Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

September 24, 2015

Senapan SS2, Bedil Pindad Menembus Pasar Dunia

SELASA, 22 SEPTEMBER 2015 | 09:17 WIB

FEATURE: Senapan SS2, Bedil Pindad Menembus Pasar Dunia

Senjata serbu buatan PT Pindad dipamerkan dalam pembukaan Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) ke-4 di JCC Senayan, Jakarta (18/3). Forum kerja sama pertahanan yang dihadiri 50 delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, China, India, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara lain dari Eropa dan Afrika. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta – Lawatan Presiden Joko Widodo ke Timur Tengah membawa “berkah” bagiPT Pindad. Produsen senjata dalam negeri itu langsung meneken kontrak bisnis dengan Continental Aviation Services (CAS), perusahaan senjata Uni Emirat Arab, setibanya rombongan Jokowi di Abu Dhabi pada Ahad dua pekan lalu. “Saat perjanjian diteken, Presiden Joko Widodo ikut menyaksikan,” kata Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim, Minggu, 20 September 2015.

Silmy memang sengaja diajak Jokowi ikut dalam rombongan. Ia sendiri yang membubuhkan tanda tangan dalam perjanjian bisnis itu. Pindad resmi menjual lisensi pembuatan senapan serbu SS2 dan amunisi kepada CAS. Walhasil, kelak CAS akan memproduksi SS2 dan menjual senapan tersebut berikut amunisinya ke negara-negara Timur Tengah.

Baca juga:
Habis Disebut Tolol oleh Menteri, Gayus Dikepung 40 CCTV dan…
Terbongkar Rahasia Mengapa Messi Sering Gagal Eksekusi Penalti

Senapan SS2 adalah salah satu produk andalan Pindad. Berkat bedil itulah TNI Angkatan Darat menjuarai lomba tembak antar-angkatan darat se-Asia Tenggara pada Desember 2014. TNI AD pun menjadi jawara pertama sebanyak delapan kali berturut-turut mengungguli Amerika Serikat dan Inggris dalam lomba serupa di Australia pada Mei lalu, berbekal senjata yang sama.

Menurut Silmy, pasar Timur Tengah memang menggiurkan. Permintaan senapan dan produk militer lainnya dari negara-negara di kawasan tersebut sangat besar. Sebab itu, Silmy yakin produk Pindad mampu bersaing dengan pabrikan senapan lain yang sudah mapan, seperti Heckler & Koch, Baretta, dan Glock. “Kualitas Pindad tidak kalah. Harga SS2 pun lebih kompetitif,” tuturnya.

Sesuai dengan kontrak yang diparaf, Pindad akan memberikan teknologi pembuatan SS2 kepada CAS. Dalam waktu dekat, Silmy akan mengutus teknisi terbaik Pindad ke Uni Emirat Arab. Rencananya, teknisi Pindad bakal melatih pegawai CAS membuat SS2, dari desain, memilih bahan baku, hingga merakit. “Bahkan Pindad yang akan mendesain pabrik SS2 di CAS. Semuanya harus sesuai standar Pindad,” kata Silmy.

Sebagai imbalannya, Pindad menangguk bayaran lisensi dari CAS. Selain itu, pabrik senjata yang bermarkas di Bandung tersebut akan memperoleh royalti dari setiap pucuk SS2 yang diproduksi Uni Emirat Arab. Menurut Silmy, skema tersebut lebih menguntungkan ketimbang Pindad membuka pabrik sendiri di Timur Tengah.

Soal kerahasiaan desain SS2, Silmy tak cemas. Seluruh desain SS2 sudah dipatenkan. Jika ada pihak yang membuat senapan serupa dengan SS2, Pindad bisa menuntut si pembajak. Pada Mei lalu, saat lomba tembak antar-angkatan darat di Australia, kerahasiaan SS2 hampir terungkap. Australia, Amerika Serikat, dan Inggris memprotes kemenangan telak TNI AD. Mereka mendesak SS2 dibongkar untuk melihat ada-tidaknya kecurangan. Tentu saja tim TNI AD menolak.

SIMAK
Gayus Bisa Nongkrong di Resto, Menteri Yasonna: Pasti Ada…
Soal Pemeriksaan Ibas, Johan Budi: KPK Tak Takut SBY

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Ahmad Hanafi Rais mendukung upaya Pindad berekspansi luar negeri. Hanafi meminta Pindad menjaga betul hak cipta SS2. Politikus Partai Amanat Nasional itu tak mau karya terbaik Pindad tersebut malah dibajak pihak asing. “Kualitas produksi harus dijaga, jangan sampai jual produk jelek,” katanya.

Pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi, mengingatkan Silmy cs untuk memagari kerja sama dengan CAS. Tujuannya, agar CAS tidak keluar dari kontrak setelah mereka memperoleh ilmu pembuatan SS2. Muradi juga mengatakan Pindad mesti meminta CAS mematok target penjualan. “Agar Pindad tetap memperoleh keuntungan,” ujarnya.

