Archive for ‘Tourism’

May 5, 2017

Incar 20 Juta Wisman, Kemenpar Gaet Maskapai Jetstar

Penandatanganan MoU antara Kemenpar dan maskapai Jetstar (dok Jetstar)
Jakarta – Demi meraih target 20 Juta wisman tahun 2019. Kemenpar menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Yang terbaru adalah dengan maskapai Jetstar dari Australia.

Penandatangani MOU (Memorandum of Understanding) antara Kemenpar dan maskapai Jetstar pun dilakukan pada Jumat (5/5) ini di Gedung Sapta Pesona Kemenpar. Penandatanganan ini bertujuan meningkatkan kunjungan wisman ke Indonedia dari Australia dan Singapura.

“Kontribusi perusahaan penerbangan antara lain dari Jetstar Group ini sangat besar perannya dalam memenuhi seat capacity untuk mendukung target pariwisata. Sekitar 80% kedatangan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya seat pesawat (seat capacity) yang cukup menjadi kunci untuk mencapai target 2017 hingga 2019 mendatang,” ujar Arief dalam keterangannya, Jumat (5/5/2017).

Di dalam MoU ini, lingkup kerjasama maskapai Jetstar dan Kemenpar mendorong antara lain peningkatan pelayanan Jetstar ke destinasi wisata utama di Indonesia, pemasaran dan kegiatan promosi bersama di Australia dan Asia Pasifik, mendorong investasi di bidang penerbangan, infrastruktur pariwisata, lapangan kerja, serta mencapai target 20 juta kunjungan wisman di tahun 2019.

Penandatanganan MoU antara Kemenpar dan maskapai Jetstar (dok Jetstar)Penandatanganan MoU antara Kemenpar dan maskapai Jetstar (dok Jetstar)

Dean Salter, CEO Jetstar Airways mengatakan penandatanganan ini akan membantu Jetstar membawa lebih banyak turis Australia ke sejumlah destinasi menarik di Indonesia. Dean menambahkan, rata-rata pengeluaran turis Australia selama di Bali adalah USD 1.200 untuk akomodasi, makanan, serta pengeluaran lain.

“Sejak penerbangan pertama kami ke Indonesia, Jetstar Airways telah menjadi maskapai asal Australia terbesar yang terbang ke Bali dengan sekitar 60 penerbangan per minggu, dari 8 kota di Australia. Dalam 10 tahun terakhir, kami telah meningkatkan kunjungan wisman Australia sebanyak 55 kali lipat,” kata Dean.

Sebagai salah satu maskapai asing terbesar yang beroperasi di Indonesia, Jetstar Airways yang bermarkas di Australia dan Jetstar Asia yang bermarkas di Singapura, setiap tahun mengangkut 1,4 juta penumpang dari dan ke enam kota di Indonesia.

Dianugerahi sebagai low cost carrier teraman, Jetstar saat ini mengoperasikan 120 penerbangan dari dan ke Indonesia. Kemenpar sedniri mencatat, untuk mendukung target 15 juta wisman di tahun 2017, dibutuhkan tambahan 4 juta kursi atau seat. Sementara untuk mencapai 20 juta wisman di tahun 2019, dibutuhkan tambahan 10,5 juta seat.

Sesi tukar menukar cinderamata (dok Jetstar)Sesi tukar menukar cinderamata (dok Jetstar)

CEO Jetstar Asia, Bara Pasupathi menambahkan bahwa Singapura dan Indonesia merupakan pasar yang penting bagi maskapai Jetstar. Untuk itu, penandatanganan MoU ini penting dilakukan untuk membuka banyak peluang bisnis ke depannya.

“Singapura dan Indonesia merupakan pasar pariwisata yang penting di wilayah ini. Karena itu nota kesepahaman ini akan membuka lebih banyak peluang guna mendorong turis internasional dan perjalanan bisnis ke Bali dan berbagai tujuan lainnya di Indonesia lewat Singapura. Dengan lebih dari 25 penerbangan codeshare dan penerbangan interline layanan penuh, moda kami yang membawa turis dari Singapura dan negara-negara lain akan semakin meningkatkan pariwisata ke Indonesia,” ucap Bara.

Jetstar Asia yang berpusat di Singapura mengoperasikan lebih dari 60 penerbangan setiap minggunya. Penerbangan ini menghubungkan Singapura dan enam kota tersibuk di Indonesia, antara lain Denpasar, Jakarta, Medan, Surabaya, Pekanbaru, dan Palembang.

Setiap tahun, Jetstar Asia mengangkut 665.000 penumpang dari dan ke Indonesia. Rute Singapura-Jakarta tetap menjadi salah satu rute tersibuk di dunia untuk penerbangan berbiaya rendah. Jetstar Asia juga merupakan satu-satunya penerbangan berbiaya rendah berpusat di Singapura dan melayani Sumatera dan Jawa. (wsw/wsw)

March 22, 2017

JK: Belajarlah Soal Kebersihan Pariwisata

setuju !

Kebersihan, informasi turis (papan petunjuk, kios turis dsb) dan juga keamanan ( copet, tukang hypnotis, tukang tipu, dan preman (macam si fitsa hats) harus disikat tuntas.

Laporan dari Thailand

JK: Belajarlah Soal Kebersihan Pariwisata dari Thailand

Bona – detikTravel – Rabu, 22/03/2017 18:20 WIB
Bangkok – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mendapatkan pelajaran soal pengembangan pariwisata dan transportasi publik di Thailand. Salah satunya soal kebersihan.

“Jadi, banyak hal yang harus dipelajari. Contoh, kebersihan. Setiap orang punya sapu, angkot bawa sapu, kaki lima diminta membersihkan lima meter sekeliling dia,” ujar JK disela-sela kunjungan di Bangkok, Thailand, Rabu (22/3/2017).

Tidak hanya itu, JK juga berkomentar soal transportasi publik di Bangkok. Di kota ini, sistem transportasi publik menggabungkan subway dan light train. Indonesia diharapkan segera membangun untuk mengejar ketertinggalan

“Subway dan light train dah sampai 100 km, kita kan baru subway 17 km, light train belum, baru bus saja. Ini harus cepet naik, kalau nggak ya ketinggalan. Dulu ini juara macet,” kata JK.

Perlu diketahui, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan hari ini menandatangani adendum kontrak pembangunan prasarana Light Rapid Transportation (LRT) Palembang di Provinsi Sumatera Selatan. Nilai kontrak sebesar Rp 10,9 triliun.

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan ada delapan unit train set yang akan digunakan pada jalur LRT di Palembang.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Edi Sukmoro, didampingi Sekretaris Project Management Unit (PMU) Percepatan Pembangunan LRT Wahidin, mengatakan kontrak pembuatan sarana kereta LRT Palembang sudah dilakukan sejak Desember 2016 oleh PT Inka.

“Jadi kereta tersebut ada delapan unit train set. Untuk pengadaan kontrak dengan PT Inka, termasuk perawatannya, hingga empat tahun ke depan,” ujar Sukmoro . (bnl/fay)

February 22, 2017

Usai jadi tamu Jokowi, Raja Salman piknik ke Bali

Kok tidak ke tempat wisata syariah  Aceh Darusallam,  Sumatra Barat ,Madura atau Sumbawa yaaa   ?? Hehehe…

 

dari Kontan online

 

Usai jadi tamu Jokowi, Raja Salman piknik ke Bali

JAKARTA. Agenda Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta rombongan berlibur di Bali dari tanggal 4 hingga 9 Maret 2017 bukan bagian dari lawatan kenegaraan.

“Dari tanggal 1 sampai 4 Maret 2017 itu kami terima sebagai tamu negara. Berikutnya, yang di Bali, ya itu perjalanan keluarga ya, private,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya saat ditemui di Kompleks Istana Presiden, Rabu (22/2/2017).

Oleh sebab itu, perlakuan kepada Raja Salman dan keluarga serta rombongan akan sedikit berbeda. “Tapi kalau dari segi penjagaan keamanan sih ya tetap ada,” ujar Arief.

Lantaran dalam rangka liburan keluarga, lanjut Arief, pemerintah Indonesia juga tidak mendapatkan informasi soal ke mana saja tempat di Pulau Dewata yang akan dikunjungi Raja Salman. “Tidak diinfokan ke kami soal itu,” ujar Arief.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan bahwa Raja Salman akan membawa rombongan besar dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia dari tanggal 1 sampai 4 Maret 2017. “Kunjungan ini akan membawa rombongan terbesar, lebih kurang 1.500 orang, 10 menteri dan 25 paneran,” kata Pramono.

Topik yang akan dibahas dalam pertemuan kenegaraan itu antara lain penambahan kuota jemaah haji, peningkatan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia hingga perlindungan warga negara Indonesia yang bermukim di Arab.

Setelah itu, Raja Salman dan rombongan akan berlibur ke Bali dari tanggal 4 hingga 9 Maret 2017.

(Fabian Januarius Kuwado)

November 29, 2016

Jokowi Targetkan 20 Juta Turis 2019, Ini yang Akan Dilakukan  

Coba.. contoh deh Spanyol, Turki dan Singapur  .. mereka tiap tahun  di”serbu” turis sampai puluhan juta pak.. Kuncinya selain infrastruktur menunjang turis, adalah  di negeri spt Spanyol, Turki ,Singapore, Malaysia , papan informasi  turis ada di mana mana selain di tempat pariwisata, kebersihan wc umum  top , dan keamanan sangat terjamin.(tidak ada i copet , pak ogah , preman tukang demo (Riziek cs) dan teroris !!)

Lha kita mau jadi 20 juta.. pertama ya beresin dulu urusan keamanan.., mana ada turis mau masuk kalau tiap minggu ada ada demo berjubah.., kedua  infrastruktur mulai dari papan informasi sampai website ya .harus dibangun dan dirawat. ketiga soal kebersihan, walaupun sudah agak membaik, tapi masih banyak prasarana umum yang bau pesing, jorok dan tidak ada sabun dsb.alias jijay ! ke empat yang paling sulit adalah soal hospitality.. dari pengalaman pribadi yang paling ok di Indonesia hanya Bali dan Jogjakarta, saja yang urusan hospitality sudah standar Internasional. Daerah turis lain masih  sangat parah  dan terbelakang soal pelayanan, mulai dari lambat pelayanannya sampai disuguhi oleh wajah jutek dari si pelayan, mulai dari Medan sampe Kupang.. sama parahnya.. Soal hospitality adalah pekerjaan rumah pemerintah daerah untuk mensosialisasikan pentingnya urusan pelayanan kepada masyarakatnya. Saya sih agak pesimis target 20 jt bisa tercapai di tahun 2019, kerena banyak sekali pekerjaan yang mesti dilakukan. Target yang tinggi gini bisa jadi menteri pariwisata hanya mengejar soal jumlah turis,  alih alih  yang masuk ke Indonesia adalah turis kelas kambing dari China (yang konon di subsidi Pemerintah ), yang biasanya mereka hanya mau tinggal, makan dan belanja dijaringan hotel/resto dari milik investor China saja, walhasil  tidak menyisakan setitik devisa buat Indonesia.. Gejala serbuan turis “kelas kambing” sudah mulai terlihat di Bali.

 

SABTU, 26 NOVEMBER 2016 | 15:28 WIB

Jokowi Targetkan 20 Juta Turis 2019, Ini yang Akan Dilakukan  

Presiden Joko Widodo saat menjadi keynote speak dalam sebuah acara CEO di Jakarta, 24 November 2016. Dalam pidatonya Jokowi sebut Donald Trump seperti meniru Indonesia soal Tax Amnesty dan Infrastruktur. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Tanah Air pada 2019 akan diwujudkan melalui berbagai upaya. Ia menyampaikan itu saat melakukan sosialisasi tax amnesty periode kedua di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat petang, 25 November 2016.

“Kita genjot 20 juta turis ke Indonesia dengan segala cara, baik perbaiki positioning kita, baik diferensiasi produk, membangun brand setiap destinasi. Ini sudah kita mulai,” kata Jokowi di Hotel Clarion, Makassar, Sulawesi Selatan, dalam siaran pers Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Jumat, 25 November.

Dari segi publikasi dan promosi, Jokowi mengatakan, pariwara Wonderful Indonesia saat ini sudah terpajang di sejumlah atraksi wisata di berbagai negara. Diharapkan, para wisatawan dunia dapat melihat iklan tersebut dan popularitas Indonesia juga meningkat, sehingga jumlah kunjungan wisatawan asing ke Tanah Air juga meningkat.

“Kalau ke Paris sekarang, bus yang lalu-lalang gambarnya sudah Indonesia semua, Wonderful Indonesia, videotron di Times Square semua memajang ‘Kunjungi Indonesia’,” kata Jokowi.

Menurut Presiden, Indonesia memiliki sejumlah obyek wisata yang tidak dimiliki negara lain. Namun, pengelolaannya belum dikemas secara baik. Untuk itu, perlu dana yang cukup besar untuk meningkatkan infrastruktur pariwisata, salah satunya dapat diperoleh dengan program tax amnesty yang tengah dijalankan pemerintah.

“Kita punya tempat yang tidak miliki negara lain. Borobudur, pantai dengan batuan di Belitung, enggak ada di dunia seperti ini. Tapi kalau produk tak dikemas dengan baik, siapa yang mau datang? Hotel, resor, cottage semua disiapkan. Dari mana uangnya? Pemerintah cuma punya 30 persen dari uang yang dibutuhkan. Sisanya? Dari masyarakat, swasta,” kata Jokowi.

Jokowi melihat peluang Indonesia menarik wisatawan dari Tiongkok yang mencapai 150 juta turis per tahun, mayoritas dari mereka bepergian ke Amerika Serikat dan Eropa. Dari angka itu, Indonesia menargetkan 10 juta wisatawan dari Negeri Tirai Bambu itu masuk ke Indonesia.

“Saya minta khusus dari Tiongkok 10 juta. Sudah tanda tangan tinggal siapkan pesawatnya dari sana ke sini. Kalau pesawatnya datang sudah 20 juta rampung. Tapi jangan diplesetkan, itu turis! Yang dari Tiongkok itu turis. Tenaga kerja Tiongkok itu 14 ribu. Jangan diplesetkan lah,” kata Presiden.

Terkait dengan target ini, Jokowi mengaku telah memerintahkan Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk serius menanggapi hal tersebut. Apalagi negara tetangga seperti Malaysia bisa mendatangkan wisatawan mencapai 24 juta turis dan Thailand mencapai angka 27 juta turis.

“Ini harus meloncat di atas 20, saya sudah bilang ke Menteri Pariwisata. Enggak mau kita hanya meloncat satu juta. Saya sudah janjian dengan Menpar, awas lho ya 2019. Saya targetkan angka. Kalau enggak ketemu, ya, ganti,” ucap Presiden disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam acara itu, hadir sejumlah menteri, di antaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad.

AMIRULLAH

November 16, 2016

Presiden Jokowi – PM Singapura Lee Hsien Loon Perkuat Kerjasama Pariwisata

Rabu, 16 November 2016 07:52 WIB

Presiden Jokowi - PM Singapura Lee Hsien Loon Perkuat Kerjasama Pariwisata
dok. Kementerian Pariwisata
Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran menandatangani nota kesepahaman di sektor pariwisata di hadapan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah.

TRIBUNNEWS.COM – Indonesia dan Singapura makin kokoh memantapkan kerjasama di bidang pariwisata. Penguatan itu ditandai dengan penandatangan MoU on TourismIndonesia – Singapore di sela-sela Leaders’ Retreat, di Semarang, Senin (14/11).

Nota kesepahaman di sektor pariwisata itu diteken oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran di hadapan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah.

Agenda ini mendapat perhatian ekstra dari kedua negara. Tercermin dari banyaknya pejabat tinggi yang hadir menyaksikan MoU itu dalam forum Leaders’ Retreat.

Dari Indonesia, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kematiriman Luhut Binsar Panjaitan, Mensesneg Pratikno, Menristek Dikti Mohammad Nasir, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menkominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sementara dari Singapura, Perdana Menteri Lee Hsien Loong ditemani Wakil Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional Teo Chee Hean, Menteri Perdagangan dan Industri Lim Hng Kiang, Menteri Komunikasi dan Informasi Yaacob Ibrahim, Menteri Pertahanan Ng Eng Hen, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan, Menteri Perdagangan dan Industri S Iswaran, Menteri Pendidikan (Pendidikan Tinggi dan Keterampilan) dan Menteri Kedua Pertahanan Ong Ye Kung, Menteri Senior Negara untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Amy Khor, dan Menteri Negara untuk Kesehatan dan Komunikasi dan Informasi Chee Hong Tat.

Lingkup kerja sama MoU ini betul-betul pengembangan pariwisata kedua negara, yang semakin akrab dan saling support selama dua tahun ini. Terutama soal promosi dan pemasaran bersama; kapal pesiar (cruise); dan Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions (MICE).

Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah pembangunan destinasi dan pelabuhan; pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan, seminar, dan loka karya; penelitian dan pengembangan; investasi pariwisata; kerja sama sektor swasta; dan pertukaran informasi.

Proses kelahiran MoU Kerja Sama Pariwisata RI-Singapura tak butuh waktu lama.

“Ini adalah MoU tercepat yang pernah dibuat Singapura,” Ujar Leong Yue Kheong, Assistant Chief Executive of Singapore Tourism Board.

Kedua negara sama-sama membutuhkan kerja bareng tersebut. Memang sejak tahun 2010, Singapura menunjukkan minatnya untuk bekerja sama di bidang kapal pesiar. Namun Indonesia masih mengkalkulasi untung ruginya bekerja sama di bidang kapal pesiar dengan Singapura.

Baru pada era Presiden Joko Widodo, diputuskanlah bahwa kerja sama pariwisata dengan Singapura menjadi hal yang harus diprioritaskan.

Arahan Presiden Jokowi pada Leaders Retreat di Singapura, 28 Juli 2015 jelas. Indonesiadan Singapura harus bersama-sama melakukan kerjasama promosi untuk pariwisata menjadi sebuah paket destinasi bersama. Muaranya, peningkatan kedatangan turis di kedua negara.

Hal ini segera ditindaklanjuti Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam berbagai kesempatan ia menyebut Singapore adalah transportation hub bagi pariwisata Indonesia.

Harus diakui, jutaan orang transit di Changi Airport, selain 15,5 juta wisatawan yang masuk ke Singapore. Dalam beberapa kegiatan promosi, sejatinya kerjasama Kemenpar dengan Changi International Airport sudah terjadi.

“Istilahnya kami menjaring ikan di kolam yang sudah banyak ikannya,” kata Arief Yahya.

Kalau Bali diformat menjadi tourism hub, lalu Jakarta sebagai trade and investment hub, maka Singapore merupakan transportation hub.

“Terus terang, saat ini pun wisman yang masuk ke Indonesia juga banyak transit dari Singapore, karena persentase direct flights ke Indonesia masih minim,” kata Arief Yahya.

Begitu pun soal Yachts dan Cruises yang selama ini bersandar di Singapore. Mereka bisa membuat paket berkeliling perairan Indonesia, merapat dari pulau ke pulau, dari destinasi ke destinasi di tanah air.

“Maka wisata bahari Indonesia bisa hidup, bergairah, dan investor Singapore juga bisa bekerjasama membangun banyak destinasi di Indonesia,” katanya.

Saat pertemuan Tingkat Menteri Perekonomian kedua negara di Singapura, 30 Mei 2016, Indonesia langsung menentukan sikap menyetujui MoU kapal pesiar atau cruise.

Indonesia pun mengusulkan pula perlunya MoU yang mencakup kerja sama pariwisata secara luas. Itu artinya, ada dua MoU yang akan ditandatangani pada Leaders Retreat.

Respons Singapura? Sangat bagus. Lewat Kementerian Luar Negeri, SIngapura malah menyodorkan satu MoU Kerja Sama Pariwisata yang di dalamnya mencakup bidang kapal pesiar. Indonesia pun menyambut baik usulan tersebut.

Senin (43/11) MoU Kerja Sama Pariwisata IndonesiaSingapura pun langsung ditandatangani.

“Ini satu-satunya MoU yang ditandatangani di hadapan kedua kepala negara dalam pertemuan Leaders’ Retreat tahun ini. Kerja sama pariwisata memang merupakan salah satu fokus hubungan bilateral Indonesia dengan Singapura,” jelas Michael Goutama, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia untuk Singapura.

Poin kerjasamanya mencakup banyak hal. Nomor satu, mengikat kerjasama dengan Changi Airport Group (CAG).

“Changi adalah penghubung Barat-Timur, Utara-Selatan, Tenggara-Barat Laut. Karena itu cocok menjadi hub atau connector atau gate, menuju “the world next door” Indonesia,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Hal lainnya, bekerja sama dengan Ctrip mendatangkan wisatawan Tiongkok ke destinasi Bintan, Surabaya, Yogyakarta dan Lombok. Setelah itu, promosi Wonderful Indonesia di Changi Airport. Setelah hub transportasi udara internasional, kerjasama juga diarahkan ke hub pasar MICE – Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions.
Singapore Association of Convention and Exhibition Organisers and Suppliers (SACEOS) ikut digandeng, Singapura dijadikan pintu masuk untuk pasar MICE.

Saat ini, ada puluhan ribu perusahaan asing, baik dari Eropa, Amerika, Asia dan Australia yang memiliki representative office di Singapore. Selain itu juga banyak asosiasi, organisasi, korporasi besar yang memilih Singapura sebagai kantor, meskipun manufacture dan produksinya berada di negara lain.

“Wisatawan MICE di Singapura itu frekuensinya besar, jumlahnya juga besar, dan berpeluang dikembangkan di Indonesia juga,” ujar Arief Yahya.

MICE jadi makin terlihat seksi lantaran jumlah pesertanya banyak, partisipannya adalah decision marker, length of Stay-nya panjang, media coverage-nya luas dan spendingnya sangat tinggi.

“Menggabungkan MICE dengan pariwisata itu bisa langsung menyatu. Biasanya selepas acara atau sebelum acara, ada sesi city tour atau culinary tour, mengunjungi satu tempat paling menarik di kota tempat MICE dilangsungkan. Inilah yang bisa menggerakkan ekonomi. Semua roda ekonomi terkait dengan MICE dan tour-nya bisa hidup dan berkembang,” kata Arief Yahya.

Setelah itu, maskapai Singapore Airlines dan Silk Air pun ikut digandeng. Ini juga penting mengingat transportasi udara merupakan faktor paling critical bagi pariwisata Indonesiauntuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Hal yang tak bisa dihindari mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Semua destinasi hanya bisa dijangkau dengan cepat via udara.

Saat ini, ada banyak negara sasaran pasar Wonderful Indonsia yang belum memiliki direct flight ke destinasi wisata Indonesia.

Bahkan ada yang sama sekali tidak ada penerbangan langsung ke Indonesia. Sementara airlines Indonesia belum membuka jalur itu.

“Di situlah SQ dan Silk Air punya peran untuk mengakut wisatawan ke Indonesia. Kami joint promosion,” kata dia.

Menpar Arief Yahya mengatakan, SQ adalah maskapai berbobot, punya armada dan penerbangan yang tersebar lengkap di seluruh dunia.

“SQ juga sudah punya brand kuat, dan punya maskapai di level premium, papan tengah seperti Silk Air dan Low Cost Carrier (LCC) seperti Scoot. Jadi akan sangat membantu connectivity pariwisata Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya.

Kebetulan, karakter destinasi SingapuraIndonesia itu saling melengkapi. Singapuraunggul dalam shopping dan wahana-wahana seperti Universal Studio, Sentosa Island, Jurong Birds Park, Singapore Flyer, Madame Tussauds, Singapore Zoo, Marine Life Park, Marina bay sands, Wild Wild Wet, Wisata Big splash, yang merupakan buatan manusia.

Sedangkan Wonderful Indonesia memiliki keunggulan dalam alam, natural, eksotisme, kultural yang didominasi ciptaan Tuhan.

“Karena itu kerjasama ini menjadi semakin pas. Sambil menyelam minum air, komplementer, saling melengkapi, sambil berjualan bersama, mereka juga menjadi objek pasar wisata ke Indonesia,” jelasnya.

May 21, 2016

Pembangunan Pariwisata, Indonesia Ranking ke 130

Pemerintah mikirnya hanya pemasukan Dari turis  tapi tdk pernah memikirkan aspek lain yang paling gampang informasi buat turis saja sangat minim, belum soal infra Dan pelayanan yang buruk !

Bertahun tahun belum ada perubahan signifikan , jadi tidak mengherankan juga tujuan pariwisata masih pulau Bali Dan Jogjakarta.

SABTU, 21 MEI 2016 | 10:43 WIB

Wapres Jusuf Kalla (ketiga kanan) mendapat penjelasan dari Dirut PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M Mansoer (kedua kanan) mengenai rencana pengembangan kawasan wisata Mandalika saat peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, 12 Desember 2015. ANTARA FOTO

TEMPO.COBeijing – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan komitmen Indonesia dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, terutama aspek lingkungan, menempati posisi 130 dari 144 negara.

“Itulah penilaian dunia. Sangat memalukan. Kita dinilai tidak peka terhadap lingkungan dalam pembangunan pariwisata yang berkelanjutan,” kata Arief menjawab Antara usai rangkaian kunjungan kerja ke Beijing, 19-20 Mei 2016.

Dalam kunjungan kerja kei Beijing, Menteri Arief menghadiri Konferensi Pertama Dunia Pariwisata untuk Pembangunan, yang dihadiri 600 perwakilan pejabat dan pelaku industri pariwisata dari 107 negara.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki Moon, dalam sambutan singkat yang dibacakan, menyampaikan pariwisata merupakan industri yang melibatkan seluruh aspek sosial ekonomi, pelestarian budaya, mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus jembatan untuk saling pengertian antarmasyarakat dunia.

Terkait komitmen Indonesia dalam mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan, Kementerian Pariwisata telah bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

“Termasuk juga dengan Global Sustainable Tourism Council (GSTC), yang akan menerbitkan Sustainable Tourism Certificate (STC),” ungkap Menteri Arief.

Kementerian Pariwisata juga sudah menetapkan tiga wilayah sebagai proyek percontohan pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni Pangandaran (Jawa Barat), Kulonprogo (Yogyakarta), dan Mandalika (Lombok).

“Tim UNWTO telah datang langsung ke tiga lokasi tersebut dan diharapkan pada tahun ini juga Indonesia telah memiliki sertifikat pembangunan pariwisata berkelanjutan berdasarkan kriteria atau standar GSTC. Kalau kita mau maju, ya standar kita juga harus standar global,” katanya.

Arief menambahkan sertifikasi tersebut kemudian akan diberlakukan di 10 destinasi utama yang telah ditetapkan untuk secara bertahap diterapkan secara menyeluruh di seluruh destinasi wisata lain di Indonesia.

“Sehingga Indonesia diharapkan dapat memperbaiki performa pembangunan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan, ramah secara sosial, dan mensejahterakan masyarakat secara ekonomi,” tuturnya.

GSTC menetapkan empat kriteria pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni manajemen berkelanjutan, dampak sosial ekonomi, dampak budaya, dan dampak lingkungan antara lain mencakup konsumsi sumber daya alam, polusi, konservasi keragaman hayati, dan lanskap.

Industri pariwisata Indonesia berdasar data Kementerian Pariwisata memberikan kontribusi sebesar 9 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada 2014.

Pada 2019, kontribusi pariwisata terhadap PDB ditargetkan mencapai 15 persen dengan nilai Rp 275 triliun, dengan kontribusi terhadap kesempatan kerja 13 juta orang.

ANTARA

February 19, 2016

Arief Yahya: Melawan Pariwisata Malaysia Itu Bukan Main-main

Lha… coba saja bangun dulu infrastukturnya secara serius, Pak.  Papan informasi buat turis saja nyaris tidak ada.. konyol! Belum lagi fasilitas macam WC juga belum standar kebersihannya.. dan masih banyak di daerah yang WC nya menjijikan !  Terakhir adalah basmi calo- tukang tipu- copet yang berkeliaran mencari turis !

Tiga urusan ini kalau benar diseriusi saya sih yakin Malaysia bisa disusul Pak !

KAMIS, 18 FEBRUARI 2016 | 15:10 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya akan memimpin kampanye promosi wisata ke Tanah Air agar tak kalah dengan pariwisata Malaysia. Ia yakin pariwisata nasional bisa unggul karena potensi pariwisata Indonesia sangat besar.

“Ini direncanakan betul-betul, tidak main-main. Saya pimpin untuk hal ini,” kata Yahya pada Musyawarah Daerah Asosiasi Travel (Asita) DKI Jakarta di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2016.

Salah satu upaya meningkatkan pariwisata Indonesia adalah dengan mengenali diri sendiri, baik kemampuan maupun kelemahan. “Kenali dirimu untuk memenangi peperangan,” katanya.

Upaya lainnya, kata dia, dengan melakukan promosi besar-besaran untuk tujuan wisata, seperti di Lombok.

Presiden Asita Nasional Asnawi Bahar meyakini pernyataan Menteri Parwisata Arief bisa diwujudkan selama pemerintah konsisten menggarap tujuan wisata Indonesia, baik destinasi yang telah ada maupun situs wisata baru.

Lagi pula, kata Asnawi, Indonesia memiliki banyak kelebihan dibanding Malaysia, seperti potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia pada sektor pariwisata.

“Keunggulan kita dibanding Malaysia itu lebih banyak. Misalnya bentang alam sumber daya lebih banyak, SDM kita itu lebih merata di banyak daerah sehingga mungkin agar keunggulan itu bisa mendorong tujuan mengalahkan Malaysia,” tandasnya.

ANTARA

February 16, 2016

Pengembangan Alor Menanti Investor

Destinasi unggulan untuk pariwisata Nusa Tenggara Timur adalah daerah wisata bahari. NTT memiliki banyak destinasi wisata bahari yang tidak kalah dengan destinasi lain di luar NTT, misalnya di Alor, Lembata, dan Flores Timur. Namun, potensi wisata bahari ini belum banyak dieksplorasi penduduk lokal, pemerintah daerah, ataupun pemerintah pusat.

Orang asing justru sudah lebih dulu mengeksplorasi dan menjadikannya sumber ekonomi bagi mereka. Contohnya di Pulau Alor, sudah ada beberapa orang asing yang membangun resor di sana. Bahkan, ada yang sudah berada di sana lebih dari 20 tahun.

“Ada banyak tantangan yang kami hadapi, misalnya transportasi belum cukup banyak di sini dan kurangnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata. Padahal, mereka bisa menjadi pemandu wisata, pemandu selam, dan sebagainya. Di sini juga belum banyak pengembangan wisata kuliner,” kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang.

Bupati Alor Amon Djobo mengakui, Alor memiliki banyak destinasi wisata. Tidak hanya pantai dan taman laut yang indah, Alor juga memiliki kampung adat, museum 1.000 moko, dan Al Quran tertua yang terbuat dari kulit kayu. “Namun, sarana untuk meningkatkan pariwisata Alor masih sangat kurang. Saya akui, pembangunan pariwisata Alor terlambat. Sebelumnya kami tidak memandang pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan daerah sehingga kami tidak melakukan pembangunan di sana,” katanya.

Contohnya, hingga kini belum ada hotel yang bagus di Alor. Memang ada resor yang dikelola orang asing, tetapi jumlah kamarnya terbatas. Ada beberapa hotel melati dan rumah sewa, itu juga terbatas. Bulan depan untuk pertama kali akan diresmikan hotel bintang tiga, tetapi itu pun jumlah kamarnya hanya 30 unit.

Selain itu, ketersediaan mobil sewa juga sangat terbatas. “Apabila salah satu sopir mobil sewa sakit atau mobilnya bermasalah, ada wisatawan yang tidak terangkut,” ujar Amon.

Akses menuju Alor juga sangat terbatas. Saat ini, penerbangan ke Alor hanya dua kali sehari oleh Wings Air dan Trans Nusa. Itu pun jumlah kursi terbatas karena hanya dilayani dengan pesawat ATR 42-600 dan Fokker 50 yang berkapasitas kurang dari 100 orang.

Kepala Urusan Tata Usaha Unit Penyelenggara Bandar Udara Mali, Alor, Hironimus Namahada mengatakan, mulai awal Maret, pihaknya sudah menyetujui membuka satu slot penerbangan Wings Air ke Kupang. Dengan demikian, penerbangan Alor-Kupang dilayani tiga kali sehari. (ARN)

February 8, 2016

Wisata Bahari Menjadi Strategis

7 Februari 2016 Ikon jumlah hit 200 dibaca

LOMBOK, KOMPAS — Sektor pariwisata terus meningkat dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di tengah melemahnya perekonomian nasional. Wisata bahari dinilai strategis menjadi urat nadi pariwisata, menyumbang devisa negara, dan mengurangi tingkat kemiskinan penduduk.

Penasihat Kehormatan Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo (ketiga kanan), Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Tri Agung Kristanto (kiri), Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Lombok Utara Ahmad Rifai (kedua kiri), pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Prayitno Basuki (ketiga kiri), budayawan Taufik Rahzen (kanan), dan Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Kementerian Perhubungan Kapten Karolus Sengadji (kedua kanan) menjadi narasumber pada acara diskusi Pesona Wisata Bahari di Hotel Lombok Raya, Mataram, Lombok, Sabtu (6/2). Seminar yang membahas optimalisasi wisata bahari sebagai keunggulan wisata di Indonesia tersebut juga mendiskusikan potensi wisata bahari yang dapat ditingkatkan di Nusa Tenggara Barat.
KOMPAS/LASTI KURNIA
Penasihat Kehormatan Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo (ketiga kanan), Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Tri Agung Kristanto (kiri), Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Lombok Utara Ahmad Rifai (kedua kiri), pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Prayitno Basuki (ketiga kiri), budayawan Taufik Rahzen (kanan), dan Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Kementerian Perhubungan Kapten Karolus Sengadji (kedua kanan) menjadi narasumber pada acara diskusi Pesona Wisata Bahari di Hotel Lombok Raya, Mataram, Lombok, Sabtu (6/2). Seminar yang membahas optimalisasi wisata bahari sebagai keunggulan wisata di Indonesia tersebut juga mendiskusikan potensi wisata bahari yang dapat ditingkatkan di Nusa Tenggara Barat.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Pesona Wisata Bahari bertema ”Optimalisasi Wisata Bahari sebagai Keunggulan Pariwisata di Indonesia” di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (6/2). Seminar yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata itu juga merupakan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional.

Hadir sebagai pembicara, antara lain, Penasihat Kehormatan Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo, Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Kementerian Perhubungan Kapten Karolus Sengadji, budayawan Taufik Rahzen, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Prayitno Basuki, dan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Lombok Utara Ahmad Rifai.

Indroyono mengemukakan, wisata bahari menjadi unggulan dalam destinasi wisata prioritas nasional. Dari 10 destinasi wisata prioritas, tujuh destinasi di antaranya merupakan wisata bahari. Destinasi itu meliputi Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung (Banten), KEK Mandalika (NTB), Komodo (Nusa Tenggara Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan KEK Pulau Morotai (Maluku Utara).

Dari target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) 20 juta orang pada 2019, kontribusi wisman dari wisata bahari ditargetkan 4 juta orang atau 20 persen. Tahun 2016, tingkat kunjungan wisman untuk wisata bahari ditargetkan 1,8 juta orang atau tumbuh dibandingkan 2015 sebanyak 1,3 juta wisman.

Wisman yang mendominasi wisata bahari di Indonesia berasal dari Eropa dan Australia. Devisa yang diperoleh dari kapal wisata besar, yakni mencapai 100 dollar AS per orang per hari.

Taufik mengingatkan, potensi wisata bahari Indonesia telah diketahui dunia sejak lampau. Perjalanan laut melintasi Nusantara dilakukan Alfred Russel Wallace pada 1854-1862.

Karolus mengemukakan, pelayanan kapal wisata asing terus diperbaiki dengan layanan satu atap di pelabuhan maksimal satu hari, mencakup proses karantina, kepabeanan, imigrasi, dan pelabuhan. Pintu masuk-keluar kapal wisata asing saat ini tersebar di 18 pelabuhan. Pihaknya mengharapkan kerja sama pemda dengan swasta memperbanyak marina.

Muhammad Amin berkeyakinan, sektor pariwisata bisa menjadi solusi pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan industri di tengah melemahnya perdagangan komoditas.

Dengan panjang garis pantai 2.333 kilometer dan sebaran 278 pulau-pulau kecil atau gili, NTB dinilai sangat relevan menjadi destinasi utama wisata bahari. Pihaknya membuka diri bagi investor untuk menanamkan modal di sektor pariwisata.

Prayitno Basuki menilai, pengembangan pariwisata yang terkait erat dengan sektor lainnya diyakini mampu menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat.

Hal senada dikemukakan Ahmad Rifai yang juga pengelola PT Blue Marlin Dive. Masih banyak pulau kecil di Indonesia yang memiliki potensi wisata yang besar. Namun, pengembangan pariwisata secara utuh perlu melibatkan masyarakat lokal dengan memberikan akses untuk mengembangkan usaha melalui pelatihan dan sosialisasi. (LKT/RUL/NIK)

December 17, 2015

Rewelnya Jonan soal Toilet…

 

Bagus !  Toilet/WC di Indonesia  rata rata jorok pol !  gimana mau tarik turis ?

 

Rabu, 16 Desember 2015 | 19:11 WIB
ThinkstockIlustrasi toilet bersih

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan Ignasius Jonanmemberikan perhatian yang sangat besar pada pelayanan publik. Tidak hanya pada fasilitas transportasi publik saja, Jonan juga rewel soal fasilitas publik yang ada di kantor-kantor kementerian.  Di kementeriannya sendiri, Jonan mengakui, masing-masing eselon I dan bahkan eselon II memiliki toilet pribadi.

Kebiasaan yang ada di pemerintahan, kata Jonan, fasilitas untuk publik dibikin ala kadarnya. Jonan pun memastikan, kalau toilet umum di kantor Kemenhub sangat jelek, lebih baik ditutup. “Saya mau keliling lagi. Kalau toilet di perhubungan jelek, kotor, saya tutup semua ini. Tidak usah pakai toilet. Enggak penting!” kata Jonan dalam Capaian Kinerja 2015 dan Outlook 2016, di Jakarta, Rabu (16/12/2015).

Bahkan, Jonan menegaskan jika ada bawahannya yang tidak setuju dengan idenya itu, boleh meminta Jonan mundur, atau mengundurkan diri. “Kalau enggak cocok sama saya boleh milih lho, tulis surat ke presiden, saya diganti, atau anda pergi. Kalau yang ini saya prinsip soalnya,” ucap Jonan.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi tak luput kena sindir Jonan soal toilet di Bandara Kualanamu, Medan. “Coba punya Pak Budi Karya di Kualanamu itu. Saya kemarin marah-marah, tapi sudah diperbaiki sih. Masak toilet itu dengan mushola jejeran begitu. Enggak ada penutupnya lagi. Lha kalau yang sana ngebom, yang sini terganggu, ya,” kata Jonan diikuti tawa hadirin.

Jonan, boleh dibilang termasuk pejabat yang selalu rewel soal toilet. Namun, hal tersebut dilakukannya semata-mata untuk memenuhi dan meningkatkan standar pelayanan publik.

Jauh sebelum menjabat sebagai menteri, Jonan yang waktu itu menjadi bos PT KAI (Persero) juga selalu perhatian dengan yang namanya toilet. Jonan mengakui, saat pertama kali menjabat sebagai Dirut PT KAI, dia memang memulai langkah awal dari pembenahan toilet.

Menurutnya, toilet mencerminkan perilaku suatu masyarakat. Menurutnya, tak ada orang yang bisa hidup tanpa adanya toilet. Dari toilet itulah, lanjut Jonan, dia dapat mengajak seluruh karyawan PT KAI menjadi customer oriented. Padahal, sebelumnya, karyawan PT KAI sangat acuh tak acuh dalam melayani penumpang. “Belum ada semangat customer orientedkarena merasa tidak punya saingan. Jadi, orang mau naik kereta syukur, enggak naik alhamdulillah,” candanya. (baca: Kisah Ignasius Jonan dan Toilet Kereta Api)

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Josephus Primus