Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

April 13, 2015

TNI AU Akan Menambah Jumlah Skuadron Operasi

 sumber Defence studies  http://defense-studies.blogspot.com/
11 Oktober 2015

Rencana TNI akan menambah empat skuadton tempur, enam skuadron angkut, empat skuadron helikopter, dan skuadron pengintaian (photo : Kaskus Militer)

TNI AU Bakal Tambah Empat Skuadron Baru

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berencana menambah empat skuadron tempur baru untuk menjaga kedaulatan wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemungkinan besar, skuadron baru tersebut akan dibentuk di wilayah timur Indonesia. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Hadi Tjahjanto membenarkan ada rencana penambahan rencana empat skuadron baru tersebut.

Dalam rencana strategis (renstra) yang disusun, TNI AU akan memiliki 11 skuadron pesawat tempur. Saat ini skuadron yang telah terbentuk baru ada tujuh dengan kekuatan di masing-masing skuadron sebanyak 16 pesawat tempur dari berbagai jenis. ”Sehingga masih kurang empat skuadron lagi. Ini akan dibentuk sampai rencana strategis (renstra) ketiga.

Saat ini kita masih berada di renstra kedua, mudah-mudahan mulai 2019 sampai 2024 keinginan kita untuk membentuk 11 skuadron tempur bisa terwujud. Namun, harus diingat bahwa renstra ini berbasis pada minimum essential force (MEF), bukan pada kondisi ideal,” ungkap Hadi di Jakarta kemarin.

Rencana itu termasuk pembentukan enam skuadron angkut, empat skuadron helikopter, dan skuadron pengintaian. Hadi menambahkan, saat ini keberadaan skuadron pesawat tempur milik TNI AU terkonsentrasi di bagian tengah, dalam hal ini Pulau Jawa. Kemudian di bagian barat yakni Pekanbaru, Riau yang sudah ada 1 skuadron F-16.

”Skuadron tersebut juga bisa diback up oleh skuadron yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Barang kali evaluasi itu akan ke timur, tapi semua itu akan dilihat dari tren dan spektrum ancaman,” ungkapnya.

Pengamat militer Universitas Indonesia (UI) Wawan Purwanto menilai, penambahan skuadron tempur merupakan hal yang wajar untuk diwujudkan dan kebutuhan yang selayaknya harus dimiliki dalam rangka menuju pada kekuatan minimum.

”Selama ini banyak kejadian yang tidak kita inginkan karena sistem pertahanan udara kita keropos dan alutsista yang dimiliki terbatas ditambah pesawat yang ada sudah berumur,” katanya. (Koran Sindo)

Koopsau III Akan Dibentuk di Wilayah Timur

MAKASSAR,UPEKS– Mengingat wilayah negara Indonesia yang begitu luas dan hanya dicover oleh dua Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau), saat ini pihak TNI Angkatan Udara berencana bentuk Koopsau III di wilayah Timur.

Hal itu dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI Agus Supriatna, Senin (6/4) kemarin.Disela-sela serah terima jabatan Pangkoopsau II Marsda TNI Abdul Muis kepada Marsma TNI Bahrim, Agus mengaku pembentukan Koopsau III perlu dibentuk. Pasalnya, jika hanya dua Koopsau yang mencover wilayah Indonesia diniali agak sulit. Khususnya Koopsau II ini yang wilayahnya seperdua Indonesia.

“Rencananya kita akan bentuk Koopsau III di wilayah Timur, yakni Papua. Panglima TNI rencana bangun Markas Koopsau III, mengingat wilayah Indonesia begitu luas dan hanya dicover dua Koopsau. Khususnya, Koopsau II ini wilayah operasinya begitu luas,” ucap Agus.

Agus mengaku, pembentukan Koopsau III perlu dilakukan. Pasalnya, saat ini wilayah Indonesia khusunya diudara sangat luas. Jika hanya dicover dua Komando Operasi TNI Angkatan Udara, itu sangat sulit. Apalagi saat ini, sangat rawan masuknya pesawat yang melanggar. Namun, selama ini hal itu mampu diatasi.

“Soal kerawanan memang ada. Tapi, selama kita laksanakan terus-menerus pengawasan dan melakukan pengintaian hal itu bisa diatasi. Sehingga, pesawat manapun yang masuk di wilayah Indonesia tanpa izin akan disergap,” tegasnya.

Setiap pesawat yang disergap itu lanjut Agus, pasti akan dilakukan penyelidikan. Semua ada SOPnya, kepana masuk di wilayah Indonesia tanpa izin. Untuk memperkuat pertahanan ditingkatkan pengaktifan radar.”Apalagi jika Armada ada tiga dan Koopsau ada tiga, seluruh Indonesai bisa dicover. Namun secara ideal kita akan tambah peralatan tempur,” tutupnya. (Ujung Pandang Express)

April 10, 2015

Kegigihan Taruni Mengejar Cita-cita

Dirgahayu TNI AU !

Menjadi taruni Akademi Angkatan Udara atau AAU angkatan pertama memang bukan hal yang mudah. Namun, tujuh lulusan sekolah- sekolah favorit dari Sumatera sampai Papua tersebut bertekad mewujudkan cita-cita mereka menjadi perempuan perwira pertama yang menerbangkan pesawat tempur TNI AU.

Uci Sipayung, alumnus SMAN 1 Tebing Tinggi, Sumatera Utara, mengatakan, sejak dulu dia mau jadi tentara. Menurut dia, tentara identik dengan sikap disiplin. Adapun Ghaesanie Putri Pujasari, alumnus SMA Krida Nusantara, Bandung, Jabar, mengatakan, orang- tua mendukungnya menjadi tentara karena negara menanggung semua biaya kebutuhan.

