Archive for ‘Logistic’

January 14, 2017

Menperin: infrastruktur logistik memadai kerek pertumbuhan industri

Jumat, 13 Januari 2017 19:13 WIB | 2.202 Views
Menperin: infrastruktur logistik memadai kerek pertumbuhan industri

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya, serta didampingi Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro meninjau lokasi rencana pembangunan Container Freight Station Tanjung Priok. (ANTARA News/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)
Jakarta (ANTARA News) – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan penyediaan infrastruktur logistik yang memadai akan mendorong pertumbuhan industri nasional.

Hal ini lantaran pergerakan barang atau komoditas dari wilayah penghasil ke konsumen dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

“Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam memperkuat basis industri dalam negeri adalah tentang logistik. Apalagi Bapak Presiden Jokowi selalu menekankan proses dwelling time dapat dipercepat dan infrastruktur diperkuat,” kata Airlangga lewat keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Airlangga menyampaikan hal tersebut pada acara sosialisasi peningkatan penggunaan angkutan petikemas dengan kereta api rute Gedebage-Tanjung Priok di Jakarta, Jumat.

Untuk itu, Airlangga menyambut baik beroperasinya kembali jalur angkutan petikemas dengan kereta api rute Gedebage, Bandung-Tanjung Priok, Jakarta yang dibangun atas kerja sama PT Kereta Api Indonesia dengan PT KA Logistik, anak perusahaan IPC PT Multi Terminal Indonesia dan PT Mitra Adira Utama. “Akses kereta api ini sebenarnya telah ada sejak tahun 1990-an. Namun sempat berhenti dan akhirnya kembali beroperasi lagi pada Juni 2016,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut Airlangga, aktivitas para pengusaha khususnya di Jawa Barat dapat semakin mudah khususnya dalam proses pendistribusian. “Jalur ini merupakan dream comes true pengusaha di Jabar, karena beberapa waktu lalu baru sampai Pasoso dan sekarang sudah bisa sampai ke JICT. Alhamdulillah, ini sudah selesai,” paparnya.

Airlangga juga mengungkapkan, selama ini industri di Jawa Barat telah berkontribusi besar dalam perekonomian Indonesia karena 30 persen kawasan industri berlokasi di Jawa Barat. “Hingga 2014, beberapa industri besar dan sedang di provinsi ini, antara lain industri makanan sebanyak 1.037 perusahaan, tekstil 851 perusahaan, pakaian jadi 740 perusahaan, kulit dan alas kaki 205 perusahaan, serta karet dan plastik 390 perusahaan,” sebutnya.

Airlangga mengatakan, pihaknya juga mendorong pembangunan infrastruktur logistik di daerah strategis lainnya terutama di sentra-sentra industri.

Misalnya dari Pelabuhan Kendal, yang juga bisa ditarik ke Tanjung Priok atau Tanjung Perak. Ini diperlukan agar ekonomi Jawa di bagian selatan dan utara berimbang.

Kementerian Perindustrian secara khusus mendorong agar sarana ini dapat pula digunakan oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM), karena sektor ini menjadi kunci utama bagi pembangunan inklusif dan pemerataan karena mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Langkah tersebut, menurut Airlangga, merupakan salah satu wujud pelaksanaan arahan Presiden Joko Widodo yang menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus dapat menciptakan pemerataan pendapatan. “Pemerataan pendapatan ini menjadi penting agar keseimbangan antar regional dapat tercapai agar seluruh kawasan Indonesia dapat berkembang dengan baik dan mendorong pemerataan,” jelasnya.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

November 11, 2016

Bangun Kampung Cargo di Bandara Soetta, AP II Siapkan Rp 2 Triliun

Jumat 11 Nov 2016, 13:01 WIB

Yulida Medistiara – detikFinance
Bangun Kampung Cargo di Bandara Soetta, AP II Siapkan Rp 2 TriliunFoto: Dikhy Sasra
Jakarta – Anak usaha PT Angkasa Pura II, yakni PT Angkasa Pura Kargo akan membuat proyek cargo village atau kampung kargo di Bandara Soekarno Hatta. Kampung kargo tersebut akan dibangun di lahan seluas 90 hektar dengan nilai investasi Rp 2 triliun.

“Biaya sedang dihitung perkiraan Rp 2 triliun,” ujar Dirut Angkasa Pura Cargo Denny Fikri, ketika dihubungi detikFinance, Kamis (10/11/2016).

Dana tersebut dialokasikan untuk membangun sejumlah fasilitas di atas lahan seluas 90 hektar di komplek Bandara Soekarno Hatta.

“Itu untuk membuat tempat parkir pesawat atau apron di dalam cargo village tersebut. Kemudian juga membangun fasilitas pendukung seperti pergudangan untuk barang, perkantoran, parkir mobil dan truk serta fasilitas sosial lainnya,” sambung dia.

