Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

November 13, 2014

Perusahaan Pesawat Ramai-ramai Bidik Pasar Indonesia

 Kalau tidak pintar pintar  Indonesia hanya akan terus dijadikan “pasar” untuk produk produk high tech.
Sumber : Liputan6
WEDNESDAY, 12 NOVEMBER 2014

Indonesia kerapkali menjadi pasar empuk untuk pemasaran aneka produk dari gadget hingga kendaraan mewah. Bahkan, model transportasi super-mewah seperti pesawat dan helikopter mulai ramai menyasar pasar Tanah Air.

Jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa dan bentuk geografis yang berkepulauan dianggap perusahaan pembuat pesawat dan helikopter sebagai alasan Indonesia bisa jadi pasar potensial. Oleh sebab itu, mereka pun mulai merapat ke Indonesia – salah satunya adalah perusahaan Airbus Helicopters.

“Indonesia merupakan salah satu negara potensial untuk industri transportasi udara. Bentuknya yang kepulauan dan jumlah penduduk yang besar menjadikannya sebagai prioritas kami dalam mengembangkan pasar pesawat maupun helikopter,” ujar Fabrice Rochereau, VP Sales & Costimer Relations Asia-Pasific Airbus Helicopters.

Demi menggaet pasar kelas atas ataupun berbagai lembaga di Indonesia yang memiliki mobilitas tinggi dan memerlukan efisiensi waktu, Airbus mengklaim membawa berbagai model produknya ke pasar Indonesia. Kebutuhan sipil maupun militer diakui Fabrice bisa ditangani produk buatannya.

“Kita sediakan berbagai macam helikopter yang bisa difungsikan untuk membantu berbagai kebutuhan seperti angkutan pribadi, kesehatan maupun bermacam-macam aktivitas militer seperti pengiriman suplai atau patroli di lokasi yang sulit dijangkau,” tambah Fabrice.

Fabrice menyebutkan harga helikopter yang disediakannya berkisar antara US$ 2-30 juta setara dengan 2-3 mobil mewah atau mobil super yang biasa dipakai para konglomerat.

Untuk perawatan, pilot dan garasi, Airbus menyebutkan bisa membantu kebutuhan para pelanggan di Indonesia yang punya potensi besar di industri dirgantara.

November 12, 2014

TNI AU: Disangka pakai Assalamualaikum pesawat Arab bisa lewat

lagi lagi  Arab, ternyata nggak hanya di darat di udara pun seenaknya sendiri. Kacau

Reporter : Kresna | Rabu, 12 November 2014 12:07


TNI AU: Disangka pakai Assalamualaikum pesawat Arab bisa lewat

Aksi para pilot top gun F-16 TNI AU. ©handout/tni au

Merdeka.com – Pesawat dari Singapura tujuan Australia yang hendak melintasi wilayah Indonesia membatalkan penerbangannya melintasi Indonesia gara-gara TNI AU mengerahkan pesawat F-16.

Menurut Danlanud Adi Sucipto, Marsekal Pertama Yadi Sutanandika pesawat yang hendak melintas belum memiliki izin sehingga membatalkan melintasi Indonesia. Diketahui pesawat itu rupanya milik Saudi Airlines.

“Jenis pesawatnya Gulf Stream miliki Saudi Airlines yang ditumpangi oleh keluarga kerajaan Arab. Mereka saat ini berada di Singapura untuk menyelesaikan izin melintasi di wilayah kita,” jelas Yadi pada wartawan, Senin (12/11).

Menurut Yadi, seharusnya sebelum melakukan penerbangan, sebuah maskapai atau pesawat harus memiliki izin melintas jika akan melintasi perbatasan negara. Di Indonesia, pihak luar harus mendapatkan izin dari kedutaan dan mabes TNI jika akan melintasi wilayah Indonesia.

“Itu pesawat milik Arab Saudi, mungkin dikira pakai Assalamualaikum saja sudah bisa, ya tidak begitu. Seharusnya mereka paham aturannya,” tegas Yadi.

Meski demikian pihaknya merasa bangga karena dengan pembatalan tersebut artinya Indonesia sebagai negara yang berdaulat tidak dipandang sebelah mata oleh negara lainnya.

“Itu artinya kita dipandang, respon mereka baik, begitu kita peringatkan mereka langsung mengurus izin. Tapi kedepannya seharusnya minta izin dahulu baru lepas landas,” tandasnya.

Sebelumnya TNI AU telah mengerahkan pesawat F-16 untuk menyergap pesawat tersebut. Mereka juga sudah siap bertindak tegas jika dibutuhkan.

November 10, 2014

Berguru Dahulu Sebelum Bergurau

INDUSTRI PERTAHANAN

PERIBAHASA ”Berguru dahulu sebelum bergurau” menggambarkan sebagian sisi industri pertahanan Indonesia. Meskipun panser anoa buatan dalam negeri telah melanglang buana, Indonesia tetap gencar ”berguru” teknologi pertahanan ke negara lain. Tentu saja, sambil menyimpan asa untuk lebih unjuk gigi di kancah industri pertahanan internasional.

Akhir pekan lalu, Pameran Indo Defence Expo 2014 berakhir. Selama empat hari, ajang akbar yang diadakan sekali dalam dua tahun itu menjadi arena pertukaran ide, kontrak bisnis, hingga kerja sama di bidang militer antar-56 negara yang berpartisipasi.

Indonesia sebagai tuan rumah tentu dilirik. Berbagai peluang kerja sama bilateral bermunculan. Di situlah kesempatan Indonesia ”berguru” ke negara lain yang memiliki kemampuan teknologi pertahanan lebih mumpuni.

Menurut Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Timbul Siahaan, Indonesia masih membutuhkan sokongan negara lain dengan teknologi pertahanan lebih maju. ”Memang, kita sudah punya modal dasar. Panser anoa dan kapal cepat patroli kita, misalnya, sudah diproduksi di dalam negeri, bahkan dipesan negara lain. Tetapi, untuk pengembangan ke produk atau perangkat lain, kita masih perlu belajar,” kata Timbul.

Pada Jumat (7/11) itu, Timbul baru saja menyaksikan penandatanganan nota kesepakatan (MOU) pengembangan tank medium antara Kemenhan dan Kementerian Pertahanan Nasional Turki dalam Pameran Indo Defence Expo 2014 di Kemayoran. Kerja sama antarpemerintah itu melibatkan PT Pindad, perusahaan manufaktur dalam negeri pemasok alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta FNSS Savuna Sistemleri, perusahaan serupa dari Turki.

Dalam kurun waktu tiga tahun, dua prototipe tank medium berbobot 20-40 ton, dengan meriam kaliber 90-105 milimeter, akan selesai dirakit di Bandung dan Ankara, Turki. Sejumlah tenaga PT Pindad dan TNI AD juga akan dikirim ke Turki untuk dilatih membuat tank medium berteknologi lebih mutakhir.

Tidak hanya kerja sama G2G (government to government), Indo Defence Expo juga membuka peluang kerja sama antarperusahaan.

Manajer Promosi PT Dirgantara Indonesia (DI) Adi Prastowo mengibaratkan pergelaran Indo Defence 2014 seperti pasar khusus pelaku industri pertahanan. ”Seperti belanja di pasar, dengan mudah, kami (para pelaku industri) bisa membandingkan harga barang di tiap lapak. Kalau tertarik, tinggal tawar-menawar. Bahkan, bisa langsung tanda tangan kontrak kerja sama di tempat,” ujar Adi.

Hasilnya, selama tiga hari pameran, PT DI membukukan tiga MOU dengan perusahaan asing, misalnya Bell Helicopter Textron dari Amerika Serikat. Kerja sama tersebut mencakup penjualan dan pembuatan helikopter di dalam negeri. PT DI juga meneken kontrak pengadaan satu unit pesawat CN235-220 produk domestik yang dipesan perusahaan AD Trade Belgium dari Belgia.

”Kerja sama ini tetap berkontribusi pada pengembangan industri pertahanan nasional, baik melalui produksi di dalam negeri maupun pengiriman tenaga dan pakar industri pertahanan kita ke luar negeri untuk pelatihan,” kata Adi.

Design engineer PT Sentra Surya Ekajaya, Melsyas Harkit Simbolon, berpendapat senada. Meski belum diresmikan, sejumlah perwakilan dari dalam maupun luar negeri menunjukkan sinyal kerja sama. Mereka umumnya tertarik dengan kendaraan taktis khusus/armored personnel carrier (APC) P2 Commando karya anak bangsa yang berkapasitas 10 orang.

Tak selamanya berguruKerja sama investasi dan berguru ke negara lain boleh saja dijajaki. Tetapi, hal itu diharapkan tidak berlangsung lama. Sekretaris Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemenhan Brigjen Santoso menekankan, ke depan, ketergantungan Indonesia pada negara lain perlahan mulai dikurangi. ”Indonesia harus mampu memproduksi alat-alat pertahanannya secara penuh dan mandiri,” ucapnya.

Dengan semangat kemandirian itu, Santoso pun memasang target. Empat tahun dari sekarang, setelah proses ”berguru” pada Turki, PT Pindad harus mampu memproduksi tank medium secara mandiri, memenuhi kebutuhan tank dalam negeri, bahkan menyusul prestasi panser anoa yang diekspor ke luar negeri.

Terkait kemandirian industri pertahanan nasional, mari mengacu kata-kata yang berulang kali diucapkan Presiden RI Joko Widodo. ”Pertumbuhan ekonomi didorong di atas 7 persen. Kalau berhasil, penerimaan negara akan meloncat naik dan itu bisa dipakai untuk menaikkan anggaran pertahanan hingga tiga kali lipat,” kata Jokowi saat mengunjungi Pameran Indo Defence, pekan lalu.

Jalan setapak menuju kemandirian itu masih terhampar di depan mata. Perlahan tapi pasti, mari meniti jalan tersebut agar suatu hari kita tak lagi harus ”berguru”, melainkan sudah bisa ”bergurau”. (Agnes Theodora Wagunu)

KOMENTAR
November 9, 2014

Belanja Alutsista Indonesia ke AS Rp 3 Triliun

Pasukan TNI mengikuti Gelar Pasukan Pengamanan Kunjungan Presiden, di Lapangan Hasanuddin, Makassar, 4 November 2014. TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO.CO, Jakarta – Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert Blake mengatakan militer Indonesia saat ini sudah jauh berkembang. Dia mengakui Tentara Nasional Indonesia merupakan salah satu pasukan elite di dunia. “Indonesia juga pengaruhnya terus berkembang,” ujar dia di ajang Indo Defence 2014, Kemayoran, Jakarta, Jumat, 7 November 2014.

Salah satu indikator Indonesia memiliki militer yang baik, kata dia, adalah dari peralatan tempurnya. Blake mengatakan Indonesia merupakan satu dari 11 negara yang memiliki helikopter Apache. Menurut dia, Amerika Serikat sebagai produsen tidak akan begitu saja menjual helikopter tempur andalannya tersebut.

Blake menargetkan belanja TNI kepada perusahaan AS bisa terus berkembang. Tahun lalu, dia menyebut belanja peralatan dan perlengkapan tempur pemerintah ke perusahan asal Negeri Abang Sam itu mencapai US$ 250 juta atau sekitar Rp 3 triliun. “Itu belum termasuk pembelian helikopter Apache,” kata dia.

Karena itu, dia mengatakan negaranya akan terus mempererat kerja sama di bidang militer dengan pemerintah Indonesia. AS juga menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra penting bagi militer AS. “Dalam hal pelatihan juga Indonesia mitra latihan terbesar bagi kami,” kata Blake.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor militer AS mulai mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan Indonesia. Hal itu juga merupakan respons dari penyataan pemerintah Indonesia bahwa modernisasi alat utama sistem pertahanan akan terus dilakukan. “Kami punya teknologi terbaik, dan perusahaan AS sangat tertarik dengan peluang tersebut,” kata Blake.

Blake mengatakan perusahaan AS siap membantu perusahaan lokal untuk mengembangkan alutsista. Salah satu caranya adalah dengan menambah kandungan lokal dalam setiap produk militer canggih tersebut.

Pemerintah AS, disebut Blake, tidak akan menjatuhi embargo militer kepada TNI. Hal itu karena AS sudah memandang bahwa Indonesia merupakan kekuatan baru dalam peta perpolitikan secara global. Pengaruh Indonesia juga diakui AS semakin kuat dan terus berkembang setiap tahunnya. “Jadi kami tidak melihat adanya kemungkinan embargo tersebut,” ujarnya.

DIMAS SIREGAR

November 6, 2014

Teknologi Mahapenting demi Kemandirian

JAKARTA, KOMPAS — Teknologi dalam industri pertahanan tidak saja bisa menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga lokomotif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa. Oleh karena itu, pengembangan teknologi untuk kemandirian industri pertahanan dalam negeri menjadi sasaran yang harus dicapai bersama.Hal ini merupakan benang merah Indo Defence Expo 2014 yang berlangsung pada 5-8

November di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. Pameran industri pertahanan tersebut diikuti 671 perusahaan, terdiri dari perusahaan badan usaha milik negara dan perusahaan swasta.

Dalam pembukaan pameran, Rabu (5/11), Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, teknologi pertahanan bisa menjadi sarana bangsa dalam pengembangan diri.

”Mengingat teknologi telah menjadi faktor penentu dalam kemenangan perang sehingga pengembangan teknologi menjadi keharusan,” ujar Kalla.

Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Menurut Ryamizard, melalui pameran ini, diharapkan muncul ide-ide kerja sama di bidang teknologi. Ia juga mengharapkan Indo Defence bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan jaringan usaha dalam bidang industri pertahanan dan transfer teknologi. ”Kita ingin industri pertahanan jadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Ryamizard menambahkan, dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, Indonesia punya payung hukum agar pengguna memanfaatkan hasil industri dalam negeri. Hal ini merupakan penjabaran dari ideologi Trisakti dalam bidang pertahanan.

Produk IndonesiaMenurut pengamatan Kompas, sudah ada beberapa produk Indonesia yang dipamerkan, mulai dari panser Pindad Cokcerill 90P, kapal tanpa awak PT Lundin-SAAB bernama Bonefish, hingga seragam lapangan militer. Namun, secara keseluruhan, produk-produk asing, seperti Eurofighter, Rosoboronexport, dan Lockheed Martin, lebih mencolok.

Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam peluncuran buku Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia karya Silmy Karim menyebutkan, tantangan industri pertahanan meliputi sumber daya manusia, modal menghadapi produsen besar, dan pasar.

Sjafrie mengatakan, industri pertahanan nasional harus memastikan bahwa sumber daya manusianya memiliki nasionalisme tinggi sekaligus profesional. Pengembangan industri pertahanan juga membutuhkan kebijakan pemerintah terkait dengan modal. (EDN)

November 4, 2014

Para Ajudan Presiden Joko Widodo

Senin, Oktober 20, 2014 IDB 0

JAKARTA-(IDB) : Jokowi telah resmi memilih tiga ajudan dari kalangan TNI AD, AU, dan AL.

Kolonel Laut Hersan terpilih menjadi ajudan presiden ketujuh itu yang berasal dari kalangan AL. “Dari AL yang terpilih adalah Kolonel Laut (P) Hersan, SH,” kata Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Manahan Simorangkir saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (19/10/2014). Kolonel Hersan merupakan alumni Akademi Angkatan Laut tahun 1994. Dalam perjalanan kariernya, Hersan pernah menjadi Komandan KRI Diponegoro. “Lahir tanggal lahir 7 Juli 1970, dua jabatan terakhir adalah Komandan KRI SRI-352 dan Satkor Koarmatim,” jelas Manahan. Hersan pagi tadi sudah mengikuti proses gladi resik pelantikan Jokowi sebagai presiden. Mulai besok, Hersan bersama tiga ajudan lain akan selalu berada di dekat Jokowi. Dari kalangan TNI, Jokowi sudah memilih tiga ajudan. Ketiga ajudan itu yakni,

Letkol Inf Widi Prasetejiono dari TNI AD yang pernah menjabat debagai Dandim Surakarta.

Dari TNI AU, Jokowi memilih Kolonel Toni Haryono yang pernah menerbangkan pesawat tempur Sukhoi. Sementara itu, hingga sore ini, mantan Gubernur DKI itu belum menentukan ajudan dari kalangan Polri. TNI AD : Letkol Widi Prasetejiono Setelah dilantik Senin, Joko Widodo akan menjadi presiden ketujuh Indonesia. Sesuai peraturan yang berlaku, Jokowi akan memiliki empat ajudan dari TNI AD, AU, AL dan Polri. Jokowi sudah menentukan ajudan terpilih dari kalangan TNI AD, yakni Letkol Inf Widi Prasetejiono. Jokowi pun membenarkan bahwa salah satu ajudan yang dipilihnya adalah Widi. Ajudan terpilih itu hari ini sudah mendampingi Jokowi melakukan gladi resik di Gedung DPR/MPR. Letkol Inf Widi Prasetejiono pernah menjabat sebagai Komandan Kodim 0735/Surakarta, tempat Jokowi pernah menjadi wali kota. Dia juga pernah menjadi Danton Grup 2 Kopassus di Kandang Menjangan, Kartasura, pada 1995. Widi Prasetejiono merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1993. TNI AU : Kolonel Toni Haryono Presiden terpilih Joko Widodo berkuasa menunjuk ajudan-ajudannya yang berasal dari TNI AD, AU, dan AL dan Polri. Dari kalangan TNI AU yang terpilih sebagai ajudan Jokowi adalah penerbang pesawat tempur Sukhoi, Kolonel Toni Haryono. “Untuk (ajudan) RI-1 yang terpilih adalah Kolonel Toni Haryono, dia pernah menjadi penerbang pesawat Sukhoi,” kata Kadispen TNI AU, Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (19/10/2014). Menurut Hadi, sebelum terpilih menjadi ajudan Jokowi, Kolonel Toni Haryono menjabat sebagai Komandan Lanud Sultan Hassanudin Makassar. Toni menjabat sebagai Danlanud setahun belakangan. “Jadi Danlanud sudah setahun ini, sebelumnya Komandan Skuadron Sukhoi,” jelas Hadi. Kolonel Toni Haryono merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara Yogyakarta tahun 1993. Mulai hari ini, Toni beserta tiga ajudan yang lain akan selalu berada di dekat Jokowi. Sedang dari TNI AD, Jokowi telah memilih Letkol Inf Widi Prasetejiono sebagai ajudan. Letkol Inf Widi Prasetejiono pernah menjabat sebagai Komandan Kodim 0735/Surakarta, tempat Jokowi pernah menjadi wali kota. Dia juga pernah menjadi Danton Grup 2 Kopassus di Kandang Menjangan, Kartasura, pada 1995. Widi Prasetejiono merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1993.

Copy n Win at: http://bit.ly/copyandwin

October 27, 2014

Catatan buat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (serem)

Catatan buat Menteri Ryamizard Ryacudu  

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, mengatakan Presiden Joko Widodo kurang cocok memilih Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Ada beberapa poin minus yang ditujukan Ikrar untuk mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu. (Baca: Daftar Lengkap Menteri Kabinet Kerja Jokowi)

Ryamizard, kata Ikrar, diragukan integritasnya terhadap ilmu maritim. Ikrar mengatakan ilmu maritim sangat dibutuhkan untuk menyokong semangat maritim yang digalang Jokowi. (Baca juga:Cara Presiden Jokowi Memilih Menteri)

Selanjutnya, Ikrar menuding Mizard sebagai orang yang sangat anti-asing. “Beliau mengklaim semua lembaga swadaya masyarakat adalah kaki tangan asing,” kata Ikrar saat dihubungi, Ahad, 26 Oktober 2014. Sikap Ryamizard ini, menurut Ikrar, akan merugikan kedaulatan Indonesia terhadap hubungan dengan luar negeri. (Baca:Puan Lebih Pas Jadi Menteri Sosial Dahulu)

Selain itu, Ikrar mengatakan, Ryamizard adalah orang yang mengedepankan paham lapangan. Ikrar menceritakan Ryamizard pernah memulangkan seorang perwira karena terlalu sering menempa ilmu formal di luar militer. “Padahal tentara yang pintar secara ilmu pengetahuan bisa sangat berguna untuk TNI,” katanya. (Baca juga: Empat Menteri Top Jokowi)

ANDI RUSLI

October 16, 2014

Menantu Hendropriyono Jadi Danpaspamres Jokowi

Menantu Hendropriyono Jadi Danpaspamres Jokowi  

Brigjen TNI Andika Perkasa, Komandan Paspampres. Wikimedia.org

TEMPO.CO, Jakarta – Terjawab sudah siapa Komandan Pasukan Pengamaan Presiden era pemerintahan Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla. Dia adalah Brigadir Jenderal Andika Perkasa yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat.

Markas Besar TNI mengumumkan promosi jabatan Brigjen Andika Perkasa dalam rilis berita resmi. Promosi Brigjen Andika menjadi Danpaspampres merupakan salah satu agenda rutin pembinaan organisasi dan karier. (Baca:Jokowi Dilantik, Pendukung Dilarang Konvoi)

“Pengangkatan tersebut berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/760/X/2014 tanggal 14 Oktober 2014,” kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Fuad Basya dalam siaran persnya, Rabu, 14 Oktober 2014.

Dengan jabatan baru itu, Andika Perkasa bakal menerima tambahan satu bintang di pundaknya. Sebab Komadan Paspampres wajib diisi oleh jenderal bintang dua atau Mayor Jenderal. Andika Perkasa merupakan menantu dari mantan Kepala BIN A.M Hendropriyono. (Baca:Pelantikan Jokowi, Masyarakat Boleh Masuk Istana )

Selain Andika, ada tiga perwira tinggi dari Angkatan Laut yang mendapatkan promosi dan mutasi jabatan. Mereka adalah Laksamana Muda Suyitno dari Koorsahli KSAl menjadi Staf Khusus KSL, Laksamana Muda A. Taufiqoerrochman dari Gubernur Akademi Angkatan Laut menjadi Koorsahli KSAL, dan Brigadir Jenderal (Marinir) Guntur Irianto Ciptolelono dari Wakil Komandan Paspampres menjadi Gubernur Akademi Angkatan Laut. (Baca:Kapolri: Polisi Siap Amankan Arak-arakan Jokowi)
INDRA WIJAYA

October 15, 2014

Strategi Pertahanan RI Di Tengah Minimnya Anggaran

 

Selasa, Oktober 07, 2014

0

SURABAYA-(IDB) : Pemerintah harus bisa mewujudkan Minimum Essential Force (MEF), yaitu pemenuhan kekuatan pokok minimum alutsista TNI yang memiliki kemampuan efek penggentar terhadap pihak manapun yang mengancam kedaulatan NKRI. Karenanya, upaya tersebut dilakukan dengan strategi kebijakan anggaran belanja Pemerintah Pusat dalam RAPBN 2015.

Melansir Nota Keuangan dan RAPBN 2015, Selasa (7/10/2014), guna mendukung percepatan pencapaian MEF sesuai dengan kemampuan keuangan negara, maka pemerintah lebih memberdayakan industri pertahanan dalam negeri.

Data Bank Dunia saat ini menunjukkan bahwa pada 2013 rata-rata belanja militer seluruh negara di dunia adalah sebesar 2,35 persen dari PDB. Rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik (versi World Bank Incl Indonesia) adalah sebesar 1,9 persen PDB.
Namun, belanja militer Indonesia pada 2013 hanya sebesar 0,9 persen PDB bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia 1,5 persen, Singapura 3,2 persen, Vietnam 2,1 persen, Thailand 1,5 persen atau China 2 persen, dan Australia 1,6 persen. Hal ini tentu saja akan menyebabkan kekuatan militer dan Indonesia sebagai suatu bangsa menjadi kurang disegani.
Sebut saja kasus penyadapan oleh Australia, sikap Malaysia, Singapura kasus KRI Usman Harun dan lain-lain. Fakta memperlihatkan bahwa Indonesia belum bisa banyak bicara terhadap negeri tetangga.
Oleh karenanya, upaya meningkatkan kemampuan dan modernisasi alutsista TNI tentu saja hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan anggaran belanja militer, pelaksanaannya sementara diarahkan untuk dapat tercapainya kekuatan pokok minimum (minimum essential force TNI).
Untuk itu, pemerintah dalam RAPBN 2015, mengalokasikan tambahan dana pada fungsi pertahanan sebesar 14 persen menjadi Rp94,90 triliun, jika dibandingkan dengan alokasinya dalam APBNP 2014 sebesar Rp83,22 triliun.
Dengan penambahan anggaran lebih banyak, diharapkan pemenuhan MEF dan pemeliharaan dan perawatan (harwat) alutsista Indonesia dapat tercapai. Dengan demikian, Indonesia bisa lebih bertaji di Asia.
October 15, 2014

Iveco Transporter, Truk Kokoh Pengangkut Tank Leopard

nggak pake Hino atau Perkasa (ex Texmaco truk) saja, Pak ?

14 Oktober 2014

Iveco tank transporter TNI AD (photo : Sindo)

Transporter, truk pengakut tank Leopard

SURABAYA – TNI terus memoderenisasi peralatan perangnya. Langkah tersebut menjadi tuntutan bagi TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

Salah satu armada tempur terbaru yang dimiliki Indonesia ialah transporter, yakni truk pengangkut untuk tank Leopard.

Transporter ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya mampu mengangkat beban seberat 90 ton.

Truk transporter ini mampu membawa beban seberat 90 ton (photo : ARC)

Tidak hanya itu, armada buatan Italia ini mampu bergerak dalam jarak yang cukup jauh.

Dalam pengoperasiannya, truk ini dilengkapi dengan lowbed doll buatan Jerman.

Keistimewaan yang dimiliki lowbed doll yakni memiliki tujuh sumbu yang memungkinkan seluruh rodanya mampu bergerak secara bersamaan sehingga menjamin kelincahan dengan radius putar yang kecil.

(Sindo)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 88 other followers