Sementara Anisa Amalia, alumnus SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, mengatakan, ia sempat mendaftar masuk fakultas hukum universitas swasta di Yogyakarta. Namun, akhirnya, dia memilih akademi militer. Astria Fancolla dari SMAN 5 Jayapura, Papua, merasa beruntung aktif sebagai pasukan pengibar bendera (paskibra) sehingga lulus AAU.

Mereka merupakan generasi pertama taruni AAU, Yogyakarta, yang masuk tahun 2013. Sebagai karbol AAU, mereka juga mengikuti jadwal belajar dan berlatih yang ketat dengan penuh disiplin. Setiap hari, mereka harus bangun pukul 04.00. Setelah beribadah, pukul 05.00 mereka lari pagi mengitari kampus sejauh 3,5 kilometer. Kemudian mereka sarapan dan bersiap mengikuti upacara pukul 06.30.

Sejak pukul 07.00-13.45, mereka belajar sesuai jurusan yang sudah dibagi sejak awal pendidikan berdasarkan hasil tes psikologi. Ada jurusan manajemen industri, elektronika, dan aeronautika. Sore harinya, ketujuh taruni AAU berlatih olahraga militer. Dalam waktu dekat, mereka akan mengikuti pesta olahraga antartaruna dan taruni dalam bidang menembak pistol dan debat bahasa Inggris. Jadwal padat sepanjang hari tersebut kemudian ditutup dengan makan malam dan belajar sampai pukul 20.00.

Memanjakan diri

Setelah memeras otak dan keringat lima hari dalam sepekan, mereka bisa bersantai sejenak di akhir pekan. Pada hari Sabtu dan Minggu, mereka menikmati jadwal rekreasi untuk mengaktifkan telepon genggam, dengan syarat sama sekali tidak menggunakan media sosial, dan memanjakan diri.

“Biasanya kami belanja, menonton bioskop, refleksi, saling bercerita, atau ke salon,” kata Anisa. Terbiasa menghabiskan waktu bersama membuat hubungan mereka semakin dekat.

Yhusrina, alumnus SMA Taruna Nusantara, mengatakan, dia merasakan solidaritas dan soliditas yang tinggi sebagai sesama siswa TNI AU. Apalagi, mereka sama-sama ingin menjadi penerbang tempur setelah lulus sebagai perwira muda TNI Angkatan Udara.

Pembina taruni AAU Letnan Kolonel Rony Widodo mengatakan, taruni lebih tekun belajar sehingga tetap kompetitif menghadapi para taruna. Rony dibantu istrinya mendampingi para taruni agar lebih mudah mendekati mereka dari sudut pandang perempuan.

Rony pun berusaha membina ketujuh taruni menjadi profesional dan pribadi yang unggul agar menjadi sosok tangguh. Hal ini terus ditanamkan kepada mereka. “Pernah juga ada yang menangis sewaktu mereka tidak dikasih izin rekreasi,” katanya.

Sebagai taruni angkatan pertama AAU, mereka tetap optimistis dan semakin mandiri. Mereka merancang sendiri seragam dan perlengkapan dasar standar taruni, termasuk Dewa Ayu, alumnus SMAN 1 Gianyar, Bali, yang bertugas sebagai mayoret drumband AAU dalam perayaan Hari Ulang Tahun Ke-69 TNI AU di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (9/4).

Dengan gigih mereka belajar dan berlatih. Semoga saja kita segera punya perempuan penerbang tempur yang andal melindungi wilayah udara Negara Kesatuan RI. (EDNA CAROLINE)

March 27, 2015

France Ready to Give RI Technology Transfer

26 Maret 2015

Dassault Aviation Rafale (all photos : Okezone)

France asserted on Wednesday that it was willing to provide an industrial cooperation with Indonesia should the Dassault Rafale jet fighter be selected to modernize the Indonesian Air Force.

French Ambassador to Indonesia Corinne Breuzé said that France was open to all cooperation possibilities involving French aircraft maker Dassault Aviation and state-owned aircraft maker PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

“With the support of the French government, Dassault is open to any possibility of partnerships and transfer technology,” she said in a prepared statement.

Other than technology transfer, she said that being 100 percent French, the Rafale would allow its users independence. “It is designed with Safran/Snecma for the engine, Thales for the avionics and MBDA for the armament,” she said.

Breuzé was speaking at an event to introduce the French jet fighter to the Indonesian public, at the Halim Perdanakusuma Air Force Base in East Jakarta.

She said that the decision to bring the Rafale to Jakarta, despite a high level of operational engagement especially in Iraq, was made by the French defense minister and air force following a courtesy call from Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu, who met his French counterpart Jean-Yves Le Drian on March 10.

Ryamizard also visited the Rafale’s assembly line in Bordeaux-Merignac during the March visit.

Two Rafale jet fighters, a Rafale B double-seater and a Rafale C single-seater, arrived on Monday from the just-concluded 2015 Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) exhibition in Malaysia.

On Tuesday, the jet fighters performed three flights for Indonesian Air Force pilots who flew on the Rafale B, taking the back seat.

There was also a solo aerobatic display performed by Capt. Benoit Blanche of the French Air Force.

The Rafale is a latecomer in the competition to replace the aging American-made F-5 E/F Tiger II operated by the Indonesian Air Force.

The French jet fighter is facing tough competition, locking horns with a stable of other contenders including the Russian-made Sukhoi Su-35, American-made F-16 Block 60, Swedish-made Saab JAS-39 Gripen and the Eurofighter Typhoon, a collaboration between Germany, Italy, Spain and the UK.

The Indonesian Air Force has repeatedly said it prefers the Su-35, the latest iteration of the Flanker family of jet fighters, although the final decision will be made by the Defense Ministry.

Meanwhile, Dassault Aviation executive vice president for America, Africa and Asia military sales JPHP Chabriol told The Jakarta Post that the best example of French will to transfer technology was India, which selected the Rafale.

He said that from an order of 126 units, 18 were supposed to be produced in France and the rest to be produced locally by Indian industries through progressive transfer of technology.

“From French authorities’ point of view as well as from French industry, there is no limitation to transfer technologies of the Rafale to friendly foreign countries,” he said.

“The only constraints we have are linked to the budgetary aspect, good sense and cost efficiency.”

He said Dassault and all associated French companies were quite open to discussions with Indonesian actors to set up a program that suited Indonesian requirements.

“We are not imposing anything; we are ready for discussion to define what is the optimized scheme of transfer of technology in the framework of the Rafale bid,” Chabriol said.

Other than technology transfer, Chabriol emphasized that Indonesia would get total independence if it selected the Rafale because, as it is a 100-percent French product, Indonesia would not have to deal with a third party.

Another advantage of buying the Rafale, he added, was that it could be deployed with very minimal logistical support.

(The Jakarta Post)

March 25, 2015

F-5E Tiger, Pertahanan Udara Orde Baru

POLITIK > F-5E TIGER, PERTAHANAN UDARA ORDE BARU

PESAWAT TEMPUR

Pada 1960-an, TNI Angkatan Udara memiliki arsenal udara yang ditakuti di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik berbasiskan jet tempur MiG-15 hingga MiG-21, pengebom Tu-16, peluru kendali, pesawat intai Gannet, dan pesawat transpor C-130 Hercules. Namun, kekuatan itu kemudian lenyap seiring dengan pembersihan militer oleh penguasa Orde Baru.

Sejumlah pesawat tempur disiagakan saat Panglima Kostrad Letnan Jenderal M Munir meninjau  komando tugas udara gabungan di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 27 April 2013.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANSejumlah pesawat tempur disiagakan saat Panglima Kostrad Letnan Jenderal M Munir meninjau komando tugas udara gabungan di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 27 April 2013.

Sejarawan Yayasan Nation Building, Didi Kwartanada, mengatakan, semasa awal 1970-an hingga akhir 1970-an, bisa dikatakan kekuatan udara Indonesia nyaris lumpuh karena ketiadaan suku cadang akibat terganggunya hubungan dengan Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Di dalam negeri, konsolidasi kekuatan rezim Soeharto yang berbasiskan TNI Angkatan Darat berusaha meredam kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang dikenal memiliki banyak elemen pendukung rezim Soekarno.

“Pesawat MiG-21 akhirnya di-grounded setelah terjadi beberapa kali kecelakaan. Sesudah itu, pada 1970-an sempat didatangkan hibah pesawat F-86 Sabre eks RAAF Australia dan pesawat latih T-33 dari Amerika Serikat untuk menjaga kemampuan terbang para penerbang TNI AU. Kondisi memang sangat memprihatinkan ketika itu. Pada Operasi Seroja di Timor-Timur 1976 masih dioperasikan pesawat tua, termasuk B-25 Mitchell dan pesawat-pesawat tua Dakota untuk mendukung operasi tempur,” kata Didi.

Akhirnya, menjelang dekade 1970-an, meski ada tekanan internasional terkait dengan operasi militer di Timor-Timur, Soeharto berhasil meyakinkan Amerika Serikat untuk mendapat dukungan persenjataan, termasuk jet-jet tempur.

Hadirlah jet tempur yang ditampilkan dalam parade Hari ABRI pertama kali-dan belum pernah terulang-di Jalan Tol Jagorawi, 5 Oktober 1980, jet tempur F-5E yang dibeli baru dari Amerika Serikat dan jet tempur A4-E Skyhawk (Skuadron Udara 11) bekas pakai yang dibeli dari Israel hasil Operasi Alpha yang diungkap dalam buku terbitan TNI AU, Elang Tanah Air di Kaki Lawu:Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi, 1939-2003.

F-5E dirancang sejak medio 1950-an oleh pabrikan Northrop. Pesawat dengan persenjataan dua kanon 20 milimeter M39 serta bom dan rudal AIM-9 Sidewinder yang legendaris.

Pesawat-pesawat F-5E Tiger datang dengan diangkut pesawat angkut raksasa C-5A Galaxy yang mendarat di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 21 April 1980. Teknisi Amerika Serikat melatih teknisi TNI AU. Pelatihan kepada penerbang TNI AU di Amerika Serikat dimulai dengan kehadiran mereka sejak 5 Desember 1979 dan 19 Januari 1980 di Lanud Williams di Negara Bagian Arizona. Sebanyak 16 unit atau satu skuadron penuh F-5E dimiliki TNI AU.

Operator F-5E adalah Skuadron Udara 14 yang sebelumnya mengoperasikan MiG-21 (1962-1970) dan F-86 Sabre (1974-1980). F-86 Sabre dikenal kiprahnya dalam Perang Korea (1950-1953) dan F-5E Tiger termasyhur dalam Perang Vietnam yang dioperasikan Amerika Serikat dan sekutunya, Vietnam Selatan.

Wakil Asisten Operasi KSAU Marsekal Pertama Yuyu Sutisna, yang lama mengawaki F-5E Tiger, mengaku, pesawat tersebut membutuhkan keahlian khusus untuk mengendalikannya karena kecepatannya tinggi. “Bentuknya sangat ramping sehingga kecepatannya tinggi dan harus pas mengatur pendaratan. Sangat mudah terjadi over shoot-melewati pendaratan-sehingga pesawat celaka,” kata Yuyu yang sempat berlatih dengan sesama penerbang F-5E Tiger dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Memang, bentuk fuselage- badan pesawat Tiger-mirip dengan F-104 Starfighter yang dijuluki “widow maker” karena sering mengalami kecelakaan yang menewaskan penerbang yang mengawaki Starfighter, lama digunakan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Secara fisik, pesawat berbentuk mirip pensil terbang yang memiliki panjang 14,45 meter dan lebar bentang sayap 8,13 meter itu memiliki kecepatan terbang 940 knot atau 1,5 kali kecepatan suara!

Tulang punggung

Yuyu mengisahkan, dirinya mengalami era transisi F-5E yang mengalami modernisasi ibarat dari sistem analog ke digital yang serba terkomputerisasi. Ketika itu, KSAU Marsekal Rilo Pambudi, seusai mengunjungi Pameran Dirgantara Le Bourget di Paris, Perancis, berniat mengadakan up gradingpesawat F-5E yang sudah 13 tahun dioperasikan TNI AU. Program modernisasi Tiger tersebut diberi nama “MACAN” yang merupakan singkatan dari Modernisation of Avionics Capabilities for Armament and Navigation. Pemenang kontrak adalah SABCA, sebuah perusahaan Belgia. Pada 1995, dialokasikan waktu 18 bulan untuk memodernisasi F-5E Tiger.

Namun, dalam buku Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi diungkapkan, ada kendala pembuatan konfigurasi sistem avionik yang ditargetkan selesai dalam tujuh bulan ternyata terlambat hingga hampir dua tahun baru selesai. “Saya adalah salah satu penerbang yang menguji dan menerbangkan pesawat program MACAN tersebut. Pesawat ini unik, bisa start scramble dengan satu mesin, lalu menjelang take off menyalakan mesin kedua,” kata Yuyu Sutisna.

Modifikasi yang dilakukan mencakup radar warning receiver, inertial navigation unit, pilot display unit, dan sistem airborne video camera recorder (AVCR). Sistem baru tersebut bisa mendeteksi ancaman rudal ataupun arah radar lawan secara 360 derajat. Salah satu yang berkesan dalam mengoperasikan F-5E Tiger, menurut Yuyu Sutisna, adalah ketika dirinya dalam satu flight (empat pesawat) terjebak awan badai (Cumulonimbus) di atas perairan Laut Jawa di utara Cirebon saat terbang ferry dari Pekanbaru ke Lanud Iswahjudi, Madiun.

“Selama tiga-empat menit kami terjebak Cumulonimbus. Bahkan, pesawat yang diterbangkan Errys Heryanto dihantam petir di bagian ekor. Pesawat anjlok dari ketinggian 37.000 kaki (10,6 kilometer) ke 13.000 kaki (4.000 meter). Kami tidak bisa saling berkomunikasi dan saling menjaga heading arah pesawat agar tidak bertabrakan,” kata Yuyu. Akhirnya, flight F-5E itu bisa lolos dari perangkap Cumulonimbus.

Modernisasi MACAN sempat terhenti karena embargo Barat terhadap rezim Orde Baru pasca Mei 1998. Meski demikian, para teknisi TNI AU akhirnya berhasil melakukan modernisasi MACAN mengacu pada pesawat yang sudah diselesaikan oleh Belgia.

Semasa Perang Dingin dan puncak kekuasaan Orde Baru pada 1980-an hingga 1990-an, F-5E Tiger menjadi tulang punggung kekuatan dirgantara yang terlibat dalam pelbagai operasi, termasuk menjaga Konferensi Tingkat Tinggi Nonblok di Jakarta pada 1992 hingga misi gila, yakni merekam penembakan rudal Harpoon yang dilakukan Mayor Dradjad Rahardjo dan Letda Agung Sasongkojati sebagai juru kamera. F-5E mereka terbang dengan kecepatan 0,93 Indicated Mach Number atau 1.000 kilometer per jam membuntuti rudal Harpoon. Peristiwa itu terjadi pada 3 November 1989.

Purna tugas

Saat ini, F-5E Tiger TNI AU memasuki masa purna tugas dan ada beragam pilihan jet tempur, seperti Rafale buatan Perancis, Sukhoi 27 atau Sukhoi 30 buatan Rusia, serta Saab JAS 39 Grippen buatan Swedia.

Sementara itu, para penerbang senior yang dilahirkan dari F-5E Tiger, di antaranya adalah Marsekal Madya (Purn) Errys Heryanto dan Marsekal (Purn) Djoko Suyanto. Djoko Suyanto kemudian menjadi Panglima TNI dan selanjutnya menjadi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode kedua (2009-2014).

March 23, 2015

Kapal Perusak Kawal Rudal PKR-105 Ditarget Selesai 2017

23 MARET 2015

23 Maret 2015

Pembangunan kapal PKR-105 dibagi dalam enam modul atau bagian, empat modul di antaranya dibuat di PT PAL, sedangkan dua modul yang terdiri dari permesinan dan anjungan kapal dibangun di Belanda.(photo : pr1v4t33r)

Malang, (Antara Jatim) – Pembuatan dua Kapal Perusak Kawal Rudal 105 meter (PKR-10514) ditarget selesai pada tahun 2017, dan kini prosesnya sudah mencapai 40 persen (40%) , kata Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), M Firmansyah Arifin.

“Pengerjaan awalnya dilakukan pada akhir 2012 oleh anak negeri dengan kerja sama perusahaan perkapalan besar dari Belanda, DAMEN ‘Schelde Naval Shipbuilding’ (DSNS), dan diharapkan bisa segera selesai dan memperkuat alutsista Indonesia,” ucapnya di Malang, Sabtu.

Ia mengatakan, pembuatan kapal jenis kapal perang cepat itu untuk memenuhi pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melalui proyek jangka panjang Badan Sarana Pertahanan (Barahanan).

“Kapal ini dilengkapi dengan persenjataan canggih bawah air untuk menghancurkan kapal selam, serta terdapat peralatan modern di atasnya, sehingga mampu memperkuat persenjataan maritim kita,” katanya.

Sementara itu, kerja sama dengan Belanda yang dilakukan dalam pembuatan kapal ini diharapkan mampu memberi manfaat dengan adanya transfer teknologi kepada anak bangsa.

