Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

March 3, 2016

Indonesia Jajaki Penangkis Serangan Udara Buatan Tiongkok

belom kapok beli senjata dari China..

01 Maret 2016

FCS/35 mm AF902 artileri anti serangan udara (photo : Army Recognition)

Beijing (ANTARA News) – Kementerian Pertahanan menjajaki sistem pertahanan udara terintegrasi dan penangkis serangan udara buatan Tiongkok guna memaksimalkan pertahanan obyek vital dan pertahanan pangkalan Pasukan KhasTNI Angkatan Udara.

“Penjajakan ini merupakan bagian upaya untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan TNI sesuai Rencana Strategis 2015-2019,” kata Direktur Jenderal Perencanaan Kementerian Pertahanan RI Marsekal Muda TNI M Syaugi kepada Antara tentang kunjungan kerjanya di Tiongkok pada 25 Februari hingga 1 Maret 2016.

Selama ini, dia menjelaskan, TNI Angkatan Udara telah menggunakan penangkis serangan udara Oerlikon SkyShield MK2 buatan Swiss untuk Detasemen Hanud 473 Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara di Pontianak.

Di Tiongkok, Kementerian Pertahanan RI menjajaki sistem pertahanan udara terintegrasi AF902 FCS serta Penangkis Serangan Udara (PSU) Twin35MM.

“Berdasar paparan dan display yang ditampilkan, sistem pertahanan udara yang ditawarkan cukup bagus begitu pun dengan PSU-nya yang memiliki daya ledak, daya jangkau, akurasi serta presisi bagus, tidak kalah dengan Oerlikon,” kata Syaugi.

“Kita berhak mengadakan alat utama sistem persenjataan dari negara mana pun, asalkan sesuai dengan spesifikasi teknis dan kebutuhan operasi pengguna yakni TNI,” katanya.

Yang tidak kalah penting, menurut dia, setiap pengadaan alat utama sistem persenjataan termasuk dari mancanegera harus menyertakan alih teknologi dan kualitas yang terjamin.

Senjata penangkis serangan udara Twin35 MM jarak efektifnya empat kilometer, dilengkapi dengan sensor unit dan dalam satu menit dapat menembakkan 550 butir peluru.

(Antara)

February 26, 2016

Asia dan Oseania Pasar Terbesar Senjata

Koran Tempo
JUM AT, 26 FEBRUARI 2016

 Asia dan Oseania  Pasar Terbesar Senjata

Perdagangan senjata perang menjadi bisnis yang besar dan terus berkembang. Menurut data yang dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Senin lalu, total volume penjualan senjata dari 2006-2010 ke 2011-2015 meningkat 14 persen di seluruh dunia. Wilayah yang banyak membeli senjata adalah Asia dan Oseania yang meningkat dari 42 persen menjadi 46 persen.

Penjualan senjata di Timur Tengah juga meningkat, dari 18 menjadi 25 persen, dan kini menjadi tempat kedua yang paling penting bagi bisnis senjata. Sekitar 41 persen senjata untuk Timur Tengah dipasok oleh Amerika Serikat. Asia dan Oseania juga menerima 40 persen senjata dari Amerika. Sebanyak 68 persen senjata dari Rusia dijual di wilayah ini. Penjual senjata terbesar ketiga di kawasan ini adalah Cina, yang menjual banyak produknya ke Pakistan, Bangladesh, dan Myanmar. Tiga negara ini berbatasan dengan rival Cina, India. Pasar senjata di Eropa menurun tajam dan negara-negara di Amerika Utara dan Amerika Selatan lebih sedikit belanja senjata.

Inilah persentase importir senjata di dunia pada periode 2006-2010 dan 2011-2015. STATISTA | NURHASIM

February 25, 2016

Presiden: Anggaran TNI Capai Rp 250 Triliun

Buat perangi LGBT bos?

