Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

July 6, 2015

RI Tak Lagi Beli Persenjataan Bekas

PERTAHANAN NEGARA

RI Tak Lagi Beli Persenjataan Bekas

JAKARTA, KOMPAS — Komisi I DPR menjamin Indonesia tidak akan lagi mendatangkan persenjataan bekas dari luar negeri. Selain untuk menjamin pertahanan negara, langkah itu juga diambil untuk memastikan keselamatan prajurit Indonesia.

”Sudah ada kesamaan pandang antara Komisi I dan Panglima TNI bahwa ke depan Indonesia takkan membeli alutsista bekas lagi,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya, Minggu (5/7), di Jakarta.

Sebelumnya, DPR menginginkan pemerintah membeli pesawat-pesawat baru. Namun, pemerintah memutuskan mendatangkan pesawat hibah, lalu ditingkatkan kemampuannya. RI akhirnya mendapatkan 24 pesawat F-16 dari Amerika Serikat.

”Yang sudah telanjur, ya, bagaimana. Meski barangnya belum tiba (di Indonesia), tetap akan dilanjutkan karena sudah bayar. Tapi, ya, ke depan kita beli yang baru,” ujar Tantowi.

Sebanyak 24 pesawat F-16 direncanakan akan dikirim ke Madiun, Jawa Timur, dari Utah, AS. Ke-24 pesawat itu ternyata produksi tahun 1980-an. Pada 2010, Wakil Ketua Komisi I DPR (periode 2009-2014) TB Hasanuddin menginginkan pembelian enam pesawat F-16 baru, tetapi pemerintah menginginkan hibah untuk mengejar kuantitas.

Cita-cita lama

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menambahkan, pengadaan persenjataan baru nonhibah sebenarnya merupakan cita-cita lama. Hal itu sudah menjadi arah kebijakan Rencana Strategis TNI Tahap I 2010-2014. Namun, ujarnya, cita-cita itu belum bisa terwujud sepenuhnya.

”Setelah kebijakan pengadaan alutsista bekas berkali-kali berujung kecelakaan, evaluasi mutlak diperlukan. Kita harus siap menghadapi konsekuensi dan risiko. Saat ini, kunci modernisasi persenjataan ada pada komitmen pemerintah untuk merealisasikan anggaran memadai,” kata Mahfudz.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang juga calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berjanji akan mengevaluasi kelaikan terbang pesawat-pesawat TNI. Langkah ini merupakan jawaban atas instruksi Presiden Joko Widodo agar dilakukan perombakan mendasar terhadap sistem manajemen alutsista dan penguatan zero accident.

”Saya harus mengevaluasi. Jadi pesawat TNI AU itu pasti sudah laik terbang. Tapi, kalau melihat kemarin kenapa bisa jatuh, apa masalahnya, nah, ini harus kita evaluasi,” ujar Gatot seusai menghadap Presiden di Istana Merdeka.

Terkait modernisasi sistem persenjataan, Gatot menyatakan, pengadaannya ke depan harus baru semua. Selain itu, sesuai arahan Presiden, pengadaan sistem persenjataan juga harus melibatkan industri pertahanan domestik.(RYO/AGE/WHY/OSA)

July 5, 2015

Komandan Korps Marinir Resmikan Puslatpur Lampon Banyuwangi

04 Juli 2015

Puslatpur Korps Marinir Lampon ini untuk menambah kapabilitas Komando Latih Marinir
(photo : Antara)

Banyuwangi (Antara Jatim) – Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana meresmikan sekaligus mengukuhkan Mayor Marinir Ronny Antonius Purba sebagai Komandan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Korps Marinir-7 Lampon, Banyuwangi, Kamis.

“Peresmian Puslatpur Lampon ini merupakan realisasi dari kebijakan pemimpin TNI Angkatan Laut dalam rangka meningkatkan profesionalitas satuan dan efektivitas pembinaan latihan Pasukan Khusus TNI AL, Intai Amfibi Korps Marinir melalui penyediaan sarana dan prasarana latihan yang menantang,” katanya.

Selain itu, katanya, peresmian Puslatpur Korps Marinir di Lampon juga sebagai bagian dari upaya pembangunan dan pembinaan kekuatan serta kemampuan Korps Marinir secara keseluruhan.

“Dengan peresmian Puslatpur Korps Marinir Lampon ini semoga mampu menambah kapabilitas Komando Latih Marinir dan juga dalam meningkatkan kemampuan daerah latihan Lampon dan sekitarnya sebagai kawah candradimuka prajurit-prajurit Intai Amfibi Korps Marinir,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa letak geografis Lampon yang strategis berada di ujung timur Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan wilayah pantai selatan dan Samudera Hindia yang memiliki ombak besar serta arus yang menantang.