“Kerja sama ini dilakukan dengan sistem teknologi tinggi, sehingga PT PAL nantinya diharapkan bisa membangun sendiri PKR secara mandiri,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam membuat PKR dibagi dalam enam modul atau bagian, empat modul di antaranya dibuat di PT PAL, sedangkan dua modul yang terdiri dari permesinan dan anjungan kapal dibangun di Belanda.

“Apabila prosesnya selesai, dua modul dari Balanda dibawa dan dirakit ke PT PAL serta dijadikan satu dengan enam modul yang dikerjakan di galangan kapal, meski demikian kualitas kapal ini mendapatkan pengawasan khusus dari Belanda,” katanya.

(Antara)

March 22, 2015

PT  PAL bikin sendiri kapal selam pada 2016

PT PAL Bikin Sendiri Kapal Selam 

MINGGU, 22 MARET 2015 | 06:08 WIB

PT PAL Bikin Sendiri Kapal Selam pada 2016

Kapal selam Changbogo, merupakan pengganti kapal selam 209 milik TNI-AL. Kapal selam buatan Korea Selatan ini merupakan jenis kapal selam serang, kapal ini lisensi dari Type 209-1200 buatan Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW), sedangkan Changbogo dibuat pabrikan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Us Navy/Benjamin Stevens

TEMPO.CO Malang : Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin mengatakan pembangunan infrastruktur kapal selam di Indonesia direncanakan pada 2016 untuk menindaklanjuti penunjukkan perusahaan pelat merah itu dalam memproduksi kapal selam dari Kementerian Pertahanan.

“Kami bangun dulu infrastrukturnya, sebab kami belum punya dan hanya punya landasannya kapal selam. Dengan adanya infrastruktur, ke depan kami bisa lebih banyak produksi kapal selam,” ucap Arifin di Malang, Jawa Timur, Sabtu 21 Maret 2015.

Ia mengatakan kebutuhan Indonesia terhadap kapal selam sangat tinggi karena mayoritas wilayah Nusantara adalah laut, sehingga sistem pertahanan berupa kapal selam sangat dibutuhkan.

“Kami melihat kebutuhan kapal selam Indonesia sebenarnya sebanyak 12 kapal selam. Sementara saat ini kita hanya punya sedikit. Itu pun produksi lama,” katanya.

Menurut Arifin, saat ini sedang ada pembuatan 3 kapal selam. “Sebanyak dua unit kapal selam dalam proses dibuat di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Lalu, satu unit dibangun di PT PAL Indonesia,” katanya.

Untuk membuat kapal selam, PT PAL Indonesia mendapatkan kucuran penyertaan modal negara sebesar Rp 1,5 triliun untuk tiga unit kapal selam. Pembuatan kapal itu telah mendapat dukungan dari DPR dan alokasi biayanya juga menyangkut pengiriman tenaga ahli ke Korea Selatan untuk belajar pembuatan kapal selam.

ANTARA


+++++

21 Maret 2015

Infrastruktur Kapal Selam Dibangun 2016

21 Maret 2015

Lokasi untuk pembangunan infrastruktur kapal selam (photo : Kaskus Militer)

Malang, Jawa Timur (ANTARA News) – Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), M Firmansyah Arifin, mengatakan, pembangunan infrastruktur kapal selam di Indonesia direncanakan pada 2016, untuk menindaklanjuti penunjukkan perusahaan plat merah itu dalam memproduksi kapal selam dari Kementerian Pertahanan.

TNI AL memproyeksikan memiliki enam kapal selam baru, melengkapi dua kapal selam saat ini, KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402, yang merupakan Tipe-209 dari Jerman. Korea Selatan menjadi salah satu alternatif penting sumber pengadaan keenam kapal selam baru itu selain kelas Kilo dari Rusia.

“Kita bangun dulu infrastrukturnya, sebab kita belum punya dan hanya punya landasannya kapal selam. Sehingga dengan ada infrastruktur, ke depan bisa lebih banyak produksi kapal selam,” ucap Arifin, di Malang, Sabtu.

Ia mengatakan, keperluan Indonesia terhadap kapal selam sangat tinggi karena wilayahnya mayoritas adalah laut, sehingga kekuatan alutsista berupa kapal selam sangat dibutuhkan.

“Kalau kita melihat akan kebutuhan kapal selam sebenarnya Indonesia membutuhkan sebanyak 12 kapal selam. Sementara saat ini kita hanya mempunyai sedikit, itu pun produksi lama,” katanya.

Terkait dengan rencana pembuatan kapal selam, Arifin menjelaskan saat ini sedang dalam proses produksi tiga unit, di antaranya satu unit akan dibangun di Indonesia, dua lainnya sedang dalam proses pembuatan di Korea Selatan.

“Sebanyak dua unit kapal selam dalam proses dibuat di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Lalu, satu unit dibangun di PT PAL Indonesia,” katanya.

Untuk itu, sebelum memulai produksi satu unit kapal selam pihaknya akan membangun sejumlah infrastrukturnya terlebih dahulu, sehingga ke depan bisa dilanjutkan dengan produksi secara mandiri.

Sebelumnya, untuk merealisasi kapal selam PT PAL Indonesia mendapatkan kucuran penyertaan modal negara sebesar Rp1,5 triliun untuk membangun tiga unit kapal selam dengan nilai Rp500 miliar perunit.

Pembangunan itu, telah mendapat dukungan dari Komisi VI dan Komisi I DPR, dan alokasi biayanya juga menyangkut pengiriman tenaga ahli ke Korea Selatan untuk belajar pembuatan kapal selam.

Arifin berharap, ketika PT PAL Indonesia sudah memulai produksi kapal selam, akan memperkuat persenjataan Indonesia, khususnya di wilayah laut.

(Antara)

March 18, 2015

Menghadirkan Superioritas Udara Ke Tengah Samudera

dari defense studies
http://defense-studies.blogspot.com/2015/03/menghadirkan-superioritas-udara-ke.html

17 MARET 2015

Pesawat intai strategis B-737 AEW&C (photo : DID)

TNI Angkatan Udara bertekad menghadirkan superioritas udara ke tengah samudera guna melaksanakan security coverage bagi kekuatan laut dalam mendukung visi Poros Maritim Dunia.

Visi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo disambut baik dan didukung penuh oleh TNI Angkatan Udara. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna menandaskan hal tersebut di sela Rapat Pimpinan TNI AU yang dilaksanakan awal Februari lalu di Jakarta dan dihadiri 306 komandan satuan dari seluruh jajaran TNI AU.

Dikatakan, relevansi TNI AU sebagai pembina kekuatan secara signifikan menentukan peran TNI AU sebagai subsistem dalam pertahanan poros maritim dunia. “TNI AU harus bisa menghadirkan superioritas udara ke tengah samudera, melaksanakan security coverage bagi naval forces,” ujar Agus Supriatna, alumni AAU 1983. “Ärtinya, Sistem Pertahanan Maritim tidak hanya butuh TNI Angkatan Laut yang kuat, namun juga TNI AU yang lebih kapabel,” jelasnya.

ADIZ dan FIR

Dalam rangkaian pembangunan poros maritim dunia, KSAU juga menyoroti masalah penerapan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ – Air Defence Identification Zone). ADIZ dinilai penting sebagai wilayah payung perlindungan maritim dan ruang udara untuk menjaga keseimbangan geostrategi. Penetapan ADIZ di atas Pulau Jawa dipandang sudah tidak sesuai lagi dan ini harus menjadi suatu pemikiran bersama termasuk di dalamnya TNI AU. Menurut KSAU, penentuan ADIZ yang benar adalah harus mencakup seluruh wilayah kedaulatan NKRI hingga Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan harus berintegrasi dengan kekuatan Pertahanan Udara.

Pesawat intai maritim strategis B-737MR (photo :: Andrei Mihaila)

Untuk hal tersebut, pemerintah dan instansi terkait lainnya perlu membuat suatu pengaturan hukumnya sebagai wadah melakukan tindakan-tindakan dalam upaya pengendalian ruang udara. Hal yang sama juga terkait dengan pengelolaan Wilayah Informasi Penerbangan (FIR – Flight Information Region) di atas Pulau Natuna dan Kepulauan Riau. Terkait hal ini, TNI AU terus berupaya mendorong untuk segera diambil oleh Pemerintah Indonesia. “Tentunya, pemerintah harus menyiapkan sarana dan prasaran yang dapat meyakinkan dunia penerbangan internasional bahwa Indonesia sudah bisa mengontrol FIR di atas wilayah tersebut,” ujar KSAU.

Pesawat intai strategis

Dengan tidak mengubah rencana strategisnya, TNI AU saat ini tengah menetapkan prioritas program pembangunan kekuatannya guna mendukung Visi Poros Maritim Dunia. Peningkatan kemampuan tiga pesawat intai strategis B737-200 Surveiller Skadron Udara 5 masuk dalam program tersebut.

Disamping itu ada pengadaan pesawat intai strategis modern yang perencanaannya sudah masuk dalam daftar rencana strategis di Kementerian Pertahanan.

Pesawat intai maritim taktis CN-235MPA (photo : M. Rafi Hadytama)

Agus Supriatna menhatakan, di era modern ini TNI AU sudah saatnya harus memiliki pesawat intai strategis yang modern sebagaimana negara tetangga telah memilikinya, yakni pesawat jenis AWACS (Airborne Warning and Control System) atau AEW&C (Airborne Early Warning and Control). Pesawat ini berkemampuan memberikan deteksi dini dan data-data sasaran yang terintegrasi baik dengan kekuatan udara maupun kekuatan laut.

“Dengan duduk di pesawat ini saja, kita sudah bisa mengontrol semua pergerakan sasaran baik di udara maupun di atas permukaan. Demikian juga bila terjadi perang udara,” ujarnya seraya mennggambarkan bahwa TNI AU akan optimal bila memiliki tiga pesawat jenis ini untuk ditempatkan di wilayah barat, tengah, dan timur.

Menurut Agus Supriatna, TNI AU memang lebih cocok mengoperasikan pesawat intai strategis, ketimbang pesawat intai taktis (seperti CN 235 MPA) yang lebih pas dioperasikan oleh TNI AL.

Angkasa Magazine, no 6 Maret 2016, tahun XXV

March 17, 2015

TNI Tempatkan 6 Meriam Howitzer di Perbatasan Malaysia

provokasi untuk konfrontasi?

SELASA, 17 MARET 2015 | 18:51 WIBPasukan Marinir Angkatan Laut mengisi ulang Meriam Howitzer ketika melakukan Bantuan Tembakan Artileri dalam Latihan Puncak Armada Jaya di Pantai Sekerat, Sangatta, Kalimantan Timur, Kamis (10/11). Latihan bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik di daerah Alur Laut Kepulauan Indonesia yang merupakan perbatasan dengan negara tetangga, melibatkan 4000 ribu personil AL, 23 kapal Perang, 3 pesawat cassa, 3 Helikopter, 1600 pasukan Pendarat Marinir, dan 93 kendaraan Tempur. TEMPO/Seto WardhanaTEMPO.CO, Lumajang – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menambah alat utama sistem persenjataan  (alutsista) baru berupa meriam Howitzer 155 mm KH-179 sebanyak 18 unit. “Meriam ini buatan Korea tahun 2011. Termasuk baru, kami belum pernah memakai,” kata Komandan Pusat Persenjataan Artileri Medan Brigadir Jenderal Sonhaji, Selasa siang, 17 Maret 2015. Meriam-meriam buatan Korea ini akan ditempatkan di tiga daerah untuk memperkuat pertahanan Indonesia. “Enam unit meriam kami tempatkan di Berau, Kalimantan Timur; enam di Ngabang, Kalimantan Barat; dan enam di Aceh,” kata Sonhaji. Menurut Sonhaji, TNI AD memiliki meriam dengan keunggulan masing-masing. Howitzer 155 mm, misalnya, mempunyai daya jangkau hingga 30 kilometer karena kalibernya besar.  TNI, kata dia, juga punya beberapa jenis meriam yang dapat dipakai di segala medan. “Tergantung lapangannya. Kalau untuk medan seperti ini (pantai berbukit) bagusnya meriam tarik,” katanya.  Howitzer sendiri, kata dia, sangat berguna digunakan untuk latihan bersama atau latihan gabungan. “Meriamnya di atas kendaraan, dipakai di medan yang lebih sulit, butuh kecepatan.” TNI Angkatan Darat menggelar uji coba meriam Howitzer siang ini di Pantai Watu Godek, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Uji coba meriam ini dilakukan dengan menembakkan amunisi ke tiga sasaran dengan jarak jangkau yang berbeda. Ada dua jenis amunisi yang ditembakkan, yakni high explosive dan rocket assisted projectile. Sasaran penembakan meriam adalah Dampar, yang berjarak 11 kilometer dari lokasi penembakan; Pandan Arum (18 kilometer); serta Pandan Wangi (30 kilometer).DAVID PRIYASIDHARTA

March 12, 2015

Pengganti Si Macan Harus Menggentarkan

 
11 Maret 2015

F-5 Tiger II TNI AU (photo : Kaskus Militer)

April 2015 genap 35 tahun F-5E/F Tiger bertugas di TNI Angkatan Udara. Dalam waktu dekat, pemerintah ingin mengganti pesawat tempur yang dibuat di pabrik Northrop Corporation Amerika Serikat itu. Tahun ini, menurut rencana, pemerintah akan memutuskan penggantinya sehingga tahun 2018 pesawat tempur multifungsi pengganti itu sudah datang dan bisa beroperasi.

Sejak tahun lalu, TNI, khususnya TNI AU, memberi sinyal lebih menginginkan Sukhoi Su-35 sebagai pengganti F-5. Misalnya disampaikan Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna di sela-sela Rapat Pimpinan TNI AU pada Februari 2015. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan, TNI AU menginginkan generasi pesawat tempur ke-4.5. “Kami inginkan yang punya faktor deterrence, yaitu efek gentar tinggi di kawasan,” katanya.

TNI AU sudah mengajukan beberapa nama jenis pesawat kepada Kementerian Pertahanan. Selanjutnya, Kementerian Pertahanan yang akan melakukan kajian, di antaranya dari segi harga untuk satu skuadron yaitu 16 pesawat, efek gentar, spektrum ancaman, strategi pertahanan, dan faktor politik.

Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Djundan Eko Bintoro mengatakan, Kementerian Pertahanan belum memutuskan dan masih akan terus menimbang-nimbang sejumlah faktor. Namun, ada beberapa jenis pesawat calon pengganti F-5 yang mencuat, yaitu F-16 blok 60 dari Lockheed Martin, Gripen E/F dari SAAB, Sukhoi Su-35, dan Typhoon dari Eurofighter.

Setiap pesawat tentu memiliki spesifikasi teknis yang harus dibanding-bandingkan kekuatan dan kelemahannya serta dipertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan Indonesia. Sukhoi Su-35, misalnya, biaya pengoperasiannya sangat tinggi, yaitu Rp 400 juta per jam. Aviationweek.com menyebutkan, salah satu versi Gripen JAS 39, yang merupakan pesawat tempur ringan mesin tunggal, biaya operasinya 7.500 dollar AS per jam atau Rp 97,5 juta per jam.

Namun, soal harga, Sukhoi bisa dikatakan paling murah. Menurut media pemerintah Rusia Behind The Headline Indonesia, Sukhoi Su-35 dijual dengan harga 38 juta dollar AS, yang berarti hampir sepertiga dari Typhoon Eurofighter yang sama-sama bermesin ganda. Namun, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Francisco Jose Viqueira Niel menyatakan masa hidup mesin jet Typhoon mencapai 30 tahun yang berarti juga sekian kali lipat dari mesin Sukhoi.

F-15SG RSAF dan Su-30MK2 TNI AU (photo : David Tamboto)

Transfer teknologi

Salah satu faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah terkait Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Kepala Bagian Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan Said Didu mengatakan, setelah pihak pengguna, dalam hal ini TNI AU, menyebutkan spesifikasinya sesuai kebutuhan, baru diselisik kembali menggunakan UU Industri Pertahanan. Salah satu amanat yang harus dipenuhi adalah soal transfer teknologi, penggunaan konten lokal, imbal dagang, dan kompensasi yang nilainya 35 persen dari harga persenjataan yang dibeli.

Said mengatakan, idealnya konten lokal, transfer teknologi, imbal dagang, dan kompensasi terkait produk yang mau dibeli langsung. Untuk pembelian pengganti F-5, misalnya, bisa diadakan transfer teknologi untuk program pembuatan pesawat tempur KFX bersama Korea Selatan yang beberapa minggu lalu dinyatakan akan diteruskan. Hal ini menjadi amanat undang-undang yang harus diperjuangkan mengingat, walau secara formal pesawat-pesawat yang akan dibeli itu menyatakan siap transfer teknologi, faktanya tentu tidak semudah itu.

Selama ini, walau belum maksimal, kerja sama teknologi sudah dilakukan dengan Lockheed Martin pembuat F-16 dan pabrik pesawat Spanyol, CASA, yang sekarang tergabung dalam Airbus Defence and Space. Namun, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin juga menyatakan, Rusia bersedia melakukan transfer teknologi. SAAB dalam pameran Indo Defence 2014 lalu menyatakan bersedia melakukan produksi bersama dengan PT Dirgantara Indonesia.

Merujuk aspek teknis, hal ini tentu sangat kompleks, apalagi disesuaikan dengan ketersediaan radar Indonesia dan luasnya wilayah Indonesia. Hal itu tentu menjadi tugas TNI AU untuk mengkaji sesuai kebutuhan operasional. Sebagai ilustrasi, lepas dari teknologinya, jangkauan radar saja sangat bervariasi. Gripen JAS-39 dengan PS 05/A bisa mendeteksi pesawat lain pada jarak 120 kilometer, sementara F-16 dengan radar APG-80 dengan antena AESA bisa menjangkau jarak 140 km. E-Captor yang merupakan radar terbaru Typhoon, menurut aircraft.wikia.com, bisa mendeteksi target seluas 1 meter persegi pada jarak 185 km dan pesawat penumpang normal pada jarak 370 km. Sementara Sukhoi Su-35 dengan Irbis-E radar jangkauannya mencapai 400 km.

F/A-18A Hornet RAAF dan Su-30MK2 dan Su-27SKM TNI AU (photo : Aus DoD) 

Negara Tetangga

Yang juga harus dipertimbangkan tentu pesawat jet tempur yang dimiliki negara-negara tetangga dan senjata yang melengkapi. Dari daftar yang ada terlihat kekuatan pesawat jet tempur kita masih tertinggal jauh dari segi kuantitas dan kualitas teknologi. Dalam World Defence Almanac 2014, terlihat negara-negara tetangga Indonesia telah dilengkapi dengan pesawat-pesawat generasi ke-5.

Contoh Australia, jajaran pesawat jet tempurnya terdiri dari 33 pesawat Hawk 127, 55 pesawat F-18A, 16 pesawat F-18B, dan 24 pesawat F-18F Super Hornet. Tahun 2018, pesawat tempur F-35 yang dipesan Australia diharapkan sudah datang. Malaysia saat ini memiliki 10 pesawat MiG-29N/MiG-29NUB, 6 pesawat F-5E, 2 pesawat F-5F, 2 pesawat RF-5E, 8 pesawat F-18D, 14 pesawat Hawk 208, dan 18 pesawat Sukhoi 30MK. 

Singapura, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, diperkirakan memiliki 37 F-5 Tiger II, 24 pesawat F-15SG, dan 62 pesawat F-16 C/D blok 52 yang 14 di antaranya sedang dipakai latihan di AS. Tahun 2014, Singapura menambah F-15 SG menjadi 40 pesawat dan Februari 2015, Singapura menyatakan kemungkinan besar akan membeli pesawat F-35. Sementara Indonesia saat ini memiliki pesawat jet tempur yang terdiri dari 12 pesawat F-16 A/B blok 15, 5 pesawat F-16 C/D blok 25 yang di-upgrade menjadi 52, 16 pesawat Sukhoi Su-27/30 MKI, dan 9 pesawat F-5 E/F Tiger.

Terkait dengan kedaulatan udara, tentu bangsa Indonesia mengharapkan memiliki angkatan udara yang kuat dengan jet-jet tempur yang mumpuni. Namun, dalam perjalanan bangsa ini, pembelian alat utama sistem persenjataan dipersepsikan sarat dengan korupsi dan kepentingan elite tertentu. Semoga dugaan ini salah. 

(Kompas)

March 12, 2015

Pengganti F-5 Tiger : F-16 Block 60 Atau Su-35 ?

Dari Defence Studies Blog, 11 Maret 2015
http://defense-studies.blogspot.com/2015/03/pengganti-f-5-tiger-f-16-block-60-atau.html

F

Untuk meningkatkan kemampuan tempurnya, KSAU menyatakan bahwa TNI AU saat ini membutuhkan pesawat tempur di atas generasi keempat sebagai pengganti F-5 Tiger yang sudah menua. Dari sejumlah tawaran yang masuk, TNI AU cenderung menginginkan pesawat generasi lebih tinggi dari yang dimiliki saat ini.

“Kalau F-16 ya dari Block 60. Kalau Sukhoi ya Su-35. Itu harapan kami mudah-mudahan pemerintah mengabulkan. Supaya para teknisi kita juga tidak mengalami kesulitan ,” ujarnya. Seperti diketahui, TNI AU sudah berpengalaman mengoperasikan F-16 selama 25 tahun dan Sukhoi selama 12 tahun.

Sementara itu pergelaran kekuatan pesawat tempur ke seluruh pangkalan strategis di Indonesia merupakan salah satu program yang kini gencar dilakukan. Guna menunjang poros maritim, TNI AU juga mengembangkan beberapa satuan untuk mengoptimalkan kinerjanya.

Beberapa pangkalan TNI AU di wilayah perbatasan ditingkatkan statusnya . Seperti Lanud Ranai di Natuna, Lanud Tarakan, Lanud Leo Wattimena di Morotai, dan Lanud Merauke. Beberapa lanud lain juga akan ditingkatkan menjadi Tipe A seperti Lanud Supadio, Lanud Roemin Nurjadin, dan Lanud Suryadarma.

Pergelaran kekuatan pesawat tempur ke lanud-lanud perbatasan dinilai sangat tinggi nilainya dibanding harus mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk pembangunan skadron tempur di tempat-tempat tersebut. TNI AU hanya tinggal memperbaiki infrastruktur untuk bisa didarati dan digunakan. “ Pesawat tempur kan geraknya cepat. Jadi yang penting adalah kesiapan dan kehadirannya,” urai KSAU.

Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan datangnya pesawat-pesawat tambahan tersebut TNI AU mampu mendukung biaya operasionalnya ? Sedangkan TNI AL saja mengalami hal dimana kapal-kapalnya kesulitan beroperasi karena kekurangan bahan bakar. “Ya mudah-mudahan pemerintah meningkatkan anggarannya. Saat ini kami bersyukur anggaran tiap tahunnya bertambah,” tutup KSAU.

Angkasa Magazine, no 6 Maret 2016, tahun XXV

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers