Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

December 1, 2015

Presiden Belum Putuskan Beli Heli Impor

Jok oh Jok.. beli heli saja repot.. bagaimana dengan kasus “jual nama presiden ” dan “papa Setya Novanto minta saham”

 

SENIN, 30 NOVEMBER 2015

 Presiden Belum Putuskan Beli Heli Impor

JAKARTA – Pemerintah belum pasti membeli helikopter kepresidenan. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, kepastian pembelian heli VVIP untuk kepresidenan ini masih menunggu kepulangan Presiden Joko Widodo dari Paris, Prancis. “Kepastian pembelian sampai ada keputusan Presiden,” kata Kalla di Jakarta, kemarin.

Polemik pembelian heli kepresidenan muncul setelah TNI Angkatan Udara berencana membeli AgustaWestland AW101 untuk menggantikan heli Super Puma yang sudah berusia di atas 20 tahun. Heli ini dibuat oleh perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia.

Rencana pembelian ini mendapat kritik dari PT Dirgantara Indonesia-salah satu pembuat helikopter Super Puma. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa pembelian itu tidak sesuai dengan Undang-Undang Industri Pertahanan yang mewajibkan keterlibatan industri nasional dalam pengadaan alat pertahanan dan keamanan. Padahal PT Dirgantara Indonesia sudah memproduksi helikopter tipe Super Puma Mark II NAS 332 alias EC225.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar mengatakan akan mengecek dugaan kemahalan harga AgustaWestland AW101 ini. PT Dirgantara Indonesia mengklaim bahwa EC225 lebih murah ketimbang AW101. Satu unit EC225 dibanderol US$ 35 juta, sedangkan AW101 seharga US$ 55 juta atau setara dengan Rp 756 miliar.

“Sebagai Menkopolhukam, saya punya wewenang kendali ke kementerian di bawah saya,” kata Luhut kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Luhut mengaku belum tahu alasan TNI AU lebih tertarik membeli helikopter AW101. “Untuk pesawat VVIP memang ada standarnya,” kata Luhut.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna enggan menanggapi polemik soal harga ini. Menurut dia, perbandingan harga merupakan urusan Kementerian Pertahanan. Angkatan Udara hanya bisa menyerahkan daftar spesifikasi teknis kebutuhan helikopter ke Kementerian. “Yang memenuhi spesifikasi teknis itu AgustaWestland AW101,” kata Agus, Kamis pekan lalu.

Menurut Agus, jika Presiden tak setuju pun, TNI AU tetap akan membeli AgustaWestland AW101. “Jadi, kalau Presiden tak mau pakai, ya tidak apa-apa. Kami tetap akan menggunakan sebagai helikopter VVIP,” kata Agus. REZA ADITYA | INDRA WIJAYA | ARKHELAUS W. | TIKA PRIMANDARI | ISTIQOMATUL HAYATI

December 1, 2015

Len Kirim Radio VHF LenVDR10-MP untuk Seluruh Batalyon TNI

01 Desember 2015

Radio VHF manpack LenVDR10-MP (photo : Len, Dislitbangad)

Antarajabar.com – PT Len Industri (Persero) mengirimkan 734 unit alat komunikasi Radio VHF Manpack tipe LenVDR10-MP berikut perlengkapannya untuk TNI Angkatan Darat yang siap dioperasikan ke semua batalyon di Indonesia dari Aceh hingga Papua.

“Jadi alhamdulillah 734 unit Radio Manpack tipe LenVDR10-MP dan kita akan deliver bertahap. Hari ini sekitar 400 unit dan sisa sekian unit dikirim pada hari Rabu mendatang (2/12), sekaligus mulai pengetesan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose, di Bandung, Senin.

Pihaknya mengaku bangga bisa diberikan kesempatan pertama kalinya oleh TNI AD untuk membuat alat komunikasi radio VHF tersebut karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan alat komunikasi itu, TNI AD masih mengimpor dari Perancis.

Ia menuturkan pengerjaan kontrak pembuatan alat komunikasi Radio VHF LendVRDR10-MP itu membutuhkan waktu yang cukup singkat yakni sekitar tujuh bulan darii Mei hingga November 2015.

“Namun ada sedikit masalah dikontruksinya. Ini waktu yang relatif singkat, tapi alhamdulillah kita bisa komit dan untuk kami diberikan kesempatan sehingga hari ini bisa mengirimkan 734 unit secara bertahap,” kata dia.

Seluruh software, brainware, desain/kontruksi dari alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut dibuat di dalam negeri.

“Memang untuk komponen, ini problem nasional kalau bicara produk elektronik dari luar karena industrinya belum ada di Indonesia. Kurang lebih (50 persen komponen impor) dan nilai kontraknya relatif masih kecil yakni Rp66 miliar,” ujar dia.

Proses produksi radio udah menggunakan mesin Surface Mount Technology atau SMT yakni teknologi terkini yang digunakan untuk memasang komponen elektronik ke permukaan PCB.

Dengan adanya teknologi SMT, peralatan atau gadget elektronik saat ini sudah dapat didesain dengan ukuran yang lebih kecil karena mesin SMT memiliki kemampuan yang dapat memasangkan chip yang berukuran kecil hingga 0,4 mm x 0,2 mm (Chip SMD resistor 0402) dengan kecepatan sangat tinggi.

Selain itu, dalam kontrak juga terdapat ToT (Transfer of Technology) antara PT Len dengan TNI di mana Len akan melakukan transfer teknologi kepada Bengkel Pusat Perhubungan TNI AD, di bawah koordinasi Direktor Perhubungan Darat yakni tempat pemeliharaan semua perangkat komunikasi di TNI AD.

Berkomunikasi Tanpa Terlacak

Lebih Lanjut Abraham Mose mengatakan alkom Radio VHF LenVDR10-MP tersebut memiliki beberapa kelebihan seperti sistem komunikasi digitalnya didesain dan dibuat sendiri algoritmanya oleh Len dan diperkuat dengan sistem kemanan baik dari segi transec (transceiver security) dan comsec (communication security) yang telah dikembangkan sejak lama oleh para teknisi Len.

Ia menambahkan dari segi transec, LenVDR10-MP sudah menerapkan teknologi hopping 100 hop/second, artinya dalam satu detik komunikasi terjadi perubahan frekuensi 100 kali.
“Iya itu (berkomunikasi tanpa terlacak) karena hoppingnya 100 hop per second jadi 100 kali hop dalam satu detik. Sedangkan dari segi comsec LenVDR10-MP ini telah menggunakan enkripsi daya berbasis AES 128,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Direktur Perhubungan TNI AD Kolonel Chb Sonny W Pondaag menambahkan pihaknya menyampaikan rasa terima kasih karena bisa bekerjasama dengan PT Len Industri (Persero) dalam pembuatan alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut.

“Dan alkom radion ini sudah diuji coba di medan hutan karet, dan sudah cukup bagus dan membanggakan dan karena seperti yang dilaporkan tadi hoppingnya 100 hopping per detiknya,” kata Sonny.

(Antara)

November 29, 2015

KSAU: PT DI Bikin Sayap Saja Tidak Bisa!

 
Agak kurang ajar dan melanggar UU. Memang enak beli dari fabrikan luar bisa dapet ” kickback ” ya Marsekal !
(KSAU) Marsekal Agus Supriatna (foto: Okezone)

NasionalJum’at, 27 November 2015 – 22:28 wib

KSAU: PT DI Bikin Sayap Saja Tidak Bisa!

