Archive for ‘Intelijen-Terorisme’

July 17, 2019

‘Mualaf’ prone to radical influence, eLSA research shows

  • SuherdjokoThe Jakarta Post
Semarang, Central Java   /   Tue, June 5, 2018   /   10:58 am

‘Mualaf’ prone to radical influence, eLSA research showsPersonnel of the National Police’s Densus 88 counterterrorism squad and the Riau Police’s Gegana bomb squad secure materials as evidence during a raid on June 2 at Riau University’s School of Social and Political Sciences (Antara/Rony Muharrman)

0

An activist has warned that mualaf, or new converts to Islam, had become the targets of extremist groups that sought to spread radical teachings in Indonesia.

Religious and Social Studies Institute (eLSA) researcher and activist Khoirul Anwar said that with their relatively low understanding of Islamic teachings, many new converts had been easily lured by the radical thinking that extremist groups spread.

“I saw such an indication at the Mualaf Center. I had an interesting experience in December 2016. I met with a mualaf who had been a Muslim only for six months. He was very enthusiastic when he spoke about the Islamic caliphate,” Khoirul told The Jakarta Post on Monday.

The young man, Khoirul said, had expressed his wish to carry out jihad against infidels. “Even Indonesia, a democratic country, was considered an infidel country,” he added, referring to what the young man had said.

The man claimed he did not have a special mentor that taught him a deeper understanding of Islam, said Khoirul. “Through the Internet, he met someone he later came to consider his ‘brother’, who ‘helped’ him  learn about jihad,” the activist added.

Khoirul said that through his conversations with new converts, he became fully aware of how easy it was for someone to “become a radical”. They were even ready to “become terrorists” only from reading online articles about Islam and watching YouTube videos, most of which contained messages of hate, he added.

“This is why it is important to spread writings and videos on Islam that contain messages of peace,” said Khoirul.

He said eLSA’s research also revealed that radical thinking had spread to senior high school students through extracurricular activities. Some external mentors had also influenced students to become radical through Islamic guidance and counselling activities.

At the beginning of the year, the Wahid Foundation, in partnership with eLSA Semarang, involved 15 schools in Semarang, Kendal, Salatiga and surrounding areas in a pilot program called “Sekolah Damai” (Peaceful Schools).

The program aims to curb the spread of radical teachings that encourage hatred against other groups or communities that might eventually lead to terror acts. Sekolah Damai teaches students and teachers to develop thoughts that embrace diversity toward creating peace. (ebf)

July 1, 2019

Para Wijayanto — teroris

buron sejak 2003 hmm pasti mister Para W ini ada pelindungnya .. Ini yang harus diusut dan ditangkap ! Sang pelindung punya informasi intelijen yang sangat akurat sehingga  Para bisa bisa lolos dari tangkapan dan hidup sangat nyaman buat seekor teroris.. Tinggal di real estate Pesona T

 

Para Wijayanto, Pentolan Jamaah Islamiyah yang Buron Sejak 2003

Reporter:

Tempo.co

Editor:

Syailendra Persada

Senin, 1 Juli 2019 09:24 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Pagar rumah yang dikontrak Para Wijayanto, yang diduga Amir Jamaah Islamiyah dan pemimpin Al Qaidah Asia Tenggara, di Jalan Telaga Indah Nomor 26 Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Amad, 30 Juni 2019. Dia juga buron polisi sejak 2003. Pria yang diduga teroris itu dtangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni 2019 lalu. TEMPO/ADE RIDWAN
Pagar rumah yang dikontrak Para Wijayanto, yang diduga Amir Jamaah Islamiyah dan pemimpin Al Qaidah Asia Tenggara, di Jalan Telaga Indah Nomor 26 Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Amad, 30 Juni 2019. Dia juga buron polisi sejak 2003. Pria yang diduga teroris itu dtangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni 2019 lalu. TEMPO/ADE RIDWAN

TEMPO.COJakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror dikabarkan menangkap seorang pentolan Amir Jamaah Islamiyah bernama Para Wijayanto. Ia diduga diringkus Detasemen Khusus 88 Mabes Polri pada Jumat lalu, 28 Juni 2019, di Hotel Adaya, Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat.

Baca: Terduga Teroris Jamaah Islamiyah Dibekuk, Begini Suasana Rumahnya

Dikonfirmasi terpisah, Kasubbag Humas Polres Bogor Ajun Komisaris Ita Puspita Lena membenarkan adanya penangkapan terduga teroris tersebut. Namun dirinya enggan memberikan komentar banyak. “Andaikan ada (penangkapan) juga bukan kewenang Polres Bogor harus ke densus langsung,” kata Ita saat dikonfirmasi Tempo.

Para Wijayanto diketahui merupakan amir atau pemimpin jaringan teroris Jamaah Islamiah (JI). Nama Para Wijayanto mencuat bersamaan dengan tragedi bom Bali pada 2002. Ia disebut-sebut dekat dengan gembong teroris asal Malaysia, Noor Din M. Top

Pada 2003, polisi menggeledah rumah milik Para Wijayanto di Kompleks Perumahan Muria Indah, RT 03/07, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Namun nihil. Polisi hanya menemukan keluarga Para Wijayanto. Ketika itu, Para yang bekerja di perusahaan percetakan terbesar di Asia Tenggara, PT Pura Barutama, sudah berangkat ke kantor.

Di Pura jabatannya mentereng, General Manager Human Resource Development. Sebelumnya, suami Masitha Yasmin ini pernah menjadi Manager Divisi Repro/Freepers, Manager Divisi Engineering, dan Manager Teknik Development Centre.

Seperti kebetulan, pada saat yang hampir bersamaan dengan penggerebekan di rumahnya, Para keluar kantor karena alasan tertentu. Ia pergi mengendarai mobil Toyota Kijang. Di suatu tempat, Para berhenti dan meninggalkan mobilnya begitu saja.

Koordinator Al-Qaidah Asia Tenggara. Ia getol berdakwah untuk mendirikan negara Islam sejak di bangku kuliah pada 1982 sampai 1989. Inilah tulisan kedua dari tiga tulisan mengenai insinyur teknik sipil yang dikenal karismatik lantaran kecerdasannya itu.