Fasilitas ini dibangun dengan tujuan mempersiapkan Bandara Soetta sebagai pusat distribusi atau hub kargo antar negara khususnya di kawasan Asia. Selama ini, hub kargo melalui jalur udara masih didominasi oleh negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Dengan adanya fasilitas ini, kapasitas tampung kargo di Bandara Soetta pun akan meningkat hingga 3 kali lipat dari semula hanya 500 ribu ton menjadi 1,5 juta ton.

Adapun lahan seluas 90 ha yang bakal menjadi lokasi pembangunan kampung kargo Bandara Soetta bakal berlokasi di kawasan M1 yang letaknya berseberangan dengan Kantor Garuda di komplek Bandara Soetta.

“Lahannya punya AP II, jadi tinggal pakai, nggak ada pembebasan lahan,” tandas Denny. (dna/dna)

November 4, 2016

Pelni dan Garuda Indonesia Diminta Pangkas Biaya Logistik

Galih Gumelar, CNN Indonesia
Kamis, 03/11/2016 21:51 WIB
Pelni dan Garuda Indonesia Diminta Pangkas Biaya LogistikBambang Brodjonegoro dan Susi Pudjiastuti meminta dua BUMN tersebut untuk secara khusus menekan biaya logistik untuk wilayah Indonesia timur. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia — Dua menteri Kabinet Kerja meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi untuk terjun dalam efisiensi biaya logistik nasional. Khususnya, bagi logistik kebutuhan dan bahan baku untuk wilayah Indonesia timur.

Yang pertama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Bambang Brodjonegoro berharap PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (Pelni) mau memecah rute pelayaran bersubsidi dari Surabaya ke Sorong. Menurutnya, rute tersebut harus dibagi menjadi dua, yaitu Surabaya-Makasar dan Makasar-Sorong.

“Kami berharap Pelni bisa menggunakan kapal besar dari Surabaya ke Makasar kemudian menggunakan kapal kecil dari Makasar ke Sorong. Dengan melihat skala kapal yang digunakan, ini bisa menambah skala ekonomis (economies of scale),” tutur Bambang, Kamis (3/11).

Penggunaan kapal kecil bagi rute Makasar ke Sorong, lanjutnya, lebih ekonomis karena barang yang dikirim balik dari Sorong terbilang lebih sedikit. Jika pelayaran Makasar-Sorong masih menggunakan kapal besar, maka akan ada inefisiensi logistik sebesar Rp2 juta per TEUs.

“Akan ada efisiensi yang baik sekali dari pelayaran Sorong-Makasar menggunakan kapal kecil. Hal itu pun juga berdampak baik bagi subsidi Pelni,” tuturnya.

Kendati demikian, ia menyebut bahwa infrastruktur hub tol laut harus selesai terlebih dahulu. Saat ini ada lima hub yang direncanakan, yaitu Belawan-Kuala Tanjung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makasar dan Bitung dan rencana hub baru di Sorong dan Batam.

“Kami juga berharap Pelindo mau menyesuaikan rencana investasinya dengan hub-hub tol laut ini,” jelasnya.

Di sisi lain, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti berharap PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mau membuka rute penerbangan langsung dari Australia ke kota-kota di Indonesia timur. Menurutnya, hal ini menciptakan harga barang yang lebih efisien dibanding mengirimkan barang-barang kebutuhan hidup dari Indonesia barat.

Ia mencontohkan harga ayam beku di Saumlaki, Maluku yang bisa mencapai Rp150 ribu per kilogram (kg). Hal itu disebabkan karena pelayaran yang berbelit dari Surabaya menuju Makasar, Makasar menuju Sorong, dan Sorong menuju Saumlaki.

Untuk itu, ia mengusulkan rute penerbangan langsung dari Darwin-Kupang dan Darwin-Timika. Penerbangan ini diharapkan bisa memotong seperlima biaya logistik barang-barang kebutuhan di Indonesia timur saat ini.

“Bayangkan saja, masa ayam mati dibawa muter-muter dulu? Makanya, kami ingin menagih janji Garuda, katanya kalau bisa disubsidi US$2 ribu, sudah bisa penerbangan langsung dari Australia ke kota-kota di Indonesia timur. Pakai pesawat baling-baling (ATR) biasa saja,” jelas Susi. (gir/gen)

July 3, 2015

Bulog Miliki Gudang di Pasar

Peran Koperasi Akan Ditingkatkan

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Perdagangan akan menempatkan gudang mini Perum Bulog di pasar-pasar rakyat atau tradisional yang telah direvitalisasi. Hal itu merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi spekulasi harga dan mengembalikan fungsi Bulog sebagai penjaga stok dan stabilitator harga. Percontohan gudang segera dibuat.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Kamis (2/7), di Jakarta, mengatakan, pemerintah akan memberikan tempat sebagai gudang mini Perum Bulog di pasar rakyat yang telah direvitalisasi. Selama lima tahun, pemerintah akan merevitalisasi 5.000 pasar.

Berarti akan ada 5.000 tempat bagi Perum Bulog. Ketika harga bahan pokok terutama beras tinggi, Bulog akan menjual beras tersebut kepada pedagang kecil atau pengecer di pasar tersebut dengan harga lebih terjangkau.

“Upaya tersebut dalam rangka mengatasi spekulasi harga. Upaya itu juga untuk memutus rantai pasokan bahan pokok yang panjang. Kami terus berkomunikasi intensif dengan Bulog. Dalam waktu dekat ini, kami akan merealisasikannya di sejumlah pasar sebagai percontohan,” kata Rachmat.

Menurut Rachmat, selain mengembalikan fungsi Bulog, kebijakan itu juga bertujuan mengembalikan fungsi pasar rakyat. Pasar harus bisa berperan sebagai penyedia kebutuhan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Kemendag juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian Koperasi dan UKM untuk melengkapi fasilitas pasar. Peran koperasi di pasar akan ditingkatkan dan gudang berpendingin akan disediakan.

“Koperasi bisa berperan sebagai pemberi kredit lunak kepada pedagang. Kami juga akan menjadikan pasar sebagai sentra perdagangan produk pertanian dan peternakan khas daerah,” ujarnya.

Berdasarkan data Kemendag, pada tahun ini pemerintah akan merevitalisasi dan membangun 1.000 pasar dengan dana senilai total Rp 2,3 triliun. Sebanyak 675 pasar masih dalam tahap pembangunan dengan dana Rp 1,07 triliun.

Di samping itu, lanjut Rachmat, untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi konsumen dari lonjakan harga bahan pokok, Kemendag sedang merampungkan pembahasan peraturan menteri perdagangan tentang penetapan harga dan penyimpanan bahan pokok.

Hal itu sebagai tindak lanjut atas ditetapkannya Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan Harga dan Penyimpanan Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. “Kami menargetkan Permendag itu rampung tahun ini dan bisa diterapkan pada tahun depan. Sosialisasi tentang Permendag itu juga akan kami lakukan,” katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Ardiansyah Parman mengemukakan, kebijakan tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pasal 12 UU tersebut menyebutkan pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab atas ketersediaan dan keterjangkauan pangan.

“Karena itu, pemerintah berkewajiban mengelola stabilisasi pasokan, harga, cadangan, dan distribusi pangan pokok. Pemerintah juga harus mengelola sumber penyediaan pangan tersebut dari cadangan nasional dan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Bahan makanan

Dari sentra pangan Jawa Timur dilaporkan inflasi tertinggi pada Juni sebesar 0,54 persen di Surabaya dan 0,20 persen di Kabupaten Jember. Inflasi Jatim lebih rendah daripada angka nasional karena upaya pemerintah daerah mengendalikan harga kebutuhan pokok.

Kepala Badan Pusat Statistik Jatim M Sairi Hasbullah, di Surabaya, menjelaskan, dari tujuh kelompok pengeluaran, semua mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah bahan makanan 0,92 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,79 persen, sandang 0,47 persen, dan kesehatan 0,35 persen. Adapun inflasi terendah adalah kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,08 persen.

Penyumbang inflasi untuk bahan makanan adalah minuman, rokok, dan tembakau yang mengontribusi 0,13 persen terhadap pencapaian inflasi Juni 2015. Penyumbang inflasi terendah adalah transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. (HEN/ETA)

July 2, 2015

Gudang Kapas Segera Disiapkan

Segera Disiapkan

JAKARTA, KOMPAS — Peningkatan daya saing produk industri di Tanah Air membutuhkan ketersediaan bahan baku dalam jumlah, harga, dan kualitas terjamin. Terkait hal tersebut, saat ini ada upaya memfasilitasi pendirian basis logistik kapas, pusat bahan baku kulit, serta mendorong investasi industri zat warna dan bahan penolong.

“Ini adalah bagian dari upaya menumbuhkan dan mengembangkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki dan penyamakan kulit,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin pada pembukaan pameran Gelar Sepatu, Kulit, dan Fesyen Tahun 2015 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (1/7).

Saleh menuturkan, ketiga industri tersebut selama ini berperan strategis dalam perolehan devisa ekspor nonmigas sebesar 17,32 miliar dollar Amerika Serikat.

Ketiga industri itu menyerap pekerja 15,1 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur serta menyumbang 1,89 persen terhadap produk domestik bruto nasional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan, pembahasan lintas kementerian saat ini sedang dilakukan untuk menghindari masalah importasi.

“Khusus untuk bahan baku kapas, nanti (gudang) akan ditaruh di Cikarang Dry Port. Di situ ada bea cukai, instansi pajak, satu atap. Penyelesaian di dalam satu lokasi. Itu bisa membuat bahan baku industri dalam negeri kompetitif,” kata Harjanto.

