Jakarta, Seruu.com- Sosok taipan Riza Chalid layaknya hantu tak terlihat wujudnya yang bergentayangan di dunia energi dan politik tanah air. Sebab Riza seringkali terdengar namanya, tapi tak tampak wujudnya.

Dalam transkrip rekaman percakapan antara Ketua DPR Setya Novanto dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsuddin yang dilaporkan Menteri ESDM Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), nama Riza kembali muncul.

Dalam rekaman percakapan itu, muncul banyak hal mengejutkan terkait kiprah Riza di beragam persoalan, mulai dari perpanjangan kontrak Freeport, hingga kancah perpolitikan Indonesia.

Sebagai seorang pengusaha (bukan pejabat publik), Riza tampak sekali menawarkan kemampuannya melancarkan perpanjangan kontrak dan proyek-proyek Freeport, seperti pembangunan Smelter dan PLTA.

“Kita ini orang kerja, strateginya. Jadi Freeport jalan, bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa. Kumpul-kumpul. Gua gak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yang bagus, representatif. Apalagi,” kata Riza dalam transkrip tersebut.

Bahkan, yang lebih dahsyat lagi adalah Riza berani memastikan Presiden Jokowi akan jatuh dari kekuasannya jika tak memperpanjang kontrak Freeport di Indonesia.

“Saya ikut masuk ke Dharmawangsa ini, cost yang mereka bawakan sudah, tapi masih gedean mereka porsinya. Terlalu lama mereka itu boros. Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia,” ujarnya.

Riza juga mengaku sudah kenal lama dengan Presiden Jokowi. Bahkan ia mengaku sebelum Pilpres 2014 ingin menduetkan Jokowi dengan Hatta Rajasa. Namun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati menolak keinginan tersebut.

“Memperjuangkan dia itu capek sob. Segala macam cara, Pak Hendro ngomong sama Megawati waktu di Kebagusan. Belum saatnya. Dikira sekaligus. Belum Pak. Saya itu baik, saya kasihan sama Pak Jokowi, saya akan bantu Pak Jokowi ke Hatta sebagai cawapres. Pak Jokowi sama Hatta mungkin Pak, tapi Meganya gak mau. Saya sama Hatta itu sahabat,” jelas dia.

Riza juga mengungkap, pertarungan pilpres yang melibatkan Komjen Pol Budi Gunawan (BG). Bahkan dalam pernyataannya, terungkap bahwa Megawati pernah marah pada Jokowi karena menolak BG menjadi Kapolri. Ia juga berkata bahwa Polri dikerahkan untuk memenangkan Jokowi-Jk dalam Pilpres lalu.

“Di Solo ada, ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto pokoknya koalisi mereka, Dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan,” ungkapnya.

Pilpres usai, Riza pun ingin merapat kepada sang pemenang. Riza mengaku mengumpulkan elite KMP usai kalah pilpres dan meminta KMP legowo serta mendukung pemerintahan Jokowi.

“Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya ini kan pedagang, Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul,” tutur dia.

Dan Riza lagi-lagi menunjukkan kepiawaiannya menciptakan jaringan. Kini ia mengklaim Menko Polhukam Luhut B Panjaitan adalah salah satu orang yang diandalkan Riza dalam lingkaran istana.

“Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama wapres enggak boleh diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yang ada di sana, Ini temen-temen dan kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong rurururuurr Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yang enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punya jalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya hancur,” papar Riza.

Tampak sekali betapa Riza adalah orang yang begitu percaya diri akan kedigdayaanya di jagad politik dan bisnis tanah air. Kita bisa percaya atau tidak dengan perkataannya di rekaman tersebut. Tetapi tak bisa dibantah bahwa telah banyak literatur yang mengungkapkan kejayaan kiprah Riza di sektor bisnis.

Rizal Ramli, yang kini menjadi Menko Maritim, dalam bukunya ‘Menentukan Jalan Baru Indonesia‘ (April 2009) menyebut Riza Chalid sebagai Teo Dollars yang pendapatan perharinya USD 600 ribu. Aktivis sekaligus peneliti George Aditjondro juga pernah mengungkap kiprah Riza dalam bisnis minyak melalui bukunya yang berjudul Cikeas Makin Menggurita.

Globe Asia juga pernah menaruh nama Riza Chalid di urutan ke 88 dalam 150 Richest Indonesian dengan kekayaan yang ditaksir mencapai US$ 415 Juta lewat perusahaan Global Energy Resources. Melalui Global Energy Resources inilah Riza disebut banyak berperan mengatur bisnis impor Petral di masa lalu.

Perusahaan lain yang dimiliki Riza adalah  mall elit dikawasan Sudirman Central Business District, Pacific Place. Di mall tersebut, Riza juga memiliki fasilitas hiburan bagi anak-anak yang bernama KidZania Indonesia.

Sayap bisnis Riza pun melebar ke transportasi udara. Ia memiliki saham di maskapai Air Asia Indonesia, melalui PT Fersindo Nusaperkasa.

Kedigdayaan Riza dalam sektor bisnis seakan diikuti pengaruh yang kuat pada ranah politik. Patut diduga hal itulah yang menyebabkan dirinya tak terjamah hukum, padahal namanya sudah sering disebut beberapa tahun belakangan sebagai orang yang menjadi bagian dari mafia minyak.

Pemerintahan Presiden Jokowi memang telah berani membuat terobosan melucuti fungsi Petral dalam impor minyak, yang disebut banyak orang sebagai ladang bisnis Riza. Namun, pemeriksaan terhadap orang-orang yang diduga kuat sebagai mafia minyak, termasuk Riza, belum dilakukan.

Kini muncul kasus “papa minta saham” yang melibatkan nama Riza sekaligus Novanto dan sedang bergulir kencang di DPR. Apakah kasus ini menjadi titik balik kedigdayaan Riza selama ini? Semua tergantung nyali para “yang mulia” anggota MKD. (hd)