Archive for ‘Intelijen-Terorisme’

August 14, 2017

Ini Identitas 18 WNI Mantan Anggota ISIS Yang Pulang Ke Indonesia

Kok bisa ya ..bukannya paspor RI mereka sudah dibakar.. dan mereka juga sudah menyatakan sumpah setia kpd ISIS/ Abu bakr Bagdadi

Harusnya biarkan saja mereka di Syria atau Turki!! Ngapain gerombolan keturuan Timteng ini kembali lagi..mereka hanya bisa bikin kacau macam si bibieb Rijiek

 

Empat orang WNI ini dua tahun memilih meninggalkan Indonesia untuk hijrah di wilayah yang diklaim sebagai wilayah ISIS di Suriah. Foto: AFP/BBC Indonesia

18 WNI mantan aktifis ISIS tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (12/8) sore. Seiring kejatuhan ISIS di Irak dan Suriah, mereka melarikan diri dan menjadi pengungsi di wilayah Turki. Begitu mendarat di Jakarta, semua WNI tersebut langsung dijemput oleh tim Densus 88 Antiteror Polri  dan membawa mereka ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, untuk diperiksa.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, membenarkan 18 WNI yang diketahui keluar dari Suriah itu telah dibawa oleh Densus 88 ke Mako Brimob Depok. Pihak Densus 88 akan melakukan pemeriksaan dan profiling latar belakang mereka.

Diduga ada ratusan WNI yang bergabung dengan jaringan ISIS di Suriah. Mereka rata-rata tergiur dengan janji ISIS. Namun banyak juga yang meninggalkan ISIS karena merasa tertipu.
Namun pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, meyakini tidak semua WNI yang berangkat ke Suriah bertempur di pihak ISIS.

“Banyak juga dari mereka yang merupakan anggota front anti (presiden) Bashar al-Assad, dan tidak setuju dengan ISIS.” katanya seperti dilansir BBC Indonesia.

Ridwan mencontohkan Jabhat al-Nusra, sebagai salah satu kelompok yang ikut bertempur di Suriah, “tetapi tidak sejalan dengan ISIS. Putra Abu Jibril, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia, pernah berjuang untuk mereka.”

Berikut identitas ke-18 WNI simpatisan ISIS yang baru pulang ke Indonesia seperti dilansir merdeka.com :

1. LASMIATI Ngawi 29 Juli 1977
2. MUHAMMAD SAAD AL HAFS Jakarta 26 Agustus 2014
3. MUTSANNA KHALID ALI Jakarta 26 Januari 2004
4. DIFANSA RACHMANI Tanjung Redeb 21Maret 1986
5. MUHAMMAD HABIBI ABDULLAH Jakarta 12 Oktober 2011
6. MUHAMMAD AMMAR ABDURRAHMAN Jakarta 26 Agustus 2014
7. DWI DJOKO WIWOHO Medan 15 Januari 1967
8. FAUZAKATRI DJOHAR MASTEDJA Padang 28 April 1959
9. FEBRI RAMDHANI Jakarta 19 Februari 1994
10. SITA KOMALA Jakarta 04 Januari 1961
11.INTAN PERMANASARI PUTRI Jakarta 13 September 1989
12.SULTAN ZUFFAR KURNIAPUTRA Jakarta 05 Januari 1999
13.RATNA NIRMALA Jakarta 09 September 1966
14.NURSHADRINA KHAIRA DHANIA Jakarta 06 April 1998
15.HERU KURNIA Jakarta 12 Julia 1962
16.TARISHA AQQILA QANITA Batam 04 Oktober 2004
17.MOHAMMAD RAIHAN RAFISANJANI Jakarta 02 Februari 1999
18.SYARAFINA NAILAH Jakarta 26 Februari 1996

July 26, 2017

IPB Peringatkan Dosen-dosen yang Jadi Anggota HTI

Tanggung amat.. pecat aja .. mereka yang sudah merusak IPB jadi Institut Pundamentalis Bogor !!!
abu 26 Juli 2017, 13:57 WIB

Parastiti Kharisma Putri – detikNews
IPB Peringatkan Dosen-dosen yang Jadi Anggota HTIFoto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta – Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi peringatan kepada dosen-dosennya yang jadi anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ada beberapa dosen IPB yang disebut-sebut jadi anggota HTI.

“Ya sejauh ini kita memantau apa mereka terlibat dalam kegiatan yang dikatakanlah mengarah pada ekstrem, kami terus pantau ke arah itu. Tapi pada umumnya tidak ada, tapi pada masa lalu di saat organisasi itu belum dibubarkan ya kita tahu juga ya ada yang involve lah orasi atau apa itu,” kata Rektor IPB Prof. Hermanto Siregar di gedung Kemenristek Dikti, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).

Hermanto mengaku tidak bisa berbuat apa-apa saat HTI masih berbadan hukum. Namun, pihaknya kini akan menindak jika ada dosen yang masih melakukan aktivitas HTI.

“Cuma kita pantau terus jangan sampai setelah dilakukan pembubaran mereka masih melakukan hal yang sama. Karena tadi sudah sangat jelas dasar dasar hukum yang disampaikan pak menteri ya. Tentu kami juga akan tindak ya,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Hermanto, pihaknya baru sebatas menegur dosen-dosen tersebut.

“Kalau organisasinya belum dibubarkan ya kita nggak bisa tegur juga jelas nanti kita salah nanti dibilang kita melanggar HAM kan. Tapi begitu dia sudah dinyatakan dibubarkan ya nggak boleh dong dia melakukan kegiatan itu lagi,” ujarnya.
(idh/fdn)

June 22, 2017

Diduga Terkait ISIS, Ini Peran 3 Tersangka Teroris di Bima

 

Sumbawa emang jadi sarang teroris.. nggak heran karena daerah itu tidak pernah diurus dan punya wakil di Jakarta macam Fahri Hamzah dan Din Syamsuddin… bahlul semua.. akibatnya  daerah yang indah dan  kaya akan mineral ini rakyatnya miskin dan bodoh..

SENIN, 19 JUNI 2017 | 16:28 WIB

Diduga Terkait ISIS, Ini Peran 3 Tersangka Teroris di Bima

Wakil Kepala Polda NTB Komisaris Besar Imam Margono menggelar jumpa pers terkait penangkapan tiga tersangka teroris di Bima, Senin 19 Juni 2017. Polisi juga menggelar barang bukti saat penangkapan. Tempo/ABDUL LATIEF APRIAMAN

TEMPO.CO, Mataram – Densus 88 menangkap 3 orang tersangka teroris di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu 17 Juni 2017. Ketiganya diduga telah mempersiapkan aksi pengeboman di Markas Polsek Woha Bima. Mereka juga telah menyiapkan bom rakitan.

“Secara stuktural jaringannya dengan ISIS masih akan kita dalami di pemeriksaan lanjutan.” kata Wakil Kepala Polda NTB Komisaris Besar Imam Margono  dalam jumpa pers di Mapolda NTB, Senin 19 Juni 2017. Ada dugaan ketiga tersangka memiliki keterkaitan dengan aktivitas ISIS di Marawi, Filipina Selatan.

Baca: Teroris di Bima, Kapolri Tito: Belajar Bikin Bom dari Bahrun Naim

Para tersangka itu adalah, Kurniawan bin hamzah, (23) yang berperan sebagai pelaku utama perakit bom dan melakukan survey terhadap Mapolsek Woha, Bima. Kemudian, Nasrul hidayat alias Dayat (21) mahasiswa yang bertugas kurir beli H202 cair untuk bahan pembuatan bom. Adapun satu tersangka lainnya, Rasyid Ardisansyah, diketahui sebagai jaringan Penato’i Bima yang sempat bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) melakukan perampokan di kantor Pos dan Giro Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 2012.

Saat penangkapan di tubuh Kurniawan aparat mengamankan bom rakitan aktif, sementara dari penggeledahan di rumah Kurniawan diamankan 24 item barang bukti bahan-bahan merakit bom. “Dari pengakuan tersangka Kurniawan, dia mempelajari ilmu merakit bom dari internet yg dirilis ISIS melalui link group telegram Bahrun Naim.” kata Margono.

Baca: Terduga Teroris di Bima, Dua dari Tiga Orang Diduga Jaringan Poso  

Barang bukti itu antara lain dua botol air aki, satu tas plastik pupuk urea, satu bungkus amonium nitrat, alat solder, 85 bola lampu hias, tiga buah casing pipa, serta empat buah telepon genggam yang dimodifikasi menjadi switching bom rakitan. Seluruh bahan yang diamankan itu rencananya akan digunakan melakukan teror dalam Bulan Ramadhan ini.

Ketiga tersangka teroris barang bukti saat ini masih diamankan di Mako Brimob Polda NTB, sebelum nantinya akan dibawa ke Jakarta dalam waktu dekat.

ABDUL LATIEF APRIAMAN

May 26, 2017

Bom Kampung Melayu, Begini Kaitan JAD dengan ISIS

Benar orangnya ya itu itu saja.. para penyembah kematian dan  percaya “bumi datar”. MUI kok diem aja..ya Kelompok teroris ini beneran menistakan agama tapi MUI cs tenang tenang saja.. jangan jangan MUI emang sudah jadi sarang gerombolan “bumi datar”
Pemerintah harus lebih serius “sikat” gerombolan penyembah kematian dan “bumidatar” mulai dari Departemen Pendidikan dan universitas.  Banyak institusi pendidikan negeri ini sudah kena virus ajaran sesat.
Jumat 26 Mei 2017, 08:15 WIB

Kanavino Ahmad Rizqo – detikNews
Bom Kampung Melayu, Begini Kaitan JAD dengan ISISFoto: Rengga Sancaya
Jakarta – Jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) diduga oleh polisi terlibat dalam insiden bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pola serangan yang dilakukan dalam aksi teror di Kampung Melayu itu disebut mirip dengan JAD.

Mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan, apabila bom bunuh diri di Kampung Melayu itu berkaitan dengan bom panci yang terjadi di Bandung maka bisa dipastikan jaringan itu adalah JAD.

“Iya kalau benar ada kaitan dengan bom panci di Bandung yang lalu, maka ini sudah pasti dari jaringannya ya itu JAD, ada lagi yang baru juga, itu variabel dari JAD, nama meraka bisa macam-macam tapi orangnya itu-itu saja,” ujar Ansyaad saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/5/2017).

Ansyaad menjelaskan, pasca terungkapnya jaringan teror seperti Jemaah Islamiyah (JI), Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Negara Islam Indonesia (NII), munculah jaringan teror pecahan dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka diketahui menggunakan nama baru untuk melancarkan aksi terornya.

Baca Juga: ISIS Klaim Tanggung Jawab Bom Kampung Melayu

“Ya iya jadi gini dulu kan sebelum ISIS kan kita tahu induknya ada JI, kemudian JAT, ada juga NII kemudian mereka sudah terungkap semua banyak yang tertangkap. Ya mereka banyak muncul sempalan-sempalan berbagai macam nama tetapi simpulnya tetap saja induknya ya JI, JAT NII,”jelasnya.

Saat mendengar adanya ISIS, kelompok-kelompok teror pecahan itu kemudian berbaiat kepada ISIS. Begitu pula JAD yang hari ini santer diberitakan terlibat dalam aksi bom di Kampung Melayu.

“Nah ini sempalan-sempalan ini dengan munculnya ISIS, itu mereka semua otomatis berbaiat ke ISIS,” tutur Ansyaad.

Pola perekrutan dalam gerakan teror ini pun semakin berkembang dengan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Hal ini pula yang menjadikan polisi mudah dalam mengidentifikasi dan membongkar kelompok-kelompok tersebut.

“Pola perekerutan sederhana sekali, bisa lewat medsos itu, ya kalau dulu orang diajak berdasarkan jalur kekeluargaan atau pernah sama-sama dalam satu lembaga pendidikan, ya kalau sekarang tidak perlu. Itu mereka bisa dari lewat medsos, ada yang tertarik, ya otomatis dia ikut. Dia berbaiat ISIS, dia dilatih juga,” tutur Ansyaad.

Menurut Ansyaad, jaringan JAD di Indonesia ini bisa dikatakan sebagai kelompok kecil. Mereka berangkat dari pemahaman radikal dan penafsiran yang keliru terhadap doktrin-doktrin agama.

“Umumnya kelompok-kelompok kecil dan namanya itu tidak terlalu penting, yang penting mengusung pemahaman. Satu mindset yang bersumber dari paham-paham radikal. Sebetulnya sumbernya dari pemahaman yang dangkal, penafsiran keliru terhadap doktrin-doktrin agama,” tuturnya.

Jaringan teror ini pun, sambung Ansyaad, tak terlalu mempermasalahkan tempat dalam melancarkan aksinya. Mereka memilih secara acak asalkan ada keramaian dan bisa menimbulkan kekhawatiran kepada banyak orang.

“Kalau tempat tidak terlalu masalah. Ya dimana saja mereka mendapatkan kesempatan di situ mereka melihat dan mempunyai target, yang penting ada banyak orang, ada pejabat, target yang paling strategis sekali tapi itu tidak terlalu penting, yang paling penting buat mereka bisa melakukan serangan itu,” tutupnya.
(knv/nkn)

++++++++++++++++++++

ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom Kampung Melayu

JUM’AT, 26 MEI 2017 | 07:36 WIB

ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom Kampung Melayu  

Terminal dan halte Kampung Melayu Jakarta Timur belum beroperasi pasca-ledakan bom. MARIA FRANSISCA

TEMPO.CO, Kairo – Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas teror bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga personel kepolisian dan melukai 15 orang lain pada Rabu malam, 24 Mei 2017.

“Pelaku ledakan yang menyerang polisi Indonesia di Jakarta adalah milisi ISIS,” ujar ISIS dalam pernyataannya di Amaq, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 26 Mei 2017.

Baca juga: Satu Terduga Pelaku Bom Kampung Melayu Punya Bisnis Obat Herbal  

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Setyo Wasista mengatakan telah mulai melihat hubungan antara aksi teror di Kampung Melayu dan di Kota Manchester, Inggris, yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Aksi di Inggris juga didalangi ISIS.

“Kejadian di belahan dunia lain bisa memicu dan menginspirasi sel-sel yang tiarap. Setelah melihat, mereka terinspirasi melakukan serangan,” ucap Setyo, Kamis kemarin.

Baca juga: Begini Kronologi Ledakan Bom Kampung Melayu  

Teror bom Kampung Melayu merupakan serangan paling mematikan sejak teror pada 14 Januari 2016 di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta. Dalam peristiwa di Sarinah, delapan orang tewas, empat di antaranya pelaku ledakan.

Adapun tiga anggota Polri yang gugur akibat teror bom Kampung Melayu adalah Bripda Imam Gilang asal Klaten, Bripda Ridho Setiawan dari Lampung, dan Bripda Taufan asal Bekasi.

CHANNEL NEWS ASIA | REUTERS | EGI ADYATAMA

May 8, 2017

Pemerintah Bubarkan HTI, Wiranto: Aktivitasnya Mengancam NKRI

harusnya sudah dari 15 tahun yang lalu.. benih virus jahat HTI sudah menyebar kemana mana.. terutama di IPB Bogor ( Institut Pundamentalis Bogor)

 

SENIN, 08 MEI 2017 | 14:50 WIB

Pemerintah Bubarkan HTI, Wiranto: Aktivitasnya Mengancam NKRI

Menkopolhukam Wiranto, Menkumham Yasonna Laoly, Mendagri Tjahjo Kumolo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat memberi pernyataan pers mengenai Ormas Hizbut Tahrir Indonesia, di Kemenkopolhukam, Jakarta, 8 Mei 2017. TEMPO/Yohanes Paskalis

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan pemerintah akan membubarkan organisasi massa (ormas) Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

 

“Mencermati berbagai pertimbangan, serta menyerap aspirasi masyarakat, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI,” kata Menkopolhukam Wiranto, usai bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin, 8 Mei 2017.

Baca juga:
Alasan Ansor Minta PNS Berafiliasi HTI Diawasi
Jubir Hizbut Tahrir: Tuduhan GP Ansor Kami Anti-NKRI Tak Mendasar

 

Keputusan itu bukan berarti pemerintah anti terhadap ormas Islam. Namun, semata-mata untuk merawat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, kata Wiranto.

“Selama ini aktivitas HTI telah menimbulkan benturan di masyarakat yang mengancam keamanan dan ketertiban serta keutuhan NKRI, sehingga pembubaran menjadi langkah yang diambil,” kata mantan Panglima TNI itu.

Baca pula:
Polisi Tak Izinkan HTI Gelar Forum Internasional
Menteri Tjahjo: HTI Sulit Dibubarkan Meski Tak Terdaftar, Kenapa?

 

Sebelumnya, aparat telah menolak beberapa ijin kegiatan yang diajukan organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena dianggap ingin mewujudkan pemerintahan berdasarkan khilafah, yang akan meresahkan masyarakat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto mengatakan ide khilafah yang diusung HTI akan terus dikaji di Kemenko Polhukam.

ANTARA

 

+++++++++++++++++++++

 

PUSaKO: Bubarkan HTI, Pemerintah Inkonstitusional

SENIN, 08 MEI 2017 | 19:37 WIB

PUSaKO: Bubarkan HTI, Pemerintah Inkonstitusional

Sejumlah massa Hizbut Tahrir Indonesia membawa banner saat mengikuti puncak acara Muktamar Khilafah 2013 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/6). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Padang – Direktur Pusat Studi Konstitusional (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Feri Amsari, menilai pembubaran organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia  atau HTI oleh pemerintah inkonstitusional. Sebab, hak untuk berkumpul dan berserikat dijamin Undang-Undang Dasar.

“Saya bukan pendukng organiasi yang dibubarkan itu (HTI). Tapi jika pemerintah sudah membubarkan organisasi tanpa proses peradilan, ini bahaya bagi demokrasi,” ujarnya kepada Tempo, Senin 8 Mei 2017.

Baca:
Pemerintah Bubarkan HTI, Wiranto: Aktivitasnya Mengancam NKRI

Menurutnya, pencabutan hak konstitusional harus melalui putusan peradilan. Pemerintah tak boleh otoriter. Feri melihat sikap pemerintah tersebut bisa menjadi sinyal buruk bagi kebebasan berorganisasi. Karena itu pemerintah harus segera mengevaluasi sikapnya. “Ingat, hak konstitusional setiap orang untuk berorganisasi,” ujarnya.

Feri meminta pemerintah membuktikan dulu kesalahan HTI di pengadilan. Sehingga apapun putusan pengadilan harus dihargai. “Buktikan dulu,” kata dia.

Baca pula: 
Pembubaran HTI, Wiranto: Akan Lewat Proses di Lembaga Peradilan

 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan pemerintah akan mengambil langkah tegas untuk membubarkan  HTI. Pertimbangan itu didasari sejumlah alasan dan aspirasi masyarakat.

Wiranto berpendapat HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kegiatan HTI, ucap dia, terindikasi kuat bertentangan dengan tujuan, asas, serta ciri dasar negara RI, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas.

Wiranto menegaskan bahwa pemerintah tak sewenang-wenang mengambil keputusan membubarkan HTI. Upaya pembubaran itu akan melalui prosedur hukum.

“Sudah jelas bahwa kita membubarkan tentu dengan langkah hukum, karena itu nanti ada proses kepada satu lembaga peradilan,” ujar Wiranto saat jumpa pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, 8 Mei 2017.

ANDRI EL FARUQI | YOHANES PASKALIS

May 8, 2017

India Larang Saluran TV Zakir Naik karena Dianggap Ilegal

Di negeri asalnya  India dan Pakistan aja dilarang  tapi . Zakir Taik ini malah bisa diterima oleh Wapres Yusuf Kalla dan keluyuran menyebar ajaran kebencian..

SENIN, 08 MEI 2017 | 05:56 WIB

India Larang Saluran TV Zakir Naik karena Dianggap Ilegal

Hindraf meminta badan PBB untuk bertindak terhadap Zakir Naik. freemalaysiatoday.com

TEMPO.CO, Kashmir – Pelanggan jaringan televisi kabel di sebagian besar wilayah Kashmir mengatakan, jaringan siaran Pakistan dan Arab Saudi tidak ditransmisikan di televisi mereka. Keluhan itu datang sehari setelah pemerintah Jammu dan Kashmir meminta hakim distrik untuk memblokir 34 saluran televisi ilegal.

 

Salah satu yang diblokir adalah saluran televisi milik pendakwah Islam kontroversial kelahiran India, Zakir Naik. Pada Sabtu, 6 Mei 2017, Menteri Penyiaran India M Venkaiah Naidu mengungkapkan keprihatinannya atas laporan bahwa saluran Peace TV milik Zakir Naik, yang ditemukan banyak menyebarkan ajaran Islam garis keras dan memuat propaganda anti-India. Tayangan itu disiarkan tanpa seizin pemerintah.

Baca: Zakir Naik Akan Undang 1.000 Non-Muslim Bekasi Jadi Tamu Spesial

 

Menurut pemeritah, transmisi saluran itu bertentangan dengan peraturan TV kabel dan hakim distrik memiliki wewenang untuk menyita peralatan jika terjadi pelanggaran. Saluran semacam itu berpotensi mendorong atau menghasut kekerasan dan menciptakan gangguan hukum dan ketertiban di Lembah Kashmir.

Atas perintah tersebut, hakim distrik di Jammu dan Kashmir langsung memutus siaran dari televisi Zakir Naik, baik yang berbahasa Inggris ataupun yang berbahasa Urdu. Selain beberapa saluran yang dianggap memicu kekerasan, saluran lain khususnya yang menanyangkan program olahraga dan serial drama juga diblokir.

Baca: Pengadilan Malaysia Panggil Penggugat Zakir Naik

Di media sosial, banyak warga Kashmir mengkritik langkah tersebut dengan alasan bahwa saluran semacam itu tidak bertanggung jawab atas segala kekerasan yang terjadi.  Analis politik Gowhar Geelani menulikan di Twitter: “Ini lucu. Saluran olah raga Pakistan dan serials drama menghasut kekerasan.”

Blogger Muhammad Faysal menulis di Twitter, “Rupanya ibu saya telah diradikalisasi oleh dosis sinetron Humsafar dan Zindagi Gulzar Hai.”

Baca: Zakir Naik Kuliah Umum di UMY, Kampus Verifikasi Ketat Peserta

 

Bulan lalu, pemerintah negara bagian melarang 22 situs media sosial, termasuk Facebook, Twitter dan WhatsApp, dalam upaya untuk memperbaiki situasi hukum dan ketertiban yang memburuk. Lembah Kashmir sedang menghadapi bentrokan baru antara penduduk setempat, kebanyakan dari mereka adalah pelajar, dan pasukan keamanan serta serangan militan.

Zakir Naik pernah datang ke Indonesia dan bercemah ke sejumlah kota seperti Yogyakarta, Makassar dan Bekasi.

April 9, 2017

Kronologi Anggota DPRD dari PKS Dideportasi Turki dan Dijemput Densus

Minggu 09 Apr 2017, 16:11 WIB

Mei Amelia R – detikNews

Kronologi Anggota DPRD dari PKS Dideportasi Turki dan Dijemput DensusIlustrasi peta Turki (Screenshot Google Maps)
Jakarta – Anggota DPRD Pasuruan dari Fraksi PKS, Muhammad Nadir Umar dan seorang aktivis LSM bernama Budi Mastur dijemput oleh Densus 88 (Antiteror). Densus 99 melakukan tindakan ini karena kedua pria itu dideportasi dari Turki setelah mencoba masuk ke Lebanon.

Dijelaskan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, kedua orang itu ke Turki untuk menyalurkan bantuan senilai USD 20 ribu untuk para pengungsi Suriah.

“Akan didonasikan kepada para pengungsi di Turki dan Lebanon,” tutur Rikwanto dalam keterangannya, Minggu (9/4/2017).

Kedua orang ini bernaung di Yayasan Qouri Umah dan berniat menjalankan misi kemanusiaan. Aktivitas mereka berlangsung mulai 31 Maret hingga kembali ke Indonesia pada 6 April.

Umar dijemput Densus 88 di Bandara Juanda Surabaya, sedangkan Budi Mastur dijemput Densus 88 di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Berikut kronologi aktivitas mereka hingga dijemput Densus 88:

31 Maret 2017
berangkat melalui rute Bandung, Surabaya-Kuala Lumpur-Istanbul.

1 April 2017
sampai di Istanbul dan dijemput oleh perwakilan dari Yayasan Qouri Umah yang berada di Istanbul. Pada sore harinya kemudian sempat mengunjungi tempat pengungsian warga Palestina di Istanbul (penyaluran bantuan).

2 April 2017
berangkat ke Gaziantep (Turki) untuk penyaluran bantuan dan kemudian sore harinya dilanjutkan ke Kota Rayhanli (perbatasan Turki-Suriah). Setelah selesai melakukan penyaluran bantuan kemudian menginap di kantor cabang Qouri Umah di Rayhanli dan kemudian kembali ke Istanbul.

4 April 2017
berangkat ke Lebanon dari Istanbul dan setelah sampai di Lebanon, terkendala mengenai visa dan kemudian dikembalikan ke Istanbul dan setelah sampai di Istanbul kemudian diketahui bahwa mereka telah memasuki daerah perbatasan dan kemudian diamankan oleh Imigrasi.

5 April 2017
dilakukan pemeriksaan di RS di Istanbul.

6 April 2017
kemudian dideportasi ke Indonesia (Bandung dan Surabaya) via Kuala Lumpur.

Kini, Muhammad Nadir Umar diinterogasi di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Kementerian Sosial Bambu Apus. Rencananya, begitu selesai diinterogasi, Umar akan dipulangkan ke keluarganya.

(dnu/imk)

April 9, 2017

Lawan Teroris dan ISIS, Pemerintah Disarankan Gandeng Netizen

Rabu, 20 Jan 2016 13:10 WIB

Erwin Dariyanto – detikInet

Jakarta – Pemerintah berencana merevisi UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Salah satu yang dipertimbangkan adalah memberikan kewenangan lebih kepada aparat keamanan untuk menangkap orang yang terindikasi kuat bakal melakukan teror ke masyarakat.

Namun ada yang terlupakan oleh para penggagas revisi UU Terorisme tersebut. Pengamat kejahatan terorisme sekaligus pendiri Institute for International Peace Building di Jakarta, Noor Huda Ismail mengatakan bahwa melawan terorisme tidak cukup dengan hanya mengandalkan pendekatan keamanan.

Pemerintah, kata Noor Huda, perlu menyusun dua kebijakan untuk melawan terorisme. Pertama adalah mendorong mantan terpidana teroris untuk kembali diterima ke masyarakat dan kedua, menggandeng masyarakat sipil untuk melakukan “counter narrative” terhadap penyebaran ide-ide kekerasan yang dikampanyekan oleh pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di dunia maya.

Menurut Noor Huda, mantan narapidana teroris selalu mengalami dilema ketika selesai menjalani masa hukuman. “Apakah mereka kembali ke jalur jihad atau kembali ke masyarakat dengan mengikuti hidup yang normal?, jika mereka hidup dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sulit, kurang pendidikan dan tanpa dukungan kuat dari keluarga mereka untuk kembali ke masyarakat, kemungkinan besar mereka akan tergiur untuk kembali ke kelompok mereka,” kata Noor Huda dalam artikelnya di Australia Plus ABC yang dikutip detikcom, Rabu (20/1/2016).

Pemerintah sudah berupaya melakukan pendekatan kepada para mantan napi teroris itu melalui program deradikalisasi. Sayang, program ini masih terbentur keterbatasan dana, infrastruktur dan sumber dara manusia. “Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu mengatur penempatan, pengawasan, pengembangan dan melakukan program rehabilitasi untuk para mantan teroris,” kata Noor Huda.

Hal yang tak bisa dilupakan lagi adalah soal gencarnya pendukung ISIS melakukan propaganda dan kampanye melalui dunia maya, seperti Twitter, Facebook, YouTube atau blog. Sehingga, kata Noor Huda, pemerintah perlu membuat strategi dan upaya sistematis untuk membendung gerakan terorisme di dunia maya. Ini bisa dilakukan dengan menggandeng masyarakat yang aktif di dunia maya alias Netizen.

“Jika IS (Islamic State/ISIS) telah berhasil mengunakan jejaring sosial untuk menyebarkan pesan mereka di Facebook, Twitter dan YouTube, kitapun masyarakat madani juga perlu membuat kampanye serupa di media sosial untuk melawan gerakan mereka. Kita bisa ‘belajar’ bagaimana ‘kreatifnya’ kelompok ini menggunakan teknologi untuk menyebarkan ideologi mereka dengan melihat produksi video, membaca Twitter dan semua yang mereka posting di dunia maya,” kata Noor Huda.

(erd/fyk)

April 8, 2017

6 Terduga Teroris Serang Polisi di Tuban, Polisi: Balas Dendam

Setip aja pak Polisi ! Percuma di penjara..
Sabtu 08 Apr 2017, 21:21 WIB

Ainur Rofiq – detikNews
6 Terduga Teroris Serang Polisi di Tuban, Polisi: Balas DendamFoto: Ainur Rofiq
Tuban – Penyerangan anggota polisi di Jenu, Tuban, Jawa Timur, oleh enam orang terduga teroris Jamaah Ansaru Daulah (JAD) sebagai aksi amaliyah atau balas dendam.

Polisi menyebut para pelaku yang tewas dalam baku tembak dengan Brimob dan Densus Antiteror 88 saat pengepungan itu melancarkan balas dendam karena rekannya ditangkap beberapa hari lalu.

Foto: Ainur Rofiq

“Yang jelas ada kaitannya teroris kelompok daripada JAD yang dua hari lalu ditangkap, ada 3 orang yang ditangkap di Lamongan masih dalam proses Densus 88 kemudian melakukan amaliyah, balas dendam,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin di Mapolres Tuban, Sabtu (8/4/2017) malam.

Machfud menjelaskan tiga terduga teroris yang diamankan di Lamongan pada Kamis (6/4) salah satunya adalah tokoh JAD.

Penyerangan Polisi di Tuban, Kapolda Jatim: Mereka Balas DendamFoto: Istimewa

“Dua hari lalu adalah tokoh JAD, ini dari kelompok JAD dan yang ini (6 orang) amaliyah melakukan balas dendam,” imbuh Machfud.

Keenam orang dengan menumpang mobil Daihatsu Terios nopol H 9037 BZ yag disewa dari Semarang melakukan penyerangan dengan menembaki anggota Sat Lantas Polres Tuban di wilayah Jenu pada pukul 09.00 WIB, Sabtu (8/4/2017).

Setelah dilakukan pengejaran dan penghadangan, Mobil Terios ditinggalkan pelaku di tepi jalan. Seluruh penumpang dan sopirnya kabur ke kebun di sekitar perkampungan Desa Beji, Kecamatan Jenu. Brimob dan Densus Antiteror 88 melakukan pengepungan dan menewaskan 6 orang.

Satu pelaku bisa diketahui karena polisi menemukan paspornya di dalam mobil yang ditinggalkan yaitu Satria Aditama, asal Semarang, Jawa Tengah.

(ze/ugik)

+++++++++++++++++++++++++++++
Sabtu 08 Apr 2017, 20:54 WIB

Baku Tembak Di Tuban

6 Terduga Teroris Tewas di Tuban, Salah Satunya Satria Aditama

Ainur Rofiq – detikNews
6 Terduga Teroris Tewas di Tuban, Salah Satunya Satria AditamaFoto: Istimewa
Tuban – Polisi berhasil mengidentifikasi satu dari 6 terduga teroris Jamaah Ansaru Daulah (JAD) yang tewas dalam baku tembak di Tuban, Jawa Timur. Identitas Satria Aditama asal Semarang yang terungkap dari paspor yang ditemukan.

“Dari enam hanya satu pelaku teridentifikasi bernama Satria Aditama yang kita pastikan dari paspor yang kita amankan,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin di Mapolres Tuban, Sabtu (7/4/2017) malam.

Enam Terduga Teroris Tewas di Tuban, Salah Satunya Satra AditamaFoto: Istimewa

5 identitas terduga teroris lainnya, Machfud mengaku masih akan melakukan identifikasi dengan membawa seluruh jenazah ke RS H.S Samsoeri Mertojoso Bhayangkara Polda Jatim.

“Lima orang tidak ada dokumen identitasnya, akan kita lakukan identifikasi,” imbuh dia.

Enam Terduga Teroris Tewas di Tuban, Salah Satunya Satra AditamaFoto: Istimewa

Selain buku paspor dan beberapa handphone milik terduga teroris, polisi juga mengamankan barang bukti lainnya yakni 6 pucuk senjata api rakitan jenis pistol, 6 pisau sangkur, 1 box berisi peluru tajam serta 2 buku saku tentang jihad dan 4 helm, jaket, tas ransel maupu tas selempang milik pelaku.

Keenam orang itu menumpang mobil Daihatsu Terios nopol H 9037 BZ melakukan penyerangan dengan menembaki anggota Sat Lantas Polres Tuban di wilayah Jenu pada pukul 09.00 WIB, Sabtu (8/4/2017).

Enam Terduga Teroris Tewas di Tuban, Salah Satunya Satra AditamaFoto: Istimewa

Setelah dilakukan pengejaran dan penghadangan, Mobil Terios ditinggalkan pelaku di tepi jalan. Seluruh penumpang dan sopirnya kabur ke kebun di sekitar perkampungan Desa Beji, Kecamatan Jenu. Brimob dan Densus Antiteror 88 melakukan pengepungan dan terjadi baku tembak. Aksi baku tembak itu menewaskan keenam terduga teroris.
(ze/ugik)

++++++++++++++++

Soal Teroris Lamongan, Polisi Bantah Ada Rencana Serang Jakarta

SABTU, 08 APRIL 2017 | 20:01 WIB

Soal Teroris Lamongan, Polisi Bantah Ada Rencana Serang Jakarta  

Ilustrasi penjahat bersenjata atau terorist. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar membenarkan pihaknya masih mengejar pelaku lain yang dekat kaitannya dengan tiga terduga teroris di Paciran, Lamongan.

Boy membantah kabar mengenai adanya rencana tiga terduga teroris yang memiliki hubungan keluarga itu untuk menyerang Jakarta. “Tidak ada, belum ada. Hanya (soal pembelian) senjata saja,” ujar Boy saat ditanyai di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 April 2017.

Baca: Polri: 3 Terduga Teroris Lamongan Masuk Jaringan Jamaah Ansharut Daulah

Ditambahkannya, tiga orang tersebut merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan ditangkap pada Jumat, 7 April 2017.

Menurut Boy, peran ketiga terduga teroris itu masih terkait dengan teror bom di Jalan M.H. Thamrin pada awal 2016. “Mereka merupakan pembeli senjata api, ya. Mereka beli dari Filipina Selatan,” ujarnya.

Meski tak terindikasi menyerang Ibu Kota, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan ketiga tersangka berencana menyerang Kepolisian Sektor Brondong, Lamongan.

Simak: Palangkaraya Diusulkan Jadi Ibu Kota, Johan Budi: Saat Ini Belum Siap

Menurut Martinus, tiga terduga teroris yang ditangkap masing-masing bernama Zainal Anshori, Adi Bramadinata, dan Zainal Hasan.

“Untuk tersangka Zainal ini merupakan pimpinan JAD Indonesia yang ditunjuk oleh Oman Abdurahman,” ujar Martinus saat dihubungi Tempo, Sabtu, 8 April.

YOHANES PASKALIS

April 7, 2017

Peneliti ungkap doktrin organisasi teroris pada calon anggota

 

Jumat, 7 April 2017 08:43 WIB | 1.499 Views
Peneliti ungkap doktrin organisasi teroris pada calon anggota

Polisi menggiring tersangka pemasok senjata teroris bom Polres Surakarta seusai gelar perkara di Polda Sumsel, Palembang, Sumsel, Kamis (16/3/2017). (ANTARA /Feny Selly)
Jakarta (ANTARA News) – Sel-sel organisasi yang terlibat aksi terorisme di Indonesia menyebarkan pahamnya dengan menanamkan doktrin bahwa sekarang dunia sudah memasuki era akhir zaman kepada para calon pelaku aksi teror.

“Sudah lama para jihadis percaya saat ini adalah akhir zaman. Pandangan tentang akhir zaman ini dicampur dengan paham takfiri,” kata peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin, di Jakarta, Jumat.

Orang-orang yang direkrut menjadi calon pelaku teror, ia menjelaskan, dibuat percaya bahwa Suriah adalah tempat yang diberkati pada akhir zaman.

“Selain itu dikatakan bahwa di akhir zaman akan berdiri khilafah. Nah ISIS mengklaim sebagai khilafah minhaju alal nubuwah,” katanya.

Para calon pelaku teror juga diyakinkan bahwa di akhir zaman manusia terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, kelompok baik, pengikut Imam Mahdi, dan kelompok jahat, pengikut Dajjal, kata Solahudin.

Hal-hal itulah yang menurut Solahudin ditanamkan para pengikut ISIS ke anggota baru yang direkrut di Indonesia.

Solahudin memperkirakan gerakan bawah tanah terorisme di Indonesia masih terus berjalan dan itu dilakukan secara individu.

Sementara mantan pelaku teror, Ali Fauzi Manzi, melihat penurunan kualitas rekrutan pelaku teror dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini salah asuh. Orang-orang yang tidak punya kapasitas tapi dipaksakan untuk membuat bom…,” kata Ali Fauzi.