Menurut Harjanto, selama ini, pelaku industri TPT di Indonesia mengambil bahan baku kapas dari gudang di Malaysia sehingga harga lebih mahal.

Apabila gudang tersebut dapat dipindah ke Indonesia, pengusaha kecil pun bisa mengambil dalam jumlah tidak terlalu banyak. “Jadi gudang tersebut melayani yang kecil-kecil juga,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy mengatakan, pihaknya menunggu peraturan terkait gudang mandiri bahan baku kapas itu. “Karena ini adalah konsep baru sehingga harus dikaji agar tidak bertentangan dengan aturan,” katanya.

Di Malaysia

Ernovian menuturkan, selama ini banyak kapas dari negara produsen yang disimpan di Malaysia dan Vietnam. Hal ini karena ada aturan bahwa barang yang masuk ke gudang di sana tidak diberlakukan peraturan impor. Peraturan impor, terkait pajak dan bea masuk, baru berlaku begitu barang keluar gudang.

“Kami namakan ini gudang mandiri. Ini konsep baru, rencananya di Cikarang Dry Port. Apabila berjalan, hal ini berpotensi menciptakan efisiensi,” ujar Ernovian.

Selama ini, sejak dekade 1980-an, pengiriman kapas dari AS harus melalui Malaysia dan baru ke Indonesia. Apabila ada gudang di Indonesia, kata Ernovian, kapas dari AS dan negara produsen lain bisa langsung ke Indonesia.

“Jadi biaya pasti akan lebih murah,” kata Ernovian.

Menurut Ernovian, selama ini, upaya peningkatan daya saing industri TPT sudah dicoba, antara lain dengan memperjuangkan tarif listrik kompetitif. Upaya tersebut belum berhasil sehingga diusahakan cara lain dengan melakukan efisiensi dari sisi bahan baku melalui konsep gudang mandiri kapas tersebut.

Sebelumnya diberitakan PT Cikarang Inland Port, operator Cikarang Dry Port, berinvestasi sebesar Rp 150 miliar untuk membangun gudang berikat mandiri khusus bagi komoditas kapas.

Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan tahap pertama dari gudang berikat mandiri khusus kapas. (CAS)

April 10, 2015

Logistik Diefisienkan

Porsi Transportasi Sekitar 85 Persen Biaya

BEKASI, KOMPAS — Pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk mendukung efisiensi logistik. Saat ini, biaya logistik di Indonesia sekitar 24 persen dari produk domestik bruto atau PDB sehingga tidak kompetitif. Pembangunan pelabuhan dan jalan dapat menekan biaya logistik hingga kurang dari 10 persen PDB.

“Salah satu masalah biaya logistik kita tinggi adalah infrastruktur. Biaya logistik kita masih yang tertinggi di antara negara- negara ASEAN. Upaya kita salah satunya membangun infrastruktur dan iklim investasi,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat meresmikan fasilitas logistik PT Kamadjaja Logistics, Kamis (9/4), di Bekasi, Jawa Barat.

Biaya logistik di Malaysia sekitar 13 persen dari PDB, di Tiongkok 19 persen dari PDB, dan di Thailand sekitar 15 persen dari PDB.

“Kita akan berusaha menurunkan biaya logistik menjadi lebih rendah,” kata Rachmat.

Kemarin, PT Kamadjaja Logistics meresmikan fasilitas logistik terpadu yang lebih efisien dan menekan biaya logistik, di antaranya dengan mempercepat waktu bongkar muat barang.

Chief Executive Officer PT Kamadjaja Logistics Ivan Kamadjaja mengatakan, sebagai pelaku usaha di bidang logistik, arah kebijakan pemerintah dengan program pembangunan infrastruktur merupakan langkah yang tepat.

Pembangunan infrastruktur di sektor maritim, kata Ivan, merupakan keharusan, karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lautan sebagai penghubungnya. “Mestinya infrastruktur laut yang pertama dibangun, baru rel kereta api di sektor daratnya,” kata Ivan.

Menurut dia, pemerintah perlu mendorong tumbuhnya sentra industri di luar Jawa. Pasalnya, kapal barang yang kembali tanpa muatan tetap akan mengakibatkan biaya logistik yang mahal.

Berdasarkan perhitungan Ivan, transportasi memakan biaya hingga 85 persen dalam logistik. Adapun 15 persen sisanya merupakan biaya gudang dan lain-lain. Biaya transportasi mencakup jarak produsen hingga tujuan akhir, biaya distribusi, dan biaya bahan bakar. Dengan fasilitas logistik terpadu, biaya logistik bisa ditekan 10-15 persen.

Secara terpisah, Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi mengatakan, pusat logistik terpadu bisa meningkatkan efisiensi biaya logistik. Lebih jauh, merupakan strategi menurunkan biaya transportasi.

