Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

March 13, 2017

PT DI Ekspor 11 Unit Pesawat di 2017

13 Maret 2017

Pesawat terbang dan helikopter yang telah diproduksi PT DI (image : PTDI)

Liputan6.com, Jakarta PT Dirgantara Indonesia (DI) akan mengekspor 11 pesawat produksinya ke negara lain pada tahun ini. Pemesanan terbanyak berasal dari Filipina untuk pesawat jenis NC212.

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh mengatakan, ‎saat ini pihaknya telah mendapatkan pesanan pesawat dari sejumlah negara di Afrika dan ASEAN. Jenis pesawat yang dipesan yaitu CN235 dan NC212.

“Kalau lihat dari Senegal 1 unit CN235, Ivory Coast (Pantai Gading) 1 unit CN235‎. Thailand kita mau jual 2 unit 212 pada Ministry of Agriculture langsung business to goverment dan Filipina ada permintaan 7 unit 212,” ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Dia menjelaskan, untuk pesawat PTDI jenis CN235 dibanderol dengan harga sekitar US$ 25 juta-US$ 30 juta per uni. Sedangkan NC212 dibanderol seharga US$ 12 juta per unit.

Budiman mengungkapkan, tingginya minat negara-negara di Afrika dan ASEAN terhadap pesawat buatan Indonesia lantaran dinilai mempunyai teknologi terkini, memiliki jaminan garansi yang pasti, adanya fasilitas perawatan dan karena kesamaan budaya.

‎”Pertama teknologi, competitiveness, dan culture people to people. Jadi untuk menyesuaikan keinginan dari mereka dan pemenuhan teknologi dari produk kita too easy to communicate, open mind. Pada saat sudah dikirim itu ada warranty, services. Dan kita menempatkan technical representative kita di Afrika,” jelas dia.

Namun demikian, lanjut Budiman, pesawat produksi Indonesia juga bersaing ketat dengan produk sejenis dari negara lain. Bahkan dengan pesawat bekas dari China.

‎”Ada Spanyol, Italia, China. China juga bisa masukkan pesawat bekas,” tandas dia.

Advertisements
March 10, 2017

Apache, Chinook dan A400M akan Perkuat TNI

Sindo 10 Maret 2017
defense studies.blogspot.co.id

Helikopter Chinook dan Apache (photo : ssbcrack)

Delapan Apache dan 12 Chinook Akan Jaga Langit Indonesia

JAKARTA – Pemerintah Indonesia pada tahun ini akan menambah alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan membeli delapan unit Helikopter AH-64E Apache, 12 unit Helikopter Chinook, dan lima unit pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas.

Pada Senin, 6 Maret 2017, pesawat A400M sudah melakukan promosi dengan singgah di Bandara Halim Perdanakusuma untuk diperkenalkan kepada calon pembeli di Indonesia, yaitu TNI Angkatan Udara (AU).

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, pembelian alutsista tersebut bagian dari pemenuhan kekuatan pokok minimum pertahanan (minimum essential force/MEF).

Adapun pembelian A400M untuk menggantikan pesawat Hercules karena pesawat itu mempunyai daya angkut dua kali lipat dari Hercules dan untuk menunjang mobilitas militer Indonesia.

“A400M ini mempunyai kapasitas dua kali dari Hercules dan daya jelajah lebih tinggi. Selain itu irit bahan bakar. Begitu pula dengan Chinook,” kata Ryamizard di Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Kendati demikian, sambung Ryamizard, pembelian ini tetap harus sesuai dengan standar operasional dan prosedur (SOP).

“Kementerian Pertahanan tidak memaksakan. Pembelian harus sesuai SOP dan tergantung penggunanya, yaitu TNI,” tuturnya.

Dia mengatakan, Kementerian Pertahanan hanya menampung apa yang diminta oleh setiap angkatan, yakni TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Bila alutsista tersebut ada yang tidak cocok, Menhan mengaku siap untuk berdiskusi dengan setiap angkatan.

(SindoNews)

March 7, 2017

Tim WFQR Lantamal IV Beri Efek Getar Kepada Pelaku Kejahatan di Selat Malaka

Kenapa “bajak laut” atau begal laut tidak dihukum mati saja.. Biar kapok dan bersih sekalian..

Antara 5 Mar 2017
dari copas dari situs jakartagreater.com

 


Pengamat hubungan internasional, Sayed Fauzan, mengatakan bahwa prajurit TNI Angkatan Laut dari jajaran Lantamal IV/Tanjungpinang telah menyelamatkan “muka” Indonesia di perairan Selat Malaka, yang selama ini dikenal dunia sebagai wilayah yang rawan kejahatan.“Komitmen Tim Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV dalam memberantas kejahatan di Selat Malaka sebagai bukti mesin pertahanan keamanan Indonesia kuat, meski AL dalam keterbatasan alutsista dan anggaran,” ujar Sayed di Tanjungpinang, Sabtu (4/1).

Sayed yang juga Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji menyampaikan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Oleh karena itu, upaya “pembersihan” pelaku kejahatan di Selat Malaka tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, melainkan sebagai bukti komitmen sebagai bagian dari komunitas dunia.

“Tim WFQR Lantamal IV berhasil memberi efek getar kepada pelaku kejahatan di Selat Malaka maupun di Provinsi Kepulauan Riau. Efek getar itu membuat pelaku kejahatan berpikir ulang untuk melakukan kejahatan, karena merasa tim itu ada di mana-mana,” katanya.

Sebanyak 78 pelaku kejahatan ditangkap dalam berbagai kasus selama setahun adalah bukan kerja biasa, melainkan butuh energi besar dan integritas yang tinggi. Ini hadiah besar bagi negara, yang harus ditingkatkan terus-menerus.

Sayed mengatakan kesuksesan Lantamal IV/Tanjungpinang dalam melaksanakan tugas pokok seharusnya mendapat dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

Sumber: Antara

March 6, 2017

Lokasi Markas Komando Armada 3 Belum Diputuskan

05 Maret 2017

Markas Komando Armada TNI AL di Surabaya (photo : defence.pk)

Panglima TNI Ingin Komando Armada 3 Dibangun di Kaimana Papua

Jakarta – Komando Armada 3 TNI AL akan segera dibentuk untuk mendukung pemerataan pembangunan dan ekonomi nasional yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Meski direncanakan di Sorong, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta agar pusat Armada 3 dibangun di Kaimana, Papua Barat.

“Kurang lebih (Sorong). Maunya bapak Panglima sih ada satu areal di dekat Kaimana tapi itu masih konteksnya perlu dari 0 sekali. Di Teluk Kaimana, ada namanya Tanah Merah. Perencanaannya, maunya beliau di situ,” ungkap Kadispen TNI AL Laksma Gig Sipasulta di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017).

Meski begitu, TNI AL memberi masukan agar Komando Armada 3 tetap dibangun di Sorong. Mengingat untuk infrastruktur dan fasilitas lainnya, Sorong sudah jauh lebih lengkap. Di Sorong juga sudah terdapat Lantamal.

“Tapi kita kan juga kasih masukan. Karena kalau Sorong establish sudah, sudah ada fasilitas minimal mengawali. Karena ini perintah kita akan kerjakan, kita akan laporkan balik,” kata Gig.

TNI AL tetap akan mengkaji permintaan Panglima TNI. Namun lengkap dengan berbagai pertimbangan dari hasil pengkajian tersebut agar menjadi pertimbangan pimpinan.

Sorong, Papua Barat (image : GoogleMaps)

“Verifikasi, kita lihat untung ruginya, kita sampaikan dalam bentuk apresiasi. Kalau beliau katakan di situ, implikasinya macam-macam. Anggaran akan lebih besar lagi,” ucap Gig.

Jika kembali mengingat sejarah, pembangunan pangkalan di Kaimana sendiri sebenarnya dirintis pada era penjajahan Jepang setelah berhasil menggulingkan pemerintahan Belanda. Namun tak lama begitu pangkalan selesai dibangun, Jepang diserang oleh Sekutu hingga akhirnya menyerah kalah pada 1945.

Para penjajah mengincar Kaimana karena lokasinya yang strategis untuk menguasai wilayah Pasifik dan Australia. Wilayah Kaimana pernah dijadikan Pangkalan Udara dan Pangkalan Angkatan Laut Kerajaan Belanda saat Belanda masih menjajah sebagian tanah di Indonesia pada tahun 1946.

Tanah Papua sempat menjadi sengketa walaupun Indonesia sudah merdeka. Meski Belanda sudah menjadikan Kaimana sebagai pangkalan militer udara dan lautnya, Papua pada akhirnya diakui sebagai bagian dari Indonesia.

Walaupun demikian, infrastruktur di Kaimana masih dirasa sangat kurang untuk menjadi pusat Armada 3. TNI AL tetap merekomendasikan agar Komando Armada 3 berada di Sorong sehingga tidak benar-benar membangun dari titik 0.

Itu pun menurut Gig prosesnya masih cukup panjang, termasuk persiapan pembentukan Pasukan Marinir (Pasmar) 3 sebagai salah satu sarana yang diperlukan dalam pembangunan Komando Armada 3. Namun TNI menargetkan agar Komando 3 bisa beroperasi tahun ini atau maksimal tahun 2018.

“Masih proses, pertama larinya ke anggaran. Bukan cuma Pasmar 3, tapi juga Armada 3 juga sudah kita bicarakan. Prosesnya masih panjang. Ini masih perlu dibangun fasilitas, orangnya, kekuatan personelnya,” terang dia.

Kaimana, Papua Barat (image : GoogleMaps)

“Tapi aspek itu bisa terlaksana apabila sudah turun anggaran dari negara. Proses itu kita harapkan tahun ini, akhir tahun mungkin, tapi paling jelek tahun depan,” lanjut Gig.

Saat ini TNI AL memiliki 2 Komando Armada, yaitu Komando Armada Barat (Koarmabar), yang berada di Jakarta dan Komando Armada Timur (Koarmatim). Pembentukan Komando Armada baru akan membantu pemerataan pembangunan dan ekonomi sesuai dengan harapan Jokowi, termasuk untuk menunjang program tol laut.

Pembentukan Komando Armada baru ini sebetulnya bukan rencana baru. Penambahan Komando Armada TNI AL itu sejalan dengan rencana pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan). Ini juga sudah masuk dalam rencana strategis (renstra) TNI untuk memenuhi minimum essential force (MEF).

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut salah satu fokus TNI tahun ini adalah untuk menyesuaikan penyebaran pasukan-pasukan dan pangkalan-pangkalan yang tidak tersentral di Jawa. Penyebaran pangkalan pun difokuskan pada tempat-tempat terpinggir agar bisa menjadi sentra ekonomi baru, sesuai arahan Presiden Jokowi.

“Pembentukan kodam-kodam baru, kemudian koops baru tidak. Tapi (Komando) Armada baru. (Pembentukan) Armada III harus dilakukan,” terang Gatot usai Rapim TNI, Kamis (19/1).

Direncanakan sebelum ini, Komando Armada Barat tetap berada di Jakarta, Komando Armada Tengah di Makassar, dan Armada Timur di Papua. Penambahan Komando Armada salah satunya juga terkait dengan pengamanan Laut Cina Selatan. (Detik)


Jika Anggaran Turun, Pembentukan Pasmar 3 Paling Lambat Rampung Tahun Depan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — TNI masih terus berupaya mempersiapkan pembentukan Pasukan Marinir (Pasmar) 3. Kadispen TNI AL Laksma Gig Sipasulta, menyebut markas Pasmar 3 rencananya akan dibangun di sekitar teluk Kaimana, Papua Barat, sesuai keinginan Panglima TNI, Jendral TNI AD, Gatot Nurmantyo.

“Sudah jelas, kurang lebih (di situ), maunya bapak Panglima sih ada satu di dekat (Teluk Kaimana), tapi itu masih konteksnya itu perlu dari nol sekali (pembangunannya),” ujar Kadispen TNI AL, kepada wartawan di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017).

Kata dia di kawasan Teluk Kaimana, Papua Barat, terdapat wilayah yang bernama Tanah Merah. Panglima TNI berharap Pasmar 3 yang akan menangani wilayah Timur Indonesia, markasanya akan dibangun di tempat tersebut. Pihak TNI AL juga sudah memberikan sejumlah masukan sebagai alternatif lokasi markas Pasmar 3 selain di Teluk Kaimana.

“Kita lihat untung ruginya, kita sampaikan dalam bentuk apresiasi. Kalau beliau katakan di situ, implikasinya macam-macam, anggaran akan lebih besar lagi,” ujarnya.

Namun kapan Pasmar 3 akan dibangun, Laksamana Gig Sipasulta, mengatakan prosesnya masih panjang. Saat ini TNI masih berkutat di anggaran. Jika anggaran sudah bisa diturunkan, ia memprediksi pada akhir tahun ini, atau selambat-lambatnya pada awal tahun depan, Pasmar 3 sudah terbentuk.

“Ini prosesnya masih panjang, masih perlu dibangun fasilitas, orangnya, kekuatan personelnya,” ujar Kadispen TNI AL. (TribunNews)

March 6, 2017

Tank Pindad & Turkey

Sumber : defense -studies blogspot

Production of the first Prototype as part of the Indonesia Modern Medium Weight Tank Program in the first Quarter of 2017

05 Maret 2017

FNSS-PINDAD Modern Medium Weight Tank (photo: fallenpx)

Sharing that they made significant progress with their Indonesian partners regarding the medium weight class tank project conducted under the auspices of the Undersecretariat for Defense Industries, Mr. Küçük continued, “Here, we are developing a tank in approximately 32-35 tons of weight. The weight will adjust based on the armor configuration over it. We are developing a tank with the weight suitable for the field in the given region.

The turret over the tank was directly selected by the Indonesian Ministry of Defense. It has a 105 mm long turret and it has the turret’s own systems over it. We aim to develop our own turret systems with the Turkish Defense Companies and we wish to initiate the serial production with our own turrets. Our turret selected by Indonesia exists over the prototype at the moment. Engineers of our Indonesian partner PT PINDAD have been collaborating with us since the beginning of the project and throughout all development and production stages. We will be manufacturing the first prototype at the FNSS facilities.

Presently we started the production and the production of the first prototype will be completed by the first quarter of the coming year, and subsequently the engineers who were trained here and involved in all the processes will be manufacturing the second prototype with our support at PT PINDAD facilities.

The second prototype manufactured in Indonesia will be displayed in operation at a special day of the Indonesian Armed Forces on 5 October 2017 and afterwards the user acceptance tests will be launched and the Indonesian Army will be receiving the certification.”

(Defence Turkey)

March 5, 2017

KRI Nagapasa 403 akan Tiba di Indonesia Bulan April

kapan nih Kilo Classnya.. bukannya target TNI Al punya 12 kapal selam ?

 

Detik,04 Maret 2017

Kapal selam KRI Nagapasa 403 (all photos : Korps Hiu Kencana)

Kapal Selam Pesanan dari Korsel akan Tiba di Indonesia Bulan April

Jakarta – TNI AL memesan tiga kapal selam dari Korea Selatan. Satu dari tiga kapal telah jadi dan akan segera dibawa ke Indonesia untuk kemudian dioperasionalkan.

Kapal selam tersebut dipesan Indonesia dari DSME (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering) dengan proses Transfer of Technology (ToT). Satu kapal yang konstruksinya telah jadi sejak tahun lalu itu masih pada tahap uji coba.

Direncanakan kapal yang dibangun sejak tahun 2013 tersebut akan segera dikirimkan ke Indonesia setelah rangkaian uji coba selesai dilakukan.

“Kapal selam datang satu nanti bulan April,” ungkap KSAL Laksamana Ade Supandi di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017).

Ade sendiri bersama Menhan Ryamizard Ryacudu menyaksikan langsung peluncuran pertama kapal selam dengan kode Hull Number H.7712 itu di galanagan kapal DSME di Dermaga Okpo, Korea Selatan pada 24 Maret 2016. Sesuai dengan kontrak, kapal pertama dan kedua dilaksanakan di Korsel, dan yang ketiga akan dilakukan di galangan kapal PT PAL Indonesia karena proses ToT.

Selama proses pembangunan kapal selam pertama dan kedua, semua berada di bawah kendali pengawasan Satuan Tugas Proyek Pengadaan Kapal Selam (Satgas Yekda KDSE DSME209) yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Iwan Isnurwanto. Untuk meraih kesuksesan pembangunan kapal selama ketiga, PT PAL telah mengirimkan sejumlah 113 insinyur ke DSME, Korea Selatan, untuk terlibat dalam proses ToT dan pembelajaran pembangunan dan pengembangan kapal selam secara mandiri melalui tahap On the Job Training (OJT).

Kapal Selam Diesel Elektrik DSME209 yang merupakan produksi ekspor pertama kali pemerintah Korea Selatan tersebut merupakan pengembangan dari kapal selam tipe Chang Bogo Class milik Republic of Korean Navy (ROK Navy) dan Kapal Selam tipe Cakra klas yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut. Meski banyak yang menyebut nama kapal selam ini sebagai Chang Bogo Class, kabarnya sudah ada nama yang disiapkan bagi kapal selam yang dipersenjatai dengan torpedo berukuran 533 mm tersebut.

Kabarnya, kapal selam pertama akan diberi nama KRI Nagabanda 403. Kemudian kapal kedua dan ketiga masing-masing akan dinamai KRI Trisula 404 dan KRI Nagarangsang 405. Indonesia sendiri menandatangani kontrak pengadaan tiga kapal selam dengan DSME pada Desember 2011. Keseluruhan kapal akan diselesaikan pada tahun 2019.

Kapal selam ini mempunyai panjang 61,3 meter dengan kecepatan ± 21 knot di bawah air, dan dengan ketahanan berlayar lebih dari 50 hari. Secara umum kapal selam Chang Bogo Class ini memiliki beberapa kelebihan dari sisi teknologinya, seperti State of The Art technology yang meliputi Latest Combat System, Enhanced Operating System, Non-hull Penetrating Mast and Comfortable Accomodation.

Selain dipersenjatai torpedo dengan fasilitas delapan buah tabung peluncur, kapal selama Chang Bogo Class juga dirancang untuk mampu mendeploy ranjau laut, meluncurkan rudal anti kapal permukaan, serta mampu melepaskan Torpedo Counter Measure.

TNI AL sendiri sudah menyiapkan markas untuk kapal selam baru. Kapal-kapal selam Chang Bogo Class rencananya akan bermarkas di Teluk Palu, Sulawesi.

Bukan hanya KRI Nagabanda saja yang akan tiba, ada sejumlah kapal baru yang akan dimiliki jajaran TNI AL tahun ini. Kapal-kapal baru itu ada berbagai jenis. Tak hanya kapal perang, namun ada juga kapal untuk latihan.

“PKR (perusak kawal rudal) sudah ya, kapal layar latih, kemudian kapal-kapal PC (patroli cepat),” tutur Ade.

(Detik)

March 5, 2017

KSAU Sosialisasikan Program Kerja TNI AU

mantab ,pak !

Tingkatkan juga kemampuan untuk merawat overhoul Sukhoi pak ! Masa sukhoi kita masih perlu dirawat di Rusia ??? Mengapa tidak kita tiru strategi dari Singapore ?

 

 

04 Maret 2017

Airbus 330 MRTT sedang melakukan air refueling pada pesawat F-16 (photo : Airbus Group)

Drone Besar Setingkat Predator untuk Natuna dan Tarakan

PORTAL-KOMANDO.COM,.PENAU,.Malang, – TNI AU  akan menempatkan pesawat drone di daerah perbatasan terutama di Natuna dan Tarakan, dan akan mengadakan pengadaan pesawat drone yang lebih besar setingkat Predator, sehingga mampu terbang dengan radius yang lebih luas yang akan connect dengan program Kementerian Pertahanan yang saat ini sedang membangun satelit yang nanti akan dapat digunakan oleh pesawat drone yang akan dikembangkan, sehingga daerah-daerah yang perlu perhatian dapat diawasi.

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP,. dihapan para perwira dalam kunjungannya di Lanud Iswahjudi Madiun, Jumat (3/3). Yang diikuti para Asisten Kasau, Dan Korpaskhas, Pangkoopsau II dan pada Kepala Dinas jajaran Mabesau, selain itu Kasau juga mengunjungi Lanud Adi Soemarmo Solo dan Lanud Abdurachman Saleh Malang.

Pesawat Pengganti F-5 Tiger

Dikatakan, Pemerintah memberikan program yaitu Renstra I, Renstra II dan Renstra III, dan itu berdasarkan Minimum Essensial Force, TNI AU bekerja mengarah kepada kepentingan-kepentingan Skadron-skadron Udara, sehingga prioritas kebijakan kepada pengadaan perlengkapan-perlengkapan seperti pada tahun 2017 pengadaan Radar untuk pesawat T-50 termasuk persenjataannya,

Yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan pengganti pesawat F-5 yang dalam waktu dekat akan terealisasi dua atau tiga tahun mendatang, namun waktu yang begitu panjang perlu diperhatikan karena penerbang harus mengikuti jenjang karier, sehingga para penerbang harus mengikuti dan melaksanakan latihan di Skadron Udara 16 dan juga di Skadron Udara 11.

Kebutuhan 12 Radar

Termasuk kebutuhan sebanyak 12 Radar di seluruh Indonesia berdasarkan kepada Minimum Essensial Force bukan Ideal dan tahun 2019 ini akan berdatangan dan melengkapi kebutuhan TNI AU, ujar Kasau.

Kasau juga mengadakan terobosan, yaitu dalam setiap kontrak pengadaan pesawat harus ada dua yang dimasukkan, yaitu pelatihan pilot harus sampai pada tingkat pertempuran dan memasukkan semua kataloging speare dalam kontrak.

Pesawat F-5 Tiger TNI AU (photo : Jeff Prananda)

“Kita tidak boleh terjebak dengan tradisi yang ketat, kita harus membangun inovasi, tradisi tanpa inovasi akan ketinggalan, oleh sebab itu mari kita terus berinovasi dari kekurangan kita”, tegas Kasau.

Pesawat Tanker dan Surveillance

Program kedepan segera melengkapi pesawat MRTT (Multi Rolle Tanker Transport) Airbus 330, sehingga bisa mendukung penerbangan untuk air refueling, selain itu akan membangun Network Center Warfare, sehingga dapat memberikan data link kepada pesawat-pesawat tempur, dan yang tidak kalah pentingnya dapat memberikan data link kepada kapal-kapal perang, bahkan dalam suatu pertempuran Tank Leopard pun dapat diberikan data.

Selain itu harus segera memperkuat pesawat-pesawat survellance, sehingga Skadron Udara 5 untuk segera memasang peralatan yang mampu untuk melihat wilayah ZEE, apakah kapal-kapal yang mencuri ikan atau kapal perang lainnya sudah masuk ke wilayah kita.

TNI AU juga akan membangun kebutuhan-kebutuhan seperti testcell engine T-50 yang SDM-nya dapat menganbil dari yang menangani pesawat F-5, pengadaan radar pesawat T-50 dan persenjataannya seseuai dengan spek yang diminta. (Portal Komando)

Skadron Udara 32 Abd Saleh dapat Tambahan Empat Pesawat Hercules

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Skadron Udara 32 yang bermarkas di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh (Lanud Abd Saleh), Kabupaten Malang, Jawa Timur akan mendapat tambahan 4 (empat) pesawat Hercules.

(photo : Malang Voice)

“Skadron 32 akan ada penambahan pesawat Hercules dari Australia, ada kurang lebih 4 unit yang akan datang,” kata Marsekal Hadi Tjahjanto SIP, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Jumat, 3/3/2017 di  Lanud Abd Saleh.

Penambahan pesawat Hercules ini merupakan upaya untuk memperkuat alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia. Skadron 32 adalah Skadron Angkut Berat di bawah kendali Wing Udara 2.

Sementara itu, Marsekal Hadi menyampaikan, alutsista Skadron 21 masih dalam kondisi pemeliharaan. Untuk diketahui, Skadron 21 bertugas menyiapkan dan mengoperasikan pesawat tempur taktis untuk operasi lawan udara ofensif dan operasi dukungan udara. Skadron 21 juga bermarkas di Lanud Abd Saleh.

Tambahan Pesawat NC-212i

Pria kelahiran Malang ini menambahkan, sesuai Rencana Strategis (Renstra) sampai 2019, Skadron Udara 4 akan ditambah dengan 9 pesawat Casa 212i (Indonesia). Skadron Udara 4 adalah satuan udara angkut ringan yang berada di bawah jajaran Wing Udara 2 dan bermarkas di Lanud Abd Saleh. (Times Indonesia)

March 4, 2017

TNI AU akan Upgrade Kemampuan Pesawat T-50i

04 Maret 2017

Pesawat latih tempur T-50i (photo : Kusree)

Indonesia Upgrade Kecanggihan Pesawat Tempur

Magetan (Antara Megapolitan) – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyatakan bahaw TNI AU akan segera melakukan “upgrade” atau peningkatan kecanggihan terhadap pesawat tempur T-50i Golden Eagle untuk memaksimalkan tugas pengamanan udara NKRI.

“Kita akan upgrade T-50 dalam waktu dekat. Hal itu karena masih ada beberapa kekurangan dalam pesawat tempur tersebut,” ujar Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat melakukan kunjungan kerja di Lanud Iwahjudi Magetan, Jumat.

Menurut dia kekurangan yang dialami oleh pesawat tempur yang bermarkas di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Magetan tersebut terdapat pada sistem radar.

“Selain itu, kami juga akan melengkapi pesenjataan yang ada pada pesawat tempur tersebut sehingga dapat lebih mendukung tugas pengamanan udara NKRI,” kata dia.

Ia menjelaskan peningkatan kecanggihan pesawat T-50i Golden Eagle sangat penting mengingat wilayah NKRI sangat luas.

Pesawat latih tempur T-50i (photo : Jeff Prananda)

“Sehingga dalam pertengahan Rencana Strategis (Resntra) Tahap II tahun 2015-2019, pesawat tempur tersebut dapat melakukan tugas operasi seperti patroli dan pengamanan di wilayah Papua dan wilayah Indonesai Timur lainnya dengan lebih baik,” terang Hadi.

Sesuai data, dari total 16 unit T-50i Golden Eagle, kini hanya 15 unit T-50i yang dioperasikan TNI AU dan bermarkas di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Magetan.

Sedangkan satu unit lainnya mengalami “total lost” pada kecelakaan saat pertunjukan aerobatik di Lanud Adisutjipto Yogyakarta pada akhir tahun 2015.

Sementara, dalam kunjungan kerjanya ke Lanud Iswahjudi Magetan, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dengan didampingi oleh Komandan Lanud Iswahjudi Magetan Marsma TNI Andyawan meninjau Skadron Udara 14 dan  melakukan dialog dengan para anggota TNI AU setempat.

Adapun, kunjungan kerja ke Lanud Iswahjudi Magetan tersebut merupakan kunjungan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang pertama setelah dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi KSAU pada 18 Januari 2017.

(Antara)

March 3, 2017

Akhirnya! Indonesia Putuskan Beli Lima Unit Airbus A400M Senilai US$2 Miliar

dari Indomiliter.com

Selang sehari pasca pergantian posisi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), diperoleh kabar yang cukup menggembirakan seputar alutsista TNI AU. Seperti telah diberitakan sebelumnya bahwa Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah menjatuhkan pilihan pesawat angkut berat untuk TNI AU pada Airbus A400M Atlas. Dalam rencana belanja alutsista di MEF (Minimum Essential Force) II periode 2015 – 2019 memang sudah disiapkan alokasi pembelian tiga unit pesawat angkut berat. Namun dalam rencana MEF II belum dijelaskan apa jenis pesawat tersebut. Dan berita terbaru sudah ada titik terang tentang berapa unit Airbus A400M yang bakal diakuisisi TNI AU.

Baca juga: [Polling] Airbus A400M Atlas – Calon Pengganti Terkuat C-130B Hercules TNI AU

Merujuk ke situs Janes.com (19/1/2017), telah dikonfirmasi bahwa Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI sudah menyetujui pengadaan lima unit Airbus A400M Atlas. Nilai untuk lima unit A400M tersebut disebut mencapai US$2 miliar. Kelima A400M nantinya akan disebar untuk perkuatan armada pesawat angkut berat di Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32. Meski sudah ada konfirmasi tentang unit yang dibeli, namun belum dijelaskan lebih lanjut mengenai skema ToT (Transfer of Technolgy) yang akan diperoleh pihak Indonesia. Selama ini kemitraan antara Airbus Group dan PT Dirgantara Indonesia (DI) telah berlangsung sangat baik dan erat, hampir sebagian besar produk PT DI terkait dengan kerjasama bersama Airbus Group.

Sebelumnya pada bulan Agustus 2016, petinggi Airbus Defence and Space, Fernando Alonso, selaku Head of Military Aircraft, Airbus Defence and and Space melakukan lawatan kerja di Indonesia. Dalam agenda kerjanya, Alonso akan melakukan pembicaraan dengan pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan mitra kerja PT Dirgantara Indonesia (DI). Terkait dengan produk, Airbus A400M dan pesawat angkut sedang C-295 menjadi domain dari area kerja Airbus Defence and Space. Untuk C-295 kini telah beroperasi memperkuat Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.

Baca juga: Matangkan Kerjasama dan Penawaran A400M, Pimpinan Airbus Defence and Space Bertandang ke Indonesia

Sebagai informasi, harga bandrol satu unit Airbus A400 ditaksir senilai 152 juta euro, atau setara Rp2,3 triliun. Sebagai pesawat angkut berat, A400M punya maksimum payload 37 ton. Pesawat ini pertama kali meluncur pada Mei 2003, terbang perdana pada Desember 2009, dan diserahkan perdana ke pemesan (AU Perancis) pada Agustus 2013. Selain Perancis, negara pengguna Airbus A400M adalah Belgia, Jerman, Luxemburg, Spanyol, Turki, Inggris, dan Malaysia.

Baca juga: Airbus A400M Atlas – Next Generation, Pesawat Angkut Berat Strategis TNI AU

Ditilik dari kemampuan angkut dan jangkauan, Airbus A400 berada di antara pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dan C-130J Hercules. Dari sisi teknologi, Atlas punya inovasi tinggi dengan adopsi sistem kemudi fly by wire yang memudahkan penerbangan, sistem forward facing crew cockpit yang membuat operasi penerbangan efisien, dan ruang kabin terbesar yang memungkinkan peberbangan jarak jauh menjadi lebih hemat. Karena sudah serba terkomputerisasi, A400M hanya membutuhkan tiga awak, yakni pilot, kopilot dan loadmaster.

Sebagai pesawat angkut berat, A400M punya ruang kargo dengan lebar 4 meter, tinggi 3,85 meter, dan panjang 17,71 meter, pesawat ini mampu mengangkut kargo dalam berukuran besar seperti helikopter NH90 atau CH-470 Chinook atau dua buah kendaraan pengangkut infanteri Stryker. A400M juga bisa mengangkut truk semitrailer dengan peti kemas berukuran 6,906 meter. Kapasitas muatan keseluruhan mencapai 37 ton. (Haryo Adjie)

February 25, 2017

KKIP : Jangan Batalkan Pembelian dari PT DI

Kritik dari bu Connie mungkin harus diklarifikasi , apa betul  PT DI sama sekali tidak membuat helicopter ? Dia menduga bahwa PT DI hanya merakit saja komponen dari Airbus Helicopter. Hal ini yang menyebabkan pesanan helicoper (16 biji) dari TNI AU tidak kunjung tiba.. Kalau memang k PT DI belum memiliki kemampuan untuk helicopter lebih baik diakui saja, tapi sebaliknya jika dugaan bu Connie itu salah dia harus meralat kritikannya..  Mungkin jawabannya ada di  soal  JUMLAH.. selama ini belanja alutsita TNI hanya kwantitasnya sangat sedikit, jadi untuk mendapatkan offset (produksi bersama), alih tekhnologi jadi tidak EKONOMIS dari produsen. Mungkin Indonesia harus belajar dari Turki deh, negara itu membeli alutsista ( panser, pesawat/helicopert, kapal perang, dan drone ) tidak tanggung  jumlahnya.. jadi sangat menarik untuk industri pertahanan untuk mendapatkan alih teknologi atau offset..  Kenapa Indonesia tidak bisa ?? Iya kalau kembali lagi mengeluh soal anggaran.. ya coba dirasionalkan saja anggaran pertahanan kita..  Bayangkan anggaran TNI kita lebih banyak untuk membayar  admistrasi dan gaji personel dibandingkan untuk belanja alutsista . Contoh angkatan darat yang menyerap paling banyak anggaran  (ini khan negara maritim.. errror khan) dan  miliki 500 an personil, padahal  yang  memiliki kemampuan tempur hanya KOSTRAD dan Kopassus yang jumlahnya cuman 40 rbuan personil saja.. Nah yang sisanya ngapaian saja ??? Dugaan saya sih mereka yang melakukan tugas teritorial (KODAM, KODIM smp BABINSA).. ini yang membuat sangat tambun dan berat diongkos..  Coba bandingkan dengan Angkatan perang Vietnam atau Singapura deh  komposisinya.. Coba kalau personilnya bisa jadi misal 200 rbuan tapi  bisa 200 rb juga yang punya kemampuan tempur..WOW  kekuatan TNI paling akan disegani di kawasan Asia Tenggara..

 

Kompas,25 Februari 2017
Defense studies blogspot

Helikopter tempur EC 725 Cougar buatan PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, yang sudah lengkap dan siap diterbangkan (photo : Kompas)

Jangan Batalkan Pembelian dari PT DI

BANDUNG, KOMPAS — Polemik pembelian helikopter Agusta Westland 101 diharapkan tak membuat pemerintah membatalkan kontrak pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar buatan PT Dirgantara Indonesia. Pembatalan akan merugikan dan mencoreng nama baik PT DI di dunia industri penerbangan internasional.

Permintaan ini mengemuka dalam kunjungan Tim Komite Kebijakan Industri Penerbangan (KKIP) ke PT DI di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/2). Kunjungan tim KKIP itu ingin meninjau secara langsung kemampuan PT DI memproduksi EC 725 Cougar.

“Jangan sampai karena polemik AW101 ini mengganggu proses bisnis PT DI. PT DI sudah belanja untuk produksi hingga pemeliharaan, jangan sampai dibuat rugi,” kata Ketua Pelaksana KKIP Laksamana (Purn) Sumardjono.

Sebelumnya, pemerintah dan PT DI menyepakati pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar. Dua unit sudah dikirim 25 November 2016. Empat unit lainnya sudah rampung meski belum ada keputusan kapan pengiriman akan dilakukan. Sementara 10 unit lagi masih dalam proses pembuatan.

Sumardjono berpendapat, heli EC 725 Cougar buatan PT DI sebenarnya punya kemampuan setara dengan AgustaWesland 101 (AW 101). Dengan demikian, apabila spesifikasi di antara kedua heli itu tidak terlalu jauh, sebaiknya TNI AU tidak membeli AW 101. “Kita perlu mendukung dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri,” ujar Sumardjono.

Kepala Bidang Transfer of Technology & Ofset KKIP Rachmad Lubis juga mengingatkan Kementerian Pertahanan bahwa pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar itu sesuai dengan rencana strategis pertahanan.

Helikopter AW 101 TNI AU (photo : cliphistory)

EC 725 Cougar merupakan helikopter kapasitas dua mesin yang mampu mengangkut beban hingga 11 ton dengan kemampuan jelajah jarak jauh. Heli ini memiliki kapasitas ruang yang mampu mengakomodasi berbagai pengaturan tempat duduk hingga 29 anggota pasukan ditambah 2 orang sebagai pilot dan kopilot.

Kepala Divisi Rekayasa Manufaktur Direktorat Produksi PT DI Mukhamad Robiawan mengemukakan, EC 725 Cougar unggul dibandingkan AW101 dalam beberapa spesifikasi. Dalam hal pendaratan darurat di perairan, sistem pelampung Cougar dapat mengembang sebelum heli mendarat di air. Berbeda dengan AW 101 yang sistem pelampungnya baru akan terbuka setelah badan heli menghantam air.

“Selain itu, untuk kedap suara di dalam kabin, Cougar relatif lebih bagus,” lanjut Robiawan.

Sebelumnya, Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh mengemukakan, harga jual EC 725 Cougar sekitar 30 juta euro atau lebih kurang Rp 420 miliar. Harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan heli AW 101 yang diperkirakan seharga 55 juta dollar AS atau Rp 761 miliar (Kompas, 28/12/2016).

Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Andi Alisjahbana menyebutkan, apabila PT DI diminta untuk memproduksi helikopter AW 101, hal itu memerlukan investasi besar, mulai dari sarana produksi hingga kemampuan dasar manusia.

(Kompas)