Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

June 3, 2016

Vietnam Minat Beli CN-295 dari Indonesia

03 Juni 2016

Vietnam telah mempunyai 3 pesawat C-295M hasil pembelian langsung ke Airbus Military, Spanyol (photo : Long Ethan)

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Vietnam berminat membeli pesawat jenis CN-295 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia. Ini adalah pesawat terbang militer yang bisa dijadikan pesawat terbang komuter sipil terbaru yang ada dalam daftar inventori PT Dirgantara Indonesia.

TNI AU telah memiliki sebarisan CN-295 (C-295 menurut nomenklatur yang diberikan Airbus Military sebagai perusahaan pembuat asal/pemegang lisensi), yang dimasukkan ke dalam Skuadron Udara 2, yang ditempatkan di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Pesawat terbang turboprop yang lisensi produksinya dipegang Airbus Military ini bisa dikatakan sekelas dengan A-27 Spartan buatan Alenia, Italia).

“Tadi kami melanjutkan pembicaraan rencana pembelian CN-295,” ujar Kalla, seusai bertemu bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Vietnam, Trinh Dinh Dung, di sela World Economic Forum on ASEAN 2016, di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.

Namun Kalla tidak menjelaskan secara teknis tentang rencana pembelian pesawat tersebut, termasuk mengenai jumlah unit. Selama ini TNI AU dan TNI AL memesan sejumlah CN-235 dari PT Dirgantara Indonesia; salah satunya seturut kontrak pembelian yang ditandatangan pada penghujung dasawarsa ’90-an.

Negara-negara yang telah memesan CN-235 di antaranya Korea Selatan dan Brunei Darussalam.

Perdagangan beras dari Vietnam ke Indonesia juga dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Kalla juga menyampaikan pandangan Indonesia yang sama dengan Vietnam dalam sengketa wilayah perairan Laut China Selatan.

Walau pernah beberapa kali terjadi gesekan di laut antara Indonesia dan China di perairan kedaulatan Indonesia di Laut Natuna, Indonesia tidak termasuk negara yang mengklaim wilayah perairan yang disengketakan Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan China itu.

Sementara itu, seusai mengikuti WEF on ASEAN di Kuala Lumpur pada 1-2 Juni 2016, Wapres dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla beserta rpmbongan langsung bertolak menuju Tanah Air.

Sebelum melakukan pertemuan bilateral dengan Trinh, Kalla bertemu dengan petinggi Amnesty International.

(Antara)

May 8, 2016

Investasi Prototipe Tank Medium Pindad Mencapai USD30 Juta

07 Mei 2016

Model tank medium Pindad (photo : Defense Studies)

Indonesia-Turki Kembangkan Tank Medium Senilai USD30 Juta

JAKARTA – PT Pindad (Persero) menggandeng perusahaan asal Turki FNSS Savunma Sistemleri (Defense System), untuk mengembangkan tank medium guna memperkuat pertahanan militer kedua negara.

Direktur Utama Pindad, Silmy Karim mengatakan latar belakang kerja sama tank jenis ini karena banyak dipakai di beberapa negara. Dan menjadi potensi bagi kedua perusahaan.

Pengarang buku Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia ini, menerangkan kerja sama ini memakan investasi USD30 juta. Pada tahap awal, kedua negara sepakat menyelesaikan prototipe yang berlangsung sekitar tiga tahun. Tahun ini sudah memasuki tahun kedua setelah proyek dimulai akhir 2015 kemarin.

“Investasinya untuk research and development sebesar USD30 juta untuk dua unit prototipe tank,” katanya kepada Sindonews, Kamis (5/5/2016).

Meski tank prototipe ini belum diberi nama, namun kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini kemampuan tank kolaborasi Pindad dan FNSS mumpuni seperti produksi negara maju lainnya.

Bobot tank tidak lebih dari 30 ton dan dipasang kemampuan teknologi mutakhir terkini. Sehingga bobotnya yang ringan membuatnya akselerasinya sempurna dan lincah.

“Bahkan kami ingin memperingan menjadi 25 ton. Hingga kini, tank-tank medium memiliki berat di atas 30 ton,” katanya.

Selain bobotnya yang lincah, kelebihan lainnya adalah pada kemampuan tembak tank ini yang kaliber pelurunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan pemesanan. Bahkan kaliber yang digunakan juga cukup besar, mulai meriam 105 mm hingga bisa ditingkatkan menggunakan meriam 120 mm. Proyek kedua negara ini ditargetkan selesai untuk dikenalkan kepada publik pada 2017 mendatang.

April 27, 2016

Drone “Wulung” Kantongi Sertifikat dari IMAA

27 April 2016

Drone Wulung yang diproduksi oleh PT DI (photos : detik)

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Dengan dikeluarkannya sertifikat tipe ini, maka proses rancang bangun dan spesifikasi teknis serta batasan operasi pesawat yang tercantum dalam data sheet sertifikat tipe telah memenuhi ketentuan atau aturan kelaikan udara.