Keberadaan pusat logistik di kawasan utara Jawa Barat sangat penting karena tingginya volume arus barang dari dan ke kawasan itu. “Kami mengimbau pemerintah agar memperbanyak pembangunan pusat logistik di beberapa wilayah sesuai potensinya masing-masing. Perencanaannya harus terpadu dengan melibatkan kementerian-kementerian terkait serta terintegrasi dengan sarana infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan,” kata Setijadi.

Angkutan kontainer

PT Kereta Api Indonesia (KAI) kembali mengoperasikan layanan angkutan kontainer dengan rel KA yang dikelola PT KA Logistik, anak usaha PT KAI. Layanan itu menghubungkan lapangan penumpukan peti kemas di Surabaya dengan di Jakarta.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di kawasan PT Terminal Petikemas Surabaya menjelaskan, pengoperasian layanan transportasi kontainer dengan kereta api itu bukan untuk menyaingi transportasi darat dengan moda truk, melainkan untuk menambah pilihan layanan.

“Semakin banyak pilihan layanan, akan terjadi persaingan sehat, waktu tunggu kontainer akan lebih singkat. Akhirnya efisiensi akan dicapai, dan harga produk bisa ditekan. Layanan kereta api jangan dipahami hendak menyaingi transportasi darat,” katanya.

Di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, layanan angkutan barang terganggu akibat sejumlah operator kapal mogok beroperasi.

“Akibatnya, banyak kendaraan seperti truk pengangkut barang yang mengantre, yang panjang antreannya mencapai 4 kilometer,” ujar Gubernur Jatim Soekarwo di Sidoarjo.

Aksi mogok itu dipicu larangan penggunaan landing craft tank (LCT) mulai 9 Mei mendatang.

(NAD/ARN/ODY/NIK)

February 4, 2015

Bisnis Daring Bergantung Sistem Logistik

JAKARTA, KOMPAS — Konsultan industri dan analis riset pasar Frost & Sullivan memproyeksikan, pada 2020 akan ada 1,7 miliar perangkat yang terkoneksi dengan internet dengan lebih dari 470 juta pengguna perangkat telekomunikasi dan lebih dari 200 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Besarnya kondisi konektivitas ini memberi peluang besar terhadap pasar bisnis daring.

”Sistem logistik tetap menjadi kunci utama jika bisnis daring diharapkan tumbuh. Orang bisa mengakses dan membeli produk daring semakin mudah. Akan tetapi, apabila sistem pengiriman barang buruk, konsumen enggan membeli,” tutur Associate Director Information Communication Technology Consulting Frost & Sullivan Asia Pacific Spike Choo dalam temu media, di Jakarta, Selasa (3/2) petang.

Tantangan kedua, menurut Spike, adalah produk yang dijual. Bagaimana barang yang diperdagangkan onlineatau dalam jaringan (daring) harus berkualitas dan kondisi fisiknya sesuai fakta. Dengan kata lain, pelayanan kepada konsumen menjadi hal penting.

”Pengusaha harus memberi deskripsi jelas mengenai kondisi fisik barang yang dijual. Pelayanan kepada konsumen juga harus baik. Ini sama dengan ketika saya membeli barang di Senayan City, cuma saya membelinya secara daring,” papar Spike.

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Agus Tjandra kepada Kompas, di Jakarta, Rabu (4/2), menyebutkan tiga pilar penting dalam bisnis daring, yakni produk, sistem logistik, dan sistem pembayaran.

Ia sependapat dengan Spike bahwa sistem logistik memiliki peran penting. Sistem logistik berperan hampir 1/3 dari pertumbuhan total bisnis daring suatu negara.

Tiongkok, salah satu pemain besar bisnis daring di Asia bahkan global, telah memiliki metode pengiriman barang berkualitas mulai dari warehousing (pengemasan, penyimpanan, penjemputan barang dari penjual lalu dikemas, pengembalian barang) hingga pengiriman (media pembayaran biaya pengiriman tunai atau kredit dan manajemen penyaluran). Negara itu bahkan menawarkan sistem satu harga pengiriman barang untuk ke wilayah manapun.

”Di Indonesia, pengiriman barang kurang cepat dan harga masih sedikit mahal. Meski begitu, sistem logistik di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan,” kata Agus.

Lebih jauh, menurut Agus, besarnya peluang bisnis daring mampu menggerakkan industri logistik. Pendapatan mereka hanya dari pengiriman barang hasil transaksi daring bisa tumbuh 30 persen dari total keseluruhan pendapatan.

Hasil penghitungan idEA menunjukkan, nilai bisnis daring Indonesia pada 2013 mencapai 6 miliar dollar AS. Adapun pada 2015 diperkirakan nilainya 26-50 miliar dollar AS.

”Proyeksi nilai bisnis tersebut bisa tercapai bila diikuti iklim usaha, politik, dan sistem logistik yang bagus,” ujar Agus.

Mengenai produk yang diperdagangkan, menurut Agus, gawai dan mode masih akan mendominasi penjualan secara daring pada 2015.

Pembayaran elektronikVice President Information Communication Technology Practice Frost & Sullivan Asia Pacific Ajay Sunder memproyeksikan, pada 2019, keuntungan seluruh perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) yang ada di Indonesia bisa mencapai 3,86 miliar dollar AS. Sektor-sektor berbasis TIK akan meraup keuntungan. Sektor telekomunikasi diperkirakan meraih laba sebesar 629 miliar dollar AS.

”Penyedia jasa keuangan berbasis TIK, seperti layanan pembayaran secara elektronik, memiliki peluang besar untuk tumbuh,” ungkap Ajay.

Inovasi teknologi pembayaran secara elektronik diperlukan. Tak hanya pada 2015, metode pembayaran itu akan menjadi tren masa mendatang.

Chief Executive Officer Kartuku Niki Luhur mengungkapkan, pada 2013 perusahaannya berhasil mengelola lebih dari 50 juta transaksi nontunai dari total 250 juta transaksi nontunai di Indonesia. Peluang pengembangan bisnis itu sangat besar. Bisnis daring adalah salah satu penggeraknya.

Meski begitu, menurut Niki, masyarakat Indonesia belum banyak mengenal hadiah kupon belanja elektronik dan kartu prabayar elektronik yang biasa digunakan untuk bertransaksi daring.

KOMENTAR
December 18, 2014

Biaya Logistik RI Mahal Karena Andalkan Transportasi Darat

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Kamis, 18/12/2014 12:14 WIB
//images.detik.com/content/2014/12/18/4/pelabuhan3.jpg
Jakarta -Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) RJ Lino menyebutkan salah satu faktor mahalnya biaya logistik di Indonesia. Menurutnya, ini karena Indonesia terlalu mengandalkan moda transportasi darat.

Saat ini, lanjut Lino, mayoritas angkutan logistik di Indonesia masih banyak mengandalkan angkutan darat. Padahal biaya angkutan darat jauh lebih mahal dari angkutan laut sampai kereta. Sebagai perbandingan, biaya angkutan darat lebih mahal hampir 10 kali lipat daripada angkutan laut.

“Selama ini, kita pakai angkutan mahal. Itu logistic cost tinggi. Angkutan darat 10 kali lebih mahal dari laut. Kita pakai angkutan keliru, mungkin karena subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak),” kata Lino saat diskusi infrastruktur di UOB Ballroom, Jakarta, Kamis (18/12/2014).

Lino menyinggung angkutan barang di Pulau Jawa yang hampir 90% mengandalkan angkutan darat. Dia pun mencontohkan praktik di negara lain.

“Misalnya Tokyo-Miyagi di Jepang, jaraknya hampir sama dengan Jakarta-Surabaya. Tapi di sana (Jepang) angkutan laut berkontribusi di logisitik 51%, sisanya pakai darat dan kereta. Di Indonesia angkutan laut 9%, sisanya 91% pakai darat,” jelasnya.

Meski lebih murah daripada moda angkutan lain, Lino menyebut memang perlu adanya perbaikan layanan, manajemen, hingga sumber daya manusia yang mumpuni di pelabuhan.

“Konsep tol laut, pelabuhan baru itu harus. Tapi yang penting perbaiki SDM, perbaiki cara kerja nggak produktif, manajemen diperbaiki,” jelasnya.

(feb/hds)

May 23, 2014

Pantura Kian Merugikan Pengusaha Keluhkan Kenaikan Biaya Operasi

Urusan penting ini pemerintah ABSEN dan hanya OMDO (omong doang !)

 

 

JAKARTA, KOMPAS  Kerusakan jalur pantura menghambat operasional industri jasa pengiriman logistik. Saat ini perusahaan harus menambah biaya operasional hingga 15 persen akibat infrastruktur yang buruk itu. Padahal, peluang usaha logistik di Indonesia terus meningkat.Senior Manager Corporate Communication JNE Ridhatullah Hambalillah, Kamis (22/5), di Jakarta, menyampaikan, kerusakan dan kemacetan yang terjadi di jalur pantura menimbulkan kerugian bagi usaha pengiriman logistik JNE karena barang terlambat sampai di tujuan. ”Kerugian terbesar adalah ketika kami gagal memenuhi perjanjian tingkat layanan (SLA) dengan klien,” ucap Ridhatullah.

Jasa pengiriman logistik sangat berbeda dengan jasa pengiriman kilat, bidang usaha utama dari JNE. Dengan jumlah barang lebih banyak dan klien setingkat perusahaan, pengiriman logistik lebih berisiko dan membutuhkan kemampuan khusus daripada pengiriman kilat. ”Kalau kilat, istilahnya cukup ada satu kendaraan, usaha pengiriman bisa berjalan,” kata Ridhatullah.

Ia menuturkan, jika logistik tiba tidak tepat waktu sesuai SLA, perusahaan klien bisa meminta sejumlah uang kepada JNE sebagai denda. ”Ini karena jasa logistik membentuk rantai. Dampak tidak hanya pada JNE dan klien, tetapi bisa juga pada perusahaan lain yang bergantung pada ketepatan waktu logistik.”

Di samping itu, kerugian juga terjadi dalam bentuk kerusakan moda angkutan JNE.

Ridhatullah mengatakan, untuk menyiasati kondisi jalur pantura, JNE memiliki sejumlah lokasi transit. Contohnya, untuk pengiriman dari Jakarta ke Surabaya, pengangkut akan mentransitkan logistik di Cirebon dan Semarang. Dari lokasi transit itu, moda pengangkut bisa berganti dari truk besar ke truk kecil, atau sebaliknya, bergantung pada kondisi kemacetan jalan.

Menurut Ketua Umum Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Eka Sari Lorena, kondisi pantura masih tetap tidak maksimal dan mengakibatkan biaya tetap meningkat. ”Kalau begini, perusahaan-perusahaan logistik berskala kecil bisa mati,” katanya.

Masalah penambahan biaya operasional juga diungkapkan Gita Septian dari Divisi Operasional Dakota Cargo. Ia mengatakan, setiap hari, Dakota memiliki 10 kendaraan yang beroperasi di pantura. Karena kerusakan jalan, kendaraan terpaksa memutar melewati jalur selatan sehingga jumlah bahan bakar yang biasanya hanya memerlukan 100 liter, bertambah menjadi 140 liter. Di samping bertambahnya biaya untuk kendaraan, uang makan untuk sopir dan asisten juga bertambah menjadi Rp 50.000 per orang.

Ahmad Ferwito, Direktur Divisi Operasional Darat Tiki, mengatakan, biaya perawatan kendaraan bertambah sekitar 15 persen karena kendaraan menjadi rusak akibat melewati jalan yang berlubang-lubang. Namun, hal paling penting yang terbuang adalah waktu. Perjalanan yang biasanya ditempuh selama delapan jam, bertambah menjadi 15 jam. Bahkan, di beberapa kasus menjadi 22 jam.

Jalur ganda kereta api efektif untuk mengurangi beban jalan pantura yang sudah terlalu berat. Di wilayah daerah operasional Cirebon, PT KAI secara resmi akan menggunakan jalur itu per Juni 2014. Jika dimanfaatkan secara optimal, penggunaan jalur KA itu akan bisa mengurangi beban jalan raya hingga 40 persen.(A03/REK/GRE/WIE)

March 28, 2014

Biaya Logistik Berkurang

Angkutan Kereta Api Lebih Memberikan Kepastian Waktu

JAKARTA, KOMPAS — Kalangan pebisnis di Tanah Air antusias dengan kehadiran rel ganda yang menghubungkan Jakarta-Surabaya dan melintasi beberapa kota di Pulau Jawa bagian utara. Bagi mereka, rel ganda yang mempersingkat waktu tempuh kereta api ini bisa menekan biaya logistik.Rel ganda sepanjang 727 kilometer selesai tersambung Rabu, tetapi baru akan dipergunakan secara komersial pada April 2014. Pembangunan rel setelah 150 tahun pembangunan jalur kereta api di Pulau Jawa ini akan mempersingkat waktu tempuh kereta api (KA) Jakarta-Surabaya dari 11-13 jam menjadi 8-10 jam. Frekuensi perjalanan juga meningkat dari 84 KA menjadi 200 KA per hari.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit, di Jakarta, Kamis (27/3), mengatakan, salah satu faktor yang melemahkan daya saing adalah biaya logistik. Anton menyambut baik penyelesaian jalur ganda KA Jakarta-Surabaya dan meyakini infrastruktur itu akan meningkatkan daya saing industri domestik.

”Biaya logistik kita 26 persen dari produk domestik bruto (PDB). Transportasi darat di Pulau Jawa semestinya mengandalkan KA karena kepastian ongkos dan ketepatan waktu dibandingkan moda angkutan darat lain,” kata Anton.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia menyebutkan, biaya logistik Indonesia pada 2013 mencapai 27 persen dari PDB. Padahal, biaya logistik di Korea Selatan hanya 16,3 persen PDB, Jepang 10,6 persen, dan Amerika Serikat 9,9 persen. Dengan PDB Indonesia pada 2013 sebesar Rp 9.0489 triliun, biaya logistik
Indonesia pada 2013 senilai Rp 2.452,68 triliun. Biaya ini jauh lebih besar daripada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014 sebesar Rp 1.842,5 triliun.

Beban biaya logistik di Indonesia sebagian besar untuk biaya transportasi, yakni 66,8 persen. Adapun biaya lain sebesar 27,56 persen untuk penanganan persediaan dan 5,64 persen untuk administrasi.

Moda alternatifKetua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Gunadi Sindhuwinata menegaskan, KA dapat menjadi moda alternatif distribusi produk ataupun material industri.

”Karena sifatnya yang mampu mengangkut barang dalam jumlah banyak, KA akan memberikan efisiensi logistik bagi pelaku industri ketika hendak mengirimkan produk dan material industri,” kata Gunadi yang dihubungi dari Bogor, Jawa Barat.

Meskipun demikian, Gunadi mengingatkan pentingnya memiliki kelancaran akses dari kawas-
an industri menuju stasiun. ”Di negara maju, KA dapat masuk ke kawasan industri atau setidaknya dekat dengan kawasan industri,” katanya.

Gunadi menilai keberadaan KA yang mampu mengakomodasi pengangkutan sepeda motor akan bermanfaat ganda. KA itu dapat digunakan untuk mengangkut sepeda motor yang selama ini diangkut dari pabrik ke kota pemasaran memakai truk atau trailer.

”Sementara saat masa mudik Lebaran, KA tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membawa sepeda motor pemudik yang akan dipakai di kampung halaman,” ujarnya.

Menurut Gunadi, pemanfaatan KA seperti ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka kecelakaan pengendara sepeda motor saat mudik dan balik. Sebab, sepeda motor bukan sarana transportasi jarak jauh.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir, di Jakarta, menyatakan, selama ini Pertamina sudah menggunakan KA untuk menyalurkan bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Ali, rata-rata volume total angkutan BBM oleh KA pada 2013 sebanyak 165.247 kiloliter per bulan atau 1,98 juta kiloliter per tahun. ”Dalam mengangkut BBM dengan KA, aspek keamanan tentu selalu menjadi prioritas dan selama ini berjalan baik,” ujarnya.

Terkait dengan selesainya jalur ganda, Pertamina akan mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur tersebut. Hal itu akan dilakukan jika sejalan dengan jalur distribusi BBM dan kapasitas jalur untuk itu memungkinkan. ”Yang jelas, kalau dengan KA, total volume BBM yang bisa diangkut lebih banyak dan waktu tempuh lebih cepat,” katanya.

Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman mengatakan, perusahaannya akan mengintensifkan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait siapnya jalur rel ganda. ”Selama ini kami sudah memanfaatkan KA untuk mengangkut pupuk dari pabrik ke konsumen dari Banyuwangi sampai Banten,” katanya.

Hidayat mengatakan, dari sisi biaya transportasi tidak begitu ada perbedaan signifikan antara truk dan kereta. Namun, dari sisi waktu, KA lebih memberikan kepastian waktu. ”Kalau truk suka ada gangguan macet, banjir, atau jalan rusak,” katanya.

Masalahnya, banyak stasiun yang berada di tengah kota dan truk tidak bisa masuk membawa pupuk dari stasiun terdekat ke konsumen. Karena itu, pihaknya berharap ada kerja sama pembangunan pergudangan baru di lahan-lahan milik PT KAI yang bisa diakses truk.

Lebih efisienPengamat ekonomi Muhammad Fadhil Hasan mengatakan, jalur rel ganda pasti akan bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi. Fadhil mencontohkan, industri minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan pengolahannya bisa menekan biaya logistik. Sebab, dari 8 juta ton konsumsi CPO domestik, sebanyak 90 persen diserap di Jawa.

”Distribusi CPO akan lebih lancar dan efisien. Sebagian CPO kemudian dikirim antarpulau dari luar Jawa ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur,” kata Fadhil.

Direktur Komersial PT KAI (Persero) Slamet Suseno Priyanto mengatakan, jumlah penumpang yang diangkut KA pasca pengoperasian jalur ganda kemungkinan besar tidak berubah. ”Kami belum berencana menambah perjalanan kereta reguler di lintas utara,” ujarnya.

Dia mengatakan, efisiensi waktu perjalanan yang mungkin ditingkatkan untuk angkutan penumpang pasca pengoperasion jalur ganda. Saat ini, kecepatan kereta penumpang 90-100 kilometer per jam.

Pengoperasian jalur ganda ini akan optimal untuk angkutan barang. Slamet mengatakan, dengan penambahan lokomotif seri 206 sebanyak 150 unit selama dua tahun ini, frekuensi angkutan barang bisa meningkat.

”Sekarang, panjang rangkaian barang 20 gerbong. Dengan lokomotif baru dan setelah rel ganda beroperasi, panjang rangkaian bisa dimaksimalkan menjadi 30 gerbong,” kata Slamet.

Apabila satu gerbong bisa mengangkut dua kontainer, satu rangkaian saat ini bisa membawa 40 kontainer. Adapun dalam satu hari ada 30 perjalanan kereta barang dari barat ke timur dan sebaliknya. Jika semua gerbong terisi, ada 1.200 kontainer yang diangkut dalam sehari. Jumlah ini akan bertambah 1,5 kali setelah pengoperasian rel ganda. Slamet mengatakan, pasar angkutan barang di lintas utara masih terbuka, terutama jika ingin mengurangi kepadatan jalan raya. (EVY/CAS/PPG/HAM/MAS/ART)

KOMENTAR