Pindad tak berhenti merentangkan sayap. Setelah mengantongi kontrak dari CAS, Pindad menggandeng raksasa produsen alat militer dari Inggris, BAE Systems. Pada Kamis pekan lalu, Pindad meneken kerja sama untuk membangun divisi keamanan cyber. Pindad juga mengincar pembuatan tank amfibi dan tank kelas ringan BAE Systems. “Kami berharap mereka menjadi mitra strategis Pindad,” kata Silmy.

INDRA WIJAYA

September 18, 2015

Mantan KSAL Minta Pembelian Kapal Selam Rusia Dikaji Ulang

jadi beli yang mana pak ?? Jamannya ente malah kagak ada 1 kapal selam yang beroperasi..

18 September 2015

Untuk kapal selam kelas medium (3.000 – 4.000 ton) selain Project 636 Improved Kilo (Rusia) masih terdapat kapal selam DCNS Barracuda (Prancis), Mitsubishi-Kawasaki Soryu (Japan), TKMS Type 218 (Germany), Wuchang Yuan class (China), DSME Jiangbogo III (Korea) (photo : engineering russia)

Jakarta, CNN Indonesia — Mantan Kepala Staf Angkatan Laut Bernard Kent Sondakh meminta pemerintah mengkaji ulang rencana pembelian kapal selam jenis Kilo Class dari Rusia. Menurutnya dua hal yang wajib dipertimbangkan sebelum mendatangkan kapal itu adalah ketersediaan suku cadang dan efek gentar kapal tersebut pada negara lain.

Bernard mengatakan, TNI sebelumnya pernah membeli 12 kapal selam dari Rusia saat negara tersebut masih bernama Uni Soviet. Namun 12 kapal selam itu hanya mampu beroperasi secara maksimal dalam tujuh tahun.

Ketika akhir tahun 1991 Uni Soviet bubar, masa depan kapal selam-kapal selam itu pun menjadi tidak jelas. Alasannya, pelbagai suku cadang untuk satu unit kapal selam dibuat oleh banyak negara pecahan Uni Soviet.

“Kilo class 877 itu umurnya udah 30 tahun lebih dan dibuat Uni Soviet, bukan Rusia. Artinya, zaman itu mesinnya mungkin dibikin Ukraina,” kata Bernard di Jakarta, Kamis (17/9).

Jika mesin kemungkinan dibuat oleh Ukraina, komponen lain kapal selam itu bisa jadi dibuat negara lain pecahan Soviet. Karena itu menurutnya perlu dipertanyakan lagi soal suku cadangnya Kilo Class.

Kapal selam Kilo Class terdiri dari dua tipe, 877 dan 636. Tipe 636 merupakan keluaran paling baru dan dioperasionalkan empat negara saja, yaitu Rusia, China, Vietnam dan Aljazair.

Bernard mencatat satu peristiwa tragis yang menimpa Angkatan Laut India saat mengoperasionalkan Kilo Class 877. Pada tahun 14 Agustus 2013, kapal jenis itu meledak di Pelabuhan Mumbai, India. Ledakan tersebut menewaskan 15 pelaut dan tiga pegawai Angkatan Laut India.

“Jadi, apakah kami akan beli baru atau kapal lama. Kapal selam, sekali terjadi kesalahan, akan membuat orang tua atau anak isterinya kehilangan. Sudah ada berapa kasus kapal selam yang menyelam dan tidak timbul lagi,” ujar Bernard.

Di sisi lain, Bernard melihat pengadaan kapal selam Kilo Class hanya akan memunculkan efek deteren yang semu. Alasannya, pengadaan alat utama sistem persenjataan tersebut sangat bergantung pada negara lain. Sewaktu-waktu negara pemasok dapat menghentikan produksi kapal selam itu maupun mengembargo penjualan alat tempur ke Indonesia.

“Renstra (rencana strategis) itu sebaiknya dipertimbangkan lagi kalau ingin nilai deteren yang tinggi. Kapal selam Rusia itu semu karena beli dari luar negeri,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Zainuddin, mengatakan pengadaan kapal selam dalam waktu dekat adalah kapal selam Chang Bogo buatan Korea Selatan.

Tiga kapal selam asal Korea Selatan yang memiliki dua peluncur rudal yang dapat menembak ke luar perairan itu rencananya akan tiba di Indonesia tahun 2017 mendatang.

“Pada renstra MEF (Mininum Essential Force) TNI AL, konsep awalnya adalah membeli kapal selam tipe Chang Bogo. Itu sudah tahap awal, sudah ada kontrak. Karena pembuatan pembangunan kapal selam itu butuh tiga tahun, diharapkan tahun 2017 sudah berada di Indonesia,” ungkapnya kepada wartawan pagi tadi.

Zainuddin berkata, institusinya memang tidak menutup kemungkinan membeli Kilo Class dari Rusia. “Rencana ke depan, kami mungkin mewadahi pengadaan Kilo Class secara bertahap,” tuturnya.

(CNN Indonesia)

September 17, 2015

Peringkat Ke-12 Dunia, TNI Tidak Boleh Terlena

Kompas| 17 September 2015 Ikon jumlah hit 42 dibaca   Ikon komentar 0 komentar

JAKARTA, KOMPAS — Posisi TNI di
peringkat ke-12 kekuatan militer dunia sebaiknya tidak membuat pemerintah dan TNI terlena. Evaluasi tetap diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah krusial kebutuhan militer dalam negeri demi memenuhi standar kekuatan pokok minimum TNI.

Lembaga analisis militer Global Fire Power (GFP) dalam survei tahun 2015 menempatkan TNI dalam peringkat ke-12 kekuatan militer dunia. Posisi itu setingkat di bawah Israel (peringkat ke-11), tetapi satu tingkat di atas Australia (13). Peringkat pertama ditempati Amerika Serikat, kemudian berturut-turut Rusia (2), Tiongkok (3), India (4), Inggris (5), Perancis (6), Korea Selatan (7), Jerman (8), Jepang (9), dan Turki (10). Militer Kanada, Taiwan, Italia, Pakistan, Mesir, Polandia, dan Thailand di bawah Indonesia, masing-masing menempati peringkat ke-14 sampai ke-20.

GFP menyatakan, kemampuan produksi alutsista dalam negeri menjadi salah satu faktor penentu penghitungan peringkat tersebut. Kemampuan nuklir dan jumlah kuantitas alutsista tidak menjadi variabel penghitungan.

“Pencapaian itu patut dibanggakan, tetapi jangan lupa, kita masih punya sejumlah masalah yang menghalangi kita memenuhi standar minimal kekuatan militer. Sebagai contoh, dengan anggaran yang selalu terbatas, kita tidak bisa memenuhi standar alat utama sistem persenjataan (alutsista) kita,” kata anggota Komisi I DPR, Syaifullah Tamliha, di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (16/9).

Keterbatasan anggaran itu masih saja terasa dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016. Anggaran untuk Kementerian Pertahanan, termasuk TNI, turun dari Rp 105 triliun dalam APBN 2015 menjadi Rp 95 triliun dalam RUU APBN 2016. Padahal, beberapa bulan terakhir telah terjadi sejumlah insiden yang menunjukkan buruknya kondisi alutsista militer dalam negeri.

Tamliha mengakui, salah satu kelebihan militer Indonesia yang dilirik mungkin mencakup kemampuan TNI menjaga stabilitas keamanan dalam negeri.

Akhir Agustus lalu di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan, Indonesia memprioritaskan penggunaan produk senjata dan suku cadang dalam negeri.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah melanjutkan pemekaran Komando Armada RI TNI AL yang membawahkan Armada Barat, Armada Tengah, dan Armada Timur. Selain itu, dibangun juga sarana pendukung, seperti Pangkalan Kapal Selam, pemekaran Pasukan Marinir menjadi Pasukan Marinir 3 di Sorong, dan beragam pengembangan lain.

Menko Polhukam, dalam pembukaan International Maritime Security Simposium (IMSS) di Jakarta yang mengundang AL dari 42 negara, mengatakan, kondisi persaingan politik di Laut Tiongkok Selatan harus diantisipasi. Dia pun menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk memperkuat TNI AL.

September 16, 2015

Industri Pertahanan Swasta : Menawarkan Kemandirian Teknologi

 Lanjutkan !
16 September 2015

Awak PT Technology and Engineering Simulation (TES) melakukan simulasi terbang menggunakan simulator pesawat tempur F-16 di bandung, Jawa Barat, awal September 2015. PT TES menjadi salah satu perusahaan swasta di bidang pertahanan yang memproduksi simulator dan produknya telah digunakan di dalam dan luar negeri (photo : Kompas)

Di dalam kokpit pesawat tempur bertuliskan F-16, mata minus Ricky Wiradisurya (40) tajam menghadap angkasa di atas kota tanpa nama, awal September 2015. Kedua tangannya sibuk mengendalikan alat kontrol pesawat. “Kontrol pesawat ini sangat responsif. Cara mengemudikannya harus cermat apabila ingin memaksimalkan kekuatan pesawat ini,” katanya.

Ricky bukan pilot pesawat tempur sebenarnya. Bagian pesawat F-16 yang dikemudikannya hanya setengah moncong dan ruang kemudi. Pemandangan kota juga adalah rupa digital yang terpampang dalam layar lebar cembung.

“Ini simulator pesawat tempur F-16. Karena dibuat mirip aslinya, secara teknis saya mungkin bisa mengemudikan pesawat sebenarnya. Namun, tentu tidak diizinkan karena tidak punya lisensi dan jam terbang khusus,” katanya.

