JAKARTA, KOMPAS —Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut siap meningkatkan kualitas pemantauan dan mengamankan wilayah perairan untuk mewujudkan visi kemaritiman Indonesia. TNI AL membutuhkan kapal patroli baru dan bahan bakar untuk mengoptimalkan operasi pengamanan laut.Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan hal itu seusai meresmikan rumah tahanan militer di Markas Komando Pusat Polisi Militer Angkatan Laut, Jakarta, Jumat (20/2). Ade berada di sana sehubungan dengan perayaan hari ulang tahun ke-69 Polisi Militer.

”Kami butuh pembaruan kapal berdaya jelajah tinggi karena yang tersedia saat ini adalah kapal generasi 1980-an. Yang kami butuhkan saat ini adalah kapal patroli dan bahan bakar minyak untuk meningkatkan kualitas pemantauan di laut melalui patroli maritim dengan menggunakan drone,” kata Ade.

Ade mengungkapkan, TNI AL akan mengupayakan pengadaan alat utama sistem persenjataan dengan mengikuti program lanjutan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Menurut Ade, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 terdapat anggaran tambahan sedikitnya Rp 4 triliun untuk modernisasi sistem persenjataan.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah mendeklarasikan Indonesia sebagai poros maritim dunia sehingga penguatan dan modernisasi TNI AL mutlak dibutuhkan. Saat ini TNI AL memiliki 159 kapal dan membutuhkan sedikitnya 5,6 juta kiloliter BBM per tahun (Kompas, 14/12/2014). Pembaruan kapal patroli kian mendesak karena Indonesia memiliki wilayah laut seluas 3.257.483 kilometer persegi.

Kapal patroli untuk wilayah Indonesia bagian timur juga harus berkecepatan tinggi dan mampu membelah ombak yang terkadang bisa setinggi 4 meter hingga 5 meter.

TNI AL juga akan menggelar simposium maritim dan pelatihan penanggulangan bencana bersama Badan SAR Nasional pada akhir 2015 dan awal 2016. Kegiatan ini diharapkan bisa mendorong terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Rumah tahananSaat meresmikan rumah tahanan militer, Ade berharap Polisi Militer TNI AL dapat menahan dan membina personel tanpa perlu dititipkan di tempat lain. Rumah tahanan militer Pomal tersebut terdiri dari 11 ruangan kantor, 4 sel perwira, 2 sel prajurit wanita, 4 sel bintara atau tamtama, ruang isolasi, 2 sel khusus, ruang kamera pengawas, dan 4 menara pengawas.

Ade mengatakan, Pomal harus bersinergi bersama korps TNI AL dan pihak lain yang bertanggung jawab terhadap keamanan negara. ”Hal ini untuk mewujudkan TNI AL sebagai world class navy,” ujar Ade. (B02)