Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

December 14, 2015

Pindad Sukses Lakukan Uji Tembak Panser Ba

14 Desember 2015

dak

Panser kanon Badak buatan Pindad (all photos : defence.pk)

Bandung – Panser Cannon 90mm “Badak” buatan PT Pindad (Persero) sukses menjalani uji tembak. Kegiatan yang merupakan bagian dari proses sertifikasi oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD) itu berlangsung antara 10 sampai 12 Desember 2015 di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Kami bersyukur bahwa uji penembakan dinilai oleh pihak Dislitbang TNI AD berhasil dengan baik,” ujar Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Bandung, Minggu (13/12).

Panser 90 mm Badak melakukan uji tembak dengan menggunakan 19 munisi kaliber besar. Panser buatan anak-anak bangsa itu melakukan serangkaian materi uji. Pengujian pertama yaitu masuk ke titik tengah sasaran dengan menggunaka 10 butir munisi.

Selanjutnya dilakukan penembakan arah jam 12, di mana turret dan kendaraan menggunakan 5 butir munisi. Lalu, dilakukan penembakan arah jam 6, di mana turret mengarah ke target dan badan kendaraan berbalik 180 derajat. Setelah itu dilakukan penembakan arah jam 3, di mana turret mengarah ke target dan melepaskan 2 butir munisi.

Semua penembakan mengenai target sasaran yang berukuran 4×4 m dengan jarak kurang lebih 1 km dan kendaraan dalam stabil dan terkendali.

Silmy menuturkan, rangkaian uji tembak Paner Badak itu merupakan bagian dari proses sertifikasi untuk memastikan performa panser buatan anak-anak bangsa ini sudah sesuai dengan Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD. Uji tembak itu bisa terlaksana dengan baik berkat dukungan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Kementerian Pertahanan, Asisten Logistik Kasad, Dislitbang TNI AD, Gudang Pusat Amunisi Bojong Koneng, dan Pusdikif di Cipatat.

“Kami berharap dengan kerja sama baik ini, Panser Badak dapat segera memperkuat jajaran alutsista TNI AD tahun depan,” ujar Silmy.

Sementara itu, uji tembak secara lebih spesifik dilaksanakan untuk mengukur akurasi tembakan senjata utama, yaitu turret 90 mm. Ini merupakan hasil kerja sama dengan CMI Defence, perusahaan pertahanan dari Belgia. Regional Director for Asia and Indonesia CMI Defence, Patrick Ledig menyampaikan apresiasi pada hasil kerja tim PT Pindad.

“Para staf ahli kami yang ikut hadir dari Belgia bekerja sama dengan Dislitbang TNI AD telah memastikan bahwa selama proses uji tembak kondisi kendaraan atau platform Panser Badak terlihat stabil,” ujar Patrick.

Dalam proses pengembangan Panser Badak, awak PT Pindad bekerja sama dengan CMI Defence untuk memperoleh keahlian dalam manufaktur turret 90mm sebagai bagian dari proses transfer of technology.

“Para staf kami yang terlibat dalam program manufaktur turret 90mm telah menyelesaikan proses pelatihan dan mulai kegiatan manufaktur di Pindad. Jadi, produk kendaraan dan senjata utama Panser Badak di fase produksi massal nanti merupakan karya anak bangsa,” tambah Silmy.

Di fase produksi, tidak kurang dari 25 hingga 30 Panser Badak bisa dilahirkan setiap tahun dari pabrik PT Pindad di Bandung. “Kapasitas produksi ini bisa kami tambahkan untuk menyesuaikan dengan peningkatan permintaan dari TNI AD atau Kementerian Pertahanan,” kata Silmy.

Pindad mulai memperkenalkan Panser Badak dalam pameran IndoDefence 2014 di Jakarta. Kendaraan tempur itu dirancang sebagai program lanjutan pengembangan varian Panser Anoa sekaligus menjembatani kebutuhan fungsi penggempuran oleh TNI AD.