Simulator F-16 adalah satu dari beberapa simulator alat tempur yang dibuat PT Technology and Engineering Simulation (PT TES) Bandung, Jawa Barat. Ricky adalah satu dari beberapa tim pembuat simulator F-16 dari perusahaan industri pertahanan di Lembang ini.

Simulator multi ranpur (photo : Detik)

“Simulator F-16 ini sedang dalam tahap pengujian sebelum nantinya akan diserahkan kepada TNI Angkatan Udara. Kami juga tengah mendalami penjajakan konten lokal untuk Sukhoi,” ujar Direktur PT TES Deny Isnanto.

Deny yakin simulator buatan anak negeri memiliki masa depan cerah. Negara pengguna bisa menghemat biaya pengadaan alat tempur, menjamin keamanan personel tempur saat melatih, hingga mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain. “Negara yang kuat di sektor pertahanan tempurnya jarang menggunakan alat tempur sebenarnya untuk latihan. Simulator jadi solusi menyiapkan diri lebih tangguh,” katanya.

PT TES didirikan tahun 2004 oleh beberapa mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI), jejak PT TES lebih dulu dikenal di Malaysia. Saat banyak kalangan dalam negeri belum percaya, Pemerintah Malaysia menyediakan dana riset meningkatkan kualitas simulator pesawat tempur Hawk tahun 2006 dan diikuti simulator tank ACV300.

“Malaysia mengenal keunggulan produk Indonesia lewat simulator CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 2004,” kata Deny yang pernah menjabat Manager Simulation Technology PT DI.

Simulator Bell 412 TNI AD (photo : pusdikpenerbad)

Kepercayaan itu memicu TNI menggunakan teknologi yang sama beberapa tahun kemudian. PT TES diminta membuat simulator bagi Hawk, simulator helikopter Super Puma NAS 332, serta helikopter Bell 412. Selain itu ada juga simulator multikendaraan tempur (multiranpur) untuk tank FV101 Scorpion dan AMX 13. “Keberadaan simulator multiranpur ini lebih hemat biaya. Satu simulator bisa digunakan untuk dua kendaraan tempur,” katanya.

Deny yakin kualitas teknologi simulator buatan Bandung ini tak kalah dari produsen Kanada, Inggris, Perancis, dan Rusia. Satu-satunya perbedaan hanya dalam besaran omzet perusahaan. “Kami siap bersaing. Dengan kualitas seimbang, harganya 25 persen lebih murah,” katanya.

Menurut Deny, produk yang dibuat tidak semata-mata bicara seputar keuntungan finansial. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan apabila mendukung produksi dalam negeri.
Dia mencontohkan kemampuan anak-anak muda Indonesia yang bekerja di PT TES. Saat ini, sebanyak 50 orang dari 70 karyawan berusia di bawah 40 tahun. Ketimbang menerima tawaran dari luar negeri, anak muda itu memilih berkarya di Tanah Air sendiri.

Mandiri

Octorotor Surveillance System buatan PT Uavindo (photo : Uavindo)

Semangat yang sama ditunjukkan Robert Bessie (35) dan Ricardo Pandiangan (27) saat menguji kemampuan pesawat terbang nirawak (UAV) baling-baling yang dibuat PT. UAVINDO, perusahaan swasta bidang pertahanan di Bandung, tempat keduanya bekerja.

Empat baling-balingnya diperiksa satu per satu. Perangkat lunak hingga sambungan antarkabel yang dipasang melilit tubuh UAV yang masuk kategori berteknologi menengah hingga tinggi itu. Dengan kecepatan 15 meter per detik, banyak hal bisa dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan hingga pemantauan beragam kondisi dari udara.

Direktur Uavindo Djoko Sardjadi mengatakan, UAV baling-baling adalah satu dari beberapa UAV yang dibuat Uavindo. Mirip dengan PT TES, produk Uavindo lebih dikenal di luar negeri. Di Jepang, Uavindo ikut membantu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Universitas Chiba di Jepang membangun pesawat tanpa awak JX-1. Pesawat ini ikut membantu JMRSL melakukan penginderaan jarak berbasis gelombang mikro.

JX-1 UAV JMRSL (photo : Liputan6)

“Alat ini juga bisa dikembangkan untuk pemetaan di Indonesia, mulai dari potensi sumber daya alam, kewilayahan, hingga pemetaan areal rawan kebakaran hutan,” katanya.

Di Universitas King Fahd, Arab Saudi, karya Uavindo berupa terowongan angin (wind tunnel) untuk pengujian aerodinamika juga digunakan. Kini, Uavindo diajak memperbarui terowongan udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Terowongan ini diproyeksikan menguji pesawat buatan PT DI, N-219.