Para Wijayanto lulus dari Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang, pada 1989 dan bekerja di Pura sejak 5 Juni 1990. Para mengelola majelis taklim yang berisi sekitar 20 bawahannya. Setiap pekan berkumpul untuk mengkaji seputar ajaran tauhid. Tak pernah sedikit pun bersinggungan dengan politik dan pemerintahan.

Baca: Teroris Jamaah Islamiah Para Wijayanto Punya 4 Nama Panggilan

Para tak cuma berdakwah. Dia ikut kursus militer tiga bulan di Moro, Filipina, pada 2000. Sekitar setahun kemudian ia mencarikan tempat persembunyian anggota Jamaah Islamiyah dari Singapura dan menjadi buron sejak 2003. Ia ikut membentuk Majelis Lajnah Ikhtiar Linasbil Amir (2004), aktif di Majelis Qaidah Jemaah Islamiyah Jawa Tengah, mengevaluasi operasi Poso, dan sejak 2010 memimpin Al-Qaidah Asia Tenggara.

 

Teroris Jamaah Islamiah Para Wijayanto Punya 4 Nama Panggilan

Reporter:

Ade Ridwan Yandwiputra (kontributor)

Editor:

Jobpie Sugiharto

Senin, 1 Juli 2019 07:48 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Pagar rumah yang dikontrak Para Wijayanto, yang diduga Amir Jamaah Islamiyah dan pemimpin Al Qaidah Asia Tenggara, di Jalan Telaga Indah Nomor 26 Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Amad, 30 Juni 2019. Dia juga buron polisi sejak 2003. Pria yang diduga teroris itu dtangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni 2019 lalu. TEMPO/ADE RIDWAN
Pagar rumah yang dikontrak Para Wijayanto, yang diduga Amir Jamaah Islamiyah dan pemimpin Al Qaidah Asia Tenggara, di Jalan Telaga Indah Nomor 26 Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Amad, 30 Juni 2019. Dia juga buron polisi sejak 2003. Pria yang diduga teroris itu dtangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni 2019 lalu. TEMPO/ADE RIDWAN

TEMPO.CO, Bogor – Keseharian Para Wijayanto, tersangka teroris Jamaah Islamiyah, dikenal sebagai warga yang bisa dibilang tertutup. Aktifitasnya hanya datang ke masjid untuk ibadah kemudian kembali ke rumahnya di Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Petugas Satuan Pengamanan Pesona Telaga, Suaeb, mengatakan tak tahu apa pekerjaan Para Wijayanto yang sudah tiga tahun mengontrak di Jalan Telaga Indah Nomor 26. “Jarang banget ngobrol, paling sebatas negur, udah,” kata Suaeb yang ditemui Tempo kemarin, Minggu, 30 Juni 2019.

BacaTerduga Teroris Jamaah Islamiyah Dibekuk, Begini Suasana .

Suaeb menduga Para Wijayanto adalah orang dengan kondisi ekonomi yang baik meski tinggal di rumah kontrakan. Dia bahkan mengira orang yang diburu polisi sejak 2003 tersebut berdagang. “Soalnya, mobilnya pertama Fortuner, sekarang ganti Innova.”

Suaeb pun mengatakan belum tahu nama lengkap pria kelahiran 1965 itu. Ada yang memanggilnya Wijayanto, tapi kadang disapa Ahmad. “Bnyak deh ada empat panggilannya.”

Para Wijayanto, yang disebut-sebut sebagai Amir Jamaah Islamiyah dan pemimpin Al Qaidah di Asia Tenggara, kelompok yang banyak melakukan serangan pada awal 2000, diringkus Detasemen Khusus 88 Mabes Polri pada Jumat lalu, 28 Juni 2019, di Hotel Adaya, Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat.

Suaeb menceritakan, setelah salat Jumat pada 28 Juni lalu, Para Wijayanto alias Ahmad pergi menggunakan mobil Toyota Innova. “Setelah itu udah enggak pulang, saya dapat info ditangkap di hotel di daerah Bekasi,” ucap Suaeb.

Setelah ditangkap, Para Wijayanto digelandang ke rumah kontrakannya di Jalan Telaga Indah Nomor 26, Perumahan Pesona Telaga, pada Sabtu, 29 Juni 2019, sekitar pukul 11.00 WIB.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Dedi Prasetyo, menyatakan belum mengetahui penangkapan buron itu. “Masih menunggu rilis dari Densus 88,” ucap Dedi, Ahad, 30 Juni 2019.

Baca jugaUmar Patek Sebut Nama Para Wijayanto

Lalu, siapa Para Wijayanto?

Dia sebelumnya disebut sebagai pemimpin Al Qaidah di Asia Tenggara pernah diburu di Thailand. Perburuan ini dipicu oleh informasi dari CIA, badan intelijen Amerika Serikat, bahwa Para Wijayanto yang mengurus semua dokumen untuk pelarian Umar Patek dari Thailand ke Pakistan.

“CIA mendapat informasi ini dari Umar Patek,” kata Direktur Direktur Lembaga Studi Intelijen dan Keamanan Nasional (Siknal) Dynno Chressbon kepada Tempo pada Rabu 30 Maret 2011.

Para Wijayanto bukan orang sembarangan. Menurut Dynno, pria itu dikenal sebagai koordinator “Tim Hambali” di Asia Tenggara.

Hambali adalah warga Cianjur, Jawa Barat, dedengkot Al Qaidah yang dicokok di Thailand lalu ditahan di Guantanamo, penjara Amerika Serikat di Teluk Kuba. Ia dituduh terlibat penyerangan terhadap Amerika pada 11 September 2001. Adiknya, Gun Gun, pernah dipenjara karena membantu memasukkan dana dari Al Qaidah ke Indonesia ketika kuliah Pakistan.

Teroris Umar Patek ditangkap di Pakistan pada awal Maret 2011. Patek dicokok bersama Istrinya. Pemerintah Indonesia sedang berupaya memulangkan tokoh peledakan bom bali I pada 2002 itu. Aparat Pakistan menyebut Patek datang untuk sebuah acara Al Qaidah dalam memperingati 10 tahun penyerangan terhadap Amerika tadi.

Jaringan Jamaah Islamiyah Para Wijayanto Punya Kebun Sawit

Reporter:

Andita Rahma

Editor:

Syailendra Persada

Senin, 1 Juli 2019 13:38 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Rumah Para Wijayanto, terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni lalu. TEMPO/Ade Ridwan
Rumah Para Wijayanto, terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Mabes Polri pada Jumat, 28 Juni lalu. TEMPO/Ade Ridwan

TEMPO.COJakarta – Pimpinan jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI) bernama Para Wijayanto dan anak buahnya memiliki usaha perkebunan kelapa sawit sebagai modal membangun dan kegiatan kelompok tersebut.

Baca: Polisi: Pentolan Jamaah Islamiyah Para Wijayanto Ahli Intelijen

“Perkebunan kelapa sawit itu terletak di Kalimantan dan Sumatera,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan pada Senin, 1 Juli 2019.

Dedi mengatakan, polisi kini masih mencari tahu perusahaan dan lokasi perkebunan tersebut. Namun dari usaha kebun sawit itu, Para mampu membayar anggotanya Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.

“Mereka bisa dikatakan berhasil membangun kekuatan ekonomi untuk operasional sehari-hari termasuk gaji pejabat struktural,” kata Dedi.

Bahkan, Para kerap memberangkatkan orang hasil perekrutan ke Syria untuk pelatihan militer. Pemberangkatan itu menggunakan dana hasil usaha perkebunan kelapa sawit. Namun, belum diketahui berapa jumlah orang yang direkrut dan diberangkatkan itu.

Para, kata Dedi, dibekuk pada 28 Juni 2019 di Hotel Adaya Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi.  Selain Para, polisi juga meringkus istri Para yakni Masitha Yasmin dan tangan kanannya Bambang Suyoso. Ketiganya ditangkap berbarengan.

“Bambang berperan sebagai penghubung amir dan orang yang direkrut, termasuk orang-orang yang dikirimkan ke Suriah. Bambang juga sebagai sopir Para,” kata Dedi.

Selain itu, polisi meringkus Abdurrahman, pada 30 Juni 2019 sekitar pukul 11.45 WIB, di Perumahan Griya Syariah, Blok G, Kelurahan Kebalen, Bekasi, Jawa Barat.

Abdurrahman merupakan orang yang berhasil direkrut oleh jaringan Para dan juga orang kepercayaannya untuk menggerakkan jajaran JI di Indonesia.

Baca: Para Wijayanto, Pentolan Jamaah Islamiyah yang Buron Sejak 2003

Terakhir, polisi menangkap Budi Tri alias Haedar alias Feni alias Gani di hari yang sama, 30 Juni 2019, sekitar pukul 14.15 WIB di daerah Pohijo, Kecamatan Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Budi Tri adalah penasihat Para dan penggerak jajaran JI Jawa Timur.

ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

August 19, 2018

Kasus parade 17 Agustus anak TK bercadar dan bersenjata ( ala pawai ISIS)

yang patut dicurigai adalah Komandan Dandim dan seluruh jajarannya bukan hanya kepala sekolah saja. saya sih curiga mereka ini sudah terkontaminasi ajaran sesat Wahabi . Minta maaf ?? jangan mudah dikibuli sama setan2 ini, periksa dulu . TNI juga harus memberi sanksi tegas sama si Dandim !

Acara 17 Agustusan bawa simbol kerajaan Saudi Arabian!!! udah mabok aba ini Dandim ???

Minggu 19 Agustus 2018, 20:44 WIB

Viral Pawai Anak TK Bercadar dan ‘Bersenjata’, Mendikbud Turun Tangan

M Rofiq – detikNews

Mendikbud mendengarkan penjelasan tentang pawai pelajar TK yang bercadar dan ‘bersenjata’ di Probolinggo. (Foto: M Rofiq)

Probolinggo – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy berkunjung ke Kota Probolinggo pasca viralnya pawai budaya pelajar TK bercadar dan menenteng replika senjata laras panjang baru-baru ini.

Mendikbud tiba di Kota Probolinggo sekitar pukul 15.45 WIB. Ia pun langsung merapat ke Mapolresta Probolinggo.

Kedatangan Mendikbud langsung disambut oleh Kapolresta Probolinggo, AKBP Alfian Nurrizal, Dandim 0820 Letkol Depro Rio Saransi serta jajaran Dinas Pendidikan Kota Probolinggo.

Baca juga: MUI Minta Polisi Usut Pawai Anak TK yang Bercadar dan ‘Bersenjata’

Di hadapan Mendikbud, Kapolresta Probolinggo kemudian memberikan paparan kronologi tentang barisan pawai siswa TK Kartika V-69 yang mengenakan jubah, cadar dan ‘bersenjata’.

Dari hasil penelusuran polisi, foto barisan pawai TK Kartika V-69 yang viral di media sosial adalah foto yang tidak utuh, sebab itu hanyalah foto di barisan belakang. Secara kebetulan di sini digambarkan barisan tersebut mengenakan jubah, bercadar hitam dan membawa replika senjata.

“Ini foto yang terpotong. Jika dilihat secara utuh, menampilkan barisan yang menunjukkan simbol-simbol Islam dan kerajaan Arab Saudi,” terangnya kepada Mendikbud, Minggu (19/8/2018).

Baca juga: Viralnya Pawai Anak TK yang Bercadar dan ‘Bersenjata’ di Probolinggo

Hal senada juga diutarakan Dandim 0820 Probolinggo yang menaungi TK Kartika V-69. Dandim lebih merinci keterangan tentang kostum yang dipakai para siswa TK Kartika V-69 saat menjadi peserta pawai kemerdekaan RI yang menuai kontroversi.

“Kostum yang digunakan untuk pawai kali ini sebetulnya pernah dipakai saat lomba drum band lalu. Jadi kostum tersebut sudah dua kali diketahui publik,” ujar Letkol Depri Rio Saransi.

Baca juga: Polisi Selidiki Penggunaan Cadar dan ‘Senjata’ di Karnaval HUT RI

Setelah mendengarkan penjelasan Kapolresta dan Dandim 0820 Probolinggo, Mendikbud pun sepakat jika foto tersebut tidak memperlihatkan adanya unsur penyebaran paham radikalisme ataupun terorisme.

“Jadi kalo dilihat dari video barisan siswa TK Kartika saat pawai, tak ada menunjukkan sesuatu hal yang membahayakan,” tandas Mendikbud.

Meski demikian Mendikbud tetap mengimbau semua pihak, utamanya para guru dan kepala sekolah, agar selektif memilih sesuatu untuk anak-anak atau siswanya.

“Tentunya kita harus cermat memberikan sesuatu kepada anak ataupun siswa. Dan yang pasti ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” tegasnya.

Baca juga: Video Karnaval TK Bercadar dan ‘Bersenjata’ di Probolinggo

Dalam kesempatan yang sama, Dandim 0820 kembali menyampaikan permintaan maaf lantaran kostum yang dikenakan sekolah binaannya menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

“Sekali lagi saya sebagai pembina TK Kartika minta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat luas atas terjadinya keteledoran tersebut,” pungkasnya. (lll/lll)

Tags: , , ,
August 1, 2018

Kronologi Pembekuan Korporasi Teroris

Rabu 01 Agustus 2018, 09:15 WIB

Zunita Amalia Putri – detikNews
Kronologi Pembekuan Korporasi TerorisPimpinan JAD, Zainal Anshori (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta – Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dibekukan. Organisasi ini dianggap telah mewadahi aksi terorisme. Lewat persidangan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membekukan organisasi ini.

Sidang perdana pembubaran JAD digelar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Selasa (24/7/2018). Saat itu, personel kepolisian sudah bersiaga sejak pagi hari.

Sidang ini dipimpin Hakim Ketua Aris Bawono Langgeng dengan dua anggota lainnya, Ratmoho dan Suswanti. Pimpinan JAD Zainal Anshori dihadirkan. Jaksa Penuntut Umum Heri Jerman membacakan dakwaannya. JAD didakwa sebagai korporasi wadah terorisme yang telah menimbulkan korban jiwa.

Dalam dakwaannya, JAD dibentuk atas perintah Aman Abdurrahman pada Agustus 2014 dengan memanggil beberapa pengikutnya, yaitu Marwan alias Abu Musa dan Zainal Anshori, ke Lapas Nusakambangan dan menyampaikan beberapa hal. Aman kemudian membaiat Abu Musa dan Zainal Anshori dengan cara membaca salah satu doa dalam bahasa Arab yang artinya berbaiat kepada pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi.

“Aman menyampaikan hal dalam pertemuan tersebut, yaitu sesama umat muslim wajib mendukung dan berbaiat kepada khilafah islamiyah dengan pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi dan perlunya ada wadah di Indonesia sebagai hukum islamiyah yang mewadahi dengan manhaz daulah islamiyah,” kata jaksa.

Zainal Anshori selaku pimpinan JAD yang dihadirkan memilih tidak mengajukan eksepsi. “Kami tidak akan ajukan keberatan,” ujarnya. Selanjutnya, Hakim Ketua Aris Bawono Langgeng melanjutkan persidangan dengan pemeriksaan lima saksi, yaitu anggota JAD Syaiful Mutakhit alias Abu Gar, Yadi Supriyadi alias Abu Akom, Joko Sugito, dan Iqbal Abdurrahman. Ditambah saksi ahli korporasi adalah Profesor Sutan Remi Sjahdieni.

Anggota JAD yang menjadi saksi, Joko Sugito, menyebut pendanaan korporasi JAD berasal dari infak atau sedekah dari masjid yang terjangkiti JAD. Joko sendiri merupakan pemimpin JAD Kalimantan dan sering mengisi kajian di masjid-masjid yang menghimpun infaknya. Jumlah infak yang disetor ke bendahara JAD tidak mengikat.

“Nggak mengikat. Tapi kisaran separuh dari infak yang didapat,” ungkap Joko. Dia mengaku pernah menyetor uang sebesar RP 1,5 juta ke bendahara JAD pusat.

Adapun ahli yang dihadirkan, yakni ahli hukum bisnis dari Universitas Indonesia, Profesor Sutan Remy Sjahdeni, mengatakan JAD sah sebagai korporasi meski tak berlandaskan hukum negara. Pembubaran JAD bisa dilakukan dengan cara tidak memberikan ruang gerak dan mematikan organisasi tersebut agar tidak terstruktur lagi.

“Pembubaran ibarat hukuman mati, kalau korporasi bukan badan hukum memang tidak perlu kemudian kalau punya harta kekayaan. Yang dibubarkan kan orang, artinya keputusannya segala macam itu nggak ada eksis. Dilarang melakukan kegiatan sebagai tujuan korporasi,” kata Remy.

Sidang selanjutnya mengagendakan sidang tuntutan pembubaran JAD. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Kamis (26/7/2018). 100 Personel polisi mengamankan sidang ini.

Jaksa menuntut JAD untuk dibekukan dan didenda Rp 5 juta. Soalnya, JAD dinilai terbukti melanggar Pasal 17 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Terorisme.

“Menuntu majelis hakim menjatuhkan pidana denda terhadap terdakwa Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang diwakili pengurus atas nama Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomarudin Bin M. Ali sebesar Rp 5 juta dan membekukan korporasi atau organisasl Jamaah Ansharud Daulah (JAD), organisasi lain yang beraliliasi dengan ISIS (Islamic State in lraq and Syria) atau DAESH (Al-Dawla Ill-Sham) atau ISIL (Islamic State of Iraq and levant) atau IS (Islamic State) dan menyatakan sebagai korporasi yang terlarang,” kata Jaksa Penuntut Umum, Jaya Siahaan, saat membacakan tuntutannya waktu itu.

Sidang selanjutnya, yakni pada Jumat (27/7/2018) mengagendakan pembacaan nota pembelaan (pleidoi) dari pengacara JAD. Dalam pembelaanya, pihak JAD mengatakan tindakan terorisme yang dilakukan anggotanya bukanlah atas nama JAD dan tanpa sepengetahuan JAD.

“Bahwa anggota dari terdakwa JAD yang melakukan tindak pidana terorisme tersebut dan telah divonis bersalah antara lain Syaiful Mutakhir alias Abu Gar, Yadi Supriyadi, Joko Sugito, dan Abdurrahman Hamidah dilakukan sendiri-sendiri tanpa melibatkan terdakwa secara struktural,” kata pengacara Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Asrudin Hatjani.

Asrudin menyatakan JAD bukanlah organisasi teroris. Maka, tuntutan jaksa untuk membekukan JAD juga tidak tepat. Asrudin juga meminta agar hakim membebaskan JAD dari pembebanan biaya perkara.

“Membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan melakukan tindak pidana terorisme dan menetapkan biaya perkara ditanggung negara,” kata Asrudin saat itu.

Terakhir, sidang vonis terhadap JAD digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (31/7/2018). 200 Personel polisi mengamankan sidang putusan pembubaran JAD ini. Pengamanan terbagi hingga empat ring, mulai dari ruang sidang hingga pekarangan pengadilan.

Majelis hakim memutus pembekuan JAD dan membayar denda sebesear Rp 5 juta. Hakim Ketua Aris Bawono menyatakan JAD adalah korporasi yang mewadahi aksi terorisme.

“Menyatakan terdakwa Jamaah Ansharut Daulah atau JAD terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, menetapkan dan membekukan organisasi JAD berafiliasi dengan ISIS (Islamic State in lraq and Syria) atau DAESH (Al-Dawla Ill-Sham) atau ISIL (Islamic State of Iraq and levant) atau IS (Islamic State) dan menyatakan sebagai korporasi yang terlarang,” ujar hakim ketua Aris Bawono.

JAD dijerat dalam Pasal 17 ayat 1 dan ayat 2 Jo Pasal 6 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003.

JAD berada di balik teror-teror bom dan mengakibatkan nyawa manusia melayang. Bom di Samarinda, bom bunuh diri di Jalan MH Thamrin Jakarta, bom Cicendo, hingga bom di Kampung Melayu disebut didalangi JAD. Meski pleidoi, pihak JAD membantah itu namun hakim tetap meyakini aksi teror tersebut ada hubungannya dengan JAD.

Pimpinan JAD Zainal Anshori tidak mengajukan banding atas putusan hakim, melainkan langsung mengacungkan jari telunjuk dan bertakbir, seketika hakim mengetuk palu vonis.

“Setelah dipertimbangkan, klien kami memutuskan tidak mengajukan banding,” kata pengacara JAD, Asludin Hatjani.

May 26, 2018

UU Terorisme Diharap Bentengi Sekolah dari Radikalisme

Sudah darurat !! 10 tahun dibiarkan meraja lelo oleh siapa yaaa ??

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 23:59 WIB
UU Terorisme Diharap Bentengi Sekolah dari RadikalismeAkademisi dan cendekiawan Azyumardi Azra berharap fokus pencegahan radikalisme bukan cuma pelajar, tetapi juga tenaga pendidik. (Thinkstock/zabelin)

Jakarta, CNN Indonesia — Akademisi dan cendekiawan Azyumardi Azra menilai Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme baru saja disahkan oleh DPR RI masih punya celah. Dia menyoroti kelemahan itu adalah soal meredam laju penyebaran ideologi radikal di lembaga pendidikan.

“Untuk antisipasi paham radikal itu tidak bisa model UU itu, harus lebih awal. Mungkin tempat SMA, Perguruan Tinggi harus ada program itu,” ujar Azyumardi tersebut dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jumat (25/5).

Menurut Azyumardi, pencegahan yang ada di UU Terorisme hanya menindak dengan pendekatan keras. Misalnya penahanan terhadap militan yang baru pulang dari wilayah konflik seperti Suriah.

 

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menurut Azyumardi, mempunyai peran penting dalam menangkal ideologi radikal di lembaga pendidikan. Salah satunya lewat program kebangsaan yang harus menyentuh tenaga pengajar ketimbang kaum pelajar.

Terkait di lingkungan kampus, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu mengusulkan BNPT menjalin komunikasi dengan kampus.

“BNPT harus kerja sama dengan pimpinan universitas dan lembaga kemahasiswaan untuk menangkal rekrutmen. Kalau BNPT sendiri tidak bisa karena ada banyak sekali universitas di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Pencegahan BNPT Hamli mengakui berlakunya UU Terorisme hasil revisi tidak lantas membuat beban mereka lebih ringan. Menurut Hamli masih banyak motif yang dapat mendorong seseorang terjerumus ke dalam radikalisme dan menjurus ke arah terorisme.


“Ada motif ideologi, ekonomi, tapi yang paling besar itu berjihad untuk mati syahid, bertemu 72 bidadari, menganggap negara tidak syar’i atau motif ekonomi ingin mencari pekerjaan di luar,” kata Hamli.

Hamli mengakui selama ini lembaga pendidikan menjadi tempat yang rawan diincar oleh penyebar paham terorisme mulai dari SD hingga kampus.

“Yang rentan kena itu kan mulai dari anak-anak, ibu-ibu, PTN, SD, SMP, SMA. Dan satu lagi adalah barang-barang ini sudah masuk berbagai lini, baik di kementerian, lembaga pendidikan, itu sudah masuk,” ujarnya. (ayp)

March 7, 2018

Minta Tahanan Rumah, Pengacara Ba’asyir Singgung Ahok Tak di Lapas

Pengacara teroris ya beginilah cara beragumentasinya.. Woi
Rabu 07 Maret 2018, 16:55 WIB

Kanavino Ahmad Rizqo – detikNews
Minta Tahanan Rumah, Pengacara Baasyir Singgung Ahok Tak di LapasFoto: Abu Bakar Ba’asyir tiba di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, Kamis (1/3/2018). (Grandyos Zafna-detikcom)
Jakarta – Pengacara terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir, Achmad Michdan, menegaskan kliennya tak menginginkan pemindahan Lembaga Pemasyarakatan (LP) melainkan berharap menjadi tahanan rumah. Michdan pun menyinggung beberapa terpidana kasus lain yang tak ditahan di LP.

“Namun demikian mekanisme (tahanan rumah) nggak ada dalam perundang-undangan tetapi pernah dilakukan pada masa Xanana Gusmao, Ahok itu terpidana tapi dia tidak menjalani di LP, dia di Mako (Brimob),” kata Michdan di Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Berdasarkan saran dokter, Michdan mengatakan kondisi Ba’asyir akan semakin baik bila dekat bersama keluarga. Alasan kesehatan itu lah, kata Michdan, yang membuat pihaknya berharap Ba’asyir dapat menjalani sisa pemidanaan di rumah.

“Ustaz dalam kondisi sakit inikan lebih baik dan tingkat penyembuhannya tinggi kalau bersama keluarga. Itu kita support,” ujar dia.

Kendati demikian, Michdan menegaskan kliennya tak akan mengajukan grasi. Pasalnya, Ba’asyir sampai saat ini tidak mengaku salah dan yakin apa yang dilakukannya adalah bagian dari ibadah.

“Kalau berkaitan apakah itu harus ada dengan permohonan grasi, ustaz sudah jelas, beliau tidak mau, karena berkeyakinan apa yang dia lakukan bukan sesuatu perbuatan pidana, itu perbuatan menurut beliau amalan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah,” imbuhnya.

Pemerintah sebelumnya berencana memindahkan penahanan Ba’asyir dari Gunung Sindur ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Jawa Tengah. Pihak pengacara Ba’asyir menegaskan kliennya keberatan dengan rencana tersebut.

“Ustaz keberatan kalau cuma pindah LP,” ujar pengacara Abu Bakar Ba’asyri, Achmad Michdan, kepada detikcom, Selasa (6/3/).

January 14, 2018

Kepala BIN Budi Gunawan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia

Reporter:

Antara

Editor:

Ninis Chairunnisa

Jumat, 12 Januari 2018 20:24 WIB

  • Arial
    Roboto
    Times
    Verdana
Kepala BIN Budi Gunawan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia
Kepala Badan Intelejen Negara Jenderal Budi Gunawan usai rapat kerja bersama Komisi Pertahanan DPR RI, Jakarta, 19 Oktober 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

TEMPO.CO, Jakarta – Mantan Wakil Kepala Kepolisian RI Jenderal (purnawirawan) Budi Gunawanditunjuk sebagai Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2017-2022. Dia dikukuhkan bersama dengan sejumlah pejabat lainnya oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Masjid menjadi salah satu tempat untuk mencerdaskan dan membangun kekuatan ekonomi umat,” kata Budi, saat pelantikan Pimpinan Pengurus DMI periode 2017-2022 di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat, 12 Januari 2018.

Baca: Para Pejabat Ini Dikukuhkan Jadi Pengurus Dewan Masjid Indonesia

Budi meminta dukungan seluruh rakyat Indonesia agar DMI mampu mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat dakwah, pengembangan masyarakat, dan persatuan umat. Menurut dia, DMI dapat dioptimalkan untuk meningkatkan keimanan, akhlak mulia, kecerdasan umat, dan kesejahteraan.

Purnawirawan polisi jenderal bintang empat itu menegaskan DMI harus tetap berjalan sesuai dengan jalurnya dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. “DMI bertekad membantu kesejahteraan umat dan pemersatu umat di Indonesia,” ucap Budi.

Baca: Jusuf Kalla Ingin Ada Aplikasi Masjid Mirip Go-Jek

Jajaran kepengurusan DMI periode 2017-2022 ditetapkan dalam muktamar yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 10-12 November 2017. Budi tercatat menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar DMI.

Budi Gunawan tercatat sebagai pensiunan Polri bintang empat per 11 Desember 2017 setelah memasuki usia 58 tahun. Meskipun telah pensiun sebagai anggota Polri, Budi tetap menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Selain Budi Gunawan, sejumlah pejabat menjadi pengurus DMI. Di antaranya Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.

December 21, 2017

Kisah Tukang Masak Bogor yang Menjadi Anggota ISIS

monyet macem gini enaknya diapain ya ? Yng pasti pesantren tempat dia sekolah di Bogor harus ditutup atau dibersihkan dari gerombolan setan ISIS

Kompas.com – 20/12/2017, 18:41 WIB
Mantan anggota ISIS asal Indonesia, Aldiansyah Syamsudin alias Abu Assam Al Indonisiy.
Mantan anggota ISIS asal Indonesia, Aldiansyah Syamsudin alias Abu Assam Al Indonisiy.(ABC News)

DAMASKUS, KOMPAS.com – Nama aslinya adalah Aldiansyah Syamsudin. Namun, ketika berada di Suriah, namanya berubah menjadi Abu Assam Al Indonisiy.

Dari sebuah kantor unit kontra-terorisme di Suriah Utara, Aldiansyah menceritakan bahwa dia dulunya adalah seorang tukang masak di Bogor, Jawa Barat.

Namun, masa depannya berubah setelah pergi ke Suriah, dan bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

Selama menjadi anggota ISIS, Aldiansyah belajar menembak menggunakan senapan mesin, dan AK-47. ISIS menjanjikannya empat istri, sebuah mobil, dan sebuah rumah, yang nyatanya merupakan janji belaka.

Baca juga : Ingin Gabung ISIS, Warga Irak di AS Dipenjara 16 Tahun

Menjadi satu-satunya anggota ISIS yang selamat setelah sebuah serangan udara menghancurkan kendaraan dan para pejuang ISIS lainnya, Aldiansyah ditinggal dalam keadaan “terluka, sakit, dan kelaparan”.

Dia kemudian diabaikan oleh warga sekitar sebelum akhirnya ditangkap Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Sekarang, Aldiansyah ingin pulang, dan mengaku tidak akan berbahaya bagi Indonesia, ataupun negara lain.

“ISIS sudah tidak peduli dengan saya. Lantas, mengapa saya harus mengikuti ajaran mereka?” kata Aldiansyah dikutip dari Australia PlusRabu (20/12/2017).

Dari Dapur Menuju Medan Perang
Perjalanan Aldiansyah dimulai setelah lulus dari pondok pesantren di Bogor.

Melihat ajaran ISIS di internet, Aldiansyah menjadi radikal, dan bergabung dengan sebuah kelompok bernama Gadi Gado lewat pesan di Telegram.

“Saya tertarik untuk bergabung dengan IS karena teman saya bilang hidupnya gratis dan nyaman, bisa memiliki empat istri, dan mereka akan memberi uang, rumah, dan mobil,” tutur Aldiansyah.

Lewat Telegram, Aldiansyah berkenalan dengan orang Indonesia bernama Abu Hofsah yang memberi tahu bagaimana cara ke Suriah.

Baca juga : ISIS Klaim Serangan ke Pusat Pelatihan Intelijen Afghanistan

Abu Hofsah kemudian mengiriminya uang sebesar 1.000 dolar Australia, atau sekitar Rp 10,4 juta, untuk membayar tiket pesawat.

Aldiansyah tiba di Turki pada Maret 2016, dan sempat tinggal di sebuah rumah di Kota Gaziantep, sebelum dikirim ke timur Suriah.

Malam hari, Aldiansyah didatangi oleh seorang Muharrib (pejuang) yang memberi tahu bahwa sudah saatnya mereka pergi ke perbatasan.

Maka mereka bersepuluh naik mobil, dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

“Kami menyeberang sungai dan terus berjalan. Kemudian menemukan barikade dari bahan logam. Tentara Turki menembaki kami, tapi kami berhasil tiba,” papar Aldiansyah.

Aldiansyah masuk ke Suriah April 2017, lebih lambat dibandingkan anggota asing ISIS yang lain.

Meski begitu, dia tetap bangga. Sebab, dia berhasil melewati perbatasan Turki dengan selamat meski militer melakukan penjagaan ketat.

Waktu kedatangannya bertepatan saat ISIS telah tedorong ke selatan dan tidak lagi memiliki akses ke perbatasan.

Aldiansyah melanjutkan, selama di Suriah, dia dilatih oleh orang Indonesia dengan nama alias Abu Walid Al Indonesiya, dan warga negara Filipina bernama Abu Abdulrohman Al Phillipini.

Dia dilatih untuk menggunakan berbagai jenis senjata ringan. Latihan militer itu digelar di Provinsi Hama, dan berlangsung selama 20 hari.

“Saya belajar menggunakan empat senjata. Termasuk AK, granat berpelontar roket (RPG), dan senapan mesin PKC,” ujar Aldiansyah.

Aldiansyah mengaku hanya mengenal lima warga negara Indonesia di Suriah meski pemerintah yakin ada ratusan orang yang bergabung dengan ISIS.

Selain itu, Aldiansyah menyatakan tidak pernah masuk ke Raqqa untuk berperang.

Eight Indonesian-Born Islamic State Followers Deported by Turkey

A member loyal to Islamic State waves a flag in Raqqa. (Reuters Photo/Stringer)

By : Farouk Arnaz and Telly Nathalia | on 9:23 PM December 19, 2017
Category : NewsFeaturedTerrorismSecurity

Jakarta. National Police confirmed on Tuesday (19/12) that eight Indonesian citizens were deported by Turkey on Sunday for joining the Islamic State in neighboring Syria and Iraq.

“On Sunday, at 7.55 p.m. Jakarta time, we picked up eight Indonesians who were foreign terrorist fighters in Syria and Iraq…” said Senior Com. Martinus Sitompu, a National Police spokesman, as quoted by BeritaSatu.com.

The eight individuals were only identified by their initials SS (40), M (23), DA (22), AZ (21), MI (21), YA (19), JA (11) and AM (7). The group consists of five men, two children and one woman.

“They are Indonesians that were arrested in the Hatay area near the border between Turkey and Syria […] five men planned to enter Syria,” Martinus explained.

According to Martinus, police are still conducting investigations into the individuals.

Christmas Attackers

National Police said last week that 19 suspected terrorists were arrested for allegedly plotting to carry out attacks during Christmas and New Year celebrations.

“There were 19 people that we captured from Dec. 9-11 in East Java, Pekanbaru (Riau) and South Sumatra […] There is no terror plot, but this is our preventive strike, action before their attacks,” Insp. Gen. Setyo Wasita said.

Police also urged all social communities to be aware of possible threats.

“For sure, [those who were] from East Java linked to the Abu Jandal group and they just returned from Syria. [Those who were] from Pekanbaru were involved in purchasing weapons and conducting military training at the Gema Lipat Kain hills, Kampar [Riau] and [those who were] from South Sumatra linked to Jamaah Anshar Khilafah,” he explained, citing two local groups that are affiliated with Islamic State.

The 19 individuals are currently being detained at Police Mobile Brigade (Brimob) headquarters in Depok, just south of Jakarta.

November 8, 2017

WNI Istri Militan Maute Anak Tuan Tanah, Ini Profil Lengkapnya

 

Maute pernah ngajar di ponpes Bekasi…hmmm bakal banyak calon radikalis keluar dari ponpes ini..

Mei Amelia R – detikNews
WNI Istri Militan Maute Anak Tuan Tanah, Ini Profil LengkapnyaMinhati Madrais (Dok. Mabes Polri)
Jakarta – Minhati Madrais (36) masih ditahan otoritas Filipina karena diduga bergabung dalam pergerakan jaringan teroris di Marawi. Bagaimana awalnya istri dari salah satu milisi Filipina, Omarkhayam Maute, bergabung dalam kelompok tersebut?

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan Minhati adalah putri pertama pasangan H Madrais Fajar, Lc, dan Hj Murhiyaliyah, SPd. Ayahnya asli dari Kampung Buni, Babelan, Bekasi, yang menjadi tuan tanah di kampungnya itu.

Sebagai tuan tanah, Madrais memiliki banyak yayasan pendidikan Islam dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Ayah Minhati ini memiliki Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam ‘Darul Amal’ untuk tingkat taman kanak-kanak (TK), madrasah diniyah takmiliyah awaliyah (DTA), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), SMK Darul Amal, dan Ponpes Darul Amal,” terang Rikwanto dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu (8/11/2017).

Madrais juga mendirikan sebuah masjid yang terletak di depan Yayasan Darul Amal. Putra ke-3 Madrais, Ustaz Diaduddin Madrais, Lc, biasa menjadi imam di masjid itu.

Minhati sendiri memiliki gelar Lc dengan ijazah bachelor bidang ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ilmu Alquran di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ijazahnya dikeluarkan pada Februari 2009.

“Minhati bertemu dengan Omar Maute pada saat keduanya sama-sama menjadi mahasiswa di Al-Azhar Kairo, Mesir,” sambungnya.

Minhati diketahui pernah membawa Omar ke rumahnya di Bekasi. “Dan (Omar) sempat tinggal beberapa bulan di rumah tersebut dan sempat mengajar sebentar pada ponpes tersebut,” lanjutnya.

Riwayat Perlintasan

Minhati memiliki paspor RI bernomor A 2093379 yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Karawang pada 30 Januari 2012. Masa berlaku paspornya itu habis pada 30 Januari 2017 dan tidak ditemukan data penggantian paspor dalam SIMKIM.

Dalam data perlintasan di Ditjen Imigrasi, Minhati diketahui terakhir meninggalkan Jakarta pada Jumat, 10 April 2015, dengan Pesawat Cebu Pacific (5J760) tujuan Manila. Dia tiba di NAIA (Ninoy Aquino International Airport) pada Sabtu pagi, 11 April 2015.

Diduga setelah itu, dia melanjutkan perjalanan menuju Cagayan de Oro untuk menuju Marawi.

“Berdasarkan data dari Biro Imigrasi, yang bersangkutan memiliki alamat di Marawi City,” kata Rikwanto.

Berdasarkan informasi dari Divisi Intelijen Imigrasi Filipina pada 8 Juni 2017, Minhati menggunakan izin tinggal jenis E.O. 408 (no-visa entry untuk tinggal 30 hari) dan secara rutin memperpanjang izin tinggalnya di Iligan Immigration District Office.

Minhati terakhir melakukan perpanjangan izin tinggal pada Agustus 2016 dan izin tinggal tersebut berakhir pada 9 Oktober 2016.
(mei/fdn)

August 22, 2017

BNPT: Aman Abdurrahman Masuk Napi Hardcore

Selasa 22 Agustus 2017, 17:29 WIB

Arbi Anugrah – detikNews
BNPT: Aman Abdurrahman Masuk Napi HardcoreFoto: Arbi Anugrah/detikcom
Purwokerto – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan di dalam dunia terorisme, ada empat kluster dalam radikalisme di tengah masyarakat. Pertama, kategori, hardcore (inti), militan, suporter dan simpatisan.

Aman Abdurrahman masuk dalam kluster hardcore atau inti yang tak lagi mempan program deradikalisasi. Dia termasuk berbahaya bila bebas, bahkan selama dipenjara saja bisa mempengaruhi orang dan diduga mengendalikan berbagai aksi teror di Indonesia.

“Kategorinya seperti ini, Aman sudah hardcore ya, inti. Sangat sulit berubah ini. Kalau dia kembali ke masyarakat bagaimana ini, harus diwaspadai. Yang kita kategorikan sebagai hardcore ini sangat sulit berubah,” kata Suhardi seusai memberi kuliah umum pada mahasiswa baru di Auditorium Graha Widyatama, Unsoed Purwokerto, Selasa (22/8/2017).

Dia mengungkapkan, teroris sekelas Aman juga sangat berbahaya jika bebas. Sebab, dengan pengaruhnya, Aman bisa mempengaruhi orang lain di sekitarnya. Bahkan dari dalam Lapas, Aman mampu mengendalikan jaringan, mempengaruhi orang dan menggerakkan. Padahal, pihak Lapas telah malakukan pengawasan ketat terhadap Aman.

“Kita jaga betul pengaruh-pengaruhnya, termasuk siapa orang-orang potensial yang dipengaruhi akan menjadi sasaran kita,” jelasnya.

Dia menjelaskan jika pihaknya tidak bisa mengatasi adanya kunjungan keluarga, karena salah satu hak napi adalah berhubungan, bertemu dan menerima kunjungan keluarga. Jika benar-benar dilarang atau dibatasi, BNPT akan dituduh melanggar HAM. Padahal, bisa jadi, Aman menggunakan kesempatan pertemuan itu untuk mengirimkan pesan kepada jaringannya.

“Tidak lepas dari pantauan, cuma masalahnya kalau kita batasi HAM lagi, maka kita kekeluargaan saja. Kita serba sulit melakukan batasan, nanti ada pelanggaran HAM lagi,” ucapnya.

Ia mengatakan jika program deradikalisasi terus dilakukan terhadap napi terorisme di seluruh Lapas di Indonesia. Diharapkan banyak mantan napi teroris itu sadar dan tidak kembali lagi.

“Mantan mantan teroris di Lamongan ada 38 napi teroris ikut mengibarkan bendera merah-putih, membaca Pancasila dan UUD. Ini kan sejarah, di Sumatera Utara, Deli Serdang, Ali Dayat mantan teroris, anak anaknya sekarang ikut mengibarkan bendera,” ungkap Suhardi, usai

Dia mengatakan paham-paham damai akan terus disebarkan. Dia meminta keluarga terutama anak-anak mantan napi terorisme untuk tidak dimarginalkan. Sebab bila dimarginalkan potensi kembali mengadopsi paham ideologi orangtuanya bisa terjadi.

“Jangan dimarginalkan, potensi kembali mengadopai paham ideologi bapaknya akan kembali,” katanya.

Menurut dia, dalam program deradikalisi tersebut tingkat keberhasilan mengubah ideologi atau paham radikalisme yang ada pada napi teroris bisa dikatakan sangat baik. “Dari 600 orang napi terorisme yang ikut, hanya 3 yang kembali (melakukan aksi),” katanya.
(arb/bgs)