 

Syamsul Anwar Khoemaeni – Okezone A A A

JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna menegaskan pihaknya tetap memilih helikopter AW-101 dalam rangka memberi pelayanan terhadap kepala negara serta tamu negara. Ia menyingkirkan EC-725 bikinan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) lantaran sudah melalui proses kajian.
“Sekarang kan wartawan sudah pintar-pintar, coba saja lihat PT DI itu seperti apa. Jangan semua suruh beli dari PT DI, ini politisasi. Kalau nanti helikopter (EC 275 Coungar) ada apa-apa bagaimana? Siapa yang mau disalahkan?” ujar Agus saat dikonfirmasi awak media, Jumat (27/11/2015).
BERITA REKOMENDASI
Terlalu Prematur Sebut PT DI Tak Bisa Buat Sayap Pesawat
KSAU Dinilai Lecehkan Kemampuan Anak Bangsa
Syarat Pembelian Heli Presiden Asal Italia Harus Ketat

November 28, 2015

Ini Gambaran Rencana Strategis TNI AU 2015-2019

CNN Indonesia 27 November 2015

Pesawat latih tempur T-50i TNI AU (photo : tempo)

Jakarta (ANTARA News) – Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Agus Supriatna, memaparkan secara ringkas Rencana Strategis TNI AU 2015-2019, yang berasal dari kajian internal TNI AU dan disetujui Markas Besar TNI dan Kementerian Pertahanan.

Ada beberapa hal yang menjadi fokus utama Rencana Strategis TNI AU 2015-2019 itu, sebagaimana dia nyatakan di Ruang Tunggu VIP Base Ops Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis petang.

1. Pengganti F-5E/F Tiger II di Skuadron Udara TNI AU 14, yang diproyeksikan pada dua kandidat utama, yaitu Sukhoi Su-35 Super Flanker buatan Rusia, dan F-16 Viper buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat. Yang pertama bermesin dua, dan yang kedua bermesin tunggal.

Disebutkan, akan dibeli enam unit baru yang benar-benar gres alias baru dari pabriknya, dan dalam keadaan lengkap persenjataan dan sistem avionikanya.

Walau tender terbuka tidak pernah dilakukan, namun pabrikan yang turut memaparkan kebolehan dan keunggulan produknya adalah Saab Swedia (JAS39 Gripen), Dassault Rafale (Prancis), Eurofighter Typhoon (konsorsium empat negara Eropa Barat, yaitu Spanyol, Inggris, Jerman, dan Italia).

2. Pemutakhiran armada pesawat angkut berat sekelas C-130 Hercules. Sejauh ini ada dua skuadron udara TNI AU yang mengoperasikan pesawat militer di kelas ini, yaitu Skuadron Udara 31 (Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta), dan Skuadron Udara 32 (Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur).

Disepakati yang akan dihadirkan adalah C-130H Hercules, karena C-130B Hercules (bodi pendek, secara mudah), sudah tidak mumpuni dari sisi performansi, keandalan, dan teknologi.

C-130 Hercules serie dipilih karena tipe ini terbukti andal dan populasinya masih sangat banyak di dunia. Adapun Embraer dari Brazil sempat mencoba peruntungan, sebagaimana A400M dari Airbus Industry.

3. Pemutakhiran pesawat latih jet T-50i dari Korea Aerospace Industry, Korea Selatan. TNI AU sudah punya 16 unit T-50i Golden Eagle ini, sehingga sebagai skuadron udaranya, kekuatannya terbilang lengkap, yang dimasukkan ke dalam Skuadron Udara 15 TNI AU, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Supriatna menjelaskan, yang dilakukan nanti adalah melengkapi T-50i Golden Eagle itu dengan radar dan sistem persenjataannya. Selama ini belum ada, kata dia, T-50i Golden Eagle yang datang pada 2013 itu belum bisa dikategorikan sebagai pesawat tempur taktis.

Pengadaan T-50i Golden Eagle yang bentuknya nyaris persis dengan F-16 Fighting Falcon ini memenuhi skala waktu yang dituntut dalam kontrak pembelian, yaitu tiba perdana pada 2013 dan unit terakhir 2014.

4. Penambahan pesawat latih dasar Grob G-120TP dari Jerman, yang dimasukkan di Skuadron Udara 202, yang adalah skuadron udara pendidikan calon perwira penerbang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Adi Sucipto, Yogyakarta. Grob G-120TP pengganti AS-202 Bravo, yang telah berkiprah sejak dasawarsa ’70-an.

5. Penambahan KT-1B Wong Bee, buatan Korea Aerospace Industry, Korea Selatan. Pesawat terbang mesin turbo piston berbaling-baling ini tergabung ke dalam Skuadron Udara 201, yang juga skuadron pendidikan calon perwira penerbang, dan juga di Yogyakarta.

Pesawat terbang ini juga dijadikan the goodwill ambassador of Indonesian Air Force, ke dalam Tim Aerobatic Jupiter.

6. Helikopter angkut berat dan helikopter kepresidenan/VVIP, yang berbasis Agusta Westland AW-101 Merlin. Diproyeksikan enam unit AW-101 dibeli baru untuk skuadron udara angkut berat dan tiga untuk Skuadron Udara 45 VIP.

Semua tender pengadaan pesawat militer itu tidak diungkapkan kepada publik. (Antara)

Pesawat amfibi Be-200 (photo : fyodor borisov)

TNI Incar Empat Pesawat Pemadam Beriev Be-200 Buatan Rusia

Jakarta, CNN Indonesia — Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia berencana membeli empat unit pesawat amfibi multiperan Beriev Be-200 buatan Beriev, produsen pesawat Rusia dengan spesialisasi pesawat amfibi.

“Pesawat itu (Be-200) bisa untuk pemadam kebakaran dan SAR (search and rescue), surveillance (pemantauan). Pokoknya multifungsi,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna di Jakarta.

Niat TNI membeli Be-200 menguat melihat kebakaran hutan besar yang melanda Sumatra dan Kalimantan belum lama ini. Kebakaran itu berlangsung sekitar enam bulan, menyebabkan bencana kabut asap parah.

“Dalam 15 detik, pesawat Be-200 bisa menyedot 12 ton air,” ujar Agus.

Soal rencana Indonesia membeli pesawat pemadam sebelumnya juga pernah dikemukakan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Akhir Oktober lalu, dua Be-200 didatangkan ke Indonesia untuk membantu memadamkan kebakaran hutan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan.

Be-200 dapat mengangkut air tanpa mendarat, dan bisa menyedot air dari sungai sembari terbang. Kelebihan lainnya, pesawat itu dapat terbang enam sampai tujuh kali dalam sehari.

TNI AU mendapat alokasi anggaran US$3,1 miliar atau sekitar Rp41 triliun untuk modernisasi alat utama sistem senjatanya selama periode 2015-2019.

Dengan anggaran itu, TNI AU melakukan modernisasi alat utama sistem senjata besar-besaran. Selain empat unit pesawat amfibi pemadam, TNI juga akan membeli tiga unit helikopter VVIP, 12 unit jet tempur Sukhoi Su-35, helikopter serbu, dan helikopter antikapal selam.

(CNN Indonesia)

November 24, 2015

Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Ayo manfaatkan dong tawaran ini
SENIN, 23 NOVEMBER 2015

 Tak Hanya Teknologi, Kami Tawarkan Transparansi

Perusahaan pembuat alat pertahanan militer asal Swedia, Svenska Aeroplan Aktiebolag (SAAB), menyatakan sejumlah hal positif terkait dengan alat utama sistem persenjataan yang ditawarkan ke pemerintah Indonesia bakal menjadi pertimbangan. Beberapa hal di antaranya adalah tentang kemajuan teknologi yang ditawarkan serta bagaimana transparansi yang diusung perusahaan tersebut.

Untuk menjelaskan lebih detail, Kepala Perwakilan SAAB di Indonesia Peter Carlqvist menerima Indra Wijaya dan Tri Artining Putri dari Tempo untuk kesempatan wawancara pada akhir Oktober lalu. Pertemuan sekitar 15 menit itu berlangsung di kediaman Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, di Jalan Sriwijaya Raya No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berikut ini petikannya.

Pemerintah kami baru saja memutuskan meningkatkan anggaran pertahanan. Bagaimana Anda melihat peluang ini? Karena pemerintah kita memutuskan membeli pesawat tempur F16 atau Sukhoi.

Peter Carlqvist: Kami memiliki sebuah tawaran yang unik dan kami yakin pemerintah akan menghargai konten dalam sistem pertahanan udara. Bukan hanya jet tempur Gripen dan pesawat Airborne Peringatan Dini, kami memiliki transparansi penuh yang merupakan persyaratan yang kuat oleh pemerintah Swedia dan SAAB.

Sistem ini akan memiliki kerja sama industri yang begitu banyak sehingga kita dapat membuat Indonesia mandiri untuk memproduksi bagian-bagian dan pemeliharaan yang mendukungnya. Saya pikir itu tawaran unik dan tak dipikirkan oleh pesaing lainnya.

Johanna Brismar Skoog: Dan saya ingin garis kerja sama yang jelas antara industri, alih teknologi, dan kolaborasi dengan universitas. Itu adalah konsep yang sangat baik. Dari catatan kami, kami dapat menjamin bahwa SAAB selalu membuktikan janjinya.

Bisa diceritakan pengalaman Anda melakukan kerja sama semacam ini di Brasil, Thailand, atau Afrika Selatan?

Peter Carlqvist: Ada pengalaman yang fantastis, banyak tantangan karena sebagian besar waktu industri pertahanan tidak begitu canggih. Tapi akhirnya bisa maju ketika kita mentransfer teknologi, kita harus bergandengan tangan dengan industri lokal, membangun kemampuan, fasilitas pengujian baru, dan laboratorium baru.

Kita perlu membawa insinyur baru dalam kolaborasi dengan universitas sehingga kita mendapatkan orang yang berkualitas untuk datang untuk belajar ini. Jadi ini adalah paket besar.

Seperti di Brasil, kami membawa 150 insinyur untuk Swedia untuk mempelajari produksi Gripen. Sebanyak 150 orang dengan keluarga yang pindah ke Swedia untuk belajar bagaimana mengembangkan dan memproduksi Gripen.

Kami memanfaatkan rantai pasokan kami dengan membeli yang terbaik dari yang terbaik. Perlu kompetitif, sehingga selama keluar transfer teknologi kami akan menjaga kualitas, kami memiliki pengalaman yang baik dalam melakukan ini dari negara-negara lain.

Bagaimana skema pembayaran pengadaannya?

Peter Carlqvist: Tentang pembayaran akan menjadi salah satu hal yang penting untuk dibahas dengan pemerintah. Tapi sekali lagi, kami memiliki proses yang sepenuhnya transparan ketika datang ke pembayaran, kredit ekspor, dan yang akan didukung oleh pemerintah Swedia.

Johanna Brismar Skoog: Ya, pemerintah Swedia sepenuhnya di balik itu. Misalnya fasilitas kredit ekspor, sesuatu yang dari sisi pemerintah, seperti hal-hal yang bisa dibahas juga suku bunga serta masa tenggang dan sebagainya. Hal-hal itu akan menjadi hasil dari negosiasi. Tentu saja sekali lagi itu semua akan menjadi proses yang transparan.

November 17, 2015

Pasukan Taipur 6 Kostrad Terbentuk

Langsung test untuk menghadapi kelompok ISIS Santoso pak !
16 November 2015

Peleton Taipur ke-1 pada Tahun 2001, saat ini sudah ada 6 peleton Taipur (photo : Kostrad)

Pengintai Tempur TNI Punya Kemampuan Operasi di Segala Medan

Jakarta, CNN Indonesia — Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Edy Rahmayadi menyatakan pembentukan satuan Pengintai Tempur (Taipur) TNI bertujuan melatih dan membentuk prajurit satuan jajaran Kostrad menjadi prajurit Taipur yang memiliki kemampuan khusus dalam melaksanakan tugas operasi.

“Tugas operasinya di berbagai bentuk medan baik di rawa, laut, hutan, gunung, dan perkotaan,” kata Edy dalam keterangannya yang diterima CNN, Sabtu (14/11).

Edy mengatakan prajurit Taipur Kostrad harus mempunyai kemampuan khusus dalam melaksanakan tugas operasi lawan gerilya, pertempuran pemukiman dan perkotaan, pertempuran jarak dekat, tugas intelijen Sandhi Yudha serta intelijen tempur aspek laut.

Satuan Taipur, ujar Edy, selain memiliki kemampuan tempur khusus juga dilengkapi dengan peralatan tempur khusus, seperti alat selam tempur close circuit, kendaraan bawah air, dan berbagai jenis senjata canggih lainnya.

Pada upacara penutupan Latihan Pembentukan Taipur VI Kostrad 2015, di Lapangan Subdenharlat Kostrad Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (13/11), Edy menyematkan Brevet Kehormatan Taipur kepada sejumlah petinggi di TNI AD.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu adalah penggagas sekaligus pendiri satuan Taipur pada  2001, pada saat menjabat sebagai Panglima Kostrad. Saat itu Ryamizard ingin agar Kostrad memiliki satuan khusus dengan kualifikasi khusus yang mampu melaksanakan operasi pengintaian dan eksekusi langsung di sasaran.

Saat ini Kostrad telah memiliki satuan tempur yang berkualifikasi khusus, yaitu Satuan Para Raider, Satuan Raider, dan satuan Taipur. Pembentukan Taipur ke-6 Tahun 2015 ini berjalan selama enam bulan. Sebelumnya telah diawali dengan pembentukan Taipur ke-1 pada 2001, pembentukan Taipur ke-2 pada 2002, Taipur ke-3 tahun 2003, Taipur ke-4 tahun 2004, Taipur ke-5 tahun 2009, dan Taipur ke-6 tahun 2015 ini.

(CNN)

November 16, 2015

Pabrikan AS Berharap RI Beli Helikopter

Kompas 14 November 2015

Helikopter Sikorsky Blackhawk (photo : Defense Update)

SINGAPURA, KOMPAS — Pabrikan pembuat helikopter asal Amerika Serikat, Sikorsky, berharap Pemerintah Indonesia melanjutkan rencana pembelian helikopter UH-60 Black Hawk buatannya. Rencana pembelian helikopter utilitas militer legendaris ini pernah digagas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pada 2013.

Menurut Christophe A Nurit, Wakil Presiden Penjualan dan Pemasaran Sikorsky Asia Pasifik, belum ada lanjutan tentang rencana tersebut. Yang ia ketahui, Indonesia sempat menunda rencana pembelian tersebut karena ada kendala anggaran.

“Saya mendengar telah ada pembicaraan antarpemerintah (Indonesia dan AS). Namun, kami belum mendapat kabar terbarunya hingga saat ini,” kata Nurit kepada wartawan di Singapura, Kamis (12/11), yang dihadiri wartawan Kompas, Dahono Fitrianto.

Dalam catatan Kompas, rencana pembelian helikopter Black Hawk ketika itu dilontarkan oleh Kepala Staf TNI AD Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Banda Aceh, Aceh, pada 11 Februari 2013. Saat itu, Pramono Edhie Wibowo mengatakan, TNI AD ingin membeli 20 unit Black Hawk di samping 24 helikopter Bell 412.

Menurut Nurit, helikopter Black Hawk sangat sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Selain bisa digunakan untuk mengangkut pasukan, helikopter tersebut juga terbukti sangat berguna untuk dalam operasi kemanusiaan.

“Selain itu, Indonesia akan memiliki peluang untuk berlatih bersama negara-negara lain yang sudah banyak mengoperasikan Black Hawk,” tutur Nurit.

Ia mengatakan, ada potensi besar untuk kerja sama antara Sikorsky dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung, Jawa Barat. “Saya sudah berkunjung ke sana dan saya lihat sumber dayanya bagus. Ada potensi sangat besar,” ujarnya.

Jika rencana pembelian ini jadi diwujudkan, helikopter Black Hawk akan melengkapi armada helikopter TNI AD yang sudah dioperasikan. Sebelumnya, TNI AD juga telah membeli sejumlah helikopter serbu AH-64E Apache buatan Boeing dari AS. Di kategori helikopter utilitas, TNI juga sudah mengoperasikan Bell 412 buatan AS serta dan Mi-17 dan Mi-35 buatan Rusia.

Helikopter Black Hawk selama ini menjadi tulang punggung angkatan bersenjata AS untuk fungsi utilitas medium dalam berbagai misi, seperti mengangkut pasukan, persenjataan, logistik, dan evakuasi medis.

Menurut Shane G Eddy, Presiden Commercial System and Services Sikorsky, pihaknya telah memproduksi sedikitnya 4.000 helikopter Black Hawk dari berbagai varian untuk tiga matra angkatan bersenjata AS.

Peremajaan

Di Jakarta, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal M Sabrar Fadhilah mengatakan, peremajaan helikopter memang sedang dilakukan. “Tetapi, kalau jenis Black Hawk buatan Sikorsky, kami belum mendengar kabar pastinya,” ujarnya.

Sabrar menambahkan, helikopter baru untuk TNI AD yang didatangkan tahun depan adalah helikopter serbu AH-64 Apache.

Adapun Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, yang dihubungi terpisah, mengatakan, peremajaan helikopter kepresidenan di Skuadron 17 VVIP sedang diajukan. “Ada usulan pengadaan dua unit helikopter AW-101 Agusta untuk pengganti helikopter Super Puma. Kalau jadi, itu diadakan tahun depan,” kata Dwi.

(Kompas)

November 12, 2015

Indonesia May Order F-16s, Lockheed Martin Says

12 November 2015

F-16V for Indonesian Air Force (image : Lockheed Martin)

BEIJING – A possible contract from Indonesia may extend F-16 manufacturing into 2018, says Lockheed Martin, as the company works on filling an Iraqi order that may be the last for the biggest-selling fighter in current production.

Although Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu said in September that the country had chosen the Sukhoi Su-35 for its next fighter order, the deal has not been signed. The F-16 remains a contender, according to Randall Howard, Lockheed Martin’s business development director for the type.

Indonesia is considering the fighter in its F-16V version, which includes the Northrop Grumman APG-83 radar, a sensor with an active, electronically scanning array.

November 4, 2015

Boeing Tawarkan Pesawat Pengintai Maritim

04 November 2015

Pesawat intai maritim Boeing MSA (photo : Antara)

Boeing Tawarkan Pesawat Pengintai Maritim, Rizal Ramli Minta Diskon

Jakarta -Produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, menawarkan pesawat pengintai untuk keperluan kemaritiman kepada pemerintah Indonesia. Pesawat yang ditawarkan adalah Boeing jenis Maritime Surveillance Aircraft N614BA.

Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berkesempatan mencoba pesawat canggih tersebut pagi ini. Kedua menteri tersebut take off pukul 09.00 WIB, sempat terbang selama 1,5 jam.

Setelah mendarat, Rizal menyatakan bahwa Indonesia memang membutuhkan pesawat pengintai semacam ini untuk menjaga sumber daya kelautan. Saat ini TNI Angkatan Udara (AU) memang sudah memiliki pesawat sejenis, tapi usianya sudah tua dan teknologinya tertinggal.

‎”Tadi saya bicara dengan salah satu perwira tinggi TNI AU, kita punya tapi sudah tua, sistem monitoringnya sudah tertinggal. Jadi kita perlu beli ini,” kata Rizal saat ditemui di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Boeing MSA di bandara Halim Perdanakusumah (photo : TribunNews)

Rizal meminta Boeing memberikan diskon khusus pada pemerintah Indonesia untuk pembelian pesawat ini. Jika tidak ada diskon yang memuaskan, Rizal menyatakan Indonesia tidak akan membeli dari Boeing.

“Memang diperlukan tapi tergantung deal. Kalau diskonnya nggak jelas kita nggak beli,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembelian pesawat pengintai untuk kemaritiman akan‎ digunakan bersama-sama oleh berbagai kementerian dan lembaga pemerintahan supaya tidak boros anggaran.

“Penggunaan kalau bisa dikoordinasikan, jangan tiap lembaga beli. Kalau bisa beli 1 tapi data dishare. Harus ada sharing penggunaan dan data supaya kedaulatan laut udara bisa ditegakkan,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Susi menyatakan bahwa Indonesia belum berencana membeli pesawat pengintai untuk kemaritiman di 2016. Pembelian pun masih akan dikaji, bisa saja dari produsen pesawat selain Boeing. ‎

“Kita belum ada rencana untuk 2016. Pesawatnya bisa apa saja, bisa CN, bisa Bombardier. Tergantung kebutuhan, tentu yang biaya operasional lebih murah, dan sebagainya,” tutupnya.

(Detik)

November 2, 2015

DPR Dukung Pangkalan Militer di Biak Diperbesar

DPR Dukung Pangkalan Militer di Biak Diperbesar

Dari defense studies , 31 Oktober 2015

Biak, Papua (image : GoogleMaps)

Liputan6.com, Biak – Keberadaan pangkalan militer Indonesia di Kabupaten Biak, Papua perlu ditingkatkan dan diperbesar. Keberadaan pangkalan militer tersebut dapat mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan di kawasan Indonesia Timur.

“Saya mendukung militer Indonesia membangun pangkalan yang lebih besar untuk menjaga wilayah NKRI. Kalau kita bisa melihat potensi Asia Pasifik ini lebih baik, maka kita akan memobilisir persenjataan kita di sini, maka wibawa Pasifik bisa didapatkan,” kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam kunjungan kerja di Biak Numfor, Papua, Sabtu (31/10/2015).

Pembangunan pangkalan militer yang lebih besar tentunya juga untuk mengingatkan Amerika Serikat dan sekutunya. “Pasti itu (untuk mengingatkan). Amerika Serikat akan tahu diri siapa yang akan bermain dan dominan di kawasan kita,” kata dia.

Ia menyebutkan, negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik sepert Fiji, Solomon, Vanuatu mungkin sudah memiliki hubungan dengan AS.

“Tapi dengan membangun pangkalan militer di Biak, maka kita memberikan sinyal kepada mereka dan juga pebisnis bahwa Indonesia Timur aman untuk berinvestasi,” kata politisi PKS itu.

Selain itu, ia juga mengusulkan kepada TNI untuk menggelar latihan militer di Biak meskipun secara akomodasi akan sulit.

“Saya mengusulkan misalnya latihan militer. Kalau kita tarik latihan militer ke timur, itu kan lebih positif. Memang kita punya kawasan vital seperti Jakarta yang ada di Pulau Jawa, tapi kalau kita bicara latihan, kita tidak bisa latihan di wilayah barat, tapi daerah yang tidak banyak penduduk dan lahannya luas. saya juga usulkan kepada HUT TNI di Biak, Papua,” kata Fahri.

(Liputan6)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 97 other followers