Tempo.co
SELASA, 23 FEBRUARI 2016 | 15:32

Presiden menyampaikan arahan mengenai tantangan menjaga keamanan dari radikalisme, terorisme, dan kesiapan menuju perdagangan bebas sebagai negara maritim. TEMPO/SubektiTEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan meningkatkan alokasi anggaran untuk Tentara Nasional Indonesia. Menurut dia, jika pertumbuhan ekonomi naik di atas 6 persen, anggaran TNI bisa mencapai Rp 250 triliun atau 1,5 persen dari produk domestik bruto. “Anggaran TNI pada tahun sebelumnya 0,89 persen dari PDB. Sekarang paling tidak 1,1 persen,”�kata Presiden saat membuka rapat terbatas mengenai Penguatan TNI di Kantor Presiden, Selasa, 22 Februari 2016. “Kalau ekonomi naik di atas 6 persen, anggaran akan mencapai 1,5 persen atau Rp 250 triliun.” Presiden memerintahkan seluruh menteri mulai menyiapkan peningkatan anggaran untuk TNI. Selain itu, Presiden mengingatkan harus ada perencanaan yang rinci dan matang dalam penggunaan anggaran TNI. “Anggaran harus tepat guna dan terdesain dari awal,” katanya. Jokowi mengatakan perencanaan yang matang diperlukan karena menjadi awal pembangunan strategi kekuatan nasional. Siang ini, Presiden menggelar rapat terbatas mengenai penguatan TNI. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan pemerintah menilai pentingnya melakukan penguatan TNI, termasuk alat utama sistem persenjataan (alutsista). “Sekarang ketahanan dan pertahanan menjadi sangat penting. Maka postur penguatan TNI menjadi materi bahasan khusus Presiden,” katanya. Pramono mengatakan Presiden ingin mengidentifikasi seberapa besar kekuatan yang dimiliki TNI untuk menjaga keamanan negara. Dalam era global, kata Pramono, Presiden memandang kekuatan TNI mencerminkan kekuatan sebuah negara. “Dalam konteks itulah diperlukan TNI dan alutsista yang kuat serta prajurit yang siap tempur,” katanya. Hingga kini rapat terbatas masih berlangsung dan dihadiri sejumlah menteri, seperti Menkopolhukam Luhut Pandjaitan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno. ANANDA TERESIA

February 24, 2016

Pemerintah Terus Bangun TNI

Anggaran Pertahanan Indonesia Bisa Mencapai Rp 250 Triliun

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah terus membangun kekuatan Tentara Nasional Indonesia di seluruh Indonesia. Kekuatan yang ada sejauh ini terpusat di Jawa dan Indonesia bagian barat. Kekuatan TNI kini diprioritaskan ke wilayah lain seperti Indonesia bagian timur.

Presiden Joko Widodo menyampaikan hal itu saat memimpin rapat terbatas tentang Pembangunan Kekuatan TNI di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (23/2). Rapat dihadiri, antara lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo, pimpinan tiga matra TNI, dan sejumlah menteri terkait.

Pemerintah juga memutuskan alokasi anggaran TNI rata-rata di atas 1,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Presiden menggambarkan, anggaran TNI tahun 2015 sebesar 0,89 persen dari PDB, tahun 2014 sebesar 0,78 dari PDB. “Sekarang paling tidak 1,1 persen dari PDB kita. Jika pertumbuhan ekonomi terus naik, paling tidak di atas 6 persen, akan muncul alokasi 1,5 persen dari PDB,” kata Presiden. Apabila porsi tersebut dicapai, anggaran pertahanan bisa mencapai Rp 250 triliun.

“Presiden meminta agar pengembangan kekuatan TNI tidak dilakukan di Jawa saja, betul-betul membawa semangat Indonesia sentris, di wilayah-wilayah strategis di seluruh Nusantara,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung seusai rapat terbatas.

Gatot mengakui, kekuatan TNI belum merata. Ke depan, TNI akan mengembangkan kekuatan di Biak, Morotai, Merauke, dan sejumlah tempat strategis lain di Indonesia bagian timur. “Ini yang selama ini kita lupakan, ini perlu diperkuat dan dikembangkan,” kata Gatot.

Tank Leopard

Secara terpisah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan, pemerintah akan melengkapi berbagai kekurangan pengadaan tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard. Ia memastikan, tank tersebut belum akan digunakan hingga kelengkapan alat operasional dipenuhi pada tahun ini.

“Karena sudah dibeli, kami akan melakukan penambahan untuk melengkapi kekurangan itu biar (tank Leopard) bagus,” kata Ryamizard.

Tank Leopard itu, katanya, akan dilengkapi kekurangannya, seperti alat komunikasi dan alat pemeliharaan, sebelum digunakan. Ketiadaan alat komunikasi itu, ia mencontohkan, dapat memengaruhi operasional Leopard.

Direncanakan, bulan depan, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono ke Jerman dan melihat alat komunikasi serta uji senjata untuk Leopard. “Di Jerman akan kita lihat amunisinya seperti apa, alat komunikasinya seperti apa. Kalau bagus, kami kontrak (pengadaan),” tutur Mulyono.

Komisi I DPR meminta pemerintah mengaudit pengadaan tank Leopard terkait sejumlah kekurangan perlengkapannya. “Kementerian Pertahanan perlu mengaudit pengadaan Leopard ini. Jangan terlambat agar pengadaan alutsista berdaya gentar,” tutur Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin.

Secara terpisah, Kepala Badan Sarana Pertahanan Laksamana Muda TNI Leonardi menjelaskan, alat komunikasi untuk tank Leopard sengaja belum diadakan TNI AD sebagai bagian dari strategi. Adapun tank yang belum lengkap didatangkan menjelang peringatan Hari ABRI untuk dipamerkan. Kini, pengadaan senjata dilakukan PT Pindad sekaligus untuk transfer of technology.

Menurut Leonardi, pertimbangan pengadaan Leopard oleh TNI AD adalah keseimbangan kekuatan (balance of power). Indonesia dirasakan juga memerlukan tank berat sebagai tank tempur utama seperti Leopard karena sejumlah negara tetangga Indonesia juga memiliki MBT.

(SON/NDY/INA/SAN/ONG)

February 24, 2016

NARKOBA DI TNI

Kostrad Gencarkan Operasi Pemberantasan

JAKARTA, KOMPAS — Kejahatan peredaran narkoba sudah mengancam setiap lini dalam masyarakat, tidak terkecuali di tubuh Tentara Nasional Indonesia. Dalam operasi yang digelar Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat pada akhir pekan lalu, terungkap sejumlah oknum tentara terlibat dalam peredaran barang berbahaya ini.

Kepala Penerangan Kostrad Letkol (Inf) Heru Dwi Wahana yang dihubungi, Selasa (23/2), membenarkan bahwa pihaknya sejak pekan lalu menggelar operasi pemberantasan narkoba dan menangkap sejumlah oknum prajurit, polisi, dan sipil yang diduga terlibat perdagangan dan penyalahgunaan narkoba.

”Operasi masih terus berlangsung. Kalau yang oknum bukan tentara, seperti polisi dan sipil, penanganannya diserahkan kepada polisi atau BNN (Badan Narkotika Nasional). Kalau tentara diproses sesuai hukum militer,” ujar Heru.

Operasi pembersihan internal tersebut, menurut Heru, merupakan bukti bahwa Kostrad konsisten dan berkomitmen penuh dalam program pemberantasan narkoba. Kejahatan narkoba sudah mengancam setiap lini dalam masyarakat.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal SabrarFadhilah menambahkan, TNIAD akan mengecek sejauh mana keterlibatan para oknum anggotanya dalam peredaran narkoba ini. Sanksi pidana akan dikenakan jika mereka terbukti bersalah.

Operasi anti narkoba ini diawali penggeledahan di Kompleks Perumahan Kostrad, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu (21/2). Tim Intel Kostrad dan Polisi Militer Kostrad menggerebek rumah Sersan Dua Z, Sersan Kepala K, Sersan Mayor E, Sersan Mayor S, serta seorang anak purnawirawan tentara berinisial Y.

Pengamatan di lokasi tersebut, Selasa kemarin, menunjukkan, rumah-rumah yang digeledah saling berhadapan, di kiri dan kanan jalan raya. Eeng (50), warga setempat, membenarkan adanya operasi tersebut.

Bahkan, menurut dia, Z berusaha melarikan diri dan membuang barang bukti melalui pintu belakang rumahnya. ”Karena petugas yang datang banyak, akhirnya dia tertangkap,” kata Eeng.

Di rumah Z, petugas gabungan menemukan paket sabu seberat 8,53 gram, setengah butir pil ekstasi, sepucuk airsoft gun, 2 unit timbangan, dan uang tunai Rp 5.284.000, serta 2 buah telepon seluler (ponsel). Sementara di rumah Serka K ditemukan 1 timbangan, 1 kantong plastik berisi 20 plastik kecil untuk membungkus sabu, 3 buah alat tes urine, dan sebuah ponsel.

Operasi dilanjutkan pada Senin (22/2), dengan uji air seni terhadap sejumlah personel Kostrad. Dalam tes urine itu diketahui Sersan Satu AS, anggota Intel Kostrad, positif mengandung amfetamin dan metenamin; dan Kopral Kepala B dari Korps Peralatan Kostrad positif mengandung amfetamin dan metenamin. Dari pemeriksaan ponselnya, Kopka B juga diduga terlibat judi togel dan peredaran narkoba.

Diamankan juga enam warga sipil berinisial H, O, J, S, dan Sg yang beralamat di Kompleks Perumahan Kostrad sebagai kurir serta seorang anggota DPR berinisial IH yang diduga sebagai pemakai. IH diduga membeli narkoba dari Serka K.

KOMPASTVAnggota DPR dari Fraksi PPP, Ivan Haz, diduga tertangkap tangan menggunakan narkoba bersama oknum TNI, Senin kemarin (22/2).

Selain itu, juga ditangkap lima personel polisi yang diduga menjadi pembeli narkoba. Mereka adalah Brigadir Satu E, anggota Polres Metropolitan Jakarta Selatan yang bertugas di KPK; Ajun Inspektur Satu A yang bertugas di Mabes Polri; Brigadir Kepala AB, anggota Polsek Kebayoran Lama; Ajun Inspektur Dua W dari Polres Metro Jaksel; dan Aiptu A dari Polres Tangerang Selatan.

Belum tersangka

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iqbal mengatakan, pihaknya baru menerima informasi mengenai nama-nama oknum yang ditangkap berdasarkan laporan Kostrad. Karena baru berupa informasi, 6 warga sipil dan 5 anggota kepolisian tersebut belum berstatus tersangka.

”Jadi tidak benar bahwa sudah ada penangkapan terhadap para anggota kepolisian ataupun orang-orang sipil itu. Kepolisian juga belum mendapat pelimpahan kasusnya,” kata Iqbal.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Agus Rianto mengatakan, lima polisi tersebut telah dikembalikan ke unit tugasnya dan tengah menjalani pemeriksaan internal. ”Kami sedang dalami peran mereka dalam kasus itu,” kata Agus.

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso mengakui, BNN memang diminta ikut melakukan penggerebekan serta tes urine terhadap sejumlah anggota TNI dan warga sipil yang diduga menggunakan narkoba. Tes urine itu dilakukan terhadap 146 prajurit Kostrad yang tinggal di Perumahan Kostrad, Tanah Kusir.

”Itu sebenarnya internal TNI, kami sifatnya membantu saja. Ini langkah yang baik dan respons positif Panglima TNI terhadap instruksi Presiden Joko Widodo untuk perang melawan jaringan narkoba,” ujar Budi seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, kemarin.

Menurut penuturan warga di kompleks Perumahan Kostrad, Serda Z dan kawan-kawannya sudah lama dicurigai terlibat peredaran narkoba. Para tetangga sering melihat kelompok anak muda datang ke rumah pria itu. Rumah K dan Y juga sering kedatangan tamu yang menggunakan mobil mewah.

Di kompleks itu, Z tinggal bersama istri dan dua anaknya. Selasa siang, rumah tersebut kosong. Pintu dan jendela tertutup rapat. Menurut Koko (35), salah satu warga di tempat itu, rumah itu kosong sejak penggeledahan.(RTS/IRE/DNA/PIN/

ONG/SAN/INA/HAR)

February 23, 2016

Jokowi Perintahkan TNI Bangun Sistem Pertahanan di Luar Jawa dan Bali

Doktrin hankamrata memang sdgh ketinggalan jaman

Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews
32
SHARES
3209
Jokowi Perintahkan TNI Bangun Sistem Pertahanan di Luar Jawa dan Bali
Foto: Agung Pambudhy

32

0

9
Jakarta – Presiden Jokowi mendorong produksi alutsista dalam negeri ditingkatkan. Selain itu, Jokowi juga memerintahkan agar pembangunan sistem pertahanan dilebarkan ke luar pulau Jawa dan Bali.

“Tadi Pak Presiden sampaikan untuk pembangunan TNI tak berpusat di Jawa-Bali tapi betul-betul Indonesiasentris sehingga kekuatan merata,” kata Seskab Pramono Anung dalam jumpa pers usai rapat di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (23/2/2016).

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo lalu menambahkan, wilayah yang juga akan dijadikan pusat pertahanan yakni di Biak, Morotai, Merauke, dan pulau terluar lainnya. Sebelumnya Gatot menjelaskan soal pusat pertahanan udara RI terlalu Jawasentris.

Hal ini juga menyebabkan penerbngan sipil di Pulau Jawa harus melintasi sisi utara. Itu karena di wilayah tengah Jawa ada beberapa pangkalan udara.

“Kalau kita lihat penerbangan sipil paling mahal adalah di Pulau Jawa. Sehari bisa 1.200 lebih penerbangan. Karena di Madiun, di Jogja, di Malang ada pangkalan-pangkalan. Di Madiun ada pesawat tempur, di Jogja ada pelatihan pilot dan di Malang ada skadron Hercules,” tutur Panglima.

Sehingga untuk memperlancar pertumbuhan ekonomi, dalam hal ini adalah penerbangan, maka pangkalan-pangkalan itu akan digeser. TNI juga ingin pilot-pilotnya berlatih tanpa mengganggu kegiatan penerbangan sipil.

“Untuk ekonomi dan untuk pilot kami bisa terbang setiap saat, maka akan kita kembangkan pada Biak, Morotai, Merauke dan sebagainya,” kata Panglima.

Selain untuk pertahanan udara, pangkalan TNI juga akan ditambah di pulau-pulau terluar. Gatot mengungkap, saat ini hanya ada 2 Babinsa saja yang bermarkas di seluruh kepulauan di Nusa Tenggara.

February 22, 2016

Saab : Kami Tak Menyerah

Koran Tempo SENIN, 22 FEBRUARI 2016

 Kami Tak Menyerah

Sejak TNI Angkatan Udara merencanakan penggantian jet buru sergap F-5 Tiger tiga tahun yang lalu, pabrikan alat pertahanan asal Swedia, Svenska Aeroplan AB (SAAB), gencar menawarkan pesawat tempur buatannya Gripen. Mereka juga membuka kantor perwakilan di Indonesia untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama industri pertahanan.

Namun berita buruk muncul dua pekan lalu. Pemerintah Indonesia akhirnya memilih Sukhoi SU-35. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu berencana meneken kontrak pembelian 8-10 unit pesawat tempur buatan Sukhoi Company, Rusia, tersebut dalam lawatannya ke Moskow bulan depan.

Di sela perhelatan Singapore Airshow 2016 pekan lalu, wartawan Tempo Fransisco Rosarians mewawancarai Kepala Kantor Perwakilan SAAB Indonesia Peter Calrqvist serta Direktur Kampanye Gripen dan Airborne System SAAB Asia-Pacific Magnus Hagman. Berikut ini petikannya.

* * * *

Indonesia hampir 100 persen membeli Sukhoi. Bagaimana SAAB menilai keputusan ini?

Magnus: Kami optimistis dan tak akan menyerah. Kami adalah tawaran terbaik buat Indonesia. Pembelian pesawat itu ibarat gunung es, 20 persen bagian di permukaan adalah harga pembelian. Sisanya yang kerap luput dalam perhitungan adalah biaya perawatan, pengaturan, operasional, inventory, technical support, pelatihan, dan disposal. Penelitian independen IHS Jane’s Defense Weekly tentang itu semua menunjukkan biaya Gripen paling murah, yaitu US$ 4,7 ribu per jam.

Peter: Dengan angka itu, TNI bisa lebih sering menerbangkan Gripen karena tak menggerogoti anggaran pertahanan. Pesawat lain yang biaya operasionalnya tinggi akan memakan anggaran pertahanan dan berefek jarang terbang.

Apa yang akan SAAB lakukan?

Magnus: Kami akan segera bertemu TNI.

Apa lagi yang akan Anda tawarkan?

Magnus: Kami sudah menyiapkan paket khusus untuk Indonesia, Swedish Air Power Package: satu skuadron sekitar 14 pesawat tempur JAS-39 Gripen C/D dan dua pesawat intai maritim SAAB 2000 dilengkapi dengan radar Erieye Airborne Early Warning and Control System. Seluruh paket ini terintegrasi dengan sistem data link yang memungkinkan patroli lebih efektif. Cukup ditaruh di Jawa Timur dan Makassar, seluruh wilayah bisa terpantau.

Mengapa baru sekarang ditawarkan?

Magnus: Tidak, kami sudah lama menunggu, tapi Indonesia tak pernah membuka kebutuhan dan penawaran soal pesawat tempur ke publik. Bagaimana kami bisa menawarkan sesuatu kalau tak jelas Indonesia butuh apa.

Lalu apa yang SAAB inginkan dalam proses pembelian senjata di Indonesia?

Magnus: Kami kira sejalan dengan keinginan Presiden Joko Widodo dan Komisi Pemberantasan Korupsi soal pembelian senjata secara transparan dan accountable. Prinsip kami zero tolerance terhadap korupsi dan janji kosong.

Peter: Kami percaya Indonesia akan transparan dalam seluruh jenis penggunaan anggaran. Kami melihatnya di semangat Presiden.

Apakah paket yang ditawarkan tadi termasuk alih teknologi?

Peter: Kami menjamin transfer teknologi secara bertahap, seperti desain, manufaktur, tes, dan sistem pendukung pesawat tempur. Ini juga bisa digunakan Indonesia dalam pengembangan proyek pesawat IF-X dengan Korea Selatan.

Magnus: Sejak Oktober 2015 hingga 2021, lebih dari 350 ahli mesin Brasil akan datang ke Swedia untuk menjalani 50 jenis pelatihan sebagai bagian dari transfer teknologi pembelian 36 unit JAS-39 Gripen NG. Kami juga menggandeng perusahaan lokal Embraer dan AEL sehingga terbuka peluang pengembangan pesawat di Brasil.

Kenapa SAAB menawarkan Gripen C/D, sedangkan seri terbaru E/F?

