Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

August 17, 2016

Rp 104,4 triliun untuk Kementerian Pertahanan dalam Rancangan APBN 2017

Takjub lihat anggaran 56 T buat departemen Agama.. hehe… Moral bangsa jeblok, korup dimana mana.. Malahan Departemen ini adalah sarang korupsi bisa dapet jatah anggaran hasil pajak no 4 terbesar.. luar biasa .. Pantas negeri ini kagak maju maju..

17 Agustus 2016

Anggaran Kementerian Pertahanan menjadi sebesar Rp 104,4 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 108,7 triliun (APBNP 2016). (photo : mylentera)

Ini 15 K/L dengan Anggaran Terbesar di RAPBN 2017

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017.

Pokok-pokok RAPBN 2017 ini dibacakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Sidang Tahunan MPR, Senin (16/8/2016).

Dalam RAPBN 2017, pemerintah mengalokasikan belanja negara sebesar Rp 2.070,5 triliun.

Sebesar Rp 758,4 triliun di antaranya diperuntukkan belanja kementerian/lembaga (K/L).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, K/L yang mendapat alokasi belanja terbesar adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Kementerian PUPR mendapatkan anggaran paling besar dan memang memiliki misi yang banyak. Pemerintah tetap menjaga belanja prioritas,” kata Sri di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Senin.

Sri mengatakan, belanja yang disusun dalam RAPBN 2017 mampu menciptakan daya tahan terhadap kemungkinan gejolak ekonomi global yang tidak bisa diprediksi.

Berikut merupakan rincian 15 K/L dengan anggaran terbesar dalam RAPBN 2017.

1. Kementerian PUPR menjadi sebesar Rp 105,6 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 97,1 triliun (APBNP 2016).

2. Kementerian Pertahanan menjadi sebesar Rp 104,4 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 108,7 triliun (APBNP 2016).

3. Kepolisian RI menjadi sebesar Rp 72,4 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 79,3 triliun (APBNP 2016).

4. Kementerian Agama menjadi sebesar Rp 60,7 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 56,2 triliun (APBNP 2016). (???)

5. Kementerian Kesehatan menjadi sebesar Rp 58,3 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 62,7 triliun (APBNP 2016).

6. Kementerian Perhubungan menjadi sebesar Rp 48,7 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 42,9 triliun (APBNP 2016).

7. Kementerian Keuangan menjadi sebesar Rp 39,8 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 43,6 triliun (APBNP 2016).

8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi sebesar Rp 38,9 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 43,6 triliun (APBNP 2016).

9. Kementerian Ristek dan Dikti menjadi sebesar Rp 39,4 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 40,6 triliun (APBNP 2016).

10. Kementerian Pertanian menjadi sebesar Rp 23,9 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 27,6 triliun (APBNP 2016).

11. Kementerian Sosial menjadi sebesar Rp 18,3 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 13,1 triliun (APBNP 2016).

12. Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi sebesar Rp 10,1 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 10,6 triliun (APBNP 2016).

13. Kementerian Hukum dan HAM menjadi sebesar Rp 9,3 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 11,3 (APBNP 2016).

14. Mahkamah Agung menjadi sebesar Rp 8,5 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 8,8 triliun (APBNP 2016).

15. Kementerian Luar Negeri menjadi sebesar Rp 7,7 triliun (RAPBN 2017), dari Rp 7 triliun (APBNP 2016).

(Kompas)

August 17, 2016

Kronologi Penangkapan 2 Pria yang akan Kibarkan Bendera ISIS di Gunung Sindoro

Monyet monyet ISIS cabul ini lebih baik dikirim ke Syria atau Libia
Rabu 17 Aug 2016, 15:43 WIB

Idham Kholid – detikNews
Kronologi Penangkapan 2 Pria yang akan Kibarkan Bendera ISIS di Gunung SindoroIlustrasi (Foto: Yudhistira Amran Saleh/dok detikcom)
Jakarta – Dua orang diamankan di Temanggung, Jawa Tengah, karena membawa bendera ISIS. Belum diketahui motif kedua orang itu naik gunung dengan membawa bendera tersebut. Berikut kronologi penangkapannya.

Selasa, 16 Agustus 2016
Ada informasi sekelompok orang yang mengatasnamakan Abu Syamil (simpatisan Daulah asal Tegal) mengagendakan kopi darat sekaligus melakukan idad (latihan) di Gunung Sindoro.

Menurut informasi itu, kelompok ini berjumlah 8-10 orang. Mereka akan berkumpul di musala rest area perbatasan Temanggung-Wonosobo. Kemudian akan naik ke Gunung Sindoro pada pukul 21.00 WIB.

Pukul 15.30 WIB
Jajaran Polres Temanggung, yang terdiri dari Satuan Intelkam, Satuan Reskrim, Satuan Narkoba dan Satuan Sabhara standby di rest area Kledung Pass.

Pukul 18.00 WIB
Ada 2 pria yang dicurigai, kemudian digeledah. Ternyata ada yang membawa bendera ISIS. Identitas kedua orang tersebut adalah M Taufik Ismail Salam (41), warga Tersono, Batang, dan Siwi Prasetyorini (36), warga Imogiri, Bantul.

Pukul 19.00 WIB
Taufik dan Siwi dibawa ke Polres Temanggung dan sampai saat ini masih diperiksa.

Pukul 22.00 WIB
Jajaran Polres Wonosobo melakukan sweeping ke pendaki Gunung Sindoro dan Sumbing.

“Bendera itu ditemukan di tas Siwi,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul kepada detikcom, Rabu (17/8/2016).
(idh/try)

August 11, 2016

Progres Pembuatan LST AT-2 di PT DKB Terhenti

Padahal baru mendapat penambahan modal dari negara …

 sumber: http://defense-studies.blogspot.co.id/2016/08/progres-pembuatan-lst-at-2-di-pt-dkb.html
10 Agustus 2016

Kondisi terakhir LST ke-2 yang dibuat oleh PT DKB (photo : ARC)

Begini Kondisi LST ke-2 Buatan PT. DKB

Miris dan mengenaskan. Itulah yang ada dibenak ARCinc, saat melihat langsung kondisi LST nomor 2 yang dibuat oleh PT.Dok Kodja Bahari (DKB). Bentuk dan megahnya LST itu sudah terbentuk, namun tampak dibiarkan tanpa pemeliharaan memadai. Tak tampak pula pekerja yang sedang sibuk membangun kapal pengangkut MBT Leopard ini,

AT-2 ini nantinya akan memakai nomor lambung KRI 519 (photo : ARC)

Sejatinya, LST ini merupakan saudari dari KRI Bintuni 520 yang sudah berlayar. KRI Bintuni sendiri merupakan buatan galangan kapal swasta yaitu PT. Daya Radar Utama.

AT-1 KRI 518 yang sempat sea trial (photo : Anas Nurhafidz)

Desain LST kelas Bintuni sendiri merupakan milik PT. DKB, namun ironisnya LST yang dibuat oleh PT. DKB, malah belum beroperasi sama sekali. LST dengan nomor lambung 518 bahkan baru menjalani sea trial, sementara LST AT nomor 2 (yang nantinya bernomor lambung 519) masih teronggok di galangan.

AT-3 KRI Teluk Bintuni 520 (photo : frans tedjakusuma)

Padahal kontrak pengadaan LST ini sendiri dilakukan pada tahun 2012 lalu, dan PT. DKB seharusnya menyelesaikan pesanan pada tahun 2014. Namun demikian, hingga 2 tahun kemudian, kedua kapal masih belum diserahkan ke pemesannya, yaitu Kementrian Pertahanan atau TNI-AL.

First steel cutting LST ke-4/AT-4 di PT Daya Radar Utama (photo : TNI AL)

Belum jelas apa yang menyebabkan LST ini mangkrak dan sedemikian lamban penyelesaiannya. Gosip yang beredar menyebutkan PT.DKB mengalami kesulitan keuangan, bahkan nyaris bangkrut. Jika sudah begini, maka jangan salahkan Pemerintah jika tak lagi mempercayai BUMN sebagai penyedia Alutsista. Dan itu dibuktikan dengan menyerahkan kontrak LST ke-4 kepada PT. Daya Radar Utama.

(ARC)

August 11, 2016

Korea to Complete Radar Development for KF-X Jets by 2026

dari http://defense-studies.blogspot.co.id/
11 Agustus 2016

KFX fighter (image : sbs)

South Korea will complete the development of an advanced radar system to be placed on the country’s indigenous fighter jets by 2026 that will greatly boost its air-combat capabilities, the state arms procurement agency said Wednesday.

The state-run Agency for Defense Development has begun the process of developing the active electronically scanned array radars for some 120 KF-X fighter jets that South Korea seeks to develop by the mid-2020s, the Defense Acquisition Program Administration said. It said a meeting with related officials and experts was held at the ADD’s headquarters in Daejeon, 164 kilometers south of Seoul.

“We are planning to produce the first prototypes of the AESA radar system by the second half of 2020. Starting in 2021, the radar system will undergo a five-year-long test run after being mounted onto the KF-X jet before its development project is completed in 2026,” a DAPA official said.

South Korea plans to build the new planes under the 18 trillion-won ($15 billion) Korean Fighter Experimental project in a bid to replace its aging jet fleet of F-4s and F-5s.

The Korean military decided to develop the AESA radar system on its own as the United States refused to transfer core technologies related to the fighter jet and the advanced radar in April last year.

“Based on our accumulated technologies and know-how, we will develop the most optimal type of an AESA radar system that meets the Korean Air Force’s operational requirements within the set time period (of now to 2026),” an arms procurement official said.

AESA is a type of phased array radar whose transmitter and receiver functions are composed of numerous small transmit/receive modules. AESA radars have almost instantaneous scanning rates, making them difficult to jam and allowing the aircraft employing the technology to remain stealthy.

(Korea Herald)

August 8, 2016

Pemasaran C-295 ke ASEAN : Kontrak PT DI dengan Airbus Diteliti Lagi

Urusan negosiasi dagang Indonesia selalu kedodoran.. kenapa ya.. pura pura bodoh atau bodoh beneran pejabat negeri ini

08 Agustus 2016

C-295/CN-295 TNI AU (photo : Jeff Prananda)

Kontrak PT DI dengan Airbus Diteliti Lagi

Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat akan meneliti kembali perjanjian kerja sama antara PT Dirgantara Indonesia dan Airbus Military terkait dengan perakitan dan pemasaran pesawat angkut militer C-295.

“Kami akan kaji lagi perjanjian antara PT DI dan Airbus Military, rinciannya seperti apa,” kata Ketua Bidang Perencanaan Tim Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Muhammad Said Didu, Jumat (5/8).

Sebelumnya, pada 2011, PT DI dan Airbus Military menandatangani kerja sama pengadaan pesawat C-295. Selain transfer teknologi, salah satu klausul perjanjian adalah PT DI menjadi pemasar C-295 untuk wilayah Asia Pasifik. Namun, kenyataannya, sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand, justru memesan C-295 ke Spanyol tanpa melibatkan PT DI.

Dimintai tanggapan tentang perjanjian komersial untuk pemasaran C-295, Said Didu menilai, eksekusi perjanjian itu ada beberapa kemungkinan. “Bisa jadi PT DI memang tidak siap sehingga tidak bisa mengeksekusi perjanjian itu. Masalahnya, siapa yang menyatakan, siap atau tidak siap. Apa saja porsi PT DI dalam transfer teknologi. Itu harus diselidiki,” kata Said.

Terkait pembelian C-295 langsung ke Spanyol, Kepala Komunikasi Airbus Group Spanyol Maggie Bergsma mengatakan, kesepakatan dengan Indonesia bersifat kerja sama. Konsumen bisa membeli dari siapa saja, tergantung situasi dan kondisi yang ada. Sementara Kepala Humas dan Hukum PT DI Irland Budiman mengatakan, hal itu terjadi karena salah komunikasi. (Kompas, 5/8/2016).

Said Didu menggarisbawahi, perjanjian PT DI dan Airbus Military tersebut dilakukan sebelum ada UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Oleh karena itu, klausul dalam perjanjian itu dibuat berdasarkan hasil terbaik yang bisa dicapai. Setelah berlakunya UU Industri Pertahanan tahun 2014, perjanjian pengadaan persenjataan lebih ketat untuk bisa merealisasikan transfer teknologi.

“Akan tetapi, saya pribadi menyesalkan kenapa PT DI tidak bisa ikut menjual di Asia Pasifik, karena kebetulan saya juga waktu itu ikut jalan ke enam negara ASEAN untuk menawarkan C-295, kok malah belinya ke Spanyol,” kata Said.

DPR ke Spanyol

Anggota Komisi I DPR, Evita Nursanty, mengatakan, kerja sama antara PT DI dan Airbus merupakan bagian dari kebijakan pembelian persenjataan dengan transfer teknologi. PT Di menjadi tempat lini perakitan akhir, paket aero struktur dan dukungan pelayanan pelanggan, termasuk pusat pelatihan berbasis komputer. “Kerja sama dengan Airbus Military perlu didorong untuk memperkuat kemampuan industri alutsista khususnya pesawat dalam negeri,” katanya.

Menurut Evita, Komisi I DPR akan mendalami mengenai detail kerja sama kedua perusahaan tersebut dalam konteks pemasaran yaitu nota Perjanjian Komersial untuk pemasaran C-2012, CN-235, dan CN-295.

Menurut rencana, dalam kunjungan kerja ke Spanyol, pekan ini, Komisi I DPR akan mengunjungi Airbus Military. Dalam kunjungan itu akan dipertanyakan soal rincian perjanjian, apakah PT DI yang akan memproduksi semua pesanan untuk negara-negara Asia Pasifik. “Perlu dicatat, ada keterbatasan kapasitas perakitan PT DI, yakni hingga 2014, delivery 5 pesawat CN-295,” kata Evita.

(Kompas)

August 5, 2016

PT Dirgantara Indonesia Siap Jual 60 Pesawat N 219 Akhir 2017

 Dari : http://defense-studies.blogspot.co.id/
Tribun News 05 Agustus 2016

Pesawat N-219 (photo : BUMN)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso mengatakan bahwa pihaknya siap untuk menjual 60 unit Pesawat N 219 pada akhir 2017 mendatang.

Kata dia, sudah banyak perusahaan dan negara-negara memesan produk hasil karya anak bangsa tersebut.

“Iya saat ini memang sudah banyak yang mau. Asal syaratnya bisa terbang dulu, kalau tidak bisa terbang mereka tidak jadi beli. Target kami 60 unit akhir tahun 2017,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (3/8/2016).

Budi menjelaskan saat ini pesawat tersebut masih dalam tes struktur, sehingga pilot dapat menerbangkan tanpa kendala dan mendapatkan sertifikasi.

Bantuan Airbus

Dia melanjutkan, mengenai sertifikasi pesawat N-219, pihaknya sangat bersyukur dengan kehadiran pihak Airbus yang mau membantu melakukan sertifikasi internasional.

“Ini seperti berkah, tadi yang datang Dirut Military Airbus, Fernando Alonso yang sebelumnya sempat melakukan sertifikasi untuk seluruh unit Airbus komersil,” katanya.

Pesawat N-219 dirancang dapat mengangkut 19 penumpang dalam dua baris.

Bagian kanan 14 tempat duduk (2×7) dan bagian kiri 5 tempat duduk (1×5). Tinggi kabin 1,7 meter, lebih luas dibanding Twin Otter yang tinggi kabin dalamnya hanya 1,5 meter.

Pesawat itu juga dirancang mampu terbang di landasan pendek atau Short Take-Off Landing (STOL) di landasan 500 meter.

(TribunNews)

August 5, 2016

TNI AD Uji Coba Roket Astros Buatan Brasil

04 Agustus 2016

Uji coba roket MLRS Astros (photo : Merdeka)

TNI AD uji coba roket buatan Brasil di Pantai Bocor Kebumen

Merdeka.com – Mabes TNI AD melakukan uji coba tembak senjata peluncur roket baru yang dibeli dan didatangkan khusus dari Brasil. Alutsista yang dilengkapi dengan teknologi komunikasi data dan suara yang dapat diintegrasikan dengan teknologi battle management system dan navigasi tersebut mampu menjangkau jarak tembak hingga 80 kilometer.

Kendaraan peluncur roket Astros (photo : Antara)

Uji coba roket dengan hitungan mundur senjata roket jenis SS 30, SS 40, SS 60 dan SS 80 diluncurkan di Dislitbang Mabes TNI AD di Pesisir Pantai Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Staf Pengadaan Kementreian Pertahanan Letnan Kolonel Arm Aziz Mahmudi menegaskan, alutsista Armed Multi Louncher Rocket System, Astros II MK 6 produksi Avibras Industria Aeroespecia SA (AIA-SA) Brasil ini merupakan sistem senjata peluncuran roket yang memiliki kaliber multi efek gentar yang tinggi. Juga dapat menembakan tiga jenis kaliber dari unit peluncuran yang sama.

Kendaraan AV-VBL pendukung Astros (photo : Kaskus Militer)

“Alutsista baru milik TNI AD ini memiliki sistem berteknologi tinggi dengan dibekali remot kontrol untuk membidik sasaran dan keunggulan lainya adalah akurasi tinggi karena dilengkapi navigator dibantu GPS melalui pusat kendali tembak bataliyon yang memiliki C4, comand, control, computing, comunicatons, inteligance dan navigation,” terangnya kepada merdeka.com di Kebumen, Jawa Tengah Kamis (4/8).

Kendaraan Fieldguard 3 Fire Control Measuring System (photo : Merdeka)

Selain itu, Aziz menjelaskan, alutsista ini dapat dioperasionalkan minimal empat orang dengan perlengkapan mekanis hidrolik sehingga memudahkan untuk penggantian, pengangkatan dan penurunan container serta pengisian amunisi baru.

Aziz menambahkan, pengadaan alutsista baru milik TNI AD ini merupakan upaya penguatan pertahanan negara di tengah maraknya berbagai tantangan baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Dari atas ke bawah : Astros TM, FOG-MPM, SS-150, SS-80, SS-60, SS-40, SS-30 dan Skyfire-70 roket (photo : Deagel)

“Kegiatan ini untuk melihat performa dari MLRS yang kita adakan atau kita beli dari Brasil. Roket ini adalah roket buatan Brasil. Kemudian seluruhnya telah tiba di Indonesia, Kemudian saat ini kegiatan untuk performa dari roket, sehingga kita dapatkan jarak maksimum dari penembakan. Diharapkan dari hal tersebut adalah bisa memberikan keyakinan kepada TNI angkatan darat, yang nantinya akan menggunakan alut ini,” tambahnya.

Aziz Mahmudi berharap dengan alokasi anggaran USD 378 juta tersebut telah dilengkapi sistem pertahanan di Indonesia serta kemampuan dan modernisasi jajaran alutsista satuan TNI AD khususnya di Satuan Armed.

(Merdeka)

August 3, 2016

TNI AU akan Tempatkan Pesawat Tempur di Lanud El Tari

03 Agustus 2016

Lanud El Tari, Kupang, NTT akan menjadi basis pangkalan udara di wilayah selatan Indonesia bagian timur (photo : Didik S. Dharma)

KUPANG, TIMEX – Lanud El Tari saat ini sudah mulai gencarkan pembangunan sesuai master plan hingga tahun 2024. Dalam master plan itu, adanya rencana pengembangan sarana prasarana untuk menampung pesawat-pesawat tempur dan pesawat angkut dalam rangka mendukung operasi udara di dua wilayah perbatasan. Kedua wilayah itu, yakni perbatasan udara dengan Timor Leste dan Australia.

“Saat ini sudah dalam proses pengembangan dan pembangunan, dan ada tahapan di tahun 2016 hingga 2024. Kalau sekarang sedang dalam proses pembangunan shelter untuk pesawat tempur,”jelas Danlanud El Tari, Kolonel (Pnb) Jorry Koloay di sela-sela peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke- 69 di lingkungan Lanud El Tari Kupang, Senin (1/8).

Nantinya, lanjut Danlanud, Lanud El Tari akan menjadi basis pangkalan udara di wilayah selatan Indonesia bagian timur yang sesuai dengan rencana kebijakan strategi pertahanan adalah salah satu pangkalan utama yang akan dikembangkan oleh TNI AU pada masa mendatang.

Dalam konteks pengamanan penerbangan, bandara dan pangkalan udara yang ada di wilayah NTT, menurut Danlanud merupakan tanggung jawab dari Lanud El Tari.

“Dalam konteks keamanan penerbangan, kita didukung Satuan Radar 226 Buaren yang 1 x 24 jam memantau setiap pergerakan penerbangan di Indonesia, khususnya di wilayah NTT dan wilayah Indonesia bagian timur terhadap kemungkinan adanya penerbangan-penerbangan gelap yang tidak terindetifikasi atau tidak terdaftar secara legal,”jelas Danlanud.

Satuan Radar 226 Buraen Kosekhanudnas II Makassar.mengoperasikan radar Thomson TRS 2215 R buatan Thomson Prancis (photo : Indonesian Military)

Selanjutnya, terkait pengamanan terhadap bandar udara sebagai pintu gerbang wilayah, Danlanud mengaku pihaknya akan memperkuat sistem pertahanan pangkalan udara dan sistem keamanan bandara. “Itu sudah diamanatkan oleh Undang-undang dan peraturan pemerintah Nomor 70 tahun 2001 mengenai kebandarudaraan. Termasuk keputusan presiden dan keputusan menteri tentang obyek vital. Semuanya berkolaborasi dengan baik,”imbuh Danlanud.

Diakuinya jumlah personel di Lanud El Tari masih sangat terbatas personel, untuk itu secara bertahap akan ditingkatkan.

“Syukur animo masyarakat untuk masuk angkatan udara begitu besar, dan tahun ini Lanud El Tari menjadi Lanud yang tertinggi penerimaan prajurit TNI AU. Jadi 85 persen dari yang kita kirim ke pusat itu diterima dan kita tertinggi di Indonesia,”pungkas Danlanud.

Untuk diketahui, peringatan Hari Bakti TNI AU ke- 69 di lingkungan Lanud El Tari Kupang berlangsung sederhana. Upacara bersama dipimpin Danlanud, Kolonel (Pnb) Jorry Koloay di hanggar Lanud, dan dihadiri seluruh pejabat utama Lanud dan para purnawirawan.

Danlanud dalam sambutannya, mengatakan semangat pengabdian yang tulus yang telah ditunjukkan oleh para perintis TNI AU harus terus berkembang dalam diri setiap insan TNI AU.

Kehadiran TNI AU di NTT, yaitu menjadi bagian dari masyarakat NTT untuk ikut bersama-sama membangun NTT menjadi lebih baik di masa mendatang.

(Timor Express)

August 2, 2016

Korps Marinir Membutuhkan 36 Unit MLRS

Sedih banget TNI AL.. Para perencana di Dephan didominasi oleh TNI AD jadi pembeliannya diutamakan alutsita untuk AD.. Konyol padahal Indonesia adalah negara kelautan..

 

02 Agustus 2016

Korps Marinir memiliki 8 unit RM-70 Vampir (photo : Excalibur)

Kasal Serahkan Ranpur Baru Kepada Dankormar di Situbondo

Situbondo, (Antara Jatim) – Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi menyerahkan kendaraan tempur baru kepada Komandan Koprs Marinir Brigjen TNI (Mar) R.M Trusuno di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur, Selasa.

Kendaraan tempur baru yang diserahterimakan kepada Komandan Korps Marinir tersebut yaitu, “RM-70 Multi Launch Rocket System (MLRS) Kal. 122 MM Vampire” buatan Republik Ceko yang baru dibeli oleh Indonesia sebagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi prajuri TNI Angkatan Laut.

“Pembelian 8 unit kendaraan tempur RM-70 MLRS Vampire ini dalam rangka untuk pemenuhan kekuatan Marinir, khususnya kemampuan arteleri medan dari laut ke darat. Dan sebelumnya kita juga sudah memiliki 9 unit Ranpur jenis RM Grad dan total seluruhnya yang dimilik Marinir 17 kendaraan tempur RM Grad dan RM-70 Vampire,” turu Ade.

Korps Marinir saat ini memiliki 9 unit RM-70 Grad (photo : paradigmabangsa)

36 Unit MLRS

Ia mengemukakan, rencananya akan membeli roket tersebut sebanyak 36 unit, tetapi untuk sementara yang dapat terealisasi tahun ini sebanyak 8 unit. Sedangkan sisanya akan diajukan pada anggaran selanjutnya hingga memenuhi kebutuhan alutsista bagi Korps Marinir.

Kepala Staf Angkatan Laut menyampaikan agar Marinir memelihara dan digunakan serta dimanfaatkan saat latihan. Karena prajurit akan terlihat kemampuannya disaat menggelar latihan dengan didukung kendaraan tempur yang sudah dimiliki Marinir.

Korps Marinir berencana mem-pensiunkan peluncur roket BM-14/17 kaliber 140mm (photo : Indomiliter)

“Untuk kelebihan RM-70 MLRS Vampire dengan RM Grad yang sebelumnya kita miliki hanya perbedaan umur roket itu sendiri karena RM Grad dibeli sudah 10 tahun yang lalu. Selain itu, juga RM-70 MLRS Vampire dengan Kaliber 122 MM ini sudah serba digital dan lebih canggih, akan tetapi dalam penggunaannya saat latihan Marinir akan menggunakannya secara manual untuk keamanan,” ujarnya.

Dari pantauan, secara simbolis miniatur RM-70 MLRS Vampire diserahkan kepada Komandan Korps Marinir oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) di T-12 atau titik pantau Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Karang Tekok, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih.

Sebelum acara penyerahan dilaksanakan, RM-70 Vampire buatan Ceko itu dilakukan uji coba dengan menembakkan roket yang sasarannya di Kawasan Hutan Baluran Situbondo.

(Antara)

August 2, 2016

Akan Operasikan Su-35, Penerbang F-5 TNI AU Mulai Konversi ke Sukhoi

 dari :http://defense-studies.blogspot.co.id/
Angkasa 02 Agustus 2016

Danlanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Nanang Santoso menyalami empat penerbang F-5 yang mengikuti pendidikan konversi ke pesawat Su-27/30. (photo : TNI AU)

Rencana TNI AU mengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II dengan Sukhoi Su-35 buatan Rusia semakin tampak jelas ke permukaan. Saat ini empat instruktur penerbang F-5 berpangkat mayor dari Skadron Udara 14, Madiun mulai mengikuti pendidikan terbang konversi ke pesawat Sukhoi Su-27/30 di Skadron Udara 11, Makassar.

Keberadaan F-5 sendiri di Skadron Udara 14 saat ini tidak diterbangkan walaupun belum di-grounded secara resmi. Pesawat ini sudah mengabdi di TNI AU selama 36 tahun sejak kedatangannya di Tanah Air tahun 1980.

Sukhoi Su-27/30 Skadron Udara 11, Makassar (photo : kabar24)

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Nanang Santoso saat membuka pendidikan konversi ke pesawat Sukhoi mengatakan, para penerbang F-5 dididik guna mengetahui segala sesuatu berkaitan dengan pengoperasian jet tempur Sukhoi. “Mereka dipersiapkan nantinya untuk menerbangkan Su-35 sebagai pengganti F-5 di Skadron Udara 14,” ujarnya, Selasa 26 Juli 2016, di Makassar.

Keempat penerbang F-5 yang mengikuti pendidikan konversi ke pesawat Sukhoi adalah Mayor Pnb Reza “Tigon” Muryaji (AAU 2000), Mayor Pnb M. “Bradox” Yunus (AAU 2001), Mayor Pnb I Kadek “Jaeger” Suta Arimbawa (AAU 2003), dan Mayor Pnb Apri “Cheetah” Arfianto (AAU 2004). Keempatnya masing-masing sudah mengantongi lebih 1.000 jam terbang di F-5.

Pendidikan konversi ke-16 pesawat Sukhoi akan berlangsung selama empat bulan di Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin.

(Angkasa)