Sertifikat tipe Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung diserahkan oleh Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kepada PTDI dalam acara penyerahan Type Certificate pada 26 April 2016 di Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia (Persero), Jalan Pajajaran No. 154 Bandung.

Sertifikat tipe (Type Certificate) adalah tanda bukti terpenuhinya persyaratan kelaikudaraan sesuai peraturan keselamatan penerbangan sipil dalam hal rancang bangun pesawat udara, mesin pesawat udara dan baling-baling pesawat udara.

PTTA Wulung dirancang sebagai sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan autopilot, menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah.

PTTA Wulung mempunyai bobot maksimal 125 kg, kapasitas tangki bahan bakar 35 liter, menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22 Horsepower (Hp). Dengan sistem autopilot yang terintegrasi dipesawat, PTTA Wulung dapat melakukan misi secara automatis.

Uji terbang pertama dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat. PTTA Wulung telah melakukan 13 kali uji terbang sertifikasi.

Uji terbang ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan terbang, kemampuan mission payload yaitu kamera FLIR (Forward Looking Infrared), dan memastikan bahwa seluruh komponen dan peralatan Ground Control Station PTTAWulung berjalan dengan baik.

Dengan didapatkannya Type Certificate PTTA Wulung dari Indonesian MilitaryAirworthiness Authority (IMAA), PTTA Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi.

Salah satu keunggulan Wulung ini yakni mampu terbang hingga radius 100 kilometer (km) dari pusat pengendali, hingga 3 jam. Pesawat tanpa awak ini juga mampu terbang dengan ketinggian jelajah maksimal 5.500 kaki (feet).


Siap Produksi Masal

Sementara itu, untuk pembangunan satu unit PTTA Wulung siap terbang dibutuhkan waktu enam minggu, dengan estimasi tiga minggu untuk produksi struktur, satu minggu untuk integrasi dan dua minggu untuk testing seperti ground test, kalibrasi, dan berbagai macam pengujian lainnya.

Tahap produksi massal untuk PTTA Wulung akan dimulai pada awal Mei 2016. Dan diharapkan sesuai rencana, tiga unit PTTA Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

April 15, 2016

KF-X/IF-X dan Mimpi Jet Tempur Indonesia

Kompas 14 April 2016

Pesawat tempur KF-X/IF-X (photo : Kompas)

Kecil kemungkinan Indonesia bakal terlibat perang fisik dengan negara lain. Namun, sebagai negara berdaulat, negara lain tak boleh semaunya melintasi wilayah Indonesia tanpa otorisasi dari Pemerintah Indonesia. Kenyataannya, beberapa kali wilayah Indonesia dilanggar kedaulatannya oleh negara lain.

Kapal pencuri ikan, penjaga pantai, ataupun pesawat terbang dari negara lain berkali-kali memasuki wilayah Indonesia tanpa izin. Komando Pertahanan Udara Nasional mencatat, sepanjang 2014 terdapat 50 pelanggaran wilayah, tahun berikutnya 182 kali. Kasus paling hangat adalah kapal pencuri ikan yang dijaga kapal penjaga pantai Tiongkok beroperasi di sekitar Natuna.

Kenyataan ini membuat harapan agar Indonesia memiliki pesawat tempur dan kapal perang andal untuk mencegah pelanggaran kedaulatan tersebut tak mungkin dihilangkan.

Pemerintah Indonesia pun tak menyia-nyiakan tawaran Korea Selatan untuk menanam modal plus ikut serta dalam riset dan pembangunan pesawat tempur generasi 4,5.

Kerja sama dimulai dengan penandatanganan kesepakatan yang tidak mengikat tentang pengembangan proyek jet tempur Korea Fighter Experimental (KF-X) oleh Pemerintah Indonesia dan Republik Korea, 9 Maret 2009. Total pembiayaan proyek sampai 2026 ini direncanakan sekitar 8 miliar dollar Amerika Serikat dan dibagi antara Korsel (80 persen) dan Indonesia (20 persen).

“Meskipun penyertaan modal Indonesia hanya 20 persen, kita bisa mengakses data 100 persen,” kata Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Timbul Siahaan. Indonesia juga terlibat dalam semua tahapan, baik perancangan maupun produksi, yakni fase pengembangan teknologi, fase rekayasa dan pengembangan produksi, serta fase produksi dan fase pemasaran bersama.

Tahapan pertama, fase pengembangan teknologi, berlangsung 18 bulan sejak Agustus 2011. Pada tahapan ini dibangun spesifikasi dan kebutuhan sistem, desain konfigurasi KF-X, dan identifikasi teknologi inti pengembangan pesawat tempur. Sebanyak 37 ahli teknik Indonesia dari Kemhan, Institut Teknologi Bandung, TNI AU, dan PT Dirgantara Indonesia (DI) dikirimkan. Indonesia menanggung biaya 10 juta dollar AS sebagai bagian 20 persen penyertaan modalnya.

Tahap rekayasa dan pengembangan produksi sempat tertunda karena Korsel belum menyediakan anggaran. Baru akhir 2014 Pemerintah Korsel mengumumkan dokumen tender dan komitmen pendanaannya. Kontrak antara Kementerian Pertahanan Korsel dan Korea Aerospace Industries (KAI), kontrak penyertaan modal antara Kementerian Pertahanan RI dan KAI, serta kontrak kerja antara PT DI dan KAI ditandatangani 28 Desember 2015.

Produksi KAI tidak asing untuk Indonesia. Indonesia adalah konsumen asing pertama untuk pesawat latih KT-1 dan pesawat tempur T-50 Golden Eagle.

Konsorsium

Proyek KF-X berawal dari keinginan Korsel mengganti armada pesawat tempur F-4 dan F-5 yang habis masa pakainya pada 2025-2026 dengan 250 pesawat tempur generasi 4,5.

Tender proyek dimenangi konsorsium KAI dengan perusahaan pembuat alutsista Amerika Serikat, Lockheed Martin. Korsel kemudian menawarkan kerja sama penyertaan modal dalam proyek ini ke Indonesia. Dengan penyertaan modal 20 persen, Indonesia akan membawa pulang 50 pesawat tempur yang cukup untuk mengisi tiga skuadron.

Namun, sebelum produksi massal itu, KAI dan PT DI harus bekerja sama dan sampai 2021 menyelesaikan enam prototipe. Salah satu di antara prototipe ini akan menjadi milik Indonesia dan diharapkan menjadi cikal bakal pesawat tempur Indonesia Fighter Experimental (IF-X). Selain itu, tambah Timbul, PT DI juga akan menjadi perusahaan yang memproduksi bagian ekor kanan semua pesawat tempur KF-X.

PT DI pun mulai membangun hanggar dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Sayangnya, Indonesia belum memiliki izin ekspor dari Amerika Serikat untuk memproduksi pesawat tempur. Dalam pertemuan dengan Menhan Ryamizard Ryacudu, Menhan Korsel Han Min-Koo mengatakan akan mendukung Indonesia mendapatkan izin ekspor ini.

Pada pertemuan rombongan Kemhan dan KAI di Sacheon, 24 Maret lalu, Mayor Jenderal Paryanto menanyakan sikap Korsel dan KAI jika AS tidak setuju dengan pengembangan di Indonesia. “Apakah Korea akan mempertahankan kerja sama dengan Indonesia dan melepaskan diri dari AS atau sebaliknya memelihara hubungan dengan AS dan gagal kerja sama dengan Indonesia?” tanya Paryanto.

Wakil Presiden Eksekutif Senior dan Manajer Umum KAI Group Jang Sung-Sub mengakui, AS adalah pemain dunia dalam industri dirgantara. KAI tak bisa mengacuhkan sikap AS. “Saya menyarankan Indonesia terus menjaga kerja sama yang baik dengan AS,” tuturnya.

Direktur Program KF-XJung Kwang-Sun mengakui pertanyaan ini terlalu sulit dijawab. Namun, hal itu dapat diantisipasi dengan pertemuan tiga pihak, yakni Indonesia, Korea, dan AS. Pemerintah Korsel dan Indonesia harus semaksimal mungkin memuluskan kerja sama ini.

Presiden Direktur KAI Ha Sung-Yong tetap menebar optimisme. “Proyek KF-X/IF-X sangat penting bagi Indonesia, demikian pula untuk KAI. Apa pun masalah yang terjadi, kami akan berusaha supaya proyek ini berhasil,” tuturnya.

Ryamizard pun tetap memelihara asa kemandirian industri pertahanan Indonesia. Meski saat proyek rampung tahun 2026, teknologi pesawat tempur saat itu mungkin sudah jauh lebih canggih ketimbang generasi 4,5. Dia meyakinkan pengembangan IF-X akan dilanjutkan. “Enggak mungkin baru lahir sudah bisa lari, merangkak dululah,” ujarnya.

(Kompas)

April 12, 2016

24 F-16 C/D Siap Operasional pada 2017

11 April 2016

F-16C/D TNI AU (photo : defence.pk)

Penambahan Pesawat Tempur F-16 Perkuat Lanud Pekanbaru

Pekanbaru, CNN Indonesia — Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Roesmin Nurjadi (RSN) Marsma TNI Henri Alfiandi menyatakan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru terus memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) pada Skadron Udara 16 dengan kembali mendatangkan pesawat F-16 hingga akhir tahun 2016.

Henri mengatakan pesawat tempur F-16 rencana utuhnya akan berdatangan pada akhir 2016 dan siap operasional pada 2017. “Secara keseluruhan akan ada penambahan 24 pesawat F16 pada akhir 2016,” kata Henri di Pekanbaru, Sabtu (9/4), seperti dikutip Antara.

Henri menyebutkan nantinya ke-24 pesawat itu selain memperkuat Skadron 16 juga Skadron Udara 3 Iswahyudi, Jawa Timur. “Sekarang (Lanud RSN) ada tujuh unit F-16. Tambah lagi sampai 24, nanti dibagi dan sisanya dijadikan satu di Skadron Udara 3,” tutur dia.

Menurut Henri kedatangan pesawat tempur buatan Amerika itu terus dilakukan meski ada beberapa hambatan antara lain produksi komponen.

Namun, ia memastikan Skadron Udara 16 yang ada di Lanud RSN saat ini akan ditambah dan diperkuat dengan rencana kedatangan puluhan pesawat canggih tersebut pada awal 2017. “Proses terus berjalan, walaupun ada hambatan namun tidak menghalangi perencanaan kita karena telah kita perhitungkan semuanya,” kata dia.

Dia menambahkan momen HUT TNI AU ke-70 pada 9 April 2016 ini menjadi waktu tepat untuk meningkatkan alutsista dan modernisasi angkatan.

“Alhamdulillah, kita memiliki peningkatan signifikan, terutama pengadaan alutsista dan modernisasi angkatan. itu yang saya lihat secara fakta,” ujarnya.

Saat ini Lanud RSN memiliki dua skadron pesawat tempur sejalan dengan peningkatan status Lanud tersebut dari tipe B menjadi tipe A pada Agustus 2015. Dua Skadron itu adalah Skadron Udara Hawk 100/200, Skadron Udara F16 dan ditambah Skadron pemeliharaan.

(CNN)

+++++

Kompi Kavaleri TNI Akan Dibangun Di Lelowai-Belu NTT

08 April 2016

Kompi kavaleri akan dibangun di wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste (photo : Zona Satu)

POS KUPANG.COM, ATAMBUA — Setelah memiliki Batalyon Infantri (Yonif) 744 Satya Yudha Bhakti (SYB) dan Yonis 725 Woroagi sebagai satuan tugas (satgas) pengamanan perbatasan (Pamtas) RI-RDTL, kini Kabupaten Belu akan memiliki satuan TNI berupa Kompi Kavaleri (Kokav) yang akan dibangun markasnya di Lelowai, Desa Derok Faturene, Kecamatan Tasifeto Barat (Tasbar).

Rencana pembangunan Markas Kokav ini semakin menguat dengan adanya kunjungan tim Mabes TNI angkatan darat (AD) yang dipimpin Asisten Perencanaan Angkatan Darat (Asrenad) Kolonel Infanteri Agustinus YR ke Atambua, Kamis (07/04/2016).

Kunjungan Tim Mabes TNI AD itu diterima Bupati Belu, Willybrodus Lay didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Belu, Vivi Lay Ng di ruang VIP Bandara AA Bere Tallo.

Komandan Kodim (Dandim) 1605 Belu, Letkol Infanteri Mochammad Nanang Nazmudin, sebagai penanggung jawab Pembangunan Kokav kepada wartawan saat kunjungan para petinggi TNI itu mengatakan kunjungan ini untuk melihat secara dekat pembangunan Kompi Kavaleri Serbu yang sesuai Renstra Mabes TNI AD dibangun di Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.

(Pos Kupang)

April 3, 2016

PNG Pertimbangkan untuk Beli Panser Anoa PT Pindad

dari defense-studies.blogspot.co.id

03 April 2016

Panser Anoa 6×6 buatan PT Pindad (photo : Baron)

Luhut : PNG Pertimbangkan untuk Beli Panser Anoa PT Pindad

Papua Nugini menyampaikan ketertarikannya pada produk alutsista buatan Indonesia dan mempertimbangkan panser Anoa buatan PT. Pindad dalam pertemuan bilateral delegasi kedua negara di Port Moresby Jumat (1/4/2016), kata Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan.

Namun, dalam jumpa pers tentang hasil kunjungan misi delegasi RI ke Republik Fiji dan Papua Nugini yang berlangsung di atas pesawat Boeing 737-400 TNI-AU dalam penerbangan pulang ke Jakarta dari Port Moresby, Luhut mengaku belum mengetahui jumlah panser Anoa yang akan dibeli negara jiran itu.

“Soal berapa yang mau dibeli, itu masalah teknis,” katanya.

Dalam pertemuan bilateral delegasi RI-PNG yang berlangsung di salah satu ruangan yang ada di gedung parlemen negara itu, Luhut mengatakan dia menyampaikan kesediaan Indonesia membeli gas alam cair Papua Nugini dan melakukan kerja sama terkait hilirisasi minyak sawit, katanya.

Menurut Luhut, Indonesia juga bersedia membantu Papua Nugini yang akan menjadi tuan rumah KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) tahun 2018, khususnya terkait dengan asistensi bidang intelijen dan keamanan.

Selain itu, Indonesia pun mendukung penguatan konektivitas melalui membuka penerbangan langsung dari Port Moresby ke Jayapura dan sejumlah bandar udara lain di wilayah Papua dan Papua Barat, seperti Biak, Sorong dan Merauke, katanya.

“Silahkan kapan saja Papua Nugini siap,” kata Luhut Binsar Pandjaitan.

Menyinggung tentang hasil kunjungan delegasi RI ke Suva, Republik Fiji, dia mengatakan Fiji menekankan pentingnya kerja sama di bidang pendidikan, pertanian, dan pengolahan air. Bahkan Fiji menawarkan kepada investor Indonesia untuk mengembangkan industri pengolahan air di sana, katanya.

Melihat respons pemerintah kedua negara itu, Luhut menilai positif hasil yang dicapai dalam misi kunjungan bilateral delegasi Indonesia ke Fiji dan Papua Nugini itu.

Bahkan keikutsertaan kapolda Papua yang putra asli Papua, serta gubernur, wakil gubernur maupun pejabat yang mewakili pemerintah provinsi berpenduduk keturunan Melanesia seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur telah memberikan pandangan yang positif dari Fiji dan Papua Nugini, katanya.

“Mereka juga ‘respect’ (hormat) pada Kapolda Papua Brigjen (Pol) Paulus Waterpauw. Jadi, kebijakan kita terhadap Pasifik Selatan ini harus agresif dan holistik,” kata Luhut.

Dalam memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Pasifik Selatan itu, Luhut mengatakan kehadiran utusan khusus yang cakap sangat penting guna mendukung pendekatan holistik pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Tanah Air, termasuk di wilayah Papua.

Disamping itu, untuk mendukung penguatan hubungan dengan negara-negara di Pasifik Selatan itu, Fiji bisa menjadi basis (hub) Indonesia sehingga keberadaan Kedubes RI di Suva, Fiji, maupun Port Moresby, Papua Nugini, perlu mendapat perhatian.

(GalaMediaNews)

March 31, 2016

Pasukan Elit TNI Disiapkan Bebaskan Sandera Kapal

30 Maret 2016

Persiapan operasi gabungan TNI (image : Jawapo, Detik, ManadoPost)

Siap Siaga!!TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU Kumpul di Tarakan 

JAKARTA – Keluarga warga Sulawesi Utara (Sulut) yang disandera kelompok radikal Abu Sayyaf, tak perlu khawatir. Pemerintah Indonesia mengaku sudah menyiapkan cara untuk menyelamatkan mereka. Yakni, Peter Tonsen Barahama (Tahuna), Julian Philip (Bitung), Alvian Elvis Repi (Airmadidi). Ketiganya termasuk dengan 10 warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan teroris Filipina ini.

Saat ini, Kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan di tangan otoritas Filipina. Sedangkan Kapal Anand 12 dan 10 orang awak kapal, masih berada di tangan pembajak. Namun belum diketahui persis keberadaannya. Dalam komunikasi melalui telepon kepada perusahaan pemilik kapal, pembajak/penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan. Sejak 26 Maret, pihak pembajak sudah dua kali menghubungi pemilik kapal.

Jubir Kemenlu RI Arrmanatha Nasir menjelaskan, saat dibajak kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. Kami belum mengetahui persis kapan kapal dibajak. Namun, pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan 26 Maret 2016.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan pihak Menhan Filipina. Sebab, saat ini, posisi tahanan berada di wilayah kedaulatan Filipina. Sehingga TNI tidak bisa masuk begitu saja.

Menhan memastikan, TNI dalam posisi siap Siaga, jika sewaktu-waktu diperlukan Filipina untuk melakukan  pembebasan. ’’Kami monitor terus. Kapal patroli AL sudah siap di Dekat Ambalat,’’ ujar Ryacudu di Kantor Kemhan, Jakarta, kemarin. Namun, jika pihak Filipina menyatakan kesiapannya, Indonesia tidak akan memberikan bantuan militer.

Sementara terkait negosiasi, dia menegaskan jika hal tersebut menjadi domain Kementerian Luar Negeri. Termasuk kemungkinan melakukan penebusan atau tidak. ’’Kalau kita bisa lepas tanpa bayar ya buat apa bayar,’’ imbuhnya. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mensinyalir, perampok memanfaatkan ketegangan Laut Cina Selatan untuk melakukan aksinya. ’’Sudah saya sampaikan dari dulu, harus ada patroli bersama. Kalau ada patroli bersama tak akan ada perompak pencuri ikan,’’ tuturnya.

Diketahui, mulai kemarin pasukan TNI dari berbagai matra sudah mendarat di Tarakan, Kalimantan Utara. Mereka disiagakan di Pangkalan Aju Tarakan, jika operasi militer diperlukan untuk pembebasan sandera.

Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim Laksma TNI I Nyoman Gede Ariawan mengatakan, mendapat perintah untuk mengoordinasi kekuatan laut. ”Dalam operasi penyelamatan sandera disiagakan 5 KRI, 1 helikopter, 2 pesawat fixed wing, dan sea rider. Saat ini, Pasukan Katak sedang menuju Tarakan untuk merapat di pangkalan aju,” ungkap Ariawan kepada Radar Tarakan (Manado Post Group), kemarin.

Ariawan mengungkapkan, operasi penyelamatan sandera merupakan operasi gabungan TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU. ”Semua unsur TNI terlibat dalam operasi penyelamatan sandera. Khusus untuk TNI-AL sudah ada pasukan khusus yang menggunakan sea rider dalam operasi penyelamatan nantinya,” jelas dia.

Soal skenario penyelamatan sandera, Ariawan belum bisa memberitahukan ke media bagaimana prosesnya. Sebab, masih dilakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam operasi penyelamatan. ”Saya sudah mempunyai pengalaman upaya pembebasan MV Sinar Kudus. Ini bisa menjadi pengalaman dalam operasi penyelamatan sandera kali ini. Untuk target dan kapan dimulai operasi penyelamatan, saya belum bisa beritahukan karena masih perlu koordinasi,” terangnya.

Komandan Lantamal XIII Tarakan Laksamana Pertama TNI Wahyudi Dwiyono mengatakan, Dermaga Lantamal XIII Tarakan ditetapkan sebagai pangkalan aju karena posisinya sangat strategis. Yaitu hanya 180 nautical mile dari rencana operasi penyelamatan sandera. ”Kekuatan unsur TNI akan bergeser ke Tarakan. Nanti ada sekitar 159 pasukan TNI-AL, TNI-AD, dan TNI-AU yang berdatangan ke sini karena Tarakan merupakan pusat Pangkalan Aju,” ucapnya.

Saat ini, Lantamal XIII Tarakan sudah menyiapkan semua kebutuhan logistik unsur TNI yang terlibat dalam operasi penyelamatan. ”Lantamal XIII Tarakan sudah siap menjadi pangkalan aju. Saat ini, akomodasi sudah kami persiapkan, mulai bahan makanan, bahan bakar, hingga kebutuhan lainnya, selama menjalankan operasi penyelamatan,” bebernya.

Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo menyampaikan hal yang sama. Anggota Kopassus berada dalam keadaan siap Siaga. ’’Setiap waktu diminta siap. Itu kan kewenangan pemerintah. Kalau Danjen kita disuruh siap,’’ ujar Joko saat dihubungi. Untuk peristiwa khusus, lanjutnya, selain Kopassus, satuan lainnya adalah Paskhas dan Denjaka.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Edi Sucipto menambahkan, ada atau tidak ada penyanderaan, KRI TNI AL sudah siaga di berbagai lokasi di sekitar perairan utara Indonesia. ’’Kami selalu siap, kalau ada perintah,’’ terangnya saat dihubungi Jawa Pos (Manado Post Group).

(ManadoPost)

March 31, 2016

“Kendaraan Intai Tempur” TNI Pakai Fin Komodo

31 Maret 2016

Fin Komodo kendaraan taktis ringan (photo : Fin Komodo)

Jakarta, KompasOtomotif – Jadi salah satu prinsipal kendaraan lokal yang masih bertahan, PT Fin Komodo Teknologi (FKT), terus memperluas pasarnya. Masih menggunakan produk andalan, Komodo, kali ini pihaknya sedang dalam proses kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Komodo versi militer yang sedang dalam tahap uji coba Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD. (photos : Kompas)

Kerja sama antara FKT dan TNI, nantinya akan menelurkan “Kendaraan Intai Tempur” yang punya kualiatas menjelajah medan non-aspal. Produk belum diproduksi besar, karena sampai saat ini masih dalam tahap pengujian.

“Memang untuk produk baru kami belum keluarkan lagi, namun saat ini kami sedang bekerja sama dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD. Hanya tinggal melalui tahap uji terakhir, dijatuhkan dari pesawat, baru setelah itu akan berlanjut ke proses selanjutnya,” ujar Dewa Yuniardi, Marketing FKT, Selasa (29/3/2016).

Fin Komodo versi militer yang masih dalam proses uji coba.

Dewa melanjutkan, kerja sama yang dilakukan FKT dengan TNI tentu akan memberi keuntungan baik. Merek kendaraan nasional ini, nantinya bisa lebih dipercaya konsumen untuk dibeli.

“Saat ini masih banyak yang masih ragu untuk membeli Komodo, pastinya terkait kepercayaan akan kualitasnya. Namun, jika kerja sama dengan TNI berhasil, maka ini bisa jadi batu loncatan untuk bisa semakin dipercaya. Seperti diketahui, TNI punya standar cukup tinggi,” tutur Dewa saat ditemui di pameran komponen INAPA di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

March 18, 2016

Menanti Kemampuan Maksimal Leopard

Memprihatinkan !

Kompas 18 Maret 2016

MBT Leopard 2 TNI AD (photos : Kaskus Militer)

Komisi I DPR mengunjungi Markas Batalyon Kavaleri 8 Kostrad di Pasuruan, Jawa Timur, yang menjadi operator tank tempur utama-main battle tank (MBT)- Leopard buatan Krauss-Maffei dan Rheinmetall, Jerman, Jumat (19/2). Ternyata tank kebanggaan yang dibeli era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu masih kurang kelengkapannya sehingga belum dapat beroperasi maksimal. Tidak hanya kelengkapan tank Leopard yang belum dipenuhi TNI, sarana latihan pun masih terbatas.

“Alat pengatur tembakan tidak ada sehingga dilakukan manual, pengindera malam (night vision) tidak ada, perkakas dongkrak tank ukuran 20 ton yang tersedia hanya 10 ton sehingga tak bisa untuk perbaikan kubah. Persenjataan ringan juga belum ada,” tutur anggota Komisi I DPR TB Hasanudin.

Meriam Leopard ukuran 120 milimeter adalah yang terbesar di jajaran tank milik TNI. Hasanudin menjelaskan, dengan jangkauan kaliber meriam sebesar itu, lapangan tembak milik TNI AD yang ada terlalu kecil. Selama ini, ukuran meriam tank yang ada berkisar 75 milimeter dan 90 milimeter.

“Akhirnya, yang bisa digunakan adalah Air Weapon Range (AWR) lapangan uji penembakan dan pengeboman TNI AU di Lumajang,” kata Hasanudin.

Kecanggihan MBT sekelas Leopard juga mencakup kemampuan menyelam dengan perlengkapan snorkel hingga peperangan Nuklir-Biologi-Kimia (Nubika). Tank Leopard memiliki panjang 9,97 meter dan berat 63 ton. Sebuah tank yang diangkut ke daerah operasi selalu diangkut dengan tank transporter, yakni truk besar dengan bak pengangkut yang untuk Leopard menggunakan truk Astra buatan Iveco dengan panjang keseluruhan 20 meter lebih.

KSAD (ketika itu) Jenderal Pramono Edhie Wibowo pada tahun 2012 memaparkan rencana gelar kekuatan atau deployment MBT Leopard dalam tiga kali rapat dengar pendapat di Komisi I DPR. Pada rapat dengar pendapat pertama, disebutkan KSAD MBT Leopard ditempatkan di perbatasan Kalimantan dengan Sabah-Sarawak untuk efek gentar. Apalagi Malaysia memiliki MBT PT91 buatan Polandia yang ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Indonesia di Kalimantan. Pada rapat dengar pendapat kedua disebutkan, MBT Leopard ditempatkan di ibu kota provinsi di Pontianak (Kalbar) dan Samarinda (Kaltim).

Namun entah kenapa, pada rapat dengar pendapat ketiga disebutkan, MBT Leopard ditempatkan di Jawa, di Jawa Barat dan Jawa Timur, di bawah Divisi I dan Divisi II Kostrad.
Pramono Edhie mengklaim mendapat 100 tank Leopard seharga 287 juta dollar AS. Sebelumnya dengan anggaran yang sama hanya didapat 44 unit dari Belanda (Kompas 2/2/2012).

Selanjutnya pada arsip Kompas 8 Maret 2012 diklaim Pramono Edhie, Jerman menawarkan transfer teknologi dalam pembelian MBT Leopard. Ada kemungkinan mekanisme produksi bersama, kata Pramono Edhie, ketika itu.

Bagaimana mengangkut Leopard ke luar Jawa? . Kementerian Pertahanan telah memesan landing ship tank khusus yang bisa mengangkut tank seberat Leopard. Salah satu yang sudah diresmikan ialah KRI Teluk Bintuni yang dibuat di dalam negeri oleh PT Daya Radar Utama.

Menanggapi belum lengkapnya MBT Leopard, Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksamana Muda (TNI) Leonardi mengatakan, dari 163 tank Leopard yang dibeli, sudah 103 yang datang yang terdiri dari 61 unit MBT Revolution dan 42 unit MBT 2A4. Menurut Leonardi, semua akan dilengkapi agar kekuatan MBT Leopard dan sarana pendukungnya sesuai rencana semula. Mari kita tunggu kemampuan maksimal MBT Leopard itu.