PanserBadak dimodifikasi dengan mesin diesel 6 silinder berkekuatan 340 tenaga kuda, monocoque body yang bisa menahan tembakan amunisi hingga 12,7 mm, dan penggunaan teknologi double wishbone independent suspension untuk menjaga kestabilan kendaraan saat menembakkan cannon 90 mm.

Setelah uji tembak, beberapa mata pengujian lain, seperti uji laboratorium dan uji jelajah eksternal, akan dilaksanakan bersama Dislitbang AD. Hasil pengujian yang maksimal tentunya diharapkan agar Panser Cannon 90 mm Badak dapat menjadi salah satu produk unggulan PT Pindad di masa depan sekaligus menjadi kebanggaan TNI dan bangsa Indonesia.

Selain mulai memproduksi Badak, pada triwulan I 2016, PT Pindad juga akan memperkenalkan produk senjata baru kepada publik.

(Berita Satu)

December 14, 2015

Setelah N219, Dirgantara Indonesia dan Lapan Garap N245

Bravo PT DI !
Mengharukan walaupun sumber daya sangat terbatas mereka terus berkarya buat bangsa. bandingkan dengan politikus (tikus) Senayan yang bergelimang harta dan kuasa.. APA KARYA MEREKA ???????
12 Desember 2015

Pesawat N219 buatan LAPAN bersama PT DI (photo : Detik)

TEMPO.CO, Bandung – PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih menyimpan rencana pengembangan sederet pesawat lainnya setelah sukses merancang pesawat N219 yang diperkenalkan perdana Kamis, 10 Desember 2015.

“Selanjutnya, N234 untuk 50 penumpang. Ini sudah mulai disiapkan. Berikutnya generasi N270 untuk 70 penumpang,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Thomas mengatakan, lembaganya ditunjuk pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional sebagai lembaga riset dan pengembangan pesawat terbang, lalu PT Dirgantara menjadi pengembang manufaktur pesawat.

“Pada 2011, Lapan secara resmi membentuk Pusat Teknologi Penerbangan,” katanya. Pembuatan N219 menjadi kerja sama perdana Lapan dan Dirgantara Indonesia.

Thomas memperkirakan, pengembangan N219 bersama PT Dirgantara Indonesia menyedot dana Rp 500 miliar hingga pesawat itu mendapat sertifikasi laik terbang dari pemerintah yang ditargetkan pada 2017. Pengembangan N219 juga masih terus berlanjut dengan pengembangan variasi lainnya. “Sesuai kebutuhan user,” ujarnya.

Thomas mengatakan, rencana pembuatan N245 sudah memasuki tahap desain lewat pengujian di fasilitas wind-tunnel atau terowongan angin. “Sudah mulai konsep desain awal, beberapa sudah mulai pengujian,” katanya.

Dia mengaku, biaya yang dikeluarkan masih terhitung kecil. Namun Thomas enggan memerincinya. Lembaganya bersama PT Dirgantara berencana mengajukan pendanaan khusus pada pemerintah untuk membiayai pembuatan prototipe N245.

Thomas mengaku belum bisa menaksir dana yang dibutuhkan untuk pembuatan pesawat N245. “Belum ada gambaran, tapi yang jelas lebih mahal dari ini (N219),” katanya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan, pesawat N245 merupakan generasi terbaru dari pesawat CN235 yang sudah diproduksi PT Dirgantara. “Kami lagi membangun pesawat CN235 yang dimodifikasi menjadi N245,” kata Andi di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

Andi mengatakan, perbedaan mencolok dengan pesawat CN235 ada pada bagian ekornya. Pesawat N245 dirancang dengan memodifikasi bagian ekor pesawat CN235 yang memiliki ramp-door atau pintu belakang yang bisa dibuka. “Pintu belakang itu dicopot sehingga bisa membawa penumpang yang tadinya 42 penumpang menjadi 50 penumpang,” katanya.

Menurut Andi, ramp-door atau pintu belakang itu menjadi kelebihan CN235 untuk memenuhi fungsi ganda pesawat tersebut, yakni sebagai pesawat sipil sekaligus pesawat militer. “Pintu belakangnya besar sehingga bisa nerjuni orang. Nah, N245 itu dicabut supaya lebih ringan karena pintu itu berat,” ujarnya.

Andi mengatakan, dengan mencabut pintu besar itu, N245 dirancang lebih ringan kendati ukurannya bakal lebih panjang agar memuat penumpang hingga 50 orang.

Dia optimistis pengembangan pesawat N245 bakal lebih cepat dibandingkan saat mengembangkan N219. “Basisnya sudah ada. Tahun 2019 itu diharapkan sudah selesai dan bisa dijual,” kata Andi.

(Tempo)

December 10, 2015

Presiden Jokowi Perintahkan KSAU Meninjau Pesawat N219 Buatan PT DI

KASAU yang satu ini ingin jadi Komut Westland /Agusta , Pak Jokowi !

KSAU  Agus Supriatna tidak percaya produk PT DI !

 

Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews
Presiden Jokowi Perintahkan KSAU Meninjau Pesawat N219 Buatan PT DIPerakitan pesawat N-219: Foto: pool
Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedianya akan menghadiri penampilan perdana pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia. Namun kemudian Jokowi memerintahkan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna untuk mewakili dirinya di acara tersebut.

Pesawat N219 dibuat oleh 300 insinyur anak bangsa yang dirancang sejak tahun 2007. Target awal purwarupa atau prototype dari pesawat ini adalah Agustus 2015, tetapi kemudian menjadi November 2015 dan akan tampil perdana hari ini.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

Dalam keterangan tertulis dari Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (10/12/2015) disebutkan bahwa Presiden Jokowi sangat mengapresiasi pembuatan pesawat yang 100 persen karya anak bangsa ini. Pesawat N219 juga memiliki kelebihan yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

“Presiden pun sangat berharap agar industri kedirgantaraan di Indonesia untuk mendukung kebijakan penguatan transportasi udara untuk pembangunan di daerah terpencil (remote area), mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar,” tulis ketetangan tersebut.

Pemerintah mengucurkan Rp 400 miliar untuk 2 purwarupa N219. Dana itu disalurkan lewat LAPAN.

Perakitan pesawat N-219: Foto: pool

Harga jual resmi pesawat ini masih belum dirilis, tetapi kemungkinan sekitar US$ 5 juta. Harga ini lebih murah dari kompetitor sehingga Jokowi menilai akan dapat menekan biaya untuk dialokasikan ke anggaran lainnya.

Pesawat N219 akan terbang perdana pada tahun 2016. Selanjutnya diperkirakan bakal memasuki pasar kedirgantaraan dunia pada tahun 2017 setelah melalui proses sertifikasi.
(bpn/dhn)

 

December 8, 2015

TNI AL Kini Gunakan Sistem Komunikasi Satelit

 Selama ini pake apa ya?? Pantes laut kita dijarah kapal ikan asing !!
07 Desember 2015

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, meresmikan penggunaan Siskomsat di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Senin (photo : TribunNews)

Lakukan Modernisasi, TNI AL Kini Gunakan Sistem Komunikasi Satelit untuk Pemantauan dan Kapal Perang

TRIBUNNEWS, JAKARTA – Sistem komunikasi di lingkungan TNI AL kini memasuki era baru dengan menerapkan aplikasi canggih bernama sistem komunikasi satelit (Siskomsat).

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, meresmikan penggunaan Siskomsat tersebut di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Senin (7/12/2015).

Siskomsat TNI AL ini berbasis bantuan Satelit Komunikasi BRIsat (satelit milik BRI) yang telah mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu.

Siskomsat TNI AL ini direalisasikan dalam dua kegiatan.

Pertama, pengembangan Siskomsat TNI AL dengan Backbone C Band untuk kebutuhan darat dan Siskomsat TNI AL dengan Backbone Ku-Band untuk kapal perang (KRI).

KRI Usman Harun 359 (photo : BatamPos)

Pada pelaksanaannya TNI AL juga menjalin kerja sama dengan PT Telkom dan PT LEN, yang akan membantu dari tahap perencanaan teknis, pengembangan software hingga pengadaan hardware-nya.

Dalam rilis yang diterima Tribunnews, Kasal menjelaskan, dalam perang laut modern, komunikasi sangat menentukan keberhasilan operasi.

Selama ini, kata Kasal, sistem komunikasi di lingkungan TNI, baik di darat maupun unsur kapal perang (KRI) yang menggunakan perangkat radio HF, VHF, dan UHF.

Padahal sistem ini memiliki keterbatasan dalam pengoperasiannya karena memiliki data rate rendah.

Demikian juga dengan gelar Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) TNI, yang berada di bawah Komando Pengendalian Panglima TNI, belum optimal diaplikasikan di sebagian besar KRI karena dimensi Antena C-Band yang relatif cukup besar.

“Karena itu TNI AL mengambil peluang kesempatan dengan adanya alokasi satu transponder Ku-Band untuk TNI AL melalui Satelit Komunikasi BRIsat yang mulai mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu,” katanya.

KRI Sultan Iskandar Muda 367 (photo : Detik)

Kasal juga menjelaskan Siskomsat TNI AL akan diaplikasikan untuk penugasan prajurit yang bertugas di pulau-pulau terluar, survellance, mobile trunking, dan backpack prajurit Korps Marinir.

Untuk penggunaan surveillance atau pengamatan, Siskomsat dilengkapi dengan perangkat surveillance yang terdiri dari fasilitas radar, kamera, Automatic Identification System (AIS) transponder, PSTN dan E-mail.

Sebagai Siskomsat mobile atau mobile trunking, kendaraan Siskomsat dilengkapi perangkat Very Short Aperture Terminal (VSAT) dan repeater, serta pada aplikasi bacpack untuk pasukan Korps Marinir.

Sedangkan Siskomsat TNI AL dengan Backbone KU-Band, kata Kasal, diterapkan pada KRI dari unsur-unsur pemukul.

Tahun ini, Siskomsat dengan Backbone KU-Band dipasang di KRI Usman Harun-359 dan korvet KRI Sultan Iskandar Muda-367.

“Aplikasi Siskomsat di pendirat dan KRI dari unsur pemukul diharapkan mampu meningkatkan performa operasi TNI Angkatan Laut yang berkelas dunia,” tegas Kasal.

(TribunNews)

December 5, 2015

Ini Kelebihan Helikopter EC725 Cougar Buatan PT DI

05 Desember 2015

Helikopter EC-725 Cougar (photos : JPNN)

BANDUNG, KOMPAS.com – Menkopolhukkam Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan ketertarikannya pada helikopter EC725 Cougar yang dibuat PT Dirgantara Indonesia (DI).

Luhut pun akan segera melaporkan penilaiannya terhadap helikopter ini kepada Presiden Joko Widodo.

“Presiden memutuskan untuk menggunakan pesawat dalam negeri,” ungkap Luhut saat kunjungannya ke PT DI, Jumat (4/12/2015).

Lalu apa kelebihan dari helikopter EC725?

Direktur Produksi PT DI, Arie Wibowo mengatakan, helikopter EC725 merupakan seri terakhir dari “keluarga” Super Puma.

PT DI baru memproduksi helikopter ini pada 2012 lalu.

Kini, helikopter EC725 telah digunakan oleh lebih dari 30 kepala negara di dunia.

Di antaranya Meksiko, Brasil, Nepal, Kamerun, Cile, Oman, Singapura, Korea Selatan, Perancis, Spanyol, Jepang, dan Uni Emirat Arab.

Helikopter EC-725 Cougar (photos : Tempo)

“Helikopter ini telah terbukti ketangguhannya dalam pertempuran di Lebanon, Chad, Afganistan, Mali, dan Libya,” tambah Arie.

Helikopter EC725 memiliki dua mesin Turbomeca Makila 2A1 yang dapat menghemat biaya perawatan dan konsumsi bahan bakar.

Hebatnya, dua mesin tidak mengakibatkan suhu mesin semakin tinggi, sehingga meminimalisir risiko ditembak musuh yang menggunakan pendeteksi panas.

Helikopter ini memiliki visibilitas yang sangat baik untuk melihat ke bawah dan ke samping.

EC725 juga dapat mendarat di landasan berbatu bahkan bersalju, sehingga memungkinkan untuk digunakan untuk mengantar presiden ke berbagai wilayah di negeri ini.

Tak hanya itu, helikopter ini dapat dipersenjatai karena kecepatan tak akan berkurang meski harus menggendong persenjataan berat.

Helikopter ini telah memiliki sertifikat Sea State 6, dan memiliki pelampung di bagian bawah untuk kondisi darurat yang mengharuskan pendaratan di laut atau air.

Pelampung ini dapat berkembang secara otomatis pada kondisi emergency saat kecapatan pesawat mencapai 150 knot.

“Fuselage dan tailboom helikopter EC725 telah diproduksi PT DI. Kostumasi sesuai spesifikasi VVIP dengan menambahkan rocket launcher, machine gun, dan fitur keamanan lainnya dapat dilakukan PT DI. Sehingga keamanan presiden dapat dijamin karena tidak akan diketahui negara lain,” tutupnya.

(Kompas)

December 5, 2015

Kemhan: Rencana Pembelian Helikopter Angkut Berat Tetap Jalan

04 Desember 2015

Jika tiga helikopter VVIP jenis AW101 ditolak, maka pengadaan enam helikopter angkut berat lainnya tetap diajukan (photo : goldfish)

Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal Ediwan Prabowo, mengatakan rencana TNI Angkatan Udara membeli helikopter untuk transportasi pejabat penting (VVIP/very very important person) memang harus dibatalkan sesuai keputusan Presiden Joko Widodo.

Namun Ediwan berkata, rencana pengadaan helikopter angkut berat oleh TNI AU tetap akan berjalan.

“Helikopter angkut berat sangat dibutuhkan untuk mendukung misi kemanusiaan, bencana alam, operasi SAR, dan pemindahan logistik ke daerah pedalaman. Ini masih dalam pembahasan kami,” ujarnya di kantor Kemhan, Jakarta, Jumat (4/12).

Ediwan memaparkan, ia tidak tahu pasti apakah TNI AU telah memilih AgustaWestland AW-101 untuk kebutuhan helikopter angkut berat atau belum. Seperti diberitakan, helikopter yang sama diajukan TNI AU untuk helikopter VVIP.

“Seingat saya spesifikasi teknologinya sudah ada, tapi bukan tipe ini (AW-101). Yang saya tahu ini memang VVIP. Kalau angkut berat harus yang lebih besar sepertinya,” tuturnya.

Jenderal bintang tiga itu berkata, TNI AU memang yang paling memahami kebutuhan alutsista udara. TNI AU berhak menentukan operational requirement alutsista yang mereka inginkan.

Lebih dari itu, menurut Ediwan, pengadaan helikopter angkut berat tertera pada rencana strategis periode lima tahun ke depan. Ia menilai, PT Dirgantara Indonesia sebagai perusahaan milik negara di sektor industri penerbangan belum mampu memproduksi helikopter jenis itu.

“Kalau belum bisa dibuat di Indonesia maka kami akan beli dari luar negeri dengan catatan, harus ada offset, transfer teknologi, local content dan melibatkan industri dalam negeri,” katanya.

Ediwan mencontohkan, helikopter angkut berat yang biasa digunakan negara lain adalah jenis Chinook yang diproduksi perusahaan asal Amerika Serikat, Boeing.

Berdasarkan penelusuran CNN Indonesia, TNI AU belum memiliki helikopter Chinook.

(CNN)

December 4, 2015

Pembelian Helikopter AW 101 Batal, Ini Alasan Panglima TNI  

Horeeee !

JUM’AT, 04 DESEMBER 2015 | 09:33 WIB

Pembelian Helikopter AW 101 Batal, Ini Alasan Panglima TNI  

Heli AW 101 diproduksi oleh Westland dari Inggris dan Agusta dari Italia. Kerjasama dua perusahaan ini menghasilkan helikopter medium yang memiliki kemampuan beragam, yaitu untu angkut pasukan, anti kapal selam, SAR, dan VVIP, bahkan Italia menjadikan AW 101 sebagai helikopter peringatan dini atau airborne early warning. Heli generasi akhir ini menggabungkan sistem avionik, navigasi, komunikasi, dan keamanan pada tingkatan yang sangat tinggi, ini menjadi alasan mengapa AW 101 harganya mahal. Heli AW101 mampu diterbangkan dengan menggunakan NVG, sehingga pilot dapat menerbangkan heli ini dalam keadaan gelap gulita. AW 101 memiliki kabin yang luas, sangat cocok menjadi helikopter pengangkut VVIP. wikipedia.org

TEMPO.CO, Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan pembatalan pembelian helikopter AW101 merupakan hal yang logis untuk dilakukan.

“Presiden bilang, dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, beli helikopter mahal rasanya kurang tepat,” ucap Gatot saat ditemui di Komando Pertahanan Udara Nasional, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Jumat, 4 Desember 2015.

Gatot berujar, saat rapat bersama Presiden Joko Widodo kemarin, ia memaparkan kepada Presiden akan dua jenis heli: AW101 dan Super Puma. “Kami hanya memaparkan. Yang memutuskan tetap Presiden,” ujarnya.

Menurut Gatot, pertimbangan Presiden adalah masalah ekonomi, terlebih membeli helikopter AW101 yang begitu mahal tapi akan jarang dipakai Presiden RI. “Begitu Presiden batalkan, kami ikut, karena beliau pemimpin tertinggi,” tutur Gatot.

Gatot menganggap apa yang dikatakan Jokowi logis. Presiden juga mengungkapkan kepada Gatot bahwa kondisi helikopter yang ada dirasa masih cukup bagus.

TNI Angkatan Udara sebelumnya berencana mendatangkan tiga helikopter AW101 pada 2016 dan 2018. Heli itu akan digunakan untuk tamu VIP, termasuk Presiden RI, Wakil Presiden RI, dan tamu negara. Helikopter AW101 dibuat AgustaWestland, produsen helikopter Inggris yang bermarkas di Italia.

Hal ini memancing polemik karena helikopter tersebut akan menggantikan helikopter Super Puma produksi PT Dirgantara Indonesia. Terlebih diketahui banyak negara yang membatalkan pembelian helikopter AW101.

DIKO OKTARA

December 2, 2015

Soal Heli Kepresidenan, Menhan Beri Lampu Hijau Untuk TNI AU

Lagi lagi.. Pada membangkang. Pasti ada duit dibalik heli.! Beli dari PT DI tidak ada kickback , karena petinggi TNI Au / Kemhan sudah duduk sebagai komisaris. Westland / Agusta terkenal berani kasih ” amplop” di Belgia beberapa tahun yang lalu terbongkar praktek ” kickback” helikopter agusta yang terjerat saat itu adalah Menhan Belgia yang merangkap sebagai Sekjen Nato !

Elza Astari Retaduari – detikNews
54
SHARES
5406
Soal Heli Kepresidenan, Menhan Beri Lampu Hijau Untuk TNI AU
Foto: Agung Pambudhy

54

0

6
Jakarta – TNI AU berencana membeli helikopter VVIP AgustaWestland AW101. Menhan Ryamizard Ryacudu pun memberi lampu untuk TNI AU meski ada sejumlah polemik mengenai pembelian heli asal Italia itu.

“Sudah berapa kali disarankan, ya nggak apa-apa,” ungkap Ryamizard di Kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Rabu (2/12/2015).

Ryamizard tak mau masalah pembelian heli kepresidenan itu banyak diperdebatkan. Polemik memang terjadi karena sejumlah pihak menilai alangkah lebih baik jika TNI AU membeli heli buatan PT Dirgantara Indonesia, Eurocopter EC-725 Caracal atau yang dikenal dengan sebutan Super Cougar.

“Tapi TNI AU sudah mengkaji, ya sudah. Jangan digede-gedein ntar gue berkelahi lagi tuh, gue nggak mau,” kata Ryamizard.

