis ketetangan tersebut.

Pemerintah mengucurkan Rp 400 miliar untuk 2 purwarupa N219. Dana itu disalurkan lewat LAPAN.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

Harga jual resmi pesawat ini masih belum dirilis, tetapi kemungkinan sekitar US$ 5 juta. Harga ini lebih murah dari kompetitor sehingga Jokowi menilai akan dapat menekan biaya untuk dialokasikan ke anggaran lainnya.

Pesawat N219 akan terbang perdana pada tahun 2016. Selanjutnya diperkirakan bakal memasuki pasar kedirgantaraan dunia pada tahun 2017 setelah melalui proses sertifikasi.
(bpn/dhn)

 

December 8, 2015

TNI AL Kini Gunakan Sistem Komunikasi Satelit

 Selama ini pake apa ya?? Pantes laut kita dijarah kapal ikan asing !!
07 Desember 2015

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, meresmikan penggunaan Siskomsat di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Senin (photo : TribunNews)

Lakukan Modernisasi, TNI AL Kini Gunakan Sistem Komunikasi Satelit untuk Pemantauan dan Kapal Perang

TRIBUNNEWS, JAKARTA – Sistem komunikasi di lingkungan TNI AL kini memasuki era baru dengan menerapkan aplikasi canggih bernama sistem komunikasi satelit (Siskomsat).

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, meresmikan penggunaan Siskomsat tersebut di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Senin (7/12/2015).

Siskomsat TNI AL ini berbasis bantuan Satelit Komunikasi BRIsat (satelit milik BRI) yang telah mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu.

Siskomsat TNI AL ini direalisasikan dalam dua kegiatan.

Pertama, pengembangan Siskomsat TNI AL dengan Backbone C Band untuk kebutuhan darat dan Siskomsat TNI AL dengan Backbone Ku-Band untuk kapal perang (KRI).

KRI Usman Harun 359 (photo : BatamPos)

Pada pelaksanaannya TNI AL juga menjalin kerja sama dengan PT Telkom dan PT LEN, yang akan membantu dari tahap perencanaan teknis, pengembangan software hingga pengadaan hardware-nya.

Dalam rilis yang diterima Tribunnews, Kasal menjelaskan, dalam perang laut modern, komunikasi sangat menentukan keberhasilan operasi.

Selama ini, kata Kasal, sistem komunikasi di lingkungan TNI, baik di darat maupun unsur kapal perang (KRI) yang menggunakan perangkat radio HF, VHF, dan UHF.

Padahal sistem ini memiliki keterbatasan dalam pengoperasiannya karena memiliki data rate rendah.

Demikian juga dengan gelar Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) TNI, yang berada di bawah Komando Pengendalian Panglima TNI, belum optimal diaplikasikan di sebagian besar KRI karena dimensi Antena C-Band yang relatif cukup besar.

“Karena itu TNI AL mengambil peluang kesempatan dengan adanya alokasi satu transponder Ku-Band untuk TNI AL melalui Satelit Komunikasi BRIsat yang mulai mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu,” katanya.

KRI Sultan Iskandar Muda 367 (photo : Detik)

Kasal juga menjelaskan Siskomsat TNI AL akan diaplikasikan untuk penugasan prajurit yang bertugas di pulau-pulau terluar, survellance, mobile trunking, dan backpack prajurit Korps Marinir.

Untuk penggunaan surveillance atau pengamatan, Siskomsat dilengkapi dengan perangkat surveillance yang terdiri dari fasilitas radar, kamera, Automatic Identification System (AIS) transponder, PSTN dan E-mail.

Sebagai Siskomsat mobile atau mobile trunking, kendaraan Siskomsat dilengkapi perangkat Very Short Aperture Terminal (VSAT) dan repeater, serta pada aplikasi bacpack untuk pasukan Korps Marinir.

Sedangkan Siskomsat TNI AL dengan Backbone KU-Band, kata Kasal, diterapkan pada KRI dari unsur-unsur pemukul.

Tahun ini, Siskomsat dengan Backbone KU-Band dipasang di KRI Usman Harun-359 dan korvet KRI Sultan Iskandar Muda-367.

“Aplikasi Siskomsat di pendirat dan KRI dari unsur pemukul diharapkan mampu meningkatkan performa operasi TNI Angkatan Laut yang berkelas dunia,” tegas Kasal.

(TribunNews)

December 5, 2015

Ini Kelebihan Helikopter EC725 Cougar Buatan PT DI

05 Desember 2015

Helikopter EC-725 Cougar (photos : JPNN)

BANDUNG, KOMPAS.com – Menkopolhukkam Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan ketertarikannya pada helikopter EC725 Cougar yang dibuat PT Dirgantara Indonesia (DI).

Luhut pun akan segera melaporkan penilaiannya terhadap helikopter ini kepada Presiden Joko Widodo.

“Presiden memutuskan untuk menggunakan pesawat dalam negeri,” ungkap Luhut saat kunjungannya ke PT DI, Jumat (4/12/2015).

Lalu apa kelebihan dari helikopter EC725?

Direktur Produksi PT DI, Arie Wibowo mengatakan, helikopter EC725 merupakan seri terakhir dari “keluarga” Super Puma.

PT DI baru memproduksi helikopter ini pada 2012 lalu.

Kini, helikopter EC725 telah digunakan oleh lebih dari 30 kepala negara di dunia.

Di antaranya Meksiko, Brasil, Nepal, Kamerun, Cile, Oman, Singapura, Korea Selatan, Perancis, Spanyol, Jepang, dan Uni Emirat Arab.

Helikopter EC-725 Cougar (photos : Tempo)

“Helikopter ini telah terbukti ketangguhannya dalam pertempuran di Lebanon, Chad, Afganistan, Mali, dan Libya,” tambah Arie.

Helikopter EC725 memiliki dua mesin Turbomeca Makila 2A1 yang dapat menghemat biaya perawatan dan konsumsi bahan bakar.

Hebatnya, dua mesin tidak mengakibatkan suhu mesin semakin tinggi, sehingga meminimalisir risiko ditembak musuh yang menggunakan pendeteksi panas.

Helikopter ini memiliki visibilitas yang sangat baik untuk melihat ke bawah dan ke samping.

EC725 juga dapat mendarat di landasan berbatu bahkan bersalju, sehingga memungkinkan untuk digunakan untuk mengantar presiden ke berbagai wilayah di negeri ini.

Tak hanya itu, helikopter ini dapat dipersenjatai karena kecepatan tak akan berkurang meski harus menggendong persenjataan berat.

Helikopter ini telah memiliki sertifikat Sea State 6, dan memiliki pelampung di bagian bawah untuk kondisi darurat yang mengharuskan pendaratan di laut atau air.

Pelampung ini dapat berkembang secara otomatis pada kondisi emergency saat kecapatan pesawat mencapai 150 knot.

“Fuselage dan tailboom helikopter EC725 telah diproduksi PT DI. Kostumasi sesuai spesifikasi VVIP dengan menambahkan rocket launcher, machine gun, dan fitur keamanan lainnya dapat dilakukan PT DI. Sehingga keamanan presiden dapat dijamin karena tidak akan diketahui negara lain,” tutupnya.

(Kompas)