PARADIGMA terhadap ancaman pertahanan negara banyak bergeser dari ancaman militer ke ancaman nonmiliter. Bentuknya dapat berupa serangan di dunia maya terorisme ataupun separatisme. Ancaman tersebut juga memiliki risiko dan ketidakpastian yang tinggi, multidimensi, dan kompleks. Ancaman itu masuk di berbagai bidang, baik di militer, politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun teknologi. Semua itu bisa menyebabkan suatu bangsa mengalami kehancuran.

Berpijak dari pemikiran itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menulis buku berjudul Ekonomi Pertahanan, Teori dan Praktik. Buku setebal 802 halaman yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama tersebut diluncurkan pada Kamis (9/10) bersamaan dengan wisuda Pascasarjana Universitas Pertahanan, di Kampus Unhan, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

”Melalui buku ini, saya ingin mengajak kita semua untuk memiliki entrepreneurship, suatu semangat di mana kita bisa melakukan langkah-langkah efisiensi, efektivitas, dan ekonomis dalam perjalanan tugas kita,” katanya.

Mengawali bukunya, Purnomo memaparkan ekonomi pertahanan sebagai cabang ilmu yang menerapkan ilmu ekonomi pada masalah pertahanan. Mengutip Handbook of Defense Economics (2007) karya Keith Hartley dan Todd Sandler, ia memaparkan perkembangan ekonomi pertahanan pada periode Perang Dunia II dan Perang Korea (1942-1953), hingga periode pasca Perang Dingin (1990-sekarang).

Kekuatan buku ini, sesuai judulnya, tidak hanya pada landasan teoritis ekonomi pertahanan, tetapi juga pendekatan praktiknya. Purnomo banyak mengulas kasus dan praktik ekonomi pertahanan di banyak negara. Salah satunya tentang perkembangan industri senjata di dunia dan di Indonesia.

Anggaran pertahanan dan kekuatan angkatan perang di sejumlah negara juga dikupas. Dari data International Institute for Strategic Studies, The Military Balance (2014), posisi Indonesia di peringkat ke-8 di Asia Pasifik Barat dalam hal belanja militer serta kekuatan laut. Indonesia masih berada di bawah Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Taiwan, dan Singapura.

Buku ini tentu layak jadi salah satu referensi mereka yang ingin mendalami ilmu pertahanan. Dengan pengalaman dan keilmuan di bidang ekonomi ataupun pertahanan, Purnomo mempunyai kompetensi kuat menulis buku ini. Ia berkiprah sebagai menteri selama 15 tahun di bawah tiga presiden, yakni Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak mengherankan jika bersamaan dengan peluncuran buku itu, Purnomo juga menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atas kiprahnya sebagai menteri terlama dalam periode presiden berbeda. (WHY)