Entah apa maksud jenderal purnawirawan ini. Ryamizard tak menjelaskan lebih lanjut dengan siapa dia berkelahi.

“Udah pada ribut-ribut tuh di koran, biar aja,” tukasnya.

Lantas bagaimana sebenarnya proses pengadaan helikopter untuk VVIP tersebut?

“Begini ya, itu semuanya kemhan, tapi kan yang paling tahu perlunya kan mereka, saya lihat masuk akal nggak, saya tanya katanya harus ngadep presiden, ya sudah,” jawab Ryamizard.

Akibat menuai polemik, TNI AU pun akan mengkaji ulang rencana pembelian AW101. Hal tersebut akan digodok lagi usai Presiden Joko Widodo pulang ke Tanah Air. Jokowi saat ini tengah menghadiri Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Prancis.

“Betul (akan dikaji ulang). Nanti (dibahas kembali) setelah RI-1 pulang,” ucap KSAU Marsekal Agus Supriatna saat dikonfirmasi, Selasa (1/12).
(elz/dra)

December 1, 2015

Presiden Belum Putuskan Beli Heli Impor

Jok oh Jok.. beli heli saja repot.. bagaimana dengan kasus “jual nama presiden ” dan “papa Setya Novanto minta saham”

 

SENIN, 30 NOVEMBER 2015

 Presiden Belum Putuskan Beli Heli Impor

JAKARTA – Pemerintah belum pasti membeli helikopter kepresidenan. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, kepastian pembelian heli VVIP untuk kepresidenan ini masih menunggu kepulangan Presiden Joko Widodo dari Paris, Prancis. “Kepastian pembelian sampai ada keputusan Presiden,” kata Kalla di Jakarta, kemarin.

Polemik pembelian heli kepresidenan muncul setelah TNI Angkatan Udara berencana membeli AgustaWestland AW101 untuk menggantikan heli Super Puma yang sudah berusia di atas 20 tahun. Heli ini dibuat oleh perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia.

Rencana pembelian ini mendapat kritik dari PT Dirgantara Indonesia-salah satu pembuat helikopter Super Puma. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa pembelian itu tidak sesuai dengan Undang-Undang Industri Pertahanan yang mewajibkan keterlibatan industri nasional dalam pengadaan alat pertahanan dan keamanan. Padahal PT Dirgantara Indonesia sudah memproduksi helikopter tipe Super Puma Mark II NAS 332 alias EC225.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar mengatakan akan mengecek dugaan kemahalan harga AgustaWestland AW101 ini. PT Dirgantara Indonesia mengklaim bahwa EC225 lebih murah ketimbang AW101. Satu unit EC225 dibanderol US$ 35 juta, sedangkan AW101 seharga US$ 55 juta atau setara dengan Rp 756 miliar.

“Sebagai Menkopolhukam, saya punya wewenang kendali ke kementerian di bawah saya,” kata Luhut kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Luhut mengaku belum tahu alasan TNI AU lebih tertarik membeli helikopter AW101. “Untuk pesawat VVIP memang ada standarnya,” kata Luhut.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna enggan menanggapi polemik soal harga ini. Menurut dia, perbandingan harga merupakan urusan Kementerian Pertahanan. Angkatan Udara hanya bisa menyerahkan daftar spesifikasi teknis kebutuhan helikopter ke Kementerian. “Yang memenuhi spesifikasi teknis itu AgustaWestland AW101,” kata Agus, Kamis pekan lalu.

Menurut Agus, jika Presiden tak setuju pun, TNI AU tetap akan membeli AgustaWestland AW101. “Jadi, kalau Presiden tak mau pakai, ya tidak apa-apa. Kami tetap akan menggunakan sebagai helikopter VVIP,” kata Agus. REZA ADITYA | INDRA WIJAYA | ARKHELAUS W. | TIKA PRIMANDARI | ISTIQOMATUL HAYATI

December 1, 2015

Len Kirim Radio VHF LenVDR10-MP untuk Seluruh Batalyon TNI

01 Desember 2015

Radio VHF manpack LenVDR10-MP (photo : Len, Dislitbangad)

Antarajabar.com – PT Len Industri (Persero) mengirimkan 734 unit alat komunikasi Radio VHF Manpack tipe LenVDR10-MP berikut perlengkapannya untuk TNI Angkatan Darat yang siap dioperasikan ke semua batalyon di Indonesia dari Aceh hingga Papua.

“Jadi alhamdulillah 734 unit Radio Manpack tipe LenVDR10-MP dan kita akan deliver bertahap. Hari ini sekitar 400 unit dan sisa sekian unit dikirim pada hari Rabu mendatang (2/12), sekaligus mulai pengetesan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose, di Bandung, Senin.

Pihaknya mengaku bangga bisa diberikan kesempatan pertama kalinya oleh TNI AD untuk membuat alat komunikasi radio VHF tersebut karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan alat komunikasi itu, TNI AD masih mengimpor dari Perancis.

Ia menuturkan pengerjaan kontrak pembuatan alat komunikasi Radio VHF LendVRDR10-MP itu membutuhkan waktu yang cukup singkat yakni sekitar tujuh bulan darii Mei hingga November 2015.

“Namun ada sedikit masalah dikontruksinya. Ini waktu yang relatif singkat, tapi alhamdulillah kita bisa komit dan untuk kami diberikan kesempatan sehingga hari ini bisa mengirimkan 734 unit secara bertahap,” kata dia.

Seluruh software, brainware, desain/kontruksi dari alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut dibuat di dalam negeri.

“Memang untuk komponen, ini problem nasional kalau bicara produk elektronik dari luar karena industrinya belum ada di Indonesia. Kurang lebih (50 persen komponen impor) dan nilai kontraknya relatif masih kecil yakni Rp66 miliar,” ujar dia.

Proses produksi radio udah menggunakan mesin Surface Mount Technology atau SMT yakni teknologi terkini yang digunakan untuk memasang komponen elektronik ke permukaan PCB.

Dengan adanya teknologi SMT, peralatan atau gadget elektronik saat ini sudah dapat didesain dengan ukuran yang lebih kecil karena mesin SMT memiliki kemampuan yang dapat memasangkan chip yang berukuran kecil hingga 0,4 mm x 0,2 mm (Chip SMD resistor 0402) dengan kecepatan sangat tinggi.

Selain itu, dalam kontrak juga terdapat ToT (Transfer of Technology) antara PT Len dengan TNI di mana Len akan melakukan transfer teknologi kepada Bengkel Pusat Perhubungan TNI AD, di bawah koordinasi Direktor Perhubungan Darat yakni tempat pemeliharaan semua perangkat komunikasi di TNI AD.

Berkomunikasi Tanpa Terlacak

Lebih Lanjut Abraham Mose mengatakan alkom Radio VHF LenVDR10-MP tersebut memiliki beberapa kelebihan seperti sistem komunikasi digitalnya didesain dan dibuat sendiri algoritmanya oleh Len dan diperkuat dengan sistem kemanan baik dari segi transec (transceiver security) dan comsec (communication security) yang telah dikembangkan sejak lama oleh para teknisi Len.

Ia menambahkan dari segi transec, LenVDR10-MP sudah menerapkan teknologi hopping 100 hop/second, artinya dalam satu detik komunikasi terjadi perubahan frekuensi 100 kali.
“Iya itu (berkomunikasi tanpa terlacak) karena hoppingnya 100 hop per second jadi 100 kali hop dalam satu detik. Sedangkan dari segi comsec LenVDR10-MP ini telah menggunakan enkripsi daya berbasis AES 128,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Direktur Perhubungan TNI AD Kolonel Chb Sonny W Pondaag menambahkan pihaknya menyampaikan rasa terima kasih karena bisa bekerjasama dengan PT Len Industri (Persero) dalam pembuatan alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut.

“Dan alkom radion ini sudah diuji coba di medan hutan karet, dan sudah cukup bagus dan membanggakan dan karena seperti yang dilaporkan tadi hoppingnya 100 hopping per detiknya,” kata Sonny.

(Antara)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 103 other followers