Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

February 18, 2015

TNI AL Masukkan Kapal Buru Ranjau Dalam Anggaran Belanja

17 Februari 2015

Kapal buru ranjau Tripartite class yang dioperasikan TNI saat ini: (photo : Kaskus Militer)

Jakarta (ANTARA News) – Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, menyatakan revisi anggaran TNI AL untuk 2015 ini telah dilakukan yang digunakan untuk modernisasi sistem kesenjataan, di antaranya membeli kapal buru ranjau baru.

Sekitar tambahan Rp4 triliun anggaran negara tersedia untuk TNI AL seusai APBN-P 2015 diberlakukan.

“Kapal buru ranjau kita dari generasi ’80-an, sudah 30 tahunan makanya kami perbarui dengan dua unit yang baru,” katanya di Markas Komando Pusat PM TNI AL, Jakarta, Selasa.

Secara umum, katanya, tidak ada revisi besar-besaran atas program kerja dan pengadaan peralatan perang pada 2015 ini.

“Patokannya adalah MEF. Tindak lanjut beberapa terkait pengadaan sejumlah alutsista, baik itu KRI, pesawat udara, dan kendaraan di satuan pangkalan,” kata Supandi.

Termasuk juga pada aspek pembayaran, semisal pembuatan kapal perang TNI AL di Belanda, kapal selam, kapal hidrografi dari Prancis, kapal layar tiang tinggi pengganti KRI Dewaruci dari Spanyol, dan sebagainya.

Khusus untuk kapal patroli pesisir trimaran dari galangan kapal Lundin, Banyuwangi, Jawa Timur, ia menyatakan, “pengganti yang tempo hari itu sedang dibangun, mungkin satu setengah tahun lagi selesai.”

(Antara)

February 17, 2015

TNI Dapat Tambahan Dana Rp 4,7 Triliun

12 FEBRUARI 2015

12 Februari 2015

Penggunaan dana tambahan akan dipakai untuk pembelian alutsista (photo : Defense Studies)

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan Kementerian Pertahanan dan TNI mendapat tambahan dana Rp 4,725 triliun pada tahun ini.
Ini diputuskan dalam rapat Badan Anggaran DPR dengan Kementerian Keuangan yang membahas tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015.

“Kami cukup senang dengan tambahan anggaran untuk pertahanan tersebut,” kata Mahfudz kepada Tempo, Rabu malam, 11 Februari 2015.

Meskipun tambahan anggaran itu lebih rendah dibanding permintaan Kementerian Pertahanan yang mencapai Rp 5,1 triliun.

Mahfudz mengaku belum tahu penggunaan tambahan anggaran itu. Menurut Mahfudz, Komisi I perlu menggelar rapat dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, semua asisten perencanaan Panglima TNI, dan ketiga kepala staf matra TNI.

“Nanti akan diputuskan tambahan anggaran itu akan digunakan untuk apa, apakah beli alutsista atau yang lain.”

Dalam APBNP 2014, Kementerian Pertahanan dan TNI mendapatkan dana 83,3 triliun. Sedangkan berdasarkan APBN 2105, Kementerian Pertahanan dan TNI dapat anggaran Rp 96,9 triliun.

Anggaran itu digunakan untuk belanja pegawai dan pembelian sejumlah alat utama sistem persenjataan baru sesuai dengan program modernisasi terhadap TNI.

February 9, 2015

KSAU Sampaikan Penambahan Skuadron Udara Hingga 2019

Pesawat Ilyushin Beriev yang bisa mendarat di air dan juga punya kemapuan AWACS harusnya dibeli dong Pak..

07 FEBRUARI 2015

Tahun 2019 TNI AU akan diperkuat dengan 11 skuadron tempur (tambah 3 skuadron), 6 skuadron transpor (tambah 1 skuadron), 4 skuadron helikopter (tambah 1 skuadron), 2 skuadron VVIP (tetap), 2 skuadron pesawat intai (tambah 1 skuadron), dan 2 skuadron pesawat tanpa awak (dibentuk baru 2 skuadron) (photo : Kaskus Militer)

TNI AU Mendukung Poros Maritim Dunia

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara mendukung visi pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk itu, perwujudan rencana strategis TNI AU ke depan diprioritaskan pada penguatan kedirgantaraan yang terkait kemaritiman.

”Misalnya, kita ingin mengadakan intai strategis. Dengan kemampuan kontrol dan komando, dari atas kita sudah bisa mengawasi udara dan laut dengan duduk di satu pesawat itu,” kata Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna di sela-sela Rapat Pimpinan TNI AU di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta, Rabu (4/2). Agus mengungkapkan, pesawat intai strategis TNI AU akan terintegrasi dengan kekuatan intai taktis TNI Angkatan Laut sehingga dapat bergerak simultan dalam sebuah operasi gabungan.

Agus mengatakan, Indonesia membutuhkan tiga pesawat intai strategis untuk memantau wilayah barat, tengah, dan timur. Pesawat intai strategis yang ada juga tengah ditingkatkan agar bisa memantau wilayah udara dalam radius 330 kilometer (km).

Pesawat tersebut berfungsi sebagai ”radar terbang” yang berpatroli memantau wilayah di bawah tanggung jawabnya. Awak pesawat akan segera melaporkan temuan yang mencurigakan untuk segera ditindaklanjuti dengan skuadron pesawat tempur dan kapal-kapal TNI AL terdekat.

”Ini sudah ada di renstra (rencana strategis) sampai 2019,” kata Agus.

Perkembangan doktrin maritim dunia hakikatnya juga menyangkut perkembangan doktrin dirgantara. Kebijakan yang akan diperjuangkan TNI AU adalah penerapan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (Air Defence Identification Zone/ADIZ) yang menjadi payung perlindungan, baik untuk maritim maupun dirgantara. ”ADIZ harus ditetapkan di seluruh wilayah kedaulatan Indonesia sampai Zona Ekonomi Eksklusif,” kata Agus.

Rapim TNI AU dihadiri lebih kurang 306 pejabat setingkat komandan satuan TNI AU di seluruh Indonesia. Hadir pada kegiatan tersebut Wakil KSAU Marsekal Madya Bagus Puruhito, Wakil Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional Marsekal Madya Dede Rusamsi, Kepala Badan SAR Nasional Marsdya FHB Soelistyo, dan pejabat teras TNI AU lainnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Hadi Tjahjanto mengatakan, dalam renstra hingga 2019, TNI AU merencanakan pembuatan 11 skuadron tempur, 6 skuadron transpor, 4 skuadron helikopter, 2 skuadron VVIP, 2 skuadron pesawat intai, dan 2 skuadron pesawat tanpa awak. Terkait dengan penyebaran lokasi pesawat-pesawat ini juga telah disiapkan. Adapun jumlah setiap skuadron bergantung pada kemampuan negara.

Sementara itu, Kepala Badan SAR Nasional Marsdya, FHB Soelistyo menagatakan, belajar dari proses evakuasi AirAsia QZ 8501 yang tengah dilakukan, Basarnas membutuhkan peralatan SAR bawah air. Alat-alat deteksi bawah air juga harus ditingkatkan untuk efektivitas operasi kemanusiaan.

(Kompas)

February 6, 2015

TNI AL Akan Beli 2 Kapal Penyapu Ranjau

06 Februari 2015

KRI Pulau Rengat 711 (photo : Satranarmatim)

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan lembaganya berencana membeli kapal perang baru khusus penyapu ranjau. Kapal baru tersebut akan menggantikan armada penyapu ranjau yang uzur. “Rencananya kami akan cari dua unit kapal penyapu ranjau,” kata Ade kepada wartawan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Jakarta Selatan, Kamis, 5 Februari 2015.

Menurut Ade, dua kapal penyapu ranjau milik TNI AL, yakni KRI Pulau Rengat dan KRI Pulau Rupat, sudah tergolong uzur. Sebab, kapal jenis Tripartite class yang dibuat oleh galangan GNM (Van der Gessen de Noord Marinebouw BV) di Albasserdam, Belanda, itu sudah dipakai TNI AL sejak Maret 1988.

Meski sudah cukup berumur, KRI Pulau Rengat masih aktif dioperasikan Angkatan Laut. Belum lama ini, kapal tersebut dilibatkan dalam pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang di Selat Karimata pada Desember lalu. Sebab, meski kapal pemburu ranjau, KRI Pulau Rengat bisa digunakan untuk menemukan benda logam di bawah air, termasuk puing pesawat. Laksamana Ade Supandi menilai keberadaan kapal penyapu ranjau sangat berguna bagi misi perang dan nonperang TNI AL.

Sayangnya, Ade Supandi masih merahasiakan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk membeli dua kapal baru tersebut. “Yang jelas (anggaran dua kapal penyapu ranjau) sudah kami masukkan dalam rencana strategis 2015-2019,” kata Ade.

Angkatan Laut juga belum bisa menentukan pilihan produk kapal penyapu ranjau yang bakal dibeli. Ade sendiri berjanji bakal mengutamakan pembelian kapal penyapu ranjau dari galangan kapal dalam negeri. “Kalau butuh beraneka alat canggih dan dalam negeri belum bisa bikin, kami akan pesan dari produsen luar negeri,” kata Ade.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie setuju dengan rencana TNI AL. Menurut Connie, kapal perang jenis penyapu ranjau sangat penting dalam sebuah Angkatan Laut. Musababnya, kapal tersebut bisa digunakan untuk misi SAR seperti kecelakaan transportasi laut. “Sudah bukan saatnya retrofit (peremajaan komponen alutsista), terlebih ini berhubungan dengan poros maritim Presiden Joko Widodo,” kata Connie.

(Tempo)

February 5, 2015

Ganti F5 tiger, TNI AU inginkan Sukhoi SU35

Dari Koran Tempo 5 Feb 2015TNI AU ingin SU 35

February 3, 2015

Anggota TNI Jual Amunisi, Pangdam Cenderawasih: Gudang Senjata Aman

Senin, 02/02/2015 18:41 WIB

Wilpret Siagian – detikNewsPangdam Cendrawasih Mayjen TNI Fransen G Siahaan (Foto: Wilpret Siagian/detikcom)Jayapura – Sejumlah anggota TNI di Papua menjual amunisi ke warga sipil. Kodam Cenderawasih turun tangan. Selain memeriksa oknum tersebut, mereka juga mengecek gudang senjata. Apa hasilnya?”Dari hasil pemeriksaan di gudang senjata Kodam XVII/Cenderawasih, semua pengeluaran amunisi dan senjata dilakukan sesuai protap dan tidak ada yang hilang,” kata Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Fransen G Siahaan di Jayapura, Senin (2/2/2015).Fransen menduga amunisi yang dijual oknum anggota berasal dari Filipina atau Aceh. Saat ini, Kodam dan Polda Papua berkoordinasi untuk membongkar sindikat ilegal tersebut.Menurut dia, penjualan amunisi di Papua bukan kali ini saja terjadi. Tapi mungkin sudah sejak lama. Kondisi Papua yang selama ini tidak aman diprediksikan akibat ulah jaringan sindikat-sindikat mereka yang mendukung gerakan separatis Papua.Penjualan amunisi ini terbongkar setelah polisi menangkap 3 warga sipil di Jayapura, Rabu (28/1). Dari tangan mereka disita ratusan amunisi. Berdasarkan pemeriksaan terhadap Serma S, amunisi dijual Rp 250 ribu per butir. Selain Serma S, Pomdam Cenderawasih memeriksa 4 anggota TNI berpangkat Pratu hingga Sertu.Fransen sudah melaporkan kasus tersebut ke pimpinan. Ada kemungkinan, mereka yang terlibat akan dipecat dari kesatuan.

February 2, 2015

Pesawat CN-235 Pakai Mesin Buatan Bintan

Senin, 02/02/2015 14:45 WIB

Maikel Jefriando – detikFinanceBintan – PT Honeywell Aerospace, perusahaan komponen pesawat asal Amerika Serikat (AS) yang berlokasi di Bintan, telah menjalin kerja sama dengan perusahaan lokal di Indonesia. Perusahaan itu adalah PT Dirgantara Indonesia (Persero).Presiden Direktur Honeywell Indonesia Alex Pollack mengatakan, pihaknya sudah cukup lama bekerja sama dengan PT DI. Honeywell menyediakan mesin turboprop TPE 331.”Kita sudah MoU dengan PT DI untuk penyediaan mesin TPE 331,” ungkapnya di Bintan, akhir pekan lalu.Diketahui mesin ini dipergunakan sebagai penggerak utama untuk pesawat CN-235 200/220. Pollack menambahkan bahwa mesin ini berteknologi tinggi dan efisien dalam penggunaan bahan bakar.”Pusat layanan mesin TPE 331 ada di Bandung. Ini satu-satunya di kawasan Asia Tenggara,” sebutnya.Selain itu, kata Pollack, PT DI juga menggunakan piranti avionik ARL-2002 milik Honeywell Aerospace. Masih untuk pesawat CN-235.”Dua teknologi ini menjadi standar di beberapa pesawat terbang yang diproduksi di Indonesia,” terangnya.

February 2, 2015

Kembangkan Tank dan Roket, Pindad Minta Izin ‘Suntikan’ Rp 700 M ke DPR

Senin, 02/02/2015 15:34 WIB

Feby Dwi Sutianto – detikFinanceJakarta – Direksi PT Pindad (Persero), BUMN produsen senjata, menyambangi Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tujuannya, meminta persetujuan Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 700 miliar. Suntikan modal tersebut, akan dipakai untuk mengembangkan dan memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) buatan Indonesia, seperti tank, kendaraan tempur, roket, senjata, hingga anunisi kaliber kecil.”Semua penambahan kapasitas dan modernisasi mesin senjata. Kita perlu jaga kualitas dan mengantisipasi permintaan Kemhan (Kementerian Pertahanan),” kata Direktur Utama Pindad Silmy Karim, dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2015).Lanjut Silmy, dana suntikan modal pemerintah juga akan dipakai meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di BUMN tersebut.”Dana PMN itu sebesar 95% untuk alutsista dan 5% untuk sumber daya manusia,” jelasnya.Pindad, kata Silmy, membutuhkan setidaknya investasi Rp 4,9 triliun untuk mengembangkan alutsista terbaru. Dana tersebut rencananya didukung dari suntikan modal negara dan kas internal.”Kalau dikasih berapa dimaksimalkan. Misal dikasih Rp 700 miliar, investasi bisa Rp 800 miliar, karena Rp 100 miliar dari internal. Memang kalau semua mengandalkan internal nggak bisa cepat. Kebutuhan tersebut harapannya dari PMN,” jelasnya.Pada kesempatan tersebut, Silmy menyinggung kinerja keuangan perseroan. Tanpa PMN, Pindad bisa meraih penjualan Rp 2,1 triliun, dengan laba bersih Rp 85 miliar di 2015. Angka ini melonjak dengan adanya PMN, namun baru dirasakan setelah 2015, atau 1 tahun setelah PMN cair.”Kelihatannya dalam jangka panjang,” sebutnya.

January 27, 2015

Ini Alasan Moeldoko Mengirim TNI Menjaga KPK  

TEMPO.CO, Jakarta – Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Moeldoko, mengungkapkan alasannya mengirim personel TNI ke Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurutnya, tindakan itu merupakan amanat undang-undang.

“Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang TNI Pasal 7 Ayat 1,” kata Moeldoko dalam akun facebooknya, Moeldoko, Minggu 25 Januari 2015.

Pasal itu, tutur Moeldoko, berbunyi tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara termasuk konflik komunal yang terjadi antara kelompok masyarakat yang dapat membahayakan keselamatan bangsa.

“Ini jawaban dari pertanyaan para politisi dan wartawan kenapa TNI ikut mengamankan gedung KPK,” kata Moeldoko menjawab pertanyaan di dinding facebooknya. (baca: KPK vs Polri, Jokowi: Jangan Ada Kriminalisasi)

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto atau BW ditetapkan sebagai tersangka, tersiar kabar bahwa Badan Reserse Kriminal Polri akan melakukan penggeledahan‎ ke Gedung KPK. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Samad sudah mengontak Panglima TNI membantu pengamanan di Gedung KPK.

Pasukan TNI yang diterjunkan berasal dari tiga matra Darat, Laut, dan Udara. Mereka dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI Angkatan Laut, dan Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) TNI Angkatan Udara. Namun tidak diketahui berapa jumlah personel yang diturunkan.

AGUSSUP

January 20, 2015

Rusia Harap Sukhoi Su-35 Lengkapi Armada Pesawat Tempur Indonesia

Ehem.. pengalaman pembelian Sukhoi jaman Presiden Megawati  semoga (sekali semogaaa sambil mengelus dada) jangan terulang oleh Jokowi cs, walaupun aktor aktor pembelian Sukhoi 2003 sekarang ini berkuasa kembali misalnya Rini Soemarno ..
19 Januari 2015

Pesawat tempur Su-35 (photo : Sergey Korolkov)

JAKARTA, KOMPAS.com — Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan, Rusia berharap Indonesia menyetujui pembelian pesawat tempur Sukhoi jenis Su-35 untuk memperkuat pertahanan udara dalam negeri.

“Kami berharap kesepakatan pembelian Su-35 bisa terjadi. Kerja sama militer antara kedua negara sudah berlangsung sejak lama dan kami ingin bisa terus berlanjut,” ujar Galuzin di kediaman Duta Besar Rusia, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Dia menambahkan, Rusia selalu siap jika memang nantinya Indonesia sepakat untuk membeli Su-35 demi menambah unit pesawat tempurnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko tertarik mendatangkan pesawat tempur Sukhoi Su-35 untuk peremajaan armada tempur. Selain Sukhoi, Moeldoko juga mempertimbangkan JAS-39 Gripen (dari Swedia) dan F-16 Block 52+ Fighting Falcon (dari Amerika Serikat).

Kebutuhan akan pesawat-pesawat ini disebabkan pesawat F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14 harus “pensiun” karena usia. Moeldoko sendiri mengatakan bahwa selain faktor teknis, faktor politik juga menentukan dalam memutuskan pembelian pesawat tempur tersebut.

Su-35 sendiri merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association. Jika pembelian jadi dilakukan, Su-35 akan melengkapi jajaran Sukhoi yang sudah dimiliki TNI sebelumnya.

Jenis Sukhoi yang sudah dioperasikan oleh TNI AU adalah Su-27 dan Su-30. Su-27 masuk dalam Skuadron Udara 11 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makassar.

Sementara itu, menurut Galuzin, Pemerintah Rusia menganggap Indonesia adalah negara penting untuk kerja sama pengembangan ekonomi dan militer.

“Rusia melihat masih banyak bentuk kerja sama yang bisa dilakukan dengan Indonesia, seperti di bidang konstruksi, militer. Bahkan, jika Indonesia berkenan, kami juga siap membantu pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai,” ujar Galuzin.

Pada 2015, Indonesia dan Rusia akan melanjutkan proses kerja sama beberapa proyek, seperti proyek rel kereta api sepanjang 203 kilometer di Kalimantan Timur dan proyek pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat.

(Kompas)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers