Archive for ‘Citibank’

August 10, 2012

Citibank Bidik Nasabah Kartu Kredit Capai 50 Ribu

Headline

inilah.com
Oleh: Restu A Putra
ekonomi – Kamis, 9 Agustus 2012 | 21:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Citibank Ready Credit bagi nasabah Citibank hingga akhir tahun ini menargetkan bisa dinikmati 50 ribu nasabah.

Hal tersebut dilihat dari target sejak tiga bulan diluncurkan sudah mencapai 10 ribu lebih nasabah pengguna. “Pengguna fasilitas Ready Credit sejak Mei sudah mencapai 10 ribu lebih, dan hingga akhir tahun kira-kira bisa mencapai 50ribu nasabah,” kata Chief Country Office (CCO) Citibank, Tigor M. Siahaan, Kamis (9/8/2012).

Menurutnya, pencapaian tersebut selain dikarenakan inovasi produk kartu kredit yang sangat dibutuhkan masyarakat ini dianggap memiliki banyak kelebihan. Saat ini Citibank masih memiliki nasabah yang loyal.

“Oleh karenanya mungkin untuk dua tahun ke depan target Ready Credit ini bisa dua kali lipat atau mencapai 100 ribu nasabah pengguna,” ujarnya. [hid]

 

 

Advertisements
July 3, 2012

Divonis 8 Tahun Penjara, Malinda Dee Terus Melawan

 
Melawan terus, karena hanya Melinda Dee dari Citibank yang dihukum.. Bajingan di Citibank yang lain mana ??
Selasa, 03/07/2012 06:01 WIB

Divonis 8 Tahun Penjara, Malinda Dee Terus Melawan

Rachmadin Ismail – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman AndaConnect with Facebook
 
 

Jakarta Teroidana kasus penggelapan dan pencucian uang Inong Malinda terus melawan vonis 8 tahun penjara yang dijatuhkan hakim padanya. Mantan pegawai Citibank itu hari ini akan mengajukan kasasi.

“Iya, benar hari ini kami akan ajukan kasasi,” kata pengacara Malinda, Ina Rachman, saat dikonfirmasi, Selasa (3/7/2012).

Menurut Ina, kliennya tidak terima dengan putusan pengadilan Negeri Jaksel dan pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang memutus bersalah. Sejumlah bahan pun sudah disiapkan untuk pengajuan kasasi.

“Saya jadi lawyer dia sejak minggu lalu,” ucapnya.

Sebelumnya, dalam putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,majelis Hakim menjatuhkan vonis 8(delapan) tahun penjara terhadap Inong Malinda Dee(49). Majelis hakim menyatakan bahwa mantan Relationship Manager Citigold Citibank, Cabang Landmark, Jakarta Selatan tersebut terbukti melakukan serangkaian tindak pidana perbankan dengan cara melakukan pembobolan rekening, tanpa sepengetahuan dari para nasabahnya.

Vonis tersebut jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum(JPU) yang menuntut Malinda selama 13 tahun penjara.

Selain menghukum penjara, Majelis hakim juga mewajibkan Malinda untuk membayar denda sebesar Rp 10 miliar rupiah. Namun apabila wanita sosialita tersebut tidak sanggup untuk membayarnya, maka diganti pidana kurungan selama 3 bulan.

Tak hanya itu, dari dana hasil kejahatan,uang kemudian digunakan untuk membayar uang muka dan cicilan kendaraan mewah seperti Ferrari Scuderia merah B-481-SAA, Ferrari California merah B-125-DEE, Hummer putih B-18-DIK, Fortuner hitam B-1443-SJB, dan Mercy E350 putih B-467-QW,serta membeli apartemen di Jalan Soedirman, Jakarta dan di Bali.

Atas Perbuatanya, Malinda telah melanggar Pasal 49 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Selain itu ia juga dijerat dengan Pasal 49 Ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP; Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 65 Ayat (1).

(mad/rvk) 

May 8, 2012

Bos Femina Kena Tipu Malinda Dee Rp 22 Miliar

CITIBANK..

Selasa, 08/05/2012 11:06 WIB
Bos Femina Kena Tipu Malinda Dee Rp 22 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

foto: Malinda Dee

Jakarta – Pendiri Femina Group Mirtha Kartohadiprodjo, yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Femina mengaku menderita kerugian Rp 22 miliar. Kerugian itu berawal ketika ia menempatkan dana di produk investasi yang dipasarkan oleh Citibank.

Ia mengaku telah menjadi nasabah Citibank sejak 1992, selama itu ia menempatkan uangnya di deposito dan beberapa produk investasi Citibank. Pada 2008, Mirta menempatkan sebagian uangnya pada reksa dana saham salah satunya Fortis Ekuitas.

“Saya korban dari Malinda Dee, Senior Relationship Citibank,” kata Mirtha di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (8/5/2012).

Ia menjelaskan, Malinda menawarkan investasi yang menarik, namun sayang kepercayaan ini disalahgunakan oleh Malinda Dee.

“Hingga kini saya belum mendapatkan kembali pokok dana investasi dan ganti rugi atas tindakan yang dilakukan oleh Citibak dan pejabatnya itu. Nilai pokok dan ganti rugi dengan memakai pendekatan potensi keuntungan lebih dari Rp 22 miliar,” jelasnya.

“Saya telah beberapa kali bertemu dengan pihak Citibank, namun perlakukan yang saya dapat tidak proporsional,” tutur Mirta.

Menurutnya salah satu pejabat Citibank bernama Jimmy The, pernah menjanjikan untuk mengganti kerugian yang dialami olehnya. Namun pada pertemuan lain, melalui VP Citibank Meliana Sutikno, justru menyangkal perihal ganti rugi tersebut.

“Ini membingungkan saya. Saya hanya ingin mengambil uang saya sendiri dari Citibank,” ucap Mirta.

January 17, 2012

Penagih Utang Tanggung Jawab Bank

Selasa,
17 Januari 2012
PERBANKAN
Penagih Utang Tanggung Jawab Bank

Jakarta, Kompas –
Jakarta, Kompas – Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia tentang Alih Daya pada akhir tahun lalu. Pokok aturannya, bank tidak boleh menggunakan tenaga alih daya (outsourcing) untuk melaksanakan pekerjaan pokok pada kegiatan usaha bank dan kegiatan pendukung usaha bank.

Penagih utang (debt collector) dikategorikan termasuk pekerjaan penunjang sehingga boleh dilakukan oleh tenaga alih daya. Namun, tanggung jawab tindakan penagih utang itu dipertanyakan dalam Rapat Dengar Pendapat Bank Indonesia dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (16/1). Dua Deputi Gubernur BI, Muliaman D Hadad dan Ronald Waas, hadir dalam rapat itu.

Edwin Kawilarang dari Fraksi Partai Golkar dan Arif Budimanta dari Fraksi PDI-P menanyakan bentuk tanggung jawab bank atas tenaga alih daya.

Menurut Ronald, tagihan yang boleh diserahkan kepada jasa penagih hanya yang tidak lancar dan macet. ”Namun, bank tidak bisa lari dari tanggung jawab terhadap perilaku debt collector,” ujar Ronald.

Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis bertanya, ”Kalau terjadi pemukulan oleh debt collector, apa sanksinya?” ”Bank bertanggung jawab,” sahut Muliaman. ”Kalau ada hal seperti itu, apakah kartu kreditnya tetap bisa berjalan?” tanya Harry lagi. ”Kami bisa cabut,” ujar Ronald.

Muliaman menyampaikan, BI mengatur syarat detail untuk penentuan jasa penagihan.

Pertanyaan Harry itu mengacu pada keluhan nasabah kartu kredit terhadap penagih utang sebuah bank, yang muncul di rubrik surat pembaca media cetak. Nasabah itu mengaku dianiaya penagih utang sebuah bank, tetapi bank yang bersangkutan menolak bertanggung jawab.

Seusai rapat, Harry menyampaikan, Komisi XI ingin mempertegas soal pola penyerahan jasa penagihan dari pihak bank kepada pihak lain. ”Anggota Komisi XI ada yang bilang penagihan itu tugas utama, ada yang bilang penunjang,” katanya.

Sosialisasi

Muliaman mengakui, aturan- aturan ini memang perlu terus disosialisasikan. Hal itu terutama bagi calon nasabah kartu kredit, yang selama ini kadang-kadang menerima saja iming-iming tawaran penerbit. ”Bank yang menjual produk harus transparan dengan melakukan edukasi. Bank juga harus proper atau tepat,” ujar Muliaman.

Dalam aturan BI, pekerja pokok dalam pendukung usaha di antaranya petugas rekening (account officer), pelayan nasabah (customer service), penghubung nasabah (customer relation), dan kasir (teller). Pekerja pokok pada kegiatan pendukung usaha antara lain adalah auditor internal, sumber daya manusia, dan organisasi.

Pekerja penunjang untuk kegiatan usaha antara lain pusat layanan telepon (call center), pemasaran jarak jauh (telemarketing), jasa penagihan, dan penjual (sales representative). Pekerja penunjang dalam kegiatan pendukung usaha, misalnya kurir, keamanan, dan sekretaris. (IDR)

+++++++++++++++

Pasal KUHP untuk menghadapi preman debt collector

Penagih utang (debt collector) dikategorikan termasuk pekerjaan penunjang sehingga boleh dilakukan oleh tenaga alih daya. Namun, tanggung jawab tindakan penagih utang itu dipertanyakan dalam Rapat Dengar Pendapat Bank Indonesia dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (16/1). Dua Deputi Gubernur BI, Muliaman D Hadad dan Ronald Waas, hadir dalam rapat itu.

Edwin Kawilarang dari Fraksi Partai Golkar dan Arif Budimanta dari Fraksi PDI-P menanyakan bentuk tanggung jawab bank atas tenaga alih daya.

Menurut Ronald, tagihan yang boleh diserahkan kepada jasa penagih hanya yang tidak lancar dan macet. ”Namun, bank tidak bisa lari dari tanggung jawab terhadap perilaku debt collector,” ujar Ronald.

Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis bertanya, ”Kalau terjadi pemukulan oleh debt collector, apa sanksinya?” ”Bank bertanggung jawab,” sahut Muliaman. ”Kalau ada hal seperti itu, apakah kartu kreditnya tetap bisa berjalan?” tanya Harry lagi. ”Kami bisa cabut,” ujar Ronald.

Muliaman menyampaikan, BI mengatur syarat detail untuk penentuan jasa penagihan.

Pertanyaan Harry itu mengacu pada keluhan nasabah kartu kredit terhadap penagih utang sebuah bank, yang muncul di rubrik surat pembaca media cetak. Nasabah itu mengaku dianiaya penagih utang sebuah bank, tetapi bank yang bersangkutan menolak bertanggung jawab.

Seusai rapat, Harry menyampaikan, Komisi XI ingin mempertegas soal pola penyerahan jasa penagihan dari pihak bank kepada pihak lain. ”Anggota Komisi XI ada yang bilang penagihan itu tugas utama, ada yang bilang penunjang,” katanya.

Sosialisasi

Muliaman mengakui, aturan- aturan ini memang perlu terus disosialisasikan. Hal itu terutama bagi calon nasabah kartu kredit, yang selama ini kadang-kadang menerima saja iming-iming tawaran penerbit. ”Bank yang menjual produk harus transparan dengan melakukan edukasi. Bank juga harus proper atau tepat,” ujar Muliaman.

Dalam aturan BI, pekerja pokok dalam pendukung usaha di antaranya petugas rekening (account officer), pelayan nasabah (customer service), penghubung nasabah (customer relation), dan kasir (teller). Pekerja pokok pada kegiatan pendukung usaha antara lain adalah auditor internal, sumber daya manusia, dan organisasi.

Pekerja penunjang untuk kegiatan usaha antara lain pusat layanan telepon (call center), pemasaran jarak jauh (telemarketing), jasa penagihan, dan penjual (sales representative). Pekerja penunjang dalam kegiatan pendukung usaha, misalnya kurir, keamanan, dan sekretaris. (IDR)

August 4, 2011

Citibank Masih Tunggu Approval BI

Hasil Fit and Proper Test
Citibank Masih Tunggu Approval BI
Headline
MI
Oleh: Sandiyu Nuryono
Ekonomi – Kamis, 4 Agustus 2011 | 19:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kepastian Tigor M Siahaan sebagai orang nomor 1 atau Country Chief Officer (CCO) Citibank Indonesia masih menunggu approval dari Bank Indonesia (BI).

“Saya sebetulnya masih menunggu BI approval secara resminya mungkin setelah itu baru mendapatkan ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis (4/8). Ia menambahkan selama satu bulan ini telah melaksanakan tugas layaknya CCO di Citibank Indonesia.

“Secara background sebenarnya saya dari institusional corporate yang berhubungan dengan treasury, investment banking, corporate banking, international dan sebagainya,” tuturnya.

Selam menjalani jabatannya tersebut, Tigor mengaku bertemu dengan banyak orang. “It,s very interisting people. Dan selama ini memang banyak hal-hal yang kita tahu sendiri hal-hal yang menimpa kita hal-hal yang terjadi termasuk dengan sanksi yang diberikan BI kepada kita,” ucapnya.

“Dan itu sanksi yang berat sanksi yang cukup panjang dan terus terang waktu itu kita merasa sesuatu yang sangat tidak kita expect. Dan sesuatu yang kita harus berfikir lagi bagaimana menanggulanginya,” ujarnya. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau aks

June 15, 2011

Malinda Dee Ternyata Gelapkan Dana 123 Nasabah

Dari 123 nasabah – termasuk si empunya rekining gendut Polisi

Malinda Dee Ternyata Gelapkan Dana 123 Nasabah

inilah.com
Oleh: Akbar Junisa Surya
Ekonomi – Selasa, 7 Juni 2011 | 16:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Markas Besar Kepolisian mengungkapkan tersangka penggelapan dana nasabah Citibank Indonesia, Inong Malinda Dee diduga tidak hanya menggelapkan dana 3 nasabah saja, tetapi sebanyak 123 nasabah yang menjadi korban aksi mantan Relationship Manager Citibank Indonesia terebut.

“Dari seluruh nasabah yang dirugikan tersebut hanya 3 orang yang melaporkan kasus pembobolan dana tersebut ke Mabes Polri,” ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri, Brigjen (Pol) Arief Sulistyanto dalam seminar ‘Modus Kejahatan Perbankan dan Mitigasi Risikonya’ di Jakarta, Selasa (7/6).

Menurut Arief, hal ini terungkap ketika ketiga nasabah tersebut melaporkan penggelapan tersebut ke Mabes Polri. “Ini ketahuan dari tiga nasabah, lalu kami buka semua rekeningnya danada 123 nasabah lagi, adapun kasus pembobolan dana ini, terjadi sejak Juni 2009 hingga Desember 2010,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjutnya, Mabes Polri hanya menindaklanjuti kasus pembobolan dana nasabah pada tiga orang yang melapor. Ini disebabkan nasabah lainnya tidak melaporkan kasus yang mereka alami ke Polri. “Saat ini kerugian sementara dari pembobolan tiga nasabah tersebut sekitar Rp16 miliar,” ujarnya.

Menurut Arief, dalam proses pengejaran aset pada kasus ini, Mabes telah menyelamatkan Rp12 miliar atau sekitar 80% dari kerugian yang timbul. Penyelamatan aset tersebut dilakukan dengan menyita sejumlah harta benda yang dimiliki oleh Malinda.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Malinda telah membeli beberapa mobil mewah dan apartemen dengan uang yang diduga hasil kejahatan. Harta tersebut antara lain mobil Hummer, Ferrari scuderia 2010, Ferrari California dan Mercedes Benz seri E350. Selain itu Polri juga menyita sebuah apartemen yang juga masih berstatus sewa beli karena belum lunas.

Arief menambahkan Malinda memiliki beberapa Kartu Tanda Penduduk yang digunakan untuk membuat rekening pada beberapa bank. Rekening tersebut, lanjutnya digunakan untuk menampung sebagian dana yang dia gelapkan.

Selain itu, tuturnya, Andhika Gumilang, yang merupakan suami dari Malinda juga terlibat dalam kasus ini, karena rekening atas nama bersangkutan digunakan untuk menampung duit hasil penggelapan. “Oleh karena itu ada dua orang kami kenakan tindak pencucian uang,” ujarnya. [cms]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile la

June 13, 2011

Pembobolan Data Keuangan Kian Menakutkan

Pembobolan Data Keuangan Kian Menakutkan

IST
Oleh: Billy A Banggawan
Teknologi – Senin, 13 Juni 2011 | 09:49 WIB
TERKAIT
200 Rb Data Pemegang Kartu Kredit Citigroup Dicuri
Akun Bank Kate Middleton Dibobol Peretas
Bank Mega-Carrefour Luncurkan Carrefour Mega Card
Baru Muncul, iOS 5 Apple Sudah Dibajak
Kemhan ‘Dibombardir’ Serangan Peretas
INILAH.COM, New York – Nama, nomor akun dan alamat email 200 ribu nasabah kartu kredit Citigroup tercuri. Parahnya, pencurian terjadi saat kehidupan orang modern banyak memakai kartu kredit.

Sebelum pembobolan data terbaru ini, tiga bulan lalu, hacker (peretas) berhasil menembus 100 juta akun Sony PlayStation, jaringan Lockheed Martin dan database email pelanggan dari perusahaan yang melakukan pemasaran untuk Best Buy dan Target.

Diketahui, separuh warga Amerika Serikat (AS), 154 juta orang, memiliki kartu kredit. Menurut analis keamanan Yakub Jegher, serangan kepada Citi menjadi pengingat, teknologi yang digunakan melindungi informasi dibuat manusia sehingga bisa pula dibobol manusia juga.

“Warga mengandalkan jaringan pengaman bank untuk menjaga informasi mereka,” lanjut Jegher yang juga menjadi analis senior firma riset teknologi industri keuangan Celent. Sayangnya, jaringan itu masih memiliki banyak lubang, lanjutnya lagi.

Citi mengatakan, semua pelanggan yang informasinya dicuri akan menerima surat pemberitahuan, dan sebagian besar akan mendapat kartu kredit baru. Bank ini mengatakan, divisi penegakan dan pejabat sedang melakukan penyelidikan perihal ini.

Para korban harus mengalami rumitnya memperbarui nomor kartu kredit di tiap akun online. Untungnya, korban tak akan kehilangan uang. Untuk satu hal, UU federal melindungi kartu kredit pelanggan dari penipuan yang melampaui US$ 50 (Rp430 ribu).

Dalam kebanyakan kasus, bank yang terkait isu ini akan mengganti nilainya. Untuk peretas Citi, mereka tidak akan mendapat tiga digit angka di belakang kartu kredit melalui fitur keamanan bernama kode CVV. Artinya, peretas atau siapa pun yang mungkin memiliki informasi ini akan kesulitan melakukan pembayaran langsung.

Bahayanya adalah, jika seseorang menggunakan informasi itu untuk ‘diselipkan’ pada serangan ‘phishing’ canggih di mana penjahat mengirim email yang dirancang semeyakinkan mungkin dari bank untuk mendapat akses ke informasi akun.

Menurut pakar, jumlah akun Citi tercuri yang relatif kecil ini (21 juta nasabah kartu kredit di Amerika Utara) menunjukkan, para peretas menggunakan ‘spyware’ untuk mendapat data pelanggan yang masuk ke situs web untuk melakukan online banking.

“Hal baik dalam kasus Citi adalah, Citi cepat mendeteksi serangan ini dan mematikannya,” ujar kepala firma keamanan IronKey Inc sekaligus ketua kelompok anti-phishing Dave Jevans. Citi memiliki sistem yang bisa melihat data yang meninggalkan jaringan serta mampu melihat informasi pengiriman seseorang, tambahnya.

Dalam hal ini, bank memiliki teknologi yang jauh lebih maju. Kode CVV tak bisa disimpan dengan babatan magnet sederhana kartu kredit, dan bisnis yang memroses pembayaran seperti ini tak diperbolehkan menyimpan kode-kode tersebut setelah transaksi, “Jadi, mereka memberi perlindungan lain pada penipuan”.

Firma audit dan konsultan Deloitte mengatakan, ancaman keamanan pada akun pelanggan dan informasi lain kian meningkat. “Kabar bagusnya, perusahaan sudah mulai menyadari hal ini”. Survei menunjukkan, 67% bank AS membuat enkripsi (proses melindungi informasi digital) sebagai inisiatif utamanya.

Namun, Deloitte melaporkan, semua lembaga keuangan di tiap negara masih ‘berlari’ memperbaiki sistem keamanan mereka. Parahnya, jumlah serangan profil tinggi beberapa pekan terakhir sangat menakutkan. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via

June 13, 2011

Untuk Pertama Kali Orang Indonesia Pimpin Citibank

Si Paki ini suruh balik aja kelola madrasah atau bank kelontongan di Pakistan
+++
Untuk Pertama Kali Orang Indonesia Pimpin Citibank
JUM’AT, 10 JUNI 2011 | 06:36 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO/ Nita Dian

TEMPO Interaktif, Jakarta – Citibank NA mengganti Chief Country Officer Citibank Indonesia Shariq Mukhtar. Ia akan digantikan Tigor M. Siahaan yang saat ini menjabat Managing Director di bank asal Amerika Serikat itu. Tigor direncanakan mulai menakhodai Citibank Indonesia per 30 Juni, tapi jadwal serah-terimanya masih menunggu persetujuan Bank Indonesia.

Menurut sumber Tempo, pergantian Shariq dilakukan atas permintaan kantor pusat Citigroup. Shariq, ujarnya, selanjutnya akan berdinas di Singapura. “Saya telah meminta Shariq Mukhtar mengambil pekerjaan barunya di kantor Citibank regional di Singapura,” kata Chief Executive Officer Citibank Asia-Pacific Shirish Apte dalam memo internal yang dibacakan sumber Tempo.

Juru bicara Citibank, Ditta Amahorseya, membenarkan kabar dalam memo tersebut. “Shariq memang akan pindah ke Singapura,” katanya kemarin.

Ditta membantah tudingan Shariq dicopot karena tak lolos uji kelayakan dan kepatutan ulang yang digelar Bank Indonesia. Hasil pengujian oleh Bank Indonesia itu, menurut dia, belum diumumkan.

Seperti diketahui, Shariq dan sejumlah petinggi Citibank Indonesia harus menjalani fit and proper test ulang sebagai salah satu sanksi akibat dua kasus besar yang menerpa Citibank. Kasus itu adalah tewasnya nasabah kartu kredit Citibank, Irzen Octa, yang diduga akibat penganiayaan tukang tagih Citibank dan kasus pembobolan nasabah yang melibatkan mantan Relationship Manager Citi, Malinda Dee.

Menurut Ditta, rotasi jabatan itu merupakan hal biasa. Apalagi Shariq sudah lama di Citibank Indonesia.

Shariq memimpin Citibank Indonesia sejak 2008. Kariernya di bank itu dirintis sejak 25 tahun lalu. Sebelum menjadi orang nomor satu Citibank Indonesia, pria asal Pakistan itu pernah menjabat Chief Financial Citi di Taiwan, Country Business Manager di Thailand pada 2004, dan masuk Indonesia sejak 2005.

Menurut catatan Tempo, Tigor akan menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin bank itu. Ia bergabung dengan Citi sebagai MA pada 1995. Sepanjang 16 tahun kariernya, ia pernah menjabat Country Head for ICG Indonesia dan Country Risk Manager for Citi Indonesia.

Citibank menugasi Tigor mengembangkan bisnis konsumer bank di Indonesia. “Dia adalah penasihat kepercayaan untuk market Indonesia. Dia bekerja dengan keahliannya, visinya,” kata Shirish Apte.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan uji kelayakan dan kepatutan terhadap enam pejabat Citibank belum tuntas. Ia tak bisa memastikan kapan uji kelayakan itu diumumkan. “Mereka masih membahasnya di (Direktorat) Pengawasan Perbankan,” ujar Darmin seusai rapat kerja pembahasan anggaran 2012 di gedung DPR.

Namun, sumber Tempo di Bank Indonesia menyatakan fit and proper test itu sebenarnya sudah rampung. “Sudah dibahas di Rapat Dewan Gubernur, Selasa lalu,” katanya.

FEBRIANA FIRDAUS | AGUSSUP

June 9, 2011

Citibank Indonesia chief country officer transferred

Citibank Indonesia chief country officer transferred
A | A | A |
The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 06/09/2011 12:38 PM A | A | A |

Citibank Indonesia chief country officer (CCO) Shariq Mukhtar will be soon removed from his post following an alleged murder and embezzlement scandal that put the bank in the hot seat.

Mukhtar will be moved to Singapore, and his position will be taken over by Tigor M. Siahaan, who has served as the country chief for Citibank’s ICG Indonesia and country risk manager for Citi Indonesia, Citi Asia Pacific chief executive officer Shirish Apte said Thursday.

“I have asked Shariq Mukhtar, who has served as the CCO of Indonesia since 2008, to take on a new regional role based in Singapore with consumer banking responsibilities,” Apte said in a press statement sent to The Jakarta Post.

“With Shariq’s move, I am pleased to announce Tigor M. Siahaan as country head and CCO of Indonesia, effective June 30 pending regulatory approval. Under a new country structure, Tigor will oversee the ICG and Consumer Bank businesses in Indonesia,” he added.

Apte said announcements regarding Mukhtar’s new position in Singapore and a new country business manager for Citi Indonesia would follow.

He stopped short of mentioning whether the changes had anything to do with recent court cases implicating the bank.

 

+++++++++++++++++++++++++++++++

 

<nyt_headline version=”1.0″ type=” “>Warning Signs in Citibank Scandals in Indonesia

<nyt_byline>

By AUBREY BELFORD
Published: July 17, 2011
<nyt_text><nyt_correction_top>

JAKARTA — When they first became public, the scandals that have affected Citigroup in Indonesia seemed perfectly calibrated to stir fascination and anger in a country that had for years been a particularly bright spot in the rapidly growing banking sector in emerging economies in Asia.

Reuters

Inong Malinda, center, a former Citibank wealth manager, is awaiting trial on charges of stealing millions of dollars from clients.

First came the tabloid-ready allegations in March that a glamorous wealth manager at Citibank, Inong Malinda, had for years been fleecing her rich clients of millions of dollars to fund an opulent lifestyle. Ms. Malinda, who is in police detention awaiting trial, denies any wrongdoing, said Batara Simbolon, her lawyer.

Then, just days later, a politician, Irzen Octa, died in suspicious circumstances after a visit to a Citibank branch. In the room with him just before he died were outsourced debt collectors, from an industry with a reputation in Indonesia for intimidating tactics and occasional violence. Five people, none of them Citigroup employees, have been charged with offenses including torture and false imprisonment in relation to Mr. Irzen’s death.

On one level, Citigroup’s twin scandals — both of which are wending their way through the legal system — serve as a cautionary tale. Castigated by politicians, punished by the central bank and flayed in the news media, Citigroup has become an ugly example for banks seeking to expand aggressively in a country where strong economic growth has taken place against a backdrop of weak regulations and ineffective institutions.

But on another level, analysts say, it is a lesson that may go largely unheeded. The reason? There is just too much money to be made.

“I don’t think this is going to affect anyone’s interest in entering Indonesian banking,” said Hendri Saparini, the managing director of Econit, an Indonesian economics consulting firm. “If you ask me, hopes about this huge market are far bigger than any concern about weak regulations — especially if this weakness can be taken advantage of.”

In a country with economic growth of about 6 percent a year and a burgeoning middle class, the Indonesian banking sector has thrived, while deregulation has allowed foreign banks to flourish alongside local firms.

Total loans in Indonesia grew by an average of 20 percent a year between 2005 and 2010, with consumer banking accounting for the largest increase, according to Bain & Co., a global consulting firm. In the emerging field of Islamic financial products that comply with Shariah law, growth has been even stronger.

Bankers within the country are also in fierce competition to persuade wealthy Indonesians to break their longstanding habit of moving their money — and the fees they pay — to Singapore, a regional hub for private banking.

“If you looked at the number of people in 2005 in Indonesia with a bank account, that was 25 percent of the population,” said Ed Lin, one of the global heads of Bain’s financial services practice. “If you look at that in 2010, that 25 becomes 40 percent. In our estimates, that will go to about 70 percent in 2015.”

In Citigroup’s case, problems apparently arose in two parts of the fast-growing world of Indonesian consumer banking: private wealth management and credit cards.

As a result of the scandals, the central bank, Bank Indonesia, has banned Citigroup from taking on new credit card customers for two years and has barred it from opening new branches or recruiting new priority banking customers for one year. A local bank, Bank Mega, has also received sanctions for a case of internal employee fraud.

The accusations against Citigroup are not rare in Indonesia, said Ms. Saparini, the economist. Rather, the two scandals — a “volley of nonstop problems,” in her words — have trained attention on an environment in which many banks have aggressively chased customers, with little oversight from Bank Indonesia. Citigroup simply got stung publicly for its apparent lack of internal oversight, she said.

The government is working to control the banking sector more closely, but it has encountered obstacles. An effort to establish a new regulator, the Financial Services Authority, has run into a tussle over its independence between President Susilo Bambang Yudhoyono and members of the Indonesian Parliament, who want two of the body’s nine commissioner positions to be filled by people chosen by lawmakers.

As politicians wrangle, ordinary Indonesians feel frustrated.

Sudaryatmo, the head of the Indonesian Consumers Organization, who goes by one name, said banking was the third most complained about industry in Indonesia, after telecommunications and housing. Of particular concern was the widespread experience of consumers who say they were drawn into unsustainable debt by major banks and then haunted by often thuggish third-party debt collectors.

“From the perspective of consumers, we see that the liberalization of the banking sector in Indonesia has been too lax, to the point that the government’s ability to control banks has weakened,” the consumer advocate said.

A spokesman for Bank Indonesia, Difi Johansyah, rejected the suggestion that a lack of oversight by the central bank had contributed to either of Citigroup’s scandals. Rather, he said, Citibank fell into trouble through weak internal controls and a failure to put its standard operating procedures into effect.

Citigroup said internal management failures were not behind the two scandals and declined to comment on the specifics of the criminal cases because they were in progress.

The man appointed to head Citigroup’s Indonesia operations after the scandal, Tigor Siahaan, said the bank was working hard to restore customer confidence. As evidence, he pointed to the fact that Citigroup had taken the initiative of reporting the allegations against Ms. Malinda to the police and that it was bringing its debt collection activities inside the company by hiring 1,400 new employees.

“Obviously it does have an impact” on overall business, Mr. Siahaan, whose appointment is still pending approval from Bank Indonesia, said of the scandals and the punishment imposed by the central bank. “But as a long-term business strategy, I think this is still a priority investment country.”

Most of Citigroup’s business in the country is in institutional banking, dealing with larger companies, governments, foundations and other institutional clients — an area that is growing rapidly in Indonesia.

Lin Che Wei, a top Indonesian corporate adviser hired by Citigroup’s head office to review its Indonesian practices, said the bank, which has been operating in Indonesia for more than four decades, was one of the most reputable players in the market. It simply got tripped up by Indonesia’s immature regulatory environment, he said.

For example, the use of third-party debt collectors is widespread among banks, Mr. Lin said, in part because Indonesia’s recently established credit bureau had not come to grips with the situation and because bankruptcy law was weakly administered.

“All the tools that should be in place are in their infancy,” he said.

However, Mr. Lin said that even if regulation were tightened, it probably would not stymie further expansion and attempts by other lenders to enter the Indonesian market.

“Indonesian growth is very strong and the margin is relatively very high compared to other markets,” he said. “As a result, banks might consider the higher operating risk is justifiable.”

<nyt_correction_bottom>

This article has been revised to reflect the following correction:

Correction: July 18, 2011

 

An earlier version of this article incorrectly stated that two Citigroup employees were among five suspects charged in relation to the death of a man after he visited a Citibank branch in Indonesia. All five of the accused were outsourced staff used by Citigroup, none of them were Citigroup employees.

 

<nyt_update_bottom>

A version of this article appeared in print on July 18, 201
May 14, 2011

Akal-akan Produk Cicilan Citibank

Dari Inilah.com
http://www.inilah.com/read/detail/1511252/akal-akan-produk-cicilan-citibank

Akal-akan Produk Cicilan Citibank

Sabtu, 14 Mei 2011 | 07:54 WIB

Akal-akan Produk Cicilan Citibank

Saya pemilik kartu kredit Citibank Visa Gold 4541-7800-xxxx-xxxx. Saya mengalami permasalahan dengan akal-akalan Citibank dalam hal cicilan tetap EazyPay 0.88% per bulan.

Awalnya saya mempunyai transaksi Rp20,450,000 pada 8 November 2010. Pada 1 Desember 2010 dijadikan cicilan tetap 0.88% per bulan atas tawaran pihak Citibank.

Saya dijelaskan oleh CS Anjas pada saat itu rumus perhitungan bunga perbulan, yaitu (Total Pokok x 0.88%). Jadi nilai bunganya sekitar Rp179,960 per bulan. Diberitahukan pula bila ingin melunasi lebih awal, akan dikenakan biaya administrasi Rp200,000.

Saya menyetujui persyaratan itu dengan konfirmasi bahwa bunga akan tetap sebesar Rp 179,960 per bulan dan mengambil masa cicilan 36 bulan.

Setelah tiap bulan Citibank menagih cicilan Rp748,066 (cicilan pokok Rp568.106 dan bunga Rp179.960) sebanyak lima kali, saya berkeinginan melunasi seluruh sisa tagihan. Di sini masalah muncul.

Menurut hasil perhitungan saya dengan bunga 0.88% tetap perbulan, sisa pokok terutang seharusnya Rp17,672,945, tapi dari pihak Citibank Rp 18,247,727. Jadi ada selisih Rp 574,782.

Setelah ditanyakan ke CS, ternyata metode perhitungan yang diterapkan adalah bunga menurun. Artinya di awal diterapkan bunga lebih tinggi agar cicilan pokok kecil dengan tujuan sisa akumulasi pokok terutang jadi lebih besar jika ingin dilunasi lebih awal. Intinya bunga tidak 0.88% tetap perbulan. Di sinilah kecurangan yang saya rasakan sebagai nasabah awam Citibank.

Mohon pihak Citibank lebih jujur dan bijak dalam menjaga hubungan baik dengan nasabah. Juga kepada para pembaca keluhan ini, agar menjadi pengetahuan tambahan jika ingin mengambil cicilan dengan kartu kredit.
Terima kasih atas perhatiannya.

Stefanus Marchelius

Jl Jelambar Jaya II/14 No. 63, Jakarta Barat
stefanus8899@gmail.com
085211122275