“Kondisi itu sangat memadai sebagai sarana latihan lanjutan aspek laut dari prajurit Korps Marinir, yaitu renang, dayung, menembus gelombang serta medan belakang pantai yang masih cukup ideal untuk dijadikan tempat latihan operasi khusus tempur darat,” ujarnya.

Namun demikian jenderal Marinir yang dikenal peduli terumbu karang ini mengemukakan pembinaan kemampuan dan peningkatan profesionalitas prajurit Korps Marinir tidak cukup dengan latihan dan tersedianya sarana dan prasarana latihan yang memadai.

“Tetapi juga harus ditopang dengan pembangunan moralitas yang kokoh sebagai landasan dalam membentuk jati diri prajurit. Oleh karena itu, peran masyarakat Lampon sangat diharapkan untuk menjadi mitra dalam menjaga dan membangun jati diri sebagai prajurit yang dicintai rakyat,” katanya,

Ia menegaskan keberadaan masyarakat Lampon akan menjadi mitra Korps Marinir dalam membangun jati diri dan sebaliknya kehadiran Korps Marinir dapat menjadi mitra bagi pemerintah daerah, TNI dan Polri serta komponen masyarakat lainnya dalam memacu pembangunan Banyuwangi dan sekitarnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Buyung Lalana pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta jajarannya, satuan TNI maupun Polri serta instansi terkait juga masyarakat Lampon atas terwujudnya peresmian Puslatupur tersebut.

Hadir dalam peresmian itu Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) Kasirun Situmorang, Komandan Pasmar-2 Brigjen TNI (Mar) R.M Trusono, Asintel Dankormar Kolonel Marinir Lukman Hasyim, Asops Dankormar Kolonel Marinir Hasanudin, Asrena Dankormar Kolonel Marinir Endi Supardi.

Selain itu juga hadir Dankolatmar Kolonel Marinir Imam  Sopingi, Dandenjaka Kolonel Marinir Nur Alamsyah dan Komandan Lanmar Surabaya Kolonel Marinir Nurhidayat dan lainnya.

(Antara)

July 4, 2015

Anggaran Besaran TNI 2016 Rp 101 T, Pemeliharaan dan Perbaikan Alutsista Dapat Porsi 

Harusnya bisa lebih asal banyak digunakan untuk perawatan dan pembelian alutsista baru Kurangi bayar gaji , dan kurangi korupsi anggaran ( beli mobil mewah buat perwira tinggi TNI dsb). Artinya rasionalisasi saja TNI AD, biar ramping tapi sangat mumpuni.
Sekarang TNI AD yang jumlahnya setengah dari kekuatan TNI kemampuannya masih dibawah standar. TNI AL juga masih belum bisa beroperasi untuk menjaga keamaan laut secara optimal apalagi disuruh untuk beroperasi diluar wilayah Indonesia (melempem) Ingat kasus pembajakan kapal Indonesia oleh bajak laut Somalia>
03 Juli 2015

Prediksi anggaran tahun 2016 adalah Rp 101 triliun atau naik 4,5% terhadap tahun 2015 (photo : Merdeka)

Anggaran di Atas Rp 100 Triliun, TNI Fokus Rawat Alutsista

Jakarta, CNN Indonesia — Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan, tahun 2016 anggaran TNI sebesar Rp 101 triliun. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya Rp 96,6 triliun.

“Tahun 2016 sudah ter-deploy kurang lebih Rp 101 triliun,” ujarnya ketika ditemui di Ruang Tamu Panglima TNI, Jakarta, Kamis (2/7).

Anggaran tersebut, menurut Moeldoko, nantinya akan diarahkan untuk membiayai program-program pada rencana strategis pemeliharaan dan perbaikan seluruh jenis alat utama persenjataan TNI. Pemeliharaan pesawat-pesawat milik TNI Angkatan Udara masuk dalam rencana strategis tersebut.

Anggaran pemeliharaan ini menurut Moeldoko tidak kalah besar dengan anggaran pembelian alutsista baru.

Khusus untuk pesawat seperti Hercules yang tergolong tua, ia berharap ke depan TNI dapat mengawasi dan mengukur secara rinci jam terbang pesawat-pesawat tersebut.

“Per item, per menit, per jam, per hari pakainya semua harus tercatat dengan baik. Ini memang perlu anggaran yang tidak sedikit, tapi harus seperti itu,” ujarnya.

Tak hanya renstra pemeliharaan dan perbaikan alutsista, TNI juga telah menyusun dua renstra lain yang harus sudah tercapai pada tahun 2019, yaitu renstra pengembangan dan pembangunan kemampuan TNI serta renstra pembangunan kesejahteraan prajurit.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyatakan, anggaran TNI bahkan bisa di atas Rp 200 triliun. Namun syaratnya pertumbuhan ekonomi harus menyentuh level 7 persen.

Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, Indonesia menurutnya harus tetap mempertahankan stabilitas keamanan dan politik.(CNN Indonesia)

Anggaran Alutsista Indonesia Rp12 Triliun

Metrotvnews.com, Jakarta: Alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI kembali disorot setelah pesawat Hercules C130 jatuh di Medan, Sumatera Utara. Publik mengkritik pemerintah yang memilih hibah alusista dari negara lain ketimbang membeli baru.

TNI memang terus berusaha melakukan pemeliharaan dan memodernisasi alutsistanya. Tapi anggaran yang disediakan hanya sekitar Rp12 triliun.

“Dari Rp102 triliun anggaran TNI, yang nyata dipakai untuk alutsista cuma Rp12 triliun,” kata anggota Komisi I DPR TB Hasanudin di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (2/7/2015).

Jika dilihat secara keseluruhan, anggaran pertahanan tampak besar. Namun dari Rp102 triliun anggaran yang ada, hanya 77 persen untuk anggaran TNI. Itu pun dibagi untuk Mabes TNI dan tiga matra yang ada.

“Nah, Angkatan Udara contohnya. Anggarannya Rp13 triliun, Rp3,5 triliun untuk gaji, Rp6 triliun belanja barang seperti latihan, beli suku cadang, perawatan. Cuma Rp3,7 triliun belanja modal. Itu yang untuk beli alutsista,” jelas purnawirawan Jenderal TNI ini.

Angka ini sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan kebutuhan modernisasi alutsista TNI. Untuk AU, anggaran tersebut hanya mampu untuk membeli dua unit F-16 baru yang harga satuannya Rp1,5 triliun.

“Sedangkan anggaran untuk Angkatan Laut Rp4,02 triliun, dan untuk Angkatan Darat Rp4,9 triliun,” kata dia.

Karena itu, Hasanudin berharap, Presiden Joko Widodo segera merealisasikan rencana menaikkan anggaran untuk TNI hingga 1,5 persen dari pendapatan domestik bruto Indonesia. Jika begitu, anggaran TNI akan mencapai Rp150 triliun per tahun.

“Nah itu jangan dipakai untuk macam-macam. Anggaran Rp50 triliun itu dilarikan ke alutsista. Kan lumayan, naik jadi Rp62 triliun untuk alutsista,” kata dia.

Anggaran pertahanan TNI memang sangat kecil. Bahkan jika dana aspirasi untuk dewan diloloskan dengan pagu Rp20 miliar per dewan di APBN, anggaran pembelian senjata TNI sama dengan total pagu dana Usulan Program Pembangunan Daerah Pemilihan: sekitar Rp12 triliun. (MetroTVNews)

Fregat Van Speijk class (photo : US 7th Fleet)

Kasal: Alutsista TNL AL 50 persen butuh peremajaan

Merdeka.com – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan bahwa kapal perang jenis fregate milik TNI AL sudah terlalu tua. Namun kapal fregate sudah melakukan peremajaan mesin.

“Untuk alutsista TNI AL kita anggap 50 persen membutuhkan peremajaan, tetapi sebelum peremajaan juga melaksanakan pemeliharaan. Untuk yang paling tua adalah kapal fregate yang dulu bekas dari Belanda,” kata Ade Supandi di Kantor Panglima TNI, Jakarta, Kamis (2/7).

Menurut Ade, kapal fregate masih bisa digunakan untuk berpatroli sampai pada tahun 2020 mendatang. Sehingga kemampuan kapal fregate dalam operasi laut terus berkurang.

“Bukan karena momentum ini tapi memang sudah masuk MEF (minimum esential force) untuk peremajaan kapal-kapal angkatan laut,” ujar dia.

Sebelumnya, anggota komisi I DPR Tb Hasanuddin menyatakan seluruh alutsista yang dimiliki TNI sudah uzur, maka perlu dilakukan pembelian yang baru. Hal itu karena pesawat Hercules C-130 nomor seri A-1310 jatuh di Medan buatan tahun 1964. (Merdeka)

July 3, 2015

Pemerintah Siapkan Pesawat Angkut A400 dan C17‎ ‎Gantikan Hercules

03 Juli 2015

C-17 Globemaster dapat membawa muatan hingga 77 ton, dapat untuk mengangkut tank Leopard (photo : militaryphotos)

Jakarta – Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Udara masih mengandalkan dua skuadron pesawat angkut lawas jenis Hercules sebagai tulang punggung pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Padahal, pesawat tersebut sudah berumur lebih dari 50 tahun dan di negara lain sudah lama dimuseumkan.

Pascamusibah jatuhnye Hercules di Medan, Sumatera Utara, banyak dorongan agar TNI meng-grounded pesawat-pesawat lawas. Tujuanya, selain untuk meminimalisir kejadian serupa juga untuk peremajaan dan penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) nasional.

Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Djundan Eko Bintoro, menegaskan, rencana untuk menggantikan peran pesawat angkut jenis Hercules sudah ada dalam rencana strategis (Renstra) dua 2015-2019.

A400M dapat membawa muatan hingga 37 ton, lebih tinggi dibandingkan varian terbaru Hercules C-130J dengan 19 ton muatan (photo : militaryphotos)

“Pada renstra dua 2015-2019 akan ada perkuatan dengan memperbaharui skuadron angkut dengan pesawat (Airbus) A400 atau C17,” kata Djundan, Kamis (2/7)

Seperti halnya Hercules, Pesawat Airbus A400 merupakan pesawat angkut militer yang juga bermesin empat turboprop. Pesawat tersebut pertamakali melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada akhir 2009 lalu. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis.

Sedangkan pesawat jenis C-17 merupakan sebuah pesawat angkut militer Amerika Serikat yang diproduksi oleh Boeing Integrated Defense Systems dan sudah dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Udara Britania Raya dan Angkatan Udara Australia.

(Berita Satu)

July 3, 2015

Mereka Terus Berani Bersama “Herky”

Menyedihkan !

Kecelakaan pesawat angkut militer Hercules C-130 dengan registrasi A-1310 milik Skuadron 32 TNI Angkatan Udara di Medan, Sumatera Utara, Selasa (30/6), menjadi duka Indonesia. Dalam keterbatasan anggaran, para prajurit TNI tetap teguh mengabdikan jiwa dan raganya demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan terus berani menerbangkan Hercules, yang kerap disebut “Herky”.

Musibah yang merenggut 12 prajurit TNI AU itu tidak memadamkan keberanian penerbang militer lain untuk menerbangkan pesawat yang tergolong sudah uzur tersebut. Mereka selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin demi mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan penerbangan.

“Tua dan muda itu relatif karena ada juga pesawat yang baru berusia setahun jatuh. Karena itu (ukuran) yang dipakai laik atau tidak laik terbang,” kata Letnan Kolonel (Pnb) Fata Patria dalam perbincangan dengan Kompas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (2/7).

Fata sudah menjadi penerbang Hercules begitu tamat Akademi Angkatan Udara pada 1998. Sejak tahun 2000, ia bergabung di Skuadron 31, Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma.

Seorang rekannya semasa pendidikan turut menjadi korban dalam kecelakaan yang menimpa pesawat Hercules C-130 di Magetan, Jawa Timur, pada 2009. Ketika bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004, Fata merupakan pilot yang pertama kali mendaratkan pesawat berbadan besar itu di Aceh. Pengalaman tersebut sungguh melekat dalam benaknya. Fata kerap terharu saat mengenang betapa hancurnya Aceh akibat tsunami ketika itu. Ia merasa senang bisa membantu korban tsunami, tetapi ia juga sedih menyadari keterbatasannya dalam mengevakuasi korban.

Boleh jadi karena itu pula, walaupun kecelakaan pesawat Hercules telah terjadi beberapa kali di Indonesia, ia tidak gentar untuk kembali menerbangkannya. “Sebagai pilot, mental kami ketika masuk pesawat sudah siap mengantisipasi kondisi darurat,” tutur lulusan program pascasarjana Australian National University itu.

Tidak bercerita

Insiden selama penerbangan juga bukan tak pernah dihadapi Fata, tetapi ia tak pernah menceritakannya kepada keluarganya. Ia tidak mau membuat mereka khawatir.

Kolonel (Pnb) Purwoko Aji Prabowo juga pernah mengalami insiden saat menerbangkan Hercules. Ketika ia masih berpangkat kapten, pesawat yang diterbangkannya mengalami gangguan mesin. Ia tengah menerbangkan pesawat Hercules dari Jakarta menuju Madiun saat salah satu dari empat mesin pesawat itu tak berfungsi. Beruntung, ketika itu pesawat sudah tidak jauh dari Lanud Iswahjudi, Madiun. Ia menyiapkan pendaratan dengan tiga mesin. Pesawat pun mendarat dengan baik.

“Rata-rata penerbang Hercules pernah mengalami satu mesin mati, tetapi kami bisa mengantisipasi dengan latihan menggunakan simulator,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai tanggapan keluarga soal insiden itu, Purwoko mengaku tak pernah menceritakan hal tersebut kepada istri dan anaknya. “Menurut saya itu tugas tentara. Jadi, ketika pulang ke rumah, ya, bersikap biasa saja,” ujar Purwoko.

Purwoko menilai penerbang harus memiliki kepercayaan diri, tetapi juga tak boleh angkuh. Dengan demikian, penerbang bisa lebih cermat dan berhati-hati saat mempersiapkan diri dan pesawat sebelum terbang. Dari sisi sumber daya manusia, dia menilai penerbang Hercules rata-rata memiliki pengalaman memadai. Mereka harus menjalani tahapan pelatihan berjenjang yang membutuhkan jam terbang cukup tinggi, dimulai dari menjadi kopilot hingga menjadi pilot tamu penting (VVIP) penumpang pesawat Hercules.

Belajar dari kecelakaan Hercules C-130 A-1310, Purwoko dan Fata hanya berharap pemerintah tetap menaruh perhatian pada penyediaan pesawat baru dan pemeliharaan pesawat yang baik. Menurut mereka, kedua hal tersebut akan sangat membantu para penerbang-penerbang muda dalam bertugas.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, secara terpisah, mengatakan, dari hasil evaluasi pada beberapa kecelakaan pesawat milik TNI AU, faktor utama penyebab kecelakaan terletak pada peralatan, bukan pada persoalan sumber daya manusia. Dia menilai TNI AU memiliki banyak pilot yang berkualitas.

Dia mengakui, ketersediaan anggaran untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU masih jauh dari kebutuhan minimum. Selain anggaran alutsista, Dwi juga berharap agar kesejahteraan dan pendidikan personel TNI AU diperhatikan. Dengan demikian, peristiwa semacam ini bisa dihindari dan Indonesia tak lagi kehilangan penerbang terbaik. (ANTONY LEE)

July 2, 2015

Jenderal Moeldoko: Ada Sanksi Jika Penerbangan Militer Dibisniskan

Ray Jordan – detikNews
Jenderal Moeldoko: Ada Sanksi Jika Penerbangan Militer Dibisniskan
Jakarta – Sejumlah warga sipil ikut dalam penerbangan Hercules C-130 yang jatuh di Medan, Sumatera Utara. Ada kabar pengakuan warga diminta ongkos apabila ingin naik pesawat militer. Apa kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko?

Moeldoko mengatakan warga sipil tidak boleh membayar dalam penerbangan militer.  Dia pun menegaskan ada sanksi jika ada pungutan untuk sipil dalam penerbangan militer.

“Ya pasti ada tindakan lah. Tidak boleh itu membisniskan barang,” ujar Panglima TNI Meoldoko saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2015).

Namun, ada kasus-kasus tertentu yang dibolehkannya untuk meminta biaya. Seperti pengoperasian di hari-hari spesial.

“Ada case (kasus) lagi begini, case lagi, ini hari raya, kita harus mengerahkan kapal perang ini, pada occasion spesial (hari raya) seperti ini nggak apa-apa boleh. Apakah dia harus bayar? Boleh. Mungkin, karena di situ sudah diberi makan, ya kan. Ya gitu. Jadi ada case-case tertentu yang seperti itu. jadi tidak hitam putih,” jelas Moeldoko.

Moeldoko mengakui jika tidak ada asuransi yang mengikat dalam penerbangan militer itu.

“Ya itu persoalannya. Justru di situlah yang semestinya tidak boleh terjadi. Karena ini berkaitan dengan kalau sudah terjadi sesuatu, setelah itu bagaimana,” jelas Moeldoko.
(jor/dhn)

July 1, 2015

TNI AU Kandangkan Seluruh Pesawat Hercules Tipe B

Menyedihkan ..
01 Juli 2015

Pesawat Hercules nomor 1310 yang jatuh di Medan adalah pesawat C-130B tipe tanker (photo : Jeff Prananda)

Jakarta – TNI AU meng-grounded seluruh pesawat Hercules tipe B karena kecelakaan yang terjadi di Medan siang tadi. Seluruh pesawat itu akan dikandangkan sampai waktu yang tidak ditentukan.

“Seluruh Hercules tipe B kita stop dulu,” ujar KSAU Marsekal Agus Supriyatna, saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2015).

Lalu sampai kapan pesawat itu boleh mengangkut pasukan lagi? Atas pertanyaan itu Agus belum bisa memastikan kapan proses grounded itu akan dicabut.

“Itu sampai ditentukan pesawat tipe B bisa untuk angkut lagi,” ujarnya.

Agus menegaskan tidak ada kendala atas pesawawt Hercules C 130 yang nahas itu. Pesawat dengan nomor lambung A 1310 itu diketahui buatan Amerika Serikat tahun 1964.

“Pesawat itu tidak ada kendala !” tegasnya.(Detik)

Sejak Tahun 2000, Indonesia Kehilangan 4 Hercules

Pesawat C-130 Hercules yang jatuh di Medan Selasa 30 Juni 2015 adalah pesawat keempat milik angkatan udara Indonesia yang celaca dalam 15 tahun terakhir. Database Data Flightglobal’s Ascend Fleets menyebutkan bahwa pesawat ini diterima Indonesia pada tahun 1961. Pesawat ini sempat diparkir 1999-2004  ketika kembali ke layanan. Pesawat in dijadwalkan untuk menjalani modernisasi pada 2016.

Ascend menunjukkan bahwa ini adalah kecelakaan besar keempat di Indonesia yang melibatkan Hercules sejak tahun 2000. Sementara jika sejak 1985 terjadi setidaknya enam kecelakaan. Berikut daftarnya

20 November 1985

Hercules C-130-MP milik TNI AU jatuh setelah menabrak dinding pegunungan Sibayak. menewaskan 10 awak pesawat.

5 Oktober 1991

Pesawat Hercules C-130 jatuh di Condet, Jakarta Timur. 135 orang menjadi korban dari kecelakaan ini. Korban terdiri dari 12 orang awak dan 121 lainnya adalah anggota Paskhas AU, serta dua satpam Balai Latihan Kerja Departemen Tenaga Kerja.

20 Desember 2001

Pada tahun 2001 L-100-30 (salah satu varian C-130) angkatan udara Indonesia jatuh di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara. Pesawat ini mengangkut penumpang dan amunisi terjatuh karena kegagalan pendaratan sehingga mengalami total loss. Mengangkut 90 penumpang, diantaranya 70 perwira TNI, 27 perwira Kostrad, dan delapan perwira Kopassus.

11 Mei 2009

Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Bandara Wamena, Papua. Penyebabnya adalah pesawat ini mengalami copot ban saat mendarat. Roda pesawat yang copot menghantam satu warga. Setelah itu pesawat tidak lagi digunakan.

20 Mei 2009

Pesawat Hercules C-130 jenis Long Body terjatuh di Desa Geplak, Karas, Magetan Jawa Timur setelah terbang dari bandara Halim Perdanakusuma menuju Bandara Iswahyudi. Pesawat dengan nomor registrasi A1325 mengangkut 120 orang. Jatuh sekitar pukul 06.25 WIB. Bencana mengakibatkan 97 orang tewas dan 15 luka-luka.

30 Juni 2015

Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Jalan Jamin Ginting Kota Medan Sumatera Utara sekitar pukul 12.14 WIB. Pesawat ini jatuh tak lama setelah lepas landas dari Lanud Soewondo (eks. Bandara Polonia).

(Jejak tapak)

June 29, 2015

Ini ide awal Dirut Pindad masuk bisnis alat berat

Dari Kontanonline

Oleh Benediktus Krisna Yogatama –

Bagus saja sih, asal bisa laku dipasaran. Apa bisa bersaing dengan United Tractor atau Trakindo yang jaringan pemasaran dan aftersales nya sudah menyebar di seluruh kawasan tambang dan perkebunan Indonesia ? Jangan sampai inisiatif ini hanya membebani PT PINDAD yang sudah berat berat membiayai “pemalakan” dari para Jendril.

Menurut sumber info dari orang dalam : Salah satu sumber INEFISIENSI di PT PINDAD adalah pembelian inventory yang sangat berlebihan yang berujung dengan seretnya cashflow perusahaan.. Nah kenapa tidak hal ini dulu diberesin wahai direktur PT PINDAD !

Ini ide awal Dirut Pindad masuk bisnis alat berat

JAKARTA. Perusahaan senjata nasional, PT Pindad (Persero) membikin excavator dengan kapasitas angkut hingga 20 ton. Silmy Karim, Direktur Utama PT Pindad, bercerita kepada KONTAN soal kronologis dan ide awal perusahaan pelat merah ini untuk bikin excavator.

Silmy mengatakan ide membuat excavator sudah tercetus sejak pertama dia menjadi direktur utama perseroan sekitar 6 bulan lalu. “Pertama saya masuk Pindad, saya tanya kepada tim, apakah teknologi kita bisa bikin excavator? Kita sudah bisa bikin hydraulic untuk kapal dan pelabuhan, mereka bilang excavator juga bisa, kalau bisa kenapa tidak? karena teknologi sudah kami kuasai,” ujar Silmy melalui telepon pada KONTAN, Minggu (28/6).

Kemudian tim Pindad bekerja membuat excavator tersebut. Silmy lalu bercerita kepada Menteri Perindustrian, Menteri Bappenas, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat. “Mereka mendukung,” ujar Silmy.

Pembuatan excavator terus dibuat dan pada akhir Mei prototype sudah selesai. “Saya kemudian lapor ke Bu Rini (Menteri BUMN), kemudian beliau tertarik, dan saya perlihatkan kemarin,” ujar Silmy.

Dengan Pindad mampu memproduksi excavator menandai perusahaan ini masuk ke bisnis alat berat. Sebelumnya perusahaan telah berkecimpung di lini usaha senjata, munisi, kendaraan Khusus (tank, panser), tempa dan cor, mesin Industri dan Jasa, serta bahan Peledak Komersial

Editor: Uji Agung Santosa
+++++

Produksi 700 Juta Butir Peluru, Pindad Butuh Banyak Modal

Minggu, 28 Juni 2015 | 17:39 WIB
ESTU SURYOWATI/Kompas.comMenteri BUMN Rini M Soemarno menembak di lapangan tembak PT Pindad (Persero), Bandung, Sabtu (27/6/2015). Saat ini produksi peluru Pindad mencapai 200 juta butir. Sedangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi mencapai 700 juta butir.

Terkait


BANDUNG, KOMPAS.com – PT Pindad (Persero) benar-benar butuh tambahan modal dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mengembangkan bisnis pertahanan dan non-alutsista. Dalam 5 tahun ke depan diperkirakan kebutuhan modal untuk itu mencapai Rp 4,9 triliun.

Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan, pada tahun ini BUMN initelah mendapatakan suntikan modal dari APBN sebesar Rp 700 miliar dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN). Adapun PMN untuk tahun 2016, kata Silmy, hanya direstui oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 707 miliar. Padahal, PMN yang diusulkan sebesar Rp 1,7 triliun.

“Total kebutuhannya untuk pengembangan alutsista dan non-alutsista sebesar Rp 4,9 triliun, dalam lima tahun,” ucap Silmy, Bandung, Sabtu (27/6/2015).

Silmy berharap sisa PMN yang sebesar Rp 3,6 triliun bisa dikucurkan dalam tiga tahun ke depan, yakni tahun anggaran 2017, 2018, dan 2019. Akan tetapi, perseroan juga mengantisipasi jika usulan PMN tersebut tidak seluruhnya dipenuhi seperti usulan untuk tahun anggaran 2016.

Silmy menuturkan, Pindad masih mengkaji kemungkinan obligasi yang akan dilakukan setelah lima tahun mendatang. “Kenapa saya tidak masuk bonds dulu, karena sekarang ada komitmen dari pemerintah dalam bentuk PMN,” imbuh Silmy.

Salah satu alutsista yang butuh banyak modal adalah amunisi (peluru). Silmy menyebut, ke depan kebutuhan peluru ditaksir mencapai 700 juta butir, tiga kali lipat lebih besar dari yang bisa diproduksi Pindad saat ini yang sebanyak 200 juta butir.

“Kenapa 700 juta butir? Tentara kita ada 450.000. Untuk latihan satu tahun perlu 1.500, dikalikan jadi 700 juta. Itu belum pasukan khusus yang bisa 30.000,” jelas Silmy.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pindad pelu meningkatkan kapasitas produksinya dari satu shift menjadi tiga shift, di samping modernisasi alat-alat produksi. Silmy mengatakan, saat ini Pindad masih mengoperasikan mesin yang dibuat sejak zaman kolonial.

“Peralatan kita masih ada yang tahun 1930, zaman Belanda. Itu membuktikan Pindad bisa merawat sesepuh. Kalau tahun depan masih bekerja, siap-siap kuwalat,” seloroh Silmy.

June 25, 2015

TNI AU Usulkan Peningkatan Status Lanud Tarakan dari Tipe C Menjadi Tipe B

25 Juni 2015

Tarakan, Kalimantan Utara (image : Google Maps)

Cegah Pelanggaran, TNI AU Usulkan Peningkatan Status Lanud Tarakan

JAKARTA – TNI Angkatan Udara (AU) mengusulkan peningkatan status Landasan Udara (Lanud) Tarakan, Kalimantan Utara dari tipe C menjadi tipe B. Hal itu sebagai upaya untuk memperkuat penjagaan terhadap kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari gangguan keamanan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI Dwi Badarmanto mengaku sudah mengusulkan peningkatan status lanud tersebut kepada Mabes TNI. Peningkatan status ini diharapkan bisa memperkuat Lanud Tarakan sebagai salah satu pangkalan pertahanan udara terluar di wilayah NKRI.

Menurut Dwi, dengan peningkatan status tersebut maka kemampuan lanud juga semakin bertambah dengan adanya satu skuadron pesawat tempur penyergap yang di tempatkan di Lanud Tarakan. Selama ini, dalam menindak pelanggaran wilayah udara, Lanud Tarakan, yang resmi berdiri pada 2009, masih mengandalkan bantuan pesawat tempur dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.

”Ini tentu akan memakan waktu lama dalam hal penindakan karena jarak yang lumayan jauh,” ujarnya di Jakarta kemarin. Dwi menjelaskan, semua kajian soal peningkatan status Lanud Tarakan juga sudah disampaikan kepada pemegang kebijakan, termasuk hakikat ancaman yang mungkin terjadi di wilayah udara tersebut.

Diakuinya, upaya peningkatan status lanud akan membawa konsekuensi logis, seperti kesiapan lahan, infrastruktur pendukung, baik untuk hanggar pesawat maupun perumahan buat prajurit. ”Sebisa mungkin akan segera terealisasi. Sejauh ini semua bentuk pelanggaran wilayah udara telah dilaporkan ke pimpinan tertinggi baik ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) maupun Panglima TNI,” ujarnya.

Pengamat hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai, ada klaim tumpang tindih di perairan Ambalat di mana Indonesia mengklaimnya sebagai Blok Ambalat sesuai dengan dasar hukum UNCLOS, sementara Malaysia menyebutnya sebagai ND7 dan ND9 sesuai peta 1979. ”Ini masih menjadi negosiasi yang belum berakhir. Harusnya Malaysia menghormati status quo agar tidak terjadi konflik di tingkat masyarakat,” katanya.

Menurut Hikmahanto, bila terjadi pelanggaran di daerah status quo sebaiknya dilakukan protes diplomatik. Memang dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Hikmahanto menyarankan, pemerintah Indonesia untuk tidak tergesa-gesa menghadapi persoalan ini, bila belum mendapatkan apa yang diinginkan lebih baik jangan segera diselesaikan. ”Kalau mau cepat-cepat ke Mahkamah Internasional maka kalau putusannya tidak berpihak pada kita, maka Indonesia akan kehilangan klaim seperti Sipadan dan Ligitan,” ujarnya.

(KoranSindo)

June 25, 2015

Peremajaan Fregat Kelas Van Speijk Mendesak

25 Juni 2015

Fregat kelas Van Speijk TNI AL (photo : Kaskus Militer)

Jakarta (ANTARA News) – TNI AL memiliki enam kapal fregat kelas Van Speijk bekas pakai Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang berasal dari dasawarsa ’70-an.

“Sudah terlalu tua dan perlu diremajakan dan kami juga fokus pada hal ini,” kata Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu malam.

Dia menyatakan itu menanggapi wacana dari sebagian anggota Komisi I DPR tentang perkuatan TNI AL dan TNI AU. Pemerintah seharusnya lebih menguatkan kedua matra TNI ini ketimbang TNI AD mengingat fokus pembangunan yang bervisi kemaritiman.

Jika fokus ini konsisten dilakukan, menurut sebagian anggota Komisi I DPR dalam satu diskusi, Selasa (23/6), maka anggaran pertahanan perlu ditambah dan alokasi anggaran kepada TNI AL dan TNI AU harus ditambah.

TNI AL, menurut Supandi, berpatokan pada peta jalan Kekuatan Efektif Minimum (MEF) yang telah ditetapkan sejak pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono.

Salah satu peta jalan perkuatan arsenal TNI AL itu adalah melanjutkan pembangunan dua kapal fregat berpeluru kendali buatan PT PAL dan koleganya di Belanda, penggantian kapal latih tiang tinggi KRI Dewaruci —juga akan dinamakan KRI Dewaruci— yang sedang dibangun di Spanyol, dan pengadaan dua kapal hidrografi canggih dari Prancis (satu sudah datang, KRI Rigel).

Ditanya apakah TNI AL menyiapkan “rencana cadangan” jika ada penambahan anggaran negara untuk perkuatan arsenalnya, Supandi menjawab, “Ada, percepatan fregat itu. Kami evaluasi kapal yang dari Belanda itu, kami punya enam fregat kelas Van Speijk itu dan evaluasi sedang dilakukan di PT PAL.”

KRI Karel Sasuit Tubun-356 dari kelas Van Speijk itu juga sudah banyak jasanya bagi negara, di antaranya menjadi “benteng” terapung TNI AL saat konflik Ambalat pertama mengemuka.

Sejak KRI Karel Sasuit Tubun-356 hadir di perairan itu, kapal-kapal perang Tentera Laut Diraja Malaysia menjaga jarak secara signifikan dari Karang Unarang dan perairan di Ambalat.

Dalam doktrin perang di laut, keberadaan kapal perang kelas fregat ini sangat menentukan. Fregat tidak didedikasikan untuk pasukan pendarat dan berada di atas kelas korvet serta di bawah kelas destroyer.

Dengan ukurannya yang menengah dari sisi dimensi dan tonase, dia mampu menjadi pangkalan udara terapung, pijakan peluncuran peluru kendali permukaan dan bawah laut, penginderaan, intelijen (peluncuran tim pasukan khusus), dan pengamatan, hingga “jangkar” eksistensi angkatan laut di perairan.