Peter: Kami menawarkan semuanya. Hanya, jika ingin cepat, dalam 18 bulan SAAB bisa sediakan JAS-39 Gripen C/D. Sedangkan seri E/F memakan waktu lebih lama. Satu yang harus diketahui, SAAB menjamin teknologi terbaru di setiap pesawat yang dibeli. Tak ada Gripen yang ketinggalan teknologi.

Indonesia tak akan perang dalam waktu lama. Lantas mengapa Gripen lebih dibutuhkan dibanding pesawat tempur lain?

Peter: Di Indonesia, saya sering dengar persoalan illegal fishing, pelanggaran wilayah perbatasan, atau perdagangan manusia. Ini bukan perang, tapi setiap negara tetap membutuhkan pesawat tempur untuk menjaga kedaulatan dan keamanan. Ini hanya bisa dilakukan pesawat yang sering terbang. Gripen akan selalu bisa terbang karena biaya operasionalnya murah.

February 20, 2016

Saab Tawarkan GlobalEye untuk Indonesia

cakep nih..

Antara 18 Februari 2016

GlobalEye dari sistem AEW&C Saab, Swedia, dalam paparan di Singapore Air Show, Selasa. GlobalEye memiliki banyak subsistem dan sensor, di antaranya sensor EO/IR, radar pengamatan maritim, komunikasi satelit, AIS maritim, EOS, ISAR, ESM/electronic intelligent, EriEye ER radar, IFF/ADS-B, datalink, dan sistem lain. (photos : saab)

Sistem GlogalEye Saab diperkenalkan

Changi, Singapura (ANTARA News) – Sistem kendali dan peringatan dini (AEW&C) yang baru dari Saab, GlobalEye, diluncurkan dan dinyatakan jauh lebih canggih dan efisien ketimbang sistem pendahulunya, EriEye.

Diperkenalkan kepada publik penerbangan dunia secara perdana di Singapore Air Show 2016, di Changi, Singapura, Selasa, sistem GlobalEye dikombinasikan dan dibangun di atas pijakan pesawat jet bisnis Bombardier 6000.

Adalah Direktur Senior Pengamatan Udara Saab, Erick Windberg, yang mengenalkan sistem GlobalEye itu secara resmi dalam presentasinya di gelaran kedirgantaraan Asia itu.

Salah satu basis kerja utama GlobalEye adalah pranata AESA (Active Electronically Scanned Array) dari generasi terkini dengan berbagai penyempuraan dari EriEye yang menjadi pendahulu.

Dalam tinjauan langsung ke hanggar produksinya di Gotheborg, Swedia, tahun lalu, EriEye ditampilkan kebolehannya dalam mengendus, mengenali, dan memberi peringatan dini atas kehadiran obyek-obyek di udara, darat, dan laut.

Bahkan ukuran hingga sebesar bola kaki yang mengapung di laut bisa dia bedakan dan kenali dari jarak 400 kilometer dan dari ketinggian jelajah di atas awan stratocumulus.

Pada saat bersamaan, obyek-obyek lain yang ada dalam jangkauan 400 kilometernya bisa dia terakan secara presisi dan data yang disebar melalui sistem datalink disajikan dalam berbagai bentuk dan tampilan.

Dia juga bisa menganalisis obyek-obyek yang paling potensial mengancam kepentingan dan keselamatan operator sesuai misi yang disandang. Swedia sebagai negara maritim dan bertetangga langsung dengan Rusia memakai sistem AEW&C buatan negaranya ini.

EriEye bisa dipasang di pesawat terbang berbaling-baling Saab 340 dan juga pesawat jet bisnis Embraer 145 buatan Embraer SA, Brazil. Kini basisnya diperluas, yaitu Bombardier 6000 buatan Kanada, dengan operator sistem radar dan peringatan dini sebanyak lima orang.

Bombardier 6000 untuk kepentingan pijakan GlobalEye ini memiliki kemampuan terbang tanpa henti hingga 11 jam pada ketinggian di atas 30.000 kaki dari permukaan laut.

Kini, kata Windberg, “Kemampuannya meningkat hingga 70 persen lebih, dengan ukuran dan pemakaian energi yang sama. Ini sebagai permisalan dari sekian banyak perubahan yang kami dapat lakukan dan masih terus berkembang.”

Tentang pijakan sistem yang memakai pesawat jet bisnis Bombardier 6000, diyakini juga sebagai upaya Saab Aeronautics untuk meraih pasar lebih luas.

“Sejauh ini kami telah menandatangani kontrak pembelian dengan Uni Emirat Arab senilai 1,2 miliar dolar Amerika Serikat untuk pembelian dua unit GlobalEye ini,” kata Windberg. Kontrak itu ditandatangani di Dubai Air Show 2015, pada November lalu.

“Kami kini memiliki bukan saja pijakan baru namun sistem radar yang benar-benar baru dengan kemampuan yang jauh meningkat. Uni Emirat Arab mendapatkan hal ini,” kata dia.

Yang menjadi pokok fokus pengembangan adalah berbagai kemungkinan untuk membangun sistem AEW&C yang disesuaikan secara khusus untuk keperluan pemesan.

“Termasuk juga untuk Indonesia. Kami tahu bahwa Indonesia memiliki sistem persenjataan dan pertahanan dari Timur dan Barat. Semuanya bisa dipadukan dengan sistem GlobalEye ini dan kami telah mengerjakan hal itu pada beberapa negara,” katanya.

Secara bisnis, pasar yang kini dibidik untuk GlobalEye adalah Timur Tengah, Asia, dan Eropa.

(Antara)

February 18, 2016

Drone Lokal Bakal Jaga Perbatasan

Koran Tempo KAMIS, 18 FEBRUARI 2016

 Drone Lokal Bakal Jaga Perbatasan

CHANGI – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bakal menandatangani kontrak pembelian tiga unit pesawat intai tanpa awak, atau drone, buatan PT Bhinneka Dwi Persada bernama Rajawali 330 untuk menjaga wilayah perbatasan. Kontrak bernilai miliaran rupiah ini dipercayakan kepada produsen lokal yang ikut menjejerkan teknologinya di Singapore Airshow 2016.

Prajurit di perbatasan itu hanya mampu melihat batas laut saja. Dengan ini (Rajawali 330), bisa lebih jelas dan jauh, kata Ryamizard, Selasa lalu.

Booth atau ruang pameran PT Bhinneka menjadi salah satu tujuan kunjungan Ryamizard selain milik PT Dirgantara Indonesia dan sejumlah usaha kecil-menengah lokal lainnya. Booth bernuansa militer yang memajang lima jenis drone, termasuk dua berbentuk helikopter, tersebut memang cukup mencolok di sisi D Changi Exhibition Centre.

Sayangnya, Ryamizard enggan menjelaskan secara detail soal alasan pemilihan Rajawali 330 ketimbang produk lain PT Bhinneka. Yang pasti, daerah kita harus dikontrol, apalagi perbatasan, pulau-pulau terluar, kata dia.

Komisaris PT Bhinneka, Feba Henry Affan, mengatakan Rajawali 330 memiliki keunggulan dalam sistem operasi dan durasi terbang yang tinggi. Pesawat seberat 21,5 kilogram ini mampu terbang non-stop selama delapan jam hingga ketinggian 4.000 kaki dan dapat dikendalikan hingga jarak 100 kilometer. Dalam pertahanan perbatasan laut, menurut Feba, pesawat yang dirakit di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, tersebut mampu dioperasikan terbang dan mendarat dari kapal laut yang bergerak.

Kami akan menggelar pelatihan kepada pilot drone ini mulai bulan depan, kata Feba. Rencananya di daerah Serpong, Tangerang.

Rajawali memang tak memiliki kemampuan antiradar atau mata-mata. Alutsista ini semata diproduksi sebagai sarana pertahanan yang menginput seluruh data melalui kamera electro optical atau infrared dan hyper spectral sebagai fungsi surveillance atau pengawasan.

PT Bhinneka merancang Rajawali terintegrasi dengan produk mereka yang bernama Indonesian Future Soldier (IFS). Sistem ini memungkinkan semua prajurit yang mengenakan IFS mampu melihat pantauan mata Rajawali melalui layar atau wrist-mounted computer yang berada di sisi lengan kanan.

Data dari Rajawali tak hanya ke monitor utama, tapi bisa ke semua pakaian IFS, kata Feba. Cocok dengan operasi mendadak dan berbahaya di daerah sulit seperti pegunungan Poso.

Kementerian Pertahanan sendiri sebenarnya sudah meneken kontrak tiga unit drone kembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta PT DI bernama Wulung. Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 8.000 kaki dengan jarak hingga 120 kilometer selama empat jam. Rencananya, Wulung akan mulai diserahkan ke Kementerian Pertahanan usai memperoleh sertifikasi Indonesian Military Airworthiness Authority.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Tubagus Hasanuddin senang atas keputusan Ryamizard menambah alutsista pengawasan di wilayah perbatasan. Purnawirawan jenderal bintang dua TNI Angkatan Darat ini sepakat pemerintah harus menambah kekuatan dan teknologi di wilayah perbatasan yang sangat luas. Kontrol akan lebih efektif dan informasi akan lebih aktual yang diterima prajurit, kata Tubagus. FRANSISCO ROSARIANS


Rajawali dan Tentara Masa Depan

PT Bhinneka Dwi Persada merancang sistem pertahanan dan pengawasan terintegrasi antara pesawat intai tanpa awak atau drone, Rajawali 330, dan pakaian tempur prajurit yang disebut Indonesia Future Soldier. Pakaian tempur itu sendiri sudah dipasarkan ke satuan khusus, seperti Komando Pasukan Khusus, Komando Pasukan Katak, Komando Pasukan Khas, dan Detasemen Jala Mangkara. Sedangkan Kementerian Pertahanan sudah memesan tiga unit Rajawali untuk menambah kekuatan di perbatasan. Ini spesifikasi keduanya:

Rajawali 330

  • Kecepatan: 22 meter/detik atau 43 knot
  • Kecepatan maksimum: 36 meter/detik atau 70 knot
  • Landasan pacu terbang: 30 meter
  • Rentang sayap: 3,3 meter atau 10,8 kaki
  • Panjang tubuh: 2,27 meter atau 7,44 kaki
  • Tinggi: 0,9 meter atau 2,9 kaki
  • Berat: 21 kilogram atau 47,4 lbs
  • Beban bawaan: 10 kilogram atau 22 lbs
  • Jarak tempuh: 100 kilometer
  • Durasi terbang: 8 jam
  • Ketinggian terbang: 4.000 kaki

    IFS

  • Personal mesh radio
  • Augmented reality and NVG integrated
  • Wrist-mounted computer
  • Weapon-mounted camera
  • Bio sensor
  • Indoor positioning system
February 18, 2016

Menhan Tetap Minta ToT Pembelian Sukhoi Su-35

Beli pesawat “ketengan” macam beli rokok di warung.  Konon cara beli macam begini “pintar ” hehe .  Menhan yang pengetahuannya macam begini apa yang bisa kita harapkan.

 

18 Februari 2016

Pesawat Sukhoi Su-35 (photo : Vitaly Kuzmin)

Beli Sedikit, Menhan Ngotot ToT Pembelian Sukhoi Su-35 

TEMPO.CO, Changi – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pemerintah Rusia memastikan adanya transfer of technology (ToT) atau sistem transaksi offset dalam pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35. Hal ini dijamin meski rencananya pemerintah hanya bakal memesan paling banyak 10 unit atau lebih sedikit dari jumlah satu skuadron sebanyak 16 unit.

“Tak apa-apa. Mereka (Rusia) senang kok, daripada tak ada yang beli,” kata Ryamizard di sela acara Singapore Airshow, Selasa, 16 Februari 2016.

Ia mengatakan pembelian Sukhoi untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger sudah hampir 100 persen. Rencananya, mantan kepala staf angkatan darat tersebut bakal berkunjung ke Rusia untuk penandatanganan kontrak pada bulan mendatang. “Insya Allah nanti di Rusia,” kata Ryamizard.

Menurut Ryamizard, pembelian Sukhoi dalam jumlah kecil memang jadi bagian rencana pemerintah soal peremajaan alutsista. Pemerintah sengaja tak membeli banyak dengan pertimbangan perkembangan teknologi pertahanan sangat cepat. Waktu produksi Su-35 selama lima tahun tak menutup kemungkinan sudah adanya teknologi baru yang lebih tinggi saat semua pesawat pesanan tersebut selesai diproduksi dan dikirim.

“Kita harus pandai, beli sedikit-sedikit saja,” katanya.

Ryamizard tak mampu memaparkan detail soal isi dan jenis ToT yang akan dilakukan Rusia kepada Indonesia dalam pembelian Su-35. Seharusnya, dengan sistem offset, pemerintah menerima lisensi pembuatan sebagian komponen untuk diproduksi di dalam negeri. Selain itu, pemerintah memiliki hak merakit, merancang, dan memodifikasi pesawat yang dibeli.

Pada umumnya, produsen pesawat tempur memberikan ToT sesuai dengan jumlah item pembelian negara tertentu. Semakin besar jumlah pembelian, semakin banyak Tot yang diserahkan. Jumlah 10 unit bahkan masih di bawah jumlah satu skuadron. “Yang pasti kita bisa buat dan ganti-ganti,” kata Ryamizard.

Ia juga membantah adanya kepentingan politik dalam proses negosiasi dan pengambilan kebijakan pembelian Sukhoi. Semata semuanya adalah upaya Kementerian memberikan keamanan dan meningkatkan pertahanan. Ryamizard juga menjamin pembelian Su-35 dalam keadaan lengkap dengan sistem radar, navigasi, dan persenjataan.