Produk buatan anak negeri itu juga bisa menghemat pengeluaran negara. Ronald Bessie, Direktur Operasional Uavindo, mengatakan, pihaknya sudah dibuktikan lewat mobil Mata Garuda yang kini dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.Mata Garuda dijejali teknologi mutakhir, mulai dari sensor topografi dan inersial hingga kamera resolusi tinggi. “Teknologi ini akurat menentukan titik mana yang rusak dan perbaikan apa yang harus dilakukan. Cara ini jelas menghemat anggaran perbaikan jalan,” ujarnya.

MTD-25 target drone (photo : Uavindo)

Seperti belum cukup, sektor pengembangan minat pendidikan dunia penerbangan yang terinspirasi dari teknologi pertahanan juga bisa coba direbut lewat penerapan simulator terjun bebas (skydiving tunnel).

Teknologi itu sudah diterapkan di Australia dan Singapura. Di balik penyediaan wahana itu untuk rekreasi, kemungkinan besar ada misi besar yang ingin dicapai, memupuk kecintaan pada pengembangan teknologi penerbangan ke depan. “Kami sudah memulainya dengan membuat teknologi simulator terjun bebas untuk Komando Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung Barat,” katanya.

Indonesia punya anak-anak bangsa yang piawai menguasainya. Giliran pemerintah yang menentukan pilihan, berdiri bersama mereka atau bergantung kepada bangsa lain.

(Kompas)

September 16, 2015

Perkuat Armada, TNI AL Sudah Pesan 11 Heli dan 6 Kapal Selam

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia
Rabu, 16/09/2015 15:55 WIB
Perkuat Armada, TNI AL Sudah Pesan 11 Heli dan 6 Kapal SelamHelikopter TNI. (ANTARA/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia — TNI Angkatan Laut memperkuat armadanya secara bertahap. Selain membeli 11 helikopter jenis Panther untuk menghidupkan kembali Skuadron 100 pemburu kapal selam, mereka juga memesan enam kapal selam.

“Helikopter datang bertahap. Pada 2017 akan tiba empat unit dulu,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama M. Zainuddin kepada CNN Indonesia di sela The Indonesian Navy 2nd International Maritime Security Symposium di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (16/9).

Helikopter-helikopter tersebut nantinya akan menjadi bagian dari Skuadron 100. Kontrak pembelian kesebelas helikopter itu telah disepakati.

Saat seluruh helikopter telah tiba, maka Skuadron 100 akan diaktifkan. Skuadron tersebut dulu pernah eksis, namun terpaksa ‘tenggelam’ bersama peralatan yang menua.

“Saat itu kondisi alutsista (alat utama sistem pertahanan) sudah tua. Jadi memang perlu peremajaan dan sekaranglah saatnya,” ujar Zainuddin.

Inti Skuadron 100 ada pada helikopter antikapal selam. Di era keemasannya, skuadron itu menjadi pusat kekuatan TNI AL dalam menggelar berbagai operasi di laut. Konon Skuadron 100 amat disegani negara-negara maju.

Namun masa jaya itu harus berakhir dan Skuadron 100 terpaksa dilebur dengan skuadron lain karena minimnya alat operasional mereka.

Pada 2017 nanti, helikoter-helikopter antikapal selam itu akan berperan sebagai kepanjangan tangan kapal perang RI dalam operasi laut, yakni menjalankan fungsi target reporting unit. Artinya, helikopter-helikopter tersebut bakal menggali informasi mengenai target sasaran rudal yang dilepaskan kapal perang RI.

Kapal selam bermisil

Selain helikopter antikapal selam, enam kapal selam telah dipesan TNI AL untuk memperkuat pengamanan bawah laut. Dari keenam kapal selam itu, tiga berjenis Chang Bogo-class dan tiga lagi berjenis Kilo-class.

Untuk jenis Kilo-Class, kapal selam ini bisa menembakkan misil dari dalam air ke luar perairan. Misil berjumlah tiga dalam sekali tembak. Namun belum bisa dipastikan kapan kapal selam Kilo-class itu akan tiba di tanah air.

Sementara untuk tiga kapal selam Chang Bogo-class buatan Korea Selatan, kemungkinan akan tiba berbarengan dengan helikopter Panther pada 2017. Jenis kapal selam ini memiliki dua peluncur rudal yang juga bisa menembak ke luar perairan. (agk)

September 14, 2015

TNI Ingin Beli Pesawat Pemadam Kebakaran Hutan

Dari 5 tahun lalu ingin beli.. kok nggak beli juga ?? Ada apa sih ? Sedangkan kebakaran hutan terus terjadi sepanjang tahun !

11 September 2015

Pesawat Beriev Be-200 mampu membawa 12 ton air (photo : 02varvara)

JAKARTA – Kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera membuat prihatin TNI. Oleh karena itu, TNI berencana membeli pesawat yang memiliki kemampuan membawa ribuan liter air untuk memadamkan api di titik sumber terjadinya kebakaran.

“Kami sudah rencanakan pesawat yang bisa dijadikan water tractor. Bisa ambil air dan dimuntahkan ke daerah kebakaran,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/9/2015).

Pesawat ShinMaywa US-2 mampu membawa 15 ton air ekuivalen dengan 21 helikopter pemadam api (image : Shinmaywa)

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Marsma Dwi Badarmanto mengamini keinginan TNI untuk membeli pesawat untuk menangani kebakaran hutan.

Kendati demikian, Badarmanto mengaku belum mengetahui jenis dan spesifikasi pesawat yang akan dibeli itu.

“Belum tahu jenisnya tapi kami ingin yang terbaik,” katanya.

(SindoNews)

September 11, 2015

Indonesia Perlu 12 Kapal Selam: Baru Punya 2 Unit, Sisanya?  

Beginilah nasib kebanyakan “omong doang” .Yang ada laut kita dijarah sama tauke dan taipan Hongkong..Dan kemampuan angkatan perang Indon selalu dilecehkan..

JUM’AT, 11 SEPTEMBER 2015 | 14:16 WIB

Indonesia Perlu 12 Kapal Selam: Baru Punya 2 Unit, Sisanya?  

Kapal selam Type 209 milik TNI AL, merupakan salah satu kapal selam terbaik di dunia. Dibuat oleh negara penghasil kapal selam terbaik yaitu Jerman. Diawaki 36 pelaut, dan sanggup menyelam hingga kedalaman 300 meter. Kecepatan kapal selam ini mencapai 40Km/perjam, dengan dipersenjatai 8 tabung torpedo. Facebook/korps hiu kencana

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi mengharapkan penambahan kapal selam menjadi 12 unit hendaknya jangan hanya didiskusikan. Rencana penambahan harus direalisasikan karena Indonesia merupakan negara kepulauan.

“Kapal selam itu sudah didiskusikan sejak 2005, tapi sampai sekarang hanya ada dua kapal selam yang kita miliki,” katanya saat menjadi pembicara dalam sarasehan nasional di Markas Komando Armada Kawasan Timur TNI Angkatan Laut di Ujung, Surabaya, Kamis, 10 September 2015.

Sarasehan berkaitan dengan HUT ke-56 Satuan Kapal Selam (Hiu Kencana) ini dihadiri Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. Laksamana Ade Supandi mengatakan TNI AL setidaknya memerlukan 12 kapal selam untuk negara seluas Indonesia.

“Kami sudah pesan tiga kapal selam ke Korea yang semuanya akan selesai pada April 2017, tapi sebagian dibikin di Korea dan sebagian dibikin di PT PAL,” katanya.

Menurut dia, Malaysia dan Singapura yang tidak memiliki wilayah laut seluas Indonesia memiliki kapal selam. Karena itu, Indonesia harus memiliki armada itu dalam jumlah lebih banyak. “Apalagi, Indonesia mempunyai visi menjadi Poros Maritim Dunia, maka kehadiran TNI AL itu penting. Bukan hanya hadir di pangkalan, tapi hadir di laut, baik di permukaan maupun di bawah permukaan,” katanya.

Menteri Nasir menyatakan, kementeriannya memiliki delapan fokus riset. Presiden Joko Widodo meminta mengutamakan tiga fokus riset yakni pangan, energi, dan maritim. “Seperti yang disampaikan KSAL bahwa kapal selam masih sebatas diskusi, maka hal itu ditentukan dua hal yakni anggaran dan kolaborasi antar-kementerian. Untuk anggaran kami akan sampaikan ke DPR untuk membantu,” katanya.

Ia mencontohkan anggaran riset Indonesia hanya 0,09 persen dari GDP, sedangkan Thailand mencapai 0,25 persen dari GDP, Malaysia 1 persen dari GDP, Singapura 2,8 persen dari GDP, dan Korea 3,4 persen dari GDP.

“Meski anggaran riset itu penting, kolaborasi antar-kementerian itu juga penting, karena riset yang tidak sinergis antar-kementerian membuat terjadi pemborosan anggaran riset dan tujuan tidak bisa fokus, sehingga hanya menjadi bahan diskusi di atas kertas,” katanya.

Kementerian Riset juga akan menyatukan sejumlah lembaga penelitian dan pengembangan  antar-kementerian melalui Dewan Riset Nasional. Tujuannya menghemat anggaran dan melakukan riset yang terfokus untuk menghasilkan produk dari hasil riset itu.

“Untuk kapal selam, misalnya, Litbang Kemenristekdikti bersama litbang perguruan tinggi dan Kemenhan bisa bersinergi untuk melakukan riset dan menentukan fokus untuk produk yang diinginkan. Kalau riset dilakukan sendiri-sendiri akan sulit untuk fokus,” katanya.

Sementara itu, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksama Muda TNI Darwanto mendukung pandangan Menristekdikti untuk mendorong riset kapal selam itu. Menurutnya,  kontur laut Indonesia itu sangat cocok untuk persembunyian kapal selam.

“Kadar garam pada laut kita sangat tinggi, biota laut kita juga sangat banyak, dan kedalaman laut kita juga berbeda-beda. Sehingga kapal selam bisa bersembunyi dan tidak menutup kemungkinan ada kapal selam asing yang sudah keluar-masuk laut kita,” katanya.

Indonesia sudah saatnya memiliki armada kapal selam yang memadai, karena semua negara maju itu memiliki kapal selam, seperti Amerika, Australia, Tiongkok, dan sebagainya. “Bisa jadi, kapal selam kita hanya didiskusikan terus, karena kapal selam itu memiliki efek penggetar yang tinggi secara politis, sehingga ada yang berusaha agar kita tidak pernah memiliki armada kapal selam yang memadai. Jadi, kita harus bersinergi untuk memiliki kapal selam,” katanya.

ANTARA | ELIK S

September 10, 2015

Pemerintah Tunjuk BNI Danai Pengadaan Alutsista TNI Rp 980 M

09 September 2015

Kegiatan pembuatan pesawat di hangar PT Dirgantara Indonesia (photo : Bisnis)

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Keuangan menunjuk  PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI untuk mendanai 21 kontrak pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) Kementerian Pertahanan pada tahun ini. Adapun nilai dari 21 kontrak pengadaan Alutsista yang akan didanai oleh BNI mencapai Rp 980 miliar.

BNI keluar sebagai pemenang tunggal dalam hasil akhir seleksi calon pemberi pinjaman dalam negeri (PDN) tahun anggaran 2015 tahap II.

“Setelah melalui serangkaian proses seleksi, Panitia Seleksi telah menunjuk PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk sebagai Pemenang Seleksi,” jelas Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dalam situs resminya, Senin (7/9).

Setelah resmi menunjuk BNI, Kementerian Keuangan segera komitmen kontrak perjanjian PDN senilai Rp 980 miliar guna memenuhi kebutuhan pembiayaan 21 kontrak pengadaan Alutsista TNI.

Seleksi kreditur Alutsista ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan dan Penerusan PDN oleh Pemerintah, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 211/PMK.08/2011 tentang Tata Cara Seleksi Calon Pemberi PDN.

Dalam proses seleksi calon pemberi PDN tahap II, Pantia Seleksi mengundang perbankan secara terbatas sesuai ketentuan dan dengan prinsip transparan, akuntabel, efisien dan efektif, serta kehati-hatian.

(CNN)

September 9, 2015

Program Pengadaan Alutsista Renstra II 2015-2019 TNI AU

Koran Sindo 08 September 2015

Pesawat tempur multiperan Su-35 (photo : wall pix)

16 Sukhoi SU-35 Amankan Kedaulatan Udara RI

Indonesia memperkuat kekuatan armada tempur udara. Dalam bulan ini pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) memutuskan membeli satu skuadron (16 unit) pesawat Sukhoi Su-35 buatan Rusia menggantikan pesawat F-5 Tiger untuk menjaga kedaulatan udara Indonesia.

Sukhoi SU-35 yang mendapat julukan Super Flanker baru saja memasuki masa operasional di Angkatan Udara Rusia namun beberapa negara sahabat Rusia sudah kepincut untuk segera memilikinya juga.

Sukhoi SU-35 bisa dikatakan sebagai Jet Tempur Rusia paling canggih yang sudah Full Operasional, kemunculannya seolah mengisi kekosongan sekaligus penjembatan utama menuju generasi ke 5 yang masih dalam tahap uji coba yakni Sukhoi T-50 PAKFA (Perspektivny Aviatsionny Kompleks Frontovoy Aviatsii/Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation).

Sukhoi SU-35 merupakan pesawat generasi 4++ dimana secara teknikal kemampuan SU-35S secara berada diatas pesawat generasi 4 seperti Rafale, F18, F16 -Sukhoi SU-35 tak mudah untuk di endus radar lawan, meski SU-35 bukan pesawat siluman atau stealth seutuhnya layaknya generasi ke 5 seperti F22 Raptor atau F35 Lightning II.

Jangkauan radar milik Super Flanker yang 2 lebih jauh ketimbang pesawatpesawat generasi 4 atau 4+ memungkinkan SU-35S melakukan aksi First Look-First Shoot-First Kill sebelum pilot lawan melihat super flanker, pilot SU-35S bisa lebih dulu menjatuhkan pesawat lawan tersebut.

Di sektor mesin milik SU-35S jauh lebih bertenaga, mesin ganda 117S sangat superior dan irit setrum ketimbang Jet tempur lain, F16 misalnya.

Keunggulan Su-35 

-Pesawat multiperan dengan kemampuan manuver tinggi
-Memiliki sistem avionik dan elektronik paling canggih
-Jangkauan radar lebih jauh dengan pengenalan multitarget
-Mesin ganda 117S dengan system vectoring
-Sulit diendus radar (semi stealth)
-Mampu menembakkan rudal secara rearward-firing (menembak ke belakang)
-Daya angkut senjata (tonase dan jumlah) tergolong tinggi dengan 12 hard point
-Mesin punya usia pakai yang lebih panjang ketimbang Flanker sebelumnya
-Paling rendah kerawanan terhadap adanya embargo
-Bisa memanfaatkan/membawa bekal senjata Flanker generasi sebelumnya
-Mampu beroperasi dari landasan pendek berkat mesin yang dilengkapi TVC (thrust vectoring control)

Kekurangan Su-35

Hanya tersedia dalam varian kursi tunggal, alhasil proses latih tempur atau konversi hanya bisa dilakukan di simulator.

Biaya operasional per jam terbilang paling tinggi, ada yang menyebut Sukhoi sebagai ‘ATM terbang.’ Mengutip informasi dari defence.pk, biaya operasional per jam (cost of flying per hours) SU-27/SU-30 mencapai USD7.000, sementara untuk Su-35 biaya operasi per jam bisa mencapai USD14.000. Sebagai perbandingan biaya operasional per jam F-16 hanya USD3.600

Belum ada kejelasan untuk detail skema ToT (Transfer of Technology) yang ditawarkan kepada pihak PT Dirgantara Indonesia.

Program Pengadaan Alutsista Renstra II 2015-2019 TNI AU

Pembelian satu skuadron Su-35 sebagai pengganti pesawat F-5 Tiger II merupakan salah satu program Renstra II 2015-2019, berikut ini adalah rencana program pengadaan alutsista TNI AU dalam kurun 2015-2019 :

1. Melaksanakan program perpanjangan usia struktur ”Falcon Star” dan peningkatan kemampuan avionik ”Mid-Life Upgrade” untuk armada pesawat F16 A/B Block 15 Skadron Udara 3 lanud Iswahjudi.
2.Pengadaan peralatan kamera dan radar surveillance untuk pesawat B-737 MPA (Patroli Intai Maritim).
3.Mengajukan pengadaan pesawat Tanker kelas MRTT (Multi Role Tanker Transport)
4.Pengadaan pesawat Airborne Early Warning & Control (radar terbang),
5.Pengadaan pesawat Pengintai Maritim Strategis.
6.Pengadaan 1 unit radar rudal MLAAD (Medium and Low Altitude Air Defense),
7.Pengadaan 2 unit Radar Weibel
8.Melakukan proses refurbisment dan pengadaan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder baru, serta berbagai pengadaan alutsista modern lainnya
9.Pengadaan pesawat pengganti F-5.
10.Usulan pengadaan pesawat intai Amfibi

(Koran Sindo)

September 3, 2015

Menhan Sebut MoU Pembelian Su-35 pada Bulan September

02 September 2015

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 (photo : militaryphotos)

Merdeka.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengakui telah menyepakati pembelian satu skuadron atau 16 unit pesawat F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara yang akan memasuki masa pensiunnya dengan pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia. Ryamizard mengatakan, bahwa pada bulan September 2015 akan ada penandatanganan pembelian Sukhoi dengan pihak Rusia.

“Kita sepakat (Panglima TNI dan Kasau) akan membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger,” kata Ryamizard usai sidak alutsista di Balatyon Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha, Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut dia, pihaknya memilih Sukhoi SU-35 sebagai pengganti F-5 Tiger karena TNI Angkatan Udara sudah terbiasa menggunakan Sukhoi. “Sekarang kita memiliki pesawat tempur dari Amerika (F-16), Tiongkok, dan Rusia. Kita bukan negara yang blok-blokan,” kata dia.

Lanjut dia, pembelian pesawat Sukhoi itu akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan negara. “Kita ingin membeli satu skuadron, tetapi disesuaikan kemampuan pemerintah,” kata Ryamizard.

Di kesempatan yang berbeda, Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda TNI M. Syaugi mengatakan bahwa pembelian pesawat Sukhoi 35 yang baru melalui alih teknologi atau transfer of technology (ToT) dengan pihak Rusia.

“Ini sesuai dengan aturan yang ada bahwa kalau kita ingin membeli alutsista harus ada ToT. Semua itu disesuaikan dengan kemampuan. Jadi, berapa kemampuan anggaran kan tidak mungkin kita minta satu unit terus minta TOT bikinnya gimana, jadi disesuaikan dengan uang yang ada,” kata Syaugi.

“Kita ini kan belum diputuskan uangnya berapa. Kita sudah ingin beli itu cepat-cepat. Penetapan dari Bappenas itu belum keluar. Mungkin dihitung-hitung dahulu dolarnya berapa. Berapa ini mampunya negara, ini kan dari pinjaman luar negeri,” tukas Syaugi.

(Merdeka)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers