Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

September 27, 2014

Menhan Resmikan Kapal Oiler untuk TNI AL

Antara, 27 September 2014

KRI Tarakan 905 berfungsi dalam pembekalan logistik cair di tengah laut dalam rangka mendukung gelar operasi TNI Angkatan Laut (photos : Kaskus Militer)

TNI AL diperkuat dengan kapal pengangkut logistik

Jakarta (ANTARA News) – TNI Angkatan Laut kembali diperkuat dengan kapal perang buatan dalam negeri untuk mengangkut logistik, KRI Tarakan-905 yang merupakan kelas Bantuan Cair Minyak (BCM) produksi PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), Jakarta Utara.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio meresmikan KRI Tarakan-905, di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat.

Menhan Purnomo Yusgiantoro saat meresmikan kapal tersebut mengatakan bahwa peresmian KRI Tarakan-905 dilakukan dalam rangka pembangunan TNI Angkatan Laut untuk menuju world class navy, Indonesia patut berbangga kapal ini dikerjakan oleh putra putri Indonesia.

“Kapal ini berfungsi dalam pembekalan logistik cair di tengah laut dalam rangka mendukung gelar operasi TNI Angkatan Laut. Saya berharap kapal ini dapat dioperasionalkan secara optimal bagi bangsa dan negara,” kata Menhan.

KRI Tarakan-905 merupakan kapal jenis Bantu Cair Minyak (BCM) yang memiliki panjang keseluruhan 122,40 m, panjang garis tegak 113,90 m, lebar 16,50 m, tinggi 9,00 m, kecepatan maksimal 18 knots, jarak jelajah 7.680 nm, kapasitas muatan cair 5.500 matrik, tenaga penggerak utama berjumlah dua buah daya 6.114 PS, berat baja 2.400 ton, dengan sistem propulsi twin screw dan fixed pitch propeller.

KRI Tarakan-905 ini mempunyai fungsi sebagai penyalur bahan bakar minyak di tengah laut atau dukungan logistik cair kepada Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) lainnya. Dengan adanya kapal BCM ini menjadikan unsur kapal perang yang sedang melakukan operasi tidak perlu kembali ke pangkalan untuk pemenuhan logistik dan bahan bakar dalam melanjutkan menjaga kedaulatan NKRI dan menegakkan hukum di laut nusantara.

Selain memesan kapal berjenis BCM, TNI Angkatan Laut melalui Kementerian Pertahanan saat ini juga sedang memesan dua unit Kapal Angkut Tank (AT) dari PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero).

Pembuatan kapal ini sebagai tindak lanjut program Kementerian Pertahanan yang telah tertuang dalam Kesepakatan Bersama antara Menteri Pertahanan dengan Panglima TNI, dan Kepala Kepolisian Negara RI tentang Revitalisasi Industri Pertahanan dalam menerapkan Program MEF (Minimum Essential Force).

Penggunaan nama Tarakan sendiri diambil dari nama kota di provinsi Kalimantan Utara. Dahulu kala kota ini dikenal sebagai kota penghasil minyak dan telah menyumbangkan kontribusi yang tidak kecil sebagai penghasil minyak bumi berkualitas tinggi bagi Indonesia sejak tahun 1896.

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari adalah salah satu industri strategis milik pemerintah yang telah mendapat kepercayaan untuk mengerjakan program pemerintah dimaksud, dan juga sebagai upaya dalam memberdayakan industri perkapalan dalam negeri untuk membangun kekuatan alutsista TNI AL.

(Antara)

September 26, 2014

September Ini PT DI Kirim Pesawat NC212-400 Pembuat Hujan ke Thailand

Kompas, 25 September 2014

NC212 seri 400 (photo : Pawarin Prapukdee)

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Dirgantara Indonesia (Persero) segera akan mengirimkan satu unit pesawat jenis NC212 seri 400 ke negeri gajah putih Thailand.

Direktur Komersial dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh, menuturkan, rencananya perseroan akan mengirim NC212-400 sekitar akhir September atau awal Oktober tahun ini. “Ini adalah pesawat yang diperuntukkan untuk agrikultur,” kata dia kepada Kompas.com, Rabu (23/9/2014).

Dari catatan Kompas.com, hingga 2012 lalu, PT DI telah memproduksi sebanyak 104 unit NC212. NC212 ini merupakan pesawat multiguna yang mampu membawa 20 penumpang atau muatan 2.000 kilogram. NC212 seri 200 dan 400 dapat digunakan sebagai pembuat hujan (agrikultur), patroli maritim, dan penjaga pantai.

Kementerian Pertanian Thailand menggunakan NC212 sebagai pembuat hujan. Sementara TNI AL Republik Indonesia menggunakan seri 200 sebagai patroli maritim selain CN235. Budiman menambahkan, ada satu unit pesawat lagi yang baru saja ditandatangani kontraknya pada pekan lalu. Pesawat berjenis CN235 ini merupakan jenis pesawat multiguna. “Ibaratnya, satu pesawat tapi memiliki lima kemampuan konfigurasi,” tutur Budiman.

Pesawat CN235 memiliki kemampuan untuk VIP configuration, yang bisa digunakan untuk para pejabat. Adapun kegunaan kedua adalah medical evacuation, di mana kursi VIP bisa dirombak untuk keperluan evakuasi korban bencana.

Pesawat ini juga bisa digunakan untuk mengangkut kargo. Kegunaan keempat, CN235 bisa digunakan untuk mengangkut penumpang untuk keperluan kepolisian, untuk keperluan terjun payung.

Asal tahu saja CN235 menjadi salah satu produk unggulan PT DI. Catatan Kompas.com, hingga 2012 ada sebanyak 62 unit pesawat jenis ini yang telah diproduksi, dari kontrak sebanyak 262 unit. CN235 mulai dirancang bangun sejak 1979 bersama CASA.

Pesawat ini memang dirancang multiguna, mampu melakukan take off dan landing di landasan pendek serta di landasan perintis sepanjang (800 meter). Pesawat CN235 telah diproduksi dengan berbagai varian, dengan varian pertama seri 10 dan 100. Sementara itu, varian terakhir menggunakan 2 mesin buatan GE tipe CT7-9C yang masing-masing berdaya 1.750 SHP.

(Kompas)

September 25, 2014

Proyeksi Pesawat AEW TNI AU

sumber dari IDB http://indo-defense.blogspot.com/2014/09/proyeksi-pesawat-aew-tni-au.html

Senin, September 22, 2014

1

C 295 AEW
C 295 AEW
JKGR-(IDB) : Ketertarikan TNI AU untuk memiliki pesawat peringatan dini, Airborne Early Warning (AEW), sempat mengemuka pada tahun 2012. Bahkan saking ngebetnya, Airbus Military, produsen pesawat C 295 mengecat varian C295AEW dengan kamuflase pesawat TNI AU.
KSAU Marsekal Imam Sufaat saat itu, memang pernah menyampaikan ketertarikan TNI AU untuk memiliki pesawat platform AEW. Namun Menurut KSAL, Indonesia membutuhkan platform yang lebih besar untuk memperluas daya tahan misi pesawat tersebut.
Airbus Military pun “move on”, mencoba memenuhi persyaratan TNI AU dengan membuat C 295 model winglet.
Modifikasi C 295 itu, tampaknya tidak hanya untuk meningkatkan jarak jangkau dan ketahanan terbang, dan memperirit konsumsi bahan bakar. Modifikasi dilakukan kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan TNI AU akan pesawat AEW.
Apakah pesawat ini yang akan diambil ?. Tidak tahu. Yang jelas TNI AU telah memasukkan satu pesawat AEW pada pembelian alutsista 2015 – 2019, seperti tabel berikut:
5
Airbus Military memiliki kerjasama yang kuat dengan PT DI. Sejumlah pesawat rotary TNI kini menggunakan produk kerjasama Airbus Helicopters dan PT DI, seperti: Cougar, Fennec dan Panther.
Dengan pesanan helikopter serentak dari TNI AU, AL dan AD ke PT DI, sesungguhnya pemerintah sedang melakukan penguatan terhadap PT DI, lewat Airbus Helicopters. Hal ini sekaligus untuk mempermudah perawatan dari alutsista tersebut.
Kini, dengan adanya tawaran dari Airbus Military terhadap C295 AEW, pemerintah bisa memainkan perannya lagi. Airbus Military bisa diminta membantu PT DI, untuk terus memodernisasi fasilitas manufaktur yang memungkinkan perakitan pesawat C 295 AEW di PT DI. Hal ini seiring dengan Indonesia yang juga memesan 9 pesawat C 295. Patut diduga, salah satu pesawat C 295 nanti akan muncul varian C 295 AEW.
Pesawat AEW sendiri adalah pesawat yang dilengkapi dengan radar yang mampu menampilkan pencitraan, dan medeteksi benda jarak jauh, juga memiliki kemampuan mengintai musuh atau wilayah musuh dari udara.
Sumber : JKGR
September 24, 2014

Tahir Jadi Penasihat TNI, Endriartono: Imbal Jasa

Tahir Jadi Penasihat TNI, Endriartono: Imbal Jasa

Advertisement

Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto. TEMPO/Zulkarnain

TEMPO.CO, Jakarta – Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (Purnawirawan) Endriartono Sutarto mengatakan tidak perlu mempermasalahkan penunjukan Dato Sri Tahir sebagai penasihat bidang kesejahteraan oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

Menurut Endriartono, CEO Mayapada Group itu memberitahukan dia hanya ingin membantu rumah bagi prajurit di tanah milik TNI. Secara materi, ujar Endriartono, sangat menguntungkan. Namun akan berbenturan dengan Undang-Undang TNI Nomor 34 Tahun 2004. “Kebutuhan TNI harus dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,” ujarnya. (Baca: DPR: Penunjukan Tahir Ganggu Profesionalitas TNI)

Karena itu, menurut Endriartono, jika ada yang ingin menyumbang kepada TNI harus sesuai dengan mekanisme, yakni melalui pemerintah. “Tidak boleh langsung ke TNI,” katanya.

Endriartono mengatakan, saat menjabat sebagai panglima, dirinya tidak pernah mengangkat panasihat. “Enggak ada,” katanya. Menurut dia, yang ada hanya staf ahli dari senior aktif yang mengkaji bidang. “Itu, kan, prajurit juga.” (Baca: Pebisnis Jadi Penasehat TNI, Itu Hak Moeldoko)

Sebab itu, menanggapi sosok Tahir yang merupakan pebisnis, Endriartono mengatakan bahwa penunjukan Tahir sebagai penasihat hanya bentuk imbal jasa. “Itu tidak masalah,” katanya. Hanya, kalau TNI menerima uang langsung dari perorangan, itu yang tidak boleh.

TRI SUSANTO SETIAWAN

September 23, 2014

Polisi Thailand Pesan Pesawat CN235 Buatan PTDI

Viva, 22 September 2014

Pesawat CN-235 telah dipakai oleh Kepolisian Thailand dan Departemen Pertanian Thailand (photo : chaity)

VIVAnews – PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Thai Aviation Industries Co., Ltd (TAI) menandatangani kontrak pengadaan satu unit pesawat CN235-220M, yang nantinya akan diserahkan kepada Royal Thai Police.

Kontrak pengadaan satu unit CN 235-220M Multi Purpose tersebut, merupakan implementasi dari Industrial Collaboration Agreement antara PTDI dan TAI yang ditandatangani pada 4 November 2013 di Bandung.

Pesawat CN235-220M ini dapat digunakan sebagai troop transport, VIP, medevac, pax, dan cargo, yang kemudian akan dilaksanakan oleh pihak TAI di fasilitas TAI dengan supervisi PTDI sesuai dengan kebutuhan Royal Thai Police.

TAI adalah mitra kerja PTDI untuk menguasai pasar pesawat kecil dan medium di Thailand. TAI juga adalah industri pesawat terbang yang dapat melakukan modifikasi, melakukukan kustomisasi berbagai pesawat termasuk CN235 dan NC212.

Nilai kontrak untuk satu unit pesawat CN235-220M ini sebesar US$31,2 juta, dengan nomor kontrak 0006/PTD/UT0000/09/2014 tanggal 19 September 2014.

Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, mengatakan, penandatanganan kontrak pengadaan dengan TAI yang dilakukan Jumat 19 September 2014 itu diharapkan akan menjadi pendorong untuk terjadinya kontrak-kontrak berikutnya.

“Kami merasa bangga dapat memberikan dukungan terhadap kebutuhan Pemerintah Thailand dan sudah menjadi komitmen kami untuk berupaya keras menyelesaikan pesanan tepat waktu,” ujar Budi dalam keterangan tertulisnya.

Budi mengakui, pembelian CN235-220M ini menambah jumlah pesawat tersebut yang terbang di udara Thailand, karena sebelumnya dua unit CN235 digunakan Kementerian Pertanian Thailand.

Dengan berlangsungnya kontrak pembelian oleh Thai Aviation Industries untuk Royal Thai Police akan menambah daftar panjang pengoperasian pesawat CN235 di mancanegara.

PTDI telah menyerahkan satu unit CN235 ini untuk Kerajaan Brunei Darussalam, delapan unit untuk Tentera Udara Diraja Malaysia, delapan unit untuk Angkatan Udara Korea Selatan, empat unit bagi Polisi Korea Selatan, empat unit untuk Pakistan, tujuh unit bagi Uni Emirate Arab, satu unit untuk Burkina Faso, dan dua unit bagi Senegal. (art)

September 19, 2014

PT DI Kembali Produksi CN-235 Pesanan Kemenhan

18 September 2014

TNI AU membutuhkan tiga pesawat CN-235MPA untuk membentuk skuadron baru pesawat intai taktis. Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL  (photos : IAe, Alert5)

SURYA Online, SURABAYA – Penyerahan pesawat udara CN 235 ke Puspenerbal  yang berlangsung hari ini di Apron Base Opps Lanudal Juanda, Selasa (17/9/2014), menjadi pelunasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dari pesanan Kementerian Pertahanan RI.

PT DI tuntas menyelesaikan pembuatan dan menyerahkan tiga CN 235 220 Patroli Maritim (Patmar) yang digunakan penunjang kinerja TNI AL

Direktur PT DI Budi Santoso mengatakan, pemesanan pesawat udara oleh Kementerian Pertahanan ini jadi titik awal kontrak kedirgantaraan  dalam jumlah besar. Setelah pemenuhan pesanan tahap ini, PT DI kini telah memiliki kotrak untuk menyelesaikan tiga pesawat udara CN 235 lagi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

“Ada pesanan lagi, satu untuk TNI AU dan dua untuk TNI AL, ini dari kontrak baru, cuman yang satu belum efektif berjalan,” ungkap Budi usai acara penyerahan CN 235 ke Puspenerbal.

Secara teknis Budi menyebut pesawat CN 235 secara keseluruhan telah memenuhi kebutuhan dan teknologi yang digunakan juga sudah terbaik. Kalaupun ada pengembangan lagi bisa dilakukan di mission systemnya saja.

“Pesawatnya sudah cukup cangih, wing juga desain baru, cuman untuk pesanan berikutnya yang kini dikerjakan kemungkinan bisa memiliki kemampuan terbang 11-12 jam, sementara mission systemnya disesuaikan dengan permintaan penggunannya,” kata Budi.

(Surya)

September 19, 2014

Saab Offers “100% Technology Transfer” in Bid to Secure TNI Gripen Deal

Harusnya kesempatan emas semacam ini segera disambut.. tapi kelihatannya pejebat negeri ini punya pertimbangan lain rupanya/

19 September 2014

JAS-39 Gripen (photo : Saab)

Saab is offering “100% technology transfer” in its bid to supply the Indonesian Air Force (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara – TNI-AU) with its JAS 39 Gripen combat aircraft, a company executive has told IHS Jane’s .

The TNI-AU is understood to be considering the Gripen along with other fighter aircraft, including the Boeing F/A-18 Super Hornet and the Sukhoi Su-35, to replace its ageing Northrop F-5E Tiger II fleet before the end of the decade.

The programme will procure 16 aircraft and is projected to be valued at more than USD1 billion.

Speaking to IHS Jane’s on 15 September, Kaj Rosander, head of marketing and sales in Saab Asia Pacific, said the company had a “number of discussions” with the TNI-AU and the Indonesian government in which Saab had “shared the capabilities” of the Gripen E, the single-seat derivative of the two-seat JAS 39 Gripen NG.

(Jane’s)

September 18, 2014

PT PAL Bangun Proyek Kapal PKR 10514 Kedua

18 September 2014

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kedua kanan), bersama Wakil KSAL Laksdya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin (tengah) dan perwakilan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda (kiri), menyaksikan proses pemotongan plat baja pertama kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 di Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Rabu (17/9). Pemotongan plat baja pertama (fist steel cutting) proyek kapal PKR yang bekerjasama dengan galangan kapal DSNS Belanda tersebut, untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan, demi memenuhi Armada TNI AL. (photo : Antara)

Bisnis.com, SURABAYA – BUMN galangan kapal PT PAL Indonesia (Persero) mulai menggarap proyek kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 yang kedua setelah sebelumnya memulai konstruksi pembuatan PKR pertama.

Modul bagian depan PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Direktur Utama PAL INDONESIA M. Firmansyah Arifin mengatakan proyek PKR tersebut digarap melalui kerjasama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda.

“Kerjasama dengan galangan luar negeri ini turut menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan. Perkembangan kebutuhan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahunnya, dan ini sebagai pemenuhan Armada TNI Angkatan Laut,” ujarnya dalam siaran rilis penyelesaian proyek KCR 60 dan pemotongan plat baja pertama (First Steel Cutting) kapal PKR 10514 kedua, Rabu (17/9/2014).

Modul bagian tengah kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Dia mengatakan dalam mencapai target sebagai lead integrator sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2012, PAL Indonesia sebagai BUMN diharuskan mampu memproduksi kebutuhan alutsista TNI yang menjadi motor tumbuhnya industri galangan kapal.

“Dengan merampungkan pesanan TNI AL, kami akan terus berkarya untuk peningkatan kebutuhan armada laut menjadi world class navy,” imbuhnya.

Modul bagian atas kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Adapun PAL Indonesia telah menyerahkan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) dengan total 3 unit dari bacth pertama ini. KCR 60 meter merupakan jenis pengembangan dari Kapal Patroli Cepat (FPB-57) yang telah dibangun oleh perseroan sebelumnya. KCR 60 M ketiga yang sudah diserahterimakan rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro untuk menjadi kapal perang Indonesia dengan nama KRI HALASAN 630.

PAL Indonesia juga berencana segera mengirimkan sekitar 250 tenaga pembuatan kapal untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) proyek Kapal Selam. Proyek tersebut bakal menjadi sejarah pertama di Indonesia dalam pembangunan kapal Selam.

(Bisnis)

++++++

DPR Setujui PMN Rp 1,5 T untuk PT PAL

17 September 2014

Dana Rp 1,5 T akan digunakan untuk pembuatan fasilitas pembangunan kapal selam (photo : marinelink)

Dahlan-DPR Rapat 20 Menit, BUMN Ini Dapat Rp 1,5 T Untuk Bikin Kapal Selam

Jakarta -Rapat kerja Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan Komisi VI DPR hari ini menyetujui pemberian dana segar, berupa penyertaan modal negara (PMN) Rp 1,5 triliun kepada PT PAL Indonesia (Persero).

Berlangsung singkat 20 menit, rapat dimulai pukul 20.00 WIB. Dana Rp 1,5 triliun ini diberikan dalam bentuk tunai, untuk proyek pembuatan kapal selam pertama.

Adapun suntikan modal untuk PAL, akan masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015. Kapal selam akan dibuat PAL di fasilitas miliknya yang berlokasi di Surabaya.

“Komisi VI dapat menyetujui usulan PMN dalam RAPBN 2015 sesuai surat Menteri BUMN kepada PAL senilai Rp 1,5 triliun dalam bentuk tunai, untuk pembangunan fasilitas kapal selam, dan penyediaan sumber daya manusia untuk bangun kapal selam,” kata Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hertarto dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/9/2014).

PAL membutuhkan total dana Rp 2,5 triliun untuk pengembangan kapal selam ini. Namun untuk tahun depan, dana yang disetujui baru mencapai Rp 1,5 triliun.

Uang ini, rencananya digunakan untuk membangun fasilitas pengambungan kapal selam, pembelian peralatan produksi, dan lain-lain yang menunjang pembangunan kapal selam tersebut.

(Detik)

September 16, 2014

Pindad Gandeng CMI Belgia Produksi Meriam Tipe Besar

15 September 2014

Meriam 105mm produksi Cockerill Belgia (image : CMI)

BANDUNG, KOMPAS.com – PT Pindad (Persero) mengambil langkah strategis jangka panjang untuk pengembangan sistem persenjataan kendaraan tempur dan tanknya. Senin (15/9/2014) Pindad resmi menggandeng perusahaan asal Belgia, Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense (CMI), untuk pengembangan sistem meriam atau turret. Untuk tahap awal, produsen amunisi senapan dan kendaraan tempur asal Bandung itu akan memproduksi turret kaliber 90 mm dan 105 mm untuk dipasang di kendaraan tempur produksi Pindad.

Penandatangan nota kesepahaman antara kedua perusahaan diresmian di hanggar produksi panser Anoa milik Pindad, di Kiara Condong, Bandung. Direktur Utama Pindad Sudirman Said mengungkapkan, kesepakatan ini membawa dampak positif bagi pengembangan Pindad  sebagai perakit sistem persenjataan. Selain itu, kerjasama sekaligus bertujuan meningkatkan kemampuan teknologi perusahaan dan membawa Pindad masuk dalam global supply chain industri pertahanan bersama CMI.

Pindad dan CMI akan membentuk komite untuk menyusun proses alih teknologi dan pelatihan teknis untuk mendukung tujuan memproduksi turret kaliber besar. “Pindad juga memperoleh kesempatan untuk mengirimkan beberapa putra-putri terbaik kita untuk belajar masalah sistem persenjataan di CMI,” kata Sudirman.

Kesempatan ini sangat sesuai dengan tujuan manajemen untuk membangun kapasitas perusahaan  agar bisa maksimal dalam menjalankan amanah UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan.

Sementara itu, Executive Vice President CMI James Caudle menyatakan, CMI sebenarnya sudah lama hadir dan dikenal oleh Tentara Nasional Indonesia sebagai pengguna sistem persenjataan, meski hanya berupa nama. “Brand ‘Cockerill’ sudah akrab dikenal dan telah lama melengkapi sistem persenjataan TNI Angkatan Darat,” katanya. “Ini akan menguntungkan bukan saja kami tetapi juga Pindad dan Indonesia”.

CMI percaya kerjasama ini akan meningkatkan potensi besar industri pertahanan lokal dan mendukung sistem pertahanan nasional Indonesia lewat pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan transfer of technology. “Kami senang bisa meneken kerjasama dengan Pindad sebagai langkah awal jangka panjang dalam bidang perakitan dan teknologi sistem persenjataan,” ujar Caudle.

Setelah meneken nota kesepahaman, Pindad dan CMI akan duduk bersama merampungkan detail kerjasama yang memuat secara rinci kesepakatan dan komitmen yang telah dijalin dalam bentuk skema kerjasama yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak. Kerjasama dengan CMI ini adalah kali kedua Pindad meneken kerjasama dengan industri pertahanan dunia. Bulan lalu, Pindad meneken kerjasama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk pengembangan amunisi kaliber besar.

Pindad memang sedang tencar mendorong tenaga ahlinya membangun sendiri kekuatan alat utama sistem persenjataan di dalam negeri. Untuk kendaraan tempur misalnya, sudah lahir kendaraan lapis baja Anoa dan kendaraan taktis Komodo.

Pindad juga sudah mengantongi kepercayaan TNI Angkatan Darat untuk melakukan retrofit tank AMX 13. Di tangan para insinyur Pindad, tank tua ini telah mengalami perubahan total mesin, sistem transmisi, elektronik hingga sistem senjata lewat pemasangan meriam kaliber 105 mm.

(Kompas)

September 11, 2014

Presiden SBY telah menghasilkan karya besar dan monumental untuk memodernisasi TNI

Analisis : Karya Monumental Itu

Kamis, September 11, 2014

IDB

2

ANALISIS-(IDB) : Presiden SBY telah menghasilkan karya besar dan monumental untuk memodernisasi TNI selama lima tahun terakhir ini, hasilnya adalah sbb :

Penambahan Alutsista TNI AU

  1. 16 jet tempur Sukhoi SU27/SU30 lengkap dengan persenjataannya
  2. 24 jet tempur F16 Blok 52 ID lengkap dengan persenjataannya
  3. 16 jet tempur T50 Golden Eagle
  4. 16 pesawat Coin Super Tucano
  5. 24 pesawat latih Grob
  6. 12 pesawat latih KT1 Wongbee
  7.   9 Pesawat angkut berat Hercules
  8. 16 Pesawat angkut sedang CN295
  9.   6 Radar militer
  10.   6 Helikopter tempur Cougar EC725
  11.   3 Helikopter AS332 Super Puma
  12.   8 Batteray anti serangan udara Oerlikon Skyshield
  13.   6 UAV Heron
  14.   2 pesawat CN235 MPA

 

Penambahan Alutsista TNI AL

 

  1. 54 Tank Amfibi BMP3F
  2. 12 Artileri MLRS RM Grad
  3.  5 Panser Amfibi BTR-4
  4.  3 Kapal Light Fregat Bung Tomo Class
  5.  2 Kapal Perusak Kawal Rudal PKR 10514 Damen Schelde
  6.  8 Kapal Cepat Rudal 40 m
  7.  3 Kapal Cepat Rudal 60 m
  8.  3 Kapal Selam Changbogo
  9.  6 Kapal Patroli Cepat
  10.  3 Kapal Pendarat Tank
  11.  2 Kapal Logistik Tempur (BCM)
  12.  2 Kapal Oceanografi
  13.  1 Kapal Latih Layar
  14. 11 Helikopter anti kapal selam
  15.  4 Pesawat latih Bonanza
  16.  2 Pesawat CN235 Patmar
  17.  Penambahan kekuatan 1 batalyon Marinir di Batam
  18.  Penambahan kekuatan 1 divisi Marinir di Papua

 

Penambahan Alutsista TNI AD

  1. 110 Main Battle Tank Leopard
  2.   60 Tank Marder
  3.   38 Artileri MLRS Astross II Mk6
  4.   37 Artileri Caesar Nexter
  5.   55 Meriam Artileri 105 mm KH178
  6.   18 Meriam Artileri 155 mm KH179
  7. 300 Panser Anoa berbagai versi
  8.   22 Panser Tarantulla
  9.   24 Helikopter tempur Bell 412 Ep
  10.     8 Helikopter serbu Mi35
  11.   12 Helikopter angkut Mi17
  12.   12 Helikopter tempur AS550 Fennec
  13.     8 Helikopter serang Apache AH 64E
  14. 600 Peluru kendali anti tank ATGM Nlaw
  15. 180 Peluru kendali anti tank ATGM Javelin
  16. 136 Peluru kendali Mistral
  17. 112 Peluru kendali Starstreak
  18.   60 Arhanud dan Rudal TD2000B
  19.   60 Arhanud dan Rudal Grom

 

Perkuatan Pangkalan Militer

  1. Pangkalan TNI AU Tarakan
  2. Pangkalan TNI AU Natuna
  3. Pangkalan TNI AU Pekanbaru
  4. Pangkalan TNI AU Pontianak
  5. Pangkalan TNI AU Biak
  6. 3 Lanud perintis di perbatasan Kalimantan utk Hercules
  1. Pangkalan TNI AL Palu
  2. Pangkalan TNI AL Tarakan
  3. Pangkalan TNI AL Sorong
  4. Pangkalan TNI AL Merauke
  5. Pangkalan TNI AL Kupang
  6. Pangkalan TNI AL Natuna
  1. Pembentukan Skuadron Helikopter Waytuba Lampung
  2. Pembentukan Skuadron Helikopter Tanjungredeb
  3. Pembentukan Skuadron Helikopter Natuna
  4. Pembentukan Skuadron F16 Pekanbaru
  5. Pembentukan Skuadron Hercules Makassar
  6. Pembentukan 6 batalyon infanteri mekani
  7. Pembentukan 12 batalyon raiders
  8. Penambahan 5 batalyon TNI AD di Kalimantan
  9. Penambahan 3 batalyon TNI AD di Papua
  10. Penambahan 1 batalyon TNI AD di Natuna

Sumber : Analisis

Read more: http://indo-defense.blogspot.com/2014/09/analisis-karya-monumental-itu.html#ixzz3CzCfw2vG

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers