Archive for ‘Intelijen-Terorisme’

May 26, 2018

UU Terorisme Diharap Bentengi Sekolah dari Radikalisme

Sudah darurat !! 10 tahun dibiarkan meraja lelo oleh siapa yaaa ??

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 23:59 WIB
UU Terorisme Diharap Bentengi Sekolah dari RadikalismeAkademisi dan cendekiawan Azyumardi Azra berharap fokus pencegahan radikalisme bukan cuma pelajar, tetapi juga tenaga pendidik. (Thinkstock/zabelin)

Jakarta, CNN Indonesia — Akademisi dan cendekiawan Azyumardi Azra menilai Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme baru saja disahkan oleh DPR RI masih punya celah. Dia menyoroti kelemahan itu adalah soal meredam laju penyebaran ideologi radikal di lembaga pendidikan.

“Untuk antisipasi paham radikal itu tidak bisa model UU itu, harus lebih awal. Mungkin tempat SMA, Perguruan Tinggi harus ada program itu,” ujar Azyumardi tersebut dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jumat (25/5).

Menurut Azyumardi, pencegahan yang ada di UU Terorisme hanya menindak dengan pendekatan keras. Misalnya penahanan terhadap militan yang baru pulang dari wilayah konflik seperti Suriah.

 

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menurut Azyumardi, mempunyai peran penting dalam menangkal ideologi radikal di lembaga pendidikan. Salah satunya lewat program kebangsaan yang harus menyentuh tenaga pengajar ketimbang kaum pelajar.

Terkait di lingkungan kampus, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu mengusulkan BNPT menjalin komunikasi dengan kampus.

“BNPT harus kerja sama dengan pimpinan universitas dan lembaga kemahasiswaan untuk menangkal rekrutmen. Kalau BNPT sendiri tidak bisa karena ada banyak sekali universitas di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Pencegahan BNPT Hamli mengakui berlakunya UU Terorisme hasil revisi tidak lantas membuat beban mereka lebih ringan. Menurut Hamli masih banyak motif yang dapat mendorong seseorang terjerumus ke dalam radikalisme dan menjurus ke arah terorisme.


“Ada motif ideologi, ekonomi, tapi yang paling besar itu berjihad untuk mati syahid, bertemu 72 bidadari, menganggap negara tidak syar’i atau motif ekonomi ingin mencari pekerjaan di luar,” kata Hamli.

Hamli mengakui selama ini lembaga pendidikan menjadi tempat yang rawan diincar oleh penyebar paham terorisme mulai dari SD hingga kampus.

“Yang rentan kena itu kan mulai dari anak-anak, ibu-ibu, PTN, SD, SMP, SMA. Dan satu lagi adalah barang-barang ini sudah masuk berbagai lini, baik di kementerian, lembaga pendidikan, itu sudah masuk,” ujarnya. (ayp)

Advertisements
March 7, 2018

Minta Tahanan Rumah, Pengacara Ba’asyir Singgung Ahok Tak di Lapas

Pengacara teroris ya beginilah cara beragumentasinya.. Woi
Rabu 07 Maret 2018, 16:55 WIB

Kanavino Ahmad Rizqo – detikNews
Minta Tahanan Rumah, Pengacara Baasyir Singgung Ahok Tak di LapasFoto: Abu Bakar Ba’asyir tiba di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, Kamis (1/3/2018). (Grandyos Zafna-detikcom)
Jakarta – Pengacara terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir, Achmad Michdan, menegaskan kliennya tak menginginkan pemindahan Lembaga Pemasyarakatan (LP) melainkan berharap menjadi tahanan rumah. Michdan pun menyinggung beberapa terpidana kasus lain yang tak ditahan di LP.

“Namun demikian mekanisme (tahanan rumah) nggak ada dalam perundang-undangan tetapi pernah dilakukan pada masa Xanana Gusmao, Ahok itu terpidana tapi dia tidak menjalani di LP, dia di Mako (Brimob),” kata Michdan di Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Berdasarkan saran dokter, Michdan mengatakan kondisi Ba’asyir akan semakin baik bila dekat bersama keluarga. Alasan kesehatan itu lah, kata Michdan, yang membuat pihaknya berharap Ba’asyir dapat menjalani sisa pemidanaan di rumah.

“Ustaz dalam kondisi sakit inikan lebih baik dan tingkat penyembuhannya tinggi kalau bersama keluarga. Itu kita support,” ujar dia.

Kendati demikian, Michdan menegaskan kliennya tak akan mengajukan grasi. Pasalnya, Ba’asyir sampai saat ini tidak mengaku salah dan yakin apa yang dilakukannya adalah bagian dari ibadah.

“Kalau berkaitan apakah itu harus ada dengan permohonan grasi, ustaz sudah jelas, beliau tidak mau, karena berkeyakinan apa yang dia lakukan bukan sesuatu perbuatan pidana, itu perbuatan menurut beliau amalan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah,” imbuhnya.

Pemerintah sebelumnya berencana memindahkan penahanan Ba’asyir dari Gunung Sindur ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Jawa Tengah. Pihak pengacara Ba’asyir menegaskan kliennya keberatan dengan rencana tersebut.

“Ustaz keberatan kalau cuma pindah LP,” ujar pengacara Abu Bakar Ba’asyri, Achmad Michdan, kepada detikcom, Selasa (6/3/).

January 14, 2018

Kepala BIN Budi Gunawan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia

Reporter:

Antara

Editor:

Ninis Chairunnisa

Jumat, 12 Januari 2018 20:24 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Kepala BIN Budi Gunawan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia
Kepala Badan Intelejen Negara Jenderal Budi Gunawan usai rapat kerja bersama Komisi Pertahanan DPR RI, Jakarta, 19 Oktober 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

TEMPO.CO, Jakarta – Mantan Wakil Kepala Kepolisian RI Jenderal (purnawirawan) Budi Gunawanditunjuk sebagai Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2017-2022. Dia dikukuhkan bersama dengan sejumlah pejabat lainnya oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Masjid menjadi salah satu tempat untuk mencerdaskan dan membangun kekuatan ekonomi umat,” kata Budi, saat pelantikan Pimpinan Pengurus DMI periode 2017-2022 di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat, 12 Januari 2018.

Baca: Para Pejabat Ini Dikukuhkan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia

Budi meminta dukungan seluruh rakyat Indonesia agar DMI mampu mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat dakwah, pengembangan masyarakat, dan persatuan umat. Menurut dia, DMI dapat dioptimalkan untuk meningkatkan keimanan, akhlak mulia, kecerdasan umat, dan kesejahteraan.

Purnawirawan polisi jenderal bintang empat itu menegaskan DMI harus tetap berjalan sesuai dengan jalurnya dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. “DMI bertekad membantu kesejahteraan umat dan pemersatu umat di Indonesia,” ucap Budi.

Baca: Jusuf Kalla Ingin Ada Aplikasi Masjid Mirip Go-Jek

Jajaran kepengurusan DMI periode 2017-2022 ditetapkan dalam muktamar yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 10-12 November 2017. Budi tercatat menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar DMI.

Budi Gunawan tercatat sebagai pensiunan Polri bintang empat per 11 Desember 2017 setelah memasuki usia 58 tahun. Meskipun telah pensiun sebagai anggota Polri, Budi tetap menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Selain Budi Gunawan, sejumlah pejabat menjadi pengurus DMI. Di antaranya Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.

December 21, 2017

Kisah Tukang Masak Bogor yang Menjadi Anggota ISIS

monyet macem gini enaknya diapain ya ? Yng pasti pesantren tempat dia sekolah di Bogor harus ditutup atau dibersihkan dari gerombolan setan ISIS

Kompas.com – 20/12/2017, 18:41 WIB
Mantan anggota ISIS asal Indonesia, Aldiansyah Syamsudin alias Abu Assam Al Indonisiy.
Mantan anggota ISIS asal Indonesia, Aldiansyah Syamsudin alias Abu Assam Al Indonisiy.(ABC News)

DAMASKUS, KOMPAS.com – Nama aslinya adalah Aldiansyah Syamsudin. Namun, ketika berada di Suriah, namanya berubah menjadi Abu Assam Al Indonisiy.

Dari sebuah kantor unit kontra-terorisme di Suriah Utara, Aldiansyah menceritakan bahwa dia dulunya adalah seorang tukang masak di Bogor, Jawa Barat.

Namun, masa depannya berubah setelah pergi ke Suriah, dan bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

Selama menjadi anggota ISIS, Aldiansyah belajar menembak menggunakan senapan mesin, dan AK-47. ISIS menjanjikannya empat istri, sebuah mobil, dan sebuah rumah, yang nyatanya merupakan janji belaka.

Baca juga : Ingin Gabung ISIS, Warga Irak di AS Dipenjara 16 Tahun

Menjadi satu-satunya anggota ISIS yang selamat setelah sebuah serangan udara menghancurkan kendaraan dan para pejuang ISIS lainnya, Aldiansyah ditinggal dalam keadaan “terluka, sakit, dan kelaparan”.

Dia kemudian diabaikan oleh warga sekitar sebelum akhirnya ditangkap Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Sekarang, Aldiansyah ingin pulang, dan mengaku tidak akan berbahaya bagi Indonesia, ataupun negara lain.

“ISIS sudah tidak peduli dengan saya. Lantas, mengapa saya harus mengikuti ajaran mereka?” kata Aldiansyah dikutip dari Australia PlusRabu (20/12/2017).

Dari Dapur Menuju Medan Perang
Perjalanan Aldiansyah dimulai setelah lulus dari pondok pesantren di Bogor.

Melihat ajaran ISIS di internet, Aldiansyah menjadi radikal, dan bergabung dengan sebuah kelompok bernama Gadi Gado lewat pesan di Telegram.

“Saya tertarik untuk bergabung dengan IS karena teman saya bilang hidupnya gratis dan nyaman, bisa memiliki empat istri, dan mereka akan memberi uang, rumah, dan mobil,” tutur Aldiansyah.

Lewat Telegram, Aldiansyah berkenalan dengan orang Indonesia bernama Abu Hofsah yang memberi tahu bagaimana cara ke Suriah.

Baca juga : ISIS Klaim Serangan ke Pusat Pelatihan Intelijen Afghanistan

Abu Hofsah kemudian mengiriminya uang sebesar 1.000 dolar Australia, atau sekitar Rp 10,4 juta, untuk membayar tiket pesawat.

Aldiansyah tiba di Turki pada Maret 2016, dan sempat tinggal di sebuah rumah di Kota Gaziantep, sebelum dikirim ke timur Suriah.

Malam hari, Aldiansyah didatangi oleh seorang Muharrib (pejuang) yang memberi tahu bahwa sudah saatnya mereka pergi ke perbatasan.

Maka mereka bersepuluh naik mobil, dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

“Kami menyeberang sungai dan terus berjalan. Kemudian menemukan barikade dari bahan logam. Tentara Turki menembaki kami, tapi kami berhasil tiba,” papar Aldiansyah.

Aldiansyah masuk ke Suriah April 2017, lebih lambat dibandingkan anggota asing ISIS yang lain.

Meski begitu, dia tetap bangga. Sebab, dia berhasil melewati perbatasan Turki dengan selamat meski militer melakukan penjagaan ketat.

Waktu kedatangannya bertepatan saat ISIS telah tedorong ke selatan dan tidak lagi memiliki akses ke perbatasan.

Aldiansyah melanjutkan, selama di Suriah, dia dilatih oleh orang Indonesia dengan nama alias Abu Walid Al Indonesiya, dan warga negara Filipina bernama Abu Abdulrohman Al Phillipini.

Dia dilatih untuk menggunakan berbagai jenis senjata ringan. Latihan militer itu digelar di Provinsi Hama, dan berlangsung selama 20 hari.

“Saya belajar menggunakan empat senjata. Termasuk AK, granat berpelontar roket (RPG), dan senapan mesin PKC,” ujar Aldiansyah.

Aldiansyah mengaku hanya mengenal lima warga negara Indonesia di Suriah meski pemerintah yakin ada ratusan orang yang bergabung dengan ISIS.

Selain itu, Aldiansyah menyatakan tidak pernah masuk ke Raqqa untuk berperang.

Eight Indonesian-Born Islamic State Followers Deported by Turkey

A member loyal to Islamic State waves a flag in Raqqa. (Reuters Photo/Stringer)

By : Farouk Arnaz and Telly Nathalia | on 9:23 PM December 19, 2017
Category : NewsFeaturedTerrorismSecurity

Jakarta. National Police confirmed on Tuesday (19/12) that eight Indonesian citizens were deported by Turkey on Sunday for joining the Islamic State in neighboring Syria and Iraq.

“On Sunday, at 7.55 p.m. Jakarta time, we picked up eight Indonesians who were foreign terrorist fighters in Syria and Iraq…” said Senior Com. Martinus Sitompu, a National Police spokesman, as quoted by BeritaSatu.com.

The eight individuals were only identified by their initials SS (40), M (23), DA (22), AZ (21), MI (21), YA (19), JA (11) and AM (7). The group consists of five men, two children and one woman.

“They are Indonesians that were arrested in the Hatay area near the border between Turkey and Syria […] five men planned to enter Syria,” Martinus explained.

According to Martinus, police are still conducting investigations into the individuals.

Christmas Attackers

National Police said last week that 19 suspected terrorists were arrested for allegedly plotting to carry out attacks during Christmas and New Year celebrations.

“There were 19 people that we captured from Dec. 9-11 in East Java, Pekanbaru (Riau) and South Sumatra […] There is no terror plot, but this is our preventive strike, action before their attacks,” Insp. Gen. Setyo Wasita said.

Police also urged all social communities to be aware of possible threats.

“For sure, [those who were] from East Java linked to the Abu Jandal group and they just returned from Syria. [Those who were] from Pekanbaru were involved in purchasing weapons and conducting military training at the Gema Lipat Kain hills, Kampar [Riau] and [those who were] from South Sumatra linked to Jamaah Anshar Khilafah,” he explained, citing two local groups that are affiliated with Islamic State.

The 19 individuals are currently being detained at Police Mobile Brigade (Brimob) headquarters in Depok, just south of Jakarta.

November 8, 2017

WNI Istri Militan Maute Anak Tuan Tanah, Ini Profil Lengkapnya

 

Maute pernah ngajar di ponpes Bekasi…hmmm bakal banyak calon radikalis keluar dari ponpes ini..

Mei Amelia R – detikNews
WNI Istri Militan Maute Anak Tuan Tanah, Ini Profil LengkapnyaMinhati Madrais (Dok. Mabes Polri)
Jakarta – Minhati Madrais (36) masih ditahan otoritas Filipina karena diduga bergabung dalam pergerakan jaringan teroris di Marawi. Bagaimana awalnya istri dari salah satu milisi Filipina, Omarkhayam Maute, bergabung dalam kelompok tersebut?

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan Minhati adalah putri pertama pasangan H Madrais Fajar, Lc, dan Hj Murhiyaliyah, SPd. Ayahnya asli dari Kampung Buni, Babelan, Bekasi, yang menjadi tuan tanah di kampungnya itu.

Sebagai tuan tanah, Madrais memiliki banyak yayasan pendidikan Islam dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Ayah Minhati ini memiliki Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam ‘Darul Amal’ untuk tingkat taman kanak-kanak (TK), madrasah diniyah takmiliyah awaliyah (DTA), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), SMK Darul Amal, dan Ponpes Darul Amal,” terang Rikwanto dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu (8/11/2017).

Madrais juga mendirikan sebuah masjid yang terletak di depan Yayasan Darul Amal. Putra ke-3 Madrais, Ustaz Diaduddin Madrais, Lc, biasa menjadi imam di masjid itu.

Minhati sendiri memiliki gelar Lc dengan ijazah bachelor bidang ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ilmu Alquran di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ijazahnya dikeluarkan pada Februari 2009.

“Minhati bertemu dengan Omar Maute pada saat keduanya sama-sama menjadi mahasiswa di Al-Azhar Kairo, Mesir,” sambungnya.

Minhati diketahui pernah membawa Omar ke rumahnya di Bekasi. “Dan (Omar) sempat tinggal beberapa bulan di rumah tersebut dan sempat mengajar sebentar pada ponpes tersebut,” lanjutnya.

Riwayat Perlintasan

Minhati memiliki paspor RI bernomor A 2093379 yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Karawang pada 30 Januari 2012. Masa berlaku paspornya itu habis pada 30 Januari 2017 dan tidak ditemukan data penggantian paspor dalam SIMKIM.

Dalam data perlintasan di Ditjen Imigrasi, Minhati diketahui terakhir meninggalkan Jakarta pada Jumat, 10 April 2015, dengan Pesawat Cebu Pacific (5J760) tujuan Manila. Dia tiba di NAIA (Ninoy Aquino International Airport) pada Sabtu pagi, 11 April 2015.

Diduga setelah itu, dia melanjutkan perjalanan menuju Cagayan de Oro untuk menuju Marawi.

“Berdasarkan data dari Biro Imigrasi, yang bersangkutan memiliki alamat di Marawi City,” kata Rikwanto.

Berdasarkan informasi dari Divisi Intelijen Imigrasi Filipina pada 8 Juni 2017, Minhati menggunakan izin tinggal jenis E.O. 408 (no-visa entry untuk tinggal 30 hari) dan secara rutin memperpanjang izin tinggalnya di Iligan Immigration District Office.

Minhati terakhir melakukan perpanjangan izin tinggal pada Agustus 2016 dan izin tinggal tersebut berakhir pada 9 Oktober 2016.
(mei/fdn)

August 22, 2017

BNPT: Aman Abdurrahman Masuk Napi Hardcore

Selasa 22 Agustus 2017, 17:29 WIB

Arbi Anugrah – detikNews
BNPT: Aman Abdurrahman Masuk Napi HardcoreFoto: Arbi Anugrah/detikcom
Purwokerto – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan di dalam dunia terorisme, ada empat kluster dalam radikalisme di tengah masyarakat. Pertama, kategori, hardcore (inti), militan, suporter dan simpatisan.

Aman Abdurrahman masuk dalam kluster hardcore atau inti yang tak lagi mempan program deradikalisasi. Dia termasuk berbahaya bila bebas, bahkan selama dipenjara saja bisa mempengaruhi orang dan diduga mengendalikan berbagai aksi teror di Indonesia.

“Kategorinya seperti ini, Aman sudah hardcore ya, inti. Sangat sulit berubah ini. Kalau dia kembali ke masyarakat bagaimana ini, harus diwaspadai. Yang kita kategorikan sebagai hardcore ini sangat sulit berubah,” kata Suhardi seusai memberi kuliah umum pada mahasiswa baru di Auditorium Graha Widyatama, Unsoed Purwokerto, Selasa (22/8/2017).

Dia mengungkapkan, teroris sekelas Aman juga sangat berbahaya jika bebas. Sebab, dengan pengaruhnya, Aman bisa mempengaruhi orang lain di sekitarnya. Bahkan dari dalam Lapas, Aman mampu mengendalikan jaringan, mempengaruhi orang dan menggerakkan. Padahal, pihak Lapas telah malakukan pengawasan ketat terhadap Aman.

“Kita jaga betul pengaruh-pengaruhnya, termasuk siapa orang-orang potensial yang dipengaruhi akan menjadi sasaran kita,” jelasnya.

Dia menjelaskan jika pihaknya tidak bisa mengatasi adanya kunjungan keluarga, karena salah satu hak napi adalah berhubungan, bertemu dan menerima kunjungan keluarga. Jika benar-benar dilarang atau dibatasi, BNPT akan dituduh melanggar HAM. Padahal, bisa jadi, Aman menggunakan kesempatan pertemuan itu untuk mengirimkan pesan kepada jaringannya.

“Tidak lepas dari pantauan, cuma masalahnya kalau kita batasi HAM lagi, maka kita kekeluargaan saja. Kita serba sulit melakukan batasan, nanti ada pelanggaran HAM lagi,” ucapnya.

Ia mengatakan jika program deradikalisasi terus dilakukan terhadap napi terorisme di seluruh Lapas di Indonesia. Diharapkan banyak mantan napi teroris itu sadar dan tidak kembali lagi.

“Mantan mantan teroris di Lamongan ada 38 napi teroris ikut mengibarkan bendera merah-putih, membaca Pancasila dan UUD. Ini kan sejarah, di Sumatera Utara, Deli Serdang, Ali Dayat mantan teroris, anak anaknya sekarang ikut mengibarkan bendera,” ungkap Suhardi, usai

Dia mengatakan paham-paham damai akan terus disebarkan. Dia meminta keluarga terutama anak-anak mantan napi terorisme untuk tidak dimarginalkan. Sebab bila dimarginalkan potensi kembali mengadopsi paham ideologi orangtuanya bisa terjadi.

“Jangan dimarginalkan, potensi kembali mengadopai paham ideologi bapaknya akan kembali,” katanya.

Menurut dia, dalam program deradikalisi tersebut tingkat keberhasilan mengubah ideologi atau paham radikalisme yang ada pada napi teroris bisa dikatakan sangat baik. “Dari 600 orang napi terorisme yang ikut, hanya 3 yang kembali (melakukan aksi),” katanya.
(arb/bgs)

August 14, 2017

Ini Identitas 18 WNI Mantan Anggota ISIS Yang Pulang Ke Indonesia

Kok bisa ya ..bukannya paspor RI mereka sudah dibakar.. dan mereka juga sudah menyatakan sumpah setia kpd ISIS/ Abu bakr Bagdadi

Harusnya biarkan saja mereka di Syria atau Turki!! Ngapain gerombolan keturuan Timteng ini kembali lagi..mereka hanya bisa bikin kacau macam si bibieb Rijiek

 

Empat orang WNI ini dua tahun memilih meninggalkan Indonesia untuk hijrah di wilayah yang diklaim sebagai wilayah ISIS di Suriah. Foto: AFP/BBC Indonesia

18 WNI mantan aktifis ISIS tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (12/8) sore. Seiring kejatuhan ISIS di Irak dan Suriah, mereka melarikan diri dan menjadi pengungsi di wilayah Turki. Begitu mendarat di Jakarta, semua WNI tersebut langsung dijemput oleh tim Densus 88 Antiteror Polri  dan membawa mereka ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, untuk diperiksa.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, membenarkan 18 WNI yang diketahui keluar dari Suriah itu telah dibawa oleh Densus 88 ke Mako Brimob Depok. Pihak Densus 88 akan melakukan pemeriksaan dan profiling latar belakang mereka.

Diduga ada ratusan WNI yang bergabung dengan jaringan ISIS di Suriah. Mereka rata-rata tergiur dengan janji ISIS. Namun banyak juga yang meninggalkan ISIS karena merasa tertipu.
Namun pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, meyakini tidak semua WNI yang berangkat ke Suriah bertempur di pihak ISIS.

“Banyak juga dari mereka yang merupakan anggota front anti (presiden) Bashar al-Assad, dan tidak setuju dengan ISIS.” katanya seperti dilansir BBC Indonesia.

Ridwan mencontohkan Jabhat al-Nusra, sebagai salah satu kelompok yang ikut bertempur di Suriah, “tetapi tidak sejalan dengan ISIS. Putra Abu Jibril, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia, pernah berjuang untuk mereka.”

Berikut identitas ke-18 WNI simpatisan ISIS yang baru pulang ke Indonesia seperti dilansir merdeka.com :

1. LASMIATI Ngawi 29 Juli 1977
2. MUHAMMAD SAAD AL HAFS Jakarta 26 Agustus 2014
3. MUTSANNA KHALID ALI Jakarta 26 Januari 2004
4. DIFANSA RACHMANI Tanjung Redeb 21Maret 1986
5. MUHAMMAD HABIBI ABDULLAH Jakarta 12 Oktober 2011
6. MUHAMMAD AMMAR ABDURRAHMAN Jakarta 26 Agustus 2014
7. DWI DJOKO WIWOHO Medan 15 Januari 1967
8. FAUZAKATRI DJOHAR MASTEDJA Padang 28 April 1959
9. FEBRI RAMDHANI Jakarta 19 Februari 1994
10. SITA KOMALA Jakarta 04 Januari 1961
11.INTAN PERMANASARI PUTRI Jakarta 13 September 1989
12.SULTAN ZUFFAR KURNIAPUTRA Jakarta 05 Januari 1999
13.RATNA NIRMALA Jakarta 09 September 1966
14.NURSHADRINA KHAIRA DHANIA Jakarta 06 April 1998
15.HERU KURNIA Jakarta 12 Julia 1962
16.TARISHA AQQILA QANITA Batam 04 Oktober 2004
17.MOHAMMAD RAIHAN RAFISANJANI Jakarta 02 Februari 1999
18.SYARAFINA NAILAH Jakarta 26 Februari 1996

July 26, 2017

IPB Peringatkan Dosen-dosen yang Jadi Anggota HTI

Tanggung amat.. pecat aja .. mereka yang sudah merusak IPB jadi Institut Pundamentalis Bogor !!!
abu 26 Juli 2017, 13:57 WIB

Parastiti Kharisma Putri – detikNews
IPB Peringatkan Dosen-dosen yang Jadi Anggota HTIFoto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta – Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi peringatan kepada dosen-dosennya yang jadi anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ada beberapa dosen IPB yang disebut-sebut jadi anggota HTI.

“Ya sejauh ini kita memantau apa mereka terlibat dalam kegiatan yang dikatakanlah mengarah pada ekstrem, kami terus pantau ke arah itu. Tapi pada umumnya tidak ada, tapi pada masa lalu di saat organisasi itu belum dibubarkan ya kita tahu juga ya ada yang involve lah orasi atau apa itu,” kata Rektor IPB Prof. Hermanto Siregar di gedung Kemenristek Dikti, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).

Hermanto mengaku tidak bisa berbuat apa-apa saat HTI masih berbadan hukum. Namun, pihaknya kini akan menindak jika ada dosen yang masih melakukan aktivitas HTI.

“Cuma kita pantau terus jangan sampai setelah dilakukan pembubaran mereka masih melakukan hal yang sama. Karena tadi sudah sangat jelas dasar dasar hukum yang disampaikan pak menteri ya. Tentu kami juga akan tindak ya,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Hermanto, pihaknya baru sebatas menegur dosen-dosen tersebut.

“Kalau organisasinya belum dibubarkan ya kita nggak bisa tegur juga jelas nanti kita salah nanti dibilang kita melanggar HAM kan. Tapi begitu dia sudah dinyatakan dibubarkan ya nggak boleh dong dia melakukan kegiatan itu lagi,” ujarnya.
(idh/fdn)

June 22, 2017

Diduga Terkait ISIS, Ini Peran 3 Tersangka Teroris di Bima

 

Sumbawa emang jadi sarang teroris.. nggak heran karena daerah itu tidak pernah diurus dan punya wakil di Jakarta macam Fahri Hamzah dan Din Syamsuddin… bahlul semua.. akibatnya  daerah yang indah dan  kaya akan mineral ini rakyatnya miskin dan bodoh..

SENIN, 19 JUNI 2017 | 16:28 WIB

Diduga Terkait ISIS, Ini Peran 3 Tersangka Teroris di Bima

Wakil Kepala Polda NTB Komisaris Besar Imam Margono menggelar jumpa pers terkait penangkapan tiga tersangka teroris di Bima, Senin 19 Juni 2017. Polisi juga menggelar barang bukti saat penangkapan. Tempo/ABDUL LATIEF APRIAMAN

TEMPO.CO, Mataram – Densus 88 menangkap 3 orang tersangka teroris di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu 17 Juni 2017. Ketiganya diduga telah mempersiapkan aksi pengeboman di Markas Polsek Woha Bima. Mereka juga telah menyiapkan bom rakitan.

“Secara stuktural jaringannya dengan ISIS masih akan kita dalami di pemeriksaan lanjutan.” kata Wakil Kepala Polda NTB Komisaris Besar Imam Margono  dalam jumpa pers di Mapolda NTB, Senin 19 Juni 2017. Ada dugaan ketiga tersangka memiliki keterkaitan dengan aktivitas ISIS di Marawi, Filipina Selatan.

Baca: Teroris di Bima, Kapolri Tito: Belajar Bikin Bom dari Bahrun Naim

Para tersangka itu adalah, Kurniawan bin hamzah, (23) yang berperan sebagai pelaku utama perakit bom dan melakukan survey terhadap Mapolsek Woha, Bima. Kemudian, Nasrul hidayat alias Dayat (21) mahasiswa yang bertugas kurir beli H202 cair untuk bahan pembuatan bom. Adapun satu tersangka lainnya, Rasyid Ardisansyah, diketahui sebagai jaringan Penato’i Bima yang sempat bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) melakukan perampokan di kantor Pos dan Giro Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 2012.

Saat penangkapan di tubuh Kurniawan aparat mengamankan bom rakitan aktif, sementara dari penggeledahan di rumah Kurniawan diamankan 24 item barang bukti bahan-bahan merakit bom. “Dari pengakuan tersangka Kurniawan, dia mempelajari ilmu merakit bom dari internet yg dirilis ISIS melalui link group telegram Bahrun Naim.” kata Margono.

Baca: Terduga Teroris di Bima, Dua dari Tiga Orang Diduga Jaringan Poso  

Barang bukti itu antara lain dua botol air aki, satu tas plastik pupuk urea, satu bungkus amonium nitrat, alat solder, 85 bola lampu hias, tiga buah casing pipa, serta empat buah telepon genggam yang dimodifikasi menjadi switching bom rakitan. Seluruh bahan yang diamankan itu rencananya akan digunakan melakukan teror dalam Bulan Ramadhan ini.

Ketiga tersangka teroris barang bukti saat ini masih diamankan di Mako Brimob Polda NTB, sebelum nantinya akan dibawa ke Jakarta dalam waktu dekat.

ABDUL LATIEF APRIAMAN

May 26, 2017

Bom Kampung Melayu, Begini Kaitan JAD dengan ISIS

Benar orangnya ya itu itu saja.. para penyembah kematian dan  percaya “bumi datar”. MUI kok diem aja..ya Kelompok teroris ini beneran menistakan agama tapi MUI cs tenang tenang saja.. jangan jangan MUI emang sudah jadi sarang gerombolan “bumi datar”
Pemerintah harus lebih serius “sikat” gerombolan penyembah kematian dan “bumidatar” mulai dari Departemen Pendidikan dan universitas.  Banyak institusi pendidikan negeri ini sudah kena virus ajaran sesat.
Jumat 26 Mei 2017, 08:15 WIB

Kanavino Ahmad Rizqo – detikNews
Bom Kampung Melayu, Begini Kaitan JAD dengan ISISFoto: Rengga Sancaya
Jakarta – Jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) diduga oleh polisi terlibat dalam insiden bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pola serangan yang dilakukan dalam aksi teror di Kampung Melayu itu disebut mirip dengan JAD.

Mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan, apabila bom bunuh diri di Kampung Melayu itu berkaitan dengan bom panci yang terjadi di Bandung maka bisa dipastikan jaringan itu adalah JAD.

“Iya kalau benar ada kaitan dengan bom panci di Bandung yang lalu, maka ini sudah pasti dari jaringannya ya itu JAD, ada lagi yang baru juga, itu variabel dari JAD, nama meraka bisa macam-macam tapi orangnya itu-itu saja,” ujar Ansyaad saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/5/2017).

Ansyaad menjelaskan, pasca terungkapnya jaringan teror seperti Jemaah Islamiyah (JI), Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Negara Islam Indonesia (NII), munculah jaringan teror pecahan dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka diketahui menggunakan nama baru untuk melancarkan aksi terornya.

Baca Juga: ISIS Klaim Tanggung Jawab Bom Kampung Melayu

“Ya iya jadi gini dulu kan sebelum ISIS kan kita tahu induknya ada JI, kemudian JAT, ada juga NII kemudian mereka sudah terungkap semua banyak yang tertangkap. Ya mereka banyak muncul sempalan-sempalan berbagai macam nama tetapi simpulnya tetap saja induknya ya JI, JAT NII,”jelasnya.

Saat mendengar adanya ISIS, kelompok-kelompok teror pecahan itu kemudian berbaiat kepada ISIS. Begitu pula JAD yang hari ini santer diberitakan terlibat dalam aksi bom di Kampung Melayu.

“Nah ini sempalan-sempalan ini dengan munculnya ISIS, itu mereka semua otomatis berbaiat ke ISIS,” tutur Ansyaad.

Pola perekrutan dalam gerakan teror ini pun semakin berkembang dengan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Hal ini pula yang menjadikan polisi mudah dalam mengidentifikasi dan membongkar kelompok-kelompok tersebut.

“Pola perekerutan sederhana sekali, bisa lewat medsos itu, ya kalau dulu orang diajak berdasarkan jalur kekeluargaan atau pernah sama-sama dalam satu lembaga pendidikan, ya kalau sekarang tidak perlu. Itu mereka bisa dari lewat medsos, ada yang tertarik, ya otomatis dia ikut. Dia berbaiat ISIS, dia dilatih juga,” tutur Ansyaad.

Menurut Ansyaad, jaringan JAD di Indonesia ini bisa dikatakan sebagai kelompok kecil. Mereka berangkat dari pemahaman radikal dan penafsiran yang keliru terhadap doktrin-doktrin agama.

“Umumnya kelompok-kelompok kecil dan namanya itu tidak terlalu penting, yang penting mengusung pemahaman. Satu mindset yang bersumber dari paham-paham radikal. Sebetulnya sumbernya dari pemahaman yang dangkal, penafsiran keliru terhadap doktrin-doktrin agama,” tuturnya.

Jaringan teror ini pun, sambung Ansyaad, tak terlalu mempermasalahkan tempat dalam melancarkan aksinya. Mereka memilih secara acak asalkan ada keramaian dan bisa menimbulkan kekhawatiran kepada banyak orang.

“Kalau tempat tidak terlalu masalah. Ya dimana saja mereka mendapatkan kesempatan di situ mereka melihat dan mempunyai target, yang penting ada banyak orang, ada pejabat, target yang paling strategis sekali tapi itu tidak terlalu penting, yang paling penting buat mereka bisa melakukan serangan itu,” tutupnya.
(knv/nkn)

++++++++++++++++++++

ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom Kampung Melayu

JUM’AT, 26 MEI 2017 | 07:36 WIB

ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom Kampung Melayu  

Terminal dan halte Kampung Melayu Jakarta Timur belum beroperasi pasca-ledakan bom. MARIA FRANSISCA

TEMPO.CO, Kairo – Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas teror bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga personel kepolisian dan melukai 15 orang lain pada Rabu malam, 24 Mei 2017.

“Pelaku ledakan yang menyerang polisi Indonesia di Jakarta adalah milisi ISIS,” ujar ISIS dalam pernyataannya di Amaq, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 26 Mei 2017.

Baca juga: Satu Terduga Pelaku Bom Kampung Melayu Punya Bisnis Obat Herbal  

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Setyo Wasista mengatakan telah mulai melihat hubungan antara aksi teror di Kampung Melayu dan di Kota Manchester, Inggris, yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Aksi di Inggris juga didalangi ISIS.

“Kejadian di belahan dunia lain bisa memicu dan menginspirasi sel-sel yang tiarap. Setelah melihat, mereka terinspirasi melakukan serangan,” ucap Setyo, Kamis kemarin.

Baca juga: Begini Kronologi Ledakan Bom Kampung Melayu  

Teror bom Kampung Melayu merupakan serangan paling mematikan sejak teror pada 14 Januari 2016 di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta. Dalam peristiwa di Sarinah, delapan orang tewas, empat di antaranya pelaku ledakan.

Adapun tiga anggota Polri yang gugur akibat teror bom Kampung Melayu adalah Bripda Imam Gilang asal Klaten, Bripda Ridho Setiawan dari Lampung, dan Bripda Taufan asal Bekasi.

CHANNEL NEWS ASIA | REUTERS | EGI ADYATAMA