Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

November 4, 2016

PT Dirgantara Indonesia Gandeng Korea Bikin Jet Tempur

JUM’AT, 04 NOVEMBER 2016 | 17:06 WIB

PT Dirgantara Indonesia Gandeng Korea Bikin Jet Tempur

Pilot Uji PTDI, Esther Gayatri Saleh melakukan pengecekan pada Pesawat N219 sebelum uji coba terbang ke dua di Hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. 23 Desember 2015. Esther juga ikut terlibat dalam proses awal produksi pesawat saat pembuatan desain. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.CO, Bandung – PT Dirgantara Indonesia dan Korea Aerospace Industries (KAI) menjajaki kerjasama pengembangan pesawat KFX/IFX yang diproyeksikan sebagai pesawat tempur generasi 4,5. Menurut Manajer Kolaborasi Industri, Divisi Pengembangan Bisnis dan Pemasaran, Direktorat Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia, Wahyu Rudy Dewanto, jet tempur ini setingkat dibawah F-35 buatan Amerika Serikat.

Menurut Wahyu, selain merancang pesawat tempur, kerja sama kedua lembaga akan lebih luas lagi. Korea Aerospace saat ini bergerak di industri satelit, pengembangan pesawat tanpa awak, pesawat latih tempur, hingga helikopter. “Kami segera merampungkan pembahasan tahun ini atau minimal tahun depan,” ujarnya di kantor PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jumat 4 November 2016.

Baca:PT Dirgantara Indonesia Siap Produksi Drone Canggih

Wahyu merinci, di antara kerja sama yang sedang dijajaki adalah pengembangan fasilitas MRO (maintenance, repair dan overhaul) misalnya. PT Dirgantara akan menjadi perusahaan resmi yang ditunjuk Korea Aerospace untuk melayani pengerjaan pemeliharaan, perbaikan dan overhaul, hingga modifikasi dan upgrading pesawat tempur buatan Korea Aerospace yakni T50i Golden Eagle, dan pesawat latih KT1B. Pada pembahasan awal, PT Dirgantara akan menjadi perusahaan resmi yang akan merawat pesawat T50i yang kini dimiliki oleh TNI Angkatan Udara.

Baca: Peminat Pesawat N219 Berlimpah, Nasir Belum Gagas Ekspor

Sementara perjanjian joint sales marketing itu ditujukan untuk saling memperluas pemasaran pesawat produksi masing-masing. Perluasan kerja sama juga termasuk rencana pengembangan bersama peswat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang lebih moderen.

Saat ini PT Dirgantara tengah mengembangkan pesawat terbang tanpa awak Wulung hasil pengembangan BPPT dan Balitbang Kementerian Pertahanan. Pesawat tanpa awak Wulung itu telah mengantungi sejumlah sertifikasi dan siap diproduksi masal.

Nota kesepahaman atau MoU perluasan kerjasama PT Dirgntara dan Korea Aerospace tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgangara Indonesia Budiman Saleh dengan Senior Executive Vice President and General Manager Research and Development Group Division, Jang Sung Sub pada Rabu, 3 November 2016, di sela ajang Indo Defence yang digelar di Jakarta International Expo, Jakarta. Penandatangan itu disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, CEO Korean Aerospace Industries Ha Sung Yong, serta Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Cho Tai Young.

Kerjasama ini merupakan pengembangan program KFX/IFX yang direncanakan berlangsung 10 tahun mulai tahun 2016 ini. Pesawat tempur generasi 4,5 dengan kode KFX/IFX itu ditargetkan rampung 2021, dan memasuki fase produksi pada 2026 untuk memenuhi kebutuhan jet tempur Indonesia dan Korea Selatan.

Dalam siaran persnya, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, perusahaannya akan mengirim secara berkala engineernya ke Korea Selatan untuk mendisain bersama pesawat tempur dalam program KFX/IFX. “Kami akan mengirim 200 sampai 300 orang ke Korea,” kata dia dalam siaran pers Kamis, 3 November 2016.

AHMAD FIKRI

November 4, 2016

Pilot Tempur AS dan RI Latihan Bersama di Manado, Pertama dalam 19 Tahun

Jika Indonesia koleps dirongrong mahluk macam si Rijiek dan ISIS, MMI, HTI dsb , mungkin safe havennya adalah Sulawesi Utara..
Kamis 03 Nov 2016, 14:42 WIB

Novi Christiastuti – detikNews
Pilot Tempur AS dan RI Latihan Bersama di Manado, Pertama dalam 19 TahunTNI AU latihan bersama dengan Angkatan Udara AS di Manado, Sulawesi Utara (id.usembassy.gov)
Jakarta – Militer Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan bersama di Manado, Sulawesi Utara. Latihan bersama ini merupakan yang pertama dalam 19 tahun terakhir, dengan melibatkan pesawat tempur milik kedua negara.

“Saya baru saja pulang dari perjalanan ke Manado. Kita menggelar latihan (bersama) Cope West. Pilot Marinir AS terbang bersama pilot (TNI) Angkatan Udara Indonesia,” terang Pelaksana Tugas Duta Besar AS untuk Indonesia, Brian McFeeters, dalam press briefing kepada wartawan di kantor Juru Bicara Kedubes AS, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016).

“Itu merupakan yang pertama dalam 19 tahun terakhir, pilot pesawat tempur kedua negara terbang bersama,” sebutnya.

Enam jet tempur F-18 milik Marinir AS dan enam jet tempur F-16 miliki TNI-AU dilibatkan dalam latihan bersama ini. Dalam keterangannya, Kedubes AS di Jakarta menyebut latihan bersama ini digelar sejak 31 Oktober hingga 11 November mendatang.

Dalam latihan itu, terang McFeeters, pilot pesawat tempur kedua negara lepas landas nyaris bersamaan dan kemudian mengudara bersama. Dalam latihan bersama itu, militer AS maupun Indonesia juga menjalani pelatihan level tinggi, meningkatkan profesionalisme, menangani isu keselamatan.

“Jadi itu latihan yang sangat intens. Itu menjadi contoh dari kemitraan militer yang sangat mendalam antara AS dan Indonesia. Kami bangga menjadi mitra miiliter nomor satu Indonesia,” jelas McFeeters.

Selain Cope West, sebut McFeeters, AS dan Indonesia juga memiliki kemitraan militer dalam beberapa sektor lainnya. Termasuk pengiriman 500-600 personel TNI ke AS untuk menjalani pelatihan, juga kerjasama pelatihan keahlian dan juga kemitraan lain dalam isu kesehatan maupun bencana alam.

(nvc/ita)

November 3, 2016

Ukraine Looks to Build BTR-4 APC in Indonesia

Cakep nih… Pindad jadi punya varian 8×8 panser.., nggak kalah dari Singapore Terrex
 sumber :http://defense-studies.blogspot.co.id/
03 November 2016

Indonesia is looking to build the BTR-4 for Korps Marinir (photo : IMF)

Indonesia and Ukroboronprom, Ukraine’s state-owned defence industry holding group, are expected to commence talks before the end of the year focused on the Southeast Asian country’s licenced production of the BTR-4 8×8 amphibious wheeled armoured personnel carrier (APC).

Speaking at Indo Defence 2016 exhibition in Jakarta, a representative of Ukroboronprom said the production programme could follow the official acceptance of an initial five BTR-4s, which were ordered by the Indonesian Marines Corps (KORMAR) in 2014 and delivered in September 2016.

Official acceptance of the five vehicles is scheduled for the end of 2016, although KORMAR’s total BTR-4 requirement is much more expansive as the service looks to replace about 100 BTR-50PK APCs that were acquired from Ukraine in the late 1990s. There are also understood to be amphibious APC requirements in the Indonesian Army (TNI-AD).

“After official acceptance we will talk about expanding technology transfers to Indonesia and about expanding the order,” said a Ukroboronprom official. “We know [KORMAR] has a requirement for another 50 vehicles. This could mean some of these vehicles are built in Ukraine followed by technology transfers and local production in Indonesia.”

The official added that this programme could expand even further if the TNI-AD’s interest in the vehicle results in an order.

The BTR-4s delivered to the KORMAR have been equipped with one ZTM-1 30 mm automatic cannon as a primary weapon, and complemented with one AGS-17 30 mm automatic grenade launcher. The vehicles, manufactured by the Kharkov Morozov Machine Building Plant in Ukraine, have also been equipped with a nuclear, biological, and chemical (NBC) filtration system.

(Jane’s)

November 3, 2016

Bom Sukhoi Buatan Subang, Daya Ledak Seluas Lapangan Bola

Asal jangan jatuh ke simpatisan ISIS saja… bisa berabe..dong
Kamis 03 Nov 2016, 13:35 WIB

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Bom Sukhoi Buatan Subang, Daya Ledak Seluas Lapangan BolaFoto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta -PT Dahana (Persero) sebagai salah satu BUMN industri strategis sudah lama dikenal sebagai produsen bahan peledak. BUMN yang berkantor pusat di Subang, Jawa Barat ini memproduksi bahan peledak untuk kebutuhan pertambangan migas, pertambangan umum, hingga bahan peledak untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan.

Dalam pameran Indodefence di JIExpo Kemayoran, Dahana turut memamerkan salah satu produk unggulannya, yaitu bom P 100 LIVE untuk pesawat Sukhoi. Bom P 100 LIVE ini dibuat khusus untuk kebutuhan miiter Indonesia.

“Bom P 100 LIVE atau biasa disingkat P 100 L. Kita supportbuat Sukhoi buat TNI Angkatan Udara buat militer,” jelas Public Relation Dahana, Yustinus Sudarminto kepada detikFinance dalam pameran Indodefence di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (3/11/2016).

Bom Sukhoi Buatan Subang, Daya Ledak Seluas Lapangan BolaFoto: Ardan Adhi Chandra

Saat ini, produksi bom Sukhoi buatan Dahana masih khusus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Beberapa negara telah menunjukan ketertarikannya untuk membeli bom ini, namun Dahana masih fokus untuk mencukupi kebutuhan pertahanan di dalam negeri.

“Ada negara lain minat, tapi kita keep buat sendiri. Seperti Australia dan Timor Leste itu minat,” ujar Yustinus.

Bom Sukhoi Buatan Subang, Daya Ledak Seluas Lapangan BolaFoto: Ardan Adhi Chandra

Bom Sukhoi ini digunakan untuk kebutuhan perang dengan cara menjatuhkannya ke sasaran musuh. Daya ledak bom P 100 LIVE bisa menghancurkan bangunan dengan radius setara satu lapangan sepak bola.

“Radius ledakan satu stadion bisa hancur semuanya mulai dari rumah dan bangunan lainnya,” kata Yustinus.

(dna/dna)

November 1, 2016

Australia, Indonesia to Jointly Develop an Armoured Vehicle

bagus!

dari : http://defense-studies.blogspot.co.id/

01 November 2016

Australia and Indonesia are looking to co-develop a vehicle based on the Thales Bushmaster (photo : Otomania)

Australia and Indonesia have signed an agreement to expand defence industrial collaboration with a view to jointly developing an armoured vehicle, the two countries said on 28 October.

In a joint statement the two said the accord would result in the co-development of a platform, based on Thales Australia’s Bushmaster multirole protected vehicle design, which will be customised for Indonesian military requirements.

Work under the agreement, which was signed in Jakarta during the two countries’ fourth 2+2 foreign and defence ministers dialogue, will feature “leading Indonesian and Australian defence industry members”, the statement said.

Thales Australia is expected to collaborate with PT Pindad, Indonesia’s state-owned land systems specialist, although the two companies have not yet outlined the details.

In addition to the armoured vehicle project, Australia and Indonesia agreed to “elevate” security collaboration in the cyber-security area “through strengthening co-operation on capacity building”.

Furthermore, Indonesian Defence Minister Ryamizard Ryacudu confirmed that the two countries have agreed in principle to conduct joint patrols in the eastern South China Sea in the near future to boost maritime security.

(Jane’s)

November 1, 2016

Indonesia Still in Talks to Buy ‘Nine or 10’ Sukhoi Su-35 Jets: Official

sumber :http://defense-studies.blogspot.co.id/

01 November 2016

Su-35 Fighter (photo : Lysenko Sergey)

Indonesia is in talks to buy “nine or 10” Sukhoi Su-35 fighter jets from Russia, an Indonesian defense ministry official told Reuters on Tuesday, without giving a timeline for any deal.

“We are still negotiating,” Leonardi, head of the defense facilities at Indonesia’s defense ministry who goes by one name, said by telephone.

“We are still bargaining, ‘how much do you want to sell them for?’.”

Indonesian defense minister Ryamizard Ryacudu said in May the Southeast Asian country would buy eight Russian Sukhoi Su-35 jets this year, but the planned purchase has not materialized.

Rival Western companies are still trying to wrest the deal to supply Indonesia with fighter jets away from Russia’s Sukhoi, two people familiar with the talks said, asking not to be named because of the sensitivity of the matter.

The award has not been finalised and it is seen as a test for efforts by Indonesian President Joko Widodo to enforce more transparency in big-ticket deals, they said.

Hundreds of companies including Lockheed Martin of the United States, Sweden’s Saab and Indonesian state weapons maker PT Pindad will be represented at an Indo Defence exhibition, which will be held in Jakarta from Nov. 2 to Nov. 5.

The country’s biggest annual defense show will come weeks after Indonesian warplanes staged large-scale exercises on the edge of a South China Sea area claimed by Beijing.

While Indonesia is not part of the dispute over the South China Sea, it objects to China’s inclusion of waters around the Natuna Islands within its ‘nine-dash line’, a demarcation line used by China to show its claims there.

Indonesia’s total defense spending has risen 77 percent over the last four years to 108.7 trillion rupiah ($8.3 billion), though it is expected to dip to 108.0 trillion rupiah next year, according to official data.

Indonesia had signed a contract with Lockheed Martin for 24 F-16 jets, of which 14 had been delivered and 10 more expected by early 2018, the defense ministry’s Leonardi said. He declined to disclose the value of the deal.

Research firm IHS Markit predicts that Indonesia will spend more than $20 billion on procurement between 2016 and 2025 — the fifth fastest-growing defense budget in the world — and it will increasingly seek to diversify its suppliers.

South Korea, Russia and France are expected to hold a combined market share of 53 percent between 2009 and 2018, while the other half will be shared by about 30 countries, many with less than one percent, IHS said.

“This reflects Indonesia’s wariness about dependency of a supplier or a set of suppliers, as well as the intention to ‘shop around’ for the best defense deals, spurring competition,” said IHS analyst Jon Grevatt.

(Reuters)

October 29, 2016

Pembelian Sukhoi Su-35 Terkendala ToT dan Produksi Bersama

Kelihatannya SAAB lebih menjanjikan..

 

29 Oktober 2016

Pesawat tempur Su-35 (photo : neftegaz)

Kontrak pembelian Sukhoi Su-35 bisa terkendala ToT dan produksi bersama

Jakarta (ANTARA News) – Kepastian Sukhoi Su-35 akan hadir di hanggar TNI AU menggantikan F-5E/F Tiger II masih belum terjadi. Laman rbth.indonesia, Jumat, menyatakan, negosiasi harga dan transfer teknologi bisa menjadi faktor penghalang keputusan pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35.

Gelaran industri pertahanan Indo Defence 2016 akan menjadi arena baru penawaran pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II dari Skuadron Udara 14 TNI AU. Kompetisi antara JAS-39 Gripen dari Saab (Swedia), Eurofighter Typhoon (Airbus Military), dan Sukhoi Su-35 (Rosoboronexport, Rusia), akan dibuka kembali.

Semula gencar disebut-sebut bahwa Sukhoi Su-35 akan menjadi pengganti F-5E/F Tiger II itu dan kepastian kontrak pembelian akan dilaksanakan pada paruh kedua 2016 ini.

Namun, harga yang ditawarkan dan skema serta jenis transfer teknologi yang diberikan Rusia untuk membangun bersama pesawat tempur itu di Indonesia menjadi hal yang masih mengganjal.

Karena itulah Indonesia kemudian mengundang dua kontestan lain untuk mengirim proposal resmi mereka dalam program penggantian F-5E/F Tiger II ini.

Laman www.defenseworld.net, Selasa (27/10), melaporkan, pemerintah Indonesia saat ini menegaskan hanya membeli benda dan peralatan perang dari luar negeri jika ada transfer teknologi dan produksi bersama.

Sumber Rusia yang dikutip pada Singapore Air Show 2016 lalu, menyatakan, jumlah unit Sukhoi Su-35 yang akan dibeli Indonesia masih sangat sedikit untuk memungkinkan mereka memberi kedua hal itu, yaitu transfer teknologi dan produksi bersama.

Indonesia berencana membeli hanya delapan atau paling banyak 12 unit Sukhoi Su-35.

Dibandingkan dengan pesaingnya, Saab pada Indo Defence 2016 kali ini akan membawa simulator JAS39 Gripen ke Jakarta.

Pesawat tempur Su-35 (photo : defence.ru)

Direktur kampanye JAS39 Gripen, Magnus Hagman, menyatakan, biaya operasional JAS39 Gripen hanya 4.700 dolar Amerika Serikat alias hanya 10 persen ketimbang biaya operasional Sukhoi Su-35.

Faktor pembiayaan pasca pembelian (perawatan dan operasional) sangat krusial untuk jangka menengah dan panjang. Pula pada pola dan prioritas operasionalisasi pesawat tempur.

Sejak tahun lalu, Saab telah menegaskan komitmen mereka untuk memberi transfer teknologi kepada Indonesia dalam skala yang menguntungkan kedua belah pihak. Brazil telah menempuh cara ini, seiring kontrak pasti pembelian 36 unit JAS39 Gripen NG, yang hanggar produksinya telah dibangun di Brazil.

Selain tawaran transfer teknologi, Saab juga menawarkan produksi bersama JAS39 Gripen dan pelatihan bagi ahli aeronautika Indonesia dalam mengintegrasikan sistem-sistem dalam pesawat tempur.

Hal ini diharapkan dapat berperan besar dalam program pembuatan pesawat terbang tempur buatan Indonesia, IFX.

Walau berukuran paling mungil dan bermesin tunggal —Sukhoi Su-35 dan Eurofighter Typhoon berukuran besar dan bermesin ganda— JAS39 Gripen sudah diintegrasikan dengan peluru kendali udara ke permukaan RBS 15 untuk menghajar target di darat dan permukaan laut.

Ditambah dengan radar AESA maka daya gentar dan kemampuannya diyakini semakin meningkat. Sukhoi Su-35 mengembangkan radar pasif, PESA.

(Antara)

October 27, 2016

Bangga! Dalam Hal Ini Militer China Akui Kehebatan Prajurit TNI

Indonesia harus minta jatah lagi dong buat kontingen perdamaian PBB. Selama ini kontingen PBB didominasi oleh tentara Bangladesh, Pakistan, dll.. Prestasi ciamik Indonesia bisa jadi bahan pertimbangan..

Kagum lihat kemampuan zeni TNI.., kenapa tidak digunakan untuk membangun pulau terluar di Indonesia.. Banyak pulau terluar tidak punya akses lapangan terbang, pelabuhan, jalan dan listrik. Siapa tahu TNI juga bisa membangunt pembangkit tenaga listrik dari enerji terbarukan.. wah.. Itu mungkin makin top dan buat negara lain (malaysia) pasti iri hehe…

 

 

Share on Facebook
Tweet on Twitter

komandan-china-puji-kehebatan-pasukan-tni-selesaikan-tugas

Laut China Selatan, sempat menjadi saksi ketegangan antara Indonesia dan China. Dan slama ini d tingkat dunia China juga dikenal sebagai negara dengan kekuatan militer besar.

Namun di Republik Demokratik Kongo, komandan pasukan asal China tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat pasukan TNI.
Dilansir dari Merdeka, Pasukan zeni TNI di Kongo sedang bertugas di bawah bendera PBB. Salah satu tugasnya adalah membangun jalur pacu bandara Mavivi.

“Saya dapat melihat secara langsung bagaimana Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-M/Monusco melaksanakan pekerjaan pembangunan Base Course Runway Bandara Mavivi pada malam hari. Melihat hasil yang telah dicapai sampai dengan saat ini (92,77%), saya selaku Force Engineering merasa puas dan kagum terhadap kinerja yang dicapai oleh Kontingen Kompi Zeni TNI,” kata Letkol Miao Jian.

Letkol Miao Jian berasal dari China dan menjabat sebagai Force Engineering Head Quarter Monusco (Mission de LOrganisation des Nations Unies pour La Stabilisation en Republique Democratique du Congo) yang merupakan atasan seluruh Kontingen Zeni yang terdapat di Monusco.

Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-M/Monusco yang berjumlah 175 personel terdiri dari TNI AD, AL dan AU di bawah pimpinan Letkol Czi Sriyanto.

Pernyataan yang disampaikan Letkol Miao Jian bukan tanpa alasan, karena dia sangat memahami terdapat banyak rintangan dan kendala ataupun keterbatasan yang dialami Pasukan Garuda dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan Base Course Runway Bandara Mavivi ini.

“Satgas Kompi Zeni TNI dengan segala kemampuan teknis yang mereka miliki didukung dengan manajemen personel yang baik serta semangat kerja yang tinggi mampu melaksanakan pekerjaan pembuatan Base Course Runway Bandara Mavivi tersebut dengan standar tinggi,” tuturnya.

Menurut Letkol Miao Jian, alokasi waktu yang diberikan kepada Kompi Zeni TNI dalam proyek pembuatan Base Course ini adalah 130 hari.

84_big

Namun istimewanya, Satgas Kompi Zeni TNI baru menggunakan 90 hari kerja, akan tetapi diperkirakan pekerjaan tersebut akan mampu diselesaikan kurang lebih dalam waktu 7 hari lagi. Perkiraan tersebut sangat beralasan, apabila melihat persentase progres hasil pekerjaan harian rata-rata yaitu 0,98%.

Letkol Miao Jian yang didampingi oleh Letda Czi Paskalis Bensin (Danton TOB) juga menyampaikan rasa bangga dan memberikan apresiasi sangat positif atas dedikasi yang sudah dilaksanakan oleh Kontingen Indonesia.

“Setiap pekerjaan atau tugas yang diberikan kepada Satgas Kompi Zeni TNI baik yang berupa tugas key, major maupun minor dapat diselesaikan dengan sempurna dan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan,” ujarnya.

Di akhir peninjauannya dan akan meninggalkan lokasi pekerjaan, Force Engineering HQ Monusco Letkol Miao Jian menyampaikan ungkapan terima kasih kepada seluruh personel Kontingen Indonesia.

“Seandainya semua bekerja seperti Kontingen Indonesia,” katanya penuh harap.

October 25, 2016

Kontribusi Pindad ke TNI Baru 10 Persen

Masih minim yak..

Abraham Utama, CNN Indonesia
Kamis, 21/07/2016 10:51 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — PT Pindad (Persero) baru berkontribusi sebesar lima hingga sepuluh persen untuk alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia. Persentase itu dihitung dari total alokasi keuangan pemerintah untuk sektor pertahanan.

“Dibandingkan dengan anggaran pertahanan, sudah sekitar lima sampai sepuluh persen. Itu bisa ditingkatkan lagi, tapi ada pekerjaan rumah bahwa industri pertahanan harus direvitalisasi dan direstrukturisasi,” ujar Direktur Utama PT Pindad, Silmy Karim, di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Silmy menuturkan data tersebut usai rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan petinggi perusahaan penyedia senjata dalam negeri. Rapat itu dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam rapat, Jokowi berkata, pembangunan kekuatan pertahanan harus beriringan dengan rencana pengembangan industri pertahanan.

Menurut Silmy, pernyataan Jokowi itu pesan penting untuk merealisasikan kemandirian penyediaan alusista oleh perusahaan dalam negeri.

Silmy mengatakan, pada tahun 2015 perusahaannya meningkatkan kontrak kerja sama penjualan senjata hingga 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun itu pula, kata dia, produktivitas PT Pindad naik hingga 122 persen.

Saat ini, Silmy mengklaim PT Pindad sudah mampu memproduksi seluruh komponen yang dibutuhkan perusahaannya untuk merakit senjata. Namun, menurutnya hal itu tidak berarti industri pertahanan Indonesia telah benar-benar mandiri.

“Tidak sampai di situ saja. Ada pengembangan teknologi yang masih dalam proses penguasaan. Presiden tadi bilang, pilih sektor mana yang yang perlu dibangkitkan lagi,” ucapnya.

PT Pindad merupakan perusahaan pelat merah. BUMN ini mencanangkan tahun 2023 sebagai tenggat waktu mereka menjadi produsen peralatan pertahanan dan keamanan terkemuka di Asia.

Kini PT Pindad sedang bersiap mengakusisi sebuah perusahaan industri pertahanan luar negeri. Namun Silmy masih enggan mengemukakan korporasi tersebut.

(rel)

October 25, 2016

DSME Luncurkan Kapal Selam KRI 404

24 Okotober 2016

Kapal selam kedua KRI 404 buatan galangan kapal DSME Korea (photos : sisapress, kjclub)

Indonesia Resmi Miliki Kapal Selam Diesel Elektrik Buatan Korea Selatan

JAKARTA, KOMPAS.com – Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Laksamana Madya Widodo meresmikan peluncuran Kapal Selam Diesel Elektrik (KSDE) DSME-209 (H.7713) di Galangan DSME, Okpo, Pulau Geoje, Korea Selatan, Senin (24/10/2016).

Peluncuran secara simbolis ditandai dengan pemotongan tali oleh Widodo, didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Arie H Sembiring.

Armada tersebut merupakan kapal selam kedua yang dipesan Indonesia dari Korea Selatan. Penandatanganan berita acara peluncuran kapal dilakukan oleh Dansatgas Yekda Kapal Selam Laksamana Pertama TNI Iwan Isnurwanto dan Project Manager Indonesian Submarine.

Acara peluncuran kapal selam ini juga dihadiri Senior Executive Vice President of DSME, Sung Geun Lee.

Dikutip dari keterangan tertulis Dinas Penerangan Angkatan Laut, kapal selam diesel elektrik DSME-209 (H.7712) pertama telah diluncurkan pada 24 Maret lalu di tempat yang sama.

Peluncuran saat itu dihadiri Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama Edi Sucipto mengatakan, pengadaan kapal perang menjadi prioritas dalam revisi Minimum Essential Force (MEF) 2015-2019 TNI AL.

Pengadaan kapal selam baru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) guna mendukung visi World Class Navy.

“Indonesia mempunyai visi menjadi Poros Maritim Dunia, maka kehadiran TNI AL itu penting. Bukan hanya hadir di pangkalan, tapi hadir di laut, baik di permukaan maupun di bawah permukaan,” ujarnya.

Kapal Selam Ketiga

Menurut Edi, selama ini Indonesia telah memesan tiga kapal selam baru diesel elektrik kelas Changbogo dari Pemerintah Korea Selatan.

Proses alih teknologi dilakukan di Galangan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Pembangunan dua kapal pertama seluruhnya dilakukan di DSME. Sedangkan kapal selam ketiga rencananya akan diselesaikan di PT PAL.

Pada Mei lalu, kapal selam ketiga telah dilaksanakan keel laying atau pembangunan awal dari konstruksi kapal. Proses selanjutnya akan dikirim ke Indonesia pada Desember mendatang.

Para tenaga ahli Indonesia di Galangan PT PAL Surabaya akan mengerjakan kapal dengan cara joint section.

(Kompas)