(Kompas)

++++++

KRI Bintuni Dimodifikasi Angkut Tank Leopard

19 Maret 2016

KRI Teluk Bintuni 520 LST (photo : DRU)

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia belum memiliki landing ship tank (LST) khusus pengangkut tank tempur Leopard. Karena itu, KRI Teluk Bintuni-520 dimodifikasi demi keperluan tersebut. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Laksamana Madya Widodo yang ditemui di Jakarta, Kamis (17/3), mengatakan, semula KRI Teluk Bintuni dirancang mengangkut tank-tank Korps Marinir ukuran 30 ton.

“Sedang dilakukan modifikasi dan juga dibangun satu LST sejenis di Galangan Daya Radar Utama, Lampung. LST tersebut masing-masing dapat mengangkut tujuh tank Leopard,” kata Widodo.

Indonesia membeli 100 tank Leopard berbobot lebih 60 ton dengan meriam kaliber 120 milimeter (Kompas, 16/3). Pada buku Postur Pertahananan Indonesia 2009-2014 disebutkan, perencanaan pembelian tank untuk TNI AD adalah tank ringan ukuran 30 ton.

Menurut Widodo, latihan pendaratan tank Leopard baru bisa dilakukan setelah LST KRI Teluk Bintuni siap. Akhir tahun diharapkan tank Leopard sudah lengkap dan bisa melakukan latihan.

7-10 tank Leopard diproyeksikan bisa diangkut LST TNI AL (photo : metrotvnews)

Menurut Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf, sulitnya penggunaan tank Leopard sebagai akibat pengadaan alutsista tanpa perencanaan. Kemhan pun masih melanjutkan evaluasi dan upaya untuk melengkapi alutsista yang sudah ada.

Mengutip buku di atas, Al Araf menyatakan, pembelian tank Leopard terkesan tergesa-gesa dan tidak ada perencanaan pengadaan tank jenis berat. “Saat itu, prioritas Indonesia membeli light tank dan medium tank, bukan MBT,” ujarnya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, pemerintahan saat ini tetap pada prinsip untuk melengkapi alutsista yang ada. Evaluasi terus dilakukan sambil menambahkan peralatan-peralatan yang diperlukan.

(Kompas)

March 17, 2016

TNI AU Bangun Pertahanan Misil Udara Berbasis Radar Automatis di Pekanbaru

Riau Online 16 Maret 2016

Lanud AU kelas A akan dilengkapi dengan meriam pertahanan udara Skyshield (photo : Kompas)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna, mengatakan, Mabes TNI AU akan memperpanjang landasan pacu (runway) Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Tak hanya memperpanjang landasan pacu yang juga digunakan untuk Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II), KSAU mengungkapkan, bakal ada pembangunan Skuadron Teknik (Skatek) yang menunjang aktivitas Lanud Tipe A Roesmin Nurjadin.

“Selain itu, kita juga akan menambah armada pesawat tempur F-16. Pesawat ini merupakan pesawat tempur model terbaru dan ukurannya lebih besar dari tipe Hawk, sebelumnya telah digunakan di Lanud Pekanbaru ini,” kata perwira bintang empat itu, Selasa, 15 Maret 2016, saat melakukan kunjungan kerja di Pekanbaru.

Kunjungan kerja KSAU di Pekanbaru selama dua hari. Hari pertama, Senin, 14 Maret 2016, Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud, Mayor Sus Rizwar mengatakan, Marsekal Agus mengecek seluruh peralatan tempur dan fasilitas Lanud.

KEPALA Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna, berjalan menuju pesawat militer TNI AU, Selasa, 15 Maret 2016, di Lanud Roesmin Nurjadin. Kunjungan kerja KSAU ini selama dua hari guna melihat kesiapan Lanud sebagai Lanud Tipe A.

Mantan Atase Pertahanan Indonesia di Singapura ini kemudian menjelaskan, TNI AU akan membangun pertahanan misil udara berbasis radar automatis sebanyak empat unit di Lanud. Ujicoba Pertahanan Misil Udara ini, tutur Agus, akan dilakukan di lokasi Area Weapon Range (AWR) di Siabu, Bangkinang.

“Untuk membangun itu semua, penambahan skuadron, detasemen, dan perluasan lahan tentu membutuhkan anggaran tidak sedikit. Kita sudah bicarakan ini (dana) dengan Plt Gubernur Riau,” kata Agus Supriatna sebelum menuju pesawat militer jenis Boeing bertuliskan TNI Angkatan Udara Indonesia Indonesia Air Force di bagian bodinya.

Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, saat ditanyakan mengenai bantuan apa yang akan diberikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) ke TNI AU, ia mengatakan, harus ada regulasi kembali untuk mengatur itu semua.

“Karena ini untuk kepentingan keamanan negara, harus ada regulasi kembali dengan kementerian terkait di pusat dan ini akan di-follow up kembali bersama” ujarnya.

(Riau Online)